You are on page 1of 21

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tasawuf merupakan salah satu bidang studi Islam yang memusatkan perhatian
pada pembersihan aspek rohani manusia yang selanjutnya dapat menimbulkan akhlak
mulia. Pembersihan aspek rohani atau batin ini selanjutnya dikenal sebagai dimensi
esoterik dari diri manusia. Hal ini berbeda dengan aspek Fiqih, khususnya bab thaharah
yang memusatkan perhatian pada pembersihan aspek jasmaniah atau lahiriah yang
selanjutnya disebut sebagai dimensi eksoterik. Islam sebagai agama yang bersifat
universal dan mencaku berbagai jawaban atas berbagai kebutuhan manusia, selain
menghendaki kebersihan lahiriah juga menghendaki kebersihan batiniah, lantaran
penilaian yang sesungguhnya dalam Islam diberikan pada aspek batinnya. Hal ini
misalnya terlihat pada salah satu syarat diterimanya amal ibadah, yaitu harus disertai
niat.

Melalui studi tasawuf ini seseorang dapat mengetahui tentang cara-cara


melakukan pembersihan diri serta mengamalkannya dengan benar. Dari pengetahuan ini
diharapkan ia akan tampil sebagai orang yang pandai mengendalikan dirinya pada saat
berinteraksi dengan orang lain, atau pada saat melakukan berbagai aktivitas dunia yang
menuntut kejujuran, keikhlasan, tanggung jawab, kepercayaan dan sebagainya. Dari
suasana yang demikian itu, tasawuf diharapkan dapat mengatasi berbagai penyimpangan
moral yang mengambil bentuk seperti manipulasi, korupsi, kolusi, penyalahgunaan
kekuasaan dan kesempatan, penindasan.

1
B. Rumusan Masalah
Dalam makalah ini akan dikemukakan empat pokok permasalahan diantaranya:
1. Bagaimana hubungan ilmu Akhlak dengan ilmu lainnya?
2. Bagaimana sejarah pertumbuhan dan perkembangan ilmu Akhlak?
3. Apa pengertian baik dan buruk?
4. Bagaimana pembentukan akhlak?
5. Apa pengertian dan unsur-unsur dalam tasawuf?
6. Bagaimana asal usul tasawuf dan sejarah perkembangannya?
C. Tujuan Pembahasan
1. Mengetahui bagaimana hubungan ilmu Akhlak dengan ilmu lainnya.
2. Mengetahui bagaimana sejarah pertumbuhan dan perkembangan ilmu Akhlak.
3. Memahami Pengertian baik dan buruk.
4. Memahami bagaimana pembentukan akhlak.
5. Mengetahui pengertian dan unsur-unsur dalam tasawuf.
6. Mengetahui asal-usul tasawuf dan sejarah perkembangannya.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. HUBUNGAN ILMU AKHLAK DENGAN ILMU LAINNYA

a. Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Tasawuf

Hubungan antara ilmu akhlak dengan ilmu Tasawuf menurut Harun Nasution yaitu,
ketika mempelajari Tasawuf ternyata pula bahwa Al-Qu’an dan al-hadist menekankan
nilai-nilai kejujuran, kesetiakawanan, persaudaraan, rasa kesosialan, keadilan, tolong
menolong, murah hati, suka memberi maaf, baik sangka, sabar, pemura, berani,
kesucian, hemat, menepati janji, disiplin, mencintai ilmu dan berfikiran lurus. Nilai-nilai
serupa ini yang harus dimilki oleh seorang muslim dan dimasukan kedalam dirinya
semasa ia kecil.
b. Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Tauhid
Ada hubungan yang erat antara keimanan yang dibahas dalam Ilmu Tauhid dengan
pebuatan baik yang dibahas dalam Ilmu Akhlak. Ilmu Tauhid tampil dalam memberikan
landasan terhadap Ilmu Akhlak, dan Ilmu Akhlak tampil memberikan jabaran dan
pengamalan dari Ilmu Tauhid. Tauhid tanpa Akhlak yang mulia tidak ada artinya, dan
Akhlak yang mulia tanpa Tauhid tidak akan kokoh. Selain itu Tauhid memeberikan arah
terhadap Akhlak, dan Akhlak memberi isi terhdap arahan tersebut.Disinlah letaknya
hubungan yang erat dan dekat antara Tauhid dan Akhlak.1
c. Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Jiwa
Dalam Ilmu Jiwa juga terdapat informasi tentang perbedaan psikologis yang
dialami seseorang pada setiap jenjang usianya. Pada usia balita misalnya anak
cenderung emosional dan manja. Sedangkan pada usia anak-anak cenderung meniru
orang tua nya yang rekreatif. Gejala psikologis seperti ini akan memberikan informasi
tentang perlunya menyampaikan Akhlak sesuai dengan perkembangan jiwanya. Dalam
kaitan ini dapat dirumuskan sejumlah metode dalam menanamkan Akhlak yang mulia.

1
Nata, Abuddin. 2012. Akhlak Tasawuf. Cetakan ke-11.( Jakarta: PT RajaGrafindo Persada), hlm 19-32

3
Dengan demikian, Ilmu Jiwa juga dapat memberikan masukan dalam rangka
merumuskan tentang metode dan pendekatan dalam pembinaan Akhlak.
d. Hubungan Ilmu Akhlak dengan Pendidikan
Pendidikan Islam merupakan sarana yang mengantarkan anak didik agar menjadi
orang yang berakhlak. Pendidikan Islam dalam pelaksanaannya memerlukan dukungan
dari orang tua dirumah, guru disekolah dan pimpinan serta tokoh masyarakat
dilingkungan. Kesemua lingkungan ini merupakan bagian integral dari pelaksaan
pendidikan, yang berarti pula dilaksankannya pendidikan Akhlak.2
e. Hubungan Ilmu Akhlak dengan Filsafat
filsafat juga membahas tentang Tuhan, alam dan makhluk lainnya. Dari
pembahasan ini akan dapat diketahui dan dirumuskan tentang cara-cara berhubungan
dengan Tuhan dan memperlakukan makhluk serta alam lainnya. Dengan demikian, akan
dapat diwujdkan akhlak yang baik terhadap Tuhan, terhadap manusia, alam dan
makhluk Tuhan lainnya.
Selain itu uraian diatas menunjukan dengan jelas bahwa Ilmu Akhlak adalah
Ilmu yang sangat akrab atau berdekatan dengan berbagai permasalahan lainnya yang
ada disekitar kehidupan manusia.3

