You are on page 1of 10

Meutia Savitri

1610311026
15C

MODUL 1
SKENARIO 1: Stop BABS
Dokter Tesa adalah pimpinan Puskesmas Batu Hijau yang sedang bersiap menuju Kantor
Kecamatan. Hari ini akan ada pertemuan dengan pihak kecamatan dan jajaran Lurah, RW serta RT
sekecamatan untuk menyikapi instruksi Bupati tentang Pelaksanaan Sanitasi Total Berbasis
Masyarakat (STBM). Pelaksanaan STBM difokuskan kepada pilar 1, yaitu Stop Buang Air Besar
Sembarangan (BABS) untuk mendukung pencapaian target RPJMN yaitu universal access 2019.
Target ini pada akhir tahun 2019 harus mencapai 100% desa/kelurahan melaksanakan STBM, dan 50%
desa/kelurahan STBM harus mencapai open defecation-free (ODF) yang terverifikasi.
Pagi ini sebelum dokter Tesa dan pemegang program Kesehatan Lingkungan berangkat ke
kantor kecamatan, ada dua orang balita yang dibawa ke puskesmas dengan diare dan dehidrasi berat.
Kasus diare di wilayah tersebut memang tinggi, dengan laporan tiga bulan yang lalu terdapat 33%
kasus dan bulan ini meningkat menjadi 56%. Hal ini dimungkinkan dari perilaku masyarakat yang
BABS, seperti di kolam, sungai dan kebun.
Data 10 penyakit terbanyak di puskesmas juga didominasi oleh penyakit berbasis lingkungan
seperti ISPA, diare dan penyakit kulit. Bahkan sudah terjadi kejadian luar biasa (KLB) DBD pada
setahun yang lalu. Kondisi ini terkait dengan kurang diperhatikannya faktor risiko oleh masyarakat
seperti pengelolaan sampah, saluran limbah cair, jamban, penggunaan air bersih, ventilasi rumah, dll.
yang masih belum sesuai dengan persyaratan kesehatan. Dokter Tesa berharap agar pertemuan ini
memperoleh dukungan dari semua pihak untuk kesuksesan upaya STBM yang dilaksanakan oleh
puskesmas.
Bagaimana anda menjelaskan hubungan berbagai faktor risiko lingkungan di atas dengan
penyakit, upaya pencegahannya beserta peraturan perundang-undangan pengelolaan lingkungan?

