You are on page 1of 13

Khutbah Idul Adha 2018 / 1439 H (22 Agst 2018)

ANAK SHALEH, JALAN SURGA ORANG TUA

َّ‫َّأ َ ْش َه َُّد‬.ُ ‫ِيَّلَه‬


ََّ ‫لََّهَاد‬ َّ َ‫ِلَّف‬
َّْ ‫ضل‬ْ ُ‫نَّي‬ َّْ ‫ضلََّّلَ َّهَُّ َو َم‬ ِ ‫لََّ ُم‬ َّْ ‫َّ َم‬،‫تَّأ َ ْع َما ِلنَا‬
َّ َ‫نَّ َي ْه ِدَِّهَّف‬ َِّ ‫س ِِّيئ َا‬ َ َّ‫ن‬ َّْ ِ‫ش ُر ْو َِّرَّأ َ ْنفُ ِسنَاَّ َوم‬ ُ َّ‫مِن‬ َّْ ََِّّ‫لِلَّنَحْ َم ُدَّهَُّ َونَ ْست َ ِع ْينُ َّهَُّ َونَ ْست َ ْغف ُِرَّهَُّ َونَعُو َّذَُِّبالل‬ َِّ ِ َّ‫ِإنََّّ ْال َح ْم ََّد‬
ُ ‫س ْولُ َّه‬ ُ ‫ع ْب ُدَّهَُّ َو َر‬ َ َّ‫لََّ ِإلَ َّهََّ ِإلََّّهللاَّ َوأ َ ْش َه َُّدَّأَنََّّ ُم َحمدًا‬ َّ َّ‫ن‬ َّْ َ ‫أ‬
ُ َ
َّ . َ‫لََّت َ ُم ْوتنََّّإِلََّّ َوأنت َّْمَّ ُّم ْس ِل ُم ْون‬ ُ ُ ُ
َّ ‫ْنَّ َءا َمنُواَّاتقواَّهللاَََّّ َحقَََّّّتقَاتِ َِّهَّ َو‬ َ
ََّ ‫يَاَّأيُّهَّا ََّال ِذي‬
ََّ ‫نَّ ِب َِّهَّ َواْأل َ ْر َح‬
َّ‫ام‬ ََّ ‫سآ َءلُ ْو‬ ََ ‫يَّت‬ َّ َّ‫سآ ًَّءَّ َواتقُوا‬
َّْ ‫هللاََّال ِذ‬ ‫ن‬ ‫و‬
َ ِ َ ً ِ َّ ‫ا‬‫ْر‬ ‫ي‬ ‫ث‬‫ك‬َ َّ ً َّ
‫ل‬ ‫ا‬‫ج‬ ‫ر‬ َّ ‫ا‬‫م‬‫ه‬ ْ
‫ن‬ َّ
َ ِ َ ُ ِ‫مِ َ ْ َ َ َ َ م‬ ‫ث‬
َّ ‫ب‬‫و‬ َّ ‫ا‬‫ه‬ ‫ج‬ ‫و‬ َ‫ز‬ َّ ‫ا‬‫ه‬‫ن‬ْ َّ َّ
‫ق‬َ َ ‫ل‬ ‫خ‬
َ ‫و‬ َّ ‫ة‬
َّ‫د‬
َ َ ِ‫َ اح‬ ‫و‬ َّ ‫س‬
َّ ‫ف‬ْ ‫ن‬
َ َّ ْ
َّ
‫ن‬ ‫م‬
ِّ ِ ََّّْ
‫م‬ ُ
‫ك‬ َ ‫ق‬ َ ‫ل‬‫خ‬َ َّ َّ
‫ي‬ْ ‫ذ‬
ِ ‫ال‬َّ ُ َ ْ ُ ‫َياَّأَيُّ َهاَّالن‬
َّ
‫م‬ ُ
‫ك‬ ‫ب‬‫ر‬ َّ‫ا‬ ‫و‬ ُ ‫ق‬ ‫ات‬َّ َّ
‫اس‬
َّ .‫علَ ْي ُك َّْمَّ َرقِ ْيبًا‬ َ َّ‫َان‬ ََّ ‫هللاَّك‬ ََّ ََّّ‫إِن‬
َ
َّ ‫َّأمابَ ْعدُ؛‬.‫عظِ ْي ًما‬ ً
َ َّ‫ازَّف ْوزا‬ َ َ َ َ َ
ََّ ‫نَّيُطِ َِّعَّهللاَََّّ َو َرسُ ْول َّه َُّفق َّْدَّف‬ ْ ُ ُ ُ
َّ ‫ِرَّلك َّْمَّذن ْوبَك َّْمَّ َو َم‬ ُ َ ْ ُ َ َ
َّْ ‫ِحَّلك َّْمَّأ ْع َمالك َّْمَّ َويَغف‬ ُ َ َّْ ‫صل‬ ْ ُ‫َّي‬.‫س ِد ْيدًا‬ َ َّ‫ل‬ ً َ ُ ُ
َّ ‫ْنَّ َءا َمنواَّاتقواَّهللاَََّّ َوق ْول ْواَّق ْو‬ ُ ُ ََّ ‫يَاَّأَيُّ َهاَّال ِذي‬
ََّّ‫ضلَلَةََّّ َوكُل‬ َ ََّّ‫عة‬ َ ‫عةََّّ َو ُكلََّّ ِب ْد‬ َ ‫ورَّ ُم ْح َدثَات ُ َهاَّ َو ُكلََّّ ُمحْ َدثَةََّّ ِب ْد‬ َِّ ‫سل ََّمَّ َوشَرََّّاأل ُ ُم‬ َ ‫علَ ْي َِّهَّ َو‬ َ َّ‫صلىَّهللا‬ َ ََّّ‫يَّ ُم َحمد‬ َُّ ‫ي َِّ َه ْد‬ َّ ‫ْرَّال َه ْد‬ ََّ ‫َّ َو َخي‬،‫هللا‬ َ َّ‫َاب‬ َُّ ‫ثَّ ِكت‬ َِّ ‫ْرَّ ْال َحدِي‬ ََّ ‫فَإِنََّّ َخي‬
َّ ‫ار‬ َِّ ‫ضلَلَةََّّفِيَّالن‬ َ

Allahu akbar, Allahu akbar la ilaha illaLlahu Allahu akbar walillahilhamd

Kaum muslimin yang berbahagia!


Hari ini, kita kembali menjadi saksi betapa luasnya kasih-sayang Allah Azza wa Jalla kepada kita
semua. Pagi hari ini, kita kembali merasakan betapa besarnya rahmat dan ampunanNya untuk kita
semua.Dosa demi dosa kita kerjakan nyaris sepanjang hari. Perintah demi perintahNya hampir kita
abaikan setiap saat. Tapi lihatlah, Allah Azza wa Jalla yang Maha Pengasih itu tidak pernah bosan
memberikan kesempatan demi kesempatan kepada kita untuk bertaubat dan kembali padaNya.
Allah Azza wa Jalla yang Maha Penyayang itu tidak pernah menutup pintu ampunanNya yangluas.

Allahu akbar, Allahu akbar, la ilaha illaLlahu Allahu akbar walillahilhmad


Kaum muslimin yang berbahagia!
Hari Raya Idul Adha adalah kisah tentang sebuah keluarga mulia yang diabadikan oleh Allah Azza
wa Jalla untuk peradaban manusia. Itulah kisah keluarga Ibrahim ‘alaihissalam. Melalui kisah
keluarga Ibrahim ‘alaihissalam itu, Allah Ta’ala ingin menunjukkan kepada kita betapa pentingnya
posisi keluarga dalam membangun sebuah peradaban yang besar. Sebuah masyarakat yang
bahagia dan sejahtera, tidak hanya di dunia, namun juga di akhirat. Sebuah masyarakat tidak akan
bisa menjadi bahagia dan sejahtera jika masyarakat itu gagal dalam membangun keluarga
keluarga kecil yang ada di dalamnya.
Dan jika kita berbicara tentang keluarga, maka itu artinya kita juga akan berbicara tentang salah
satu unsur terpenting keluarga yang bernama: Anak. Dalam kisah keluarga Ibrahim ‘alaihissalam,
sang anak itu “diperankan” oleh sosok Isma’il ‘alaihissalam. Inilah sosok anak teladan sepanjang
zaman yang kemudian diangkat menjadi seorang nabi oleh Allah Azza wa Jalla. Bahkan yang luar
biasanya adalah melalui keturunan Isma’il ‘alaihissalam inilah kemudian lahir sosok nabi dan rasul
paling mulia sepanjang sejarah manusia bahkan alam semesta, yaitu: Rasulullah Muhammad
shallallahu‘alaihi wa sallam!

Allahu akbar, Allahu akbar, La ilaha illaLlahu Allahu akbar walillahil hamd…
Kaum muslimin rahimakumullah!
Saya kira hampir semua dari kita mengikuti bagaimana anak-anak remaja kita yang bergabung
dalam geng-geng motor mulai berani melakukan tindakan-tindakan anarkis yang tidak pernah
diduga sebelumnya. Kita semua juga nyaris menyaksikan setiap hari di sudut-sudut jalan raya,
bagaimana anak-anak kita dieksploitasi dan diperalat menjadi anak jalanan, mengemis dan
meminta-minta sambil mengisap lem dari balik bajunya yang lusuh dan kotor. Saya kira kita juga
tahu hasil-hasil survey mutakhir yang menunjukkan bagaimana jumlah ABG yang hamil di luar
nikah terus meningkat dalam jumlah yang sangat memprihatinkan. Dan itu semua barulah
segelintir masalah dan problem anak-anak kita di masa kini… Wallahul musta’an.

