You are on page 1of 10

Jurnal Psikologi Undip Vol.15 No.

2, Oktober 2016, 151-160

PERILAKU AGRESIF YANG DIALAMI KORBAN


KEKERASAN DALAM PACARAN

Anik Nur Khaninah, Mochamad Widjanarko

Fakultas Psikologi, Universitas Muria Kudus


Jl. Lkr. Utara No.17, Gondangmanis, Bae, Kudus

m.widjanarko@umk.ac.id

Abstract
The objective of this study is to determine the forms of aggressive behavior that received by victims of courtship
violence and the factors that causes violence in long term courtship. The method used in this study is a qualitative
research method with a phenomenological approach using data collection techniques by observing and
interviewing. The sampling technique used in this study is snowball technique. Data analysis techniques follow this
stages: analyzing all the data, categorizing data, preparing the psychological dynamics, connecting with the
theoretical basis and drawing conclusions. Based on the results of the study, it shows the forms of aggressive
behavior that received by victims of violence in courtship is verbal or symbolic aggression behavior, such as harsh
words, words that is not worth to listen, mocking/scolding, threatening, insisting, and limiting intercommunication.
In case of violation of property rights, is the property of the subjects used at one’s pleasure by their mate without
permission. Physical assault is in the form of forced asking or confiscated subject as well as hitting or knocking
head. While the reason for the victims to survive is feeling shy because everyone already knows their courtship
relationship.Besides, the victim thinks and hopes theirmatewould be better and their relationshipwould be
improved.

Keywords: aggressive behavior; victims of violence in courtship; phenomenology

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk-bentuk perilaku agresi yang diterima oleh korban kekerasan
dalam pacaran dan faktor yang menyebabkan korban kekerasan dalam pacaran bertahan. Metode yang digunakan
dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologis dengan mengunakan
teknik pengumpulan data observasi dan wawancara. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik snowball.
Teknik analisis data dengan tahapan sebagai berikut: menelaah seluruh data, mengkategorikan data, menyusun
dinamika psikologis, menghubungkan dengan landasan teori, dan menarik kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian
mensimpulkan bentuk-bentuk perilaku agresi yang diterima korban kekerasan dalam pacaran adalah perilaku agresi
verbal atau simbolis, yaitu berupa kata-kata kasar, kata-kata tidak layak dengar, memburuk-burukkan / menjelek-
jelekkan, mengancam, menuntut, dan membatasi pergaulan. Dalam hal pelanggaran hak milik, yaitu barang milik
subyek digunakan seenaknya sendiri oleh pasangan maupun menggunakan tanpa ijin. Penyerangan fisik berupa
meminta paksa atau merampas barang subyek serta memukul atau menjenggung. Sedangkan alasan korban bertahan
adalah malu karena semua orang terlanjur mengetahui hubungan pacaran mereka, serta korban berfikir dan berharap
pasangan dapat berubah lebih baik dan hubungan mereka dapat diperbaiki,

Kata Kunci: perilaku agresi; korban kekerasan dalam pacaran; fenomenologi

PENDAHULUAN Perilaku agresif tersebut dapat menye-


babkan seseorang, terutama laki-laki
Kekerasan merupakan bagian dari perilaku melakukan tindak kekerasan terhadap orang
agresivitas. Kekerasan merupakan salah satu lain, dalam hal ini yang dimaksud adalah
sub tipe agresi yang menunjuk pada bentuk- pacar. Kebutuhan lelaki untuk menguasai
bentuk agresi fisik ekstrem. Kekerasan atau mendominasi wanita dan
didefinisikan sebagai pemberian tekanan ketidakmampuan untuk berempati mungkin
intensif terhadap orang atau property membuatnya lebih suka mengandalkan
dengan tujuan merusak, menghukum, atau kekerasan.
mengontrol.

