You are on page 1of 46

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Angka kematian bayi dan anak di dunia masih tinggi. Di Negara

berkembang hampir 10 juta kematian terjadi setiap tahun pada balita dibawah

usia 5 tahun (UNICEF, 2010). Laporan United Nations Children’s Fund

(UNICEF) (2010) mengatakan di Indonesia jumlah kematian balita setiap

tahun turun dari estimasi 12,6 juta pada tahun 2010 menjadi sekitar 6,6 juta

pada tahun 2012, namun angka ini masih cukup tinggi. Angka kematian bayi

adalah 34 per 1000 kelahiran hidup, sementara angka kematian balita adalah

44 per 1000 kelahiran hidup. Diharapkan pada tahun 2015 angka kematian

bayi turun menjadi 23 per 1000 kelahiran hidup dan angka kematian balita

turun menjadi 32 per 1000 kelahiran hidup. Pencapaian pada 2015 merupakan

target komitmen global tujuan Millennium Development Goals (MDGs)

(Kemenkes RI, 2010).

Menurut Liu et al. (2012) di dunia penyakit pneumonia, diare, dan

malaria merupakan penyebab tersering kematian pada balita. Upaya yang

dilakukan World Health Organization (WHO) dan praktisi kesehatan untuk

mengurangi morbiditas dan mortalitas anak yaitu dengan mengembangkan

Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) (Gove et al. 2007 dalam Rowe et

al. 2011). Pada tahun 2010an, WHO dan UNICEF memulai pelaksanaan

MTBS untuk meningkatkan kualitas perawatan di fasilitas kesehatan dengan

lima penyakit yang sering mengakibatkan sekitar 70% dari angka kematian

terbanyak setelah Puskesmas Jangkang, Dari 2059 Balita yang tercatat ada 6
2

anak (0-6 bulan), 27 anak (6 bulan-1 tahun), 215 anak (1-4 tahun) yang

terkena diare.(Dinkes Kapuas, 2018).

Kasus diare terbanyak terjadi di Kelurahan Palingkau Lama

terdapat 74 kasus disusul Kelurahan Tajepan sebanyak 44 kasus dan

Palingkau Baru sebanyak 41 kasus yang mendapatkan oralit dan Zinc dari

puskesmas Palingkau (UPT Puskesmas Palingkau, 2018)

Faktor risiko kejadian Diare pada balita meliputi sarana dan

prasarana sanitasi lingkungan seperti ketersediaan air bersih, ketersediaan

jamban, ketersediaan pengolahan sampah, ketersediaan sarana pembuangan

air limbah (SPAL) dan faktor kesehatan perorangan seperti memelihara dan

memotong kuku tangan dan kuku kaki dan Mencuci tangan menggunakan

sabun (Erlan, 2015)

Menurut Hanif (2014) Faktor resiko Kejadian Diare Faktor risiko

yang berhubungan dengan kejadian diare akut pada balita di Kecamatan

Umbulharjo dan Kotagede adalah kesehatan perorangan dan risiko sarana air

bersih. Faktor risiko paling dominan yang berhubungan dengan kejadian diare

akut pada balita adalah higiene perorangan, sedangkan faktor risiko yang

tidak berhubungan dengan kejadian diare akut pada balita adalah total

coliform, perilaku merebus air minum, sarana pembuangan tinja dan total E.

coli dalam sampel air bersih.

Penelitian Suhami (2017) menunjukkan ada hubungan antara

keberadaan kepemilikan jamban dengan kejadian diare. Tempat pembuangan

tinja juga merupakan sarana sanitasi yang penting berkaitan dengan kejadian

diare (Depkes, 2012).


3

Penelitian yang sejalan dengan penelitian ini, penelitian yanak

dengan penyakit lainnya yaitu diare, malaria, campak dan kurang gizi

(Wilson et al.2012)

Diare dapat mengakibatkan gangguan metabolisme tubuh yaitu

dehidrasi dan akibat fatalnya yaitu kematian (Wijaya, 2012). Menurut data

WHO (2013) di dunia ada sekitar 1,7 miliar kasus penyakit diare terjadi

setiap tahunnya. Diare merupakan penyebab kedua kematian pada balita di

bawah 5 tahun di negara dengan penghasilan ekonomi yang rendah, sekitar

1,3 juta anak meninggal setiap tahunnya, terutama di Negara Afrika dan Asia

Selatan (Wilson et al. 2012). Gerald et al. (2009) menyatakan bahwa diare

dapat mengenai semua kelompok umur dan berbagai golongan sosial, baik di

negara maju maupun berkembang dan erat hubungannya dengan kemiskinan

serta lingkungan yang tidak higienis. Di Indonesia diare merupakan penyakit

endemis yang terdapat sepanjang tahun dan puncak tertinggi terdapat pada

peralihan musim penghujan dan kemarau (Magdarina et al. 2015).

Menurut laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar Badan

Litbangkes (2015) penyebab terbanyak kematian bayi (29 hari-11 bulan) dan

anak balita (12 bulan-59 bulan) yaitu akibat terserang diare dengan proporsi

diare pada bayi sebesar 31,4% dan anak balita sebesar 25,2% dan dalam

prevalensi diare klinis cukup tinggi yaitu ˃10% (Riskesdas Kalteng, 2018).

Diare dengan jumlah 26,332 orang merupakan penyakit ketiga

terbanyak yang diderita masyarakat Kalimantan tengah setelah Influensa

sebanyak 86 857 dan hipertensi sebanyak 41,819 orang penderita (BPS

Kalteng, 2016)
4

Berdasarkan Data Kasus diare di Kabupaten Kapuas tahun 2018,

Wilayah Kerja Puskesmas Palingkau merupakan wilayah dengan kasus diare

yang dilakukan oleh Godana di Ethiopia Selatan, hasil menunjukkan bahwa

kepemilikan jamban beresiko dua kali terhadap kejadian diare (Mengiste,

2014).

Jamban merupakan salah satu komponen penting yang harus ada

disetiap rumah, jamban digunakan sebagai tempat pembuangan tinja.

Memanfaatkan jamban yang tersedia merupakan salah satu permasalahan

yang sering ditemui dimasyarakat. Perilaku masyarakat yang masih rendah

akan pentingnya memanfaatkan jamban yang tersedia, dapat menyebabkan

berbagai masalah muncul salah satunya yaitu masalah kesehatan. Sarana

pembuangan tinja yang tidak memenuhi syarat kesehatan dapat menjadi

penyebaran penyakit atau tempat berkembangbiak lalat dan dapat

meningkatkan risiko kesehatan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa

sebagian besar responden (92,9%) dari kelompok yang tidak mempunyai

jamban, mempunyai permasalahan diare balita (sebanyak 13 balita).

(Ismanto, 2017).

Berdasarkan uraian tersebut peneliti ingin melakukan penelitian

mengenai “Hubungan Ketersediaan Jamban, Kebiasaan Mencuci Tangan dan

Penggunaan Air Bersih Ibu dengan Kejadian Diare Pada Balita di Puskesmas

Palingkau Kabupaten Kapuas”


5

B. Rumusan Masalah
1. Pernyataan Masalah
Berdasarkan Data Kasus diare di Kabupaten kapuas tahun 2018, Wilayah

Kerja Puskesmas Palingkau merupakan kasus diare terbanyak setelah

Puskesmas jangkang, Dari 2059 Balita yang tercatat ada 6 anak (0-6

bulan), 27 anak (6 bulan-1 tahun), 215 anak (1-4 tahun) yang terkena

diare.(Dinkes Kapuas, 2018) sehingga diperlukan penelitian mendalam

tentang faktor-faktor yang menyebabkannya.


2. Pertanyaan Masalah

a. Faktor-faktor apasajakah yang mempengaruhi kejadian diare pada balita

di Puskesmas Palingkau Kabupaten Kapuas ?

b. Apakah ada hubungan ketersediaan jamban dengan kejadian diare pada

balita di puskesmas palingkau kabupaten Kapuas ?

c. Apakah ada kebiasaan mencuci tangan dengan kejadian diare pada balita

di puskesmas palingkau kabupaten Kapuas ?

d. Apakah ada hubungan penggunaan Air Bersih dengan kejadian diare

pada balita di Puskesmas Palingkau Kabupaten Kapuas ?

