You are on page 1of 54

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Efusi pleura merupakan penyakit saluran pernafasan. Penyakit ini bukan
merupakan suatu desease entity tetapi merupakan suatu gejala penyakit yang
serius yang dapat mengancam jiwa penderita (WHO, 2017).
Efusi pleura adalah penumpukan cairan didalam ruang pleural, proses
penyakit primer jarang terjadi namun biasanya terjadi sekunder akibat
penyakit lain. Efusi dapat berupa cairan jernih, yang mungkin merupakan
transudat, eksudat, atau dapat berupa darah atau pus (Baughman C Diane,
2015).
Secara geografis penyakit ini terdapat diseluruh dunia, bahkan menjadi
problema utama di negara-negara yang sedang berkembang termasuk
Indonesia. Di negara-negara industri, diperkirkan terdapat 320 kasus efusi
pleura per 100.000 orang. Amerika serikat melaporkan 1,3 juta orang setiap
tahunnya menderita efusi pleura terutama disebabkan oleh gagal jantung
kongestif dan pnemonia bakteri. Sementara di negara berkembang seperti
Indonesia, diakibatkan oleh infeksi Tuberculosis.
Menurut catatan medik rumah sakit dr.Kariadi Semarang, jumlah
prevalensi penderita efusi pleura bertambah setiap tahunnya yaitu terdapat
133 penderita pada tahun 2001 (medikal record RSDK dr.Kariadi 2002).
Sedangkan menurut data rekam medik RSUP Fatmawati selama 3 bulan
terakhir (mei-juli 2011) dilantai IV selatan ruang irna B gedung teratai RSUP
Fatmawati Jakarta didapat pasien yang dirawat dengan efusi pleura sebanyak
20 kasus (3,61%) dari 544 kasus penyakit yang ditemukan. Dan berdasarkan
Depkes RI (2006), kasus efusi pleura mencapai 2,7 % dari penyakit infeksi
saluran nafas lainnya.
Tingginya angka kejadian efusi pleura disebabkan keterlambatan
penderita untuk memeriksakan kesehatan sejak dini dan angka kematian
akibat efusi pleura masih sering ditemukan faktor resiko terjadinya efusi
pleura karena lingkungan yang tidak bersih, sanitasi yang kurang, lingkungan

1
yang padat penduduk, kondisi sosial ekonomi yang menurun, serta sarana dan
prasarana kesehatan yang kurang dan kurangnya pengetahuan masyarakat
tentang kesehatan.
B. Batasan Masalah
Bagaimana melakukan asuhan keperawatan pada pasien efusi pleura?
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien efusi pleura
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian pada pasien efusi pleura.
b. Mahasiswa mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada pasien
efusi pleura.
c. Mahasiswa mampu merumuskan intervensi dan rasional pada pasien
efusi pleura.
d. Mahasiswa mampu melakukan implementasi pada pasien efusi pleura.
e. Mahasiswa mampu melakukan evaluasi pada pasien efusi pleura.
f. Mahasiswa mampu melakukan dokumentasi asuhan keperawatan pada
pasien efusi pleura.
D. Manfaat Penulisan
1. Untuk menambah pengetahuan tentang efusi pleura
2. Untuk memenuhi tugas kelompok pada stase keperawatan medikal bedah
E. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data laporan asuhan keperawatan klien Tn.J dengan
efusi Pleura di ruang edelweis RSUD Tamiang Layang adalah melalui
wawancara, observasi dan dokumentasi.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

I. Konsep Teori
A. Anatomi dan Fisiologi
1. Anatomi Pleura
Pleura adalah membrane serosa yang licin, mengkilat, tipis, dan
transparan yang membungkus paru (pulmo). Membran ini terdiri dari
2 lapis:
a. Pleura viseralis: terletak disebelah dalam, langsung menutupi
permukaan paru.
b. Pleura parietalis: terletak disebelah luar, berhubungan dengan
dinding dada.
Pleura parietal berdasarkan letaknya terbagi atas :
1) Cupula Pleura (Pleura Cervicalis)
Merupakan pleura parietalis yang terletak di atas costa I namun
tdk melebihi dr collum costae nya. Cupula pleura terletak
setinggi 1-1,5 inchi di atas 1/3 medial os. Clavicula.
2) Pleura Parietalis pars Costalis
Pleura yang menghadap ke permukaan dalam costae, cartilage
costae, SIC/ ICS, pinggir corpus vertebrae, dan permukaan
belakang os. Sternum.
3) Pleura Parietalis pars Diaphragmatica
Pleura yang menghadap ke diaphragm permukaan thoracal yg
dipisakan oleh fascia endothoracica.
4) Pleura Parietalis pars Mediastinalis (Medialis)
Pleura yg menghadap ke mediastinum / terletak di bagian medial
dan membentuk bagian lateral dr mediastinum.

Pleura parietalis dan viseralis terdiri atas selapis mesotel (yang


memproduksi cairan), membran basalis, jaringan elastik dan kolagen,
pembuluh darah dan limfe. Membran pleura bersifat semipermiabel.

3
Sejumlah cairan terus menerus merembes keluar dari pembuluh darah
yang melalui pleura parietal. Cairan ini diserap oleh pembuluh darah
pleura viseralis, dialirkan ke pembuluh limfe dan kembali kedarah.
Diantara kedua lapisan pleura ini terdapat sebuah rongga yang disebut
dengan cavum pleura. Dimana di dalam cavum pleura ini terdapat
sedikit cairan pleura yang berfungsi agar tidak terjadi gesekan antar
pleura ketika proses pernapasan. Rongga pleura mempunyai ukuran
tebal 10-20 mm, berisi sekitar 10 cc cairan jernih yang tidak bewarna,
mengandung protein < 1,5 gr/dl dan ± 1.500 sel/ml. Sel cairan pleura
didominasi oleh monosit, sejumlah kecil limfosit, makrofag dan sel
mesotel. Sel polimormonuklear dan sel darah merah dijumpai dalam
jumlah yang sangat kecil didalam cairan pleura. Keluar dan masuknya
cairan dari dan ke pleura harus berjalan seimbang agar nilai normal
cairan pleura dapat dipertahankan. (Price C Sylvia, 2015).
2. Fisiologi
Fungsi mekanis pleura adalah meneruskan tekanan negatif thoraks
kedalam paru-paru, sehingga paru-paru yang elastis dapat
mengembang. Tekanan pleura pada waktu istirahat (resting pressure)
dalam posisi tiduran pada adalah -2 sampai -5 cm H2O; sedikit
bertambah negatif di apex sewaktu posisi berdiri. Sewaktu inspirasi
tekanan negatif meningkat menjadi -25 sampai -35 cm H2O.

Selain fungsi mekanis, rongga pleura steril karena mesothelial


bekerja melakukan fagositosis benda asing dan cairan yang
diproduksinya bertindak sebagai lubrikans. Cairan rongga pleura
sangat sedikit, sekitar 0.3 ml/kg, bersifat hipoonkotik dengan
konsentrasi protein 1 g/dl. Gerakan pernapasan dan gravitasi
kemungkinan besar ikut mengatur jumlah produksi dan resorbsi
cairan rongga pleura. Resorbsi terjadi terutama pada pembuluh limfe
pleura parietalis, dengan kecepatan 0.1 sampai 0.15 ml/kg/jam. Bila
terjadi gangguan produksi dan reabsorbsi akan mengakibatkan
terjadinya pleural effusion. Price C Sylvia, 2015).

4
B. Definisi
Efusi Pleura berasal dari dua kata, yaitu efusion yang berarti
ektravasasi cairan ke dalam jaringan atau rongga tubuh, sedangkan pleura
yang berarti membran tipis yang terdiri dari dua lapisan, yaitu pleura
viseralis dan pluera perietalis. Sehingga dapat disimpulkan Efusi Pleura
adalah ekstravasasi cairan yang terjadi di antara lapisan viseralis perietalis.
(Sudoyo, 2014)
Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapatnya penumpukan
cairan dalam rongga pleura. (Imran Sumantri, 2014).
Efusi pleura adalah penumpukan cairan di dalam ruang pleural,
proses penyakit primer jarang terjadi namun biasanya terjadi sekunder
akibat penyakit lain. Efusi dapat berupa cairan jernih, yang mungkin
merupakan transudat, eksudat, atau dapat berupa darah atau pus
(Baughman C Diane, 2012).
Efusi pleural adalah pengumpulan cairan dalam ruang pleura yang
terletak diantara permukaan visceral dan parietal, proses penyakit primer
jarang terjadi tetapi biasanya merupakan penyakit sekunder terhadap
penyakit lain. Secara normal, ruang pleural mengandung sejumlah kecil
cairan (5 sampai 15ml) berfungsi sebagai pelumas yang memungkinkan
permukaan pleural bergerak tanpa adanya friksi (Smeltzer C Suzanne,
2014).
Efusi pleura adalah istilah yang digunakan bagi penimbunan cairan
dalam rongga pleura. (Price C Sylvia, 2015).

C. Etiologi
Efusi pleura adalah akumulasi cairan pleura akibat peningkatan
kecepatan produksi cairan, penurunan kecepatan pengeluaran cairan atau
keduanya, hal ini disebabkan oleh satu dari lima mekanisme berikut
(Morton, 2012).
1. Peningkatan tekanan pada kapiler sub pleura atau limpatik.
2. Peningkatan permeabilitas kapiler.

5
3. Penurunan tekanan osmotik koloid darah.
4. Peningkatan tekanan negatif intra pleura.
5. Keusakan drainage limfatik ruang pleura.
Penyebab efusi pleura :
1. Infeksi
Penyakit-penyakit infeksi yang menyebabkan efusi pleura antara
lain:tuberculosis, pnemonitis, abses paru, abses subfrenik.
Macam-macam penyakit infeksi lain yang dapat menyebabkan efusi
pleuraantara lain:
a. Pleuritis karena Virus dan mikoplasmaEfusi pleura karena virus
atau mikoplasma agak jarang. Bila terjadi jumlahnya pun tidak
banyak dan kejadiannya hanya selintas saja. Jenis- jenis
virusnya adalah : Echo virus, Coxsackie virus, Chlamidia,
Rickettsia,dan mikoplasma. Cairan efusi biasanya eksudat dan
berisi leukosit antara100-6000 per cc.
b. Pleuritis karena bakteri Piogenik
Permukaan pleura dapat ditempeli oleh bakteri yang berasal dari
jaringan parenkim paru dan menjalar secara hematogen, dan
jarang yang melalui penetrasi diafragma, dinding dada atau
esophagus.
c. Pleuritis Tuberkulosa
Permulaan penyakit ini terlihat sebagai efusi yang bersifat
eksudat.Penyakit kebanyakan terjadi sebagai komplikasi
tuberkulosis paru melaluifokus subpleura yang robek atau
melalui aliran getah bening.Cairan efusi yang biasanya serous,
kadang-kadang bisa juga hemoragis.Jumlah leukosit antara 500-
2000 per cc. mula-mula yang dominan adalahsel
polimorfonuklear, tapi kemudian sel limfost.
d. Pleura karena Fungi
Pleuritis karena fungi amat jarang. Biasanya terjadi karena
penjalaraninfeksi fungi dari jaringan paru. Jenis fungi penyebab
pleuritis adalah : aktinomikosis, koksidioidomikosis, aspergillus,

