You are on page 1of 31

A.

Sistem Kardiovaskular
1. Pengertian
Jantung merupakan organ muskular berongga, bentuknya menyerupai
pyramid atau jantung pisang yang merupakan pusat sirkulasi darah
keseluruh tubuh, terletak dalam rongga toraks pada bagian mediastinum.
(Syaifuddin, 2012)
2. Anatomi Jantung
a) Lapisan jantung
Jantung tersusun oleh tiga lapisan jaringan; endokardium,
miokardium, dan epikardium. Endokardium (bagian terdalam)
tersusun atas jaringan endothelial yang melapisi ruang jantung bagian
dalam dan katup jantung. Miokardium (bagian tengah) tersusun atas
serabut otot lurik dan berperan dalam kontraksi jantung. Epikardium
atau pericardium visceral melapisi bagian permukaan luar jantung.
Epikardium melekat kuat pada jantung dan pada beberapa sentimeter
pertama arteri pulmonalis dan aorta.
Pericardium visceral terbungkus oleh pericardium parietal,
membrane terluar fibrosa yang longgar dan kuat yang terbentang
bagian depan ke setangah bawah dari sternum, bagian belakang ke
vertebra toraksis dan bagian bawah ke diafragma. Antara pericardium
visceral dan pericardium parietal terdapat ruang pericardial, yang
berisi 5-20 ml cairan pericardial. Cairan ini melumasi permukaan
pericardial pada saat pericardial saling bergesek selama jantung
berdenyut. Akumulasi cairan yang berlebih pada ruang pericardial
dapat mengurangi kemampuan pengisian ventrikel. (Joyce M. Black,
2014)
b) Ruang Jantung
Jantung tersusun dari empat ruang: dua ruang di bagain atas
(atrium) dan dua ruang sebagai pompa di bagian bawah (ventrikel).
Dinding muscular (septum) memisahkan ruang sisi kanan dari ruang di
sisi kiri. Atrium kanan menerima darah terdeoksigenasi (sedikit
oksigen) dari seluruh tubuh. Darah mengalir ke ventrikel kanan, yang
kemudian memompa darah melawan reistansi rendah ke paru-paru.
Antrium kiri menerima darah teroksigenasi (banyak oksigen) dari
paru-paru. Darah mengalir ke ventrikel kiri, yang memompa darah
melawan resistensi tinggi ke sirkulasi sistemik. (Joyce M. Black,
2014)
c) Katup jantung
Katup jantung adalah sturktur yang halus dan fleksibel, tersusun
atas jarinan fibrosa yang dilapisi endothelium. Katup memungkinakan
aliran darah melalui jantung berjalan satu arah. Katup membuka dan
menutup secara pasif akibat perbedaan tekanan antara ruang jantung.
Katup yang lemah/bocor tidak akan menutup sempurna sehingga
disebut regurgitasi atau insufisiensi. Katup yang kaku tidak akan dapat
membuka dengan sempurna yang disebut sebagai stenosis.
Katup jantung mempunyai dua tipe: (1) atrioventrikular dan (2)
semilunar. Katup atrioventikular terletak di antara atrium dan
ventrikel. Katup trikuspid, pada sisi kanan, terususun atas tiga daun
katup. Katup mitral (bicuspid), pada sisi kiri tersusun atas dua daun
katup. Pada ujung katup atriobentrikel, terdapat filament
fibrosa/berserat yang kuat yang disebut kordatendinae, dan erasal dari
otot papilaris pada dinding ventrikel. Otot papilaris dan korda tendinae
bekerja bersama untuk mencegah katup atrioventrikel mengalirkan
darah kembali menuju atrium menuju atrium selama kontraksi
ventrikel (sistolik).
Katup semilunaris tersusun dari tiga katup seperti cangkir yang
membuka saat kontraksi ventrikel (sistolik) dan menutup untuk
mencegah aliran darah balik saat ventrikel relaksasi (diastolic). Tidak
seperti katup atrioventrikel, katup semilunaris terbuka selama
kontraksi ventrikel. Katup semilunaris pulmonal (antara ventrikel
kanan dan arteri pulomnalis) dan katup semilunaris aorta (antara
ventrikel kiri dan aorta) tidak memiliki otot papilaris. (Joyce M. Black,
2014)
d) Permukaan jantung
1) Facies sternokostalis: permukaan menghadap ke depan berbatasan
dengan dinding depan toraks, dibentuk oleh atrium dekstra,
ventrikel dekstra, dan sedikit ventrikel sinistra.