151
152 Perilaku agresif yang dialami korban kekerasan dalam pacaran
Whittaker (dalam Sagala, 2008) mengatakan perasaan dengan agresi sebagai bentuk
bahwa perilaku agresif seringkali digunakan perilaku (Adi, 2009). Agresi adalah suatu
untuk menunjukkan adanya kecenderungan respon terhadap kemarahan, kekecewaan,
menyerang individu lainnya atau individu- perasaan dendam atau ancaman yang
individu yang mempunyai niat untuk memancing amarah yang dapat mem-
menimbulkan cedera fisik maupun bangkitkan perilaku kekerasan sebagai suatu
psikologi, dengan begitu tindakan fisik yang cara melawan atau menghukum berupa
overt, kecaman serta penggunaan bahasa tindakan menyerang, merusak hingga
verbal yang kasar juga merupakan perilaku membunuh (Adi, 2009).
agresif.
Kekerasan dalam berpacaran (KDP)
Perilaku agresi merupakan bentuk perilaku atau dating violence merupakan kasus yang
negatif yang timbul karena adanya sering terjadi setelah kekerasan dalam
rangsangan, terutama rangsangan dari rumah tangga.Sebenarnya siapa saja bisa
lingkungan yang seringkali mengakibatkan menjadi korban KDP, baik laki-laki maupun
dampak yang lebih besar. Perilaku agresi perempuan, tetapi korban didominasi oleh
dapat berupa fisik maupun verbal dan dapat kaum perempuan yang lebih banyak
terjadi pada orang lain ataupun objek yang mengalami kekerasan dalam pacaran.
menjadi sasaran perilaku agresi. Banyak
tokoh yang menjelaskan tentang pengertian Hal ini di dukung dari sumber Komnas
perilaku agresi, menurut Baron (dalam Perempuan (Ridwan, 2006), berdasarkan
Koeswara, 1988) agresi adalah tingkah laku hasil penanganan kasus kekerasan di 14
individu yang ditujukan untuk melukai atau daerah di Indonesia tercatat bahwa dari
mencelakakan individu lain yang tidak 3169 kasus kekerasan terhadap perempuan,
menginginkan datangnya tingkah laku kaum perempuan paling banyak mengalami
tersebut. kekerasan dan penganiayaan oleh orang-
orang terdekatnya (40%) serta tindak
Aronson (dalam Koeswara, 1988) perkosaan dikomunitasnya sendiri (32%).
menjelaskan agresi adalah tingkah laku Pola ini berlaku dikota-kota besar seperti
yang dijalankan individu dengan maksud Jakarta dan Yogyakarta, di daerah yang
melukai atau mencelakakan individu lain miskin dan penuh konflik, maupun di
dengan ataupun tanpa tujuan tertentu. daerah yang diwarnai kedinamisan ekonomi
Sementara itu, Moore dan Fine (dalam serta budaya seperti Surabaya dan Sulawesi
Koeswara, 1988) mendefinisikan agresi Selatan.
sebagai tingkah laku kekerasan secara fisik
ataupun secara verbal terhadap individu lain Kekerasan dalam pacaran merupakan salah
atau terhadap objek-objek. Sedangkan satu bentuk perilaku agresi dari tindakan
Berkowitz (dalam Krahe, 2005) kekerasan terhadap perempuan. Sedangkan
mendefinisikan agresi dalam hubungannya definisi kekerasan terhadap perempuan itu
dengan pelanggaran norma atau perilaku sendiri menurut Deklarasi Penghapusan
yang tidak dapat diterima secara sosial Kekerasan terhadap Perempuan tahun 1994
berarti mengabaikan masalah bahwa pasal 1 adalah: setiap tindakan berdasarkan
evaluasi normatif mengenai perilaku perbedaan jenis kelamin yang berakibat
seringkali berbeda, bergantung perspektif kesengsaraan atau penderitaan perempuan
pihak-pihak yang terlibat. secara fisik, seksual dan psikologis,
termasuk ancaman tindakan tertentu,
Kekerasan (violence) merupakan suatu pemaksaan atau perampasan kemerdekaan
bentuk perilaku agresi (aggressive behavior) secara sewenang-wenang, baik yang terjadi
yang menyebabkan penderitaan atau di depan umum atau dalam kehidupan
menyakiti orang lain, ada perbedaan antara pribadi (Komnas Perempuan, 2004).
agresi sebagai suatu bentuk pikiran maupun