6
kriptokokus,histoplasmosis, blastomikosis, dll. Patogenesis
timbulnya efusi pleuraadalah karena reaksi hipersensitivitas
lambat terhadap organisme fungi.
e. Pleuritis karena parasit
Parasit yang dapat menginfeksi ke dalam rongga pleura
hanyalah amoeba.Bentuk tropozoit datang dari parenkim hati
menembus diafragma terus ke parenkim paru dan rongga pleura.
2. Non Insfeksi
Sedangkan penyakit non infeksi yang dapat menyebabkan efusi
pleura antaralain: Ca paru, Ca pleura (primer dan sekunder), Ca
mediastinum, tumor ovarium, bendungan jantung (gagal jantung),
perikarditis konstruktifa, gagalhati, gagal ginjal.
Adapun penyakit non infeksi lain yang dapat menyebabkan efusi
pleura antaralain:
a. Efusi pleura karena gangguan sirkulasi
1. Gangguan Kardiovaskuler
Payah jantung (decompensatio cordis) adalah penyebab
terbanyak timbulnya efusi pleura. Penyebab lainnya dalah
perikarditiskonstriktiva dan sindrom vena kava superior.
2. Emboli Pulmonal
Efusi pleura dapat terjadi pada sisi paru yang terkena emboli
pulmonal.Keadaan ini dapat disertai infark paru ataupun
tanpa infark. Embolimenyebabkan turunnya aliran darah
arteri pulmonalis, sehingga terjadiiskemia maupun kerusakan
parenkim paru danmemberikan peradangan dengan efusi
yang berdarah (warna merah).
3. Hipoalbumia
Efusi pleura juga terdapat pada keadaan hipoalbuminemia
sepertisindrom nefrotik, malabsorbsi atau keadaan lain
dengan asites sertaanasarka. Efusi terjadi karena rendahnya
tekana osmotic protein cairan pleura dibandingkan dengan

7
tekana osmotic darah. Efusi yang terjadikebanyakan bilateral
dan cairan bersifat transudat.
b. Efusi fleura karena plasma
Neoplasma primer ataupun sekunder (metastasis) dapat
menyerang pleura danumumnya menyebabkan efusi pleura.
Keluhan yang paling banyak ditemukanadalah sesak nafas dan
nyeri dada. Gejala lain adalah adanya cairan yangselalu
berakumulasi kembali dengan cepat walaupun dilakukan
torakosentesis berkali-kali.
Terdapat beberapa teori tentang timbulnya efusi pleura pada
neoplasma,yakni :
 Menumpuknya sel2 tumor akan meningkatnya permeabelitas
fleura terhadap air dan protein
 Adanya masa tumor mengakibatkan tersumbatnya aliran
pembuluh darah vena dan getah bening,sehingga
ronggafleura gagal memindahkan cairan dan protein
 Adanya tumor membuawat infeksi lebih mudah terjadi dan
selanjutnya timbul hipoproteimia
c. efusi fleura karena sebab lain
1. Efusi pleura dapat terjadi karena trauma yaitu trauma
tumpul,laserasi, luka tusuk pada dada, rupture esophagus
karena muntah hebatatau karena pemakaian alat waktu
tindakan esofagoskopi.
2. UremiaSalah satu gejala penyakit uremia lanjut adalah
poliserositis yang terdiridari efusi pleura, efusi perikard dan
efusi peritoneal (asites). Mekanisme penumpukan cairan ini
belum diketahui betul, tetapi diketahui dengantimbulnya
eksudat terdapat peningkatan permeabilitas jaringan pleura,
perikard atau peritoneum. Sebagian besar efusi pleura
karena uremia tidak memberikan gejala yang jelas seperti
sesak nafas, sakit dada, atau batuk.

8
3. MiksedemaEfusi pleura dan efusi perikard dapat terjadi
sebagai bagian miksedema.Efusi dapat terjadi tersendiri
maupun secara bersama-sama. Cairan bersifateksudat dan
mengandung protein dengan konsentrasi tinggi.
4. LimfedemaLimfedema secara kronik dapat terjadi pada
tungkai, muka, tangan danefusi pleura yang berulang pada
satu atau kedua paru. Pada beberapa pasien terdapat juga
kuku jari yang berwarna kekuning-kuningan.
5. Reaksi hipersensitif terhadap obatPengobatan dengan
nitrofurantoin, metisergid, praktolol kadang-
kadangmemberikan reaksi/perubahan terhadap paru-paru
dan pleura beruparadang dan dan kemudian juga akan
menimbulkan efusi pleura.
6. Efusi pleura idiopatik Pada beberapa efusi pleura, walaupun
telah dilakukan prosedur diagnosticsecara berulang-ulang
(pemeriksaan radiologis, analisis cairan, biopsy pleura),
kadang-kadang masih belum bisa didapatkan diagnostic
yang pasti. Keadaan ini dapat digolongkan dalam efusi
pleura idiopatik.(Asril Bahar, 2014)
d. efusi fleura karena intra abdominal, Efusi pleura dapat terjadi
secara steril karena reaksi infeksi dan peradangan yang terdapat
di bawah diafragma, seperti pankreatitis, pseudokista pancreas
atau eksaserbasi akut pankreatitis kronik, absesginjal, abses hati,
abses limpa, dll. Biasanya efusi terjadi pada pleura kiritapi dapat
juga bilateral. Mekanismenya adalah karena berpindahnyacairan
yang kaya dengan enzim pancreas ke rongga pleura melalui
salurangetah bening. Efusi disini bersifat eksudat serosa, tetapi
kadang-kadang juga dapat hemoragik. Efusi pleura juga sering
terjadi setelah 48-72 jam pasca operasi abdomen seperti
splenektomi, operasi terhadap obstruksi intestinal atau
pascaoperasi atelektasis.
1. Sindrosis Hati

9
Efusi pleura dapat terjadi pada pasien sirosis hati.
Kebanyakan efusi pleura timbul bersamaan dengan asites.
Secara khas terdapat kesamaan antara cairan asites dengan
cairan pleura, karena terdapat hubungan fungsional antara
rongga pleura dan rongga abdomen melalui saluran getah
bening atau celah jaringan otot diafragma.
2. Sindrom meig
Tahun 1937 Meig dan Cass menemukan penyakit tumor
pada ovarium (jinak atau ganas) disertai asites dan efusi
pleura. Patogenesis terjadinya efusi pleura masih belum
diketahui betul. Bila tumor ovarium tersebut dioperasi, efusi
pleura dan asitesnya pun segera hilang. Adanya massa di
rongga pelvis disertai asites dan eksudat cairan pleura
sering dikira sebagai neoplasma dan metastasisnya.
3. Dealisis peritoneal
Efusi pleura dapat terjadi selama dan sesudah dilakukannya
dialysis peritoneal. Efusi terjadi pada salah satu paru
maupun bilateral.Perpindahan cairan dialisat dari rongga
peritoneal ke rongga pleura terjadi melalui celah diafragma.
Hal ini terbukti dengan samanya komposisi antara cairan
pleura dengan cairan dialisat (Price C Sylvia, 2015).
Berdasarkan jenis cairan yang terbentuk, cairan pleura dibagi
menjadi transudat dan eksudat.
a. Transudat
Efusi pleura transudatif terjadi kalau faktor sistemik yang
mempengaruhi pembentukan dan penyerapan cairan pleura mengalami
perubahan. Transudat ini disebabkan oleh kegagalan jantung kongestif
(gagal jantung kiri), sindroma nefrotik, asites (oleh karena sirosis
kepatis), syndroma vena cava superior, tumor, sindroma meig,
hipoalbumenia, dialysis peritoneal, Hidrothoraks hepatik.

10
b. Eksudat
Efusi pleura eksudatif terjadi jika faktor lokal yang mempengaruhi
pembentukan dan penyerapan cairan pleura mengalami perubahan.
Eksudat disebabkan oleh infeksi, TB, pneumonia dan sebagainya,
tumor, infark paru, radiasi, penyakit kolagen.
Tabel Perbedaan cairan transudat dan eksudat
Kriteria Transudat Eksudat
Warna Kuning pucat, dan jernih Jernih, keruh,
purulen, dan
hemoragik
Bekuan - -/+
Berat Jenis <1018 >1018
Leukosit < 1000/ul Bervariasi >1000/ul
Eritrosit Sedikit Biasanya banyak
Hitung Jenis MN (limfosit/mesotel) Terutama PMN
Protein Total < 50 % serum > 50 % serum
LDH < 60 % serum > 60 % serum
Glukosa - plasma -/< plasma
Fibrinogen 0.3-4 % 4-6 % atau lebih
Amylase - >50% serum
Bakteri - -/+

Berdasarkan lokasi cairan yang terbentuk, effusi dibagi menjadi dua


yaitu
a. Unilateral
Efusi yang unilateral tidak mempunyai kaitan yang spesifik dengan
penyakit penyebabnya
b. Bilateral
Effusi yang bilateral ditemukan pada penyakit-penyakit dibawah
ini : Kegagalan jantung kongestif, sindroma nefrotik, asites, infark
paru, lupus eritematosus systemic, tumor dan tuberkolosis.

11
D. Epidemiologi
Efusi pleura sering terjadi di negara yang sedang berkembang, salah
satunya Indonesia. Hal ini lebih banyak diakibatkan oleh infeksi
tuberculosis. Bila di negara barat, efusi pleura terutama disebabkan oleh
gagal jantung kongestif, keganasan, dan pnemonina bakteri. Di Amerika
efusi pleura menyerang 1,3 juta orang pertahun. Sedangkan di Indonesia
TB Paru adalah penyebab utama efusi pleura kemudian disusul oleh
keganasan. Dua per tiga efusi pleura maligna mengenai wanita. Efusi
pleura yang disebabkan oleh TB lebih banyak mengenai pria. Mortalitas
dan morbiditas efusi pleura ditentukan berdasarkan peyebab, tingkat
keparahan dan jenis biochemical dalam cairan pleura. Karena merupakan
tanda dari suatu penyakit maka dari segi data kasus tidak ada angka pasti
yang spesifik untuk kasus efusi pleura tetapi yang ada hanyalah angka dari
angka kejadian dari kasus-kasus tertentu seperti sekitar 20-25% efusi
pleura disebabkan oleh tuberculois. Dari berbagai penyebab ini keganasan
merupakan sebab yang terpenting ditinjau dari kegawatan paru dan angka
ini berkisar antara 43-52 %. Namun dipihak lain ada yang mengatakan
insiden terjadinya efusi pleura karena pnemonia sekitar 36-57%. Distribusi
seks untuk efusi pleura pada umumnya wanita lebih banyak dari pria,
sebaliknya yang disebabkan oleh tuberkulosis paru pria lebih banyak dari
wanita. Umur terbanyak dari efusi pleura karena TB adalah 21-30 tahun
atau 30,26 %. (Price C Sylvia, 2015).