1
Allahu akbar Allahu akbar La ilaha illaLlah Allahu akbar walillahilhamd…
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!
Harus kita akui dengan jujur bahwa salah satu penyebab utama terjadinya ini semua adalah orang
tua itu sendiri. Tidak sedikit Orangtua yang terjebak dalam dua sikap ekstrem yang saling bertolak
belakang: sikap yang memanjakan terlalu berlebihan dan sikap pengabaian yang menelantarkan
anak-anak. Ada orangtua yang menganggap bahwa kasih sayang kepada anak harus ditunjukkan
dengan pemberian dan pemenuhan segala keinginannya. Bahkan ada juga orang tua yang
memanjakan anak dengan segala fasilitas untuk mengangkat gengsinya sendiri sebagai orangtua!
Pada sisi yang lain, tidak sedikit orangtua yang tidak peduli dengan anak-anaknya. Atau
menunjukkan kepedulian dengan melakukan kekerasan demi kekerasan kepada anak.
Karena itu, di hari yang penuh berkah ini, marilah kita berhenti sejenak, membuka hati untuk
sejenak belajar dari ayahanda para nabi dan rasul, Nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam. Belajar
tentang betapa pentingnya nilai keluarga kita, tentang betapa pentingnya nilai seorang anak bagi
orangtuanya di dunia dan akhirat.

Allahu akbar Allahu akbar Allahu akbar la ilaha illaLlahu Allahu akbar, Allahu akbar
walillahil hamd…
Para ayah dan bunda yang dimuliakan Allah!
Pelajaran pertama dari kisah Ibrahim ‘alaihissalam adalah bahwa untuk mendapatkan anak yang
shaleh, maka orangtua terlebih dahulu berusaha menjadi orang yang shaleh. Karena siap menjadi
orangtua artinya siap menjadi teladan untuk keluarga, bukan sekedar memberi makan dan
mencukupi kebutuhan anak. Keberhasilan Ibrahim ‘alaihissalam mendapatkan karunia anak shaleh
seperti Isma’il ‘alaihissalam adalah karena beliau sendiri berhasil mendidik dan membentuk dirinya
menjadi seorang hamba yang shaleh. Allah Azza wa Jalla menegaskan:

َّ ُ ‫َّوالذِينَ َّ َمعَ َّه‬


َ ‫ِيم‬ َ ‫قَدَّْكَانَتْ َّلَ ُك ْمَّأُس َْوةَّ َح‬
َ ‫سنَةَّفِيَّإِب َْراه‬

“Sungguh telah ada untuk kalian teladan yang baik dalam diri Ibrahim dan orang-orang yang
bersamanya.” (al-Mumtahanah: 4)
Pujian Allah Azza wa Jalla untuk Ibrahim ‘alaihissalam ini tentu saja didapatkannya setelah ia
berusaha dan berusaha menjadi sosok pribadi yang dicintai oleh Allah Azza wa Jalla.
Pertanyaannya sekarang untuk kita semua adalah: siapakah di antara kita yang sejak awal
menjadi orangtua sudah berusaha untuk belajar dan berusaha menjadi orangtua yang shaleh?
Apakah kesibukan kita menshalehkan pribadi kita sudah menyamai kesibukan kita mengurus rezki
dan urusan dunia lainnya?
Prof. DR. Abdul Karim Bakkar, seorang pakar pembinaan anak dan keluarga menegaskan:
“Tarbiyah dan pembinaan keluarga yang kita capai itu adalah gambaran tentang bagaimana
pembinaan pribadi kita sendiri!”

Allahu akbar, Allahu akbar, La ilaha illaLlahu Allahu akbar, Allahu akbar walillahilhamd
Ma’asyiral muslimin rahimahukumullah!
Pelajaran kedua dari Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah jika ingin memiliki anak yang shaleh, maka
bersungguh-sungguhlah meminta dan mencita-citakannya dari Allah Azza wa Jalla. Allah Ta’ala
mengabadikan doa-doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tentang itu di dalam al-Qur’an:

َّ ‫ين‬
ََّ ِ‫بَّهَبْ َّلِيَّمِ نَ َّالصالِح‬
ِ ِّ ‫َر‬

“Tuhanku, karuniakanlah untukku (seorang anak) yang termasuk orang-orang shaleh.” (al-Shaffat:
100)
2
َّ‫آء‬
ِ ‫ع‬َ ‫لََّّ ُد‬ َ ‫بََّّاجْ عَ ْلنِىََّّ ُمق‬
َ ‫ِيمَّالصلَ ٰوةَََِّّّ َومِنََّّذُ ِ ِّريت‬
َّْ ‫ِىَّربنَاََّّ َوتَقَب‬ َِّ ِّ ‫َر‬
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku orang yang menegakkan shalat, juga dari keturunanku. Ya Tuhan
kami, kabulkanlah doaku.” (Ibrahim: 40)

Kaum muslimin yang berbahagia!


Mungkin banyak di antara kita yang sekedar “mau” memiliki anak yang shaleh. Tapi siapa di antara
kita yang sungguh-sungguh berdoa memintanya kepada Allah dengan kelopak mata yang berderai
air mata? Siapa di antara kita yang secara konsisten menyelipkan doa-doa terbaiknya untuk
keluarga dan anak-anaknya?

Allahu akbar, Allahu akbar La ilaha illaLlahu Allahu akbar wa lillahilhamd…


Jika kita memang sungguh-sungguh bercita-cita mendapatkan anak shaleh, maka kita harus
berpikir dan berusaha sungguh-sungguh pula mencari jalannya, sama bahkan lebih dari saat kita
bercita-cita ingin mempunyai penghasilan yang besar, rumah tinggal impian dan kendaraan
idaman kita. Berikut ini beberapa hal yang sungguh-sungguh harus kita jalankan untuk
mewujudkan impian “anak shaleh” tersebut:

Pertama, konsisten mencari rezki yang halal untuk keluarga:


Dalam pandangan Islam, apa yang dikonsumsi oleh tubuh manusia akan berpengaruh terhadap
perilakunya. Karena itu, Islam mewajibkan kepada setiap orangtua untuk memberikan hanya
makanan halal yang diperoleh melalui harta yang halal kepada anak-anak mereka. Bahkan nafkah
yang halal untuk keluarga akan dinilai sebagai sedekah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallambersabda:

ً‫ص َدقَ َّة‬


َ َُّ‫علَىَّأ َ ْه ِلهَِّكَانَتْ َّلَه‬ ْ ‫ِإن‬
َ َّ َ‫َّال ُم ْسل َِمَّ ِإذَاَّأ َ ْنفَق‬
“Sesungguhnya seorang muslim itu jika ia memberi nafkah kepada keluarganya, maka itu akan
menjadi sedekah untuknya.” (HR. Ibnu Hibban dan dishahihkan oleh al-Albani)
Usaha memberikan nafkah yang halal tentu saja menjadi tantangan tersendiri bagi orangtua. Dan
untuk itu, kita harus selalu mengingat peringatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang
tantangan tersebut. Beliau bersabda:
ْ ‫َّال َحلَ ِلَّأ َ ْمَّمِ ْن‬
َِّ ‫َّال َح َر‬
‫ام‬ ْ َ‫ِيَّال َم ْر ُءَّ َماَّأ َ َخذََّمِ ْنه َُّأَمِ ن‬
ْ ‫اسَّزَ َمانَّلََّيُبَال‬ ِ ‫علَىَّالن‬ َ َّ‫يَأْتِي‬
“Akan datang kepada manusia suatu zaman di mana seseorang tidak lagi peduli apa yang ia
kumpulkan; apakah dari yang halal atau dari yang haram?” (HR. al-Bukhari)
Apakah kita termasuk yang disebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ini?
Orang yang tidak peduli dari mana mengais dan membawa pulang nafkah untuk keluarga; apakah
itu dari hasil suap, korupsi dan manipulasi seperti yang sekarang ini sedang menjadi trend
sebagian pejabat di negeri ini?! Semoga saja tidak, karena nafkah yang tidak halal yang tumbuh
menjadi daging dalam tubuh. Dan Rasulullah telah berpesan:
‫ارَّأ َ ْولَىَّبِ َِّه‬ ْ ‫َلَّيَ ْد ُخل‬
ُ ‫َّالن‬،ِ‫َُّال َجنةََّلَحْ مََّّنَبَتَ َّمِ نَ َّالسُّحْ ت‬
“Tidak akan masuk surga daging tumbuh dari harta haram, karena neraka lebih pantas
untuknya.”(HR. al-Tirmidzi dengan sanad yang shahih)
Allahu akbar, Allahu akbar, la ilaha illaLlahu Allahu akbar walillahilhamd…

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!


Yang kedua, memberikan kasih sayang kepada anak tapi tidak memanjakannya:
Pada hari ini, seiring dengan perkembangan teknologi yang nyaris tak terbendung, kita sudah tidak
aneh lagi melihat anak-anak yang dibekali oleh para orangtua dengan peralatan-peralatan
komunikasi yang bisa apa saja, termasuk mengakses tayangan-tayangan pornografi.

3
Di samping dampak lain seperti kecanduan game dan semacamnya yang semakin
merenggangkan hubungan komunikasi antara anak dan orangtua. Ini adalah satu contoh kasus di
mana mungkin saja kita menganggap itu sebagai bukti kasih sayang kita kepada mereka.
Namun marilah memikirkan dengan jernih bahwa bukti cinta dan sayang kita yang sesungguhnya
kepada mereka adalah dengan berusaha menyelamatkan mereka dari api neraka. Allah Ta’ala
berfirman:
َ ‫َّو ْالحِ َج‬
ُ ‫ارَّة‬ َ ‫اس‬ُ ‫اَّوقُو ُدهَاَّالن‬
َ ‫َار‬ً ‫َّوأ َ ْهلِي ُك ْمَّن‬ َ ُ‫يَاَّأَيُّ َهاَّالذِينَ َّآ َمنُواَّقُواَّأ َ ْنف‬
َ ‫س ُك ْم‬
“Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah diri dan keluarga kalian dari api nerakan yang bahan
bakarnya adalah manusia dan batu…” (al-Tahrim: 6)
Apakah Anda rela membiarkan anak-anak Anda terpanggang di dalam kobaran api neraka?
Apakah kita rela membiarkan anak-anak yang kita sayangi itu menjadi bahan bakar neraka
Allah?Na’udzu billah min dzalik.
Kaum muslimin rahimakumullah!

Para ayah dan bunda yang berbahagia!


