You are on page 1of 12

BAB I

PENDAHULUAN

Di dalam praktek kedokteran terdapat aspek etik dan hukum yang sangat
luas, yang sering tumpang tindih pada suatu kejadian tertentu seperti pada
informed consent, wajib simpan rahasia kedokteran, profesionalisme dll.
Kemungkinan terjadinya peningkatan ketidakpuasan pasien terhadap pelayanan
dokter atau rumah sakit atau tenaga kesehatan lainnya dapat terjadi sebagai akibat
akibat dari semakin tinggi pendidikan rata-rat masyarakat sehingga membuat
mereka lebih tahu tentang haknya, semakin tingginya harapan masyarakat kepada
pelayanan kedokteran sebagai hasil dari luasnya arus informasi, komersilisasi dan
tingginya biaya layanan kedokteran dan kesehatan sehingga masyarakat semakin
tidak tolern terhadap layanan yang tidak sempurna, dan provokasi oleh ahli
hukum.1

1
BAB II

KASUS

A. Kasus I

Mr. A , 38 years old, was taken to the emergency department of Malang Army
hospital Dr Soepraon because of a traffic accident. The patient came with a good
awareness, did not experience fainting before and on examination found pin point
wounds on dextra cruris. Patients are diagnosed with open fracture of the dextra
Tibia and are advised to immediately undergo surgery because it is an emergency.

After being explained, the patient refused to be operated on the grounds that
treatment would be carried out in the alternative medicine (Sangkal putung).
Patients then signed informed consent to refuse medical treatment.

One month later the patient came with the rotten foot condition and feeling very
painful and the doctor suggested amputation. The patient then decides to be
amputated

B. Kasus II

The 22 years old female patient was taken to the emergency department of
Malang Army hospital Dr Soepraon at 2 AM because of a traffic accident. The
patient came with a good awareness, did not experience fainting before and on
examination found deformity, decrease ROM (Flexion and extention) on dextra
cruris. Patient are diagnosed with close fracture 1/3 medial tibia fibula dextra
with transverse type of fracture. Patient at the emergency room splintted to reduce
mobilization. After doing explained, the patient refused surgery because the
patient there was no money and she don’t have BPJS. The doctor suggest a cast
but the patient refused. Patients then signed informed consent to refuse medical
treatment.

2
BAB III

ANALISA KASUS

A. Kasus I
1. Kaidah Dasar Bioetik
a. Beneficience
No Kriteria Ada Tidak ada
Utamakan alturisme (menolong tanpa
1 √
pamrih, rela berkorban)
Menjamin nilai pokok harkat dan
2 √
martabat manusia
Memandang pasien/keluarga dan
3 √
sesuatu tak sejauh menguntung dokter
Mengusakan agar kebaikan/ manfaatnya
4 lebih banyak dibandingkan dengan √
keburukannya.
Paternalisme bertanggung jawab/ kasih
5 √
sayang
Menjamin kehidupan baik minimal
6 √
manusia
7 Pembatasan Goal-Based √
Maksimalisasi pemuasan
8 √
kebahagiaan/preferensi pasien
9 Minimalisasi akibat buruk. √
Kewajiban menolong pasien gawat
10 √
darurat
Menghargai hak pasien secara
11 √
keseluruhan
Tidak menarik honorarium diluar
12 √
kepantasan
Maksimalisasi kepuasan tertinggi secara
13 √
keseluruhan
Mengembangkan profesi secara terus-
14 √
menerus.
Memberikan obat berkhasiat namun
15 √
murah
16 Menerapkan Golden Rule Principle √

