You are on page 1of 64

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas segala
limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan karya tulis
ini. Sungguh suatu kesyukuran yang memiliki makna tersendiri, karena walaupun
dalam keadaan terdesak, kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Dalam penulisan karya tulis ini, kami mencoba membahas tentang “Promkes,
Perawatan Di Rumah & Perawatan Di Sekolah”.
Apa yang kami lakukan dalam makalah ini, masih jauh yang diharapkan dan
isinya masih terdapat kesalahan – kesalahan baik dalam penulisan kata maupun dalam
menggunakan ejaan yang benar. Oleh karena itu, kritikan dan saran yang sifatnya
membangun, kami harapkan sehingga makalah ini menjadi sempurna.

Gorontalo, April 2019

Penulis

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………………….1

DAFTAR ISI……………………………………………………………...2

DAFTAR TABEL………………………………………………………...3

DAFTAR GAMBAR……………………………………………………..4

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang…………………………………………………….5
B. Rumusan Masalah………………………………………………... 6
C. Tujuan Penulisan……………………………………………….….6

BAB II PEMBAHASAN

A. Promosi Kesehatan………………………………………………..7
B. Perawatan Di Rumah (Home Care)……………………………....24
C. Perawatan Di Sekolah…………………………………………….47

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ………………………………………………………63
B. Saran……………………………………………………………...63

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………64

2
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Standar petugas khusus promosi kesehatan di puskesmas………………21

Tabel 2. Standar petugas khusus promosi kesehatan di rumah sakit……………..22

Tabel 3. Standar sarana/peralatan minimal promosi kesehatan puskesmas………22

Tabel 4. Standar sarana/ peralatan minimal promosi kesehatan rumah sakit……..23

Tabel 5. Komponen, tugas pribadi, dan perawatan pelayanan

kesehatan rumah………………………………………………………….29

Tabel 6. Hubungan Antara Proses Keperawatan dan Standar


Praktik ANA…………………………………………………………….30
Tebel 7. Standar alat home care…………………………………………………...40

3
DAFTAR GAMBAR

Gmbar 1. Ruang lingkup promosi kesehatan berdasarkan tatanan

(tempat pelaksanaan)……………………………………………..18

Gambar 2. Promosi kesehatan pada tatanan sekolah………………………..19

Gambar 3. Promosi kesehatan pada tempat kerja…………………………...19

Gambar 4. Promosi kesehatan di tempat-tempat umum (TTU)…………..…20

Gambar 5. Pendidikan kesehatan di institusi pelayanan kesehatan…………20

Gambar 6. Dokter…………………………………………………………...42

Gambar 7. Perawat………………………………………………………….43

Gambar 8. Apoteker………………………………………………………...44

Gambar 9. Ahli fisiologi…………………………………………………….44

Gambar 10. Ahli gizi………………………………………………………..45

Gambar 11. Terapi wicara…………………………………………………..45

Gambar 12. Pekerja sosial…………………………………………………..46

Gambar 13. Pembantu kesehatan rumah…………………………………....46

Gambar 14. UKS…………………………………………………………...52

4
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesehatan merupakan totalitas dari faktor lingkungan, perilaku,
pelayanan kesehatan, dan faktor keturunan yang saling mempengaruhi
satu sama lain. Status kesehatan akan tercapai secara optimal, jika
keempat faktor secara bersama-sama memiliki kondisi yang optimal pula.1
Melihat keempat faktor pokok yang mempengaruhi kesehatan masyarakat
tersebut, maka dalam rangka memelihara dan meningkatkan kesehatan
masyarakat, hendaknya diperlukan intervensi yang juga diarahkan pada
keempat faktor tersebut. Pendidikan atau promosi kesehatan merupakan
bentuk intervensi terhadap faktor perilaku. Namun demikian, faktor
lingkungan, pelayanan kesehatan, dan faktor keturunan juga memerlukan
intervensi promosi kesehatan.
Istilah dan pengertian promosi kesehatan adalah merupakan
pengembangan dari istilah pengertian yang sudah dikenal selama ini,
seperti: Pendidikan Kesehatan, Penyuluhan Kesehatan, KIE (Komunikasi,
Informasi dan Edukasi). Promosi kesehatan/pendidikan kesehatan
merupakan cabang dari ilmu kesehatan yang bergerak bukan hanya dalam
proses penyadaran masyarakat atau pemberian dan peningkatan
pengetahuan masyarakat tentang kesehatan semata, akan tetapi di
dalamnya terdapat usaha untuk memfasilitasi dalam rangka perubahan
perilaku masyarakat.
Promosi kesehatan pada hakikatnya adalah suatu kegiatan atau usaha
untuk menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat, kelompok atau
individu. Dengan harapan bahwa dengan adanya pesan tersebut
masyarakat, kelompok atau individu dapat memperoleh pengetahuan
tentang kesehatan yang lebih baik. Oleh karena itu, pendidik atau petugas

5
yang melakukan promosi kesehatan memerlukan pengetahuan yang baik
mengenai metode penyampaian pesan-pesan kesehatan, alat bantu
pendidikan kesehatan dan juga teknik penyampaian serta media yang
digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan kesehatan tersebut dengan
harapan masyarakat dapat memperoleh pengetahuan tentang kesehatan
yang lebih baik dan dapat berpengaruh terhadap perilakunya.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep promosi kesehatan?
2. Bagaimana konsep perawatan di rumah?
3. Bagaimana konsep perawtan di sekolah?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui konsep promosi kesehatan
2. Untuk mengetahui konsep perawatan di rumah
3. Untuk mengetahui konsep perawatan di sekolah

6
BAB II

PEMBAHASAN

A. Promosi Kesehatan
1. Sejarah Promosi Kesehatan
Istilah Health Promotion (Promosi Kesehatan) sebenarnya sudah mulai
dicetuskan setidaknya pada era tahun 1986, ketika diselenggarakannya
konfrensi Internasional pertama tentang Health Promotion di Ottawa,
Canada pada tahun 1965. Pada waktu itu dicanangkan ”the Ottawa
Charter”, yang didalamnya memuat definisi serta prinsip-prinsip dasar
Health Promotion. Namun istilah tersebut pada waktu itu di Indonesia
belum terlalu populer seperti sekarang. Pada masa itu, istilah yang cukup
terkenal hanyalah penyuluhan kesehatan, dan disamping itu pula muncul
dan populer istilah-istilah lain seperti KIE (Komunikasi, Informasi, dan
Edukasi), Social Marketing (Pemasaran Sosial), Mobilisasi Sosial dan lain
sebagainya.
Suatu ketika pada tahun 1994, Dr.Ilona Kickbush yang pada saat itu
sebagai Direktur Health Promotion WHO Headquarter Geneva datang
melakukan kunjungan ke Indonesia. Sebagai seorang direktur baru ia telah
berkunjung kebeberapa negara termasuk Indonesia salah satunya. Pada
waktu itu pula Kepala Pusat Penyuluhan Kesehatan Depkes juga baru
diangkat, yaitu Drs. Dachroni, MPH., yang menggantikan Dr.IB Mantra
yang telah memasuki masa purna bakti (pensiun). Dalam kunjungannya
tersebut Dr.Ilona Kickbush mengadakan pertemuan dengan pimpinan
Depkes pada waktu itu baik pertemuan internal penyuluhan kesehatan
maupun eksternal dengan lintas program dan lintas sektor, termasuk FKM
UI, bahkan sempat pula Kickbush mengadakan kunjungan lapangan ke
Bandung.

7
Dari serangkaian pertemuan yang telah dilakukan serta perbincangan
selama kunjungan lapangan ke Bandung, Indonesia banyak belajar tentang
Health Promotion (Promosi Kesehatan). Barangkali karena sangat
terkesan dengan kunjungannya ke Indonesia kemudian ia menyampaikan
suatu usulan. Usulan itu diterima oleh pimpinan Depkes pada saat itu Prof.
Dr. Suyudi. Kunjungan Dr. Ilona Kickbush itu kemudian ditindaklanjuti
dengan kunjungan pejabat Health Promotion WHO Geneva lainnya, yaitu
Dr.Desmonal O Byrne, sampai beberapa kali, untuk mematangkan
persiapan konfrensi jakarta. Sejak itu khususnya Pusat Penyuluhan
Kesehatan Depkes berupaya mengembangkan konsep promosi kesehatan
tersebut serta aplikasinya di Indonesia.
Dengan demikian penggunaan istilah promosi kesehatan di indonesia
tersebut dipicu oleh perkembangan dunia Internasional. Nama unit Health
Education di WHO baik di Hoodquarter, Geneva maupun di SEARO,
India juga sudah berubah menjadi unit Health Promotion. Nama organisasi
profesi Internasional juga mengalami perubahan menjadi International
Union For Health Promotion and Education (IUHPE). Istilah promosi
kesehatan tersebut juga ternyata sesuai dengan perkembangan
pembangunan kesehatan di Indonesia sendiri, yang mengacu pada
paradigma sehat.
2. Definisi Promosi Kesehatan
Menurut Depkes RI (2006), promosi kesehatan adalah upaya
pemberdayaan terhadap perorangan, kelompok, dan masyarakat agar
memelihara, meningkatkan, dan melindungi kesehatan melalui
peningkatan pengetahuan, kemauan dan kemampuan, serta pengembangan
iklim yang mendukung, dilakuakn dari, oleh, dan untuk masyarakat sesuai
faktor budaya setempat.
Promosi kesehatan sebenarnya merupakan revitalisasi pendidikan di
masa lalu (WHO, 2004) yang bukan hanya sekedar proses penyadaran

8
masyarakat dalam pemberian dan peningkatan pengetahuan masyarakat di
bidang kesehatan, tetapi juga upaya untuk menjembatani perubahan
perilaku seseorang.
Dengan kata lain, promosi kesehatan merupakan program kesehatan
yang dirancang untuk membawa perbaikan, berupa perubahan perilaku,
baik dalam perubahan perilaku, baik dalam masyarakat maupun
organisasi, lingkungan fisik maupun non fisik, sosial budaya, ekonomi,
politik dan sebagainya. (Enmmelia Ratnawati)
3. Tujuan Promosi Kesehatan
Tujuan utama promosi kesehatan adalah :
a. Peningkatan pengetahuan atau sikap masyarakat
b. Peningkatan perilaku masyarakat
c. Peningkatan status kesehatan masyarakat.

Menurut Green (1990), tujuan promosi kesehatan terdiri dari tiga


tingkatan, yaitu :

a. Tujuan program
Tujuan program merupakan pernyataan tentang apa yang akan dicapai
dalam periode waktu tertentu yang berhubungan dengan status
kesehatan.
b. Tujuan pendidikan
Tujuan pendidikan merupakan deskripsi perilaku yang akan dicapai
dapat mengatasi masalah kesehatan yang ada.
c. Tujuan perilaku
Tujuan perilaku merupakan pendidikan atau pembelajaran yang harus
tercapai (perilaku yang diinginkan). Oleh sebab itu, tujuan perilaku
berhubungan dengan pengetahuan dan sikap.
4. Visi Dan Misi promosi Kesehatan

9
Perhatian utama dalam promosi kesehatan adalah mengetahui visi
serta misi yang jelas. Dalam konteks promosi kesehatan “Visi“ merupakan
sesuatu atau apa yang ingin dicapai dalam promosi kesehatan sebagai
salah satu bentuk penunjang program-program kesehatan lainnya.
Tentunya akan mudah dipahami bahwa visi dari promosi kesehatan tidak
akan terlepas dari koridor Undang-Undang Kesehatan Nomor 23 tahun
1992 serta organisasi kesehatan dunia WHO (World Health Organization).
Adapun visi dari promosi kesehatan adalah sebagai berikut :
a. Meningkatnya kemampuan masyarakat untuk memelihara dan
meningkatkan derajat kesehatan, baik fisik, mental, dan sosialnya
sehingga produktif secara ekonomi maupun sosial.
b. Pendidikan kesehatan disemua program kesehatan, baik
pemberantasan penyakit menular, sanitasi lingkungan, gizi
masyarakat, pelayanan kesehatan, maupun program kesehatan lainnya
dan bermuara pada kemampuan pemeliharaan dan peningkatan
kesehatan individu, kelompok, maupun masyarakat.

