SKENARIO 1 Sima dan Mila adalah koas yang sedang mengambil sampel darah pasien di bangsal.

Hasil pemeriksaan sampel darah pasien tersebut menunjukkan pH darah: 7,32 mmol/L, HCO3- : 10,7 mmol/L dan CO2 :24 mmHg. Bagaimana analisis anda terhadap hasil laboratorium ini? KLARIFIKASI ISTILAH 1. Koas adalah dokter muda yang melaksanakan praktek di rumah sakit. 2. Sample darah adalah sejumlah darah yang diambil untuk mewakili pemeriksaan di laboratorium. 3. Bangsal adalah bagian dari ruangan di rumah sakit. 4. pH darah adalah banyaknya konsentrasi ion hidrogen dalam darah. 5. Pemeriksaan adalah suatu cara atau perlakuan yang dilakukan seseorang kepada orang lain. IDENTIFIKASI MASALAH 1. Sima dan Mila adalah koas yang sedang mengambil sampel darah pasien di bangsal. 2. Hasil pemeriksaan menunjukkan pH darah : 7,32 mmol/l, HCO3- : 10,7 mmol/l dan CO2 : 24 mmHg. TABEL IDENTIFIKASI MASALAH NO. 1. OBSERVED Sima dan Mila adalah koas yang sedang mengambil sampel darah pasien di bangsal. 2. Hasil pemeriksaan menunjukkan pH darah : 7,32 mmol/l, HCO3 : 10,7 mmol/l dan CO2 : 24 mmHg. Senjang ** Senjang * EXPECTED CONCERN

Skenario 1 Tutorial 3 Blok 6

Page 1

ANALISIS MASALAH I. Darah 1. Apa yang dimaksud dengan darah? Jawab : Darah adalah cairan yang berfungsi untuk mentransfor zat-zat makanan ke sel-sel tubuh melalui arteri, vena dan kapiler. 2. Apa fungsi darah? Jawab : Respirasi Nutrisi : pengangkutan CO2 dan O2. : pengangkutan zat-zat gizi.

Ekskresi : pengangkutan urea untuk di buang Berperan dalam mempertahankan keseimbangan asam-basa tubuh. Mengatur keseimbangan antara plasma dan cairan tubuh. Pengaturan suhu tubuh. Perlindungan terhadap infeksi. Transpor hormon dan enzim Transfor metabolit

3. Apa saja komposisi yang terkandung dalam darah? Jawab : Plasma darah (55 %) Komponen Air (90%) Protein Plasma Albumin (4-5%) Mengangkut banyak zat, memberi tekanan osmotik koloid. Globulin(2-2.5%) y y Alfa & beta Gama
Page 2

Fungsi Medium transportasi dan mengangkut panas.

Mengangkut banyak zat, faktor pembekuan,& prekursor inaktif.

Skenario 1 Tutorial 3 Blok 6

-

Fibrinogen (0,30,4%) Antibodi Prekursor inaktif untuk jaringan fibrin pada pembekuan Elektrolit (1%) Nutrien dan Zat sisa, gas, hormon darah. Eksitabilitas membran, distribusi osmotik cairan intra sel dan ekstra sel, menyangga perubahan pH yang diangkut dalam darah, gas CO2 berperan penting dalam keseimbangan asam-basa.

-

-

-

Sel-sel darah (45 %) a. Eritrosit ( sel darah merah ) y Jumlah untuk pria 5,0 - 5,5 Juta/dL Jumlah untuk wanita 4,5 - 5,0 Juta/dL y Sel gepeng atau lempeng bikonkaf dengan garis tengah 8µm, tepi luar tebalnya 2µm dan bagian tengah tebalnya 1µm. y Struktur ini berperan dalam 2 cara:  Bikonkaf difusi O2. - Tipis y : O2 berdifusi lebih cepat. Ciri lain, kelenturan membran sehingga dapat melewati kapiler yang sempit dan berkelok-kelok. y y Mengandung hemoglobin. Dihasilkan oleh sumsum merah tulang (eritropoiesis), sebanyak 2 - 3 juta/detik. y Hanya mampu bertahan ± 120 hari, namun eritrosit mengembara sekitar 700 mil melalui pembuluh darah. y Di sumsum merah terdapat sel bakal pluripotensial, sel yang belum berdiferensiasi menjadi berbagai jenis sel darah. : menghasilkan luas permukaan yang lebih besar untuk

Skenario 1 Tutorial 3 Blok 6

Page 3

Fungsi eritrosit : mengikat oksigen untuk kemudian diedarkan ke seluruh tubuh, selain itu eritrosit juga berfungsi mengedarkan nutrisi-nutrisi yang dibutuhkan oleh sel-sel lain dalam tubuh b. Leukosit ( sel darah putih ) y Berperan dalam imunitas, yaitu:  Menahan invasi oleh patogen dengan fagositosis.  Mengidentifikasi dan menghacurkan sel-sel kanker yang muncul di dalam tubuh.  Sebagai ³petugas pembersih´ dengan memfagositosis debris yang berasal dari sel yang mati. y Ciri-ciri :  Tidak berwarna (tidak memiliki hemoglobin)  Bervariasi dalam struktur, fungsi dan jumlah.  Jumlah total leukosit dalam keadaan normal berkisar dari 5 sel/ml darah, dengan rata-rata 7 juta sel/ml.  Sel leukosit terbagi :  Granulosit (Polimorfonukleus) o Neutrofil halus : inti terdiri lebih dari 2 : inti dua 3,4 atau 5, granul kecil & jumlah 8%. jumlah 62 %. granul besar & kasar : inti tidak jelas apakah 2 atau lebih dari 2, tetapi kombinasi antara kecil dan halus 1% jumlah 0,5 10 juta

o Eosinofil o Basofil

granulnya dapat di buktikan serta besar dan kasar 

Agranulosit (Mononukleus) o Monosit %. o limfosit tapal kuda : 2 (dua) macam inti jumlah 13 %. ginjal (kacang merah) dan : intinya hampir sebesar selnya sendiri jumlah 18

y

Berasal dari sel pluripotensial di sumsum tulang merah.
Page 4

Skenario 1 Tutorial 3 Blok 6

y

Granulosit dan monosit hanya dihasilkan di sumsum tulang, sedangkan limfosit baru dihasilkan oleh limfosit yang sudah ada dan berdiam di jaringan limfoid, misal di kelenjar limfe dan tonsil. Dari jumlah total leukosit, 2/3 granulosit (sebagian besar neutrofil) dan 1/3 sisanya adalah agranulosit terutama limfosit.

y

y

Sifat-sifat leukosit :  Amoeboid  Fagositosit  Diapedesis dapat merubah bentuk. dapat memakan terutama bakteri, virus, parasit lainnya dapat keluar masuk jaringan dan pembuluh darah

y

Fungsi-fungsi Sel Agranulosit dan Granulosit : Macam sel a. Granulosit - Neutrofil - Eosinofil - Basofil y Fagosit yang memakan bakteri dan debris. y Menyerang cacing parasit, penting dalam reaksi alergi. y y Berperan terhadap reaksi alergi Mengeluarkan histamin, yang penting dalam reaksi alergi, dan heparin, yang membantu membersihkan lemak dari darah dan antikoagulan. b. Agranulosit - Monosit - Limfosit B - Limfosit C Fagositosis (makrofag) Pembentukan antibodi Respon imun seluler Fungsi

Skenario 1 Tutorial 3 Blok 6

Page 5

Tipe Leukosit Neutrofil

Gambar

Diagram

Eosinofil

Basofil

Limfosit

Monosit

c.

Trombosit ( keping darah ) y Fragmen/potongan kecil sel (bergaris tengah 2 4 µm) yang terlepas dari tepi luar suatu sel besar di sumsum tulang yang dikenal sebagai megakariasis.

Skenario 1 Tutorial 3 Blok 6

Page 6

y y

Terdapat sekitar 250.000 trombosit (150.000 -350.000/mm3) dalam darah. Berfungsi dalam pembekuan darah.