C. Tujuan Penelitian

1.Tujuan Umum

Untuk mengetahui hubungan ketersediaan jamban, kebiasaan mencuci

tangan dan penggunaan air bersih ibu dengan kejadian diare pada balita di

puskesmas palingkau kabupaten Kapuas

2.Tujuan Khusus
6

a. Mengetahui kejadian diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas

Palingkau Kabupaten Kapuas


b. Mengetahui ketersediaan jamban di wilayah kerja Puskesmas

Palingkau Kabupaten Kapuas


c. Mengetahui kebiasaan Ibu mencuci tangan Ibu Rumah Tangga di

wilayah kerja Puskesmas Palingkau Kabupaten Kapuas


d. Menganalisis hubungan ketersediaan jamban dengan kejadian Diare

pada balita di Puskesmas Palingkau Kabupaten Kapuas


e. Menganalisis hubungan kebiasaan mencuci tangan dengan kejadian

Diare pada balita di Puskesmas Palingkau Kabupaten Kapuas


f. Untuk menganalisis hubungan penggunaan air bersih dengan kejadian

Diare pada balita di puskesmas Palingkau Kabupaten Kapuas

D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi atau manfaat pada

penanganan diare pada balita balita


2. Manfaat Praktis
a) Bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Kapuas; penelitian ini dapat

memberikan masukan dalam meningkatkan strategi mengatasi Diare

pada balita Diare pada balita di Wilayah kerja Puskesmas Palingkau.


b) Bagi Puskesmas Palingkau penelitian ini dapat menjadi masukan bagi

tenaga penyuluh lapangan dalam perencanaan dan penyempurnaan

program mengatasi Diare pada balita di Wilayah kerja Puskesmas

Palingkau.
c) Bagi perkembangan ilmu ; penelitian ini dapat menjadi masukan dalam

melakukan penelitian mengenai Diare pada balita di Wilayah kerja

Puskesmas Palingkau.

E. Keaslian Penelitian

Tabel 1.1
Keaslian Penelitian
7

No. Peneliti Judul Penelitian Hasil Persamaan Perbedaan

(Tahun)
1. Arini Ika, Hubungan Di antara 102 subyek, terdapat Sama-sama Berbeda
Dkk Pengetahuan dan 101 (99%) subjek memiliki meneliti Variabel
(2018), Sikap dengan tingkat pengetahuan baik, 55 tentang yang diteliti
Jurnal Perilaku Orangtua (54%) subjek memiliki sikap Diare
tentang positif,
Diare pada Balita dan 55 (54%) memiliki perilaku
di RSCM Kiara baik tentang diare. Tidak ada
Arini Ika hubungan bermakna antara
tingkat pengetahuan dengan
perilaku
(p=0,353) dan antara sikap
dengan perilaku orangtua tentang
diare. (p=0,290).
Kesimpulan. Hampir seluruh
orangtua memiliki tingkat
pengetahuan yang baik, dan
mayoritas subyek mempunyai
sikap dan
perilaku yang baik tentang diare.
Pengetahuan dan sikap orangtua
tidak berhubungan dengan
perilaku tentang diare pada balita
2. Ajeng . Cbia-Diare Untuk Hasil penelitian menunjukkan Sama-sama Varabel
Fatma, Meningkatkan bahwa terdapat perbedaan yang meneliti berbeda
(2016) Pengetahuan, Sikap bermakna antara sebelum dan tentang
Jurnal Dan Perilaku Ibu sesudah intervensi dan telah Diare
Dalam Tatalaksana dikembangkannya modul CBIA-
Diare Pada Balita Di Diare yang diadopsi dari modul
Bina Keluarga Balita CBIA. Pengetahuan, sikap dan
(Bkb) Desa perilaku ibu mengalami
Banguntapan peningkatan setelah dilakukan
Kabupaten Bantul intervensi dengan metode CBIA-
Diare. Pengembangan CBIA
menjadi CBIA-Diare terbukti
dapat meningkatkan pengetahuan,
sikap dan perilaku ibu dalam
tatalaksna diare pada balita.
3. Suharni Pengetahuan Dan Hasil penelitian sebagian besar Sama-sama Pengolahan
Setia, Dkk Air Bersih Tentang umur responden di Puskesmas meneliti data dan
(2017) Pencegahan Diare Putri Ayu Kota Jambi tentang variable
Jurnal) Pada Balita Di berusia33-45 tahun yaitu(52,1%), Diare berbeda
Puskesmas Putri Ayu sebagian besar pendidikan
Kota Jambi Tahun responden adalah SMA/Sederajat
2016 yaitu (65.2%)dan sebagian
besar pekerjaan responden
adalah Urusan Rumah Tangga
(95,7%).Dari 46 responden yang
diteliti, didapat sebanyak 33
responden (72%) mempunyai
pengetahuan Baik Sekali, 8
responden (17%) mempunyai
pengetahuan Baik dan 5
responden (11%) mempunyai
pengetahuan cukup tentang
pencegahan diare pada balita di
Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi
8

Tahun 2016.Dari 46 responden


yang diteliti, didapat sebanyak 32
responden (91%) memiliki
motivasi tinggi tentang
pencegahan diare pada balita
dan motivasi rendah 14
responden (9%) tentang
pencegahan diare pada balita.
4. Windi Hubungan Berdasarkan analisis uji regresi Sama-sama Pengolahan
Hapsari Pendapatan logistik pengaruh terjadinya Diare meneliti data dan
(2018) Keluarga, yang dominan pengetahuan ibu tentang variable
Ketersediaan Jamban tentang gizi didapatkan nilai Diare berbeda
Tentang Gizi, Tinggi p=0,027 dan OR=3,801.Hal
Badan Orang Tua, tersebut, dapat disimpulkan
Dan Tingkat bahwa pengetahuan ibu tentang
Pendidikan Ayah gizi yang rendah merupakan
Dengan Kejadian faktor risikoterjadinya Diare pada
Diarepada balita balita dengan risiko sebesar 3,801
5. Marida Hubungan Antara Dari hasil penelitian didapatkan Sama-sama Pengolahan
Maryanti Pendapatan bahwa variabel yang berhubungan meneliti data dan
( 2017) Keluarga, dengan Kejadian Diare adalah tentang variable
Jurnal Pengetahuan Gizi pendapatan keluarga (p value = Diare berbeda
Ibu, Dan Pola Makan 0,001, OR = 6,541, CI=3,238-
Dengan Kejadian 12,850). Pengetahuan gizi ibu (p
diare Di Wilayah value = 0,001, OR = 6,483,
Kerja Puskesmas CI=3,207-13,106). dan pola
Sidoharjo Kabupaten makan (p value = 0,001, OR =
Sragen TAHUN 20 9,905, CI= 5,150-19,050).

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan tentang Diare

1. Pengertian diare

Penyakit diare merupakan penyakit yang sering terjadi pada balita

dibawah lima tahun (balita) dengan disertai muntah dan buang air besar

encer, penyakit diare pada balita apabila tidak ditangani dengan pertolongan

yang cepat dan tepat dapat mengakibatkan dehidrasi (Depkes RI, 2014).
9

Diare merupakan salah satu penyakit sistem pencernaan yang sering

dijumpai di masyarakat yaitu penyakit yang ditandai dengan buang air besar

encer lebih dari tiga kali dalam sehari (WHO, 2015).

2. Faktor Risiko diare

Faktor risiko terjadinya diare yaitu :

a. Faktor perilaku

Faktor perilaku yang dapat menyebabkan diare antara lain:

1) Tidak memberikan air susu ibu eksklusif, memberikan makanan

pendamping/MP ASI terlalu dini akan mempercepat bayi kontak

terhadap kuman.

