BAB I .

PENDAHULUAN

I.

LATAR BELAKANG Target MDG (Millennium Development Goals) yang ingin dicapai pada

akhir tahun 2015, yang berkaitan dengan pembangunan kesehatan di Indonesia antara lain adalah: (1) mengurangi separuh penduduk yang mengalami kelaparan, (2) mengurangi dua per tiga angka kematian bayi dan angka kematian balita, (3) mengurangi tiga per empat angka kematian ibu, (4) menekan penyebaran penyakit HIV/AIDS, (5) menekan penyebaran penyakit malaria dan TBC, (6) meningkatkan akses terhadap obat esensial, dan (7) mengurangi separuh proporsi penduduk yang tidak memiliki akses terhadap penyediaan air bersih. Masalah kesehatan dapat disebabkan oleh berbagai sebab, oleh karena itu secara operasional masalah-masalah kesehatan tidak dapat diselesaikan oleh sektor kesehatan sendiri. Diperlukan tatalaksana terintegrasi dan komprehensif dengan kerjasama yang harmonis antar sektor dan antar program. Untuk itu perlu dikembangkan subsistem surveilans epidemiologi kesehatan yang terdiri dari Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular, Surveilans Epidemiologi Penyakit Tidak Menular, Surveilans Epidemiologi Masalah Kesehatan. Penyakit menular masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat Indonesia, disamping mulai meningkatnya masalah penyakit tidak menular. Penyakit menular tidak mengenal batas-batas daerah administratif, sehingga pemberantasan penyakit menular memerlukan kerjasama antar daerah, misalnya antar propinsi, kabupaten/kota bahkan antar negara. Beberapa penyakit menular

1

yang menjadi masalah utama di Indonesia adalah diare, malaria, demam berdarah dengue, TB Paru, influenza, tifus abdominalis, penyakit saluran pencernaan dan penyakit lainnya. Masalah ini dilatarbelakangi adanya kecenderungan terus meningkatnya wabah penyakit menular di berbagai daerah di Indonesia. Selain penyakit menular yang telah lama ada, penyakit menular baru (new emerging diseases) juga menunjukkan peningkatan. Kebijakan penanggulangan wabah penyakit menular telah diatur dalam peraturan perundangan. Namun demikian implementasi di lapangan masih menghadapi berbagai permasalahan. Beberapa permasalahan yang teridentifikasi antara lain berkaitan dengan (1) pelaksanaan program TB, (2) upaya penanggulangan. Berdasarkan hasil penelitian WHO. Tuberkulosis merupakan penyebab kematian ke-3 (tiga) terbanyak di Indonesia, Diperkirakan setiap tahun ada 539.000 orang meninggal karena TB. TB dapat disenbuhkan jika pasien menelan obat teratur 6-8 bulan sesuai dengan petunjuk. Berdasarkan data Puskesmas tahun 2007 penderita TB untuk wilayah Kelurahan 15 Ulu sebanyak 5 orang, 1 meninggal, sembuh 1, menurut acuan Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan Menkes RI Nomor :

1091/MENKES/SK/X/2004

yaitu

Kesembuhan penderita TBC BTA positif

adalah penderita TBC BTA positif yang sembuh diakhir pengobatan 85 % di Wilayah kerja Puskesmas. Cara Perhitungannya adalah :
Jumlah penderita baru TBC BTA + yang sembuh Kesembuhan penderita TBC BTA + = ---------------------------------------------------------Jumlah penderita baru TBC BTA + yang diobati x 100%

2

1 Penderita TBC tahun 2007 = --------------- x 100% = 20 % 5 Hasil ini menunjukan bahwa hasil yang didapatkan belum memenuhi standar. Penderita TBC tahun 2008, sebanyak 10 orang, sembuh sebanyak 4 orang, yaitu sebesar 40 %. Penderita TBC tahun 2009 sebanyak 16 orang, sembuh sebanyak 7 orang , yaitu sebesar 47,75 %. II. RUMUSAN MASALAH Rendahnya realisasi / cakupan (20 %; 40 %; 47,75 %) pencapaian kesembuhan penderita TBC BTA positif dari target ( 85 %) pada tahun 2007 s.d. tahun 2009 di Wilayah Kerja Puskesmas OPI Kota Palembang..

III.

PERTANYAAN PENELITIAN 1. Apakah penyebab rendahnya pencapaian kesembuhan penderita TBC BTA positif dari target ( 85 %) ? 2. Apa kegiatan prioritas pemecahan masalah dari cakupan pengobatan penderita TBC BTA positif ? 3. Bagaimana rencana kegiatan operasional pemecahan masalah dari cakupan pengobatan penderita TBC BTA positif ? 4. Apa kegiatan pemecahan masalah terpilih dan rencana kegiatan operasional ? 5. TOR (Term of Reference)

3

IV.

TUJUAN PENELITIAN IV.1. TUJUAN UMUM Diperolehnya informasi dan penyelesaian penyebab rendahnya pencapaian kesembuhan penderita TBC BTA positif dan rencana kegiatan operasional pemecahan masalah rendahnya pencapaian kesembuhan penderita TBC BTA positif dari target ( 85 %) di Wilayah Puskesmas OPI Palembang IV.2. TUJUAN KHUSUS 1. Diketahuinya kedudukan, fungsi, tugas dan tujuan organisasi 2. Diketahuinya identifikasi masalah dari prioritas masalah 3. Ditetapkan tujuan atas prioritas masalah 4. Diketahuinya identifikasi penyebab masalah 5. Diketahuinya alternatif pemecahan masalah 6. Tersusunya rencana kegiatan operasional 7. Tersusunya Kerangka Acuan / Term Of Refrent (T O R)

V.

RUANG LINGKUP V.1. V.2. Tempat Di Puskesmas OPI Palembang Waktu Kegiatan Praktikum Administrasi dan Kebijakan Kesehatan AKK dengan waktu 15 (lima belas) hari , mulai tanggal 8 Maret sampai dengan 20 Maret 2010.

4

VI.

MANFAAT PENELITIAN 1. Bagi Puskesmas Mendapatkan pemecahan masalah untuk meningkatkan pencapaian cakupan kesembuhan penderita TBC BTA positif ( 85 %) di Wilayah Puskesmas OPI Palembang. 2. Bagi STIK BINA HUSADA Untuk menambah informasi, khususnya mengenai keteraturan berobat TB paru dan menjadikan acuan penelitian selanjutnya. 3. Bagi peneliti Hasil dari Praktikum AKK ini dapat berguna untuk mendapatkan penyebab dan hubungan antara hasil cakupan yang tidak sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal Puskesmas dengan Administrasi

Kebijakan Kesehatan.

5

sedangkan Puskesmas bertanggungjawab hanya untuk sebagai upaya pembanguan kesehatan yang dibebankan oleh dinas kesehatan kabupaten/kota sesuai dengan kemampuannya. PUSKESMAS Puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupatan/kota yang bertanggungjawab menyelenggarakan pembanguan kesehatan di suatu wilayah kerja tertentu.BAB II . kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal. 3. 6 . Pertanggungjawaban penyelenggaraan Penanggungjawab utama penyelenggaraan seluruh upaya pembangunan kesehatan di wilayah kabupaten/kota adalah Dinas Kesehatan Kabupaten/Kkota. 1. Pembangunan Kesehatan Pembangunan Kesehatan adalah penyelenggaraan upaya kesehatan oleh bangsa Indonesia untuk meningkatkan kesadaran. Puskesmas berperan menyelenggarakan sebagian sebagian dari tugas teknis operasional dinas kesehatan kabupaten/kota dan merupakan unit pelaksana tingkat pertama serta ujung tombak pembangunan kesehatan di Indonesia. Unit Pelaksana Teknis Sebagai Unit pelaksana Teknis Dinas kesehata kabupaten/kota (UPTD). 2. TINJAUAN PUSTAKA I.