4. Bagaimana transportasi cairan ke sel membran? Jawab : Proses zat melewati membran, yaitu : Difusi Osmosis Transfor aktif Endositosis

5. Bagaimana menganalisis sampel darah di arteri? Jawab: Analisis Asam Basa Sederhana

Skenario 1 Tutorial 3 Blok 6

Page 7

Untuk gangguan asam-basa dapat didiagnosis dengan menganalisis 3 pengukuran dari suatu contoh dari arteri, yaitu : pH Dengan memeriksa pH, kita dapat menentukan apakah gangguan bersifat asidosis atau alkalosis. Rentang pH normal ialah 7,35 asidosis dan pH >7,45 menunjukkan alkalosis. Konsentrasi bikarbonat plasma dan PCO2 Nilai normal untuk PCO2 adalah 35-45 mmHg dan untuk HCO3- ialah 22-26 mEq/L. Bila gangguan sudah digolongkan sebagai asidosis dan PCO2 plasma meningkat, berarti terdapat komponen respiratorik terhadap asidosis. Setelah kompensasi ginjal, konsentrasi HCO3 - plasma pada asidosis respiratorik akan cenderung meningkat di atas normal. Oleh karena itu, nilai yang diharapkan untuk asidosis repiratorik sederhana adalah penurunan pH plasma, peningkatan PCO2, dan peningkatan HCO3- plasma setelah kompensasi ginjal sebagian. - Kompensasi II. Cairan Tubuh 1. Apa jenis-jenis gangguan keseimbangan asam-basa? Jawab : Asidosis metabolik adalah gangguan sistemik yang ditandai dengan penurunan primer kadar bikarbonat plasma, sehinga menyebabkan terjadinya penurunan pH ( peningkatan H+). Co + H O H Co3 H + HCo Ø 7,45. Bila pH <7,35 menunjukkan

- Pada asidosis metabolic kadar karbondioksida menurun sedangkan kadarair naik maka asam juga naik dan ion bikarbonat pun mengalami penurunan akibat dari asam naik maka kompensasinya yaitu: - respirasi (penurunan co2(hiperventilasi)) - Ginjal,membuang asam (sekresi,absorbsi,produksi kembali) - sistem dapar
Skenario 1 Tutorial 3 Blok 6 Page 8

Penyebab : y y Penambahan asam non karbonat Kegagalan ginjal untuk mengeksresi beban asam harian seperti asidosis uremik. y Kehilangan bikarbonat basa seperti pada diare berat.

-

Asidosis respiratorik adalah akibat retensi CO2 yang disebabkan oleh hiperkapnia. Karena jumlah CO2 yang keluar melalui paru berkurang, terjadi peningkatan pembentukan H2CO3 yang kemudian berdisosiasi dan menyebabkan peningkatan H+. CO + H O H CO H + HCO Ø

- Asidosis respiratorik ini karbondioksida naik,air mengalami penurunan maka asam turun dan ion bikarbonat naik maka kompensasinya: - respirasi (penurunan co2(hiperventilasi)) - Ginjal,membuang asam (sekresi,absorpsi,produksi kembali) - sistem dapar Penyebab : Penyakit paru, penekanan pusat pernapasan oleh obat atau penyakit, gangguan saraf atau otot yang mengurangi kemampuan otot pernapasan. Alkalosis metabolik adalah suatu gangguan sistemik yang dicirikan dengan adanya peningkatan primer kadar HCO3- plasma, sehingga menyebabkan peningkatan pH (penurunan H+). Co + H O H Co H + HCo Ø

-

- Naiknya karbondioksida dan air tetap maka menyebabkan asam turun dan ion bikarbonat naik maka kompensasinya: - respirasi (hipoventilasi) - Ginjal,membuang asam (sekresi,absorpsi,produksi kembali) - sistem dapar
Skenario 1 Tutorial 3 Blok 6 Page 9

- Penyebabnya naiknya ion bikarbonat maka efeknya:muntah,hipokalemia

Penyebab : y y Kehilangan H+ melalui saluran cerna, contoh : muntah dan diare. Kehilangan H+ melalui ginjal, contoh : diuretik simpai atau tiazid, hiperaldosterorisme. y y y Perpindahan H+ ke dalam sel, contoh : hipokalemia. Pemberian natrium bikarbonat berlebihan. Sindrom susu alkali.

-

Alkalosis respiratorik adalah penurunan primer PaCO2 (hipokapnia), sehingga terjadi penurunan pH. Co + H O H Co H + HCo Ø

- Turunnya karbondioksida,naiknya air maka asam meningkat dan ion bikarbonat turun maka kompensasinya: - respirasi - Ginjal,membuang asam (sekresi,absorpsi,produksi kembali) - sistem dapar Penyebab : y y Hiperventilasi Alveolar Rangsangan pusat pernapasan, penyebabnya adalah :  Hiperventilasi psikogenik yang disebabkan oleh stres emosional  Keadaan hipermetabolik : demam  Gangguan CNS  Cedera kepala  Tumor otak y Hipoksia  Pneumonia, asma, edema paru  Gagal jantung kongestif
Skenario 1 Tutorial 3 Blok 6 Page 10 

Fibrosif paru  Tinggal di tempat yang tinggi

2. Apa pertahanan yang dilakukan oleh tubuh jika dilakukan perubahan konsentrasi ion H+ dalam cairan tubuh? Jawab : Respon kompensasi terhadap pH : Asidosis Metabolik y Mekanisme buffer ECF oleh bikarbonat, sehingga mengurangi HCO3- plasma. H+ juga memasuki sel dan dibuffer oleh protein dan fosfat. Untuk mempertahankan muatan listrik netral, masuknya H+ ke dalam sel diikuti oleh keluarya K+ dari sel menuju ECF. Jadi, K+ serum meningkat pada keadaan asidosis. y Mekanisme kompensasi pernapasan. H+ arteri yang meningkat merangsang kemoreseptor yang terdapat dalam badan carotis, yang akan merangsang peningkatan ventilasi alveolar ( hiperventilasi ). Akibatnya, Pa CO2 menurun dan Ph kembali pulih. y Mekanisme kompensasi ginjal. Merupakan usaha terakhir untuk memperbaiki asidosis metabolik, meskipun respons ini lambat dan membutuhkan waktu beberapa hari. Kompensasi ini terjadi memlalui beberapa mekanisme. H+ yang berlebih disekresi ke dalam tubulus dan diekskresi sebagai NH4+ atau asam yang tertitrasi ( H3PO4 ). Ekskresi NH4+ yang meningkat diikuti dengan resorbsi HCO3 yang meningkat, tetapi, ekskresi H3PO4 menyebabkan terjadinya pementukan HCO3- baru. Insufisiensi atau gagal ginjal akan menurunkan efektivitas pembuangan H+. Alkalosis metabolik y Respon kompensatorik tehadap alkalosis metabolik adalah buffer intrasel. H+ keluar dari sel untuk menyangga kelebihan HCO3- ECF. K+ berpindah masuk ke dalam sel sebagai penukar H+. Setelah itu terjadi sedikit peningkatan produksi asam laktat di dalam sel guna memproduksi lebih banyak H+.
Skenario 1 Tutorial 3 Blok 6 Page 11

y

Peningkatan pH ditangkap oleh kemoreseptor dalam badan karotis, yang membangkitkan refleks menekan ventilasi alveolar. Tetapi, kompensasi pernapasan ini umumnya cukup kecil. Derajat hipoventilasi dan kanaikan PaCO2 dibatasi oleh kebutuhan akan oksigen dan jarang melebihi 5-50 mmHg. Koreksi akhir oleh ginjal adalah dengan ekskresi HCO3 - yang berlebihan. Alkalosis metabolik yang berlarut-larut akibat pemberian bikarbonat tidak mudah terjadi, karena ginjal dalam keadaan normal mempunyai kapasitas yang besar untuk mengekskresi HCO3-.