E. Manifestasi Klinis
1. Adanya timbunan cairan mengakibatkan perasaan sakit karena
pergesekan, setelah cairan cukup banyak rasa sakit hilang. Bila cairan
banyak, penderita akan sesak nafas.
2. Adanya gejala penyakit penyebab seperti demam, menggigil, dan nyeri
dada pleuritis (pnenomia), panas tinggi (kokus), subfebril
(tuberculosis), banyak keringat, batuk, banyak riak.
3. Deviasi trachea menjauhi tempat yang sakit dapat terjadi jika terjadi
penumpukan cairan pleural yang signifikan.

12
4. Pemeriksaan fisik dalam keadaan berbaring dan duduk akan berlainan,
karena cairan akan berpindah tempat. Bagian yang sakit akan kurang
bergerak dalam pernafasan, fremitus melemah (raba dan vocal), pada
perkusi didapat daerah pekak, dalam keadaan duduk permukaan cairan
membentuk garis melengkung (ellis domiseu)
5. Didapat segitiga garland,, yaitu daerah pada perkusi redup timpani
dibagian atas garis ellis domiseu. Segitiga Grocco-Rochfusz, yaitu
daerah pekak karena cairan mendorong mediastinum kesisi lain, pada
auskultasi daerah ini didapati vesikuler melemah dengan ronki.
(Nanda,2015)

F. Patofisiologi
Pada orang normal, cairan di rongga pleura sebanyak 10-20 cc. Cairan
di rongga pleura jumlahnya tetap karena ada keseimbangan antara
produksi oleh pleura parientalis dan absorbsi oleh pleura viceralis.
Keadaan ini dapat dipertahankankarena adanya keseimbangan antara
tekanan hidrostatis pleura parientalis sebesar 9cmH2O dan tekanan koloid
osmotic pleura viceralis.
Menurut Hood Alsagaff dalam bukunya Dasar-Dasar Ilmu Penyakit
Dalam,keadaan normal pada cavum pleura dipertahankan oleh:
1. Tekanan hidrostatik pleura parientalis 9 cm H2O
2. Tekanan osmotik pleura viceralis 10 cm H2O
3. Produksi cairan 0,1 ml/kgBB/hari
Secara garis besar akumulasi cairan pleura disebabkan karena dua hal
yaitu:
1. Pembentukan cairan pleura berlebihHal ini dapat terjadi karena
peningkatan: permeabilitas kapiler (keradangan,neoplasma), tekanan
hidrostatis di pembuluh darah ke jantung / vena pulmonalis (
kegagalan jantung kiri ), tekanan negatif intrapleura(atelektasis ).
Ada tiga faktor yang mempertahankan tekanan negatif paru yang
normal ini.Pertama, jaringan elastis paru memberikan kontinu yang
cenderung menarik paru-paru menjauh dari rangka thoraks.

13
Faktor utama kedua dalam mempertahankan tekanan negatif intra
pleuramenurut Sylvia Anderson Price dalam bukunya Patofisiologi
adalah kekuatanosmotic yang terdapat di seluruh membran pleura.
Faktor ketiga yang mendukung tekanan negatif intrapleura adalah
kekuatan pompa limfatik. Sejumlah kecil protein secara normal
memasuki ruang pleuratetapi akan dikeluarkan oleh sistem limfatik
dalam pleura parietalis. Ketigafaktor ini kemudian, mengatur dan
mempertahankan tekanan negatif intra pleura normal.
2. Penurunan kemampuan absorbsi sistem limfatik Hal ini disebabkan
karena beberapa hal antara lain: obstruksi stomata,gangguan kontraksi
saluran limfe, infiltrasi pada kelenjar getah bening, peningkatan
tekanan vena sentral tempat masuknya saluran limfe dan
tekananosmotic koloid yang menurun dalam darah, misalnya pada
hipoalbuminemi.Sistem limfatik punya kemampuan absorbsi sampai
dengan 20 kali jumlahcairan yang terbentuk.
Eksudat pleura lebih pekat, tidak terlalu jernih, dan agak menggumpal.
Cairan pleura jenis ini biasanya terjadi karena rusaknya dinding
kapiler melalui proses suatu penyakit, seperti pneumonia atau TBC,
atau karena adanya percampuran dengan drainase limfatik, atau
dengan neoplasma. Bila efusicepat permulaanya, banyak leukosit
terbentuk, dimana pada umumnya limfatik akan mendominasi.
Efusi pleura tanpa peradangan menghasilkan cairan serous yang
jernih, pucat, berwarna jerami, dan tidak menggumpal, cairan ini
merupakan transudat., biasanya terjadi pada penyakit yang dapat
mengurangi tekanan osmotic darahatau retensi Na, kebanyakan
ditemukan pada pasien yang menderitaoedemumum sekunder
terhadap penyakit yang melibatkan jantung, ginjal, atau hati.

14
Pathway Efusi Pleura:

- Gagal jantung kiri Peradangan pleura


- Obstruksi vena capa
superior Permeabel mebran kapiler Cairan protein dari
- Asitas pada sirosis hati meningkat getah bening masuk
- Dialisis peritorial rongga pleura
- Obstruksi fraktus urinarius - Peningkatan tekanan kapiler
sistemik/pulmonal Konsentrasi protein
Terdapat jaringan nekrotik - Penurunan tekanan koloid cairan pleura
pada septa osmotik & pleura
- Penurunan tekanan intra Eksudat
Kongesti pada pembuluh pleura
limfe
Gangguan tekanan kapiler
Reabsorbsi cairan terganggu hidrostatik dan koloid
osmotik intrapleura

Trasudat

Penumpukan cairan pada


Gangguan pertukaran gas rongga pleura

Ekspansi paru Penekanan pada abdomen Drainase

Sesak nafas Anoreksia Resiko tinggi terhadap


tindakan drainase dada

Ketidakseimbangan nutrisi Nyeri resiko infeksi


kurang dari kebutuhan tubuh

Ketidakefektifan pola nafas Insufisiensi oksigenasi

Ganguan metabolisme O2 Suplai O2

Energi berkurang Gangguan rasa nyaman

Intoleransi aktivitas Defisit perawatan diri

sumber: Nanda, 2015

15
G. Komplikasi
1. Fibrotoraks
Efusi pleura yang berupa eksudat yang tidak ditangani dengan
drainase yang baik akan terjadi perlekatan fibrosa antara pleura
parietalis dan pleura viseralis. Keadaan ini disebut dengan fibrotoraks.
Jika fibrotoraks meluas dapat menimbulkan hambatan mekanis yang
berat pada jaringan-jaringan yang berada dibawahnya. Pembedahan
pengupasan(dekortikasi) perlu dilakukan untuk memisahkan
membrane-membran pleura tersebut.
2. Atalektasis
Atalektasis adalah pengembangan paru yang tidak sempurna yang
disebabkan oleh penekanan akibat efusi pleura.
3. Fibrosis paru
Fibrosis paru merupakan keadaan patologis dimana terdapat jaringan
ikat paru dalam jumlah yang berlebihan. Fibrosis timbul akibat cara
perbaikan jaringan sebagai kelanjutan suatu proses penyakit paru yang
menimbulkan peradangan. Pada efusi pleura, atalektasis yang
berkepanjangan dapat menyebabkan penggantian jaringan paru yang
terserang dengan jaringan fibrosis.
4. Kolaps Paru
Pada efusi pleura, atalektasis tekanan yang diakibatkan oleh tekanan
ektrinsik pada sebagian / semua bagian paru akan mendorong udara
keluar dan mengakibatkan kolaps paru.

H. Manajemen Kolaboratif
1. Pemeriksaan Diagnostik
Diagnostik kadang2 dapat di tegakkan secara anamnesis dan
pemeriksaanfisik saja. Tapi kadang-kadang sulit juga, sehingga perlu
pemeriksaan tambahansinar tembus dada. Untuk diagnosis yang pasti
perlu dilakukan tindakantorakosentesis dan pada beberapa kasus
dilakukan juga biopsy pleura.

16
 Sinar tembus dadaPermukaan cairan yang terdapat dalam rongga
pleura akan membentuk bayangan seperti kurva, dengan
permukaan daerah lateral lebih tinggi daripada bagian medial.
 TorakosentesisAspirasi cairan pleura (torakosentesis) berguna
sebagai sarana untuk diagnostic maupun terapeutik.
Pelaksanaannya sebaiknya dilakukan pada penderita dengan
posisi duduk.
Untuk diagnostic caiaran pleura dilakukan pemeriksaan:
a. Warna cairan
Biasanya cairan pleura berwarna agak kekuning-kuningan (
serous-xantho-chrome). Bila agak kemerah-merahan,ini dapat
terjadi pada trauma, infark paru, keganasan, adanya kebocoran
aneurisma aorta.
b. Biokimia
Secara biokimia efusi fleura terbagi atas transudat dan eksudat.
2. Medikasi
a. Prosedur thorakosintesis apabila cairan pleura masih sedikit.
b. Plurodesis adalah pengobatan yang dilakukan setelah cairan
berhasil dikeluarkan dengan cara menyuntikan doxycycline
kedalam rongga pleura
c. Pemberian antibiotik bila terbukti adanya infeksi
3. Pembedahan
a. Dalam kasus yang lebih serius dilakukan operasi dada (torakotmi
dan torakoskopi) menjadi pilihan terakhir, dokter bedan akan
memasukan shunt (tabung kecil) kedalam rongga dada dengan
tujuan membantu mengarahkan cairan dari dada ke perut.
b. Pleurectomy atau pengangkatan lapisan pleura (untuk kasus yang
sangat parah).
4. Pengobatan non-medikasi
Tidak ada terapi khusus yang dapat menyembuhkan efusi pleura
secara langsung, tetapi dengan menjaga pola hidup yang bersih dan

17
sehat mampu mengurangi gejala dari penyakit tersebut diantaranya
pola makan, pola istiharat, olah raga dan personal hygiene
5. Diet
TKTP( Tinggi Kalori dan Tinggi Protein), bentuk makanan yang
diberikan adalah lunak, rutenya melalui oral atau mulut dan frekuensi
pemberiannya 3 kali makanan utama dan 2 kali makanan selingan.
6. Aktivitas
Tidak dianjurkan melakukan aktivitas yang dapat menyebabkan
kelelahan.
7. Pendidikan Kesehatan
a. Jelaskan pada keluarga mengenai penyakit efusi pleura
b. anjurkan klien dan keluarga untuk menghindari kebiasaan yang
tidak menguntungkan seperti merokok dan minum minuman keras
c. anjurkan kepada klien dan keluarga agar kebutuhan istirahat
terpenuhi, jumlah jam tidur 6-8 jam perhari
d. Anjurkan pada pasien dan keluarga kebutuhan nutrisi terpenuhi
e. Anjurkan kepada klien dan keluarga agar menghindari stres
f. Anjurkan kepada klien dan keluarga agar memeriksakan diri
kedokter atau petugas kesehatan terdekat bila mengalami gejala-
gejala gangguan pernafasan seperti sesak nafas dan nyeri dada.