Dalam mencapai visi dari promosi kesehatan diperlukan adanya suatu


upaya yang harus dilakukan dan lebih dikenal dengan istilah “Misi”. Misi
promosi kesehatan merupakan upaya yang harus dilakukan dan
mempunyai keterkaitan dalam pencapaian suatu visi. Secara umum Misi
dari promosi kesehatan adalah sebagai berikut:

a. Advokasi (Advocation)
Advokasi merupakan perangkat kegiatan yang terencana yang
ditujukan kepada para penentu kebijakan dalam rangka mendukung
suatu isyu kebijakan yang spesifik. Dalam hal ini kegiatan advokasi
merupakan suatu upaya untuk mempengaruhi para pembuat keputusan
(decission maker) agar dapat mempercayai dan meyakini bahwa

10
program kesehatan yang ditawarkan perlu mendapat dukungan melalui
kebijakan atau keputusan-keputusan.
b. Menjembatani (Mediate)
Kegiatan pelaksanaan program-program kesehatan perlu adanya
suatu kerjasama dengan program lain di lingkungan kesehatan,
maupun lintas sektor yang terkait. Untuk itu perlu adanya suatu
jembatan dan menjalin suatu kemitraan (partnership) dengan berbagai
program dan sektor-sektor yang memiliki kaitannya dengan kesehatan.
Karenanya masalah kesehatan tidak hanya dapat diatasi oleh sektor
kesehatan sendiri, melainkan semua pihak juga perlu peduli terhadap
masalah kesehatan tersebut. Oleh karena itu promosi kesehatan
memiliki peran yang penting dalam mewujudkan kerjasama atau
kemitraan ini.
c. Kemampuan/Keterampilan (Enable)
Masyarakat diberikan suatu keterampilan agar mereka mampu dan
memelihara serta meningkatkan kesehatannya secara mandiri. Adapun
tujuan dari pemberian keterampilan kepada masyarakat adalah dalam
rangka meningkatkan pendapatan keluarga sehingga diharapkan
dengan peningkatan ekonomi keluarga, maka kemapuan dalam
pemeliharaan dan peningkatan kesehatan keluarga akan meningkat.
5. Sasaran Promosi Kesehatan
Berdasarklan pentahapan upaya promosi kesehatan, maka sasaran
dibagi dalam tiga kelompok sasaran, yaitu :
a. Sasaran Primer (primary target)
Sasaran umumnya adalah masyarakat yang dapat dikelompokkan
menjadi, kepala keluarga untuk masalah kesehatan umum, Ibu hamil
dan menyusui anak untuk masalah KIA (Kesehatan Ibu dan Anak)
serta anak sekolah untuk kesehatan remaja dan lain sebagianya.

11
Sasaran promosi ini sejalan dengan strategi pemberdayaan masyarakat
(empowerment).
b. Sasaran Sekunder (secondary target)
Sasaran sekunder dalam promosi kesehatan adalah tokoh-tokoh
masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, serta orang-orang yang
memiliki kaitan serta berpengaruh penting dalam kegiatan promosi
kesehatan, dengan harapan setelah diberikan promosi kesehatan maka
masyarakat tersebut akan dapat kembali memberikan atau kembali
menyampaikan promosi kesehatan pada lingkungan masyarakat
sekitarnya. Tokoh masyarakat yang telah mendapatkan promosi
kesehatan diharapkan pula agar dapat menjadi model dalam perilaku
hidup sehat untuk masyarakat sekitarnya.
c. Sasaran Tersier (tertiary target)
Adapun yang menjadi sasaran tersier dalam promosi kesehatan
adalah pembuat keputusan (decission maker) atau penentu kebijakan
(policy maker). Hal ini dilakukan dengan suatu harapan agar
kebijakan-kebijakan atau keputusan yang dikeluarkan oleh kelompok
tersebut akan memiliki efek/dampak serta pengaruh bagi sasaran
sekunder maupun sasaran primer dan usaha ini sejalan dengan strategi
advokasi (advocacy).
6. Strategi Promosi Kesehatan
Menurut WHO, 1984 terdapat 3 strategi dalam promosi kesehatan, yaitu:
a. Advokasi (advocacy)
Advokasi terhadap kesehatan merupakan sebuah upaya yang
dilakukan orang-orang di bidang kesehatan, utamanya promosi
kesehatan, sebagai bentuk pengawalan terhadap kesehatan. Advokasi
ini lebih menyentuh pada level pembuat kebijakan, bagaimana orang-
orang yang bergerak di bidang kesehatan bisa memengaruhi para
pembuat kebijakan untuk lebih tahu dan memerhatikan kesehatan.

12
Advokasi dapat dilakukan dengan memengaruhi para pembuat
kebijakan untuk membuat peraturan-peraturan yang bisa berpihak pada
kesehatan dan peraturan tersebut dapat menciptakan lingkungan yang
dapat mempengaruhi perilaku sehat dapat terwujud di masyarakat
(Kapalawi, 2007). Advokasi bergerak secara top-down (dari atas ke
bawah). Melalui advokasi, promosi kesehatan masuk ke wilayah
politik. Agar pembuat kebijakan mengeluarkan peraturan yang
menguntungkan kesehatan. Advokasi adalah suatu cara yang
digunakan guna mencapai suatu tujuan yang merupakan suatu usaha
sistematis dan terorganisir untuk mempengaruhi dan mendesakkan
terjadinya perubahan dalam kebijakan public secara bertahap maju.
Misalnya kita memberikan promosi kesehatan dengan sokongan dari
kebijakan public dari kepala desa sehingga maksud dan tujuan dari
informasi kesehatan bias tersampaikan dengan kemudahan kepada
masyarakat atau promosi kesehatan yang kita sampaikan dapat
menyokong atau pembelaan terhadap kaum lemah (miskin)
b. Dukungan sosial
Agar kegiatan promosi kesehatan mendapat dukungan dari tokoh
masyarakat. Dukungan social adalah ketersdiaan sumber daya yang
memberikan kenyamanan fisik dan psikologis sehingga kita dapat
melaksanakan kehidupan dengan baik, dukungan social ini adalah
orang lain yang berinteraksi dengan petugas. Contoh nyata adalah
dukungan sarana dan prasarana ketika kita akan melakukan promosi
kesehatan atau informasi yang memudahkan kita, atau dukungan
emosional dari masyarakat sehingga promosi yang diberikan lebih
diterima.
c. Pemberdayaan Masyarakat (empowerment)
Di samping advokasi kesehatan, strategi lain dari promosi
kesehatan adalah pemberdayaan masyarakat di dalam kegiatan-

13
kegiatan kesehatan. Pemberdayaan masyarakat dalam bidang
kesehatan lebih kepada untuk meningkatkan partisipasi masyarakat
dalam bidang kesehatan. Jadi sifatnya bottom-up (dari bawah ke atas).
Partisipasi masyarakat adalah kegiatan pelibatan masyarakat dalam
suatu program. Diharapkan dengan tingginya partisipasi dari
masyarakat maka suatu program kesehatan dapat lebih tepat sasaran
dan memiliki daya ungkit yang lebih besar bagi perubahan perilaku
karena dapat menimbulkan suatu nilai di dalam masyarakat bahwa
kegiatan-kegiatan kesehatan tersebut itu dari kita dan untuk kita
Dengan pemberdayaan masyarakat, diharapkan masyarakat dapat
berperan aktif atau berpartisipasi dalam setiap kegiatan.
Konferensi Internasional Promosi Kesehatan di Ottawa Canada
pada tahun 1986 menghasilkan Piagam Ottawa (Ottawa Charter). Di
dalam Piagam Ottawa tersebut dirumuskan pula strategi baru promosi
kesehatan, yang mencakup 5 butir yaitu:
1) Kebijakan berwawasan kebijakan (Healthy Public Policy)
Adalah suatu strategi promosi kesehatan yang ditujukan
kepada para penentu atau pembuat kebijakan , agar mereka
mengeluarkan kebijakan-kebijakan publik yang mendukung atau
menguntungkan kesehatan. Dengan perkataan lain, agar kebijakan-
kebijakan dalam bentuk peraturan, perundanagan, surat-surat
keputusan, dan sebagainya selalu berwawasan atau berorientasi
kepada kesehatan publik.
2) Lingkungan yang mendukung (Supportive Environment)
Strategi ini ditujukan kepada para pengelola tempat umum,
termasuk pemerintahan kota, agar mereka menyediakan sarana
prasarana atau fasilitas yang mendukung terciptanya perilaku sehat
bagi masyarakat , atau sekurang-kurangnya pengunjung tempat-
tempat umum tersebut. Lingkungan yangg mendukung kesehatan

14
bagi tempat-tempat umum antara lain: tersedianya tempat sampah,
tersedianya tempat buang air besar/kecil, tersedianya air bersih,
tersedianya bagi perokok dan non perokok dan sebagainya.
3) Reorientasi Pelayanan Kesehatan (Reorient Health Services)
Realisasi dari reorientasi pelayanan kesehatan pelayanan
kesehatan ini adalah para penyelenggara pelayanan kesehatan baik
pemerintah maupun swasta harus melibatkan, bahkan
memberdayakan masyarakatagar mereka juga dapat berperan
bukan hanya sebagai penerima pelayanan kesehatan, tettapinjuga
sekaligus sebagai penyelenggara pelayanan kesehatan masyarakat.
4) Ketrampilan individu (Personnel Skill)
Langkah awal dari peningkatan keterampilan dalam
memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka ini adalah
memberikan pemahaman-pemahaman kepada anggota masyarakat
tentang cara-cara memelihra kesehatan, mencegah penyakit,
mengenal penyakit, mencari pengobatan ke fasilitas kesehatan
profrsional, meningkatkan kesehatan, dan sebagainya. Metode dan
teknik pemberian pemahaman ini lebih bersifat individual dari
pada massa.
5) Gerakan Masyarakat (Community Action)
Untuk mendukung perwujudan masyarakat yang mau dan
mampu memelihara dan meningkatkan kesehatannya seperti
tersebut dalam visi promosi kesehatan ini, maka di dalam
masyarakat itu sendiri harus ada gerakan atau kegiatan-kegiatan
untuk kesehatan. Oleh sebab itu, promosi kesehatan harus
mendorong dan memacu kegiatan-kegiatan di masyarakat dalam
mewujudkan kesehtaan mereka. Tanpa adanya kegiatan
masyarakat di bidang kesehatan, niscahaya terwujud perilaku yang

15
kondusif untuk kesehatan, atau masyarakat yang mau dan mampu
memelihara serta meningkatkan kesehatan mereka.
7. Ruang Lingkup Promosi Kesehatan
Ilmu-ilmu yang dicakup promosi kesehatan dapat dikelompokkan menjadi
2 bidang yaitu:
a. Ilmu perillaku, yakni ilmu-ilmu yang menjadi dasar dalam membentuk
perilaku manusia, terutama psikologi, antropologi dan sosiologi.
b. Ilmu-ilmu yang diperlukan untuk interaksi perilaku (pembentukan dan
perubahan perilaku), antara lain pendidikan, komunikasi, manajemen,
kepemimpinan dan sebagainya.

