You are on page 1of 18

PENDEKATAN KONSEP ILMU, TEKNOLOGI, DAN MASYARAKAT DALAM

PEMBELAJARAN IPS
PADA MADRASAH IBTIDAIYAH (MI)

Oleh : Dra. Hj. Yurnalis Nurdin, M.Pd


Widyaiswara Madya Balai Diklat Keagamaan Palembang
e-mail : yurnalisnurdin@gmail.com

Abstrak: Pendekatan konsep ilmu, teknologi, dan masyarakat dalam pengajaran Ilmu
Pengetahuan Sosial di Madrasah Ibtidaiyah (MI) diharapkan guru IPS tingkat MI
mempunyai kemampuan untuk memahami tentang pendekatan konsep ilmu,
teknologi, dan masyarakat dalam pengajaran IPS. Pemahaman terhadap
kemampuan ini sangat bermanfaat bagi guru jika akan menerapkan konsep-
konsep pengajaran IPS Tingkat MI secara terpadu. Memang disadari bahwa
dalam proses belajar mengajar seringkali ditemui seorang guru mengalami
kesulitan dalam menentukan, memilih serta mempertimbangkan materi yang
sesuai dengan konsep-konsep pengajaran IPS Tingkat MI. Kelemahan ini sering
muncul karena rendahnya kemampuan guru dalam menjelaskan penggunaan
konsep keilmuan, serta pemanfaatan teknologi yang sesuai serta dibutuhkan
dimasyarakat. Melalui tulisan ini mudahan akan membantu para guru untuk
memecahkan kelemahan kelemahan tersebut diatas, sehingga setiap guru IPS
Tingkat MI memahami tentang pendekatan konsep ilmu, teknologi, dan
masyarakat dalam pengajaran IPS Tingkat MI di lapangan.

Kata Kunci : Menentukan, pendekatan konsep ilmu, teknologi, dan


masyarakat dalam pengajaran IPS Tingkat MI di lapangan

1
PENDEKATAN KONSEP ILMU, TEKNOLOGI, DAN MASYARAKAT
DALAM PEMBELAJARAN IPS
PADA MADRASAH IBTIDAIYAH (MI)

PENDAHULUAN
Sebagaimana telah kita ketahui bahwa, masalah kemasyarakatan yang muncul
dewasa ini tidak dapat diselesaikan pada satu disiplin ilmu tertentu saja melainkan
harus dilakukan melalui penyelasaian masalah secara terpadu atau menyeluruh.
Keterbatasan dari disiplin ilmu yang mengkhususkan pada permasalahan tertentu tidak
lagi memberikan penyelesaian secara keseluruhan mengingat kompleksitas
permasalahan yang muncul di masyarakat tidak dapat dijadikan acuan dalam
penyelesaian masalah tertentu sehubungan dengan itu Remy,1990 (dalam Udin.S.
Winataputra,dkk,2007) berpendapat bahwa tujuan mempelajari Ilmu Pengetahuan
Sosial (IPS) adalah untuk menjadikan seseorang menjadi warga Negara yang baik
semakin sulit dan kompleks akibat kemajuan ilmu dan teknologi. Sebagai contoh
suatu industri yang melibatkan banyak pekerja dengan kondisi kesehatan yang
beragam akan dapat menjadi alat penularan penyakit, seperti penyakit tuberculosis
(TBC)
Munculnya tempat-tempat wisata yang cukup terkenal seperti pantai kuta,
Sanur yang ada di pulau Bali, Pangandaran di pulau Jawa, pulau Senggigi di Nusa
Tenggara Barat (Mataram) yang cukup terkenal di manca Negara telah menyebabkan
masalah perilaku individu atau masyarakat terhadap munculnya berbagai penyakit
sosial. Datangnya para turis dari manca Negara akan mempengaruhi tingkah laku
maupun budaya para penduduk setempat. Perubahan tersebut dapat menimbulkan
dampak negatif pada masyarakat umum, seperti munculnya pelacuran (tuna susila) di
masyarakat atau bagaimana mencegah terjadinya penularan penyakit yang sangat
mengerikan dan belum ada obatnya, yaitu penyakit AIDS yaitu suatu penyakit yang
disebabkan oleh virus yang menyerang kekebalan tubuh manusia, di mana
penyebarannya dapat melalui kontak seksual dari pengidap atau penderita kepada
penerima pertama, yang selanjutnya dapat menular kepada pasangannya maupun
akibat dari penggunaan alat-alat suntik yang tidak steril atau tiadak bebas kuman
yang dapat menyebar ke berbagai penjuru di tanah air dengan cepat.