I.. standar wilayah kerja Puskesmas adalah satu kecamatan. Menggerakan dan masyarakat di wilayah kerjakkan pembangunan berwawasan kesehatan di wilayah kerjanya. VISI Visi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh puskesmas adalah tercapainya Kecamatan Sehat menuju terwujudnya Indonesia Sehat.1. yakni masyarakat yang hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku sehat.4. dengan memperhatikan kebutuhan konsep wilayah (desa/kelurahan atau RW). Wilayah Kerja Secara nasional. Misi tersebut adalah : 1.2. Masing-masing Puskesmas tersebut secara operasional bertanggungjawab kepada dinas kesehatan kabupaten/kota. MISI Misi pembangunan Kesehatan yang diselenggarakan oleh Puskesmas adalah mendukung tercapainya misi pembangunan kesehatan nasional. maka tanggung jawab wilayah kerja dibagi antar Puskesmas. Tetapi apabila disatu kecamatan terdapat lebih dari satu Puskesmas. I. 7 . Kecamatan Sehat adalah gambaran masyarakat kecamatan masa depan yang ingin dicapai melalui pembangunan kesehatan. memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata serta memiliki derajat kesehatan yang setinggitingginya.

kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang yang bertempat tinggal di wilayah kerja Puskesmas agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dalam rangka mewujudkan Indonesia Sehat 2010. Pusat Pemberdayaan Masyarakat 8 .2. mengupayakan pemerataan pelayanan kesehtan serta meningkatkan efisiensi pengelolaan masyarakat. Pusat Penggerak Pembanguanan Berwawasan Kesehatan 2. Memelihara dan meningkatkan kesehatan perorangan. 4. TUJUAN Tujuan Pembangunan Kesehatan yang diselenggarakan oleh Puskesmas adalah mendukung tercapainya tujuan pembangunan kesehatan nasional yakni meningkatkan kesadaran. I. FUNGSI dana sehingga dapat dijangkau oleh seluruh anggota Fungsi Puskesmas meliputi : 1. Mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat di wilayah kerjanya. Memelihara dan meningkatkan mutu. I. pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan Puskesmas akan selalu berupaya menyelenggrakan pelayanan kesehatan yang sesuai standar dan memuaskan masyarakat.3.V. keluarga dan masyarakat beserta lingkungan. 3.

Simon Organisasi adalah sebagai pola komunikasi yang lengkap dan hubungan-hubungan lain di dalam suatu kelompok orang-orang (Organization 9 . Disini juga dapat diartikan organisasi ialah suatu wadah atau tempat untuk melakukan kegiatan bersama.3. Pusat Pelayanan Kesehatan Strata Pertama II. Macam-macam teori organisasi James D. agar dapatmencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama. A. ORGANISASI I. Millet Organisasi adalah sebagai kerangka struktur dimana pekerjaan dari beberapa orang diselenggarakan untuk mewujudkan suatu tujuan bersama (Organization is the structural framework within which the work of many individuals is carried on for the realization of common purpose). Mooney Organisasi adalah sebagai bentuk setiap perserikatan orang-orang untuk mencapai suatu tujuan bersama (Organization is the form of every human association for the attainment of common purpose). Herbert. PENGERTIAN ORGANISASI Organisasi adalah suatu kerjasama sekelompok orang untuk mencapai tujuan bersama yang diinginkan dan mau terlibat dengan peraturan yang ada.1. John D.

Largely a matter of relationship). 10 . dus dengan demikian pekerjaan dapat dikoordinasikan oleh perintah para atasan kepada para bawahan yang menjangkau dari puncak sampai ke dasar dari seluruh badan usaha (Organization is the means of interrelating the subdivisions of work by allotting them to men who are placed in a structure of authority. reaching from the top to the bottom of the entire enterprise). Chester L. James D.is the complex pattern of communication and other relations in a group of human being). Luther Gulick Organisasi adalah sebagai suatu alat saling hubungan satuan-satuan kerja yang memberikan mereka kepada orang-orang yang ditempatkan dalam struktur kewenangan. yang sebagian besar tentang persoalan silaturahmi (Organization is a system of cooperative activities of two or more person something intangible and impersonal. Bannard Organisasi adalah sebagai sebuah sistem tentang aktivitas kerjasama dua orang atau lebih dari sesuatu yang tidak berwujud dan tidak pandang bulu. Money Organisasi timbul bilamana orang-orang yang bergabung di dalam suatu usaha mencapai tujuan bersama. so that the work may be coordinated by orders of superiors to sub ordinates.

Chester I. serta terdiri dari banyak sub-grup. yaitu organisasi sebagai wadah tempat dimana kegiatan kerjasama dijalankan. Dalam arti statis. 2) organisasi sebagai sekelompok orang yang berkerjasama untuk mencapai suatu tujuan bersama (Monir H. yaitu: 1) Organisasi sebagai suatu sistem terbuka yang terdiri atas sub-sistem yang saling berkaitan. susunan hierarki serta segmen yang tersebar secara geografis. yaitu: 1. mau bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama. Schein. Organisasi dapat dilihat dengan dua cara berbeda. Organisasi dapat diartikan dalam dua macam. 11 . unit-unit jabatan. Barnard Organisasi ada bila orang-orang berhubungan satu dengan yang lain. ada kerjasama ada komunikasi antar satu anggota dengan yang lain. Thayeb). yang memiliki interaksi konstan dengan lingkungannya. Organisasi merupakan suatu sistem terbuka. Ciri-ciri organisasi ialah: 1) 2) 3) 4) terdiri daripada dua orang atau lebih. dan memperoleh input untuk diolah yang berasal dari lingkungan serta menyalurkan output hasil pengolahan ke lingkungan kembali. ada tujuan yang ingin dicapai.

Dalam arti dinamis. 12 . Organisasi publik sering dilihat pada bentuk organisasi pemerintah yang dikenal sebagai birokrasi pemerintah (organisasi pemerintahan). administrasi pemerintahan. baik formal maupun informal. membunuh rakyat (hukuman mati). 7) Serta menjatuhkan hukuman sebagai sanksi penegakan peraturan. 3) Mempunyai kewenangan yang absah (terlegitimasi) di bidang politik. Suatu organisasi harus memuat 4 unsur utama. Organisasi Publik yaitu : 1) Organisasi yang terbesar. Atau satu-satunya organisasi didunia yang mempunyai wewenang merampok harta rakyat (pajak). 2) Psychosocial system (sistem hubungan sosial) 3) Structured activities 4) Technological system. dan memenjarakan rakyat. dan hukum secara terlembaga. 4) Sehingga mempunyai kewajiban melindungi warga negaranya.2. yaitu: 1) Goals oriented (berorientasi tujuan). 5) Melayani keperluannya. 2) Yang mewadahi seluruh lapisan masyarakat dengan ruang lingkup negara. 6) Sebaliknya berhak pula memungut pajak untuk pendanaan. yaitu organisasi sebagai suatu sistem proses interaksi antara orang-orang yang bekerjasama.

KEDUDUKAN Kedudukan Puskesmas dibedakan menurut keterkaitannya dengan dengan Sistem Kesehatan Masyarakat. Sistem Kesehatan Kabupaten /Kota dan Sistem Pemerintahan Daerah : 1. poliklinik dan balai kesehatan 13 . Sistem Kesehatan Nasional Kedudukan Puskesmas dalam Sistm Kesehatan Nasional adalah sebagai sarana pelayanan kesehatan strata pertama yang bertanggungjawab menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya. 3. ORGANISASI PUSKESMAS I. praktek dokter gigi.2.I. Sistem Pemerintahan Daerah Kedudukan Puskesmas dalam Sistem Pemerintahan Daerah adalah sebagai unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota yang merupakan unit structural Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota bidang kesehatan di tingkat kecamatan. 4. praktek bidan.2. Sistem Kesehatan Kabupaten /Kota Kedudukan Puskesmas dalam Sistem Kesehatan Kabupaten/Kota adalah sebagai Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan kabupaten/kota yang bertanggung jawab menyelenggarakn sebagian tugas pembangunan kesehatan Kabupaten/Kota di wilayah kerjanya.1. 2. Antar Sarana Pelayanan Kesehatan Strata Pertama Di wilayah kerja Puskesmas terdapat berbagai organisasi pelayanan kesehatan strata pertama yang dikelola oleh lembaga masyarakat dan swasta seperti praktek dokter.

polinde. Unit Pelaksana Teknis Fungsional Puskesmas: 14 . Penyusunan struktur organisasi Puskesmas di satu kabupaten/kota dilakukan oleh dinas kesehatan kabupaten/kotA. Kedudukan Puskesmas di antara berbagai sarana pelayanan kesehatan strata pertama ini adalah mitra.2. sedangkan penetapannya dilakukan dengan Peraturan Pemerintah. Di wilayah kerja Puskemas terdapat pula berbagai bentuk upaya kesehatan berbasis dan bersumberdaya masyarakat seperti posyandu. Struktur Organisasi Struktur organisasi Puskesmas tergantung dari kegiatan dan beban tugas masingmasing Puskesmas. ORGANISASI PUSKESMAS 1. Pos Obat Desa dan Pos UKK.2.masyarakat. Unit Tata Usaha yang bertanggungjawab membantu Kepala Puskesmas dalam pengelolaan : • • • • Data dan informasi Perencanaan dan Penilaian Keuangan Umum dan Kepegawaian c. Kepala Puskesmas b. Sebagai acuan dapatdipergunakan pola struktur organisasi Puskesmas sebagai berikut: a. I. Kedudukan puskesmas di antara berbagai sarana pelayanan kesehatan dan bersumberdaya masyarakat adalah sebagai Pembina.