TERMINOLOGI
1. Puskesmas : Pusat Kesehatan Masyarakat, disingkat Puskesmas, adalah organisasi fungsional
yang menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh, terpadu, merata, dapat diterima dan
terjangkau oleh masyarakat, dengan peran serta aktif masyarakat dan menggunakan hasil
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna, dengan biaya yang dapat dipikul oleh
pemerintah dan masyarakat. Upaya kesehatan tersebut diselenggarakan dengan menitikberatkan kepada
pelayanan untuk masyarakat luas guna mencapai derajad kesehatan yang optimal, tanpa mengabaikan
mutu pelayanan kepada perorangan.
2. Kesehatan : menurut WHO 1948 kesehatan adalah sebagai “suatu keadaan fisik, mental, dan
sosial kesejahteraan dan bukan hanya ketiadaan penyakit atau kelemahan”. Menurut Undang-
Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan (Kemenkes, 2009),
kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang
memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
3. Sanitasi : perilaku disengaja dalam pembudayaan hidup bersih dengan maksud mencegah
manusia bersentuhan langsung dengan kotoran dan bahan buangan berbahaya lainnya dengan
harapan usaha ini akan menjaga dan meningkatkan kesehatan manusia.
4. Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) : Pendekatan Sanitasi Total Berbasis
Masyarakat adalah pendekatan untuk mengubah perilaku higienis dan saniter melalui
pemberdayaan masyarakat dengan cara pemicuan. Pendekatan partisipatif ini mengajak masyarakat
untuk mengalisa kondisi sanitasi melalui proses pemicuan yang menyerang/menimbulkan rasa
ngeri dan malu kepada masyarakat tentang pencemaran lingkungan akibat BABS.
5. RPJMN : Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional, (disingkat RPJM Nasional), adalah
dokumen perencanaan untuk periode 5 (lima) tahun. Pada saat ini berlaku RPJMN III yang
berlangsung pada tahun 2015-2019.
6. Buang Air besar sembarangan (BABS) : suatu tindakan membuang kotoran atau tinja di
tempat terbuka dan dibiarkan menyebar mengontaminasi tanah, air dan udara.
7. Open Defecation Free (ODF) : kondisi ketika setiap individu dalam komunitas tidak buang air
besar sembarangan, Pembuangan tinja yang tidak memenuhi syarat sangat berpengaruh pada
penyebaran penyakit berbasis lingkungan, sehingga untuk memutuskan rantai penularan ini harus
dilakukan rekayasa pada akses ini. Agar usaha tersebut berhasil, akses masyarakat pada jamban
(sehat) harus mencapai 100% pada seluruh komunitas.
8. Universal Access 2019 : Ini dimaknai bahwa 100% masyarakat mendapatkan layanan air
minum dan sanitasi yang layak. Hal tersebut tertuang dalam Undang-Undang 17 tahun 2007
tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJPN) 2005-2025. RPJPN mengamanatkan
pada akhir periode RPJM 20015-2019 layanan dasar air minum dan sanitasi dapat dinikmati
oleh seluruh rakyat Indonesia.
9. Diare : Menurut WHO diare adalah buang air besar dengan konsistensi cair (mencret) dengan
frekuensi 3 kali sehari atau lebih dalam sehari (24 jam).
10. Dehidrasi berat : Kondisi tubuh kekurangan cairan dan elektrolit. Pada kasus dengan
dehidrasi berat, gejala dan tanda yang dapat timbul berupa: rasa haus yang ekstrim atau bahkan
menjadi malas minum, lekas marah dan kebingungan, mulut sangat kering, kulit kering dengan
turgor yang sangat lamban, sedikit atau tidak berkemih sama sekali, warna urine lebih gelap
dan pekat dari biasanya, mata cekung, tekanan darah yang rendah, laju denyut jantung dan nadi
meningkat, nafas cepat, demam, dan dalam kasus yang paling serius menjadi delirium atau
tidak sadarkan diri. Pada anak dan bayi gejala dan tanda berikut juga dapat ditemukan:
cenderung lebih tidak aktif dari biasanya, mengantuk, ubun – ubun yang cekung, serta tidak
ada air mata saat menangis.
11. ISPA : Infeksi saluran pernafasan akut. Infeksi saluran pernafasan yang berlangsung hingga
14 hari.
12. Kejadian Luar Biasa : Status Kejadian Luar Biasa diatur oleh Peraturan Menteri Kesehatan
RI No. 949/MENKES/SK/VII/2004. Kejadian Luar Biasa dijelaskan sebagai timbulnya atau
meningkatnya kejadian kesakitan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada
suatu daerah dalam kurun waktu tertentu.
Kriteria tentang Kejadian Luar Biasa mengacu pada Keputusan Dirjen No. 451/91, tentang
Pedoman Penyelidikan dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa. Menurut aturan itu, suatu
kejadian dinyatakan luar biasa jika ada unsur:
 Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal
 Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus-menerus selama 3 kurun waktu berturut-
turut menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu)
 Peningkatan kejadian penyakit/kematian 2 kali lipat atau lebih dibandingkan dengan
periode sebelumnya (jam, hari, minggu, bulan, tahun).
 Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan 2 kali lipat atau lebih
bila dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dalam tahun sebelumnya.