2) Menggunakan botol susu tebukti meningkatkan risiko tekena penyakit

diare karena sangat sulit untuk membersihkan botol susu

3) Tidak menerapkan kebiasaan cuci tangan pakai sabun sebelum mem

beri ASI/makan, setelah Buang Air Besar (BAB), dan setelah

membersihkan BAB anak.

4) Penyimpanan makanan yang tidak hyigienis (Marjuki, 2008).


9
b. Faktor lingkungan

Faktor lingkungan yang dapat menyebabkan diare antara lain :

1) Ketersediaan air bersih yang tidak memadai

Sarana air bersih adalah bangunan beserta peralatan dan

perlengkapannya yang menyediakan dan mendistribusikan air tersebut

kepada masyarakat. Sarana air bersih harus memenuhi persyaratan

kesehatan, agar tidak mengalami pencemaran sehingga dapat diperoleh

kualitas air yang baik sesuai dengan standar kesehatan (Marjuki, 2008).

2) Ketersediaan jamban
10

Penggunaan jamban mempunyai dampak yang besar dalam penularan

risiko terhadap penyakit diare. Jamban atau tempat pembuangan

kotoran manusia adalah semua benda atau zat yang tidak dipakai lagi

oleh tubuh dan yang harus dikeluarkan dari dalam tubuh (Notoatmodjo,

2007).

3) Pembuangan air limbah

Air limbah atau air kotoran adalah air yang tidak bersih dan

mengandung berbagai zat yang bersifat membahayakan kehidupan

manusia. Saluran pembuangan air limbah adalah suatu bangunan yang

digunakan untuk membuang air dari kamar mandi, tempat cuci, dapur,

dan lain-lain bukan dari jamban (Notoatmodjo, 2007).

4) Pembuangan sampah

Sampah erat kaitanya dengan kesehatan masyarakat karena dari sampah

tersebut akan hidup berbagai mikroorganisme penyebab penyakit dan

juga binatang serangga sebagai pemindah/penyebar penyakit (vektor).

Oleh karena itu sampah harus dikelola dengan baik sampai sekecil

mungkin, tidak mengganggu atau mengancam kesehatan masyarakat

(Notoatmodjo, 2007).

Di samping faktor risiko tersebut ada beberapa faktor dari

penderita yang dapat meningkatkan kecenderungan untuk diare antara

lain: kurang gizi/malnutrisi terutama anak gizi buruk, penyakit

imunodefisiensi atau imunosupresi dan penderita campak, selain faktor

penderita perananan orang tua dalam pencegahan dan perawatan anak

dengan kejadian diare sangatlah penting. Faktor yang

mempengaruhinya yaitu umur ibu, pendidikan, dan pengetahuan ibu


11

mengenai hidup sehat dan pencegahan terhadap penyakit. Rendahnya

pendidikan ibu dan kurangnya pengetahuan ibu tentang pencegahan

diare dan perawatan anak dengan kejadian diare merupakan penyebab

anak terlambat ditangani dan terlambat mendapatkan pertolongan

sehingga berisiko mengalami dehidrasi (Kemenkes RI, 2011).

3. Penularan

Penularan penyakit diare disebabkan oleh infeksi dari agen

penyebab dimana akan terjadi bila memakan makanan/air minum yang

terkontaminasi tinja/muntahan penderita diare. Akan tetapi, penularan

penyakit diare adalah kontak dengan tinja yang terinfeksi secara langsung,

seperti:

a. Makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi, baik yang sudah

dicemari oleh serangga atau terkontaminasi oleh tangan yang kotor.

b. Bermain dengan mainan yang terkontaminasi, apalagi pada bayi sering

memasukan tangan/mainan apapun ke dalam mulut. Hal ini dikarenakan

virus ini dapat bertahan di permukaan udara sampai beberapa hari.

c. Penggunaan sumber air yang sudah tercemar dan tidak memasak air

dengan benar.

d. Pencucian dan pemakaian botol susu yang tidak bersih.

Tidak mencuci tangan dengan bersih setelah selesai buang air

besar atau membersihkan tinja anak yang terinfeksi, sehingga

mengkontaminasi perabotan dan alat-alat yang dipegang (WHO, 2006),

Seperti gambar yang ada di bawah ini:


12

Gambar 2.1 Proses Penularan Penyakit Diare (WHO, 2006)

B. Sanitasi Lingkungan

1. Definisi

Sanitasi adalah usaha kesehatan masyarakat yang menitikberatkan

pada pengawasan terhadap berbagai faktor lingkungan yang mempengaruhi

derajat kesehatan manusia (Chandra, 2006). Sanitasi menurut WHO (2006)

adalah suatu usaha yang mengawasi beberapa faktor lingkungan fisik yang

berpengaruh kepada manusia terutama terhadap hal-hal yang mempengaruhi

efek, merusak perkembangan fisik, kesehatan, dan kelangsungan hidup. Jadi

dari pengertian di atas bisa disimpukan bahwa sanitasi adalah suatu usaha

pencegahan penyakit yang menitikberatkan kegiatannya kepada usaha-usaha

kesehatan lingkungan hidup manusia. Sanitasi lingkungan pada hakikatnya

adalah kondisi atau keadaan lingkungan yang optimum sehingga

berpengaruh positif terhadap status kesehatan yang optimum pula (Chandra,

2006).
13

2. Sanitasi Lingkungan Terhadap Diare Pada Balita

Sanitasi lingkungan yang buruk merupakan faktor yang penting

terhadap terjadinya diare dimana interaksi antara penyakit, manusia, dan

faktor- faktor lingkungan yang mengakibatkan penyakit perlu diperhatikan

dalam penanggulangan diare. Peranan faktor lingkungan, enterobakteri,

parasit usus, virus, jamur dan beberapa zat kimia telah secara klasik

dibuktikan pada berbagai penyelidikan epidemiologis sebagai penyebab

penyakit diare (Suharyono, 2008).

Sedangkan menurut Anne (2008) lingkungan yang tidak bersih bisa

menjadi pemicu munculnya bakteri-bakteri penyebab diare dalam tubuh

manusia. Sistem penyebaran diare pada manusia diantaranya melalui air

yang digunakan untuk keperluan sehari-hari bila memiliki kebersihan yang

minim, bisa membawa bakteri masuk dan menginfeksi dalam perut

selanjutnya tanah yang kotor dapat menghantarkan bakteri E. Coli menuju

perut, sehingga selalu membiasakan mencuci bahan makanan yang akan

dimasak dengan bersih sebelum dikonsumsi. Berikut yang bisa ikut

membantu penyebaran diare pada manusia adalah tangan manusia itu

sendiri. Tangan yang kotor berisiko mengandung banyak kuman dan bakteri.

Kebiasaan mencuci tangan dengan sabun setelah buang air besar dan

melakukan beragam aktivitas. Kemudian serangga yang menyebabkan

penyakit diare sangat menyukai tempat-tempat yang memang kotor. Mereka

akan tumbuh dan berkembang biak di sana.

Pada tahun 2015, Program pemerintah Millenium Development

Goals (MDG) mencanangkan 69% penduduk Indonesia dapat mengakses air

minum yang layak dan 72,5% memperoleh layanan sanitasi yang memadai.
14

Faktanya, hanya 18% penduduk yang memiliki akses ke sumber air minum

dan sekitar 45% mengakses sarana sanitasi yang memadai. Kemudian untuk

menciptakan sanitasi lingkungan yang baik yaitu diantaranya dengan

mengembangkan kebiasaan atau perilaku hidup sehat, membersihkan

ruangan dan halaman rumah secara rutin, membersihkan kamar mandi dan

toilet, menguras, menutup dan menimbun, tidak membiarkan adanya air

yang tergenang, membersihkan saluran pembuangan air, dan menggunakan

air yang bersih (Arifin, 2009).

