You are on page 1of 68

LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

KEPERAWATAN KOMUNITAS
PUSKESMAS DAU
Keluarga Tn.S di RT 15 Desa Sumberbendo

Disusun untuk Memenuhi Tugas Individu Profesi Ners

Departemen Komunitas

Oleh:

Annisaa Novilia Alam

145070201131004

Kelompok 2

PENDIDIKAN PROFESI NERS

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2018

1
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Hipertensi atau sering disebut dengan tekanan darah tinggi adalah salah satu penyakit
pembuluh darah. Tekanan darah tinggi merupakan kondisi peningkatan abnormal tekanan
dalam pembuluh darah arteri secara terus-menerus lebih dari suatu periode (Muttaqin,
2009). Kondisi tekanan yang semakin tinggi pada pembuluh darah menyebabkan jantung
bekerja lebih keras untuk mempompa darah (Prasetyaningrum, 2014). Menurut Joint
National Committee on Detection, Evaluation and Treatmentof High Blood Pressure (2003)
pengertian hipertensi merupakan tekanan yang lebih tinggi dari 140/90 mmHg.

Terjadinya hipertensi sangat dipengaruhi beberapa faktor. Faktor-faktor risiko pada


hipertensi meliputi adanya riwayat keluarga, stress, obesitas, jenis kelamin, usia, gaya
hidup, pola makan, konsumsi garam berlebihan, aktivitas, merokok serta alkohol (Udjianti,
2010). Jumlah penderita hipertensi yang menujukkan peningakatan merupakan suatu hal
yang harus menjadi perhatian khusus karena dapat menimbulkan berbagai komplikasi
hingga terjadinya kematian (Morisky, 2009). Komplikasi yang terjadi seperti penyakit stroke,
gagal jantung, gagal ginjal, dan penyakit kardiovaskuler lainya. Oleh karena itu, upaya
tindakan untuk mencegah terjadinya berbagai komplikasi diperlukan penatalaksanaan
hipertensi secara tepat, salah satunya dengan tindakan melakukan kontrol tekanan darah
secara teratur (Adib, 2009).

Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Indonesia tahun 2013 prevalensi
hipertensi di Indonesia yang didapat melalui pengukuran pada umur ≥18 tahun menunjukkan
sebesar 25,8%, namun yang terdiagnosis oleh tenaga kesehatan hanya sebesar 9,5%.
Dimana menandakan bahwa sebagian besar kasus hipertensi dimasyarakat belum banyak
terdiagnosis dan terjangkau oleh pelayanan kesehatan. Daerah Jawa Timur adalah salah
satu provinsi yang menempati urutan ke 6 di Indonesia dengan presentase 37,4%
(Riskesdas RI, 2013), dan menurut profil kesehatan kota malang pada tahun 2014 terdapat
kasus hipertensi primer berjumlah 58.046 kasus.

Perawat sebagai salah satu dari tenaga kesehatan mempunyai peranan dalam
pengelolaan pasien Hipertens. Diantara tindakan dan intervensi dalam pengontrolan
penyakit Hipertensi adalah pengontrolan tekanan darah rutin, peningkatan aktivitas fisik,
regimen terapeutik yang tepat, pola makan yang sehat dan mengurangi stres serta
melibatkan keluarga dalam asuhan keperawatan. Terdapatnya pelaksanaan asuhan
keperawatan yang komprehensif terhadap pasein hipertensi diharapkan dapat mengatasi
dan menghindari terjadinya komplikasi serta kualitas hidup yang baik dapat dicapai.

Tindakan yang dapat dilakukan adalah dengan asuhan keperawatan komunitas dan
keluarga. Keperawatan keluarga merupakan suatu bentuk pelayanan kesehatan yang
mengutamakan pelayanan promotif dan preventif tanpa mengabaikan perawatan kuratif dan
rehabilitatif kepada keluarga sebagai klien. Tindakan penatalaksanaan tersebut merupakan
suatu cara untuk mengurangi angka mortalitas dan morbiditas penyakit hipertensi, baik
secara farmakologi maupun nonfarmakologi, sehingga diharapkan adanya perubahan
perilaku anggota keluarga menjadi lebih baik.

Pasien hipertensi di RW 7 Dusun Sumberbendo Desa Kucur cukup banyak, salah


satunya yaitu keluarga Tn.S, beliau menderita tekanan darah tingga sekitar 3 tahun yang
lalu. Keluarga Tn.S mengaku kurang mengetahui penatalaksanaan Hipertensi dan saat ini
keluarga memiliki keinginan untuk memperbaiki kesehatannya. Sehingga saya melakukan
pembinaan kepada keluarga ini untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap keluarga
mengenai kesehatan.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Menerapkan asuhan keperawatan keluarga pada RT 15 Desa Sumberbendo
Kecamatan Dau Kota Malang dengan masalah kesehatan Hipertensi melalui penerapan
pola hidup sehat dalam pencegahan hipertensi dengan pendekatan edukatif pada
individu dan keluarga dalam rangka mewujudkan tercapainya keluarga yang sehat.

1.2.2 Tujuan Khusus


a. Mampu berkomunikasi secara efektif dengan keluarga
b. Mampu mengkaji dan menganalisa data kesehatan keluarga
c. Menetapkan diagnosis keperawatan keluarga pada keluarga
d. Menetapkan rencana keperawatan pada keluarga
e. Menetapkan implementasi keperawatan pada keluarga
f. Mampu membimbing keluarga untuk menjalani intervensi yang telah diajarkan
dengan berkesinambungan
g. Mampu mengevaluasi hasil dari implementasi keperawatan keluarga yang telah
dilakukan dan memberikan rencana tindak lanjut dari masalah yang diatasi
1.3 MANFAAT
1.3.1 Bagi Mahasiswa
a. Mampu mengaplikasikan ilmu keperawatan keluarga secara nyata
b. Menambah wawasan dan pengalaman dalam menemukan, menganalisa dan
menyelesaikan masalah keperawatan pada keluarga
1.3.2 Bagi Keluarga
Keluarga dapat mengenali masalah kesehatan yang dihadapi dan
mendapatkan pengetahuan serta promosi kesehatan yang bermanfaat untuk
menambah wawasan tentang cara mencegah dan menangani masalah terutama
terkait Hipertensi.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Hipertensi
2.1.1 Pengertian Hipertensi
Hipertensi atau sering disebut dengan tekanan darah adalah salah satu
penyakit pembuluh darah (Vaskular disease) (Ganong, 2010). Menurut Guyton
(2014), hipertensi merupakan suatu keadaan dimana terjadi peningkatan dalam
tekanan darah arteri diatas 140/90 mmHg pada orang dewasa dengan sedikitnya
tiga kali pengukuran berurutan.
Menurut Profil Dinas Kesehatan Jawa Tengah tahun 2008, hipertensi adalah
suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan darah yang memberi gejala
berlanjut pada suatu target organ tubuh sehingga timbul kerusakan lebih berat
seperti stroke (terjadi pada otak dan berdampak pada kematian yang tinggi),
penyakit jantung koroner (terjadi pada kerusakan pembuluh darah jantung) serta
penyempitan ventrikel kiri atau bilik kiri (terjadi pada otot jantung).
Jadi dapat disimpulkan, bahwa tekanan darah adalah tekanan sistolik lebih
tinggi dari 140 mmHg menetap atau tekanan diastolik lebih tinggi dari 90 mmHg
(Muttaqin, 2009).
2.1.2 Klasifikasi Hipertensi
Berdasarkan dari penyebab terjadinya hipertensi dapat diklasifikasikan
menjadi beberapa diantaranya hipertensi primer (hipertensi esensial) dan
hipertensi sekunder. Prevalensi terjadinya insiden hipertensi 90-95% merupakan
hipertensi primer. Dimana hipertensi primer adalah dengan penyebab tidak
diketahui. Sedangkan hipertensi sekunder terjadi disebabkan oleh penyakit lainya.
7
Sekitar 5-10% kasus hipertensi merupakan hipertensi sekunder dari penyakit
komorbid atau obat-obatan yang dapat meningkatkan tekanan darah. Banyak
penyebab hipertensi sekunder baik dari endogen maupun eksogen (Guyton &
Hall, 2014).
Terdapat klasifikasi hipertensi lain, yakni Menurut JNC VIII (The Enighth
Joint National Committee) (2013) yang didasarkan pada rata-rata pengukuran dua
tekanan darah atau lebih pada dua kunjungan klinis untuk pasien dewasa (umur ≥
18 tahun). Klasifikasi tekanan darah mencakup empat kategori dengan nilai
normal pada tekanan darah sistolik (TDS) <120 mmHg dan tekanan darah
diastolik (TDD) < 80 mmHg. Pre-hipertensi tidak dikategorikan sebagai klasifikasi
hipertensi tetapi mengidentifikasi pasien yang tekanan darahnya cenderung dalam
periode meningkat ke klasifikasi hipertensi. Berikut merupakan tabel klasifikasi
Menurut JNC VIII (2013), sebagai berikut :

Tabel 2.1 Klasifikasi Hipertensi Menurut JNC VIII Tahun 2013


Klasifikasi Tekanan Sistolik Tekanan Diastolik
(mmHg) (mmHg)
Normal < 120 < 80
Pre Hipertensi 120-139 80-90
Stadium I 140-159 90-99
Stadium II ≥ 160 ≥ 100
Sumber : National Heart, Lung and Blood Institute(NHLBI), 2013

2.1.3 Penyebab Hipertensi


Berdasarkan penyebab, hipertensi dapat digolongkan menjadi dua golongan
(Saraswati, 2009), yaitu:
1. Hipertensi Esensial atau Primer
Lebih dari 90%-95% pasien dengan hipertensi merupakan hipertensi
essensial (hipertensi primer). Penyebab yang belum pasti sampai saat ini
belum diketahui. Namun, terjadinya hipertensi yang sering turun menurun
dalam keluarga, menunjukkan bahwa faktor genetik memegang peranan
penting pada patogenesis hipertensi primer. Faktor-faktor lain yang dapat
dikelompokkan penyebab hipertensi primer adalah lingkungan dan faktor-
faktor yang meningkatkan risikonya seperti obesitas, konsumsi alkohol, dan
merokok.
2. Hipertensi Sekunder
Hipertensi sekunder merupakan hipertensi yang penyebabnya dapat
diketahui. Kurang dari 10% penderita hipertensi merupakan sekunder dari
gangguan hormonal, diabetes, ginjal, penyakit pembuluh, penyakit jantung
atau obat-obat tertentu yang dapat meningkatkan tekanan darah, dan lain-lain.
Karena golongan terbesar dari penderita hipertensi adalah hipertensi esensial,
maka pencegahan dan pengobatan lebih banyak ditunjukkan untuk penderita
hipertensi esensial.
2.1.4 Faktor Risiko Hipertensi
1. Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi
a. Umur
Umur merupakan suatu faktor yang mempengaruhi terjadinya
hipertensi. Dengan bertambahnya umur, risiko terkena hipertensi menjadi
lebih besar yang sehingga prevalensi terjadinya hipertensi dikalangan usia
lanjut cukup tinggi, yaitu sebesar 40%, dengan angka kematian sekitar
diatas usia 65 tahun pada usia lanjut. Pada usia lanjut, hipertensi terutama
ditemukan hanya berupa kenaikan tekanan darah sistolik. Kejadian ini
disebabkan oleh perubahan struktur pada pembuluh darah besar (Depkes
RI, 2013). Prevalensi keseluruhan tekanan darah tinggi pada orang
dewasa berusia ≤ 25 tahun sekitar 40% pada tahun 2008 (Depkes, 2008).
b. Jenis Kelamin
Jenis kelamin berpengaruh pada terjadinya hipertensi. Hipertensi lebih
banyak terjadi pada pria apabila terjadi pada usia dewasa muda yang
diduga memilki gaya hidup yang cenderung meningkatkan tekanan darah
(Depkes RI, 2013). Namun lebih banyak menyerang wanita setelah umur
55 tahun, sekitar 60% penderita hipertensi adalah wanita yang dikaitkan
dengan ada perubahan hormon estrogen setelah menopause (Marliani,
2007). Efek perlindungan hormon estrogen dianggap sebagai adanya
imunitas wanita pada usia premenopause. Pada premenopause, wanita
mulai kehilangan sedikit demi sedikit hormon estrogen yang selama ini
melindungi pembuluh darah dari kerusakan. Proses ini terus berlanjut
dimana terjadi perubahan kuantitas hormonestrogen sesuai dengan umur
wanita secara alami. Umumnya, proses ini mulai terjadi pada wanita umur
45-55 tahun. Penelitian di Indonesia prevalensi pada jenis kelamin, terjadi
pada wanita lebih tinggi dari pada laki-laki (Depkes, 2008).
c. Keturunan (Genetik)
Adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akan menyebabkan
keluarga mempunyai risiko menderita hipertensi. Riwayat keluarga juga
dapat meningkatkan risiko hipertensi, terutama hipertensi primer
(essensial). Faktor genetik juga dipengaruhi oleh beberapa faktor
lingkungan lain, yang kemudian menyebabkan hipertensi. Menurut
Rohaendi (2008), mengatakan bahwa tekanan darah tinggi cenderung
diwariskan dalam keluarga sebesar 25%. Jika kedua orang tua mempunyai
tekanan darah tingi maka peluang untuk terkena penyakit ini akan
meningkat menjadi 60%.
2. Faktor risiko yang dapat dimodifikasi
a. Kegemukan (Obesitas)
Kegemukan (Obesitas) adalah salah satu faktor risiko yang dapat
menyebabkan terjadinya hipertensi, namun faktor ini merupakan faktor
yang dapat dikontrol. Pada orang yang terlalu gemuk, tekanan darahnya
akan cenderung tinggi dikarenakan seluruh organ tubuh bekerja keras
untuk memenuhi kebutuhan energi yang lebih besar, jantung juga bekerja
ekstra karena banyaknya timbunan lemak yang menyebabkan kadar
lemak juga tinggi, sehingga tekanan darah meningkat (Dalimartha, 2008).
Salah satu cara adalah dengan mempertahankan berat badan yang ideal
atau normal. Indeks Massa Tubuh (IMT) adalah salah satu cara untuk
mengetahui obesitas atau tidak. Seseorang dikatakan kegemukan atau
obesitas jika memiliki nilai IMT ≥ 25,0. Menurut Depkes RI (2013), pada
penderita hipertensi ditemukan sekitar 20-30% memilki berat badan lebih
(overweight).
b. Merokok
Rokok memiliki zat-zat kimia beracun seperti nikotin dan karbon
monoksida yang dihisap dan masuk melalui aliran darah yang dapat
mengakibatkan tekanan darah tinggi. Merokok akan meningkatkan denyut
jantung, sehingga kebutuhan oksigen otot-otot jantung bertambah (Depkes
RI, 2013).
c. Kurang aktivitas fisik
Olahraga yang teratur dapat membantu menurunkan tekanan darah
dan bermanfaat bagi penderita hipertensi ringan. Dengan melakukan
olahraga yang teratur tekanan darah dapat turun, meskipun berat badan
belum turun (Depkes RI, 2013).
d. Konsumsi garam berlebihan
Garam menyebabkan sebuah penumpukan cairan dalam tubuh
karena menarik cairan diluar sel agar tidak dikeluarkan, sehingga akan
meningkatkan volume tekanan darah (Depkes RI, 2013). Faktor lain yang
ikut berperan yaitu sistem renin angiotensin yang berperan penting dalam
pengaturan tekanan darah.
e. Stress
Stress atau ketegangan jiwa (rasa tertekan, rasa takut, murung, rasa
marah ataupun dendam) dapat merangsang kelenjar anak ginjal
melepaskan adrenalin dan memicu jantung bedenyut lebih cepat serta
lebih kuat, sehingga tekanan darah akan meningkat (Depkes RI, 2013).
Menurut Anggraini (2009), mengatakan bahwa stress akan meningkatkan
resistensi pembuluh darah perifer dan curah jantung sehingga akan dapat
menstimulasi aktivitas saraf simpatis.
f. Konsumsi Alkohol Berlebih
Pengaruh alkohol terhadap kenaikan tekanan darah telah dibuktikan.
Adanya terjadinya peningkatan kadar kortisol, peningkatan volume sel
darah merah dan adanya peningkatan kekentalan darah berperan dalam
menaikan tekanan darah (Depkes RI, 2013).