Selanjutnya yang ketiga adalah terus belajar dan belajar menjadi orangtua yang shaleh dan
cakap:
Apakah kita sudah mengetahui semua panduan dan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam dalam mendidik anak?
Apakah kita sudah memahami bagaimana menghadapi karakter anak kita yang berbeda-beda itu?
Kita tidak dilarang mempelajari konsep pendidikan anak dari siapa saja, tapi selalu ingat bahwa
konsep pendidikan dan pembinaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang terbaik
dan yang wajib untuk kita jalankan. Tentu saja kita tidak lupa untuk meneladani jejak para sahabat
Nabi dan Ahlul bait beliau secara benar, dan tidak berlebih-lebihan.
Cobalah kita renungkan betapa banyaknya hal yang harus kita pelajari sebagai orangtua.
Karenanya sesibuk apapun urusan dunia kita, kita harus menyediakan waktu untuk belajar menjadi
orangtua yang shaleh dan cakap. Itulah harga yang harus kita bayar untuk menyelamatkan
keluarga kita dari kobaran api neraka yang membara.
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, La ilaha illaLlahu Allahu akbar walillahil hamd…
Kaum muslimin yang berbahagia!
Mengapa kita harus benar-benar serius merancang kehadiran anak shaleh di dalam rumah tangga
kita? Menjawab pertanyaan itu, marilah merenungkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini:

َّ ُ ‫صالِحَّ َي ْدعُوَّلَ َّه‬ َ ‫َّأ َ ْو‬،ِ‫َّأ َ ْوَّع ِْلمَّيَُّْنتَفَ ُعَّ ِبه‬،‫اريَة‬


َ َّ‫َّولَد‬ ِ ‫ص َدقَةَّ َج‬ ْ ‫ع َملُه َُّإِلَّمِ ْنَّث َ َلثَةَِّأ َ ْش َيا َء‬
َ َّ‫َّمِن‬: َ َُّ‫ع ْنه‬ َ َ‫سانُ َّا ْنق‬
َ َّ‫ط َع‬ ِ ْ َ‫ِإذَاَّ َمات‬
َ ‫َّاْل ْن‬

“Apabila seorang insan meninggal dunia, akan terputuslah seluruh amalnya kecuali dari 3 hal: dari
sedekah jariyah, atau dari ilmu yang bermanfaat, atau anak shaleh yang berdoa untuknya.”(HR.
Abu Dawud dan dishahihkan oleh al-Albani)
Melalui hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan bahwa anak yang
shaleh adalah investasi yang tak ternilai harganya. Anak yang shaleh adalah pelita yang tak
padam meski kita telah terkubur dalam liang lahat. Anak yang shaleh adalah sumber pahala yang
tak putus meski tubuh kita telah hancur berkalang tanah.
Sebaliknya, anak-anak yang tidak shaleh kelak akan menjadi sumber bencana bagi kehidupan kita
para orangtua di akhirat, wal ‘iyadzu biLlah.

Allahu akbar, Allahu akbar walillahil hamd…


Kaum muslimin yang berbahagia!
Namun jika kita merasa gagal setelah mengerahkan upaya sungguh-sungguh untuk menghadirkan
sosok anak shaleh dalam rumah kita, janganlah kita berputus asa kepada Allah Azza wa Jalla.
Dalam kondisi putus asa seperti itu, kita harus belajar dari kesabaran dan keteguhan Nabi
4
Nuh‘alaihissalam yang terus mengajak anaknya ikut bersamanya, meski kemudian anaknya
memilih untuk durhaka kepada Allah Ta’ala hingga akhir hayatnya.
Kesabaran juga hal paling mendasar yang harus kita miliki dalam mengarungi bahtera rumah
tangga. Maraknya kasus perceraian adalah bukti bahwa banyak orangtua yang egois memikirkan
dirinya sendiri dan lupa bahwa anak-anak sangat membutuhkan sebuah keluarga yang utuh.
Karenanya, bersabarlah karena Allah selalu bersama dengan orang-orang yang sabar.
Selanjutnya kepada para pemilik dan pelaku media, ingatlah bahwa media-media yang Anda miliki
dan kelola telah terbukti sebagai alat paling efektif menyampaikan kebaikan dan keburukan.
Ingatlah, jika Anda mencari nafkah dengan cara menyebarkan nilai-nilai kebatilan melalui media,
maka itu akan menjadi nafkah haram untuk diri dan keluarga Anda.

Kaum muslimin yang dimuliakan Allah!


Sebelum mengakhiri khutbah ini, marilah sejenak kita menyimak panduan singkat menunaikan
ibadah kurban kita hari ini hingga 3 hari ke depan.
Hewan yang dapat dikurbankan adalah domba yang genap berusia 6 bulan, kambing yang genap
setahun, sapi yang genap 2 tahun. Syaratnya, hewan kurban tidak boleh memiliki cacat atau
penyakit yang bisa berpengaruh pada dagingnya, jumlah maupun rasanya, misalnya: kepicakan
pada mata, kepincangan pada kaki dan penyakit pada kulit, kuku atau mulut.
Seekor domba atau kambing hanya mencukupi untuk kurban satu orang saja, sedangkan seekor
sapi boleh berserikat untuk tujuh orang, kecuali berserikat pahala maka boleh pada semua jenis
tanpa batas. Sebaiknya pemilik kurban yang menyembelih sendiri hewan kurbannya, tetapi bisa
diwakilkan kepada penjagal, dengan syarat seorang muslim yang menjaga shalatnya, mengetahui
hukum-hukum menyembelih dan upahnya tidak diambilkan dari salah satu bagian hewan kurban
itu sendiri, kulit atau daging, meskipun dia juga bisa mendapat bagian dari hewan kurban sebagai
sedekah atau hadiah.
Waktu penyembelihan hewan kurban adalah seusai pelaksanaan shalat Idul Adha hingga tiga hari
tasyriq setelahnya. Pembagian hewan kurban yang telah disembelih dapat dibagi tiga bagian,
sepertiga buat pemiliknya, sepertiga buat hadiah dan sepertiga buat sedekah kepada fakir miskin.
Pahala yang kita peroleh sangat bergantung pada keikhlasan niat kita dalam menunaikan ibadah
kurban ini.
Allahu akbar, Allahu akbar, La ilaha illaLlahu Allahu akbar walillahil hamd…
Di penghujung khutbah ini, marilah sejenak kita menundukkan jiwa dan hati untuk menyampaikan
doa-doa kita kepada Sang Maha mendengar, Allah Azza wa Jalla. Semoga doa-doa itu
terhantarkan ke sisi Allah Ta’ala bersama dengan ibadah kurban yang kita tunaikan hari ini.

،‫الحمدَّللَّربَّالعالمينَّوالصلةَّوالسلمَّعلىَّرسولهَّاألمينَّوَّعلىَّآلهَّوصحبهَّوالتابعين‬
َّ ،َّ ِ‫َِّوالثناَء‬
َ َ‫د‬ ‫ج‬
ْ ‫م‬ ْ
‫َُّال‬‫ل‬ ‫ه‬ ْ َ ‫أ‬َّ َ‫ت‬‫ن‬ْ َ ‫أ‬َّ َّ
‫ك‬َ ْ َ‫علَيْك‬
‫َّال َخي َْرَّ ُكله َُّفَإِن‬ َ َّ‫َرَّونُثْنِ ْي‬َ ‫دَّونَ ْش ُك ُركَ َّبِأَنكَ َّأ َ ْهلَّأ َ ْنَّت ُ ْشك‬
َ ‫الل ُهمَّ ِإناَّنَحْ ََّمدُكَ َّبِأَنكَ َّأ َ ْهلَّأ َ ْنَّتُحْ َم‬
ْ َ
َ ‫ار َح ْمناََّإِنكَ َّأ ْنتَ َّالغَفُ ْو ُر‬
َّ ‫َّالرحِ يْم‬ ْ ‫َّو‬ َ َ
َ َ‫بَّإِلََّّأ ْنتَ َّفَا ْغف ِْرَّلناََّ َم ْغف َِرةًَّمِ ْنَّ ِع ْندِك‬ ُّ َ َ ‫ظ ْلماًَّ َكثِيْرا‬
َ ‫َّوإِنه َُّلََّيَ ْغف ُِرَّالذنُ ْو‬ ُ ََّ‫سنا‬
َ ُ‫ظلَ ْمناََّأ َ ْنف‬
َ ََّ‫َربنا‬

Ya Allah, Engkaulah Tuhan yang menciptakan kami, Engkaulah satu-satuNya yang berhak untuk
kami sembah…Hari ini kami datang mengetuk pintu ampunanMu. Hari ini kami hadir bersimpuh
dengan peluh-peluh dosa yang melekat di tubuh kami yang lemah ini. Ya Allah, betapa kami sering
lupa bahwa kehidupan dunia ini sangat singkat, hingga kami pun jatuh dan jatuh lagi dalam
kedurhakaan terhadap perintahMu. Ya Allah, ampunilah kami, ampunilah kami, ampunilah kami.
Ya Allah, jika Engkau menutup pintu ampunanMu yang agung, kepada siapa lagi kami harus
mencari ampunan…
Ya Allah, ya Rabbana, di sisa-sisa hidup kami ini, berikanlah kekuatan kepada kami untuk selalu
berbakti dan menjadi anak yang shaleh untuk ayah-bunda kami. Jika mereka masih hidup,
izinkanlah kami untuk berkhidmat dan melayani mereka dengan sebaik-baiknya di sisa-sisa usia
mereka… Jika ayah-bunda kami telah tiada, maka izinkanlah kami untuk menjadi sisa-sisa
5
kebaikan mereka yang terus-menerus menjadi ladang kebaikan penerang alam kubur mereka…
Ya Allah, ampuni, ampuni, ampuni durhaka kami kepada ayah-bunda kami…
Ya Allah, ya Rabbana, berikan kami kekuatan dan kemampuan untuk menjadi orangtua yang
terbaik untuk putra-putri kami… Hanya Engkau satu-satuNya yang dapat memberikan kekuatan
untuk mendidik mereka dengan sebaik-baiknya… Ya Allah, jadikan anak-anak kami sebagai
penyejuk hati kami, yang selalu mendoakan kami saat kami sendiri dalam kegelapan alam kubur…
Ya Allah, karuniakan kepada kami anak-anak yang mencintai al-Qur’an dan Sunnah NabiMu…
Ya Allah, selamatkan negeri ini dari pemimpin-pemimpin yang zhalim… Selamatkan negeri ini dari
kerakusan para koruptor yang tidak bertanggung jawab… Karuniakan untuk kami para pemimpin
yang adil dan mencintai SyariatMu… Izinkan kami untuk menikmati indahnya negeri ini di bawah
naungan SyariatMu yang Maha Adil…
Ya Allah, Zat Yang Maha Mengabulkan doa kabulkanlah doa kami, penuhilah permintaan kami,
kamilah hamba-Mu yang lemah, harapan kami hanya kepadaMu, Engkau Maha Mendengar,
Engkaulah Penguasa satu-satunya Yang Haq, Engkaulah sebaik-baik Pemberi yang diharap.

