You are on page 1of 7

GAMBARAN KLINIS

Gambaran klinis bervariasi, diagnosis Gangguan Cemas Menyeluruh

ditegakkan apabila dijumpai gejala-gejala antara lain keluhan cemas,

khawatir,was-was, ragu untuk bertindak, perasaan takut yang berlebihan, gelisah

pada hal-hal yang sepele dan tidak utama yang mana perasaan tersebut

mempengaruhiseluruh aspek kehidupannya, sehingga pertimbangan akal sehat,

perasaan dan perilaku terpengaruh. Selain itu spesifik untuk Gangguan

Kecemasan Menyeluruh adalah kecemasanya terjadi kronis secara terus-menerus

mencakup situasi hidup (cemas akan terjadi kecelakaan, kesulitan finansial),

cemas akan terjadinya bahaya, cemas kehilangan kontrol, cemas

akan`mendapatkan serangan jantung. Sering penderita tidak sabar, mudah marah,

sulit tidur. (Saddock, 2007)

Untuk lebih jelasnya gejala-gejala umum ansietas dapat dilihat pada table

di bawah:

Ketegangan otot 1. Kedutan otot / rasa gemetar


2. Otot tegang/kaku/pegal
3. TIdak bisa diam
4. Mudah menjadi lelah
Hiperaktifitas Otonomik 5. Nafas Pendek / terasa berat
6. Jantung berdebar-debar
7. Telapak tangan terasa basah/dingin
8. Mulut Kering
9. Kepala pusing/ terasa melayang
10. Mual/ mencret/ perut tak enak
11. Muka panas/ badan menggigil
12. Buang air kecil lebih sering
Kewaspadaan berlebihan dan 13. Perasaan menjadi peka/ mudah
penangkapan berkurang ngilu
14. Mudah terkejut/ kaget
15. Sulit konsentrasi/ pikiran
16. Sukar tidur
17. Mudah tersinggung
Tabel 1: Gejala klinis gangguan cemas menyeluruh (Amir, 2013)
Gangguan cemas menyeluruh juga memiliki pengaruh terhadap

tekanandarah. Ada dua faktor yang paling berpengaruh pada tekanan darah, yaitu

curah jantung (cardiac output ) dan tahanan perifer ( peripheral resistance).

Anxietasakan merangsang respon hormonal dari hipotalamus yang akan

mengsekresi CRF(Cortisocoprin- Releasing Factor ) yang menyebabkan sekresi

hormon-hormonhipofise. Salah satu dari hormon tersebut adalah ACTH (Adreno-

Corticotropin Hormon). Hormon tersebut akan merangsang korteks adrenal

untuk mengsekresi kortisol kedalam sirkulasi darah. Peningkatan kadar kortisol

dalam darah akan mengakibatkan peningkatan renin plasma, angiotensin II dan

peningkatan kepekaan pembuluh darah terhadap katekolamin, sehingga terjadi

peningkatan tekanan darah dan sebagai pusat dari system saraf otonom. Sistem ini

terbagi atassistem simpatis dan sistem parasimpatis.

Pada anxietas terjadi sekresi adrenalin berlebihan yang menyebabkan

peningkatan tekanan darah, sedanngkan pada anxietas yang sangat berat dapat

terjadi reaksi yang dipengaruhi oleh komponen parasimpatis sehingga akan

mengakibatkan penurunan tekanan darah dan frekuensi denyut jantung. Pada

kecemasan yang kronis, kadar adrenalin terus meninggi, sehingga

kepekaanterhadap rangsangan yang lain berkurang dan akan terlihat tekanan

darahmeninggi. Pada gangguan cemas menyeluruh yang terutama berperan

adalahneurotransmiter serotonin. Pada saat ini telah diidentifikasi tiga reseptor

serotonin,yaitu : 5-HT1, 5-HT2 dan 5-HT3 . Menurut Kabo reseptor 5-HT1


bersifat sebagaiinhibitor, sedangkan reseptor 5-HT2 dan reseptor 5-HT3 bersifat

sebagai eksitator.Menurut Gothert, aktivasi reseptor 5-HT1 akan mengurangi

kecemasan sedangkanaktivasi reseptor 5-HT2 akan meningkatkan tekanan darah.

(Amir, 2013)

DIAGNOSIS

Kriteria diagnostik gangguan cemas menyeluruh menurut DSM 5 : (Maslim,

2013)

1. Kecemasan atau kekhawatiran yang berlebihan yang timbul hampir

setiap hari, sepanjang hari, terjadi selama sekurangnya 6 bulan, tentang

sejumlah aktivitas atau kejadian (seperti pekerjaan atau aktivitas

sekolah)

2. Penderita merasa sulit mengendalikan kekhawatirannya

3. Kecemasan atau kekhawatiran disertai tiga atau lebih dari enam gejala

berikut ini (dengan sekurangnya beberapa gejala lebih banyak terjadi

dibandingkan tidak terjadi selama enam bulan terakhir).

