You are on page 1of 6

Materialisme-Dialektika Sebagai Metode

Oleh: Aman Wijaya

Apa itu Materialisme-Dialektis?

Materialisme-Dialektis (MD) merupakan cara berpikir khas marxis soal realitas. Bagi MD, realitas
selalu punya pijakan material yang saling mengandaikan dan saling menopang. Meminjam
argumentasi Martin Suryajaya: MD mengandung dua ciri pokok yaitu (1) prosedur pembacaan
realitas yang mencari basis material yang menopang keseluruhan realitas spesifik. (2) Prosedur
pembacaan realitas yang mencari kesaling-hubungan internal diantara elemen-elemen realitas.

Misalnya, saya mengajukan satu pertanyaan: adakah hubungan antara realitas soal si Budi yang
tidak ingin menjadi petani dengan Monsanto (perusahaan pupuk) yang ada di US?

Contoh dalam realitas spesifik (terkait apa yang dimaksud realitas spesifik, akan dibahas pada
pembahasan selanjutnya): Si Budi tidak ingin menjadi petani seperti ayahnya, ia ingin menjadi
pekerja berdasi. Realitas si Budi, dikondisikan oleh beberapa realitas yang menjadi prakondisi.
Misalnya, Kondisi dunia pertanian yang memprihatinkan (PK 1). Pupuk sedang langkah di pasaran
(PK 2). Petani tidak bisa membuat pupuk sendiri (PK3). Monsanto mendominasi produksi pupuk
(PK 4).

BUDI

PK1

PK2

PK3

PK4
Dalam contoh kasus ini, bisa dikatakan bahwa basis material yang menjadi penopang keseluruhan
realitas si Budi, adalah Monsanto (perusahaan pupuk) yang mendominasi produksi pupuk. Realitas
si Budi yang tinggal di pelosok Moncongloe, ditopang oleh keberadaan Monsanto di US.
Pertanyaannya, apa elemen-elemen yang saling berhubungan yang menyusun keberadaan
Monsanto? (kita cukup mengambil contoh Monsanto, yang menjadi basis material) Elemen-
elemen itu adalah, buruh (A1)-majikan (A2), buruh (B1)-mesin (B2), buruh (C1)-keluarga (C2),
buruh (D1) -upah (D2).

Monsanto

A1 A2
B1 B2
C1 C2

Dengan kata lain, setiap realitas selalu punya unit-unit/elemen-elemen terkecilnya, yang
mempunyai kesaling-hubungan, dan membentuk realitas tersebut.

Materialisme-Historis (MH)

Jika membicarakan materialisme-dialektis, maka keberadaan materialisme-historis merupakan


harga mati. Sebelum masuk soal di mana kesaling-hubungan keduanya, kita pertama-tama akan
membahas bentuk-bentuk dari MH. Dalam corpus marxis, materialisme-histroris terdiri dari dua
arti: sebagai teori tentang kenyataan sosial secara umum (ontologi umum) dan teori tentang
kenyataan social secara spesifik (ontologi spesifik).

Sebagai ontologi umum, MH adalah hipotesis tentang hukum gerak realitas social yang terangkum
dalam tesis ‘basis (aktivitas produksi/ekonomi) mengondisikan superstruktur (agama,
pendidikan,politik,hukum, seni)’. Secara singkat, tesis ‘basis mengondisikan superstruktur’ sama
halnya mengatakan, agar anda bisa menunaikan ritual agama, pertama-tama anda harus makan
agar memiliki energi untuk bergerak. Siapa yang bisa membantahnya? Sekilas, seperti ada
semacam keyakinan pada takdir di dalam argumentasi ini. Tapi tidak, hal itu adalah konsekuensi
logis dari kesaling-hubungan antar materi yang membentuk realitas. Realitas manusia hanya bisa
ada, selama struktur biologisnya masih bekerja. Untuk dapat bekerja, struktur biologis itu mesti
mendapatkan asupannya (makan). Agar bisa makan, manusia mesti bekerja (aktivitas
produksi/ekonomi).

Kedua, sebagai ontologi spesifik, MH adalah hasil penerapan metode MD untuk membaca realitas
sejarah perkembangan masyarakat tertentu. Seperti apa bentuk MH spesifik? Jika MH umum
adalah tesis ‘basis mengondisikan superstruktur’, atau makan merupakan syarat utama untuk
menunaikan agama, maka MH spesifik berusaha mencari tahu, untuk makan, cara seperti apa yang
ditempuh manusia? Jika bekerja adalah jalannya, kerja seperti apa yang berlangsung? Contoh
dalam masyarakat kapitalis, kelompok proletar mesti menjadi pekerja-upahan (buruh) kepada
borjuis (kapitalis) untuk memenuhi kebutuhannya. Dimana buruh diberi upah yang tidak sepadan
dengan jam kerjanya. Atau, dulu buruh itu berpenampilan compang-camping, sekarang buruh itu
berdasi. Kasus ini berbeda dengan petani yang mencari makan dengan menggarap lahannya
sendiri. Atau pengemis yang mencari makan dengan meminta-meminta di tepi jalan.

