You are on page 1of 5

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di dalam pembangunan kesehatan, Indonesia memiliki masalah

kesehatan yang cukup kompleks, dibuktikan dengan meningkatnya kasus

penyakit menular, banyaknya jumlah kematian yang terjadi, serta

meningkatnya penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, didukung

dengan perolehan Indonesia dengan peringkat 2 sedunia untuk kasus

tuberculosis. Hal ini merupakan masalah kesehatan yang sangat

membutuhkan perhatian dan pembenahan. Dengan adanya Puskesmas

sebagai upaya keperawatan kesehatan masyarakat yang terdiri dari upaya

wajib dan upaya pengembangan, diharapkan pemberian pelayanan

kesehatannya dapat mencegah dan memberantas penyakit menular

melalui upaya wajibnya yaitu P2M.

Pengertian Penyakit Menular, Kejadian Luar Biasa (KLB), dan Wabah

Penyakit Menular. Di berbagai negara masalah penyakit menular dan

kualitas lingkungan yang berdampak terhadap kesehatan masih menjadi

isu sentral yang ditangani oleh pemerintah tidak terkecuali dengan DBD.

Pola kasus DBD meningkat pada awal tahun sampai pertengahan

tahun, tetapi sampai akhir tahun menurun. Pola ini sejalan dengan pola

curah hujan yang tinggi pada awal sampai pertengahan tahun. Hal ini se-

jalan dengan penelitian Pramestuti bahwa pada kenaikan jumlah kasus

1
2

DBD sinergis dengan kenaikan curah hujan. Peningkatan kasus DBD di

beberapa tempat di Provinsi Lampung khususnya wilayah kerja Puskesmas

Rawat Inap Simpur tidak lepas dari keberadaan nyamuk A.aegypti sebagai

vektor penular. Kepadatan larva A. aegypti akan meningkat pada saat

musim penghujan tiba sampai menjelang akhir musim penghujan. Kondisi

tersebut disebabkan keberadaan kontainer berisi air di luar rumah yang

bertambah.

Tingginya angka kepadatan larva ini karena kurangnya pengetahuan

warga tentang tempat perkembang- biakan yang disukai nyamuk Aedes

aegypti, serta ku- rangnya perhatian dari sebagian masyarakat terhadap

pemeliharaan kebersihan tempat penampungan air dan kebersihan

lingkungan sekitar. Keadaan ini akan memudahkan penyebaran penyakit

DBD karena nyamuk Aedes aegypti mencari tempat yang sesuai untuk

istirahat dan berkembang biak dan jarak tempat-tempat tersebut tidak

melampui jarak terbangnya yaitu mencapai 40-100 meter dari tempat

perkembangbiakannya.11 Menurut WHO, House Index (HI) merupakan

indikator yang paling banyak digunakan untuk memonitor tingkat infestasi

nyamuk. Namun, parameter ini termasuk lemah dalam risiko penularan

penyakit apabila tidak menghitung TPA atau kontainer dan data rumah

yang positif dengan larva/jentik. Diperlukan suatu upaya melalui peran

serta masyarakat. Kesadaran tentang lingkungan sudah selayaknya dimiliki

oleh warga karena mencegah dan menanggulangi kejadian DBD bukan

hanya tugas orang kesehatan semata namun juga peran serta masyarakat
3

sangat dibutuhkan. Kelalaian masyarakat dalam mengelola lingkungan

rumahnya terbukti dengan adanya jentik pada bak, ember, akuarium,

wastafel, serta kontainer lain. Benda-benda tersebut sudah seharusnya

dibersihkan secara rutin minimal seminggu sekali. Upaya lain yang perlu

dilakukan adalah tindakan intervensi pengendalian vektor penular baik

secara kimia, biologi, manajemen lingkungan, dan integrated vector

management (IVM). Pemberantasan sarang nyamuk perlu dilaksanakan

secara rutin minimal seminggu sekali, mengingat persentase kepadatan

jentik di setiap rumah cukup tinggi.

Menurut data Depkes Provinsi Lampung Tahun 2015 Penyakit Demam

Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan

masyarakat di Indonesia pada umumnya dan Provinsi Lampung pada

khususnya, dimana kasusnya cenderung meningkat dan semakin luas

penyebarannya serta berpotensi menimbulkan KLB. Angka Kesakitan (IR)

selama tahun 2010 – 2015 cenderung berfluktuasi. Angka kesakitan DBD

di Provinsi Lampung tahun 2015 sebesar 36,91 per 100.000 penduduk

(dibawah IR Nasional yaitu 51 per 100.000 penduduk) dengan Angka

Bebas Jentik (ABJ) kurang dari 95%.

Di wilayah kerja puskesmas Rawat Inap Simpur pada tahun 2017

terdapat 22 kasus DBD dan untuk program tahunan puskesmas simpur

belum mencapai target mengenai angka bebas jentik (ABJ) dengan target

Angka Bebas Jentik 95% seedangkan pencapaian kumulatifnya 82%.

Capaian target Angka Kejadian Jentik pada kasus DBD masih cenderung
4

masih rendah dibandingkan penyakit menular & mewabah seperti TB dan

Diare.

1.2 Tujuan Penelitian

1.2.1 Tujuan Umum

Mengetahui tingkat kejadian penyakit menular (P2M) & kebutuhan

masyarakat perihal kegiatan (P2M) di wilayah puskesmas Simpur Tahun

2018.

1.2.2 Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui distribusi frekuensi tingkat kejadian penyakit

menular (P2M) di wilayah puskesmas Simpur tahun 2017.


2. Untuk mengetahui distribusi frekuensi kebutuhan masyarakat perihal

kegiatan (P2M) di wilayah puskesmas Simpur tahun 2018.

1.3 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih dan

bermanfaat bagi peneliti, universitas, subjek penelitian program pelayanan

kesehatan, masyarakat, dan peneliti lain, terutama Puskesmas Simpur.

1.3.1 Bagi Peneliti

Menambah ilmu pengetahuan peneliti terutama tentang tingkat

kejadian penyakit menular (P2M) & kebutuhan masyarakat perihal

kegiatan (P2M) di wilayah puskesmas Simpur Tahun 2018.


5

1.3.2 Bagi Program Pelayanan Kesehatan

Sebagai informasi dan bukti medis mengenai tingkat kejadian

penyakit menular (P2M) & kebutuhan masyarakat perihal kegiatan (P2M)

di wilayah puskesmas Simpur Tahun 2018

1.3.3 Bagi Subjek Penelitian dan Masyarakat

Diharapkan agar masyarakat, khususnya masyarakat mengetahui

tingkat kejadian penyakit menular (P2M) & kebutuhan masyarakat perihal

kegiatan (P2M) di wilayah puskesmas Simpur Tahun 2018