3
b. Non-Maleficience
No Kriteria Ada Tidak ada
1 Menolong pasien emergensi √
Kondisi untuk menggambarkan kriteria
ini adalah:
a. Pasien dalam keadaan berbahaya.
b. Dokter sanggup mencegah bahaya √
atau kehilangan. √
2
c. Tindakan Kedokteran tadi terbukti
efektif √
d. Manfaat bagi pasien > kerugian
dokter (hanya mengalami risiko √
minimal).
3 Mengobati pasien yang luka. √
Tidak membunuh pasien (tidak
4 √
melakukan euthanasia)
5 Tidak menghina/caci maki. √
6 Tidak memandang pasien sebagai objek √
7 Mengobati secara tidak proporsional √
Tidak mencegah pasien secara
8 √
berbahaya
9 Menghindari misrepresentasi dari pasien √
Tidak membahayakan kehidupan pasien
10 √
karena kelalaian
11 Tidak memberikan semangat hidup √
12 Tidak melindungi pasien dari serangan √
Tidak melakukan white collar dalam
13 √
bidang kesehatan

c. Autonomy
No Kriteria Ada Tidak ada
Menghargai hak menentukan nasib
1 √
sendiri, menghargai martabat pasien.
Tidak mengintervensi pasien dalam
2 membuat keputusan (pada kondisi √
elektif)
3 Berterus terang √
4 Menghargai privasi. √
5 Menjaga rahasia pribadi √
6 Menghargai rasionalitas pasien. √
7 Melaksanakan informed consent √
Membiarkann pasien dewasa dan
8 √
kompeten mengambil keputusan sendiri.
Tidak mengintervensi atau menghalangi
9 √
outonomi pasien.

4
Mengcegah pihak lain mengintervensi
pasien dan membuat keputusan,
10 √
termasuk, termasuk keluarga pasien
sendiri.
Sabar menunggu keputusan yang akan
11 diambil pasien pada kasus non √
emergensi.
Tidak berbohong ke pasien meskipun
12 √
demi kebaikan pasien.
Menjaga hubungan
13 √
(kontrak)……………..

d. Justice
No Kriteria Ada Tidak ada
Memberlakukan segala sesuatu secara √
1
universal
Mengambil porsi terakhir dari proses √
2
membagi yang telah ia lakukan.
Memberi kesempatan yang sama √
3 terhadap pribadi dalam posisi yang
sama.
Menghargai hak sehat pasien √
4 (affordability, equality, accessibility,
availability, quality)
5 Menghargai hak hukum pasien. √
6 Menghargai hak orang lain. √
Menjaga kelompok yang rentan (yang √
7
paling dirugikan)
8 Tidak melakukan penyalahgunaan. √
9 Bijak dalam makro alokasi. √
Memberikan kontribusi yang relatif √
10
sama dengan kebutuhan pasien
Meminta partisipasi pasien sesuai √
11
dengan kemampuan.
Kewajiban mendistribusi keuntungan √
12 dan kerugian (biaya, beban, sanksi)
secara adil
Mengembalikan hak kepada pemiliknya √
13
pada saat yang tepat dan kompeten.
Tidak memberi beban berat secara tidak √
14
merata tanpa alasan sah/tepat.
Menghormati hak populasi yang sama- √
15
sama rentan penyakit/ggn kesehatan.
Tidak membedakan pelayanan pasien √
16
atas dasar SARA, status sosial dll.

5
2. Dilema Etik
a. Beneficence: Dokter telah menyarankan untuk segera melakukan
operasi, Karena jika tidak dilakukan operasi patah tulang terbuka
pada kaki kanannya tersebut dapat menyebabkan kecacatan dan
komplikasibila terlambat dalam penanganan.
b. Autonomi: Dokter menjelaskan kondisi penyakit yang dialami
pasien kepada keluarganya, serta penanganan dan resiko terberat
yang mungkin terjadi, tetapi pasien dan keluarganya tetap meminta
untuk tidak melakukan operasi karena tidak mempunyai biaya dan
BPJS, serta keluarga memilih untuk berobat ke sangkal putung,
dokter menghargai pilihan pasien untuk tidak melakukan
operasi.tetapi pada akhirnya kaki pasien gangrene dan pasien
diamputasi

3. Prima Facie
Autonomi

4. “4-Box” Method of Clinical Ethics


a. Medical Indications
Patients with open fracture dextra tibia need immediate surgery
(emergency) which if delayed will result in complications in the
form of tissue death (necrosis)
b. Patient Preferrence
The patient is old enough to reject and decide on medical
treatment.
c. Quality of Life
lower leg limbs that have tissue decay are followed inadequately so
that amputations will later inhibit activity.
d. Contextual Features
Finally it requires greater medical costs because it has to be
amputated.