2
Untuk membahas kasus-kasus seperti ini tidak bisa hanya menyelesaikan
secara sepintas lalu melainkan harus dilakukan penyelesaian secara terpadu, yaitu
mulai dari penyuluhan tentang bagaimana cara hidup sehat, bagaimana terjadinya
penyebaran berbagai jenis penyakit. Penyuluhan tentang kesehatan bisa dilakukan di
masyarakat, ataupun memberikan penerangan kepada para pekerja seks (pelacur)
tentang bahaya suatu penyakit seperti AIDS. Tenaga penyuluh bisa dilakukan oleh
dokter, mahasiswa, bidan, tokoh masyarakat maupun pemerintah melalui berbagai
media (surat kabar, majalah, radio, televisi).
Dari uraian diatas dapat terlihat ada dua permasalahan yang memerlukan
pemecahan, yaitu: 1) masalah sosial kemasyarakatan yang menyangkut pada norma
atau aturan yang ada di masyarakat bahwa perbuatan tuna susila dianggap telah
menyalahi aturan atau sopan santun yang ada di masyarakat, dan menurut agama
adalah perbuatan dosa dan hina serta 2) dari sisi kesehatan bahwa perbuatan tuna
susila secara langsung dapat menyebabkan timbulnya berbagai macam penyakit yang
membahayakan kehidupan dirinya hingga membawa pada kematian. Kedua gejala ini
jelas tidak dapat hanya diselesaikan oleh dokter yang mengobati secara medis saja,
melainkan secara non medis seperti pendekatan keagamaan, pemberian
keteramppiulan, menggali potensi diri melalui memberikan pengetahuan yang
bermanfaat bagi dirinya sehingga bisa diterima di masyarakat.
Dampak negatif lainnya dari kemajuan teknologi ada dua, yaitu dampak negatif
terhadap perilaku akibat dari siaran televisi yang sesuai dengan budaya bangsa
Indonesia seperti adegan kekerasan, maupun perilaku-perilaku destruktif lainnya dan
munculnya industri-industri dan pabrik-pabrik yang menghasilkan suatu produk dalam
jumlah besar seperti industri makanan, minuman, tekstil otomotif, dan sebagainya
yang menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan masyarakat akibat limbah yang
mencemari lingkungan. Selain itu munculnya dampak negatif kemajuan teknologi ini
disebabkan ketidak seimbangan perkembangan ilmu dan teknologi, dimana
pengembangan teknologinya tidak mengkhususkan ada teknologi ramah lingkungan.
Ilmu, dan Teknologi dan masyarakat setiap saat mengalami perubahan, hal ini
seiring dengan perkembangan dan kemajuan teknologi yang terus-menerus
meningkat, mulai dari penemuan yang sederhana sampai dengan teknologi yang
super mutakhir.. Kesejajaran perkembangan ilmu, teknologi dan masyarakat
dengan perkembangan pengajaran dimungkinkan akan terjadi keseimbangan

3
pertumbuhan di masyarakat, baik secara fisik maupun psikis (Dirjen
Dikdasmen, 2004) .
Remy, 1990 (dalam Udin.S.Winataputra,dkk: 2007) mengemukakan hasil
tinjauan reformasi pendidikan di Amerika Serikat akhir-akhir ini yang perhatiannya
banyak dicurahkan terhadap konsep Ilmu, Teknologi dan Masyarakat (ITM).. Konsep
Ilmu, Teknologi dan Masyarakat (ITM) memberikan kontribusi secara langsung,
terhadap misi pokok IPS, khususnya dalam mempersiapkan warga Negara.
Untuk mencapai tujuan tersebut maka dalam tulisan ini akan diuraikan pokok
pembahasan “pendekatan konsep ilmu, teknologi dan masyarakat dalam pembelajaran IPS
tingkat Madrasyah Ibtidaiyah (MI)”, dengan sub pokok bahasan sebagai berikut:
1. Memahami Ilmu Pengetahuan di Masyarakat
2. Pengambilan Keputusan Warga Negara
3. Membuat Hubungan Antara Pengetahuan
4. Mengingatkan Generasi Pada Sejarah Bangsa-bangsa Beradab
Pemahaman terhadap empat kemampuan tersebut diatas, sangat
bermanfaat sekali bagi guru jika akan menerapkan konsep-konsep pengajaran
disekolah khususnya Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Tingkat
MI secara terpadu. Memang disadari bahwa dalam proses belajar mengajar
seringkali ditemui seorang guru mengalami kesulitan dalam menentukan,
memilih serta mempertimbangkan materi yang sesuai dengan konsep-konsep
pengajaran IPS tingkat MI. Kelemahan ini sering muncul karena rendahnya
kemampuan guru dalam menjelaskan penggunaan konsep keilmuan, serta
pemanfaatan teknologi yang sesuai serta dibutuhkan dimasyarakat. Untuk itu
perlu adanya Penerapan Model Konsep Ilmu, Teknologi dan Masyarakat Dalam
Pembelajaran IPS Tingkat Madrasyah Ibtidaiyah (MI). Didalam tulisan ini akan
diuraikan satu persatu sub pokok bahasan dari pendekatan konsep ilmu, teknologi dan
masyarakat dalam pembelajaran IPS tingkat Madrasyah Ibtidaiyah (MI), sebagai berikut:
1. Memahami Ilmu Pengetahuan di Masyarakat
Dalam kehidupan demokrasi masyarakat modern memerlukan warga Negara
yang kaya pengetahuan dan memahami persoalan-persoalan kemasyarakatan yang
begitu kompleks yang merupakan dampak dari kemajuan ilmu dan teknologi. Pada
beberapa dekade terakhir ini, masyarakat dunia termasuk Indonesia mengangga bahwa
kemajuan di bidang ilmu dan teknologi telah membawa dampak negatif selain
dampak positif bagi manusia. Menurut Muroyoma dan Steve (dalam Udin.S.