َّ‫اب‬ َّْ َ‫َّرحْ َمةًَّإِنكَ َّأ َ ْنت‬


ُ ‫َّال َوه‬ َ َ‫َّوهَبْ َّلَناََّمِ ْنَّلَ ُد ْنك‬َ َ ‫غَّقُلُ ْوبَناََّبَ ْع َدَّإِ ْذَّ َه َد ْيت َنا‬
ْ ‫َربناََّلََّت ُ ِز‬
َّ‫ب‬ َ ‫َّواْل َح ْمدَُّلل‬
ِ ِّ ‫َِّر‬ َ ‫علَىَّاْل ُم ْر‬
َ َ‫س ِليْن‬ َ َّ‫سلَم‬ َ َ‫صفُ ْون‬
َ ‫َّو‬ ِ ‫عماَّ َي‬ ْ ‫ب‬
َ َِّ‫َّالعِزَّة‬ ِ ِّ ‫َّر‬
َ َ‫َّربِِّك‬
َ َ‫س ْب َحان‬ ُ َّ،‫ار‬ ِ ‫ابَّالن‬َ َ‫عذ‬ َ ً‫سنَة‬
َ َّ‫َّو ِقنَا‬ َ ‫َّوفِيَّاآلخِ َرةَِّ َح‬ َ ً‫سنَة‬ َ ‫َربنَاَّآ ِتنَاَّفِيَّال ُّد ْن َياَّ َح‬
ََّ ‫صحْ بِهَِّأَجْ َم ِعي‬
َّ .َّ‫ْن‬ َ ‫َِّو‬َ ‫علَىَّآ ِله‬
َ ‫َّو‬ َ ‫علَىَّنَبِيِِّنَاَّ ُم َحمد‬ َ َّ‫سل َم‬ َ ‫َّو‬ َ ُ‫صلىَّهللا‬ َ َ‫اْل َعالَمِ يْن‬
َ ‫َّو‬،َّ
َّ

6
KHUTBAH I

‫ هللا أكبر هللا أكبر هللا أكبر‬،‫ هللا أكبر هللا أكبر هللا أكبر‬،‫هللا أكبر هللا أكبر هللا أكبر‬
‫أص ْيالً الَ اِلَهَ اِالَّ هللاُ َوهللاُ ا َ ْكبَ ْر‬
ِ ‫لِل كثيرا وسبحان هللا بُ ْك َرة ً َو‬
ِ ‫هللاُ ا َ ْكبَ ْر َكبِي ًْرا َوال َح ْم ُد ِ ه‬
‫هللاُ ا َ ْك َب ْر َو هللِ اْل َح ْم ُد‬

،‫ ذُو اْل َجال ِل َواإل ْكرام‬،‫ أ َ ْش َه ُد أ َ ْن َال اِلَهَ إِ َّال هللا َوحْ َدهُ ال ش َِريك لَه‬،‫َريم‬ ‫ َوأ َ ْف َه َمنَا بِش َِر ْيعَ ِة النَّبِ ه‬،‫سالَ ِم‬
ِ ‫ي الك‬ ُ ‫اْل َح ْم ُد هللِ اْل َح ْم ُد هللِ الهذي َه َدانَا‬
‫سبُ َل ال ه‬
،‫سان إلَى َي ْو ِم ال هدِين‬ ِ ْ‫صحا ِب ِه َوالتَّا ِبعينَ ِبإح‬ ْ ‫س ِيهدِنا ُم َح هم ٍد وعلى اله وأ‬ َ ‫علَى‬ َ ‫بار ْك‬ِ ‫س ِله ْم َو‬
َ ‫ص ِهل و‬ َ ‫ الله ُه َّم‬،‫ع ْب ُدهُ َو َرسولُه‬ َ ‫َوأ َ ْش َه ُد أ َ هن‬
َ ‫س ِيه َدنَا َونَ ِبيَّنَا ُم َح َّمدًا‬
،‫ أعوذ باهلل من الشيطان الرجيم‬:‫ قال هللا تعالى في القران الكريم‬،‫ أوصيكم و نفسي بتقوى هللا وطاعته لعلكم تفلحون‬،‫ فيايها اإلخوان‬:‫أما بعد‬
‫صلِحْ لَ ُك ْم أ َ ْع َمالَ ُك ْم َويَ ْغف ِْر لَ ُك ْم ذُنُوبَ ُك ْم َو َم ْن يُطِ عِ هللا َو َرسُولَه ُ فَقَ ْد‬ ْ ُ‫ ي‬،‫سدِيدًا‬ َ ‫ يَا أَيُّ َها الَّذِينَ آ َ َمنُوا اتَّقُوا هللا َوقُولُوا قَ ْو ًال‬:‫بسم هللا الرحمان الرحيم‬
َ‫عظِ ي ًما وقال تعالى َيا اَيُّ َها الَّ ِذيْنَ آ َمنُ ْوا اتَّقُ ْوا هللاَ َح َّق تُقَاتِ ِه َوالَ ت َ ُم ْوت ُ َّن ِإالَّ َوأ َ ْنت ُ ْم ُم ْس ِل ُم ْون‬ َ ‫فَازَ فَ ْو ًزا‬.
‫صدق هللا العظيم‬

Ma’asyiral Muslimin rahimakummullah,

Pada hari ini kaum Muslimin merayakan Hari Idul Adha dengan melaksanakan shalat id karena
telah sampai pada hari ke-10 bulan Dzulhijjah. Shalat Idul Adha adalah peristiwa besar yang setiap
tahun umat Islam sedunia melaksanakannya dan setelah itu menyembelih hewan-hewan kurban
sebagai sunnah muakkadah. Setiap kali merayakan Idul Adha, kita tidak bisa lepas dari
membicarakan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Bapak - anak ini menjadi suri tauladan bagi
kita semua dalam banyak hal, seperti dalam ketaatan dan kepasrahan diri kepada Allah SWT,
kesabaran dan keikhlasan beribadah, serta dalam menjalani hidup dan kehidupan ini.

Ma’asyiral Muslimin rahimakummullah,

Nabi Ibrahim AS adalah seorang ayah sekaligus seorang hamba Allah yang lurus, berhati lembut,
lagi penyantun. Beliau seorang Nabi dengan teladan kepemimpinan yang mencerahkan.
Sedangkan sang anak, Nabi Ismail AS, adalah seorang anak yang sabar dan berbakti kepada
kedua orang tua; dan tentunya juga taat kepada Allah SWT.

Ma’asyiral Muslimin rahimakummullah,

Nabi Ibrahim AS menikah dengan Siti Sarah sudah cukup lama–bertahun-tahun—namun belum
dikaruinai seorang anak pun. Beliau telah lama mengidamkan hadirnya seorang anak. Kemudian
oleh Siti Sarah, Nabi Ibrahim dipersilakan untuk menikah lagi dengan Siti Hajar yang tak lain
adalah seorang pembatu bagi keluarga Ibrahim. Dan akhirnya beliau mendapatkan seorang anak
hasil pernikahannya dengan Siti Hajar dan diberinya nama Ismail. Beliau merasa senang dan
tenang bersama sang buah hati. Beliau melihat Ismail menikmati masa kanak-kanaknya dan
menemani kehidupannya dengan tentram dan damai. Tetapi kemudian, Ibrahim bermimpi dalam
tidurnya. Beliau menyembelih anak satu-satunya itu. Ibrahim pun menyadari bahwa itu adalah
perintah dari Allah SWT.

Ma’asyiral Muslimin rahimakummullah,

Kita bisa membayangkan betapa Nabi Ibrahim tengah diuji Allah SWT. Anak satu-satunya yang
telah lama beliau nantikan kehadirannya hingga usia beliau hampir 100 tahun, pada akhirnya
harus dikorbankan atas perintah Allah dengan cara disembelihnya sendiri. Bagaimanakah sikap
Nabi Ibrahim menghadapi perintah tersebut? Nabi Ibrahim adalah seorang rasul. Maka beliau tidak
ragu-ragu dalam memahami dan menerima perintrah tersebut. Tidak ada kekacauan dalam pikiran

1
beliau sehingga beliau tidak melakukan protes atau mencoba bertanya kepada Allah untuk
meminta klarifikasi. Misalnya dengan bertanya, ”Kenapa ya Allah, harus saya sembelih anak
tunggal saya ini?”

Tidak ada pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Yang ada pada Nabi Ibrahim AS adalah penerimaan
total, keridhaan yang mendalam, ketenangan dan kedamaian yang luar biasa. Itulah sebabnya
Nabi Ibahim AS mendapat berbagai macam gelar seperti: ulul azmi (orang yang sangat
sabar), khalilullah (kekasih Allah), hanifan muslima (orang yang lurus yang berserah diri kepada
Allah SWT), abul anbiya (bapak para nabi), dan sebagainya.

Ma’asyiral Muslimin rahimakummullah,

Kisah bagaimana Nabi Ibrahim AS melaksanakan perintah Allah SWT bisa kita simak
sebagaimana termaktub dalam Al-Quran Surat Ash-Shaffat, ayat 102:

َ‫ي إِنِهي أ َ َرى فِي ْال َمن َِام أَنِهي أ َ ْذبَحُك‬


َّ َ‫يَا بُن‬

Artinya: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu”.

Ayat tersebut merupakan perintah dari Allah SWT agar Nabi Ibrahim menyembelih Ismail yang
belum cukup dewasa atau masih anak-anak karena baru berusia kurang dari 14 tahun. Maka Nabi
Ibrahim sebagai orang tua bertanya kepada Ismail bagaimana pendapatnya tentang perintah
tersebut sebagaimana dikisahkan dalam bagian ayat berikutnya:

ُ ‫فَان‬
‫ظ ْر َماذَا ت ََرى‬

Artinya: “Maka pikirkan, apa pendapatmu tentang perintah itu”.