IDENTIFIKASI MASALAH
1. Bagaimana pelaksanaan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat dilakukan ?
2. Apa saja pilar STBM?
3. Mengapa stbm difokuskan pada pilar 1?
4. Apa saja target RPJMN selain universal access 2019?
5. Apa makna 100% desa/kelurahan melaksanakan STBM dan 50% mencapai open defecation free
yang terverifikasi?
6. Bagaimana cara melakukan verifikasi terhadap ODF?
7. Mengapa bias terjadi peningkatan laporan kasus dari 3 bulan lalu 33% kasus dan bulan ini menjadi
56% kasus?
8. Apa hubungan kasus diare yang meningkat dengan prilaku masyarakat yang BABS, seperti di
kolam, sungai dan kebun?
9. Mengapa penyakit berbasis lingkungan menjadi yg tertinggi di puskesmas?
10. Apa makna sudah terjadi kejadian luar biasa (KLB) DBD setahun yang lalu?
11. Apa persyaratan kesehatan untuk pengelolaan sampah, saluran limbah cair, jamban, penggunaan
air bersih, ventilasi rumah dll?
12. Mengapa upaya STBM dilaksanakan oleh puskesmas?
13. Apa saja penyakit yang bias disebabkan oleh factor risiko lingkungan diatas?
14. Bagaimana upaya pencegahan penyakit tersebut?
15. Apa peraturan perundang-undangan yang mengatur pengelolaan lingkungan ?

BRAINSTORMING
1. Bagaimana pelaksanaan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat dilakukan ?
Dalam pelaksanaannya, STBM tidak menggunakan metode penyuluhan seperti yang biasa
dilakukan oleh program kesehatan lainnya. STBM menggunakan pemicuan yang menggunakan
metode participatory rural appraisal (PRA) dan berprinsip pada pendekatan CLTS (Kar, 2008).
Dengan menggunakan metode PRA, masyarakat dapat menganalisa perilaku higiene dan profil
sanitasinya masing-masing. Misalnya saja dalam pemicuan pilar satu (berhenti buang air besar
sembarangan) masyarakat dapat menganalisa sampai pada luasnya buang air besar di tempat
terbuka dan penyebaran kontaminasi dari kotoran ke mulut yang memperburuk keadaan setiap
orang. Untuk memfasilitasi masyarakat dalam menganalisa perilaku higiene dan profil sanitasinya,
ada beberapa instrumen yang biasanya diterapkan dalam pendekatan CLTS (community lead total
sanitation). Instrumen tersebut antara lain jalan kaki transect, pemetaan tempat BABS, dan
perhitungan jumlah kotoran manusia. Jalan kaki transect merupakan kegiatan berkeliling di wilayah
desa bersama dengan anggota masyarakat untuk mengetahui jamban sehat yang telah dimiliki
masyarakat dan tempat masyarakat melakukan kegiatan BAB. Keberadaan orang yang berasal dari
luar komunitas yang melihat tempat BABS (bahkan kotoran yang berceceran) akan menimbulkan
perasaan malu dalam diri masyarakat. Kemudian pemetaan tempat BABS dilakukan dengan
menggambarkan kondisi wilayah tempat tinggal oleh seluruh warga dalam satu komunitas dan
digambarkan juga tempat-tempat terbuka yang biasanya digunakan sebagai tempat buang air besar.
Dengan pemetaan tersebut, perhatian para warga akan tertuju pada jarak yang harus ditempuh untuk
mencari tempat buang air, segi keamanan, dan alur kotoran yang telah mereka buang dapat
mencapai badan air terdekat dan mengontaminasi badan air tersebut. Lalu yang terakhir,
perhitungan jumlah kotoran manusia bertujuan untuk membantu fasilitator dalam mengilustrasikan
besarnya masalah sanitasi yang dihadapi yang akan berpengaruh pada timbulnya penyakit. Maka
dengan pendekatan CLTS tersebut dapat timbul perasaan jijik dan malu di antara masyarakat. Dan
secara kolektif mereka akan menyadari dampak buruk dari buang air besar di tempat terbuka
sehingga dengan kesadaran ini mereka akan tergerak untuk memprakarsai tindakan lokal secara
kolektif untuk memperbaiki keadaan sanitasi di dalam komunitasnya sendiri (Kar, 2008)

2. Apa tujuan STBM?

tujuan penyelenggaraan STBM adalah untuk mewujudkan perilaku masyarakat yang higienis dan
saniter secara mandiri dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-
tingginya. Diharapkan pada tahun 2025, Indonesia bisa mencapai sanitasi total untuk seluruh
masyarakat, sebagaimana tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional
(RPJPN) Indonesia