II. Konsep Asuhan Keperawatan


A. Pengkajian
1. Identitas Pasien
Pada tahap ini perawat perlu mengetahui tentang nama, umur, jenis
kelamin, alamat rumah, agama atau kepercayaan, suku bangsa,
bahasa yang dipakai, status pendidikan dan pekerjaan pasien.
2. Keluhan Utama
Keluhan utama merupakan factor utama yang mendorong pasien
mencari pertolongan atau berobat ke rumah sakit. Biasanya pada
pasien dengan efusi pleura didapatkan keluhan berupa sesak nafas,
rasa berat pada dada, nyeri pleuritik akibat iritasi pleura yang

18
bersifat tajam dan terlokalisir terutama pada saat batuk dan
bernafas.
3. Riwayat penyakit Sekarang
Pasien dengan efusi pleura biasanya akan diawali dengan adanya
tanda-tanda, seperti batuk, sesak nafas, nyeri pleuritik, rasa berat
pada dada, berat badan menurun dan sebagainya. Perlu juga
ditanyakan mulai kapan keluhan itu muncul. Apa tindakan yang
telah dilakukan untuk menurunkan atau menghilangkan keluhan-
keluhan tersebut.
4. Riwayat penyakit Dahulu
Tanyakan pada pasien apakah pasien pernah mengalami penyakit
seperti TB Paru, Pneumonia, gagal jantung, trauma, dan
sebagainya. Hal ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan
adanya faktor predisposisi.
5. Riwayat penyakit Keluarga
Perlu ditanyakan apakah ada anggota keluarga yang menderita
penyakit-penyakit yang disinyalir sebagai penyebab efusi pleura,
seperti CA Paru, Asma, TB Paru dan lain sebagainya.
6. Observasi Tanda-tanda vital
7. Pengkajian Pola Fungsi Kesehatan
a. Pola persepsi dan tatalaksana hidup sehat
Adanya tindakan medis dan perawatan di rumah sakit
mempengaruhi perubahan persepsi tentang kesehatan, tapi
kadang juga memunculkan persepsi yang salah erhadap
pemeliharaan kesehatan. Kemungkinan adanya riwayat
kebiasaan merokok, minum minuman beralkohol dan
penggunaan obat-obatan bisa menjadi factor predisposisi
timbulnya penyakit.
b. Pola Nutrisi dan metabolism
Mengukur tinggi badan dan berat badan untuk mengetahui status
nutrisi pasien, selain itu juga perlu ditanyakan kebiasaan makan
dan minum sebelum dan selama masuk rumah sakit. Pasien

19
dengan efusi pleura akan mengalami penurunan nafsu makan
akibat dari sesak nafas.
c. Pola Eliminasi
Dalam pengkajian eliminasi perlu ditanyan kebiasaan defekasi
sebelum dan selama masuk rumah sakit, karena keadaan umum
pasien yang lemah sehingga akan lebih banyak bedrest dan
terjadinya konstipasi, selain akibat pencernaan pada struktur
abdomen menyebabkan penurunan peristaltik otot-otot traktus
digestivus.
d. Pola Aktivitas dan latihan
Karena adanya sesak nafas pasien akan cepat mengalami
kelelahan pada saat beraktivitas.
e. Pola Tidur dan Istirahat
Pasien menjadi sulit tidur karena sesak nafas dan nyeri.
Hospitalisasi juga dapat membuat pasien merasa tidak tenang
karena suasana nya yang berbeda dengan lingkungan di rumah.
f. Pola Hubungan dan peran
Karena sakit, pasien akan mengalami perubahan peran. Baik
peran dalam keluarga ataupun dalam masyarakat. Contohnya
karena sakit pasien tidak bisa mengurus keluarganya.
g. Pola Persepsi dan Konsep Diri
Persepsi pasien terhadap dirinya akan berubah. Pasien yang
tadinya sehat, tiba-tiba mengalami sakit, sesak nafas dan nyeri
dada. Sebagai seorang awam, pasien mungkin akan beranggapan
bahwa penyakit adalah penyakit berbahaya dan mematikan.
Dalam hal ini pasien mungkin akan kehilangan gambaran positif
akan dirinya.
h. Pola Sensori dan Kognitif
Fungsi panca indera pasien tidak mengalami perubahan,
demikian juga dengan proses berfikirnya.
i. Pola Reproduksi dan Seksualitas

20
Kebutuhan seksual pasien dalam hal ini, hubungan seks akan
terganggu untuk sementara waktu karena pasien di rumah sakit
dan dalam kondisi fisik yang lemah.
j. Pola Coping
Pasien bisa mengalami sters karena belum mengalami proses
penyakitnya. Mungkin pasien akan banyak bertanya pada dokter
dan perawat yang merawatnya.
k. Pola Tata Nilai dan Kepercayaan
Kehidupan beragama pasien akan terganggu karena proses
penyakit.
8. Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi :
1) Tingkat kesadaran pasien, ekspresi wajah, perilaku, mood
untuk mengetahui tingkat kecemasan dan ketegangan pasien
2) Pergerakan dinding dada tertinggal pada yang sakit
3) Inspeksi adanya sianosis
4) Kedalaman pernafasan, RR, penggunaan otot aksesoris
pernafasan dan ekspansi dada.
b. Palpasi :
1) Pergerakan dinding dada tertinggal pada yang sakit.
2) Vocal premitus menurun di dada yang sakit.
3) Palpasi suhu tubuh. Jika dingin berarti terjadi kegagalan
transportasi oksigen.
c. Perkusi :
Suara perkusi redup sampai pekak tergantung jumlah
cairannya.
d. Auskultasi :
Suara nafas menurun sampai menghilang pada dada yang sakit.
B. Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan penurunan
ekspansi paru sekunder akibat adanya penumpukan cairan dalam
rongga pleura

21
2. Ketidak seimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan penurunan nafsu makan akibat sesak nafas.
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan suplai
dengan kebutuhan oksigen.
4. Risiko infeksi berhubungan dengan adanya luka bekas pemasangan
WSD.
5. Ansietas berhubungan dengan adanya ancaman kematian yang
dibayangkan karena sulit bernapas.
C. Perencanaan
Diagnosa 1 :
Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan penurunan ekspansi
paru sekunder akibat adanya penumpukan cairan dalam rongga pleura.
Tujuan :
Pasien mampu mempertahankan fungsi paru secara normal
Kriteria Hasil :
Irama, frekuensi dan kedalaman pernafasan dalam batas normal. Pada
pemeriksaan sinar X dada tidak ditemukan adanya akumulasi cairan,
bunyi nafas terdengar jelas.
Intervensi ;
1. Kaji kedalaman pernapsan,Rasional : mengetahui sejauh mana
perubahan kondisi pasien
2. Observasi tanda-tanda vital ( suhu,nadi,tekanan darah RR dan
respon pasien ).Rasional :peningktan RR dan Tacikardi merupakan
indikasi penurunan fungsi paru
3. Berikan pasien posisi semi powler.Rasional;memaksimalkan fungsi
paru
4. Periksa/awasi fungsi WSD,bila terpasang.Rasional:menghindari
kegagalan pengeluaran cairandari rongga pleura
5. Ajarkan teknik relaksasi.Rasional:untuk memperbaiki pola nafas
6. Kolaborasi dengan team medis lain untuk pemberian O2 dan obat-
oabatan dan foto thorax.Rasional:Pemberian oksigen dapat
menurunkan beban pernapasan dan pencegahan terjadinyasianosis

22
akibat hipoksia.dengan foto thoraxdapat dimonitor kemajuan dari
kekurangan cairan dan kembalinya daya kemang paru
Diagnosa 2:
Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan penurunan nafsu makan akibat sesak nafas.
Tujuan
Kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria hasil ;berat badan,hasil laboratorium dalam batas normal
Intervensi :
1. Catat status nutrisi pasien
Rasional : mengetahui derajat masalah dan pilihan intervensi yang
tepat.
2. Berikan makanan sedikit tapi sering Rasional:memaksimalkan
masukan nutrisi tanpa kelemahan
3. Anjurkan keluarga pasien untuk memeakan makanan sesuai
kesukaan kecuali kontra indikasi.Rasioanal:membantu memenuhi
kebutahan personal.
4. Berikan motivasi tentang pentingnya nutrisi.Rasional : kebiasaan
makan seseorang di pengaruhi oleh
kesukaannya,kebiasaannya,agama,ekonomi dan pengetahuannya
tentanga pentingnya nutrisi bagi tubuh
5. Kolaborasi dengan ahli gizi.Rasional:pemberian nutrisi dapat
dihitung dengan tepat
Diagnose 3
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan suplai
dengan kebutuhan oksigen.
Tujuan :
1. Energy Conservation
2. Activity tolerance
3. Self care:ADLs
Kriteria hasil:

23
1. Berpartisipsi dalam aktivitas pisik tanpa disertai peningkatan
tekanan darah,nadi dan RR
2. Mampu melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.
3. Tanda- tanda vital normal
4. Mampu berpindah:dengan atau tanpa bantuan alat.
5. Status resvirasi:pertukaran gas dan pentilasi adekuat
Intervensi :
1. Kaji respon individu terhadap aktivitas
Rasional agar dapat di nilai tingkat intoleransi aktivitas
2. Tingkatkan aktivitas secara bertahap
Rasional:agar tidak terjadi kelelahan
3. Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang mampu
dilakukan
Rasional:menetapkan kemampuan dan kebutuhan pasien dan
memudahkan pilihan intervensi
4. Jelaskan pentingnya istirahat dalam rencana pengobatan dan
perlunya keseimbangan aktivitas dan istirahat
Rasional:tirah baring dipertahankan selama fase akut untuk
memnurunkan kebutuhan metabolic,menghemat energy untuk
penyembuhan.pembatasan aktivitas di lanjutkan denagn respon
individual pasien terhadap aktivitas.
5. Bantu klien untuk memilih posisi yang nyaman untuk istirahat dan
atau tidur.
Rasional:pasien mungkin nyaman dengan kepala tinggi,tidur di
kursi,atau menunduk kedepan meja atau bantal
6. Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan.berikan kemajuan
peningkatan aktivitas selama fase penyembuhan
Rasional; meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan
suplai dan keebutuh an oksigen
Diagnose 4
Risiko infeksi berhubungan dengan adanya luka bekas pemasangan
WSD.

24
Tujuan : menurut NOC
1. Imunne status
2. Knowledge:infection Control
3. Risk Kontrol
Kriteria hasil :
1. Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi
2. Mendeskripsikan proses penularan penyakit,factor yang
mempengaruhi penularan serta penatalaksanaannya.
3. Menunjukan kemampan untuk mencegah timbulnya infeksi.
4. Jumlah leokosit dalam batas normal
5. Mennjukkan perilaku hidup sehat.
Intervensi :
1. Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain.
Rasional : Mencegah dan mengendalikan terjadinya infeksi Hais.
2. Batasi pengunjung bila perlu.
Rasional : Mencegah terjadinya infeksi Hais.
3. Instruksikan pada pengunjung untuk mencuci tangan saat
berkunjung dan setelah berkunjung meninggalkan pasien.
Rasional : Mencegah dan mengendalikan terjadinya infeksi Hais.
4. Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan keperawatan.
Rasional : Mencegah dan mengendalikan terjadinya infeksi Hais.
5. Pertahankan lingkungan aseptik selama pemasangan alat.
Rasional : Mencegah dan mengendalikan terjadinya infeksi Hais.
6. Tingkatkan intake nutrisi
Rasional : Asupan nutrisi yang baik membantu mempercepat
proses penyembuhan luka.
7. Berikan terapi antibiotik bila perlu
Rasional : Pemberian antibiotik untuk mencegah atau mengatasi
terjadinya infeksi. Mempercepat proses penyembuhan
8. Monitor tanda dan gejala infeksi
Rasional : deteksi dini adanya infeksi.