4
Winataputra,dkk,2007:8.5) sisi positif dari perubahan teknologi khususnya dalam
sistem produksi meningkatkan produktifitas dan memperluas produksi yang
mengantarkan pada produk yang semakin baik. Proses produk yang semakin rumit,
cenderung menggunakan lebih banyak bahan sehingga proses produksi memerlukan
teknologi yang semakin canggih. Pengaruh langsung dari peningkatan produksi
tersebut adalah terjadinya penurunan dalam pemanfaatan tenaga kerja manusia. Di
Negara-negara maju, tenaga kerja manusia yang sudah digantikan oleh mesin diserap
kembali dalam memproduksi kembali peralatan produksi baru yang lebih maju.
Namun kondisi ini belum dapat dilakukan di negara-negara yang sedang berkembang.
Oleh sebab itu, seharusnya setiap kegiatan pembangunan ataupun pengembangan
teknologi sebaiknya masyarakat dapat dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan
yang berkaitan dengan penggunaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK).
Mereka harus memahami dampak yang ditimbulkan oleh Ilmu dan Teknologi serta
bagaimana memahami masalah-masalah sosial yang kompleks yang berkaitan dengan
Ilmu dan teknologi. Oleh karena itu, Kurikulum Pembelajaran IPS dapat menjadi
wahana bagi peserta didik untuk belajar mengkaji dan menjelaskan tentang isu-isu
kemasyarakatan dan akibat-akibat dari kemajuan ilmu dan teknologi.
2. Pengambilan Keputusan Warga Negara
Setiap muncul permasalahan di masyarakat sebaiknya dilibatkan dalam
pengambilan keputusan yang berkaitan dengan konsep ilmu dan teknologi dan
masyarakat. Keterlibatan ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan
sebagai warga Negara. Sebagai warga Negara, tentunya kita mempunyai hak untuk
membuat keputusan sendiri, tetapi seharusnya juga disadari bahwa keputusan yang
kita ambil menimbulkan dampak negatif maupun dampak positif bagi kehidupan
masyarakat. Sebagai contoh, mobil dan motor yang menggunakan bahan bakar bensin
atau solar dapat menimbulkan polusi udara yang bisa berbahaya bagi kesehatan
manusia. Memang disadari disatu sisi penggunaan kendaraan dapat memberikan
manfaat, tetapi disisi lain dapat menyebabkan terjadinya pencemaran lingkungan yang
membahayakan kelangsungan makhlup hidup.
Apabila kita tidak belajar tentang konsep ilmu dan teknologi dan masyarakat
maka kita tidak akan tahu apakah keuntungan dan kerugian ketika kita menjalankan
kendaraan. Dengan demikian, setelah kita mengetahui semua ini maka sebagai warga
Negara yang baik tentu akan berusaha memanfaatkan semaksimal mungkin
keuntungan dari kendaraan itu dan berusaha mengurangi seminimal dampak negatif

5
yang ditimbulkan sehingga kendaraan sebagai produk teknologi sangat berguna untuk
menunjang kelangsungan hidup manusia.
Karena karakteristik inilah, kedudukan kosep ilmu, teknologi dan masyarakat menjadi
suatu yang ideal sebagai bahan yang dapat membantu para peserta didik untuk
memahami dan dapat menjelaskan konsep-konsep energi, polusi, lingkungan, sumber
daya alam, air, dan lain-lain yang relevan dengan dinamika ilmu, teknologi dan
masyarakat. Sehubungan dengan itu Remy,1990 (dalam Udin.S.Winataputra,dkk.
2007:8.6) berpendapat bahwa penggunaan langkah-langkah pengambilan keputusan
yang sistematis dalam mempelajari isu-isu ilmu, teknologi dan masyarakat dalam
pembelajaran IPS dapat membantu mengembangkan intelektual peserta didik,
kemampuan memecahkan masalah dan kemampuan berfikir dalam mengambil
keputusan secara fleksibel dan terorganisasi. Hal ini penting mengingat masih sedikit
guru IPS tingkat MI yang memberikan kemampuan-kemampuan seperti ini kepada
peserta didiknya.
Kurikulum IPS merupakan sarana di mana peserta didik dapat belajar tentang,
masyarakat serta akibat-akibat yang ditimbulkan dari ilmu dan teknologi. Penelitian
guru IPS di Amerika Serikat akhir-akhir ini menunjukkan bahwa isu-isu tentang ilmu
teknologi dan sosial sangat penting untuk dikaji di kelas. Bybee dan Mau (dalam
Udin.S.Winataputra,dkk, 2007:8.7) mengidentifikasi isu-isu yang dapat diangkat dari
kejadian-kejadian yang berupa: isu kelaparan, pertumbuhan penduduk yang tidak
terkontrol, pengrusakan lingkungan, peperangan dan sebagainya.
3. Membuat Hubungan Antara Pengetahuan
Salah satu cirri yang paling penting dari warga Negara yang mempunyai
perhatian terhadap lingkungan masyarakat yang serba kompleks, adalah kemampuan
membuat kaitan antara hal yang nampaknya sederhana dengan cara mengungkapkan
cirri-ciri tertentu sehingga menjadi bermakna. Kecakapan demikian merupakan suatu
tanda kemampuan kognisi dan motivasi belajar yang tinggi merupakan tujuan IPS yang
paling berharga.
Apabila guru-guru IPS membelajarkan peserta didiknya menggunakan langkah-
langkah yang sistematis dengan cara pemahaman isu-isu ilmu, teknologi dan
masyarakat, hal ini dapat membantu peserta didik bagaimana cara menjelaskan
keterkaitan antara bermacam-macam disiplin ilmu dengan IPS. Dengan demikian
kemampuan memecahkan masalah tentang isu-isu ilmu, teknologi dan masyarakat
dapat teratasi dengan baik. (Udin.S.Winataputra,dkk, 2007:8.7)