y

- Asidosis Respiratorik y Respons terhadap, asidosis respiratorik akut hanya melalui buffer sel, karena mekanisme kompensasi ginjal dapat digunakan setelah 12-24 jam kemudian. Mekanisme buffer ECF dilakukan oleh protein plasma, tetapi proses ini hanya sedikit berperan. Hb merupakan buffer utama ICF. Sewaktu CO2 memasuki eritrosit (menghasilkan H+), HCO3- akan keluar dan bertukar dengan Cl-. Peningkatan HCO3- serum sekitar 1mEq/L untuk setiap peningkatan 10 mmHg. Buffer sel saja tidak efektif untuk memulihkan pH normal. Dengan demikian, asidosis respiratorik akut sedikit terkompensasi dan pH menurun cukup banyak. y Asidosis respiratorik kronis terkompensasi baik oleh ginjal. Ginjal meningkatkan sekresi dan ekskresi H+, disertai dengan resorbsi dan pembentukan HCO3- baru. Mekanisme ini membutuhkan waktu 2-3 hari dan mengakibatkan timblnya alkalosis metabolik hiperkapnia. - Alkalosis Respiratorik y Mekanisme bufer intrasel. H+ dilepas dari bufer jaringan intrasel, yang memperkecil alkalosis dengan menurunkan HCO3- plasma. Alkalosis akut juga merangsang pembentukan asam laktat dan piruvat di dalam sel dan membantu pelepasan H+ lebih banyak ke dalam ECF. Bufer ekstrasel oleh protein plasma hanya sedikit menurunkan HCO3- plasma. y Apabila hipokapnia tetap berlangsung, maka penyesuaian ginjal mengakibatkan lebih banyak HCO3- plasma yang berkurang. Terjadi hambatan reabsorpsi tubulus ginjal dan pembentukan HCO3- baru. Pada keadaan akut,
Skenario 1 Tutorial 3 Blok 6 Page 12

penurunan kadar HCO3- plasma sekitar 2 mEq/L untuk setiap penurunan PaCO2 sebesar 10 mmHg; penurunan HCO3 -diperkirakan 5 mEq/L untuk setiap penurunan PaCO2 sebesar 10 mmHg pada keadaan kronis.

3. Apa saja faktor yang mempengaruhi keasaman darah? Jawab : pH HCO3 PCO2

4. Bagaimana regulasi dan keasaman asam-basa? Jawab : y y Ginjal dengan cara mempertahankan HCO3- sebesar 24 mEq/L. Mekanisme respirasi dengan cara mempertahankan tekanan parsial CO2 arteri (PaCO2) sebesar 40 mmHg. 5. Berapa pH HCO3, PCO2 dalam tubuh pada keadaan normal? Jawab : pH : 7,35 7,45 HCO3- : 22-26 mEq /L PCO2 : 35-45 mmHg

6. Apa akibat yang ditimbulkan jika tubuh mengalami asidosis dan alkalosis? Jawab : Akibat dari asidosis berat Kardiovaskular y y y y Gangguan kontraksi otot jantung. Dilatasi arteri kontriksi vena, dan sentralisasi volume darah. Peningkatan tahanan vaskular paru. Penurunan curah jantung, tekanan darah arteri, dan aliran darah hati dan ginjal.
Page 13

Skenario 1 Tutorial 3 Blok 6

y

Sensitif terhadap reentrant arrhythmia dan penurunan ambang fibrilasi ventrikel.

y -

Menghambat respon kardiovaskular terhadap katekolamin.

Respirasi y y y Hiverpentilasi Penurunan kekuatan otot nafas dan menyebabkan kelelahan otot. Sesak

-

Metabolik y y y y y y y Peningkatan kebutuhan Metabolisme Resistensi insulin Menghambat glikolisis anaerob Penurunan sintesis ATP Hiperkalemia Peningkatan degradasi protein

-

Otak y y Penghambatan metabolisme dan regulasi volume sel otak. Koma

Akibat dari alkalosis berat - Kardiovaskular y y y y Konstriksi arteri Penurunan aliran darah koroner Penurunan ambang angina Predisposisi terjadinya supraventrikal dan ventrikel aritmia yang refrakter.

- Respirasi y Hipoventilasi yang akan menjadi hiperkarbi dan hipoksemia

- Metabolic y y Stimulasi glikolisis anaerob dan produksi asam organik Hipokalemia
Page 14

Skenario 1 Tutorial 3 Blok 6

y y

Penurunan konsentrasi Ca terionisasi plasma Hipomagnesia dan hipofosfatemia

- Otak y y Jawab : Ph Normal Asidosis respiratorik Alkalosis respiratorik Asidosis metabolik Alkalosis metabolik 7,4 H+ 40 mEq/L PCO2 40 mmHg HCO324 mEq/L Penurunan aliran darah otak Tetani, kejang, lemah delirium dan stupor

7. Apa hubungan antara hasil pemeriksaan pH, HCO3 dan PCO2?

Keterangan : atau : kejadian primer.

8. Bagaimana cara pemeriksaan pH darah? Jawab : Pemeriksaan laboratorium pada gangguan keseimbangan air, elektrolit dan asam basa: - Pengambilan darah arteri radialis. Sebelum pengambilan darah arteri radialis sebaiknya dilakukan uji allen untuk pemeriksaan system kolateral pembuluh darah.

Skenario 1 Tutorial 3 Blok 6

Page 15

-

usahakan agar lengan dalam posisi abduksi dengan telapak tangan menghadap ke atas dan pergelangan tangan ekstensi 30° agar jaringan lunak terfiksasi oleh ligament dan tulang. Bila perlu bagian bawah pergelangan dapat diganjal dengan bantal kecil.

-

Jari pemeriksa diletakkan di atas arteri radialis ( proksimal dari lipatan kulit pergelangan tangan ) untuk meraba denyut nadi agar dapat memperkirakan letak dn kedalam pembuluh darah.

-

Setelah melakukan tindakan asepsis atau antiepsis jarum 5-10 mm ditusukkan pada daerah distal dari jari pemeriksa yang menekan arteri ,jarum ditusukkan membentuk sudut 30 ° dengan permukaan lengan dengan posisi lubang jari menghadap ke atas.

-

Jarum yang masuk ke dalam arteri akan menyebabkan torak semprit terdorong oleh tekanan darah.pada penederita hipotensi torak semprit dapat ditarik perlahan ( jangan terlalu cepat karena akan mengisap udara ) setelah darah jumlah diperlukan terpenuhi ( minimal 1 ml) cabut jarum dengan cepat .dan ditempet tusukan jarum lakukan penekanan dengan jari selama 5 menit untuk mencegah keluarnya darah dari pembuluh arteri.

- pengambilan darah arteri brachialis arteri brakhialis letaknya lebih dalam dari arteri radialis yaitu di fossa ante cubiti .pengembilan dari arteri brakhialis harus dilakukan dengan memperhatikan letak saraf berdampingan ,jangn sampai mencederai nervus medianus yang letaknya dengan arteri brakialis .lengan pasien dalam posisi ekstensi

maksimal ,raba denyut arteri brakhialis dengan jari,dan lakukan tindakan asepsis dan antisepsis .tusukkan jarum dengan sudut 45° dan lubang jarum menghadap ke atas,5-10 mmm distal dari jari pemeriksa yang menekan pembuluh darah. Setelah pengambilan,tekan daerah tusukan selama 5 menit atau lebh hingga perdarahan terhenti .

- Pengambilan darah kapiler

Skenario 1 Tutorial 3 Blok 6

Page 16

Bila dijumpai

kesulitan pada pengambilan darah arteri ,darah kapiler

dapat digunakan sebagai bahan pemeriksaan keseimbangan asam basa.sepotong logam dimasukkan ke dalam tabung kapiler selanjutnya gerakkan sepotong magnet pada dinding luar tabung kapiler agar antikoagulan tercampur dengan baik .syarat yang harus diperiksakan untuk pemeriksaan dengan penggunaan darah kapiler : sebelum pengambilan darah dilakukan pemijatan ( massage) dan penghangatan pada daerah yang akan ditusuk ( umumnya tumit ) .penghangatan dilakukan dengan suhu 35°- 40° selama 10 menit. Tusukan harus cukup dalam ,sehingga darah keluar dengan sendirinya .alat penusuk yang digunakan dalah lanset ukuran 2,5 x 1,5 mm.setelah penusukan daerah tusukan tidak dipijat lagi Darah ditampunng dalam 2 tabung kapiler berisi heparin tanpa gelembung udara.setelah tabung terisi darah lalu masukkan pengaduk ke dalam tabung kapiler.tutup tabung kapiler dengan sumbat penutupnya ,sehingga dapat dengan mudah diaduk dengan magnet dari luar Setelah pengambilan darah selesai daerah tusukan jarum ditekan secara 5 menit ,kemudian tutup dengan menggunakan plaster.