Ruang lingkup promosi kesehatan dapat didasarkan kepada 2 dimensi,


yaitu dimensi aspek sasaran pelayanan kesehatan, dan dimensi tempat
pelaksanaan promosi atau tatanan (setting)

a. Ruang lingkup promosi kesehatan berdasarkan aspek pelayanan


kesehatan , secara garis besar terdapat 2 jenis pelayanan kesehatan,
yakni:
1) Pelayanan preventif dan promotif, adalah pelayanan bagi
kelompok masyarakat yang sehat, agar kelompok ini tetap sehat
dan bahkan meningkat status kesehatannya.
2) Pelayanan kuratif dan rehabilitatif, adalah pelayanan kelompok
masyarakat yang sakit, agar kelompok ini sembuh dari sakitnyadan
menjadi pulih kesehatannya.
Maka, berdasarkan jenis aspek pelayanan kesehatan ini,
promosi kesehatan mencakup 4 pelayanan, yaitu:
a) Promosi kesehatan pada tingkat promotif
Sasaran promosi kesehatan pada tingkat pelayanan
promotif adalah pada kelompok orang yang sehat, dengan
tujuan agar mereka mampu meningkatkan kesehatannya.

16
Apabila kelompok ini tidak memperoleh promosi kesehatan
bagaimana memelihara kesehata, maka kelompok ini akan
menurun jumlahnya, dan kelompok orang yang sakit akan
meningkat.
b) Promosi kesehatan pada tingkat preventif
Disamping kelompok orang yang sehat, sasaran promosi
kesehatan pada tingkat ini adalah kelompok yang beresiko
tinggi. Tujuan utama promosi kesehatan pada tingkat ini adalah
untuk mencegah kelompok-kelompok tersebut agar tidak jatuh
atau menjadi terkena sakit (primary prevention)
c) Promosi kesehatan pada tingkat kuratif
Sasaran promosi kesehatan pada tingkat ini adalah para
penderita penyakit (pasien). Tujuan promosi kesehatan pada
tingkat ini agar kelompok ini mampu mencegah penyakit
tersebut tidak menjadi lebih parah (secondary prevention).
d) Promosi kesehatan pada tingkat rehabilitatif
Promosi kesehatan pada tingkat ini mempunyai sasaran
pokok kelompok penderita atau pasien yang baru sembuh
(recovery) dari suatu penyakit. Tujuan utama promosi
kesehatan pada tingkat ini adalah agar mereka segera pulih
kembali kesehatnnya, dan atau mengurangi kecacactan
seminimal mungkin. Denganperkataan lain, promosi kesehatan
pada tahap ini adalah pemulihan dan mencegah kecacatan
akibat penyakitnya (tertiary prevention).
b. Ruang lingkup promosi kesehatan berdasarkan tatanan (tempat
pelaksanaan)
1) Promosi kesehatan pada tatanan keluarga (rumah tangga)
Keluarga adalah unit terkecil masyarakat. Untuk mencapai
perilaku sehat masyarakat, maka harus dimulai pada tatanan

17
masing-masing keluarga. Dari teori pendidikan dikatakan, bahwa
keluarga adlah tempat persemaian manusia sebgaai anggota
masyarakat. Karena itu, bila persemaian itu jelek maka akan jelas
berpengaruh pada masyarakat. Agar masing-masing keluarga
menjadi tempat yang kondusif untuk tumbuhnya perilaku sehat
bagi anak-anak sebagai calon anggota masyarakat, maka promosi
kesehatan akan sangat berperan. Dalam promosi kesehatan,
keluarga ini, sasaran utamanya adalah orang tua terutama ibu.
Karena ibulah dalam keluarga itu yang sangat berperan dalam
meletakkan dasar perilaku sehat pada anak-anak mereka sejak
lahir.

2) Promosi kesehatan pada tatanan sekolah


Sekolah merupakan perpanjangan tangan keluarga, artinya
sekolah merupakan tempat lanjutan unutk meletakkan dasar
perilaku bagi anak, termasuk perilaku kesehatan. Peran guru dalam
promosi kesehatan disekolah sanagt penting, karena guru pada
umunya lebih dipatuhi oleh anak-anak daripada orang tuanya.

18
3) Promosi kesehatan pada tempat kerja
Promosi kesehatan di tempat kerja inidapat dilakukan oleh
pimpinan perusahaan atau tempat kerja dengan memfasilitasi
tempat kerja yang kondusif bagi perilaku sehat bagi karyawan atau
pekerjaanya, misalnya tersedianya air bersih, tempat pembuangan
kotoran, tempat smapah, kantin, ruang tempat istirahat, dan
sebagainya.

4) Promosi kesehatan di tempat-tempat umum (TTU)


Tempat-tempat umum adalah tempat dimana orng-orang
berkumpul pada waktu-waktu tertentu. Di tempat-tempat umum
juga perlu dilaksanakan promosi kesehatan dengan menyediakn
fasilitas-fasilitas yang dapat mendukung perilaku sehat bagi
pengujungnya.

19
5) Pendidikan kesehatan di institusi pelayanan kesehatan
Tempat-tempat pelayanan kesehatan, rumah sakit, puskesmas,
balai pengobatan, poliklinik, tempat praktik dokter, dan sebagainya
adalah tempat adalah tempat yang paling strategis untuk promosi
kesehatan. Pelaksanaan promosi kesehatan di institusi pelayanan
kesehatan ini dapata dilakukan baik secara individual oleh para
petugas kesehatan kepada para pasien atau kelurga pasien, atau
dapat dilakukan pada kelompok-kelompok.

8. Metode, Media, dan Sumber Daya


a. Metode dan media
Metode yang di maksud disini adalah metode komunikasi.
Pemilihan metode harus dilakukan secara cermat dengan
memerhatikan kemasan informasinya, keadaan penerima informasi
(termasuk sosial budayanya) dan hal-hal lain seperti ruang dan waktu.

20
Meida atau sarana informasi juga perlu dipilih dengan cermat
mengikuti metode yang telah ditetapkan. Selain itu juga harus
memerhatikan sasaran atau penerima informasi. Bila penerima
informasi tidak bisa membaca misalnya, komunikasi tidak akan efektif
jika digunakan media yang penuh tulisan.
b. Sumber daya
Sumber daya utama yang diperlukan untuk penyelenggaraan
promosi kesehatan puskesmas atau rumah sakit adalah tenaga (sumber
daya manusia) sarana/peralatan termasuk media komunikasi, dan dana
atau anggaran. Memang pada hakikatnya promosi kesehatan bukan
melulu tugas dari petugas khusus promosi kesehatan. Promosi
kesehatan adalah tugas bagi semua petugas kesehatan. Tetapi petugas-
petugas kesehatan selain petugas khusus promosi kesehatan itu
terutama dibebani tugas pemberdayaan, yaitu melalui konseling
individu dan konseling keluarga (kunjungan rumah). Itupun pada saat
perencanaannya dan pengadaan alat peraga atau media komunikasinya
harus dibantu oleh petugas khusus promosi kesehatan. untuk itu semua
petugas kesehatan puskesmas atau rumah sakit yang melayani pasien
/klien hendaknya memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam
memberikan informasi atau konseling. Jika keterampilan ini belum
dimiliki, maka harus diselenggarakan program pelatihan/kursus bagi
mereka.
Tabel 1
Standar petugas khusus promosi kesehatan di puskesmas
kualifikasi jumlah Kompetensi umum
D3 kesehatan ditambah 1 orang 1. Membantu tenaga
minat & bakat dibidang kesehatan lain
promosi kesehatan merancang kegiatan
pemberdayaan
2. Melakukan bina
susasana dan advokasi

21
Tabel 2
Standar petugas khusus promosi kesehatan di rumah sakit
Kualifikasi Jumlah Kompetensi umum
1. S1kesehatan/kese 1 orang 1. Membantu petugas RS
hatan masyarakat lain merancang
2. D3 kesehatan 2 orang pemberdayaan
ditambah minat & 2. Membantu/fasilitasi
bakat dibidang pelaksanaan
promosi pemberdayaan, bina
kesehatan suasana dan advokasi

Tabel 3

Standar sarana/peralatan minimal promosi kesehatan puskesmas

No. Jenis Sarana/Peralatan Jumlah


1. Flipcharts & stands 1 set
2. Over Head Projector (OHP) 1 buah
3. Ampilifier & wireless microphone 1 set
4. Kamera foto 1 buah
5. Megaphone/Public Address System 1 set
6. Portable generator 1 buah
7. Tape/cassette recorder/player 1 buah

22
Tabel 4

Standar sarana/ peralatan minimal promosi kesehatan rumah sakit

No. Jenis Sarana Peralatan Jumlah


1. Over Head Projector (OHP) 1 buah
2. Ampilifier & wireless microphone 1 set
3. Layar yang dapat digulung 1 buah
4. Kamera foto 1 buah
5. Cassette recorder/player 1 buah
6. TV ditiap ruang tunggu & ruang promosi kesehatan 1 buah
7. VCD/DVD player ditiap ruang tunggu & ruang 1 buah
promosi kesehatan
8. Computer & printer 1 set
9. Laptop & LCD projector untuk presentasi 1 set
10. Gadgets krlrngkapan laptop untuk presentasi 1 set
11. Public Address System/ meghaphone 1 buah

23
B. Perawatan Dirumah (Home Care)
1. Definisi Home Care
Pelayanan kesehatan rumah adalah komponen dari rentang pelayanan
kesehatan yang komprehensif yang di dalamnya terdapat pelayanan
kesehatan untuk indiidu dan keluarga di tempat tinggal mereka dengan
tujuan meningkatkan, memelihara atau memulihkan kesehatan atau
meningkatkan kemandirian, menimalkan akibat dari ketidakmampuan dan
penyakit terminal.
Pelayanan kesehatan rumah merupakan kunjungan rumah dan bagian
integral dari pelayanan keperawatan, yang dilakukan oleh perawat untuk
membantu individu, keluarga, dan masyarakat mencapai kemandirian
dalam menyelesaikan masalah kesehatan yang mereka hadapi.
Menurut ANA (1992) pelayanan kesehatan rumah adalah perpaduan
perawat kesehatan masyarakat dan ketrampilan tekhnis yang terpilih dari
perawat spesialis yang terdiri dari kumpulan perawat komunitas, seperti
perawat gerontologi, perawat psikiatri, perawat ibu dan anak, perawat
kesehatan masyarakat, dan perawat medikal – bedah.
Dari beberapa definisi di atas komponen utama pada pelayanan
kesehatan rumah adala pasien, keluarga, pemberi pelayanan kesehatan
yang diberikan secara profesional (multidisiplin), direncanakan,
dikoordinasikan bertujuan membantu pasien kembali ketingkat kesehatan
optimum dan mandiri yang dilaksanakan di rumah beradasarkan kontrak
dan merupakan kelanjutan dari pelayanan keperawatan pada tiap tingkat
fasilitas pelayanan kesehatan.
2. Tujuan Home Care
a. Tujuan Umum
Meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarga
b. Tujuan Khusus