6
Demikian, beberapa konsep ilmu, teknologi, dan masyarakat (ITM) dapat
memberikan konstribusi terhadap misi pokok IPS, khususnya dalam mempersiapkan
warga Negara Indonesia yang melek ilmu pengetahuan dan banyak tahu tentang ilmu,
teknologi dan sosial. Secara diagram kaitan antara ilmu teknologi dan sosial dapat
dilihat pada gambar berikut ini:

Teknologi

IPS Masyarakat
Ilmu

Sumber: Materi dan Pembelajaran IPS SD, (2007:8.7)

Dari diagram ini dapat diambil kesimpulan bahwa ilmu, teknologi dan
masyarakat merupakan suatu rangkaian atau sistem yang mempunyai kaitan yang erat
satu dengan yang lain, dan kedudukan IPS di sini adalah dapat menjelaskan ilmu
teknologi dan masyarakat sesuai dengan informasi yang ada pada ketiga unsur tersebut
baik dampak negatif maupun dampak positifnya. Sehingga pemahaman konsep ilmu,
teknologi dan masyarakat dapat dijembatani melalui proses pembelajaran IPS secara
terpadu.

4. Mengingatkan Generasi Pada Sejarah Bangsa-bangsa Beradab


Bung Karno pernah mengatakan bahwa ”hanya bangsa yang besar yang
menghormati jasa-jasa para pahlawan”. Perkataan ini sering diulang-ulang oleh
generasi penerus, mulai dari para sejarawan itu sendiri, guru-guru, maupun para
pejabat. Di Amerika Serikat sejumlah komisi ilmiah membuat rekomendasi untuk
meningkatkan pendidikan kewarganegaraan bagi generasi muda Amerika melalui
pendalaman pemahaman dan apresiasi para peserta didik terhadap warisan demokrasi.
Apabila orang Amerika dan Eropa barat menanamkan pemahaman terhadap
ilmu pengetahuan dan teknologi dalam mata pelajaran Ilmu pengetahuan social dengan
cara mengungkap kembali perjalanan sejarah, di mana pada masa pencerahan akhir

7
abad ke-17 sampai akhir abad ke-18 yang banyak mempengaruhi kemajuan-kemajuan
yang dicapai oleh Amerika Serikat da Eropa Barat.
Di Indonesia untuk mengangkat konsep ilmu pengetahuan da teknologi dalam
Ilmu Pengetahuan Sosial cukup banyak peninggalan berharga yang telah dicapai oleh
nenek moyang bangsa Indonesia. Bangunan Candi Borobudur, merupakan merupakan
sisa peninggalan sejarah sebagai hasil teknologi tinggi pada zamannya, hal ini dapat
dijelaskan di dalam kelas IPS secara terintegrasi antara kajian konsep ilmu
pengetahuan, teknologi dan kondisi masyarakat pada saat itu.
Dalam perjalanan konsep ilmu pengetahuan, teknologi, dan sosial telah
beberapa kali dijadikan sebagai prioritas dalam pembangunan di Indonesia. Konsep ini
telah menjadi hasil ketetapan MPR dan GBHN. Karena ketiga konsep itu telah ada
dalam dokumen Negara maka kedudukan konsep ilmu pengetahuan, teknologi dan
sosial sangat penting untuk diangkat menjadi kajian dalam pembelajaran IPS.
Setelah kita pelajari dan pahami beberapa alasan mengapa perlu memasukkan
konsep ilmu, teknologi dan sosial dalam pembelajaran IPS, tentunya perlu
dikemukakan pula tujuan adanya konsep-konsep tersebut dalam pembelajaran IPS.
Sebelum kita mengkaji lebih jauh untuk memudahkan pemahaman terhadap
pembahasan materi tentang: beberapa alasan mengapa perlu memasukkan konsep ilmu,
teknologi dan sosial dalam pembelajaran IPS. Untuk itu kita lihat kembali tujuan, dan
ruang lingkup dari pembelajaran mata pelajaran IPS tingkat MI pada Permen Diknas
Nomor 22 Tahun 2006 (Kurikulum tahun 2006 tentang Standar Isi) yang berlaku
sampai dengan sekarang seperti berikut:
Mata pelajaran IPS Tingkat MI bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan
sebagai berikut.

1. Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan


lingkungannya
2. Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri,
memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial
3. Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan
4. Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam
masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional, dan global.
Sedangkan ruang lingkup dari mata pelajaran IPS Tingkat MI meliputi aspek-aspek
sebagai berikut.
1. Manusia, Tempat, dan Lingkungan