- pengambilan darah vena Darah vena kurang baik untuk pengaturan keseimbangan asam basa,tetapi dapat digunakan dalam penetuan elektrolit,nilai ph dan pCO2 .pengambilan darah vena dilakukan melaluii vena cubiti. Bila menggunakan vacutainer, tabung dilepaskan sebelum mencabut jarum. y Anti koagulan Antikoagulan yang umum digunakan untuk pemeriksaan keseimbangan basa.asam basa adalah garam heparin .heparin adalh anti koagulan yang normal ada pada semua mamalia,diberi nama heparin karena pada mulanya ( tahun 1916) ditemukan dalam jaringan hati.disintesa dalam sel mast dan basofil dan disimpan dalam granul sel.heparin komersial berasal dari mukosa intima usus babi. y Heparin termasuk dalam keluarga karbohidrat kompleks .glycosa minoglycan atau mucopolysakarida .heparin mencegah pembekuan darah karen memiliki gugus
Skenario 1 Tutorial 3 Blok 6 Page 17

pentasaccharida yang mampu mengikat anti trombin III .antitrombin III adalah protein plasma yang mencegah pembekuan darah dengan menghambat reaksi enzimatik faktor pembekuan aktif seperti Xia,Xa,Ixa dan Iia ( trombin ) .ikatan heparin pada antitrombin III ,menigkatkan aktifitas antitrombin III hingga 1000 kali. y Penggunaan heparin sebagai antikoagulan pada pemeriksaan kimia darah sudah digunakan pada pemeriksaan kimia darah sudah digunakan lebih dari 50 tahun.pada tahun 1960 siggaard-andersen menggunakan Na heparin 200 IU/ml darah untuk pemeriksaan keseimbangan asam basa karena tidak mempengaruhi ph dan pa co2 . bila Na heparin digunakan secara berlebih maka ph akan rendah dan Pa co2 akan tinggi.dalam perkembangan untuk peningkatan mutu hasil pemeriksaan keseimbangan asam basa digunakan litium heparin cukup dengan 0,2 ml ( 1000 IU/ml) litium heparin sudah dapat mencegah beku 5 ml darah atau konsentrsi litium heparin sebesar 40 IU/ml darah . y Penggunaan heparin cair memiliki potensi kesalah pada hasil pemeriksaan karena terjadinya pengenceran bahan ,terdapat perbedaan PH ,Pa Co2 sdan Pa O2 antara darah dan cairan heparin.heparin cair memiliki Ph : 6,4,Pa Co2 2,75 mmhg dan Pa O2 160 mmhg.pengaruh ini dapat dihilangkan dengan penggunaan semprit atau tabung ,vakum berisi heparinkering ( Lyophilized ) y Pemeriksaan keseimbangan asam basa biasanya disertai pemeriksaan elektrolit seperti K,Na,Cl,kalsium ion .kesalahan dapat terjadi dengan pengukuran kadar ino kalsium y Calsium balanced heparin,suatu campuran litium sodium heparin yang ditambah dengan kalsium klorida sedemikian hingga kadar ion kalsium 1,25 mml/L ( rerata kadar ion kalsium pada orang dewasa sehat ) kadar ion kalsium pada 90 % -95% pasien berkisar antara 0,9 1,8 mmol/L y Pengiriman bahan darah ke laboratorium Bahan darah harus langsung dikirim di dalam termos berisi air es dan es batu ( tabung dibungkus plastik agar air tidak masuk kedalam tabung ). Keadaan dingin 4 ° C bertujuan memperkecil terjadinya perubahan biokimiawi ( proses metabolisme akan menigkatkan CO2 )
Skenario 1 Tutorial 3 Blok 6 Page 18

KERANGKA KONSEP

HIPOTESIS Pasien yang diperiksa oleh Sima dan Mila mengalami asidosis metabolik yang terkompensasi sebagian

Skenario 1 Tutorial 3 Blok 6

Page 19

SINTESIS ERITROSIT ( SEL DARAH MERAH ) a. Bentuk dan ukuran eritrosit

Seperti gambar diatas, sel darah merah berbentuk lempeng bikonkaf dengan diameter rata-rata 7,8 mikro meter dan tebal sekitar 2,5 mikrometer di bagian pinggir serta 1 mikrometer dibagian tengah.volume rata-rata sel darah merah adalh 90- 95 mm3. Bentuk khas sel darah merah ikut berperan melalui dua cara, terhadap efisiensi eritrosit melakukan fungsi mereka mengangkut O2 dalam darah. Pertama, bentuk bikonkaf menghasilkan luas permukaan yang lebih besar bagi difusi O2 menembus membran daripada yang dihasilkan oleh sel bulat dengan volume yang sama. Kedua, tipisnya sel memungkinkan O2 berdifusi secara lebih cepat antara bagian dalam sel dengan eksteriornya. Ciri lain dari eritrosit yang mempermudah fungsi transportasi mereka adalah kelenturan ( fleksibilitas ) membran mereka, yang memungkinkan eritrosit berjalan melalui kapiler yang sempit dan berkelok-kelok untuk menyampaikan kargo O2 mereka ke jaringan tanpa mengalami ruptur dalam prosesnya. Sel darah merah ini tidak memiliki inti dan juga mengandung hemoglobin ( setiap molekul RBC mengandung sekitar 280 juta molekul hemoglobin). Usia dari eritrosit ini adalah 120 hari, setelah itu akan di bongkar pada sum-sum tulang melalui proses yang disebut erithropoesis.

Skenario 1 Tutorial 3 Blok 6

Page 20

b. Konsentrasi eritrosit dalam darah Konsentrasi eritrosit pada pria normal yaitu sekitar 5.200.000 mm3 dan sekitar 4.700.000 mm3 pada wanita normal. Sedangkan pada orang-orang yang tinggal di dataran tinggi memiliki jumlah eritrosit yang lebih besar. c. Fungsi eritrosit Fungsi utama sel darah merah yang juga dikenal dengan eritrosit adalah pengangkutan hemoglobin yang selanjutnhya mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan. Selain itu, sel darah merah juga memiliki fungsi lain. Misalnya, sel tersebut mengandung sejumlah besar karbonik anhidrase, suatu enzim yang mengkatalisis suatu reaksi reversibel antara CO2 dan H2O untuk membentuk H2CO3 yang dapat meningkatkan kecepatan reaksi ini beberapa ribu kali lipat. Cepatnya reaksi ini membuat air dalam darah dapat mengangkut sejumlah besar CO2 dalam bentuk ion bikarbonat ( HCO3- )dari jaringan ke paru-paru. Di paru-paru ion tersebut diubah kembali menjadi CO2 dan dikeluarkan ke dalam atmosfer sebagai produk limbah tubuh. Hemoglobin yang terdapat di dalam sel sebagai dapar asam-basa yang baik, sehingga sel darah merah bertanggung jawab terhadap daya dapar asam-basa tubuh.

d. Hemoglobin Hemoglobin terdiri dari dua bagian (1) bagian globin, suatu protein yang terbentuk dari 4 rantai polipeptida ynag sangat berlipat-lipat (2) gugus nitrogenosa non-protein mengandung besi yang dikenal sebagai gugus heme, yang masing-masing terikat ke satu polipeptida. Setiap atom besi dapat berikatan secara reversibel dengan satu molekul O2, dengan demikian setiap molekul hemoglobin dapat mengangkut 4 penumpang O2, ikatan ini dikenal dengan nama oksihemoglobin . Karena O2 kurang larut dalam plasma, 98,5% O2 yang diangkut dalam darah terikat pada hemoglobin. Hemoglobin ini merupakan suatu pigmen yang secara alamiah berwarna. Sel darah merah mampu mengonsentrasikan hemoglobin dalam cairan sel sampai sekitar 34 gram 100mL sel. Pada orang normal, persentase hemoblobin hampir mendekati nilai maksimum dalam setiap sel. Namun, bila pembentukan hemoglobin dalam sum-sum tulang berkurang maka persentase hemoglobin akan berkurang begitupun dengan volume darah.
Skenario 1 Tutorial 3 Blok 6 Page 21