Jurnal Psikologi Undip Vol.14 No. 2Oktober 2015, 151-160


Khaninah, & Widjanarko 153

Kekerasan yang terjadi dalam relasi 2011). Kelompok usia dengan risiko
personal perempuan ini biasanya terdiri dari tertinggi adalah 16-19 tahun, disusul dengan
berbagai jenis seperti perilaku agresi dalam kelompok usia 12-15 tahun dan 20-24
bentuk kekerasan terhadap fisik, tahun. Sayangnya, kasus kekerasan dalam
mental/psikis, ekonomi dan seksual. pacaran kerap tersembunyi karena sebagian
Perilaku agresi dalam bentuk kekerasan besar dari mereka tidak berpengalaman
dalam pacaran sering tidak disadari oleh dalam hubungan pacaran, tertekan oleh
korban yang sedang jatuh cinta dan teman-teman untuk berbuat kasar dan juga
menganggap kekerasan yang diterima pandangan romantisnya mengenai cinta.
merupakan bentuk kasih sayang pasangan Sementara itu, pandangan romantis
kepadanya (Setyawati, 2010). mengakibatkan kesalahan mengenali adanya
tanda hubungan yang kasar. Setidaknya,
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara satu dari tiga remaja mengalami kekerasan
dengan mahasiswa yang berinisial S yang dalam pacaran (U.S. Department of Justice,
pernah mengalami perilaku agresi dalam 2008).
bentuk kekerasan dalam pacaran
menyatakan, Sedangkan di Indonesia, dari data Rifka
Annisa (2012) tercatat dari 1994-2011,
“Saya selalu menjadi sasaran amukan Rifka Annisa telah menangani 4952 kasus
pacar saat dia kesal kepada orang lain, kekerasan pada perempuan, posisi pertama
saya juga hanya dijadikan tempat sampah, kasus KDRT sebanyak 3274 kasus, dan
karena selalu mendengar keluhan dia tapi posisi kedua kasus dating violance tercatat
saya tidak diberi kesempatan buat bicara. 836 kasus. (Rifka Annisa, 2012). Sedangkan
Dia ingin menang sendiri, sering marah- data statistik kasus Kekerasan Terhadap
marah dan ngomong kasar atau kotor” Perempuan (KTP) di Rifka Annisa Juli –
September 2012 menunjukkan kekerasan
Sedangkan A menjadi korban perilaku terhadap istri 157 kasus, kekerasan dalam
agresi pacarnya secara psikis dan ekonomi, pacaran 24 kasus, perkosaan 19 kasus,
pelecehan seksual 8 kasus, kekerasan dalam
“Pacar saya mengancam putus kalo ndak keluarga 12 kasus, dan traffiking 0 kasus
mau ML (making love), katanya itu sebagai (Rifka Media, 2013).
bukti cinta, kecuali itu pacar saya kalau
minta pulsa ngga bayar,” Demikian pula dari data Komnas
Perempuan (2011), ada 113.878 kasus
Begitu juga dengan X yang mengaku kekerasan terhadap perempuan.Sekitar
bahwa, 1.405 kasus di antaranya adalah kekerasan
dalam pacaran. LBH APIK Semarang pada
“Saya menjalani hubungan pacaran dengan tahun 2011 mencatat 95 kasus kekerasan
tenang, tetapi satu tahun terakhir perilaku terhadap perempuan. Kekerasan dalam
pacar saya berubah menjadi agresif, sering pacaran merupakan peringkat kedua
marah-marah karena hal sepele, saya tertinggi setelah kasus kekerasan dalam
sering merasa tertekan dalam kondisi ini. rumah tangga (Igy, 2012).
Kecuali itu, dia terlalu membatasi saya
dalam berpakaian, dan pergaulan dengan Berdasarkan data-data yang telah
teman-teman. Saya juga sering menjadi dipaparkan diatas pada bagian sebelumnya,
sasaran amukannya jika melakukan menunjukkan bahwa perilaku agresi dalam
kesalahan ” bentuk tindak kekerasan dalam pacaran
yang terjadi pada perempuan sangat
Selama tahun 2008, dilaporkan terjadi memprihatinkan, yaitu menempati urutan
200.000 kasus kekerasan seksual dan kedua setelah kekerasan terhadap istri atau
pemerkosaan di Amerika Serikat (ACADV, KDRT. Hal tersebut berkaitan dengan

