You are on page 1of 14

Efektifitas Kombinasi Pijat Oksitosin

EFEKTIFITAS KOMBINASI PIJAT


OKSITOSIN TEHNIK EFFLEURAGE
DAN AROMATERAPI ROSE
TERHADAP KADAR PROLAKTIN
POST PARTUM NORMAL DI
PUSKESMAS DAWE KUDUS
TAHUN 2013

Jamilah1), Ari Suwondo2), Sri Wahyuni 3), Suhartono4)


1)
Akademi Kebidanan Pemkab Kudus
2)
Program Pacsasarjana Universitas Diponegoro Semarang
3)
Poltekkes Semarang Jurusan Kebidanan Semarang
4)
Program Pacsasarjana Universitas Diponegoro Semarang

ABSTRAK

Cakupan ASI Eksklusif di Puskesmas Dawe yaitu 11,9%, droup out ASI
Eksklusif satu bulan pertama 65%. Study pendahuluan 70% karena produksi ASI
kurang. Upaya pemerintah belum optimal, diperlukan upaya alternatif untuk
meningkatkan produksi ASI dengan pijat oksitosin dan aromaterapi. Membuktikan
perbedaan efektifitas pijat oksitosin tehnik Effleurage, aromaterapi rose dan kombinasi
pijat oksitosin tehnik Effleurage dan aromaterapi rose terhadap kadar prolaktin.
Jenis penelitian quasy eksperimen rancangan non randomized controlled trial desain
pretest posttes control group. Jumlah sampel 40. Analisis data secara univariat,
bivariat dengan independent t test dan metode anova. Hasil berdasarkan analisis
bivariat menunjukkan rata – rata hormon prolaktin pada kelompok pijat 34,33 ng/
ml, sd 47,13 ng/ml. Kelompok aromaterapi rata – rata 45,04 ng/ml, sd 156,04 ng/ml,
kelompok pijat dan aromaterapi rata – rata 224,99 sd 145,45 ng/ml, kelompok kontrol
rata – rata 14,97 sd 155,17 ng/ml, p value 0,004 (p < 0,05) artinya ada perbedaan
bermakna rata rata kadar hormon prolaktin ketiga perlakuan. Pijat oksitosin tehnik
effleurage dan aromaterapi rose paling efektif terhadap peningkatan kadar hormon
prolaktin ( 95% CI 120,95-329,02 ; p value 0,008). Perlunya sosialisasi, penerapan,
dukungan, pelatihan serta kebijakan program manajemen laktasi di Dinas Kesehatan
Kabupaten tentang terapi komplementer kombinasi pijat oksitosin tehnik effleurage
dan aromaterapi rose.

Kata kunci : Pijat oksitosin tehnik effleurage, aromaterapi rose, kadar hormon prolaktin
1
Jurnal Ilmiah Bidan

ABSTRACT

Coverage Exclusive breastfeeding in Dawe Health Center, droup out exclusive


breastfeeding in the first month by 65 % . Based on the preliminary study 70 %
caused by less milk production . Government efforts, so we need alternative ways
to increase milk production by oxytocin massage and aromatherapy applications
Proving the difference effectiveness of massage oxytocin Effleurage techniques , and
the combination of rose aromatherapy and massage oxytocin Effleurage techniques
and rose aromatherapy on prolactin levels. The study was Quasy experiment with
the design of non randomized controlled trial desain pretest posttes control group
. The number of samples are 40 respondents divided into 3 intervention groups and
one control group . Data analysis was performed using univariate , bivariate with
independent t - tests , and ANOVA method. The results based on bivariate analysis
showed the average score in the massage group hormone prolactin is 34.33 ng / ml
with a standard deviation of 47.13 ng / ml. Aromatherapy group with average score
is 45.04 ng / ml with a standard deviation of 156.04 ng / ml , and combination rose
aromatherapy and oxytocin massage group average score is 224.99 with a standard
deviation of 1145.45 ng / ml while the control group average score is 14.97 with a
standard deviation of 155.17 ng / ml, p value 0.004 ( p < 0.05), It is mean that there
are differences in the average levels of the hormone prolactin, which is significant
of the three treatments . Further analysis proves that the combination of effleurage
massage oxytocin techniques and rose aromatherapy the most effective against
elevated levels of the hormone prolactin ( 95 % CI 120.95-329.02 , p value 0.008 )
. It needs socialization, implementation , support , training, and policy management
program in the Department of Health about the lactation complementary combination
therapy effleurage massage oxytocin techniques and rosearomatherapy.

Key Word : effleurage massage oxytocin techniques , aromatherapy rose , levels of


the hormone prolactin

PENDAHULUAN melindungi bayi dari penyakit.


Air Susu Ibu ( ASI ) merupakan Pemberian ASI dini merupakan
makanan pertama, utama dan terbaik komponen penting dalam kelangsungan
bagi bayi yang bersifat alamiah. hidup bayi.2 Menurut data SDKI tahun
ASI mengandung berbagai zat yang 2012 jumlah ibu menyusui 42% namun,
dibutuhkan dalam proses pertumbuhan, hanya 44% yang mendapat ASI 1 jam
perkembangan bayi, kesehatan dan pertama setelah lahir dan hanya 62%
imunitas bayi .1,2 ASI yang diproduksi yang mendapat ASI dalam hari pertama
selama hari-hari pertama kelahiran, setelah lahir serta 50,8 % dalam 1 bulan
mengandung kolostrum yang dapat pertama.3