B. SEJARAH DAN PERKEMBANGAN ILMU AKHLAK


a. Sejarah dan Perkembangan Ilmu Akhlak diluar Agama Islam
1) Akhlak pada Bangsa Yunani
Pertumbuhan dan perkembangan ilmu akhlak pada bangsa yunani terjadi
setelah munculnya apa yang disebut dengan Sophistichians, yaitu orang – orang
yang bijaksana (500-450) SM. Sejarah mencatat, bahwa filsuf yunani petama kali
mengemukakan pemikiran dibidang akhlak adalah Socrates (469-399M). Socrates
dipandang sebagai perintis ilmu akhlak, karena ia yang pertama kalinya berusaha
sungguh – sungguh membentuk pola hubungan antar manusia dengan dasar ilmu
pengetahuan. Dia berpendapat bahwa akhlak dan bentuk pola hubungan itu tidak
akan menjadi benar, kecuali bila didasarkan pada ilmu pengetahuan, sehingga ia

2
Nata, Abuddin. 2012. Akhlak Tasawuf. Cetakan ke-11. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,
hlm 37-38
3
Nata, Abuddin. 2012. Akhlak Tasawuf. Cetakan ke-11. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, Hlm 38-41

4
berpendapat bahwa keutamaan itu adalah ilmu4. Pendapat akal yang demikian itu
dapat saja diikuti sepanjang tidak bertentang dengan Al Quran dan Al Sunnah.5
2) Akhlak pada Agama Nasrani
Pada akhir abad ketiga Masehi tersiarlah agama Nasrani di Eropa. Agama ini
telah berhasil mempengaruhi pemikiran manusia dan membawa pokok pokok ajaran
akhlak didalam kitab Taurat dan Injil. Pada ajaran agama Nasrani bersifat teosentri
(memusat pada tuhan) dan sufistik (bercorak batin). Pendorong agama Nasrani ini
untuk berbuat kebaikan ialah cinta dan iman kepada Tuhan berdasarkan petunjuk
Kitab Taurat.6
3) Akhlak pada Bangsa Romawi (Abad pertengahan)
Ajaran Akhlak yang lahir di Eropa pada abad pertengahan itu adalah ajaran
akhlak yang dibangun dari perpaduan antara ajaran Yunani dan ajaran Nasrani.
Abelard seorang ahli filsafat Perancis (1079-1142) dan Thomas Aquinas seorang
ahli fislsafat Agama berkebangsaan Italy (1226-1274).7 Gereja berkeyakinan bahwa
kenyataan “hakikat” telah diterima dari wahyu. Apa yang diperintahkan oleh wahyu
tentu benar adanya
4) Akhlak pada Bangsa Arab
Bahwa bangsa Arab pada zaman jahiliah tidak mempunyai ahli-ahli
Filsafat yang mengajak kepada aliran atau faham tertentu sebagaimana Yunani,
seperti Epicurus, Zeno, Plato, dan Aristoteles. Hal itu terjadi karena penyelidikan
ilmu tidak terjadi kecuali di Negara yang sudah maju. Waktu itu bangsa Arab hanya
memiliki ahli-ahli hikmat dan sebagian ahli syair. Yang memerintahkan kepada
kebaikan dan mencegah kemungkaran, mendorong menuju keutamaan, dan
menjauhkan diri dari kerendahan yang terkenal pada zaman mereka.
b. Sejarah Perkembangan Ilmu Akhlak dalam Agama Islam

Al Quran adalah sumber utama dan mata air yang memancarkan ajaran Islam.
Hukum – hukum Islam yang mengandung pengetahuan tentang akhidah, pokok –
pokok akhlak dan perbuatan dapat dijumpai didalam Al Quran. Allah SWT,
berfirman dalam :

4
Mustofa. Akhlak Tasawuf, Bandung, (CV Pustaka Setia), 2005. Hal 41
5
Amin, Ahmad. Ilmu akhlak, Jakarta (PT Bulan Bintang), 1995 hal 23
6
Ibid.hlm 45
7
Ibid. hlm 46

5
Surah Al Isra (17) : 9

‫ن َٰهذا ْالقُ ْرآنَ ي ْهدِي ِللَّتِي ِهيَ أ َ ْق َوم‬


ََّ ‫ِإ‬

Artinya : Sesungnya Al Quran ini menunjukkan jalan yang lebih lurus.

Hasil penelitian Thabathabi terhadap kandungan Al Quran mengenai jalan yang


tempuh oleh manusia ada 3 macam uraian sebagai berikut.

 Pertama, dalam petunjuk Al Quran, dalam hidupnya manusia hanya menuju


kebahagiaan, ketenangan, dan pencapaian cita – cita.
 Kedua, perbuatan – perbuatan yang diakukan manusia senantiasa berada dalam
suatu kerangka peraturan dan hukum tertentu.
 Ketiga, jalan hidup manusia adalah jalan berdasarkan fitrah, bukan dari emosi dan
dorongan hawa nafsu.
 Selanjutnya ajaran Islam mengenai akhlak dapat dijumpai dengan perhatian Nabi
Muhammad SAW..

c. Sejarah dan Perkembangan Ilmu Akhlak pada Zaman Baru

Pada akhir abad kelima belas Masehi, Eropa mulai mengalami kebangkitan dalam
bidang filsafat, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Akhlak yang mereka bangun
didasarkan pada penyelidikan menurut kenyataan empirik dan tidak mengikuti
gambaran-gambaran khayal atau keyakinan yang terdapat dalam ajaran agama. Sumber
akhlak yang semula ajaran al-kitab, dogma kristiani dan khayalan mereka diganti
dengan ajaran akhlak yang bersumber pada logika dan pengalaman empirik. Hal
demikian pada gilirannya melahirkan apa yang di sebut dengan etika dan moral yang
berbasis pada pemikiran akal pikiran.