5. Key Principles of Profesionalism


a. Excelence: Dokter tersebut rajin mengikuti seminar-seminar
tentang kesehatan.
b. Accountability: Dokter menjelaskan tentang kondisi pasien, dan
melakukan informed consent penolakan tindakan.
c. Duty: Dokter menyarankan untuk melakukan tidakan operasi, dan
mengutamakan kesehatan pasien.

6
d. Alturism: Dokter mendahulukan kepentingan pasien.
e. Respect for other: Dokter menghargai keputusan pasien untuk
tidak melakukan operasi.
f. Humanity: Terdapat empati.

6. Ordinary and Extraordinary

B. Kasus II
1. Kaidah Dasar Bioetik
a. Beneficience
No Kriteria Ada Tidak ada
Utamakan alturisme (menolong tanpa
1 √
pamrih, rela berkorban)
Menjamin nilai pokok harkat dan
2 √
martabat manusia
Memandang pasien/keluarga dan
3 √
sesuatu tak sejauh menguntung dokter
Mengusakan agar kebaikan/ manfaatnya
4 lebih banyak dibandingkan dengan √
keburukannya.
Paternalisme bertanggung jawab/ kasih
5 √
sayang
Menjamin kehidupan baik minimal
6 √
manusia
7 Pembatasan Goal-Based √
Maksimalisasi pemuasan
8 √
kebahagiaan/preferensi pasein
9 Minimalisasi akibat buruk. √
Kewajiban menolong pasien gawat
10 √
darurat
Menghargai hak pasien secara
11 √
keseluruhan
Tidak menarik honorarium diluar
12 √
kepantasan
Maksimalisasi kepuasan tertinggi secara
13 √
keselurushan
Mengembangkan profesi secara terus-
14 √
menerus.
Memberikan obat berkhasiat namun
15 √
murah
16 Menerapkan Golden Rule Principle √

7
b. Non-Maleficience
No Kriteria Ada Tidak ada
1 Menolong pasien emergensi √
Kondisi untuk menggambarkan kriteria
ini adalah:
a. Pasien dalam keadaan berbahaya.
b. Dokter sanggup mencegah bahaya
atau kehilangan.
2
c. Tindakan Kedokteran tadi terbukti
efektif
d. Manfaat bagi pasien > kerugian
dokter (hanya mengalami risiko
minimal).
3 Mengobati pasien yang luka. √ √
Tidak membunuh pasien (tidak
4 √
melakukan euthanasia)
5 Tidak menghina/caci maki. √
6 Tidak memandang pasien sebagai objek √
7 Mengobati secara tidak proporsional √
Tidak mencegah pasien secara
8 √
berbahaya
9 Menghindari misrepresentasi dari pasien √
Tidak membahayakan kehidupan pasien
10 √
karena kelalaian
11 Tidak memberikan semangat hidup √
12 Tidak melindungi pasien dari serangan √
Tidak melakukan white collar dalam
13 √
bidang kesehatan

c. Autonomy
No Kriteria Ada Tidak ada
Menghargai hak menentukan nasib
1 √
sendiri, menghargai martabat pasien.
Tidak mengintervensi pasien dalam
2 membuat keputusan (pada kondisi √
elektif)
3 Berterus terang √
4 Menghargai privasi. √
5 Menjaga rahasia pribadi √
6 Menghargai rasionalitas pasien. √
7 Melaksanakan informed consent √
Membiarkann pasien dewasa dan
8 √
kompeten mengambil keputusan sendiri.
Tidak mengintervensi atau menghalangi
9 √
outonomi pasien.