2) Fascies dorsalis: permukaan jantung menghadap ke belakang,
berbentuk segi empat, berbatas dengan mediastinum posterior,
dibentuk oleh dinding atrium dekstra, dan sebagian kecil dinding
ventrikel sinistra,
3) Fascies diafragmatika: permukaan jantung menghadap ke bawah
jantung yang berbatas dengan sentrum tendinium
diafragmadibentuk oleh dinding atrium sinistra dan sebagian kecil
ventrikel dekstra
e) Tepi Jantung (margo kodis)
1) Margo dekstra: bagian jantung tepi kanan membentang mulai dari
vena kava superior sampai ke apeks kordis, oleh dinding atrium
dekstra dan dinding ventrikel dekstra, memisahkan fascies,
sternokostalis dengan fascies diafragmatika sebelah kanan.
2) Margo sinistra: bagian ujung jantung sebelah tepi membentang
dari bagian bawah muara vena pulmonalis sinistra inferior sampai
ke apeks kordis, dibentuk oleh dindig atrium sinistra (di atas) dan
dinding ventrikel sinistra memisahkan fascies sternokostalis
dengan fascies diafragmatika sebelah kiri. (Syaifuddin, 2011)
3. Fisiologi Jantung
Jantung terdiri dari tiga tipe otot utama yaitu otot atrium, otot
ventrikel, dan serat otot khusus pengantar rangsangan, sebagai pencetus
rangsangan. Tipe otot atrium dan ventrikel berkontraksi dengan cara yang
sama seperti otot rangka dengan kontraksi otot yang lebih lama.
Sedangkan serat khusus penghantar dan pencetus rangsangan berkontraksi
dengan lemah sekali, sebab serat-serat ini hanya mengandung sedikit serat
kontraktif. Serat ini menghambat irama dan berbagai kecepatan konduksi,
sehingga serat ini bekerja sebagai suatu sistem pencetus rangsangan bagi
jantung.
Fungsi umum otot jantung:
a. Sifat ritmisitas/otomatis: otot jantung secara potensial dapat
berkontraksi tanpa danya rangsangan dari luar. Jantung dapat
membentuk rangangan (implus) sendiri. Pada keadaan fisiologis sel-
sel miokardium memiliki daya kontraktilitas yang tinggi.
b. Mengikuti hokum gagal atau tuntas: bila impuls yang dilepas
mencapai ambang rangsang otot jantung maka seluruh jantung akan
berkontraksi maksimal, sebab susunan otot jantung sensitive sehingga
impuls jantung segera dapat mencapai semua bagian jantung. Jantung
selalu berkontraksi dengan kekuatan yang sama. Kekuatan kontraksi
dapat berubah-ubah bergantung pada faktor tertentu, misalnya serat
otot jantung, suhu, dan hormone tertentu.
c. Tidak dapat berkontraksi tetanik: refraktor absolute pada otot jantung
berlangsung sampai sepertiga masa relaksasi jantung merupakan upaya
tubuh untuk melindungi diri.
d. Kekuatan kontraksi dipengaruhi panjang awal otot: bila seberkas otot
rangka di regang kemudian dirangsang secara maksimal, otot tersebut
akan berkontraksi dengan kekuatan tertentu. Serat otot jantung akan
bertambah panjang bila volume diastoliknya bertambah. Bila
peningkatan diastolik melampaui batas tertentu kekuatan kontraksi
akan menurun kembali. (Syaifuddin, 2011)
1) Metabolisme dan kerja jantung
Otot jantung seperti otot kerangka menggunakan energy kimia,
untuk menyelenggarakan kontraksi. Energy ini terutama berasal dari
metabolism asam lemak dalam jumlah yang lebih kecil dari
metabolism zat gizi, terutama laktat dan glukosa. Pada kontraksi
jantung, sebagian besar energi kimia diubah menjadi panas dan
sebagian kecil menjadi kerja. Rasio kerja dan energy kimia yang
dikeluarkan dinamakan efisiensi kontraksi jantung, normalnya antara
20-25 persen.
Proses metabolisme jantung adalah aerobic yang membutuhkan
oksigen dan berhubungan erat dengan aktivitas metabolism. Pada
kondisi basal, konsumsi oksigen jantung 7-10 ml/100 gram
miokardium/menit. Jika jantung mendapat oksigen selama beberapa
menit maka aktivitas mekanik akan terhenti. Jika aktivitas meningkat,
misalnya kerja berat, maka kebutuhan oksigen juga meningkat dan
peningkatan oksigen ini hanya didapat dengan meningkatkan aliran
darah koroner. Konsumisi oksigen jantung terutama ditentukan oleh
tegangan intramiokard yaituu tekanan sistolik dan volume yang bisa
berlebihan akan meningkatkan tegangan intramiokard.
Dalam keadaan normal serabut saraf simpatis yang menuju ke
jantung terus menerus merangsang dengan frekensi rendah,
mempertahankan kekuatan kontraksi ventrikel sekitar 20%.