2.1.5 Patofisiologi Hipertensi


Berbagai faktor seperti usia, gaya hidup, obesitas, kecemasan, dan
ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsangan
vasokontriktor. Tekanan darah dipengaruhi oleh volume sekuncup dan total
peripheral resistance. Apabila terjadi peningkatan salah satu dari variabel tersebut
yang tidak terkompensasi maka dapat menyebabkan timbulnya hipertensi.
Pengaturan tekanan arteri meliputi sistem persarafan yang secara kompleks
dan hormonal yang saling berhubungan dalam mempenagruhi curah jantung dan
tahanan vaskular perifer. Curah jantung ditentukan frekuensi jantung dan tahanan
perifer ditentukan oleh diameter arteriol. Apabila diameternya menurun
(vasokontriksi), tahanan perifer meningkat, bila diameternya meningkat
(vasodilatasi), tahanan perifer menurun. Pengaturan primer didalam tekanan arteri
dipengaruhi oleh baroresptor pada sinus karotikus dan arkus aorta yang akan
menyampaikan impuls ke pusat saraf simpatis di medula. Impuls tersebut akan
menghambat stimulasi sistem saraf simpatis. Apabila tekanan arteri meningkat,
maka ujung-ujung baroresptor akan terengang. Sehingga bangkit menghambat
pusat simpatis (Muttaqin, 2009).
Tekanan arteri sistemik adalah hasil perkalian cardiac output (curah jantung)
dengan total tahanan perifer. Cardiac output (curah jantung) diperoleh dari
perkalian antara stroke volume dengan denyut jantung. Pengaturan tahanan
perifer dipertahankan oleh sistem saraf otonom dan sirkulasi hormon. Empat
sistem kontrol yang berperan dalam mempertahankan tekanan darah antara lain
sistem baroreseptor arteri, pengaturan volume cairan tubuh, sistem renin
angiotensin dan autoregulasi vaskuler. Baroreseptor arteri terutama ditemukan di
sinus carotid, diuresis tapi juga dalam aorta dan dinding vertikel kiri. Sistem
baroreseptor akan meniadakan peningkatan tekanan arteri melalui adanaya
mekanisme pertambatan jantung oleh respon vagal (stimulus parasimpatis) dan
vasodilatasi dengan penurunan tonus simpatis. Perubahan volume cairan
memepengaruhi tekanan arteri sistemik. Apabila tubuh mengalami kelebihan
daram dan air, tekanan darah meningkat melalui mekanisme fisiologi kompleks
yang mengubah aliran balik vena ke jantung dan mengakibatkan penurunan
tekanan darah. Kondisi patologis yang mengubah ambang tekanan pada ginjal
dalam mengekskresikan garam dan air akan meningkatkan tekanan arteri sistemik
(Udjianti, 2010).
2.1.6 Manifestasi Klinis Hipertensi
Penyakit hipertensi terjadi tanpa disertai dengan tanda dan gejala yang
jelas. Terkadang nyeri kepala, penglihatan kabur, pusing, wajah kemerahan, rasa
lelah yang hanya dianggap sebagai bukan gejala dari hipertensi. Namun, gejala-
gejala tersebut tidak jarang juga terjadi pada orang dengan tekanan darah normal
(normotensi) (Ganong, 2010).
Gejala yang dirasakan oleh penderita hipertensi adalah mulai dari pusing,
mudah marah, telinga berdengung, sesak nafas, mimisan, sakit kepala berat,
pandangan kabur, sulit tidur dan sebaginya (Shadine, 2010). Ketidakpastian tanda
dan gejala menyebabkan hipertensi diketahui saat pemeriksaan screening rutin
atau ketika penderita melakukan pemeriksaan komplikasinya. Komplikasi dari
hipertensi sangat mematikan, dimana meliputi infark miokard, gagal jantung
kongestif, stroke trombotik dan hemoragik, gagal ginjal dan ensefalopati hipertensi
(Ganong, 2010).
2.1.7 Komplikasi Hipertensi
Hipertensi yang terjadi dalam kurun waktu yang lama akan berbahaya
sehingga menimbulkan komplikasi. Berikut adalah beberapa komplikasi yang
timbul sebagai akibat dari hipertensi (Novianty, 2006), diantaranya :
1. Komplikasi pada otak
Tekanan darah yang terus-menerus tinggi menyebabkan kerusakan
pada dinding pembuluh darah yang disebut disfungsi endotel. Hal ini memicu
pembentukan plak aterosklerosis dan trombosis (pembekuan darah yang
berlebihan). Akibatnya pembuluh darah tersumbat dan jika penyumbatan
terjadi pada pembuluh darah otak dapat menyebabkan stroke.
2. Komplikasi pada mata
Hipertensi yang berkepanjangan dapat menyebabkan retinopati
hipertensi dan dapat menyebabkan kebutaan.
3. Komplikasi pada jantung
Selain pada otak, penyumbatan pembuluh darah dapat terjadi pada
pembuluh koroner dapat menyebabkan penyakit jantung koroner (PJK) dan
kerusakan otot jantung (Infark Jantung). Selain itu pada penderita hipertensi,
beban kerja jantung akan meningkat, otot jantung akan menyesuaikan
sehingga akan terjadi pembesaran jantung dan semakin lama otot jantung
akan mengendor dan berkurang elastisnya yang disebut dengan
dekompensasi. Akibatnya jantung tidak mampu lagi memompa dan
menampung darah dari paru sehingga banyak cairan yang tertahan di paru-
paru maupun jaringan tubuh lain yang dapat menyebabkan sesak nafas atau
oedema, kondisi ini disebut gagal jantung
4. Komplikasi pada ginjal
Hipertensi dapat menyebabkan pembuluh darah pada ginjal
mengkerut (vasokontriksi) sehingga aliran nutrisi ke ginjal terganggu dan
menyebabkan kerusakan sel-sel ginjal yang pada akhirnya terjadi gangguan
fungsi ginjal. Apabila tidak segera ditangani dapat menyebabkan gagal ginjal
kronik atau bahkan gagal ginjal terminal.
5. Gangguan neurologi
Gangguan neurologi dapat berupa kejang, perdarahan pembuluh
darah otak, kelumpuhan, gangguan kesadaran.

2.1.8 Penatalaksanaan Hipertensi


Modifikasi Gaya Hidup
Modifikasi gaya hidup merupakan suatu tindakan rencana dalam upaya
pengobatan hipertensi baik secara farmakologi maupun non farmakologi yang
bertujuan untuk mempertahankan tekanan darah dalam rentang normal serta
tidak menimbulkan komplikasi yang lanjut. Perubahan gaya hidup dapat
membantu kesembuhan penderita hipertensi. Namun faktor yang menentukan
dari tindakan modifikasi gaya hidup pada dasarnya adalah individu diri sendiri
penderita hipertensi (Dalimartha, 2008). Berikut tabel terkait rekomendasi
modifikasi gaya hidup pasien hipertensi menurut JNC-VII Tahun 2004, sebagai
berikut :
Tabel 2.2 Rekomendasi modifikasi gaya hidup pasien hipertensi menurut
JNC-VII Tahun 2004
Modifikasi Rekomendasi Rata-rata Penurunan
Gaya Tekanan Darah
Hidup
Penurunan Pertahankan berat 5-20 mmHg/10 kg
berat badan dalam rentang
badan normal (BMI 18,5-24,9g)
Diet DASH Lakukan diet kaya buah- 8-14 mmHg
buahan, sayuran, produk
susu rendah lemak, dan
makanan yang sedikit
mengandung lemak
jenuh
Membatasi Membatasi asupan 2-8 mmHg
intake garam hingga 100
garam mEq
Olahraga Olahraga seperti lari 4-9 mmHg
teratur pagi, berenang, jalan
cepat, bersepeda,
aerobik
Mengurangi Membatasi konsumsi 2-4 mmHg
konsumsi alkohol ≤ 2 gelas/hari (1
alkohol oz atau 30 ml etanol
seperti 24 oz beer, 10 oz
80 proof whiskey) pada
laki-laki dan ≤ 1
gelas/hari pada wanita
Penatalaksanaan Farmakologi
Penatalaksanaan farmakologi merupakan suatu pemberian pengobatan
apabila tindakan-tindakan konservatif gagal untuk mengontrol tekanan darah
secara adekuat (Udjianti, 2010) :
1. Diuretik
Diuretika adalah obat yang memperbanyak kencing, mempertinggi
pengeluaran garam (NaCl). Obat yang sering digunakan adalah obat yang
daya kerjanya panjang sehingga dapat digunakan dosis tunggal, diutamakan
diuretika yang hemat kalium. Obat yang banyak beredar adalah
Spironolactone, HCT, Chlortalidone dan Indopanide.
2. Alfa-Blocker
Alfa-blocker adalah obat yang dapat memblokir reseptor alfa yang
menyebabkan vasodilatasi perifer serta turunnnya tekanan darah. Karena efek
hipotensinya ringan namun memiliki efek samping yang kuat (hipotensi
ortostatik dan takikardi) maka jarang digunakan. Obat yang termasuk dalam
Alfa-blocker adalah Prazosin dan Terazosin.
3. Beta-blocker
Mekanisme kerja obat Beta-blocker belum diketahui dengan pasti.
Diduga kerjanya berdasarkan beta blokade pada jantung sehingga
mengurangi daya dan frekuensi kontraksi jantung. Dengan demikian, tekanan
darah akan menurun dan daya hipotensinya baik. Golongan obat pada jenis
Beta-blocker adalah Propanolol, Atenolol, Pindolol dan sebagainya.
4. Antagonis Kalsium
Mekanisme antagonis kalsium adalah menghambat pemasukan ion
kalsium ke dalam sel otot polos pembuluh darah dengan efek vasodilatasi dan
turunnya tekanan darah. Obat jenis antagonis kalsium adalah Nifedipine dan
Verapamil.
5. Vasodilator
Obat vasodilator mempunyai efek mengembangkan dinding arteriole
sehingga daya tahan perifir berkurang dan tekanan darah menurun. Obat yang
termasuk dalam jenis vasodilator adalah obat Hidralazine dan Ecarazine.
6. Penghambat ACE
Obat penghambat ACE menurunkan tekanan darah dengan cara
menghambat Angiotensin converting enzim yang berdaya secara vasokontriksi
kuat. Obat jenis penghambat ACE adalah Captopril (Capoten) dan Enalapril.
Kontrol Tekanan Darah Rutin
Kontrol tekanan darah adalah aktivitas yang dilakukan oleh seorang penderita
hipertensi dalam mengontrolkan tekanan darah di pelayanan kesehatan (Martins,
Atallah & Silva, 2012). American Heart Association (AHA) (2014)
merekomendasikan bahwa pada penderita hipertensi untuk teratur melaksanakan
kontrol tekanan darah secara berkala ke tenaga kesehatan dengan frekuensi 3
bulan sekali tekanan darah sistolik 140 – 159 mmHg dan diastolik 90 – 99 mmHg,
serta 2 – 4 minggu sekali apabila tekanan darah sistolik> 160 mmHg dan diastol >
100 mmHg. Tujuan kontrol tekanan darah secara teratur adalah untuk
memonitoring tekanan darah, mencegah pasien masuk rumah sakit dan
mencegah terjadinya komplikasi (Martins, Atallah & Silva, 2012).
2.3 Konsep Dasar Keperawatan Keluarga

Definisi Keluarga

Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama dengan
keterikatan aturan dan emosional, serta individu mempunyai peran masing-masing yang
merupakan bagian dari keluarga (Friedman dalam Achjar, 2010).
Menurut APD Salvari (2013), karakteristik keluarga sebagai berikut :
 Terdiri dari dua atau lebih individu yang di ikat oleh hubungan darah, perkawinan atau
adopsi.
 Anggota keluarga biasanya hidup bersama atau jika terpisah mereka tetap
memperhatikan satu sama lain.
 Anggota keluarga berinteraksi satu sama lain dan masing-masing mempunyai peran
sosial: suami, istri, anak, kakak, dan adik.
 Mempunyai tujuan yaitu: menciptakan dan mempertahankan budaya dan meningkatkan
perkembangan fisik, psikologis, dan sosial.

Bentuk / Type Keluarga

1. Keluarga inti (nuclear family) : Keluarga yang hanya terdiri ayah, ibu, dan anak yang
diperoleh dari keturunannya, adopsi atau keduanya.
2. Keluarga besar (extended family) : Keluarga inti ditambah anggota keluarga lain
yang masih mempunyai hubungan darah (kakek-nenek, paman bibi).
3. Keluarga bentukan kembali (dyadic family) : Keluarga baru yang bentuk terbentuk
dari pasangan yang bercerai atau kehilangan pasangannya.
4. Orang tua tunggal (single parent family) : Keluarga yang terdiri dari salah satu orang
tua dengan anak-anak akibat perceraian atau ditinggal pasangannya.
5. Ibu dengan anak tanpa perkawinan (the unmarried teenage mother).
6. Orang dewasa (laki-laki atau perempuan) yang tinggal sendiri tanpa pernah menikah
(the single adult living alone)
7. Keluarga dengan anak tanpa pernikahan sebelumnya (the non marital heterosexsual
cobabiting family)
8. Keluarga yang di bentuk oleh pasangan yang berjenis kelamin sama (gay and
lesbian family).
9. Keluarga usia lanjut yaitu rumah tangga yang terdiri dari suami istri yang berusia
lanjut.
10. Keluarga Indonesia menganut keluarga besar (extended family), karena masyarakat
Indonesia terdiri dari berbagai suku hidup dalam satu kominiti dengan adat istiadat
yang sangat kuat (Depkes RI dalam Achjar, 2010).

Fungsi Keluarga

Menurut Achjar (2010), fungsi keluarga adalah sebagai berikut :

1. Fungsi Afektif
Keluarga yang saling menyayangi dan peduli terhadap anggota keluarga yang sakit
akan mempercepat proses penyembuhan. Karena adanya partisipasi dari anggota
keluarga dalam merawat anggota keluarga yang sakit.
2. Fungsi Sosialisasi dan Tempat Bersosialisasi
Fungsi keluarga mengembangkan dan melatih untuk berkehidupan sosial sebelum
meninggalkan rumah untuk berhubungan dengan orang lain. Tidak ada batasan
dalam bersosialisasi bagi penderita dengan lingkungan akan mempengaruhi
kesembuhan penderita asalkan penderita tetap memperhatikan kondisinya.
Sosialisasi sangat diperlukan karena dapat mengurangi stress bagi penderita.
3. Fungsi Reproduksi
Keluarga berfungsi untuk mempertahankan generasi dan menjaga kelangsungan
keluarga dan juga tempat mengembangkan fungsi reproduksi secara universal,
diantaranya : seks yang sehat dan berkualitas, pendidikan seks pada anak sangat
penting.
4. Fungsi Ekonomi
Keluarga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan keluarga, seperti kebutuhan makan,
pakaian dan tempat untuk berlindung ( rumah) dan tempat untuk mengembangkan
kemampuan individu meningkatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan
keluarga.
5. Fungsi Perawatan / Pemeliharaan Kesehatan
Berfungsi untuk mempertahankan keadaan kesehatan anggota keluarga agar tetap
memiliki produktivitas tinggi. Fungsi ini dikembangkan menjadi tugas keluarga di
bidang kesehatan.

Tugas keluarga di bidang Kesehatan

Sesuai dengan fungsi pemeliharaan kesehatan, keluarga mempunyai tugas di dalam


bidang kesehatan yang perlu di pahami dan dilakukan.
Ada 5 tugas keluarga dalam bidang kesehatan yang harus di lakukan( Fridman dalam
Achjar, 2010).

 Mengenal masalah kesehatan setiap anggotanya perubahan sekecil apapun yang


dialami anggota keluarga secara tidak langsung menjadi perhatian dan tanggung
jawab keluarga, maka apabila menyadari adanya perubahan perlu segera dicatat
kapan terjadinya, perubahan apa yang terjadi dan seberapa perubahannya.
 Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat bagi keluarga. Tugas ini
merupakan upaya keluarga yang utama untuk mencari pertolongan yang tepat
sesuai dengan keadaan keluarga, dengan pertimbangan siap diantara keluarga yang
mempunyai kemampuan memutuskan untuk menentukan tindakan keluarga maka
segeralah melakukan tindakan yang tepat agar masalah kesehatan dapat dikurangi
atau bahkan bisa teratasi. Jika keluarga mempuyai keterbatasan agar meminta
bantuan orang lain dilingkungan sekitar keluarga.
 Memberikan keperawatan anggota keluarga yang sakit atau yang tidak dapat
membatu dirinya sendiri karena cacat atau usianya terlalu mudah. Perawat ini dapat
di lakukan di rumah apabila keluarga mempunyai kemampuan melakukan tindakan
untuk pertolongan pertama atau ke pelayanan kesehatan untuk memperoleh
tindakan lanjutan agar masalah yang lebih parah tidak terjadi (Suparyanto, 2012).
 Memodifikasi lingkungan keluarga seperti pentingnya hygiene sanitasi bagi keluarga,
upaya pencegahan penyakit yang dilakukan keluarga, upaya pemeliharaan
lingkungan yang dilakukan keluarga, kekompakan anggota keluarga dalam menata
lingkungan dalam dan luar rumah yang berdampak pada kesehatan keluarga.
 Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan, seperti kepercayaan keluarga
terhadap petugas kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan, keberadaan fasilitas
kesehatan yang ada, keuntungan keluarga terhadap pengunaan fasilitas kesehatan,
apakah pelayanan kesehatan terjangkau oleh keluarga, adakah pengalaman yang
kurang baik dipersepsikan keluarga (Achjar, 20
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

1. FORMAT PENGKAJIAN KELUARGA


A. Data umum
1. NamaKK : Tn. S
2. Umur KK : 68 th
3. Alamat : Sumberbendo RT 15
4. No. Telepon :-
5. Pekerjaan : Pensiun TNI
6. Pendidikan : SMA
7. Susunan Anggota Keluarga :
Sex Hub Dg Gol. Masalah
No Nama Umur Pendidikan Pekerjaan
(L/P) KK Darah Kesehatan

KK dan Tidak Pensiun


1 Tn. S 68 L SMA HT
suami terkaji TNI

Tidak
2 Ny. E 52 P Istri SMP IRT HT
terkaji

Tidak Tidak ada


3 Ny. K 24 P Anak S1 Guru
terkaji keluhan

Menant Tidak Karyawan Tidak ada


4 Tn. C 24 L S1
u terkaji Swasta keluhan

Tidak Tidak ada


5 An. N 8 P Cucu SD
terkaji keluhan
4. Genogram dan ecomap
HT HT Ny Tn.B
Tn. Ny .A
S .e

Tn.
Ny. K,
C
24 th
30
th
An.
N8
th

8.Tipe Bentuk Keluarga :


Tipe keluarga ini adalah tipe keluarga besar (extended family), yaitu keluarga yang terdiri
dari suami, istri, anak, cucu An.N dan menantu Tn.C

9. Latar Belakang Budaya (Etnis)


9.1. Latar Belakang Etnis Keluarga atau Anggota Keluarga
Asal suku bangsa : Ny.E dan Tn. S mengatakan jika mereka suku Jawa, anak
mereka Jawa, menantunya juga suku Jawa.
9.2. Tempat Tinggal Keluarga (bagian dari sebuah lingkungan yang secara etnis
bersifat homogen). Uraikan.
Lingkungan disekitar RT keluarga Tn.S merupakan suku Jawa dimana
kebanyakan warganya sudah menetap lama d RT 15 Desa Sumberbendo.
Budaya yang ada dan dipegang teguh oleh warga adalah ramah tamah pada
tamu dan gotong royong terutama bila ada warga yang memiliki hajatan. Warga
juga mempercayai pengobatan tradisional (jamu) jadi apabila mereka sedang
sakit maka akan mengobatinya terlebih dahulu dengan jamu namun apabila
belum sembuh mereka baru memeriksakan ke pelayanan kesehatan terdekat
seperti Bidan dan Dokter karena jarak puskesmas yang jauh.
9.3. Kegiatan-kegiatan Keagamaan, sosial, budaya, rekreasi, pendidikan (Apakah
kegiatan-kegiatan ini berada dalam kelompok kultur/budaya keluarga). Sebutkan.
Agama yang dianut keluarga Tn. S adalah islam. Sesuai agama yang
diajarkan mereka menjalankan ibadah sholat 5 waktu dan mengaji. Ny. E juga
mengatakan bahwa dia dan suaminya rutin mengikuti pengajian dan tahlil yang
diadakan di lingkungan rumahnya seminggu sekali, namun untuk anak dan
menantu jarang mengikuti karena bekerja yang lumayan jauh dari rumah dan
liburnya tidak tentu. Sedangkan untuk kegiatan sosial di RT 15, rutin diadakan
posyandu dan ibu PKK serta Ny.E aktif turut serta. Ny. E dan Tn. S jarang pergi
keluar rumah untuk rekreasi, karena rekreasi merasa cukup dengan dirumah
menonton TV dan berkumpul dengan keluarga saja.
9.4. Kebiasan-kebiasan diet dan berbusana (tradisional atau modern). Sebutkan.
Keluarga mengatakan setiap harinya makan 3x sehari, pagi, siang dan
sore. Sehari-harinya keluarga mengonsumsi nasi, lauk tempe atau tahu,telur atau
ikan (jarang mengonsumsi daging), sayur, buah, dan susu (bagi An.N). untuk
menu makanan Tn.S dan Ny.E tidak dibatasi atau dikelola karena keluarga tidak
pernah mendapatkan penyuluhan tentang pola makan HT, maupun aktifitas fisik
orang dengan HT, makanan masih tetap mengandung banyak garam padahal
kurang baik untuk orang dengan HT.
Busana yang dikenakan keluarga adalah busana sehari hari (pakaian
modern) seperti kaos, celana pendek, daster, celana kain.
9.5. Struktur kekuasaan keluarga tradisional atau ”modern”. Sebutkan.
Keluarga sudah menganut budaya modern.

9.6. Bahasa (bahasa-bahasa) yang digunakan di rumah


Bahasa yang digunakan sehari-hari adalah bahasa jawa dan indonesia.
9.7. Penggunaan jasa-jasa perawatan kesehatan keluarga dan praktisi. (Apakah
keluarga mengunjungi pelayanan praktisi, terlibat dalam praktik-praktik pelayanan
kesehatan tradisional, atau memiliki kepercayaan tradisional asli dalam bidang
kesehatan). Uraikan.
Anggota keluarga yang sering menggunakan fasilitas kesehatan adalah
Ny. E Fasilitas kesehatan yang biasanya dikunjungi adalah Puskesmas.
Sedangkan untuk anggota keluarga lain apabila sakit akan mencoba minum jamu
dulu kemudian dibawa ke tempat praktik dokter mandiri atau Bidan.

10. Identifikasi Religius


10.1. Apakah anggota keluarga berbeda dalam praktik keyakinan beragamaan mereka.
Jelaskan.
Semua anggota keluarga beragama Islam
10.2. Seberapa aktif keluarga tersebut terlibat dalam kegiatan agama atau organisasi-
organisasi keagamaan lain. Jelaskan.
Ny.E mengatakan bahwa ia rutin mengikuti pengajian dan tahlil, akan tetapi
anak dan menantu jarang mengikuti pengajian karena sibuk bekerja.
10.3. Keluarga menganut agama apa. Sebutkan.
Semua keluarga Tn. S menganut agama Islam
10.4. Kepercayaan-kepercayaan dan nilai-nilai keagamaan yang dianut dalam
kehidupan keluarga terutama dalam hal kesehatan. Sebutkan.
Keluarga Tn. S meyakini bahwa kesehatan penting, saat dikeluarganya ada
yang sakit biasanya membeli jamu apabila tidak tertahankan akan pergi ke dokter
atau Bidan atau didoakan bersama dan semua atas ridho Allah SWT untuk
kesembuhannya.
11. Status Kelas Sosial (berdasarkan pekerjaan, pendidikan dan pendapatan)
11.1. Status Ekonomi
 Jumlah Pendapatan per Bulan : ± Rp. 1.500.000,00
 Sumber-sumber Pendapatan per Bulan : Tn. S pensiun TNI, serta anak
dan menantu bekerja.
 Jumlah Pengeluaran per Bulan : ± Rp. 1.000.000,00
 Apakah Sumber Pendapatan mencukupi kebutuhan keluarga: Ya, dicukup-
cukupin.
12. Aktivitas Rekreasi atau Waktu Luang
12.1. Tulislah aktivitas-aktivitas waktu luang dari subsistem keluarga.
Ny.E mengatakan apabila waktu senggang, dulu biasanya pergi ke rumah
tetangga untuk mengobrol, atau menonton Tv dirumah.

RIWAYAT DAN TAHAP PERKEMBANGAN KELUARGA


13. Tahap perkembangan keluarga saat ini
Keluarga dengan anak prasekolah, tugas keluarga :
1. Memenuhi kebutuhan angota keluarga seperti : tempat tinggal,privasi dan rasa
aman, membantu anak utk sosialisasi.
2. Adaptasi dengan anak yg baru lahir & kebutuhan anak yg lain
- Mempertahankan hubungan yg sehat internal/ekternal keluarga, pembagian
tangungjawab angota keluarga
- Stimulasi tumbang anak
- Pembagian waktu untuk individu,pasangan dan anak.
14. Tahap perkembangan yang belum terpenuhi
Membantu sosialisasi anak : meningkatkan prestasi belajar anak.
15. Riwayat keluarga inti
Tn.S dan Ny.E menikah kurang lebih 28 tahun lalu dan 4 tahun kemudian dikarunia anak
yaitu Ny. K yang lahir secara normal.
Sedangkan Ny.K menikah dengan Tn.C 4 tahun lalu dan langsung dikaruniai anak
Perempuan An.N
16. Riwayat keluarga asal
Ny.E dan Tn. S mengatakan jika mereka suku Jawa, kelahiran dan besar di Malang,
anak mereka Jawa, menantunya juga suku Jawa.
17. Riwayat Kesehatan Keluarga

IMUNISASI
MASALAH TINDAKAN
UMU (BCG/POLIO/
NO NAMA KEADAAN KESEHATAN KESEHATA YANG TELAH
R DPT/HB/
N DILAKUKAN
CAMPAK
1 Tn. S Tidak tahu HT Minum jamu,
(Suami 68 HT kadang-kadang
dari Ny.E) minum obat

2 Ny. E Tidak tahu HT Minum jamu,


(istri 52 HT kadang-kadang
Tn.S, Ibu minum obat
dari Ny.K)
Ny.K(Ana Tidak tahu - -
3
k dari 24 Tidak ada keluhan
Tn.S)
4 Tn. C Tidak tahu - -
(suamidar 24 Tidak ada keluhan
i Ny. K)
5. An. N Lengkap - -
(anak dari
8 Tidak ada keluhan
Tn.Su
dan Ny.K)

DATA LINGKUNGAN
17. Karakteristik Rumah
17.1. Gambar tipe tempat tinggal (rumah, apartemen, sewa kamar, dll). Apakah
keluarga memiliki sendiri atau menyewa rumah ini
Keluarga tinggal dirumah sendiri dan menetap
tidur
Kamar

K.Man Dapur
di

K
Kamar
R. Keluarga tidur

17.2. Karakteristik rumah Gambarkan kondisi rumah (baik interior maupun eksterior rumah).
Interior rumah meliputi jumlah kamar dan tipe kamar (kamar tamu, kamar tidur, dll),
penggunaan-penggunaan kamar tersebut dan bagaimana kamar tersebut diatur.
Bagaimana kondisi dan kecukupan perabot. Apakah penerangan ventilasi, pemanas.
Apakah lantai, tangga, susunan dan bangunan yang lain dalam kondisi yang adekuat.
Jelaskan.
Rumah yang ditempati merupakan rumah permanen. Lantai rumah keramik dan
tampak rapi. Terdapat 6 ruangan yang teridiri dari 3 kamar tidur, 1 ruang tamu, 1
ruang keluarga, 1 dapur, 1 kamar mandi. Terdapat halaman belakang yang berfungsi
sebagai tempat mencuci dan menjemur. Penataan ruangan bersih dan rapi, ventilasi
dan pencahayaan baik. Berdasarkan yang disampaikan Ny.E setiap pagi semua
jendela selalu dibuka, rumah tidak terasa panas. Sumber air PDAM, terdapat ruang
keluarga untuk menonton tv bersama.
17.3. Di dapur, amati suplai air minum, penggunaan alat-alat masak, pengamanan untuk
kebakaran. Jelaskan.
Suplai air berasal dari PDAM. Air minum biasanya direbus, penggunaan alat masak
setelah dipakai dicuci kembali. Sehari-harinya untuk memasak keluarga menggunakan
kompor gas. Dapur bersih namun penataan rapi.
17.4. Di kamar mandi, amati sanitasi, air, fasilitas toilet, ada tidaknya sabun dan handuk.
Jelaskan.
Kamar mandi bersih lantai keramik tidak licin, air di dalam bak mandi bersih, Kamar
mandi berdinding semen dan cukup luas. Bak mandi disemen dan ukurannya sangat
besar (setengah ukuran kamar mandi). WC adalah wc jongkok terletak di dalam kamar
mandi dan tampak bersih. Menggunakan sabun batang, shampoo sachet, sikat gigi
dan pasta gigi. Handuk dijemur didepan rumah.
17.5. Kaji pengaturan tidur di dalam rumah. Apakah pengaturan tersebut memadai bagi
pada anggota keluarga, dengan pertimbangan usia mereka, hubungan dan
kebutuhan-kebutuhan khusus mereka lainnya. Jelaskan.
Tn.S dan Tn.M tidur bersama , Ny.K tidur bersama An.N dan Tn.C. Penggunaan
kamar sudah memadai dan sesuai dengan usia penghuni rumah namun kamar tidur
sedikit berantakan.
17.6. Amati keadaan umum kebersihan dan sanitasi rumah. Apakah ada serbuan serangga-
serangga kecil (khususnya di dalam) dan/atau masalah-masalah sanitasi yang
disebabkan oleh kehadiran binatang-binatang piaraan. Jelaskan.
Terdapat beberapa semut di dapur karena sisa-sisa makanan yang belum dibersihkan.
17.7 Kaji perasaan-perasaan subjektif keluarga terhadap rumah. Apakah keluarga
menganggap rumahnya memadai bagi mereka. Jelaskan.
Keluarga mengatakan bahwa rumahnya rapi, cukup memadai untuk beristirahat.
17.8 Evaluasi pengaturan privasi dan bagaimana keluarga merasakan privasi mereka
memadai. Jelaskan
Pengaturan atau pembagian kamar sudah memadai untuk menjaga privasi masing-
masing anggota keluarga. Setiap pintu kamar dilengkapi korden sehingga tidak
terekspose apabila ada tamu yang masuk ke dalam rumah. Keluarga menyatakan
privasi mereka terjaga dengan baik.
17.9. Evaluasi ada dan tidak adanya bahaya-bahaya terhadap keamanan rumah/lingkungan.
Kondisi jalan di depan rumah keluarga Tn.S merupakan di daerah pedesaan,
halamannya cukup luas. Jalan raya di depan rumah Tn S tidak terlalu ramai, tetapi
terkadang terdapat anak-anak yang mengendarai motor yang kencang. Sehingga
dapat membahayakan cucu Tn. S apabila sedang bermain di depan.
17.10 Evaluasi adekuasi pembuangan sampah. Jelaskan.
Keluarga mengatakan membuang sampah rumah tangga adalah sampah dibuang di
belakang rumahnya kemudian dibakar. Ny.E mengungkapkan bahwa di RT 15 tidak
terdapat tempat pembuangan sampah, adapun tempat pembuangan sampah di desa
lain namun letaknya jauh dengan lokasi rumahnya.
17.11Kaji perasaan puas/tidak puas dari anggota keluarga secara keseluruhan dengan
pengaturan/penataan rumah. Jelaskan.
Keluarga mengatakan cukup puas dan tidak ada masalah dengan penataan rumah
(hanya kurang rapi).
18. Karakteristik Lingkungan dan Komunitas Tempat Tinggal yang Lebih Luas
Pemukiman sekitar rumah Tn.S merupakan daerah pedesaan, namun sudah cukup
berkembang. Lingkungan disana juga sudah tertata rapi. Jalan disana juga sudah baik
(jalan tidak berlubang). Kegiatan warga sekitar adalah kumpul PKK, pengajian dan
posyandu (balita dan lansia). Menurut Ny.E, setiap ada warga yang berduka, maka
warga disekitar lingkungan tersebut akan berkunjung atau melayat ke tempat tersebut.
18.1 Tipe tempat tinggal (hunian, industrial, campuran hunian dan industri kecil, agraris) di
lingkungan. Sebutkan.
Tipe tempat tinggal di sekitar rumah keluarga Tn.S adalah hunian campuran. Ada
yang mayoritas tetangga petani, ada yang berdagang, ada yang sebagai pegawai
swasta, dan sebagian besar rumahnya berjarak dekat bahkan antara tembok yang
satu dan yang lain berdempetan.
18.2 Keadaan tempat tinggal dan jalan raya (terpelihara, rusak, tidak terpelihara, sementara
diperbaiki). Jelaskan.
Terpelihara, kondisi jalan raya baik tidak ada aspal yang rusak/berlubang dan banyak
debu. Keadaan tempat tinggal baik namun ventilasi baik namun banyak asapnya
karena rumah tuan subai di pinggir jalan raya.
18.3 Sanitasi jalan, rumah (kebersihan, pengumpulan sampah, dll). Jelaskan.
Kondisi jalan baik, tuan subai tinggal di pinggir jalan raya. Bila musim penghujan air
bisa mengalir tanpa tersumbat. Kebanyakan warga membuang sampah di belakang
rumah dan dibakar.
18.4 Adanya dan jenis-jenis industri di lingkungan (udara, kebisingan, masalah-masalah
polusi air). Jelaskan.
Tidak ada, polusi udara dan tidak ada kebisingan.
18.5 Bagaimana karakteristik demografis dari lingkungan dan komunitas?
⎤ Kelas sosial dan karakteristik etnis penghuni. Sebutkan.
Mayoritas warga disekitar memiliki pendidikan rendah dan suku jawa.
⎤ Perubahan-perubahan secara demografis yang berlangsung belakangan ini dalam
lingkungan/komunitas. Jelaskan.
Tidak ada, perubahan selama Tn.S dan Ny.E tinggal disini, hubungan dengan
tetangga sangat baik dan cukup erat
18.6. Pelayanan-pelayanan kesehatan dan pelayanan-pelayanan sosial apa yang ada
dalam lingkungan dan komunitas?
⎤ Fasilitas-fasilitas ekonomi (warung, toko, apotik, pasar). Sebutkan.
Warung, tidak terlalu jauh dari rumah Tn.S tetapi apotik dan pasar jauh jaraknya
karena letak rumah Tn.S berada di pedalaman pedesaan.
⎤ Lembaga-lembaga kesehatan (klinik-klinik, rumah sakit, dan fasilitas-fasilitas gawat
darurat). Sebutkan.
Fasilitas kesehatan terdekat adalah praktek bidan. Puskesmas terletak cukup jauh,
dan rumah sakit letaknya cukup jauh.
⎤ Lembaga-lembaga pelayanan sosial (kesejahteraan, konseling, pekerjaan).
Sebutkan
Tidak ada
18.7. Bagaimana mudahnya sekolah-sekolah di lingkungan atau komunitas dapat diakses
dan bagaimana kondisinya?. Jelaskan.
An.N sudah bersekolah SD, tempat mudah diakses.
18.8. Fasilitas-fasilitas rekreasi yang dimiliki daerah ini. Sebutkan.
Terdapat fasilitas rekreasi, Ny.E mengatakan bila rekreasi atau jalan saat ada waktu
luar. Mereka menonton Tv di rumah

18.9. Tersedianya transportasi umum. Bagaimana pelayanan-pelayanan dan fasilitas-


fasilitas tersebut dapat diakses (dalam arti, jarak, kecocokan, dan jam, dll) kepada
keluarga. Jelaskan.
Tidak terdapat transportasi umum. Transportasi yang dipergunakan keluarga adalah
sepeda motor.
18.10. Bagaimana insiden kejahatan di lingkungan dan komunitas? Apakah ada masalah
keselamatan yang serius?. Jelaskan.
Ny.E mengatakan tidak pernah ada kejadian mencuri, merampok atau kejahatan
lainnya. Daerah Ny.E tinggal sangat aman baik bagi dirinya maupun anak-anaknya.
19. Mobilitas geografis keluarga
Transportasi yang digunakan ketika bepergian ke fasilitas kesehatan dan rekreasi
adalah motor.
19.1 Sudah berapa lama keluarga tinggal di daerah ini.
Tn.S dan Ny.E sudah tinggal di daerah Sumberbendo Sejak menikah 21 tahun lalu
sampai sekarang.
19.2. Apakah sering berpindah-pindah tempat tinggal? Jelaskan.
Tn.S dan keluarga tidak pernah berpindah-pindah.
20 Hubungan Keluarga dengan Fasilitas-Fasilitas dalam Komunitas
20.1 Siapa di dalam keluarga yang sering menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan?.
Sebutkan tempat pelayanan kesehatannya.
An. N biasanya ke praktik dokter karena sakit batuk, pilek dan demam. Sedangkan
anggota keluarga lainnya jarang ke dokter apabila penyakitnya tidak sembuh dengan
pengobatan jamu ang dibeli didekat rumah.
20.2 Berapa kali atau sejauh mana mereka menggunakan pelayanan dan fasilitas?
Setiap ada keluhan, untuk An. N.
20.3 Apakah keluarga memanfaatkan lembaga-lembaga yang ada di Komunitas untuk
Kesehatan Keluarga (JPS, JPKM, Dana Sehat, LSM)?. Sebutkan.
Tidak. Seluruh biaya pengobatan ditanggung sendiri oleh keluarga
20.4 Bagaimana keluarga memandang komunitasnya?
Semua tetangga baik, karena semua ramah dan saling membantu, serta rutin tahlilan
bersama.
21. Sistem Pendukung atau Jaringan Sosial Keluarga:
21.1. Siapa menolong keluarga pada saat keluarga membutuhkan bantuan, dukungan
konseling aktivitas-aktivitas keluarga (Sebutkan Lembaga Formal atau Informal;
Informal: Ikatan Keluarga, teman-teman dekat, tetangga; Formal: Lembaga Resmi
Pemerintah maupun Swasta/LSM).
Saat keluarga mengeluh sakit, bidan desa dan praktik dokter yang membantu. Apabila
keluarga membutuhkan bantuan biasanya dibantu juga dengan tetangga terdekat.

STRUKTUR KELUARGA
21. Pola dan Komunikasi Keluarga
Komunikasi yang dilakukan merupakan komunikasi langsung, Ny.E mengatakan selama
ini apabila ada permasalahan lebih suka memendam sendiri. Ny.E akan bercerita
apabila masalah tersebut sulit untuk di selesaikan.
21.1 - Apakah mayoritas pesan anggota keluarga sesuai dengan isi dan instruksi?
Iya sesuai. Setiap ada informasi yang diketahui contohnya masalah kesehatan
selalu memberikan informasi kepada keluarganya sesuai dengan informasi yang
didapat.
- Apakah anggota keluarga mengutarakan kebutuhan-kebutuhan dan perasaan-
perasaan mereka dengan jelas?
Iya, seperti saat Ny.E kewalahan menjaga cucunya maka Tn.Subai akan
membantu menjaga cucu. Namun Ny. E jarang mengutarakan
perasaannya/masalah yang sepele.
- Apakah anggota keluarga memperoleh dan memberikan respons dengan baik
terhadap pesan?
Iya, setiap pesan yang disampaikan dapat diterima dan direspon dengan baik
- Apakah anggota keluarga mendengar dan mengikuti suatu pesan?
Iya, mendengarkan dan mengikuti pesan jika sesuai dengan nilai yang baik.
Contohnya : Anak dari Tn.S selalu mengikuti perintah Tn.S dan Ny.K (ketika
waktunya tidur siang, semua langsung mengambil tempat di tempat tidur, dan
berdoa lalu memejamkan matanya).
- Bahasa apa yang digunakan dalam keluarga?
Bahasa yang digunakan dalam keluarga adalah bahawa Indonesia dan Jawa
- Apakah keluarga berkomunikasi secara langsung atau tidak langsung?.
Jelaskan.
Secara langsung, ketika keluarga ada masalah diutarakan secara langsung
dengan berdiskusi.
21.2 - Bagaimana pesan-pesan emosional (afektif) disampaikan dalam keluarga?
(Langsung, terbuka)
Langsung, biasanya Tn.Ssecara langsung menasehati Ny.E bila salah. Bahkan
ketika An.N nakal, Ny.J dan Ny. K juga secara langsung menasehati anaknya
sebagai ibu kandungnya namun hal ini untuk mengajarkan kepada anak-
anaknya untuk nurut dengan orang tuanya.
- Jenis-jenis emosi apa yang disampaikan dalam keluarga?. Sebutkan. Bahagia,
sedih, marah, kecewa. Apakah emosi-emosi yang disampaikan bersifat negatif,
positif atau keduanya?. Sebutkan.
Positif dan negative, Ny.K berfikir tidak boleh meluapkan emosi yang berlebihan,
namun itu demi kebaikan anak-anaknya agar kesehatannya terjaga.
21.3. - Bagaimana frekuensi dan kualitas komunikasi yang berlangsung dalam
keluarga? Jelaskan
Sering, karena seluruh keluarga tinggal dalam satu rumah. Kualitas komunikasi
baik setiap ada masalah selalu dibicarakan secara bersama
- Pola-pola umum apa yang digunakan menyampaikan pesan-pesan penting?
(langsung, tidak langsung, sebutkan caranya)
langsung disampaikan, Ny.E mengatakan selalu menyampaikan apapun yang
penting kepada suami dan anak-anaknya secara langsung dan tidak
menyembunyikan, semua dilakukan secara terbuka.
21.4. Jenis-jenis disfungsional komunikasi apa yang nampak dalam pola-pola komunikasi
keluarga?. Sebutkan.
Tidak ada, karena apabila keluarga sedang berdiskusi yang niatnya untuk kebaikan
kedepannya maka keluarga menerima dengan lapang dada.
21.5. Adakah hal-hal/masalah dalam keluarga yang tertutup untuk didiskusikan?. Sebutkan.
Tidak ada, hal-hal pribadi antara Tn.S dan Ny.E tidak disampaikan kepada anaknya
Ny K, cukup diselesaikan oleh mereka berdua.
22. Struktur Kekuatan
Pengambilan keputusan dalam keluarga dilakukan dengan cara musyawarah bersama
kepala keluarga, anak dan menantu.
Keputusan dalam Keluarga
22.1. - Siapa yang membuat keputusan dalam keluarga?
Tn.S dan Ny.E selalu berdiskusi dan mengambil keputusan berdua namun
Tn.Subai yang lebih sering mengambil keputusan karena Tn.S yang lebih
dominan karena tegas
- Siapa yang memutuskan dalam penggunaan keuangan keluarga?
Ny.E dan Ny.K dengan pertimbangan memenuhi kebutuhan masing-masing
individu dan yang paling diutamakan adalah biaya sekolah anaknya.
- Siapa yang memutuskan dalam masalah pindah pekerjaan atau tempat
tinggal?
Tn.S tidak bekerja diluar hanya di kebun jadi masalah pekerjaan akan di
serahkan ke tangan anak dan menantunya
- Siapa yang mendisiplinkan dan memutuskan kegiatan-kegiatan anak?
Ny.K dengan persetujuan Tn.S
22.2. - Bagaimana cara keluarga dalam mengambil keputusan (otoriter, musyawarah/
kesepakatan, diserahkan pada masing-masing individu)?
Musyawarah atau kesepakatan yang diambil dengan berdiskusi secara
langsung.
- Apakah keluarga merasa puas dengan pola pengambilan keputusan tersebut?
Keluarga menyatakan puas, karena tidak memihak siapapun dan semua saran
bisa ditampung.
22.3. Atas dasar kekuasaan apa anggota keluarga membuat keputusan? (Kekuasaan tak
berdaya, keahlian, penghargaan, paksaan kekuasaan berdasarkan
kekuatan/berpengaruh, kekuasaan aktif). Sebutkan.
Mengambil keputusan tidak dengan paksaan, berdiskusi dan musyawarah yang baik
supaya menemukan titik temu yang terbaik.

22.4. Kekuasaan dalam keluarga didominasi oleh siapa?. Sebutkan dan Jelaskan
Tidak ada yang mendominasi kekuasaan di dalam keluarga Tn.subai, semua
dikerjakan secara bersama-sama dan selalu didiskusikan dengan baik.

23. Struktur Peran


• Stuktur peran formal :
- Tn.S sebagai kepala keluarga dan ayah yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari.
- Ny.E sebagai ibu rumah tangga yang mengurus keperluan rumah dan anaknya
- Ny. K sebagai anak sekaligus ibu dari anak bekerja dipabrik untuk membantu keuangan
keluarga.
- Tn. C sebagai menantu sekaligus ayah dari anak N bekerja dipabrik untuk menghidupi
anak dan istrinya.
24. Nilai-Nilai Keluarga
Nilai yang digunakan dalam keluarga ini adalah nilai-nilai Islam yang memang
diaplikasikan oleh sebagian besar penduduk. Tidak ada konflik nilai yang menonjol
dalam keluarga, Ny.E sebagai ibu rumah tangga cukup memahami kesehatan dan
mengganggap kesehatan merupakan hal penting.
24.1. Apakah ada kesesuaian antara nilai-nilai keluarga dengan kelompok atau komunitas
yang lebih luas?. Jelaskan
Sesuai, nilai yang di anut dalam keluarga Tn.S adalah selalu patuh pada orang tua
dan hal tersebut juga berlaku dilingkungan tempat tinggal. Selain itu, keluarga Tn.S
juga menerapkan nilai suka membantu sesama. Hal ini diterapkan seperti saat ada
hajatan atau membangun rumah, maka keluarga akan saling membantu tetangga
yang membutuhkan pertolongan. Masyarakat RT15 Sumberbendo adalah masyarakat
yang saling bergotong royong dan suka membantu tetangganya yang kesusahan.
Selain itu, Nilai dan norma yang dianut dalam keluarga adalah menanamkan sifat dan
sikap disiplin anaknya, agar anaknya patuh terhadap orang tua (membiasakan tidur
siang, makan tepat waktu, main, mengaji, belajar pada malam hari, dan sayang pada
anggota keluarga).
24.2. Bagaimana pentingnya nilai-nilai yang dianut bagi keluarga?. Jelaskan
Penting, keluarga menganggap nilai tersebut harus di patuhi oleh seluruh anggota
keluarga dan sudah menjadi kebiasaan.
24.3. Apakah nilai-nilai ini dianut secara sadar atau tidak sadar?
Secara sadar oleh seluruh angota keluarga dan nilai yang dianut tidak melanggar
norma-norma agama maupun hukum.
25.4. Apakah ada konflik nilai yang menonjol dalam keluarga?. Sebutkan
Tidak ada konflik yang menonjol dalam keluarga. Semua nilai privasi keluarga
disimpan dengan baik dan hati-hati. Keluarga Tn.S maupun Tn.S tidak pernah
berbicara berteriak-teriak dalam komunikasi dengan istri dan anak-anaknya.

24.5. Bagaimana kelas sosial keluarga, latar belakang kebudayaan mempengaruhi nilai-nilai
keluarga?. Jelaskan.
Keluarga Tn.S berlatar belakang budaya Jawa, sehingga nilai menghormati dan patuh
kepada orang tua merupakan hal yang wajib dilakukan oleh anggota keluarga.
24.6. Bagaimana nilai-nilai keluarga mempengaruhi status kesehatan keluarga?. Jelaskan.
Nilai patuh kepada orang tua mempengaruhi pengambilan keputusan untuk
menentukan tempat berobat bila ada keluarga yang sedang sakit. Misalnya ketika
An.N sakit maka pengobatan dilakukan sesuai saran Ny.E sebagai nenek. Selain itu,
keluarga juga mempercayai bahwa sakit sudah ada yang mengatur yaitu Allah SWT.
FUNGSI KELUARGA
25. Fungsi Afektif
Menurut Ny.E selama ini tidak pernah terjadi konflik yang besar dalam keluarganya.
Semua dianggap hal yang wajar dan dapat diselesaikan dengan musyawarah
Pola Kebutuhan Keluarga – Respons
25.1. - Apakah anggota keluarga merasakan kebutuhan-kebutuhan individu-individu lain
dalam keluarga?
Iya, misalnya apabila anaknya nangis diberikan susu. Apabila An.N sesak
langsung dibawa ke dokter untuk mendapatkan pertolongan pertama.
- Apakah orang tua (suami/istri) mampu menggambarkan kebutuhan-kebutuhan
psikologis anggota keluarganya?
Tn.S dan Ny.K mampu menggambarkan kebutuhan anaknya
- Apakah setiap anggota keluarga memiliki orang yang dipercaya dalam keluarga
untuk memenuhi kebutuhan psikologisnya?
Iya, setiap anggota keluarga saling mempercayai satu sama lain

25.2. - Apakah kebutuhan-kebutuhan, keinginan-keinginan, perbedaan dihormati oleh


anggota keluarga yang lain?
Kebutuhan, keinginan, dan perbedaan selalu dihormati oleh anggota keluarga.
- Apakah dalam keluarga ada saling menghormati satu sama lain?
Iya, anggota keluarga saling menghormati satu sama lain. Sebagai seorang istri
ketika suaminya pulang bekerja Ny.E selalu menyiapkan teh hangat untuk
diminum.
- Apakah keluarga sensitif terhadap persoalan-persoalan setiap individu?
Iya, karena dalam keluarga harus saling peduli satu sama lain. Ketika ada
anggota keluarga yang kesal atau merasa mendapatkan masalah, sebelum
cerita selalu ditanya terlebih dahulu. Kenapa dan apakah ada yang harus
dibicarakan.

Saling Memperhatikan (Mutual Naturance), Keakraban, dan Identifikasi


25.3. - Sejauh mana anggota keluarga memberikan perhatian satu sama lain?
Setiap ada anggota keluarga yang sakit, selalu diberikan perhatian lebih. Ny.E
sangat menyayangi An.N dan Apabila An.N malas makan, maka Ny.K sering
merayu dan menyuapinya sehingga anak-anaknya tidak telat makan.
- Apakah mereka saling mendukung satu sama lain?
Iya, anggota keluarga saling mendukung hal positif yang akan dilakukan oleh
anggota keluarga lainnya.
25.4. - Apakah terdapat perasaan akrab dan intim diantara lingkungan hubungan
keluarga?
Iya, Keakraban terjadi pada anggota keluarga satu sama lain, anak-anak selalu
menceritakan kegiatan sehari-harinya pada orang tuanya.
- Apakah menunjukkan kasih sayang satu sama lain?
Iya, misalnya Ny.K menyiapkan sarapan untuk Tn.C yang akan berangkat kerja
selain itu Ny.K selalu mencium anaknya ketika akan tidur dan saat akan
berangkat kesekolah.

Keterpisahan dan Keterikatan


25.5. - Bagaimana keluarga menghadapi keterpisahan dengan anggota keluarga?.
Tidak terdapat riwayat keterpisahan pada keluarga Tn.S. Ketika menantunya
Tn.C berangkat bekerja, cucunya selalu mencium tangannya (namun tidak pada
malam hari karena anaknya tertidur).
- Apakah keluarga merasa adanya keterikatan yang erat antara satu dengan yang
lainnya?. Iya, Anggota keluarga sangat dekat dengan keluarganya yang lain.
26. Fungsi Sosialisasi
Ny.E dan Tn.S , Ny. K dan Tn.C mampu menjalankan fungsi sosialnya. Kegiatan-
kegiatan diwilayahnya dapat diikuti, bila tidak bisa hadir selalu memberikan alasan yang
jelas.
25.1. - Adakah otonom setiap anggota dalam keluarga?. Jelaskan.
Iya, keluarga dapat menyampaikan pendapat, setiap anggota keluarga
memiliki otonom
- Adakah saling ketergantungan dalam keluarga?
Anggota keluarga saling bergantung dan membantu anggota keluarga lainnya.

25.2. - Siapa yang menerima tanggung jawab untuk peran membesarkan anak
atau fungsi sosialisasi?
Ny.K berperan untuk merawat dan mendidik anak dirumah.
- Apakah fungsi ini dipikul bersama?
Iya, istri merawat anak dan suami bekerja untuk memenuhi kebutuhan
financial dalam keluarga.
- Jika demikian, bagaimana hal ini diatur?
Istri dirumah mengurus rumah tangga, merawat dan mendidik anak dirumah
sedangkan suami bekerja sehingga tanggung jawab dalam membesarkan
anak dapat dilakukan dengan baik.
25.3. Adakah faktor sosial – budaya yang mempengaruhi pola-pola membesarkan anak?.
Jelaskan.
Keluarga Tn.S membiasakan anak dengan nilai yang dianut keluarga yaitu patuh
kepada orang tua dan suka menolong sesama. Nilai ini masih diterapkan dan akan
diterapkan kepada An.N bila sudah besar.
25.4. Apakah keluarga saat ini mempunyai masalah/resiko dalam mengasuh anak?.
Sebutkan.
Tidak ada masalah dalam mengasuh anak, semua dilakukan Tn.C dan Ny.K secara
santai dan tidak terburu-buru agar semua hasilnya dapat memuaskan.

24.5. - Apakah lingkungan rumah cukup memadai bagi anak-anak untuk bermain (cocok
dengan tahap perkembangan anak)?
Iya, ruangan dalam rumah cukup luas untuk anak bermain, dan tidak ada barang-
barang berbahaya.
- Apakah ada peralatan/permainan anak-anak yang cocok dengan usia?
Ada, terdapat banyak mainan yang sesuai dengan usia An.N. Kadang suka bermain
boneka bersama dan masak-masakan.
27. Fungsi Perawatan Kesehatan
Keluarga kurang memahami mengenai makanan yang sehat, sehingga setiap hari Ny.E
dan Ny. K memasak lauk-pauk dan sayur sebagai menu makanan mereka sesuai yang
ada. Berdasarkan penuturan Ny.E, jika anaknya dan keluarganya sakit mereka akan
meminum jamu yang dibeli didekat rumah baru kemudian pergi ke Bidan dan dokter
terdekat. Ny.E mengatakan jika pergi kepelayanan kesehatan tidak selalu mengikuti
anjuran untuk meminum obat yang diresepkan. Ny.E sekeluarga tidak menggunakan
jaminan kesehatan, Ny.E beralasan tidak menggunakan jaminan kesehatan karena
berharap tidak sakit dan rugi.
28. Terapi Komplementer dan Alternatif
Saat anaknya sakit Ny.K akan tetap menggendong anaknya dan memberikan susu agar
tidak rewel.
29. Sumber Pembiayaan
Menurut Ny.E pendapatan Tn.S, anak dan menantunya cukup untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari.
Stress dan Koping Keluarga
30. Stressor jangka pendek
Ny.K merasa bingung untuk masalah keuangan kedepannya saat anaknya sudah besar.
31. Stressor jangka panjang
Ny.K memikirkan masa depan anaknya ketika memasuki usia sekolah.
32. Strategi koping keluarga
Seluruh anggota keluarga akan berdiskusi apabila terdapat masalah-masalah yang sulit
untuk diatasi terutama hal yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan
An.N
33. Adaptasi keluarga
Ketika terdapat permasalahan keluarga, akan dimusyawarahkan untuk pengambilan
keputusan.

Pemeriksaan Fisik

No Jenis Tn.S Ny.E An.N Tn.C Ny.K


pemeriksaa
n
1. TTV :
Tensi : 160/100 180/100 - 120/90 110/90
Suhu : 36.5oC 35.7 oC 36.6 35.7 oC 36.4 oC
o
Nadi : 80x/mnt 80x/mnt C 84x/mnt 80x/mnt
Nafas : 20x/mnt 18x/mnt - 22x/mnt 20x/mnt
-
2. Kulit, I: I: Tidak I: I:
rambut dan Persebar Persebaran terkaj Persebaran Persebaran
kuku. an rambut i rambut rambut
I : rambut merata,beruba merata,hitam merata,Hita
P: merata, n. . m.
P: mulai Warna kuku Warna kuku Warna kuku
A: tumbuh merah muda. merah merah muda.
uban. Kulit kuku muda. Kulit kuku
Warna bersih. Kulit kuku bersih.
kuku bersih.
merah P: Tidak P: Tidak
muda. terdapat P: Tidak terdapat
Kulit kuku benjolan, Crt terdapat benjolan, Crt
bersih. <2 detik. benjolan, Crt <2 detik.
<2 detik.
P:Crt <2
detik.
3. Kepala, I: I: Tidak I: I:
leher Tidak Tidak terdapat terkaj Tidak Tidak
I : terdapat benjolan. Tidak i terdapat terdapat
P: benjolan. ada benjolan. benjolan.
P: Tidak ada pembesaran Tidak ada Tidak ada
A: pembesa kelenjar tyroid pembesaran pembesaran
ran P: kelenjar kelenjar
kelenjar Tidak ada nyeri tyroid tyroid
tyroid tekan. P: P:
P: Tidak ada Tidak ada
Tidak ada nyeri tekan. nyeri tekan.
nyeri
tekan.
4. Thoraks Tidak I: Dada Tidak Tidak terkaji Tidak terkaji
dan paru terkaji Simetris terkaj
I : P: i
P: Tidak teraba
P: ictus cordis
A: A:
Bunyi jantung
normal, tidak
terdengar bunyi
ronchi dan
wheezing di
lapang paru
kanan dan kiri.
5. Abdomen Tidak Tidak terkaij Tidak Tidak terkaji Tidak terkaji
I : terkaji terkaj
P: i
P:
A:
6. Genitalia Tidak Tidak terkaji Tidak Tidak terkaji Tidak terkaji
I : terkaji terkaj
P: i
P:
A:
7. Ekstremitas I: I: Tidak I: I:
atas + Tidak Tidak terdapat terkaj Tidak Tidak
refleks terdapat benjolan, tidak i terdapat terdapat
fisiologis benjolan, terdapat benjolan, benjolan,
I : tidak edema, tidak tidak
P: terdapat pergerakan terdapat terdapat
P: edema, normal edema, edema,
A: pergerakan P: pergerakan pergerakan
normal. Tidak terdapat normal normal
P: nyeri tekan P: P:
Tidak Tidak Tidak
terdapat terdapat terdapat
nyeri tekan nyeri tekan nyeri tekan
8. Ekstremitas I: I: Tidak I: I:
bawah + Tidak Tidak terdapat terkaj Tidak Tidak
refleks terdapat benjolan, tidak i terdapat terdapat
fisiologis benjolan, terdapat benjolan, benjolan,
I : tidak edema, tidak tidak
P: terdapat pergerakan terdapat terdapat
P: edema, normal. edema, edema,
A: pergerakan P: pergerakan pergerakan
normal. Tidak terdapat normal. normal.
P: nyeri tekan P: P:
Tidak Tidak Tidak
terdapat terdapat terdapat
nyeri tekan nyeri tekan nyeri tekan

Harapan Keluarga :
Ny. E dan Tn. S berharap anak, menantu dan cucunya dapat hidup layak dan diberi
kesehatan.
Ny.K berharap anaknya selalu sehat, dapat tumbuh dan berkembang dengan baik
sesuai usianya sehingga nanti dapat bersekolah dengan baik. Ny.K juga berharap dapat
menjadi orang tua yang baik untuk anaknya.

3.2 Analisa Data

NO. DATA PENUNJANG ETIOLOGI Dx.Keperawatan


1 DS: Kurang tahu Defisit Pengetahuan
- Keluarga mengatakan belum pernah dengan informasi b.d kurang pajanan
mendapatkan penyuluhan mengenai kesehatan dasar informasi tentang
hipertensi pada keluarga Hipertensi
- Keluarga mengatakan makanan untuk
Tn.S dan Ny. E tidak di sesuaikan keluarga tidak tau
dengan hipertensi mengenai
- Keluarga mengatakan jika berobat hipertensi dan
hanya meminum jamu dan jarang tidak penanganan efek
periksa ke dokter samping hipertensi
- Keluarga mengatakan tidak rutin
meminum obat Tn.S dan Ny. E
- Keluarga mengatakan tidak pernah memiliki darah
mengikuti penyuluhan mengenai tinggi
Hipertensi dan jarang mendapatkan
informasi mengenai hipertensi Defisiensi
Pengetahuan
DO:
- Keluarga terlihat masih binggung
tentang konsep hipertensi dan
penanganan hipertensi
- TD Tn.S : 160/100 mmHg
- TD Ny.J : 180/100 mmHg
2. DS: Kurang pajanan Perilaku Kesehatan
- Keluarga mengatakan tidak informasi tentang Cenderung Beresiko
mengetahui tentang pola hidup dan kesehatan dasar b.d , kurang
makanan sehat keluarga pemahaman
- Keluarga mengatakan Tn.S mengenai
mengkonsumsi makanan asin dan Memunculkan sikap kurangnya aktivitas
gorengan yang kurang adaptif olahraga dalam
- Keluarga mengatakan meminum jamu terhadap kesehatan keluarga, pola hidup
yang dibuat sendiri jika sakit diri dan sehat dan makanan
- Tn. S dan Ny. E meminum kopi setiap pencegahan yang sehat ditandai
hari penyakit dengan gagal
-Keluarga melakukan tindakan
DO: mengatakan mencegah masalah
- TD Tn.S : 160/100 mmHg jarang kesehatan.
- TD Ny.J : 180/100 mmHg kepelayanan
kesehtan jika
sakit hanya
meminum jamu

Perilaku
Kesehatan
Cenderung
Beresiko

3.3 Perencanaan Masalah


3.3.1 Penetapan Prioritas Masalah
Tanggal Penetapan Prioritas Masalah :
1) Defisit Pengetahuan berhubungan dengan kurang pajanan informasi tentang Hipertensi
No Kriteria Bobot Nilai Pembenaran
1 Sifat masalah 3 3x3/3 Keluarga mengatakan tidak
Aktual: 3 =3 mengetahui tentang Hipertensi dan
penanganan dan komplikasi
Hipertensi.

2 Kemungkinan masalah 2 1x2/2 Keluarga mengatakan tidak pernah


diubah =2 mendapat informasi atau penyuluhan
Sebagian: 1 tentang Hipertensi
3 Potensial masalah dicegah 1 2x1/3 Keluarga menyadari Hipertensi sangat
Cukup: 2 =2/3 penting untuk dikontrol
4 Menonjolnya masalah 1 2x1/2 Masalah kurang pengetahuan harus
Masalah dirasakan dan =1 segera ditangani karena untuk
harus segera ditangani: 2 mengubah perilaku harus didasari
dengan pengetahuan yang cukup.
Total 6,6

2) Perilaku Kesehatan Cenderung Beresiko berhubungan dengan, kurang pemahaman


mengenai lingkungan dan makanan yang sehat ditandai dengan gagal melakukan
tindakan mencegah masalah kesehatan.
No Kriteria Bobot Nilai Pembenaran
1 Sifat masalah 1 3x1/3 Keluarga mempunyai kebiasaan jika
Aktual : 3 =1 sait minum jamu yang dibeli di toko
2 Kemungkinan masalah 2 1x2/2 Keluarga mempunyai kebiasaan
diubah =1 kurangnya aktivitas olahraga dalam
Sebagian: 1 keluarga, makan asin, gorengan, dan
kopi. Namun kebiasaan ini dapat
sedikit diubah dengan motivasi semua
anggota keluarga untuk kesehatan.
3 Potensial masalah dicegah 1 2x1/3 Terkontrolnya tekanan darah
Cukup: 2 = 0,6 melibatkan perilaku yang terus
menerus.
4 Menonjolnya masalah 1 2x1/2 Penangan hipertensi yang kurang dan
Masalah dirasakan dan =1 menimbunan sampah di belakang
harus segera ditangani: 2 rumah dapat berisiko komplikasi yang
berlanjut dan masalah kesehatan.
Total 3,6

3.3.2 Daftar Diagnosa Keperawatan


No. Dx Diagnosa Keperawatan
1 Defisit Pengetahuan berhubungan dengan kurang pajanan informasi
tentang Hipertensi dan penanganan efek samping Hipertensi (demam)
yang dapat mengakibatkan kejang ditandai dengan :
1. Pengetahuan yang kurang tentang konsep Hipertensi
2. Pengetahuan yang kurang tentang penanganan Hipertensi.
3. Pengetahuan yang kurang tentang komplikasi Hipertensi
2 Perilaku Kesehatan Cenderung Beresiko berhubungan dengan
kurangnya aktivitas olahraga dalam keluarga, HT makanan yang sehat
ditandai dengan gagal melakukan tindakan mencegah masalah
kesehatan yang ditandai dengan :
1. Kebiasaan anggota keluarga jika sakit hanya meminum jamu.
2. Pengetahuan yang kurang mengenai pola hidup sehat , makanan
sehat.
3.3.3 Rencana Asuhan Keperawatan

Nama Keluarga : Tn.S


No. Reg :-
Tanggal Pengkajian :
No. Ta Dx. Keperawatan Tujuan Kriteria Hasil Intervensi
ng
gal
1. 08/ Defisit Pengetahuan TUM NOC : Knowledge : Health NIC : Health Education
02/ berhubungan dengan Setelah dilakukan Promotion 1. Kaji pengetahuan keluarga
20 kurang pajanan informasi tindakan No Indikator 1 2 3 4 5 tentang Hipertensi.
18 tentang Hipertensi dan keperawatan selama 2. Bantu keluarga dalam
1 Keluarga
penanganan komplikasi 3 kali kunjungan, klarifikasi tentang Hipertensi
mengikuti
Hipertensi ditandai dengan : keluarga tentang - Jelaskan apa itu
kegiatan
1. Pengetahuan yang konsep Hipertensi Hipertensi.
posyandu
kurang tentang penatalaksanaan - Jelaskan penangan
untuk
konsep Hipertensi dan komplikasi hipertensi
menangan
2. Pengetahuan yang Hipertensi di - jelaskan komplikasi
i
kurang tentang keluarga meningkat hipertensi
hipertensi
penanganan 3. Diskusi dengan keluarga
Hipertensi. TUK 1 2 Keluarga mengenai konsep Hipertensi
3. Pengetahuan yang 1. Keluarga mampu mampu dan penanganan komplikasi
kurang tentang memahami melakuka Hipertensi
komplikasi konsep n 4. Evaluasi pengetahuan
Hipertensi Hipertensi, penangan keluarga dengan
penanganan dan hipertensi memberikan pertanyaan
komplikasi di rumah Post test.
Hipertensi
sebanyak 80%.

TUK 2 NOC : Participation in Health Care NIC : Cognitive Restructuring


1. Keluarga dapat Decisions 1. Ajarkan keluarga
mengambil No Indikator 1 2 3 4 5 mengidentifikasi system
keputusan untuk kepercayaan yang
1 Keluarga
mengontrol mempengaruhi status
mampu
Hipertensi kesehatan.
menentuk
kepelayanan 2. Buat keluarga melihat
an
kesehatan kepercayaan dalam cara
keputusan
yang berbeda untuk
untuk
meningkatkan kesehatan.
mengontro 3. Persuasi keluarga untuk
l mengontrol Hipertensi
Hipertensi kepelayanan kesehatan.
kepelayan
an
kesehatan

TUK 3 : NOC : knowledge hypertension NIC :


Keluarga mampu management 1. Monitoring dan evaluasi
menangani No Indikator 1 2 3 4 5 perilaku keluarga untuk
hipertensi melakukan penanganan
1 Keluarga
hipertensi
mengikuti
2. Mengajarkan keluarga
kegiatan
penangan hipertensi yang
posyandu
dapat dilakukan dirumah
untuk
3. Mengajarkan pasien agar
menangan
taat melakukan penangan
i
hipertensi
hipertensi
4. Menjelaskan keuntungan
2 Keluarga penangan hipertensi yang
mampu benar
melakuka
n
penangan
hipertensi
di rumah

3 Keluarga
mengetah
ui cara-
cara
penangan
an
hipertensi

4 Keluarga
mematuhi
penangan
hipertensi

TUK 4 ; NOC : Knowledge : medication NIC : Medication


klien dan keluarga No Indikator 1 2 3 4 5 Management
mampu 1. Kaji pengetahuan klien
1 Mengguna
memodifikasi tentang obat
kan obat
lingkungan 2. Beritahu kalien tentang cara
Melaksanakan diet sesuai mengontrol hipertensi
dengan teratur dan dosis dengan obat
minum obat sesuai 3. kaji dukungann keluarga
2 Minum
dosis terkait minum obat klien
obat
4. Ajarkan pasien dan/ atau
bukan
anggota keluarga tentang
hanya
metode pemberian obat yang
saat ada
sesuai
keluhan

3 Mengetah
ui efek
samping
obat

TUK 5: NOC : Health Seeking Behavior NIC : Health System


Klien dan anggota No Indikator 1 2 3 4 5 Guidance
keluarga mampu 1. Mendampingi pasien ke
memanfaatkan pelayanan kesehatan
fasilitas kesehatan 2. Menginstruksikan pasien
jika terdapat keluhan untuk berkonsultasi dengan
hipertensi tenaga kesehatan
3. Menjelaskan biaya
kesehatan yang dikeluarkan
1 Mengajak
anggota
keluarga
yang sakit
ke
pelayanan
kesehatan

2 Mencari
informasi
kesehatan
mengena
ihpertensi

3 Menunjuk
kan
inisiatid ke
pelayanan
kesehatan

No Diagnosa Tujuan Tujuan Khusus Kriteria Evaluasi Rencana Tindakan


Keperawatan Umum Kriteria Standar
Keluarga

1 Perilaku Setelah Setelah dilakukan Kognitif NOC : Knowledge : Health Promotion NIC : Health Education
kesehatan dilakukan tindakan 1. Mengkaji pengetahuan
No Indikator 1 2 3 4 5
cenderung tindakan keperawatan keluarga tentang
berisiko keperawatan selama 3 kali 1. Efek samping makanan tidak
selama 3 kunjungan, klien makanan seimbang terhadap
minggu dan keluarga tinggi garam kesehatan
diharapkan mampu mengenal lemak 2. Mengkaji pengetahuan
keluarga masalah yang keluarga tentang
2. Kebiasaan
mengurangi ditandai dengan : makanan sehat
makanan
kebiasaan 3. Mendorong keluarga
a. Keluarga sehat
konsumsi untuk mengurangi
mengetahui
makanan konsumsi makanan
tentang
tinggi garam tinggi garam dan tinggi
bahaya makan Keterangan : 1. No Knowledge
dan tinggi lemak
tinggi garam 2. Limited Knowledge
lemak
dan gorengan 3. Moderate Knowledge
pada 4. Substansial Knowledge
penderita 5. Extensive Knowledge
hipertensi
Setelah dilakukan Afektif NOC : Compliance Behavior : Prescribed NIC : Decision – Making
tindakan Diet Support
keperawatan N Indikator 1 2 3 4 5 1. Membantu pasien
selama 3 kali o mengenali keuntungan
kunjungan, klien berobat ke pelayanan
1. Memilih
dan keluarga kesehatan
makanan
mampu mengambil 2. Memfasilitasi
dan
keputusan yang pengambilan
minuman
tepat ditandai keputusan
yang sesuai
dengan : 3. Menyediakan informasi
dengan diet
yang dibutuhkan
a. Mampu
2. Makan
memutuskan
makanan
untuk mengatur
yang sesuai
pola makan
dengan diet
rendah garam
yang
dan rendah
dianjurkan
lemak
3. Menghindar
i makanan
dan
minuman
yang tidak
sesuai
dengan diet
4. Merencana
kan
makanan
yang sesuai
dengan diet
yang
dianjurkan

Ket : 1. Never demonstrated


2. Rarely Demonstrated
3. Sometimes Demonstratd
4. Often Demonstrated
5. Consistently Demonstrated

Setelah dilakukan Psikomotor NOC : Knowldedge : Prescribed Diet NIC : Teaching :


tindakan Prescribed Diet
No Indikator 1 2 3 4 5
keperawatan 1. Mengkaji pengetahuan
selama 3 kali 1. Capaian diet pasien dan keluarga
kunjungan, terkait diet
2. Makanan
keluarga mampu 2. Menginstruksikan
yang
merawat anggota pasien tentang
diperbolehka
keluarganya makanan yang
n
ditandai dengan : dilarang dan

3. Makanan diperbolehkan
a. Merawat
anggota yang harus 3. Membantu pasien dan
keluarganya dihindari keluarga dalam
terkait dengan pemilihan menu diet
4. Rencana
kepatuhan diet 4. Membuat catatan
menu
rendah garam tentang diet
berdasarkan
dan rendah 5. Melibatkan keluarga
diet yang
lemak dalam pengaturan
dianjurkan
menu diet

Keterangan : 1. No Knowledge
2. Limited Knowledge
3. Moderate Knowledge
4. Substansial Knowledge
5. Extensive Knowledge

Setelah dilakukan Psikomotor NOC : Self-Management : Hypertension NIC : Relaxation Therapy


tindakan 1. Menjelaskan alasan
N Indikator 1 2 3 4 5
keperawatan terapi relaksasi otot
o
selama 3 kali progresif dan
kunjungan, klien 1. Target keuntungannya
dan keluarga tekanan 2. Mendemonstrasikan
mampu darah dan praktikkan
memodifikasi relaksasi otot progresif
2. Mengikuti
lingkungan ditandai diet yang 3. Meminta klien untuk
dengan : dianjurkan mengulangi relaksasi
4. Menyediakan informasi
a. Melaksanakan 3. Mengurangi
tertulis mengenai
diet dengan konsumsi
relaksasi otot progresif
teratur kafein
5. Mencatat dan
b. Menggunakan
4. Menggunak memonitor perubahan
strategi koping
an strategi tekanan darah
yang efektif
mengurangi
untuk
stress
mengurangi
makanan asin 5. Menggunak
dan gorengan an terapi
relaksasi
otot
progresif

Ket : 1. Never demonstrated


2. Rarely Demonstrated
3. Sometimes Demonstratd
4. Often Demonstrated
5. Consistently Demonstrated

Setelah dilakukan Psikomotor NOC : Health Seeking Behavior NIC : Health System
Guidance
tindakan No Indikator 1 2 3 4 5 1. Mendampingi pasien
keperawatan ke pelayanan
1 Melakuka
selama 3 minggu kesehatan
n tugas
klien dan keluarga 2. Menginstruksikan
kesehatan
mampu pasien untuk
2 Melakuka
mendukung berkonsultasi dengan
n skrining
anggota tenaga kesehatan
kesehatan
keluarganya untuk:
3 Asistensi
a. Memanfaatkan dari
fasilitas tenaga
kesehatan saat kesehatan
sakit 4 Menunjuk-
kan
inisiatif ke
layanan
kesehatan
5 Mencari
informasi
kesehatan
Ket : 1. Never demonstrated
2. Rarely Demonstrated
3. Sometimes Demonstratd
4. Often Demonstrated
5. Consistently Demonstrated
3.4 Implementasi
No. Dx Hari, Tanggal Implementasi TTD
1 Senin, 23-07- 1. Mengkaji pengetahuan keluarga tentang Annisa
2018 Hipertensi.
2. Membantu keluarga dalam klarifikasi tentang
Hipertensi.
- Menjelaskan apa itu Hipertensi.
- Menjelaskan penangan hipertensi
- Menjelaskan komplikasi hipertensi
3. Mengevaluasi pengetahuan keluarga dengan
memberikan pertanyaan post test.
4. Mengajarkan keluarga mengenali
kepercayaan yang tidak nyata dibandingkan
dengan realita imunisasi.
5. Mengajarkan keluarga mengidentifikasi
sistem kepercayaan yang mempengaruhi
kesehatan.
6. Mempersuasi keluarga untuk melakukan
penanganan hipertensi sesuai yang di
anjurkan
7. Mengajarkan pasien agar taat melakukan
penangan hipertensi
8. Menjelaskan keuntungan penangan
hipertensi yang benar
2 Sabtu, 28-07- 1. Menkaji pengetahuan keluarga tentang pola Annisa
2018 hidup sehat (aktivitas fisik) makanan sehat,
dan hipertensi
2. Memberitahu keluarga cara penanganan
hipertensi dengan rebusan daun salam
3. Menganjurkan keluarga untuk minum
rebusan daun salam >4 x dalam seminggu
4. Mengkaji pengetahuan pasien dan keluarga
terkait diet
5. Mengkaji anggapan pasien dan keluarga
terkait kultur yang mempengaruhi pemilihan
menu diet
10.Mengkaji adanya keterbatasan ekonomi
yang mempengaruhi pemilihan makanan
11. Menginstruksikan pasien tentang makanan
yang dilarang dan diperbolehkan
12. Membantu pasien dan keluarga dalam
pemilihan menu diet
13. Membuat catatan tentang diet
14. Melibatkan keluarga dalam pengaturan
menu diet
1 Rabu, 25-07- 1. Mengevaluasi kembali penyuluhan hipertensi Anisa
2018 yang telah diberikan
2. Meminta keluarga mengulang penangan,
komplikasi hipertensi
3. Meminta keluarga mendatangi fasilitas
kesehatan jika ada keluhan.
4. Beritahu kalien tentang cara mengontrol
hipertensi dengan obat
5. Mengkaji dukungann keluarga terkait minum
obat klien
6. Mengajarkan pasien dan/ atau anggota
keluarga tentang metode pemberian obat
yang sesuai
2. Senin, 30-07- 1. Mengkaji tentang penanganan hipertensi Anisa
2018 yang dilakukan keluarga
2. Mencatat dan memonitor perubahan tekanan
darah
3. Menginstruksikan pasien untuk berkonsultasi
dengan tenaga kesehatan
3.5 Evaluasi
3.5.1 Evaluasi Formatif
No. Hari, Tanggal Kegiatan Evaluasi
Dx
1  Pendidikan S:
kesehatan tentang a. Keluarga mengatakan mengerti mengenai hipertensi
Hipertensi b. Keluarga mengatakan mengerti mengenai komplikasi serta penanganan hipertensi
O:
a. Keluarga kooperatif dalam diskusi.
b. Keluarga mendengarkan penjelasan dengan baik.
c. Hasil pre test pada keluarga binaan mengenai hipertensi didapatkan nilai 40
d. Hasil pre test pada keluarga binaan mengenai hipertensi didapatkan nilai 80
A:
Masalah TUK 1 teratasi
P:
Hentikan intervensi
1  Mengkaji keputusan S :
keluarga untuk a. Keluarga mengatakan akan mengontrol tensi ke posyandu lansia
mengontrol b. Keluarga mengatakan posyandu jarang ada
Hipertensi O:
kepelayanan a. Keluarga kooperatif dalam diskusi.
kesehatan A:
Masalah TUK 2 telah teratasi
P:
Lanjutkan monitoring dan evaluasi dengan memberikan pendidikan kesehatan kembali
1  Keluarga mampu S :
menangani a. Keluarga mengatakan akan melakukan penanganan hipertensi yang telah
hipertensi disarankan
O:
a. Keluarga tampak antusias saat dilatih
A:
Masalah TUK 3 teratasi
P:
Lanjutkan monitoring dan evaluasi oleh pihak puskesmas
1  Melaksanakan diet S :
dengan teratur dan a. Keluarga mengatakan akan melakukan penanganan hipertensi yang telah
minum obat sesuai disarankan
dosis b. Keluarga mengatakan akan berhenti minum jamu instan ditoko dan kepelayanan
kesehatan untuk di periksa dan diberikan obat
c. keluarga mengatakan akan mulai memperhatikan diet hipertensi
O:
a. Keluarga kooperatif dalam diskusi.
b. Keluarga mendengarkan penjelasan dengan baik.
A:
Masalah TUK 4 teratasi
P:
Lanjutkan intervensi pengetahuan obat pihak puskesmas
1  Memanfaatkan S:
fasilitas kesehatan a. Keluarga mengatakan akan ke fasilitas kesehatan apabila terdapat keluhan
jika terdapat kesehatan
keluhan hipertensi b. Keluarga mengatakan tidak akan meminum jamu yang dibeli di toko
O:
a. Keluarga kooperatif selama diskusi.
b. Keluarga tampak mendengarkan penjelasan.
A:
Masalah TUK 5 teratasi
P:
Hentikan intervensi
2  Pendidikan S:
kesehatan a. Keluarga mengatakan mengerti mengenai diet makanan pasien hipertensi
mengetahui tentang c. Keluarga mengatakan akan mulai memperhatikan diet pasien hipertensi
bahaya makan O :
tinggi garam dan Keluarga kooperatif selama diskusi.
lemak Keluarga tampak mendengarkan penjelasan.
A:
Masalah TUK 1 teratasi
P:
Hentikan intervensi
2  Mengatur pola S :
makan rendah Keluarga mengatakan mengerti mengenai diet makanan pasien hipertensi
garam dan rendah Keluarga mengatakan akan mulai memperhatikan diet pasien hipertensi
lemak O:
Keluarga kooperatif selama diskusi.
Keluarga tampak mendengarkan penjelasan.
A:
Masalah TUK 2 teratasi
P:
Hentikan intervensi
2  Merawat anggota S :
keluarganya terkait Keluarga mengatakan mengerti mengenai diet makanan pasien hipertensi
dengan kepatuhan Keluarga mengatakan akan mulai memperhatikan diet pasien hipertensi
diet O:
Keluarga kooperatif selama diskusi.
Keluarga tampak mendengarkan penjelasan.
A:
Masalah TUK 3 teratasi
P:
Hentikan intervensi
2  Menggunakan S:
strategi koping yang Keluarga mengatakan akan mulai mengganti menu perlahan-lahan
efektif untuk Keluarga mengatakan mengerti mengenai diet makanan pasien hipertensi
mengurangi Keluarga mengatakan akan mulai memperhatikan diet pasien hipertensi
makanan asin dan O :
gorengan Keluarga kooperatif selama diskusi.
Keluarga tampak mendengarkan penjelasan.
A:
Masalah TUK 4 teratasi
P:
Hentikan intervensi
2  Memanfaatkan S:
fasilitas kesehatan d. Keluarga mengatakan akan ke fasilitas kesehatan apabila terdapat keluhan
jika terdapat kesehatan
keluhan hipertensi e. Keluarga mengatakan tidak akan meminum jamu yang dibeli di toko
O:
c. Keluarga kooperatif selama diskusi.
d. Keluarga tampak mendengarkan penjelasan.
A:
Masalah teratasi
P:
Hentikan intervensi

3.5.2 Evaluasi Sumatif

Dari hasil pengkajian, intervensi, implementasi, dan evaluasi, keluarga dapat bekerjasama dengan mahasiswa dalam mengatasi masalah
kesehatan yang ditemukan. Selama melakukan pembinaan dan kunjungan rutin di keluarga, mahasiswa banyak memperoleh informasi dari
keluarga mengenai masalah kesehatan yang dialami keluarga maupun masalah yang dihadapi oleh keluarga. Dapat disimpulkan tingkat
kemandirian keluarga adalah “TINGKAT KEMANDIRIAN III” adalah sebagai berikut:

Kriteria Ya Tidak Pembenaran

Keluarga menerima petugas  Selama praktek dan melakukan kunjungan


puskesmas rumah, keluarga selalu menerima kehadiran
perawat dengan sikap ramah dan terbuka
sesuai dengan kontrak yang telah disepakati
bersama. Keluarga dan mahasiswa hampir
selalu menyepakati kontrak yang telah
ditentukan.

Keluarga menerima  Selama praktek, keluarga selalu menerima


pelayanan kesehatan yang penjelasan dari mahasiswa dan mengikuti
diberikan sesuai dengan apa yang di sampaikan oleh mahasiswa.
rencana keperawatan Keluarga selalu mendengarkan penjelasan
mahasiswa tentang perawatan yang diberikan
sesuai dengan rencana keperawatan.

Keluarga menyatakan  Selama praktek, keluarga selalu


masalah kesehatan secara memperhatikan penjelasan ketika mahasiswa
benar sedang menjelaskan sehingga keluarga
mampu mengungkapkan masalah
kesehatanya ketika mahasiswa bertanya
tentang keadaan keluarga. Keluarga mampu
mengenali hal-hal apa saja yang bisa
menganggu kesehatanya sehingga penyakit
dapat dicegah dan tidak memberat.

Keluarga memanfaatkan √ Keluarga mulai memanfaatkan fasilitas


fasilitas kesehatan sesuai layanan kesehatan yang tersedia secara aktif.
anjuran

Melaksanakan perawatan  Selama praktek dan kunjungan kerumah


sederhana sesuai anjuran keluarga, sudah mampu melakukan
perawatan sederhana seperti menkomsumsi
makanan sehat seperti jus tomat,
menghindari hal-hal yang dapat menimbulkan
penyakit, melakukan relaksasi otot progresif.

Melaksanakan tindakan √ Selama kunjungan keluarga sudah mampu


pencegahan secara aktif melakukan tindakan pencegahan. Keluarga
mampu mengenali tanda dan gejala apabila
sakit itu muncul dan keluarga sudah bisa
mengatasinya. Keluarga sudah
menkomsumsi makanan rendah garam dan
mengurangi makanan yang beresiko
meningkatkan tekanan darah
Melaksanakan tindakan √ Keluarga mendengarkan dengan antusias
promotif secara aktif penyuluhan yang diberikan.
BAB IV

PEMBAHASAN

Asuhan keperawatan yang diberikan kepada keluaraga Bapak S berlangsung selama


3 minggu dengan total pertemuan sebanyak 4 kali pertemuan meliputi, proses pengkajian
data, menetapkan prioritas masalah, implementasi dan evaluasi. Berdasarkan hasil
evaluasi terhadap asuhan keperawatan yang diterima keluarga Bapak Subai kedua tujuan
umum diagnosa keperawatan yang ditegakan dapat dicapai sesuai target capaian yang
ditetapkan.

4.1 Diagnosa 1 : Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang pajanan


informasi tentang Hipertensi

Diagnosa 1 fokus pada pengetahuan Hipertensi, meliputi konsep hipertensi terutama


penanganan dan komplikasi. Berdasarkan hasil evaluasi dengan menggunakan
pertanyaan lisan setelah diberikan pendidikan kesehatan didapatkan rata-rata capaian
keluarga tentang Hipertensi 80%. Hal ini menunjukan keluarga dapat menerima materi
dengan baik. Capaian ini juga tidak lepas dari proses yang diterapkan pada saat
pendidikan kesehatan lebih menekankan pada diskusi yang dilakukan setelah materi
diberikan. Diskusi pada akhir materi memungkinkan keluarga untuk mengklarifikasi istilah-
istilah yang kurang dipahami saat penyampaian materi.

Kurangnya pendidikan kesehatan yang diikuti atau kurangnya keiinginan untuk


mengikuti pendidikan kesehatan juga berdampak pada kurangnya pengetahuan keluarga
terhadap masalah kesehatan. Dengan demikian pendidikan kesehatan secara
interpersonal yang dilakukan langsung dirumah lebih efektif meningkatkan pengetahuan
keluarga. Pendidikan kesehatan sangat berpengaruh besar terhadap pengetahuan
keluarga seperti di jurnal penelitian Veronica (2015).
4.2 Diagnosa 2 : Perilaku kesehatan berisiko berhubungan dengan tingkat
pengetahuan keluarga tentang pengobatan dan lingkungan yang kurang sehat

Diagnosa fokus pada beberapa hal yaitu kebiasaan merokok didalam rumah,
meminum jamu di toko jika sakit, pengetahuan rumah sehat, dan membuang sampah
dengan ditimbung dibelakang rumah. Hal-hal tersebut dievaluasi mulai dari kognitif, afektif
hingga psikomotor keluarga. Berdasarkan hasil evaluasi seluruh intervensi dengan
menggunakan pertanyaan lisan setelah pendidikan kesehatan masing-masing materi dan
melalui monitoring dan evaluasi yang dilakukan sebanyak dua kali, didapatkan rata-rata
capaian 80%. Hal ini menunjukan keluarga sudah mampu menerima materi dan
melakukannya dengan baik.
Pendidikan kesehatan tentang penanganan jika sakit diberikan pada keluarga lebih
difokuskan pada Bapak S dan Ny. E, karena Bapak S dan istrinya mempunyai kebiasaaan
meminum jamu yang dibuat sendiri dan tidak menjaga pola makan dan mengontrol
tekanan darah padahal menderita darah tinggi. Namun juga melibatkan Nyonya K sebagai
anak dalam di libatkan agar selalu mengingatkan supaya anggota keluarga tidak
sembarangan mengkonsumsi jamu dan mengkonsumsi makanan berlemak. Selain itu juga
diberikan pendidikan kesehatan mengenai rumah sehat dan cara membuang sampah yang
baik dan benar kepada keluarga Bapak Subai. Keluarga dapat menerima materi yang
disampaikan dengan baik. Pemberian pendidikan kesehatan tersebut sebagai upaya
dalam pencegahan penyakit menular pada keluarga Bapak S. Hal tersebut sesuai dengan
jurnal penelitian oleh Endang (2012) yang menyimpulkan pendidikan kesehatan dengan
kunjungan rumah perlu dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan keluarga dan
mencegah penyakit menular.
4.3 Hambatan
Hambatan yang terjadi berupa waktu yang tepat untuk dilakukannya pengkajian dan
intervensi. Mayoritas pekerjaan warga di RT 15 Desa Sumberbendo adalah petani,
sehingga hanya dapat ditemui di waktu-waktu tertentu. Disamping itu anggota keluarga
antara Bapak dan Nyonya bekerja bergantian waktu sehingga tidak dapat menemui
keluarga secara bersama-sama. Solusi yang dapat diberikan yaitu selalu melakukan
kontrak dan menyesuaikan dengan kesibukan keluarga.
BAB 5
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil evaluasi dari semua intervensi yang sudah diberikan pada
keluarga Pak Subai dapat disimpulkan sebagai berikut :
5.1.1 Terjadi peningkatan pengetahuan tentang Hipertensi, meliputi konsep
Hipertensi, penanganan dan komplikasi pada keluarga Pak S.
5.1.2 Terjadi perubahan perilaku mengurangi konsumsi jamu, dan mengunjungi
fasilitas kesehatan untuk mengontol hipertensi dan jika sakit pada keluarga
Pak S.

5.2 Saran
Pengontrolan kebiasaan memakan makanan tinggi lemak dan garam pada
penderita hipertensi sangatlah penting. Evaluasi dan monitoring masih perlu
dilakukan agar perilaku warga berubah menjadi kebiasaan. Promosi kesehatan pula
harus terus digalakkan agar warga menyadari betapa pentingnya imunisasi dan
perilaku kesehatan.
Dokumentasi
DAFTAR PUSTAKA

Anderson & McFarlane. 2001. Community As Partner Theory And Practice In Nursing.
Philadelphia: Lippincot Williams & Wilkins

Brunner 7 Suddarth. 1996. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Vol: 1, Edisi 8. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC
Clark. 1999. Nursing In The Community Dimensions of Community Health Nursing.
Stamford: Appleton & Lange

Clemen-Stone, S., McGuire, S.L., & Eigsti, D.G. (2012). Comprehensive community health
nursing: family, aggregate, & community practice (6rd ed). St. Louis: Mosby, Inc.

Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan


dan Pendokumentasian Pasien. ed.3. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

Ervin, NF. (2012). Advanced community health nursing : Concept and practice. 5 th ed.
Philadelphia : Lippincot.
Efendi, F. 2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas: Teori Dan Praktek Dalam
Keperawatan. Jilid 1. Jakarta : Salemba Medika

Fachruddin. 2011. Rumah Sehat. Medan. Universitas Sumatra Utara.


repository.usu.ac.id/bitstream/.../4/Chapter%20II.pdf. di unduh tgl 9 Agustus 2016,
pukul 08.30 WIB.
Kemenkes RI. 2015. Profil Kesehatan Indonesia 2014. Jakarta. Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia. http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/profil-
kesehatan-indonesia/profil-kesehatan-indonesia-2014.pdf. di unduh tgl 9 Agustus
2016, pukul 04.30 WIB.
Martanto. 2007. Pengaruh Media Promosi Kesehatan terhadap Perilaku Kesehatan (Studi
Eksperimental pada Remaja Pelajar SMUN 27 Jakarta) Tahun 2007. Jakarta: UIN
SyarifHidayatullah.http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/24489
/1/ADITYA%20DWI%20MARTANTO-PSI.pdf
Mubarak, W. I. 2006. Ilmu Keperawatan Komunitas. Jakarta: Salemba Medika

NANDA. 2005. Diagnosa Keperawatan: Definisi & Klasifikasi 2005-2006. NANDA


International, Philadelphia

Nies & McEwen. (2001). Community health nursing ; promoting the health of populations.
Philadhelpia Sounder.
Sumijatun. 2006. Konsep Dasar Keperawatan Komunitas. Jakarta: EGC