8
Mengcegah pihak lain mengintervensi
pasien dan membuat keputusan,
10 √
termasuk, termasuk keluarga pasien
sendiri.
Sabar menunggu keputusan yang akan
11 diambil pasien pada kasus non √
emergensi.
Tidak berbohong ke pasien meskipun
12 √
demi kebaikan pasien.
Menjaga hubungan
13 √
(kontrak)……………..

d. Justice
No Kriteria Ada Tidak ada
Memberlakukan segala sesuatu secara
1 √
universal
Mengambil porsi terakhir dari proses
2 √
membagi yang telah ia lakukan.
Memberi kesempatan yang sama
3 terhadap pribadi dalam posisi yang √
sama.
Menghargai hak sehat pasien
4 (affordability, equality, accessibility, √
availability, quality)
5 Menghargai hak hukum pasien. √
6 Menghargai hak orang lain. √
Menjaga kelompok yang rentan (yang
7 √
paling dirugikan)
8 Tidak melakukan penyalahgunaan. √
9 Bijak dalam makro alokasi. √
Memberikan kontribusi yang relatif
10 √
sama dengan kebutuhan pasien
Meminta partisipasi pasien seusai
11 √
dengan kemampuan.
Kewajiban mendistribusi keuntungan
12 dan kerugian (biaya, beban ., sanki) √
secara adil
Mengembalikan hak kepada pemiliknya
13 √
pada saat yang tepat dan kompeten.
Tidak memberi beban berat secara tidak
14 √
merata tanpa alasan sah/tepat.
Menghormati hak populasi yang sama-
15 √
sama rentan penyakit/ggn kesehatan.
Tidak membedakan pelayanan pasien
16 √
atas dasar SARA, status sosial dll.

9
2. Dilema Etik
a. Non –Maleficence: Dokter memberikan terapi dan menyarankan
agar pasien tetap di rawat inap di Rumah Sakit
b. Autonomi: Dokter menjelaskan kondisi penyakit yang dialami
pasien kepada keluarganya, serta diperlukan agar tetap dirawat
inap namun pasien menolak untuk tetap dirawat inap

3. Prima Facie
Autonomi

4. “4-Box” Method of Clinical Ethics


a. Medical Indications
Pasien di diagnosis diare akut dengan dehidrasi berat yang
memerlukan terapi cairan.

b. Patient Preferrence
Tindakan medis yang dilakukan oleh dokter atas persetujuan
keluarga karena pasien belum bisa berbicara dan masih dibawah
umur.

c. Quality of Life
Setelah diberikan terapi cairan dan dirawat inap 1 malam, keadaan
pasien sedikit membaik namun pasien menolak agar tetap dirawat
inap dan menandatangani surat pulang paksa

d. Contextual Features
Pasien berasal dari ekonomi rendah, karena menolak untuk tetap
dirawat inap di Rumah Sakit akibat tidak mampu membayar biaya
rawat inap dan tidak memiliki BPJS.

5. Key principles of profesionalism


a. Excelence: Dokter tersebut rajin mengikuti seminar-seminar
tentang kesehatan.
b. Accountability: Dokter menjelaskan tentang kondisi pasien.
c. Duty: Dokter melakukan tindakan untuk mengatasi kemungkinan
terburuk pada kondisi pasien.
d. Alturism: Dokter mendahulukan kepentingan pasien.

10
e. Respect for other: Dokter menghargai penolakan dari keluarga
pasien untuk tetap di rawat inap.
f. Humanity: Terdapat empati.

6. Ordinary and Extraordinary

11
DAFTAR PUSTAKA

1. Ameln, F. 1991, Kapita Selekta Hukum Kedokteran, Gafikatama Jaya,


Jakarta.

12