Perangsangan parasimpastis maksimum pada jantung menurunkan
kekuatan kontraksi ventrikel sekitar 30%. Efek parasimpatis relative
kecil dibandingkan dengan efek simpatis. Pengaruh ion pada jantung:
a) Pengaruh ion kalium: kelebihan ion kalium dalam caian eksrasel
menyebabkan jantung menjadi sangat dilatasi dan lemas serta
frekwensi jantung lambat. Kalium dalam jumlah yang sangat besar
dapat menghambat hantaran impuls jantung dari atrium ke
ventrikel, waktu potensial membran menurun, intensitas potensial
aksi juga berkurang. Ini membuat kontraksi jantung secara
progresif makin lemah karena kekuatan potensial aksi sangat
menentukan kekuatan kontraksi.
b) Pengaruh ion kalsium: kelebihan ion kalsium efeknya hampir
berlawanan dengan efek ion kalium, menyebabkan jantung
berkontraksi spastis. Ini disebabkan oleh efek langsung
merangsang proses kontraksi jantung. Defisiensi ion kalsium
menyebabkan jantung lemas.
c) Pengaruh ion natrium: kelebihan ion natrium menekan fungsi
jantung. Semakin besar konsentrasi ion natrium dalam cairan
eksrasel makin kurang efektivitas ion kalsium. Konsentrasi ion
natrium dalam cairan ekstrasel mungkin tidak pernah cukup tinggi
meskipun dalam keadaan patologis. Konsentrasi natrium yang
sangat rendah menyebabkan kematian karena fibrilasi jantung
(konraksi terkoordinasi). (Syaifuddin, 2011)
2) Elektrofisiologi Sel Otot jantung
Dalam keadaan istirahat sel-sel otot jantung mempuyai muatan
positif dibagian luar sel dan muatan negatif di bagian dalam sel.
Perbedaan muatan bagian luar dan bagian dalam sel disebut resting
membran potensial. Aksi potensial terjadi disebabkan oleh rangsangan
listrik, kimia mekanik, dan termis, aksi potensial dibagi dalam lima
fase:
a) Fase itirahat: bagian luar sel jantung bermuatan positif dan bagian
dalam bermuatan negatif (polarisasi). Membran sel lebih
permeable terhadap kalium daripada natrium sehingga sebagian
kecil kalium merembes ke luar sel.
b) Fase depolarisasi (cepat) : disebabkan oleh meningkatnya
permeabilitas membran terhadap natrium, sehingga natrium
mengalir dari luar kedalam. Akibatnya muatan di dalam sel
menjadi positif sedang diluar menjadi sel negative
c) Fase polarisasi parsial : segera setelah terjadi depolarisasi terdapat
sedikit perubahan akibat masuknya kalsium ke dalam sel, sehingga
muatan positif di dalam sel menjadi berkurang.
d) Fase plato (keadaan stabil) : fase depolarisasi diikuti keadaan stabil
yang agak lama sesuai dengan masa refraktor absolute dari
miokard. Terdapat keseimbangan antara ion positif yang masuk
dan keluar.
e) Fase repolarisasi (cepat): pada fase ini muatan kalsium dan
natrium secara berangsur-angsur tidak mengalir lagi dan
permeabilitas terhadap kalium sangat meningkat sehingga kalium
keluar dari sel dengan cepat. (Syaifuddin, 2011)
3) Sistem Konduksi Jantung
Sistem konduksi jantung meliputi:
a) Sinoatrial node: suatu tumpukan jaringan neuromuskular yangkecil
berada di dalam dinding atrium kanan di ujung Krista terminalis.
Nodus ini merupakan pendahulu dari kontraksi jantung.
b) Atrioventrikular node: susunanya sama seperti sinoatrial node,
berada di dalam septum atrium dekat muara sinus koronari.
c) Bundle atrioventrikular: mulai dari bundle AV berjalan kearah
depan pada tepi posterior dan tepi bawah pars membranasea
septum interventrikuler. Pada bagian cincin yang terdapat pada
atrium dan ventrikel disebut analus fibrosus rangsangan terhneti
1/10 detik.
d) Serabut penghubung terminal (serabut purkinje): anyaman yang
berada pada endokardium menyebar pada kedua ventrikel.
Jantung mendapat persarafan dari cabang simpatis dan para
simpatis dari susunan saraf otonom. Sistem simpatis mengiatkan kerja
jantung seangkan sistem parasimpatis bersifat manghambat kerja
jantung. Peragsangan simpatis jantung mempunyai efek mempercepat
denyut jantung sehingga menyebabkan takikardia dan daya kontraksi
jantung menjadi lebih kuat terutama kontraksi miokardium ventrikel.
(Syaifuddin, 2011)

4) Siklus Jantung
Jantung mempunyai empat pompa yang terpisah, dua pompa
primeratrium dan dua pompa tenaga ventrikel. Periode akhir kontraksi
jantung sampai akhir kontraksi berikutnya dinamakan siklus jantung.