C. BAIK DAN BURUK

a. Pengertian Baik dan Buruk

Baik adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan yang luhur,


bermanfaat, menyenangkan dan disukai manusia. Definisi kebaikan tersebut
terkesan antroposentris, yakni memusatkan dan bertolak dari suatu yang
menguntungkan dan membahagiakan manusia.Pengertian baik yang demikian tidak

6
ada salahnya karena secara fitrah manusia menyukai hal-hal yang menyenangkan
dan membahagiakan dirinya.Dari definisi tersebut dapat memberi kesan bahwa
sesuatu yang disebut baik atau buruk itu relative sekali, karena bergantung pada
pandangan dan penilaian masing-masing yang merumuskannya. Dengan demikian,
nilai baik atau buruk menurut pengertian tersebut bersifat subjektif, karena
bergantung kepada individu yang menilainya.8

b. Ukuran Penentuan Baik dan Buruk

1. Baik Buruk menurut Aliran Adat-Istiadat (Sosialisme)

Menurut aliran ini baik buruk ditentukan berdasarkan adat-istiadat yang


berlaku dan dipegang teguh masyarakat.Orang yang mengikuti dan
berpegang teguh pada adat dipandang baik, dan orang yang menentang dan
tidak mengikuti adat istiadat dipandang buruk, dan kalau perlu dihukum
secara adat.

2. Baik buruk menurut Aliran Hedonisme

Menurut paham ini yang disebut baik adalah perbuatan yang banyak
mendatangkan kelezatan, kenikmatan dan kepuasan nafsu biologis. Epicurus
mengatakan bahwa kebahagiaan atau kelezatan adalah tujuan manusia. Dan
akhlak itu tidak lain dan tidak bukan adalah berbuat untuk menghasilkan
kelezatan dan kebahagiaan serta keutamaan. Pada tahap selanjutnya paham
Hedonisme ini yang becorak individual dan universal. Corak pertama
berpendapat bahwa yang dipentingkan terlebih dahulu adalah mencari sebesar-
besarnya kelezatan kepuasan untuk diri sendiri. Corak kedua memandang bahwa
perbuatan baik adalah yang mencari kebahagiaan untuk sesama manusia.9 Para
pengikut aliran hedonism membagi kebahagian menjadi dua yaitu:

8
Abuddin Nata, Akhlaq Tassawuf dan Karakter Mulia, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2013), hlm.88
9
Abuddin Nata, Akhlaq Tassawuf dan Karakter Mulia, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2013), hlm.
91-92.

7
a. Kebahagian diri (Egoistic Hedonism)
Pendapat ini mengatakan bahwa manusia harus mencari kebahagian
sebanyak mungkin untuk dirinya, dan mengorientasikan segala usahanya ke
arah kebahagian.
b. Kebahagiaan bersama ( Universalistic Hedonism)
Paham ini menghendaki agar manusia mencari kebahagiaan yang sebesar-
besarnya untuk sesama manusia, bahkan untuk semua makhluk yang
berperasaan.10
3. Baik dan Buruk Menurut Paham Intuisisme (Humanisme)

Menurut paham ini perbuatan yang baik adalah perbuata nyang sesuai
dengan penilaian yang di berikan oleh hati nurani atau kekuatan batin yang ada
dalam dirinya. Dan sebaliknya perbuatan buruk adalah perbuatan yang menurut
hati nurani atau kekkuatan batin di pandang buruk.

4. Baik Buruk Menurut Paham Utilitarianisme

Menurut paham ini bahwa yang baik adalah yang berguna. Jika hal ini
berlaku pada perorangan disebut individual, dan jika berlaku pada masyarakat
disebut sosial.Namun paham ini terkadang di pandang cenderunng ekstrem dan
melihat kegunaannya hanya dari sudut pandang materialistik. Selian itu juga
paham ini juga dapat menggunakan apa saja yang di anggap ada gunanya.

5. Baik Buruk Menurut Paham Vitalisme


Menurut paham ini yang baik ialah yang mencerminkan kekutan dalam
hidup manusia. Kekuatana dan kekuasaan yang menaklukkan orang lain yang
lemah di anggap sebagai yang baik. Dengan kekuatan dan kekuasaan yang
dimiliki ia mengembangkan pola hidup Feodalisme, Kolonialisme, Dictator dan
Tiranik.
6. Baik Buruk Menurut Paham Regionalisme
Menurut paham ini yang dianggap baik adalah perbuatan yang sesuai
dengan kehendak Tuhan, sedangakn perbuatan yang buruk adalah perbuatan

10
Dudung Rahmat Hidayat, Akhlaq Tasawuf, Ilmu dan Aplikasi Pendidikan. Bagian 3 Pendidikan
Disiplin Ilmu, (Jakarta: PT. Imperial Bhakti Utama, 2007), hlm.19.