25
Diagnose 5:
Ansietas berhubungan dengan adanya ancaman kematian yang
dibayangkan karena sulit bernapas.
Tujuan :menurut NOC
1. Anxiety self control
2. Anxiety level
3. Coping
Kriteria hasil ;
1. Klien mampu mengedentifikasi dan mengungkapkan gejala cemas.
2. Mengidentifikasi,mengungkapkan dan menunjukan teknik untuk
mengontrol cemas
3. Vital sign dalam batas normal
4. Posturtubuh,ekspresi wajah,bahasa tubuh dan tingkat aktivitas
menunjukan berkurangnya kecemasan.
Intervensi :
1. Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur.
Rasional :untuk mengurangi tingkat kecemasan berlebih
2. Pahami perspektif pasien terhadap situasi stress.
Rasional:dengan memahami perspektif pasien dapat mengenali
tingkat stress pasien dan menidentifikasi tindakan selanjutnya.
3. Identifikasi tingkat kecemasan
Rasional;mengetahui koping individu
4. Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan,kekuatan dan
persepsi.
Rasional : membina hubungan saling percaya
5. Ajarkan teknik relaksasi
6. Rasional:membuat pasien tenang,mengurangi ketegangan otot dan
kecemasan
7. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat untuk
menurunkan ansietas ( bila perlu )
Rasional ;membantu menurukan tingkat kecemasan pasien

26
D. Implementasi
Impelementsi merupakan pelaksannan rencana keperawatan oleh
perawat terhadap pasien.ada beberapa hal yang perlu di perhatikan
dalam pelaksannan rencana asuhan keperawatan di
antaranya:keterampilan interpersoanal,teknikal dan intelektual di
lakukan dengan cermat dan efisien pada situasi yang tepat,keamanan
fisik dan psikologis pasien di lindungi serta dokumentasi intervensi dan
respon pasien. Pada tahap iplementasi ini merepukan aplikasi secara
konkrit dari rencana intervensi yang telah dibuat untuk mengatasi
masalah kesehatan dan perawtan yang muncul pada pasien ( US. Midar
H,dkk, 2014 ).

E. Evaluasi
Tujuan dari evaluasi ini adalah untuk menilai apakah tujuan dalam
rencana keperawatan tercapai dengan baik atau tidak dan untuk
melakukan pengakaian ulang ( US. Midar H,dkk, 2014 ). Kriteria dalam
menentukan tercapainnya suatu tujuan yaitu:
1. Mampu mempertahankn fungsi paru secara normal.
2. Kebutuhan nutrisi terpenuhi.
3. Mampu melakukan aktivitas seoptimal mungkin.
4. Tidak terjdi infeksi
5. Mampu memahami dan menerima keadaannya sehingga tidak lagi
cemas.

27
BAB III
STUDI KASUS

LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN Tn.J


DENGAN EFUSI PLEURA DI RUANG E RSUD TAMIANG LAYANG

A. PENGKAJIAN
Ruang / Kamar : E/K3
Tanggal Masuk RS : 30 November 2018 ( Pukul 09.00
WIB)
Tanggal Pengkajian : 30 November 2018 (Pukul 11.00
WIB)
1. Identitas Pasien
a. Nama : Tn.J
b. Tempat Tanggal Lahir : Barito Timur, 19 oktober 1947
c. Umur : 71 Tahun
d. Jenis kelamin : Laki-laki
e. Pendidikan : Diploma III
f. Pekerjaan : Pensiunan PNS
g. Agama : Islam
h. Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia
i. Alamat : Magantis, Tamiang Layang
j. Diagnosa Medis : Efusi Pleura

2. Riwayat Penyakit
a. Keluhan Utama
Klien mengatakan sesak nafas
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Klien mengatakan 2 (dua) minggu yang lalu baru pulang dari
RSUD Tamiang Layang setelah 8 hari dirawat dengan keluhan
sesak napas. Selama di rumah keluhan sesak napas masih klien
rasakan, dan semakin parah sehingga keluarga memutuskan
untuk membawa klien ke RSUD Tamiang layang untuk
mendapatkan perawatan dan pengobatan selanjutnya. Klien
masuk IGD tanggal 30 november 2018 pukul 06.50 WIB dengan
keluhan sesak napas, batuk berdahak, badan lemah dan nyeri
perut. Di IGD mendapat terapi O2 3L/menit nassal kanul, IUVF
RL 16 tpm, injeksi norages 1 amp/8 jam, injeksi ranitidin 1
amp/12 jam, pemberian oral ambroxol 3x 30 mg, lasal 3x4 mg.
TTV klien, T: 35,9 ºC, N: 86 x/menit, RR: 30x/menit, TD:

28
130/90 mmHg, SPO2 97%, Observasi di IGD selama 2 jam,
Kemudian klien dipindahkan dan dirawat di ruang E. Pada saat
pengkajian diruangan klien mengeluh sesak napas.

c. Riwayat Penyakit Dahulu


Klien mengatakan pernah pengobatan rutin TB Paru selama 6
bulan dan tuntas pada bulan mei 2018, selain itu juga pernah
menderita asma. Klien rutin memeriksakan diri (kontrol) ke
dokter spesialis Paru setiap bulan.

d. Riwayat Penyakit Keluarga (dilengkapi genogram)


Klien mengatakan kakeknya pernah menderita sakit asma dan
ayahnya menderita penyakit jantung. Klien mengatakan di
dalam keluarganya tidak pernah mengalami sakit degeneratif,
seperti : Diabetes Militus, Hipertensi,dll.

: Laki - laki

: Perempuan
: Meninggal

:Meninggal
: Hubungan Keluarga
:Tinggal serumah

: Klien

: Klien

29
e. Riwayat Sosial
Keluarga mengatakan semenjak sakit klien kebanyakan
menghabiskan waktu dirumah, jarang berjalan-jalan jauh karena
sesak napas dan badan lemas duduk diteras rumah sambil
melihat orang lewat, kadang-kadang ada tetangga dan keluarga
yang mengobrol dengan klien.

3. Keadaan Umum
a. Kesadaran : compos mentis
b. Tanda-tanda Vital : TD: 130/90 mmHg, N: 96x/m,
S:36,5 ºC, RR: 28x/m, SPO2:
97%
c. Pengukuran BB dan TB : BB: 55 Kg, TB: 170 cm, IMT:
19,03 (nilai normal 18,5-24,9)
4. Pemeriksaan Fisik (Head to Toe)
No Area Fisik Hasil pemeriksaan Analisa
1 Kepala I: bentuk simetris, Dalam
rambut beruban, warna Batas
kulit kepala normal, Normal
kebersihan kulit kepala
bersih
P: massa abnormal tidak
ada, tidak ada nyeri tekan
2 Mata I: bentuk semetris, Dalam batas
konjungtiva normal normal,
(tidak anemis), klien masih
menggunakan alat bantu dapat
penglihatan (kacamata), melihat
pupil dengan jelas
P: tidak ada odema
palpebra, tidak ada nyeri
tekan di sekitar mata

3 Telinga I: Bentuk semetris, warna Dalam batas


sama dengan bagian normal,
tubuh lainnya, posisi klien dapat
sejajar, tidak tampak mendengar
kotoran telinga, lesi dengan baik
ataupun benjolan, tidak
ada alat bantu
pendengaran
P: massa tidak ada, tidak
ada nyeri saat palpasi,

4 Hidung I, Bentuk simetris, warna Dalam batas

30
normal, tidak ada normal
perdarahan, tidak ada
sekret, tidak terdapat
polip
P: tidak ada nyeri tekan
pada hidung

5 Mulut I, Warna bibir normal, Dalam batas


mukosa bibir lembab, normal
tidak ada lesi, gigi
banyak yang tanggal,
gusi normal, lidah
normal
P: tidak ada
pembengkakan tonsil,
tidak ada sakit
tenggorokan, tidak
mengalami gangguan
bicara
6 Leher I, Tidak ada kekakuan Dalam batas
leher, normal
P: tidak ada distensi
vena jugularis, tidak ada
deviasi trakea, tidak ada
pembesaran kelenjar
tiroid, tidak ada
pembesaran kelanjar
limfe, tidak ada nyeri.
7 Dada (Jantung & Paru) I:Inspeksi, Tachypnea, Terdapat
Bentuk dada menonjol suara nafas
(dada burung), warna menurun
kulit dada normal,kondisi atau tidak
kulit dada normal, tidak terdengar
ada tanda peradangan, karena
terpasang oksigen nassal adanya
canul 3L/m, ritme cairan pada
pernapasan kusmaul bagian paru
(cepat dan dalam) sebelah
tampak penggunaan otot kanan
bantu pernapasan,
pernapasan cuping
hidung P:Palpasi, tidak
ada massa abnormal,
tidak ada nyeri tekan,
taktil fremitus kurang
bergetar
P:Perkusi jantung redup,
bunyi paru hipersonor

31
A:Auskultasi, bunyi
jantung S1 S2 tunggal,
suara nafas menurun atau
tidak terdengar karena
adanya cairan pada
bagian paru sebelah
kanan
8 Abdomen I, Inspeksi Bentuk Dalam batas
normal,tidak asites, tidak normal
ada lesi, kondisi kulit
normal,
A, auskultasi bising usus
normal 10 kali/menit,
P, palpasi dinding
abdomen tidak ada nyeri
tekan,tidak ada nyeri
tekan epigastrium, hati
limfe massa tidak teraba.
P, perkusi terdengar
bunyi timpani
9 Ekstremitas (atas & bawah) I: tak tampak ada edema, Dalam batas
infus dipasang di tangan normal
sebelah kiri
P: akral teraba hangat,
kekuatan otot baik

10 Kulit I, Inspeksi Warna kulit Dalam batas


normal, tekstur lembut, normal
ada jaringan parut bekas
operasi pada daerah
punggung dan perut,
turgor kulit baik,
P, akral hangat, CRT < 3
detik.
(Pemeriksaan Saraf atau pemeriksaan khusus lainnya dapat
ditambahkan)

5. Pengkajian Pola Kesehatan


a. Persepsi Persepsi Kesehatan dan Pemeliharaan Kesehatan
Di Rumah : Klien mengatakan semenjak sakit selalu kontrol rutin
ke RSUD Tamiang Layang.
DI Ruma Sakit : Klien saat ini sedang menjalani pengobatan dan
perawatan di Rumah Sakit.
Masalah: Tidak ada.
b. Pola Nutrisi Metabolik
Di Rumah : Klien mengatakan dirumah makan nasi lembek, tidak
mampu menghabiskan makanan 1 porsi yang diberikan,