Tiap-tiap siklus dimulai oleh timbulnya potensial aksi secara spontan.
Simpul sinoatrial (SA) terletak pada dinding posterior atrium dekstra
dekat muara vena kava superior. Potensial aksi berjalan dengan cepat
melalui berkas atrioventikular (AV) ke dalam ventrivel, karena
susunan khusus sistem pengahntar atrium ke ventrikel terdapat
perlambatan 1/10 detik. (Syaifuddin, 2011)
5) Jantung sebagai pompa
Pada tiap siklus jantung terjadi systole dan diastole secar berurutan,
dan teratur dengan adanya katup jantung yang terbuka dan tertutup.
Pada saat itu jantung bekerja sebagai suatu pompa sehingga darah
dapat beredar ke seluruh tubuh. Selama satu siklus kerja jantung
terjadi perubahan tekanan di dalam rongga jantung sehingga terdapat
perbedaan tekanan. Perbedaan tekanan ini menyebabkan darah
mengalir dari ringga yang tekanannya lebih tinggi ke tekanan lebih
rendah.
6) Curah Jantung
Pada keadaan normal jumlah darah yang di pompakan oleh
ventrikel kiri dan ventrikel kanan sama besarnya. Jumlah darah yang
dipompakan ventrkel dalam satu menit disebut curah jantung (cardiac
out put) dan jumlah darah yang dipompakan ventrikel pada setiap kali
sistole disebut volume sekuncup dengan demikian curah jantung sama
dengan isi kuncup x frekuensi denyut jantung pe menit. Curah jantung
pria dewasa pada keadaan istirahat lebih kurang 5 liter dapat turun atau
naik pada berbagai keadaan.
Curah jantung merupakan faktor utama dalam sirkulasi yang
mempunyai peranan penting dalam transportasi darah yang
mengandung berbagai nutrisi. Jumlah darah yang dipompkan oleh
ventrikel bergantung pada kebuuhan jaringan perifer terhadap oksigen,
nutrisi, dan ukuran tubuh sehingga diperlukan suatu indikator fungsi
jantung akurat.
7) Bunyi Jantung
Bunyi jantung terjadi karena getaran udara dengan intensitas dan
frekuensi tertentu. Bunyi jantung I mempunyai frekuensi lebih rendah
dari bunyi jantung II dan berlangsung lebih lama. Bunyi jantung I
“Lub” yang rendah disebabkan oleh penutupan katup
mitral?bikuspidalis dan trikuspidalis, bunyi jantung II “Dup” yang
lebih pendek dan nyaring, disebabkan oleh penutupan katup aorta dan
pulmonal segera setelah sistolikn ventrikel berakhir. (Syaifuddin,
2011)

B. Sistem Respirasi
1. Pengertian
Respirasi adalah suatu peristiwa ketika tubuh kekurangan oksigen dan
oksigen yang berada diluar tubuh dihirup (inspirasi) memlalui organ
pernapasan. Pada keadaan tertentu tubuh mengalami kelebihan
karbondioksida , maka tubuh berusaha untuk mengeluarkan kelebihan
tersebut dengan menghembuskan napas (ekspirasi) sehingga terjadi suatu
keseimbangan antara oksigen dan karbondioksida di dalam tubuh
(Syaifuddin, 2011)
Anatomi saluran pernapasan terdiri atas saluran pernapasan bagian
atas (rongga hidung, sinus paranasal, dan faring, saluran pernapasan
bagian bawah (laring, trachea,bronchus, dan alveoli) sirkulasi pulmonal
(ventrikel kanan, arteri pulmonal, arteriola pulmonary, kapiler pulmonar,
venula pulmonar, vena pulmonar, dan atrium kiri), paru (paru kanan 3
lobus dan paru kiri 2 lobus), rongga pleura dan otot-otot pernapasan. (Arif
Mutaqqin, 2012)
2. Anatomi Sistem Pernapasan
Saluran Pernapasan Atas
Saluran napas (jalan napas) adalah daerah di mana udara bergerak
menuju area pertukaran gas di paru-paru. Saluran napas atas terdiri atas
rongga hidung,faring, dan laring.
a. Rongga Hidung
Hidung terdiri atas dua nostril yang merupakan pintu masuk
menuju rongga hidung. Rongga hidung adalah dua kanal sempit yang
sama lainnya dipisahkan oleh septum. Dinding rongga hidung
dilapisasi oleh mukosa respirasi serta sel epitel batang, bersilia, dan
berlapis semu. Mukosa tersebut menyaring, menghangatkan, dan
melembabkan udara yang masuk melalui hidung. Vestibulum
merupakan bagian dari rongga hidung yang berambut dan berfungsi
menyaring partikel-partikel asing berukuran besar agar tidak masuk ke
saluran pernapasan bagian bawah. Dalam hidung juga terdapat
saluran-saluran yang menghubungkan antara rongga hidung dengan
kelenjar air mata, bagian ini dikenal dengan kantung nasolakriminalis.