2
Efektifitas Kombinasi Pijat Oksitosin

Berdasarkan data dari %, meningkat menjadi 45,35% pada


Departemen Kesehatan pada pekan ASI tahun 2011 dan tahun 2012 mencapai
tahun 2013 cakupan ASI eksklusif di 54,7 %. Dari 19 puskesmas diwilayah
Indonesia pada tahun 2010 adalah 61,3%, Kabupaten Kudus, Puskesmas Dawe
meningkat menjadi 61,5%, pada tahun menduduki posisi ke-enam terendah
2011 dan mengalami penurunan pada yaitu 11,9%, sedangkan yang mengalami
tahun 2012 menjadi 61,1 %, sedangkan droup out ASI Eksklusif dalam satu bulan
target nasional cakupan ASI Eksklusif pertama sebesar 65%. Dari sembilan
pada tahun 2012 yaitu 80%. desa di wilayah Puskesmas Dawe, Desa
Pemberian ASI awal pada jam Margorejo menduduki urutan ke – tiga
pertama setelah lahir akan merangsang terendah cakupan ASI Eksklusif yaitu
terjadinya peningkatan prolaktin dalam 8,5% dengan tingkat pendidikan ibu
darah dan mencapai puncak pada 45 84,5% sekolah dasar, dan 45% ibu rumah
menit pertama. Apabila ASI dikeluarkan tangga.11
atau dikosongkan secara menyeluruh Data tentang produksi ASI kurang
maka akan meningkatkan produksi ASI pada ibu post partum kurang meskipun
menjadi lebih banyak. Pemberian ASI belum diketahui prosentasenya, namun
awal sampai bayi berumur 6 bulan dapat sebagian ibu post partum menyampaikan
dipengaruhi beberapa faktor. Faktor alasan ASI tidak mencukupi dikarenakan
– faktor yang menjadi kendala adalah Pruduksi ASI kurang (70%). Hal ini
proses pertumbuhan jaringan pembuat berdasarkan study pendahuluan pada
ASI, dimulainya produksi ASI setelah tanggal 25 Agustus 2013 sampai dengan
bayi lahir, kelangsungan atau kontinuitas 10 September 2013 pada 15 ibu post
produksi ASI, dan reflek pengeluaran. partum di Desa Margorejo didapatkan
Masalah menyusui dapat pula disebabkan data sebagai berikut : 5 dari 15 ibu nifas
karena keadaan khusus yaitu ibu sering (33%) menyatakan belum menyusui
mengeluh pruduksi ASI tidak cukup atau secara optimal pada 3 hari pertama
sindroma ASI kurang.3,4,5 kelahiran dikarenakan ASI belum keluar,
Berdasarkan profil kesehatan 7 dari 10 ibu nifas yang tidak memberikan
Jawa Tengah menunjukkan bahwa ASI (70%) mengatakan bahwa produksi
cakupan ASI Eksklusif pada tahun 2010 ASI kurang, 3 dari 10 ibu nifas (30%)
adalah 40,24%, meningkat menjadi menyatakan persiapan masuk kerja agar
45,18% pada tahun 2011 dan menurun bayinya nanti mau minum dengan botol,
menjadi 25,5% pada tahun 2012. Dari serta dari data menunjukkan bahwa dari
33 kota / kabupaten di Propinsi Jawa 23 bidan di Puskesmas Dawe, 15 bidan
Tengah, Kabupaten Kudus menduduki (65,21%) menyatakan penyebab cakupan
urutan 10 terendah yaitu 54,7 %. 10 ASI Eksklusif rendah karena produksi
Profil Dinas Kesehatan Kabupaten asi kurang, dan 8 bidan (34,79%)
Kudus menunjukkan bahwa cakupan ASI menyatakan karena ibu bekerja.
Eksklusif pada tahun 2010 hanya 21,28 Tujuan penelitian ini adalah

3
Jurnal Ilmiah Bidan

mengidentifikasi karakteristik ibu pijat oksitosin tehnik effleurage dan


berdasarkan umur, tingkat pendidikan, aromaterapi rose dan kelompok 4
pekerjaan, paritas, mendeskripsikan kontrol.
kadar hormon prolaktin sebelum Populasi dan sampel ibu post
dan sesudah pijat oksitosin tehnik partum normal di Desa Margorejo
Effleurage, aromaterapi rose dan wilayah Puskesmas Dawe mulai bulan
kombinasi pijat oksitosin dengan Nopember 2013 sampai dengan bulan
aromaterapi rose, menganalisis Januari 2014 sejumlah 40 responden
perbedaan kadar hormon prolaktin dengan kriteria inklusi ibu post partum
sebelum dan sesudah ibu mendapatkan hari 1-14, tidak mengkonsumsi jamu
pijat oksitosin tehnik Effleurage, atau suplemen pelancar ASI, umur 20-
menganalisis perbedaan kadar hormon 35 tahun, Berat bayi 2500-4000 gram,
prolaktin sebelum dan sesudah ibu kriteria eklusi ibu post partum dengan
mendapatkan aromaterapi rose, kelainan payudara, KEK, bibir sumbing
menganalisis perbedaan kadar hormon dan dengan persalinan komplikasi.
prolaktin sebelum dan sesudah ibu Pengambilan sampel dengan tehnik
mendapatkan kombinasi pijat oksitosin purposive sampling. Alat dan cara
tehnik Effleurage dan aromaterapi rose, penelitian menggunakan kuisioner,
menganalisis perbedaan selisih kadar cheklist dan uji klinik kadar hormon
hormon prolaktin sebelum dan sesudah prolakting dengan menggunakan
ibu mendapatkan pijat oksitosin tehnik microplate reader. Variabel terikat
Effleurage, aromaterapi rose, kombinasi adalah kadar hormon prolaktin,
pijat oksitosin tehnik Effleurage dan variabel bebas adalah jenis perlakuan
aromaterapi rose dengan kontrol dan pijat oksitosin tehnik effleurage,
membuktikan efektifitas pijat oksitosin aromaterapi rose dan kombinasi
tehnik Effleurage, aromaterapi rose pijat oksitosin tehnik effleurage dan
dan kombinasi pijat oksitosin tehnik aromaterapi rose.
Effleurage dan aromaterapi terhadap Pengolahan data dan analisis data
kadar prolaktin. dengan program SPSS for windows versi
16.0. Analisis data kuantitatif dilakukan
METODE PENELITIAN secara univariat, bivariat (uji wilcoxon,
Jenis penelitian quasy experiment independen t test, anova dan kruskal
dengan rancangan non randomized wallis).Analisis data kualitatif secara
controlled trial desain pretest posttest deskriptif dan disajikan dalam bentuk
control group. narasi.
Penelitian dilakukan pada 4
kelompok yaitu kelompok 1 intervensi HASIL DAN PEMBAHASAN
pijat oksitosin tehnik effleurage, Karakteristik responden menurut
kelompok 2 intervensi aromaterapi umur ibu post partum pada kelompok
rose, kelompok 3 intervensi kombinasi pijat termuda 22 tahun, tertua 29 tahun,

4
Efektifitas Kombinasi Pijat Oksitosin

rata – rata umur 25,9 tahun, dan tersebar ke 4 kelompok. Responden berdasarkan
antara 25,9 ± 2,07 (23tahun–27tahun). tingkat pendidikan terbanyak adalah
Kelompok aromaterapi umur termuda 20 pendidikan dasar yaitu 26 orang (65%)
tahun, tertua 35 tahun, rata – rata umur dengan p value 0,000 ada perbedaan rerata
27,6 tahun, dan tersebar antara 27,6 ± tingkat pendidikan pada ke 4 kelompok.
5,29 ( 22 tahun – 32 tahun ). Kelompok Responden berdasarkan pekerjaan
pijat dengan aromaterapi umur termuda terbanyak adalah tidak bekerja sebanyak
20 tahun, tertua 35 tahun, rata – rata umur 23 orang (57,5%) dengan p value 0,343
27 tahun, dan tersebar antara 27 ± 4,29 tidak ada perbedaan rerata pekerjaan
(22 tahun – 32 tahun). Kelompok kontrol pada ke 4 kelompok, sedangkan paritas
umur termuda 20 tahun, tertua 35 tahun, responden terbanyak multipara sebanyak
rata – rata umur 25 tahun, dan tersebar 21 orang (52,5%) dengan p value 0,752
antara 25 ± 5,63 (20 tahun – 35 tahun), tidak ada perbedaan rerata paritas pada
serta nilai signifikansi 0,645 artinya ke 4 kelompok. Hal ini berdasarkan tabel
tidak ada perbedaaan rerata umur pada sebagai berikut :

Tabel 1
Perbandingan karakteristik responden antar kelompok pada ibu post partum
normal di Desa Margorejo Tahun 2013

No Variabel Kelompok perlakuan P


Pijat Aromaterapi Kombinasi Kontrol
1 Umur
a. Mean ± SD 25.9 ± 2.07 27.6 ± 5.26 27 ± 4.59 25 ± 5.63 0,645a
b. Min-mak 22-26 20-35 20-35 20-35
2 Pendidikan
a. Dasar 6 (60%) 7 (70%) 7 (70%) 6 (60%) 0,000b
b. Menengah 3 (30%) 2 (20%) 2 (20%) 3 (30%)
c. Tinggi 1 (10%) 1 (10%) 1 (10%) 1 (10%)
3 Pekerjaan
a. Bekerja 3 (30%) 7 (30%) 4 (40%) 3 (30%) 0,343b
b. Tidak bekerja 7 (70%) 3 (30%) 6 (60%) 7 (70%)
4 Paritas
a. Primipara 6 (50%) 2 (20%) 4 (40%) 7 (70%) 0,752b
b. Multipara 4 (40%) 8 (80%) 6 (60%) 3 (30%)

a
Independent t test
b
Chi Square

5
Jurnal Ilmiah Bidan

Hasil penelitian didapatkan kadar hormon prolaktin pada kelompok


bahwa Rata – rata tertinggi kadar hormon aromaterapi 45,04 ng/ml, sedangkan
prolaktin sebelum perlakuan adalah pada kelompok kontrol rata – rata 14,97
pada kelompok kontrol yaitu 374,97 ng/ ng/ml, dengan nilai p=0,673 artinya tidak
ml. Rata – rata tertinggi kadar hormon ada perbedaan yang bermakna rerata
prolaktin sesudah perlakuan adalah selisih kadar hormon prolaktin pada
pada kelompok pijat oksitosin dengan kelompok aromaterapi dengan kontrol.
aromaterapi yaitu 451,67 ng/ml. Rerata kadar hormon prolaktin pada
Perbandingan kadar hormon kelompok kombinasi pijat 224,99 ng/ml,
prolaktin sebelum pijat oksitosin tehnik sedangkan pada kelompok kontrol rata
effleurage dengan nilai p=0,017 artinya – rata 14,97 ng/ml,dengan nilai p=0,006
ada perbedaan yang bermakna kadar artinya ada perbedaan yang bermakna
hormon prolaktin antara sebelum dan rerata selisih kadar hormon prolaktin
sesudah pijat oksitosin. Perbandingan sebelum dan sesudah pada kelompok
kadar hormon prolaktin sebelum kombinasi pijat dan aromaterapi dengan
aromaterapi, dengan nilai p=0,059 kontrol. Rerata kadar hormon prolaktin
artinya tidak ada perbedaan yang pada kelompok pijat 34,33 ng/ml,
bermakna kadar hormon prolaktin antara sedangkan pada kelompok aromaterapi
sebelum dan sesudah aromaterapi. rata – rata 45,04 ng/ml, dengan nilai
Perbandingan kadar hormon prolaktin p=0,838 artinya tidak ada perbedaan
sebelum kombinasi pijat dengan yang bermakna rerata selisih kadar
aromaterapi dengan aromaterapi, dengan hormon prolaktin pada kelompok pijat
nilai p=0.005 artinya ada perbedaan dengan aromaterapi. Rerata hormon
yang bermakna kadar hormon prolaktin prolaktin pada kelompok pijat yaitu
antara sebelum dan sesudah kombinasi 34,33 ng/ml dengan standar deviasi
pijat oksitosin dengan aromaterapi. 47,13 ng/ml. Kelompok aromaterapi
Perbandingan kadar hormon rata – rata 45,04 ng/ml dengan standar
prolaktin hari pertama dan hari ke tiga deviasi 156,04 ng/ml, kelompok pijat dan
pada kelompok kontrol dengan nilai p= aromaterapi rata – rata 224,99 dengan
0,575 artinya tidak ada perbedaan yang standar deviasi 145,45 ng/ml sedangkan
bermakna kadar hormon prolaktin pada pada kelompok kontrol rata – rata 14,97
kelompok kontrol antara hari pertama dengan standar deviasi 155,17 ng/ml.
dan hari ke tiga. Rerata kadar hormon Hasil p=0,004 artinya ada perbedaan
prolaktin pada kelompok pijat 34,33 ng/ rata – rata kadar hormon prolaktin
ml, sedangkan pada kelompok kontrol yang bermakna dari ke tiga perlakuan,
rata – rata 14,97 ng/ml, dengan nilai Analisis lebih lanjut membuktikan
p=0,717 artinya tidak ada perbedaan yang bahwa kelompok yang berbeda secara
bermakna rerata selisih kadar hormon signifikan adalah pijat dengan pijat dan
prolaktin sebelum dan sesusah pada aromaterapi, aromaterapi dengan pijat
kelompok pijat dengan kontrol. Rerata dan aromaterapi, kontrol dengan pijat

6
Efektifitas Kombinasi Pijat Oksitosin

dan aromaterapi, artinya yang paling Pijat oksitosin adalah tindakan


efektif terhadap peningkatan kadar yang dilakukan pada ibu menyusui yang
hormon prolaktin adalah kombinasi berupa back massage pada punggung
pijat oksitosin dan aromaterapi rose. Hal ibu untuk meningkatkan pengeluaran
tersebut diatas berdasarkan tabel sebagai hormon oksitosin. Pijat oksitosin
berikut: yang dilakukan akan memberikan

Tabel 2
Perbandingan Kadar Hormon Prolaktin Sebelum dan Sesudah Perlakuan pada
ibu post partum normal di Desa Margorejo Tahun 2013
No Variabel kadar Kelompok perlakuan P
hormon prolaktin Pijat (1) Aromaterapi(2) Kombinasi(3) Kontrol(4)
1 Sebelum
perlakuan (pre)
a. Mean±SD 288.69±171.8 334±142.56 183.7±104.79 374.97±135.09 0,027c
b. Min-mak 37-499 53.63-454.21 73.77-425.55 167.86-87.5
2 Sesudah
perlakuan (post)
a. Mean±SD 347.5 ± 146.4 409.58± 94.18 451.68 ±54.93 389.94± 14.8 0,153d
b. Min-mak 156.57-499.6 155.91-490.2 339.26-86.17 164.23-95.84
3 Pre – post
p value 0,017e 0,059e 0,005e 0,0575e
4 Rerata selisih
a. 1 vs 4 0,717a
b. 2 vs 4 0,673a
c. 3 vs 4 0,006a
d. 1 vs 2 0,838a
5 Rerata selisih
seluruh perlakuan
a. Mean±SD 34,33±47,13 45,04±156,04 224,99±145,42 14,97±155,17 0,004c
b. Min-mak -48,28-119,57 -293,19-327,52 13,53-412,13 -321,40-229,09
6 Efektifitas 6191-68,050 66,59-156,67 120,95-329,02 97,88-127,82 0,008g
perlakuan
95% CI
a
Independent t test e
Wilcoxon
c
Anova g
Post Hoc (Bonferoni)
d
Kruskal wallis

7
Jurnal Ilmiah Bidan

kenyamanan pada ibu sehingga akan ( letdown reflek), dengan peningkatan


memberikan kenyamanan pada bayi yang hormon tersebut akan memberikan
disusui.54 Pijat oksitosin merangsang umpan balik terhadap peningkatan
produksi oksitosin oleh kelenjar hipofise hormon prolaktin (prolaktin reflek)
posterior (neurohipofise). Oksitosin Dalam penelitian ini pijat oksitosin
masuk pada sistem peredaran darah dan dilakukan dua kali di pagi dan
menyebabkan kontraksi sel-sel khusus sore hari. Sesuai dengan penelitian
(sel-sel mioepitel) yang mengelilingi Hockenberry (2002) produksi ASI
alveolus mammae dan duktus laktiferus. dengan menggunakan pijat oksitosin
Kontraksi sel-sel mioepitel merangsang dan breast care lebih efektif apabila
ASI keluar dari alveolus melalui duktus dilakukan sehari dua kali, pagi dan
laktiferus menuju ke sinus laktiferus. sore.
Pada saat bayi menghisap, ASI di dalam Pijat oksitosin merupakan
sinus tertekan keluar ke mulut bayi. salah satu solusi untuk mengatasi
Gerakan ASI dari sinus ini dinamakan ketidaklancaran produksi ASI. Pijat
“Let Down” atau pelepasan.6-15 Pada oksitosin adalah pemijatan pada
waktu yang bersamaan merangsang sepanjang tulang belakang (vertebrae
kelenjar adenohipofise sehingga sampai tulang costae kelima – keenam
prolaktin masuk pada sistem peredaran dan merupakan usaha untuk merangsang
darah dan menyebabkan sel – sel acinus hormon prolaktin dan oksitosin setelah
dalam alveolus memproduksi ASI melahirkan.4,5,6 namun secara alamiah
(prolaktin reflek).2,5,15,17 isapan bayi saat menyusu menyebabkan
Frekuensi dilakukannya pijat sinyal-sinyal dikirimkan ke kelenjar
oksitosin akan mempengaruhi produksi hipotalamus di otak untuk menghasilkan
ASI (kadar hormon prolaktin).Dalam hormon prolaktin yang kemudian beredar
penelitian ini pijat oksitosin dilakukan di dalam darah. Alveoli adalah sel-sel
dua kali di pagi dan sore hari. Menurut yang memproduksi ASI. Di dalamnya
Hockenberry (2002) pijat oksitosin terdapat lactocytes yang merupakan
lebih efektif apabila dilakukan sehari area penerima hormon prolaktin serta
dua kali, pagi dan sore. Penelitian menstimulasi pembentukan ASI.
yang dilakukan oleh Biancuzzo (2003) Alveolus adalah kumpulan dari beberapa
menyatakan bahwa pijat oksitosin alveoli. Ketika alveolus penuh oleh ASI
yang dilakukan sehari dua kali dapat maka prolaktin tidak dapat memasuki
mempengaruhi produksi ASI pada ibu lactocytes akibatnya produksi ASI
post partum. akan menurun. Oleh karena itu di
Pijat oksitosin terbukti dapat awal-awal kelahiran bayi yang dimulai
meningkatkan produksi ASI (kadar sejak dilaksanakannya IMD (Inisiasi
hormon prolaktin) karena meningkatkan Menyusu Dini), Frequent Feeding/
rangsangan pada impuls syaraf aferen menyusui bayi dengan frekuensi yang
sehingga hormon oksitosin meningkat sering (sekitar 8-12 x per hari) sangat

8
Efektifitas Kombinasi Pijat Oksitosin

penting untuk membantu mempercepat pada impuls syaraf yang dituju karena
supply/produksi ASI dan mencegah kulit akan menyerap minyak esensial,
terjadinya pembengkakan payudara aromaterapi merangsang reseptor
(engorgement). Bila bayi sudah lancar/ penciuman pada hidung serta pada
established menyusuinya, maka biarkan saat yang bersamaan terapi fisik dari
bayi menyusu on demand/tidak perlu pijat tehnik effleurage, mengakibatkan
dijadwal lagi seperti di awal-awal peredaran darah menjadi lancar, otot
kelahiran, sehingga kadar hormon relaksasi serta kondisi psikologis ibu
prolaktin meningkat. menjadi lebih nyaman, sehingga akan
Aromaterapi adalah satu memberikan kenyamanan pada bayi yang
cara pengobatan penyakit dengan disusui.18 Pijat oksitosin merangsang
menggunakan bebauan dari tanaman produksi oksitosin oleh kelenjar
yang harum, gurih, dan enak yang hipofise posterior (neurohipofise).
disebut minyak atsiri. Minyak atsiri Oksitosin memasuki darah dan
atau minyak esensial dapat diserap ke menyebabkan kontraksi sel-sel khusus
dalam tubuh melalui kulit atau sistem (sel-sel mioepitel) yang mengelilingi
penciuman. Aromaterapi terapi yang alveolus mammae dan duktus laktiferus.
dioleskan pada kulit akan diserap Kontraksi sel-sel khusus ini mendorong
melalui sistem integumen masuk ke ASI keluar dari alveolus melalui duktus
dalam sistem peredaran darah dan pada laktiferus menuju ke sinus laktiferus
waktu yang bersamaan reseptor bau dimana ia akan disimpan. Pada saat
pada hidung melalui neurotransmiter bayi menghisap ASI di dalam sinus
merangsang bagian otak yaitu amigdala tertekan keluar ke mulut bayi. Gerakan
dan hipokampus yang berfungsi sebagai ASI dari sinus ini dinamakan “Let
penyimpan emosi dan kenangan Down” atau pelepasan.6-15 Pada waktu
sehingga mempengaruhi kesehatan fisik, yang bersamaan merangsang kelenjar
emosional, dan mental.16 Walaupun adenohipofise sehingga prolaktin
terjadi peningkatan rata – rata kadar memasuki darah dan menyebabkan sel –
hormon prolaktin, namun metode sel acinus dalam alveolus memproduksi
aromaterapi yang dioleskan pada kulit ASI (prolaktin reflek).2,5,15,17 Pijat
kurang efektif bila tidak dikombinasikan aromaterapi telah terbukti memiliki efek
dengan pijat karena dapat daya serap positif dan sejalan dengan tujuannya,
oleh tubuh(kulit) kurang optimal. yaitu meningkatkan rangsangan
Kombinasi pijat oksitosin dan pada impuls syaraf karena kulit akan
aromaterapi adalah tindakan yang menyerap minyak esensial, aromaterapi
dilakukan pada ibu menyusui yang merangsang reseptor penciuman pada
berupa back massage pada punggung hidung serta pada saat yang bersamaan
ibu dengan menggunakan aromaterapi terapi fisik dari pijat, mengakibatkan
essential oil. Kombinasi dua terapi peredaran darah menjadi lancar, otot
ini akan meningkatkan rangsangan relaksasi serta kondisi psikologis ibu

9
Jurnal Ilmiah Bidan

menjadi lebih nyaman, sehingga akan dari ke tiga perlakuan. Analisis lebih
memberikan kenyamanan pada bayi lanjut membuktikan bahwa kelompok
yang disusui. yang berbeda secara signifikan adalah
Hormon prolaktin memegang kombinasi pijat dan aromaterapi dengan
peranan dalam proses laktasi, karena pijat, kombinasi pijat dan aromaterapi
aktifitas prolaktin dihambat oleh estrogen dengan aromaterapi, kombinasi pijat
dan progesteron yang kadarnya memang dan aromaterapi dengan kontrol, artinya
tinggi. Secara alami akibat lepasnya yang paling efektif terhadap peningkatan
plasenta dan kurang berfungsinya korpus kadar hormon prolaktin adalah kombinasi
luteum pada saat proses persalinan pijat oksitosin dan aromaterapi rose.
maka estrogen dan progesteron Pijat oksitosin merupakan reseptor
sangat berkurang, didukung dengan mekanik secara langsung pada kulit,
adanya isapan bayi yang merangsang sehingga secara simultan merangsang
puting susu dan kalang payudara, impul saraf aferen pada sistem limbik
akan merangsang ujung-ujung saraf sepanjang vertebra dan costa 5 – 6.
sensoris yang befungsi sebagai reseptor Rangsangan tersebut memberikan umpan
mekanik. Rangsangan ini dilanjutkan ke balik pada kelenjar hipofise posterior
hipotalamus melalui medula spinalis dan (neurohipofise) sehingga oksitosin
mesensephalon menekan pengeluaran disekresi memasuki sistem peredaran
faktor-faktor yang menghambat sekresi darah. Oksitosin yang memasuki darah,
prolaktin dan sebaliknya merangsang menyebabkan kontraksi sel-sel khusus
pengeluaran faktor-faktor yang memacu yaitu sel-sel mioepitel yang mengelilingi
sekresi prolaktin. Faktor-faktor yang alveolus mammae dan duktus laktiferus.
memacu sekresi prolaktin akan Kontraksi sel sel mioepitel mendorong
merangsang adenohipofise (hipofise ASI keluar dari alveolus melalui duktus
anterior) sehingga keluar prolaktin. laktiferus menuju ke sinus laktiferus.
Hormon ini merangsang sel-sel alveoli Pada saat bayi menghisap ASI di dalam
yang berfungsi untuk membuat air sinus tertekan keluar ke mulut bayi.
susu. Kadar prolaktin pada ibu yang Aliran ASI dari sinus ini dinamakan “Let
menyusui akan menjadi normal 3 bulan Down” atau pelepasan.6-15 Pada waktu
setelah melahirkan sampai penyapihan yang bersamaan merangsang kelenjar
anak dan pada saat tersebut tidak akan adenohipofise (hipolamus part anterior)
ada peningkatan prolaktin walaupun sehingga prolaktin memasuki darah dan
ada isapan bayi, namun pengeluaran air menyebabkan sel – sel acinus dalam
susu tetap berlangsung. Pada ibu yang alveolus memproduksi ASI (prolaktin
melahirkan anak tetapi tidak menyusui, reflek). 15,17
kadar prolaktin akan menjadi normal Wewangian aromaterapi dapat
minggu ke 2-3. mempengaruhi kondisi psikis, daya
Ada perbedaan rata – rata kadar ingat dan emosi seseorang. Mekanisme
hormon prolaktin yang bermakna kerja perawatan aromaterapi dalam

10
Efektifitas Kombinasi Pijat Oksitosin

tubuh manusia berlangsung melalui dua Pusat penciuman ini hanya sebesar biji
sistem fisiologis, yaitu sistem sirkulasi buah delima pada pangkal otak yang
tubuh (penyerapan kulit) dan sistem mengandung sel – sel neuron. Sel neuron
penciuman. Aroma yang terkandung menginterpretasikan aromaterapi rose
di dalam minyak essensial dapat / bau dan akan mempengaruhi sistem
berpengaruh langsung terhadap otak limbik kemudian rangsangan dikirim
manusia melalui sistem penciuman atau ke hipotalamus. Aroma minyak esensial
diserap melalui kulit dan masuk sistem yang dihirup, merupakan molekul yang
peredaran darah.12 mudah menguap mengan dung unsur
Dr.Alan Huck (neurology psikiater aromaterapi ke puncak hidung. Rambut
dan Direktur Pusat Penelitian Bau dan getar berfungsi sebagai reseptor yang
Rasa di Chicago), bau berpengaruh menghantarkan pesan elektrokimia ke
langsung terhadap otak manusia, pusat emosi dan daya ingat seseorang.
mirip narkotika. Organ penciuman Selanjutnya mengantarkan umpan balik
merupakan sarana komunikasi alamiah ke seluruh tubuh melalui sistem sirkulasi.
pada manusia. Organ penciuman Pesan yang diantarkan ke seluruh tubuh
merupakan satu – satunya indera perasa akan dikonversikan menjadi suatu aksi
dengan berbagai reseptor saraf yang dengan pelepasan substansi neurokimia
berhubungan langsung dengan dunia berupa perasaan senang, rileks, tenang,
luar dan merupakan saluran langsung suasana hati bahagia dan meningkatkan
ke otak akan meningkatkan gelombang intelektualitas.16-18 Mekanisme kerja
- gelombang alfa di dalam otak. aromaterapi melalui penyerapan kulit
Hanya sejumlah 8 molekul yang dapat mempengaruhi efek aromatik. Kulit
memacu impuls elektrik pada ujung kaya akan aliran darah dan kelenjar
saraf. Sedangkan secara kasar terdapat keringat yang mengatur lepasnya panas
40 ujung saraf yang harus dirangsang dari tubuh, membantu mengendalikan
sebelum seseorang sadar bau apa yang temperatur tubuh. Kulit juga berfungsi
dicium. Bau merupakan suatu molekul sebagai system pembuangan kecil : urea,
yang mudah menguap ke udara dan garam, dan air, keluar sebagai keringat.
akan masuk ke rongga hidung melalui Kulit juga mengurangi radiasi sinar
penghirupan sehingga akan direkam Ultraviolet (UV) dari matahari, dan sel-
oleh otak sebagai proses penciuman. sel epidermis menggunakan sinar UV
Proses penciuman terbagi tiga tahap ini untuk mensintesa vitamin D. Dan
yaitu tahap pertama penerimaan molekul pada akhirnya kulit berisi organ sensor,
bau oleh olfactory epithelium, yang bernama reseptor sensor (penerima
merupakan suatu reseptor yang berisi sensor), yang berhubungan dengan
20 juta ujung saraf, selanjutnya pada pangkal saraf.
tahap kedua bau ditransmisikan sebagai Aromaterapi yang dioleskan
suatu pesan ke pusat penciuman yang pada permukaan kulit akan diresorbsi
terletak pada bagian belakang hidung. oleh lapisan epidermis, sebuah jaringan

11
Jurnal Ilmiah Bidan

membran yang tebal. Berada di bawah Pijat oksitosin tehnik effleurage


epidermis adalah dermis, sebuah jaringan dengan aromaterapi rose secara
serabut yang saling berhubungan. Dan bersamaan mengakibatkan tubuh
dibawah dermis terletak lapisan lemak menjadi rilek, memperbaiki sistem
yang bernama hypodermis masuk sistem peredaran darah, sistem hormonal dan
perdaran darah. Meskipun hypodermis pada penelitian ini kombinasi keduanya
biasanya tidak dipertimbangkan terbukti paling efektif terhadap
sebagai bagian dari kulit atau system peningkatan kadar hormon prolaktin
integumentary, jaringan ini menjalankan sehingga produksi ASI meningkat.
sedikit fungsi kulit. Dengan merasakan
sentuhan, tekanan, temperatur, dan rasa SIMPULAN
sakit, reseptor ini membuat kita selalu Setelah dilakukan penelitian
tahu apa yang terjadi dengan permukaan dapat disimpulkan bahwa :
tubuh kita. 1. Karakteristik responden berdasarkan
Kombinasi pijat oksitosin tehnik umur terbanyak umur 26 tahun,
effleurage dan aromaterapi rose terbukti berdasarkan pendidikan terbanyak
memiliki efek positif, karena melalui pendidikan dasar, berdasarkan
tiga jalur sistem tubuh secara bersamaan pekerjaan terbanyak tidak bekerja,
yaitu kombinasi reseptor mekanik secara dan berdasarkan paritas terbanyak
fisik melalui pijatan langsung pada multipara.
kulit, mekanisme kerja aromaterapi 2. Rata – rata tertinggi kadar hormon
merangsang reseptor penciuman prolaktin sebelum perlakuan adalah
pada hidung melalui neurotransmiter pada kelompok kontrol.
merangsang bagian otak yaitu amigdala 3. Rata – rata tertinggi kadar hormon
dan hipokampus yang berfungsi sebagai prolaktin sesudah perlakuan adalah
penyimpan emosi dan kenangan pada kelompok pijat oksitosin
sehingga mempengaruhi kesehatan dengan aromaterapi.
fisik, emosional, dan mental.316 Pada 4. Ada perbedaan yang bermakna kadar
saat kondisi rilek sistem peredaran hormon prolaktin antara sebelum
darah dan hormonal relatif lebih lancar dan sesudah pijat oksitosin.
sehingga ibu nifas merasa nyaman dalam 5. Tidak ada perbedaan yang bermakna
proses menyusui. Bersamaan dengan kadar hormon prolaktin antara
hal tersebut stimulasi melalui sistim sebelum dan sesudah aromaterapi.
integumen (penyerapan langsung melalui 6. Ada perbedaan yang bermakna
kulit) meningkatkan rangsangan pada kadar hormon prolaktin antara
impuls syaraf, mengakibatkan peredaran sebelum dan sesudah kombinasi
darah menjadi lancar, otot relaksasi serta pijat oksitosin dan aromaterapi
kondisi psikologis ibu menjadi lebih 7. Ada perbedaan rata – rata kadar
nyaman, sehingga akan memberikan hormon prolaktin yang bermakna
kenyamanan pada bayi yang disusui . dari ke tiga perlakuan.

12
Efektifitas Kombinasi Pijat Oksitosin

8. Kombinasi pijat oksitosin tehnik lamanya bayi menyusu, isapan bayi


effleurage dan aromaterapi rose dalam menyusu serta perilaku / tehnik
terbukti paling efektif terhadap pijat yang dilakukan oleh dukun bayi.
peningkatan kadar hormon prolaktin. Sampel penelitian diperluas, sehingga
Saran bagi tenaga kesehatan bisa digunakan untuk generalisasi kadar
(Bidan) hendaknya menerapkan pijat hormon prolaktin pada ibu post partum
oksitosin tehnik effleurage untuk normal.
meningkatkan produksi ASI agar cakupan
ASI Eklusif tercapai, memberikan UCAPAN TERIMAKASIH
pendidikan kesehatan tentang cara Terimakasih yang tak terhingga
meningkatkan produksi ASI dengan kepada Direktur Akademi Kebidanan
tehnik pijat oksitisin dan aromaterapi Pemkab Kudus, Dr dr.Ari Suwondo, Sri
dan perlunya memberikan dukungan Wahyuni, Skep, Ners dan dr.Suhartono
pada keluarga untuk melakukan terapi MKes.
komplementer kombinasi pijat oksitosin
tehnik effleurage dan aromaterapi untuk DAFTAR PUSTAKA
meningkatkan kadar hormon prolaktin. 1.Roesli,U. Panduan Inisiasi Menyusu
Bagi Puskesmas perlunya melakukan Dini.Jakarta: Pustaka Bunda.
sosialisasi pada tenaga kesehatan (bidan) 2.Evariny,A. Agar ASI lancar diawal
tentang pijat oksitosin tehnik effleurage menyusui. Available from
dan aromaterapi, melaksanakan program URL:http://www.hypno-birthing.
DKK dengan membentuk kelas ibu web.id?,diakses tanggal 15 Oktober
dan kelompok pendukung ASI dengan 2013
pengembangan materi pijat oksitosin 3.Badan Pusat Statistik, 2012.Survey
tehnik effleurage dan aromaterapi. Demografi dan Kesehatan Indonesia
Bagi Dinas Kesehatan Kabupaten 2012.BPS-BKKBN Kemenkes RI-
perlunya menetapkan kebijakan Measure DHS,ICF International.
program manajemen laktasi dengan cara 4.Kementerian Kesehatan RI.2012.
pengembangan terapi komplementer Pedoman Pekan ASI Sedunia.
salah satunya pijat oksitosin tehnik 5.Biancuzzo, M. 2003. Breastfeeding
effleurage dan aromaterapi, memfasilitasi the newborn : Clinical strategies
pelatihan tentang pijat oksitosin tehnik for nurses. St. Louis : Mousby.
effleurage bagi tenaga kesehatan Colin, W.B. & Scott J.A. 2002.
khususnya untuk bidan agar cakupan Breastfeeding: Reasons for starting,
ASI eklusif tercapai. Bagi peneliti reasons for stopping, and problem
selanjutnya perlunya mengendalikan along the way. Australia: School of
variabel pengganggu yang dapat Public Health
mempengaruhi kadar hormon prolaktin 6.AIMIASI. Produksi ASI. (serial online)
seperti pola makan, kondisi psikologi 2010. Available from URL: http://
dan teknik menyusu, breast care, aimi-asi.org/. Diakses tanggal 26

13
Jurnal Ilmiah Bidan

Agustus 2013. 10.Koesoemardiyah,A-Z. 2009


7.Purnama, R.R.W. 2013. Efektivitas Aromaterapi: untuk kesehatan
Antara Pijat Oksitosin Dan Breast kebugaran dan kecantikan.
Care Terhadap Produksi Asi Pada Yogyakarta:Andi. Monika, B. 2012.
Ibu Post Partum Dengan Sectio Hormon Prolaktin dan Hormon
Caesarea Di Rsud Banyumas. Oksitosin. Available from URL:
Skripsi. Purwokerto. PSIK http://theurbanmama.com, diakses
Universitas Jendral Soedirman. tanggal 26 Agustus 2013
8.Mardiyaningsih, E. 2010.Efektifitas 11.Roesli, U.2005. Mengenal ASI
Kombinasi Teknik Marmet dan Pijat Eksklusif. Jakarta: Trubus Agriwidya.
Oksitosin Terhadap Produksi ASI 12.Roesli, U. 2005. Mengenal ASI
Ibu Post Seksio Sesarea di Rumah Eksklusif. Jakarta : Trubus Agriwidya.
Sakit Wilayah Jawa Tengah. Tesis. 13.Primadiati, Rachmi.2004 Aromaterapi.
Jakarta. FIK UI. Jakarta. Gramedia Pstaka Utama.
9.Dinas Kesehatan Provinsi Jawa 14.Deveraux. C.2003., Aromatheraphy
Tengah.2012 Profil Kesehatan : Esential Oil an How to use Them.
Provinsi Jawa Tengah Tahun 2012. United States : Turtle Publishing,pp.
Semarang. Dinas kesehatan Provinsi 15.Howarts, Hughes BM
Jawa Tengah. Dinas Kesehatan Expectancies.2007 Not Aroma
Kabupaten Kudus, 2010,2011,2012. Explain Impact of Rose Aromaterapy,
Profil Kesehatan Kudus New England Journal Medicine.5

14