Bila hematokrit dan jumlah hemoglobin dalam masing-masing sel bernilai normal, maka seluruh darah seorang pria rata-rata mengandung 15 gram hemoglobin /mL sel dan pada wanita sekitar 14 gram/mL sel.

e. Eritropoesis

eritrosit retikulosit Basofil eritroblas Proeritroblas

Sel stem Hemopoietik Pluripoten

Skenario 1 Tutorial 3 Blok 6

Page 22

Sebagian besar sel darah merah mengakhiri hidupnya di limpa, karena jaringankapiler organ ini sempit dan berbelit-belit, sehingga sel-sel rapuh ini terjepit. Selain menyingkirkan sebagian eritosit tua dari sirkulasi, limpa memiliki kemampuan terbatas untuk menyimpan eritrosit sehat di dalam pulpa interiornya. Karena eritrosit tidak dapat membelah diri untuk menggantikan jumlah mereka sendiri, sel-sel tua yang ruptur diganti oleh sel baru yang dihasilkan oleh pabrik eritrosit ³sumsum tulang´, yaitu jaringan lunak yang sangat seluler mengisi rongga-rongga internal tulang. Sumsum tulang dalam keadaan normal menghasilkan sel darah merah, suatu proses yang dikenal sebagai eritropoesis, dengan kecepatan luar biasa dua sampai tiga juta perdetik untuk mengimbangi musnahnya sel tua. Eritropoesis ini dikontrol oleh eritropoetin yang disekresi oleh ginjal. Eritropoetin ini disekresi jika terjadi penurunan penyaluran O2 ke ginjal yang kemudian disalurkan ke dalam darah, hormon inilah yang kemudian merangsang eritropoesis dalam tulang. Sel-sel di ginjal yang mengeluarkan eritropoetin belum diketahui secara pasti, namun tempat kerjanya sudah diketahui yaitu pada turunan sel-sel bakal yang belum berdiferensiasi yang telah berkomitmen untuk menjadi sel darah merah yang merangsang proliferasi dan pematang mereka. Peningkatan aktivitas eritropoesis menambah jumlah sel darah merah dalam darah, sehingga terjadi peningkatan kapasitas darah dalam mengangkut oksigen dan memulihkan penyalurannya ke jaringan ke tingkat normal.

Satu-satunya jenis eritrosit yang dapat masuk ke jaringan adalah retikulosit atau eritrosit imatur. Kadar retikulosit dalam darah sekitar 0,5% sampai 1,5% dari total eritrosit darah.

Skenario 1 Tutorial 3 Blok 6

Page 23

LEUKOSIT( SEL DARAH PUTIH)

a.

Bentuk dan jenis leukosit Leukosit disebut juga sel darah putih, merupakan unit sistem pertahanan tubuh yang

mobile. Sel darah sedikit berbeda dari sel darah merah karena selnya memiliki inti. Leukosit sebagian dibentuk di sum sum tulang ( granulosit dan monosit serta sedikit limfosit) dan sel plasma ). Sel darah putih jauh lebih besar sebagian lagi dijaringan limfe ( limfosit dan sel

dari pada sel darah merah. Jumlahnya dalam setiap 1 cm3 darah adalah 5000- 9000 /mm3 Ada enam macam sel darah putih yang biasa ditemukan dalam darah. Keenam sel tersebut adalah netrofil polimorfonuklear, eosinofil polimorfonuklear, basofil polimorfonuklear, monosit, limfosit dan kadang-kadang sel plasma. Selain itu, terdapat sejumlah besar trombosit yang merupakan pecahan dari sel jenis lain yang serupa dengan sel darah putih yang dijumpai dalam sum-sum tulang, yaitu megakariosit. Ketiga tipe pertama sel-sel ini, yaitu sel-sel polimorfonuklear seluruhnya mempunyai gambaran granular. Karena alasan itu, sel-sel tersebut disebut sel granulosit, atau dalam terminal lebih klinis disebut ³poli´ karena intinya yang multiple.

Granulosit dan monosit melindungi tubuh terhadap organisme penyerang terutama dangan cara memakannya yaitu melalui fagositosis. Fungsi limfosit dan sel-sel plasma terutama

Skenario 1 Tutorial 3 Blok 6

Page 24

berhubungan dengan sistem imun. Akhirnya, fungsi trombosit terutama mengaktifkan mekanisme pembekuan darah.

b. Konsentrasi berbagai macam sel darah putih dalam darah. Manusia dewasa mempunyai sekitar 7000 sel darah putih / µL darah (dibandingkan dengan sel darah merah yang berjumlah 5 juta). Persentase normal berbagai jenis sel darah putih kira-kira sebagai berikut: o Netrofil polimorfonuklear o Eosinofil polimorfonuklear o Basofil polimorfonuklear o Monosit o Limfosit 62,0% 2,3% 0,4% 5,3% 30,0%

Trombosit, yang hanya merupakan fragmen-fragmen sel, dalam keadaan normal jumlahnya kira-kira 300.000/µL darah.

c.

Pembentukan Leukosit

Skenario 1 Tutorial 3 Blok 6

Page 25

Granulosit dan monosit hanya dibentuk di dalam sumsum tulang. Limfosit dan sel plasma terutama diproduksi di berbagai jaringan limfogen²khususnya di kelenjar limfe, limpa, timus, tonsil, dan berbagai kantong jaringan limfoid dimana saja di dalam tubuh, seperti sumsum tulang
Skenario 1 Tutorial 3 Blok 6 Page 26

dan plak preyer dibawah epitel dinding usus.Sel darah putih yang dibentuk didalam sumsum tulang , di simpan dalam sumsum sampai diperlukan di sistem sirkulasi. Kemudian bila kebutuhan sel darah putih ini muncul, berbagai macam faktor akan menyebabkan leukosit tersebut dilepaskan. Biasanya, leukosit yang bersirkulasi dalam seluruh darah kira-kira tiga kali lipat jumlah yang disimpan dalam sumsum. Jumlah ini sesuai dengan persediaan leukosit selama 6 hari. Limfosit sebagian besar disimpan di berbagai area jaringan limfoid, kecuali sejumlah kecil limfosit yang diangkut dalam darah untuk sementara waktu. Megakariosit juga dibentuk dalam sumsum tulang lalu membentuk fragmen-fragmen dalam sumsum tulang, menjadi fragmen kecil yang dikenal sebagai platelet ( trombosit ) yang selanjutnya masuk ke dalam darah. Masa hidup granulosit sesudah diepaskan dari sumsum tulang normalnya 4 sampai 8 jam dalam sirkulasi darah,dan 4 sampai 5 hari berikutnya dalam jaringan yang membutuhkan.Monosit juga mempunyai masa edar yang singkat,yaitu 10 sampai 20 jam dalam darah, sebelum mengembara melelui membrane kapiler ke dalam jaringan.Sel-sel ini membengkak sampai ukurannya besar sekali dan mempunyai makrofag jaringan,dalam bentuk ini sel-sel tersebut dapat hidup berbulan-bulan kecuali bila sel-sel itu dimusnahkan saat melakukan fungsi fagositik. Limfosit memiliki sistem sirkulasi secara kontinu,bersama dengan aliran limfe dari nodus limfe dan jaringan limfoid lainnya. Setelah beberapa jam limfosit keluar dari darah dan kembali ke jaringan dengan cara diapedesis. Dan selanjutnya memasuki limfe dan kembali ke darah lagi, demikian seterusnya,sehingga terjadi sirkulasi limfosit yang terus menerus di seluruh tubuh.Limfosit memiliki masa hidup berminggu-minggu atau berbulan-bulan, masa hidup ini tergantung pada kebutuhan tubuh akan sel-sel tersebut. Trombosit dalam darah akan di ganti kira-kira 10 hari, dengan kata lain,setiap hari kirakira terbentuk 30000 trombosit per mikroliter darah.