Jurnal Psikologi Undip Vol.14 No.2 Oktober 2015, 151-160


154 Perilaku agresif yang dialami korban kekerasan dalam pacaran
dampak yang diterima oleh korban berfikir yang menekankan pada
kekerasan dalam pacaran. pengalaman-pengalaman subjektif manusia
dan interpretasinya.Pendekatan ini berusaha
Dalam Trifiani dan Margaretha (2012) untuk masuk ke dalam dunia konseptual
dikatakan bahwa Fenomena kekerasan para subjek yang ditelitinya sedemikian
dalam pacaran mengalami peningkatan dari rupa sehingga dapat diperoleh pengertian
tahun ke tahun. Berdasarkan konferensi pers mengenai apa dan bagaimana pengertian
Kementrian Pemberdayaan Perempuan pada yang dikembangkan oleh mereka pada
tahun 2008 disebutkan bahwa 1 dari 5 peristiwa dalam kehidupan sehari-hari
perempuan di Indonesia mengalami (Moleong, 2014).
kekerasan dalam pacaran. Komisi Nasional
Perempuan juga mencatat setidaknya Penelitian ini mengunakan teknik
selama tahun 2010 terjadi 1.299 kasus pengumpulan data observasi dan
kekerasan dalam pacaran, sedangkan wawancara, berlangsung pada bulan Maret
kekerasan oleh mantan pacar sebanyak 33 2013 sampai bulan Agustus 2013.
kasus (Lazuardi, 2011). Karakteristik informan tercatat sebagai
mahasiswa aktif di Universitas Muria
Di Surabaya, survei mengenai kasus Kudus. Wawancara dilakukan 2 kali dalam
kekerasan dalam pacaran juga pernah seminggu dan setiap pertemuan dilakukan
dilakukan oleh Youth Centre SeBAYA-PKBI wawancara selama ±2 jam. Teknik
Jawa Timur pada bulan Agustus 2010 pengambilan sampel menggunakan teknik
terhadap 100 remaja (SeBAYA, 2010). snowball, artinya pengambilan sampel
Hasilnya, 33% responden pernah dimarahi dilakukan secara berantai dengan meminta
pacar karena menolak berciuman, 17% informasi pada orang yang telah
pernah dikatakan tidak cinta bila menolak diwawancari atau dihubungi sebelumnya.
ajakan untuk melakukan hubungan seks,
dan sebanyak 12% responden diputus Menurut Bogdan dan Biklen (dalam
karena menolak berhubungan seks. Adapun Moleong, 2014) analisis data kualitatif
prosentase kekerasan fisik lebih kecil adalah upaya yang dilakukan dengan jalan
dibanding kekerasan verbal yakni sebanyak bekerja dengan data, mengorganisasikan
13% responden pernah dipukul/ditendang data, memilah-milahnya menjadi satuan
ketika tidak menuruti kemauan pacar. yang dapat dikelola, mensistesiskannya,
mencari dan menemukan pola, menemukan
Dari berbagai fakta yang telah dipaparkan di apa yang penting dan apa yang dipelajari,
atas, dapat disimpulkan bahwa terjadi dan memutuskan apa yang dapat diceritakan
kekerasan dalam pacaran dikalangan kepada orang lain.
perempuan karena dipengaruhi perilku
agresi pasangannya. Hal ini yang menarik
perhatian penulis untuk meneliti bagaimana HASIL DAN PEMBAHASAN
bentuk-bentuk perilaku agresi yang diterima
oleh korban kekerasan dalam pacaran dan Perilaku Agresi yang Dialami X
faktor-faktor penyebab yang membuat Pengalaman informan dalam berpacaran
korban dapat bertahan dalam hubungan sudah lima kali, namun yang terakhir ini
pacaran dengan kekerasan dialaminya. informan mengalami ketidaknyamanan
dalam hubungan pacaran karena mengalami
METODE kekerasan dari perilaku agresi pasangannya.
Adapun perilaku agresi yang diterima
Metode yang digunakan dalam penelitian ini informan adalah secara verbal atau
adalah metode penelitian kualitatif dengan simbolis, dalam hal ini berupa sikap
pendekatan fenomenologi. Pendekatan menuntut. Seperti yang diceritakan kepada
fenomenologi merupakan pandangan penulis sebagai berikut,

