You are on page 1of 21

III.

METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Konsep Pemodelan Lumpur Aktif (Activated Sludge)

Pemodelan proses lumpur aktif (Activated sludge) bertujuan untuk memudahkan


pengguna (staf pengolahan limbah/operator) untuk menghitung konstruksi penanganan air limbah
yang tepat sesuai air limbah yang dihasilkan oleh industri. Informasi utama yang diberikan pada
pemodelan ini adalah hasil perhitungan perancangan proses yang tepat dari jumlah limbah yang
dihasilkan oleh industri. Dalam model proses lumpur aktif ini, nilai yang dihasilkan yaitu
persentase penyisihan BOD dan TSS (Total suspended solids) pada proses sedimentasi primer,
total produksi lumpur, volume tangki aerasi, jumlah oksigen yang dibutuhkan, laju alir lumpur
yang dibuang, laju alir sludge yang diproses kembali, laju alir efluen, dan konsentrasi efluen.
Pemodelan Proses lumpur aktif terdiri dari penyisihan BOD (Biological oxygen demand),
penyisihan BOD dengan nitrifikasi, penyisihan nitrogen secara biologis pada kondisi anoksik /
aerobik, dan penyisihan fosfor secara biologis. Pada perhitungan proses penyisihan fosfor secara
biologis, perhitungan yang dilakukan terdiri dari penentuan rbCOD yang tersedia untuk proses
penyisihan fosfor, perhitungan fosfor yang tersisih, perhitungan fosfor yang digunakan,
perhitungan fosfor yang terlarut dalam limbah, total fosfor yang terkadung pada limbah lumpur
dan persentase konsentrasi fosfor.
Perhitungan pada proses lumpur aktif dapat dilakukan apabila tersedia parameter-
parameter perhitungan. Parameter tersebut yaitu debit air limbah, karakterisasi air limbah, dan
koefisien kinetik yang digunakan dalam perhitungan penyisihan BOD dan penyisihan nitrogen.
Pemodelan proses lumpur aktif dibangun dengan implementasi ke dalam bahasa pemrograman
sehingga memiliki antarmuka yang mudah digunakan oleh pengguna (staf pengolahan limbah
cair/operator). Sistem ini juga dilengkapi dengan database yang menjelaskan kondisi air limbah
(karakteristik air limbah) dan perancangan proses lumpur aktif. Tahapan proses perhitungan pada
pemodelan lumpur aktif dapat dilihat pada Gambar 5.

Start

input

Pemilihan proses perhitungan


- Penyisihan BOD saja
- Penyisihan BOD-nitrifikasi
- Penyisihan nitrogen pada
kondisi anoksik/aerobik
- Penyisihan fosfor

Output
t

END

Gambar 5. Tahapan proses perhitungan pada pemodelan lumpur aktif.

9
3.2 Studi Literatur
Studi literatur atau studi pustaka yang dilakukan berkaitan dengan konsep permodelan.
Kajian dapat dilakukan melalui buku-buku terkait, jurnal, artikel-artikel ataupun penelusuran
melalui internet, sehingga memperoleh materi pembahasan yang lebih luas. Tahapan metode yang
digunakan dalam pengembangan model dapat dilihat pada Gambar 6 di bawah ini.

START

Studi Literatur
Output :
Model Proses
Activated Sludge

Analisis dan Desain Model


Output:
1. System Description.
2. System Requirements.
3. UML (Unified Modeling
Language)

Implementasi Model
Output:
1. Power Designer 15.3
2.Delphi 7.0
3.MySQL ODBC

Analisis Hasil
Perhitungan

Verifikasi NO
Perhitungan dan
Perangkat Lunak

YES

END

Gambar 6. Metode pengembangan model proses lumpur aktif.

Perumusan digunakan untuk memudahkan pada perhitungan kondisi proses yang


sebenarnya. Model matematik yang dibangun untuk proses secara keseluruhan adalah sebagai

10
berikut dengan beberapa perhitungan yang digunakan, unit-unit yang digunakan dapat dilihat pada
Tabel 1.

Tabel 1. Unit-unit dalam perhitungan (Metcalf and Eddy,2003).