8
yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.Paham ini lebih menekankan pada
paham Teologis.Paham ini bersifat umum dan objek.
7. Baik Buruk Menurut Paham Evolusi ( Evolution)

Segala sesuatu yang ada di alam ini mengalami evolusi, yaitu


berkembang pada apa adanya menuju pada kesempurnaannya.11 Herbert Spencer
(1820-1903) seorang ahli filsafat inggris yang berpendapat evolusi ini
mengatakan bahwa perbuatan akhalak itu tumbuh secara sederhana. Bahwa
Spenceer menjadikan ukuran perbuatan manusia itu ialah mengubah diri sesuai
dengan keadaan yang mengelilinginya.

c. Sifat Baik dan Buruk

Sifat dan corak baik-buruk yang didasarkan pada pandangan filsafat sebagimana
disebutkan diatas adalah sesuai dengan sifat dari filsafat itu sendiri, yakni berubah,
relative nisbi dan tidak universal. Dengan demikian sifat baik atau buruk yang
dihasilkan berdasarkan pemikiran filsafat tersebut menjadi relatif dan nisbi pula, yakni
baik dan buruk yang dapat terus berubah. Sifat baik-buruk yang dikemukakan
berdasarkan pandangan tersebut sifatnya subjektif, lokal dan temporal.Dan oleh
karenanya nilai baik dan buruk itu sifatnya relative.12

d. Baik dan Buruk Menurut Ajaran Islam

Menurut ajaran islam penentuan baik dan buruk didasarkan pada petunjuk Al-
Qur’an dan Al-hadis. Jika diperhatikan Al-Qur’an dan hadis dapat dijumpai berbagai
istilah yang mengacu kepada baik dan buruk. Di antara istilah yang mengacu kepada
baik adalah al-hasanah, thayyibah, khairah. Karimah, mahmudah.Azizah dan al-birr.
Al-hasanah sebagaimana dikemukakan oleh Al-Raghib al-Asfahani adalah suatu istilah
yang digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang disukai atau di pandang baik. Al-
hasanah dibagi menjadi tiga bagian yaitu hasanah dari segi akal , dari segi hawa
nafsu/keinginan dan hasanah dari segi panca indra. Lawan dari al-hasanah adalah al-
sayyiah. Yang termasuk kedalam al-hasanah misalnya keuntungan, kelapangan rezeki

11
Abuddin Nata, Akhlaq Tasawuf dan Karakter Mulia, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2013), hlm.
96-98.

12
Ibid. hlm. 100.

9
dan kemenangan. Sedangkan yang termasuk al-sayyiah misalnya kesempitan, kelaparan
dan keterbelakangan. 13

D. PEMBENTUKAN AKHLAK

a. Arti Pembentukan Akhlak

Menurut sebagian ahli bahwa akhlak tidak perlu dibentuk, karena akhlak adalah
insting (garizah) yang dibawa manusia sejak lahir. Bagi golongan ini bahwa masalah
akhlak adalah pembawaan dari manusia sendiri, yaitu kecenderungan kepada kebaikan
atau fitrah yang ada dalam diri manusia, dan dapat juga berupa kata hati atau intuisi
yang selalu cenderung kepada kebenaran. Dengan pandangan seperti ini, maka akhlak
akan tumbuh dengan sendirinya, walaupun tanpa dibentuk atau diusahakan (ghair
muktasabah). Akhlak merupakan hasil usaha dalam mendidik dan melatih dengan
sungguh-sungguh terhadap berbagai potensi rohaniah yang terdapat dalam diri manusia.
Jika program pendidikan dan pembinaan akhlak itu dirancang dengan baik, sistematik
dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, makan akan menghasilkan anak-anak atau
orang-orang yang baik akhlaknya. Disinilah letak peran dan fungsi lembaga pendidikan.

Dengan Demikian, pembentukan akhlak dapat diartikan sebagai usaha


seungguh-sungguh dalam rangka membentuk kepribadian anak, dengan menggunakan
sarana pendidikan dan pembinaan yang terprogram dengan baik dan dilaksanakan
dengan sungguh-sungguh dan konsisten. Pembentukan akhlak ini dilakukan berdasarkan
asumsi bahwa akhlak adalah hasil usaha pembinaan, bukan terjadi dengan sendirinya.
Potensi rohaniah yang ada dalam diri manusia, termasuk di dalamnya akal, nafsu
amarah, nafsu syahwat, fitrah, kata hati, hati nurani dan intuisi dibina secara optimal
dengan cara dan pendekatan yang tepat.

b.Metode Pembinaan Akhlak

Perhatian Islam terhadap pembinaan akhlak ini dapat dilihat dari perhatian Islam
terhadap pembinaan jiwa yang harus didahulukan daripada pembinaan fisik, karena dari
jiwa yang baik inilah akan terlahir perbuatan-perbuatan yang baik yang pada tahap

13
Ibid., hlm. 100-101.

10
selanjutnya akan mempermudah menghasilkan kebaikan dan kebahagian pada seluruh
kehidupan manusia, lahir dan batin.

Perhatian Islam dalam pembinaan akhlak selanjutnya dapat dianalisis pada


muatan akhlak yang terdapat pada seluruh aspek ajaran Islam.Ajaran Islam tentang
keimanan mislanya sanagt berkaitan erat denagn mengerjakan serangkaian amal salih
dan perbuatan terpuji. Iman yang tidak di sertai dengan amal salih dinilai sebagai iman
yang palsu, bahkan dianggap sebagai kemunafikan. Dalam Al-Qur’an kita misalnya
membaca ayat yang berbunyi

‫اَّلل ِ َو بِالْ ي َ ْو ِم ْاْل ِخ ِر َو َم ا هُ ْم بِ ُم ؤْ ِم نِي َن‬


َّ ِ‫اس َم ْن يَق ُو ُل آ َم نَّا ب‬
ِ َّ‫َو ِم َن الن‬
Dan di antara manusia (orang munafik) itu ada orang yang mengatakan: "Kami
beriman kepada Allah dan Hari akhir,sedang yang sebenarnya mereka bukan orang-
orang yang beriman. (QS.Al-Baqarah [2] :8 )

c. Faktor-faktor yang Memengaruhi Pembentukan Akhlak

1. Menurut aliran Nativisme bahwa faktor yang paling berpengaruh terhadap


pembentukan diri seseorang adalah faktor pembawaan dari dalam yang bentuknya
dapat berupa kecenderungan, bakat, akal, dan lain-lain.