8
2. Waktu, Keberlanjutan, dan Perubahan
3. Sistem Sosial dan Budaya
4. Perilaku Ekonomi dan Kesejahteraan
Pada awalnya ide pemikiran tentang konsep ilmu pengetahuan, teknologi dan sosial
dimasukkan dalam pembelajaran IPS terlebih dahulu berkembang di negara-negara Eropa
yang kemudian diadopsi oleh Amerika Serikat. Noris Harms melalui suatu studinya Project
Synthesis mengembangkan IPS untuk persekolahan dengan tujuan sebagai berikut:
1. IPS untuk memenuhi kebutuhan pribadi individu. Pendidikan IPS hendaknya
mempersiapkan individu-individu menggunakan ilmu pengetahuannya untuk
meningkatkan kehidupan mereka dan menjawab dunia teknologi yang semakin
maju.
2. IPS untuk memecahkan berbagai persoalan-persoalan kemasyarakatan masa kini.
Pendidikan IPS hendaknya menghasilkan warga negara yang serba tahu yang siap
menghadapi persoalan-persoalan kemasyarakatan yang berkaitan dengan masalah IPS
secara bertanggung jawab
3. IPS untuk membantu dalam memilih karir. Pendidikan IPS hendaknya
menyadarkan semua peserta didik akan hakekat dan ruang lingkup keragamaan
karir yang berkaitan dengan ilmu dan teknologi yang terbuka bagi semua peserta
didik mempunyai bakat yang berbeda.
4. IPS untuk mempersiapkan studi lanjutan. Pendidikan IPS hendaknya membuka
kesempatan kepada peserta didik yang ingin memperdalam ilmu pengetahuan yang
secara akademik maupun profesional akan mendapatkan penegetahuan akademik yang
tepat untuk memenuhi kebutuhannya.
Adapun dimensi pendidikan IPS dengan pendekatan ilmu teknologi dan masyarakat
pada prinsipnya berbeda dengan pendekatan belajar IPS secara tradisional. Motivasi ilmu,
teknologi dan masyarakat di dorong oleh rasa ingin tahu untuk mempelajari melalui isu-isu
di masyarakat yang berkaitan denga IPTEK yang dirasakan cukup dekat, lebih nyata, dan
lebih berarti dibandingkan dengan konsep-konsep dan teori IPS sendiri.
Pemberian mata pelajaran IPS serta mampu menggunakan metode ilmiah untuk
memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya sehingga peserta didik lebih menyadari
kebesaran dan kekuasaan Sang Pencipta.
Berikut ini adalah fungsi dari Mata Pelajaran IPS:
1. memberi bekal pengetahuan dasar, baik untuk melanjutkakn ke jenjang pendidikan
yang lebih tinggi maupun untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari;
2. mengembangkan keterampilan dalam mengembangkan konsep-konsep IPS;
3. menanamkan sikap ilmiah dan melatih peserta didik dalam menggunakan metode
ilmiah untuk memecahkan masalah yang dihadapi
4. menyadarkan peserta didik akan kekuatan alam dan segala keindahannya sehingga
peserta didik terdorong untuk mencintai dan mengagungkan penciptanya;
5. memupuk daya kreatif dan inovatif

9
6. membantu peserta didik memahami gagasan atau informasi baru dalam bidang IPTEK
7. memupuk diri serta mengembangkan minat peserta didik terhadap IPS
Tetapi untuk mencapai tujuan dalam memenuhi fungsi pendidikan IPS itu, pendekatan
yang digunakan dalam proses mengajar IPS antara lain melalui pendekatan lingkungan,
pendekatan keterampilan proses, pendekatan penemuan dan pendekatan terpadu.
Pendidikan IPS di Indonesia ialah adanya nilai-nilai agama yang dimasukkan dalam
kurikulum sehingga dengan pendidikan IPS ini diharapkan dapat mendorong peserta didik
untuk meningkatkan iman dan taqwanya pada Tuhan yang maha Kuasa. Di dalam
kurikulum tertuang tentang muatan lokal yang diberi porsi cukup leluasa. Dengan demikian
harus dilakukan pengembangan kurikulum yang terus menerus yang mencermati
kepentingan dan ciri-ciri khusus daerah serta pengembangan ilmu dan teknologi. Oleh
sebab itu, tidak menutup kemungkinan bahwa muatan lokal di daerah pesisir dengan
muatan lokal di daerah pedesaan atau pegunungan.
Pembelajaran konsep ilmu pengetahuan, teknologi, dan masyarakat (ITM) dalam IPS
merupakan jawaban atas tiga tujuan dari project Synthesis yang dikemukakan oleh Harms.
Konsep Ilmu, Teknologi dan Masyarakat (ITM) memfokusksn pada kebutuhan-
kebutuhan pribadi peserta didik. Konsep Ilmu, Teknologi dan Masyarakat (ITM)
memfokuskan ada isu-isu kemasyarakatan dan kesejahteraan manusia dan bahkan
mendorong kegiatan yang inovatif seperti persoalan-persoalan umat manusia. ITM
memfokuskan pula pada masalah pekerjaan dan karir yang dikenal saat ini yang berarti
memanfaatkan sumber daya manusia dalam mengidentifikasi dan memecahkan masalah
tersebut. ITM merupakan istilah yang mengangkat pendidikan IPS secara retoris dalam
kurikulum yang mengundang perdebatan baik ruang lingkup, urutan konsep dasar maupun
keterampilan proses. Konsep ITM mencakup keseluruhan spektrum tentang peristiwa-
peristiwa kritis dalam proses pendidikan, meliputi tujuan, kurikulum, strategi pembelajaran,
evaluasi dan persiapan serta penampilan guru. Dan dasar eksistensi ITM adalah lahirnya
warga negara yang berppengetahuan yang mampu memecahkan masalah-masalah penting
dan mengambil keputusan yang tepat dalam setiap pemecahan masalah. ITM berusaha
memfokuskan pada penyelesaian isu-isu saat ini sebagai cara terbaik mempersiapkan
generasi masa kini dan perannya sebagai warga negara di masa depan. Sebenarnya tidak
ada konsep yang unik dalam ITM kecuali dalam memberikan tempat/wahana dan alasan
sebagai bahan pertimbangan berupa sejumlah konsep dasar dan proses ilmu pengetahuan
dan teknologi.
Prioritas ITM adalah pada kemampuan peserta didik dalam proses pengambilan
keputusan yang bertanggung jawab. Oleh karena itu, dalam proses pengambilan keputusan
ini sejogyanya memperhatikan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
1. Apakah suatu masalah?
2. Bagaimana sesuatu ini menjadi masalah?
3. Apakah alternatif pendekatan untuk pemecahannya?
4. Apakah pengaruh potensial dalam menerapkan alternatif pemecahan pada indifidu
dan masyarakat?
ITM sebagai suatu pendekatan pembelajaran IPS tidaklah memandang dan mengkaji
untuk ilmu. ITM tidak hanya mempelajari ilmu dengan cara penyajian yang sulit dipahami
oleh khalayak umum maupun ilmuwan. Bahkan guru IPS pun merasa ragu, kuatir, dan
bingung mempelajari dan menyampaikannya kepada peserta didik. Akibatnya peserta didik