Sifat pertahanan Netrofil dan makrofag terhadap infeksi Ternyata netrofil dan makrofag jaringan yang terutama menyerang dan menghancurkan bakteri,virus dan agen-agen merugikan lain yang menyerbu masuk ke dalam tubuh. Netrofil adalah sel matang yang dapat menyerang dan menghancurkan bakteri, bahkan di
Skenario 1 Tutorial 3 Blok 6 Page 27

dalam sirkulasi darah, yang merupakan sel imatur walaupun tetap berada dalam darah dan memiliki sedikit kemampuan untuk melawan agen-agen infeksius pada saat itu. Sel darah putih memasuki ruang jaringan dengan cara diapedesis. Netrofil dan monosit dapat terperas melalui pori-pori kapiler darah dengan cara diapedesis. Jadi walaupun pori ukurannya jauh lebih kecil dari pada sel,pada suatu ketika sebagian kecil sel tersebut meluncur melalui pori-pori , bagian yang meluncur tersebut untuk sesaat terkonstriksi sesuai dengan ukuran pori. Sel darah putih bergerak melewati ruang jaringan dengan gerakan ameboid.Netrofil dan makrofag dapat bergerak melalui jaringan-jaringan dengan gerakan amobeid Sel darah putih tertarik ke daerah jaringan yang meradang dengan cara kemotaksis.Banyak jenis zat kimia dalam jaringan dapat menyebabkan netrofil dan makrofag bergerak menuju sumber zat kimia Fagositosis, fungsi netrofil dan makrofag yang terpenting adalah fagositosis ,yang berarti pencernaan seluler terhadap agen yang mengganggu.Terjadinya fagositosis terutama bergantung pada tiga prosedur selektif berikut. Pertama ,sebagian besar struktur alami dalam jaringan memiliki permukaan halus,yang dapat menahan fagositosis.Tetapi jika permukaan nya kasar ,maka kecendrungan fagositosis akan meningkat. Kedua, sebagian besar bahan alami tubuh mempunyai selubung protein pelindung yang menolak fagositosis.Sebaliknya sebagian besar jaringan mati dan pertikel asing tidak mempunyai selubung pelindung ,sehingga jaringan atau partikel tersebut menjadi subjek untuk di fagositosis. Ketiga, sistem imun tubuh membentuk antibodi untuk melawan agen infeksius seperti bakteri. Fagositosis oleh netrofil.Netrofil sewaktu memasuki jaringan sudah merupakan sel-sel natur yang dapat segera memulai fagositosis.Sewaktu mendekati suatu partikel untuk difagositosis,mula-mula melekatkan diri pada partikel kemudian menonjolkan pseudopodia ke semua jurusan di sekeliling partikel. Fagositosis oleh Makrofag.Makrofag merupakan produk tahap akhir monosit yang memasuki jaringan dari dalam darah .Bila makrofag di aktifka oleh system imun ,makrofag

Skenario 1 Tutorial 3 Blok 6

Page 28

merupakan sel fagosit yan gjauh lebih kuat dari pada netrofil,seringkali mampu memfagositosis sampai 100 bakteri. Setelah di fagositosis,sebagian besar partikel dicerna oleh enzim intraselular.Netrofil dan makrofag ,keduanya mempunyai sejumlah besar lisosom yang berisi enzim proteolitik yang khusus dipakai untuk mencerna bakteri dan bahan protein asing lainnya.

d. Eosinofil Eosinofil normal nya mencakup sekitar 2 persen dari seluruh leukosit darah. Eosinofil merupakan sel fagosit yang lemah dan menunjukkan fenomena kemotaksis, namun bila dibandingkan dengan netrofil, peran eosinofil dalam pertahanan tubuh terhadap tipe infeksi yang umum masih diragukan.

e. Basofil. Basofil dalam sirkulasi darah serupa dengan sel mast jaringan yang besar yang terletak tepat disisi luar banyak kapiler dalam tubuh. Sel mast dan basofil melepaskan heparin ke dalam darah, yaitu suatu bahan yang dapat mencegah pembekuan darah.

f. Kelainan pada Leukosit y Leukopenia. Kondisi klinis yang di kenal sebagai leucopenia terjadi bila sumsum tulang belakang memprodksi sangat sedikit sel darah putih,sehingga tubuh tidak terlindung terhadap banyak bakteri dan agen lain yang mungkin masuk menginvasi jaringan. y Leukemia

Kelainan ini terjadi apabila produksi sel darah putih yang tidak terkontrol disebabkan oleh mutasi yang bersifat kanker pada sel mielogen atau sel limfogen. Biasanya kondisi ini ditandai dengan sel darah putih abnormal yang sangat meningkat dalam sirkulasi darah.

TROMBOSIT

Skenario 1 Tutorial 3 Blok 6

Page 29

Trombosit adalah fragmen sel yang berasal dari megakarosit. Selain eritrosit dan leukosit, trombosit adalah unsur sel darah ketiga yang terdapat di dalam darah. Trombosit bukanlah suatu sel utuh, tetapi fragmen atau potongan kecil sel (bergaris tengah sekitar 2-4 µm) yang terlepas dari tepi luar suatu sel besar (bergaris tengah sampai 60µm). Trombosit merupakan komponen sel darah yang dibentuk di sum- sum tulang dari megakariosit . trombosit ini juga merupakan unsur paling kecil dalam darah, tidak memilik inti serta dapat mensekresikan berbagai substansi. Trombosit ini dapat berkontraksi , karena mengandung aktin dan miosin . Kadar normal trombosit dalam darah 250.000 kehilangan darah) . Pembekuan Darah 3 tahap dasar dalm pembekuan darah, yaitu : 1. Pembentukan tromboplastin Tahap pertama ‡ Tromboplastogenesis ‡ Dimulai dengan kerja TF 3 (faktor trombosit 3) dan faktor pembekuan lain pada permukaan asing atau pada sentuhan dengan kolagen . ‡ Faktor IV, V, VIII, IX, X, XI, XII
Skenario 1 Tutorial 3 Blok 6 Page 30

400.000 / mm3 yang berperan dalam hemostasis (mencegah

‡ Kemudian faktor III dan VII 2. Perubahan protrombin menjadi trombin Tahap kedua Dikatalisasi oleh ‡ ‡ Tromboplastin faktor IV,V,VII, dan IX

3. Perubahan fibrinogen menjadi fibrin Tahap ketiga Dikatalisasi oleh : ‡ ‡ ‡ Trombin TF 1 TF 2

Faktor Pembekuan Darah I. Fibrinogen II. Protrombin III. Tromboplastin IV. Kalsium dalam bentuk ion V. Proeselerin, faktor labil VI. unnamed VII. Prokonvertin, faktor stabil VIII. Antihemophilic Globulin (AHG)

Skenario 1 Tutorial 3 Blok 6

Page 31

IX. Plasma thromboplastin Component (PTC) X. Faktor Stuart-Prower XI. Plasma Thromboplastin Antecedent XII. Faktor Hageman XIII. Faktor stabilisasi fibrin PLASMA DARAH Plasma darah adalah komponen darah berbentuk cairan berwarna kuning yang menjadi medium sel-sel darah, dimana sel darah ditutup, yang berbentuk butiran-butiran darah. Di dalamnya terkandung benang-benang fibrin/fibrinogen yang berguna untuk menutup luka yang terbuka. Plasma , karena berupa cairan 90% terdiri dari air, yang berfungsi sebgaia medium untuk mengangkut berbagai bahan dalam darah. Selain itu, karena air memiliki kemampuan menahan panas dengan kapasitas tinggi, plasma mampu menyerap dan mendistribusikan banyak panas yang dihasilkan oleh metabolisme di dalam jaringan, sementara suhu udara itu sendiri hanya mengalami sedikit perubahan. Energi panas yang tidak diperlukan untuk mempertahankan suhu tubuh dikeluarkan ke lingkungan ketika darah mengalir ke permukaan kulit. Sejumlah besar zat organik dan anorganik larut dalam plasma. Konstituen organik yang paling banyak berdasarkan beratnya adalah protein plasma, yang membentuk 6%-8% dari berat total plasma. Elektrolit yang paling banyak dalam plasma adalah Na+ dan Cl- ( garam dapur ). Jumlah HCO3-, K+, Ca2+ dan ion lain lebih sedikit. Fungsi paling menonjol dari ion-ion cairan ekstrasel ( CES ) ini adalah peran mereka dalam eksitabilitas membran, distribusi osmotik cairan antara CES dan sel, dan menyangga perubahan pH. Persentase plasma sisanya ditempati oleh nutrien, misalnya glukosa, asam amino, lemak dan vitamin serta produk sisa (kreatinin, bilirubin, dan zat-zat bernitrogen seperti urea), gas O2 dan CO2 dan hormon. Sebagian besar zat tersebut hanya diangkut dalam plasma. Protein plasma adalah sekelompok konstituen plasma yang tidak sekedar diangkut. Komponen ini dalam keadaan normal tetap berada di dalam plasma, tempat mereka melakukan
Skenario 1 Tutorial 3 Blok 6 Page 32