Kantung nasolakriminalis. Kantung nasolakriminalis ini berfungsi
mengalir air melalui hidung yang berasal dari kelenjar air mata jika
seseorang menangis. (Arif Muttaqin, 2012)
b. Sinus Pranasal
Sinus pranasal berperan dalam menyekresi mukus, membantu
pengaliran air mata melalui salurannasolakrimalis, dan membantu
dalam menjaga permukaan rongga hidung tetap bersih dan lembab
sinus pranasal juga termasuk dalam wilayah pembau di bagian
posterior rongga hidung. Wilayah pembau tersebut terdiri atas
permukaan inferior palatum kribriform, bagian superior septum nasal,
dan bagian superior konka hidung. Reseptor di dalam epitel pembau
ini akan merasakan sensasi bau. (Joyce M. Black, 2014)
c. Faring
Faring (tekak) adalah pipa berotot yang bermula dari dasar
tengkorak dan berakhir sampai persambungannya dengan esofagus dan
batas tulang rawan krikoid. Faring terdiri atas tiga bagian yang
dinamai berdasarkan letaknya. Yakni nasofaring (dibelakang hidung),
orofaring (di belakang mulut), dan laringofaring (dibelakanglaring).
Faring adalah suatu saluran berbentuk corong yang memanjang
dari hidung ke laring. Faring dapat dibagi ke dalam tiga bagian.
Naofaring berlokasi diatas tepi palatum molle dan menerima udara
dari rongga hidung. Dari telinga, tuba eustachius terhubung dengan
nasifaring. Tonsil faring(disebut adenoid jika mengalami pembesaran)
berlokasi pada dinding posterior nasofaring.
Orofaring berperan apada respirasi dan pencernaan. Orofaring
menerima udara dari nasofaring dan makanan dari rongga mlut.
Tonsila palatina (fausial) berlokasi di sepanjang sisi mulut bagian
posterior dan tonsila lingualis berlokasi pada dasar lidah.
Laringofaring (hipofaring) berlokasi di bawah dasar idah dan
merupakan bagian faring paling inferior.laringofaring menghubungkan
laring dan berperan pada pernapasan dan pencernaan. (Syaifuddin,
2011)
d. Laring
Laring biasanya disebut sebagai kotak suara (voice box). Laring
menghubungkan saluran napas atas (faring) dan bawah (trakea).
Laring terletak anterior esofagus atas. Sembilan kartilago membentuk
laring : tiga buah kartilago tunggal yang besar (epiglotis,tiroid,krikoid)
dan tiga pasang kartilago yang lebih kecil ( aritenoidea,
kornikulata,kuneiformis). Kartilago melekat pada tulang hioid
disebelah memasuki tubuh melalui nares atau mulut dan disarung dan
dilembabkan pada waktu melewati saluran ini menuju ke alveoli.
Epiglotis mengarahkan udara ke trakea selama pernapasan dan
mengarahkan makanan ke esofagus selama menelan. Panah putus-
putus mengindikasikan jalan masuk udara ke sinus. Atas dan di
sebelah melekat pada trakea oleh otot dan ligamen, dan semua struktur
ini mencegah laring mengalami kolaps selama inspirasi dan menelan.
Laring terdiri atas endolaring kartilago dan tulang berbentuk
segitiga yang mengelilinginya. Endolaring terbentuk dari dua pasang
lipatan jaringan, membentuk plika vokalis palsu dan plika vokalis
sejati. Celah di antara plika vokalis disebut sebagai glotis,epiglotis
suatu strukutr seperti daun yang terletak langsung dibawah dasar lidah,
terletak diatas laring, ketika makanan cairan ditelan, epiglotis menutup
larng, melindungi saluran napas bawah dan aspirasi. (Joyce M. Black,
2014)

Saluran Napas Bawah


Saluran napas bawah atau pohon trakeobronkial tersusun atas
trakea,bronki primer dekstra dan sinistra, bronki sekmentalis, bronki
supsekmentalis,dan bronkiolus terminalis. Otot polos yang mengelilingi
secara spiral,bertumpuk searah jarum jam dan berlawanan dengan arah
jaru jam ditemukan pada semua struktur ini.susunan ini memungkinkan
kontraksi otot polos untuk mengurangi diameter saluran
napas,meningkatkan tahanan pada aliran udara. Otot ini mengalami
spasme pada berbagai gangguan saluran napas. Saluran napas bawah juga
berperan untuk mengahangatkan,melembapkan,dan menyaring udara saat
mengalir ke paru-paru. (Joyce M. Black, 2014)
e. Trakea
Trakea merupakan lanjutan dari laring yang dibetuk oleh 16
sampai 20 cincin kartilago yang terdiri dari tulang-tulang rawan yang
terbentuk seperti C. trakea dilapisi oleh selaput lendir yang terdiri atas
epitilium bersilia dan sel cangkir (setiyadi, 2007)
f. Bronkus dan bronkiolus
Bronkus utama kanan lebih pendek dan lebih luas,berjalan lebih
vertikel ke bawah dibandingkan bronkus utama kiri. Dengan
demikian,benda asing lebih mudah masuk ke bronkus kanan di
bandingkan bronkus kiri. Bronkisegmental dan subsegmental adalah
subsidi dari bronki utama dan menyebar menyerupai pohon terbalik
menuju ke masing-masing paru. Kartilago menyelubungi jalan napas
di bronki tetapi pada brokioli (jalan napas terakhir sebelum sampai ke
alveoli) kartilago menghilang sehingga bronkioli dapat mengalami
kolaps dan mengandung udara selama ekshalasi aktif.
