You are on page 1of 4

Laporan Kasus Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM)

F.1. Upaya Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat


Penyuluhan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS)
di Bandungrejo Desa Ngasem Bojonegoro

Oleh:

dr. Elfin Na’imathul Hafidhah

Pembimbing:

dr. Rizka Dianita Anggraini

Pusat Kesehatan Masyarakat Ngasem


Kabupaten Bojonegoro
Tahun 2018
A. Latar Belakang
Upaya pemeliharaan kebersihan diri mencakup tentang kebersihan rambut,
mata, telinga, gigi, mulut, kulit, kuku, serta kebersihan dalam berpakaian. Dalam
upaya pemeliharaan kebersihan diri ini, pengetahuan akan pentingnya kebersihan diri
tersebut sangat diperlukan. Karena pengetahuan atau kognitif merupakan domain
yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang.
Permasalahan perilaku kesehatan pada masyarakat biasanya berkaitan dengan
kebersihan perorangan dan lingkungan, salah satunya kebiasaan cuci tangan pakai
sabun dan kebersihan diri. Penyakit yang cukup mengganggu dan berpotensi
mengakibatkan keadaan bahaya hingga mengancam jiwa adalah penyakit menular
yang ditularkan melalui sentuhan tangan.
Tangan merupakan pembawa utama kuman penyakit. Cuci tangan pakai sabun
(CTPS) diyakini dapat mencegah 1 juta kematian tersebut. Praktek CTPS setelah ke
jamban atau menceboki anak, dan sebelum menjamah makanan dapat menurunkan
hampir separuh kasus diare, dan sekitar seperempat kasus ISPA. Praktek CTPS juga
dapat mencegah infeksi kulit, mata dll.
Cuci tangan pakai sabun merupakan salah satu intervensi kesehatan yang
paling murah dan efektif dibandingkan dengan hasil intervensi kesehatan dengan cara
lainnya serta telah terbukti mampu mengurangi resiko penyakit bukan hanya yang
terkait dengam diare, namun juga beberapa penyakit berbahaya lainnya seperti kolera
dan disentri, sampai dengan 48–59%.

B. Permasalahan
Di wilayah Puskesmas Ngasem, cukup banyak rumah tangga yang belum
menerapkan perilaku hidup yang higienis dan saniter salah satunya cuci tangan pakai
sabun (CTPS). Masyarakat yang masih buang air besar sembarangan masih cukup
banyak, walaupun sebagian sudah ada yang memiliki jamban di rumah. Masyarakat
masih ada yang buang air besar di sawah, kali, ataupun semak-semak. Pengelolaan
sampah dan limbah cair juga masih kurang, karena masyarakat belum memiliki sistem
kebersihan dan selokan yang baik.

C. Perencanaan
Dari permasalahan di atas maka penulis berencana untuk melakukan suatu
intervensi berupa penyuluhan terhadap masyarakat di Dusun Bandungrejo tentang
cuci tangan pakai sabun (CTPS). Tujuan dari penyuluhan ini adalah menambah
pengetahuan mengenai pentingna cuci tangan pakai sabun sebagai salah satu pilar
terwujudnya perilaku hidup bersih dan sehat agar secara mandiri mengubah perilaku
hidup menjadi lebih higienis.

D. Proses Intervensi
Proses intervensi dilakukan pada hari Selasa, 13 April 2018. Intervensi yang
dilakukan adalah memberikan penyuluhan kepada masyarakat yang ikut serta di acara
Posyandu Balita dan Lansia di rumah kader Dusun Bandungrejo, Desa Ngasem.
Penyuluhan dihadiri oleh 15 orang.
Pemaparan materi berlangsung selama 15 menit. Materi penyuluhan yang
diberikan melingkupi pengertian mencuci tangan, tujuan mencuci tangan, waktu
mencuci tangan, dan langkah-langkah mencuci tangan. Setelah pemaparan materi
dilakukan simulasi dan tanya jawab yang berlangsung sekitar 15 menit.

E. Monitoring dan Evaluasi


Evaluasi pengetahuan mengenai CTPS dilakukan oleh penulis sejak awal
penyuluhan dimulai dengan melempar pertanyaan kepada audience dengan hasil
evaluasi awal bahwa kebanyakan audience sudah mengerti secara umum mengenai
pentingnya mencuci tangan. Selanjutnya juga dilakukan evaluasi di akhir dengan cara
membuka sesi tanya jawab dimana penulis mendapatkan respon yang baik yaitu
audience aktif menjawab pertanyaan yang diajukan pembicara.

F. Kesimpulan
Perilaku masyarakat yang higienis secara mandiri berperan dalam
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Dengan diberikannya penyuluhan
tentang CTPS ini, diharapkan mampu mengubah pola pikir dan menyadarkan
masyarakat agar secara mandiri mengubah perilaku hidupnya menjadi lebih sehat
untuk menghindari risiko kesehatan di kemudian hari.
Bojonegoro, 19 Juni 2018
Dokter Internsip Dokter Pendamping

dr. Elfin Na’imathul H. dr. Rizka Dianita Anggraini

Komentar/Umpan Balik