You are on page 1of 8

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Bahan Baku dan Bahan Penunjang


Salah satu faktor yang menentukan dalam pembuatan pra-rancangan suatu
pabrik dengan mengetahui sifat-sifat kimia dan fisika dari bahan yang ikut
berperan didalamnya. Karena dengan mengetahui sifat-sifat tersebut maka dapat
ditentukan peralatan yang akan digunakan dan kondisi operasi yang
memungkinkan agar pra-rancangan ini dapat berjalan dengan benar dan lancar.
Menurut Masiyal Kholmi (2003) bahan baku adalah bahan yang
membentuk bagian besar produk jadi. Dalam pembuatan Hexmine ada beberapa
bahan baku utama yang dapat digunakan seperti monik dan formaldehid.

2.1.1 Amoniak
Amonia adalah senyawa kimia dengan rumus molekul NH3 yang terdiri dari
3 atom hydrogen dan 1 atom nitrogen. Biasanya senyawa ini terdapat dalam fase
gas dengan bau tajam yang khas. Amonia umumnya bersifat basa (pKb=4.75),
namun dapat juga bertindak sebagai asam lemah (pKa=9.25). Amonia bersifat
basa lemah karena larutan basa tidak berubah seluruhnya menjadi ion hidroksida
dalam larutan.
Sifat Fisik :
a. Berat molekul : 17,03 kg/kg mol
b. Fase : cair
c. Warna : tak berwarna
d. Titik didih : -33,35 °C (101,3 KPa)
e. Titik leleh : -77,7 °C
f. Specific heat : 2097,2 (0°C); 2226,2 (100°C)
g. Kelarutan dalam air (%wt) : 42,8 (0°C); 14,1 (60°C)
h. Specific gravity : 0,690 (-40°C); 0,639 (0°C); 0,590 (40°C)
i. Berat jenis (%wt) : 970 kg/m3 (8°C); 618 kg/m3 (100°C)
9
10

Sifat Kimia :
a. Amonia bereaksi dengan formaldehid menghasilkan
hexamethylenetetramine dan air, reaksinya sebagai berikut :
6CH2O + 4NH3 → (CH2)6N4 + 6H2O
b. Amonia stabil pada temperatur sedang, tetapi terdekomposisi menjadi
hidrogen dan nitrogen pada temperatur yang tinggi, pada tekanan
atmosfer dekomposisi terjadi pada 450 – 500o C.
c. Oksidasi amonia pada temperatur yang tinggi menghasilkan nitrogen dan
air.
d. Reaksi antara amonia dan karbondioksida menghasilkan ammonium
carbamat, reaksinya sebagai berikut :
2NH3 + CO2 → NH2CO2NH4
Ammonium carbamat kemudian terdekomposisi menjadi urea dan air.
e. Ammonium bereaksi dengan uap phospor pada panas yang tinggi
menghasilkan nitrogen dan phospine.
Reaksinya sebagai berikut :
2NH3 + 2P → 2PH3 + N2
f. Belerang dan ammonia anhidrat cair bereaksi menghasilkan hidrogen
sulfit. Reaksinya sebagai berikut :
10S + 4NH3 → 6H2S + N4S4
g. Pemanasan amonia dengan logam yang reaktif seperti magnesium
menghasilkan magnesium nitrit.
Reaksinya sebagai berikut :
3Mg + 2NH3 → Mg3N2 + 3H2
h. Reaksi antara amonia dan air bersifat reversibel. Reaksinya sebagai
berikut :
NH3 + H2O ↔ NH4+ + OH
Kelarutan amonia turun dengan cepat dengan naiknya temperatur.
11

i. Halogen bereaksi dengan ammonia. Klorin dan bromin melepaskan


nitrogen dan ammonia yang berlebihan menghasilkan garam-garam
amonium

2.1.2 Formaldehid
Formaldehid adalah senyawa organic dengan struktur CH20, biasanya
berbentuk gas atau larutan. Larutan ini mempunyai sifat tidak berwarna atau
hamper tidak berwarna seperti air, sedikit asam baunya sangat menusuk dan
korosif, terurai jika dipanaskan dan melepaskan asam formiat. Formaldehid
merupakan reduktor kuat yang bereaksi kuat dengan bahan pengoksidasi dan
berbagai senyawa organic.
Sifat Fisik :
a. Berat molekul : 30,03 kg/kg mol
b. Fase : cair
c. Berat jenis : 815,3 kg/m3 (-20 °C) 915,1 kg/m3 (-80 °C)
d. Titik cair : -118 o C
e. Suhu kritis : 137,2 – 141,2 °C
f. Tekanan kritis : 6,784 – 6,637 Mpa
g. Entropi : 218,8 J/mol.K
h. Panas pembakaran : 561 KJ/mol
Sifat Kimia :
a. Bereaksi dengan amonia membentuk hexamine dan air
1. 6CH2O + 4NH3 → (CH2)6N4 + 6H2O
b. Bereaksi dengan asetaldehid pada fase cair membentuk pentaeritriol
1. CH3CHO + 3CH2O → C(CH2OH)3CHO

2. C(CH3O)3CHO + CH2OH + NaOH → C(CH3OH)4 + HCO2Na


c. Pada kondisi katalis asam dan fase cair formaldehid bereaksi dengan
alkohol membentuk formals misalnya, dimetoksimetana dari metanol.
1. Reaksinya sebagai berikut :
CHOH + 2CH3OH → CH3OCH2OCH3 + H2O (Kirk & Othmer, 1998)
12

2.2 Produk
Produk yang dihasilkan dari prarancangan pabrik ini adalah Heksamin atau
Hexamethylenetetramine. Bahan ini merupakan senyawa sintetik organik dengan
rumus kimia (CH2)6N4 (Roth, 2016).