Bronkiolus terminalis adalah saluran udara terakhir pada sistem
konduksi. Area pada hidung sampai ke bronkiolus tidak mengalami
pertukaran gas dan berfungsi sebagai ruang rugi anatomik (anatomik
dead space). Kekurangan pertukaran gas berarti bahwa udara yang
pertama keluar dari mulut selama ekhalasi mencerminkan udra
ruangan,tetapi udara terakhir yang keluar (udara tidak akhir)
mencerminkan udara alveolar. (Joyce M. Black, 2014)
g. Paru dan alveoli
1) Paru
Paru terletak di dalam rongga toraks pada kedua sisi jantung.
Paru berbentuk kerucut, dengan apeks terletak diatas rusuk
pertama dan dasar/basal paru terletak pada diafragma. Tiap paru
terbagi menjadi lobus superior dan inferior oleh fisura oblik.paru
kanan dibagi lagi oleh fisura horizontal sehingga paru kanan
terbagi dalam tiga lobus,lobus superior,medius dan inferior,
sedangkan paru kiri hanya terdiri atas dua lobus. Selain pembagian
paru menjadi lima lobus ini tampai dari luar,paru juga terbagi
menjadi 10 unit yang lebih kecil (segmen bronkopulmonal). Tiap
segmen mencerminkan bagian paru yang disuplai oleh bronkus
tersier spesifik.segmen ini penting secara bedah karena segmen
yang mengalami kerusakan dapat dilakukan reseksi tanpa harus
mengangkat keseluruhan lobus atau keseluruhan paru. Kedua paru
dipisahkan oleh sebuah ruangan (mediastinum) dimana terletak
organ-organ seperti jantung,aorta,vena cava,pembuluh darah
pulmonal,esofagus, bagian dari trakea dan bronki serta kelenjar
timus. (Joyce M. Black, 2014)
2) Alveolus
Parenkim paru,yang terdiri atas jutaan unit alveolus, adalah
area yang bekerja pada jaringan paru. Pada saat kelahiran,
seseorang memiliki sekitar 24 juta alveoli,pada usia 8 tahun,
seseorang memiliki 300 juta alveoli.total area permukaan alveolus
yang bekerja sekitar 750 sampai 860 kaki persegi.supali darah
yang mengalir ke alveoli datang dari vertikel kanan jantung.
Alveolus terdiri atas 2 macam sel: pneumosit tipe 1yang
melapisi alveolus, yang merupakan sel tipis dan tidak mampu
bereproduksi tetapi efektif untuk pertukaran gas. Pneumosit tipe II
adalah sel kuboid dan tidak dapat melakukan pertukaran oksigen
dan CO2 dengan baik.sel ini menghasilkan surfaktan dan penting
pada jejas paru dan reparasi jaringan karna sel ini dapat
berdiferensiasi menjadi makrofag alveolar.sel ini juga dapat
berdiferensiasi menjadi sel tipe 1,oksigenasi dapat terganggu
selama masa transisi dari tipe II ke tipe I. (Joyce M. Black, 2014)

3. Fisiologi Pernapasan
Sistem pernapasan dapat disebut juga dengan sistem respirasi yang
berarti bernapas kembali. Sistem ini berperan menyediakan oksigen yang
di ambil dari atmosfer dan mengeluarkan karbondioksida dari sel-sel
(tubuh) menuju ke udara bebas. Proses bernapas berlangsung dalam
beberapa langkah dan berlangsung dengan dukungan sistem saraf pusat
dan sistem kardiovaskular (Arif Mutaqqin, 2012)
a. Mekanisme pernapasan
Ventilasi adalah istilah untuk pergerakan udara dari dan keluar
alveoli. Ventilasi adalah inhalsi dan ekshalasi, yang dijalankan oleh
sistem saraf dan otot-otot pernapasan.pusat pernapsan terletak di
medula oblongata dan pons.fungsi khususnya akan dibahas pada
bagian berikut,tetapi adalah medula yang membangkitkan implus
untuk otot-otot pernapsan.