2. Menurut aliran empirisme bahwa faktor yang paling berpengaruh terhadap


pembentukan diri seseorang adalah faktor dari luar, yaitu lingkungan sosial,
termasuk pembinaan dan pendidikan yang diberikan. Jika pendidikan dan
pembinaan yang diberikan kepada nak itu baik, maka baiklah anak itu. Demikian
jika sebaliknya. Aliran ini tampak lebih begitu percaya kepada peranan yang
dilakukan oleh dunia pendidikan dan pengajaran.

3. Aliran yang ketiga, yakni aliran konvergensi itu tampak sesuai dengan ajaran
Islam. Hal ini dapat dipahami dari ayat dan hadis berikut ini :

ۙ َ ‫ار َو ْاْل َفْ ئ ِ د َة‬ َ ‫ص‬ َ ْ‫َو َّللاَّ ُ أ َ ْخ َر َج كُ ْم ِم ْن ب ُ طُ و ِن أ ُ َّم َه ا ت ِ كُ ْم ََل ت َعْ ل َ ُم و َن شَ ي ْ ئ ًا َو َج ع َ َل ل َ كُ مُ ال سَّ ْم َع َو ْاْل َب‬
‫ش كُ ُر و َن‬ْ َ ‫ل َ ع َ ل َّ كُ ْم ت‬

11
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui
sesuatupun, dan Dai memberi kamu pendegaran, penglihatan dan hati, agar kamu
bersyukur. (QS Al-Nahl [16] :78)

Ayat tersebut memberi petunjuk bahwa manusia memiliki potensi untuk didik,
yaitu penglihatan, pendengeran dan hati sanubari. Potensi tersebut harus disyukuri
dengan cara mengisinya dengan ajaran dan pendidikan.

d. Manfaat Akhlak yang Mulia

Al-Qur’an dan al – Hadis banyak sekali memeberi informasi tentang manfaat


akhlak yang mulia itu. Allah berfirman :

‫ص ا لِ ًح ا ِم ْن‬َ ‫َم ْن عَ ِم َل سَ ي ِ ئ َة ً ف َ ََل ي ُ ْج زَ ٰى إ ِ ََّل ِم ث ْ ل َ َه ا ۙ َو َم ْن عَ ِم َل‬


‫خ ل ُو َن الْ َج ن َّ ة َ ي ُ ْر زَ ق ُو َن‬ َ ِ ‫ذ َ كَ ٍر أ َ ْو أ ُنْ ث َ ٰى َو هُ َو ُم ْؤ ِم ٌن ف َ أ ُو ٰل َ ئ‬
ُ ْ‫ك ي َ د‬
ٍ‫ف ِ ي َه ا ب ِ غ َ ي ِْر ِح سَ ا ب‬
Barangsiapa mengerjakan perbuatan yang saleh baik laki-laki maupun perempuan
sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi
rezeki di dalamnya tanpa hisab. (QS Al-Mu’min [40] :40 )

E. PENGERTIAN DAN UNSUR TASAWUF

a. Pengertian Tassawuf
Tasawuf merupakan salah satu bidang studi islam yang memutuskan
perhatian pada pembersihan aspek rohani manusia yang selanjutnya dapat
menimbulkan ahlak mulia. Pembersihan aspek rohani atau batin ini dikenal sebagai
dimensi esoterik dari manusia.

12
b. Dasar-dasar Qur’anniyah

Diantara para peneliti diatas ada yang membagi tasawuf menjadi dua golongan.
Golongan pertama, mereka yang mencari “ma’rifah” (upaya mengenal Dzat Allah)
mereka dianggap sebagai sisa-sisa penganut aliran perguruan filasafat Yunani terutama
perguruan Alixandria. Golongan kedua, mereka yang berupa mensucikan diri dari soal-
soal keduniaan dan “fana fillaah” (lenyap didalam Dzat Illahi) golongan ini menerima
pemikiran dari orang India yang mempercayai “Nirwana” sebagai tujuan tertinggi dalam
hubungan dengan Dzat Tuhan.

Ada sebagaian faham tasawuf yang masuk kedalam Islam, yaitu faham tasawuf
yang berbicara tentang “Hulul” dan “Wihdatul-Wujud” (kemanunggalan manusia
dengan Tuhan). Pada umumnya mereka terdiri dari pada ahli nusuk (orang-orang yang
tekun beribadah) dan para penghayat faham filsafat yang bermukim didaerah-daerah
dekat India dan perbatasan Persia.

c. Sumber Tassawuf
Secara garis besar ajaran islam mengatur kehidupan yang bersifat lahiriah atau
jasmaniah dan kehidupan batiniah atau rohaniah. Pada unsur kehidupan batiniah dan
rohaniah itulah kemudian muncul atau lahir tasawuf, yang menurut para ahli shufi
bersumber dari agama Islam sendiri, yakni dari Al-Qur’an dan Al-Hadits, kehidupan
Rasulullah SAW, dan kehidupan para sahabat.

Dan dikalangan para orientalis barat biasanya dijumpai pendapat yang


mengatakan bahwa sumber yang membentuk tasawuf itu ada lima, yaitu unsur Islam,
unsur Masehi (Agama Nasrani), unsur Yunani, unsur Hindu/Budha dan unsur Persia.
Kelima unsur ini secara ringkas dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Unsur Islam
Unsur kehidupan tasawuf ini mendapat perhatian yang cukup besar dari sumber
ajaran Islam, Al-Quran dan Al-Sunnah serta praktik kehidupan nabi dan para
sahabatnya. Al-quran antara lain berbicara tentang kemungkinan manusia dengan
tuhan dapat saling mencintai (mahabbah). Tuhan dapat memberikan cahaya kepada
orang yang dikehendakinya (QS An-Nur [24]: 35) selanjutnya al-quran mengingatkan
manusia agar dalam hidpunya tidak diperbudak oleh kehidupan dunia dan harta

13
benda (QS Al-Hadid, Al-Fathir [35]: 5) dan senantiasa bersikap sabar dalam
menjalani pendekatan diri kepada Allah SWT (QS Ali Imran [3]).