3. Apa peran pemerintah dalam STBM ?


Peran dan Tanggung Jawab Pemangku Kepentingan
RT/Dusun/Kampung:
Mempersiapkan masyarakat untuk berpartisipasi (gotong royong)
Memonitor pekerjaan di tingkat masyarakat
Menyelesaikan permasalahan/konflik masyarakat
Mendukung/memotivasi masyarakat lainnya,setelah mencapai keberhasilan sanitai total (ODF) di
lingkungan tempat tinggalnya
Membangun kapasitas kelompok pada lokasi kegiatan STBM
Membangun kesadaran dan meningkatkan kebutuhan
Memperkenalkan opsi-opsi teknologi
Mempunyai strategi pelaksanaan dan exit strategi yang jelas

Pemerintah Desa:
Membentuk tim fasilitator desa yang anggotanya berasal dari kader-kader desa, Para Guru, dsb
untuk memfasilitasi gerakan masyarakat. Tim ini mengembangkan rencana desa, mengawasi
pekerjaan mereka dan menghubungkan dengan perangkat desa
Memonitor kerja kader pemicu STBM dan memberikan bimbingan yang diperlukan
Mengambil alih pengoperasian dan pemeliharaan (O & M) yang sedang berjalan dan
tanggungjawab ke atas
Memastikan keberadilan di semua lapisan masyarakat, khususnya kelompok yang peka

Pemerintah Kecamatan:
Berkoordinasi dengan berbagai lapisan Badan Pemerintah dan memberi dukungan bagi kader
pemicu STBM
Mengembangkan pengusaha lokal untuk produksi dan suplai bahan serta memonitor kualitas bahan
tersebut
Mengevaluasi dan memonitor kerja lingkungan tempat tinggal
Memelihara database status kesehatan yang efektif dan tetap ter-update secara berkala

Kabupaten Pemerintah:
Mempersiapkan rencana kabupaten untuk mempromosikan strategi yang baru
Mengembangkan dan mengimplementasikan kampanye informasi tingkat kabupaten mengenai
pendekatan yang baru
Mengkoordinasikan pendanaan untuk implementasi strategi STBM
Mengembangkan rantai suplai sanitasi di tingkat kabupaten
Memberikan dukungan capacity building yang diperlukan kepada semua institusi di kabupaten.

Pemerintah Provinsi:
Berkoordinasi dengan berbagai instansi/lembaga terkait tingkat Provinsi dan mengembangkan
program terpadu untuk semua kegiatan STBM
Mengkoordinasikan semua sumber pembiayaan terkait dengan STBM
Memonitor perkembangan strategi nasional STBM dan memberikan bimbingan yang diperlukan
kepada tim Kabupaten
Mengintegerasikan kegiatan higiene dan sanitasi yang telah ada dalam strategi STBM
Mengorganisir pertukaran pengetahuan/pengalaman antar kabupaten

Pemerintah Pusat:
Berkoordinasi dengan berbagai instansi/lembaga terkait tingkat Pusat dan mengembangkan
program terpadu untuk semua kegiatan STBM
Mengkoordinasikan semua sumber pembiayaan terkait dengan STBM
Memonitor perkembangan strategi nasional STBM dan memberikan bimbingan yang diperlukan
kepada tim Provinsi
Mengintegerasikan kegiatan higiene dan sanitasi yang telah ada dalam strategi STBM
Mengorganisir pertukaran pengetahuan/pengalaman antar kabupatendan/atau provinsi serta antar
Negara

4. Apa saja pilar STBM?


Terdapat lima pilar Upaya sanitasi berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 3
Tahun 2014 yang disebut Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) yaitu
meliputi Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBS), Cuci Tangan Pakai Sabun, Pengelolaan Air
Minum dan Makanan Rumah Tangga, Pengamanan Sampah Rumah Tangga dan
Pengamanan Limbah Cair Rumah Tangga (Kemenkes RI, 2014).
5. Mengapa stbm difokuskan pada pilar 1?
Fokus pertama dilakukan pada Stop BABS karena pilar tersebut berfungsi sebagai pintu masuk
menuju sanitasi total serta merupakan upaya untuk memutus rantai kontaminasi kotoran manusia
terhadap air baku minum, makanan, dan lainnya (Ditjen PP dan PL, 2011).