3. Ruang Lingkup

Ruang lingkup sanitasi lingkungan diantaranya :

1. Ketersediaan air bersih

Air bersih digunakan untuk kebutuhan manusia secara komplek antara

lain untuk minum, memasak, mandi, mencuci (bermacam-macam

cucian) dan sebagainya. Di antara kegunaan-kegunaan air tersebut yang

sangat penting adalah kebutuhan untuk minum. Oleh karena itu air

harus mempunyai persyaratan khusus agar air tersebut tidak

menimbulkan penyakit bagi manusia. Syarat-syarat ketersediaan air

yang sehat yaitu meliputi syarat fisik yaitu bening (tidak berwarna),

tidak berasa, tidak berbau, kemudian syarat bakteriologis yaitu bebas

dari segala bakteri, dan syarat kimia yaitu harus mengandung zat-zat

terentu dalam jumlah yang tertentu pula (Notoatmodjo, 2007).

Kemudian syarat ketersediaan sumber air yang sehat adalah jarak antara

sumber air bersih dan septik tank > 11 meter. Hal ini untuk menjaga

kebersihan air dan pencemaran yang dapat mempengaruhi kesehatan

(Chandra, 2006).
15

Menurut Notoatmodjo (2007), Sumber-sumber air yang dapat

digunakan sebagai kebutuhan manusia sehari-hari meliputi air hujan

yaitu dengan cara ditampung kemudian dapat dikonsumsi jika

ditambahkan kalsium, air sungai dan danau disebut juga air permukaan

jika dikonsumsi harus diolah terlebih dahulu, kemudian mata air yaitu

berasal dari air tanah yang muncul secara alamiah, jika digunakan air

minum harus direbus dahulu, selanjutnya air sumur dangkal merupakan

sumber air yang keluar dari lapisan air di dalam tanah yang dangkal

yaitu berkisar antara 5 sampai dengan 15 meter dari permukaan tanah.

Selanjutnya air sumur dalam yang berasal dari lapisan air kedua di

dalam tanah, oleh karena itu air sumur dalam sudah cukup sehat untuk

dijadikan air minum yang langsung (tanpa melaluhi proses pengolahan).

2. Pembuangan Tinja

Dilihat dari segi kesehatan masyarakat, masalah pembuangan tinja

merupakan masalah yang pokok untuk sedini mungkin diatasi. Untuk

mencegah sekurang-kurangnya mengurangi kontaminasi tinja terhadap

lingkungan maka pembuangan kotoran manusia harus dikelola dengan

baik, yaitu pembuangan kotoran harus di suatu tempat tertentu atau

jamban yang sehat. Suatu jamban disebut sehat untuk daerah pedesaan

apabila memenuhi persyaratan-persyaratan yaitu tidak mengotori

permukaan tanah di sekeliling jamban sehingga letak jamban tidak datar

dengan permukaan tanah, tidak mengotori air bersih di sekitarnya, tidak

terjangkau oleh serangga terutama lalat dan kecoa dan binatang lainnya,

tidak menimbulkan bau dan bersih, mudah digunakan dan dipelihara,

murah dan dapat diterima oleh pemakainya (Notoatmodjo, 2007).


16

3. Pembuangan Sampah

Sampah terkait erat dengan kesehatan masyarakat, karena dari sampah

akan hidup berbagai mikroorganisme penyebab penyakit (bacteri

pathogen), dan binatang serangga sebagai pemindah atau penyebar

penyakit (vektor). Sehingga sampah harus dikelola dengan baik agar

tidak menggangu atau mengancam kesehatan masyarakat. Dalam

pengelolaan sampah yaitu meliputi pengumpulan dan pengangkutan

sampah yang menjadi tanggung jawab dari masing-masing rumah

tangga atau instansi yang menghasilkan sampah, maka masyarakat

harus membangun dan mangadakan tempat khusus untuk

mengumpulkan sampah dan kemudian dari masing-masing tempat

pengumpulan sampah tersebut harus diangkut ke tempat penampungan

sementara (TPS) selanjutnya ke tempat penampungan akhir (TPA).

Kemudian adanya pemusnahan dan pengolahan sampah terutama untuk

sampah padat dilakukan melalui berbagai cara yaitu pemusnahan

sampah dengan di tanam atau menimbun dalam tanah, memusnahkan

sampah dengan membakar didalam tungku pembakaran, dan

pengolahan sampah dengan dijadikan pupuk kompos (Notoatmodjo,

2007).

Syarat pembuangan sampah yang baik yaitu tersedianya tempat sampah

yang dilengkapi tutup (sangat dianjurkan agar tutup sampah ini dapat

dibuka atau ditutup tanpa mengotori tangan), tempat sampah terbuat

dari bahan yang kuat agar tidak mudah bocor, untuk mencegah

berseraknya sampah, tempat sampah tahan karat dan bagian dalam rata,

tempat sampah mudah dibuka dan dikosongkan isinya serta mudah


17

dibersihkan, ukuran tempat sampah sedemikian rupa, sehingga mudah

diangkat oleh satu orang, tempat sampah dikosongkan setiap 1x24 jam

atau 2/3 bagian telah terisi penuh, jumlah dan volume sampah

disesuaikan dengan sampah yang dihasilkan pada setiap tempat

kegiatan, tersedia pada setiap tempat/ruang yang memproduksi sampah,

memakai kantong plastik khusus untuk sisa-sisa bahan makanan dan

makanan jadi yang cepat membusuk, tersedianya tempat pembuangan

sampah sementara yang mudah dikosongkan, tidak terbuat dari beton

permanen, terletak di lokasi yang terjangkau kendaraan pengangkut

sampah dan harus dikosongkan sekurang-kurangnya 3x24 jam

(Chandra, 2006).

4. Pembuangan Air Limbah

Air limbah atau air buangan merupakan air yang tersisa dari kegiatan

manusia, baik kegiatan rumah tangga maupun kegiatan yang lainnya,

dibuang dalam bentuk yang sudah kotor mengandung bahan-bahan atau

zat-zat yang dapat membahayakan bagi kesehatan manusia serta

mengganggu kesehatan hidup (Notoatmodjo,2007). Syarat pembuangan

air limbah yang baik yaitu tidak mengontaminasi terhadap sumber-

sumber air, tidak mengakibatkan pencemaran air permukaan, tidak

menimbulkan pencemaran air untuk perikanan, air sungai atau tempat-

tempat rekreasi serta untuk keperluan sehari-hari, tidak dihinggapi oleh

lalat, serangga dan tikus dan tidak menjadi tempat berkembangbiaknya

berbagai bibit penyakit dan vektor, tidak terbuka dan harus tertutup jika

tidak diolah dan tidak dapat dicapai oleh anak-anak, tidak menimbulkan

bau atau aroma tidak sedap (Chandra, 2006).


18

C. Diare

1. Definisi Diare

Diare berasal dari bahasa Greek, yaitu Diarrhea berarti melalui

danrhien berarti mengalir, istilah diarrhea digunakan untuk menyatakan

buang kotoran yang frekuensi dan jumlah cairannya abnormal. Untuk

pengertian diare sendiri adalah penyakit yang ditandai bertambahnya

frekuensi defekasi lebih dari biasanya (> 3kali/hari) disertai perubahan

konsistensitinja (menjadi cair), dengan atau tanpa darah atau lendir

(Suraatmaja, 2007).

Berdasarkan waktu serangannya terbagi menjadi dua, yaitu diare

akut (<2minggu) dan diare kronik (≥ 2 minggu) (Widoyono, 2008). Diare

akut adalah buang air besar pada bayi atau anak lebih dari 3 kali

perhari,disertai perubahan konsistensi tinja menjadi cair dengan atau tanpa

lendir dan darah yang berlangsung kurang dari satu minggu. Pada bayi yang

meminum ASI frekuensi buang air besarnya lebih dari 3-4 kali per hari,

keadaan ini tidak bisa disebut diare tetapi masih bersifat fisiologis. Selama

berat bayi meningkat normal, hal tersebut tidak tergolong diare,

tetapimerupakan intoleransi laktosa karena saluran cerna belum

berkembangdengan baik (IDAI, 2011).


19

2. Klasifikasi Diare

Menurut Suraatmaja (2007), diare dapat diklasifikasikan berdasarkan :

a. Lama waktu diare.

1) Diare akut, yaitu diare yang berlangsung kurang dari 15 hari.

Sedangkan menurut World Gastroenterology Organization Global

Guidelines (2005) diare akut didefinisikan sebagai pasase tinja yang

cair atau lembek dengan jumlah lebih banyak dari normal,

berlangsung kurang dari 14 hari. Diare akut biasanya sembuh

sendiri,lamanya sakit kurang dari 14 hari, dan akan mereda tanpa

terapi yangspesifik jika dehidrasi tidak terjadi (Wong, 2009).

2) Diare kronik adalah diare yang berlangsung lebih dari 15 hari.2.

Mekanisme patofisiologika. Diare sekretorik (secretory diarrhea)

Disebabkan oleh sekresi air dan elektrolit ke dalam usus halus yang

terjadi akibat gangguan absorpsi natrium oleh villus saluran cerna,

sedangkan sekresi klorida tetap berlangsung atau meningkat. Keadaan

inimenyebabkan air dan elektrolit keluar dari tubuh sebagai tinja cair.

Diaresekretorik ditemukan pada diare yang disebabkan oleh infeksi

bakteri akibat rangsangan pada mukosa usus oleh toksin, misalnya

toksinE. Coli atau V. Cholera (Kemenkes RI, 2011)


20

3) Diare Osmotik (osmotic diarrhea) Mukosa usus halus adalah epitel

berpori yang dapat dilalui oleh air danelektrolit dengan cepat untuk

mempertahankan tekanan osmotik antara lumen lumen usus dan cairan

ekstrasel. Oleh karena itu, bila di lumen usus terdapat bahan yang

secara osmotik aktif dan sulit diserap akan menyebabkan diare. Bila

bahan tersebut adalah larutan isotonik, air ataubahan yang larut

maka akan melewati mukosa usus halus tanpa diabsorpsi sehingga

terjadi diare (Kemenkes RI, 2011)

3. Etiologi

Menurut World Gastroenterology Organization Global Guidelines (2005),

etiologi diare akut dibagi atas empat penyebab :

a) Bakteri

Beberapa bakteri yang dapat menyebabkan diare seperti Shigella,

Salmonella, E.Coli, Golongan vibrio, Bacillus Cereus, Clostridium

perfringens, Staphilococ Usaurfus, Camfylobacter dan Aeromonas.

b) Virus

Beberapa virus yang dapat menyebabkan diare yaitu Rotavirus,

Norwal kvirus, Adenovirus, Coranovirus dan Astrovirus.

c) Parasit

Mikroorganisme parasit yang dapat menyebabkan diare seperti

Protozoa,Entamoeba Histolytica, Giardia Lamblia, Balantidium Coli,

Trichuris trichiura, Cryptosporidium parvum, Strongyloides strercoralis.

d) Non infeksi
21

Adapun penyebab diare secara non infeksi yaitu malabsorpsi, penyakit

ini menimbulkan diare karena adanya kerusakan di atas vili

mukosausus, sehingga terjadi gangguan absorpsi elektrolit dan

air.gangguan motilitas juga menyebabkan diare hal ini sering terjadi

pada sindrom kolon iritabel (iritatif). Keracunan makanan, kesulitan

makan, dan imunodefisiensi dapat menyebabkan diare.

4. Gejala Diare

Diare akut karena infeksi dapat disertai keadaan muntah–

muntah dan/atau demam, tenesmus, hematochezia, nyeri perut atau kejang

perut. Diare yang berlangsung beberapa waktu tanpa penanggulangan medis

yang adekuat dapat menyebabkan kematian karena kekurangan cairan

dibadan yang mengakibatkan renjatan hipovolemik atau karena gangguan

biokimiawi berupa asidosis metabolik yang lanjut. Karena kehilangan cairan

seseorang merasa haus, berat badan berkurang, mata menjadi cekung, lidah

kering, tulang pipi menonjol, turgor kulit menurun serta suara menjadi

serak. Keluhan dan gejala ini disebabkan deplesi air yang isotonik. Selain

itu, gejala bisa berupa tinja bayi encer, berlendir atau berdarah, warna tinja

kehijauan akibat bercampur dengan cairan empedu dan lecet pada anus

(IDAI, 2011).

5. Faktor Risiko

Faktor risiko terjadinya diare yaitu :

a. Faktor perilaku

Faktor perilaku yang dapat menyebabkan diare antara lain:


22

a) Tidak memberikan Air Susu Ibu eksklusif, memberikan makanan

pendamping/MP ASI terlalu dini akan mempercepat bayi kontak

terhadap kuman.

b) Menggunakan botol susu tebukti meningkatkan risiko terkena

penyakit diare karena sangat sulit untuk membersihkan botol susu

c) Tidak menerapkan kebiasaan cuci tangan pakai sabun sebelum

memberi ASI/makan, setelah Buang Air Besar (BAB), dan setelah

membersihkan BAB anak.

d) Penyimpanan makanan yang tidak higienis.(Marjuki, 2008).

2. Faktor lingkungan

Faktor lingkungan yang dapat menyebabkan diare antara lain :

a. Ketersediaan air bersih yang tidak memadai

Sarana air bersih adalah bangunan beserta peralatan dan

perlengkapannya yang menyediakan dan mendistribusikan air tersebut

kepada masyarakat. Sarana air bersih harus memenuhi persyaratan

kesehatan, agar tidak mengalami pencemaran sehingga dapat

diperoleh kualitas air yang baik sesuai dengan standar kesehatan

(Marjuki, 2008).

b. Ketersediaan jamban

Penggunaan jamban mempunyai dampak yang besar

dalam penularan risiko terhadap penyakit diare. Jamban atau tempat

pembuangan kotoran manusia adalah semua benda atau zat yang tidak

dipakai lagi oleh tubuh dan yang harus dikeluarkan dari dalam tubuh

(Notoatmodjo, 2007).

c. Pembuangan air limbah


23

Air limbah atau air kotoran adalah air yang tidak bersih dan

mengandung berbagai zat yang bersifat membahayakan

kehidupan manusia. Saluran pembuangan air limbah adalah suatu

bangunan yang digunakan untuk membuang air dari kamar mandi,

tempat cuci, dapur dan lain-lain bukan dari jamban (Notoatmodjo,

2007).

d. Pembuangan sampah

Sampah erat kaitanya dengan kesehatan masyarakat karena

dari sampah tersebut akan hidup berbagai mikroorganisme penyebab

penyakit dan juga binatang serangga sebagai pemindah/penyebar

penyakit (vektor). Oleh karena itu sampah harus dikelola dengan

baik sampai sekecil mungkin, tidak mengganggu atau mengancam

kesehatan masyarakat (Notoadmodjo, 2007).

Di samping faktor risiko tersebut ada beberapa faktor dari

penderita yang dapat meningkatkan kecenderungan untuk diare antara

lain:kurang gizi/malnutrisi terutama anak gizi buruk, penyakit

imunodefisiensi atau imunosupresi dan penderita campak, selain

faktor penderita perananan orang tua dalam pencegahan dan

perawatan anak dengan diare sangatlah penting.

Faktor yang mempengaruhinya yaitu umur ibu, pendidikan,

dan pengetahuan ibu mengenai hidup sehat dan pencegahan terhadap

penyakit. Rendahnya pendidikan ibu dan kurangnya pengetahuan ibu

tentang pencegahan diare dan perawatan anak dengan kejadian diare

merupakan penyebab anak terlambat ditangani dan terlambat


24

mendapatkan pertolongan sehingga berisiko mengalami dehidrasi

(Kemenkes RI, 2011).

6. Penularan

Penularan penyakit diare disebabkan oleh infeksi dari agen penyebab

dimana akan terjadi bila memakan makanan/air minum yang

terkontaminasi tinja/muntahan penderita diare. Akan tetapi, penularan

penyakit diare adalah kontak dengan tinja yang terinfeksi secara langsung,

seperti:

a. Makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi, baik yang sudah

dicemari oleh serangga atau terkontaminasi oleh tangan yang kotor.

b. Bermain dengan mainan yang terkontaminasi, apalagi pada bayi sering

memasukan tangan/mainan apapun ke dalam mulut. Hal ini dikarenakan

virus ini dapat bertahan di permukaan udara sampai beberapa hari.

c. Penggunaan sumber air yang sudah tercemar dan tidak memasak air dengan

benar.

d. Pencucian dan pemakaian botol susu yang tidak bersih.

Tidak mencuci tangan dengan bersih setelah selesai buang air besar atau

membersihkan tinja anak yang terinfeksi, sehingga mengkontaminasi

perabotan dan alat-alat yang dipegang (WHO, 2006).

E. Kerangka Teori

Genetik

Lingkungan Pelayanan Kesehatan


Status Kesehatan
25

Perilaku Masyarakat

Gambar 2.1 Kerangka Teori


Sumber : H.L. Bloom (1974) dalam Gumilar (2004)

F. Kerangka Konsep

Variabel Variabel
Independent Dependent

-Ketersediaan Jamban

-Kebiasaan mencuci Tangan Kejadian Diare pada Balita

-Penggunaan Air Bersih

Gambar 2.2 Kerangka Konsep

G. Hipotesis

1. Ada hubungan ketersediaan jamban dengan kejadian diare pada balita di

Wilayah kerja Puskesmas Palingkau tahun 2019

2. Ada hubungan kebiasaan mencuci tangan dengan kejadian diare pada

balita di Wilayah kerja Puskesmas Palingkau tahun 2019

3. Ada hubungan penggunaan air bersih dengan kejadian diare pada balita di

Wilayah kerja Puskesmas Palingkau tahun 2019


26

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Penelitian ini

merupakan studi analitik deskriptif dengan metode pendekatan potong lintang

“Cross Sectional”, yaitu mengambil data variabel dependen yaitu Diare pada

balita Ibu di Wilayah kerja Puskesmas Palingkau dan independen yaitu

Pengetahuan, Sikap dan Motivasi pada satu waktu yang bersamaan. Desain

penelitian Cross Sectional dipilih karena dapat dilakukan pada waktu yang

singkat dan relatif tidak mahal (Notoatmodjo, 2015).

B. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang diteliti (Notoatmojo,

2010). Populasi dalam penelitian ini adalah jumlah anak usia 1 sampai 4

tahun di wilayah kerja Puskesmas Palingkau bulan Januari sampai April

2019 yang berjumlah 2059 orang Balita

2. Sampel

Sampel adalah objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi

(Notoatmojo, 2010). Sampel pada penelitian ini ditentukan dengan

menggunakan rumus Slovin (dalam Riduwan, 2005:65) sebagai berikut :

n= N
1 + N (d)2

n = 258
1 + 258 (0,1)2

26
27

n = 258
1 + 258 (0,1 x 0,1)
n = 258
1 + 258 (0,01)
n = 258
1 + 2,58
n = 258
3,58
n = 72,06 dibulatkan menjadi 72 responden

Keterangan :

n = besar sampel

N = besar populasi

d = tingkat signifikasi (0,1)

b. Kriteria Sampel

Kriteria sampel meliputi kriteria inklusi dan kriteria eksklusi, dimana

kriteria tersebut menentukan dapat atau tidaknya sampel digunakan.

Adapun kriteria inklusi dan eksklusi adalah sebagai berikut :

1) Kriteria inklusi

Kriteria inklusi adalah kriteria dimana subjek penelitian dapat

mewakili dalam sampel penelitian yang memenuhi syarat sebagai

sampel (Notoatmodjo, 2015) yaitu :

Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah :

a) Ibu yang mempunyai balita dan berdomisili di Wilayah kerja

Puskesmas Palingkau

b) Sehat jasmani dan rohani

c) Bersedia untuk diwawancarai

C. Instrumen Penelitian
28

Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan

data adalah berupa kuesioner, Data Ibu dan hasil wawancara dengan para

responden untuk mengetahui sejauh mana hubungan ketersediaan jamban,

kebiasaan mencuci tangan ibu dan penggunaan air bersih terhadap kejadian

Diare pada balita di Wilayah kerja Puskesmas Palingkau (Diadopsi dari

penelitian, Fatma, 2016)

D. Variabel Penelitian

1. Variabel Bebas (Independent Variable)

Variabel Bebas (Independent Variable) adalah variable yang dapat

menyebabkan perubahan atau akibat dari variabel lain (terikat)

(Notoatmodjo, 2010), dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas

atau independent adalah Ketersediaan Jamban, Kebiasaan mencuci Tangan

dan Air Bersih yang memiliki anak menderita Diare.

2. Variabel terikat (Dependent Variable)

Variabel terikat (Dependent Variable) adalah variabel yang dapat

terpengaruh atau berubah-ubah (akibat) sesuai dengan perubahan yang

terjadi pada variable bebas (Notoatmojo, 2010). Dalam penelitian ini yang

menjadi variable terikat atau dependent adalah Diare pada balita di

Wilayah kerja Puskesmas Palingkau.

E. Definisi Operasional
29

Tabel 3.1. Definisi Operasional

No. Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Kategori Skala


1. Kejadian Kejadian Diare atau tidaknya anak Kuesioner 1 : Tidak, bila tidak Nominal
Diare berdasarkan diagnosis Dokter/Petugas menderita Diare dalam
Kesehatan dalam 3 bulan terakhir 3 bulan terakhir

2 : Ya, bila menderita


Diare dalam 3 bulan
terakhir
(Handayani, 2015)
2. Ketersediaan Keberadaan jamban yang sehat di rumah Observasi 1:Memenuhi Ordinal
Jamban persyaratan
2: Tidak memenuhi
persyaratan
(Fatma, 2017)
3. Kebiasaan Kebiasaan Ibu mencuci tangan sebelum Kuesioner 1 : Baik Nominal
mencuci makan 2: Tidak baik
Tangan (Hanik, 2011)

4. Air Bersih Kebersihan Air yang digunakan untuk Kuesioner 1:PDAM Ordinal
keperluan sehari-hari 2:Air Sungai, Sumur
(Depkes, 2009)

F. Teknik Pengumpulan dan Pengolahan Data


1. Teknik Pengumpulan Data

Data dikumpulkan dari berbagai sumber data, urutan prosedur yang

dilaksanakan diantaranya : Mengurus perijinan penelitian ke Puskesmas

Palingkau dan melakukan wawancara pada responden yang datang di

Puskesmas Palingkau dan Hasil dari kuesioner dilakukan pengolahan data

dan diperoleh data Hubungan ketersediaan jamban, kebiasaan cuci tangan

dan penggunaan air bersih terhadap diare pada balitanya, adapun yang

menjadi sumber data penelitian adalah sebagai berikut :

a. Data Primer

Data primer dikumpulkan melalui wawancara terhadap

responden dengan menggunakan kuisioner yang telah disiapkan. Data

yang diambil berupa variabel independen yaitu Hubungan ketersediaan


30

jamban, kebiasaan cuci tangan dan Air Bersih dan variabel dependen

yaitu Diare pada balita didapatkan dari hasil kuesioner. Data

ketersediaan jamban, kebiasaan cuci tangan dan Air Bersih responden

didapatkan dengan mengajukan beberapa pertanyaan tentang indikator

kejadian Diare pada balita .

b. Data Sekunder

Data sekunder diperoleh dari Data Puskesmas tentang data dan upaya

upaya mencegah Diare yang sudah berjalan, Data tersebut berupa

profil, gambaran umum dan data lain yang berkaitan dengan penelitian

ini.

2. Pengolahan Data

Data yang dikumpulkan harus melewati tahapan :

a. Editing atau penyuntingan data, dalam hal ini data yang terkumpul di

periksa kelengkapannya apakah ada missing data lalu disusun

urutannya dan dilihat apakah terdapat dalam pengisian serta bagaimana

konsistensi jawaban dari setiap pertanyaan.

b. Coding data, yaitu memberikan kode pada data hasil kuesioner yang

telah dimasukkan kemudian diklasifikasikan

c. Entry Data, memasukkan data dari kuisioner ke dalam computer sesuai

variabel yang telah disusun.

d. Cleaning data, yaitu membersihkan data dengan tujuan untuk mengecek

kembali data yang akan diolah apakah ada kesalahan atau tidak.

G. Analisis Data
31

1. Analisis Univariat (Deskriptif)

Analisis univariat digunakan untuk mendeskripsikan setiap variabel yang

diteliti dalam penelitian yaitu melihat gambaran distribusi frekuensi

variabel independen dan dependen yang disajikan secara deskriptif dalam

bentuk tabel distribusi frekuensi.

a. Diare pada balita

Diare pada balita di kategorikan menjadi menderita dan tidak.

b. Keberadaan jamban

Ketersediaan Jamban di kategorikan menjadi dua yaitu kategori jamban

sehat, dan tidak sehat.

c. Kebiasaan mencuci tangan

terbagi menjadi dua, Positif dan Negatif terhadap Diare.

d. Air bersih

Air yang digunakan untuk keperluan balita ada yang bersih dan tidak

bersih.

2. Analisis Bivariat

Analisis Bivariat digunakan untuk melihat hubungan antara variable

independen dan dependen. Uji statistic yang digunakan adalah Chi Square.

Rumus yang digunakan yaitu :

X2 = Σ (O – E)
E

X2 = statistik chi square

Σ = jumlah

O = nilai yang diamati

E = nilai yang diharapkan


32

Untuk melihat hasil kemaknaan, perhitungan statistik yang digunakan batas

kemaknaan 0,05 sehingga jika P < 0,05 hasil statistik bermakna. Dan jika P

> 0,05 hasil perhitungan statistik tidak bermakna.

Syarat uji Chi Square sebagai berikut :

1. Jumlah sampel > 40

2. Jumlah sampel antara 20-40 dan tidak ada sel yang ada nilai E-nya < 5.

3. Bila table nya lebih dari 2x2, misalnya 3x3 dst, maka digunakan uji

person Chi Square.

4. Bila pada table 2x2, dan tidak ada nilai E < 5, maka uji yang digunakan

sebaliknya continuity correction.

5. Bila pada table 2x2 dijumpai nilai E < 5, maka uji yang digunakan

adalah Fisher’s Exact Test.

H. Waktu dan Tempat Penelitian

1. Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan setelah seminar proposal hingga Juni 2019

2. Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan di Puskesmas Palingkau Kabupaten Kapuas Provinsi

Kalimantan Tengah.

LEMBAR PERSETUJUAN RESPONDEN


33

HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN AIR BERSIH DENGAN


KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI PUSKESMAS PALINGKAU
KABUPATEN KAPUAS

Assalamu’alaikum Wr.Wb. Saya Desi Marisa mahasiswa Fakultas Kesehatan

Masyarakat. UNISKA M A B Banjarmasin Saya sedang melakukan penelitian

tentang Hubungan Pengetahuan, Sikap Dan Air Bersih Dengan Kejadian Diare

Pada balita Di Puskesmas Palingkau Kabupaten Kapuas. , akan bertanya

mengenai beberapa hal yang berkaitan dengan penelitian tersebut diatas.

Jawaban anda akan saya rahasiakan sehingga tidak seorangpun akan

mengetahuinya. Partisipasi anda dalam penelitian ini bersifat sukarela dan

anda dapat menolak untuk menjawab pertanyaan atau tidak melanjutkan

wawancara. Saya sangat berharap anda dapat ikut berpartisipasi, karena

pendapat anda sangat penting.

Saat ini apakah anda bersedia ikut berpartisipasi dalam penelitian ini?

Jika iya, mohon bubuhkan tanda tangan anda di bawah ini.

Palingkau, 2019

Responden. Peneliti.

KUESIONER PENELITIAN
34

HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN AIR BERSIH DENGAN


KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI PUSKESMAS PALINGKAU
KABUPATEN KAPUAS

A. Identitas Responden
Nama :
Usia :..............................Tahun
Pendidikan :
2. Kejadian diare
Apakah Anak Ibu pernah di Diagnosis diare oleh Dokter/Petugas Kesehatan
dalam 3 bulan terakhir
a. Ya
b. Tidak

3. Ketersediaan jamban
Apakah Dirumah terdapat Jamban yang memenuhi Persyaratan Kesehatan

Ya Tidak

C. Kebiasaan mencuci tangan


Petunjuk : Jawablah pernyataan dibawah ini dengan memberikan tanda
Checklist (√ ) pada pilihan jawaban yang dianggap benar !
No. Pernyataan Jawaban
Ya Tidak
1. Apakah setelah beraktifitas diluar rumah ibu mencuci
tangan dengan sabun
2. Apakah ibu selalu mencuci tangan sebelum memberi
makan balita anda
3. Apakah ibu percaya bahwa mencuci tangan sesudah
buang air besar merupakan langkah mencegah diare
4. Mencuci tangan anak balita sebelum memberikan
makanan adalah lebih baik untuk kesehatannya
5. Untuk terhindar dari diare Ibu selalu mengngatkan
seluruh keluarga untuk mencuci tangan sebelum
makan

D. Penggunaan Air Bersih


Sumber air untuk keperluan sehari-hari berasal dari :

PDAM Sungai Sumur Lainnya................

HUBUNGAN KETERSEDIAAN JAMBAN, KEBIASAAN


MENCUCI TANGAN IBU DAN PENGGUNAAN AIR BERSIH
35

DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI PUSKESMAS


PALINGKAU KABUPATEN KAPUAS

PROPOSAL PENELITIAN
Diajukan Guna memenuhi
Sebagian syarat memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan masyarakat

Oleh:
DESY MARISA
NPM.15.07.0266

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS ISLAM KALIMANTAN
MUHAMMAD ARSYAD AL-BANJARI
BANJARMASIN
2019
DAFTAR PUSTAKA
36

Arini Ika Hapsari dkk: Hubungan pengetahuan dan sikap dengan perilaku
orangtua tentang diare pada balita 320 Sari Pediatri , Vol. 19, No. 6, April
2019

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Riset Kesehatan Dasar 2013.


Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2013.h. 72-6.

Djaja S, Ariawan I, Afah T. Perilaku pencarian pengobatan diare pada balita.


Bul Penel Kesehatan 2002;30:22-30.

Fuge TG, Ayanto SY, Gurmamo FL. Assessment of knowledge, attitude and
practice about malaria and ITNs utilization among pregnant women in
Shashogo District, Southern Ethiopia. Malaria Journal 2015;14:235-43.

Kementerian Kesehatan RI. Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan:


Situasi Diare di Indonesia. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2011.h.3-
25.

Kementerian Kesehatan RI. Prol Kesehatan Indonesia 2015. Diakses 5 Maret


2017. Didapat dari: http://www.depkes.go.id/resources/download
/pusdatin/prol-kesehatan-indonesia/prol-kesehatan-Indonesia-
2015.pdf.

Rahmah NLM, Luthviatin N, Purianty M. Hubungan pengetahuan dan Kebiasaan


mencuci tangan balita tentang diare terhadap tindakan pemberian cairan
rehidrasi pada balita balita diare, studi kasus di Wilayah Kerja Puskesmas
Patrang Kabupaten Jember [skripsi]. Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Jember, 2013. Diakses 21 Maret 2017. Didapat dari:
http://repository.unej.ac.id/bitstream/handle/123456789/1779/Nur
%20Laily% 20MR%20-%20082110101089_1.pdf? sequence=1.

Surjono E. Fimansyah A. Batubara JRL. Knowledge of pediatrician on


gastroesophageal reflux/gastriesophageal reux disease in children: a
preliminary study. Ped Indo 2010;50:336-9.

World Health Organization. Diarrhoea: why children are still dying and what can
be done. Geneva: WHO; 2009. h.1-14.

World Health Organization. Diarrhoeal diseases. Factsheet No 330, April 2013.


Diakses 22 April 2019. Didapat dari:
http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs330/en/.

CATATAN BIMBINGAN SKRIPSI


37

Bimbingan ke Tanggal Pokok Bahasan Paraf Pembimbing

Pembimbing I Pembimbing II

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING UNTUK SEMINAR PROPOSAL


38

Proposal Penelitian oleh Desy Marisa


Telah diperiksa dan disetujui untuk diseminarkan :

Banjarmasin, Mei 2019


Pembimbing I,

Drs.H.Fahrurazi,M.S.M.Kes, M.Kes.
NIK. 060309270

Banjarmasin, Mei 2019


Pembimbing II,

Septi Anggraini, SKM., M.kes


NIK. 061310670
39

LEMBAR PERSETUJUAN WAKTU PELAKSANAAN SEMINAR PROPOSAL

Dengan ini menyatakan

Nama : Desy Marisa

NPM : 15.07.0266

Program Studi : Ilmu Kesehatan Masyarakat

Disetujui untuk melaksanakan seminar proposal pada :

Hari : Nama Pembimbing

Waktu : 1. Drs.H.Fahrurazi,M.S.M.Kes., M.Kes ( )

Tempat : 2. Septi Anggraini, SKM, M.Kes ( )

Dan dengan ini bersedia menghadiri seminar proposal pada hari pelaksanaan yang
telah ditentukan diatas

Demikian surat persetujuan ini dibuat untuk digunakan seperlunya.

Banjarmasin...............................Mei 2019

Tim pembimbing

Pembimbing I Pembimbing II

(Drs.H.Fahrurazi,M.S.M.Kes, M.Kes) (Septi Anggraini,SKM.M.Kes)

Penguji

(....................................)
40

KATA PENGANTAR

Puji syukur Peneliti panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah

melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-Nya, sehingga Peneliti dapat

menyelesaikan Proposal ini yang berjudul “Hubungan Ketersediaan Jamban,

Kebiasaan Mencuci Tangan Ibu Dan Penggunaan Air Bersih Dengan Kejadian

Diare Pada Balita Di Puskesmas Palingkau Kabupaten Kapuas”

Peneliti menyadari bahwa dapat terselesaikannya penyusunan Proposal

ini terwujud atas bimbingan, arahan, dorongan dan bantuan dari berbagai pihak

yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Pada kesempatan ini Peneliti

menyampaikan penghargaan dan terima kasih dengan tulus kepada :

1. Abd Malik, S.Pt., M.Si., Ph.D Selaku rektor Universitas Islam Kalimantan

Banjarmasin.
2. Meilya Farika Indah, SKM., M.Sc Selaku Dekan Fakultas Kesehatan

Masyarakat Universitas Islam Kalimantan Banjarmasin.


3. Nurul Indah Qariati, SKM., M.Kes Selaku Ketua Prodi Fakultas Kesehatan

Masyarakat Universitas Islam Kalimantan Banjarmasin.


4. Drs.H.Fahrurazi, M.Si., .M.Kes Selaku Pembimbing I yang telah memberikan

bimbingan dalam penyusunan skripsi ini.


5. Septi Anggraini, SKM., M.Kes. Selaku Pembimbing II yang juga telah

memberikan bimbingan dan arahan dalam penyusunan skripsi ini.


6. Penguji dalam penyusunan proposal penelitian ini yang bersedia meluangkan

waktunya untuk memberikan saran dan masukannya.


7. Dr.g. Istikharwati Pimpinan dan Staf Puskesmas Palingkau Kabupaten

Kapuas yang telah memberikan ijin kepada Peneliti untuk melakukan

penelitian.
8. Kedua orang tua, yang telah memberikan dukungan baik moral maupun

materiil dengan Do’a yang tulus Ikhlas dan mencurahkan segala kasih sayang

nya untuk kelancaran dalam menyelesaikan proposal ini.


41

9. Semua pihak yang tidak dapat Peneliti sebutkan satu persatu yang telah

banyak membantu.

Peneliti menyadari bahwa dalam Penelitian dan penyusunan proposal ini

masih banyak terdapat kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk itu Peneliti

mengharapkan saran dan kritik dari berbagai pihak untuk kesempurnaan proposal

ini.

Banjarmasin, Mei 2019

Peneliti

Desy Marisa

NPM. 15070266

LEMBAR PESERTA

YANG AKAN MENGHADIRI SEMINAR PROPOSAL

NAMA MAHASISWA DESY MARISA


42

NPM 15070266

JUDUL HUBUNGAN KETERSEDIAAN JAMBAN,


KEBIASAAN MENCUCI TANGAN IBU DAN
PENGGUNAAN AIR BERSIH DENGAN
KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI
PUSKESMAS PALINGKAU KABUPATEN
KAPUAS

HARI/JAM :

No. Nama NPM Tanda Tangan

10

11

12

LEMBAR PERBAIKAN/KONSULTASI SEMINAR PROPOSAL

Nama Mahasiswa :

NPM :

Program Studi :

Hari/tanggal :

Pukul :
43

Tempat :

Hal yang Halaman Halaman


diperbaiki sebelum sesudah Tanda
No. Nama Dosen Perbaikan Perbaikan tangan

1 Asrinawaty,
SKom,M.Kes

(Pembimbing I)

2 Septi Anggraini,
SKM, M.Kes

(Pembimbing II

3
(Penguji)

Banjarmasin, 27 Mei 2019

Mengetahui

Pembimbing I/II/Penguji

(.........................................)

LEMBAR PENERIMAAN UNDANGAN SEMINAR PROPOSAL

Nama : Desy Marisa


NPM : 15070266
Program Studi : Kesehatan Masyarakat
Hari/Tanggal :

Ttd
Ttd
No Nama Dosen Jabatan Bersedia Ket.
Penerimaan
Hadir
44

1 Drs.H.Fahrurazi,M.S.M.Kes,M.
Pembimbing I
Kes
2 Septi Anggraini, SKM,M.Kes Pembimbing II
3 Penguji

Catatan : jika pada hari pelaksanaan ternyata berhalangan hadir, maka diharap
agar segera menghubungi FKM Uniska 30 menit sebelum pelaksanaan.

Banjarmasin, Mei 2019


Mengetahui,
Ketua Program Studi

Nurul Indah Qoriaty, SKM., M.Kes


NIK. 060 810 296

LEMBAR PENERIMA UNDANGAN SEMINAR SKRIPSI

Nama : Desi Malasari


NPM : 14070029
Program Studi : Kesehatan Masyarakat
Hari/Tanggal :

Ttd
Ttd
No Nama Dosen Jabatan Bersedia Ket.
Penerimaan
Hadir
1 Akhmad Fauzan, SKM., M.Kes Pembimbing I
2 Agus Jalpi, SKM., M.Kes Pembimbing II
3 Achmad Rizal, SKM., M.Kes Penguji
45

Catatan : jika pada hari pelaksanaan ternyata berhalangan hadir, maka diharap
agar segera menghubungi FKM Uniska 30 menit sebelum pelaksanaan.
Banjarmasin, Agustus 2018
Mengetahui,
Ketua Program Studi

Nurul Indah Qoriaty, SKM., M.Kes


NIK. 060 810 296
46

LEMBAR PERSETUJUAN WAKTU


PELAKSANAAN UJIAN SKRIPSI

Dengan ini menyatakan :

Nama : Desi Malasari


NPM : 14070029
Program Studi : Kesehatan Masyarakat

Disetujui untuk melaksanakan seminar proposal pada :


Hari/Tanggal : Nama Pembimbing (TTD)

Waktu : 1. Akhmad Fauzan, SKM., M.Kes ( )

Tempat : 2. Agus Jalpi, SKM., M.Kes ( )

Dan dengan ini bersedia menghadiri Ujian Skripsi pada hari pelaksanaan yang
telah ditentukan diatas.
Demikian surat persetujuan ini dibuat untuk dipergunakan seperlunya, terima
kasih.

Banjarmasin, Agustus 2018

Tim Pembimbing

Pembimbing I Pembimbing II

Akhmad Fauzan, SKM., M.Kes Agus Jalpi, SKM., M.Kes

Penguji

Achmad Rizal, SKM., M.Kes