Jurnal Psikologi Undip Vol.14 No. 2Oktober 2015, 151-160


Khaninah, & Widjanarko 155

“Saya pacaran sekitar lima kali beberapa dihadapi dalam menjalani hubungan
kemarin ada yang nggak nyaman karena pacaran.
dia lebih memaksa saya untuk
memperhatikan dia dengan cara yang Hasil wawancara menyatakan bahwa
kurang wajar, dia menyuruh meminta informan mengalami kekerasan dalam
perhatian ke saya tetapi saya tidak pernah pacaran dari perilaku maupun sikap dari
diperhatikan”. pasangannya. Dari bentuk-bentuk perilaku
agresi pasangan menunjukkan adanya
Informan juga menerima perilaku agresi penyerangan verbal atau simbolis, dalam
verbal atau simbolis dalam bentuk ancaman, hal ini sikap menuntut. Seperti penuturan
seperti yang diungkapkan informan kepada informan di bawah ini,
penulis sebagai berikut,
“Misalnya nggak boleh gini, nggak boleh
“Kalau dia menginginkan sesuatu tetapi gitu, otomatis lama-kelamaan kan
saya tidak bisa membantunya agak nggak menyebabkan kita sebagai seseorang kan
enak juga, dia bilang gini “aku akan merasa ditekan, kok seperti ini sih,
minum, minuman keras, secara psikologis kesannya kan gerak tubuh kita dibatasi oleh
saya tertekan ”. seseorang, padahal kan kalau cinta
seseorang kan menerima, memahami”
Berdasarkan hasil wawancara, terdapat
perilaku yang diterima oleh informan dalam Hal lain, menunjukkan sikap pasangan yang
hal pelanggaran terhadap hak milik, adapun menuntut, seperti yang diceritakan informan
pernyataan informan sebagai berikut, sebagai berikut,

“Ia, dia sering buka-buka telepon genggam “Dulu waktu kita pergi piknik, dia bilang
saya. Kadang pacar saya suka buka-buka gini; ntar jangan foto sama cowok ya, lha
telepon genggam, buka sms, kadang kalau aku nya ya, namanya juga pacaran ada
dia tahu ada nomor mantan saya, dia komitmen seperti itu, tak iya-in maksud
menghapus nomornya” saya baik…. untuk menjaga perasaannya”

Informan juga menerima perilaku agresi Informan juga menerima perilaku agresi
pelanggaran hak milik, seperti yang dari pasangan dalam bentuk verbal atau
diceritakan informan kepada penulis sebagai simbolis yang menggunakan kata-kata
berikut, kasar, dalam hal ini mengatakan bahwa
korban memiliki keburukan. Seperti berikut
“Saya merasa dimanfaatkan ketika saya ini,
punya barang, laptop, motor, kadang dia
yang pakai, nggak ijin, sebenarnya saya “Wong wedhok kok gini-gini, maksudnya
kurang senang” nggak punya sopan, nggak enak lah
kedengarannya”
Perilaku Agresi yang Dialami Y
Informan pacaran dengan teman satu SMA “Koyo cah wedhok dalan, koyo lonte.kaya
dan berlanjut sampai sekarang. Awalnya PSK-PSK gitu lho….. nggak tahu diri”
informan dengan pasangan sudah saling
kenal, namun saat itu belum berpikiran “Saya dikata-katain kayak gini, dasar
untuk menjalin hubungan pacaran. Adanya cewek nggak bener kayak geleman,
perhatian yang diberikan, akhirnya informan murahan, padahal itu kan sebatas temen
memutuskan untuk pacaran. Hubungan cuma sms, toh saya ngga pergi sama cowok
pacaran informan sudah berjalan selama lain, dikatain seperti itu kadang ya bilang
empat tahun, tentunya dalam setiap sekebun binantang, marah-marah”.
hubungan terdapat berbagai masalah yang