10
tidak merasakan ilmu sebagai sesuatu yang menyenangkan dan menjadi miliknya sehingga
ia tidak dapat merasakan manfaat dan rasa ingin tahu dengan cara bertanya lebih jauh lagi.
Idealnya seorang guru adalah dapat mentransfer/memberikan ilmu pengetahuan,
ketrampilan dan nilai kepada peserta didik sehingga apa yang ditransfer memiliki makna
bagi diri sendiri dan juga masyarakat.
Melalui proses pembelajaran ITM akan mengantarkan peserta didik untuk melihat ilmu
sebagai dunianya, peserta didik akan mengenal dan punya pengalaman sebagaimana pernah
dialami oleh para ilmuwan. ITM dengan teknologinya berusaha menghubungkan atau
menjambatani antara ilmu dan masyarakat. Penerapan ilmu sudah saatnyaterus
dikembangkan agar apa yang diperoleh di bangku sekolah tidak lagi hanya sebatas
pengetahuan yang sulit dipraktikkan atau hanya di atas kertas yang berupa uraian yang
sarat dengan teori-teori yang sulit diterjemahkan dalam praktiknya di masyarakat. Oleh
karena itu, pemahaman terhadap suatu disiplin ilmu akan lebih bermanfaat jika dapat
diterapkan di masyarakat dengan baik dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat tersebut.
Apabila ITM ingin menjadi ujung tombak dalam pendidikan IPS maka ITM harus
sejalan serta mendukung tujuan pendidikan. Selain itu kelebihannya haruslah dijadikan
sebagai suatu manfaat baik untuk kepentingan pribadi, masyarakat maupun karir di
sekolah. Dalam ruang lingkup yang lebih luas ITM memiliki topik-topik, konsep-konsep,
proses dan strategi pembelajaran tertentu. Topik pembelajaran ITM selalu memfokuskan
pada isu-isu nyata yang aktual di masyarakat. Dalam proses pembelajaran, ITM berupaya
memanfaatkan waktu untuk memodifikasi berbagai informasi dan ketrampilan bagi peserta
didik. Strategi pembelajaran ITM dimulai dari suatu situasi yang bermasalah atau
mengandung pertanyaan dan isu. Kedudukan guru dalam proses pembelajaran adalah
membantu peserta didik dalam mengkaji kekuatan dan manfaat konsep dasar dan proses.
Artinya proses pembelajaran ITM melalui dengan memperhatikan peserta didik, terutama
dalam menentukan atau merumuskan masalah, menggunakan sumber yang ada sebagai
acuan dalam penyelesaian serta dapat mengambil langkah-langkah nyata untuk
memecahkan persoalan individu maupun kelompok (Dirjen Dikdasmen, 2004: 15-16)
ITM berusaha memerhatikan peserta didik, lingkungannya, dan kerangka pikirnya.
Strategi pembelajarannya dimulai dari penerapan pada dunia nyata, menuju dunia teknologi
dan kemudian dunia peserta didik. Robert E. Yager (dalam Udin.S.Winataputra,dkk.
2007:8.12) mengatakan, untuk memahami model program ilmu pengetahuan, teknologi,
dan masyarakat (ITM) seperti berikut ini.

11
Model Ilmu/Teknologi/Program Masyarakat

Kondisi Lingkungan
Masyarakat secara
Keseluruhan
Penerapan

Kreatifitas

Konsep

Proses
Tingkah Laku

Hubungan
Peserta
didik
Sumber: Materi dan Pembelajaran IPS SD, (2007:8.13)