32
Di Rumah Sakit : Klien mengatakan suka makanan bubur yang
diberikan di rumah sakit selalu menghabiskan 1 porsi bubur yang
disediakan.
Masalah: Tidak ada.
c. Pola Eliminasi
Dirumah: Klien mengatakan BAB lembek 1-2 kali/hari, BAK 4-5
kali sehari, apabila BAB dan BAK dibantu oleh keluarga ke toilet.
Di rumah sakit : Klien mengatakan sejak masuk rumah sakit BAB
dan BAK seperti biasa.
Masalah: Tidak ada masalah
d. Pola Aktivitas dan Latihan
Di rumah: Semenjak sakit aktivitas pasien terbatas, dibantu oleh
keluarga karena sesak napas. Kebutuhan ADL pasien masuk
dalam kategori 3 yaitu kebutuhan pasien dibantu alat dan
keluarga.
Di rumah sakit: aktivitas klien dibantu oleh alat, perawat dan
keluarga Masalah: intoleransi aktivitas.
e. Pola Tidur dan Istirahat
Di rumah: Klien mengatakan tidak bisa tidur karena sesak napas,
pada malam hari tidur hanya 2 jam, siang hari tidak bisa tidur.
Di rumah sakit: setelah dilakukan punksi, sesak napas berkurang
sehingga pasien bisa tidur sebentar, Jumlah waktu tidur 2 jam
dalam waktu 24 jam
Masalah: Gangguan Pola Tidur
f. Pola Kognitif dan Persepsi Sensori
Di rumah: Keadaan mental stabil, penyelesaian masalah
diselesaikan dengan cara komunikasi dan diskusi.
Di rumah sakit: Keadaan mental stabil, penyelesaian masalah
diselesaikan dengan cara komunikasi dan diskusi.
Masalah: Tidak ada masalah
g. Pola Konsep Diri
Di rumah: Klien mengatakan cemas mengenai penyakitnya, tetapi
masih bisa menerima penyakitnya dan berusaha menjaga
kesehatannya.
Di rumah sakit: Klien mengatakan cemas mengenai penyakitnya,
tetapi masih bisa menerima penyakitnya dan berusaha menjaga
kesehatannya.
h. Pola Peran dan Hubungan
Di rumah: Klien mengatakan dikeluarga perannya sebagai
seorang kepala keluarga.
Di rumah sakit : Klien mengatakan saat dirumah sakit tidak bisa
menjalankan perannya sebagai kepala keluarga.

33
Masalah: Tidak ada masalah
i. Pola Seksualitas dan Reproduksi
Di rumah: klien berjenis kelamin laki-laki.
Di rumah sakit: klien berjenis kelamin laki-laki.
Masalah: tidak ada masalah
j. Pola Mekanisme Koping
Di rumah: Klien mengatakan jika ada masalah selalu
mengkomunikasikan dengan istri dan anaknya.
Di rumah sakit: Klien mengatakan jika ada masalah selalu
mengkomunikasikan dengan istri dan anaknya.
Masalah: Tidak ada masalah
k. Pola Sistem Nilai Kepercayaan
Di rumah: Klien mengatakan klien beragama islam dan tidak ada
yang bertentangan dengan keagamaan antara penyakit dan
keyakinannya. Klien tetap melaksanakan sholat walaupun di
tempat tidur.
Di rumah sakit: Klien mengatakan klien beragama islam dan tidak
ada yang bertentangan dengan keagamaan antara penyakit dan
keyakinannya. Klien tetap melaksanakan sholat walaupun di
tempat tidur.
Masalah: Tidak ada masalah

B. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Hari/Tanggal Jenis Hasil Nilai Analisa
Pemeriksaan Normal
Kamis, 1 - HB 12,7g/dl L: 13-18 Normal.
11-2018
Leukosit 12.400/mm3 3.200- Peningkatan
10.000 leukosit
merupakan
indikasi
terjadinya
infeksi
LED 4 mm/jam L<15 Normal
Segmen 90% 37-73
Limfosit 7% 15-45 Bila jumlah
limfosit
menurun,
keampuan
tubuh untuk
melawan
infeksi akan
terganggu.

34
Selain itu
tubuh dapat
menjadi lebih
rentan terkena
penyakit
kanker.
monosit 3% 0-10 Normal
Eritrosit 4,04 L:4,4 Normal
juta/mm3 juta-5,6
juta/mm3
MCV 90 Fl 80-100 Normal
MCH 31 pg 28-34 Normal
MCHC 35 g/dL 32-36 Normal
Trombosit 320.000/mm3 170.000- Normal
380.000
Hematokrit 36 % L: 40%- Hematoktit
50% rendah dapat
menyebabkan
anemia dan
defisiensi zat
besi
Golongan A+
Darah
Glukosa 112 mg/dl 110-115 Normal
sewaktu
SGOT/AST 24 u/L L: 15-40 Normal
SGPT/ALT 18 u/L L:10-40 Normal

C. MEDIKASI

Nama Indikasi Kontraindi Cara Kerja Efek Konsideras


Obat kasi Samping i Perawat
Ranitid Pengobata - Riwayat Menurunka - Nyeri Pemberian
in n sakit alergi n produksi dada, ranitidine
2x50 maag dan ranitidin asam demam berfungsi
mg IV luka - Ibu lambung napas meminima
lambung menyusu dengan pendek, lkan efek
i cara batuk samping
- Pada memblok dengan pemberian
penderita langsung lendir antibiotik
gagal sel hijau atau seperti
ginjal penghasil kuning mual dan
asam - Mudah muntah
lambung lebam atau
berdarah,
tubuh
lemas

35
tanpa
sebab
- Detak
jantung
lambat
atau cepat
- Bermasala
h dengan
penglihata
n
- Demam
sakit
tenggorok
an dan
sakit
kepala
disertai
ruam kulit
yang
merah,
mengelupa
s dan
melepuh
- Mual,sakit
perut,
demam
ringan,
hilang
napsu
makan,
urine
berwarna
gelap,
tinja
berwarna
gelap,
mata dan
kulit
berwarna
kuning
Lasal - Digunaka Pada Obat ini - Efek Pemberian
3x 4mg n untuk pasien bekerja samping obat
mengobati yang dengan yang mengguna
broncospa memiliki cara umum kan prinsip
sme, asma riwayat merangsan adalah 12 benar
bronkial, hipersensit g secara palpitasi, - kaji
bronkitis iv pada selektif nyeri tanda-
asmatis, salbutamol reseptor dada, tanda

36
emfisema atau obat beta-2 denyut alergi
dan agonis adrenergik jantung -kaji efek
PPOK adrenorese terutama cepat, samping
- Untuk ptor beta-2 pada otot tremor, obat
mengobati lainnya bronkus kram otot,
hiperkale hal ini sakit
mia akut menyebabk kepala
karena an dan gugup
kemampu terjadinya - Efek
annya bronkodilat samping
merangsa asi karena lain yang
ng aliran otot terjadi
kalium bronkus adalah
kedalam mengalami vasodilata
sel. relaksasi si perifer,
- Untuk takikardi,
pengobata aritmia,
n kejang gangguan
bronkus tidur dan
pada gangguan
pasien tingkah
yang laku.
memiliki - Efek
penyakit samping
jantung yang lebih
atau berat
hipertensi misalnya
bronkospa
sme
paradoksi
kal,
urtikaria,
angiodem
a dan
hipotensi.
Ambro Obat Hipersensi Ambroksol Reaksi Pemberian
xol golongan tif mempunya alergi obat
3x30 mukolitik terhadap i sifat mengguna
mg yang ambroxol mukokineti kan prinsip
berfungsi k dan 12 benar
untuk sekretelitik - kaji
mengencer , yang tanda-
kan dahak meningkat tanda
yang kan alergi
banyak dan pembersiha -kaji efek
kental n sekresi samping
hingga yang obat
menyumba tertahan

37
t saluran pada
pernapasan saluran
. pernapasan
dan
menghilan
gkan
mukustatis,
memudahk
an
pengencera
n dahak.
Norage Mengatasi - Hipersen Secara - Reaksi Pemberian
s 3x nyeri berat sitif sentral hipersensi obat
1000m akut dan terhadap diduga tivitas mengguna
g IV kronis metamiz bekerja - Diskrasia kan prinsip
seperti ole pada darah 12 benar
pada - Wanita hipotalamu - Demam - kaji
keadaan hamil s dan tinggi, tanda-
penyakit dna secara menggigil tanda
rematik, menyusu ferifer , sakit alergi
sakit i menghamb tenggorok -kaji efek
kepala, - Penderit at an, sulit samping
sakit gigi a dengan pembentuk menelan obat
atau tekan an - Syok:
adanya darah prostaglan berkering
tumor, sistolik din di at dingin,
nyeri kurang tempat pusing,
setelah dari 100 inplamasi, mual
kecelakaan mmHg mencegah kesulitan
atau sensitisasi bernapas
sehabis reseptor - Bengkak
operasi, rasa sakit pada
mengatasi terhadap wajah,
yeri berat rangsang gatal-
yang mekanik gatal,
disebabkan atau peningkat
oleh kimiawi an detak
spasme jantung
otot polos - Serangan
baik itu asma
akut dan Urtikaria
kronis
seperti
spasme
otot, kolik
pada
saliran
pencernaan

38
saluran
empedu,
ginjal dan
saluran
kemih
bagian
bawah
- -
- -

D. ANALISA DATA
Data Etiologi Masalah
DS: Peradangan pleura Gangguan pertukaran
- Pasien mengatakan ↓ gas
sesak napas Permeabel membran
kapiler meningkat
DO: ↓
- Klien tampak Cairan protein dari
terpasang oksigen getah bening masuk
nassal canul 3L/m, rongga pleura
ritme pernapasan ↓
kusmaul (cepat dan Konsentrasi protein
dalam) tampak cairan pleura
penggunaan otot meningkat
bantu pernapasan, ↓
pernapasan cuping Eksudat
hidung ↓
- Auskultasi, suara Penumpukan cairan
nafas menurun atau pada rongga pleura
tidak terdengar ↓
karena adanya cairan Ekspansi paru
pada bagian paru ↓
sebelah kanan sesak napas
- TTV klien TD: ↓
130/90 mmHg, T: Gangguan pertukaran
36,5ºC, N: 96x/m, gas
RR: 28 x/mnt, SPO2
97%.