Unit Keterangan
DO Oksigen terlarut, mg/L
F/M Rasio food to microorganism
K Nilai maksimum utilisasi
substrat, 0C
kd Koefisien endogenous decay, g
VSS/g VSS hari
kdn Koefisien endogenous decay
untuk organism nitrifikasi, g
VSS/g VSS hari
kT Koefisien reaction rate at
temperature 0C
Kn half-velocity constant
oxygen inhibition coefficient
Ks half-velocity constant,
half-velocity constant for
nitrated limited reaction,
Lorg volumetric organik loading rate
µ Nilai pertumbuhan spesifik,
g/g.hari
µm Nilai maksimum pertumbuhan
spesifik, g/g.hari
Nilai pertumbuhan spesifik
untuk nitrifikasi g/g.hari
Nilai maksimum pertumbuhan
spesifik untuk bakteri nitrifikasi.
N Konsentrasi nitrogen , mg/L
Rasio substrat-nitrat dengan
oksigen sebagai penerima
elektron
Px Padatan, Kg/hari
Q Debit ( laju alir), m3/hari
Qw Laju alir sludge yang dibuang,
m3/hari
R0 Kebutuhan oksigen, g/g.jam
rg Nilai produksi biomassa bersih
rsu Utilisasi soluble substrate
S Substrat effluent, mg/L

SF Safety factor
S0 Konsentrasi influent, mg/L
SRT solids retention time, hari
TSS total suspended solids, mg/L
hydraulic retention time, hari
Koefisien aktifitas suhu
U Nilai utilisasi substrat
V Volum, m3
VSS volatile suspended solids, mg/L

11
Tabel 1. Unit-unit dalam perhitungan (Metcalf and Eddy,2003) (lanjutan).

X Konsentrasi biomassa, mg/L


Xe Konsentrasi biomassa di
influent, mg/L
XR Konsentrasi sludge yang
diproses kembali,
mg/L
Y Produksi yield biomassa, g
TSS/g BOD atau g VSS/g BOD

3.2.1 Proses Penyisihan BOD (Biological Oxygen Demand)


Pada proses ini terdapat dua jenis perhitungan yaitu penyisihan BOD saja dan
penyisihan BOD yang di dalamnya terdapat proses nitrifikasi. Perhitungan yang dilakukan
menggunakan koefisien kinetis yang mana berbeda antara proses penyisihan BOD dengan
nitrifikasi dan tanpa nitrifikasi. Skema proses penyisihan BOD dapat dilihat pada Gambar 7.
Koefisien kinetik yang digunakan untuk penyisihan BOD tanpa ntrifikasi ditunjukkan pada
Tabel 4, sedangkan koefisien kinetis proses nitrifikasi lumpur aktif ditunjukkan pada Tabel 5.

Air

Secondary
clarifier
Influent

Effluent

Primary Aeration tank


Sedimentation
Return activated sludge
Sludge

Gambar 7. Skema proses lumpur aktif penyisihan BOD (Metcalf and Eddy,2003).

12
Bagian A. Penyisihan BOD saja
1. Mengidentifikasi karakterisitik air limbah yang dibutuhkan untuk perancangan
proses penyisihan BOD
a. Menentukan bCOD menggunakan Persamaan 1 :
bCOD = 1.6(BOD) (Persamaan 1)

b. Menentukan nbCOD menggunakan Persamaan 2 :


nbCOD = COD – bCOD (Persamaan 2)

c. Menentukan sCOD effluent dengan asusmsi menjadi nonbiodegradable


menggunakan persaman 3 :
sCODe = sCOD – 1.6 sBOD (Persamaan 3)

d. menghitung nbVSS menggunakan Persamaan 4 :


nbVSS = (1-bpCOD/pCOD) VSS (Persamaan 4)
bpCOD/pCOD = (bCOD/BOD)(BOD-sBOD)/ COD-sCOD

e. menghitung inert TSS dengan Persamaan 5 :


iTSS = TSS – VSS (Persamaan 5)

2. Perhitungan sistem pertumbuhan tersuspensi untuk penyisihan BOD.


a. Menghitung produksi biomassa menggunakan Persamaan 6:
QY ( S0  S ) ( f )(k )QY ( S0  S ) SRT
PX, biomassa   bagian a   d d  bagian b 
1  K d ( SRT ) 1  kd ( SRT )
QYn ( NO3 )
  bagian c   Q(nbVSS )  bagian d 
1  kdn ( SRT )

(Persamaan 6)
Perhitungan yang digunakan adalah bagian a dan bagian b
Menghitung nilai S (Efluen substrat) jika diketahui Yk = µm,dengan Persamaan
7:
K s [1  (kd ) SRT ]
S (Persamaan 7)
SRT (   kd )  1
Nilai µm dan Kd yang digunakan berdasarkan nilai pada Tabel 4.
Diketahui nilai Ks sehingga
mT  m T 20 (Persamaan 8)

kdT  kd T 20 (Persamaan 9)

b. Langkah selanjutnya adalah mensubstitusikan nilai S ke Persamaan 6. Sehingga


didapatkan nilai PX, VSS.

13
3. Menghitung massa VSS dan massa TSS pada tangki aerasi.
a. Massa = PX (SRT)
Menentukan PX, VSS dan PX, TSS menggunakan Persamaan 10 :
QY ( S0  S ) ( f )(k )QY ( S0  S ) SRT
PX, VSS   bagian a   d d  bagian b 
1  K d ( SRT ) 1  kd ( SRT )
QYn ( NO3 )
  bagian c   Q(nbVSS )  bagian d 
1  kdn ( SRT )
(Persamaan 10)

Perhitungan dilakuakan menggunakan bagian a, b, dan d, bagian c=0 karena


tidak terdapat nitrifikasi pada proses ini.

Berdasarkan Persamaan diatas maka perhitungan PX, VSS ditunjukkan pada


Persamaan 11 :
PX, VSS  PX, bio  Q(nbVSS ) (Persamaan 11)

Berdasarkan Persamaan dibawah ini


Px,TSS =
Maka perhitungan PX, TSS menggunakan Persamaan 12 :
PX, TSS  [Px,VSS / 0.85]   449.3 kg / d   Q  TSS0  VSS0  (Persamaan 12)

b. Menghitung massa VSS dan massa TSS yang terdapat di dalam dalam instalasi
aerasi menggunakan rumus :
Menghitung massa MLVSS menggunakan Persamaan 13 :

 XVSS V   P
x,VSS  SRT (Persamaan 13)

Menghitung massa MLSS menggunakan Persamaan 14:

 X TSS V   P
x,TSS  SRT (Persamaan 14)

14
4. Perhitungan volume tangki aerasi, waktu tinggal padatan (detention time), dan
konesentrasi MLVSS (Mixed liquor suspended solids).
a. Menentukan volume tangki aerasi menggunakan Persamaan 15:
(Vx ,TSS )
V
AtX TSS (Persamaan 15)
V  Q.SRT

b. Menghitung waktu tinggal padatan pada tangki aerasi menggunakan Persamaan


16:
  V / Q (Persamaan 16)

c. Menghitung MLVSS menggunakan persaman 18:


Fraksi VSS  ( XVSS ) V  / ( X TSS ) V  (Persamaan 17)

MLVSS  Fraksi VSS x At X TSS (Persamaan 18)

5. Menentukan F/M dan pemeriksaan beban BOD


a. Menghitung rasio F/M menggunakan Persamaan 19:
QS0 KgBOD
F/ M   (Persamaan 19)
XV KgMLVSS .hari

b. Menghitung beban BOD volumetrik menggunakan Persamaan 20 :


QS0
BOD Loading  (Persamaan 20)
XV

6. Menetukan produksi yield berdasarkan TSS dan VSS


a. Observed yield berdasarkan nilai TSS menggunakan Persamaan 21:
Observed yield = g TSS / g bCOD
bCOD removed  Q S0  S (Persamaan 21)
Maka produksi Yields meggunakan Persamaan 22 :
Yobs,TSS  PX, TSS / bCOD removed  Kg TSS / Kg bCOD
(Persamaan 22)
 g TSS / g bCOD x 1.6 g bCOD / g BOD

b. Observed yield berdasarkan nilai VSS menggunakan Persamaan 23:


Observed yield  berdasarkan VSS   g TSS / g bCOD 
(Persamaan 23)
(fraksiVSS / g TSS )(rasiobCOD / BOD)

15
7. Menghitung permintaan O2 menggunakan Persamaan 24:
R 0  Q S0 – S – 1.42 PX.bio (Persamaan 24)

8. Perhitungan laju alir udara proses penyisihan BOD menggunakan Persamaan


25:
 cs ',T , H  cL
AOTR  SOTR ( )(1.024T 20 )   F  (Persamaan 25)
cs ,20
AOTR = aktual oksigen transfer dibawah kondisi field,
kgO2/jam
SOTR = nilai standar oksigen transfer dalam air pada
suhu 200C dan 0 oksigen terlarut, kg O2/jam

 Menentukan , rata-rata konsentrasi saturasi oksigen terlarut dalam air


bersih pada tangki aerasi pada suhu T dan ketinggian H, menggunakan
hubungan pada Persamaan 26 :
Pd Ot
Cs ',T , H  (Cs ,T , H )(1/ 2)(  ) (Persamaan 26)
Patm 21

 Penentuan tekanan relatif pada ketinggian 500m untuk mendapatkan nilai DO


yang tepat terhadap ketinggian menggunakan Persamaan 27:
Pb  gM ( Zb  Z a ) 
 exp    (Persamaan 27)
Pa  RT 

 Menghitung tekanan atmosfir dalam m air dengan ketinggian 500 m dan


temperature 120C menggunakan Persamaan 28:
( Pb / Pa )( Patm, H kN / m2 )
Patm, H  (Persamaan 28)
 kN / m3

 Menghitung nilai konsentrasi oksigen dengan mengasumsikan persentase


konsentrasi oksigen yang meninggalkan tangki aerasi yaitu 19%. Perhitungan
menggunakan Persamaan 29:
Patm.H  Pw.Effdepth Ot
Cs ',T , H  (Cs ,T , H )(1/ 2)(  ) (Persamaan 29)
Patm, H 21
 Menentukan SOTR menggunkan α= 0.50 dan β = 0.95 dan faktor difusi , F =
0.9. Menggunakan Persamaan 30:
 cs ,20 
SOTR  AOTR   (Persamaan 30)
   F  (  cs ',T , H  cL ) 
 Menghitung laju alir udara menggunakan Persamaan 31:
SOTR
m3 / min  (Persamaan 31)
( E )(60 min/ h)( KgO2 / m3air )

16
Bagian B. Penyisihan BOD dan nitrifikasi
Penyelesaian perancangan proses berikut ini pada umumnya sama seperti proses
penyisihan BOD tanpa nitrifikasi, hanya saja perhitungan desain SRT harus dilakukan
terlebih dahulu. Skema penyisihan BOD dengan nitrifikasi dapat dilihat pada Gambar 8
dibawah ini.
Air

Secondary
clarifier
Influent

Effluent

Primary Aeration tank (Nitrification)


Sedimentation
Return activated sludge
Sludge

Gambar 8. Skema proses penyisihan BOD-nitrifikasi (Metcalf and Eddy,2003).

9. perhitungan pertumbuhan spesifik µn, untuk organisme nitrifikasi


menggunakan Persamaan 32:
 µ N  DO 
µn   n    kdn (Persamaan 32)
 K n  N  K 0  DO 

a. menghitung nilai µn,m pada suhu 120C menggunakan Persamaan 33:


n,m,T  m T 20 (Persamaan 33)

b. menghitung nilai kn pada suhu 120C menggunakan Persamaan 34:


kn,T  kn,T T 20 (Persamaan 34)
c. menghitung nilia kdn pada suhu 120C menggunakan Persamaan 35:
kdn,T  kdn,T T 20 (Persamaan 35)

10. Menghitung nilai theoretical dan nilai perancangan SRT


a. Menghitung nilai teoritis SRT dengan Persamaan 36 :
SRTteori  1 / µn (Persamaan 36)

b. Menghitung nilai SRT untuk perancangan dengan Persamaan 37:


Safety Factor  TKN peak / TKNaverage
(Persamaan 37)
SRT   FS  teoritikal SRT 

17
11. Menentukan produksi biomasa menggunakan Persamaan 38:
QY ( S0  S ) ( f )(k )QY ( S0  S ) SRT
PX, biomassa   bagian a   d d  bagian b 
1  K d ( SRT ) 1  kd ( SRT )
QYn ( NOx )
  bagian c 
1  kdn ( SRT )
(Persamaan 38)
a. Mengidentifikasi nilai-nilai yang terdapat pada Persamaan di atas
Nilai yang diketahui yaitu Q,Y,S0,kd,µm,Yn, kdn.120C
menghitung nilai S dengan Persamaan 39:
K s [1  (kd ) SRT ]
S (Persamaan 39)
SRT ( m  kd )  1

b. Mensubstitusikan nilai di atas ke dalam Persamaan untuk menghitung nilai Px, bio

12. Menghitung jumlah nitrogen yang teroksidasi ke nitrat menggunakan


Persamaan 40:
NOx  TKN – Ne – 0.12 Px, bio / Q (Persamaan 40)

13. Menentukan konsentrasi dan massa dari VSS dan TSS di dalam tangki aerator.
Mass = Px(SRT)
a. Menghitung konsentrasi VSS dan TSS di dalam aerator basin.
 Px,VSS ; menggunakan Persamaan 41:
PX, VSS  PX, bio  Q(nbVSS ) (Persamaan 41)

Menghitung massa VSS dan TSS dalam aerator basin


 Massa MLVSS menggunakan Persamaan 42:

 XVSS V   P
x,VSS  SRT (Persamaan 42)

 Massa MLSS menggunakan Persamaan 43:

 XTSS  V   P
x,TSS  SRT (Persamaan 43)

14. Perhitungan konsentrasi massa MLSS dan penentuan volume tangki aerasi
sertas detetntion time menggunakan perhitungan massa TSS
a. Menghitung volume tangki aerasi
Jika diketahui nilai (V) (XTSS) dan At MLSS, maka perhitungan yang dilakukan
menggunakan Persamaan 44:
V  Q.SRT (Persamaan 44)

b. Menghitung waktu tinggal padatan pada tangki aerasi menggunakan Persamaan


45:
  V / Q (Persamaan 45)

18
c. Menghitung MLVSS menggunakan Persamaan 46:
Fraksi VSS  ( X VSS ) V  / ( X TSS ) V 
(Persamaan 46)
MLVSS  ( X VSS ) V  / ( X TSS ) V 

15. Menentukan F/M dan BOD volumetric loading


a. Menghitung F/M menggunakan Persamaan 47:
QS0 gBOD
F/ M   (Persamaan 47)
XV gMLVSS .hari

b. Menghitung volumetric BOD loading menggunakan Persamaan 48:

QS0 kgBOD
BOD Loading   (Persamaan 48)
XV m3 .hari

16. Menentukan nilai observed yield berdasarkan nilai TSS dan VSS
Observed yield = g TSS / g bCOD dan diketahui nilai Px,TSS, perhitungan
menggunakan Persamaan 49:
bCOD removed  Q S0  S (Persamaan 49)

a. Observed yield berdasarkan TSS menggunakan Persamaan 50:


Yobs,TSS  PX, TSS / bCOD removed  Kg TSS / Kg bCOD
 g TSS / g bCOD x 1.6 g bCOD / g BOD

(Persamaan 50)

b. Observed yield berdasarkan nilai VSS menggunakan Persamaan 51:


Observed yield  berdasarkan VSS   g TSS / g bCOD 
(fraksiVSS / g TSS )(rasiobCOD / BOD)

(Persamaan 51)

17. Menghitung permintaan O2 menggunakan Persamaan 52:


R 0  Q S0 – S – 1.42 PX.bio  4.33 Q  NOx  (Persamaan 52)

18. Perhitungan gelembung aerasi dan penentuan laju alir udara pada lajualir rata-
rata.
Prosedur tahapan ini sama seperti tahapan no.8
a. Menentukan SOTR menggunakan Persamaan 53:
 cs ,20 
SOTR  AOTR   (Persamaan 53)
   F  (  cs ',T , H  cL ) 

19
b. Menghitung laju alir udara menggunakan Persamaan 54:
SOTR
m3 / min  (Persamaan 54)
( E )(60 min/ h)( KgO2 / m3air )

19. Estimasi BOD pada efluen (penyisihan BOD dengan nitrifikasi) menggunakan
Persamaan 55:

 gBOD  0.85 gVSS 


BODe  sBOD    TSS , g / m  (Persamaan 55)
3

 1.42 gVSS  gTSS 

20. Perancangan clarifier sekunder untuk kedua proses yaitu dengan nitrifikasi dan
tanpa nitrifikasi.
a. Pendefenisian rasio lumpur yang diproses kembali menggunakan Persamaan 56:
; dengan asumsi massa lumpur adalah signifikan
= Laju alir lumpur yang diproses kembali , m3/d
= konsentrasi lumpur yang diproses kembali, mg/L

Recycle Activated sludge =

Sehingga , , dan
X
R (Persamaan 56)
Xr  X
b. Menghitung ukuran dari clarifier.
Dengan menggunakan Persamaan diatas, dan diketahui nilai , maka
perhitungan nilai R dapat dilakukan, serta area menggunakan Persamaan 57.

Luas area  Debit lim bah / asumsi nilai hydraulic application rate
(Persamaan 57)
4
Diameter   area (Persamaan 58)
3.14
Volume  Q.HRT (Persamaan 59)
HRT = Hydraulic retention time
V
Tinggi  (Persamaan 60)
   1 2 
  D 
 4  2 
c. Cek solids loading
Sloids Loading Rate (SLR)
(Q  Qr )( MLSS ) 1  R  (Q)( MLSS )
 (Persamaan 61)
A A
Dimana A = Luas permukaan, m2

A ( Diameter )2 ( jumlahclarifier ) (Persamaan 62)
4

20
21. Menghitung persentase penyisihan BOD dan TSS pada proses sedimentasi
primer.
Perhitungan luas permukaan tangki menggunakan Persamaan 63.
Q
A (Persamaan 63)
OR
OR = Overflow rate.
Q = Debit air limbah yang masuk.

Perhitungan volume tangki menggunakan Persamaan 64.


A
Tinggi  (Persamaan 64)
lebartan gki
V  Lebar.tinggi.kedalaman (Persamaan 65)

Perhitungan overflowrate rata-rata untuk perancangan Persamaan 66.


Q Q
 (Persamaan 66)
A tinggi.lebar

Pernentuan detention time Persamaan 67.


Volume.tan gki
dt  (Persamaan 67)
Q

Perhitungan penyisihan BOD dan TSS menggunakan Persamaan 68.


dt
(Persamaan 68)
a  b(dt )
a dan b merupakan konstanta yang memiliki nilai yang berbeda pada
perhitungan penyisihan BOD dan TSS. Nilai a dan b dapat dilihat pada Tabel 2 dibawah
ini.

Tabel 2. Koefisien a dan b untuk perhitungan pada proses sedimentasi primer.

Perhitungan a b
Penyisihan BOD 0.018 0.02
Penyisihan TSS 0.0075 0.014

22. Perhitungan laju alir limbah efluen, lumpur yag dibuang, dan lumpur yang
akan diproses kembali.
Perhitungan laju lumpur yang menjadi limbah menggunakan Persamaan 69.
VX
Qw  (Persamaan 69)
X R SRT
X = Konsentrasi MLSS
Xr = Konsentrasi lumpur yang dibuang

21
Perhitungan laju limbah efluen menggunakan Persamaan 70.
Qe  Q  QW (Persamaan 70)
Perhitungan laju lumpur aktif yang diproses kembali menggunakan Persamaan 71.
XQ
QR  (Persamaan 71)
XR  X

3.2.2 Proses Penyisihan Nitrogen Secara Biologis (Nitrifikasi dan denitrifikasi)

Proses penyisihan nitrogen secara biologis meliputi sebuah zona aerobik yang mana
tempat nitrifikasi terjadi. Tipe dari pertumbuhan padatan tersuspensi pada proses peniyisihan
nitrogen secara biologis dapat dikategorikan menjadi dua yaitu single-sludge dan two-sludge.
Pada single-sludge, pemisahan yang terjadi hanya sekali. Pada sistem two-sludge, sistem
terdiri dari sebuah proses aerobik untuk nitrifikasi dan proses anoksik untuk denitrifikasi.
Skema proses penyisihan nitrogen dapat dilihat pada Gambar 8. Perhitungan yang digunakan
menggunakan metode single sludge. Koefisien biokinetik yang digunakan pada simulasi
model kurva SDNRb ditunjukkan pada Tabel 6.

Nitrate feed Secondary


clarifier

Influent Effluent
Anoxic Aerobic/
nitrification

Return activated sludge

Sludge
Gambar 9. Skema proses lumpur aktif penyisihan nitrogen (Metcalf and Eddy,2003).

3.2.2.1 Perancangan proses Anoksik / Aerobik


1. Menentukan konsentrasi biomassa aktif dan mensubstitusikan V/Q terhadap τ
(detention time). Perhitungan menggunakan persamaan 72.

 Q( SRT )   Y ( S0  S ) 
Xb    1  k ( SRT )  (Persamaan 72)
 V  d 
Dimana S0-S ≈ S0

2. Menentukan rasio internal recycle menggunakan Persamaan 73.


NO3
IR   1.0  R (Persamaan 73)
Ne

22
3. Menentukan jumlah NO3-N pada tangki aerasi menggunakan Persamaan 74.
Laju alir ke tangki anoksik  IR Q  RQ
NOx , feed   laju alir ke tangki anoksik   NO -N
3 aerator ,g / m3 
(Persamaan 74)

4. Menentukan volume kondisi anoksik menggunakan Persamaan 75.


Prakiraan Detention time = 2.5 H
tdet ention , hari
 (Persamaan 75)
24 jam / hari
Maka volumenya dihitung menggunakan Persamaan 76:
Vnox   x Q (Persamaan 76)
5. Menentukan rasio F/Mb Persamaan 77.
QS0
F / Mb  (Persamaan 77)
Vnox ( X b )

6. Menentukan SDNR(specific denitrification rate)


Untuk menghitung nilai SDNR maka harus diketahui nilai SDNR berdasarkan nilai grafik
yang ditentukan dari nilai fraksi rbCOD. Perhitungan dilakukan menggunakan Persamaan
78.
Fraksi rbCOD  rbCOD / bCod (Persamaan 78)
Perhitungan nilai SDNR pada suhu tertentu menggunakan Persamaan 79.
SDNRT  SDNR20 T 20 (Persamaan 79)
Dimana
= koefisien temperature
= suhu, 0C

7. Menentukan jumlah NO3-N yang dapat tereduksi


a. Cek nilai NOr berdasarkan nilai τ. Perhitungan menggunakan Persamaan 80.
NOr   Vnox  SDNR   MLVSS, biomassa  (Persamaan 80)
Lalu melakukan perbandingkan nilai NOr dengan NOx ,feed,

b. Evaluasi nilai baru dari τ (detention time)


Jika nilai SDNR lebih tinggi daripada rasio F/M untuk reaktor yang lebih kecil, maka
waktu tunda padatan dapat dievaluasi dengan mencoba nilai baru.
Vnox    h  /  24 h / d   x  influent folwrate  (Persamaan 81)
QS0
F / Mb  (Persamaan 82)
Vnox ( X b )
c. Menentukan nilai SDNR baru
SDNRT  SDNR20 T 20
(Persamaan 83)

23
d. Menentukan jumlah nitrat yang dapat tereduksi menggunakan Persamaan 84.
NOr = (Vnox) (SDNR) (MLVSS,biomassa)
Rasio kapasitas  NOr / NOx ,feed (Persamaan 84)
Jika nilai >=1 maka nilai detention time diterima
e. Menyetarakan hasil nilai SDNR berdasarkan nilai MLSS menggunakan Persamaan 85.
SDNR  MLSS  SDNR  Xb / Xr  (Persamaan 85)
Nilai perhitungan berkisar antar 0.04 sampai 0.42 g/g.d.

8. Langkah berikutnya adalah tahapan nitrifikasi dan penentuan kebutuhan oksigen.


Diketahui R0 (tanpa denitrifikasi) = lihat nilai yang didapat pada no.17 proses penyisihan
BOD.
Jumlah oksigen yang disuplai oleh proses reduksi nitrat dihitung menggunakan
Persamaan 86.
Oxygen credit   g O2 / g NO3  N  x  NOx  konsentrasi nitrat 
x  Q  x  0.001 kg / g 
Kebutuhan O2  R 0  oxygen credit
(Persamaan 86)

9. penentuan energi proses pencampuran pada zona anoksik


diketahui energi pada pencampuran dan volume, sehingga
power  mixing energy x volume (Persamaan 87)

3.2.3 Proses Penyisihan Fosfor Secara Biologis

Aerobic (nitrate)
recycle

Influent
Anaerobic Anoxic Aerobic Effluent

Return activated sludge

Sludge

Gambar 10. Skema proses lumpur aktif penyisihan fosfor (Metcalf and Eddy,2003).

24
1. Menentukan ketersediaan rbCOD untuk proses penyisihan fosfor menggunakan
kesetimbangan massa pada influent sampai reaktor.
a. Menghitung kesetimbangan massa pada nitrat menggunakan Persamaan 88.

QRAS  NO3  N inf  Q RAS  NO3  N RAS   Q  Q RAS  NO3  N React


Dimana QRAS   x  Q ; x  nilai
 NO3  N react  nitrate feed to reactor
(Persamaan 88)
b. Menentukan rbCOD menggunakan Persamaan 89.

rbCOD equivalent   NO3  N React   rbCOD / nitrat   NO3  N 


rbCODavailable forPremoval  rbCOD  rbCOD equivalent
(Persamaan 89)

2. Penyisihan fosfor dengan mekanisme biologis menggunakan persamaan 90.


rbCOD
(Persamaan 90)
10 grbCOD / P

3. Menentukan penggunaan fosfor pada sintetis biomassa heterotrofik menggunakan


Persamaan 91.
QY ( S0  S ) QY ( NO )
PX, biomassa   bagian a   n x  bagian c  (Persamaan 91)
1  K d ( SRT ) 1  kdn ( SRT )

Pused   kadar fosfor pada heterotrophic biomass  x  Px, bio  (Persamaan 92)

4. Menentukan efluen fosfor yang larut menggunakan Persamaan 93.


P tersisih = (Penyisihan fosfor secara biologis + Pused)
Efluen = nilai fosfor – P yang tersisih
(Persamaan 93)

5. Menentukan kandungan P pada limbah lumpur menggunakan Persamaan 94.


a. Perhitungan total fosfor pada lumpur

Total P pada lumpur   P tersisih  flowrate  (Persamaan 94)

25
b. Menentukan total produksi lumpur menggunakan persamaan 96.
Menggabungkan Persamaan dibawah ini :

QY ( S0  S ) ( f )(k )QY ( S0  S ) SRT


PX, sludge   bagian a   d d  bagian b 
1  K d ( SRT ) 1  kd ( SRT )
QYn ( NO3 )
  bagian c   Q(nbVSS )  bagian d 
1  kdn ( SRT )
(Persamaan 95)
dengan

Px,TSS =

Sehingga menjadi

QY ( S0  S ) ( f )(k )QY ( S0  S ) SRT


PX, biomassa   bagian a   d d  bagian b 
1  K d ( SRT )0.85 1  kd ( SRT )0.85
QYn ( NO3 )
  bagian c   Q(nbVSS )  bagian d   Q(iTSS )
1  kdn ( SRT )0.85
(Persamaan 96)
Dan persentase fosfor menggunakan Persamaan 97 :

Fosforsludge
Fosfor (%)  (Persamaan 97)
Pr oduksisludge

3.3 Analisis Komponen dan Desain Model


3.3.1. Analisis Komponen Model
Analisis komponen model pada pemodelan proses lumpur aktif terdiri dari empat
tahap. Tahap pertama yaitu analisis kebutuhan pengguna (staf/ operator pengolahan air
limbah), kemudian mendeskripsi model yang sesuai dengan kebutuhan pengguna, selanjutnya
mengidentifikasi informasi yang dibutuhkan dalam membangun model, dan yang terakhir
adalah identifikasi kebutuhan fungsional model yang meliputi kebutuhan data, perangkat
lunak, perangkat keras, serta pemeliharaan model yang telah dibangun. Diagram alir tahapan
analisis komponen model dapat dilihat pada Gambar 11.

26
START

Kebutuhan
Pengguna (Staf
pengolahan
limbah)

Deskripsi Model

Identifikiasi
Informasi yang
Dibutuhkan

Kebutuhan Fungsional
Model
Output :
1. Data
2. Software (Perangkat
lunak)
3.Hardware (Perangkat
keras)
4.Pemeliharaan Model

END

Gambar11. Tahapan analisis komponen model proses lumpur aktif.

27
3.3.2. Desain Model
Pada tahapan perancangan desain, metode yang digunakan dalam perancangan
adalah metode pemodelan berbasis objek yaitu dengan menggunakan UML (Unified
Modelling Language). Berdasarkan UML, pemodelan dirancang dengan mengunakan empat
jenis diagram. Diagram – diagram tersebut terdiri dari :
a. Diagram kasus (Usecase diagram)
Diagram kasus digunakan untuk mendapatkan kebutuhan fungsional dari sebuah
sistem, menggambarkan interaksi antara pengguna dan sistem, dan menjelaskan
secara naratif bagaimana sistem akan digunakan (Raharjo and Mahastama,2010).

b. Diagram aktivitas (Activity diagram)


Diagram aktivitas digunakan untuk menjelaskan kegiatan yang terjadi pada
sistem atau menjelaskan aliran kerja suatu sistem (Raharjo and Mahastama,2010).

c. Diagram keadaan (Statechart diagram)


Diagram ini digunakan untuk mendeskripsikan bagaimana suatu objek
mengalami perubahan status dari kegiatan / aktivitas yang terjadi pada sistem
(Anonim,2010).

d. Diagram kelas (Class diagram)


Class Diagram digunakan untuk menampilkan beberapa kelas/objek dan
hubungan antara objek yang terdapat pada sistem. Diagram kelas merupakan alat
terbaik dalam perancangan perangkat lunak. Diagram kelas membantu pengembang
mendapatkan struktur sistem dan menghasilkan rancangan sistem yang baik (Boggs
and Boggs,2002).

3.4 Implementasi Model


Tahapan implementasi model adalah tahap penterjemahan desain sistem yang telah dibuat
ke dalam pemrograman perangkat lunak atau pemodelan aplikatif. Tahapan implementasi meliputi
perancangan model, pembuatan perangkat lunak, dan manajemen basis data. Implementasi
pemodelan proses lumpur aktif (ActivatedSludge 0.1) pada proses perancangan model
menggunakan Microsoft Visio 2007 dan Sybase Power Designer versi 15.3 2010 , proses
pembuatan perangkat lunak menggunakan program Borland Delphi 7.0 dan untuk manajemen
basis data menggunakan Microsoft Access 2007 dan MySQL oracle 2009.Tahapan implementasi
model dapat dilihat pada Gambar 12 dibawah ini.

28
START

Perancangan UML
Dengan
Power Designer
15.3, dan
Microsoft Visio

Pemrograman
model activated
sludge
Dengan Borland
Delphi 7.0

Pengolahan
database dengan
MySQL dan ODBC
connector

Program
Activated
sludge 0.1

END

Gambar 12. Tahap implementasi model proses lumpur aktif.

3.5 Analisis Hasil Perhitungan


Hasil perhitungan dibagi menjadi dua yaitu hasil perhitungan perancangan proses dan
hasil perhitungan simulasi proses lumpur aktif. Nilai yang didapatkan dari perhitungan
perancangan proses yaitu nilai konstruksi terbaik untuk pengolahan air limbah yang dihasilkan
oleh industri. Simulasi pemodelan dilakukan pada nilai yang didapatkan dari perhitungan
perancangan proses dengan cara mengubah beberapa nilai sehingga dapat dilihat pengaruh yang
ditimbulkan jika nilai tersebut diubah. Nilai yang disimulasikan adalah nilai SRT (Waktu
keseluruhan proses) pada tangki dan laju alir limbah (laju efluen, laju lumpur yang dibuang, laju
lumpur yang akan diproses kembali).

3.6 Verifikasi Model


Tahapan verifikasi model merupakan tahapan yang berfungsi untuk mengetahui apakah
program/ model yang telah dibuat berhasil menghasilkan output yang diinginkan. Pada pemodelan
ini, verifikasi dibagi menjadi dua, yaitu verifikasi proses perhitungan dalam pemodelan dan
verifikasi program / perangkat lunak pemodelan.

29