2.2.1 Heksamin
Heksamin (hexamethylenetetramine) merupakan senyawa sintetik organik
dengan rumus kimia C6H12N4, berwarna putih, tidak berbau, dan merupakan
padatan kristal yang dapat terurai pada temperatur tinggi. Heksamin bersifat basa
lemah, larut dalam air, alkohol atau eter (Roth,2016). Heksamin terbuat dari
amoniak dan formaldehid (US Patent 2640826-A).
Berikut adalah sifat fisik dan sifat kimia heksamin
Sifat Fisik :
a. Rumus Molekul : C6H12N4
b. Berat Molekul (BM) : 140.2 Kg/Kmol
c. Fase : Padat
d. Bentuk : Kristal
e. Specific gravity : 1.270 (25°C)
f. Warna : Putih
g. Titik sublimasi : 263°C
h. Titik nyala : 250°C
i. pH (Larutan 10%) : 7.5-9.0 (air: 100g/l, 20°C)
j. Densitas : 1.331 gr/cm3 pada 20°C
k. Kelarutan dalam air : 46.5 g/100g pada 25°C
43.4 g/100g pada 70°C
l. Kemurnian : min 99 %
(Roth,2016).
Sifat Kimia :
a. Pada reaksi nitrasi hexamine akan dihasilkan cyclotrimethylene trinitramine
atau lebih populer dengan sebutan RDX yang mempunyai daya ledak tinggi.
13

b. Hexamine tidak bereaksi dengan alkohol pada kondisi netral ataupun biasa,
tetapi bereaksi pada kondisi asam membentuk garam amonium reaksinya
sebagai berikut:
𝐶6𝐻12𝑁4 + 12𝑅 − 𝑂𝐻 + 4𝐻𝐶𝑙 → 𝑁𝐻4𝐶𝑙 + 6𝐶𝐻2(𝑂 − 𝑅)2

c. Jika hexamine dipanaskan dengan asam kuat dan fase cair akan terhidrolisis
membentuk formaldehid dan garam amonium.
Reaksi yang terjadi:
𝐶6𝐻12𝑁4 + 4𝐻𝐶𝑙 + 6𝐻2𝑂 → 6𝐻2𝑂 + 𝑁𝐻4𝐶𝑙
(Kirk and Orthmer, 1993).
2.3 Proses Pembuatan Heksamin
Dalam pembutan heksamin secara komersial dengan bahan baku
amoniak dan formaldehid dikenal 3 (tiga) macam proses, yaitu :

2.3.1 Proses Meissner


Proses ini dikembangkan oleh Firtz Meissner pada tahun 1950. Proses
pembuatan dengan bahan baku fasa gas, yaitu gas ammonia dan gas formaldehid.
Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :
6CH2O(g) + 4NH3(g) → C6H12N4(s) + 6H2O(l)
Formaldehid dan ammonia dialirkan dari masing-masing tangki nya ke
dalam reaktor. Reaksi yang terjadi sangat cepat sehingga yang mengontrol
kecepatan reaksi adalah kecepatan pembentukan kristal heksamin. Panas yang
dihasilkan digunakan untuk menguapkan air hasil reaksi. Reaktor pada proses ini
didesain secara khusus agar selain berfungsi sebagai tempat reaksi antara gas
ammonia dan gas formaldehid, juga digunakan sebagai evaporator dan kristalizer.
Reaktor berjumlah dua buah dan saling berhubungan dengan suhu reaksi 20-30°C.
untuk menjaga suhu reaksi digunakan gas inert ataupun dengan pengaturan
tekanan total saat campuran dalam reaktor mendidih. Hal ini untuk mengurangi
kebutuhan pendingin. Produk heksamin keluar reaktor dengan konsentrasi 25 – 30
%.
Dengan adanya panas yang terbentuk, heksamin dapat dikristalkan
langsung di dalam reaktor. Uap dari eaktor dikondensasikan sedangkan bahan
14

inert serta impuritas seperti metanol dibuang dari bagian atas reaktor seperti waste
gas. Gas ini masih mengandung hidrogen 18 – 20 % dan dapat dimanfaatkan
sebagai bahan bakar. Dari reaktor produk masuk ke dalam centrifuge untuk dicuci
dengan air kemudian dikeringkan dan dipasarkan. Konversi dari proses ini adalah
97 % dan yield proses ini mencapai 95 %. (European Patent Office no. 0468353b)