Pertanyaan Nabi Ibrahim kepada Ismail ini sebenarnya mengandung pelajaran berharga bahwa
seorang ayah atau orang tua tidak ada jeleknya, bahkan sangat bagus, memberikan hak bertanya
atau mengemukakan pendapat bagi anak-anaknya berkaitan dengan masa depan mereka. Apalagi
menyangkut soal hidup dan mati. Dengan kata lain, ini sesungguhnya pelajaran tentang demokrasi
atau musyawarah dimana dialog untuk mencapai persepsi yang sama diperlukan untuk meraih
tujuan baik yang akan dicapai bersama. Dengan cara seperti ini tentu keikhlasan untuk menerima
sebuah keputusan bisa dicapai dengan baik secara bersama pula. Maka tidak mengherankan
ketika memberikan jawaban kepada Ibrahim , Ismail menjawab dengan jawaban yang sangat
bagus, penuh kesabaran dan keikhlasan sebagai berikut:

َ‫صا ِب ِرين‬ َّ ‫ست َِج ُدنِي ِإ ْن شَا َء‬


َّ ‫َّللاُ مِ نَ ال‬ ِ ‫َيا أ َ َب‬
َ ‫ت ا ْفعَ ْل َما تُؤْ َم ُر‬

Artinya: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan
mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".

Ma’asyiral Muslimin rahimakummullah,

Dengan ketaatan kepada Allah SWT yang luar biasa sebagaimana ditunjukkan Nabi Ibrahim dan
Ismail, maka Allah berfirman kepada Nabi Ibrahim sebagaimana termaktub dalam Surat As-
Shaffat, ayat 104 -105 sebagai berikut:

َ‫الرؤْ َيا ۚ ِإنَّا َك َٰ َذلِكَ نَجْ ِزي ْال ُم ْح ِسنِين‬ َ ‫ قَ ْد‬.‫َونَا َد ْينَاهُ أ َ ْن َيا ِإب َْراهِي ُم‬
ُّ َ‫ص َّد ْقت‬
2
Artinya: "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu; sesungguhnya
demikianlah Kami memberi balasan kepada orang- orang yang berbuat baik”.

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah hanya menghendaki ketundukan dan penyerahan diri Nabi
Ibrahim AS, sehingga tiada lagi tersisa dalam diri beliau kecuali ketaatan kepada Allah. Nabi
Ibrahim meyakini tidak ada perintah yang lebih berharga dan lebih tinggi daripada perintah Allah
SWT. Nabi Ibrahim rela mengorbankan segalanya, termasuk yang paling berharga, yakni Ismail
dengan pengorbanan yang penuh keridhaan, ketenangan, kedamaian, dan keyakinan akan
kebenaran. Maka, Allah kemudian menebus putra itu, Ismail–dengan seekor hewan sembelihan
yang besar.

Ma’asyiral Muslimin rahimakummullah,

Dengan peristiwa inilah, kemudian dimulailah sunnah berkurban pada shalat Idul Adha hingga
sekarang. Disembelihnya hewan-hewan kurban menjadi pengingat kita atas kejadian besar
tersebut. Peristiwa itu akan terus menyibak tabiat keimanan yang kita genggam supaya kita lebih
paham mengenai bagaimana kita berserah diri seutuhnya kepada Allah SWT; bagaimana kita taat
kepada Allah dengan ketaatan yang penuh keridhaan. Semua itu agar kita makin mengerti, bahwa
Allah tidak hendak menghinakan manusia dengan cobaan. Pun tidak ingin menganiaya dengan
ujian. Melainkan, Allah menghendaki agar kita bersegera memenuhi panggilan tugas dan
kewajiban secara total. Namun demikian, Allah mengingatkan kita dalam Surat Al Hajj ayat 37:

َ‫ش ِِر ْال ُمحْ ِسنِين‬


‫علَى َما َه َدا ُك ْم َو َب ه‬ َ َ‫َّللا لُ ُحو ُم َها َوال ِد َما ُؤهَا َولَك ِْن َينَالُهُ الت َّ ْق َوى مِ ْن ُك ْم َكذَلِك‬
َّ ‫س َّخ َرهَا لَ ُك ْم ِلت ُ َك ِبه ُروا‬
َ َ‫َّللا‬ َ َّ ‫لَ ْن َينَا َل‬

Artinya:”Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah,
tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah
menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada
kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Ma’asyiral Muslimin rahimakummullah,

Shalat Idul Adha berlangsung pada bulan Dzulhijjah karena dalam bulan ini dilaksanakan ibadah
haji di Tanah Suci Makkah Al-Mukarramah. Mungkin, sayup-sayup terdengar oleh kita kalimat
talbiyah yang dikumandangkan mereka yang sedang menunaikan ibadah haji melauli berbagai
media. Mereka berseru:

َ‫ ِإ َّن ْال َح ْم َد َوالنهِ ْع َمةَ َلكَ َو ْال ُم ْلكَ الَش َِريْكَ لَك‬، َ‫ لَبَّيْكَ الَش َِريْكَ لَكَ لَبَّيْك‬، َ‫لَبَّيْكَ الله ُه َّم لَبَّيْك‬

Artinya: “Ya Allah, kami penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya setiap getaran pujian adalah bagi-
Mu. Sejatinya, setiap tetes kenikmatan berasal dari-Mu. Sebenar-benarnya, Engkaulah Raja dan
Penguasa kami, tiada sekutu bagi-Mu.”

Ma’asyiral Muslimin rahimakummullah,

Semoga saudara-saudara kita umat Islam sedunia yang saat ini tengah menunaikan ibadah haji di
Tanah Suci akan menjadi haji yang mabrur. Dan bagi kita yang belum menunaikan ibadah haji,
semoga Allah mudahkan kita melaksanakan ibadah ini ketika saatnya telah tiba. Amin ya rabbal
'alamin...

3
‫ط ْينَاكَ ْالك َْوث َ َر فَ َ‬
‫ص ِهل ل َِر ِبهكَ َوا ْن َح ْر ِإ َّن شَانِئَكَ ه َُو االَ ْبت َُر‬ ‫الرحِ ِيم‪ِ .‬إ َّنا أ َ ْع َ‬
‫من َّ‬‫الرحْ ِ‬‫الر ِجي ِْم‪ِ .‬بس ِْم هللاِ َّ‬
‫ْطن َّ‬
‫شي ِ‬ ‫أع ُْوذُ ِباهللِ مِنَ ال َّ‬
‫ْ‬ ‫ي َومِ ْن ُك ْم ت َ‬
‫ِالوتَهُ اِنهه ُ ه َُو السَّمِ ْي ُع العَ ِل ْي ُم‪..‬‬ ‫ْ‬ ‫ه‬
‫ت َوال ِذ ْك ِر ال َح ِكي ِْم‪َ .‬وتَقَب َّْل مِ نهِ ْ‬ ‫آن ْالعَظِ ي ِْم َونَفَعَنِي َواِيهِا ُك ْم بما فيه مِ نَ اآليَا ِ‬
‫اركَ هللاُ لِي َولَ ُك ْم فِي ْالقُ ْر ِ‬
‫بَ َ‬
‫الرحِ ْي ُم‬ ‫ُ‬ ‫ْ‬ ‫ُ‬ ‫َّ‬ ‫ِ‬ ‫ْ‬
‫فا ْستغف ُِر ْوا انه ه َُوالغَف ْو ُر َّ‬‫َ‬ ‫َ‬

‫‪KHUTBAH II‬‬

‫ص ْيالً الَ اِلَهَ اِالَّ هللاُ َوهللاُ ا َ ْكبَ ْر هللاُ ا َ ْكبَ ْر َوهللِ اْل َح ْم ُد‬‫س ْب َحانَ هللا بُ ْك َرة ً َو أ َ ْ‬ ‫هللاُ ا َ ْكبَ ْر (‪ )×3‬هللاُ ا َ ْكبَ ْر (‪ )×4‬هللاُ ا َ ْكبَ ْر كبيرا َواْل َح ْم ُد ِ‬
‫هلل َكثِي ًْرا َو ُ‬
‫س ْولُه ُ‬ ‫ع ْب ُدهُ َو َر ُ‬ ‫س ِيه َدنَا ُم َح َّمدًا َ‬
‫أن َ‬ ‫لى ت َْوفِ ْي ِق ِه َواِ ْمتِنَانِهِ‪َ .‬وأ َ ْش َه ُد أ َ ْن الَ اِلَهَ ِإالَّ هللاُ َوهللاُ َوحْ َدهُ الَ ش َِريْكَ لَه ُ َوأ َ ْش َه ُد َّ‬
‫ع َ‬‫ش ْك ُر لَهُ َ‬
‫سانِ ِه َوال ُّ‬
‫لى إِحْ َ‬
‫ع َ‬‫ا َ ْل َح ْم ُد هللِ َ‬
‫ه‬
‫س ِل ْم ت َ ْس ِل ْي ًما كِثي ًْرا‬
‫ص َحابِ ِه َو َ‬ ‫َ‬
‫علَى ا َ ِل ِه َوأ ْ‬ ‫علَى َ‬
‫سيهِ ِدنَا ُم َح َّم ٍد ِو َ‬ ‫ص هِل َ‬ ‫إلى ِرض َْوانِهِ‪ .‬الل ُه َّم َ‬ ‫الدَّاعِى َ‬