Dengan Kantor Kecamatan 15 . Dalam keadaan tidak tersedia tenaga yang memenuhi syarat untuk menjabat jabatan eselon III-B.3.Khusus untuk Kepala Puskesmas criteria tersebut dipersyaratkan harus seorang sarjana di bidang kesehatan yang kurikulum pendidikannya mencakup kesehatan masyarakat. Jaringan Pelayanan Puskesmas: • • Unit Puskesmas Pembantu Unit Bidan di desa/komunitas 2. Eselon Kepala Puskesmas Kepala puskesmas adalah penanggungjawab pembangunan kesehatan di tingkat kecamatan. Sesuai dengan tanggungjawab tersebut dan besarnya peran Kepala Puskesmas dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan di tingkat kecamatan maka jabatan Kepala Puskesmas setingkat dengan Eselon III-B. dengan kewenanganyang setara dengan pejabat tetap. ditunjuk pejabat sementara yang sesuai dengan criteria Kepala Puskesmas yakni seorang sarjana di bidang kesehatan yang kurikulum pendidikannya mencakup bidang kesehatan masyarakat.• • Upaya Kesehtan Masyarakat. I. Kriteria Personalia Kriteria personalia yang mengisi struktur organisasi Puskesmas disesuaikan dengan tugas dan tanggungjawab masing-masing unit Puskesmas. termasuk pembinaan terhadap UKBM Upaya kesehatan perorangan. 3. TATA KERJA PUSKESMAS 1.

koordinasi dengan kantor Kecamatan mencakup pula kegiatan fasilitasi. 3. Untuk Upaya kesehatan perorangan jalinan kerjasama tersebut diselenggarakan dengan berbagai sarana pelayanan kesehatan perorangan seperti 16 . Kondisi tersebut mencakup perencanaan. Sedangkan sebagai Pembina upaya kesehatan bersumberdaya dan masyarakat. 2. Dengan Jaringan Pelayanan Kesehatan Strata Pertama Sebagai mitra pelayanan kesehatan strata pertama yang dikelola oleh lembaga masyarakat dan swasta. penggerakan. Dengan jaringan Pelayanan Kesehatan Rujukan Dalam menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehtan masyarakat. pelaksanaan fungsi penggalian sumberdaya masyarakat oleh Puskesmas. Puskesmas menjalin kerjasama yang erat dengan berbagai pelayanan kesehtan rujukan.Dalam melaksanakan fungsinya.Puskesmas melaksanakan bimbingan teknis. Sebaliknya Dinas kesehtan kabupaten/ kota bertanggungjawab membina serta memberikan bantuan administrative dan teknis kepada Puskesmas. Dengan demikian secara teknis dan administratif. Puskesmas berkoordinasi dengan kantor kecamatan melalui pertemuan pertemuan berkala yang diselenggarakan di tingkat kecamatan. Puskesmas bertanggungjawab kepada kabupate/kot. Puskesmas menjalin kerjasama termasuk penyelenggaraan rujukan dan memantau kegiatan yang diselenggarakan. pemberdayaan rujukan sesuai kebutuhan. 4. Dengan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota Puskesmas adalah unit pelaksana teknis Dinas kesehatan kabupaten/kota.

Dengan Masyarakat Sebagai Penanggung jawab penyelenggaraan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya. Puskesmas memerlukan dukungan aktif dari masyarakat sebagi objek 17 . Balai Kesehatan Olahraga masyarakat. Balai Kesehatan jiwa masyarakat. sedangkan di pihak lain pembangunan yang diselenggarakan oleh sector lain di tingkat kecamatan berdampak positif terhadap kesehatan. Balai Kesehatan Mata Masyarakat. Untuk hasil yang optimal. Tanngungjawab Dengan Lintas Sektor Puskesmas sebagai unit pelaksana teknis adalah menyelenggarakan sebagian tugas pembangunan kesehatan yang dibebankan oleh Dinas Kesehatan kabupaten/Kota. Laboratorium Kesehtan serta berbagai balai kesehatan masyarakat. jalinan kerjasama diselenggarakan dengan berbagai sarana pelayanan kesehatan Balai masyarakat Teknik rujukan. penyelenggaraan pembangunan kesehatan di kecamatan tersebut mendapat dukungan dari berbagai sector terkait. Diharapkan disatu pihak.rumah sakit (kabupaten/kota). Sedangkan upaya kesehatan Masyarakat. seperti Dinas Balai Kesehatankabupaten/kota. Balai Kesehatan Kerja Masyarakat. Balai Kesehatan Indra Masyarakat). penyelenggaraan pembangunan kesehatan tersebut harus dapat dikoordinasikan dengan berbagai lintas sector yang terkait ada di tingkat kecamatan. Kerjasama tersebut diselenggarakan melalui penerapan konsep rujukan yang menyeluruh dalamkoordinasi Dinas Kesehatan Indonesia. Kesehatan Lingkungan. dan berbagai balai kesehatan masyarakat (Balai Pengobatan Penyakit Paru-Pau. 5. 6.

Kast & Rosenz weig Manajemen meliputi koordinasi orang-orang dan koordinasi sumber-sumber material untuk mencapai tujuan organisasi (Kast & Rosenzweig). tokoh agama.G. organisasi kemasyarakatan. Atau sebagai pengaturan atau pengelolaan sumberdaya yang ada sehingga hasilnya maksimal. yang menghimpun berbagai potensi masyarakat. J. Dukungan aktif tersebut diwujudkan melalui pembentukan Badan Penyantun Puskesmas (BPP). III. LSM.MANAJEMEN Beberapa pengertian manajemen Mary Parker Follet Manajemen adalah seni melaksanakan suatu pekerjaan melalui orang-orang.Longenecker Manajemen selalu digunakan dalam hubungannya dengan orang-orang yang menjalankan kepemimpinan di dalam suatu organisasi. Dus manajemen didefenisikan sebagai suatu proses kegiatan manajer dalam mengambil keputusan. 18 . mengkoordinasikan usaha-usaha kelompok. serta dunia usaha. seperti: tokoh masyarakat. Manajemen adalah tindakan atau kemampuan untuk memperoleh hasil yang diinginkan dengan menggunakan orang-orang yang mempunyai keahlian khusus. BPP tersebut berperan sebagai mitra Puskesmas dalam menyelenggarakan pembangunan kesehatan. dan kepemimpinan.dan subjek pembangunan.

1 RENCANA KEGIATAN Perencanaan P 1 1) Rencana Usulan Kegiatan (R. 2) Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) RKA. merupakann pengembangan dari RUK setelah ada perbaikan tata cara pembuatan anggaran kegiatan dalam setiap unit Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). pengorganisasian. 3) Rencana Pelaksanaan Kegiatan (RPK) : Setelah disusun rencana kegiatan itu kemudian dibuatkan strategi pelaksanaan secara terpadu. 19 . dan pengendalian supaya dapat mencapai sasaran yang diinginkan. metode kerja dan tempat) melalui proses perencanaan. pengarahan. waktu. Pengaturan P 2 1) Penggerakan : Mini Lokakarya Lintas Program Mini Lokakarya (MinLok) ini dilaksanakan puskesmas setiap sebulan sekali.K) RUK sama dengan plan of action (POA) atau rencana kerja yang biasanya disusun menjelang pergantian tahun anggaran kegiatan baru. dana. material.Henry L. III. Sisk Manajemen adalah koordinasi dari semua sumber (tenaga manusia.U. 4) Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) : DPA merupakan kelanjutan dari RKA yang telah disetujui sebagai pedoman pelaksanaan penggunaan anggaran kegiatan.

MINILOKAKARYA PUSKESMAS Lokakarya Mini Puskesmas merupakan suatu pertemuan yang diselenggarakan setiap bulan. sesuai porsi kegiatan puskesmas. kelurahan. Penilaian P3 1) Pengawasan : Monitoring Kegiatan pelayanan harus terus diawasi pelaksanaannya agar mencapai target yang telah ditetapkan 2) Pengendalian : Controlling Pelayanan yang sudah optimal tetap perlu dikendalikan arahnya agar tidak menyimpang dari tujuan kegitan 3) Penilaian : Evaluation Setiap hasil kegiatan harus dievaluasi sebagai bentuk pertanggungjawaban institusi terhadap publik dan pemerintah daerah.2. dan lainnya. diknas. memantau cakupan pelayanan Puskesmas serta membina peran serta masyarakat secara terpadu agar dapat meningkatkan fungsi Puskesmas. Ditinjau dari fungsi manajemen yang terdiri dari perencanaan (P1). III. Penggerakan Pelaksanaan (P2) dan Pengawasan Pengendalian 20 .untuk mengevaluasi hasil kegiatan pelayanan 2) Pelaksanaan : Mini Lokakarya Linta Sektoral Minlokakarya ini dilaksanakan puskesmas setiap tiga bulan sekali dengan melibatkan instansi terkait seperti dinkes. kecamatan. dihadiri petugas Puskesmas dan sektor terkait (lintas sektoral) untuk meningkatkan kerjasama tim.

Sumber data yang dipergunakan pada penilaian dibedakan atas 2 (dua). EVALUASI KEGIATAN Kegiatan penilaian dilakukan pada akhir tahun anggaran. pertama .3.Penilaian (P3) maka Lokakarya Mini Puskesmas merupakan penerapan Penggerakan Pelaksana(P2). sumber data primer yakni yang berasal dari SIMPUS dan berbagai data sumber lain yang terkait. Melakukan penilaian terhadap penyelenggaraan kegiatan dan hasil yang dicapai. 2. Kegiatan yang dilakukan mencakup hal-hal sebagai berikut : 1. Sumber data skunder yakni data dari hasil pemantauan bulanan dan triwulanan. Menyusun saran peningkatan penyelenggaraan kegiatan sesuai dengan pencapaian serta masalah dan hambatan yang ditemukan untuk rencana tahun berikutnya. III. dibandingkan dengan rencana tahunan dan standar pelayanan. yang dikumpulkan secara khusus pada akhir tahun. indikator dan nilai (benchmark). 21 . Kedua . STANDAR PELAYANAN MINIMAL 1) Pengertian Standar Pelayanan Minimal adalah suatu standar dengan batas-batas tertentu untuk mengukur kinerja penyelenggaraan kewenangan wajib daerah yang berkaitan dengan pelayanan dasar kepada masyarakat yang mencakup jenis pelayanan. IV.

Kesembuhan adalah penderita yang minum obat lengkap dan pemeriksaan sputum secara makroskopis minimal 2 kali berturut-turut terakhir dengan hasil negatif . diantara penderita TBC BTA positif yang tercatat.Kasus baru adalah penderita yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bula dosis harian.2) Standar Pelayanan Minimal untuk Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit TB Paru (Kesembuhan Penderita TBC BTA positif) Pengertian . Cara Perhitungan 1. . Rumus Jumlah penderita baru TBC BTA + yang sembuh Kesembuhan penderita TBC BTA + = ---------------------------------------------------------Jumlah penderita baru TBC BTA + yang diobati x 100% 22 . Sumber Data Laporan TB Puskesmas Definisi Operasional Yaitu kesembuhan penderita TBC BTA positif adalah penderita baru TBC BTA positif yang sembuh diakhir pengobatan 85 % di suatu Wilayah kerja Puskesmas pada kurun waktu tertentu.Angka Kesembuhan adalah angka yang menunjukan persentase penderita TBC BTA positif yang sembuh setelah selesai masa pengobatan.

Pada hampir semua kasus. Sebelum infeksi pulmonari dapat terjadi.6 mm. Sebagian besar komponen mycobacterium 23 . Penyebab Mycobacterium tuberculosis merupakan jenis kuman berbentuk batang berukuran panjang 1-4 mm dengan tebal 0. tertawa. atau bersin. Nukleus yang terinfeksi kemudian terhirup oleh individu yang rentan (hospes). 2003).2. infeksi tuberkulosis didapat melalui inhalasi partikel kuman yang cukup kecil (sekitar 1-5 mm). 1. droplet dikeluarkan selama batuk. TEORI TENTANG TUBERCULOSIS PARU Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksi yang menyerang parenkim paruparu yang disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis. ginjal. dan nodus limfe (Somantri. tulang. 3. Ukuran / Konstanta Persentase (%) V. Pembilang Jumlah penderita baru TBC BTA + yang sembuh di suatu Wilayah kerja Puskesmas pada kurun waktu tertentu. organisme yang terhirup terlebih dahulu harus melawan mekanisme pertahanan paru dan masuk jaringan paru (Asih.3-0. 4. Penyebut Jumlah penderita baru TBC BTA + yang diobati di suatu Wilayah kerja Puskesmas pada kurun waktu tertentu. Penyakit ini dapat juga menyebar ke bagian tubuh lain seperti meningen.2008).

2008) 2. latar belakang pendidikan mempengaruhi penyebaran penyakit menular khususnya tuberkulosis. Berdasarkan hasil penelitian kejadian tuberkulosis menunjukakan bahwa penyakit yang bergizi normal ditemukan kasus lebih kecil daripada status gizi kurang dan buruk. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tuberkulosis Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian tuberkulosis diantaranya: a. Daerah tersebut menjadi tempat yang kondusif untuk penyakit tuberkulosis (Somantri. ini merupakan faktor yang penting dalam timbulnya penyakit tuberkulosis. 24 . pemukiman dan lingkungan sehat. jelas semua ini akan mudah menumbuhkan penyakit tuberkulosis. Faktor ekonomi. keadaan sosial yang rendah pada umumnya berkaitan erat dengan berbagai masalah kesehatan karena ketidakmampuan dalam mengatasi masalah kesehatan. Oleh karena itu. b.tuberculosis adalah berupa lemak/lipid sehingga kuman mampu tahan terhadap asam serta sangat tahan terhadap zat kimia dan faktor fisik. Berdasarkan hasil penelitian mengatakan semakin rendah latar belakang pendidikan kecenderungan terjadi kasus tuberkulosis. Status gizi. Status pendidikan. hal ini faktor terpenting dari kejadian TBC. Masalah kemiskinan akan sangat mengurangi kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan gizi. mycobacterium tuberculosis senang tinggal di daerah apeks paru-paru yang kandungan oksigennya tinggi. c. Mikroorganisme ini adalah bersifat aerob yakni menyukai daerah yang banyak oksigen.

Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak. Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan. Makin tinggi derajat kepositifan hasil pemeriksaan dahak. Infeksi TB dibuktikan dengan perubahan reaksi tuberkulin negatif menjadi positif (Depkes RI.3. berarti 10 (sepuluh) orang diantara 1000 penduduk terinfeksi setiap tahun. Pasien TB paru dengan BTA positif memberikan kemungkinan resiko penularan lebih besar dari pasien TB paru dengan BTA negatif. Cara Penularan Sumber penularan adalah pasien tuberkulosis Basil Tahan Asam (TBC BTA) positif. makin menular pasien tersebut. Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam waktu yang lama. Resiko Penularan TBC Resiko tertular tergantung dari tingkat pajanan dengan percikan dahak. 4. 2007). Pada waktu batuk atau bersin. sementara sinar matahari langsung dapat membunuh kuman.. 25 . pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei). Percikan dapat bertahan selama beberapa jama dalam keadaan yang gelap dan lembab. Resiko penularan setiap tahunnya ditunjukkan dengan Annual Risk of Tuberculosis Infection (ARTI) yaitu proporsi penduduk yang beresiko terinfeksi TBC selama satu tahun. Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Faktor yang memungkinkan seseorang terpajan kuman tuberkulosis ditentukan oleh konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut (Depkes RI. 2007). ARTI sebesar 1%.

Batuk darah Darah yang dikeluarkan penderita mungkin berupa garis atau bercak-bercak darah. Biasanya batuk ringan sehingga dianggap batuk biasa atau akibat rokok. b. Proses yang paling ringan ini menyebabkan sekret akan terkumpul pada waktu penderita tidur dan dikeluarkan saat penderita bangun pagi hari. Diagnosa Penderita TBC Gejala Penyakit TBC a. Batuk Gejala batuk timbul paling dini dan merupakan gangguan yang paling sering dikeluhkan. kemudian berubah menjadi purulen/kuning atau kuning hijau sampai purulen dan kemudian berubah menjadi kental bila sudah terjadi perlunakan.5. 26 . gumpalan-gumpalan darah atau darah segar dalam jumlah sangat banyak. di ujung skapula atau di tempat-tempat lain). Nyeri dada Nyeri dada pada tuberkulosis paru termasuk nyeri pleuritik yang ringan. Bila nyeri bertambah berat berarti telah terjadi pleuritis luas (nyeri dikeluhkan di daerah aksila. c. Dahak Dahak awalnya bersifat mukoid dan keluar dalam jumlah sedikit. d.

kecuali pada 27 . tetapi tidak diikuti pengeluaran panas dengan kecepatan yang sama atau dapat terjadi sebagai suatu reaksi umum yang lebih hebat. jaringan granula. Dispneu Dispneu merupakan late symptom dari proses lanjut tuberkulosis paru akibat adanya restriksi dan obstruksi saluran pernapasan serta loss of vascular bed / thrombosis yang dapat mengakibatkan gangguan difusi. Panas badan Merupakan gejala paling sering dijumpai dan paling penting sering kali panas badan sedikit meningkat pada siang maupun sore hari. f. Gejala-gejala umum: a. peradangan.e. Keringat malam umumnya baru timbul bila proses telah lanjut. bronkostenosis. Keringat malam Keringat malam bukanlah gejala yang patognomonis untuk penyakit tuberkulosis paru. c. Wheezing Wheezing terjadi karena penyempitan lumen endobronkus yang disebabkan oleh sekret. hipertensi pulmonal dan korpulmonal. b. Menggigil Dapat terjadi bila panas badan naik dengan cepat. ulserasi dan lain-lain (pada tuberkulosis lanjut).