banyak fungsi yang bermanfaat. Protein plasma ini, biasanya tidak keluar dari pori-pori di dinding kapiler dan dalam dispersi koloid. Terdapat tiga kelompok protein plasma, yaitu albumin, globulin, dan fibrinogen yang diklasifikasikan berdasarkan berbagai sifat fisik dan kimia yang memiliki beberapa fungsi yaitu; 1. Karena keberadaan mereka sebagai dispersi koloid dalam plasma dan kelangkaan mereka di cairan interstisium, protein-protein plasma membentuk gradien osmotik antara darah dan cairan interstitium. Tekanan osmotik koloid ini adalah gaya utama yang menghambat pengeluaran berlebihan plasma dari kapiler ke dalam cairan iterstitium dan demikian membantu mempertahankan volume plasma 2. Protein plasma ikut berperan menyangga perubahan PH darah 3. Protein plasma ikut menentukan kekentalan (viskositas) darah, tetapi dalam hal ini eritrosit jauh lebih penting. 4. Protein plasma dalam keadaan normal tidak digunakan sebagai bahan bakar metabolik, tetapi dalam keadaan kelaparan akan digunakan sebagai energi sel. 5. Selain fungsi umum tersebut, tiap jenis protein plasma memiliki tugas khusus : y Albumin, protein plasma yang paling banyak mengikat zat untuk transportasi melalui plasma dan berperan dalam menentukan osmotik koloid. y y Terdapat tiga subkelas globulin : alfa, beta dan gamma Fibrinogen adalah faktor kunci dalam proses pembekuan darah

Protein-protein plasma biasanya disintesis oleh hati, kecuali globulin gamma yang dihasilkan oleh limfosit, salah satu jenis sel darah putih. PEMERIKSAAN DARAH LENGKAP Yang termasuk dalam pemeriksaan darah lengkap : 1. Hb (hemoglobin)........ g/ dl 2. Haematocrite ( Hct ) 3. Laju endapan darah ( ESR) .......... mm/jam 4. Jumlah sel darah putih ............ x103 /mm3 5. Hitung jumlah sel darah putih
Skenario 1 Tutorial 3 Blok 6 Page 33

6. Jumlah sel darah merah ..........Jt/mL 7. Jumlah trombosit............/mm3 8. indeks eritrosit

pH darah merupakan suatu keadaan dimana darah berada dalam keadaan netral, asam atau basa. pH darah normal yaitu 7,4 dengan range antara 7,35-7,45 Faktor Yang Mempengaruhi pH Darah : 1. Penurunan ventilasi dan peningkatan PCO2 2. Peningkatan ventilasi dan penurunana PCO2 3. Penurunana konsentrasi bikarbonat cairan ekstraseluler 4. Penigkatan konsentrasi bikarbonat cairan ekstaseluler

Produksi sel darah merah ‡ Minggu pertama kehidupan embrio,sel darah primitif yang berinti diproduksi dalam yolk sac. ‡ Selama pertengahan trimester masa gestasi, hati sebagai organ utama untuk meproduksi sel-sel darah merah, walaupun cukup banyak di produksi juga dalam limpa dan limfonodus. ‡ Pada dasarnya sumsum tulang dari semua tulang memproduksi sel darah merah sampai seseorang berusia 5 tahun; tetapi sumsum dari tulang panjang, kecuali proksimal humerus dan tibia, menjadi sangat berlemak dan tidak memproduksi lagi setelah kurang lebih berusia 20 tahun. ‡ Di atas umur 20 tahun, kebanyakan sel darah merah diproduksi dalam sumsum tulang membranosa, seperti vertebra, sternum, iga dan ilium. Sehingga bertambahnya usia tulang-tulang ini sumsum menjadi kurang produktif.

Skenario 1 Tutorial 3 Blok 6

Page 34

PEMBENTUKAN DARAH

eritrosit retikulosit Basofil eritroblas Proeritroblas

Sel stem Hemopoietik Pluripoten

Keterangan : Sel stem Hemopoietik Pluripoten, penginduksi pertumbuhan dan penginguksi diferensiasi. Tahap-tahap diferensiasi sel darah merah Proeritroblas Sel pertama yang dapat dikenali sebagai bagian dari rangkaian sel darah merah Sel-sel generasi pertama yang terbentuk banyak sel darah merah yang matur sebab dapat dipulas dengan zat warna basa

Basofil eritroblas

dari pembelahan beberapa kali Retikulosit

Retikulum endoplasma direabsorbsi karena masih mengandung sedikit bahan

basofilik;terdiri dari golgi, mitokondria dan sedikit organel sitoplamik. Eritrosit Bahan basolfilik yang tersisa sedikit demi sedikit akan menghilang dalam 1 sampai 2

hari dalam retikulosit normalnya

Pematangan Sel darah merah

Skenario 1 Tutorial 3 Blok 6

Page 35

2 vitamin yang penting : 1. B12 2. Asam folat keduanya bersifat penting untuk sintesis DNA karena masing-masing dalam cara yang berbeda dibutuhkan untuk pembentukan timidin trifosfat, yaitu salah satu blok pembangun penting dari DNA. Penguraian sel darah merah

umur 120 hari sel rapuh dan pecah

disimpan dalam bentuk feritin

difagosit oleh makrofag (terutama di limpa,hati dan sumsum tulang)

diangkut oleh transferin ke sumsum tulang/ hati

makrofag melepas besi

masuk ke dalam darah

Pengaturan keseimbangan asam-basa oleh ginjal Ginjal mengatur keseimbangan asam-basa dengan mengekskresikan urin yang asam atau basa. Pengeluaran urin asam akan mengurangi jumlah asam dalam cairan ekstrasel, sedangkan pengeluaran urin basa berarti menghilangkan basa dari cairan ekstrasel. Keseluruhan mekanisme ekskresi urin asam atau basa oeh ginjal adalah sebagai berikut ; sejumlah besar HCO3 - ini diekskresikan kedalam urin, keadaan ini menghilangkan basa dari
Skenario 1 Tutorial 3 Blok 6 Page 36

darah. Sejumlah besar H+ juga dieksresikan ke dalam lumen tubulus oleh sel epitel tubulus, sehinga menghilangkan asam dari darah. Bila lebih banyak H+ yang disekresikan dari pada HCO3- yang difiltrasi dari pada H+ yang disekresikan, akan terjadi kehilangan basa. Jadi, ginjal mengatur konsentrasi H+ cairan ekstrasel melalui tiga mekanisme dasar : 1. Sekresi ion H+ 2. Reabsorbsi HCO3- yang difiltrasi 3. Produksi HCO3- baru Sekresi Ion Hidrogen dan Reabsorbsi Ion Bikarbonat Oleh Tubulus Ginjal Sekresi ion hidrogen dan reabsorbsi bikarbonat terjadi hampir di seluruh bagian tubulus kecuali segmen tipis desenden dan asenden ansa henle. Ingatlah bahwa untuk setiap bikarbonat yang direabsorbsi, satu H+ harus disekresikan. Sekitar 80 sampai 90 persen reabsorbsi bikarbonat (dan sekresi H+) terjadi di tubulus proksimal, sehingga hanya sejumlah kecil bikarbonat yang mengalir ke dalam tubulus distal dan duktus koligentes. Di segmen tebal asenden ansa henle, terjadi reabsorbsi terhadap 10 persen bikarbonat yang difiltrasi dan reabsorbsi sisanya terjadi di tubulus distal dan duktus koligentes. Seperti telah dibahas sebelumnya, mekanisme reabsorbsi bikarbonat juga melibatkan sekresi H+ oleh tubulus, tetapi tugas ini dilakukan secara terpisah oleh segmen tubulus yang berbeda. Ion hidrogen disekresikan oleh transpor aktif sekunder di segmen tubulus awal. Proses sekresi dimulai ketika CO2 berdifusi ke dalam sel tubulus atau dibentuk melalui metabolisme di dalam sel epitel tubulus. CO2 dibawah pengaruh enzim karbonik anhidrase, bergabung dengan H2O untuk membentuk H2CO3, yang berdisosiasi menjadi HCO3- dan CO2. H+ disekresikn dari sel masuk ke dalam lumen tubulus melalui transpor-imbangan Natriumhidrogen. Artinya, ketika Na+ bergerak dari lumen tubulus ke bagian dalam sel, Na+ mula-mula bergabung dengan protein pembawa di batas luminal membran sel, pada waktu bersamaan, H+ di bagian dalam sel bergabung dengan protein pembawa Na+ bergerak ke dalam sel mengikuti gradien konsentrasi yang telah dihasilkan oleh pompa natrium-kalium ATPase di membran basolateral. Gradien untuk pergerakan Na+ ke dalam sel kemudian menyediakan energi untuk menggerakkan H+ ke arah yang berlawanan, dari dalam sel ke lumen tubulus.