4. Kecemasan/ansietas, kekhawatiran, atau gejala fisik yang menyebabkan

distress yang signifikan atau social yang terganggu, pekerjaan, atau

bidang fungsi lain yang penting

5. Gangguan yang terjadi adalah bukan karena efek fisiologis langsung

dari suatu zat (misalnya penyalahgunaan zat, medikasi) atau kondisi medis

umum(misalnya hipertiroidisme)

6. Gangguan ini tidak lebih baik dijelaskan oleh gangguan mental lain (

seperti cemas atau khawatir tentang mengalami serangan panic pada

gangguan panic, evaluasi negative pada gangguan kecemasan social


[social phobia], kontaminasi atau obsesi lain pada obsesif kompulsif

disorder, terpisah dari angka lampiran pada gangguan cemas terpisah,

penambahan berat badan pada anorexia nervosa, keluhan fisik pada

gangguan gejala somatic, penampilan yang dirasakan kekurangan pada

gangguan tubuh dismorphic, meiliki penyakit serius di gangguan cemas,

kepercayaan isi dari khayalan pada gangguan skizophreniaor delusional.

Kriteria diagnosis gangguan cemas menyeluruh berdasarkan PPDGJ-III

sebagai berikut: (Maslim, 2013)

1. Pasien harus menunjukkan anxietas sebagai gejala primer yang berlangsung

hampir setiap hari untuk beberapa minggu sampai beberapa bulan, yang tidak

terbatas atau hanya menonjol pada keadaan situasi khusus tertentu saja

(sifatnya “free floating” atau “mengambang”)

2. Gejala-gejala tersebut biasanya mencakup unsur-unsur berikut :a.Kecemasan

(khawatir akan nasib buruk, merasa seperti di ujung tanduk,sulit konsentrasi,

dan sebagainya); b.Ketegangan motorik (gelisah, sakit kepala, gemetaran,

tidak dapat santai);dan c.Overaktivitas otonomik (kepala terasa ringan,

berkeringat, jantung berdebar-debar, sesak napas, keluhan lambung, pusing

kepala, mulut kering dan sebagainya).

3. Pada anak-anak sering terlihat adanya kebutuhan berlebihan untuk

ditenangkan (reassurance) serta keluhan-keluhan somatic berulang yang

menonjol.

Adanya gejala-gejala lain yang sifatnya sementara (untuk beberapa hari,

khususnya depresi, tidak membatalkan diagnosis utama Gangguan cemas

Menyeluruh, selama hal tersebut tidak memenuhi kriteria lengkap dari


episodedepresif (F32.-), gangguan anxietas fobik (F40.-), gangguan panik

(F41.0),atau gangguan obsesif-kompulsif (F42.-).

DIAGNOSIS BANDING

Gangguan cemas menyeluruh perlu dibedakan dari kecemasan akibat

kondisi medis umum maupun gangguan yang berhubungan dengan penggunaan

zat. Diperlukan pemeriksaan medis termasuk tes kimia darah,

elektrokardiografi,dan tes fungsi tiroid. Klinisi harus menyingkirkan adanya

intoksikasi kafein, penyalahgunaan stimulansia, kondisi putus zat atau obat seperti

alkohol, hipnotik-sedatif dan anxiolitik. (American Psychiatric Association, 2018)

Kelainan neurologis, endokrin, metabolik dan efek samping

pengobatan pada gangguan panik harus dapat dibedakan dengan kelainan yang ter

jadi pada gangguan anxietas menyeluruh. Selain itu, gangguan cemas menyeluruh

juga dapat didiagnosis banding dengan fobia, gangguan obsesif-

kompulsif,hipokondriasis, gangguan somatisasi, dan gangguan stres post-trauma.

1. Fobia

Pada fobia, kecemasan terjadi terhadap objek/hal tertentu sehingga

pasien berusaha untuk menghindarinya, sedangkan pada GAD, tidak te

rdapat objek tertentu yang menimbulkan kecemasan.

2. Gangguan obsesif kompulsif

Pada gangguan obsesif kompulsif, pasien melakukan tindakan

berulang-ulang(kompulsi) untuk menghilangkan kecemasannya,

sedangkan pada GAD, pasien sulit untuk menghilangkan kecemasannya,

kecuali pada saat tidur.

3. Hipokondriasis
Pada hipokondriasis maupun somatisasi, pasien merasa cemas

terhadap penyakit serius ataupun gejala-gejala fisik yang menurut pasien

dirasakannya dan berusaha datang ke dokter untuk mengobatinya,

sedangkan pada GAD, pasien merasakan gejala-gejala hiperaktivitas

otonomik sebagai akibat dari kecemasan yang dirasakannya.

4. .Gangguan stres pasca trauma

Pada gangguan stres pasca trauma, kecemasan berhubungan dengan

sutau peristiwa ataupun trauma yang sebelumnya dialami oleh pasien, seda

ngkan pada GAD kecemasan berlebihan berhubungan dengan aktivitas

sehari-hari.

SUMBER
DSM V-TR. (2018). Diagnostic And Statistical Manual Of

Mental Disorders(DSM V-TR). Washington DC: American Psychiatric

Association.American Psychological Association.

Saddock BJ, Saddock VA. Anxiety disorder. In : Kaplan Saddock’ Synopsis of

Psychiatry :Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry Tenth Edition.. NewYork:

Lippincott Williams & Wilkins: 2007; Pg 580-8.4.

Amir N. Buku ajar psikiatri. Edisi ke-2. Jakarta: FKUI; 2013.

Sadock, Benjamin James; Sadock, Virginia Alcott. Generalized Anxiety


Disorder in : Kaplan & Sadock’s Synopsis of Psychiatry :

BehavioralSciences/Clinical Psychiatry,10th Edition. New York: Lippincott

Williams &Wilkins: 2007. p. 623-78.

Maslim, Rusdi. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan RingkasPPDGJ-

III. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya:2013. Hal. 74