‫ع َّما نَ َهى َوا ْعلَ ُم ْوا أ َ َّن هللاَ أ َ َم َر ُك ْم ِبأ َ ْم ٍر َب َدأ َ فِ ْي ِه ِبنَ ْف ِس ِه َوثَـنَى ِب َمآل ئِ َكتِ ِه ِبقُ ْد ِس ِه َوقَا َل ت َعاَلَى ِإ َّن َ‬
‫هللا‬ ‫اس اِتَّقُوهللاَ فِ ْي َما أ َ َم َر َوا ْنت َ ُه ْوا َ‬
‫أ َ َّما َب ْع ُد فَيا َ اَيُّ َها النَّ ُ‬
‫علَى آ ِل‬ ‫ه‬ ‫علَ ْي ِه َو َ‬
‫س ِل ْم َو َ‬ ‫صلى هللاُ َ‬ ‫َّ‬ ‫علَى َ‬
‫سيهِ ِدنَا ُم َح َّم ٍد َ‬ ‫ص هِل َ‬ ‫س ِل ُم ْوا ت َ ْس ِل ْي ًما‪ .‬الل ُه َّم َ‬ ‫ه‬ ‫علَ ْي ِه َو َ‬ ‫صل ْوا َ‬ ‫ُّ‬ ‫َّ‬
‫لى النَّبِى يآ اَيُّ َها ال ِذيْنَ آ َمنُ ْوا َ‬ ‫ع َ‬ ‫صلُّ ْونَ َ‬ ‫َو َمآلئِ َكتَهُ يُ َ‬
‫ْ‬
‫عن بَ ِقيَّ ِة‬ ‫علِى َو َ‬ ‫ْ‬
‫ع َمر َوعُث َمان َو َ‬ ‫ْ‬ ‫َ‬
‫الرا ِش ِديْنَ أبِى بَك ٍر َو ُ‬ ‫َ‬
‫ع ِن الخلفاءِ َّ‬ ‫َ‬ ‫ُ‬ ‫ْ‬ ‫ه‬
‫ض الل ُه َّم َ‬ ‫ار َ‬ ‫َ‬ ‫ْ‬ ‫َ‬
‫سلِكَ َو َمآلئِك ِة ال ُمق َّربِيْنَ َو ْ‬ ‫ْ‬ ‫َ‬
‫على انبِيآئِكَ َو ُر ُ‬ ‫َ‬ ‫سيهِدِنا َ ُم َح َّم ٍد َو َ‬
‫َ‬
‫الراحِ مِ يْنَ‬‫عنَّا َم َع ُه ْم بِ َرحْ َمتِكَ يَا أ َ ْر َح َم َّ‬‫ض َ‬
‫َ‬ ‫ار‬
‫ْ‬ ‫و‬ ‫ْن‬
‫ِ َ‬ ‫ي‬ ‫ه‬
‫د‬ ‫ِ‬ ‫ال‬ ‫م‬
‫ِ‬ ‫و‬ ‫ْ‬ ‫ي‬
‫َ‬ ‫ى‬ ‫َ‬ ‫ل‬‫ِ‬ ‫ا‬ ‫ان‬
‫ٍ‬ ‫س‬‫َ‬ ‫ِحْ‬ ‫ا‬ ‫ب‬
‫ِ‬ ‫م‬
‫ْ‬ ‫ه‬
‫ُ‬ ‫َ‬
‫ل‬ ‫ْنَ‬‫ي‬ ‫ع‬
‫ِ‬ ‫ب‬
‫ِ‬ ‫ا‬‫َّ‬ ‫ت‬‫ال‬ ‫ِي‬‫ع‬ ‫ب‬
‫ِ‬ ‫َا‬ ‫ت‬‫و‬ ‫َ‬ ‫ْنَ‬‫ي‬‫ع‬‫ِ‬ ‫ب‬
‫ِ‬ ‫ا‬‫َّ‬ ‫ت‬‫ال‬‫و‬‫َ‬ ‫ة‬
‫ِ‬ ‫ب‬
‫َ‬ ‫ا‬‫ح‬‫َ‬ ‫ص‬
‫َّ‬ ‫ال‬

‫ص ْر‬ ‫ش ِْركَ َواْل ُم ْش ِر ِكيْنَ َوا ْن ُ‬ ‫ت الل ُه َّم أَع َِّز اْ ِإل ْسالَ َم َواْل ُم ْسلِمِ يْنَ َوأ َ ِذ َّل ال ه‬ ‫ت اَالَحْ يآ ُء مِ ْن ُه ْم َواْالَ ْم َوا ِ‬
‫ت َواْل ُم ْسلِمِ يْنَ َواْل ُم ْس ِل َما ِ‬ ‫اَلل ُه َّم ا ْغف ِْر ل ِْل ُمؤْ مِ ِنيْنَ َواْل ُمؤْ مِ نَا ِ‬
‫عنَّا اْلبَالَ َء‬ ‫اخذُ ْل َم ْن َخذَ َل اْل ُم ْسلِمِ يْنَ َو َد هم ِْر أ َ ْع َدا َء ال ِ هد ْي ِن َوا ْع ِل َك ِل َماتِكَ ِإلَى يَ ْو َم ال ِ هدي ِْن‪ .‬الل ُه َّم ا ْدفَ ْع َ‬ ‫ص َر ال ِ هديْنَ َو ْ‬ ‫ص ْر َم ْن نَ َ‬ ‫ِعبَادَكَ اْل ُم َو ِ هح ِديَّةَ َوا ْن ُ‬
‫ً‬
‫ان ال ُم ْسلِمِ يْنَ عآ َّمة يَا َربَّ‬ ‫ْ‬ ‫ْ‬ ‫ْ‬
‫سائ ِِر البُل َد ِ‬ ‫صة َو َ‬ ‫ً‬ ‫ْ‬ ‫َ‬
‫ع ْن بَل ِدنَا اِن ُدونِ ْي ِسيَّا خآ َّ‬ ‫َ‬ ‫ْ‬ ‫َ‬ ‫ْ‬
‫س ْو َء ال ِفتنَ ِة َوالمِ َحنَ َما ظ َه َر مِ ن َها َو َما بَطنَ َ‬ ‫ْ‬ ‫ْ‬ ‫الزالَ ِز َل َواْلمِ َحنَ َو ُ‬ ‫َواْ َلوبَا َء َو َّ‬
‫اإن لَ ْم ت َ ْغف ِْر لَنَا َوت َْر َح ْمنَا لَنَ ُك ْون ََّن مِ نَ اْلخَاس ِِريْنَ ‪.‬‬ ‫سنَا َو ْ‬ ‫ار‪َ .‬ربَّنَا َ‬
‫ظلَ ْمنَا ا َ ْنفُ َ‬ ‫عذَ َ‬
‫اب النَّ ِ‬ ‫سنَةً َوقِنَا َ‬‫سنَةً َوفِى اْآلخِ َر ِة َح َ‬ ‫اْل َعالَمِ يْنَ ‪َ .‬ربَّنَا آتِنا َ فِى ال ُّد ْن َيا َح َ‬
‫هللا اْلعَظِ ي َْم‬ ‫ْ‬ ‫َّ‬ ‫ُ‬
‫ع ِن اْلفَحْ شآءِ َواْل ُم ْنك َِر َواْلبَ ْغي يَ ِعظ ُك ْم لَعَل ُك ْم تَذَ َّك ُر ْونَ َواذكُ ُروا َ‬ ‫بى َويَ ْن َهى َ‬ ‫ان َوإِيْتآءِ ذِي اْلقُ ْر َ‬ ‫س ِ‬‫ِعبَا َدهللاِ ! إِ َّن هللاَ يَأ ْ ُم ُرنَا بِاْلعَ ْد ِل َواْ ِإل ْح َ‬
‫لى نِعَمِ ِه يَ ِز ْد ُك ْم َولَ ِذ ْك ُر هللاِ أ َ ْكبَ ْر‬
‫ع َ‬ ‫يَ ْذ ُك ْر ُك ْم َوا ْش ُك ُر ْوهُ َ‬

‫َّ‬

‫‪4‬‬
KHUTBAH I

،ً‫ص ْيال‬ ُ ‫ اَهللُ أ َ ْكبَ ْر َكبِي ًْرا َو ْال َح ْم ُد هللِ َكثِي ًْرا َو‬.‫ اَهللُ أ َ ْكبَ ُر اَهللُ أ َ ْكبَ ُر اَهللُ أ َ ْكبَ ُر‬.‫ اَهللُ أ َ ْكبَ ُر اَهللُ أ َ ْكبَ ُر اَهللُ أ َ ْكبَ ُر‬.‫اَهللُ أ َ ْكبَ ُر اَهللُ أ َ ْكبَ ُر اَهللُ أ َ ْكبَ ُر‬
ِ َ ‫س ْب َحانَ هللاِ بُ ْك َرة ً َوأ‬
‫ي‬ ْ ‫ ال َح ْم ُد ِلِلِ ال ِذ‬.ُ‫ اَهللُ أ َ ْكبَ ُر َوهللِ ال َح ْمد‬،‫ الَإِلهَ إِالَّ هللاُ َوهللاُ أ َ ْكبَ ُر‬،ُ‫اب َوحْ َده‬
َّ ْ َ َ‫ع َّز ُج ْن َدهُ َوهَزَ َم ْاْلَحْز‬ َ َ ‫ع ْب َدهُ َوأ‬ َ ‫ص َر‬ َ َ‫صدَقَ َو ْع َدهُ َون‬ َ ،ُ‫َالإِلهَ إِالَّ هللاُ َوحْ َده‬
َ‫ أ َ ْش َه ُد أ َ ْن الَ ِإلَه‬. ُ‫سنَات‬ َ ‫ظ ُم ِف ْي َها اْلَجْ ُر وال َح‬ َّ ‫ضا ِئ ِل يُ َع‬َ َ‫ش ُه ْو ِر َواْلَي َِّام َوالَل َيالِي ِب َمزَ ا َيا َوف‬ ُّ ‫ض ال‬ ُ ‫َص َب ْع‬ َّ ‫ض فَخ‬ ٍ ‫علَى َب ْع‬ َ ُ ‫ضه‬ َ ‫ض َل َب ْع‬ َّ َ‫ان َوف‬ ِ ‫الز َم‬ ‫َخلَقَ ه‬
‫ع ْبدِكَ َو َرسُ ْولِكَ ُم َح هم ٍد‬ َ ‫س ِله ْم علَى‬ ‫ص هل و ه‬ َ ‫ الله ُه َّم‬.ِ‫الرشَاد‬ َّ ‫س ْولُه ُ الدَّاعِى بِقَ ْو ِل ِه َوفِ ْع ِل ِه ِإلَى‬ ُ ‫ع ْب ُدهُ َو َر‬ َ ‫سيهِ َدنا ُم َح َّمدًا‬ َ ‫ِإالَّ هللاُ َوحْ َدهُ الَ ش َِريْكَ لَهُ َوأ َ ْش َه ُد أ َ َّن‬
‫ت‬ ِ ‫عا‬ َّ َ
َ ‫اس اتقوا هللاَ تَعَالى بِ ِف ْع ِل الطا‬ ُ َّ َ ْ َ َ
ُ َّ‫ فيَا أيُّ َها الن‬،ُ‫ أ َّما ب ْعد‬.ِ‫ص َحابِ ِه ُه َداةِ اْلن َِام في أن َحاءِ البِالَد‬ ْ ‫على آلِه وأ‬ َ َ ‫ِو‬
‫شانِئَكَ ه َُو ْاْل َ ْبت َُر‬ َ ‫ ِإ َّن‬.‫ص ِهل ل َِر ِبهكَ َوا ْن َح ْر‬
َ َ ‫ف‬ . ‫ر‬ َ
َ ْ ‫ث‬‫َو‬
‫ك‬ ْ
‫ال‬ َ‫َاك‬ ‫ن‬‫ي‬ْ َ
‫ط‬ ‫ع‬
ْ َ ‫أ‬ ‫ا‬َّ ‫ن‬ ‫إ‬ :‫ْم‬
ِ ِ ِ‫ي‬ ‫َر‬‫ك‬ ْ
‫ال‬ ‫ه‬
ِ ‫ب‬
ِ ‫َا‬ ‫ت‬ ‫ك‬
ِ ‫ِي‬ ‫ف‬ ‫الى‬
َ َ ُ ‫ع‬ َ ‫ت‬ ‫هللا‬ ‫ل‬َ ‫ا‬ َ ‫ق‬ ْ
‫د‬ َ ‫ق‬َ ‫ف‬ .

Hari raya kurban atau biasa kita sebut Idul Adha yang kita peringati tiap tahun tak bisa terlepas
dari kisah Nabi Ibrahim sebagaimana terekam dalam Surat ash-Shaffat ayat 99-111. Meskipun,
praktik kurban sebenarnya sudah dilaksanakan putra Nabi Adam yakni Qabil dan Habil.
Diceritakan bahwa kurban yang diterima adalah kurban Habil bukan Qabil. Itu pun bukan daging
atau darah yang Allah terima namun ketulusan hati dan ketakwaan dari si pemberi kurban.

‫َّللا لُ ُحو ُم َها َوال ِد َما ُؤهَا َولَك ِْن يَنَالُهُ الت َّ ْق َوى مِ ْن ُك ْم‬
َ َّ ‫لَ ْن يَنَا َل‬

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi
ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. (Al-Hajj: 37)

Kendati sejarah kurban sudah berlangsung sejak generasi pertama umat manusia, namun syariat
ibadah kurban dimulai dari cerita perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih anak
kesayangannya, Ismail (‘alaihissalâm). Seorang anak yang ia idam-idamkan bertahun-tahun
karena istrinya sekian lama mandul. Dalam Surat ash-Shaffat dijelaskan bahwa semula Nabi
Ibrahim berdoa:

َ‫صالِحِ ين‬
َّ ‫ َربه ِ هَبْ لِي مِ نَ ال‬.

“Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku )seorang anak( yang termasuk orang-orang yang shalih.”

Allah lalu memberi kabar gembira dengan anugerah kelahiran seorang anak yang amat cerdas
dan sabar (ghulâm halîm). Hanya saja, ketika anak itu menginjak dewasa, Nabi Ibrahim diuji
dengan sebuah mimpi. Ia berkata, "Wahai anakku, dalam tidur aku bermimpi berupa wahyu dari
Allah yang meminta aku untuk menyembelihmu. Bagaimana pendapat kamu?" Anak yang saleh itu
menjawab, "Wahai bapakku, laksanakanlah perintah Tuhanmu. Insya Allah kamu akan dapati aku
termasuk orang-orang yang sabar."

Tatkala sang bapak dan anak pasrah kepada ketentuan Allah, Ibrâhîm pun membawa anaknya ke
suatu tumpukan pasir. Lalu Ibrâhîm membaringkan Ismail dengan posisi pelipis di atas tanah dan
siap disembelih.

Jamaah shalat Idul Adha hadâkumullâh,

Atas kehendak Allah, drama penyembelihan anak manusia itu batal dilaksanakan. Allah berfirman
dalam ayat berikutnya:

‫ إِنَّه ُ مِ ْن ِعبَا ِدنَا‬. َ‫ َكذَلِكَ نَجْ ِزي ْال ُمحْ ِسنِين‬.‫ِيم‬


َ ‫علَى إِب َْراه‬ َ . َ‫علَ ْي ِه فِي ْاآلَخِ ِرين‬
َ ‫س َال ٌم‬ َ ‫ َوت ََر ْكنَا‬.‫عظِ ٍيم‬ ٍ ‫ َوفَ َد ْينَاهُ بِ ِذب‬. ُ‫إِ َّن َهذَا لَ ُه َو ْالبَ َال ُء ْال ُمبِين‬
َ ‫ْح‬
َ‫ْال ُمؤْ مِ نِين‬

1
“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor
sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-
orang yang datang kemudian, )yaitu( ‘Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim’. Demikianlah Kami
memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-
hamba Kami yang beriman.”

Hadirin,

Ibadah kurban tahunan yang umat Islam laksanakan adalah bentuk i’tibar atau pengambilan
pelajaran dari kisah tersebut. Setidaknya ada tiga pesan yang bisa kita tarik dari kisah tentang
Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail serta ritual penyembelihan hewan kurban secara umum.

Pertama, tentang totalitas kepatuhan kepada Allah subhânau wata’âla. Nabi Ibrahim yang
mendapat julukan “khalilullah” )kekasih Allah( mendapat ujian berat pada saat rasa bahagianya
meluap-luap dengan kehadiran sang buah hati di dalam rumah tangganya. Lewat perintah
menyembelih Ismail, Allah seolah hendak mengingatkan Nabi Ibrahim bahwa anak hanyalah
titipan. Anak—betapapun mahalnya kita menilai—tak boleh melengahkan kita bahwa hanya
Allahlah tujuan akhir dari rasa cinta dan ketaatan.

Nabi Ibrahim lolos dari ujian ini. Ia membuktikan bahwa dirinya sanggup mengalahkan egonya
untuk tujuan mempertahankan nilai-nilai Ilahi. Dengan penuh ketulusan, Nabi Ibrahim menapaki
jalan pendekatan diri kepada Allah sebagaimana makna qurban, yakni pendekatan diri.

Sementara Nabi Ismail, meski usianya masih belia, mampu membuktikan diri sebagai anak
berbakti dan patuh kepada perintah Tuhannya. Yang menarik, ayahnya menyampaikan perintah
tersebut dengan memohon pendapatnya terlebih dahulu, dengan tutur kata yang halus, tanpa
unsur paksaan. Atas dasar kesalehan dan kesabaran yang ia miliki, ia pun memenuhi panggilan
Tuhannya.

Jamaah shalat Idul Adha hadâkumullâh,

Pelajaran kedua adalah tentang kemuliaan manusia. Dalam kisah itu di satu sisi kita diingatkan
untuk jangan menganggap mahal sesuatu bila itu untuk mempertahankan nilai-nilai ketuhanan,
namun di sisi lain kita juga diimbau untuk tidak meremehkan nyawa dan darah manusia.
Penggantian Nabi Ismail dengan domba besar adalah pesan nyata bahwa pengorbanan dalam
bentuk tubuh manusia—sebagaimana yang berlangsung dalam tradisi sejumlah kelompok pada
zaman dulu—adalah hal yang diharamkan.

Manusia dengan manusia lain sesungguhnya adalah saudara. Mereka dilahirkan dari satu bapak,
yakni Nabi Adam ‘alaihissalâm. Seluruh manusia ibarat satu tubuh yang diciptakan Allah dalam
kemuliaan. Karena itu membunuh atau menyakiti satu manusia ibarat membunuh manusia atau
menyakiti manusia secara keseluruhan. Larangan mengorbankan manusia sebetulnya penegasan
kembali tentang luhurnya kemanusiaan di mata Islam dan karenanya mesti dijamin hak-haknya.

Pelajaran yang ketiga yang bisa kita ambil adalah tentang hakikat pengorbanan. Sedekah daging
hewan kurban hanyalah simbol dari makna korban yang sejatinya sangat luas, meliputi
pengorbanan dalam wujud harta benda, tenaga, pikiran, waktu, dan lain sebagainya.

Pengorbanan merupakan manifestasi dari kesadaran kita sebagai makhluk sosial. Bayangkan, bila
2
‫‪masing-masing manusia sekadar memenuhi ego dan kebutuhan sendiri tanpa peduli dengan‬‬
‫‪kebutuhan orang lain, alangkah kacaunya kehidupan ini. Orang mesti mengorbankan sedikit‬‬
‫‪waktunya, misalnya, untuk mengantre dalam sebuah loket pejualan tiket, bersedia menghentikan‬‬
‫‪sejenak kendaraannya saat lampu merah lalu lintas menyala, dan lain-lain. Sebab, keserakahan‬‬
‫‪hanya layak dimiliki para binatang. Di sinilah perlunya kita “menyembelih” ego kebinatangan kita,‬‬
‫‪untuk menggapai kedekatan (qurb) kepada Allah, karena esensi kurban adalah solidaritas sesama‬‬
‫‪dan ketulusan murni untuk mengharap keridhaan Allah. Wallahu a’lam.‬‬

‫مِن آيَ ِة َو ِذ ْك ِر ْال َح ِكي ِْم َوتَقَبَّ َل هللاُ مِ نَّا َومِ ْن ُك ْم تِالَ َوتَه ُ َوإِنَّهُ ه َُو السَّمِ ْي ُع العَ ِل ْي ُم‪،‬‬
‫آن اْلعَظِ ي ِْم‪َ ،‬ونَفَعَنِي َوإِيَّا ُك ْم بِ َمافِ ْي ِه ْ‬
‫اركَ هللا لِي َولَ ُك ْم فِى اْلقُ ْر ِ‬
‫بَ َ‬
‫الرحِ يْم‬ ‫ُ‬ ‫َّ‬ ‫ْ‬ ‫َ‬ ‫َ‬
‫َوأق ْو ُل ق ْولِي َهذا فأ ْستَغف ُِر هللاَ العَظِ ي َْم إِنهُ ه َُو الغَف ْو ُر َّ‬ ‫َ‬ ‫ُ‬ ‫َ‬

‫‪KHUTBAH II‬‬

‫‪.‬اَهللُ أ َ ْك َب ُر اَهللُ أ َ ْك َب ُر اَهللُ أ َ ْك َب ُر اَهللُ أ َ ْك َب ُر اَهللُ أ َ ْك َب ُر اَهللُ أ َ ْك َب ُر اَهللُ أ َ ْك َب ُر‬


‫س ْولُه ُ‬ ‫ع ْب ُدهُ َو َر ُ‬ ‫سيهِ َدنَا ُم َح َّمدًا َ‬ ‫أن َ‬ ‫لى ت َْوفِ ْي ِق ِه َواِ ْمتِنَانِهِ‪َ .‬وأ َ ْش َه ُد أ َ ْن الَ اِلَهَ ِإالَّ هللاُ َوهللاُ َوحْ َدهُ الَ ش َِريْكَ لَه ُ َوأ َ ْش َه ُد َّ‬
‫ع َ‬‫ش ْك ُر لَهُ َ‬
‫سانِ ِه َوال ُّ‬
‫لى إِحْ َ‬
‫ع َ‬‫ا َ ْل َح ْم ُد هللِ َ‬
‫ه‬
‫س ِل ْم ت َ ْس ِل ْي ًما كِثي ًْرا‬ ‫ص َحابِ ِه َو َ‬ ‫على ا َ ِل ِه َوا َ ْ‬ ‫َ‬ ‫سيهِ ِدنَا ُم َح َّم ٍد ِو َ‬ ‫على َ‬ ‫َ‬ ‫ص هِل َ‬ ‫إلى ِرض َْوانِهِ‪ .‬الل ُه َّم َ‬
‫الدَّاعِى َ‬

‫ع َّما نَ َهى َوا ْعلَ ُم ْوا أ َ َّن هللاَ أ َ َم َر ُك ْم بِأ َ ْم ٍر بَ َدأ َ فِ ْي ِه بِنَ ْف ِس ِه َوثَـنَى بِ َمآل ئِ َكتِ ِه بِقُ ْد ِس ِه َوقَا َل ت َعاَلَى إِ َّن َ‬
‫هللا‬ ‫اس اِتَّقُوهللاَ فِ ْي َما أ َ َم َر َوا ْنت َ ُه ْوا َ‬ ‫أ َ َّما بَ ْع ُد فَيا َ اَيُّ َها النَّ ُ‬
‫سيهِدِنا َ‬ ‫علَى آ ِل َ‬ ‫س ِله ْم َو َ‬ ‫صلَّى هللاُ َ‬
‫علَ ْي ِه َو َ‬ ‫علَى َ‬
‫سيهِ ِدنَا ُم َح َّم ٍد َ‬ ‫ص هِل َ‬ ‫س ِله ُم ْوا ت َ ْس ِل ْي ًما‪ .‬الل ُه َّم َ‬ ‫صلُّ ْوا َ‬
‫علَ ْي ِه َو َ‬ ‫لى النَّبِى يآ اَيُّ َها الَّ ِذيْنَ آ َمنُ ْوا َ‬ ‫ع َ‬ ‫صلُّ ْونَ َ‬
‫َو َمآلئِ َكتَهُ يُ َ‬
‫ص َحابَ ِة‬ ‫ع ْن َب ِقيَّ ِة ال َّ‬ ‫و‬ ‫ِى‬‫ل‬ ‫ع‬ ‫و‬ ‫ان‬
‫ِ َ ٍ َ َ َ َ َ َ َ َ‬ ‫م‬ ‫ْ‬ ‫ُث‬
‫ع‬ ‫و‬ ‫ر‬ ‫م‬‫ع‬‫ُ‬ ‫و‬ ‫ر‬‫ك‬‫ْ‬ ‫ب‬ ‫ى‬ ‫ب‬ ‫َ‬ ‫أ‬ ‫ْنَ‬‫ي‬‫د‬‫ِ‬ ‫ش‬
‫ِ‬ ‫ا‬ ‫الر‬
‫َّ‬ ‫اءِ‬ ‫َ‬ ‫ف‬‫َ‬ ‫ل‬‫خ‬‫ُ‬ ‫ل‬‫ْ‬ ‫ا‬ ‫ن‬ ‫ع‬ ‫م‬‫ه‬
‫َ ُ َّ َ ِ‬ ‫ه‬ ‫ل‬‫ال‬ ‫ض‬ ‫ار‬
‫ْ‬ ‫و‬ ‫ي‬
‫ْنَ‬
‫ُ ِ َ‬ ‫ب‬ ‫ر‬
‫َّ‬ ‫َ‬ ‫ق‬‫م‬‫ل‬‫ْ‬ ‫ا‬ ‫ة‬
‫ِ‬ ‫َ‬
‫ك‬ ‫ئ‬
‫ِ‬ ‫آل‬‫م‬ ‫و‬
‫َ َ‬ ‫ِكَ‬‫ل‬‫س‬‫ُ‬ ‫ر‬
‫َ ُ‬‫و‬ ‫ِكَ‬ ‫ئ‬ ‫يآ‬‫ب‬
‫ِ‬ ‫ْ‬
‫ن‬ ‫َ‬ ‫ا‬ ‫ى‬‫َ‬ ‫ل‬‫ع‬‫ُم َح َّم ٍد َ َ‬
‫و‬
‫عنَّا َمعَ ُه ْم بِ َرحْ َمتِكَ يَا ا َ ْر َح َم َّ‬
‫الراحِ مِ يْنَ‬ ‫ض َ‬ ‫ار َ‬ ‫ان اِلَىيَ ْو ِم ال ِ هدي ِْن َو ْ‬ ‫َوالتَّابِ ِعيْنَ َوت َابِعِي التَّابِ ِعيْنَ لَ ُه ْم بِاِحْ َ‬
‫س ٍ‬

‫ص ْر‬ ‫ش ِْركَ َواْل ُم ْش ِر ِكيْنَ َوا ْن ُ‬ ‫ت الل ُه َّم أَع َِّز اْ ِإل ْسالَ َم َواْل ُم ْسلِمِ يْنَ َوأ َ ِذ َّل ال ه‬ ‫ت اَالَحْ يآ ُء مِ ْن ُه ْم َواْالَ ْم َوا ِ‬ ‫ت َواْل ُم ْسلِمِ يْنَ َواْل ُم ْس ِل َما ِ‬‫اَلل ُه َّم ا ْغف ِْر ل ِْل ُمؤْ مِ نِيْنَ َواْل ُمؤْ مِ نَا ِ‬
‫ْ‬
‫عنَّا البَالَ َء‬ ‫َ‬ ‫َ‬ ‫ْ‬
‫اخذ ْل َم ْن َخذَ َل ال ُم ْسلِمِ يْنَ َو َد هم ِْر أ ْع َدا َءال ِ هد ْي ِن َوا ْع ِل َك ِل َماتِكَ إِلى يَ ْو َم ال ِ هدي ِْن‪ .‬الل ُه َّم ا ْدفَ ْع َ‬ ‫ُ‬ ‫ص َر ال ِ هديْنَ َو ْ‬ ‫ص ْر َم ْن نَ َ‬ ‫ِعبَادَكَ اْل ُم َو ِ هح ِديَّةَ َوا ْن ُ‬
‫ان اْل ُم ْسلِمِ يْنَ عآ َّمةً َيا َربَّ‬ ‫سائ ِِر اْلب ُْل َد ِ‬ ‫صةً َو َ‬ ‫ع ْن َبلَ ِدنَا اِ ْن ُدو ِن ْي ِسيَّا خآ َّ‬
‫طنَ َ‬ ‫ظ َه َر مِ ْن َها َو َما َب َ‬ ‫س ْو َء اْل ِفتْنَ ِة َواْلمِ َحنَ َما َ‬ ‫الزالَ ِز َل َواْلمِ َحنَ َو ُ‬ ‫َواْ َلو َبا َء َو َّ‬
‫سن ََاوا ِْن لَ ْم ت َ ْغف ِْر لَنَا َوت َْر َح ْمنَا لَنَ ُك ْون ََّن مِ نَ اْلخَاس ِِريْنَ ‪.‬‬ ‫ار‪َ .‬ربَّنَا َ‬
‫ظلَ ْمنَا ا َ ْنفُ َ‬ ‫اب النَّ ِ‬‫عذَ َ‬ ‫سنَةً َوقِنَا َ‬ ‫سنَةً َوفِى اْآلخِ َرةِ َح َ‬ ‫اْل َعالَمِ يْنَ ‪َ .‬ربَّنَا آتِنا َ فِى ال ُّد ْنيَا َح َ‬
‫ْ‬ ‫ُ‬ ‫ْ‬ ‫َّ‬ ‫َ‬ ‫ُ‬ ‫َّ‬ ‫َ‬ ‫ُ‬ ‫ُ‬ ‫ْ‬ ‫ْ‬
‫ع ِن الفَحْ شآءِ َوال ُمنك َِر َوالبَغي يَ ِعظك ْم لعَلك ْم تَذك ُر ْونَ َواذك ُروا هللاَ العَظِ ي َْم‬ ‫ْ‬ ‫ْ‬ ‫ْ‬ ‫ْ‬
‫بى َويَن َهى َ‬ ‫ُ‬ ‫ْ‬
‫ان َوإِيْتآءِ ِذي الق ْر َ‬ ‫ِعبَا َدهللاِ ! إِ َّن هللاَ يَأ ْ ُم ُرنَا بِاْلعَ ْد ِل َواْ ِإل ْح َ‬
‫س ِ‬
‫لى نِ َعمِ ِه َي ِز ْد ُك ْم َولَ ِذ ْك ُر هللاِ أ َ ْك َب ْر‬‫ع َ‬ ‫َي ْذ ُك ْر ُك ْم َوا ْش ُك ُر ْوهُ َ‬
‫َّ‬

‫‪3‬‬