Gejala umum ini. d. Lemah badan Gejala-gejala ini dapat disebabkan oleh kerja berlebihan. anak yang tidak suka bermain. perhatian penderita berkurang atau menurun pada pekerjaan. keringat malam dapat timbul lebih dini. f. e. Nausea. kurang tidur dan keadaan sehari-hari yang kurang menyenangkan. Anoreksia Anoreksia dan penurunan berat badan merupakan manifestasi toksemia yang timbul belakangan dan lebih sering dikeluhkan bila proses progresif.orang-orang dengan vasomotor labil. seringkali baru disadari oleh penderita setelah ia memperoleh terapi dan saat ini masih lebih baik dari sebelumnya (Retrospective Symptomatology) 28 . Gangguan menstruasi Gangguan menstruasi sering terjadi bila proses tuberkulosis paru sudah menjadi lanjut. atau penyakit yang kelihatan neurotik. takikardi dan sakit kepala timbul bila ada panas. karena itu harus dianalisa dengan baik dan harus lebih berhati-hati apabila dijumpai perubahan sikap dan temperamen (misalnya penderita yang mudah tersinggung).

Pirasinamid (Z) dan Etambutol (E).Pengobatan TB 1. mencegah kekambuhan. obat-obat tersebut diberikan setiap hari selama 2 bulan (2HRZE). Program Nasional Penanggulangan TBC di Indonesia menggunakan paduan OAT: Kategori 1 : 2HRZE/4H3R3 Kategori 2 : 2HRZES/HRZE/5H3R3E3 Kategori 3 : 2HRZ/4H3R3 Disamping ketiga kategori ini. mencegah kematian. Kemudian diteruskan dengan tahap lanjutan yang terdiri dari Isoniasid (H). Paduan OAT ini disediakan dalam bentuk paket kombipak. Satu (1) paket untuk satu (1) penderita dalam satu (1) masa pengobatan. Tujuan Pengobatan Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien. disediakan paduan obat sisipan (HRZE). 2007). Rifampisin (R). 29 . Obat ini diberikan untuk: 1) Penderita baru TBC paru BTA positif 2) Penderita TBC paru BTA positif rontgen positif yang “sakit berat” 3) Penderita TBC ekstra paru berat. dengan tujuan untuk memudahkan pemberian obat dan menjamin kelangsungan (kontinuitas) pengobatan sampai selesai. diberikan tiga kali dalam seminggu selama 4 bulan (4H3R3). a. Rifampisin (R). memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap OAT (Obat Anti Tuberkulosis) (Depkes RI. Kategori 1 (2HRZE/4H3R3) Tahap intensif terdiri dari Isoniasid (H).

OAT sisipan (HRZE) Bila pada akhir tahap intensif pengobatan penderita baru BTA positif dengan kategori 30 . Setelah itu diteruskan dengan tahap lanjutan selama 5 bulan dengan HRE yang diberikan tiga kali dalam seminggu. pleuritis eksudativa unilateral. Perlu diperhatikan bahwa suntikan streptomisin diberikan setelah penderita selesai menelan obat. diteruskan dengan tahap lanjutan terdiri dari HR selama 4 bulan diberikan 3 kali seminggu (4H3R3). Kategori 3 : 2HRZ/4H3R3 Tahap intensif terdiri dari HRZ diberikan setiap hari selama 2 bulan (2HRZ). TBC tulang (kecuali tulang belakang). Rifampisin (R). TBC kulit. Kategori 2 : 2HRZES/HRZE/5H3R3E3 Tahap intensif diberikan selama 3 bulan. c. yang terdiri dari 2 bulan dengan Isoniasid (H). yaitu TBC kelenjar limfe (limfadenitis). Obat ini diberikan untuk: 1) Penderita kambuh (relaps) 2) Penderita gagal (failure) 3) Penderita dengan pengobatan setelah lalai (after default). Rifampisin (R). Pirasinamid (Z) dan Etambutol (E) setiap hari. sendi dan kelenjar adrenal. Dilanjutkan 1 bulan dengan Isoniasid (H). d. Obat ini diberikan untuk: 1) Penderita baru BTA positif dan rontgen positif sakit ringan 2) Penderita ekstra paru ringan. Pirasinamid (Z) dan Etambutol (E) dan suntikan streptomisin setiap hari di UPK.b.

dilakukan pengawasan langsung (DOT= Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO). 3) Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2 bulan. yaitu tahap intensif dan lanjutan. 4. diberikan obat sisipan (HRZE) setiap hari selama 1 bulan (Depkes RI. Tahap awal (Intensif): 1) Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat. namun dalam jangka waktu yang lama. 2002).1 atau penderita BTA positif pengobatan ulang dengan kategori 2. Untuk menjamin kepatuhan pasian menelan obat. Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap. Jangan gunakan OAT tunggal (monoterapi). OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat. Prinsip Pengobatan Pengobatan tuberkulosis dilakukan dengan prinsip-prinsip sebagai berikut: a. b. biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu. Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tetap (OATKDT) lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan. c. Tahap lanjutan: 1) Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit. dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan. 2) Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga mencegah 31 . hasil pemeriksaan dahak masih BTA positif. 2) Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat.

2007) 5. Bila salah satu spesimen positif atau keduanya positif. 2007) 32 . (Depkes RI. hasil pemeriksaan ulang dahak tersebut dinyatakan positif (Depkes RI. Pemeriksaan dahak secara mikroskopis lebih baik dibandingkan dengan pemeriksaan radiologis dalam memantau kemajuan pengobatan. Untuk memantau kemajuan pengobatan dilakukan pemeriksaan spesimen sebanyak dua kali (sewaktu dan pagi). Pemantauan dan Hasil Pengobatan TB Pemantauan kemajuan hasil pengobatan pada orang dewasa dilaksanakan dengan pemeriksaan ulang dahak secara mikroskopis.terjadinya kekambuhan. Hasil pemeriksaan dinyatakan negatif bila ke 2 spesimen tersebut negatif.

I.2. Tabel 1.Pegayut  Sebelah Barat berbatasan dengan Kelurahan 8 Ulu  Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Pemulutan 33 . GAMBARAN UMUM PUSKESMAS SEJARAH PERKEMBANGAN PUSKESMAS OPI PALEMBANG Puskesmas OPI dibangun pada tahun 1998 awalnya adalah merupakan Pustu OPI dan Induknya adalah Puskesmas 1 Ulu. yaitu Pustu 15 Ulu dan Pustu Sungai Buaya..1. LETAK GEOGRAFI Puskesmas OPI terletak di dalam Perumahan Ogan Permata Indah dan wilayah kerjanya meliputi Kulurahan 15 Ulu Kecamatan Seberang Ulu I . dengan luas wilayah kerjanya ± 675 Ha. GAMBARAN PUSKESMAS OPI I. Sejak tanggal 24 April 2008 (SK Walikota Palembang) berubah menjadi Puskesmas Induk dengan dibantu 2 Pustu.BAB III . Luas Wilayah Kerja Puskesmas OPI Nama Kelurahan Kelurahan 15 Ulu Luas Wilayah 675 Ha Wilayah Kerja Puskesmas OPI berbatasan dengan :  Sebelah Utara berbatasan dengan Silaberanti  Sebelah Selatan berbatasan dengan Ogan Kertapati & Kec. I.

3. sebagian Pegawai Negeri dan Pegawai Swasta dan pada umumnya adalah tenaga kerja lepas pada sektor informal. mata pencaharian penduduk Kelurahan 15 Ulu adalah Buruh Kasar.582 jiwa. Berdasarkan keadaan sosial ekonominya. KEADAAN DEMOGRAFI Wilayah kerja Puskesmas OPI meliputi Kelurahan 15 Ulu dengan jumlah penduduk 20.565 7. Pedagang.Dengan keadaan daerah wilayah kerjanya yang terdiri dari sungai. anak sungai. Pengerajin.371 63 /18 502 459 493 459 2085 1484 3. Tabel 2.747 unit 11 1 3 9 3 6 2 2 2 34 . Peta Demografi No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Uraian Jumlah Penduduk Jumlah KK Jumlah RT / RW Jumlah Ibu Hamil Jumlah Ibu Bersalin Jumlah Ibu Meneteki Jumlah Bayi Jumlah Balita Jumlah Lansia Jumlah Rumah Jumlah Posyandu Jumlah Posyandu Lansia Praktek Dokter Praktek Bidan Balai pengobatan Jumlah SD Jumlah SMP Jumlah SMA / MAN Jumlah PTN/PTS Jumlah TPS KELURAHAN 20. Pensiunan. dataran rendah dan rawa-rawa. I.

3. Meningkatkan Pemberdayaan Masyarakat untuk berprilaku hidup bersih dan sehat . 4. GAMBARAN KHUSUS PUSKESMAS Untuk menunjang keberhasilan Puskesmas OPI dalam rangka pelayanan kesehatan pada masyarakat. Motto SENYUM . Visi ” Terwujudnya masyarakat di Wilayah Puskesmas OPI bersih dan sehat bertumpu pada Pelayanan Prima dan Pemberdayaan Masyarakat ”. Motto. Memelihara dan meningkatkan Upaya Pelayanan Kesehatan yang bermutu Prima . 2.203 2. maka seluruh kegiatan harus berpedoman pada Visi. DISIPLIN 35 . SABAR . Meningkatkan Profesionalisme Provider . Meningkatkan Kemitraan . 1. Misi. Menurunkan resiko kesekitan dan kematian. dan Nilai Puskesmas OPI serta pelaksanaannya harus berpedoman pada Protap-Protap (Standar Pelayanan) yang telah dibakukan. 5.510 22 II. 2. RAMAH .21 Jumlah Sumber Air Bersih Sumur Gali Sumur Pompa PDAM Jumlah Jamban Keluarga 53 30 1. Misi 1. 3.

S1 Keperawatan 5. Puskesmas OPI dipimpin oleh seorang Pimpinan Puskesmas yang sejak Bulan Juni 2008 dijabat oleh dr. Nilai     Kebersamaan Kekeluargaan Keterbukaan Kemitraan 5. S1 Kes. Perawat Gigi 8. Asisten Apoteker 11. Sanitarian ( SPPH ) 10. Bidan D III 9.Orang : .Orang : 1 Orang : 5 Orang 11. Ketenagaan Untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan sehari-harinya. Mas 4. Petugas Gizi ` : 1 Orang : 1 Orang : 1 Orang : 1 Orang : 2 Orang : 2 Orang : 2 Orang : . Susi Alianti dan dibantu oleh : 1.4. Dokter Gigi 3. Bidan DI 10.Orang : 5 Orang : . SMA ( LCPK ) 36 . Perawat SPK 7. Dokter Umum 2. Perawat D III 6.

2. Klinik ini dalam pelaksanaannya dilayani oleh para bidan terlatih dan juga diawasi oleh Dokter. dan Kondom. 3. Pil. Klinik Pelayanan Kesehatan Ibu (KIA/KB) Kegiatan yang dilakukan di klinik ini meliputi pelayanan kebidanan terhadap Ibu Hamil (Bumil). 37 .6. Suntikan. Ibu Bersalin (Bulin) dan Ibu yang telah bersalin (Bufas). Untuk kegiatan KB. Puskesmas OPI melayani kebutuhan masyarakat dalam hal KB berupa Implant. Klinik Pelayanan Kesehatan Umum (BP Dewasa) Klinik ini melayani pengobatan umum bagi pasien umum/dewasa dan gawat darurat. Dalam pelaksanaannya klinik ini dilayani oleh para perawat terlatih di bidang anak yang mulai mengembangkan sistem pelayanan dengan teknik MTBS (Manajemen Terpadu Balita Sakit). Klinik Pelayanan Kesehatan Anak (BP Anak) Klinik ini melayani kesehatan bayi dan balita. Upaya Kesehatan Puskesmas 1. selain tersedianya klinik bersalin 24 jam bagi persalinan fisiologis. Pada pelaksanaannya klinik ini juga dilayani oleh seorang Dokter Umum yang dibantu oleh para perawat terlatih. Ibu menyusui (Busui) di Klinik Laktasi.

Dalam pelaksanaannya klinik ini dilayani oleh seorang Dokter Gigi dan dibantu oleh para perawat gigi yang berpengalaman dan terlatih.Gigi di tahun 2008 hanya melayani pengobatan dasar gigi bagi seluruh lapisan masyarakat yang membutuhkannya. Hepatitis. setiap hari. 5. Klinik Pelayanan Kesehatan Gigi (BP Gigi) Untuk BP. TT Bumil/Caten. BP.Di klinik ini dilayani pula program pengobatan terhadap penderita TB Paru selain penyakit lainnya. Gizi Melayani konsultasi Gizi Masyarakat dan Gizi Perorangan. Campak. 4. 7. untuk pencabutah dan penambalan belum bisa dilakukan karena alat-alat medisnya belum ada. baik di dalam maupun di luar gedung. Dilaksanakan oleh seorang Petugas Gizi. Gigi Puskesmas OPI juga melaksanakan kegiatan UKGS bagi anak sekolah di sekolah-sekolah dan UKGMD bagi masyarakat umum terutama balita dan ibu hamil di posyandu-posyandu. DPT. Konsultasi Kesehatan Lingkungan 38 . 6. Imunisasi Melayani Imunisasi BCG. Dilaksanakan setiap hari Rabu di Puskesmas dilayani oleh Bidan dan Perawat terlatih. Polio.

No 1 2 3 4 5 6 7 10 Penyakit terbesar Puskesmas Jenis Kunjungan Peny . Pada sistem Otot & Jar.Memberikan konsultasi mengenai kesehatan dan kebersihan lingkungan Rumah Sehat. 7. baik dilaksanakan di Puskesmas.Lainya (22) Peny. UKGMD di Posyandu serta melakukan kunjungan ke rumah pasien bagi pasien-pasien yang membutuhkannya. diantaranya adalah Posyandu Balita di 12 Posyandu dan Posyandu Lansia di 1 Posyandu. 8. Lain pada Saluran Pernafasan bagian Atas (1303) Peny. Penyuluhan Kesehatan Dilakukan pada perorangan ataupun perkelompok. Lain-lain Puskesmas OPI melakukan kegiatan-kegiatan lain. 9.Pengikat (21) Diare (0102) Gastritis (23) Penyakit Kulit Alergi (2002) 2008 1595 729 486 474 447 443 349 39 . baik di dalam maupun di luar gedung. Dilaksanakan oleh Sanitarian. Jamban Sehat. Sarana Air Bersih. Akut pada Saluran Pernafasan bagian Atas (1302) Peny. UKS/UKGS di SD/MI dan SMP. Pelayanan ini akan dilaksanakan oleh tenaga-tenaga penyuluh yang cukup menguasai materi yang dibahas. Sekolah ataupun di tempat lain yang membutuhkan. Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). setiap hari.

dan TB Kategori II. Alat (Machine) 40 . 1. Paru Puskesmas OPI berjumlah 1 orang (perawat). dan dana ASKES. Methoda (Method) Metoda pengobatan TB menggunakan Standar Depkes. dan untuk pelayanan mikroskopisnya dilakukan rujukan ke Puskesmas terdekat. Dana (Money) Sumber Pembiayaan Kesehatan di wilayah kerja Puskesmas OPI Palembang adalah berupa dana Operasional Puskesmas. Jadi untuk pemeriksaan dahak / sputum (mikroskopis) Puskesmas OPI akan merujuk ke Puskesmas terdekat. dana Retrubusi : 3. yaitu pengobatan OATS dengan TB Kategori I. 2. 5. Manusia (Man) Jumlah Petugas untuk program TB. Penyakit Kulit Infeksi (2001) Hipertensi (12) Scabies (0704) 286 260 61 GAMBARAN KHUSUS PROGRAM TB Sumber Daya Program di Puskesmas OPI Palembang (INPUT) 1. 4. Sarana (Material) Keadaan Sarana Prasarana di Ruang Pengobatan untuk TB Puskesmas OPI belum memadai dikarenakan fasilitas untuk laboratorium belum ada. dana Jamkesmas.8 9 10 III. karcis/Jamsoskes .

Planning (Perencanaan) Jadwal Kegiatan Program TB 1. Organizing (Pengorganisasi) No 1 3. contoh : konseling. yang pasti disini akan selalu dipantau oleh Dinas Kesehatan terkait dengan programnya masingmasing. Melakukan penyuluhan perorangan. contoh : diskusi kelompok 2. Proses Pelaksanaan Program 1. diharapkan kepada pemegang program TB setidak-tidaknya melakukan kunjungan minimal 1 kali.Obat paket TB Combipac 2. 5. 4. kunjungan rumah 2. Controling (Pemantauan) Pengobatan TB ini adalah Program dari Pemerintah. Evaluation (Evaluasi) Perencanaan Tingkat Puskesmas (PTP) Kota Palembang Tahun 2009 No 1 Kegiatan Pengobatan Volume Kegiatan 6 – 8 bulan per pasien Rincian Pelaksanaan Pasien TB yang berobat Lokasi Pelaksanaan Puskesmas Tenaga Pelaksanaan Perawat terlatih telah mengikuti yang 41 . Melakukan penyuluhan kelompok. Perawat Pendidikan Jumlah 1 Actuating (Pelaksanaan) Dilakukan dalam kurun waktu pengobatan pasien TB yaitu 6 – 8 bulan.