Sejalan dengan apa yang dibicarakan Al-Quran diatas, Al-Sunnah pun banyak
berbicara tentang kehidupan rohaniah. Berikut ini terdapat hadis yang dapat
dipahami dengan pendekatan tasawuf.

‫كنت كنزامخفيافاحبيت ان اعرف فخلقت الخلق فبي فو ني‬

“ Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi maka aku menjaikan makhluk


agar mereka mengenal-Ku.”

Hadis tersebut memberikan petunjuk bahwa alam raya, termasuk kita ini adalah
merupakan cermin tuhan, atau bayangan tuhan. Tuhan ingin mengenal dirinya
melalui penciptaan alam ini. Dengan demikian, dalam alam raya ini terdapat potensi
ketuhanan yang dapat didaya gunakan untuk mengenal-Nya. Dan apa yang ada
dialam raya ini pada akhirnya akan kembali kepada tuhan.

2. Unsur Luar Islam


Dalam berbagai literatur yang ditulis para orientalis Barat sering dijumpai uraian
yang menjelaskan bahwa tasawuf Islam dipengaruhi oleh adanya unsur agama
masehi, unsur Yunani, unsur Hindu/Budha dan unsur Persia. Para orientalis Barat
menyimpulkan bahwa adanya unsur luar Islam masuk kedalam tasawuf itu
disebabkan karena secara historis agama-agama tersebut telah ada sebelum Islam,
bahkan banyak dikenal oleh masyarakat Arab yang kemudian masuk islam. Dengan
demikian, adanya unsur luar islam yang memengaruhi tasawuf islam itu merupakan
masalah akademik bukan masalah akidah Islamiah.

F. SEJARAH PERKEMBANGAN TASAWUF DARI MASA KE MASA

a. Unsur Luar Islam

Falsafat Mistik pythagoras yang berpendapat bahwa roh manusia bersifat kekal
dan berada di dunia sebagai orang asing. Badan jasmani merupakan penjara bagi roh.

14
Kesenangan roh adalah di alam samawi. untuk memproleh hidup senang di alam
samawi, manusia harus membersihkan roh dengan meninggalkan hidup materi, yaitu
Zuhud..

Falsafat amanasi Plotinus yang mengatakan bahwa wujud ini memancar dari
Zat Tuhan Yang Maha Esa. Roh berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan.
Ajaran Budha dengan faham Nirwananya. Untuk mencapai Nirwana, orang harus
bisa meninggalkan Dunia dan memasuki hidup Kontemplasi. Faham Fana yang
terdapat dalam sufisme hampir serupa dengan faham Nirwana.

Ajaran-ajaran Hinduisme yang juga mendorong manusia untuk meninggalkan


dunia dan mendekati Tuhan untuk mencapai persatuan Atman dan Brahman.

Tetapi bagaimanapun, dengan ataupun tampa pengaru-pengaruh dari luar,


sufisme bisa timbul dalam Islam. Di dalam Islam terdapat ayat-ayat yang
mengatakan bahwa manusia dekat sekali dengan Tuhan. Diantaranya:

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka


(jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang
yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi
(segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu
berada dalam kebenaran.(Al-Baqarah: 186).

1. Faktor Estern

Banyak pendapat yang telah dikemukakan disekitar faktor ekstern ini,


antara lain.

a. Pendapat yang mengatakan bahwa tasawuf lahir karena pengaruh dari paham
Kristen yang menjauhi dunia dan hidup mengasingkan diri dari biara-biara.

15
b. Sebagian para ahli mengemukakan bahwa Tasawuf lahir karena pengaruh dari
filsafat Pythagoras yang berpendapat bahwa roh manusia itu kekal dan berada di
dunia sebagai orng asing.
c. Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa munculnya tasawuf dalam Islam
sebagai pengaruh dari filsafat emanasi Plotinus yang membawa paham wujud
memancardari zat Tuhan.
d. Teori ini menyatakan bahwa tasawuf lahir atas pengaruh paham nirwana yan ada
dalam agama Budha.
e. Teori lain lagi menyatakan bahwa tasawuf lahir karena pengaruh dari ajaran
agama Hinduisme yang mendorong manusia meninggalkan dunia dan berupaya
mendekatkan diri kepada Tuhan demi tercapainya persatuan antara Atman dan
Brahman .

Sejauh kebenarannya teori-teori yang menitikberatkan faktorn ekstern ini


memang tidak dapat dipastikan. Semuanya serba mungkin, karena tasawuf lahir
disaat umat Islam telah mempunyai kontak dengan dunia luar atau umat agama
lain.14

2. Faktor intern

-faktor intern dimaksudkan ditemukan di dalam sumber Al-Qur’an, hadis,


dan perilaku Nabi Muhammad Saw. Didalam Al-Qur’an ditemukan ayat-ayat
tertentu yang dapat membawa kepada paham mistis. Hal ini yang menyebabkan
timbulnya teori bahwa sebenernya paham tasawuf itu muncul, tumbuh dan
berkembang dari dalam Islam sendiri, bukan disebabkan pengaruh dari luar, seperti
yang terdapat di dalam surat Al-baqarah [2]:186
Firman Allah:

Dalam ayat tersebut Allah menegaskan bahwa ia sangat dekt dengan


manusia dan akan memperkenannkan permohonan orang yang berdia kepada-Nya.