Skenario 1 Tutorial 3 Blok 6

Page 37

Ion Bikarbonat (HCO3-) Difiltrasi, Direabsorbsi Melalui Interaksi Dengan Ion Hidrogen Dalam Tubulus Reabsorbsi HCO3- diawali oleh reaksi di dalam tubulus antara HCO3- yang difiltrasi pada glomerulus dan H+ yang disekresikan oleh sel tubulus. H2C03- yang terbentuk kemudian berdisosiasi menjadi CO2 dan H2O. CO2 dapat bergerak dengan mudah melewati membran tubulus. Oleh karena itu, CO2 berdifusi masuk ke dalam sel tubulus, tempat CO2 bergabung kembali dengan H2O di bawah pengaruh karbonik anhidrase, untuk menghasilkan molekul H2CO3- yang baru. H2C03- berdisosiasi membentuk HCO3- dan H+; HCO3- berdifusi melalui membran basolateral masuk ke dalam cairan intertisial dan di bawa ke darah kapiler peritubulus. Respon kompensatorik terhadap perubahan pH 1. Asidosis metabolik primer (penurunan HCO3-) Dikompensasi dengan hiperventilasi respiratorik, sehingga menurunkan PCO2 dan memulihkan pH ke nilai normal. 2. Alkalosis metabolik primer ( peningkatan HCO3-) Dikompensasi dengan hipoventilasi respiratorik, sehingga meningkatkan PCO2 dan memulihkan pH ke nilai normal. Respon Kompensatorik Pernapasan Terjadi Dalam Beberapa Menit Sebaliknya Kompensasi Ginjal Untuk : 1. Asidosis respiratorik primer ( peningkatan PCO2 ) atau alkalosis ( penurunan PO2) Terjadi melalui retensi atau eksresi ion HCO3 - atau H+. Namun demikian, kompensasi yang dilakukan ginjal berlangsung lambat sehingga efeknya tidak dapat terlihat sampai kira-kira 24 jam. Kompensasi penuh memerlukan waktu sekitar 2-3 hari. Dengan demikian, asidosis respiratorik diklasifikasikan sebagai keadaan akut. Bila tidak terjadi kompensasi ginjal dan HCO3 masih dalam keadaan normal. Bila terjadi kompensasi ginjal dan HCO3 telah meningkat maka keadaan ini diklasifikasikan sebagai keadaan kronis. 2. Alkalosis respiratorik primer Dapat digolongkan dalam keadaan akut atau kronis, bergantung pada kompensasi ginjal yang terjadi sebagian atau lengkap. Apabila pembilang dalam persamaan Henderson
Skenario 1 Tutorial 3 Blok 6 Page 38

Hasselbach meningkat, maka penyebut harus meningkat pula agar perbandingan tetap 20 : 1 dan memperkecil penyimpangan pH dari normal.

FISIOLOGI KESEIMBANGAN ASAM-BASA Menurut Bronsted Lowri, Asam didefinisikan sebagai zat yang dapat memberikan ion H+ ke zat lain.(sebagai donor proton), sedangkan basa adalah zat yang dapat menerima ion H+ dari zat lain ( sebagai akseptor electron ). KLASIFIKASI Bronsted dan Lowry Berdasarkan kemampuan melepaskan ion H+, asam dan basa masih dapat dibagi menjadi: Asam Lemah Asam lemah adalah asam HCO3 Asam Kuat Asam kuat adalah asam yang berdisosiasi sempurna dalam air . HCl dalam air akan berdisosiasi seluruhnya menjadi ion H+ dan Cl-.ion H+ yang terbentuk akan diikat oleh molekul air Basa Lemah Basa Lemah adalah basa yang hanya terdisosiasi sebagian dalam air atau suatu persenyawaan yang bergabung tidak sempurna dengan ion hydrogen dalam larutan air. Basa Kuat Basa kuat adalah persenyawaan yang terdisosiasi secara sempurna dalam larutan air.NaOH dalam air akan terdisosiasi seluruhnya menjadi ion Na + dan OHSISTEM BUFFER yang hanya terdisosiasi sebagian dalam air ( berdisosiasi tidak

sempurna). Asam karbonat dalam air hanya akan terdisosiasi sebagain menjadi ion H+ dan

Skenario 1 Tutorial 3 Blok 6

Page 39

Sistem buffer disebut juga sebagai sistem penahan atau sisitem penyangga, karena dapat menahan perubahan Ph. Sistem buffer merupakan larutyan yang mengandung konjugasinya..buffer ini terdiri dari asam lemah yang menjadi donor ion hydrogen dan basa lemah yang berfungsi sebagai akseptor ion hydrogen. Di dalam tubuh terdapat sistem buffer, yaitu sistem buffer asam karbonat-bikarbonat, sistem buffer protein sistem buffer hemoglobin dan sistem buffer fosfat. Fungsi utama sisitem buffer ini adalah mencegah perubahan pH yang disebabkan oleh pengaruh asam fixed dan asam organic pada cairan ekstraseluler.Sebagai buffer, sistem ini memiliki keterbatasan , yaitu: y Tidak dapat mencegah perubahn Ph di cairan ekstraseluler yang disebabkan karena peningkatan CO2 y Sistem ini hanya berfungsi bila sistem respirasi dan pusat pengendali sistem pernafasan bekerja normal y Kemampuan menyelenggarakan sistem buffer tergantung pada tersedianya ion bikarbonat

Gangguan Asam-Basa Sederhana Gangguan Asam Basa
Skenario 1 Tutorial 3 Blok 6

Sebab

Perbandingan bikarbonat-asam karbonat 20 : 1 Kompensasi
Page 40

Asidosis Respiratorik

Hipoventilasi (CO2 tertahan)

Perbandingan < 20 : 1

Ginjal : - Retensi HCO3- Ekskresi asam - Meningkatnya pembentukan ammonia garam-garam

Alkalosis Respiratorik

Hiperventilasi (pelepasan berlebihan)

Perbandingan CO2 > 20 : 1

Ginjal : Ekskresi HCO3Retensi asam Pembentukan ammonia garam-garam

Asidosis Metabolik

Retensi asam terfiksasi basa

Perbandingan

Paru-paru : - Hiperventilasi Ginjal : - Seperti pada asidosis respiratorik

Kehilangan bikarbonat < 20 : 1

Alkalosis Metabolik

Kehilangan terfiksasi

asam Perbandingan > 20 : 1

Paru -

paru :

Hipoventilasi pada alkalosis

Peningkatan bikarbonat basa Penurunan K+

Ginjal : - Seperti respiratorik

DAFTAR PUSTAKA

Skenario 1 Tutorial 3 Blok 6

Page 41

Edisi kedua.2008.Gangguan Keseimbangan Air-Elektrolit dan Asam-Basa.Jakarta:Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Indonesia. Guyton,Arthur C.2007.Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.Jakarta:EGC. Price,Sylvia penyakit.Jakarta:EGC. Baron,D.N. 1990. Kapita Selekta ³Patologi Klinik´. Jakarta : EGC. Anderson.2005.Patofisiologi,konsep Klinis Proses-Proses

Skenario 1 Tutorial 3 Blok 6

Page 42

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful