You are on page 1of 28

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Tanah sebagai media tumbuh tanaman mempunyai fungsi menyediakan

air, udara dan unsur-unsur hara untuk pertumbuhan tanaman namun demikian

kemampuan tanah menyediakan unsur hara sangat terbatas. Hal tersebut di atas

mendorong manusia berpikir dan berusaha untuk melestarikan kesuburan

tanahnya. Salah satu dari usaha manusia untuk melestarikan tanahnya adalah

dengan penammbahan bahan pupuk yang dikenal dengan istilah pemupukan

(Hasibuan, 2006).

Pemupukan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan

produktivitas dengan memenuhi kebutuhan hara tanaman. Hingga dosis tertentu,

semakin banyak pupuk diberikan, maka produktivitas akan semakin tinggi. Di

perkebunan, seringkali pupuk ditambahkan dalam dosis cukup tinggi dan

dilakukan beberapa kali pada masa tanam untuk memperoleh produksi setinggi

mungkin. Akan tetapi, berbagai proses yang berlangsung di dalam tanah

menyebabkan tidak seluruh unsur yang berasal dari pupuk dimanfaatkan secara

optimal oleh tanaman. Hara tersebut dapat tercuci, menguap, atau pun terfiksasi.

Selain itu, aplikasi pupuk pada dosis tinggi dapat bersifat toksik bagi bibit di awal

masa pertumbuhannya. Kegiatan pemupukan yang dilakukan beberapa kali selama

masa tanam pun sebenarnya menyebabkan biaya produksi lebih tinggi karena

harus membayar tenaga kerja pada saat pemupukan. Hal-hal ini dapat diatasi

dengan penggunaan pupuk lambat tersedia (Damanik, 2011).


22

Unsur hara essensial sangat diperlukan tanaman fungsinya tidak dapat digantikan

oleh unsur hara lainnya. Jika jumlahnya kurang mencukupi, terlalu lambat tersedia

atau tidak diimbangi oleh unsur-unsur lain akan menyebabkan pertumbuhan

tanaman terganggu. Unsur makro terdiri dari N, P, K, Ca, Mg, S (Novizan, 2005).

Penggunaan pupuk anorganik telah menjadi tradisi pada sistem pertanian

yang ada pada saat ini. Hal ini mulai dilakukan sejak revolusi hijau mulai

digemakan ke seluruh dunia pada awal dekade 1960-an. Pada mulanya,

penggunaan pupuk anorganik memberikan dampak positif bagi petani dengan

meningkatnya hasil produksi tanaman. Namun penggunaan pupuk ini dalam

jangka panjang dapat mengakibatkan tanah mengeras, kurang mampu menyimpan

air, dan menurunkan pH tanah yang pada akhirnya akan menurunkan hasil

produksi tanaman (Parman, 2007).

Tanaman jagung manis atau sweet corn merupakan jenis jagung yang

belum lama dikenal dan baru dikembangkan di Indonesia. Sweet corn semakin

popular dan banyak dikonsumsi karena memiliki rasa yang lebih manis

dibandingkan jagung biasa. Selain itu umur produksinya lebih singkat (genjah)

yaitu 70 – 80 hari sehingga sangat menguntungkan. Untuk tanah yang digunakan

adalah tanah lapisan bawah atau tanah lapisan kedua pada tanah. Lapisan tanah

bawah disebut juga subsoil, merupakan lapisan tanah yang berada tepat di bawah

lapisan topsoil. Lapisan ini memiliki sifat kurang subur karena memiliki

kandungan zat makanan yang sangat sedikit, berwarna kemerahan atau lebih

terang, strukturnya lebih padat, dan memiliki ketebalan antara 50 – 60 cm. Pada

lapisan ini, aktivitas organisme dalam tanah mulai berkurang, demikian juga

dengan sistem perakaran tanaman. Untuk membuktikan pengaruh jenis tanah


33

terhadap pertumbuhan tanaman dan pengaruh pemupukan pada tanaman

(Novizan, 2005).

Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui respon

tanaman jagung (Zea mays L.) terhadap pemupukan.

Kegunaan Penulisan

Adapun kegunaan penulisan laporan ini adalah sebagai salah satu

komponen penilaian di Laboratorium Pupuk dan Pemupukan, Program Studi

Agroteknologi Fakultas Pertanian,Universitas Sumatera Utara, Medan dan sebagai

sumber informasi bagi pihak membutuhkan.


4

TINJAUAN PUSTAKA

Pupuk dan Pemupukan

Pupuk adalah material yang ditambahkan pada media tanam atau tanaman

untuk mencukupi kebutuha hara yang diperlukan tanaman sehingga mampu

berproduksi dengan baik. Material pupuk dapat berupa bahan organik atau non

organik (mineral). Pupuk berbeda dengan suplemen. Pupuk yang mengandung

bahan bakar yang diperlukan pertumbuhan tanaman, sementara suplemen seperti

hormon tumbuhan membantu kelancaran proses metabolisme (Fitriyani, 2001).

Pemupukan adalah pengaplikasian bahan/unsur-unsur kimia organik

maupun anorganik yang ditujukan untuk memperbaiki kondisi kimia tanah dan

mengganti kehilangan unsur hara dalam tanah serta bertujuan untuk memenuhi

kebutuhan unsur hara bagi tanaman sehingga dapat meningkatkan produktifitas

tanaman. Ilmu Memupuk adalah Ilmu yang bertujuan menyelidiki zat-zat yang

perlu ditambahkan kedalam tanah guna pertumbuhan dan perkembangan tanaman

agar dapat berproduksi secara optimal (Sumono, 2013).