14
uraian tentang faktor ekstern ini dapat dilihat, antara lain, dalam Harun Nasution, Filsafat &
Mistisime dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), hlm. 56

16
Gambaran tentang dekatnya Allah dengan manusia dipertegas lagi dalam surat Qaf
[50]:16.

Firman Allah:

Apabila Tuhan menegaskan bahwa ia sangat dekat dengan manusia, maka


manusia tentu dapat beruusaha agar dekat sedekat mungkin kepada Allah, bahkan
lebih jauh lagi, manusia dapat menyatukan dirinya dengan Tuhan, dalam arti Tuhan
dan manusia adalah satu.
Hadis yang lazim dipandang sebagai yang mengilhami lahirnya tasawuf di
dunia Islam adalah sabda Nabi:

‘Barang siapa yang menegenal dirinyya, maka ia mengenal Tuhannya”


Hadis ini, disamping melukiskan kedekatan hubungan antara Tuhan dan
manusia, sekaligus mengisyaratkan arti bahwa manusia dan Tuhan adalah satu.
Oleh sebab itu, barangsiapa yang ingin mengenal Tuhan cukup mengenal dan
merenungkan perihal dirinya sendiri.
Faktor intern yang dapat dipandang sebagai penyebab langsung lahirnya
taswuf di dunia Islam ini terlihatlebih tampak lagi di dalam perilaku Rosulullah
Saw itu sendiri.

b. Perkembangan Tasawuf
1. Periode I Masa Rasulullah
Hidup sufistik, secara tradisional dan historis sudah terdapat pada masa
Nabi. Sehari hari Rasulullah beserta keluarganya selalu hidup sederhana dan apa
adanya, disamping beliau menghabiskan waktunya untuk beribadah dan berjihat
dalam mendekati Tuhannya. Tradisi serupa diwarisi oleh keluarga beliau, yakni Ali
ra. dan Fatimah ra. beserta anak anaknya. Muhammad SAW adalah yang pertama-

17
tama memberikan contoh kesederhanaan(zuhud & fakir) yang menjadi sikap utama
sufisme15.
Demikian patokan dari Rasulullah saw. tentang pandangan hidup muslim,
bahwa dunia boleh dimanfaatkan, tatapi jangan terpengaruh oleh godaannya. Orang
yang mengingkari patokan tersebut adalah orang yang sesat dan bukan termasuk
umat Muhammad saw.
2. Periode II Masa Sahabat
a. Abu Bakar Ash-Shidiq
Kehidupan Abu Bakar Ash-Shidiq sangat sederhana,beliau pernah hidup
dengan menggunakan sehelai kain, dalam beribadah beliau kepada Allah SWT
terkenal dengan khusu’ dan tawadhu nya, sehingga dapat tercium dapat tercium bau
limpa yang terbakar karena takut akan Allah SWT.
b. Umar Ibn Khattab

Umar walau menjadi khalifah, hanya hidup dari roti dan minyak zaitun.
Pakaiannya yang tidak seberapa banyak, sebagian ada yang bertambal 12
tempat. Beliau mempunyai jiwa yang sangat bersih dan kesucian rohani yang
begitu tinggi, nama beliau juga harum dan sangat terkenal, bukan hanya karena
dapat mengaahncurkan kekaisaran Rum dan Persia, namun karena beliau juga
dapatmeleburkan secara tuntas tradisi-tradisi mereka yang membudaya dalam
masyarakat dan budaya tersebaut bertentangan dengan ajararan-ajaran dalam
agama islam.

c. Utsman Bin Affan


Utsman Bin Affan berpakaian sama dengan yang dikenakan
pembantunya, walaupun ia seorang yang kaya raya. Bahkan suatu hari, saat
sudah menjadi khalifah ia mencari kayu bakar sendiri di kebunnya. Usman
dikenal sebagai “Dzunnur ain” (dua cahaya), karena beliau menikahi 2 orang
putri dari Nabi,sehingga pola kehidupan Nabi yang diwarisi putri-putrinya itu
akan melekat dan memberikan keharmonisan dalam kehidupan Usman Bin
Affan. Beliau tergolong sahabat yang dipuji Allah SWT dala mendampingi
Rosulullah SAW,dan dikenal sebagai orang yang pemalu dan tekun dalam

15
Muhammad Sholikin,Tasawuf Aktual,(Semarang:Pustaka Rizki Putra,2004), hal.47-48

18
beribadah dengan amalan tasawuf serta giat mencari rezeki, namun bekiau
dikenal sebagai pemurah, sehingga tidak sedikit kekayaan beliau digunkan untuk
membantu para perjuan Islam
d. Ali Bin Abi Thalib
Sahabat selanjutnya adalah Khalifah ke empat yakni Ali Bin Abi Thalib, yang
kesuburan dan kemasyuran hidup tasawuf pada diri nya idak kalah dengan para sahabat
lain nya. Pekerjaan dan cita-cita nya yang besar dan mulia menyebabkan dia tidak
perduli dengan pakaian nya yang sederhana.
Ali Bin Abi Thalib adalah pahlawan besar, penakluk perang khaibar,hidup
dengan kesederhanaan. Ali dan istrinya yaitu Fatimah tergolong orang yang paling kuat
sifat kedermawaan nya. Ali juga adalah sahabat yang sangat adil dan bijaksana, apabila
ia menghukum, maka hukuman nya besifat adil. Ali ra hanya memiliki sebuah gubuk
kecil untuk tempat tinggal.
Dapatlah kita katakan bahwa ciri-ciri tasawuf dimasa sahabat ini ialah:
1. Memegang teguh ajaran kerohanian yang dipetik dari Al Qur’an.
2. Meneladan perihidup Rasulullah SAW sepenuhnya.
3. Periode III Masa Tabi’in
Pandangan yang amat teguh dipegangnya ialah zuhud, raja’ dan khauf. Al Hasan
tidak terpengaruh oleh gangguan mata benda dunia yang telah mulai menulari sebagian
kaum muslimin dewasa itu. Beliau tidak suka menjadi seorang pejabat, takut terganggu
urusan agamanya.Di samping sufi sufi pria terdapat juga seorang ahli taswauf dari
kalangan wanita yaitu Rabiah al Adwiyah. Beliau juga hidup dipenghujung masa
tabi’in. Corak tasawuf Rabiah ini masih mirip dengan tasawuf diperiode awal dari
periode tabi’in, hanya saja perasaannya sudah mulai mengusai pribadinya.Tasawuf
dimasa tabi’in ini masih menurut jiwa Al Qur’an dan menurut praktek hidup Rasulullah
SAW yang ditiru dan diteladan oleh sahabat sahabat beliau. Dari sahabat inilah para
tabi’in menelaah cara hidup rasul. Dimasa tabi’in ini pelajaran tasawuf sudah mulai
diajarkan dalam bentuk disiplin ilmu.16