DS: Peradangan pleura Intoleransi Aktivitas


- Klien mengatakan ↓
semenjak sakit Permeabel membran
aktivitasnya terbatas, kapiler meningkat
dibantu oleh keluarga. ↓
DO: Cairan protein dari
- Klien tampak lemah getah bening masuk
posisi semi fowler rongga pleura

39
ditempat tidur ↓
terpasang infus RL20 Konsentrasi protein
Tpm cairan pleura
- Skala Aktivitas meningkat
Kategori 3 yaitu ↓
kebutuhan klien Eksudat
dibantu alat dan ↓
keluarga. Penumpukan cairan
pada rongga pleura

Ekspansi paru

sesak napas

Insufisiensi oksigenasi

Gangguan
metabolisme oksigen

Energi berkurang

Intoleransi aktivitas
DS: Peradangan pleura Gangguan kebutuhan
- Klien mengatakan ↓ tidur
tidak bisa tidur karena Permeabel membran
sesak nafas, pada kapiler meningkat
malam hari hanya ↓
tidur 2 jam, dan siang Cairan protein dari
hari tidak bisa tidur getah bening masuk
DO: rongga pleura
- Klien tampak gelisah ↓
- Klien tampak lelah Konsentrasi protein
- Klien tampak cairan pleura
mengantuk meningkat
- Tampak lingkaran ↓
hitam disekitar Eksudat
kelopak mata ↓
Penumpukan cairan
pada rongga pleura

Ekspansi paru

sesak napas

Gangguan kebutuhan
tidur

40
E. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN, IMPLEMENTASI DAN
EVALUASI
Diagnosa Keperawatan: gangguan pertukaran gas b/d penurunan
kemampuan ekspansi paru, kerusakan membrane alveolar-kapiler ditandai
dengan DS dan DO
Hasil yang Intervensi Rasional Implementasi Evaluasi
diharapkan
Setelah 1. Cuci 1. Mencegah 1. Mencuci S: - Klien
dilakukan tangan dan tangan mengatakan
tindakan sebelum mengenda sebelum masih sesak
keperawatan dan likan dan nafas
selama 1x24 sesudah infeksi sesudah - Klien
jam diharapkan melakuk HAIs melakukan mengatak
sesak an 2. Posisikan tindakan an batuk
berkurang, tindakan pasien keperawata berdahak
dengan kriteria keperaw dengan n kadang-
Hasil: atan posisi 2. Memberika kadang,
- Mendemonst 2. Posisika semifowle n posisi dahak
rasikan batuk n pasien r/fowler semi masih
efektif dan untuk untuk fowler/fowl bisa
suara nafas memaksi menguran er (12.00 dikeluark
yang bersih, malkan gi sesak WIB) an
tidak ada ventilasi 3. Mengetah 3. Memonitor
sianosis dan 3. Monitor ui TTV Klien O: - klien tampak
dispneu TTV keadaan ( 12.05 posisi semi
(mampu klien umum WIB) fowler
mengeluarka 4. Auskulta klien 4. Mengausku - TTV
n sputum dan si suara 4. Untuk ltasi suara Klien
mampu nafas, mengetah nafas: TD:
bernafas catat ui bunyi 130/80
dengan adanya perkemba jantung S1 mmHg,
mudah). suara ngan S2 S:36,3ºC,
- Menunjukan tambaha status tunggal, RR:
jalan nafas n kesehatan bunyi paru 28x/mnt,
yang paten 5. Monitor klien dn terdengar N:92x/m
(klien tidak respirasi mencegah wheezing nt, SPO2
merasa dan komplikas di paru 98%
tercekik, status i lanjutan kanan, - Terpasan
frekuensi oksigen 5. Untuk 5. Memonitor g oksigen
pernafasan 6. Pertahan mengetah respirasi nasal
dalam an jalan ui dan status kanul
rentang nafas perkemba oksigen: 3L/m
normal dan yang ngan respirasi - ritme
tidak ada paten status 28x/m, pernapasa
suara nafas 7. Atur kesehatan SPO2 97% n
abnormal). peralatan klien dn 6. Mempertah kusmaul
- TTV dalam oksigena mencegah ankan jalan (cepat

41
rentang si komplikas napas yang dan
normal. 8. Monitor i lanjutan paten:pemb dalam)
aliran 6. Untuk erikan tampak
oksigen mengetah posisi klien pengguna
9. Monitor ui semi an otot
suara perkemba fowler/fowl bantu
paru ngan er, pernapasa
10. Monitor status mengajarka n,
pola kesehatan n batuk pernapasa
nafas klien dn efektif dan n cuping
abnorma mencegah pemberian hidung
l komplikas oksigenasi A: Masalah
11. Kolabor i lanjutan 7. Mengatur belum
asi 7. Memaksi peralatan teratasi
pemberi malkan oksigenasi: P: Lanjutkan
an obat pemasuka terpasang Intervensi
bronkodi n oksigen nasal kanul - cuci tangan
lator. 8. Memaksi 3L/m sebelum
malkan 8. Memonitor dan
pemasuka aliran sesudah
n oksigen oksigen melakukan
9. Untuk 9. Memonitor tindakan
mengetah suara keperawata
ui paru:terden n
perkemba gar - Posisikan
ngan wheezing pasien
status di paru untuk
kesehatan kanan memaksim
klien dn 10. Memonitor alkan
mencegah pola nafas ventilasi
komplikas abnormal: - Monitor
i lanjutan ritme TTV klien
10. Untuk pernapasan - Pertahanan
mengetah kusmaul jalan nafas
ui (cepat dan yang paten
perkemba dalam) - Pertahanan
ngan 11. Memberika jalan nafas
status n ambroxol yang paten
kesehatan 3x30 mg - Berikan
klien dn dan obat sesuai
mencegah memberika advis
komplikas n nebulizer dokter
i lanjutan combiven
11. Bronkodil per 6 jam,
ator
adalah
sebuah
substansi

42
yang
dapat
memperle
barluaska
n
permukaa
n bronkus
dan
bronkiolu
s pada
paru-paru,
dan
membuat
kapasitas
serapan
oksigen
paru-paru
meningka
t.

Diagnosa Keperawatan: Intoleransi Aktivitas b/d ketidakseimbangan antara


suplai oksigen dengan kebutuhan ditandai dengan DS dan DO
Hasil Intervensi Rasional Implementasi Evaluasi
yang
diharapk
an
1. Cuci 1. Menceg 1. Mencuci S: - Klien
Setelah tangan ah dan tangan mengatakan
dilakuka sebelum mengen sebelum dan badan masih
dan dalikan sesudah lemah.
n sesudah infeksi melakukan - Klien
perawata melakuk HAIs tindakan mengatakan
an 2. agar keperawatan aktivitasnya
n selama tindakan dapat di 2. Mengkaji dibantu oleh
keperaw nilai respon keluarga
1 x 24 tingkat
atan individu
jam 2. Kaji intoleran
terhadap O:
respon si
diharapk aktivitas - Klien
individu aktivitas
3. Meningkatkan tampak
an terhadap 3. agar aktivitas lemah
aktivitas tidak
adanya terjadi secara posisi
3. Tingkatk bertahap. semi
an kelelahan
peningka 4. Membantu fowler
aktivitas 4. menetap
tan secara kan klien untuk ditempat
bertahap kemamp mengidentifik tidur
toleransi 4. Bantu uan dan asi aktivitas terpasan
kebutuha yang mampu g infus

43
aktivitas klien n pasien dilakukan RL20
untuk dan 5. Melibatkan Tpm
dengan mengide memuda keluarga - Skala
kriteria ntifikasi hkan dalam Aktivitas
aktivitas pilihan memenuhi Kategori
hasil : yang intervens
kebutuhan 3 yaitu
mampu i
- Mamp dilakuka 5. agar klien kebutuha
u n terpenuhi 6. Membantu n klien
melak 5. Libatkan kebutuha klien untuk dibantu
keluarga n klien memilih posisi alat dan
ukan
dalam dan yang nyaman keluarga
aktivit memenu mencega untuk istirahat
as hi h dan tidur A: Masalah
sehari kebutuha terjadiny 7. Membantu belum
-hari n klien a cidera. untuk teratasi
6. Bantu 6. pasien mendapatkan P: Lanjutkan
(ADL klien mungkin alat bantuan Intervensi
s) untuk nyaman
memilih aktivitas 1. Cuci
secara dengan
posisi kepala
seperti kursi tangan
mandi roda, kruk dan sebelum
yang tinggi,tid
ri nyaman ur di lain-lain dan
- TTV untuk kursi,ata sesudah
norma istirahat u melakuk
dan atau menundu an
l
tidur. k tindakan
7. Bantu kedepan keperaw
untuk meja atau atan
mendap bantal 2. Tingkatka
atkan 7. untuk n aktivitas
alat mengura secara
bantuan ngi bertahap
aktivitas kelelahan 3. Libatkan
seperti keluarga
kursi dalam
roda, memenuh
i
kruk
kebutuha
dan n klien
lain-lain

Diagnosa Keperawatan: Gangguan kebutuhan tidur b/d sesak nafas ditandai


dengan DS dan DO
Hasil yang Intervensi Rasional Implementasi Evaluasi
diharapkan
1. Cuci 1. Mencegah 1. Mencuci S: Klien
Setelah tangan dan tangan mengatakan
dilakukan sebelum mengendalik sebelum dan tidak bisa

44
perawatan dan an infeksi sesudah tidur karena
sesudah HAIs melakukan sesak nafas.
selama 1 x
melakuka 2. Pengkajian tindakan O:
12 jam n tindakan jumlah jam keperawatan - Klien
keperawat tidur klien 2. Mengkaji tampak
diharapkan
an sangat jumlah jam gelisah
pola tidur 2. Kaji penting agar tidur pasien, - Klien
jumlah perawat klien tampak
dalam batas
jam tidur mengetahui mengatakan lelas
normal klien kebutuhan hanya tidur 2 A: Masalah
3. Monitor tidur klien jam dalam belum
dengan
kebutuhan 3. Membantu sehari. teratasi
kriteria hasil tidur klien perawat agar 3. Memonitor P: Lanjutkan
setiap hari mengetahui kebutuhan Intervensi
:
dan jam apakah klien tidur klien 1. Cuci
8. Jumlah 4. Jelaskan mengalami setiap hari. tangan
jam tidur pentingny gangguan 4. Menjelaskan sebelum
dalam a tidur tidur atau pentingnya dan
yang tidak. tidur yang sesudah
batas
adekuat 4. Pemberian adekuat melakuka
normal 6- 5. Ciptakan informasi 5. Menciptakan n tindakan
8 jam lingkunga yang tepat lingkungan keperawat
perhari. n yang dapat yang nyaman an
9. Pola tidur nyaman memotivasi 6. Membatasi 2. Ciptakan
dalam 6. Batasi klien agar pengunjung lingkunga
batas pengunjun berusaha n yang
g memperbaik nyaman
normal
i kualitas 3. Batasi
10. Peras tidurnya pengunjun
aan segar 5. Lingkungan g
sesudah yang
tidur atau nyaman
istirahan membantu
tubuh
menjadi
lebih rileks
sehingga
dapat
mempermud
ah tidur
6. Meminimalk
an
terjadinya
kebisingan

F. CATATAN PERKEMBANGAN

45
Hari/Tanggal/Pukul Catatan Perkembangan Paraf
Sabtu, 01 Desember S: - Klien mengatakan masih sesak
2018, 12.00 WIB nafas
- Klien mengatakan batuk
berkurang
O: - TTV Klien TD: 120/80 mmHg,
N: 90x/m ,T: 36 ºC, RR: 28x/m,
SPO2 98%
- Terpasang oksigen nasal kanul
3L/m
- ritme pernapasan kusmaul
(cepat dan dalam) tampak
penggunaan otot bantu
pernapasan, pernapasan cuping
hidung
- posisi klien fowler
- auskultasi tidak terdengar
wheezing

A: Masalah belum teratasi


P: Lanjutkan Intervensi
1. cuci tangan sebelum dan
sesudah melakukan tindakan
keperawatan
2. Posisikan pasien untuk
memaksimalkan ventilasi
3. Monitor TTV klien
4. Pertahanan jalan nafas yang
paten
5. Berikan obat sesuai advis
dokter

I: 1. Mencuci tangan sebelum dan


sesudah melakukan tindakan
keperawatan
2. memberikan posisi fowler
1. Memonitor TTV klien: TD:
120/80 mmHg, N;92x/m, RR:
27x/m, T:36,1ºC, SPO2: 98%
2. Mempertahankan jalan nafas
yang paten, terpasang oksigen 3
L/m
3. Memberikan obat ambroxol
3x30 mg, lasal 3x4mg,
nebulizer combiven kapan perlu