Otot-otot yang dimaksud adalah diafragma dan muskuli
interkostale ekstemi serta intemi. Diafragma adalah otot berbentuk
kubah di bawah paru-paru;ketika otot ini berkontraksi,diafragma akan
mendatar dan bergerak ke bawah. Muskuli interkostale ditemukan di
antara tulang iga. muskuli interkostale ekstermi menarik iga ke atas
dan ke sisi luar, dan muskuli interkostale intermi menarik iga ke
bawah dan kedalam. Ventilasi adalah hasil kerja otot respirasi yang
menghasilkan perubahan tekanan dalam alveoli dan pohon bronkial.
(Syaifuddin, 2011)
1) Inhalasi
Inhalasi disebut juga inspirasi, adalah suatu rangkaian atau
kejadian yang dapat di gambarkan sebagai berikut:
Impuls motorik dari medula berjalan sepanjang nervus frenikus
menuju diafragma dan sepanjang nervus interkostalis menuju muskuli
interkostale eksterni. Diafragma berkontraksi,bergerak kebawah,dan
mengembangkan rongga dada dari atas ke bawah. Muskuli
interkostales eksterni menarik iga ke atas dan keluar,yang
mengembangkan rongga dada dari sisi ke sisi dan depan belakang.
Saat rongga dada mengembang,pleura parietal turut mengembang.
Tekanan intrapleural menjadi lebih negatif karena kerja pengisapan
yang di hasilkan diantara membran pleura. Namun,adhesi (perlekatan)
yang dihasilkan oleh cairan serosa,memungkinkan pleura viseral turut
mengembang dan hal ini juga mengembangkan paru.
Saat paru-paru mengembang,tekanan intrapulmonal akan turun
drastis di bawah tekanan atmosfer dan udara memasuki hidung dan
melalui jalan napas menuju alveoli.udara terus masuk sampai tekanan
intrapulmunal sama dengan tekanan atmosfer,;ini adalah inhalasi
normal. Tentu saja,inhalasi bisa dilanjutkan melebihi normal,yang
merupakan pernapasan dalam. Pernapasan ini memerlukan suatu
kontraksi otot-otot pernapasana yang lebih kuat untuk
mengembangkan paru lebih lanjut,sehingga udara yang masuk lebih
banyak. (Syaifuddin, 2011)
2) Ekhalasi
Ekhalasi juga disebut ekspirasi dan dimulai ketika impuls motorik
dari medula menurun,dan diafragma serta muskuli interkostales
ekstermi berelaksasi. Setelah rongga dada menjadi lebih kecil,paru
akan terkompresi dan jaringan ikat elastis yang teregang selama inhalsi
akan mengerut dan mengompresi alveoli.ketika tekanan intrapulmonal
meningkatkan diatas tekanan atmosfer,udara dipaksa keluar dari paru
sampai kedua tekanan menjadi sama lagi.
Namun, kita dapat melakukan ekshalasi normal dan mengeluarkan
lebih banyak udara,ketika berbicara,menyanyi,atau meniup sebuah
balon.ekshalasi kuat juga merupakan proses aktif yang membutuhkan
kontraksi otot-otot lain. Kontraksi muskulinterkostales interni menarik
iga ke bawah dan membawa lebih banyak udara keluar dari
paru.kontraksi otot-otot abdomen,seperti muskulus rektus
abdominus,mengompresi organ-organ abdominal dan menekan
diafragma ke atas,yang juga membawa udara keluar dari paru-paru.
(Syaifuddin, 2011)
b. Pertukaran Gas
Ada dua tempat pertukaran oksigen dan karbon dioksida; paru-
paru dan jaringan tubuh. Pertukaran gas antara udara di alveoli dan
darah di kapiler pulmonal disebut respirasi eksternal. Istilah ini
mungkin sedikit membingunkan pada awalnya, karena kita biasanya
berpikir bahwa “eksternal” artinya berada di luar tubuh. Namun, pada
keadaan ini “eksternal” berarti pertukaran yang melibatkan udara dari
lingkungan eksternal. Respirasi internal adalah pertukaran gas antara
darah dalam kapiler sistemik dan cairan jaringan (sel) pada tubuh.
Udara yang kita hirup (atmosfer bumi) mengandung kurang lebih
21% oksigen dan 0,04% karbondioksida. Meskipun sebagian besar
(78%) kandungan atmosfer adalah nitrogen, gas ini tidak secara
fisiologis tersedia untuk kita, sehingga kita kemudian
mengeluarkannya. Udara yang dikeluarkan ini juga mengandung
kurang lebih 16% oksigen 4,5% karbon dioksida, sehingga jelas bahwa
sejumlah oksigen yang dihasilkan sel di hembuskan keluar.
c. Pengaturan Pernafasan
1) Pengaturan saraf
Pusat pernapasan tereletak di medulla dan spons, yang
merupakan bagian batang otak. Medulla merupakan pusat inspirasi
dan ekspirasi.