Pupuk merupakan bahan alami atau buatan yang ditambahkan ke tanah

dan dapat meningkatkan kesuburan tanah dengan menambah satu atau lebih hara

esensial. Pupuk dibedakan menjadi 2 macam yaitu pupuk organik dan pupuk

anorganik. Pupuk anorganik adalah pupuk yang dibuat oleh pabrik dengan

meramu bahan – bahan kimia dan memiliki kandungan hara yang tinggi

(Marsono, 2011).

Pupuk lambat tersedia merupakan pupuk yang kandungan hara di

dalamnya berada sebagai senyawa kimia atau memiliki sifat fisik tertentu

sehingga ketersediaannya tertunda beberapa saat setelah diaplikasikan sampai


5

akhirnya digunakan oleh tanaman. Penundaan ini dapat dilakukan dengan

mengendalikan kelarutan bahan di dalam air, hidrolisis lambat dan sebagainya.

Pada penelitian ini, pupuk lambat tersedia dibuat dengan memasukkan unsur hara

ke dalam bahan berpori, yaitu arang aktif yang mampu berperan sebagai sebagai

“rumah” bagi unsur hara tersebut (Nurhayati, 2000).

Pupuk adalah material yang ditambahkan pada media tanam atau tanaman

untuk mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan tanaman sehingga mampu

berproduksi dengan baik. Material pupuk dapat berupa bahan organik atau non

organik (mineral). Pupuk berbeda dengan suplemen. Pupuk yang mengandung

bahan bakar yang diperlukan pertumbuhan tanaman, sementara suplemen seperti

hormon tumbuhan membantu kelancaran proses metabolisme

(Hardjowigeno, 1993).

Karakteristik Pupuk

Urea

Pupuk Urea adalah pupuk kimia mengandung Nitrogen (N) berkadar

tinggi. Unsur Nitrogen merupakan zat hara yang sangat diperlukan tanaman.

Pupuk urea berbentuk butir-butir kristal berwarna putih. Pupuk urea dengan

rumus kimia (NH2)2CO merupakan pupuk yang mudah larut dalam air dan

sifatnya sangat mudah menghisap air (higroskopis), karena itu sebaiknya disimpan

di tempat yang kering dan tertutup rapat. Pupuk nitrogen (N) termasuk pupuk

kimia buatan tunggal.Jenis pupuk ini termasuk pupuk makro, sesuai dengan

namanya, pupuk dalam kelompok ini didominasi oleh unsur nitrogen (N). Adanya

unsur lain didalamnya lebih bersifat sebagai pengikat atau katalisator

(Sudihardjo et al., 2006).


6

Urea adalah suatu senyawa organik yang terdiri dari unsur karbon,

hidrogen, oksigen dan nitrogen dengan rumus CON2H4 atau (NH2)2CO. Urea juga

dikenal dengan nama carbamide yang terutama digunakan di kawasan Eropa.

Nama lain yang juga sering dipakai adalah carbamide resin, isourea, carbonyl

diamide dan carbonyldia mine. Senyawa ini adalah senyawa organik sintesis

pertama yang berhasil dibuat dari senyawa anorganik (Suryanullah, 2015).

Urea adalah persenyawaan antara NH4 (ammonia) dengan karbondioksida

(CO2).Urea dibuat dengan bahan dasar gas alam dan hasil sampingan tembaga

minyak bumi. Udara mudah menyerap air karena mempunyai sifat higroskopis.

Pada kelembaban 73%, Urea akan berubah menjadi air. Dipasaran, urea

telah banyak dijual dalam bentuk seperti prill (curah), bola-bola, kotak,

dan tablet (Yulistiani, 2017).

Gambar 1. Pupuk Urea

ZA

Sebagaimana urea, nitrogen dalam ZA tersedia bagi tanaman dalam bentuk

Amonium (NH4+), pupuk ZA memiliki kandungan nitrogen abtara 20,5-21 % dan

sulfat 24%. Adapun sifat-sifat pupuk ZA berbentuk Kristal bewarna putih, tidak

lengket dan mudah disebarkan (setyawidjaja, 1996).

Amonium Sulfat ( pupuk ZA ) mengandung unsur nitrogen dan sulfur,


7

sedangkan unsur sulfur ini tidak dimiliki pupuk nitrogen lainnya, misalnya urea

(CO(NH2)2), amonium nitrat (NH4NO3) dan sendawa chili (NaNO3). Kedua

unsur ini merupakan jenis unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah

besar atau disebut makronutrient. Senyawa (NH4+) dapat diserap secara langsung

oleh tanaman sehingga tidak membutuhkan mikroorganisme tanah untuk

mengurai senyawa NH4+ menjadi unsur nitrogen, seperti pada pupuk urea

(CO(NH2)2) (Arief et al., 2016).

Pupuk ZA bersifat sedikit higroskopis (menarik air), tetapi ZA baru akan

menarik uap air pada kelembaban 80% pada suhu 30∘. Salah satu sifat pupuk ini

reaksi kerjanya yang agak lambat dan akar tanaman tidak dapat menyerapnya

bersamama air tanah namun harus mendapatkanya secara langsung ZA agak

mudah tercuci oleh air. Pupuk ini agak masam oleh karena itu dapat membuat

tanah menjadi masam jika terlalu sering diberi pupuk ZA. Pupuk ZA cocok

diberikan kepada tanah muda yang baru dibuka serta pada tanah yang kurang

mengandung kalsium (Lingga, 1986).

Gambar 2. Pupuk ZA
SP-36

Pupuk SP 36 merupakan hasil reaksi antara BP dengan asam sulfat,

bersifat tidak higroskopis dan larut dalam air sehingga cepat tersedia. Pupuk

SP 36 pilihan terbaik untuk memenuhi kebutuhan tanaman akan unsur hara fosfor

karena keunggulan yang dimilikinya, kandungan hara fosfor dalam bentuk tinggi
8

yaitu sebesar 36%, unsur hara fosfor yang terdapat dalam pupuk SP-36 hampir

seluruhnya larut dalam air, tidak mudah menghisap air, sehingga dapat disimpan

cukup lama dalam kondisi penyimpanan yang baik (Suwardi, 2009).

Kandungan phosfat dalam pupuk SP-36, berperan dalam pembelahan sel,

mempercepat pembentukan bunga, buah dan biji, mempercepat pematangan,

pemperkuat batang, dan berperan dalam perkembangan akar. Penelitian yang

dilakukan bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian dosis pupuk SP-36

terhadap keragaman morfologi dan sitologi jumlah kromosom dari beberapa

varietas unggul (Hidayat, 2010) .

Salah satu pupuk fosfat adalah SP-36, pupuk ini termasuk pupuk super

fosfat (Ca(H2PO4)2). Pupuk ini jika diaplikasikan ke dalam tanah dapat

menyebabkan tanah menjadi masam. Asam fosfat secara sempurna akan

membebaskan ion H+ ke dalam tanah bila pH mulai 3,0 hingga 7,0. Reaksi asam

fosfat meliputi :H3PO4 H+ + H2PO4- , H2PO4- H+ + HPO4 2- , HPO42 - H+ + PO43-

Dua reaksi yang pertama terjadi pada lingkungan tanah yang relatif asam hingga

netral. Disini ada dua ion H+ yang dibebaskan. Sementara reaksi ketiga

boleh dikatakan tidak terjadi karena berlangsung pada pH yang sangat alkalis

yaitu 9-12 terjadi karena berlangsung pada pH yang sangat alkalis

yaitu 9-12 (Mukhlis et al., 2011).

Gambar 3. Pupuk SP- 36


9

RP

Difinisi fosfat alam menurut American Geological Institute adalah batuan

sedimen yang tersusun terutama oleh mineral fosfat. Berdasarkan pada komposisi

mineralnya batuan sedimen fosfat dapat dibedakan atas fosfat-Ca,

fosfat Ca- Al-Fe dan fosfat Fe-Al . Ketiga jenis fosfat tersebut dapat merupakan

suatu sekuen pelapukan dengan fosfat Fe-Al adalah yang paling lapuk

(Kasno, 2017).

Unsur fosfat merupakan salah satu nutrisi utama yang sangat esensial bagi

tanaman disamping unsure nitrogen dan kalium. Peranan fosfat yang terpenting

bagi tanaman adalah memacu pertumbuhan akar dan pembentukan sistem

perakaran serta memacu pertum- buhan generatif tanaman. Fosfat banyak tersedia

di alam sebagai batuan fosfat dengan kandungan tri kalsium fosfat yang tidak larut

dalam air. Agar dapat dimanfaatkan tanaman, batuan fosfat alam harus diubah

menjadi senyawa fosfat yang larut dalam air (Budi, 2009).

Rock phosphate lebih murah dari superphosphate sebagai sumber P dan

mempunyai efek residual yang lebih lama dalam tanah. Rock phosphate juga

cenderung meningkatkan pH tanah karena mempunyai kadar CaO yang tinggi,

(Radjagukguk, 1982). Ketersediaan rock phosphate akan meningkat bila pada

tanah terdapat bahan organik yang sedang mengalami pelapukan (Suci, 2010).

Gambar 3. Pupuk RP
10

KCl

Pupuk KCl adalah pupuk yang sangat berguna untuk meningkatkan hasil

tanaman melalui fungsinya yang mampu membantu pertumbuhan organ-organ

genertif. Organ generatif seperti biji, buah, dan bunga. Fungsi pupuk KCl tersebut

diperoleh dari senyawa K2O yang terkandung di dalamnya (Novizan, 2005).

Bentuk kalium tersedia dalam tanah untuk diserap tanaman adalah K dapat

ditukar (Kdd) dan K larutan (K+), serta sebagian kecil K tidak dapat ditukar.

Tanaman menyerap K dari tanah dalam bentuk ion K+. Melaporkan bahwa 14.5

mg/kg K dalam larutan keseimbangan sudah cukup untuk mendapatkan hasil

tertinggi tanaman yang banyak membutuhkan K. Batas kritis K untuk tanaman

kacang tanah 2-3 persen (Silahooy, 2018).

Kalium merupakan unsur hara makro yang penting selain N dan P serta

diserap tanaman dalam jumlah besar, kalium dalam tanaman berfungsi sebagai

kofaktor untuk 40 enzim bahkan lebih, meningkatkan ukuran dan berat buah,

meningkatkan respon penyerapan P, menyehatkan proses fisiologi tanaman, dan

meningkatkan toleransi tanaman terhadap kondisi iklim yang ekstrim serta

ketahanan terhadap penyakit (Rido, 2018).

Gambar 5. Pupuk KCl


11

ZK (Zwavelzure Kalium)

Potassium Sulphate (ZK) atau biasa disebut Sulphate of Potash (SOP)

telah dikenal sejak abad ke-14 yang merupakan garam berwarna putih dan

memiliki sifat tidak mudah terbakar serta larut di dalam air. ZK digunakan sebagai

pupuk yakni sumber senyawa kalium dan sulfur pada tanaman perkebunan seperti

rami, kapas, dan tembakau. Di Indonesia pupuk ini tidak disubsidi sehingga

harganya relatif tinggi di pasaran (Zikri et al., 2012).

Menurut Badan Standarisasi Nasional (BSN), Pupuk ZK adalah pupuk

anorganik berbentuk butiran atau serbuk dengan rumus kimia K2SO4 yang

dimanfaatkan sebagai sumber hara kalium dan belerang. Produk pupuk ZK yang

dihasilkan oleh PT. Petrokimia Gresik berupaya mengikuti Standar Nasional

Indonesia (SNI) nomor seri 02-2809-2005 dengan beberapa kriteria batas

(minimum atau maksimum) (Darmanto et al., 2017).

Kalium sulfat (K2SO4) (juga dikenal sebagai garam abu sulfur)

merupakan garam yang terdiri dari kristal putih yang dapat larut dalam air dan

tidak mudah terbakar. Kalium sulfat ialah garam yang awalnya dikenal pada abad

ke-14, dan dipelajari oleh Glauber, Boyle dan Tachenius, disebut di abad ke-17

sebagai arcanuni atau sal duplicatum yang dianggap sebagai kombinasi antara

garam asam dengan garam alkalin. Senyawa ini dihasilkan sebagai biproduk

dalam banyak reaksi kimia, dan kemudian digunakan untuk disuling dari kainit,

salah satu mineral Stassfurt, namun proses itu telah ditinggalkan karena garam

dapat dibuat cukup murah dari klorida dengan membusukkannya denganasam

belerang dan calcining residunya. Untuk memurnikan produk mentahnya maka

dilarutkan dalam air panas dan larutan yang disaring dan bisa didinginkan, saat
12

bagian terbesar garam yang dilarutkan itu menghablur dengan promptitule yang

khas (Zikri et al., 2012).

Gambar 6. Pupuk ZK

Respon Pemupukan

Anjuran pemupukan yang tepat terus digalakkan melalui program

pemupukan berimbang (dosis dan jenis pupuk yang digunakan sesuai dengan

kebutuhan tanaman dan kondisi lokasi/spesifik lokasi), namun sejak sekitar tahun

1996 telah terjadi penurunan produktivitas (leveling off) sedangkan penggunaan

pupuk terus meningkat. Hal ini berarti terjadi penurunan efisiensi pemupukan.

Berbagai faktor tanah dan lingkungan tanaman harus dikaji lebih mendalam

(Nurmegawati et al., 2012).

Pupuk merupakan sumber unsur hara utama yang sangat menentukan

tingkat pertumbuhan dan produksi tanaman. Setiap unsur hara memiliki peranan

masing-masing dan dapat menunjukkan gejala tertentu pada tanaman apabila

ketersediaannya kurang. Beberapa hal yang harus diperhatikan agar pemupukan

efisien dan tepat sasaran adalah meliputi penentuan jenis pupuk, dosis pupuk,

metode pemupukan, waktu dan frekuensi pemupukan serta pengawasan mutu

pupuk (Sumarsih, 2013).


13

Pemupukan adalah tindakan memberikan tambahan unsur-unsur hara pada

komplek tanah, baik langsung maupun tak langsung dapat menyumbangkan bahan

makanan pada tanaman. Tujuannya untuk memperbaiki tingkat kesuburan tanah

agar tanaman mendapatkan nutrisi yang cukup untuk meningkatkan kualitas dan

kuantitas pertumbuhan tanaman (Darmawan, 2006).

Dalam aplikasi pupuk harus diperhatikan kebutuhan hara tanaman, agar

tanaman tidak mendapatkan suplai hara secara berlebihan. Suplai hara yang terlalu

sedikit atau terlalu banyak dapat membahayakan pertumbuhan tanaman. Pupuk

dapat diberikan lewat tanah ataupun disemprotkan ke permukaan daun

(Priyatno et al., 2004).

Tanaman dapat memanfaatkan semaksimal mungkin unsur hara dari pupuk

melalui minimalisasi pencucian dan penguapan. Salah satu upaya yang dilakukan

untuk menghindari penguapan dan pencucian pupuk adalah melakukan

pemupukan yang berulang, atau dengan kata lain mengatur frekuensi pemupukan

pada tanaman. Keberhasilan pemupukan juga ditentukan oleh faktor waktu

pemupukan. Waktu pemberian haruslah tepat, misalnya pemberian pupuk yang

terlalu awal akan membuat pupuk cepat hilang sehingga tidak terserap oleh

tanaman, jadi pupuk harus diberikan sehingga saat tanaman membutuhkan unsur

hara tersebut tersedia bagi tanaman (Damanik et al.,2011).


14

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu Percobaan

Adapun percobaan ini dilakukan di lahan percobaan dan di Laboratorium

Pupuk dan Pemupukan, Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian,

Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian tempat ± 25 mdpl.

Pelaksanaan percobaan ini dilakukan atau dimulai pada tanggal 1 Maret 2019

sampai dengan 6 Mei 2019.

Alat dan Bahan Percobaan

Adapun alat yang digunakan pada percobaan ini adalah cangkul untuk

mencangkul tanah, gembor untuk menyiram air, timbangan analitik sebagai alat

untuk menimbang berat pupuk yang akan diaplikasikan, aqua cup sebagai tempat

untuk merendam benih, penggaris sebagai alat ukur panjang tanaman, meteran

untuk mengukur lahan, jangka sorong sebagai alat ukur diameter batang, spidol

untuk menandai polybag, plank sebagai penanda plot, kamera sebagai alat

dokumentasi, dan alat tulis untuk menulis data.

Adapun bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah benih jagung

(Zea mays L.) bersertifikat sebagai bahan tanam, top soil sebagai media tanam,

pupuk Urea, ZA, SP-36, RP, KCl, dan ZK sebagai bahan perlakuan pada tanah,

polybag sebagai tempat tanah, batu bata sebagai alas polybag, air untuk menyiram

tanaman, kertas label sebagai penanda untuk setiap perlakuan, dan plastik pupuk

sebagai wadah setiap pupuk.


15

Pelaksanaan Penelitian

Persiapan Areal Tanam

Adapun yang dilakukan dalam persiapan areal tanam adalah pembersihan

gulma, pembuatan paret (aliran drainase) dengan ukuran 30 cm dan kedalaman 15

cm, pembuatan plot dengan ukuran panjang 6 m dan lebar 1 m.

Gambar 7. Foto Lahan Percobaan

Persiapan Media Tanam

Tanah yang telah diambil sebagai media tanam dimasukkan ke dalam

polybag sebanyak 3/4 kemudian diletakkan polybag yang telah terisi di lahan

percobaan.

Penanaman

Adapun benih yang digunakan pada praktikum ini adalah benih jagung.

Benih tanaman jagung indikator ditanam tepat di tengah polybag sebanyak 2-3 biji

pada kedalaman 2-3 cm. Benih tanaman jagung direndam terlebih dahulu dalam

aqua cup yang telah terisi air dengan waktu 5 menit.

Pemupukan

Pupuk diaplikasikan setelah satu bulan tanam pada tanaman yang telah

menunjukan gejala kekahatan hara. Diaplikasikan sesuai dengan perlakuan dan

dosis dari masing-masing pupuk yaitu Urea 2,2 gr, ZA 4,7 gr, SP-36 3,1 gr, RP
16

3,81 gr, KCl 1 gr, dan ZK 1,2 gr. Dilakukan pemupukan dengan cara ditugal pada

samping tanaman.

Pemeliharaan Tanaman

Penyiraman

Adapun kegiatan penyiraman dilakukan setiap hari. Apabila turun hujan

tanaman tidak perlu disiram pada hari itu, karena tanaman sudah cukup air dan

tidak perlu lagi dilakukan penyiraman.

Penyiangan

Penyiangan dilakukan pada setiap saat kegiatan praktikum dilaksanakan

secara teratur, penyiangan dilakukan seminggu sekali di lahan dengan

membersihkan gulma pada polybag dengan cara mencabut.

Parameter Pengamatan

Tinggi Tanaman (cm)

Adapun kegiatan yang dilakukan dalam mengukur tinggi tanaman dimulai

dari 2 MST, diukur mulai dari dasar batang di permukaan tanah hingga sampai

titik tumbuh tanaman jagung menggunakan rol (penggaris) dengan cara daun

tanaman di kuncupkan dari bawah ke atas hingga didapat daun tanaman yang

paling tinggi.

Agar tidak terjadi perubahan dasar pengukuran akibat pertumbuhan maka

kita buat patok berupa stik eskrim yang ditanamkan dekat pada batang dan diberi

tanda awal pengukuran.

Jumlah Daun (helai)

Adapun kegiatan yang dilakukan dalam mengukur jumlah daun

tanaman jagung dengan cara menghitung jumlah daun yang sudah seutuhnya
17

membuka maka daun jagung sudah bisa dihitung dimulai 2 MST dan diamati

setiap minggu.

Diameter Batang (mm)

Adapun kegiatan yang dilakukan dalam mengukur diameter batang dengan

menggunakan jangka sorong yang diukur pada bagian batang bawah tanaman

jagung dapat diukur mulai 2 MST dan diamati setiap minggu.

Gejala Defisiensi

Adapun kegiatan yang dilakukan dalam melihat gejala defisiensi pada

tanaman jagung diperhatikan setiap saat praktikum, tanaman dilihat gejala

defisiensi dimulai dari tanaman yang sudah tumbuh dan muncul daun dan dilihat

tanaman mengalami gejala kekurangan air atau kekurangan pupuk (N, P, K).

Respon Pemupukan

Sifat bekerja (respon) pupuk menyatakan waktu yang diperlukan suatu

pupuk sejak saat pemberiannya hingga memperlihatkan pengaruhnya terhadap

pertumbuhan tanaman. Pengaruh tersebut dapat berupa perubahan warna daun

dari kuning menjadi hijau kembali (pengaruh unsur N) atau parameter

pertumbuhan lainnya. Sifat bekerjanya ini ada yang cepat, sedang atau lambat.

Cara Kerja:

 Lahan disiapkan hingga siap tanam tetapi tanpa pemberian pupuk sama sekali.

Kemudian dilakukan penanaman dengan tanaman jagung atau tanaman lain

yang mempunyai respon pemupukan yang baik.

 Setelah tanaman berumur satu bulan dan telah menunjukkan gejala kekahatan

hara lalu diberi pupuk yang akan diuji sifat bekerjanya.

 Pupuk yang dicobakan adalah Urea, ZA, SP-36, RP, KCl, dan ZK.
18

 Pemupukan dilakukan dengan cara menugal di samping tanaman.

 Pengamatan dilakukan pada saat pemupukan dan selanjutnya setiap minggu.

Parameter Yang Diamati

 Tinggi tanaman, lebar dan panjang daun serta perubahan warna daun dan

bentuk morfologi lainnya.

 Potret warna daun yang mengalami defisiensi dan proses pemulihannya.


19

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Tinggi Tanaman

Adapun praktikum yang dilakukan didapatkan hasil tinggi tanaman Jagung

(Zea maysL.) sebagai berikut:

Tabel 1. Tinggi Tanaman


Tanggal Jenis Pupuk
Pengamatan Urea ZA SP-36 RP KCl ZK
25 Maret 2019 19 21,3 18,4 24,3 24,2 23,2
1 April 2019 27,2 30,2 32 33,9 37,3 35,3
8 April 2019 38 49 53 47 65 60
15 April 2019 60 70 71 64 82 75
22 April 2019 86,1 102 92 82,2 97,6 97
29 April 2019 104,3 126,6 110,2 92,4 110,8 108,5
8 Mei 2019 118,2 141,4 128,3 105,5 131,1 125,3

Dari data diatas diketahui bahwa tinggi tanaman tertinggi adalah pada

perlakuan pemberian pupuk jenis ZA yaitu pada tinggi awal 21,3 cm dan tinggi

akhir 141,4 cm, sedangkan untuk tinggi tanaman terendah yaitu pada perlakuan

pemberian pupuk RP yaitu pada tinggi awal 24,3 cm dan tinggi akhir 105,5 cm

Jumlah Daun

Adapun praktikum yang dilakukan didapatkan hasil jumlah daun Jagung

(Zea mays L.) sebagai berikut:

Tabel 2. Jumlah Daun


Tanggal Jenis Pupuk
Pengamatan Urea ZA SP-36 RP KCl ZK
25 Maret 2019 2 3 2 3 3 3
1 April 2019 3 3 4 3 4 3
8 April 2019 4 5 6 4 6 6
15 April 2019 4 6 7 4 7 6
22 April 2019 6 8 6 5 5 5
29 April 2019 7 8 5 4 6 5
8 Mei 2019 8 8 6 5 6 5
20

Dari data diatas diketahui bahwa jumlah daun tertinggi adalah pada

perlakuan pemberian jenis pupuk ZA dan Urea yaitu pada jumlah awal 3 dan 2,

dan jumlah akhir 8 dan 8, sedangkan untuk jumlah daun terendah yaitu pada

perlakuan pemberian jenis pupuk RP dan ZK yaitu pada jumlah awal 3 dan 3, dan

jumlah akhir 5 dan 5.

Diameter Batang

Adapun praktikum yang dilakukan didapatkan hasil diameter batang

Jagung (Zea mays L.) sebagai berikut

Tabel 3. Diameter Batang


Tanggal Jenis Pupuk
Pengamatan Urea ZA SP-36 RP KCl ZK
25 Maret 2019 3,5 2,5 2,6 2,6 3 4
1 April 2019 4,45 4,25 4,65 5 6,3 5,35
8 April 2019 6,6 7,3 6,1 7,05 11,05 9,75
15 April 2019 9 10,5 11,9 9,25 14,15 12,75
22 April 2019 13,15 14,2 14,55 11,7 16,76 16,1
29 April 2019 15 16,75 16 12,5 17,8 17,3
8 Mei 2019 17,2 19 17,8 14,1 18,5 18,1

Dari data diatas diketahui bahwa diameter tanaman tertinggi adalah pada

perlakuan pemberian jenis pupuk ZA yaitu pada tinggi awal 2,5 mm dan tinggi

akhir 19 mm, sedangkan untuk diameter tanaman terendah yaitu pada perlakuan

pemberian jenis pupuk RP yaitu pada tinggi awal 2,6 mm dan tinggi akhir

14,1 mm.
21

Gejala Defisiensi dan Respon Pemupukan

Adapun gejala defisiensi yang terlihat pada tanaman jagung (Zea mays L.)

yang sesuai dengan tabel berikut ini

Tabel 4. Gejala Defisiensi dan Respon Pemupukan


Jenis Pengamatan I Pengamatan II
Keterangan
Pupuk Sebelum Pemupukan Sesudah Pemupukan

Pada perlakuan
Pemberian pupuk
urea gejala defisi-
ensi terlihat pada
Urea
daun bagian baw-
ah yang menguni-
ng berbentuk hur-
uf V

Pada perlakuan
pupuk ZA gejala
defisiensi terlihat
ZA pada daun bagian
bawah yang men-
guning berbentuk
huruf V.

Pada perlakuan
pemberian pupuk
SP-36 gejala
defisisensi
SP-36 terlihat pada
tulang daun
merah keunguan
daun melengkung
dan terplintir.
22

Pada perlakuan
pemberian pupuk
RP gejala defisie-
nsi ialah daun
RP bagian bawah
yang tulang daun
berwarna keung-
uan dan perlahan
mati.

Pada perlakuan
pemberian jenis
pupuk KCl,
gejala defisiensi
KCL terliha dari war-
na daun yang
hijau kekuningan
dan tulang daung
menguning

Pada perlakuan
pemberian pupuk
ZK gejala
defisiensi terlihat
ZK
pada bagian
bawah daun yang
mengerut dan
berwarna coklat`

Dari tabel diatas diketahui bahwa respon pupuk yang terbaik adalah adalah

pada perlakuan pemberian jenis pupuk ZA dan dan yang terendah adalah pada

perlakuan pemberian jenis pupuk SP-36.

Akhir Generatif Tanaman (9 Minngu Setelah Tanam)

Adapun akhir generatif tanaman pada tanaman jagung (Zea mays L.) yang

sesuai dengan tabel berikut ini :


23

Jenis Pupuk Bentuk Morfologi Keterangan

Urea Berbunga.

ZA Berbunga

SP-36 Berbunga

RP Berbunga

KCl Berbunga

ZK Berbunga
24

Pembahasan

Pada percobaan kali ini, dipilihnya tanaman jagung sebagai parameter

pengamatan pengaruh jenis tanah karena tanaman jagung memiliki umur yang

singkat dan juga pada tanaman jagung jika mengalami gejala defisiensi mudah

untuk dilihat. Hal ini sesuai dengan literatur Novizan (2005) yang menyatakan

bahwa tanaman jagung manis atau sweet corn merupakan jenis jagung yang

belum lama dikenal dan baru dikembangkan di Indonesia. Sweet corn semakin

popular dan banyak dikonsumsi karena memiliki rasa yang lebih manis

dibandingkan jagung biasa. Selain itu umur produksinya lebih singkat (genjah)

yaitu 70 – 80 hari sehingga sangat menguntungkan.

Berdasarkan tabel data hasil pengamatan tinggi tanaman (cm) diperoleh

data tanaman tertinggi pada perlakuan pemberian pupuk ZA dan data tanaman

terendah pada pemberian pupuk RP. Hal ini sesuai dengan literatur Arief et al

(2016) unsur ini merupakan jenis unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam

jumlah besar atau disebut makronutrient. Senyawa (NH4+) dapat diserap secara

langsung oleh tanaman sehingga tidak membutuhkan mikroorganisme tanah untuk

mengurai senyawa NH4+ menjadi unsur nitrogen, seperti pada pupuk urea

(CO(NH2)2).

Berdasarkan tabel data hasil pengamatan jumlah daun diperoleh data

tanaman tertinggi pada perlakuan pemberian pupuk jenis urea dan ZA dan yang

data tanaman terendah pada perlakuan pemberian RP dan ZK. Hal ini sesuai

dengan literatur literatur Hasbi (2015) yang menyatakan bahwa nitrogen

dibutuhkan dalam jumlah relatif besar pada setiap tahap pertumbuhan tanaman,

khususnya pada tahap pertumbuhan vegetatif, seperti pembentukan tunas atau


25

perkembangan batang dan daun. Fosfor dibutuhkan dalam pertumbuhan awal

bibit, sedangkan kalium berperan dalam proses metabolism, seperti fotosintesis

dan respirasi.

Berdasarkan tabel data hasil pengamatan diameter batang (mm) diperoleh

data tanaman tertinggi pada perlakuan pemberian pupuk jenis ZA dan data

tanaman terendah pada perlakuan pemberian pupuk jenis RP. Hali ini sesuai

dengan literatur lingga (1986) yang menyatakan bahwa pupuk ZA cocok

diberikan kepada tanah muda yang baru dibuka serta pada tanah yang kurang

mengandung kalsium.

Berdasarkan tabel data hasil pengamatan respon pemupukan diperoleh

respon tanaman tertinggi pada perlakuan pemberian pupuk jenis ZA dan respon

tanaman terendah pada perlakuan pemberian pupuk jenis SP-36. Hal ini sesuai

dengan literatur Rasid (2009) yang menyatakan bahwa respon pemupukan dilihat

dari gejala defisiensi yang dialami tanaman dan perubahanya setelah dilakukan

pemupukan.

Berdasarkan tabel data hasil akhir generatif tanaman (9 minngu setelah

tanam) diperoleh data bahwa pada perlakuan pemberian semua jenis pupuk

berbunga. Hal ini sesuai dengan literatur sumono (2013) yang menyatakan bahwa

pemupukan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan unsur hara bagi tanaman

sehingga dapat meningkatkan produktifitas tanaman.


26

KESIMPULAN

1. Pada percobaan kali ini, dipilihnya tanaman jagung sebagai parameter

pengamatan pengaruh jenis tanah karena tanaman jagung memiliki umur

yang singkat dan juga pada tanaman jagung jika mengalami gejala defisiensi

mudah untuk dilihat.

2. Berdasarkan tabel data hasil pengamatan tinggi tanaman (cm) diperoleh data

tanaman tertinggi pada perlakuan pemberian pupuk ZA dan data tanaman

terendah pada pemberian pupuk RP.

3. Berdasarkan tabel data hasil pengamatan jumlah daun diperoleh data

tanaman tertinggi pada perlakuan pemberian pupuk jenis urea dan ZA dan

yang data tanaman terendah pada perlakuan pemberian RP dan ZK.

4. Berdasarkan tabel data hasil pengamatan diameter batang (mm) diperoleh

data tanaman tertinggi pada perlakuan pemberian pupuk jenis ZA dan data

tanaman terendah pada perlakuan pemberian pupuk jenis RP.

5. Berdasarkan tabel data hasil pengamatan respon pemupukan diperoleh

respon tanaman tertinggi pada perlakuan pemberian pupuk jenis ZA dan

respon tanaman terendah pada perlakuan pemberian pupuk jenis SP-36.

6. Berdasarkan tabel data hasil akhir generatif tanaman (9 minngu setelah

tanam) diperoleh data bahwa pada perlakuan pemberian semua jenis pupuk

berbunga.
27

DAFTAR PUSTAKA

Arief, A., Yolan, S., Mubarak, K., Labba, I, P., Agung, B. 2016 Penggunaan
Pupuk Za Sebagai Pestisida Anorganik Untuk Meningkatkan Hasil Dan
Kualitas Tanaman Tomat Dan Cabai Besar.

Budi, F, S., Purbasari, A. 2009. Pembuatan Pupuk Fosfat Dari Batuan Fosfat
Alam Secara Acidulasi. Universitas Dipenogoro. Semarang.
Damanik, M. M. B. 2011. Kesuburan Tanah dan Pemupukan. USU Pres. Medan.
Darmanto, Heni, K., Atiek, I., Iwan, S., dan Ayu, A. A. 2018. Penerapan Bagan
Kendali Multivariat Robust Pada Data Produksi Pupuk ZK PT Petrokimia
Gresik. Universitas Brawijaya. Malang.

Darmawan. 2006. Klasifikasi Tanah, Dasar Teori Bagi Peneliti Tanah dan
Pelaksanaan Pertanian di Indonesia.Gajah Mada University
Press.Yogyakarta.
Fitriyani, M. A 2001. Pengaruh Cara Aplikasi Pemupukan Kelapa Sawit
Berdasarkan Potensi Produksi Untuk Meningkatkan Hasil Tandan Buah
Segar (TBS) (Skripsi). Universitas Lampung. Bandar Lampung. 58 hlm.
Hardjowigeno.1993. Klasifikasi Tanah Dan Pedogenesis.Akapress. Jakarta.
Hasibuan. A 2006. Studi Pemupukan N, P, K. Institut Pertanian Bogor.Bogor.
Hidayat. F. N. 2010. Pengaruh Pupuk Sp36 Terhadap Keragaman Morfologi Dan
Sitologi Pada Beberapa Varietas Kedelai [Glycine Max (L.)
Merill].Fakultas Pertanian. Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Jurusan Kimia, Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas
Hasanuddin Makassar.
Kasno, A., Rochayati., Prasetyo, G, H. 2017.Deposit, Penyebaran Dan
Karakteristik Fosfat Alam. Kanisius. Jakarta.
Lingga, P. 1986. Petunjuk Penguunaan Pupuk. Penebar Swadaya. Jakarta.
Marsono, W. 2011. Metode Aplikasi Pemupukan . UGM Pres. Yogyakarta.
Mukhlis, Sarifuddin, dan Hanum. 2011. Kimia Tanah. USU press.
Novizan.2005. Petunjuk Pemupukan Yang Efektif. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Nurhayati. 2000. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Nurmegawati., W. Wibawa., E.Makruf., D. Sugandi., dan T. Rahman., 2012.
Tingkat Kesuburan dan Rekomendasi Pemupukan N, P, dan K Tanah
Sawah Kabupaten Bengkulu Selatan. J. Solum 9 (2): 11-18.
28

Parman. 2007. Ilmu Kesuburan Tanah. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.


Priyanto, A dan D. Indradewa. 2004. Deteksi Kahat Hara N, P, K, Mg, dan
Capada Tanaman Bunga Matahari dengan Sistem Hidroponik. Agrosains
6 (1): 1-4.
Rido. S. 2018. Pengaruh Pemberian Pupuk Kcl Terhadap Pertumbuhan dan Hasil
Kedelai (Glycine Max L.) Yang Diberikan Saat Tanaman Mulai
Berbunga. Batang Hari.

Setyamidjaja, D. 1986. Pupuk dan Pemupukan. Simplex. Jakarta.


Silahooy. 2018. Efek Pupuk KCl dan SP-36 Terhadap Kalium Tersedia, Serapan
Kalium dan Hasil Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.) pada Tanah
Brunizem. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Suci Y.V.I. 2010. Pengaruh Pemberian Pupuk Rock Phosphate Dan Pupuk
Kandang Ayam Terhadap Ketersediaan N, P, K Pada Tanah Gambut
Untuk Budidaya Tanaman Jagung Manis (Zea Mays Saccharata Strut).
Staf Pengajar Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura. Pontianak.
Sudihardjo, A. R., H. Junedi., dan Y. Farni., 2006. Pemupukan Kelapa Sawit
Berdasarkan Potensi Produksi Untuk Meningkatkan Hasil Tandan Buah
Segar (TBS) Pada Lahan Marginal Kumpeh. 14 (1): 29-36
Sumarsih, S. 2013. Pupuk Hara Makro Sekunder Ca, Mg, S. Fakultas
PertanianUPN “Veteran” Yogyakarta.Yogyakarta.
Suryanullah. A, Subagio, Mirawati. B. 2015. Efektifitas Pupuk Kompos, Pupuk
Kandang Dan Urea Terhadap Pertumbuhan Bibit Klicung (Diospyros
Malabarica Desr. Kostel). Program Studi Pendidikan Biologi, FPMIPA
IKIP Mataram. Mataram.

Suwardi,A. 2009. Klasifikasi Tanah Dan Pedogenesis. Akapress. Jakarta.


Yulistiani. A. 2017. Pengaruh Aplikasi Pupuk Organik Dan Dosis Pupuk
Ureaterhadap Pertumbuhan, Produksi, Serta Pigmen Daun Pada Tanaman
Jagung Manis (Zea Mays Saccharata Sturt.) (Skripsi) Fakultas Pertanian
Universitas Lampung.Bandar Lampung.