Lalu apa maksudnya MH spesifik adalah hasil penerapan MD? Seperti salah satu contohnya, untuk
mengetahui pergeseran dari buruh compang camping, menjadi buruh berdasi, mensyaratkan
penerapan MD di dalamnya. Itulah yang dimaksud oleh MH spesifik sebagai sejarah
perkembangan masyarakat. Dari compang camping menjadi berdasi.

Dengan kata lain, hubungan keduanya dapat digambarkan seperti ini:


UMUM MD

MH

SPESIFIK

MD adalah cara berpikir yang lahir dari MH umum (hipotesis), dan MD bertugas menjelaskan MH
spesifik. Pemahaman atas gugus realitas (MH umum), melahirkan sebuah metode berpikir yang
bertugas menjelaskan sejarah perkembangan masyarakat (MH spesifik).

Mengoperasionalkan Materialisme-Dialektis

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana mengoperasionalkan MD? Pada dasarnya, MD mensyaratkan


penyelidikan atas sebuah realitas. Bahwa pemahaman dan pengetahuan soal realitas mesti
dibangun dari realitas itu sendiri. Realitas tidak bisa dilihat sebagai sesuatu yang asali (takdir
pencipta), apa yang ada dalam realitas tidak bisa dilihat sebagai sesuatu yang berdiri sendiri, dan
tidak bergerak. Oleh karenanya, untuk mendekati realitas, dibutuhkan semacam perangkat untuk
membantu kita memahami realitas, yaitu: observasi, klasifikasi dan penyimpulan.

1. Observasi-deskripsi

Observasi adalah sebuah tahap dimana kita berupaya mengenal-hanya mengenal-realitas. Ibarat
manusia, kita berupaya mengenali apa saja unsur-unsur yang dimiliki manusia yang membuatnya
hidup. Misalnya dalam sebuah contoh kasus, upaya menyelidiki, kenapa mahasiswa enggan aktif
dalam kegiatan-kegiatan organisasi? Untuk masuk lebih jauh, kita mesti mengenal terlebih dahulu
realitas masing-masing subyek, mahasiswa dan organisasi. Tentunya, upaya mengenal realitas
kedua subyek ini melalui tahap deskripsi akan menghadapkan kita pada himpunan data yang begitu
banyak, berserakan, bahkan mampu membuat migran.

Tapi itulah konsekuensi logis memahami realitas melalui jalan MD. Seorang penyelidik tidak
boleh berhenti pada realitas yang hanya tampak dari inderanya. Misalnya mengenal realitas
seorang mahasiswa, tidak berhenti pada gerak riil subyek di dunia kampus, tetapi mesti mampu
tiba pada realitas subyek di lingkungan rumahnya, hingga aktivitas riil subyek yang ketika berada
di kamar tidurnya, mojok sambil menatap layar handphonenya yang disertai senyum cengengesan
maupun tawa terbahak-bahak atau mengeluarkan kata ‘anjing’. Sekali lagi, MD mensyaratkan kita
tidak melihat sebuah realitas berdiri sendiri. Aktivitas riil subyek di lingkungan kampus, belum
tentu tidak memiliki relasi dengan aktivitas riilnya di dalam kamar tidur.

Sebagai refleksi, salah satu yang membentuk kegagalan gerakan progresif, adalah kegagalan
mengenal realitas objek pengorganisasiannya. Pengorganisir buruh, hanya mengenal realitas buruh
saat di pabrik. Pengorganisir petani, hanya mengenal realitas petani saat di sawah. Mereka abai
bahwa kasus seorang buruh bunuh diri, belum tentu hanya berelasi dengan aktivitas rill di dalam
pabrik. Bisa saja punya relasi dengan pertengakaran dalam rumah tangga, atau kebutuhan
membayar biaya sekolah anak namun waktu pembayaran upah belum tiba.

Lalu bagaimana dengan gerakan mahaiswa?

2. Klasifikasi

Klasifikasi adalah upaya men-spesifik-kan seluruh himpunan data yang dikumpulkan. Karena MD
percaya bahwa tidak ada yang berdiri sendiri, selalu ada gerak, kesaling-hubungan dan membentuk
sesuatu yang baru. Maka dalam hal ini, proses klasifikasi mesti tiba pada mengelompokan setiap
realitas, menyusun taksonomi, untuk membantu menemukan, mana realitas yang ‘pokok’, dan
mana yang ‘tidak pokok’. Pemisahan ini bukan berarti ada proses skip. Tapi pemisahan ini sebagai
jalan untuk memahami mana ‘penopang’ dan mana yang ‘ditopang’.

Mahasiswa Organisasi
mahasiswa organisasi
mahasiswa organisasi

Mahasiswa
Organisasi
mahasiswa
organisasi
AA

mahasiswa organisasi
3. Analisis-interpretasi

Tahap terakhir adalah tahap membangun argumentasi baru dari data yang telah dikenali lalu
dikelompokkan. Argumentasi tersebut lahir dari pemahaman mengenai kesaling-hubungan seluruh
realitas.

Mahasiswa Organisasi
mahasiswa organisasi
mahasiswa organisasi

Mahasiswa Organisasi
mahasiswa organisasi
AA

mahasiswa organisasi