2 Penemuan Kasus 1-2 per tahun Pasien TB Puskesmas dan Kunjungan Rumah Puskesmas dan Kunjungan Rumah Pelatihan TB Sda 3 Penyuluhan Setiap pasien datang dalam masa pengobatan dilakukan penyuluhan Pasien TB Sda 3. IDENTIFIKASI MASALAH Berdasarkan data yang diperoleh dari petugas P 2 M (Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular) di Puskesmas OPI. maka ditemukan masalah sebagai berikut : 1. Belum tercapainya target kesembuhan penderita TBC BTA positif yaitu <50 % dari target yang harus dicapai ( 85 %). MASALAH DAN PEMECAHANYA I. 42 . OUTPUT Hasil Penilaian Kinerja Puskesmas pada program Upaya Pemberantasan Penyakit Menular (P2M0 berdasarkan indikator pencapaian sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal. BAB IV .

2. Belum tercapainya target untuk penyakit DBD sekitar 25 % dari target 80 % dikarenakan pasien tersebut mendapatkan pelayanan rujukan untuk berobat ke RS. Meningkatnya kasus ISPA dan Diare tetapi telah mencapai standar yang telah ditetapkan (90 %) 3. PRIORITAS MASALAH Dari komponen masalah diatas kemudian akan dicari prioritas masalah. penyebabnya adalah di Puskesmas tidak ada pelayanan untuk Rawat Inap. yaitu skala prioritas menggunakan metode Pair Comparison dan Metode Scoring. II. Tabel 1 Metode Pair Comparison ASPEK URGENSI ASPEK SERIOUSNESS ASPEK GROWTH a:b=a a:c=a b :c = c ASPEK URGENSI a:b=a a:c=a b :c = b ASPEK SERIOUSNESS a:b=b a:c=a b :c = b ASPEK GROWTH a=2 b=0 c=1 A=2 b=1 c=0 Tabel 2 Rekap a=1 b=2 c=0 Masalah A B C Urgensi 2 1 Seriousness 2 1 - Growth 1 2 - Total 5 3 1 Tingkat I II III Tabel 3 Metode Skoring Masalah Kepentinga n Dukungan Resiko bila Tidak Kendala Total Tingkat 43 .

TUJUAN UMUM Meningkatkan cakupan kesembuhan penderita TBC BTA positif sesuai pencapaian kesembuhan penderita TBC BTA positif dengan target ( 85 %). 2. cara penularanya. 44 . 3. dan penyembuhanya. maka prioritas masalah yang dipilih adalah dengan kriteria skor tertinggi yaitu peringkat I dengan masalah Belum tercapainya target kesembuhan penderita TBC BTA positif yaitu <50 % dari target yang harus dicapai ( 85 %). TUJUAN KHUSUS 1. 3 2 1 3 2 1 2 3 1 3 2 1 11 9 4 I II III Keterangan Skoring : Nilai rendah Nilai Sedang Nilai Tinggi 1. III.ditangani A B C 1. Dari hasil perhitungan dengan skala prioritas yang menggunakan metode Pair Comparison dan Metode Skoring. Meningkatnya pengetahuan masyarakat Tentang penyakit TB paru. 2. bahayanya.PERUMUSAN TUJUAN 1.

Identifikasi penyebab masalah dengan menggunakan diagram sebab akibat ”Fishbone”. 45 . yaitu dengan menghubungkan variabel 5 M ( Man. Material. IV.2. Money) dan lingkungan untuk mendapatkan hasil Penilaian Kinerja Puskesmas pada program Upaya Pemberantasan Penyakit Menular (P2M) penyakit TB Paru dengan pencapaian sesuai Standar Pelayanan Minimal Puskesmas. Meningkatnya kesadaran si penderita TB Paru untuk berobat secara teratur selama waktu yang telah ditentukan 3. memperhatikan keteraturan minum obat penderita dan keteraturan melakukan pengobatan di Puskesmas selama waktu yang telah ditentukan sampai benar-benar dikatakan ”sembuh”. Meningkatnya pengetahuan dan peran serta keluarga dalam proses penyembuhan. Machine. Methode. IDENTIFIKASI PENYEBAB MASALAH V.

Rumah dengan padat penghuni Pengaruh adat istiadat/kepercayan bahwa penyakit batuk hanya penyakit biasa dan tidak perlu pengobatan Daerah tempat tinggal kumuh MACHINE MONEY LINGKUNGAN 46 .Diagram Identifikasi Penyebab Masalah dengan diagram Fishbone MAN METHODE MATERIAL PMO sering tidak/kurang Memperhatikan penderita dalam minum obat Petugas TB yang masih merangkap Program lain Kurangnya penyuluhan dari petugas Petugas tidak Melakukan kunjungan rumah Obat paket TB Sosek rendah Dana penyuluhan terbatas Belum adanya laboratorium dan alatalatnya untuk pemeriksaan dahak Belum tercapainya target kesembuhan penderita TBC BTA positif yaitu <50 % dari target yang harus dicapai ( 85 %).

Melakukan pendidikan kesehatan kepada pasien TB tentang PHBS. PMO adalah seseorang yang sukarela/keluarga yang membantu pasien TB dalam masa pengobatan hingga sembuh b. ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH Setelah diketahui penyebab masalah. Disarankan untuk petugas TB agar tidak merangkap program penyakit lain. maka dapat dibuat beberapa alternative pemecahan masalah adalah sebagai berikut : Masalah Belum tercapainya target kesembuhan penderita TBC BTA positif yaitu <50 % dari target yang harus dicapai ( 85 %). agar petugas tersebut dapat focus dengan program TB saja b. PMO sering tidak/kurang memperhatikan penderita dalam minum obat Belum adanya laboratorium dan alatalatnya untuk pemeriksaan dahak (mikroskopis) Pengaruh adat istiadat/kepercayan bahwa penyakit batuk hanya penyakit biasa dan tidak perlu pengobatan 47 . 2. Dan untuk menjamin kateraturan pengobatan pasien TB a. dan kategori penyakit batuk biasa dan batuk TB b. Melakukan rujukan ke Puskesmas terdekat untuk pemeriksaan dahak a. Melakukan penyuluhan secara terus menerus agar pengobatan berjalan baik dan membuat jadwal kunjungan rumah untuk pasien TB a. Menyarankan untuk melakukan pengobatan TB secara teratur dengan minum obat sesuai aturan dari petugas TB selama waktu yang ditentukan sampai dengan dikatakan sembuh. Petugas TB yang merangkap program lain diluar penyakit TB menyebabkan petugas kurang melakukan penyuluhan dan kunjungan rumah Pemecahan Masalah a.VI. Penyebab 1.

Untuk menentukan efektifitas jalan keluar. Melakukan penyuluhan pendidikan kesehatan kepada pasien TB Pengawas menelan Obat harus selalu mengawasi pasien TB dalam masa pengobatan sampai dengan sembuh dan bersedia dilatih atau mendapat penyuluhan bersama-sama dengan pasien. Besarnya Masalah yang dapat diselesaikan (magnitude) Pentingnya jalan keluar (importancy) Sensitifitas jalan keluar (vulnerability) Efisiensi jalan keluar Untuk mengukur nilai prioritas (P) untuk setiap alternatif jalan keluar.VII. 4. selanjutnya dilakukan pemilihan prioritas pemecahan masalah dengan menggunakan Teknik Kriteria Matriks. terdiri dari : a. dengan membagi hasil perkalian nilai M (magnitude) x I (importancy) x V (vulnerability) dengan nilai C. 3. Jalan keluar dengan nilai P tertinggi adalah prioritas jalan keluar terpilih. PEMECAHAN MASALAH TERPILIH Dari beberapa alternatif pemecahan masalah yang telah teridentifikasi. 2. b. Efektifitas jalan keluar Prioritas Jalan keluar adalah yang nilai efektifitasnya paling tinggi. dipergunakan kriteria tambahan seperti : 1. 1. 48 . 2.

Tujuan. Rencana Penilaian. Penanggung Jawab. 49 . Yang terdiri dari Kegiatan. PENYUSUNAN RENCANA OPERASIONAL DAN JADWAL WAKTU Penyusunan Rencana Operasional ini dilakukan setelah didapatkan alternatif pemecahan masalah terpilih yaitu melakukan penyuluhan pendidikan kesehatan kepada pasien TB yang berobat ke Puskesmas.VIII. sasaran. Waktu. Biaya.