16
Mustofa. Akhlak Tasawuf, Bandung, (CV Pustaka Setia), 2005, hal 46

19
BAB III
Penutup

3.1 Kesimpulan
Jadi kesimpulannya dari hubungan ilmu akhlak dengan ilmu-ilmu lainnya yaitu
saling berkaitan, saling membutuhkan, karna ilmu pengetahuan tanpa ilmu akhlak dia
buta, dan sebaliknya ilmu akhlak tanpa ilmu pengetahuan dia tidak sempurna.
Keterkaitan ilmu akhlak dengan Ilmu jiwa tampak pada pentingnya memberikan
pengajaran akhlak pada perkembangan jiwa seseorang sesuai tingkat usia mereka, Ilmu
akhlak dengan filsafat juga saling berkaitan. Dengan adanya filsafat yang mengkaji
sesuatu secara mendalam akan memudahkan dalam mendalami ilmu akhlak. Dengan
kata lain akhlak dapat dijadikan sebagai objek kajian dalam filsafat. Hubungan Ilmu
Akhlak dengan Ilmu Tauhid yaitu Ilmu Tauhid sebagai landasannya, sedangkan Ilmu
Akhlak sebagai media penjabaran dan peneladanan dari Ilmu Tauhid. Ilmu Akhlak dan
Ilmu pendidikan sangat erat hubungannya, dimana ilmu pendidikan dijadikan sebagai
media transfer ilmu akhlak, sehingga terciptanya akhlak yang baik bagi generasi
penerus bangsa.
Sejarah pertumbuhan ilmu akhlak merupakan peristiwa perkembangan
pengetahuna tentang tingkah laku seseorang melalui beberapa macam metode yang
tersusun secara sistematis. Akhlak di luar islam berarti ilmu akhlak yang tidak
berdasarkan Alquran dan hadis, yang disampaikan dari nabi kepada umatnya. Semua
ajaran baik buruk akhlak terdapat didalam Al Quran dan ajaran sunnah yang
didatangkan dari Nabi Muhammad SAW. Sumber akhlak yang semula ajaran al-kitab,
dogma kristiani dan khayalan mereka diganti dengan ajaran akhlak yang bersumber
pada logika dan pengalaman empirik. Hal demikian pada gilirannya melahirkan apa
yang di sebut dengan etika dan moral yang berbasis pada pemikiran akal pikiran.
Pengertian baik dari segi bahasa yaitu khair dalam bahasa arab, atau good dalam
bahasa inggris. Para tokoh juga berusaha mendefinisikan, Louis Ma’luf berpendapat
bahwa sesuatu yang baik adalah sesuatu yang telah mencapai kesempurnaan. Sementara
itu dalam Webster’s New Twentieth Century Dictionary, dikatakan baik adalah sesuatu
yang menimbullkan rasa keharuan dalam kesenangan, kepuasan, persesuaian, dan
seterusnya. Berdasarkan kutipan diatas menggambarkan bahwa baik atau kebaikan

20
merupakan sesuatu yang luhur, menyenangkan, dan disukai manusia. Penentuan baik
dan buruk dapat diukur menuru perspektif berbagai aliran-aliran filsafat diantaranya
menurut Aliran adat istiadat (sosialisme), Aliran Hedonisme, Paham Utilatiranisme,
Paham Vitalisme, Paham Religiosisme, Paham Evolusi( Evolution).
Akhlak merupakan hasil usaha dalam mendidik dan melatih dengan sungguh-
sungguh terhadap berbagai potensi rohaniah yang terdapat dalam diri manusia. Jika
program pendidikan dan pembinaan akhlak itu dirancang dengan baik, sistematik dan
dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, makan akan menghasilkan anak-anak atau
orang-orang yang baik akhlaknya. Disinilah letak peran dan fungsi lembaga pendidikan.
Tasawuf diambil dari “Shafw” atau “shafaa” yang artinya bersih. Dan ada juga
yang berpendapat bahwasannya kalimat itu diambil dari “Shuffah”, yaitu suatu kamar
disamping masjid Rasulullah di Madinah yang disediakan buat sahabat-sahabat nabi
yang miskin, tetapi kuat imannya, yang makan minum mereka ditanggung oleh orang-
orang yang mampu dalam kota Madinah. Sahabat utama yang pernah tinggal ditempat
itu, adalah Abu Dardak, Abu Zarr, Abu Hurairah, dan lain-lain.
Teori-teori mengenai asal timbul atau munculnya aliran ini dalam Islam banyak
berbeda-beda, antara lain. Pengaruh Kristen dengan paham menjauhi dunia dan hidup
mengasingkan diri dalam biara-biara. Dikatakan bahwa Zahid dan sufi Islam
meninggalkan dunia, memilih hidup sederhana dan mengasingkan diri, adalah pengaruh
cara hidup rahib-rahib Kristen. Ada 2(dua) faktor dalam kemunculannya yaitu :
 Faktor Intern (Dalam)
 Faktor Ekstern (Luar), ada 3 periode dalam faktor ini yaitu:
 Periode I Masa Rasulullah SAW.
 Periode II Masa Sahabat.
 Periode III Masa Tabiin.

21