Gambar di atas memberikan suatu gambaran untuk Ilmu, Teknologi, dan


Masyarakat dalam mengidentifikasi tujuan, perencanaan kurikulum, menetapkan
strategi pembelajaran, dan menentukan sistem untuk mengukur tercapainya tujuan
pembelajaran. Model ini dimulai dari kondisi lingkungan masyarakat secara
keseluruhan atau masyarakat tempat asal para peserta didik. Kemudian berpindah pada
kawasan, penerapan suatu kawasan yang paling dekat dengan peserta didik sehingga
permasalahan dapat dilihat dan diidentifikasi. Bidang ini meliputi makanan yang
merka makan, pakaian yang mereka pakai, rumah tempat tinggal, sistem komunikasi,
transportasi, isu-isu yang berkembang di masyarakat, dan kesempatan kerja atau karir
yang, dapat dimasuki oleh peserta didik setelah mereka selesai sekolah.
Kehidupan sehari-hari yang memberikan contoh langsung berkembang dengan
peserta didik mempunyai pengaruh positif serta dapat mempertajam sikap dan
kreativitas peserta didik. Semua kemampuan ini dapat dianggap untuk proses
pembelajaran. Domain ini sebagaimana digunakan dan dikembangkan oleh para
rofesional pada disiplin ilmu tertentu memberikan masukan bagi bidang konsep dan
proses (Dirjen Dikdasmen, 2004) .

12
Berikut ini adalah konsep, proses, sikap (attitudes), kreatifitas dan penerapan ITM
dan teradisional menurut perbandingan yang dikemukakan oleh Robert E. Yager
(dalam Udin.S.Winataputra,dkk, 2007:8.13).

Tabel 1: Perbandingan Konsep ITM Dan Tradisional Dalam IPS

Tradisional ITM
1. Konsep adalah informasi 1. Peserta didik menganggap konsep
yang digunakan oleh guru sebagai sesuatu yang beguna bagi
untuk bahan tes. pribadinya.
2. Konsep dianggap sebagai 2. Konsep dianggap sebagai komoditas
hasil. yang diperlukan untuk memecahkan
masalah
3. Belajar pada hakekatnya 3. Belajar terjadi karena aktivitas,
untuk ujian. proses tetapi tidak merupakan fokus
4. Daya tahannya hanya 4. Peserta didik yang belajar melalui
berlaku waktu singkat. pengalaman sering mengaitkan
dengan situasi baru.

Tabel 2: Perbandingan Proses ITM Dan Tradisional Dalam IPS

Tradisional ITM

13
1. Peserta didik menganggap 1. Peserta didik menganggap
proses ilmiah sebagai proses ilmiah yang dapat
keterampilan milik para dilakukan oleh peserta didik
ilmuwan
2. Peserta didik menganggap 2. Peserta didik memandang
proses sebagai sesuatu untuk proses sebagai keterampilan
diterapkan sebagai keharusan yang diperlukan untuk
pelajaran. memperbaiki dan
mengembangkan diri mereka
3. Pembahasan guru tentang proses 3. Peserta didik mudah
kurang dipahami oleh peserta memahami kaitan proses ilmu
didik karena tidak dengan perilaku sehari-hari
memperhatikan tingkat kelas
4. Peserta didik memandang proses 4. Peserta didik memandang
ilmu sebagai keterampilan yang proses ilmiah sebagai bagian
abstrak, dipuja-puja sulit penting dan apa yang biasa
tercapai dan sulit didekati. mereka lakukan di kelas IPS.

Tabel 3: Perbandingan Sikap Peserta Didik ITM Dan


Tradisional Dalam IPS
Tradisional ITM
1. Perhatian peserta didik 1. Perhatian peserta didik meningkat
menurun pada kelas pada setiap kelas.
tertentu.
2. IPS menunjukkan tingkat 2. Rasa ingin tahu peserta didik lebih
rasa ingin tahu yang tinggi
menurun
3. Peserta didik memandang guru
3. Peserta didik memandang
sebagai fasilitator
guru sebagai penyampai
informasi
4. Peserta didik memandang IPS
4. Peserta didik memandang
sebagai suatu cara untuk

14
IPS informasi yang harus mengatasi masalah
dipelajari

Tabel 4: Perbandingan Antar Kreatifitas Peserta Didik ITM Dan


Tradisional Dalam IPS
Tradisional ITM
1. Kemampuan bertanya 1. Peserta didik aktif dalam
peserta didik rendah, sering mengembangkan bahan ajar dan
diabaikan karena dianggap suasana kelas dinamis
tidak sesuai dengan silabus
ataupun kurikulm. 2. Pertanyaan peserta didik bersifat
2. Jarang ditemukan sangat bervariasi sehingga
pertanyaan yang diajukan merangsang peserta didik lain
sebagai pertanyaan yang untuk bertanya.
inovatif 3. Kemampuan peserta didik dalam
3. Kemampuan memahami memberikan pendapat/argumentasi
suatu permasalahan kurang sangat tepat
efektif 4. Peserta didik merasa puas dan
4. Keterbatasan gagasan/ide dihargai atas gagasan/ide yang
yang dimiliki peserta didik. disampaikan.
Tabel 5: Perbandingan Antara Penerapan ITM
Dan Tradisional Dalam IPS
Tradisional ITM
1. Peserta didik tidak 1. Peserta didik dapat memanfaatkan
memanfaatkan hasil ilmu yang dipelajarinya dengan
belajar ilmu bagi kehidupan sehari.
kehidupannya.
2. Peserta didik tidak 2. Peserta didik terlibat dalam
memanfaatkan hasil hari memecahkan isu-isu sosial dan tahu
belajarnya untuk hubungannya sebagai warga Negara
memecahkan masalah.
3. Peserta didik mencari informasi yang
3. Peserta didik tidak dapat
sesuai dalam memecahkan masalah
menghubungkan ilmu

15
yang mereka pelajarinya. 4. Peserta didik tertarik dengan
4. Peserta didik tidak dapat perkembangan teknologi mutakhir
menghubungkan ilmu serta mampu memanfaatkannya yang
yang mereka pelajari sesuai dengan konsep ilmu
dengan teknologi saat ini.