2.3.2 Proses Leonard


Pada proses ini bahan baku yang digunakan dalam fasa cair, yaitu amonia
cair dan larutan formaldehid dengan konsentrasi 37%. Reaksi yang terjadi adalah
sebagai berikut : 6CH2O(aq) + 4NH3(l) (CH2)6N4(s) + 6H2O(l)
Reaksi berlangsung pada suhu 30 – 50°C dengan pH 7-8. Untuk
mempertahankan suhu digunakan pendingin air. Larutan formaldehid yang
mengandung metanol kurang dari 2 % diumpankan bersama dengan amonia cair
ke dalam reaktor. Produk yang keluar dari reaktor kemudian masuk ke dalam
evaporator. Di dalam evaporator terjadi penguapan sisa–sisa reaktan dan mulai
terjadi proses pengkristalan. Produk yang keluar evaporator kemudian dialirkan ke
dalam centrifuge dan dikeringkan di dryer, setelah itu produk kemudian dikemas.
Dengan proses ini dapat diperoleh yield overall sebesar 95 – 96 %
berdasarkan reaktan formaldehid. (Kent, J. A., 1974). Konversi dari reaksi
pembuatan heksamin dari amonia dan formaldehid pada proses ini adalah 98 %.
(Kermode & Stevens, 1965)

2.3.3 Proses AGF Lefebvre


Pada proses ini bahan baku yang digunakan yaitu larutan formaldehid bebas
metanol sebesar 30-37 % berat dan gas anhidrat amonia. Reaksi yang terjadi
adalah sebagai berikut :
6CH2O(aq) + 4NH3(g) C6H12N4(s) + 6H2O(l)
Bahan baku formaldehid diumpankan ke dalam reaktor yang dilengkapi
dengan pengaduk dan gas amonia anhidrat diumpankan secara perlahan dari
bagian bawah reaktor. Reaksi berlangsung dalam kisaran suhu 20 – 30°C dan
merupakan reaksi eksotermis sehingga membutuhkan pendingin. Untuk
menyempurnakan reaksi maka digunakan amonia berlebih. Produk yang keluar
15

dari reaktor kemudian masuk ke dalam vaccum evaporator. Dalam evaporator


bahan mengalami pemekatan dan pengkristalan. Kristal yang terbentuk
dikumpulkan dibagian bawah evaporator yaitu di dalam salt box kemudian
diumpankan kedalam centrifuge untuk memisahkan kristal heksamin dan air.
Untuk memperoleh bahan dengan kemurnian yang tinggi, air yang masih banyak
mengandung kristal heksamin (mother liquor) yang keluar dari centrifuge
dikembalikan ke evaporator. Setelah itu produk dikeringkan dan dikemas. Dengan
proses ini mempunyai konversi 97 % dan didapatkan yield sebesar 95 % (Gupta,
R. K., 1987).

2.3 Pemilihan Proses


Dari uraian deskripsi proses diatas maka dapat dibandingkan antara ketiga
proses yaitu, Proses Meissner, Proses Leonard, dan Proses AGF Lefebvre sebagai
berikut:
Tabel 2.3.1 Tabel Perbandingan Proses Pembuatan Heksamin

Jenis Proses
Uraian
Meissner Leonard AGF Lefebvre

Bahan Gas Amoniak dan Gas Larutan Amoniak Larutan


Baku Formaldehid dan Larutan Formaldehid 37%
Formaldehid 37% dan Gas Amoniak

Kondisi Temperatur: 30- Temperatur: 20-


Temperatur: 20-30°C
Operasi 50°C 30°C

Tekanan: 1 atm Tekanan : 16 atm Tekanan: 1 atm

Sifat Reaksi: Sifat Reaksi: Sifat Reaksi:


Eksotermis Eksotermis Eksotermis

Fase: Gas-gas Fase: Cair-cair Fase: Cair-gas

Jumlah
2 1 1
Reaktor
16

Konversi 97%, 98%, 97%,


Hasil
Air Air Air
Samping
Yield 95% 96% 95%
Kemurnian
95% 99,55% 95%
Produk

Dari ketiga macam proses di atas maka dalam prarancangan pabrik


hexamine ini dipilih proses Leonard dengan 4 pertimbangan.
1. Pada proses Leonard hanya diperlukan 1 reaktor, Pada proses meissner
digunakan 2 reaktor, sedangkan pada proses AGF Lefebvre setelah dari
reaktor masih memerlukan pendingin dan separator untuk memisahkan
fasa gas-cair.
2. Reaksi yang berlangsung merupakan reaksi homogen, fase cair sehingga
penanganan lebih mudah jika dibandingkan dengan reaksi fase heterogen
yaitu gas dan cair.
3. Konversi yang dihasilkan dari proses Leonard cukup besar yaitu 98% dan
yield 96% dibandingkan dengan proses Meissner yaitu konversi 97% dan
yield 95% dan proses AGF Lefebvre yaitu konversi 97% dan yield 95%.
4. Ketersediaan bahan baku di Indonesia yaitu ammonia cair dan larutan
formaldehid dalam jumlah yang besar.