24
1) Terpenuhi kebutuhan dasar (bio-psiko-sosial-spiritual) secara
mandiri
2) Meningkatan kemandirian keluarga dalam pemeliharan kesehatan
3) Meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan kesehatan dirumah
3. Prinsip Home Care
Agar pelayanan home care ini dapat berjalan dengan lancar maka perlu
diperhatikan beberapa prinsip dalam melakuakan pelayanan home care.
Prinsip – prinsip tersebut diantaranya :
a. Pengelolaan home care dilaksanakan oleh perawat
b. Pelaksana Home Care adalah terdiri dari profesi kesehatan yang ada
(dokter, bidan, perawat,ahli gizi, apoteker, sanitarian dan tenaga
profesi yang lain).
c. Mengumpulkan data secara sistematis, akurat dan komrehensif.
d. Memberipelayananparipurna yang terdiri dari prepentif, kuratif,
promotif dan rehabilitaif.
e. Bertanggung jawab terhadap pelayanan yang bermutu melalui
manajemen.
f. Memelihara dan menjamin hubungan baik diantara anggota tim.
g. Berpartisipasi pada kegiatan riset untuk pengembangan home care.
h. Menggunakan kode etik profesi dalam melaksanakan pelayanan di
home care.
4. Bentul-Bentuk Layanan Home Care
a. Berdasarkan fokus masalah kesehatan
Berdasarkan jenis masalah kesehatan yang dialami oleh pasien,
pelayanan keperawatan di rumah (home care) di bagi tiga kategori
yaitu :
1) Layanan perawatan pasien sakit
Keperawatan pasien yang sakit di rumah merupakan jenis yang
paling banyak dilaksanakan pada pelayanan keperawatan di rumah

25
sesuai dengan alasan kenapa perlu di rawat di rumah. Individu
yang sakit memerlukan asuhan keperawatan untuk meningkatkan
kesehatannya dan mencegah tingkat keparahan sehingga tidak
perlu di rawat di rumah sakit.
2) Layanan berbasis promotif dan preventif
Pelayanan atau asuhan kesehatan masyarakat yang fokusnya
pada promosi dan prevensi. Pelayanannya mencakup
mempersiapkan seorang ibu bagaimana merawat bayinya setelah
melahirkan, pemeriksaan berkala tumbuh kembang anak,
mengajarkan lansia beradaptasi terhadap proses menua, serta
tentag diet mereka.
3) Pelayanan atau asuhan spesialistik
Pelayanan atau asuhan spesialistik yang mencakup pelayanan
pada penyakit-penyakit terminal misalnya kanker, penyakit-
penyakit kronis seperti diabetes, stroke, hipertensi, masalah-
masalah kejiwaan dan asuhan pada anak.
b. Berdasarkan institusi penyelenggara
Ada beberapa jenis institusi yang dapat memberikan layanan Home
Care (HC), antara lain:
1) Institusi Pemerintah
Di Indonesia pelayanan Home Care (HC) yang telah lama
berlangsung dilakukan adalah dalam bentuk perawatan
kasus/keluarga resiko tinggi (baik ibu, bayi, balita maupun lansia)
yang akan dilaksanakan oleh tenaga keperawatan puskesmas
(digaji oleh pemerintah). Pasien yang dilayani oleh puskesmas
biasanya adalah kalangan menengah ke bawah. Di Amerika hal ini
dilakukan oleh Visiting Nurse (VN)
2) Institusi Sosial

26
Institusi ini melaksanakan pelayanan Home Care (HC) dengan
sukarela dan tidak memungut biaya. Biasanya di lakukan oleh
LSM atau organisasi keagamaan dengan penyandang dananya dari
donatur, misalnya Bala Keselamatan yang melakukan kunjungan
rumah kepada keluarga yang membutuhkan sebagai wujud
pangabdian kepadan Tuhan.
3) Institusi Swasta
Institusi ini melaksanakan pelayanan Home Care (HC) dalam
bentuk praktik mandiri baik perorangan maupun kelompok yang
menyelenggarakan pelayanan HC dengan menerima imbalan jasa
baik secara langsung dari pasien maupun pembayaran melalui
pihak ke tiga (asuransi). Sebagaimana layaknya layanan kesehatan
swasta, tentu tidak berorientasi “not for profit service”
4) Home Care (HC) Berbasis Rumah Sakit (Hospital Home Care)
Merupakan perawatan lanjutan pada pasien yang telah dirawat
dirumah sakit, karena masih memerlukan bantuan layanan
keperawatan, maka dilanjutkan dirumah. Alasan munculnya jenis
program ini selain apa yang telah dikemukakan dalam
alasan Home Care (HC) diatas, adalah :
a) Ambulasi dini dengan resiko memendeknya hari rawat,
sehingga kesempatan untuk melakukan pendidikan kesehatan
sangat kurang (misalnya ibu post partum normal hanya dirawat
1-3 hari, sehingga untuk mengajarkan bagaimana cara
menyusui yang baik, cara merawat tali pusat bayi, memandikan
bayi, merawat luka perineum ibu, senam post partum, dll)
belum dilaksanakan secara optimum sehingga kemandirian ibu
masih kurang.
b) Menghindari resiko infeksi nosokomial yang dapat terjadi pada
pasien yang dirawat dirumah sakit.

27
c) Makin banyaknya penyakit kronis, yang bila dirawat di RS
tentu memerlukan biaya yang besar
d) Perlunya kesinambungan perawatan pasien dari rumah sakit ke
rumah, sehingga akan meningkatkan kepuasan pasien maupun
perawat. Hasil penelitian dari “Suharyati” staf dosen
keperawatan komunitas PSIK Univ. Padjajaran Bandung di
RSHS Bandung menunjukkan bahwa konsumen RSHS
cenderung menerima program HHC (Hospital Home
Care) dengan alasan ; lebih nyaman, tidak merepotkan,
menghemat waktu & biaya serta lebih mempercepat tali
kekeluargaan.
c. Berdasarkan pemberi layanan
Pemberi layanan keperawatan di rumah terdiri dari dua jenis tenaga,
yaitu :
1) Tenaga informal
Tenaga informal adalah anggota keluarga atau teman yang
memberikan layanan kepada pasien tanpa dibayar. Diperkirakan
75% lanjut usia di Amerika dirawat oleh jenis tenaga ini.
2) Tenaga formal
Tenaga formal adalah perawat yang harus bekerja bersama
keluarga untuk menyelesaikan masalah kesehatan, sehingga harus
memperhatikan semua aspek kehidupan keluarga. Oleh karena itu
perawat di masyarakat dituntut untuk mampu berfikir kritis dan
menguasai ketrampilan klinik dan harus seorang RN. Dengan
demikian diharapkan perawat dapat memberikan layanan sesuai
dengan standard yang telah ditetapkan.
5. Perawatan Tidak langsung
Perawatan tidak langsung dilakukan ketika klien tidak mempunyai
kontak langsung dengan perawat. Perawatan tidak langsung lebih kearah

28
kegiatan konsultasi. Perawat pelayanan kesehatan rumah dihubungi olwh
perawat rumah sakit untuk melanjutkan kegiatan yang telah dilakukan
klien dan keluarga, misalnya dalam hal merawat ostomi.
Perawat pelayan kesehatan rumah berfungsi sebagai tenaga konsultan,
nasihat yang diberikan tentang bagaimana cara mengatur klien dengan
permasalahan tertentu melalui kerja sama dengan anggota lain dalam tim.
Pertemuan tim secara berkala yang memberikan perawatan tidak langsung
dipelayanan kesehatan rumah dilakukan secara teratur. Hal ini merupakan
waktu yang ideal untuk meningkatkan koordinasi dan kesinambungan
pelayanan perawatan klien dan menggunakan sumber daya secara optimal.
Sering terjadi kebingungan dalam lingkaran pelayanan kesehatan
tentang perbedaan peran antara tugas pribadi dan peran perawat pelayanan
kesehatan rumah. Bahkan perawat yang telah teregistrasi (RN) yang
belum pernah terlibat atau bekerja dipelayanan kesehatan rumah maupun
belum memperoleh pengalaman klinis selama masa pendidikan, mereka
belum menyadari tentang perbedaan tersebut. (Dewi Sri Maryani,2014)

Tabel 5
Komponen, tugas pribadi, dan perawatan pelayanan kesehatan rumah
Komponen Tugas Pribadi Pelayanan Kesehatan
Rumah
Peran dan 1. Pemberian pelayanan 1. Distribusi pencegahan
fungsi secara individu penyakit
2. Pemeliharaan 2. Pelayanan
3. Petugas/penjaga 3. Keterampilan
4. Episodik (pengobatan 4. Rehabilitasi
dan rehabilitasi 5. Episodic (pengobatan
dan rehabilitasi

29
Pembayaran 1. Membayar kepada 1. Membayar kea gen
perawat pelayanan kesehatan
2. Pihak ketiga dan bantuan
kesehatan
2. Asuransi pihak ketiga
Biaya Harian atau bayaran tiap jam Dibayar tiap kunjungan
Frekuensi Purna waktu dan tugas secara Sekali-kali atau sesuai
shift/bergantian kebutuhan klien

6. Standar Praktik Pelayanan Home Care


Standar praktik merupakan salah satu perangkat yang diperlukan oleh
setiap tenaga professional. Standar praktik keperawatan mengidentifikasi
harapan minimal bagi para perawat professional dalam memberikan
asuhan keperawatan yang aman, efektif, dan etis. Standar praktik
pelayanan kesehatan rumah yang dikembangkan oleh American Nurse
Association yang memperlihatkan hubungan proses keperawatan dengan
standar praktik. (Dewi Sri Maryani,2014)
Tabel 6
Hubungan Antara Proses Keperawatan dan Standar Praktik ANA

Proses Standar Deskripsi/Penjelasan/Gambaran


Keperawatan
1. Organisasi Seluruh pelayanan kesehatan
Pengkajian rumah direncanakan, diorganisir
langsung oleh perawat
professional (master) yang
mempunyai pengalaman di
kesehatan komunitas dan

30
kepengurusan organisasi
pelayanan kesehatan rumah.

2. Teori Perawat menerapkan konsep teori


sebagai dasar pengambilan
keputusan.
3. Pengumpulan Secara berkelanjutan perawat
data mengumpulkan data secara
menyeluruh, akurat, dan
sistematik.
4. Diagnosis Perawat menggunakan data
pengkajian kesehatan untuk
menentukan diagnosis
keperawatan
Perencanaan 5. Perencanaan Perawat mengembangkan rencana
keperawatan dan menetapkan
tujuan. Rencana keperawatan
dibuat berdasarkan diagnosis
keperawatan dan meliputi
pengobatan yang diperoleh klien,
pencegahan, dan tindakan
keperawatan rehabilitasi.

31
Implementasi 6. Intervensi Perawat dipandu oleh rencana
keperawatan untuk memberikan
kenyamanan, pemulihan,
perbaikan, pendidikan kesehatan,
mencegah komplikasi, kecacatan
akibat efek penyakit dan
rehabilitasi
Evaluasi 7. Evaluasi Secara berkelanjutan perawat
mengevaluasi respon klien dan
keluarga untuk menentukan
kemajuan pencapaian tujuan dan
memperbaiki data dasar,
diagnosis, dan rencana
keperawatan.
8. Keperawatan Perawat bertanggung jawab
berkelanjutan terhadap kenyamanan klien dan
tidak adanya gangguan dalam
keperawatan berkelanjutan. Oleh
karena itu, gunakan discharge.
Rencana pulang, penataan kasus,
dan koordinasi dengan sumber
daya di masyarakat.
9. Kerjasama Perawat memulai kerja sama dan
antar disiplin memelihara hubungan dengan
seua pelaksana pelayanan
kesehatan sehingga mereka itu
secara bersama-sama berusaha
untuk menuju tujuan yang efektif

32
10. Pengembangan Perawat diasumsikan bertanggung
professional jawab untuk pengembangan
professional dan berkontribusi
pada pengembangan professional.
11. Riset Perawat berpartisipasi dalam
kegiatan penelitian yang
memberikan kontribusi terhadap
pengembangan pengetahuan
dalam pelayanan kesehatan rumah
12. Etika Perawatan menggunakan kode
etik yang dibentuk oleh ANA
sebagai petunjuk untuk
pengambilan keputusan etikal
dalam praktik.