Sasaran Penderita TB Biaya Waktu PJ Pimpinan Puskesmas Petugas TB yang bertanggung jawab atas program TB di Puskesmas Pelaksana lain selama penyuluhan berjalan Rencana Penialaian Ket Keluarga PMO 50 . Tujuan 1. Meningkatkan peran serta keluarga dalam perawatan pasien TB 3. cara penularan.Penyusunan Rencana Operasional Kegiatan penyuluhan pendidikan kesehatan kepada pasien TB yang berobat ke Puskesmas. Meningkatkan pengetahuan tentang penyakit TB. dan cara pengobatan 2. Meningkatkan pengetahuan PMO (keluarga bisa menjadi PMO) agar pasien TB selalu minum obat dengan teratur. gejala TB. No 1 Kegiatan Penyuluhan pendidikan kesehatan kepada pasien TB yang berobat ke Puskesmas dan Pengawas Minum Obat (PMO) untuk si penderita TB.

penyakit saluran pencernaan dan penyakit lainnya. Diharapkan dengan aktifnya petugas TB dan PMO dalam pendampingan di 51 . Untuk menanggulangi masalah tersebut peran masyarakat sebagai kader dan petugas di unit pelayanan kesehatan terdepan sangatlah penting. TB Paru. yaitu Promosi Kesehatan. malaria. dan Pengobatan. Perbaikan Gizi masyarakat. Penyakit menular masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat Indonesia.IX. Kesehatan Lingkungan. demam berdarah dengue. influenza. Pendahuluan Komponen pelaksanaan pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas meliputi 6 (enam) komponen dasar. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular. tifus abdominalis. Kesehatan Ibu dan Anak termasuk KB. Beberapa penyakit menular yang menjadi masalah utama di Indonesia adalah diare. KERANGKA ACUAN KEGIATAN / TERM OF REFERENCE (TOR) KEGIATAN KERANGKA ACUAN Penyuluhan pendidikan kesehatan kepada pasien TB dan Pengawas Minum Obat (PMO) oleh : Petugas TB dan Tenaga Kesehatan Puskesmas OPI Palembang I.

akan menurunkan angka drop-out dan meningkatkan kesembuhan serta penemuan kasus TB diwilayah kerja Puskesmas OPI Palembang. Tujuan Tujuan Umum Menurunkan angka drop-out dan meningkatkan kesembuhan serta penemuan kasus TB diwilayah kerja Puskesmas OPI. Meningkatkan pemahaman dan pengetahuan tentang penyakit TB. III. 2. Pembiayaan 52 . 3. gejala TB. 3. dan cara pengobatan 2. Tujuan Khusus 1. Sasaran Sasaran pada kegiatan Penyuluhan pendidikan kesehatan pasien TB dan Pengawas Minum Obat (PMO) oleh tenaga kesehatan adalah : 1. II. Penderita TB Keluarga Pengawas Minum Obat (PMO) Kegiatan Waktu pelaksanaan kegiatan ini adalah diawal tahun dimana penderita TB mulai masuk catatan pengobatan sampai dengan 6 bulan berjalan pengobatannya. V. cara penularan.masyarakat. IV. Meningkatkan peran serta keluarga dalam perawatan pasien TB Meningkatkan pengetahuan PMO (keluarga bisa menjadi PMO) agar pasien TB selalu minum obat dengan teratur.

Ketenagaan yang tersedia dalam pencapaian target masih belum memadai dikarenakan petugas P2M Program TB Paru masih merangkap program lain. Meningkatnya kasus ISPA dan Diare tetapi telah mencapai standar yang telah ditetapkan (90 %) 3. Belum tercapainya target untuk penyakit DBD sekitar 25 % dari target 80 % dikarenakan pasien tersebut mendapatkan pelayanan rujukan untuk berobat ke RS. maka dapat dibuat simpulan sebagai berikut : 1. Tugas pokok dan Fungsi (Tupoksi) dari program TB Paru di Puskesmas OPI sesuai dengan program yang dijadikan acuan dalam pelaksanaan kerja.I. Belum tercapainya target kesembuhan penderita TBC BTA positif yaitu <50 % dari target yang harus dicapai ( 85 %). 53 . penyebabnya adalah di Puskesmas tidak ada pelayanan untuk Rawat Inap. 2. PENUTUP V. maka ditemukan masalah sebagai berikut : 1. Simpulan Dari hasil pengamatan yang dilakukan selama praktek a Administrasi dan Kebijakan Kesehatan (AKK) di Puskesmas OPI. Identifikasi masalah dan prioritas masalah pada program P 2 M (Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular) di Puskesmas OPI. 3. BAB V . 2.Dana untuk pelaksanaan kegiatan ini menggunakan dana operasional Puskesmas.

3. Melakukan rujukan ke Puskesmas terdekat untuk pemeriksaan makroskopis 3. Petugas TB yang merangkap program lain diluar penyakit TB menyebabkan petugas kurang melakukan penyuluhan dan kunjungan rumah. 2. Disarankan untuk petugas TB agar tidak merangkap program penyakit lain. Melakukan penyuluhan pendidikan kesehatan kepada pasien TB tentang PHBS. Diketahui alternative pemecahan masalah dan pemecahan masalah terpilih yaitu : 1. 54 . Identifikasi penyebab masalah dan penyebab masalah terpilih pada Program TB di Puskesmas OPI adalah : 1.4. agar petugas tersebut dapat focus dengan program TB saja 2. PMO sering tidak/kurang memperhatikan penderita dalam minum obat Belum adanya laboratorium dahak (mikroskopis) 4. Dari uraian diatas masalah yang menjadi prioritas adalah Belum tercapainya target kesembuhan penderita TBC BTA positif yaitu <50 % dari target yang harus dicapai ( 85 %). dan penyuluhan untuk melakukan pengobatan TB secara teratur dengan minum obat sesuai aturan dari petugas TB selama waktu yang ditentukan sampai dengan dikatakan sembuh. 5. Pengaruh adat istiadat/kepercayan bahwa penyakit batuk hanya penyakit biasa dan tidak perlu pengobatan dan alat-alatnya untuk pemeriksaan 6.

II. 7. Meningkatkan pengetahuan tentang penyakit TB. Meningkatkan Meningkatkan peran serta keluarga dalam pengetahuan PMO (keluarga perawatan pasienTB PMO) bisa menjadi agar pasien TB selalu minum obat dengan teratur. dan cara pengobatan 2. cara penularan. Disarankan untuk petugas TB agar tidak merangkap program penyakit lain. Melakukan rujukan ke Puskesmas terdekat untuk pemeriksaan makroskopis Melakukan penyuluhan pendidikan kesehatan kepada pasien TB tentang PHBS. 3. Dari alternative pemecahan masalah dan pemecahan masalah terpilih dapat diusulkan beberapa kegiatan untuk meningkatkatkan cakupan target kesembuhan penderita TBC BTA positif yaitu dari target yang harus dicapai ( 85 %). 3. dan penyuluhan untuk melakukan pengobatan TB secara teratur dengan minum obat sesuai aturan dari petugas TB selama waktu yang ditentukan sampai dengan dikatakan sembuh. agar petugas tersebut dapat fokus dengan program TB saja 2. gejala TB.4. Saran Dari berbagai permasalahan yang ada di Puskesmas OPI maka dapat disarankan : 1. 4. maka dibuatlah rencana operasional : 1. V. PMO harus memperhatikan keteraturan penderita TB dalam minum obat 55 . PMO harus memperhatikan keteraturan penderita TB dalam minum obat.

2004 Kebijakan Dasar Pusat Kesehatan masyarakat. 2009 Pedoman Penyakit TB Paru. Jakarta. 1996 Pengantar Administrasi Kesehatan.DAFTAR PUSTAKA Azwar. 2009 Pusat Promosi Kesehatan RI. Bukan Batuk Biasa. Binarupa Aksara Depkes RI. Jakarta. Jakarta Depkes RI. 2006 Kajian Kebijakan Penyakit Menular. 2004 Manajemen Kesehatan Edisi 2. 56 . AA. Proyek Peningkatan Upaya Kesehatan Gde Mininjaya. Jakarta . Depkes RI. EGC Teknis Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan Kabupaten/Kota. Proyek Peningkatan Upaya Kesehatan Depkes RI. 2006 Pedoman Penilaian Kinerja Puskesmas. Jakarta . 2004 Petunjuk Depkes RI. Proyek Peningkatan Upaya Kesehatan Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat. Azrul.

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT STIK BINA HUSADA PALEMBANG LEMBAR PENILAIAN PRAKTIKUM ADMINISTRASI DAN KEBIJAKAN KESEHATAN (AKK) 57 .

58 .

59 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful