You are on page 1of 100

PPPPTK PERTANIAN

PENGEMBANGAN
KURIKULUM PADA
MATAPELAJARAN YANG
DIAMPU
Modul Pedagogok
Edisi 1

2016

[Type the company address]


PENGEMBANGAN KURIKULUM PADA
MATAPELAJARAN YANG DIAMPU

DISUSUN OLEH

HAKIKI YUWANDARI

PUSAT PENGEMBANGAN PEMBERDAYAAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN


PERTANIAN DI CIANJUR (PPPPTK PERTANIAN)

2016
KATA PENGANTAR

Pendidikan dan pelatihan (diklat) yang menekankan pada sikap, pengetahuan, dan
keterampilan secara utuh dirancang untuk memperkuat kompetensi Guru. Keutuhan tersebut
menjadi dasar Guru dalam mendemonstrasikan atau menampilkan kemampuannya pada
kegiatan pembelajaran.

Dalam menjalankan peran dan tugasnya Guru sudah tentu memiliki banyak pengalaman.
Pengalaman yang digabungkan dengan teori-teori yang relevan dan metoda yang tepat dapat
dijadikan sebagai kekayaan ilmu yang dimiliki Guru. Atas dasar itu, pembelajaran pada diklat
ini akan mengangkat dan memanfaatkan pengalaman Guru untuk memperkuat materi yang
telah dirancang dan disiapkan. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka di dalam diklat ini akan
menerapkan pendendekatan pembelajaran pembelajaran Andragogi yang dikombinasikan
dengan pendekatan saintifik.

Modul ini menjabarkan upaya melakukan perbaikan kualitas pembelajaran melalui kegiatan
Pengembangan kurikulum pada matapelajaran yang diampu. Ada empat kegiatan
pembelajaran (KB) yang disajikan dalam modul ini, yaitu KB 1. Menentukan tujuan
pembelajaran yang diampu, KB 2. Menentukan pengalaman belajar yang sesuai untuk
mencapai tujuan pembelajaran yang diampu , KB 3. Memilih materi pembelajaran yang
diampu yang terkait dengan pengalaman belajar dan tujuan pembelajaran, KB 4. Menata
materi pembelajaran secara benar sesuai dengan pendekatan yang dipilih dan karakteristik
peserta didik, dan KB 5. Mengembangkan indikator dan instrumen penilaian. Peserta wajib
menguasai kelima kegiatan pembelajaran tersebut.

Selamat berlatih dan berikan masukan untuk perbaikan modul ini. Terima kasih diucapkan
kepada penulis dan semua pihak yang telah membantu mewujudkan modul ini.

Jakarta, Desember 2015

1 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan industrial Training, keberhasilanya di
tandai dengan sejauh mana output (tamatan, dan produk barang / jasa ) nya
mempunyai relevansi dan keunggulan kompetitif, baik ditingkat nasional, regional,
maupun internasional.

Untuk mencapai tujuan ini, program sekolah berorentasi pada kebutuhan pasar
(deman driven), yang dikemas dalam competencies based training (CBT), dan strategi
pembelajarannya dilaksanakan melalui kegiatan produksi/production Based Training
(PBT). Pendekatan pembelajaran menekankan pada bagaimana pesertadidik belajar
/membelajarkan pesertadidik (student centered learning), belajar tuntas (Mastery
Learning), dan Behavior Outcome Aproach , agar pesertadidik mempunyai
pengalaman belajar (Learning eksperience). Pendekatan ini sebagai upaya untuk
menghasilkan tamatan yang profesional, produktif, dan dilandasi dengan
ketrampilan berfikir secara kritis, kreatif, dan inovatif dalam menanggapi berbagai
kondisi dilingkungan kerjanya. Penilaian hasil belajar untuk memberikan pengakuan
terhadap keberhasilan pemenuhan kompetensi, dilaksanakan dengan pendekatan
penilaian acuan patokan (PAP)/criterient reference assessment dan eksternal
evaluation oleh lembaga profresional yang relevan dan independen. Sesuai dengan
prinsip-prinsip tersebut diatas, maka Hasil/produk belajar dikemas menjadi portfolio
hasil belajar pesertadidik sebagai bukti belajar yang mampu menggambarkan
kompetensi pesertadidik (Learning of Evidence Indicator) , mudah di telusuri
(treserable), dan dapat dijadikan bahan verifikasi dalam uji kompetensi.

Strategi ini dimaksudkan untuk lebih mendekatkan kesesuaian program dengan


potensi wilayah dan kebutuhan masyarakat, sehingga program sekolah dapat
mengakar kuat pada masyarakat dan mampu memberdayakan peserta didik, bukan
masyarakat/pesertadidik yang harus menyesuaikan diri dengan program sekolah,
yang ahirnya sekolah tidak mampu berperan secara optimal dalam pemberdayaan
masyarakat. Melalui pendekatan seperti ini diharapkan keberadaan SMK akan
mampu memberi makna bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sasaran
dinamika pengembangan penyelenggaraan pendidikan ini diarahkan agar SMK
mampu berperan aktif dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan
masyarakat.

2 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
Pada ahirnya pencapaian tujuan pendidikan sangat ditentukan bagaimana isi
pembelajaran, strategi pembelajaran dan indikator keberhasilan itu dirumuskan dan
dilaksanakan secara sistimatis dan terprogram dengan benar. Untuk mewujudkan
keterlaksanaan pembelajaran sebagaimana diharapkan, materi pengembangan
kurikulum pada matapelajaran memegang peranan yang sangat strategis.

B. Tujuan

Secara umum tujuan pembelajaran ini memberikan panduan operasional bagi Guru
dalam mengembangkan/merancang pembelajaran agar mampu membangun
profesionalisme pada peserta didik
Secar kusus tujuan pembelajaran ini adalah memberikan acuan:
1. Merumuskan tujuan pembelajaran
2. Merumuskan indikator pencapaian kompetensi
3. Merumuskan materi pembelajaran
4. Menata materi pembelajaran
5. Menetapkan pengalaman belajar

3 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
C. Peta Kompetensi

Gambar 1. Peta Kompetensi pedagogik Pendidik

4 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
D. Ruang Lingkup
Modul ini memuat kompetensi pendidik pada:
1. Menentukan tujuan pembelajaran yang diampu
2. Menentukan pengalaman belajar yang sesuai untuk mencapai tujuan
pembelajaran yang diampu
3. Memilih materi pembelajaran yang diampu yang terkait dengan pengalaman
belajar dan tujuan pembelajaran
4. Menata materi pembelajaran secara benar sesuai dengan pendekatan yang dipilih
dan karakteristik peserta didik
5. Mengembangkan indikator dan instrumen penilaian

E. Saran Cara penggunaan modul


Modul ini dirancang agar peserta diklat terlibat secara aktif didalam memahami isi
modul. Setiap bahasan disajikan berupa fakta, konsep, prinsip dan prosedur. Untuk
itu kami sarankan agar pesertadiklat memahami mulai dari fakta-fakta untuk
memahami/merumuskan konsep. Dari konsep-konsep peserta akan dapat
merumuskan prinsip. Komponen selanjutnya adalah berupa prosedur kegiatan.
Dengan struktur penyajian materi seperti ini diharapkan peserta dapat menggunakan
berfikir secara aktif dan konstruktif.

5 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
BAB II KEGIATAN PEMBELAJARAN 1 : Menentukan tujuan pembelajaran yang diampu

A. Tujuan
Pesertadiklat mampu merumuskan tujuan pembelajaran bela disediakan kompetensi
guru dengan tingkat kebenaran 100%

B. Indikator Pencapaian Kompetensi


1. Menguraikan rumusan tujuan pembelajaran dengan mengacu kepada standar
kompetensi lulusan, kompetensi inti, dan kompetensi dasar.
2. Merumuskan tujuan pembelajaran yang diampu dengan mengacu standar
kompetensi lulusan, kompetensi inti, dan kompetensi dasar serta unsur-unsur pada
tujuan pembelajaran meliputi audience, behaviour, condition, dan degree

C. Uraian Materi

Tujuan pembelajaran (learning objectives atau performance objectives) menurut


Gagne(1988) adalah suatu panduan untuk pembuatan suatu desain instruksional dan
pembuatan latihan/tes untuk mengukur kemampuan pesertadidik dalam menyerap
materi pembelajaran. Tujuan pembelajaran yang tak jelas bukan saja mengakibatkan
program menjadi bertele-tele atau tak fokus dalam menjelaskan materinya, tetapi juga
mengakibatkan perilaku atau performa yang diharapkan untuk dikuasai pesertadidik
tidak tercapai. Tujuan pembelajaran yang tidak jelas juga berpengaruh terhadap
pemberian penilaian kemampuan yang tidak sesuai dengan apa yang diajarkan.
Lebih jauh lagi hal ini akan mengakibatkan pengulangan atau perombakan desain
instruksional dari program yang berdampak pada memboroskan biaya dan waktu.
Mager bahkan menyarankan untuk tidak melakukan suatu aktivitas apapun di dalam
desain instruksional sebelum tujuan pembelajaran benar-benar telah ditetapkan.

Secara umum penulisan tujuan pembelajaran adalah menggunakan kata-kata kerja


yang spesifik dan dapat diukur. Sebagai contoh : “Pesertadidik mampu melakukan
pemupukan tanaman dengan tingkat kebenaran 100% bila disediakan data kesuburan
tanah dan biomasa tanaman yang akan dipanen ”.

Bandingkan kata kerja tadi dengan kata kerja berikut ini : memahami, mengetahui,
atau mengerti. Kata-kata kerja ini tidak spesifik dan sulit diukur apakah seorang
pesertadidik telah menguasainya atau tidak.

6 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
1. Terminal behaviour . Tujuan pembelajaran harus menyatakan secara eksplisit
perilaku (behaviour) atau performans yang akan dikuasai oleh pesertadidik ex
(mampu melakukan pemupukan tanaman)

2. Conditions atau constraints. Tujuan pembelajaran hendaknya memperhitungkan


kondisi bagi pesertadidik dalam meraih perilaku yang telah ditetapkan.ex
(disediakan data kesuburan tanah dan biomasa tanaman yang akan dipanen)

3. Standard of performance. Tujuan pembelajaran hendaknya mensyaratkan suatu


standar minimum/derajat yang mesti dikuasai oleh pesertadidik.ex (tingkat
kepresisian 100%)

Kondisi merupakan suatu keadaan yang dimunculkan untuk menjawab pertanyaan-


pertanyaan semisal:

“Peralatan apa yang diperlukan dalam pembelajaran dan penilaian.”

“Apakah akses terhadap peralatan misal lab pengujian mudah ?”

“Suasana seperti apa yang dipersyaratkan agar pembelajaran dapat berlangsung


sesuai dengan tuntutan kompetensi. ?”, dan sebagainya

Kondisi adalah syarat yang diperlukan agar pembelajaran dan penilaian


kompetensi/kemampuan dari tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dapat
berlangsung.

Kemp dan Morrison (1994) menjelaskan kriteria (standard of competence)


merupakan suatu tingkat pencapaian/derajat (level of achievement). Kriteria
menunjukkan standard minimum yang ditetapkan agar tujuan pembelajaran tercapai.

Kriteria menjawab pertanyaan-pertanyaan antara lain:

“Seberapa akurat ?”

“Seberapa lama ?”

“Seberapa banyak ? “, dan sebagainya.

Urut-urutan dari penetapan tujuan pembelajaran dapat dilakukan sebagai berikut :

 Pilih suatu kata kerja yang sesuai dengan konten


 Contoh yang baik : menghitung, menemukan
 Contoh yang jelek : mengetahui, memahami
 Tentukan obyek yang tepat setelah kata kerja

7 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
 Contoh yang baik : menghitung kebutuhan pupuk
 Contoh yang jelek : memahami kebutuhan pupuk
 Tentukan kondisi yang memungkinkan bagi pengguna untuk mendapatkan
perilaku yang telah ditetapkan melalui kata kerja tadi.
 Kondisi yang memungkinkan dapat berupa alat yang digunakan, informasi yang
disediakan, hambatan dan sebagainya.
 Contoh yang baik : dengan data kesuburan tanah dan biomasa tanaman,
menghitung kebutuhan pupuk
 Contoh yang jelek : dengan peralatan yang tersedia, menghitung kebutuhan
pupuk
4. Tentukan suatu kriteria untuk mengidentifikasi level yang dikehendaki misal
kecepatan dalam melakukan aksi, akurasi, kualitas, kuantitas, dan sebagainya

Contoh yang baik: dengan data kesuburan tanah dan biomasa tanaman, dapat
menghitung kebutuhan pupuk dengan tingkat akurasi 100%.

Contoh yang jelek: dengan menggunakan peralatan, menghitung Kebutuhan


pupuk dengan akurasi yang tepat setiap saat.

Perbedaan antara kata kerja yang menunjukkan kemampuan/kapabilitas


(capability) seseorang dengan kata kerja yang menunjukkan indikator (observable
action) Gagne

Tujuan pembelajaran haruslah mengandung unsur-unsur ABCD: audience,


behavior, condition, degree.

 Audience (A) berarti siapakah yang harus mencapai tujuan pembelajaran itu
misal, unsur A ini adalah siswa/peserta didik (kelas III).
 Behavior (B) menunjukkan perilaku yang diharapkan (dapat pada ranah
kognitif, afektif, atau psikomotorik).
 Contoh behavior yaitu: Mampu menghitung kebutuhan pupuk/ mampu
melaksanakan pemupukan tanaman
 Condition (C) menunjukkan pada kondisi bagaimana perilaku tersebut
ditampilkan. Sebagai contoh: perilaku melakukan pemupukan tanaman atas
dasar kesuburan tanah dan biomasa tanaman yang dikehendaki..
 Degree (D) menunjukkan derajat pencapaian sebagai kriteria untuk
menentukan seseorang telah mencapai tujuan. Sebagai contoh: tingkat akurasi
100%, paling sedikit 4 macam, dan lain-lain. Menurut Hamzah B. Uno (2008:
91)

8 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
Berikut ini adalah beberapa contoh tujuan pembelajaran pada RPP di Sekolah Dasar,
terutama pada mata pelajaran IPA:

 Melalui pengamatan bagian-bagian bunga (condition), peserta didik (audience)


dapat menyebutkan (behaviour) paling sedikit empat bagian-bagian bunga
(degree).
 Melalui praktik mencangkok (condition), peserta didik (audience) dapat
mendemonstrasikan cara-cara mencangkok (behaviour) dengan runtut (degree).
 Melalui percobaan uji kandungan vitamin C pada buah-buahan tertentu
(condition), peserta didik (audience) dapat membedakan buah yang mengandung
vitamin C dan yang tidak mengandung vitamin C (behaviour) dengan tingkat
kebenaran 100% (degree).
 Melalui operasional peraga torso manusia (condition), peserta didik (audience)
dapat menjelaskan proses pencernaan makanan (behaviour) dengan runtut
(degree).
 Melalui operasional peraga daun (condition), peserta didik (audience) dapat
mengklasifikasikan daun berdasarkan ciri-ciri yang dimiliki (behaviour) dengan
tingkat kebenaran 100% (degree).

Satu Tujuan Pembelajaran diusahakan dapat mengukur tiga ranah:

yaitu:Afektif, Kognitif dan psikomotor. Bagaimanapun juga hal itu akan memudahkan
guru dalam melakukan evaluasi. Secara bahasa, dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia (2001: 1216) kata tujuan berasal dari kata tuju, dengan menambah akhiran
–an dengan arti arah; haluan (jurusan); yang dituju; maksud. Istilah tujuan dalam
Bahasa Inggris (John M. Echols & Hassan Shadily, 1988) disebut dengan goal, aim
dan objective.

Sedangkan pembelajaran diartikan dengan proses, cara, perbuatan menjadikan orang


atau makhluk hidup belajar (KBBI, 2001: 17). Secara istilah pembelajaran adalah
proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu
lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar
dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan
tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata
lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar
dengan baik. (Wikipedia.org) Dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 20 dijelaskan bahwa pembelajaran adalah proses

9 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan
belajar.

Apabila kata tujuan digabungkan dengan instruksional, maka artinya adalah tujuan
atau sasaran yang ingin dicapai setelah mengajarkan pokok atau subpokok bahasan
(KD) yang sudah direncanakan. Kata tujuan apabila digabungkan dengan kurikuler,
maka artinya adalah tujuan atau kualifikasi yang diharapkan dimiliki pesertadidik
setelah dia menyelesaikan program mata pelajaran tertentu. (KBBI, 2001: 1216)

Agar konsep tujuan pembelajaran dipahami secara konprehensif, berikut ini


diungkapkan beberapa pendapat ahli tentang pengertian tujuan pembelajaran yakni:

1. Roestiyah (dalam Pupuh & M. Sobry, 2007: 14) mengungkapkan bahwa tujuan
pembelajaran adalah deskripsi tentang penampilan perilaku (performance) anak
didik yang diharapkan setelah mempelajari bahan pelajaran tertentu.

2. Dewi Salma Prawiradilaga (2008: 37) menjelaskan bahwa tujuan pembelajaran


merupakan penjabaran kompetensi yang akan dikuasai oleh pebelajar jika mereka
telah selesai dan berhasil menguasai materi ajar tertentu.

3. Dick & Carey (1978: 14) The instructional goal is a statement that describes what it
is that student will be able to do after they have completed instruction. (Tujuan
pembelajaran merupakan pernyataan yang menggambarkan tentang apa yang
dapat dilakukan peserta didik setelah mereka menyelesaikan pembelajaran).

Berdasarkan pendapat di atas, tujuan pembelajaran dapat dimaknai dengan deskripsi


tentang proses dan hasil pembelajaran yang akan dicapai oleh peserta didik pada satu
kompetensi dasar setelah melalui kegiatan pembelajaran. Apabila dikaitkan dengan
tujuan pembelajaran PAI, maka pengertiannya adalah deskripsi proses dan hasil
pembelajaran PAI yang dicapai oleh peserta didik pada sebuah kompetensi dasar
pada standar isi PAI setelah melalui kegiatan pembelajaran yang islami.

Anderson dan Krathwohl (2001: 16) menguraikan tujuan pembelajaran dengan istilah
instructional objectives dengan uraian sebagai berikut: ...educational trends created a
need for even more specific objectives. The purpose of these instructional objectives
was to focus teaching and testing on narrow, day-to-day slices of learning in fairly
specific content areas. ... trend pendidikan menciptakan kebutuhan untuk tujuan
bahkan lebih spesifik. Maksud dari tujuan pembelajaran ini adalah untuk fokus
mengajar dan menguji pada waktu itu, hari ke hari tentang pembelajaran yang terjadi
pada materi yang spesifik. Dalam uraian tentang tujuan pembelajaran ini, Anderson

10 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
dan Krathwohl memperinci dengan istilah “instructional objectives have substantially
greater specificity than educational objectives.” (Tujuan pembelajaran memiliki
kekhususan yang khas dibandingkan dengan tujuan pendidikan itu sendiri).

Berdasarkan konsep Anderson dan Krathwohl di atas jelas bahwa tujuan


pembelajaran merupakan hal yang sangat spesifik yang harus dicapai oleh pendidik
dalam kegiatan pembelajaran kepada peserta didiknya dalam kurun waktu tertentu.
Sehingga untuk mencapai tujuan pendidikan, yang harus dilakukan pertama kali
adalah mencapai tujuan pembelajaran. Kurun waktu tertentu, dapat dimaknai dengan
dalam satu kali tatap muka atau lebih, sesuai dengan kedalaman kompetensi yang
harus dikuasai oleh peserta didik.

Salah satu kriteria pendidik yang profesional adalah dapat merumuskan tujuan
pembelajaran yang tepat dan berhasil guna terhadap peserta didik dalam bentuk
perilaku yang terukur setelah mengikuti pembelajaran. Perilaku peserta didik yang
dapat diukur tersebut diarahkan pada ranah kognitif, afektif dan psikomotor.

Ranah kognitif menitikberatkan pada aspek proses pengetahuan atau berfikir. Menurut
Anderson dan Krathwohl (2001: 31) ranah kognitif ini terdiri dari:

1. mengingat (remember),

2. memahami (understand),

3. menerapkan (apply),

4. menganalisis (analyze),

5. mengevaluasi (evaluate),

6. menciptakan (create).

Ranah afektif menurut Krathwohl (dalam http://www.nwlink.com/


~donclark/hrd/bloom.html diakses tanggal 20 Oktober 2010 jam 08.11 wib) merupakan
cara di mana kita berurusan dengan hal-hal emosional, seperti perasaan, nilai,
apresiasi, antusiasme, motivasi, dan sikap.

11 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
Kategori utama perilaku yang dinampakan oleh peserta didik adalah:

1. menerima (receiving),

2. merespon (responding),

3. menghargai (valuing),

4. mengorganisasikan (organization),

5. Internalisasi nilai (internalizing value/characterization).

Ranah psikomotor merupakan perilaku peserta didik yang dilakukan melalui gerakan
pisik (tubuh). Pada ranah psikomotor ini, perilaku yang dapat dilihat menurut Dave
(dalam http://www.nwlink.com/~donclark/ hrd/bloom.html diakses tanggal 20 Oktober
2010 jam 08.11 wib)) adalah:

1. Meniru (imitation),

2. memanipulasi (manipulation),

3. melakukan dengan prosedur (precision),

4. melakukan dengan baik dan tepat (articulation),

5. melakukan secara alamiah (naturalization).

Rumusan tujuan pembelajaran dalam pembelajaran di Indonesia pada satuan


pendidikan dapat ditemukan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (written plan).
tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan
dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar.

Anderson & Krathwohl (2001: 98), merumuskan tujuan pembelajaran dengan


membuat tabel tujuan pembelajaran. Perumusan tujuan pembelajaran tersebut
dengan tabel yang diperinci dari dimensi jenis materi dan level performansi menurut
Merill.

12 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
Tabel 1 Matrik Jenis Materi dan Level Performansi

Dari matrik diatas bahwa tujuan pembelajaran dapat dirumuskan dari setiap hubungan
antara jenis materi dan level performansinya. Sebagai contoh dalam program keahlian
agribisnis tanaman KD 3.9 dari KI 3 tentang melakukan pemupukan tanaman, dapat
dirumuskan jenis-jenis tujuan pada level mengingat sebagai berikut;
 Pesertadidik mampu menyebutkan jenis jenispupuk bila disediakan data bentuk dan
warna pupuk dengan tingkat kebenaran 100%
 Pesertadidik mampu menyebutkan definisi pupuk bila disediakan data bentuk dan
warna pupuk dan kunci diskriptor dengan tingkat kebenaran 100%
 Pesertadidik mampu menyebutkan prosedur pemupukan bila disediakan data
teknik pemupukan dengan tingkat kebenaran 100%
 Pesertadidik mampu menyebutkan prinsip pemupukan bila disediakan konsep
kesuburan tanah dan biomasa tanaman dengan tingkat kebenaran 100%
Sedangkan rumusan jenis-jenis tujuan pada level menggunakan sebagai berikut;
 Pesertadidik mampu membedakan jenis-jenis pupuk bila disediakan contoh-contoh
pupuk pupuk dengan tingkat kebenaran 100%
 Pesertadidik mampu menggunakan prosedur perhitungan kebutuhan pupuk bila
disediakan data kesuburan tanah dan biomasa tanaman yang diinginkan dengan
tingkat kebenaran 100%
 Pesertadidik mampu menghitung kebutuhan pupuk bila disediakan konsep
kesuburan tanah dan biomasa tanaman yang diinginkan dengan tingkat kebenaran
100%

13 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
D. Aktivitas Pembelajaran
1. Baca dan fahami tujuan pembelajaran, terutama behavior, degree dan conditionsnya.
2. Baca dan fahami indikator pencapaian kompetensinya
3. Bacalah lembarinformasi dengan menggunakan model SQ3R

Survey : Mengidentifikasi topik dan sub topik pada lembar


informasi
Question : Menanyakan Apa isi dari setiap topik dan sub.
topik
Read : Membaca isi dari topik dan sub. Topik untuk
mampu menjawab pertanyaan tentang apa isi dari
setiap topik dan sub. topik
Recite/Rewrite : Menuliskan isi materi setiap topik dan sub.topik
berdasarkan pengartian anda sendiri setelah
membaca isi msteri tipok dan sub. Topik

Catatan;
Untuk kegiatan memahami isi materi pembelajaran
dengan SQ3R ini Pesertadiklat dapat
menggunakan Software Mind Manager.
Review : Untuk mendapatkan tanggapan dari teman yang
lainnya, kegiatan review ini dapat dilakukan
dengan model twostay two stray
Gambar proses review;

14 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
1 2

4 3

Gambar 2 Proses Review model Two Stay Two


Stay
Keterangan:
Perwakilan kelompok yang belanja
ke kelompok yang lain
Perwakilan kelompok yang
menunggu galery

1. Dua orang yang berdiri dari kelompok belanja


ke kelompok yang lain, Penjaga galery
memberikan penjelasan hasil mengkaji isi
materi. Yang belanja dapat memberikan
tanggapan; setuju/ mengurangi bagian tertentu
yang dianggap tidak sesuai/ menambahkan ide
yang dirasa belum termuat .
Untuk keteraturan gerakan yang belanja
mengikuti arah anak panah sampai kembali
kekelompok

15 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
1. Lama waktu berbelanja pada setiap kelompok
diatur oleh Widyaiswara.
2. Hasil masukan dari kelompok lain diputuskan
oleh kelompok yang bersangkutan.

E. Latihan
Saudara, kita telah selesai mempelajari perumusan tujuan pembelajaran sebagai arah
proses pembelajaran dan penilaian hasil belajar

1. Jelaskan fungsi rumusan tujuan pembelajaran dalam proses pembelajaran ?


2. Jelaskan arti dari rumus ABCD dalam pembuatan tujua pembelajaran
3. Buatlah rumusan tujuan pembelajaran dari jenis materi prinsip dan lefel performance
menggunakan pada KD 3.9, KI 3 tentang melakukan pemupukan tanaman

F. Kunci Jawaban
1. Tujuan pembelajaran (learning objectives atau performance objectives) menurut
Gagne(1988) adalah suatu panduan untuk pembuatan suatu desain instruksional dan
pembuatan latihan/tes untuk mengukur kemampuan pesertadidik dalam menyerap
materi pembelajaran
2. Arti dari musan ABCD dalam penyusunan tujuan pembelajaran
Audience (A) berarti siapakah yang harus mencapai tujuan pembelajaran itu misal,
unsur A ini adalah siswa/peserta didik (kelas III).
Behavior (B) menunjukkan perilaku yang diharapkan (dapat pada ranah kognitif, afektif,
atau psikomotorik).
Contoh behavior yaitu: Mampu menghitung kebutuhan pupuk/ mampu melaksanakan
pemupukan tanaman
Condition (C) menunjukkan pada kondisi bagaimana perilaku tersebut ditampilkan.
Sebagai contoh: perilaku melakukan pemupukan tanaman atas dasar kesuburan tanah
dan biomasa tanaman yang dikehendaki..

Degree (D) menunjukkan derajat pencapaian sebagai kriteria untuk menentukan


seseorang telah mencapai tujuan. Sebagai contoh: tingkat akurasi 100%, paling sedikit
4 macam, dan lain-lain. Menurut Hamzah B. Uno (2008: 91)

3. Contoh rumusan tujuan pembelajaran ; pesertadidik mampu memprediksi produktifitas


tanaman bila disediakan data kesuburan tanah dengan jumlah dan jenis pupuk yang
diberikan dalam pemupukan dengan tingkat ketelitian/presisi 95%

16 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
G. Rangkuman
1. Tujuan pembelajaran (learning objectives atau performance objectives) menurut
Gagne(1988) adalah suatu panduan untuk pembuatan suatu desain instruksional dan
pembuatan latihan/tes untuk mengukur kemampuan pesertadidik dalam menyerap
materi pembelajaran

2. Tujuan pembelajaran haruslah mengandung unsur-unsur ABCD: audience, behavior,


condition, degree.
 Audience (A) berarti siapakah yang harus mencapai tujuan pembelajaran itu misal,
unsur A ini adalah siswa/peserta didik (kelas III).
 Behavior (B) menunjukkan perilaku yang diharapkan (dapat pada ranah kognitif,
afektif, atau psikomotorik).
 Contoh behavior yaitu: Mampu menghitung kebutuhan pupuk/ mampu
melaksanakan pemupukan tanaman
 Condition (C) menunjukkan pada kondisi bagaimana perilaku tersebut ditampilkan.
Sebagai contoh: perilaku melakukan pemupukan tanaman atas dasar kesuburan
tanah dan biomasa tanaman yang dikehendaki..
 Degree (D) menunjukkan derajat pencapaian sebagai kriteria untuk menentukan
seseorang telah mencapai tujuan. Sebagai contoh: tingkat akurasi 100%, paling
sedikit 4 macam, dan lain-lain. Menurut Hamzah B. Uno (2008: 91)

H. Umpan Balik
Apabila masih ada pertanyaan yang belum terjawab dengan benar maka seyogyanya Anda
mempelajari lagi dengan seksama atau berdiskusi dengan teman Anda yang sudah
mampu menjawab dengan benar. Selanjutnya mencoba lagi menjawab-pertanyaan latihan
sampai benar.

17 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
BAB III KEGIATAN PEMBELAJARAN 2

MERUMUSKAN INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI

A. Tujuan
Pesertadiklat mampu merumuskan indikator pencapaian Kompetensi bela disediakan
daftar KD dan SKL dengan tingkat kebenaran 100%

B. Indikator Pencapaian Kompetensi


1. Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan berdasarkan KD dan SKL
2. Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan berdasarkan jenis materi (fakta,
konsep, prosedur dan prinsip) dan level performansinya (Mengingat, menggunakan
dan mengembangkan) Menurut taksanomi Merril

C. Uraian Materi

1. Pengertian Indikator. Indikator adalah: Perilaku yang dapat diukur dan atau
diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi
acuan penilaian mata pelajaran. Indikator juga disebut sebagai penanda pencapaian
KD yang ditandai oleh perubahan perilakuyang dapat diukur yang mencakup sikap,
pengetahuan, dan keterampilan. Indikatordikembangkan sesuai dengan karakteristik
peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan,potensi daerah dan dirumuskan
dalam kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi. Dalam
mengembangkan indikator perlu mempertimbangkan:
(1) tuntutan kompetensiyang dapat dilihat melalui kata kerja yang digunakan dalam
KD;

(2) karakteristik matapelajaran, peserta didik, dan sekolah; dan

(3) potensi dan kebutuhan peserta didik,masyarakat, dan lingkungan/ daerah.

Dalam mengembangkan pembelajaran dan penilaian, terdapat dua rumusan


indikator,yaitu:

(1) indikator pencapaian kompetensi yang dikenal sebagai indikator; dan

(2) indicator penilaian yang digunakan dalam menyusun kisi-kisi dan menulis soal yang
di kenal sebagaiindikator soal.

18 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
Ciri-Ciri Indikator

 Konsisten dengan standar kompetensi mata pelajaran dan SKL,


 Dinyatakan dengan jelas,
 Realistik dan dapat dilakukan,
 Sesuai dengan tingkat berfikir peserta didik, dan
 Dapat dicapai dalam kurun waktu yang tersedia.

2. Prinsip Perumusan Indikator.


Rumusan indikator sekurang-kurangnya mencakup dua hal, yaitu;

a. Tingkat kompetensi dan materi yang menjadi media pencapaian kompetensi, unsur-
unsur secara lengkap dikenal dengan ABCD (Audience, Behavior, Condition, dan
Degree)
Indikator dirumuskan dalam bentuk kalimat dengan menggunakan kata kerja
operasional. Rumusan indikator sekurang-kurangnya mencakup dua hal yaitu
tingkat kompetensi dan materi yang menjadi media pencapaian kompetensi.

Indikator merupakan penanda pencapaian Kompetensi Dasar yang ditandai oleh


perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan
keterampilan.

Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik pesertadidik, mata pelajaran,


satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional
yang terukur dan/atau dapat diobservasi.

Dalam mengembangkan indikator perlu mempertimbangkan:

b. Tuntutan kompetensi yang dapat dilihat melalui kata kerja yang digunakandalam
KD; dengan mempertimbangkan
 Karakteristik mata pelajaran, peserta didik, dan sekolah;
 Potensi dan kebutuhan peserta didik, masyarakat, dan lingkungan/daerah.
Dalam mengembangkan pembelajaran dan penilaian, terdapat dua rumusan
indikator, yaitu:

 indikator pencapaian kompetensi yang dikenal sebagai indikator; dan


 indikator penilaian yang digunakan dalam menyusun kisi-kisi dan menulis soal
yang di kenal sebagai indikator soal.
Indikator dirumuskan dalam bentuk kalimat dengan menggunakan kata kerja
operasional.

19 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
c. Rumusan indikator sekurang-kurangnya mencakup dua hal yaitu tingkat
kompetensi dan materi yang menjadi media pencapaian kompetensi.
Berikut disajikan kata-kata operasional yang dapat digunakan untuk indikator
kompetensi, baik yang menyangkut kognitif, afektif maupun psikomotorik

Kata – Kata Operasional Yang Dijabarkan Dalam Membuat Indicator

1) Kognitif Meliputi:

a) Knowledge (pengetahuan) yaitu, menyebutkan, menuliskan, menyatakan,


mengurutkan, mengidentifikasi, mendefinisikan, mencocokkan, memberi
nama, memberi leber, dan melukiskan.

b) Comprehension (pemahaman) yaitu, menerjemahkan, mengubah,


menggeneralisasikan, menguraikan, menuliskan kembali, merangkum,
membedakan, mempertahankan, menyimpulkan, mengemukakan pendapat,
dan menjelaskan.

c) Application (penerapan ) yaitu, mengoperasikan , menghasilkan mengatasi,


mengubah, menggunakan, menunjukkan, mempersiapkan, dan menghitung.

d) Analysis (analisis) yaitu, menguraiakan, membagi – bagi, memilih dan


membedakan.

e) Syntnesis (sintesis) yaitu, merancang merumuskan, mengorganisasikan,


menerapkan, memadukan, dan merencanakan.

f) Evaluation(evaluasi) yaitu, mengkritisi, menafsirkan dan memberikan


evaluasi.

2) Afektif Meliputi:

a) Receiving (penerimaan) yaitu mempercayai, memilih, mengikuti, bertanya,


dan mengalokasikan.

b) Responing(menanggapi) yaitu, konfirmasi, menjawab, membaca, membantu,


melaksanakan, melaporkan dan menampilkan.

c) Valuing (penamaan nilai) yaitu, menginisiasi, mengundang, melibatkan,


mengusulkan, dan melakukan.

d) Organigastion (pengorganisasian) yaitu, memverivikasi, menyusun,


menyatukan, menghubungkan.

20 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
e) Characterization (karakterisasi) yaitu menggunakan nilai – nilai sebagai
pandangan hidup, mempertahankan nilai – nilai yang sudah diyakini.

3) Psikomotorik Atau Gerak Jiwa Meliputi

a) Observing (pengamatan) yaitu mengamati proses, memper perhatian pada


tahap – tahap sebuah perbuatan, memberi perhatian pada sebuah artikulasi

b) Initation (peniruan) yaitu melatih, mengubah, membongkar sebuah struktur,


membangun kembali sebuah struktur dan menggunakan sebuah model.

c) Practicing (pembiasaan) yaitu membiasakan prilaku yang sudah dibentuknya,


mengontrol kebiasaan agar tetap konsistem.

d) Adapting (penyesuaian) yaitu menyesuaikan model, mengembangkan model,


dan menerapkan model.

d. Fungsi Indikator
Adapun fungsi indikator adalah:

1) Pedoman dalam mengembangkan materi pembelajaran Pengembangan materi


pembelajaran harus sesuai dengan indikator yang dikembangkan. Indikator yang
dirumuskan secara cermat dapat memberikan arah dalam pengembangan
materi pembelajaran yang efektif sesuai dengan karakteristik mata pelajaran,
potensi dan kebutuhan peserta didik, sekolah, serta lingkungan.

2) Pedoman dalam mendesain kegiatan pembelajaran Desain pembelajaran perlu


dirancang secara efektif agar kompetensi dapat dicapai secara maksimal.
Pengembangan desain pembelajaran hendaknya sesuai dengan indikator yang
dikembangkan, karena indikator dapat memberikan gambaran kegiatan
pembelajaran yang efektif untuk mencapai kompetensi. Indikator yang menuntut
kompetensi domain pada aspek prosedural menunjukkan agar kegiatan
pembelajaran dilakukan tidak dengan strategi ekspositori melainkan lebih tepat
dengan strategi discovery-inquiry.

3) Pedoman dalam mengembangkan bahan ajar Bahan ajar perlu dikembangkan


oleh guru guna menunjang pencapaian kompetensi peserta didik. Pemilihan
bahan ajar yang efektif harus sesuai tuntutan indikator sehingga dapat
meningkatkan pencapaian kompetensi secara maksimal.

21 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
4) Pedoman dalam merancang dan melaksanakan penilaian hasil belajar Indikator
menjadi pedoman dalam merancang, melaksanakan, serta meng evaluasi hasil
belajar, Rancangan penilaian memberikan acuan dalam menentukan bentuk dan
jenis penilaian, serta pengembangan indikator penilaian.

Pengembangan indikator penilaian harus mengacu pada indikator pencapaian


yang dikembangkan sesuai dengan tuntutan SK dan KD.

e. Kegunaan Perumusan Indikator


Perumusan indikator perlu karena: Indikator merupakan penjabaran lebih rinci dari
tujuan yang lebih besar (kompetensi dasar/KD), sehingga bila indikator tercapai
kemungkinan akan tercapainya KD akan lebih besar pula. Membantu siswa, guru,
dan evaluator memahami dengan jelas apa-apa yang diharapkan sebagai hasil
suatu kegiatan pembelajaran. Membantu siswa, sebab dengan adanya indikator ini
siswa dapat mengatur waktu, energi, dan pemusatan perhatiannya pada tujuan
yang akan dicapai.

1) Membantu guru, sebab dengan adanya tujuan ini akan dapat mengatur kegiatan
pembelajarannya, metodenya, strateginya untuk mencapai tujuan tersebut
2) Membantu Evaluator, sebab dengan adanya tujuan ini evaluator dapat
menyusun tes sesuai dengan apa yang harus dicapai siswa. Indikator
merupakan kerangka dari pembelajaran yang guru laksanakan. Indikator
merupakan penanda tingkah laku yang harus diperlihatkan siswa seusai
kegiatan pembelajaran
f. Komponen Indikator
Indikator harus mengandung unsur-unsur yang dapat memberikan petunjuk kepada
penyusun tes agar ia dapat mengembangkan tes yang benar-benar dapat
mengukur perilaku yang terdapat di dalamnya.

Ada 4 unsur dalam merumuskan indikator:

1) Audience yaitu orang yang belajar.


2) Behavior yaitu perilaku yang spesifik yang akan dimunculkan oleh orang yang
belajar setelah selesai proses belajarnya dalam pelajaran tersebut. Perilaku ini
terdiri dari 2 bagian penting, yaitu: kata kerja dan objek hasil belajar. Komponen
ini merupakan tulang punggung dari rumusan tujuan.
3) Condition yaitu kondisi batasan yang dikenakan kepada siswa atau alat yang
digunakan siswa pada saat ia dites, bukan saat ia belajar. Misalnya: (1).
Diberikan berbagai rumus.(2.) Dengan menggunakan kriteria yang ditetapkan.

22 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
(3). Dengan diberikan kalimat-kalimat dalam bahasa Indonesia/Inggris/Arab. (4).
Diberikan kesempatan 3 kali percobaan. Komponen C ini dalam setiap tujuan
(indikator) merupakan unsur penting dalam menyusun tes.
4) Degree yaitu tingkat keberhasilan siswa dalam mencapai perilaku. Ditunjukkan
dengan batas minimal dari penampilan suatu perilaku yang dianggap diterima.
Contoh:

 paling sedikit 80% benar


 minimal 90% benar
 dalam waktu paling lambat 2 minggu
 minimal sejauh 3 meter
 minimal setinggi 160 cm
3. Mekanisme Pengembangan Indikator
Dalam mengembangkan indikator dari KD ada dua langkah yang dapat digunakan.
a. Menganalisis tingkat kompetensi yang digunakan pada KD
Langkah ini dilakukan dengan cara melihat tingkat kompetensi yang terdapat pada
Kompetensi dasar. Kriteria yang dapat dilakukan dengan menganalisis kata kerja
operasional (KKO) yang digunakan oleh KD tersebut. Apabila tingkat kompetensi
pada KD sampai pada level C2 (penerapan) maka indikator yang dikembangkan
harus mencapai kompetensi C2. Hal ini untuk memenuhi tututan minimal dari
kompetensi yang dijadikan acuan untuk mencapai standar nasional. Namun, tidak
tertutup kemungkinan bagi pendidik untuk mengembangkan indikator melebihi
kompetensi yang ada pada KD karena sesuai dengan penetapan SNP bahwa
pendidik dan sekolah dapat menyesuaikan kompetensi yang hendak dicapai
berdasarkan potensi anak didik.
Ketika mengembangkan indikator dengan cara ini ada hal yang perlu diperhatikan
yaitu pendidik harus menghindari penggunakaan tingkat kompetensi yang tumpang
tindih. Tingkat kompetensi yang digunakan harus dilakukan secara hirarkis yaitu
mulai dari tingkat kompetensi termudah hingga tersulit. Maka, jika tingkat
kompetensi tersebut harus dimulai dari C1, C2 hingga C6. Apabila tingkat
kompetensi diawali dengan C2, kompetensi berikutnya sebaiknya ke C3 dan tidak
dibenarkan kembali ke C1.
b. Menganalisis Indikator berdasarkan tingkat Urgensi, Kontinuitas, Relevansi,
Keterpakaian (UKRK ) kompetensi pada KD
Safari (2008: 29-31) menyatakan bahwa indikator terbagi atas dua yaitu indikator
sangat penting dan indikator penunjang. Membedakan antara indicator penting dan
penunjang ditentukan berdasarkan tingkat UKRK pada indicator tersebut. Dengan

23 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
itu, UKRK dapat dijadikan kiteria dalam memilih dan memilah ketepatan indicator
yang akan dijadikan indicator penting atau indicator penunjang.
Tingkat urgensi dimaknai bahwa indicator tersebut penting dikuasai oleh peserta
didik. Kontinuitas adalah berkelanjutan, yang juga bermakna bahwa indicator
tersebut akan menjadi dasar bagi indicator selanjutnya atau akan mempunyai
hubungan dengan indicator pada tingkat lanjut. Relevansi bermakna bahwa
indicator tersebut mempunyai hubungan dengan mata pelajaran lain. Keterpakaian
berimplikasi bahwa indicator tersebut memiliki nilai yang aplikatif dalam kehidupan
social dan bermasyarakat peserta didik.
Merujuk pada pendapat Safari, Wardhani (2008: 11-17) mengklasifikasikan
indicator ke dalam tiga tingkatan, yaitu indicator kunci, indicator pendukung, dan
indicator pengayaan. Berikut ini dipaparkan ketiga indicator tersebut.
 Pertama, indikator kunci merupakan indicator yang sangat memenuhi criteria
UKRK. Kompetensi yang dituntut pada indicator kunci adalah kompetensi
minimal yang terdapat pada KD. Hal ini bermakna bahwa indicator kunci memiliki
sasaran untuk mengukur ketercapaian standar minimal dari KD. Oleh karena itu,
indicator kunci harus dinyatakan secara tertulis dalam pengembangan RPP dan
harus teraktualisasi dalam pelaksanaan proses pembelajaran, sehingga
kompetensi minimal yang harus dikuasai siswa tercapai berdasarkan tuntutan
KD mata pelajaran.
 Kedua, Indikator pendukung merupakan indicator yang membantu peserta didik
memahami indicator kunci. Indikator pendukung ini dinamakan indicator
prasyarat (Wardhani, 2008: 13) yang berarti kompetensi yang sebelumnya telah
dipelajarai siswa, berkaitan dengan indicator kunci yang dipelajari.
 Ketiga, Indikator pengayaan sesuai dengan makna pengayaan, indicator
pengayaan merupakan indicator yang mempunyai tuntutan kompetensi yang
melebihi dari tuntutan kompetensi dari standar minimal KD. Pembuatan indicator
pengayaan tidak selalu harus ada dalam setiap pengembangan indicator.
Indikator pengayaan akan dirumuskan oleh pendidik apabila potensi peserta
didik memiliki kompetensi yang lebih tinggi dari dan perlu peningkatan yang baik
dari standar minimal KD.
Yang harus diingat oleh pendidik dalam melakukan penilaian adalah indicator yang
harus diujikan kepada siswa adalah indicator kunci. Indikator kunci tidak boleh
terabaikan oleh pendidikan dalam pelaksanaan penilaian, karena ndikator inilah
yang menjadi tolah ukur dalam mengukur ketercapaian kompetensi minimal siswa
berdasarkan KD. Di samping itu, pencapaian komptensi minimal ini merupakan
pencapaian yang berstandar nasional. Akan halnya dengan indicator pendukung

24 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
dan indicator pengayaan di dalam melakukan penilaian disesuaikan dengan tingkat
kebutuhan pemahaman peserta didik terhadap indicator kunci yang telah diberikan.
Menganalisis Tingkat Kompetensi dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi
Dasar. Langkah pertama pengembangan indikator adalah

menganalisis tingkatkompetensi dalam SK dan KD. Hal ini diperlukan untuk


memenuhi tuntutan minimal kompetensi yang dijadikan standar secara nasional.
Sekolah dapat mengembangkan indikator melebihi standar minimal
tersebut.Tingkat kompetensi dapat dilihat melalui kata kerja operasional yang
digunakan dalam SK dan KD. Tingkat kompetensi dapat diklasifikasi dalam tiga
bagian, yaitu tingkat pengetahuan, tingkat proses, dan tingkat penerapan. Kata
kerja pada tingkat pengetahuan lebih rendah dari pada tingkat proses maupun
penerapan. Tingkat penerapan merupakan tuntutan kompetensi paling tinggi yang
diinginkan.

Menganalisis Karakteristik Mata Pelajaran, Peserta Didik, dan Sekolah

Pengembangan indikator mempertimbangkan karakteristik mata pelajaran, peserta


didik, dan sekolah karena indikator menjadi acuan dalam penilaian.

Sesuai Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005, karakteristik penilaian


kelompok mata pelajaran adalah sebagai berikut:

Kelompok Mata Pelajaran Mata pelajaran Aspek yang Dinilai Agama dan Akhlak
Mulia Pendidikan Agama Afektif dan Kognitif Kewarganegaraan dan Kepribadian
Pendidikan Kewarganegaraan

Afektif dan Kognitif Jasmani Olahraga dan Kesehatan Penjas Orkes Orkes
Psikomotorik, Afektif, danKognitif Estetika Seni Budaya

Afektif dan Psikomotorik Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Matematika, IPA, IPS
Bahasa, dan TIK Afektif, Kognitif, dan/atau Psikomotorik sesuai karakter mata
pelajaran

1) Setiap mata pelajaran memiliki karakteristik tertentu yang membedakan


darimata pelajaran lainnya. Perbedaan ini menjadi pertimbangan penting dalam
mengembangkan indikator. Karakteristik mata pelajaran bahasa yang terdiri dari
aspek mendengar, membaca, berbicara dan menulis sangat berbeda dengan
mata pelajaran matematika yang dominan pada aspek analisis logis.

25 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
Guru harus melakukan kajian mendalam mengenai karakteristik mata pelajaran
sebagai acuan mengembangkan indikator.

Karakteristik matapelajaran dapat dikaji pada dokumen standar isi mengenai


tujuan, ruanglingkup dan SK serta KD masing-masing mata pelajaran.

2) Pengembangkan indikator memerlukan informasi karakteristik peserta didik


yang unik dan beragam.
Peserta didik memiliki keragaman dalam intelegensi dan gaya belajar. Oleh
karena itu indikator selayaknya mampu mengakomodir keragaman tersebut.
Karakteristik sekolah dan daerah menjadi acuan dalam pengembangan indikator
karena target pencapaian sekolah tidak sama. Sekolah kategori tertentu yang
melebihi standar minimal dapat mengembangkan indikator lebih tinggi.
Termasuk sekolah bertaraf internasional dapat mengembangkan indikator dari
SK dan KD dengan mengkaji tuntutan kompetensi sesuai rujukan standar
internasional yang digunakan. Sekolah dengan keunggulan tertentu juga
menjadi pertimbangan dalam mengembangkan indikator.

3) Menganalisis Kebutuhan sekolah/daerah dan Potensi Kebutuhan dan potensi


peserta didik, sekolah dan daerah perlu dianalisis untuk dijadikan bahan
pertimbangan dalam mengembangkan indikator.
Penyelenggaraan pendidikan seharusnya dapat melayani kebutuhan
pesertadidik, lingkungan, serta mengembangkan potensi peserta didik secara
optimal. Peserta didik mendapatkan pendidikan sesuai dengan potensi dan
kecepatan belajarnya, termasuk tingkat potensi yang diraihnya

Indikator juga harus dikembangkan guna mendorong peningkatan mutu sekolah


di masa yang akan datang, sehingga diperlukan informasi hasil analisis potensi
sekolah yang berguna untuk mengembangkan kurikulum melalui
pengembangan indikator.

a) Merumuskan Indikator, Dalam merumuskan indikator perlu diperhatikan


beberapa ketentuan sebagai berikut:
(1) Setiap KD dikembangkan sekurang-kurangnya menjadi sejumlah
indikator sesuai dengan metrik level performansi dan jenis materi.
(2) Keseluruhan indikator memenuhi tuntutan kompetensi yang tertuang
dalam kata kerja yang digunakan dalam SK dan KD. Indikator harus
mencapai tingkat kompetensi minimal KD dan dapat dikembangkan

26 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
melebihi kompetensi minimal sesuai dengan potensi dan kebutuhan
peserta didik.
(3) Indikator yang dikembangkan harus menggambarkan hirarki kompetensi.
(4) Rumusan indikator sekurang-kurangnya mencakup dua aspek, yaitu
tingkat kompetensi dan materi pembelajaran.
(5) Indikator harus dapat mengakomodir karakteristik mata pelajaran
sehingga menggunakan kata kerja operasional yang sesuai.
(6) Rumusan indikator dapat dikembangkan menjadi beberapa indikator
penilaian yang mencakup ranah kognitif, afektif, dan/atau psikomotorik.
b) Mengembangkan Indikator Penilaian, Indikator penilaian merupakan
pengembangan lebih lanjut dari indikator (indikator pencapaian kompetensi).
Indikator penilaian perlu dirumuskan untuk dijadikan pedoman penilaian bagi
guru, peserta didik maupun evaluator di sekolah.

Dengan demikian indikator penilaian bersifat terbuka dan dapat diakses


dengan mudah oleh warga sekolah. Setiap penilaian yang dilakukan melalui
tes dan non-tes harus sesuai dengan indikator penilaian.

Indikator penilaian menggunakan kata kerja lebih terukur dibandingkan


dengan indikator (indikator pencapaian kompetensi).

Rumusan indikator penilaian memiliki batasan-batasan tertentu sehingga


dapat dikembangkan menjadi instrumen penilaian dalam bentuk soal, lembar
pengamatan, dan atau penilaian hasil karya atau produk, termasuk penilaian
diri.

Pengembangan indikator dapat menggunakan format seperti contoh berikut.

Kompetensi Dasar/Indikator Indikator Penilaian Bentuk Mendeskripsikan


perkembangan teori atom · Mendeskripsikan karakteristik teori atom
Thomson, Rutherford, Niels Bohr, dan mekanika kuantum · Menghitung
perubahan energi elektron yang mengalami eksitasi · Menghitung panjang
gelombang terbesar dan terkecil pada deret Lyman, Balmer, dan Paschen
pada spectrum atom hidrogen ·

Siswa dapat memvisualisasikan bentuk atom Thomson, Rutherford, dan Bohr


· Siswa dapat menunjukkan sikap kerjasama, minat dan kreativitas, serta
komitmen melaksanakan tugas dalam kerja kelompok Siswa dapat
menunjukkan kelemahan dari teori atom Thomson, Rutherford, atau Niels

27 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
Bohr Siswa dapat menghitung energi dan momentum sudut electron
berdasarkan teori atom Bohr · Siswa dapat menghitung besar momentum
sudut berdasarkan teori atom mekanika kuantum · Siswa dapat menghitung
panjang gelombang atau frekuensi terbesar dari deret Lyman, Balmer, atau
Paschen · Siswa dapat menerapkan konsep energi ionisasi, energi foton, dan/
atau energi foton berdasarkan data dan deskripsi elektron dalam atom. ·
Penilaian hasil karya/produk · Tes tertulis · Tes tertulis · Tes tertulis · Tes
tertulis Tes tertulis · Tes tertulis

Contoh dan Cara Menjabarkan Kompetensi dasar ke dalam Indikator


Kompetensi

1) Mengidentifikasi kata-kata untuk indikator kompetensi Cara atau langkah


yang paling mudah untuk menjabarkan kompetensi dasar ke dalam
indikator kompetensi adalah menambah kolom di sebelah kanan pada
format standar kompetensi dan kompetensi dasar, seperti berikut ini.
Satuan pendidikan : Sekolah Menengah Pertama (SMP) / Madrasah
Tsanawiyah (MTs) Mata pelajaran : Ilmu Pengetahuan Sosial Kelas : VII,
Semester 1\ Standar kompetensi Kompetensi dasar Indicator
1. Memahami lingkungan kehidupan manusia

1.1. Mendeskripsikan bentuk muka bumi, proses pembentukan, dan


dampaknya terhadap kehidupan.

1.1.1. Menguraikan

1.1.2. Menunjukkan

1.1.3. Menjelaskan

1.2. Mendeskripsikan kehidupan pada masa praksara Indonesia

1.2.1. Mengurutkan

1.2.2. Menggambarkan

1.2.3. Menulis Ulang

1.2.4. Menafsirkan

2. Memahami kehidupan social manusia

2.1. Mendeskripsikan interaksi sebagai proses social

28 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
2.1.1. Menjeleskan

2.1.2. Mengkritisi

2.1.3. Memberikan Evaluasi

2.2. Mendeskripsikan sosialisasi sebagai proses pembentukan


kepribadian

2.2.1 Menjalaskan

2.2.2 Membedakan

2.2.3 Mempengaruhi

2.3. Mengidentifikasi bentuk – bentuk intraksi social

2.3.1 Mengidentifikasi

2.3.2 Mengurutkan

2.3.3 Mengamati

2.4. Menguraikan proses interaksi social

3. Memahami usaha manusia memenuhi kebutuhan

3.1. Mendeskripsikan manusia sebagai makhluk social dan ekonomi


yang bermoral dalam kaitannya dengan usaha memenuhi
kebutuhan dan pemanfaatan sumber daya yang tersedia.

3.1.1 Menjelaskan

3.1.2 Mendefinisikan

3.1.3 Menunjukkan

3.1.4 Maramalkan

3.2. Mengidentifikasi tindakan ekonomi berdasarkan motif dan prinsip


ekonomi dalam berbagai kegiatan sehari-hari

3.2.1 Membandingkan

3.2.2 Mengidentifikasi

3.2.3 Menerapkan

29 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
3.2.4 Manafsirkan Untuk memilih kata – kata operasional dalam
indicator, bisa melihat data – data operasional
sebagaimana dikemukakan diatas, dan guru bisa
menambahkan kata – kata operasional untuk mengisi
indicator yang sesuai dengan karakteristik peserta didik,
kebutuhan daerah dan satuan pendidikan masing –
masing. Setelah indicator kompetensi dari kompetensi
dasar yang telah diajarkan telah diidentifikasi selanjutnya
dikembangkan dalam kalimat indicator yang merupakan
karakteristik kompetensi dasar.

2) . Mengembangkan kalimat indikator


Setelah indikator kompetensi dari kompetensi dasar yang akan diajarkan
telah diidentifikasi, selanjutnya dikembangkan dalam kalimat indikator
yang merupakan karakteristik kompetensi dasar, sebagai berikut.

Standar Kompetensi : Memahami lingkungan kehidupan manusia


Kompetensi Dasar :

1.1 Mendeskripsikan keragaman bentuk muka bumi, proses


pembentukan, dan dampaknya terhadap kehidupan Indikator
Kompetensi :

1.1.1 menguraikan keragaman bentuk muka bumi

1.1.2 menunjukkan proses pembentukan muka bumi

1.1.3 menjelaskan dampak keragaman bentuk muka bumi terhadap


kehidupan

3) Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi


Poros utama pelaksanaan pembelajaran adalah mencapai tujuan yang
diharapkan. Tujuan adalah suatu pernyataan yang menggambarkan
perilaku siswa yang guru harapkan setelah menyelesaikan suatu program
pembelajaran tertentu. Pencapaian tujuan dibuktikan dengan pemenuhan
indikator pencapaian. Indikator pencapaian proses dan hasil
menggambarkan prilaku yang terukur atau dapat diamati yang
membuktikan tercapainya kompetensi yang diharapkan.

30 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
Manfaat penggunaan indikator yaitu membantu guru menentukan
keberhasilannya dalam melaksanakan kegiatan. Di samping itu, dengan
memperhatikan indikator pencapaian guru dapat menentukan teknik
dan instrumen evaluasi dan menentukan metode. Indikator bermanfaat
pula untuk siswa yaitu membantu mereka memusatkan perhatian pada
tujuan yang perlu mereka wujudkan. Indikator membantu siswa
menentukan strategi belajar, memilih sumber belajar menggunakan waktu,
serta memperhitungkan daya yang mereka alokasikan.

Indikator hasil belajar harus memenuhi tiga kriteria utama yaitu dirumuskan
dalam kalimat yang jelas, mengandung kepastian makna, dan dapat
diukur. Kejelasan pernyataan mengandung konsekuensi bahwa guru dan
siswa memaknai kalimat dengan makna yang sama. Kepastian
mengandung pengertian tidak menimbulkan makna ganda. Dan, dapat
diukur jika pencapaian perilaku dapat diamati atau diukur
dengan menggunakan instrumen.

Dalam penyusunan indikator perlu memperhatikan kriteria;

 spesifik yaitu hanya mengandung satu prilaku. Contoh pernyataan yang


menggandung satu prilaku; merancang rencana kegiatan. Dalam
penyusunan indikator hasil belajar masih sering didapat beberapa kata
kerja operasional dalam satu indiaktor. Misalnya, menyebutkan dan
menuliskan kalimat. Contoh yang terakhir tentu tidak spesifik
 berorientasi pada siswa yang menggambarkan kompetensi siswa yang
diharapkan
 menggunakan kata kerja operasional
 mencakup ranah sikap, pengetahuan dan keterampilan; serta
memperhatikan.

Dalam perumusan indikator hasil belajar, terutama dalam pelaksanaan


kurikulum 2013 perlu diperhatikan sebaran menurut penguasaan teori.
Tingkat penguasaan teori meliputi :

1) faktual,
2) konseptual,
3) prosedural, dan
4) prinsip

31 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
Berikut contoh indikator yang mencirikan pada tiap level penguasaan.

Rumusan indikator pada level mengingat pada KD 3.9 Melakukan


pemupukan tanaman

 jenis jenis pupuk disebutkan berdasarkan bentuk dan warna pupuk


 definisi pupuk disebutkan berdasarkan atribut warna dan bentuk pupuk
 prosedur pemupukan disebutkan berdasarkan tahapan kegiatan
pemupukan
 prinsip pemupukan disebutkan berdasarkan konsep kesuburan tanah
dan biomasa tanaman yang akan diproduksi.
Rumusan indikator pada level menggunakan sebagai berikut;

 jenis-jenis pupuk dibedakan berdasarkan atribut warna dan bentuk


 prosedur perhitungan kebutuhan pupuk dilakukan sesduai prosedur
 kebutuhan pupuk dihitung berdasarkan konsep kesuburan tanah dan
biomasa tanaman yang diinginkan
 Produktifitas tanaman diprediksi berdasarkan kesuburan tanah dan
jenis serta jumlah pupuk yang diberikan

Penguasaan pengetahuan pada level meta kognitif menunjukkan mampu


menggunakan pengetahuannya untuk merumuskan pikiran sendiri tentang
rencana tindakan yang akan dilakukannya. Belajar tentang bangaimana
cara belajar. Siswa menguasai teknik bagaimana cara belajar melalui
pengembangan inisiatifnya sendiri. Siswa bersikap kritis terhadap caranya
ia berpikir atau mampu berpikir tentang bagaimana cara berpikir. Siswa
mengintegrasikan berbagai kesadaran kognitifnya untuk mengembangkan
pengetahuan, sikap, dan keterampilannya secara mandiri.

Pada bagian akhir tulisan singkat ini, saya ingin menyinggung pentingnya
guru untuk memperhatikan level berpikir dalam indikator yang ditetapkan.
Penerapan kurikulum 2013 dilatari dengan fakta bahwa siswa Indonesia
ketinggalan oleh siswa bangsa lain dalam menguasai kecapaian berpikir
tinggi atau sering diistilahkan HOTS (High Order Thinking Skill) yang
meliputi analisis, evaluasi, dan kreasi pada Taksonomi Bloom.

Level berpikir analisis dapat menggunakan kata kerja operasional:


Menganalisis, Mengaudit, Memecahkan, Menegaskan, Mendeteksi,
Mendiagnosis, Menyeleksi, Memerinci, Menominasikan, Mendiagramkan,

32 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
Mengorelasikan, Merasionalkan, Menguji, Mencerahkan, Menjelajah,
Membagankan, Menyimpulkan, Menemukan, Menelaah, Memaksimalkan,
Memerintahkan, Mengedit, Mengaitkan, Memilih, Mengukur, Melatih,
Mentransfer, Mengabstraksi, Mengatur, Menganimasi, Mengumpulkan,
Mengkategorikan, Mengkode, Mengombinasikan, Menyusun, Mengarang,
Membangun, Menanggulangi, Menghubungkan, Menciptakan,
Mengkreasikan, Mengoreksi, Merancang, Merencanakan, Mendikte,
Meningkatkan, Memperjelas, Memfasilitasi, Membentuk, Merumuskan,
Menggeneralisasi, Menggabungkan.

Level berpikir evaluasi dapat menggunakan kata kerja operasional:


Membandingkan, Menyimpulkan, Menilai, Mengarahkan, Mengkritik,
Menimbang, Memutuskan, Memisahkan, Memprediksi, Memperjelas,
Menugaskan, Menafsirkan, Mempertahankan, Memerinci, Mengukur,
Merangkum, Membuktikan, Mendukung, Memvalidasi, Mengetes, Memilih,
Memproyeksikan.

Level berkreasi dapat menggunakan kata kerja operasional: merancang,


membangun, merencanakan, memproduksi, menemukan, membaharui,
menyempurnakan, memperkuat, memperindah, menggubah.

Dari uraian singkat di atas, dapat dinyatakan bahwa


perumusan pencapaian kompetensi pada kurikulum 2013 mengadung
multi spesifikasi yang merupakan irisan :

 Dimensi ranah kompetensi yang terdiri atas pengetahuan,


keterampilan, sikap.
 Dimensi pengetahuan meliputi pengetahuan faktual, konseptual,
prosedural, dan prinsip (Merill).
 Dimensi mengingat, menggunakan dan mengembangkan (Merill)
 Dimensi level kecakapan berpikir yang meliputi mengingat, memahami,
menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan berkreasi. (Bloom)

3. Mekanisme Pengembangan Indikator

a. Menganalisis Tingkat Kompetensi dalam KD. Langkah pertama pengembangan


indikator adalah menganalisis tingkat kompetensi dalam KD. Hal ini diperlukan
untuk memenuhi tuntutan minimal kompetensi yang dijadikan standar secara
nasional. Sekolah dapat mengembangkan indikator melebihi standar minimal

33 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
tersebut. Tingkat kompetensi dapat dilihat melalui kata kerja operasional yang
digunakan dalam KD. Tingkat kompetensi dapat diklasifikasi dalam tiga bagian,
yaitu tingkat pengetahuan, tingkat proses, dan tingkat penerapan. Kata kerja
pada tingkat pengetahuan lebih rendah dari pada tingkat proses maupun
penerapan. Tingkat penerapan merupakan tuntutan kompetensi paling tinggi
yang diinginkan. Selain tingkat kompetensi, penggunaan kata kerja menunjukan
penekanan aspek yang diinginkan, mencakup sikap, pengetahuan, serta
keterampilan. Pengembangan indikator harus mengakomodasi kompetensi
sesuai tendensi yang digunakan KD. Jika aspek keterampilan lebih menonjol,
maka indikator yang dirumuskan harus mencapai kemampuan keterampilan
yang diinginkan misal KD dari KI 4.

b. Menganalisis Karakteristik Mata Pelajaran, Peserta Didik, dan Sekolah.

Pengembangan indikator mempertimbangkan karakteristik mata pelajaran,


pesertadidik, dan sekolah karena indikator menjadi acuan dalam penilaian.
Sesuai Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005, karakteristik penilaian
kelompok mata pelajaran adalah sebagai berikut. Kelompok Mata Pelajaran
Mata Pelajaran Aspek yang Dinilai Al-Qur’an Hadits Pendidikan Agama Afektif
dan Kognitif Kewarganegaraan dan Pendidikan Kepribadian Kewarganegaraan
Afektif dan Kognitif . Jasmani Olahraga dan Psikomotorik, Afektif, dan
Kesehatan Penjas Orkes Kognitif Estetika Seni Budaya Afektif dan Psikomotorik
Afektif, Kognitif, dan/atau Ilmu Pengetahuan dan Matematika, IPA, IPS
Psikomotorik sesuai karakterTeknologi Bahasa, dan TIK. mata pelajaran Setiap
mata pelajaran memiliki karakteristik tertentu yang membedakan dari
matapelajaran lainnya. Perbedaan ini menjadi pertimbangan penting dalam
mengembangkan indikator. Karakteristik mata pelajaran bahasa yang terdiri dari
aspek mendengar, membaca,berbicara dan menulis sangat berbeda dengan
mata pelajaran matematika yang dominan padaaspek analisis logis. Guru harus
melakukan kajian mendalam mengenai karakteristik matapelajaran sebagai
acuan mengembangkan indikator.

c.Karakteristik mata pelajaran dapat dikaji pada dokumen standar isi mengenai
tujuan, ruang lingkup dan KD masing-masing mata pelajaran. Pengembangan
indikator memerlukan informasi karakteristik peserta didik yang unik dan
beragam. Peserta didik memiliki keragaman dalam intelegensi dan gaya belajar.
Oleh karena itu indikator selayaknya mampu mengakomodir keragaman
tersebut. Pesertadidik dengan karakteristik unik visual-verbal atau psiko-

34 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
kinestetik selayaknya diakomodir dengan penilaian yang sesuai sehingga
kompetensi siswa dapat terukur secara proporsional. Karakteristik sekolah dan
daerah menjadi acuan dalam pengembangan indikator karena target
pencapaian sekolah tidak sama. Sekolah kategori tertentu yang melebihi
standar minimal dapat mengembangkan indikator lebih tinggi. Termasuk
sekolah bertara finternasional dapat mengembangkan indikator dari KD dengan
mengkaji tuntutankompetensi sesuai rujukan standar internasional yang
digunakan. Sekolah dengan keunggulan tertentu juga menjadi pertimbangan
dalam mengembangkan indikator.

d.Menganalisis Kebutuhan dan Potensi

Kebutuhan dan potensi peserta didik, sekolah dan daerah perlu dianalisis untuk
dijadikan bahan pertimbangan dalam mengembangkan indikator.
Penyelenggaraan pendidikan seharusnya dapat melayani kebutuhan peserta
didik, lingkungan, serta mengembangkan potensi peserta didik secara optimal.
Peserta didik mendapatkan pendidikan sesuai dengan potensi dan kecepatan
belajarnya, termasuk tingkat potensi yang diraihnya. Indikator juga harus
dikembangkan guna mendorong peningkatan mutu sekolah dimasa yang akan
datang, sehingga diperlukan informasi hasil analisis potensi sekolah yang
berguna untuk mengembangkan kurikulum melalui pengembangan indikator.

e. Mengembangkan Indikator Penilaian

Indikator penilaian merupakan pengembangan lebih lanjut dari indikator


(indikator pencapaian kompetensi). Indikator penilaian perlu dirumuskan untuk
dijadikan pedoman penilaian bagi guru, peserta didik maupun evaluator di
sekolah. Dengan demikian indikator penilaian bersifat terbuka dan dapat diakses
dengan mudah oleh warga sekolah. Setiap penilaian yang dilakukan melalui tes
dan non-tes harus sesuai dengan indikator penilaian. Indikator penilaian
menggunakan kata kerja lebih terukur dibandingkan dengan indikator (indikator
pencapaian kompetensi). Rumusan indikator penilaian memiliki batasan-
batasan tertentu sehingga dapat dikembangkan menjadi instrumen penilaian
dalam bentuk soal, lembar pengamatan, dan atau penilaian hasil karya atau
produk, termasuk penilaian diri.

f. Alasan Pengembangan Indikator Pengembangan indikator sangat bermanfaat


bagi pendidik maupun peserta didik,beberapa manfaat yang dapat diperoleh
antara lain (Materi Workshop Penulisan Bahan Perkuliahan 2B, 2007) :

35 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
 Memberikan arah bagi pendidik dan peserta didik untuk mencapai tujuan
yang diharapkan
 Memandu pendidik untuk merencanakan pembelajaran,
menyelenggarakan dan mengevaluasi kegiatan belajar mengajar
 Memandu peserta didik untuk belajar dan membantu menentukan prioritas-
prioritas,
 Memungkinkan pendidik untuk menganalisa tingkat efektifitas pembelajaran
yang diselenggarakan,
 Menunjukkan kepada peserta didik tentang sistem nilai yang dilakukan,
 Memandu peserta didik untuk melakukan penilaian mandiri,
 Membuat pembelajaran lebih fokus dan terorganisir,
 Sebagai basis menganalisis tingkat berfikir kognitif yang diharapkan dari
peserta didik, dan

D. Aktivitas Pembelajaran
1. Baca dan fahami tujuan pembelajaran, terutama behavior, degree dan conditionsnya.
2. Baca dan fahami indikator pencapaian kompetensinya
3. Bacalah lembarinformasi dengan menggunakan model SQ3R
Survey : Mengidentifikasi topik dan sub topik pada
lembar informasi
Question : Menanyakan Apa isi dari setiap topik dan sub.
topik
Read : Membaca isi dari topik dan sub. Topik untuk
mampu menjawab pertanyaan tentang apa isi
dari setiap topik dan sub. topik
Recite/Rewrite : Menuliskan isi materi setiap topik dan sub.topik
berdasarkan pengartian anda sendiri setelah
membaca isi msteri tipok dan sub. Topik

Catatan;
Untuk kegiatan memahami isi materi
pembelajaran dengan SQ3R ini Pesertadiklat
dapat menggunakan Software Mind Manager.

36 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
Review : Untuk mendapatkan tanggapan dari teman yang
lainnya, kegiatan review ini dapat dilakukan
dengan model twostay two stray
Gambar proses review;

1 2

4 3

Keterangan:
Perwakilan kelompok yang belanja
ke kelompok yang lain

Perwakilan kelompok yang


menunggu galery

1. Dua orang yang berdiri dari kelompok belanja


ke kelompok yang lain, Penjaga galery
memberikan penjelasan hasil mengkaji isi
materi. Yang belanja dapat memberikan
tanggapan; setuju/ mengurangi bagian
tertentu yang dianggap tidak sesuai/
menambahkan ide yang dirasa belum termuat
.

37 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
Untuk keteraturan gerakan yang belanja
mengikuti arah anak panah sampai kembali
kekelompok
2. Lama waktu berbelanja pada setiaop
kelompok diatur oleh Widyaiswara.
3. Hasil masukan dari kelompok lain diputuskan
oleh kelompok yang bersangkutan

E. Latihan/Kasus/Tugas
Saudara, kita telah selesai mempelajari pengembangan indikator pencapaian kompetensi,
selanjutnya untuk memantapkan pemahaman saudara, kerjakanlah latihan berikut ini.

1. Apa yang Anda ketahui tentang Indikator pencapaian kompetensi


2. Prinsip-prinsip apa yang diperlukan dalan menyusun Indikator pencapaian kompetensi?
3. Bagaimana mekanisme penyusunan indikator pencapaian kompetensi ?

F. Kunci Jawaban
1. Pengertian Indikator. Indikator adalah: Perilaku yang dapat diukur dan atau diobservasi
untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan
penilaian mata pelajaran. Indikator juga disebut sebagai penanda pencapaian KD yang
ditandai oleh perubahan perilakuyang dapat diukur yang mencakup sikap,
pengetahuan, dan keterampilan.

2. Indikator dirumuskan dalam bentuk kalimat dengan menggunakan kata kerja


operasional. Rumusan indikator sekurang-kurangnya mencakup dua hal yaitu tingkat
kompetensi dan materi yang menjadi media pencapaian kompetensi.

Indikator merupakan penanda pencapaian Kompetensi Dasar yang ditandai oleh


perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan
keterampilan.

Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik pesertadidik, mata pelajaran,


satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang
terukur dan/atau dapat diobservasi.

Dalam mengembangkan indikator perlu mempertimbangkan:

a. Tuntutan kompetensi yang dapat dilihat melalui kata kerja yang digunakandalam KD;
dengan mempertimbangkan:

38 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
 Karakteristik mata pelajaran, peserta didik, dan sekolah;
 Potensi dan kebutuhan peserta didik, masyarakat, dan lingkungan/daerah.
Dalam mengembangkan pembelajaran dan penilaian, terdapat dua rumusan
indikator, yaitu:

 indikator pencapaian kompetensi yang dikenal sebagai indikator; dan


 indikator penilaian yang digunakan dalam menyusun kisi-kisi dan menulis soal
yang di kenal sebagai indikator soal.
Indikator dirumuskan dalam bentuk kalimat dengan menggunakan kata kerja
operasional.

b. Rumusan indikator sekurang-kurangnya mencakup dua hal yaitu tingkat


kompetensi dan materi yang menjadi media pencapaian kompetensi.
3. Mekanisme pengembangan Indikator Pencapaian Kompetensi ada dua langkah yang
dapat digunakan.
a. Menganalisis tingkat kompetensi yang digunakan pada KD
Langkah ini dilakukan dengan cara melihat tingkat kompetensi yang terdapat pada
Kompetensi dasar. Kriteria yang dapat dilakukan dengan menganalisis kata kerja
operasional (KKO) yang digunakan oleh KD tersebut. Apabila tingkat kompetensi
pada KD sampai pada level C2 (penerapan) maka indikator yang dikembangkan
harus mencapai kompetensi C2. Hal ini untuk memenuhi tututan minimal dari
kompetensi yang dijadikan acuan untuk mencapai standar nasional.
b. Menganalisis Indikator berdasarkan tingkat Urgensi, Kontinuitas, Relevansi,
Keterpakaian (UKRK ) kompetensi pada KD
Safari (2008: 29-31) menyatakan bahwa indikator terbagi atas dua yaitu indikator
sangat penting dan indikator penunjang. Membedakan antara indicator penting dan
penunjang ditentukan berdasarkan tingkat UKRK pada indicator tersebut. Dengan
itu, UKRK dapat dijadikan kiteria dalam memilih dan memilah ketepatan indicator
yang akan dijadikan indicator penting atau indicator penunjang.
Tingkat urgensi dimaknai bahwa indicator tersebut penting dikuasai oleh peserta
didik. Kontinuitas adalah berkelanjutan, yang juga bermakna bahwa indicator
tersebut akan menjadi dasar bagi indicator selanjutnya atau akan mempunyai
hubungan dengan indicator pada tingkat lanjut. Relevansi bermakna bahwa
indicator tersebut mempunyai hubungan dengan mata pelajaran lain. Keterpakaian
berimplikasi bahwa indicator tersebut memiliki nilai yang aplikatif dalam kehidupan
social dan bermasyarakat peserta didik.

39 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
G. Rangkuman
1. Pengertian Indikator. Indikator adalah: Perilaku yang dapat diukur dan atau diobservasi
untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan
penilaian mata pelajaran. Indikator juga disebut sebagai penanda pencapaian KD yang
ditandai oleh perubahan perilakuyang dapat diukur yang mencakup sikap,
pengetahuan, dan keterampilan. Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik
peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan,potensi daerah dan dirumuskan dalam
kata kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi. Dalam
mengembangkan indikator perlu mempertimbangkan:
a. tuntutan kompetensiyang dapat dilihat melalui kata kerja yang digunakan dalam KD;
b. karakteristik matapelajaran, peserta didik, dan sekolah; dan
c. potensi dan kebutuhan peserta didik,masyarakat, dan lingkungan/ daerah.
2. Prinsip Perumusan Indikator.
Rumusan indikator sekurang-kurangnya mencakup dua hal, yaitu;

a. Tingkat kompetensi dan materi yang menjadi media pencapaian kompetensi, unsur-
unsur secara lengkap dikenal dengan ABCD (Audience, Behavior, Condition, dan
Degree)
Indikator dirumuskan dalam bentuk kalimat dengan menggunakan kata kerja
operasional. Rumusan indikator sekurang-kurangnya mencakup dua hal yaitu
tingkat kompetensi dan materi yang menjadi media pencapaian kompetensi.

Indikator merupakan penanda pencapaian Kompetensi Dasar yang ditandai oleh


perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan
keterampilan.

Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik pesertadidik, mata pelajaran,


satuan pendidikan, potensi daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional
yang terukur dan/atau dapat diobservasi.

Dalam mengembangkan indikator perlu mempertimbangkan:

b. Tuntutan kompetensi yang dapat dilihat melalui kata kerja yang digunakandalam
KD; dengan mempertimbangkan
 Karakteristik mata pelajaran, peserta didik, dan sekolah;
 Potensi dan kebutuhan peserta didik, masyarakat, dan lingkungan/daerah.
Dalam mengembangkan pembelajaran dan penilaian, terdapat dua rumusan
indikator, yaitu:

40 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
 indikator pencapaian kompetensi yang dikenal sebagai indikator; dan
 indikator penilaian yang digunakan dalam menyusun kisi-kisi dan menulis soal
yang di kenal sebagai indikator soal.
Indikator dirumuskan dalam bentuk kalimat dengan menggunakan kata kerja
operasional.

c. Rumusan indikator sekurang-kurangnya mencakup dua hal yaitu tingkat


kompetensi dan materi yang menjadi media pencapaian kompetensi.
3. Mekanisme Pengembangan Indikator
Dalam mengembangkan indikator dari KD ada dua langkah yang dapat digunakan.
a. Menganalisis tingkat kompetensi yang digunakan pada KD
Langkah ini dilakukan dengan cara melihat tingkat kompetensi yang terdapat pada
Kompetensi dasar. Kriteria yang dapat dilakukan dengan menganalisis kata kerja
operasional (KKO) yang digunakan oleh KD tersebut.
b. Menganalisis Indikator berdasarkan tingkat Urgensi, Kontinuitas, Relevansi,
Keterpakaian (UKRK ) kompetensi pada KD
Safari (2008: 29-31) menyatakan bahwa indikator terbagi atas dua yaitu indikator
sangat penting dan indikator penunjang. Membedakan antara indicator penting dan
penunjang ditentukan berdasarkan tingkat UKRK pada indicator tersebut. Dengan
itu, UKRK dapat dijadikan kiteria dalam memilih dan memilah ketepatan indicator
yang akan dijadikan indicator penting atau indicator penunjang.
Tingkat urgensi dimaknai bahwa indicator tersebut penting dikuasai oleh peserta
didik. Kontinuitas adalah berkelanjutan, yang juga bermakna bahwa indicator
tersebut akan menjadi dasar bagi indicator selanjutnya atau akan mempunyai
hubungan dengan indicator pada tingkat lanjut. Relevansi bermakna bahwa
indicator tersebut mempunyai hubungan dengan mata pelajaran lain. Keterpakaian
berimplikasi bahwa indicator tersebut memiliki nilai yang aplikatif dalam kehidupan
social dan bermasyarakat peserta didik.

H. Umpan Balik dan Tindak Lanjut


Anda harus dapat menjawab semua pertanyaan yang ada dalam lembar latihan. mKalau
ada pertanyaan-pertanyaan yang belam dapat Anda jawab dengan benar, seyogyanya
anda pelajari lagi, diskusi dengan teman sejawat yang sudah menguasai sampi Anda
benar-benar bisa.

41 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
BAB IV Kegiatan Pembelajaran 3 Memilih Materi Pembelajaran yang Diampu yang
terkait dengan Pengalaman Belajar dan Tujuan Pembelajaran

A. Tujuan
Pesertadiklat mampu merumuskan materi pembelajaran bila disediakan KD dan tujuan
pembelajaran serta rumusan Indikator pencapaian kompetensi dengan tingkat kebenaran
90%
B. Indikator Pencapaian Kompetensi
1. Menguraikan pemilihan materi pembelajaran yang diampu berdasarkan tujuan
pembelajaran (fakta, konsep, prinsip, prosedur, metakognitif) dengan pengalaman
belajar yang sesuai untuk mencapai aspek kemampuan (pengetahuan, ketrampilan
dan sikap).
2. Memilih materi pembelajaran yang diampu yang terkait dengan tujuan pembelajaran
(fakta, konsep, prinsip, prosedur, metakognitif) dengan pengalaman belajar yang
sesuai untuk mencapai aspek kemampuan (pengetahuan, ketrampilan dan sikap).

C. Uraian Materi

1. Pengertian Desain Materi Pembelajaran


Bahan atau materi pembelajaran (learning materials) adalah segala sesuatu yang
menjadi isi kurikulum yang harus dikuasai oleh siswa sesuai dengan kompetensi dasar
dalam rangka pencapaian standar kompetensi setiap mata pelajaran dalam satuan
pendidikan tertentu. Materi pelajaran merupakan bagian terpenting dalam proses
pembelajaran, bahkan dalam pembelajaran yang berpusat pada materi pelajaran
(subject-centered teaching), mater pelajaran merupakan inti dari kegiatan
pembelajaran. Menurut subject sentered teaching keberhasilan suatu proses
pembelajara ditentukan oleh seberapa banyak siswa dapat menguasai materi
kurikulum. Materi pelajaran dapat dibedakan menjadi :

Pengetahuan (knowledge)

Pengetahuan menunjuk pada informasi yang disampaikan dalampikiran (mind) siswa,


dengan demikian pengetahuan berhubungan dengan berbagai informasi yang harus
dihafal dan dikuasai oleh siswa, sehingga manakala diperlukan siswa dapat
mengungkapkan kembali.

42 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
Keterampilan (skill)

Menunjuk pada tindakan tindakan- tindakan (fisik dan non fisik) yang dilakukan
seseorang dengan cara yang kompeten untuk mencapai tujuan tertentu.

Sikap (attitude)

Sikap menunjuk pada kecerdasan seseorang untuk bertindak sesuai dengan nilai dan
norma yang diyakini keberadaannya oleh siswa.

Membedakan isi materi pelajaran menjadi 4 macam yaitu fakta, konsep, prosedur dan
prinsip.

a. Fakta

Fakta adalah sifat dari segala suatu gejala, peristiwa benda, yang wujudnya dapat
ditangkap oleh panca indra.

Fakta merupakan pengetahuan yang berhubungan dengan data spesifik (tunggal)


baik yang telah maupun yang sedang terjadi yang dapat diuji atau observasi.

Fakta merupakan materi pelajaran yang paling sederhana, karena materi ini
sifatnya hanya mengikat hal-hal yang spesifik.

Contoh : 1. Ibu kota Indonesia adalah Jakara

Merupakan fakta karena pada kenyataannya demikian.

2. Manusia berjalan dengan kakinya

Merupakan fakta yang dapat dirasakan dan dapat dilihat.

b. Konsep

Konsep adalah abstraksi kesamaan atau keterhubungan dari kelompok benda atau
sifat. Suatu konsep memiliki hubungan yang disebut atribut. Atribut adalah sesuatu
yang dimiliki suatu konsep. Gabungan dari berbagai atribut menjadi suatu pembeda
antara satu konsep dengan konsep yang lain.

Contoh : 1. Anak laki-laki merupakan suatu konsep, yang memiliki atribut


tertentu yang berbeda dengan atribut yang dimiliki oleh konsep
anak perempuan.

43 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
Dengan demikian pemahaman tentang konsep harus didahului dengan
pemahaman tentang data dan fakta, sebab atribut itu sendiri pada dasarnya adalah
sejumlah fakta yang terkandung dalam objek.

c. Prosedur

Prosedur adalah materi pelajaran yang berhubungan dengan kemampuan siswa


untuk menjelaskan langkah-langkah secara sistematis tentang sesuatu. Misalnya
prosedur tentang langkah-langkah melakukan suatu percobaan, langkah-langkah
membuat suatu karangan, dan lain sebagainya.

d. Prinsip

hubungan antara dua atau lebih konsep yang sudah teruji secara empiris yang
dinamakan generalisasi yang selanjutnya dapat ditarik kedalam prinsip.

Contohnya :

· prinsip pemupukan tanaman

· prinsip tentang airmendidih

· prinsip tentang penguapan

· prinsip tentang pematangan buah

· dll. “

Disamping jenis materi diatas, ada juga jenis materi pelajaran yang disebut dengan
keterampilan. Keterampilan adalah pola kegiatan yang memiliki tujuan tertentu yang
memerlukan manipulasi dan koordinasi informasi. Keterampilan dapat dibedakan
dalam dua bentuk yaitu:

 Keterampilan Intelektual
keterampilan intelektual adalah keterampilan berfikir melalui usaha menggali,
menyusun dan menggunakan berbagai informasi, baik berupa data, fakta, konsep,
ataupun prinsip dan prosedur.

Contohnya:

 keterampilan memecahkan masalah melalui langkah-langkah yang


sistematis.

44 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
 Keterampilan mengevaluasi suatu program atau mengevaluasi
suatu objek.
 Keterampilan menyusun program kegiatan.
 Keterampilan membuat perencanaan.
 Keterampilan fisik
Keterampilan motorik seperti keterampilan mengoprasikan komputer, keterampilan
mengoperasikan traktor, keterampilan memperbaiki suatu alat, dan lain
sebagainya.

Bahan atau materi pelajaran dapat digolongkan menjadi 4 tingkatan, diantaranya


adalah :

1. Fakta khusus

Fakta khusu adalah bentuk materi sederhana. Fakta khusus ini


biasanya merupakan informasi yang tingkat kegunaannya paling rendah. Misalnya
penduduk miskin di Jawa Barat berkisar antara 1 sampai 1,2 juta jiwa. Penduduk
Jawa Barat biasanya menggunakan waktu untuk mambaca antara 30-45 manit
setiap hari.

2. Ide-ide pokok

Ide-ide pokok bisa berupa prinsip atau generalisasi. Memahami ide pokok mungkin
kita bisa menjelaskan sejumlah gejala spesifik atau sejumlah materi pelajaran.

3. Konsep

Memahami konsep berarti memahami sesuatu yang abstrak sehingga mendorong


anak untuk berfikir lebih mendalam. Konsep akan muncul dalam berbagai konteks,
sehingga pemahaman konsep akan terkait dalam berbagai situasi, misalnya konsep
tentang kemiskinan, kebudayaan, perubahan sosial,, dan lain sebagainya.

4. Sistem berfikir

Sistem berfikir berhubungan dengan kemampuan untuk memecahkan maslah


secara empiris, sistematis dan terkontrol yang kemudian dinamakan berfikir ilmiah.
Setiap disiplin ilmu memiliki sistem berfikir yang sama. Oleh sebab itu materi
tentang sistem berfikir erat kaitannya dengan stuktur keilmuan.

45 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
Tujuan Pembelajaran, Tujuan merupakan satu diantara hal pokok yang harus
diketahui dan disadari oleh seorang guru sebelum mulai mengajar. Guru harus dapat
memberikan penafsiran yang tepat mengenai jenis dan fungsi tujuan yang akan
dicapainya secara kongkrit.
Untuk Taman Kanak-Kanak,tujuan pembelajaran khusus ini disebutnya
kemampuan.Karena kemampuan atau tujuan khusus ini dirumuskan oleh guru,maka
kita harus memahami bagaimana cara merumuskan kemampuan atau tujuan
pembelajaran khusus.Rumusan khusus harus menggunakan kata kerja yang
operasional,dapat diukur dan harus dapat
diamati.Contoh,menyebutkan,menunjukkan,meronce,menghitung,dsb.
Pengertian dan pengelolaan Tujuan Pembelajaran.

Tujuan pembelajaran merupakan titik awal yang sangat penting dalam proses
perencanaan pembelajaran,sehingga baik arti maupun jenis-jenisnya perlu dipahami
betul oleh setiap guru.Sehubungan dengan itu perlu pembahasan lebih lanjut maksud
dari tujuan pembelajaran dan penggolongan tujuan-tujun tersebut.

Jenjang dan Lingkup Tujuan

1. Jenjang tujuan
Tujuan institusional adalah tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh lembaga atau jenis
sekolah. Tujuan umum kulikuler adalah tujuan-tujuan yang pencapaiannya
dibebankan pada masing-masing mata pelajaran.

2. Lingkup Tujuan
Dilihat dari kawasan (domain) atau bidang yang lebih banyak berkenaan dengan
perilaku dalam aspek berfikir/intelektual. Contoh anak dapat mengelompokkan
benda sesuai dengan bentuk, warna ,jenisnya.
Menurut Benyamin S.Bloom,ada 6 tingkatan dalam domain kognitif secara hierarkis
berurutan dari yang paling rendah (pengetahuan) sampai ke yang tinggi (evaluasi).
Uraianya sebagai berikut:
Tingkatan Pengatahuan (Knowledge), pengetahuan diartikan sebagai kemampuan
seseorang dalam menghafal atau mengingat kembali atau mengulang kembali
pengetahuan yang telah diterimanya.
Tingkat Pemahaman (Comprehension),pemahaman disini diartikan kemampuan
seseorang dalam mengartikan ,menafsirkan, menerjemahkan atau menyatakan
sesuatu dengan caranya sendiri tentang pengetahuan yang pernah diterimanya.
Tingkatan Penerapan (Application), penerapan disini diartikan kemampuan
seseorang dalam menggunakan pengetahuan dalam memecahkan berbagai

46 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
masalah yang timbul dalam kehidupan sehari-hari
Tingkatan Analisis (Analysis), aspek ini mengacu pada kemampuan mengkaji atau
menguraikan sesuatu kedalam komponen-komponen atau bagian-bagian yang
lebih spesifik, serta mampu memahami hubungan antara bagian yang satu dengan
lainya, sehingga struktur atau aturanya dapat lebih dipahami

Tingkat Sintesis(Synthesis),sisntesis disini diartikan kemampuan sesorang dalam


mengaitkan dan menyatukan berbagai elemen dan unsure pengetahuan yang ada
sehingga terbentuk pola baru yang lebih menyeluruh

Tingkat Evaluasi(Evaluation), aspek ini mengacu pada kemampuan seseorang


dalam membuat perkiraan atau keputusan yang tepat berdasarkan criteria atau
pengetahuan yang dimiliki.
Tujuan Psikomotorik

Tujuan ini mencakup hal-hal yang berkenaan dengan aspek keterampialn motorik
atau gerak yang bersifat manual dari peserta didik. Urutan dari yang paling
sederhana samapi ke yang paling kompleks (tertinggi) adalah :

a. Persepsi,berkenaan denagn penggunaan indra dalam melakukan kegiatan.


Seperti menghubungkan suara music dengan tarian tertentu.

b. Kesiapan melakukan suatu kegiatan, kesiapan berkenaan dengan kegiatan


melakukan sesuatu kegiatan, termasuk dalamnya kesiapan mental, fisik, dan
kesiapan emosi untuk melakukan suatu tindakan.

c. Mekanisme, berkenaan dengan penampilan respons yang sudah dipelajari dan


menjadi kebiasaan, sehingga gerakan yang ditampilkan menunjukkan kepada
suatu kemahiran.

5. Permendikbud N0. 81 A tahun 2013 lampiran IV tentang implementasi kurikulum

Menjelaskan bahwa Proses pembelajaran terdiri atas lima pengalaman belajar pokok
yaitu:
a. Mengamati
b. Bertanya
c. Mengumpulkan informasi
d. Mengasosiasi
e. Mengkomunikasikan

47 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
D. Aktivitas Pembelajaran
Baca dan fahami tujuan pembelajaran, terutama behavior, degree dan conditionsnya.
Baca dan fahami indikator pencapaian kompetensinya
Bacalah lembarinformasi dengan menggunakan model SQ3R
Survey : Mengidentifikasi topik dan sub topik pada
lembar informasi
Question : Menanyakan Apa isi dari setiap topik dan sub.
topik
Read : Membaca isi dari topik dan sub. Topik untuk
mampu menjawab pertanyaan tentang apa isi
dari setiap topik dan sub. topik
Recite/Rewrite : Menuliskan isi materi setiap topik dan sub.topik
berdasarkan pengartian anda sendiri setelah
membaca isi msteri tipok dan sub. Topik

Catatan;
Untuk kegiatan memahami isi materi
pembelajaran dengan SQ3R ini Pesertadiklat
dapat menggunakan Software Mind Manager.
Review : Untuk mendapatkan tanggapan dari teman yang
lainnya, kegiatan review ini dapat dilakukan
dengan model twostay two stray

48 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
Gambar proses review;

1 2

4 3

Keterangan:
Perwakilan kelompok yang belanja
ke kelompok yang lain

Perwakilan kelompok yang


menunggu galery

1. Dua orang yang berdiri dari kelompok


belanja ke kelompok yang lain, Penjaga
galery memberikan penjelasan hasil
mengkaji isi materi. Yang belanja dapat
memberikan tanggapan; setuju/ mengurangi
bagian tertentu yang dianggap tidak sesuai/
menambahkan ide yang dirasa belum
termuat .
Untuk keteraturan gerakan yang belanja
mengikuti arah anak panah sampai kembali
kekelompok

49 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
 Lama waktu berbelanja pada setiaop
kelompok diatur oleh Widyaiswara.
 Hasil masukan dari kelompok lain diputuskan
oleh kelompok yang bersangkutan

E. Latihan/Kasus/Tugas
Saudara, kita telah selesai mempelajari pengembangan potensi perkembangan moral dan
emosi, selanjutnya untuk memantapkan pemahaman saudara, kerjakanlah latihan berikut
ini.

1. Mengapa diperlukan peningkatan potensi perkembangan moral peserta didik ?


2. Ada berapa cara untuk melakukan peningkatan perkembangan moral peserta didik ?
3. Bagaimana prinsip pengembangan potensi moral menurut saudara ?
4. Ada berapa hal yang harus diperhatikan dalam pengembangan potensi emosi peserta
didik ?

F. Kunci Jawaban

1. Pengembangan moral sangat diperlukan dalam rangka menjadikan peserta didik


sebagai manusia yang seutuhnya dimana dimensi moral juga merupakan unsur penting
dalam pembentukan keutuhan kepribadian pesertadidik.

2. Ada 7 cara, yaitu : memberi contoh, memberikan reward, memberikan motivasi,


mengajak praktek langsung, memberikan hukuman dengan semangat mendidik, dan
tidak segan untuk memberikan peringatan setiap waktu.

3. Prinsip dalam pengembangan moral adalah menumbuhkan kesadaran dan penalaran


moral peserta didik. Sebab betapapun bermanfaatnya suatu perilaku moral terhadap
nilai kemanusiaan, namun jika perilaku tersebut tidak disertai dan didasarkan pada
penalaran moral, maka perilaku tersebut belum dapat dikatakan sebagai perilaku moral
yang mengandung nilai moral. Dengan demikian, suatu perilaku moral dianggap
memiliki nilai moral jika perilaku tersebut dilakukan secara sadar atas kemauan sendiri
dan bersumber dari pemikiran atau penalaran moral yang bersifat otonom (Kohlberg,
1971). Penumbuhan kesadaran ini dapat dilaksanakan pesertadidik melalui pendidikan
moral dan agama dan dilakukan sejak kecil di lingkungan keluarga, sekolah dan
masyarakat secara terpadu.

50 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
4. Dalam pengembangan potensi emosi maka kecerdasan emosi merupakan tujuan yang
perlu dijadikan pertimbangan utama. Sebab kecerdasan emosi merupakan penentu
keberhasilan hidup peserta didik baik dalam akademik maupun non akademik.

G. Umpan Balik
Kalau Jawaban Anda masih ada yang belum tepat, maka dianjurkan Anda belajar lagi,
diskusi dengan teman Anda yang sudah berkompeten, mengerjakan latihan lagi sampai
Anda mastery.

H. Rangkuman
Dalam mengembangkan potensi moral pada pesertadidik sebaiknya orang tua
memberikan pembelajaran tentang moral sejak masih kecil agar pesertadidik tersebut
tumbuh dengan moral yang baik. Prinsip dalam pengembangan moral adalah
menumbuhkan kesadaran dan penalaran moral peserta didik. Sebab betapapun
bermanfaatnya suatu perilaku moral terhadap nilai kemanusiaan, namun jika perilaku
tersebut tidak disertai dan didasarkan pada penalaran moral, maka perilaku tersebut belum
dapat dikatakan sebagai perilaku moral yang mengandung nilai moral. Dengan demikian,
suatu perilaku moral dianggap memiliki nilai moral jika perilaku tersebut dilakukan secara
sadar atas kemauan sendiri dan bersumber dari pemikiran atau penalaran moral yang
bersifat otonom (Kohlberg, 1971). Penumbuhan kesadaran ini dapat dilaksanakan
pesertadidik melalui pendidikan moral dan agama dan dilakukan sejak kecil di lingkungan
keluarga, sekolah dan masyarakat secara terpadu.

Konsep secara umum untuk memanfaatkan potensi emosional agar berdampak positif
terhadap lingkungan melalui dua dimensi yaitu mengendalikan emosi dan disiplin.
Mengendalikan emosi berarti seseorang mampu mengenali/memahami serta mengelola
emosinya, sedangkan kedisiplinan adalah melakukan hal-hal yang harus dilakukan secara
ajeg dan teratur dalam upaya mencapai tujuan atau sasaran kita. Lingkungan memiliki
peran yang penting bagi pengembangan emosi pesertadidik. Lingkungan keluarga,
sekolah dan masyarakat memberikan kontribusi pada penyediaan pengalaman langsung
untuk pengembangan emosi peserta didik. Dengan demikian terdapat kepentingan untuk
mendesain lingkungan agar memberikan pengalaman yang baik dalam pengembangan
emosi peserta didik.

51 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
BAB V Kegiatan Pembelajaran 4 Memilih Materi Pembelajaran yang Diampu yang
Terkait dengan Pengalaman Belajar dan Tujuan Pembelajaran

A. Tujuan
Pesertadiklat mampu menjelaskan pemilihan materi pembelajaran yang diampu yang
terkait dengan pengalaman belajar dan tujuan pembelajaran bila disediakan tujuan
pembelajaran dan pengalaman belajar

B. Indikator Pencapaian Kompetensi


1 Menguraikan pemilihan materi pembelajaran yang diampu berdasarkan tujuan
pembelajaran (fakta, konsep, prinsip, prosedur, metakognitif) dengan pengalaman
belajar yang sesuai untuk mencapai aspek kemampuan (pengetahuan, ketrampilan
dan sikap).
2. Memilih materi pembelajaran yang diampu yang terkait dengan tujuan pembelajaran
(fakta, konsep, prinsip, prosedur, metakognitif) dengan pengalaman belajar yang
sesuai untuk mencapai aspek kemampuan (pengetahuan, ketrampilan dan sikap).

C. Uraian Materi

1. Pengertian dan persyaratan materi


Materi pembelajaran merupakan unsur belajar yang penting mendapat perhatian oleh
guru. Materi pelajaran merupakan medium untuk mencapai tujuan pembelajaran
yang dipelajari oleh pesertadidik. Karena itu, penentuan materi pelajaran mesti
berdasarkan tujuan yang hendak di capai

Salah satu faktor penting yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan


pembelajaran secara keseluruhan adalah kemampuan dan keberhasilan guru
merancang materi pembelajaran. Materi Pembelajaran pada hakekatnya merupakan
bagian tidak terpisahkan dari Silabus, yakni perencanaan, prediksi dan proyeksi
tentang apa yang akan dilakukan pada saat Kegiatan Pembelajaran

Secara garis besar dapat dikemukakan bahwa Materi pembelajaran (instructional


materials) adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dikuasai peserta
didik dalam rangka memenuhi kompetensi yang ditetapkan. Materi pembelajaran
menempati posisi yang sangat penting dari keseluruhan kurikulum, yang harus
dipersiapkan agar pelaksanaan pembelajaran dapat mencapai sasaran. Sasaran
tersebut harus sesuai dengan Kompetensi Dasar yang harus dicapai oleh peserta

52 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
didik. Artinya, materi yang ditentukan untuk kegiatan pembelajaran hendaknya materi
yang benar-benar menunjang tercapainya kompetensi dan kompetensi dasar, serta
tercapainya indikator

Ada beberapa hal yang harus di perhatikan dalam menetapkan materi pelajaran
diantaranya;

 Materi pelajaran harus sesuai dan menunjang tercapainya tujuan instruksional


 Materi pelajaran hendaknya sesuai dengan tingkat pendidikan atau
perkembangan pesertadidik pada umumnya
 Menetapkan materi pembelajaran harus serasi dengan urutan tujuan.
Urutan materi pelajaran hendaknya memperhatikan kesinambungan (kontinuitas)
 Materi pelajaran di susun dari hal yang sederhana menuju yang komplek, dari
yang mudah menuju yang sulit, dari yang konkret menuju yang abstark. Dengan
cara ini pesertadidik akan mudah memahaminya
 Materi pelajaran hendaknya mencakup hal-hal yang bersifat factual maupun
konseptual
Aspek – Aspek Materi

Kalau kita mempelajari lebih dalam mengetahui materi pelajaran ,maka kita akan
dapat melihat adanya berbagai aspek yang antara lain : konsep fakta, proses , nilai
keterampilan , bahkan juga terdapat sejumlah masalah-masalah yang ada kaitannya
dengan kehidupan masyarakat

Istilah – istilah jenis materi pembelajaran

a. Konsep adalah suatu idea tau gagasan atau suatu pengertian yang umum,
misalnya meliputi definisi burung pada garis besarnya ialah “unggas yang bisa
terbang”.
b. Prinsip adalah suatu kebenaran dasar sebagai titik tolak untuk berpikir atau
merupakan suatu petunjuk untuk berbuat / melaksanakan sesuatu , meliputi dalil,
rumus, postulat, teorema Contoh Prinsip ketersediaan unsur hara dalam tanak
c. Fakta adalah sesuatu yang telah terjadi atau yang telah
dikerjakan/dialami.Mungkin berupa hal , objek atau keadaan.Jadi bukan sesuatu
yang diinginkan atau pendapat atau teori
d. Proses adalah serangkaian perubahan , gerakan – gerakan perkembangan .
Suatu proses dapat terjadi secara sadar tidak disadari. Dapat juga merupakan
cara melaksanakan kegiatan operasional (misalnya di pabrik) atau proses

53 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
Pembuatan tempe, proses perubahan warna pada daun yang kena hama wereng
dan sebagainya
e. Nilai adalah suatu pola, ukuran atau merupakan suatu tipe atau model . Umumnya
nilai bertalian dengan pengakuan atau kebenaran yang bersifat umum, tentang
baik atau buruk
f. Keterampilan adalah kemampuan berbuat sesuatu dengan baik. Berbuat dapat
berarti secara jasmaniah ( menulis, berbicara dan sebagainya) Biasanya kedua
aspek tersebut tidak terlepas satu sama lain
Aspek – aspek tersebut , perlu menjadi dasar pertimbangan dalam menentukan
bahan pelajaran dan rinciannya. Sesuatu satuan bahasan yang telah ditentukan
perlu dianalisis lebih lanjut tentang konsep- konsep apa yang terkandung dalam topic
tersebut, prinsip – prinsip apa yang perlu disampaikan dan seterusnya

2. Prinsip-Prinsip Penentuan Materi


a. Relevansi artinya kesesuaian Prinsip-prinsip yang dijadikan dasar dalam
menentukan materi pembelajaran adalah kesesuaian (relevansi), keajegan
(konsistensi), dan kecukupan (adequacy)
Materi pembelajaran hendaknya relevan dengan pencapaian pencapaian
kompetensi dasar. Jika kemampuan yang diharapkan dikuasai peserta didik
berupa menghafal fakta, maka materi pembelajaran yang diajarkan harus berupa
fakta, bukan konsep atau prinsip ataupun jenis materi yang lain. Misalnya :
kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik adalah ” KD 3.9 dari KI 3 pada
Agroteknologi Budidaya Tanaman maka materinya berdasarkan silabusnya
adalah:

54 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
Gambar 2. Kebutuhan materi pada KD 3.9 KI 3 Melakukan Pemupukan Tanaman

b. Konsistensi artinya keajegan


Jika kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik ada KD 3.9 KI 3
Melakukan Pemupukan Tanaman yang membutuhkan materi; Fakta kondisi
tanaman, konsep unsur hara, definisi dosis dan konsentrasi pemupukan, Prosedur
teknik pemupukan tanaman, prinsip faktor-faktor yang mempengaruhi
pemupukan, prinsip perhitungan kebutuhan pupuk, menggunakan prinsip-prinsip
untuk mengontrol, mengalikan, mengevaluasi pemberian pupuk.
Maka materi yang diajarkan juga harus Fakta kondisi tanaman, konsep unsur
hara, definisi dosis dan konsentrasi pemupukan, Prosedur teknik pemupukan
tanaman, prinsip faktor-faktor yang mempengaruhi pemupukan, prinsip
perhitungan kebutuhan pupuk, menggunakan prinsip-prinsip untuk mengontrol,
mengalikan, mengevaluasi pemberian pupuk.
c. Adequacy artinya kecukupan
Materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam membantu peserta didik
menguasai kompetensi dasar yang diajarkan. Materi tidak boleh terlalu sedikit,
dan tidak boleh terlalu banyak. Jika terlalu sedikit maka kurang membantu
tercapainya kompetensi dan kompetensi dasar. Sebaliknya, jika terlalu banyak
maka akan mengakibatkan keterlambatan dalam pencapaian target kurikulum
(pencapaian keseluruhan KD)

55 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
Adapun dalam pengembangan materi pembelajaran guru harus mampu
mengidentifikasi Materi Pembelajaran dengan mempertimbangkan hal-hal di bawah
ini

 potensi peserta didik


 relevansi dengan karakteristik daerah
 tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta
didik
 kebermanfaatan bagi peserta didik
 struktur keilmuan
 aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran
 relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan; dan
 alokasi waktu

3. Kriteria Pemilihan Materi Pelajaran


Materi pelajaran berada dalam ruang lingkup isi kurikulum. Karena itu , pemilihan
materi pelajaran tentu saja harus sejalan dengan ukuran – ukuran (criteria) yang
digunakan untuk memilih isi kurikulum bidang studi bersangkutan. Kriteria pemilihan
materi pelajaran yang akan dikembangkan dalam system instuksional dan yang
mendasari penentuan strategi belajar mengajar

4. Kriteria tujuan istruksional


Suatu materi pelajaran yang terpilih dimaksudkan untuk mencapai tujuan instruksional
khusus atau tujuan – tujuan tingkah laku. Karena itu, materi tersebut supaya sejalan
dengan tujuan – tujuan yang telah dirumuskan

5. Materi pelajaran supaya terjabar


Perincian materi pelajaran berdasarkan pada tuntutan dimana setiap TIK telah
dirumuskna secara spesifik , dapat diamati dan terukur. Ini berarti terdapat keterkaitan
yang erat antara spesifikasi tujuan dan spesifikasi materi pelajaran

6. Relevan dengan kebutuhan pesertadidik


Kebutuhan pesertadidik yang pokok adalah bahwa mereka ingin berkembang
berdasarkan potensi yang dimilikinya. Karena berkembang berdasarkan potensi yang
dimilikinya

56 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
Karena setiap materi pelajaran yang akan disajikan hendaknya sesuai dengan usaha
untuk mengembangkan pribadi pesertadidik secara bulat dan utuh. Beberapa aspek
di antaranya adalah pengetahuan ,sikap, nilai dan keterampilan

7. Kesesuaian dengan kondisi masyarakat.


Pesertadidik dipersiapkan untuk menjadi warga masyarakat yang berguna dan mampu
hidup mandiri. Dalam hal ini, materi pelajaran yang dipilih hendaknya turut membantu
mereka memberikan pengalaman edukatif yang bermakna bagi perkembangan
mereka menjadi manusia yang mudah menyesuaikan diri.

8. Materi pelajaran mengandung segi-segi etik


Materi pelajaran yang akan dipilih hendaknya mempertimbangkan segi perkembangan
moral pesertadidik kelak.Pengetahuan dan keterampilan yang bakal mereka peroleh
dari materi pembelajaran yang telah mereka terima di arahkan untuk mengembangkan
dirinya sebagai manusia yang etik sesuai dengan system nilai dan norma-norma yang
berlaku di masyarakatnya

9. Materi pelajaran tersusun dalam ruang lingkup dan urutan yang sistematik dan logis
Setiap materi pelajaran disusun secara bulat dan menyeluruh, terbatas ruang
lingkupnya dan terpusat pada satu topic masalah tertentu. Materi disusun secara
berurutan dengan mempertimbangkan factor perkembangan psikologis pesertadidik .
Dengan cara ini diharapkan isi materi tersebut akan lebih mudah diserap oleh si
pesertadidik dan dapat segera dilihat keberhasilannya

Materi pelajaran bersumber dari buku sumber yang baku, pribadi guru yang ahli, dan
masyarakat. Ketiga facktor ini perlu diperhatikan dalam memilih materi pelajaran .
Buku sumber yang baku umumnya disusun oleh para ahli dalam bidangnya dan
disusun berdasarkan GBPP yang berlaku, kendatipun belum tentu lengkap
sebagaimana yang diharapkan. Guru yang ahli penting, oleh sebab sumber utama
memang adalah guru itu sendiri. Guru dapat menyimak semua hal yang dianggapnya
perlu utuk disajikan kepada para pesertadidik berdasarkan ukuran pribadianya.
Masyarakat juga merupakan sumber yang luas,bahkan dapat dikatakan sebagai
materi belajar yang paling besar

57 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
10. Langkah-Langkah Penentuan Materi Pembelajaran
a. Identifikasi kompetensi dasar
Sebelum menentukan materi pembelajaran terlebih dahulu perlu di identifikasi
aspek- aspek keutuhan kompetensi yang harus dipelajari atau dikuasai peserta
didik. Aspek tersebut perlu ditentukan, karena setiap kompetensi dan kompetensi
dasar memerlukan jenis materi yang berbeda-beda dalam kegiatan pembelajaran.
Harus ditentukan apakah kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dikuasai
peserta didik termasuk ranah kognitif, psikomotor ataukah afektif

b. Identifikasi Jenis-Jenis Materi Pembelajaran


Identifikasi dilakukan berkaitan dengan kesesuaian materi pembelajaran dengan
tingkatan aktivitas/ranah pembelajarannya. Materi yang sesuai untuk ranah
kognitif ditentukan berdasarkan perilaku yang menekankan aspek
intelektual,seperti pengetahuan, pengertian,dan keterampilan berpikir
Materi yang akan dibelajarkan perlu diidentifikasi secara tepat agar pencapaian
kompetensinya dapat diukur. Di samping itu, dengan mengidentifikasi jenis-jenis
materi yang akan dibelajarkan,maka guru akan mendapatkan ketepatan dalam
metode pembelajarannya. Sebab,setiap jenis materi pembelajaran memerlukan
strategi, metode, media, dan sistem evaluasi yang berbeda-beda

c. Memilih jenis materi yang sesuai dengan kompetensi dan kompetensi


dasar
Cara yang paling mudah untuk menentukan jenis materi pembelajaran yang
akan dibelajarkan adalah dengan mengetahui tentang kompetensi dasar yang
harus dikuasai peserta didik. Dengan mengacu pada kompetensi dasar, kita akan
mengetahui apakah materi yang harus kita belajarkan berupa fakta,konsep,
prinsip, prosedur, aspek sikap, atau keterampilan motorik
Kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik berupa kemampuan untuk
menyatakan suatu definisi ,menuliskan ciri khas sesuatu, mengklasifikasikan atau
mengelompokkan beberapa contoh objek sesuai dengan suatu definisi. Berarti
materi yang diajarkan adalah “konsep”

d. Memilih Sumber Bahan Ajar


Setelah jenias materi ditentukan langkah berikutnya adalah menentukan sumber
bahan ajar. Materi pembelajaran atau bahan ajar dapat kita temukan dari berbagai
sumber seperti buku pelajaran , internet dan sebagainya. Berdasarkan jenis

58 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
materi pada KD 3.9 maka sumber belajar dapat dianalisis seperti pada tabel 2.
Sebagai berikut

Tabel 2 Hubungan materi dan sumber belajar

No MATERI SUMBER BELAJAR

1 Fakta kondisi tanaman Wahana diklat Lahan


budidaya

2 konsep unsur hara Laboratorium/kelas

3 definisi dosis dan konsentrasi Kelas/perpustakaan


pemupukan

4 Prosedur teknik pemupukan tanaman Kelas dan Lahan


Wahana diklat

5 prinsip faktor-faktor yang Kelas/perpustakaan


mempengaruhi pemupukan

6 prinsip perhitungan kebutuhan pupuk Perpustakaan,


kelas,internet

7 menggunakan prinsip-prinsip untuk Wahana diklat kebun


mengontrol, mengalikan, budidaya
mengevaluasi pemberian pupuk.

8 Melaksanakan kegiatan pemupukan Waha diklat kebun


budidaya

11. Penentuan Cakupan Dan Urutan Penyajian Bahan Ajar


Bahan ajar merupakan informasi, alat dan teks yang diperlukan
guru/instruktur untuk perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran.
Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/
instruktur dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas

59 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
a. Penentuan Cakupan Bahan Ajar
Dalam menentukan cakupan atau ruang lingkup materi pembelajaran harus
memperhatikan beberapa aspek berikut
1) Aspek kognitif (dimensi proses kognitif mencakup
mengingat,memahami,menerapkan ,menganalisis,mengevaluasi dan
menciptakan, dan dimensi pengetahuan mencakup fakta, konsep, prinsip,
prosedur,), aspek afektif, ataukah aspek psikomotor, karena ketika sudah
diimplementasikan dalam proses pembelajaran maka tiap-tiap jenis uraian
materi tersebut memerlukan strategi dan media pembelajaran yang
berbeda-beda.
Selain memperhatikanjenis materi juga harus memperhatikan prinsip-
prinsip
yang perlu digunakan dalam menentukan cakupan materi pembelajaran
yang menyangkut keluasan dan kedalaman materinya
2) Keluasan cakupan materi berarti menggambarkan seberapa banyak
materi-materi yang dimasukkan ke dalam suatu materi pembelajaran.
Kedalaman materi menyangkut rincian konsep-konsep yang terkandung di
dalamnya yang harus dipelajari oleh peserta didik
3) Kecukupan (adequacy) atau memadainya cakupan materi juga perlu
diperhatikan. Memadainya cakupan aspek materi dari suatu materi
pembelajaran akan sangat membantu tercapainya penguasaan
kompetensi dasar yang telah ditentukan.Cakupan atau ruang lingkup
materi perlu ditentukan untuk mengetahui apakah materi yang akan
diajarkan terlalu banyak, terlalu sedikit, atau telah
memadai sehingga terjadi kesesuaian dengan kompetensi dasar yang
ingin dicapai.

b. Urutan Penyajian Bahan Pembelajaran


Urutan penyajian berguna untuk menentukan urutan proses pembelajaran.
Tanpa urutan yang tepat, jika di antara beberapa materi pembelajaran
mempunyai hubungan yang bersifat prasyarat (prerequisite) akan menyulitkan
peserta didik dalam mempelajarinya. Misalnya, materi operasi bilangan
penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Peserta didik akan
mengalami kesulitan mempelajari pengurangan jika materi penjumlahan belum
dipelajari. Peserta didik akan mengalami kesulitan melakukan pembagian jika
materi perkalian belum dipelajari

60 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
12. Cara pemilihan materi
Dengan mengacu pada syarat dari materi pelajaran, ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam memilih atau menetapkan materi pelajaran;
a. Tujuan pengajaran
Materi pelajaran hendaknya ditetapkan dengan mengacu pada tujuan – tujuan
instruksional yang ingin dicapai
b. Pentingnya bahan
Materi yang diberikan hendaknya merupakan bahan yang betul – betul penting ,
baik dilihat dari tujuan yang ingin dicapai maupun fungsinya untuk mempelajari
bahan berikutnya
c. Nilai praktis
Materi yang dipilih hendaknya bermakna bagi para pesertadidik , dalam arti
mengandung bilai praktis atau bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari
d. Tingkat perkembangan peserta didik
Kedalaman materi yang dipilih hendaknya ditetapkan dengan memperhitungkan
tingkat perkembangan berpikir pesertadidik yang bersangkutan, dalam hal ini
biasanya telah dipertimbangkan dalam kurikulum sekolah yang bersangkutan
e. Tata urutan
Materi yang diberikan hendaknya ditata dalam urutan yang memudahkan
dipelajarinya keseluruhan materi oleh peserta didik atau pesertadidik

D. Aktivitas Pembelajaran
Baca dan fahami tujuan pembelajaran, terutama behavior, degree dan conditionsnya.
Baca dan fahami indikator pencapaian kompetensinya
Bacalah lembarinformasi dengan menggunakan model SQ3R
Survey : Mengidentifikasi topik dan sub topik pada
lembar informasi
Question : Menanyakan Apa isi dari setiap topik dan sub.
topik
Read : Membaca isi dari topik dan sub. Topik untuk
mampu menjawab pertanyaan tentang apa isi
dari setiap topik dan sub. topik
Recite/Rewrite : Menuliskan isi materi setiap topik dan sub.topik
berdasarkan pengartian anda sendiri setelah
membaca isi msteri tipok dan sub. Topik

61 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
Catatan;
Untuk kegiatan memahami isi materi
pembelajaran dengan SQ3R ini Pesertadiklat
dapat menggunakan Software Mind Manager.
Review : Untuk mendapatkan tanggapan dari teman yang
lainnya, kegiatan review ini dapat dilakukan
dengan model twostay two stray
Gambar proses review;

1 2

4 3

Keterangan:
Perwakilan kelompok yang belanja
ke kelompok yang lain

Perwakilan kelompok yang


menunggu galery

1. Dua orang yang berdiri dari kelompok


belanja ke kelompok yang lain, Penjaga
galery memberikan penjelasan hasil
mengkaji isi materi. Yang belanja dapat
memberikan tanggapan; setuju/ mengurangi
bagian tertentu yang dianggap tidak sesuai/

62 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
menambahkan ide yang dirasa belum
termuat .
Untuk keteraturan gerakan yang belanja
mengikuti arah anak panah sampai kembali
kekelompok
 Lama waktu berbelanja pada setiaop
kelompok diatur oleh Widyaiswara.
 Hasil masukan dari kelompok lain diputuskan
oleh kelompok yang bersangkutan

E.Latihan/Kasus/Tugas
Saudara, kita telah selesai mempelajari Memilih materi pembelajaran yang diampu yang
terkait dengan pengalaman belajar dan tujuan pembelajaran

1. Apa definmisi pemilihan materi pembelajaran?


2. Bagaimana prinsip pemilihan materi pembelajaran menurut saudara ?
3. Bagaimana prosedur pemilihan materi pembelajaran ?

F. Kunci Jawaban

1. Bahan atau materi pembelajaran (learning materials) adalah segala sesuatu yang
menjadi isi kurikulum yang harus dikuasai oleh siswa sesuai dengan kompetensi dasar
dalam rangka pencapaian standar kompetensi setiap mata pelajaran dalam satuan
pendidikan tertentu. Materi pelajaran merupakan bagian terpenting dalam proses
pembelajaran, bahkan dalam pembelajaran yang berpusat pada materi pelajaran
(subject-centered teaching), mater pelajaran merupakan inti dari kegiatan
pembelajaran.

2.Prinsip-prinsip pemilihan materi pembelajaran

a. Relevansi artinya kesesuaian Prinsip-prinsip yang dijadikan dasar dalam


menentukan materi pembelajaran adalah kesesuaian (relevansi), keajegan
(konsistensi), dan kecukupan (adequacy)
b. Materi pembelajaran hendaknya relevan dengan pencapaian pencapaian
kompetensi dasar.
c. Konsistensi artinya keajegan
Jika kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik ada KD 3.9 KI 3 Melakukan
Pemupukan Tanaman yang membutuhkan materi; Fakta kondisi tanaman, konsep

63 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
unsur hara, definisi dosis dan konsentrasi pemupukan, Prosedur teknik pemupukan
tanaman, prinsip faktor-faktor yang mempengaruhi pemupukan, prinsip perhitungan
kebutuhan pupuk, menggunakan prinsip-prinsip untuk mengontrol, mengalikan,
mengevaluasi pemberian pupuk.
Maka materi yang diajarkan juga harus sama dengan hasil rumusan materi.
d. Adequacy artinya kecukupan
Materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam membantu peserta didik
menguasai kompetensi dasar yang diajarkan.

3. Langkah-Langkah Penentuan Materi Pembelajaran


a. Identifikasi kompetensi dasar
Sebelum menentukan materi pembelajaran terlebih dahulu perlu di identifikasi
aspek- aspek keutuhan kompetensi yang harus dipelajari atau dikuasai peserta
didik.

b. Identifikasi Jenis-Jenis Materi Pembelajaran


Identifikasi dilakukan berkaitan dengan kesesuaian materi pembelajaran dengan
tingkatan aktivitas/ranah pembelajarannya.
c. Materi yang akan dibelajarkan perlu diidentifikasi secara tepat agar pencapaian
kompetensinya dapat diukur.
d. Memilih jenis materi yang sesuai dengan kompetensi dan kompetensi
dasar
e. Kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik berupa kemampuan untuk
menyatakan suatu definisi ,menuliskan ciri khas sesuatu, mengklasifikasikan atau
mengelompokkan beberapa contoh objek sesuai dengan suatu definisi.
f. Memilih Sumber Bahan Ajar
Setelah jenias materi ditentukan langkah berikutnya adalah menentukan sumber
bahan ajar.

64 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
G. Rangkuman
a. Pengetian Pemilihan materi pembelajaran

Bahan atau materi pembelajaran (learning materials) adalah segala sesuatu yang
menjadi isi kurikulum yang harus dikuasai oleh siswa sesuai dengan kompetensi dasar
dalam rangka pencapaian standar kompetensi setiap mata pelajaran dalam satuan
pendidikan tertentu. Materi pelajaran merupakan bagian terpenting dalam proses
pembelajaran, bahkan dalam pembelajaran yang berpusat pada materi pelajaran
(subject-centered teaching), mater pelajaran merupakan inti dari kegiatan
pembelajaran.

b.Prinsip pemilihan materi

1) Relevansi artinya kesesuaian Prinsip-prinsip yang dijadikan dasar dalam


menentukan materi pembelajaran adalah kesesuaian (relevansi), keajegan
(konsistensi), dan kecukupan (adequacy)
2) Materi pembelajaran hendaknya relevan dengan pencapaian kompetensi dasar. Jika
kemampuan yang diharapkan dikuasai peserta didik berupa menghafal fakta, maka
materi pembelajaran yang diajarkan harus berupa fakta, bukan konsep atau prinsip
ataupun jenis materi yang lain.
3) Konsistensi artinya keajegan
Jika kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik ada KD 3.9 KI 3 Melakukan
Pemupukan Tanaman yang membutuhkan materi; Fakta kondisi tanaman, konsep
unsur hara, definisi dosis dan konsentrasi pemupukan, Prosedur teknik pemupukan
tanaman, prinsip faktor-faktor yang mempengaruhi pemupukan, prinsip perhitungan
kebutuhan pupuk, menggunakan prinsip-prinsip untuk mengontrol, mengalikan,
mengevaluasi pemberian pupuk.
Maka materi yang diajarkan juga harus sama dengan materi hasil analisis kebutuhan
materi.
4) Adequacy artinya kecukupan
Materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam membantu peserta didik
menguasai kompetensi dasar yang diajarkan.
4. Prosedur Penentuan Materi Pembelajaran
 Identifikasi kompetensi dasar
Sebelum menentukan materi pembelajaran terlebih dahulu perlu di identifikasi
aspek- aspek keutuhan kompetensi yang harus dipelajari atau dikuasai peserta
didik.

65 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
 Identifikasi Jenis-Jenis Materi Pembelajaran
Identifikasi dilakukan berkaitan dengan kesesuaian materi pembelajaran dengan
tingkatan aktivitas/ranah pembelajarannya.
 Materi yang akan dibelajarkan perlu diidentifikasi secara tepat agar pencapaian
kompetensinya dapat diukur.
 Memilih jenis materi yang sesuai dengan kompetensi dan kompetensi
dasar
 Kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik berupa kemampuan untuk
menyatakan suatu definisi ,menuliskan ciri khas sesuatu, mengklasifikasikan atau
mengelompokkan beberapa contoh objek sesuai dengan suatu definisi.
 Memilih Sumber Bahan Ajar
Setelah jenias materi ditentukan langkah berikutnya adalah menentukan sumber
bahan ajar.

H. Umpan Balik

Setelah mengerjakan latihan, bandingkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban yang
terdapat pada akhir unit ini. Untuk mengetahui tingkat pencapaian kompetensi Anda.
Apabila ada soal yang belum terjawab dengan benar, maka sodara pelajari lagi agar anda
tuntas menguasai semua kompetensi.

66 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
BAB V Kegiatan Pembelajaran 4 Menata Materi Pembelajaran Secara Benar Sesuai
Dengan Pendekatan Yang Dipilih Dan Karakteristik Peserta Didik

A. Tujuan Pembelajaran
Pesertadiklat mampu menata materi pembelajaran berdasarkan squen, kelompok
atau prosedur, bila disediakan data materi membelajaran dengan tingkat kebenaran
100%

B. Indikator Pencapaian Kompetensi


1 Menguraikan penataan materi pembelajaran dari yang mudah menuju yang sulit, dari
yang sederhana menuju yang kompleks (skuensnya, prosedur dan sifat hubungan
materinya) sehingga mudah dipelajari.
2. Menata materi pembelajaran dari yang mudah menuju yang sulit, dari yang
sederhana menuju yang kompleks (skuensnya, prosedur dan sifat hubungan
materinya) sehingga mudah dipelajari.

C Uraian Materi
Secara umum Filbeck (1974) dalam tulisannya “System in teaching and learning”
menyatakan ada 12 prinsip pembelajaran yaitu yang pertama prinsip respon. Respon-
respon baru akan diulangi kalau respon tersebut berakibat menyenangkan, misalnya
setelah belajar menggunakan komputer dia lebih merasa nyaman dalam bekerja, maka
dia akan berusaha mempelajari lebih jauh mengenai komputer. Kedua adalah prinsip
kondisi. Manusia akan belajar dari kondisi. Misalnya kalau kondisi suatu lingkungan
dibuat agar orang tidak nyaman merokok, misalnya tidak ada asbak, sulit mencari rokok,
maka orang akan belajar untuk tidak merokok. Ketiga adalah prinsip retensi. Kemampuan
baru dapat berkurang atau hilang kalau tidak disegarkan. Keempat adalah prinsip
transfer. Hasil belajar akan dengan mudah ditransfer apabila kepada kondisi
pembelajaran yang sama, karena itu pembelajaran pada situasi yang nyata lebih mudah
untuk diterapkan kepada kehidupan pebelajar. Kelima adalah prinsip generalisasi dan
membedakan. Prinsip ini dapat memberikan dasar untuk dapat memahami sesuatu yang
komplek seperti pemecahan masalah. Implikasinya adalah pemberian contoh harus
lengkap, ada contoh positif adapula contoh negatif. Keenam adalah prinsip mental.
Kondisi mental peserta didik harus disiapkan agar siap belajar. Ketujuh adalah prinsip
pentahapan. Kegiatan belajar perlu dibagi menjadi kegiatan kegiatan kecil sehingga lebih
mudah dipahami. Kedelapan adalah prinsip model. Penyederhanaan materi belajar yang

67 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
komplek menjadi yang lebih sederhana dapat dilakukan dengan pemodelan. Kesembilan
adalah prinsip konruktivisme, yaitu kemampuan yang komplek dibangun oleh banyak
kemampuan-kemampuan yang sederhana. Kesepuluh adalah prinsip umpan balik.
Pembelajar akan belajar lebih cepat, efisien dan menyenangkan kalau kalau ia diberi
informasi bahwa ia menjadi lebih mampu setelah belajar. Kesebelas adalah prinsip
kecepatan belajar individual. Setiap individu mempunyai kecepatan yang berbeda dalam
materi tertentu dibandingkan dengan pebelajar yang lain. Kedua belas adalah prinsip
belajar mandiri. Pebelajar dapat mengembangkan kemampuan mengorganisasikan
kegiatan belajarnya sendiri

Hubungan antar kompetensi dalam mata pelajaran, dikaji Merril (1983) dalam tulisannya
mengenai teori displai komponen (“Component Display Theory. In C. M. Reigeluth Ed
1983. Instructional-design theories and models: An overview of their current status,
pp.279-333. Hillsdael, NJ: Lawrence Erlbaum Associates”) menyatakan bahwa ada
hubungan antar displai dalam materi ajar. Dalam perancangan pembelajaran, hubungan
antar displai tersebut perlu dianalisis untuk keperluan pengurutan pembelajaran, agar
lebih mudah dipelajari oleh peserta didik. Hubungan tersebut dapat berupa hubungan
yang divergen, sequensial, maupun random.

Ada tiga hubungan antar kompetensi dalam mata pelajaran yaitu hubungan yang bersifat
hirarkhis, hubungan prosedural, dan hubungan komponen kelompok, di samping
hubungan keempat yang yang merupakan gabungan antara dua atau tiga yang pertama.

1. Penataan Materi Pembelajaran berdasarkan sifat KD nya

Untuk mencapai tujuan kurikuler sekolah, peta pencapaian kompetensi per mata
pelajaran perlu disusun. Pencapaian kompetensi antar mata pelajaran perlu juga
dipetakan agar secara kurikuler urutan pembelajaran peserta didik sudah
terorganisasi. Langkah pertama untuk pemetaan pencapaian kompetensi kurikuler
adalah dengan menyusun peta pencapaian kompetensi per mata pelajaran.
Selanjutnya peta pencapaian kompetensi antar mata pelajaran di petakan untuk
menyusun rancangan pembelajaran sekolah.

Terdapat empat macam susunan hubungan antar kompetensi dalam mata pelajaran,
yaitu hungan hirarkis, prosedural, pengelompokan, dan kombinasi. Masing-masing
susunan hubungan tersebut diuaraikan sebagai berikut.

68 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
a. Hubungan Hirarkis
Hubungan kemampuan yang hirarkis adalah kedudukan dua atau lebih kemampuan
yang menunjukkan bahwa salah satu kemampuan hanya dapat diperagakan bila
kemampuan lain sudah dikuasai lebih dahulu (sebagai kemampuan prasyarat).
Sebagai contoh hubungan antar kemampuan yang bersifat hirarkhis adalah antara
kemampuan mengemudikan traktor dengan kemampuan mengidentifikasi
komponen kemudi traktor. Untuk mampu mengemudikan traktor, maka peserta
didik harus mampu mengidentifikasi kompenen pengemudian traktor.

Hubungan ini diilustrasikan dalam Gambar 1 berikut, yang men.unjukkan bahwa


perilaku B, hanya dapat dikuasai kalau peserta didik sudah menguasai
kemampuanA. Ini berarti perilaku atau kemampuan A merupakan prasyarat bagi
penguasaan kemampuan B, dan materi A harus lebih dahulu disampaiakan
sebelum materi B. demikian juga untuk mempelajari kemampuan C, peserta didik
harus menguasai lebih dahulu kemampuan B.

Kemampuan C

Kemampuan B

Kemampuan
A

Gambar 3. Tiga preilaku yang menunjukkan hubungan hirarkis

b. Hubungan Prosedural
Hubungan kemampuan prosedural adalah kedudukan dua atau lebih kemampuan
yang menunjukkan satu seri urutan penampilan perilaku, tetapi tidak ada yang
menjadi perilaku prasyarat untuk yang lainnya. Contoh sederhana ialah bila kita
hendak mengajarkan pesertadidik menelepon. Beberapa hal dapat dicatat dari
contoh tersebut: (a) Pesertadidik harus melaksanakan kegiatan secara berurutan,
(b) Masing-masing kegiatan bisa diajarkan secara terpisah (independent), dan (c)

69 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
Output (hasil) dari setiap langkah merupakan input untuk langkah
berikutnyaWalaupun kedua perilaku khusus itu harus dilakukan berurutan untuk
dapat melakukan suatu perilaku umum, namun setiap perilaku itu dapat dipelajari
secara terpisah. Perilaku-perilaku yang tersusun secara prosedural dilukiskan
dalam kotak-kotak yang berderet ke samping dan dihubungkan dengan garis
horisontal, seperti pada bagan berikut:

Kemampuan A Kemampuann B Kemampuan C

Gambar 4. Hubungan antar kemampuan yang berbentuk struktur prosedural

c. Struktur Pengelompokan
Terdapat bentuk kemampuan-kemampuan khusus yang saling berhubungan,
namun tidak mempunyai mempunyai ketergantungan satu sama lain. Dalam
keadaan seperti ini, garis penghubung antar kemampuan khusus tidak diperlukan.
Namun demikian, saling hubungan antar kemampuan dapat digambarkan dalam
bentuk pengelompokan kotak-kotak yang tidak dihubungkan, seperti pada Gambar
3 berikut:

Kemampuan Kemampuan Kemampuan


A B C

Gambar 5 Hubungan antar kemampuan yang berbentuk struktur pengelompokan

d. Struktur Kombinasi
Bila perilaku diuraikan menjadi perilaku-perilaku khusus, sebagian tersebar dalam
bentuk struktur kombinasi antara hirarkikal, prosedural, dan pengelompokan.
Sebagian dari perilaku khusus yang terdapat dalam ruang lingkup perilaku umum
itu mempersyaratkan perilaku khusus lain, sebagian lainnya merupakan urutan
penampilan perilaku umum dankhusus. Skema hubungan antar perilaku dalam
struktur kombinasi dapat digambarkan seperti pada bagan berikut

70 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
Tujuan Mata
Pelajaran

Kemampuan
I

Kemampuan Kemampuan
G H

Kemampuan
F

Kemampuan Kemampuan Kemampuan


C D E

Kemampuan
B

Kemampuan
A

Ganbar 6 Hubungan Kombinasi struktur Materi

Dari susunan tersebut, dapat diketahui perlunya menempatkan kemampuan


khusus tertentu untuk dikuasai lebih dahulu dari kemampuan lainnya, disebabkan
karena kemampuan tersebut:

 kedudukannya sebagai perilaku prasyarat,


 merupakan kemampuan yang menurut urutan gerakan fisik berlangsung lebih
dahulu, atau
 merupakan perilaku yang menurut proses psikologis muncul lebih dahulu, atau
secara kronologis terjadi lebih awal.

 Dalam merencanakan pembelajaran, ada tiga tahap dalam proses analisis tugas
yang perlu dilakukan, yaitu:

71 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
 Mengidenifikasi keterampilan prasyarat (prerequisite skills) Apa yang seharus
pesertadidik sudah ketahui sebelum guru mengajarkan suatu materi
tertentu.Sebagai contoh, untuk pelajaran mengenai penyusunan kalimat
sederhana, pesertadidik harus lebih dahulu menguasai kata serta konsep subjek
dan predikat.
 Mengidentifikasi keterampilan komponen (component skills). Dalam
mengajarkan pelajaran tertentu, subketerampilan apa yang harus diajarkan
kepada pesertadidik sebelum mereka dapat belajar untuk mencapai tujuan yang
lebih umum?
 Merencanakan bagaimana keterampilan komponen akan diatur dan diurut
menuju keterampilan akhir.

Tahap akhir dalam analisis tugas adalah menata kembali sub-sub keterampilan
menjadi keterampilan utuh yang akan diajarkan. Misalnya, pesertadidik mungkin
mempunyai kosa kata yang memadai, menguasai tanda baca, tapi ini tidak selalu
berarti mereka dapat menyusun kalimat yang baku. Sub-sub keterampilan harus
diintegrasikan ke dalam proses yang utuh agar pesertadidik dapat mengerti dan
mempraktikkannya.

2. Penataan Materi berdasarkan pengorganisasian Advance Organizer


Menurut teori Pendidikan Kognitifisme Ausabel menyatakan bahwa untuk
mempermudah pembelajaran materi perlu diorganisir menggunakan peta konsep
berdasarkan jenis materi. Pendekatan ini untuk mempermudah pesertadidik
memahami materi pembelajaran. Contoh pengorganisasian ini dapat dilihat pada
gambar berikut

72 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
Gambar 7 . Peta materi berdasarkan Advance Organizer

D. Aktivitas Pembelajaran
1. Baca dan fahami tujuan pembelajaran, terutama behavior, degree dan conditionsnya.
2. Baca dan fahami indikator pencapaian kompetensinya
3. Bacalah lembarinformasi dengan menggunakan model SQ3R
Survey : Mengidentifikasi topik dan sub topik pada lembar
informasi
Question : Menanyakan Apa isi dari setiap topik dan sub.
topik
Read : Membaca isi dari topik dan sub. Topik untuk
mampu menjawab pertanyaan tentang apa isi
dari setiap topik dan sub. topik
Recite/Rewrite : Menuliskan isi materi setiap topik dan sub.topik
berdasarkan pengartian anda sendiri setelah
membaca isi msteri tipok dan sub. Topik

Catatan;
Untuk kegiatan memahami isi materi
pembelajaran dengan SQ3R ini Pesertadiklat
dapat menggunakan Software Mind Manager.

73 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
Review : Untuk mendapatkan tanggapan dari teman yang
lainnya, kegiatan review ini dapat dilakukan
dengan model twostay two stray
Gambar proses review;

1 2

4 3

Keterangan:
Perwakilan kelompok yang belanja
ke kelompok yang lain

Perwakilan kelompok yang


menunggu galery

1. Dua orang yang berdiri dari kelompok


belanja ke kelompok yang lain, Penjaga
galery memberikan penjelasan hasil
mengkaji isi materi. Yang belanja dapat
memberikan tanggapan; setuju/ mengurangi
bagian tertentu yang dianggap tidak sesuai/
menambahkan ide yang dirasa belum
termuat .
Untuk keteraturan gerakan yang belanja
mengikuti arah anak panah sampai kembali
kekelompok

74 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
4. Lama waktu berbelanja pada setiaop
kelompok diatur oleh Widyaiswara.
5. Hasil masukan dari kelompok lain diputuskan
oleh kelompok yang bersangkutan

E. Latihan/Kasus/Tugas
Saudara, kita telah selesai mempelajari Menata materi pembelajaran secara benar
sesuai dengan pendekatan yang dipilih dan karakteristik peserta didik

selanjutnya untuk memantapkan pemahaman saudara, kerjakanlah latihan berikut ini.

1. Bagaimana menurut Anda konsep Menata materi pembelajaran secara benar sesuai
dengan pendekatan yang dipilih dan karakteristik peserta didik
2. Sebutkan dan jelaskan bentuk hubungan antar materi pembelajaran?

F. Kunci Jawaban Latihan.


1. Konsep penyusunan materi pembelajaran adalah penataan , hubungan antar displai
materi pembelajaran untuk keperluan pengurutan pembelajaran, agar lebih mudah
dipelajari oleh peserta didik. Hubungan tersebut dapat berupa hubungan yang
divergen, sequensial, maupun random.

Ada tiga hubungan antar kompetensi dalam mata pelajaran yaitu hubungan yang
bersifat hirarkhis, hubungan prosedural, dan hubungan komponen kelompok, di
samping hubungan keempat yang yang merupakan gabungan antara dua atau tiga
yang pertama.

2.Bentuk hubungan antar materi pembelajaran adalah;

a. Hubungan Hirarkis
Hubungan kemampuan yang hirarkis adalah kedudukan dua atau lebih
kemampuan yang menunjukkan bahwa salah satu kemampuan hanya dapat
diperagakan bila kemampuan lain sudah dikuasai lebih dahulu (sebagai
kemampuan prasyarat).

75 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
b. Hubungan Prosedural
Hubungan kemampuan prosedural adalah kedudukan dua atau lebih kemampuan
yang menunjukkan satu seri urutan penampilan perilaku, tetapi tidak ada yang
menjadi perilaku prasyarat untuk yang lainnya.

c. Struktur Pengelompokan
Terdapat bentuk kemampuan-kemampuan khusus yang saling berhubungan,
namun tidak mempunyai mempunyai ketergantungan satu sama lain.

d. Struktur Kombinasi
Bila perilaku diuraikan menjadi perilaku-perilaku khusus, sebagian tersebar dalam
bentuk struktur kombinasi antara hirarkikal, prosedural, dan pengelompokan.

e. Penataan Materi berdasarkan pengorganisasian Advance Organizer


Menurut teori Pendidikan Kognitifisme Ausabel menyatakan bahwa untuk
mempermudah pembelajaran materi perlu diorganisir menggunakan peta konsep
berdasarkan jenis materi.

G. Rangkuman
Ada tiga hubungan antar kompetensi dalam mata pelajaran yaitu hubungan yang
bersifat hirarkhis, hubungan prosedural, dan hubungan komponen kelompok, di
samping hubungan keempat yang yang merupakan gabungan antara dua atau tiga
yang pertama.

Bentuk hubungan antar materi pembelajaran adalah;

Hubungan Hirarkis
Hubungan kemampuan yang hirarkis adalah kedudukan dua atau lebih kemampuan
yang menunjukkan bahwa salah satu kemampuan hanya dapat diperagakan bila
kemampuan lain sudah dikuasai lebih dahulu (sebagai kemampuan prasyarat).

Hubungan Prosedural
Hubungan kemampuan prosedural adalah kedudukan dua atau lebih kemampuan
yang menunjukkan satu seri urutan penampilan perilaku, tetapi tidak ada yang menjadi
perilaku prasyarat untuk yang lainnya.

Struktur Pengelompokan
Terdapat bentuk kemampuan-kemampuan khusus yang saling berhubungan, namun
tidak mempunyai mempunyai ketergantungan satu sama lain.

76 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
Struktur Kombinasi
Bila perilaku diuraikan menjadi perilaku-perilaku khusus, sebagian tersebar dalam
bentuk struktur kombinasi antara hirarkikal, prosedural, dan pengelompokan.

Penataan Materi berdasarkan pengorganisasian Advance Organizer


Menurut teori Pendidikan Kognitifisme Ausabel menyatakan bahwa untuk
mempermudah pembelajaran materi perlu diorganisir menggunakan peta konsep
berdasarkan jenis materi.

H. Umpan Balik

Apabila anda sudah bisa menjawab semua pertanyaan maka anda dinyatakan berhasil,
tapi bila masih ada soal yang belum terjawab dengan benar maka Anda harus
mempelajarinya dan mencoba menjawab soal latihan lagi sampai benar. Ini penting karena
kemampuan penataan materi ini sangat mempengarui keberhasilan belajar pesertadidik

77 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
BAB VI Kegiatan Pembelajaran 4 Menentukan Pengalaman Belajar Yang Sesuai
Untuk Mencapai Tujuan Pembelajaran Yang Diampu

A. Tujuan Pembelajaran
Pesertadiklat mampu menentukan pengalaman belajar , bila disediakan data KD dan
kondisi pesertadidik dengan tingkat kebenaran 100%

B. Indikator Pencapaian Kompetensi


1. Menguraikan pengalaman belajar yang sesuai untuk mencapai tujuan pembelajaran
dengan memperhatikan (sifat materi pembelajaran, kondisi peserta didik (gaya
belajar), karakter guru, ketersediaan sarana dan waktu.
2. Merumuskan pengalaman belajar yang sesuai untuk mencapai tujuan pembelajaran
dengan memperhatikan (sifat materi pembelajaran, kondisi peserta didik (gaya
belajar), karakter guru, ketersediaan sarana dan waktu, serta aspek kemampuan yang
akan di capai.

C. Uraian Materi
1. Pengertian Pengalaman Belajar.
Pengertian pengalaman belajar menurut Tyler (1973:63) adalah sebagai
berikut.Learning experience is not the same as the content with which a course deals
nor the activities performed by the teacher. The term learning experience refers to the
interaction between the learner and the external conditions in the environment to which
he can react. Learning takes place through the active behaviour of the student; it is
what he does that he learns, not what teacher does.(Pengalaman belajar tidak sama
dengan konten materi pembelajaran atau kegiatan yang dilakukan oleh guru. Istilah
pengalaman belajar mengacu kepada interaksi antara pebelajar dengan kondisi
eksternal di lingkungan yang ia reaksi. Belajar melalui perilaku aktif pesertadidik; yaitu
apa yang ia lakukan saat ia belajar, bukan apa yang dilakukan oleh guru).

Caswel dan Campbell (dalam Sukmadinata, 2007: 4) mengatakan bahwa “kurikulum...


to be composed of all the experiences children have under the guidance of teachers
(kurikulum tersusun atas semua pengalaman yang telah dimiliki oleh pesertadidik
dibawah bimbingan guru)”. Berdasarkan pendapat tersebut dapat dijelaskan bahwa:
1) pengalaman belajar pengalaman mengacu kepada interaksi pebelajar dengan
kondisi eksternalnya, bukan konten pelajaran, 2) pengalaman belajar mengacu
kepada belajar melaui perilaku aktif pesertadidik, 3) belajar akan dimiliki oleh

78 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
pesertadidik setelah dia mengikuti kegiatan belajar-mengajar tertentu, 4) pengalaman
belajar itu merupakan hasil yang diperoleh pesertadidik, 5) adanya berbagai upaya
yang dilakukan oleh guru dalam usahanya untuk membimbing pesertadidik agar
memiliki pengalaman belajar tertentu.

Dalam kaitan ini tentu guru pun ingin mengetahui seberapa jauh pesertadidik telah
menguasai pengalaman belajar yang ditentukan dan seberapa besar efektivitas
bimbingan yang telah diberikan kepada pesertadidik. Dalam konteks inilah evaluasi
pengalaman belajar menjadi sangat penting karena evaluasi pengalaman belajar
merupakan proses pengumpulan dan penginterpretasian informasi atau data yang
dilakukan secara kontinyu dan sistematis untuk menentukan tingkat pencapaian hasil
belajar pesertadidik

Hamalik, O (2004:49) Mendefinisikan hasil belajar sebagai tingkat penguasaan yang


dicapai oleh pelajar dalam mengikuti proses belajar sesuai dengan tujuan pendidikan
yang ditetapkan

Pengalaman (belajar) adalah sebagai sumber pengetahuan dan keterampilan, bersifat


pendidikan, yang merupakan satu kesatuan disekitar tujuan pesertadidik, pengalaman
pendidikan bersifat kontinu dan interaktif membantu integrasi pribadi pesertadidik.

2. Ide Umum Tentang Pengalaman Belajar

Belajar adalah perubahan perilaku sebagai fungsi pengalaman, dimana didalamnya


mencakup perubahan-perubahan afektif, motorik, dan kognitif yang tidak dihasilkan
oleh sebab-sebab lain. Albert Bandura (1969) menjelaskan sistem pengendalian
perilaku belajar adalah perubahan perilaku sebagai fungsi pengalaman.

Beberapa ide umum tentang pengalaman belajar :

 Keterlibatan dalam pengalaman belajar merupakan pengaruh yang amat penting


terhadap pembelajaran
 Suasana yang bebas dan penuh kepercayaan akan menunjang kehendak peserta
didik untuk mau melakukan tugas sekalipun mengundang risiko
 Pengaruh strategi yang mendalam dapat dipergunakan namun sangat tergantung
pada beberapa aspek, misalnya usia, kematangan, kepercayaan, dan penghargaan
terhadap orang lain. Dan kebahagiaan guru juga tergantung pada latihan-latihan
yang diberikan untuk megendalikan atau menguasai aspek tersebut

79 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
 Beberapa teknis yang disajikan cenderung untuk memberikan beberapa gagasan
atau ide mengenai bagaimana pengajar dapat melibatkan peserta didik secara
emosional
 Terdapat banyak sekali pengaruh-pengaruh yang dapat dipelajari sebaik mungkin
dengan melalui beberapa model yaitu pengajar atau guru yang dalam berbagai hal
menyatukan pengaruh, sedangkan para peserta didik berusaha mencoba
menurunnya

3. Pentingnya Pengalaman Belajar


Belajar secara umum dapat diartikan sebagai perubahan, contohnya dari tidak tahu
menjadi tahu, dari tidak mampu menjadi mampu, dari tidak mau menjadi mau, dan lain
sebagainya. Namun demikian tidak semua perubahan pasti merupakan peristiwa
belajar. Sedangkan yang dimaksud perubahan dalam belajar adalah perubahan yang
relatif, konstan, dan berbekas. Sama halnya dengan pengalaman belajar, dimana
seperti kata pepetah yang sering kita dengar dalam dunia pendidikan bahwa
pengalaman adalah guru yang paling baik. Dalam hal ini pengalaman-pengalaman
yang sering kita lalui dapat memberikan dan mengajarkan kita hal-hal yang berarti
dalam hidup.

Pengalaman belajar pesertadidik ditunjang dengan adanya teknologi. Dengan adanya


kemajuan sains dan teknologi di bidang pendidikan seyogyanya dapat dimanfaatkan
untuk mempermudah pesertadidik mencapai pengalaman belajar yang optimal. Anak-
anak sekarang menginginkan hal-hal yang baru yang menarik dan menantang.
Demikian juga saat mengikuti pembelajaran di sekolah mereka ingin pembaruan
dalam pembelajaran. Dengan demikian seorang guru harus belajar mengadakan
pembaruan pembelajaran dengan memasukkan pengalaman-pengalaman belajar
yang menarik. Pembelajaran yang menarik adalah pembelajaran yang benar-benar
membelajarkan pesertadidik, semakin pesertadidik terlibat aktif dalam pembelajaran
akan semakin berkualitas hasil belajar pesertadidik. Jadi pesertadidik tidak sekedar
datang, duduk, catat, dan pulang tanpa ada pengalaman belajar. Seorang guru dalam
merancang pembelajaran tentunya akan bertanya dalam hatinya, “Pengalaman belajar
apa yang akan aku berikan pada peserta didik agar mereka dapat memiliki kompetensi
dasar?” Pengalaman belajar yang diberikan oleh guru sangat penting bagi peserta
didik agar peserta didik dapat memiliki kompetensi dasar. Ada dua hal yang dapat
membantu guru dalam memberikan pengalaman belajar kepada pesertadidik yaitu
dengan penggunaan multimetode dan multimedia yang disesuaikan sesuai dengan
kondisi pesertadidik dan kemampuan sekolah.

80 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
a. Multimetode
Metode adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang
sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara
optimal. Berikut ini disajikan beberapa metode pembelajaran yang biasa digunakan
demi mengimpelementasiakan startegi pemebelajaran sehingga terbentuk
pengalaman belajar bagi pesertadidik, yaitu:

1) Metode Ceramah
Metode ceramah merupakan metode yang biasa digunakan oleh setiap guru. Hal
ini selain disebabkan oleh beberapa pertimbangan tertentu juga adanya faktor
kebiasaa baik dari guru ataupun pesertadidik. Dalam metode ini guru biasanya
merasa belum puas manakala dalam proses pengelolaan pemebelajaran tidak
melalukan ceramah. Demikian juga dengan pesertadidik, mereka akan belajar
manakala ada guru yang memberikan materi pelajaran melalui ceramah,
sehinnga ada guru yang berceramah berarti ada proses belajar dan tidak ada
guru berarti tidak ada proses belajar.

2) Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi adalah metode penyajian pelajaran dengan
memperagakan dan mempertunjukan kepada pesertadidik tentang suatu
proses, situasi atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya sekedar tiruan.
Sebagai metode penyajian demonstrasi tidak terlepas dari penjelasan secara
lisan oleh guru. Walaupun dalam proses demonstarsi peran pesertadidik hanya
sekedar memperhatikan, akan tetapi demonstrasi dapat menyajikan bahan
pelajaran lebih konkret.

3) Metode Diskusi
Metode diskusi merupakan metode pembelajaran yang menghadapkan
pesertadidik pada suatu permasalahan. Tujuan utama metode ini adalah untuk
memecahkan suatu permasalahan, menjawab pertanyaan, menambah dan
memahami pengetahuan pesertadidik, serta untuk membuat suatu keputusan
(Killen, 1998). Oleh sebab itu, diskusi bukanlah debat yang bersifat mengadu
argumentasi. Diskusi lebih bersifat bertukar pengalaman untuk menentukan
keputusan tertentu secara bersama-sama.

Dengan demikian, jika setiap guru menerapkan metode yang berbeda-beda


dalam proses pembelajaran maka setiap pesertadidik juga akan memiliki
pengalaman yang berbeda dalam menerima materi pelajaran. Metode yang
pertama adalah metode yang bersifat monoton dimana pesertadidik hanya akan

81 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
bisa mendengarkan materi yang telah disampaikan oleh seorang guru. Materi
yang dapat dikuasai pesertadidik sebagai hasil dari ceramah akan terbatas pada
apa yang dikuasai guru. Metode pembelajaran yang kedua akan lebih menarik
sebab pesertadidik tak hanya mendengar tetapi juga melihat peristiwa yang
terjadi. Dalam hal ini dengan cara mengamati secara langsung pesertadidik kan
memiliki kesempatan untuk membandingkan antara teori dengan kenyataan.
Sedangkan metode yang ketiga sifatnya melatih pesertadidik untuk
memecahkan masalah yang telah diberikan. Dalam metode ini pesertadidik
dirangsang untuk lebih kreatif dalam memberikan gagasan, bertukar pikiran
dalam mengatasi setiap permasalahan. Namun disisi lain dalam metode ini
hanya akan dikuasai oleh 2 atau 3 orang pesertadidik yang memiliki
keterampialan berbicara.

b. Multimedia
Media pembelajara merupakan seluruh alat dan bahan yang digunakan untuk
mencapai tujuan pendidikan seperti media elektronik, media cetak, buku atau
LCD dan lain sebagainya.

Penggunaan media dalam proses pembelajaran juga dapat memberikan


pengalaman belajar bagi pesertadidik. Salah satu media pembelajaran yang
digunakan dalam proses pembelajaran yaitu penggunaan media interaktif
seperti penggunaan komputer. Dengan bantuan komputer dapat diajarkan cara-
cara mencari inforamsi baru, yaitu dengan menyeleksi dan mengolah
pertanyaan, sehingga terdapat jawaban terhadap suatu pertanyaan itu.
Komputer dapat diprogram untuk dimanfaatkan dalam potensi mengajar dengan
tiga cara, yaitu:

1) Tutorial
Dalam hal ini program menuntut komputer untuk berbuat sebagai seorang
tutor yang memimpin pesertadidik melalui urutan materi yang mereka
harapkan menjadi pokok pengertian. Komputer dapat menemukan lingkup
kesulitan tiap pesertadidik, kemudian menjelaskan pendapat-pendapat yang
ditemukan pesertadidik, menggunakan contoh dan latihan yang tepat dan
mentes pesertadidik pada tiap langkah untuk mencek bagaimana
pesertadidik telah mengerti dengan baik.

82 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
2) Simulasi
Bentuk kedua pengajaran dengan komputer ialah untuk simulasi pada suatu
keadaan khusus, atau sistem di mana pesertadidik dapat berinteraksi.
Pesertadidik dapat menyebut informasi, sehingga dapat sampai pada
jawabannya, karena mereka berpikir sehat, mencobakan interpretasinya dari
prinsip-prinsip yang telah ditentukan. Komputer akan menceritakan pada
pesertadidik apakah dampak dari keputusannya, terutama tentang reaksi dari
kritikan atau pendapatnya.

3) Pengolahan Data
Rowntree (Roestiyah, 2001) menuliskan bahwa dalam hal ini komputer
digunakan sebagai suatu penelitian sejumlah data yang luas atau
memanipulasi data dengan kecepatan yang tinggi. Pesertadidik dapat
meminta kepada komputer untuk meneliti figur-figur tertentu atau
menghasilkan grafik dan gambar yang sulit/kompleks. Menurut Hamalik
(2003), ada tiga bentuk penggunaan komputer dalam kelas, yaitu untuk:

(a) Mengajar pesertadidik menjadi mampu membaca komputer atau


Computer literate.
(b) Mengajarkan dasar-dasar pemrograman dan pemecahan masalah
dengan komputer.
(c) Melayani pesertadidik sebagai alat bantu pembelajaran.
Jadi, dengan ketersediaan metode dan media yang dapat menunjang
berlangsungnya proses pembelajaran menyebabkan guru dapat memberikan
pengalaman belajar bagi pesertadidik sehingga dapat meningkatkan kompetensi
dasar pesertadidik.

4. Cara Merumuskan Pengalaman Belajar yang Sesuai


Untuk merumuskan pengalaman belajar guru hendaknya memperhatikan beberapa
faktor antara lain :

a. Karakteristik konsep yang diajarkan


Karakteristik konsep yang dimaksud adalah tuntutan dan tuntunan yang sudah
melekat untuk tiap konsep. Sebagai contoh, konsep pupuk yang berarti mengamati
benda berdasarkan atribut-atribitnya. Atribut utamanya sebagai sumber unsur hara,
atribut asesorisnya adalah bentuk, warna, atribut mutunya kandungan unsur hara
yang terkandung didalamnya. memberikan petunjuk bahwa pengalaman belajar

83 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
yang paling tepat dengan mengobservasi dan menganalisis bukti-bukti kandungan
unsur hara, eksperimen.

b. Kesiapan Pesertadidik
Faktor kedua yang harus diperhatikan dalam memilih pengalaman belajar adalah
kesiapan pesertadidik. Guru hendaknya mempertimbangankan kesiapan
pesertadidik. Untuk itu guru hendaknya juga memperhatikan tingkat
perkembangan, terutama perkembangan kognitif. Menurut Jean Piaget anak yang
berumur ≥ 12 tahun tingkat berfikir pesertadidik sudah mampu berfikir abstrak,
tanpa terbatas kepada hal-hal yang kongkrit. (M.I. Soelaeman, 1985:328) tentunya
konsep sudah bisa dipahami pesertadidik apabila. Pesertadidik yang demikian
tentunya pengalaman belajarnya adalah pengalaman belajar langsung maupun
tidak langsung sudah bisa dilakukan.

c. Fasilitas yang tersedia


Faktor ketiga yang juga penting dipertimbangkan guru adalah ketersediaan alat.
Guru tentunya tidak bisa merancang suatu kegiatan yang akan menggunakan alat
atau bahan yang tidak dapat disediakan sekolah. Untuk itu dalam merancang
pengalaman belajar guru harus mempertimbangkan betul ketersediaan alat dan
bahan yang dibutuhkannya. Misalnya guru yang mengajar disekolah yang tidak
mempunyai laboratorium kimia secara tetrasi, tentunya tidak tepat apabila guru
tersebut merancang pengalaman belajar pesertadidik dengan menganalisis
kandungan nutrisi pupuk dengan tetrasi, tapi apabila sekolah memiliki teskit
(Nitrigen teskit, phospat teskit), maka analisis kandungan unsur hara/nutrisi pupuk
dapat dilakukan dengan teskit.

d. Gaya Belajar Pesertadidik


1) Gaya Belajar Menurut Dave Meier
(a) Gaya Belajar Kinestetik/Somatik
Somatik berasal dari bahasa Yunani yang berarti tubuh soma(seperti
Psikosomatis). Jadi, belajar somatis berarti belajar dengan indra peraba,
kinestis, praktis – melibatkan fisik dan menggunakan serta menggerakkan
tubuh sewaktu belajar.
Tentu saja ada beberapa karakteristik model belajar seperti ini yang tak
semua orang bisa melakukannya. Karakter pertama adalah menempatkan
tangan sebagai alat penerima informasi utama agar bisa terus
mengingatnya. Hanya dengan memegangnya saja, seseorang yang
memiliki gaya belajar ini bisa menyerap informasi tanpa harus membaca

84 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
penjelasannya.Karakter berikutnya dicontohkan sebagai orang yang tak
tahan duduk manis berlama-lama mendengarkan penyampaian pelajaran.
Tak heran kalau individu yang memiliki gaya belajar ini merasa bisa belajar
lebih baik kalau prosesnya disertai kegiatan fisik.Kelebihannya, mereka
memiliki kemampuan mengkoordinasikan sebuah tim disamping
kemampuan mengendalikan gerak tubuh (athletic ability). Pengalaman
belajar yang sesuai untuk pesertadidik tipe ini adalah dengan melakukan
prakti motorik langsung.

dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai model peraga, semisal bekerja

(b) Pikiran auditori kita lebih kuat daripada yang kita sadari. Telinga kita terus
menerus menangkap dan menyimpan informasi auditori, bahkan tanpa kita
sadari. Dan ketika kita membuat suara sendiri dengan berbicara, beberapa
area penting di otak kita menjadi aktif.

Mendengarkan atau mendengar adalah menangkap atau menerima suara


melalui indera pendengaran. Auditori adalah cara belajar dengan berbicara
dan mendengar. Berikut beberapa teknik-teknik dalam melaksanakan
pendekatan auditori. Bacalah Secara Dramatis, Kita ingat apa yang
dramatik itu.

Pakaian warna pastel lembut mungkin cantik, namun mungkin tidak mudah
dikenang atau diingat. Sekuntum bunga merah tua pada pakaian warna
hitam mungkin lebih mudah diingat. Seperti halnya citra visual, demikian
pula suara. Maka jika suatu pesan kritis atau sulit, coba baca pesan keras-
keras dengan dramatis.

(1) Ciri-ciri gaya belajar auditorial adalah :


 Mampu mengingat dengan baik materi yang didiskusikan dalam
kelompok atau kelas.
 Mengenal banyak sekali lagu atau iklan TV, bahkan dapat
menirukannya secara tepat dan komplet.
 Cenderung banyak omong.
 Tak suka membaca dan umumnya memang bukan pembaca yang
baik karena kurang dapat mengingat dengan baik apa yang baru saja
dibacanya.
 Kurang cakap dalam mengerjakan tugas mengarang/menulis.

85 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
 Kurang tertarik memperhatikan hal-hal baru di lingkungan
sekitarnya, seperti hadirnya pesertadidik baru, adanya papan
pengumuman di pojok kelas dan sebagainya.
Pengalaman belajar yang sesuai pada pesertadidik yang
mempunyai gaya belajar ini adalah ekspository dan diskusi.
(c) Gaya belajar Visual
Ketajaman visual, meskipun lebih menonjol pada sebagian orang, sangat
kuat dalam diri setiap orang. Alasannya adalah bahwa didalam otak terdapat
lebih banyak perangkat untuk memproses informasi visual daripada semua
indra yang lain. Adapun teknik yang dikembangkan dalam melaksanakan
strategi visual adalah peta konsep. Peta konsep atau peta pembelajaran
adalah cara dinamik utuk menangkap butir-butir pokok informasi yang
signifikan. Mereka menggunakan format global atau umum, yang
memungkinkan informasi ditunjukkan dalam cara mirip seperti otak kita
berfungsi dalam pelbagai arah secara serempak.
Penelitian yang dilakuakan oleh Robert Ornstein dan lain-lain telah
menunjukkan bahwa proses berfikir adalah kombinasi kompleks kata,
gambar, skenario, warna dan bahkan suara dan musik. Degan demikian,
proses menyajikan dan menangkap isi pelajaran dalam peta konsep
mendekati operasi alamiah dalam berfikir.
Bagaimana anda dapat menambahkan citra mental setelah anda
mempelajari sesuatu?
Gambar Saja Sering sekali strategi visual yang paling sederhana adalah
menggambarkan seubah sketsa atau merancang sebuah karta, grafik atau
diagram.
Pengalaman belajar yang sesuai untuk pesertadidik dengan tipe Visual ini
adalah menggunakan petakonsep.
(d) Gaya belajar Intelektual: Belajar dengan memecahkan masalah dan
merenung.
Yang dimaksud dengan intelektual menurut Dave Meier adalah bukanlah
pendekatan belajar yang tanpa emosi, tidak berhubungan, rasionalistis,
akademis, dan terkotak-kotak. Kata intelektual menunjukkan apa yang
dilakukan pembelajar dalam fikiran mereka secara internal ketika mereka
menggunakan kecerdasan untuk merenungkan suatu pengalaman dan
menciptakan hubungan, makna, rencana dan nilai dari pengalaman
tersebut.

86 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
Intelektual adalah bagian diri yang merenung, mencipta, memecahkan
masalah dan membangun makna. Intelektual adalah pencipta makna dalam
fikiran; sarana yang digunakan manusia untuk berfikir, menyatukan
pengalaman, menciptakan jaringan saraf baru, dan belajar. Ia
menghubungkan pengalaman mental, fisik, emosional dan intuitif tubuh
untuk membuat makna baru bagi dirinya sendiri. Ketika sebuah
pembelajaran tidak dapat menantang sisi intelektual pembelajar,
pembelajaran tersebut akan kelihatan dangkal dan kekanak-kanakan. Inilah
yang terjadi dengan beberapa teknik “kreatif” yang mengajak orang untuk
bergerak secara fisik (S), mempunyai auditori (A) dan masukan visual (V),
namun tidak memiliki kedalaman intelektual (I), akhirnya anda akan
menjalankan “SAVI”-sangat menjanjikan diawal-awal pembelajaran, namun
kemudian musnah begitu hujan realitas turun.

Belajar bisa optimal jika keempat unsur SAVI ada dalam satu peristiwa
pembelajaran. Misalnya, orang dapat belajar sedikit dengan menyaksikan
presentasi (V), tetapi mereka dapat belajar jauh lebih banyak jika mereka
dapat melakukan sesuatu ketika presentasi sedang berlangsung (S),
membicarakan apa yang sedang mereka pelajari (A), dan memikirkan cara
menerapkan informasi dalam presentasi tersebut pada pekerjaan mereka
(I). Atau mereka dapat meningkatkan kemampuan mereka memecahkan
masalah (I) jika mereka secara simultan menggerakkan sesuatu (S) untuk
menghasilkan piktogram atau panjang tiga dimensi (V) sambil
membicarakan apa yang sedang mereka kerjakan (A).

2) Kolb mengklasifikasikan Gaya Belajar Siswa ke dalam empat kecenderungan


utama yaitu:

(a) Concrete Experience (CE). Siswa belajar melalui perasaan (feeling), dengan
menekankan segi-segi pengalaman kongkret, lebih mementingkan relasi
dengan sesama dan sensitivitas terhadap perasaan orang lain. Siswa
melibatkan diri sepenuhnya melalui pengalaman baru, siswa cenderung
lebih terbuka dan mampu beradaptasi terhadap perubahan yang
dihadapinya.
(b) Abstract Conceptualization (AC). Siswa belajar melalui pemikiran (thinking)
dan lebih terfokus pada analisis logis dari ide-ide, perencanaan sistematis,

87 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
dan pemahaman intelektual dari situasi atau perkara yang dihadapi. Siswa
menciptakan konsep-konsep yang mengintegrasikan observasinya menjadi
teori yang sehat, dengan mengandalkan pada perencanaan yang
sistematis.
(c) Reflective Observation (RO). Siswa belajar melalui pengamatan (watching),
penekanannya mengamati sebelum menilai, menyimak suatu perkara dari
berbagai perspektif, dan selalu menyimak makna dari hal-hal yang diamati.
Siswa akan menggunakan pikiran dan perasaannya untuk membentuk
opini/pendapat, siswa mengobservasi dan merefleksi pengalamannya dari
berbagai segi.
(d) Active Experimentation (AE). Siswa belajar melalui tindakan (doing),
cenderung kuat dalam segi kemampuan melaksanakan tugas, berani
mengambil resiko, dan mempengaruhi orang lain lewat perbuatannya.
Siswa akan menghargai keberhasilannya dalam menyelesaikan pekerjaan,
pengaruhnya pada orang lain, dan prestasinya. Siswa menggunakan teori
untuk memecahkan masalah dan mengambil keputusan .

Gambar 9 Gaya Belajar Siswa ke dalam empat kecenderungan

Selanjutnya Kolb mengemukakan, bahwa setiap individu tidak didominasi oleh


satu gaya belajar tertentu secara absolut, tetapi cenderung membentuk
kombinasi dan konfigurasi gaya belajar tertentu, yang diklasifikasikannya ke
dalam 4 (empat) tipe:

88 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
Gambar 9 Tipe belajar anak menurut David Decolb

1) Tipe 1. Diverger.
Tipe ini perpaduan antara Concrete Experience (CE) dan Reflective
Observation (RO), atau dengan kata lain kombinasi dari perasaan (feeling)
dan pengamatan (watching). Siswa dengan tipe Diverger memiliki
keunggulan dalam kemampuan imajinasi dan melihat situasi kongkret dari
banyak sudut pandang yang berbeda, kemudian menghubungkannya
menjadi sesuatu yang bulat dan utuh. Pendekatannya pada setiap situasi
adalah “mengamati” dan bukan “bertindak”. Siswa seperti ini menyukai tugas
belajar yang menuntutnya untuk menghasilkan ide-ide dan gemar
mengumpulkan berbagai informasi. Mereka biasanya lebih banyak bertanya
“Why?”. Peran dan fungsi guru yang cocok untuk menghadapi siswa tipe ini
adalah sebagai Motivator.

2) Tipe 2. Assimilator.
Tipe kedua ini perpaduan antara Abstract Conceptualization (AC) dan
Reflective Observation (RO) atau dengan kata lain kombinasi dari pemikiran
(thinking) dan pengamatan (watching). Siswa dengan tipe Assimilator
memiliki keunggulan dalam memahami dan merespons berbagai sajian
informasi serta mengorganisasikan merangkumkannya dalam suatu format
yang logis, singkat, dan jelas. Biasanya siswa tipe ini cenderung lebih teoritis,
lebih menyukai bekerja dengan ide serta konsep yang abstrak, daripada

89 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
bekerja dengan orang. Mata pelajaran yang diminatinya adalah bidang sains
dan matematika. Mereka biasanya lebih banyak bertanya “What?”. Peran dan
fungsi guru yang cocok untuk menghadapi siswa tipe ini adalah sebagai
seorang Expert.

3) Tipe 3. Converger.
Tipe ini perpaduan antara Abstract Conceptualization (AC) dan Concrete
Experience (CE). atau dengan kata lain kombinasi dari berfikir (thinking) dan
berbuat (doing). Siswa mampu merespons terhadap berbagai peluang dan
mampu bekerja secara aktif dalam setiap tugas yang terdefinisikan secara
baik. Siswa gemar belajar bila menghadapi soal dengan jawaban yang pasti,
dan segera berusaha mencari jawaban yang tepat. Dia mau belajar secara
trial and error hanya dalam lingkungan yang dianggapnya relatif aman dari
kegagalan.

Siswa dengan tipe Converger unggul dalam menemukan fungsi praktis dari
berbagai ide dan teori. Biasanya mereka punya kemampuan yang baik dalam
pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. Mereka juga cenderung
lebih menyukai tugas-tugas teknis (aplikatif). Dia cenderung tidak emosional
dan lebih menyukai bekerja yang berhubungan dengan benda dari pada
manusia, masalah sosial atau hubungan antar pribadi.

Mata pelajaran yang yang diminati adalah bidang IPA dan teknik. Mereka
biasanya lebih banyak bertanya “How?”. Peran dan fungsi guru yang cocok
untuk menghadapi siswa tipe ini adalah sebagai seorang Coach, yang dapat
menyediakan praktik terbimbing dan dapat memberikan umpan balik yang
tepat.

4) Tipe 4. Accomodator
Tipe ini perpaduan antara Concrete Experience (CE) dan Active
Experimentation (AE) atau dengan kata lain kombinasi antara merasakan
(feeling) dengan berbuat (doing). Siswa tipe ini senang mengaplikasikan
materi pelajaran dalam berbagai situasi baru untuk memecahkan berbagai
masalah nyata yang dihadapinya. Kelebihan siswa tipe ini memiliki
kemampuan belajar yang baik dari hasil pengalaman nyata yang
dilakukannya sendiri. Mereka suka membuat rencana dan melibatkan dirinya
dalam berbagai pengalaman baru yang menantang. Dalam usaha

90 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
memecahkan masalah, mereka biasanya mempertimbangkan faktor manusia
(untuk mendapatkan masukan/informasi) dibanding analisa teknis. Mereka
cenderung untuk bertindak berdasarkan intuisi/dorongan hati daripada
berdasarkan analisa logis, sering menggunakan trial and error dalam
memecahkan masalah, kurang sabar dan ingin segera bertindak. Bila ada
teori yang tidak sesuai dengan fakta cenderung untuk mengabaikannya. Mata
pelajaran yang disukainya yaitu berkaitan dengan lapangan usaha (bisnis)
dan teknik.

Mereka biasanya lebih banyak bertanya “What if?”. Peran dan fungsi guru
dalam berhadapan dengan siswa tipe ini adalah berusaha menghadapkan
siswa pada “open-ended questions”, memaksimalkan kesempatan siswa
untuk mempelajari dan menggali sesuatu sesuai pilihannya. Penggunaan
Metode Problem-Based Learning tampaknya sangat cocok untuk siswa tipe
yang keempat ini.

Kurikulum 2013 menetapkan bahwa pelaksanaan pembelajaran


menggunakan pendekatan ilmiah yangterdiri dari:

a. Mengamati

b. Menanya;

c. Mengumpulkan informasi;
d. Mengasosiasi; dan
e. Mengkomunikasikan.
Kelima pembelajaran pokok tersebut dapat dirinci dalam berbagai kegiatan
belajar sebagaimana tercantum dalam tabel berikut:

Tabel 3: Deskripsi Langkah Pembelajaran *)

Langkah
Deskripsi Kegiatan Bentuk Hasil Belajar
Pembelajaran

Mengamati mengamati dengan indra perhatian pada waktu


(observing) (membaca, mendengar, mengamati suatu
menyimak, melihat, objek/membaca suatu
menonton, dan tulisan/mendengar suatu
sebagainya) dengan atau penjelasan, catatan yang
tanpa alat dibuat tentang yang
diamati, kesabaran, waktu

91 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
Langkah
Deskripsi Kegiatan Bentuk Hasil Belajar
Pembelajaran

(on task) yang digunakan


untuk mengamati

Menanya membuat dan jenis, kualitas, dan jumlah


(questioning) mengajukan pertanyaan, pertanyaan yang diajukan
tanya jawab, berdiskusi peserta didik (pertanyaan
faktual, konseptual,
tentang informasi yang prosedural, dan hipotetik)
belum dipahami,
informasi tambahan yang
ingin diketahui, atau
sebagai klarifikasi.

Mengumpulkan mengeksplorasi, jumlah dan kualitas sumber


informasi/menc mencoba, berdiskusi, yang dikaji/digunakan,
oba mendemonstrasi-kan, kelengkapan informasi,
(experimenting) meniru bentuk/gerak, validitas informasi yang
melakukan eksperimen, dikumpulkan, dan
membaca sumber lain instrumen/alat yang
selain buku teks, digunakan untuk
mengumpul-kan data dari mengumpulkan data.
nara sumber melalui
angket, wawancara, dan
memodifikasi/
menambahi/me-
ngembangkan

Menalar/Menga mengolah informasi yang mengembangkan


sosiasi sudah dikumpulkan, interpretasi, argumentasi
(associating) menganalisis data dalam dan kesimpulan mengenai
bentuk membuat kategori, keterkaitan informasi dari
mengasosiasi atau dua fakta/konsep,
menghubungkan interpretasi argumentasi
fenomena/informasi yang dan kesimpulan mengenai
terkait dalam rangka keterkaitan lebih dari dua
menemukan suatu pola, fakta/konsep/teori,
dan menyimpulkan. mensintesis dan
argumentasi serta
kesimpulan keterkaitan
antar berbagai jenis fakta-
fakta/konsep/teori/pendapat
; mengembangkan
interpretasi, struktur baru,
argumentasi, dan
kesimpulan yang
menunjukkan hubungan

92 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
Langkah
Deskripsi Kegiatan Bentuk Hasil Belajar
Pembelajaran

fakta/konsep/teori dari dua


sumber atau lebih yang
tidak bertentangan;
mengembangkan
interpretasi, struktur baru,
argumentasi dan
kesimpulan dari
konsep/teori/pendapat yang
berbeda dari berbagai jenis
sumber.

Mengomunikasi menyajikan laporan dalam menyajikan hasil kajian


kan bentuk bagan, diagram, (dari mengamati sampai
(communicating) menalar) dalam bentuk
atau grafik; menyusun
tulisan, grafis, media
laporan tertulis; dan elektronik, multi media dan
menyajikan laporan lain-lain

meliputi proses, hasil, dan


kesimpulan secara lisan
*) Dapat disesuaikan dengan kekhasan masing-masing mata pelajaran.

D. Aktivitas Pembelajaran
1. Baca dan fahami tujuan pembelajaran, terutama behavior, degree dan conditionsnya.
2. Baca dan fahami indikator pencapaian kompetensinya
3. Bacalah lembarinformasi dengan menggunakan model SQ3R
Survey : Mengidentifikasi topik dan sub topik pada lembar
informasi
Question : Menanyakan Apa isi dari setiap topik dan sub.
topik
Read : Membaca isi dari topik dan sub. Topik untuk
mampu menjawab pertanyaan tentang apa isi
dari setiap topik dan sub. topik
Recite/Rewrite : Menuliskan isi materi setiap topik dan sub.topik
berdasarkan pengartian anda sendiri setelah
membaca isi msteri tipok dan sub. Topik

93 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
Catatan;
Untuk kegiatan memahami isi materi
pembelajaran dengan SQ3R ini Pesertadiklat
dapat menggunakan Software Mind Manager.
Review : Untuk mendapatkan tanggapan dari teman yang
lainnya, kegiatan review ini dapat dilakukan
dengan model twostay two stray
Gambar proses review;

1 2

4 3

Keterangan:
Perwakilan kelompok yang belanja
ke kelompok yang lain

Perwakilan kelompok yang


menunggu galery

1. Dua orang yang berdiri dari kelompok


belanja ke kelompok yang lain, Penjaga
galery memberikan penjelasan hasil
mengkaji isi materi. Yang belanja dapat
memberikan tanggapan; setuju/ mengurangi
bagian tertentu yang dianggap tidak sesuai/

94 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
menambahkan ide yang dirasa belum
termuat .
Untuk keteraturan gerakan yang belanja
mengikuti arah anak panah sampai kembali
kekelompok
(e) Lama waktu berbelanja pada setiaop
kelompok diatur oleh Widyaiswara.
(f) Hasil masukan dari kelompok lain diputuskan
oleh kelompok yang bersangkutan

E.Latihan/Kasus/Tugas
Saudara, kita telah selesai mempelajari menentukan pengalaman belajar. Selanjutnya
untuk memantapkan pemahaman saudara, kerjakanlah latihan berikut ini.

1. Bagaimana menurut Anda konsep menetapkan pengalaman belajar


2. Bagaimana Cara Merumuskan Pengalaman Belajar?
3. Sebutkan dan jelaskan gaya belajar menurut DeColb

F. Kunci jawaban latihan.

1. Konsep penyusunan pengalaman belajar adalah pengalaman belajar menurut Tyler


(1973:63) bahwa Pengalaman belajar tidak sama dengan konten materi
pembelajaran atau kegiatan yang dilakukan oleh guru. Istilah pengalaman belajar
mengacu kepada interaksi antara pebelajar dengan kondisi eksternal di lingkungan
yang ia reaksi. Belajar melalui perilaku aktif pesertadidik; yaitu apa yang ia lakukan
saat ia belajar, bukan apa yang dilakukan oleh guru).

2. Cara merumuskan Pengalaman belajar adalah;

Untuk merumuskan pengalaman belajar guru hendaknya memperhatikan beberapa


faktor antara lain :

a. Karakteristik konsep yang diajarkan

Karakteristik konsep yang dimaksud adalah tuntutan dan tuntunan yang sudah
melekat untuk tiap konsep. Sebagai contoh, konsep pupuk yang berarti
mengamati benda berdasarkan atribut-atribitnya.

95 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
b. Kesiapan Pesertadidik

Faktor kedua yang harus diperhatikan dalam memilih pengalaman belajar


adalah kesiapan pesertadidik. Guru hendaknya mempertimbangankan kesiapan
pesertadidik. Untuk itu guru hendaknya juga memperhatikan tingkat
perkembangan, terutama perkembangan kognitif.

b. Fasilitas yang tersedia


Faktor ketiga yang juga penting dipertimbangkan guru adalah ketersediaan alat.
Guru tentunya tidak bisa merancang suatu kegiatan yang akan menggunakan
alat atau bahan yang tidak dapat disediakan sekolah.

c. Gaya Belajar Pesertadidik

3. Gaya Belajar menurut De. Colb


a. Concrete Experience (CE). Siswa belajar melalui perasaan (feeling), dengan
menekankan segi-segi pengalaman kongkret,.
b. Abstract Conceptualization (AC). Siswa belajar melalui pemikiran (thinking) dan
lebih terfokus pada analisis logis dari ide-ide, perencanaan sistematis, dan
pemahaman intelektual dari situasi atau perkara yang dihadapi.
c. Reflective Observation (RO). Siswa belajar melalui pengamatan (watching),
penekanannya mengamati sebelum menilai, menyimak suatu perkara dari berbagai
perspektif, dan selalu menyimak makna dari hal-hal yang diamati.
d. Active Experimentation (AE). Siswa belajar melalui tindakan (doing), cenderung
kuat dalam segi kemampuan melaksanakan tugas, berani mengambil resiko, dan
mempengaruhi orang lain lewat perbuatannya..

G. Rangkuman

1. Ide Umum Tentang Pengalaman Belajar

Belajar adalah perubahan perilaku sebagai fungsi pengalaman, dimana didalamnya


mencakup perubahan-perubahan afektif, motorik, dan kognitif yang tidak dihasilkan
oleh sebab-sebab lain. Albert Bandura (1969) menjelaskan sistem pengendalian
perilaku belajar adalah perubahan perilaku sebagai fungsi pengalaman.

Beberapa ide umum tentang pengalaman belajar :

 Keterlibatan dalam pengalaman belajar merupakan pengaruh yang amat penting


terhadap pembelajaran

96 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
 Suasana yang bebas dan penuh kepercayaan akan menunjang kehendak peserta
didik untuk mau melakukan tugas sekalipun mengundang risiko
 Pengaruh strategi yang mendalam dapat dipergunakan namun sangat tergantung
pada beberapa aspek, misalnya usia, kematangan, kepercayaan, dan penghargaan
terhadap orang lain. Dan kebahagiaan guru juga tergantung pada latihan-latihan
yang diberikan untuk megendalikan atau menguasai aspek tersebut
 Beberapa teknis yang disajikan cenderung untuk memberikan beberapa gagasan
atau ide mengenai bagaimana pengajar dapat melibatkan peserta didik secara
emosional
 Terdapat banyak sekali pengaruh-pengaruh yang dapat dipelajari sebaik mungkin
dengan melalui beberapa model yaitu pengajar atau guru yang dalam berbagai hal
menyatukan pengaruh, sedangkan para peserta didik berusaha mencoba
menurunnya

2. Pentingnya Pengalaman Belajar


Belajar secara umum dapat diartikan sebagai perubahan, contohnya dari tidak tahu
menjadi tahu, dari tidak mampu menjadi mampu, dari tidak mau menjadi mau, dan lain
sebagainya. Namun demikian tidak semua perubahan pasti merupakan peristiwa
belajar. Sedangkan yang dimaksud perubahan dalam belajar adalah perubahan yang
relatif, konstan, dan berbekas.

3. Cara Merumuskan Pengalaman Belajar yang Sesuai


Untuk merumuskan pengalaman belajar guru hendaknya memperhatikan beberapa
faktor antara lain :

a. Karakteristik konsep yang diajarkan


Karakteristik konsep yang dimaksud adalah tuntutan dan tuntunan yang sudah
melekat untuk tiap konsep.

b. Kesiapan Pesertadidik
Faktor kedua yang harus diperhatikan dalam memilih pengalaman belajar adalah
kesiapan pesertadidik. Guru hendaknya mempertimbangankan kesiapan
pesertadidik. Untuk itu guru hendaknya juga memperhatikan tingkat
perkembangan, terutama perkembangan kognitif. Fasilitas yang tersedia

c. Faktor ketiga yang juga penting dipertimbangkan guru adalah ketersediaan alat.
Guru tentunya tidak bisa merancang suatu kegiatan yang akan menggunakan alat
atau bahan yang tidak dapat disediakan sekolah.
d. Gaya Belajar Pesertadidik

97 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m
H. Umpan Balik

Apabila anda sudah bisa menjawab semua pertanyaan maka anda dinyatakan berhasil,
tapi bila masih ada soal yang belum terjawab dengan benar maka Anda harus
mempelajarinya dan mencoba menjawab soal latihan lagi sampai benar. Ini penting karena
kemampuan penataan materi ini sangat mempengarui keberhasilan belajar pesertadidik

98 |A l i h F u n g s i – P e n g e m b a n g a n K u r i k u l u m