7. Aspek Ilegal dan Etik Dalam Home Care


Seorang perawat dikatakan legal dalam menjalankan praktik home
care apabila telah memiliki lisensi dan surat ijin praktik perawat ( SIPP).
Isu legal yang paling kontroversial dalam praktik perawatan di rumah
antaralain mencakup hal-hal sebagai berikut:
a. Resiko yang berhubungan dengan pelaksanaan prosedur dengan teknik
yang tinggi, seperti pemberian pengobatan dan transfusi darah melalui
IV di rumah.
b. Aspek legal dari pendidikan yang diberikan pada pasien seperti
pertanggungjawaban terhadap kesalahan yang dilakukan oleh anggota
keluarga karena kesalahan informasi dari perawat.
c. Pelaksanaan peraturan Medicare atau peraturan pemerintah lainnya
tentang perawatan di rumah. Karena biaya yang sangat terpisah dan

33
terbatas untuk perawatan di rumah, maka perawat yang memberi
perawatan di rumah harus menentukan apakah pelayanan akan
diberikan jika ada resiko penggantian biaya yang tidak adekuat.
Seringkali, tunjangan dari Medicare telah habis masa berlakunya
sedangkan pasien membutuhkan perawatan yang terus-menerus tetapi
tidak ingin atau tidak mampu membayar biayanya.
1) Aspek etik dalam home care
a) Kode etik menurut ANA (1985) menyebutkan bahwa perawat
menjaga hak pasien terhadap privasi dengan bijaksana melindungi
informasi yang bersifat rahasia.
b) Kode etik keperawatan indonesia ( PPNI, 2000) yaitu perawat
wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahui sehubungan
dengan tugas yang dipercayakan kepadanyakecuali jika diperlukan
oleh yang berwenang sesuai ketentuan hokum yang berlaku
(Muhamad Mu’in, 2015).
Didalam praktik harus memperhatikan dimensi politi, etika dan
isu-isu seperti akses ke layanan atau alokasi sumber daya,
menajement kasus menjadi semakin pragmatis, serta berbagai
tanggapan dari masyarakat terhadap praktik mandiri (Kristin
Bjornsdottir, 2009).
2) Perizinan home care
Fungsi Hukum dalam Praktik Perawat :
a) Memberikan kerangka untuk menentukan tindakan keperawatan
mana yang sesuai dengan hukum.
b) Membedakan tanggung jawab perawat dengan profesi lain.
c) Membantu menentukan batas-batas kewenangan tindakan
keperawatan mandiri.
d) Membantu mempertahankan standard praktik keperawatan dengan
meletakkan posisi perawat memiliki akuntabilitas dibawah hukum.

34
Perizinan home care diatur dalam Kep. Menkes no 148 tahun 210
tentang izin dan penyelenggaraan parktik perawat.dan permenkes 17/
2013. Perizinan diatur SSI peraturan yang ditetapkan pemerintah pusat
maupun daerah (Ainy, Nur 2011) Perizinan yang menyangkut
operasional pengelolaan pelayanan kesehatan rumah dan praktik yang
dilaksanakan oleh tenaga profesional dan non profesional diatur sesuai
dengan peraturan yang ditetapkan, baik oleh pemerintah pusat maupun
pemerintah daerah.
1) Persyaratan perizinan
a) Berbadan hukum yang ditetapkan di badan kesehatan akte
notaris tentang yayasan di badan kesehatan.
b) Mengajukan permohonan izin usaha pelayanan kesehatan
rumah kepada Dinas Kesehatan Kota setempat dengan
melampirkan:
(1) Rekomendasi dari organisasi profesi
(2) Surat keterangan sehat dari dokter yang mempunyai SIP
(3) Surat pernyataan memiliki tempat praktik
(4) Izin lingkungan
(5) Izin usaha
(6) Persyaratan tata ruangan bangunan melipti ruang direktur,
ruang manajemen pelayanan, gudang sarana dan peralatan,
sarana komunikasi, dan sarana transportasi
(7) Izin persyaratan tenaga meliputi izin praktik profesional
dan sertifikasi pelayanan kesehatan rumah.
c) Memiliki SIP, SIK dan SIPP.
d) Perawat dapat melaksankan praktik keperwatan pada saran
pelayanan kesehatan, praktik perorangan dan/atau
berkelompok

35
e) Perawat yang melaksanakan praktik keperawatan pada sarana
pelayanan kesehatan harus memiliki SIK
f) Perawat yang praktik perorangan/berkelompok harus memiliki
SIPP
g) Mendapatkan rkomendasi dari PPNI
8. Kebijakan Dalam Home Care
a. Perawat dalam melakukan praktek harus sesuai dengan kewenangan
yang diberikan, berdasarkan pendidikan dan pengalaman serta dalam
memberikan pelayanan berkewajiban mematuhi standar praktek
b. Perawat dalam menjalankan praktek harus membantu program
pemerintah dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
c. Perawat dalam menjalankan praktik keperawatan harus senantiasa
meningkatkan mutu pelayanan profesinya, dengan mengikuti
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui pendidikan
dan pelatihan sesuai dengan bidang tugasnya, baik diselenggarakan
oleh pemerintah maupun organisasi profesi.
d. Dalam keadaan darurat yang mengancam jiwa seseorang/pasien,
perawat berwenang untuk melakukan pelayanan kesehatan diluar
kewenanga. Pelayanan dalam keadaan darurat ditujukan untuk
penyelamatan jiwa.
e. Perawat yang menjalankan praktik perorangan harus mencantumkan
SIPP diruang prakteknya. Perawat yang menjalankan praktek
perorangan tidak diperbolehkan memasang papan praktek.
Perawat yang memiliki SIPP dapat melakukan asuhan keperawatan dalam
bentuk kunjungan rumah. Perawat dalam melakukan asuhan keperawatan
dalam bentuk kunjungan rumah harus membawa perlengkapan perawatan
sesuai kebutuhan.
9. Kepercayaan Dan Budaya Dalam Home Care

36
Perawat saat bekerja sama dengan keluarga harus melakukan
komunikasi secara alamiah agar mendapat gambaran budaya keluarga
yang sesungguhnya. Halini terkait dengan sistem nilai dan kepercayaan
yang mendasari interaksi dalam pola asuh keluarga. Praktik
mempertahankan kesehatan atau menyembuhkan anggota keluarga dari
gangguan kesehatan dapat didasarkan pada kepercayaan yang dianut.
Pemahaman yang benar pada diri perawat mengenai budaya pasien,
baik individu, keluarga, kelompok, maupun masyarakat, dapat mencegah
terjadinya culture shock maupun culture imposition.Cultural shock terjadi
saat pihak luar (perawat) mencoba mempelajari atau beradaptasi secara
efektif dengan kelompok budaya tertentu (pasien) sedangkan culture
imposition adalah kecenderungan tenaga kesehatan (perawat), baik secara
diam-diam maupun terang-terangan memaksakan nilai-nilai budaya,
keyakinan, dan kebiasaan/perilaku yang dimilikinya pada individu,
keluarga, atau kelompok dari budaya lain karena mereka meyakini bahwa
budayanya lebih tinggi dari pada budaya kelompok lain(Galuh Forestry
Mentari, 2012).
10. Pro Dan Kontra Home Care
Pada saat pasien dan keluarga memutuskan untuk menggunakan
sistem pelayanan keperawatan dirumah (home care nursing), maka pasien
dan keluarga berharap mendapatkan sesuatu yang tidak didapatkannya
dari pelayanan keperawatan dirumah sakit. Adapun pasien dan keluarga
memutuskan untuk tidak menggunakan sistem ini, mungkin saja ada
pertimbangan-pertimbangan yang menjadikan home care bukan pilihan
yang tepat. Dibawah ini terdapat tentang pro dan kontra home care, yaitu:
Pro home care berpendapat :
a. Home care memberikan perasaan aman karena berada dilingkungan
yang dikenal oleh pasien dan keluarga, sedangkan bila di rumah sakit
pasien akan merasa asing dan perlu adaptasi.

37
b. Home care merupakan satu cara dimana perawatan 24 jam dapat
diberikan secara focus pada satu pasien, sedangkan dirumah sakit
perawatan terbagi pada beberapa pasien.
c. Home care memberi keyakinan akan mutu pelayanan keperawatan
bagi pasien, dimana pelayanan keperawatan dapat diberikan secara
komprehensif (biopsikososiospiritual).
d. Home care menjaga privacy pasien dan keluarga, dimana semua
tindakan yang berikan hanya keluarga dan tim kesehatan yang tahu.
e. Home care memberikan pelayanan keperawatan dengan biaya relatif
lebih rendah daripada biaya pelayanan kesehatan dirumah sakit.
f. Home care memberikan kemudahan kepada keluarga dan care giver
dalam memonitor kebiasaan pasien seperti makan, minum, dan pola
tidur dimana berguna memahami perubahan pola dan perawatan
pasien.
g. Home care memberikan perasaan tenang dalam pikiran, dimana
keluarga dapat sambil melakukan kegiatan lain dengan tidak
meninggalkan pasien.
h. Home care memberikan pelayanan yang lebih efisien dibandingkan
dengan pelayanan dirumah sakit, dimana pasien dengan komplikasi
dapat diberikan pelayanan sekaligus dalam home care.
i. Pelayanan home care lebih memastikan keberhasilan pendidikan
kesehatan yang diberikan, perawat dapat memberi penguatan atau
perbaikan dalam pelaksanaan perawatan yang dilakukan keluarga.
1) Kontra home care berpendapat :
Home care tidak termanaged dengan baik, contohnya jika
menggunakan agency yang belum ada hubungannya dengan tim
kesehatan lain seperti :
a) dokter spesialis.
b) Petugas laboratorium.