Sumber: Materi dan Pembelajaran IPS SD, (2007:8.14-8.15)

Dari tabel nomor 1 (satu) sampai dengan tabel nomor 5 (lima) di atas dapat diambil
kesimpulan bahwa, perbandingan antara ITM dan Tradisional dalam konsep, proses, sikap,
kemampuan yang kreatif dan aplikasi ini merupakan kerangka panduan dan landasan yang
dapat digunakan oleh peserta didik dalam proses belajar mengajar (PBM), terutama untuk
memecahkan masalah-masalah yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari.
5. Penutup

Ilmu, Teknologi dan Masyarakat setiap saat mengalami perubahan, hal ini seiring
dengan perkembangan dan kemajuan teknologi yang terus-menerus meningkat, mulai dari
penemuan yang sederhana sampai dengan teknologi yang super mutakhir. Kesejajaran
perkembangan Ilmu, Teknologi dan Masyarakat dengan perkembangan pengajaran
dimungkinkan akan terjadi keseimbangan pertumbuhan di masyarakat, baik secara fisik
maupun psikis.
Ilmu, Teknologi dan Masyarakat (ITM) merupakan istilah yang diterapkan sebagai
upaya untuk memberikan wawasan kepada peserta didik secara nyata dalam mengkaji ilmu
pengetahuan. Konsep ITM mencakup keseluruhan spektrum tentang peristiwa-peristiwa
kritis dala proses pendidikan, meliputi tujuan, kurikulum, strategi pembelajaran, evaluasi
dan persiapan serta penampilan guru. Ciri dasar keberadaan ITM adalah lahirnya warga
Negara yang berpengetahuan yang mampu memecahkan masalah-masalah krusial dan
mengambil tindakan secara efisien dan efektif.
Tulisan Pendekatan Konsep Ilmu, Teknologi, dan Masyarakat (ITM) Dalam
Pengajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di Madrasah Ibtidaiyah (MI) merupakan sala
satu upaya dalam pembinaan/sebagai dasar/menambah wawasan yang harus
dikuasai/dipunyai bagi seorang guru IPS Tingkat MI dalam proses Kegiatan Belajar
Mengajar (KBM) di lapangan, sesuai dengan peran dan fungsi pendidik seiring dengan
bergesernya paradigma baru dalam bidang pendidikan. Karena pendidik tidak hanya

16
dituntut sebagai pendidik, pengajar, dan pelatih, tapi juga dituntut sebagai promotor,
motivator, fasilitator, dinamisator, learning resources. Lebih jauh, pendidik dituntut
berfungsi sebagai manager, leader, dan climatemaker dalam proses pembelajaran di
sekolah. Karena pemahaman terhadap kemampuan ini sangat bermanfaat bagi guru
IPS Tingkat MI khususnya dan guru IPS pada umumnya jika akan menerapkan
konsep-konsep pengajaran IPS secara terpadu.
Mudahan bahan yang disajikan ini dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya serta
mempunyai daya guna yang tinggi sehingga dapat memberikan manfaat yang besar dalam
pembinaan para generasi yang akan datang. Amin.

17
DAFTAR PUSTAKA

Anwa Kholil. (2008). Pembelajaran Berdasarkan Masalah.


http://anwarholil.blogspot.com/2008/04/pembelajaran-berdasarkan-masalah.html

Dirjen Dikdasmen.(2004).Materi Pelatihan Terintegrasi Pengetahuan Sosial.Jakarta:


Depdiknas

Mutakin, Awan. (1997). Pengantar Ilmu Sosial. Jakarta:.Dikgutentis.

Mutakin, Awan. (1997). Pendidikan Ilmu Sosial. Jakarta: .Dikgutentis

Riyanto, Milan. (1996). Perangkat Pembelajaran. Malang: PPPG IPS

Supriawan, Dedi & A. Benyamin Surasega. (1990). Strategi Belajar Mengajar.


(Diktat Kuliah). Bandung : FPTK-IKIP Bandung.

Sumantri, Moh. Nukman. (2001). Menggagas Pembaruan Pendidikan IPS. Bandung :


Rosdakarya Remaja.

Sunaryo. (1989). Strategi Belajar Mengajar IPS. Malang: IKIP Malang.

Sunaryo. (1995). Sumber Bahan Pembelajaran IPS SD. Malang: PPPG IPS PMP Malang

Sutrisno, Susanto. (1995). Pengorganisasian Bahan Pembelajaran IPS. Malang: PPPG IPS
PMP Malang.

Poerwito. (1991). Ilmu Pengetahuan Sosial. Malang: PPPG IPS PMP Malang
Udin S. Winataputra. (2003). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Pusat Penerbitan
Universitas Terbuka.
Udin S. Winataputra, dkk. (2007). Materi Dan Pembelajaran IPS SD. Jakarta:
Universitas Terbuka.

Ujang Sukandi, dkk. 2001. Belajar Aktif dan Terpadu Apa, Mengapa, dan
Bagaimana. Jakarta: The British Council

Wina Senjaya. (2008). Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses


Pendidikan. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.

18