6. Apa saja target RPJMN selain universal access 2019?

7. Apa makna 100% desa/kelurahan melaksanakan STBM dan 50% mencapai open defecation free
yang terverifikasi?

8. Bagaimana cara melakukan verifikasi terhadap ODF?


Kondisi ODF ditandai dengan 100% masyarakat telah mempunyai akses BAB di jamban sendiri.
tidak adanya kotoran di lingkungan mereka, serta mereka mampu menjaga kebersihan jamban
(Permenkes No.3 Tahun 2014). Sesuai Keputusan Menteri Kesehatan nomor
852/Menkes/SK/IX/2008 Tentang Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat bahwa
indikator outcome dari program STBM yaitu menurunnya kejadian penyakit diare dan penyakit
berbasis lingkungan lainnya yang berkaitan dengan sanitasi dan perilaku, maka pada pilar pertama
ini lebih menekankan pada 4 penurunan penyakit diare, karena penyakit diare merupakan penyakit
umum yang tidak hanya diderita oleh orang dewasa namun juga balita.

Karakteristik Desa ODF (Open Defication Free)


Satu komunitas/masyarakat dikatakan telah ODF jika :
a. Semua masyarakat telah BAB hanya di jamban dan membuang tinja/kotoran bayi hanya ke
jamban.
b. Tidak terlihat tinja manusia di lingkungan sekitar.
c. Tidak ada bau tidak sedap akibat pembuangan tinja/kotoran manusia.
d. Ada peningkatan kualitas jamban yang ada supaya semua menuju jamban sehat.
e. Ada mekanisme monitoring peningkatan kualitas jamban.
f. Ada penerapan sanksi, peraturan atau upaya lain oleh masyarakat untuk mencegah kejadian
BAB di sembarang tempat.
g. Ada mekanisme monitoring umum yang dibuat masyarakat untuk mencapai 100% KK
mempunyai jamban sehat.
h. Di sekolah yang terdapat di komunitas tersebut, telah tersedia sarana jamban dan tempat cuci
tangan (dengan sabun) yang dapat digunakan murid-murid pada jam sekolah.
i. Analisa kekuatan kelembagaan di Kabupaten menjadi sangat penting untuk menciptakan
kelembagaan dan mekanisme pelaksanaan kegiatan yang efektif dan efisien sehingga tujuan
masyarakat ODF dapat tercapai

Verifikasi ODF merupakan proses memastikan status ODF suatu komunitas masyarakat yang
menyatakan bahwa secara kolektif mereka telah bebas dari perilaku buang air besar sembarangan.
Adapun batasan bahwa suatu komunitas masyarakat telah dapat dikatakan ODF apabila:
a. Semua masyarakat telah BAB hanya di jamban yang sehat dan membuang tinja/kotoran bayi
hanya ke jamban yang sehat (termasuk di sekolah).
b. Tidak terlihat tinja manusia di lingkungan sekitar.
c. Ada penerapan sanksi, peraturan atau upaya lain oleh masyarakat untuk mencegah kejadian
BAB di sembarang tempat.
d. Ada mekanisme monitoring yang dibuat masyarakat untuk mencapai 100 persen KK
mempunyai jamban sehat.
e. Ada upaya atau strategi yang jelas dan tertulis untuk dapat mencapai Total Sanitasi.

9. Mengapa bisa terjadi peningkatan laporan kasus dari 3 bulan lalu 33% kasus dan bulan ini menjadi
56% kasus?
Menurut WHO, kejadian diare sering dikaitkan dengan sumber air yang tercemar, sanitasi yang
tidak memadai, praktik kebersihan yang buruk, makanan yang terkontaminasi dan
malnutrisi.(13) Kejadian diare dapat disebabkan beberapa faktor antara lain : faktor pendidikan,
pekerjaan, sosial ekonomi dan faktor makanan dan minuman yang dikonsumsi, faktor balita
seperti umur balita, gizi balita, serta faktor lingkungan.

10. Apa hubungan kasus diare yang meningkat dengan prilaku masyarakat yang BABS, seperti di
kolam, sungai dan kebun?
Buang air besar sembarangan dapat mengakibatkan kontaminasi pada air, tanah, udara, makanan,
dan perkembangbiakan lalat. Sesuai dengan model ekologi, ketika lingkungan buruk akan
menyebabkan penyakit. Penyakit yang dapat terjadi akibat kontaminasi tersebut antara lain tifoid,
paratiroid, disentri, diare, kolera, penyakit cacing, hepatitis viral, dan beberapa penyakit infeksi
gastrointestinal lain, serta infeksi parasit lain. Upaya untuk memutus terjadinya penularan penyakit
dapat dilaksanakan dengan memperbaiki sanitasi lingkungan. Tersedianya jamban merupakan
usaha untuk memperbaiki sanitasi dasar dan dapat memutus rantai penularan penyakit

11. Mengapa penyakit berbasis lingkungan menjadi yg tertinggi di puskesmas?


12. Apa makna sudah terjadi kejadian luar biasa (KLB) DBD setahun yang lalu?
Kasus DBD di wilayah tersebut telah memenuhi Kriteria tentang Kejadian Luar Biasa mengacu
pada Keputusan Dirjen No. 451/91.

13. Apa persyaratan kesehatan untuk pengelolaan sampah, saluran limbah cair, jamban, penggunaan
air bersih, ventilasi rumah dll?

14. Mengapa upaya STBM dilaksanakan oleh puskesmas?

15. Apa saja penyakit yang bias disebabkan oleh factor risiko lingkungan diatas?
Penyakit yang dapat terjadi akibat factor risiko lingkungan diatas antara lain tifoid, paratiroid,
disentri, diare, kolera, penyakit cacing, hepatitis viral, dan beberapa penyakit infeksi
gastrointestinal lain, serta infeksi parasit lain.

16. Bagaimana upaya pencegahan penyakit tersebut?


PENCEGAHAN PENYAKIT ISPA Pencegahan dapat dilakukan dengan :
· Menjaga keadaan gizi agar tetap baik.
· Immunisasi.
· Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan
. · Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA.
Pencegahan DBD
Upaya Pencegahan Tahapan pencegahan yang dapat diterapkan untuk menghindari
terjadinya fase suseptibel dan fase subklinis atau yang sering disebut dengan fase
prepatogenesis ada dua, yaitu:
a. Health Promotion
1) Pendidikan dan Penyuluhan tentang kesehatan pada masyarakat.
2) Memberdayakan kearifan lokal yang ada (gotong royong).
3) Perbaikan suplai dan penyimpanan air.
4) Menekan angka pertumbuhan penduduk.
5) Perbaikan sanitasi lingkungan, tata ruang kota dan kebijakan pemerintah

17. Apa peraturan perundang-undangan yang mengatur pengelolaan lingkungan ?


Peraturan lingkungan hidup
Daftar undang-undang:
1. Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang.
2. Undang-Undang No. 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah.
3. Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup.
Daftar peraturan pemerintah:
1. Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 Tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.
2. Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1999 Tentang Pengendalian Pencemaran Udara.
3.Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan
Pengendalian Pencemara
4. Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 2012 Tentang Izin Lingkungan.

Daftar pustaka
1. http://stbm.kemkes.go.id/
2. http://www.sanitasi.or.id
3. https://kknm.unpad.ac.id/kediri/penyuluhan-desa-odf/
4. Wikipedia
5. https://www.academia.edu/36223661/GAMBARAN_PROGRAM_SANITASI_TOTAL_BERBA
SIS_MASYARAKAT_DI_DINAS_KESEHATAN_KOTA_SEMARANG_TAHUN_2016
6.