38
c) Petugas ahli gizi.
d) Petugas fisioterafi.
e) Psikolog dan lain-lain.
2) Home care membutuhkan dana yang tidak sedikit jika
dibandingkan dengan menggunakan tenaga kesehatan secara
individu.
3) Pasien home care membutuhkan waktu yang relatif lebih banyak
untuk mencapai unit-unit yang terdapat dirumah sakit, misalnya :
f) Unit diagnostik rontgen
g) Unit diagnostik CT scan.
h) Unit diagnostik MRI.
i) Laboratorium dan lain-lain.
4) Pelayanan home care tidak dapat diberikan pada pasien dengan
tingkat ketergantungan total, misalnya: pasien dengan koma.
5) Tingkat keterlibatan anggota keluarga rendah dalam kegiatan
perawatan, dimana keluarga merasa bahwa semua kebutuhan
pasien sudah dapat terlayani dengan adanya home care.
6) elayanan home care memiliki keterbatasan fasilitas emergency,
misalnya :
a) Fasilitas resusitasi
b) Fasilitas defibrilator
7) Jika tidak berhasil, pelayanan home care berdampak tingginya
tingkat ketergantungan pasien dan keluarga pada perawat.
11. Peran Dan Fungsi Perawat Home Care
a. Manajer kasus : mengelola dan mengkolaborasikan pelayanan, dengan
fungsi :
1) Mengidentifikasi kebutuhan pasien dan keluarga
2) Menyusun rencana pelayanan
3) Mengkoordinir akifitas tim

39
4) Memantau kualitas pelayanan
b. Pelaksana : memberi pelayanan langsung dan mengevaluasi pelayanan
dengan fungsi :
1) Melakukan pengkajian komprehensif
2) Menyusun rencana keperawatan
3) Melakukan tindakan keperawatan
4) Melakukan observasi terhadap kondisi pasien
5) Membantu pasien dalam mengembangkan perilaku koping yang
efektif
6) Melibatkan keluarga dalam pelayanan
7) Membimbing semua anggota keluarga dalam pemeliharaan
kesehatan
8) Melakukan evaluasi terhadap asuhan keperawatan
9) Mendikumentasikan asuhan keperawatan.
12. Standar Alat Home Care

Tabel 7
Alat kesehatan Alat habis pakai Sarana lain
1. Tas/ kit 1. Obat emergency 1. Alat dan media
2. Pemeriksaan 2. Perawatan luka pendidikan
fisik 3. Suntik/ pengambilan kesehatan
3. Set perawatan darah 2. Ruang beserta
luka 4. Set infuse perlengkapannya
4. Set emergency 5. NGT dengan 3. Kendaraan
5. Set pemasangan berbagai ukuran 4. Alat komunikasi
selang lambung 6. Huknah 5. Dokumentasi
6. Set huknah 7. Kateter
7. Set memandikan 8. Sarung tangan,

40
8. Set pengambilan masker
preparat
9. Set pemeriksaan
lab sederhana
10. Set infus/ injeksi
11. Sterilisator
12. Pot/ urinal
13. Tiang infuse
14. Tempat tidur
khusus orang
sakit
15. Pengisap lendir
16. Perlengkapan
oxygen
17. Kursi roda
18. Tongkat/tripot
19. Perlak/alat tenun

13. Pendekatan Interdisiplin dalam Pelayanan Home Care


Kerja sama antar disiplin di perlukan dalam pelayanan kesehatan
rumah. Tanpa kerja sama yang efektif tidak akan terjadi pelayana yang
berkesinambungan, sehingga akan terjadi kebingungan dan salah
pengertian pada pasien dan keluarga. Proses kolaborasi di mulai dari
rumah sakit dengan rrencana pulang, perawat di rumah sakit yang
mengidentifikasi akan kebutuhan pasien untuk pelayanan kesehatan rumah
yang merencanakan bersama dengan dokter untuk membuat program di
rumah nanti. Peran dan fungsi profesi antar disiplin bergantung beberapa
faktor, faktor tersebut meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap

41
dengan karakteristik masing-masing anggota tim harus kompeten sebagai
pelaksana pelayanan kesehatan di bidang mereka.
Pada umumnya tenaga kesehatan yang terlibat pelayanan kesehatan
rumah adalah dokter, Perawat, Apoteker, Ahli fisioterapi, ahli terapi
wicara, ahli gizi, pekerja sosial dan home health aide (pembantu kesehatan
rumah)
a. Dokter
Pemberian Home Care harus berada di bawah perawatan dokter.
Dokter harus sudah menyetujui rencana perawatan sebelum perawatan
diberikan kepada pasien. Rencana perawatan meliputi: diagnosa, status
mental, tipe pelayanan dan peralatan yang dibutuhkan, frekuensi
kunjungan, prognosis, kemungkinan untuk rehabilitasi, pembatasan
fungsional, aktivitas yang diperbolehkan, kebutuhan nutrisi,
pengobatan, dan perawatan.

b. Perawat
Bidang keperawatan dalam home care, mencakup fungsi langsung
dan tidak langsung. Direct care yaitu aspek fisik actual dari
perawatan, semua yang membutuhkan kontak fisik dan interaksi face
to face. Aktivitas yang termasuk dalam direct care mencakup

42
pemeriksaan fisik, perawatan luka, injeksi, pemasangan dan
penggantian kateter, dan terapi intravena. Direct care juga mencakup
tindakan mengajarkan pada pasien dan keluarga bagaimana
menjalankan suatu prosedur dengan benar. Indirect care terjadi ketika
pasien tidak perlu mengadakan kontak personal dengan perawat. Tipe
perawatan ini terlihat saat perawat home care berperan sebagai
konsultan untuk personil kesehatan yang lain atau bahkan pada
penyedia perawatan di rumah sakit.

c. Apoteker
Program Home Health Care atau yang dikenal dengan Homecare
banyak di lakukan oleh apoteker guna memberikan pelayanan yang
maksimal kepada pasien. Program Homecare adalah suatu bentuk
pelayanan yang dilakukan oleh apoteker dengan cara memberikan
pelayanan konsultasi, informasi dan edukasi kepada pasien langsung
ke rumah pasien, memonitoring terapi penggunaan obat sehingga
dapat meningkatkan kualitas hidup pasien dan kepatuhan penggunaan
obatnya.

43
d. Ahli fisioterapi ( Physical therapist )
Menyediakan perawatan pemeliharaan, pencegahan, dan
penyembuhan pada pasien di rumah. Perawatan yang diberikan
meliputi perawatan langsung dan tidak langsung. Perawatan langsung
meliputi: penguatan otot, pemulihan mobilitas, mengontrol spastisitas,
latihan berjalan, dan mengajarkan latihan gerak pasif dan aktif.
Perawatan tidak langsung meliputi konsultasi dengan petugashome
care lain dan berkontribusi dalam konferensi perawatan pasien.

e. Ahli gizi
Peran ahli gizi dalam home care antara lain : melakukan
pengkajian kebutuhan nutrisi, menetapkan masalah nutrisi,

44
menyusun rencana pemecahan masalah nutrisi, memberikan
bantuan tehnis tentang kebutuhan nutrisi, membimbing atau
konseling pada pasien dan semua anggota keluarga dalam masalah
nutrisi, melakukan evaluasi dan mendokumentasikan tindakan

f. Ahli terapi wicara ( Speech pathologist )


Tujuan dari speech theraphy adalah untuk membantu pasien
mengembangkan dan memelihara kemampuan berbicara dan
berbahasa. Speech pathologist juga bertugas memberi konsultasi
kepada keluarga agar dapat berkomunikasi dengan pasien, serta
mengatasi masalah gangguan menelan dan makan yang dialami pasien.

45
g. Pekerja social (Social wolker)
Pekerja social membantu pasien dan keluarga untuk menyesuaikan
diri dengan faktor sosial, emosional, dan lingkungan yang berpengaruh
pada kesehatan mereka.

h. Pembantu kesehatan rumah( Homemaker/home health aide )


Tugas dari home health aide adalah untuk membantu pasien
mencapai level kemandirian dengan cara sementara waktu
memberikan personal hygiene. Tugas tambahan meliputi pencahayaan
rumah dan keterampilan rumah tangga lain (Bukit, 2008).

46
C. Perawatan Di Sekolah
1. Definisi
Departemen Pendidikan dan kebudayaan menyatakan Usaha kesehatan
sekolah adalah upaya membina dan mengembangkan kebiasaan hidup
sehat yang dilakukan secara terpadu melalui program pendidikan dan
pelayanan kesehatan di sekolah, perguruan agama serta usaha-usaha yang
dilakukan dalam rangka pembinaan dan pemeliharaan kesehatan di
lingkungan sekolah.
Departemen kesehatan menyatakan Usaha kesehatan sekolah adalah
usaha kesehatan masyarakat yang dijalankan di sekolah-sekolah dengan
anak didik beserta lingkungan hidupnya sebagai sasaran utama.
2. Isu Kesehatan Populasi Sekolah
Banyak sekali isu dan permasalahan yang terjadi pada anak di usia
remaja ini, yang apabila dibiarkan terus–menerus permasalahan tersebut
dapat mengancam kehidupan remaja di masa depan.Berikut ini adalah
beberapa isu dan permasalahan remaja yang terjadi di lingkungan sekitar
kita, yaitu:
a. Merokok
Beberapa motivasi yang melatar belakangi seseorang merokok
diantaranya, yaitu:
1) Mendapat pengakuan (anticipatory beliefs),
2) Untuk menghilangkan kekecewaan (reliefing beliefs)
3) menganggap perbuatannya tersebut tidak melanggar norma

Dari penjelasan diatas dapat dijelaskan lagi bahwa penyebab


seorang remaja menjadi perokok dapat dipengaruhi oleh keinginan
dari diri pribadinya sendiri tetapi dapat juga di pengaruhi oleh faktor –
faktor luar, yaitu:

1) Pengaruh Orangtua

47
Salah satu temuan tentang remaja perokok adalah bahwa anak-
anak muda yang berasal dari rumah tangga yang tidak bahagia,
dimana orang tua tidak begitu memperhatikan anak-anaknya dan
memberikan hukuman fisik yang keras lebih mudah untuk menjadi
perokok dibanding anak-anak muda yang berasal dari lingkungan
rumah tangga yang bahagia.
2) Pengaruh Teman
Berbagai fakta mengungkapkan bahwa semakin banyak remaja
merokok maka semakin besar kemungkinan teman-temannya
adalah perokok juga dan demikian sebaliknya. Dari fakta tersebut
ada dua kemungkinan yang terjadi, pertama remaja tadi
terpengaruh oleh teman-temannya atau bahkan teman – teman
remaja tersebut dipengaruhi oleh diri remaja tersebut yang
akhirnya mereka semua menjadi perokok. Diantara remaja perokok
terdapat 87% mempunyai sekurang-kurangnya satu atau lebih
sahabat yang perokok begitu pula dengan remaja non perokok.
3) Faktor Kepribadian
Orang mencoba untuk merokok karena alasan ingin tahu atau
ingin melepaskan diri dari rasa sakit fisik atau jiwa, membebaskan
diri dari kebosanan. Namun satu sifat kepribadian yang bersifat
prediktif pada pengguna obat-obatan (termasuk rokok) ialah
konformitas sosial. Orang yang memiliki skor tinggi pada berbagai
tes konformitas sosial lebih mudah menjadi pengguna
dibandingkan dengan mereka yang memiliki skor yang rendah.
b. Penyimpangan Seks
Kehamilan remaja adalah isu yang saat ini mendapat perhatian
pemerintah, karena masalah kehamilan remaja tidak hanya membebani
remaja sebagaim individu dan bayi mereka namun juga mempengaruhi
secara luas pada seluruh strata di masyarakat dan juga membebani

48
sumber-sumber kesejahteraan. Namun, alasan-alasannya tidak
sepenuhnya dimengerti. Beberapa sebab kehamilan termasuk
rendahnya pengetahuan tentang keluarga berencana, perbedaan budaya
yang menempatkan harga diri remaja di lingkungannya, perasaan
remaja akan ketidakamanan atau impulsifisitas, ketergantungan
kebutuhan, dan keinginan yang sangat untuk mendapatkan kebebasan.
c. Remaja dan HIV/AIDS
Beberapa penyebab rentannya remaja terhadap HIV/AIDS adalah:
1) Kurangnya informasi yang benar mengenai perilaku seks yang
aman dan upaya pencegahan yang bisa dilakukan oleh remaja dan
kaum muda. Kurangnya informasi ini disebabkan adanya nilai-
nilai agama, budaya, moralitas dan lain-lain. Sehingga remaja
seringkali tidak memperoleh informasi maupun pelayanan
kesehatan reproduksi yang sesungguhnya dapat membantu remaja
terlindung dari berbagai resiko, termasuk penularan HIV/AIDS.
2) Perubahan fisik dan emosional pada remaja yang mempengaruhi
dorongan seksual. Kondisi ini mendorong remaja untuk mencari
tahu dan mencoba-coba sesuatu yang baru, termasuk melakukan
hubungan seks dan penggunaan narkoba.
3) Adanya informasi yang menyuguhkan kenikmatan hidup yang
diperoleh melalui seks, alkohol, narkoba, dan sebagainya yang
disampaikan melalui berbagai media cetak atau elektronik.
4) Adanya tekanan dari teman sebaya untuk melakukan hubungan
seks, misalnya untuk membuktikan bahwa mereka adalah jantan.
5) Resiko HIV/AIDS sukar dimengerti oleh remaja, karena
HIV/AIDS mempunyai periode inkubasi yang panjang, gejala
awalnya tidak segera terlihat.
6) Informasi mengenai penularan dan pencegahan HIV/AIDS
rupanya juga belum cukup menyebar di kalangan remaja. Banyak

49
remaja masih mempunyai pandangan yang salah mengenai
HIV/AIDS.
7) Remaja pada umumnya kurang mempunyai akses ke tempat
pelayanan kesehatan reproduksi dibanding orang dewasa. Hal
tersebut dibuktikan dengan banyaknya remaja yang terkena
HIV/AIDS tidak menyadari bahwa mereka terinfeksi, kemudian
menyebar ke remaja lain, sehingga sulit dikontrol.
d. Penyalahgunaan Narkoba dan Minuman Keras
Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN), jumlah kasus
penyalahgunaan Narkoba di Indonesia sangatlah banyak, di mana 70%
diantaranya berusia antara 15 -19 tahun.
Permasalahan lain yang belum begitu diperhatikan adalah masalah
gangguan perkembangan dan perilaku pada anak sekolah. Gangguan
perkembangan dan perilaku pada anak sekolah sangat bervariatif. Bila
tidak dikenali dan ditangani sejak dini, gangguan ini akan
mempengaruhi prestasi relajar dan masa depan anak. Selanjutnya akan
divas tentang permasalahan kesehatan anak usia sekolah diantaranya
adalah penyakit menular, penyakit non infeksi, gangguan
pertumbuhan, gangguan perkembangan dan perilaku.
e. Contoh kebijakan dan perlindungan sekolah :
1) Kehamilan dini yang tidak diinginkan dan konsekuensinya
a) Memberikan kesempatan peserta didik yang hamil tetap bersekolah
b) Melibatkan pendidikan kehidupan keluarga dalam kurikulum
c) Melarang semua jenis diskriminasi
2) Sekolah Bebas Rokok dan Penyalahgunaan NAPZA
a) Larangan merokok di lingkungan sekolah
b) Larangan menjual rokok kepada anak
c) Larangan adanya iklan dan promosi rokok

50
d) Pendidikan kesehatan yang memfokuskan kepada bahaya
penyalahgunaan NAPZA
3) Sanitasi dan Kesehatan
a) Pemisahan WC untuk guru lelaki dan perempuan dan juga untuk
peserta didik laki-laki dan perempuan
b) Penggunaan air bersih di semua sekolah
c) Komitmen aktif dari Persatuan Guru dan Orang Tua serta Komite
Sekolah untuk memelihara fasilitas air dan sanitasi
4) HIV dan AIDS dan Penyakit Menular lainnya
a) Pendidikan kesehatan berbasis kecakapan yang memfokuskan pada
pencegahan HIV dan AIDS
b) Pemberdayaan teman sebaya dan konseling HIV dan AIDS di
sekolah
c) Tidak ada diskriminasi kepada guru dan peserta didik yang
mengidap HIV DAN AIDS dan penyakit menular lainnya
d) Pendidikan kesehatan yang memfokuskan kepada pencegahan dan
bahaya penyakit menular lainnya
e) Adanya akses terhadap upaya pencegahan melalui media
5) Kekerasan dan Pelecehan Seksual terhadap peserta didik
a) Jaminan hukum bahwa kekerasan dan pelecehan seksual itu dilarang
di sekolah
b) Sosialisasi perundangan agar dikenal dan diterima semua orang
c) Pemberdayaan remaja untuk melaporkan kasus-kasus yang
ditemukan
d) Memperkuat tindakan kedisiplinan yang efektif untuk mereka yang
melakukan kekerasan
6) Sosialisasi tentang Kesehatan dan Gizi Sekolah
a) Pelatihan dan pemanfaatan tenaga guru untuk ikut menangani
kesehatan dan gizi peserta didik, serta melakukan kerja sama dengan
tenaga kesehatan, juga melibatkan masyarakat setempat

51
b) Peraturan untuk pengelola kantin dan pedagang makanan kaki lima
di sekitar sekolah berkenaan dengan kualitas, kebersihan, dan stiker
makanan yang dijual
f. Upaya Peningkatan Kesehatan Anak Sekolah
Peningkatan kesehatan anak sekolah dengan titik berat pada upaya
promotif dan preventif didukung oleh upaya kuratif dan rehabilitatif yang
berkualitas, Usaha kesehatan Sekolah (UKS) menjadi sangat penting dan
strategis untuk mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. UKS
bukan hanya dilaksanakan di Indonesia, tetapi dilaksanakan di seluruh dunia.
Health Promoting School adalah sekolah yang telah melaksanakan UKS
dengan ciri-ciri melibatkan semua pihak yang berkaitan dengan masalah
kesehatan sekolah, menciptakan lingkungan sekolah yang sehat dan aman,
memberikan pendidikan kesehatan di sekolah, memberikan akses terhadap
pelayanan kesehatan, ada kebijakan dan upaya sekolah untuk
mempromosikan kesehatan dan berperan aktif dalam meningkatkan
kesehatan masyarakat.

Upaya Health Promoting School tersebut dengan titik berat pada upaya
promotif dan preventif didukung oleh upaya kuratif dan rehabilitatif yang
berkualitas adalah :
1) Promotif dan Pencegahan

52
2) Pemberian nutrisi yang baik dan benar
3) Perilaku hidup sehat jasmani dan rohani
4) Deteksi dini dan pencegahan penyakit menular
5) Deteksi dini gangguan penyakit kronis pada anak sekolah
6) Deteksi dini gangguan pertumbuhan anak usia sekolah
7) Deteksi dini gangguan perilaku dan gangguan belajar
8) Imunisasi anak sekolah
9) Kuratif dan rehabilitasi
10) Penganan pertama kegawat daruratan di sekolah
11) Pengananan pertama kecelakaan di sekolah
12) Keterlibatan guru dalam penanganan anak dengan gangguan perilaku dan
gangguan belajar
3. Trias UKS
Kegiatan utama usaha kesehatan sekolah disebut dengan TRIAS UKS,
yang terdiri dari :
a. Pendidikan kesehatan
b. Pelayanan kesehatan
c. Pembinaan lingkungan kehidupan sekolah yang sehat

Penjelasan mengenai TRIAS UKS adalah sebagai berikut :

a) Pendidikan kesehatan
Pendidikan kesehatan adalah usaha sadar untuk menyiapkan
peserta didik agar dapat tumbuh kembang sesuai, selaras,seimbang dan
sehat baik fisik, mental, social, maupun lingkungan melalui kegiatan
bimbingan, pengajaran dan atau latihan yang diperlukan bagi
peranannya saat ini maupun di masa yang mendatang (FerryEffendi,
2009). Tujuan pendidikan kesehatan :
1) Peserta didik dapat memiliki pengetahuan tentang ilmu kesehatan,
termasuk cara hidup sehat dan teratur.

53
2) Peserta didik dapat memiliki nilai dan sikap yang positif terhadap
prinsip hidup sehat.
3) Peserta didik dapat memiliki keterampilan dalam melaksanakan
hal yang berkaitan dengan pemeliharaan, pertolongan, dan
perawatankesehatan;
4) Peserta didik dapat memiliki kebiasaan dalam hidup sehari-hari
yang sesuai dengan syarat kesehatan;
5) Peserta didik dapat memiliki kemampuan untuk menularkan
perilaku hidup dalam kehidupan sehari-hari;
6) Peserta didik dapat memiliki pertumbuhan termasuk bertambahnya
tinggi badan secara dan berat badan yang seimbang.
7) Peserta didik dapat mengerti dan dapat menerapkan prinsip-
prinsip pengutamaan pencegahan penyakit dalam kaitannya
dengan kesehatan dan keselamatan dalam kehidupan sehari-hari;
8) Peserta didik dapat memiliki daya tangkal terhadap pengaruh
buruk dari luar (narkoba, arus informasi, dan gaya hidup yang
tidak sehat);
9) Peserta didik dapat memiliki tingkat kesegaran jasmani yang
memadai dan derajat kesehatan yang optimal serta mempunyai
daya tahantubuh yang baik terhadap penyakit.

Pelaksanaan pendidikan kesehatan diberikan melalui :

1) Kegiatan kurikuler
Pelaksanaan pendidikan kesehatan melalui kegiatan
kurikuler adalah pelaksanaan pendidikan pada jam pelajaran
yaitu mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan.
Pelaksanaanya diberikan melalui peningkatan pengetahuan
penanaman nilai dan sikap positif terhadap prinsip hidup sehat
dan peningkatan keterampilan dalam melaksanakan hal

54
yang berkaitan dengan pemeliharaan,pertolongan dan
perawatan kesehatan.
2) Kegiatan Ekstrakulikuler
Maksudnya adalah pendidikan kesehatan di masukkan
dalam kegiatan-kegiatan ekstrakulikuler dalam rangka
menanamkan perilaku sehat peserta didik. Kegiatan-kegiatan
yang dilakukan dapat berupa penyuluhan kesehatan dari
petugas puskesmas yang berkaitan dengan higiene personal
yang meliputi pemeliharaan gigi dan mulut, kebersihan kulit
dan kuku, dan sebagainya, lomba poster sehat, dan perlombaan
keberihan kelas, dsb (FerryEffendi, 2009).
b) Pelayanan kesehatan
Pelayanan adalah upaya peningkatan kesehatan (promotif),
pencegahan (preventif), dan pemulihan (rehabilitatif) yang dilakukan
terhadap peserta didik dan lingkungannya. Tujuan pelayanan
kesehatan :
1) Meningkatkan kemampuan dan keterampilan melakukan tindakan
hidup sehat dalam rangka membentuk perilakuhidup sehat
2) Meningkatkan daya tahan tubuh peserta didik terhadap penyakit
dan mencegah terjadinya penyakit, kelainan dancacat
3) Menghentikan proses penyakit dan pencegahan komplikasi
akibat penyakit/ kelainan pengembalian fungsi danpeningkatan
kemampuan peserta didik yang cidera/ cacat agar dapat berfungsi
optimal (Ferry Effendi, 2009).

Pelaksanaan pelayanan kesehatan

Dilakukan melalui serangkaian kegiatan peningkatan status


kesehatan promotive kegiatan penyuluhan kesehatan dan latihan
keterampilan yang dilaksanakan secara ekstrakurikuler misal : dokter

55
kecil, palang merah remaja dan pramuka. Pencegahan penyakit
(preventif) kegiatan pencegahan dilaksanakan melalui kegiatan
peningkatan daya tahan tubuh, kegiatan pemutusan mata rantai
penularan penyakit dan kegiatan penghentian proses penyakit pada
tahap dini sebelum timbul penyakit, misal : imunisasi peserta didik
kelas 1 dan kelas 6 di sekolah dasar.

Konseling kesehatan remaja di sekolah dan perguruan agama oleh


kader kesehatan sekolah, guru BP dan guru agama, dan puskesmas
oleh dokter puskesmas atau tenaga kesehatan lain. Penyembuhan dan
pemulihan kesehatan (kuratif dan rehabilitative) missal : diagnose dini,
pengobatan ringan, pertolongan pertama kecelakaan. Pelaksanaan
pelayanan kesehatan dilakukan secara terpadu, baik melalui kegiatan
pokok dari puskesmas maupun bersama dengan peran serta para
tenaga pendidik, peserta didik dan orang tua mereka.

c) Pembinaan lingkungan sekolah sehat


Program pembinaan lingkungan sekolah sehat mencakup
pembinaan lingkungan sekolah, lingkungan keluarga, masyarakat
sekitar dan unsur-unsur penunjang.
1) Program pembinaan lingkungan sekolah :
Lingkungan Fisik Sekolah meliputi :
(a) Penyediaan air bersih
(b) Pemeliharaan dan penampungan air bersih
(c) Pengadaan dan pemeliharaan tempat pembuangan sampah
(d) Pengadaan dan pemeliharaan air limbah
(e) Pemeliharaan WC/ jamban/ urinoir
(f) Pemeliharaan kamar mandi
(g) Pemeliharaan kebersihan dan kerapihan ruang kelas, ruang
perpustakaan, ruang laboratorium, dan ruang ibadah

56
(h) Pemeliharaan kebersihan dan keindahan halaman dan kebun
sekolah (termasuk penghijauan sekolah)
(i) Pengadaan dan pemeliharaan warung/ kantin sekolah;
danPengadaan dan pemeliharaan pagar sekolah

Lingkungan Mental dan Sosial

(a) Konseling kesehatan


(b) Bakti sosial masyarakat sekolah terhadap lingkungan
(c) Perkemahan
(d) Penjelajahan, heking/ darmawisata
(e) Teater, musik, olahraga
(f) Kepramukaan, PMR, Dokter Kecil dan kader Kesehatan
Remaja, dan Karnaval, bazar, lomba.
2) Pembinaan Lingkungan Keluarga
Pembinaan Lingkungan Keluarga bertujuan
(a) Meningkatkan pengetahuan orang tua peserta didik tentang
hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan; dan
(b) Meningkatkan kemampuan dan partisipasi orang tua peserta
didik dalam pelaksanaan hidup sehat.

Pembinaan lingkungan keluarga dapat dilakukan antara lain


dengan :

(a) Kunjungan rumah yang dilakukan oleh pelaksana UKS


(b) Ceramah kesehatan yang dapat diselenggarakan di sekolah
dengan bekerja sama dengan dewan sekolah, ataudipadukan
dengan kegiatan di masyarakat
(c) Pembinaan Masyarakat Sekitar
(d) Pembinaan dengan cara pendekatan kemasyarakatan dapat
dilakukan oleh kepala sekolah/ madrasah dan

57
pondokpesantren, guru, pembina UKS. Misalnya dengan jalan
membina hubungan baik/ kerjasama dengan
masyarakat/LKMD/ dewan kelurahan, ketua RT/ RW, dan
organisasi-organisasi kemasyarakatan lainnya
(e) Penyelenggaraan ceramah tentang kesehatan dan
pentingnya arti pembinaan lingkungan sekolah
sebagailingkungan belajar yang sehat. Untuk ini
masyarakat diundang ke sekolah. Pembicara dapat
dimintakan dariPuskesmas, pemerintah daerah setempat, nara
sumber lainnya misalnya dari LSM
(f) Penyuluhan massa baik secara tatap muka maupun melalui
media cetak dan audio visual
(g) Menyelenggarakan proyek panduan di sekolah/ madrasah/
pondok pesantren

4. Praktik Perawatan Kesehatan Sekolah


a. Sasaran UKS
Sasaran pelayanan UKS adalah seluruh peserta didik dari tingkat
pendidikan :
1) Sekolah taman kanak-kanak
2) Pendidikan dasar
3) Pendidikan menengah
4) Pendidikan agama
5) Pendidikan kejuruan
6) Pendidikan khusus (sekolah luar biasa)
b. Pengelola UKS
Yang terlibat dalam pelaksanaan UKS (Usaha Kesehatan Sekolah)
adalah:
1) Guru

58
2) Peseta didik
3) Petugas kesehatan dari puskesmas
4) Masyarakat sekolah (BP3)

Prinsip-prinsip dari pengolalaan UKS terdiri dari :

1) Mengikutsertakan peran serta aktif masyarakat sekolah, yang


meliputi :
a) Masyarakat sekolah yang terdiri dari guru, peserta didik,
karyawan sekolah
b) Masyarakat di luar sekolah, orang tua murid yang bernaung di
bawah BP3 (Badan Pembantu Penyelengaraan Pendidikan)
2) Kegiatan yang terintegrasi merupakan pelayanan kesehatan yang
menyeluruh yang menyangkut segala upaya kesehatan pokok
puskesmas sebagai satu kesatuan yang utuh dalam rangka
meningkatkan derajat kesehatan peserta didik.
3) Melaksanakan rujukan merupakan cara untuk mengatasi masalah
kesehatan yang tidak dapat diatasi di sekolah ke fasilitas kesehatan
yaitu puskesmas atau rujukan rumah sakit.
4) Kolaborasitim, karena UKS merupakan kegiatan yang melibatkan
kerjasama lintas sector maka diperlukan kerjasama tim yang baik
dan terorganisasi dan tiap-tiap instansi mempunyai uraian tugas
yang jelas sehingga tidak terjadi tumpang tindih dalam melakasan
kan kegiatan.
c. Peran Dan Fungsi Perawat Di Sekolah
Berikut peran perawat dalam pelaksanaan Usaha Kesehatan Sekolah
(UKS) :
1) Sebagai pelaksana asuhan keperawatan di sekolah :

59
a) Mengkaji masalah kesehatan dan keperawatan peserta didik
dengan melakukan pengumpulan data, analisa data dan
perumusan masalah dan prioritas masalah
b) Menyusun perencanaan kegiatan UKS bersana TPUKS
c) Melakukan kegiatan UKS sesuai dengan rencana kegiatan yang
disusun
d) Penilaian dan pemantauan hasil kegiatan UKS
e) Pencatatan dan pelaporan sesuai dengan prosedure yang di
tetapkan
2) Sebagai pengelola kegiatan UKS. Perawat kesehatan bertugas di
puskesmas dapat menjadi salah seorang anggota dalam TPUKS,
atau dapat juga ditunjuk sebagai Koordinator UKS ditingkat
puskesmas. Bila perawat kesehatan ditunjuk sebagai coordinator
maka pengelolaan pelaksanaan UKS menjadi tanggung jawab atau
paling tidak ikut terlibat dalam tim pengelola di UKS.
3) Sebagai penyuluh dalam bidang kesehatan. Peranan perawat
kesehatan dalam memberikan penyuluhan kesehatan dapat
dilakukan secara langsung melalui penyuluhan kesehatan yang
bersifat umum dan klasikal, atau secara tidak langsung sewaktu
melakukan pemeriksaan peserta didik secara perseorangan. (Dasar-
dasar keperawatan kesehatan masyarakat. Jakarta)
d. Fungsi perawat sekolah diantaranya :
1) Memberikan pelayanan serta meningkatkan kesehatan individu dan
memberikan pendidikan kesehatan kepada semua populasi yang
ada di sekolah
2) Memberikan kontribusi untuk mempertahankan dan memperbaiki
lingkungan fisik dan social sekolah
3) Menghubungkan program kesehatan sekolah dengan program
kesehatan masyarakat yang lain.

60
Peran dan fungsi perawat professional sekolah menurut National
Assosiation of School Nurse (1996) dalam buku Community Health
Nursing : Promoting The Health Of Population (2001) :

1) Mempromosikan dan melindungi secara optimal status kesehatan


anak
2) Memberikan assessment kesehatan
3) Mengembangkan dan merencanakan implementasi
4) Mempertahankan, mengevaluasi dan intrepretasi data kesehatan
untuk memenuhi kebutuhan siswa
5) Berpartisipasi sebagai tim kesehatan dari tim evaluasi pendidikan
anak untuk mengembangkan IEP
6) Merencanakan dan melaksanakan managemen kesehatan untuk
memenuhi anak dengan kebutuhan khusus termasuk pemberian
obat
7) Melakukan home visit untuk mengkaji kebutuhan keluarga yang
berhubungan dengan kesehatan anak
8) Mengembangkan prosedur dan memberikan intervensi krisis untuk
penyakit akut, cedera dan gangguan emosional.
9) Mempromosikan dan membantu dalam mengontrol penyakit di
komunitas dengan melakukan pencegahan melalui program
imunisasi, deteksi dini, pengawasan, melaporkan dan memantau
terjadinya penyakit
10) Merekomendasikan ketentuan lingkungan sekolah yang kondusif
untuk belajar
11) Memberikan edukasi kesehatan
12) Bertindak sebagai narasumber dalam mempromosikan kesehatan
13) Menyediakan konseling kesehatan

61
14) Memberikan pimpinan dan dukungan untuk anggota dalam
program kesehatan
15) Membantu dalam pembentukan kebijakan kesehatan, tujuan, dan
sasaran untuk wilayah sekolah

62
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Promosi kesehatan adalah program-program kesehatan yang dirancang
untuk membawa perubahan (perbaikan), baik di dalam masyarakat sendiri,
maupun dalam organisasi dan lingkungannya
2. Home care merupakan pelayanan kesehatan yang holistik dengan
mempertimbangkan aspek bio, psiko, sosial, spiritual dan ekonomi secara
komprehensip dengan mengutamakan kepentingan dan kepuasan pasien
yang dilaksanakan secara efektif dan efisien. Ada beberapa bentuk
pelayanan home care di masyarakat sehingga home dapat menjadi upaya
terbaik bagi pasien – pasien penyakit kronik atau terminal untuk
meningkatkan dan mempertahankan kemampuan optimal.
3. Usaha kesehatan sekolah adalah usaha kesehatan masyarakat yang
dijalankan di sekolah-sekolah dengan anak didik beserta lingkungan
hidupnya sebagai sasaran utama. Masalah kesehatan yang dihadapi oleh
anak usia sekolah sangat kompleks dan bervariasi. Salah satu upaya untuk
meningkatkan kesehatan sekolah yaitu adanya UKS dengan kegiatan
utama yang disebut dengan trias UKS, yang terdiri dari pendidikan
kesehatan, pelayanan kesehatan, serta pembinaan lingkungan kehidupan
sekolah yang sehat. Namun, dari beberapa penelitian pelaksanaan program
UKS masih belum berjalan baik.
B. Saran
Diharapkan dengan dengan adanya makalah ini pembaca khususnya kita
sebagai calon tenaga kesehatan dapat memahami tentang strategi promosi
kesehatan, perawatan di rumah dan perawatan di sekolah dalam rangka
memajukan kesehatan masyarakat serta meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat.

63
DAFTAR PUSTAKA

Hartono Bambang.2010.Promosi Kesehatan Di Puskesmas & Rumah Sakit. Jakarta :


Rineka Cipta.

Maryani Dewi.2014.Ilmu Keperawatan Komunitas. Bandung : CV Yrama Widya.

Depkes. RI. 2002. Pengembangan Model Praktik Pelayanan Mandiri Keperawatan.


Jakarta : Pusgunakes

Ainy, Nur. 2011. Makalah Keperawatan Komunitas - Home Nursing.

Ferry Effendy.2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas Teori Dan Praktik Dalam


Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika

https://www.scribd.com/doc/45967216/makalah-promosi-kesehatan

https://www.scribd.com/document/358687222/MAKALAH-HOME-CARE-docx

https://www.scribd.com/doc/315318031/Makalah-Chn-kesehatan-sekolah

64