E: DS:
- Klien mengatakan nafas masih

46
terasa sesak
- Klien mengatakan batuk
kadang-kadang
DO:
- TTV Klien TD: 120/80
mmHg, N: 92x/m ,T: 36,1 ºC,
RR: 27x/m, SPO2 98%
- Terpasang oksigen nasal kanul
3L/m
- ritme pernapasan kusmaul
(cepat dan dalam) tampak
penggunaan otot bantu
pernapasan, pernapasan cuping
hidung
- posisi klien fowler
- auskultasi tidak terdengar
wheezing

Sabtu,01 Desember S: - Klien mengatakan badan masih


2018 lemah.
- Klien mengatakan aktivitasnya
dibantu oleh keluarga
O: - Klien tampak lemah posisi semi
fowler ditempat tidur terpasang
infus RL20 Tpm
- Skala Aktivitas Kategori 3 yaitu
kebutuhan klien dibantu alat dan
keluarga

A: Masalah belum teratasi


P: Lanjutkan intervensi:
1. Cuci tangan sebelum dan
sesudah melakukan tindakan
keperawatan
2. Tingkatkan aktivitas secara
bertahap
3. Libatkan keluarga dalam
memenuhi kebutuhan klien

I: 1. Mencuci tangan sebelum dan


sesudah melakukan tindakan
keperawatan
2. Meningkatkan aktivitas secara
bertahap
1. Libatkan keluarga dalam
memenuhi kebutuhan klien

47
E: DS:
- Klien mengatakan badan masih
lemah.
- Klien mengatakan aktivitasnya
dibantu oleh keluarga
DO:
- Klien tampak lemah posisi semi
fowler ditempat tidur terpasang
infus RL20 Tpm
- Skala Aktivitas Kategori 3 yaitu
kebutuhan klien dibantu alat dan
keluarga

Sabtu,01 Desember S: - Klien mengatakan tidak bisa tidur


2018 karena sesak nafas.
- Klien mengatakan tadi malam
hanya tidur 3 jam
O: - Klien tampak lelah
- Keadaan umum klien masih
lemah
A: Masalah belum teratasi
P: Lanjutkan intervensi
1. Cuci tangan sebelum dan
sesudah melakukan tindakan
keperawatan
2. Ciptakan lingkungan yang
nyaman
3. Batasi pengunjung
4. Berikan posisi senyaman
mungkin
I: 1. Mencuci tangan sebelum dan
sesudah melakukan tindakan
keperawatan
2. Menciptakan lingkungan yang
nyaman
3. Membatasi pengunjung
4. Memberikan posisi senyaman
mungkin
E: DS:
- Klien mengatakan tidak bisa tidur
karena sesak nafas.
- Klien mengatakan tadi malam
hanya tidur 3 jam
DO:
- Klien tampak lelah
- Keadaan umum klien masih

48
lemah

BAB IV
PEMBAHASAN

Pengkajian dilakukan pada klien Tn. J pada tanggal 30 desember 2018 dan
didapatkan data dari klien yaitu:
A. Pengkajian
Pengkajian dilakukan dengan mewawancarai pasien tentang
keluhan-keluhan serta semua data yang berhubungan dengan efusi pleura
meliputi keluhan utama, riwayat penyakit sekarang riwayat penyakit

49
dahulu, riwayat penyakit keluarga, observasi tanda-tanda vital, pengkajian
pola fungsi kesehatan dan pemeriksaan fisik juga kami lakukan pada
pengkajian klien Tn.J. Pada Kasus Tn.J kami fokuskan pemeriksaan fisik
pada bagian dada dari inspeksi, bagaimana bentuk dada klien, warna kulit
dada, kondisi kulit dada, pada perkusi bagaimana bunyi paru, palpasi apakah
ada nyeri tekan, apakah ada massa abnormal, bagaimana getaran taktil
fremitusnya, pada auskultasi mendengar bagaimana suara nafasnya apakah
ada kelainan atau tidak, semua pemeriksaan itu dilakukan karena
berhubungan dengan diagnosa medis klien yaitu efusi pleura . Dalam
pengumpulan data dari hasil wawancara, pemerisaan fisik dan observasi
semuanya dapat dikaji karena klien sangat kooferatif dalam menjawab
semua pertanyaan yang diberikan oleh mahasiswa berhubungan dengan
keadaan penyakitnya.

B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa yang muncul pada klien Tn.J dengan efusi pleura dari
hasil pengkajian kami adalah sebagai berikut:
1. Gangguan pertukaran Gas b/d penurunan kemampuan ekspansi paru,
kerusakan membrane alveolar-kapiler
2. Intoleransi Aktivitas b/d ketidakseimbangan antara suplai oksigen
dengan kebutuhan
3. Gangguan kebutuhan tidur b/d sesak nafas

Kesimpulan dari diagnosa diatas adalah: dua diagnosa yang kami temui
pada klien Tn.J sama atau ada pada diagnosa diteori, ada satu diagnosa
yang kami angkat yaitu diagnosa nomor tiga yaitu gangguan kebutuhan
tidur b/d sesak nafas tetap kami angkat walaupun secara teori tidak
termasuk dalam diagnosa yang umumnya terjadi pada pasien efusi pleura.
Keputusan kami tetap mengangkat diagnosa tersebut karena dari hasil
pengkajian, data tersebut muncul dari klien maupun dari yang kami lihat,
oleh sebab itu kami sepakat mengangkat diagnosa tersebut.

C. Intervensi

50
Rencana Keperawatan dibuat berdasarkan keadaan dan kondisi
klien itu sendiri, yang dimanifestasikan dari masalah keperawatan yang
muncul pada klien dan diambil dari sebagian rencana keperawatan yang
ada di teori. Dalam proses penyusunan rencana keperawatan tidak ada
hambatan yang begitu menyulitkan, klien dan keluarga kooperatif dalam
menjawab pertanyaan yang diajukan perawat.

D. Implementasi

Implementasi yang kami lakukan kami sesuaikan dengan intervensi


yang kami buat dan yang lebih penting lagi kami sesuaikan dengan
kondisi klien pada saat itu karena mungkin ada intervensi kami yang
tidak dapat kami lakukan karena kondisi klien, tapi pada kasus Tn.J
semua intervensi mampu kami implementasikan dengan tidak
menambah gawat kondisi klien.

Kami menyadari dalam melaksanakan tindakan keperawatan masih


banyak kekurangan dan keterbatasan karena kurangnya pengetahuan,
keterbatasan pengalaman, dan kurangnya waktu.

E. Evaluasi

Pada Klien Tn. J, setelah menyelesaikan tindakan keperawatan


yang dilakukan saat itu. Evaluasi yang kami dapat kan dari hasil
implementasi yang kami lakukan ada diagnosa yang belum teratasi
dikarenakan klien dengan efusi pleura memerlukan banyak waktu
perawatan dan kesabaran dalam proses pemulihan, tetapi ada sedikit
perubahan ke arah yang lebih baik setelah dilakukan tindakan
keperawatan.

Dari catatan perkembangan yang dilakukan selama 1 hari


didapatkan diagnosa yang teratasi sebagian yaitu: Diagnosa Intoleransi
aktivitas b/d ketidakseimbangan antara suplai oksigen dengan kebutuhan,
dyspneu setelah beraktivitas.

51
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Efusi Pleura berasal dari dua kata, yaitu efusion yang berarti
ektravasasi cairan ke dalam jaringan atau rongga tubuh, sedangkan pleura
yang berarti membran tipis yang terdiri dari dua lapisan, yaitu pleura
viseralis dan pluera perietalis. Sehingga dapat disimpulkan Efusi Pleura

52
adalah ekstravasasi cairan yang terjadi di antara lapisan viseralis perietalis.
(Sudoyo, 2014).
Pleura parietalis dan viseralis terdiri atas selapis mesotel (yang
memproduksi cairan), membran basalis, jaringan elastik dan kolagen,
pembuluh darah dan limfe. Membran pleura bersifat semipermiabel.
Sejumlah cairan terus menerus merembes keluar dari pembuluh darah
yang melalui pleura parietal. Cairan ini diserap oleh pembuluh darah
pleura viseralis, dialirkan ke pembuluh limfe dan kembali kedarah.
Diantara kedua lapisan pleura ini terdapat sebuah rongga yang disebut
dengan cavum pleura. Dimana di dalam cavum pleura ini terdapat sedikit
cairan pleura yang berfungsi agar tidak terjadi gesekan antar pleura ketika
proses pernapasan. Rongga pleura mempunyai ukuran tebal 10-20 mm,
berisi sekitar 10 cc cairan jernih yang tidak bewarna, mengandung protein
< 1,5 gr/dl dan ± 1.500 sel/ml. Sel cairan pleura didominasi oleh monosit,
sejumlah kecil limfosit, makrofag dan sel mesotel. Sel polimormonuklear
dan sel darah merah dijumpai dalam jumlah yang sangat kecil didalam
cairan pleura. Keluar dan masuknya cairan dari dan ke pleura harus
berjalan seimbang agar nilai normal cairan pleura dapat dipertahankan.
(Price C Sylvia, 2015).
Manifestasi Klinis menurut Nanda,2015
1. Adanya timbunan cairan mengakibatkan perasaan sakit karena
pergesekan, setelah cairan cukup banyak rasa sakit hilang. Bila cairan
banyak, penderita akan sesak nafas.
2. Adanya gejala penyakit penyebab seperti demam, menggigil, dan nyeri
dada pleuritis (pnenomia), panas tinggi (kokus), subfebril
(tuberculosis), banyak keringat, batuk, banyak riak.
3. Deviasi trachea menjauhi tempat yang sakit dapat terjadi jika terjadi
penumpukan cairan pleural yang signifikan.
4. Pemeriksaan fisik dalam keadaan berbaring dan duduk akan berlainan,
karena cairan akan berpindah tempat. Bagian yang sakit akan kurang
bergerak dalam pernafasan, fremitus melemah (raba dan vocal), pada

53
perkusi didapat daerah pekak, dalam keadaan duduk permukaan cairan
membentuk garis melengkung (ellis domiseu)
5. Didapat segitiga garland,, yaitu daerah pada perkusi redup timpani
dibagian atas garis ellis domiseu. Segitiga Grocco-Rochfusz, yaitu
daerah pekak karena cairan mendorong mediastinum kesisi lain, pada
auskultasi daerah ini didapati vesikuler melemah dengan ronki.
Adapun penatalaksanaan pada klien dengan efusi pleura meliputi :
Tirah baring, thoracosintesis, pemberian antibiotik, dan pleurudesis

B. Saran
Dengan disusunnya laporan asuhan keperawatan klien Tn.J dengan
Efusi Pleura di Ruang Edelweis RSUD Tamiang layang ini diharapkan
kepada semua pembaca agar dapat memahami apa yang telah tertulis,
sehingga sedikit banyak dapat menambah pengetahuan pembaca.
Disamping itu kami juga mengharapkan saran dan kritik dari para
pembaca sehingga kami bisa berorientasi lebih baik lagi pada laporan
asuhan keperawatan kami selanjutnya.

54