Jurnal Psikologi Undip Vol.14 No.2 Oktober 2015, 151-160


156 Perilaku agresif yang dialami korban kekerasan dalam pacaran
Informan juga pernah menerima perilaku Informan juga menerima perlakuan berupa
agresi dalam bentuk penyerangan fisik, perilaku agresi penyerangan verbal atau
seperti penjelasan informan kepada penulis simbolis dari pasangan selama berpacaran,
berikut ini, dalam hal ini pasangan memburuk-
burukkan informan. Dapat terlihat pada
“Waktu di suatu tempat kameraku tadi ungkapan informan berikut ini,
diminta paksa untuk melihat fotoku yang
akhirnya bertengkar, itu saya sampai “Goblok gitu atau gimanalah itu pernah
nangis, dibentak-bentak untuk melihat yang jelek-jelek gitu pokoknya”.
foto”.
“Kalau saya diajak ngomong nggak
Informan juga menerima perilaku agresi nyambung….saya nggak nyambung terus
dalam bentuk pelanggaran hak milik, seperti saya dikatain goblok”.
yang diungkapkan informan kepada penulis
sebagai berikut ini, Informan mendapat perilaku agresi
penyerangan fisik, yaitu dengan cara
“Pernah, telepon genggam saya di sita, dijenggung, untuk pukulan informan masih
niatnya itu ngecek-ngecek nomor, ngecek menganggap perlakuan tersebut normal-
sms, tapi kan telepon genggamnya dibawa normal saja, tetapi ketika dijenggung baru
dulu, kan saya gimana kalau ada yang merasakan ketidaknyamanan dari pasangan
telepon, itu kan privasi, cuma 2 hari bentar tetapi tetap menerima perlakuan tersebut,
sih tapi kan ngga enak juga…” dapat terlihat dari pengakuan informan
berikut ini,
Perilaku Agresi yang Dialami Z
Menurut informan pacaran merupakan hal “Kalau dipukul sih nggak apa-apa ya tapi
yang wajar dilakukan oleh semua orang, kalau dijenggung merasa inilah hiii…aku
pacaran dapat saling berbagi dan tidak ada kok dikenekke, tapi ya kembali lagi
yang merasa tertekan satu sama lain, dalam ya,,karena dia pacar saya jadi ya saya
berpacaran informan mempunyai komitmen terima aja… “
untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih
serius, ia berpacaran sejak SMA dengan Informan juga menerima perilaku agresi
teman satu angkatannya dan berjalan hingga pelanggaran hak milik, seperti yang dialami
ke perguruan tinggi, selama pacaran informan sebagai berikut,
informan mendapatkan perilaku agresi
verbal atau simbolis dari pasangan berupa “HP itu nggak pernah sama saya, dia
sikap yang mengatur dalam artian menuntut. selalu ngecek ini siapa, kalau ada sms
Seperti yang diceritakan informan kepada nama-nama yang dia nggak tahu dia sering
penulis sebagai berikut, tanya-tanya terus, terus nama dikontak dia
tanya satu persatu yang mana yang dia
“Pokoknya kalau ketemu jam segini ya jam belum kenal, gitu…”
segini, harus tepat waktu. Posesif juga,
kalau mau kemana-mana itu harus ijin, Penjelasan mengenai bagan bentuk perilaku
mau kemana ijin dulu, sama siapa, terus agresi yang diterima informan X, Y, dan Z
berapa lama, sampai jam berapa, kalau pas digambarkan pada gambar 1, gambar 2 dan
ketemu ya kayak gitu masih tetap seperti gambar 3.
dulu, buka–buka hp, sms buka-buka,
terus… kalo mau pergi kemana-mana sama
teman nggak pernah ikut, harus sama dia
terus”

Jurnal Psikologi Undip Vol.14 No. 2Oktober 2015, 151-160


Khaninah, & Widjanarko 157

Pacaran

Perilaku Agresi

Bentuk-Bentuk Perilaku Agresi yang diterima Faktor Penyebab Korban


Korban Kekerasan dalam Pacaran Kekerasan Dalam Pacaran Bertahan

1. Secara verbal atau simbolis


(menuntut dan mengancam)
Berfikir pasangan dapat berubah
2. Pelanggaran hak milik
(menggunakan barang tanpa ijin)

Gambar 1.
Bentuk-bentuk perilaku agresi terhadap informan X

Pacaran

Perilaku Agresi

Bentuk-Bentuk Perilaku Agresi yang diterima Faktor Penyebab Korban


Korban Kekerasan dalam Pacaran Kekerasan Dalam Pacaran Bertahan

1. Menyerang fisik (merampas Hp) 1. Diam, berfikir hubungan pacaran


2. Verbal atau simbolis (menuntut dan dapat diperbaiki
memburuk-burukkan ) 2. Luluh, berharap pasangan dapat
3. Pelanggaran hak milik (menyita Hp merubah sikap menjadi lebih
selama 2 hari) baik

Gambar 2.
Bentuk-bentuk perilaku agresi terhadap informan Y

Jurnal Psikologi Undip Vol.14 No.2 Oktober 2015, 151-160


158 Perilaku agresif yang dialami korban kekerasan dalam pacaran

Pacaran

Perilaku Agresi

Bentuk-Bentuk Perilaku Agresi yang diterima Faktor Penyebab Korban


Korban Kekerasan dalam Pacaran Kekerasan Dalam Pacaran Bertahan

1. Menyerang fisik (memukul kepala / 1. Takut disakiti atau diputus


menjenggung) 2. Tidak ada pilihan lain
2. Secara verbal atau simbolis 3. Pasangan sudah terlalu baik
(menuntut dan memburuk-burukkan) 4. Merasa semua orang sudah
3. Pelanggaran hak milik (Hp selalu mengetahui hubungan pacaran,
dibawa pasangan) sehinggga malu

Gambar 3.
Bentuk-bentuk perilaku agresi terhadap informan Z

Tabel 1.
Alasan Informan Bertahan dalam Pacaran

Tema Informan X Informan Y Informan Z

Pacaran Berharap pasangan Berharap pasangan Takut disakiti dan


Bisa berubah dapat berubah menjadi diputus
Lebih baik

Berfikir hubungan Semua orang


bisa diperbaiki terlanjur tahu

Tidak ada pilihan


lain

Tabel 1 menunjukkan alasan informan Sedangkan informan Z berfikir takut


bertahan dan mempertahankan hubungan diputus, menurutnya pasangan sudah terlalu
pacaran. Informan X dan Y sama-sama baik dan malu karena hubungan sudah
berfikir bahwa pasangan dapat berubah dan diketahui oleh banyak orang termasuk
merubah sikapnya menjadi lebih baik, teman dan keluarga, baik dari keluarga
kemudian dan informan Y berharap informan maupun keluarga pasangan.
hubungan pacaran dapat diperbaiki.

Jurnal Psikologi Undip Vol.14 No. 2Oktober 2015, 151-160


Khaninah, & Widjanarko 159

Dari hasil penelitian terhadap ketiga hubungan. Partisipan terbagi ke dalam


informan sebagaimana yang telah kelompok demografis, yaitu 78% orang
dipaparkan sebelumnya, berdasarkan teori Kaukasia, 7% orang Afrika-Amerika, 2%
yang dikemukakan oleh Medinus dan orang Hispanik, 2% orang Asia dan 11%
Johnson (dalam Setyawati, 2010) sisanya adalah suku campuran atau lainnya.
mengelompokkan agresi menjadi empat Pada responden tercatat tingkat akurasi 70%
kategori, yang pertama yaitu menyerang pada pre-test. Kekerasan dalam pacaran
fisik, yang termasuk didalamnya adalah dikenali sebagai masalah nyata yang di
memukul, mendorong, meludahi, lingkungan sekolah dan dapat memengaruhi
menendang, menggiggit, meninju, anak perempuan dan laki-laki. Sementara
memarahi dan merampas. Kedua, pengetahuan meningkat (dari 70% saat pre
menyerang suatu objek, yang dimaksudkan test menjadi 90% saat post test). Namun
disini adalah menyerang benda mati atau masih ditemukan kesalahpahaman terhadap
binatang. Ketiga, secara verbal atau masalah narkoba dan alkohol yang
simbolis, yang termasuk didalamnya adalah menyebabkan munculnya kekerasan dalam
mengancam secara verbal, memburuk- pacaran. Kekurangan dalam penelitian ini
burukkan orang lain, sikap mengancam dan adalah remaja di Pennsylvania Barat tidak
sikap menuntut dan yang terakhir adalah bisa menjadi sampel bagi seluruh populasi
pelanggaran terhadap hak milik atau di Amerika Serikat sehingga hasil penelitian
menyerang daerah orang lain. ini tidak dapat digeneralisasikan pada
populasi lainnya.
Dari beberapa bentuk-bentuk perilaku agresi
pasangan yang diterima informan dalam SIMPULAN
pacaran mempunyai kemiripan antara
informan X, Y dan Z, yaitu sama-sama Hasil penelitian ini mensimpulkan bentuk-
mendapatkan perilaku agresi verbal atau bentuk perilaku agresi yang diterima korban
simbolis dari pasangan seperti sikap kekerasan dalam pacaran menunjukkan
menuntut, dari semua pasangan informan perilaku agresi verbal atau simbolis, yaitu
menuntut untuk lebih diperhatikan serta berupa kata-kata kasar, kata-kata tidak layak
harus mengikuti kemauannya. Informan Y dengar, menjelek-jelekkan, mengancam,
dan Z mendapatkan kata-kata tidak layak menuntut, dan membatasi pergaulan. Dalam
dengar, dan menghina dirinya. Sedangkan hal pelanggaran hak milik, yaitu barang
informan X mendapatkan sikap ancaman milik informan digunakan seenaknya sendiri
jika keinginan pasangan tidak dipenuhi. oleh pasangan maupun menggunakan tanpa
ijin. Penyerangan fisik berupa meminta
Perilaku agresi pelanggaran terhadap hak paksa atau merampas barang subyek serta
milik, informan X, Y, dan Z mendapatkan memukul atau menjenggung. Sedangkan
perlakuan yang sama, yaitu pasangan sama- alasan informan bertahan dan
sama menggunakan barang milik informan mempertahankan hubungan pacaran
dengan cara tidak ijin terlebih dahulu dan meskipun dengan kekerasan didalamnya
hal ini tidak diharapkan informan Berbeda adalah pada informan X dan Y sama-sama
dengan penelitian yang dilakukan oleh berfikir bahwa pasangan dapat berubah dan
Coleman, Strimel dan Chapin (2014) merubah sikapnya menjadi lebih baik,
menunjukkan bahwa sampel yang kemudian dan informan Y berharap
berjumlah 1.646 orang dengan 50% laki- hubungan pacaran dapat diperbaiki.
laki dengan rata-rata usia 15 tahun Sedangkan informan Z berfikir takut
(kisarannya dari 12 tahun sampai 24 tahun, diputus, menurutnya pasangan sudah terlalu
dengan tingkat pendidikan sekolah baik dan malu karena hubungan sudah
menengah hingga perguruan tinggi). diketahui oleh banyak orang termasuk
Rentang usia ini dipilih karena di kelompok teman dan keluarga, baik dari keluarga
usia inilah banyak terjadi kasus kekerasan informan maupun keluarga pasangan.

Jurnal Psikologi Undip Vol.14 No.2 Oktober 2015, 151-160


160 Perilaku agresif yang dialami korban kekerasan dalam pacaran
DAFTAR PUSTAKA Rifka Annisa. (2012). Kekerasan dalam
pacaran (dating violence) :
ACADV. (2011). Alabama coalition http://rifkaanisa.blogdetik.com/2012/1
against domestic violence, Dating 0/23/kekerasan-dalam-pacaran-dating-
violence fact sheet. www.acadv.org violence. diunduh 5 Maret 2013.

Adi, (2009). Bunuh diri contoh sikap Rifka Media. (2013). Perempuan mencari
agresif. Semarang : Psikologi Plus. keadilan. No. 51 November 2012-
P.T Nico Sakti. Vol IV. Januari 2013

Coleman, G., Strimel, L., & Chapin, J. Sagala, (2008). Kekerasan dalam pacaran
(2014). It won’t happen to me: pada mahasiswa ditinjau dari pola
Addressing adolescents’ risk asuh otoriter orang tua. Skripsi.
perception of dating violence. Semarang : Universitas Katolik
International Journal of Violence and Soegijapranata.
Schools, 14, June 2014, 44-54
SeBAYA. (2010). Hasil survei kesehatan
Igy .(2012). Kekerasan pada masa pacaran reproduksi remaja dan seksualitas
kian meningkat. Tribunjogja.com, sebaya-pkbi daerah Jawa Timur.
Jumat 23 November (Tidak diterbitkan).

Koeswara, E. (1988). Agresi manusia. Setyawati, K. (2010). Studi eksploratif


Bandung : PT Erasco mengenai faktor-faktor penyebab dan
dampak sosial kekerasan dalam
Krahe, B. (2005). Perilaku agresif. pacaran (dating violence) di kalangan
Yogyakarta : Pustaka Pelajar. mahasiswa. Skripsi. Surakarta.
Universitas Sebelas Maret.
Komnas Perempuan. (2004). Pedoman
pendokumentasian kekerasan Trifiani, N. R. & Margaretha (2012).
terhadap perempuan sebagai Pengaruh gaya kelekatan romantis
pelanggaran hak asasi manusia. dewasa (adult romantic attachment
Jakarta. Komnas Perempuan. Sida style) terhadap kecenderungan untuk
dan Raoul Wllenberg Institute melakukan kekerasan dalam pacaran.
Jurnal Psikologi Kepribadian dan
Lazuardi, A. (2011, 7 Maret). Komnas catat Sosial 1(2), 105-114.
1.299 kasus kekerasan dalam pacaran
sepanjang 2010. DetikNews [on-line]. U.S. Department of Justice (2008).
Diunduh pada tanggal 11 Juli 2012 Criminal victimization in the United
dari http://www.detiknews.com/read/ States, 2008 statistical tables, Office
2011/03/07/142711/1586046/10/komn of Justice Programs, Washington
ascatat- 1299-kasus-kekerasan-dalam-
pacaran-sepanjang-2010

Moleong, L.J.(2014). Metode penelitian


kualitatif. Bandung. PT.Remaja
Rosdakarya

Ridwan. (2006). Kekerasan berbasis


gender. Purwokerto : Pusat Studi
Gender.

Jurnal Psikologi Undip Vol.14 No. 2Oktober 2015, 151-160