Pusat inspirasi secara otomatis membangkitkan impuls dalam
irama ritmis. Impuls ini bejalan sepanjang saraf menuju otot
respirasi untuk merangsang kontraksinya. Hasilnya adalah
inhalasi. Saat paru-paru terinflasi,baroreseptor di jaringan paru
mendeteksi peregangan ini dan mengembakitkan impuls sensorik
menuju medulla; impuls ini mulai mendepresi pusat inspirasi. Ini
yang disebut refleks inflasi hering-bauer, yang membantu
mencegah paru yang berlebihan.
Dua pusat pernapasan di spons yang bekerja dengan pusat
inspirasi menghasilkan irama pernapasan normal. Pada proses
normal, inhalasi berlangsung satu sampai dua detik, diikuti oleh
ekshalasi yang sedikit lebih lama (dua sampai tiga detik), yang
menghasilkan kisaran normal frekuensi pernapasan antara 12
sampai 20 kali per menit. Kondisi emosi biasanya memengaruhi
respirasi ; ketakutan yang tiba-tiba bisa menyebabkan terengah-
engah dan teriakan dan kemarahan biasanya mempecepat
pernapasan. Pada situasi ini impuls dan hipotalamus memodifikasi
keluaran dari medulla. Korteks serebral mampu mengubah
kecepatan atau irama pernapasan kita secara volunteer untuk
berbicara, menyanyi, bernapas lebih cepat atau lambat, bahkan
untuk berhenti bernapas sekitar satu sampai dua menit. Namun,
perubahan tersebut tidak bisa terus-menerus, dan medulla pada
akhirnya akan mengambil kendali. Batuk dan bersin merupakan
refleks untuk mengeluarkan iritan dan jalan napas. Bersin
dirangsang oleh bahan yang mengiritasi mukosa hidung, dan batuk
dirangsang oleh iritasi pada mukos faring, laring atau trakea; kerja
refleks pada hakikatnya sama untuk keduanya ; suatu inhalasi
diikuti ekshalasiyang dimulai dengan penutupan glottis untuk
meningkatkan trkanan. Kemudian glottis terbuka tiba-tiba dan
ekshalasi terjadi eksplosif. Batuk akan langsung dikeluarkan lewat
mulut, sementara bersin langsung dikeluarkan lewat hidung.
(Syaifuddin, 2011)
2) Pengaturan kimiawi
Pengaturan kimiawi mengacu pada efek pernapasan terhadap
pH darah dan kadar oksigen dan karbon dioksida dalam darah.
Kemoreseptor yang mendeteksi perubahan dalam gas darah dan
pH terletak dikorpus karotikus dan aortikus dan di dalam medulla
itu sendiri. Penurun kadar ksigen darah (hipoksia) dideteksi oleh
kemoreseptor di korpus karotikus dan aortikus. Impuls sensorik
dibangkitkan oleh reseptor tersebut lalu menjalar sepanjang nervus
glossofaringeus dan nervus vagus menuju medulla yang berespon
denga meningkat kedalaman atau frekuensi respirasi (atau
keduanya). Respons ini akan membawa lebih banyak udara
memasuki paru-paru sehingga lebih banyak oksigen dapat
berdifusi ke darah untuk memperbaiki keadaan hipoksia.
(Syaifuddin, 2011)
C. Sistem Imun
1. Pengertian
Sistem imun adalah sebuah sistem yang terdiri dari banyak struktur
dan proses biologis dalam organisme yang bertugas melindungi tubuh
terhadap penyakit. (kirnantoro, 2012)
Sistem imun bekerja untuk melindungi tubuh dari infeksi oleh
mikroorganisme, membantu proses penyembuhan dalam tubuh, dan
membuang atau memperbaiki sel yang rusak apabila terjadi infeksi cedera.
Perubahan pada respons imun dapat menyebabkan timbulnya serangan
terhadap sel-sel tubuh sendiri, perkembangan kanker, atau
ketidakmampuan berespons dan menyembuhkan tubuh dari infeksi.
(Elizabeth J. Corwin, 2010)
Tubuh mempertahankan diri dari serangan virus, bakteri, dan parasit
lain dengan dua mekanisme yang berbeda tetapi saling berhubungan, yaitu
(1) kekebalan bawaan dan (2) kekebalan adaptif. Kedua sistem imun ini
harus ada dan mampu berjalan secara baik untuk mencegah
berkemkembangnya agen infeksius dalam tubuh, mampu meminimalisasi
dampak pertumbuhan agen infeksius dan untuk mengisolisasi serta
menghancurkan agen infeksius yang mencoba masuk dalam jaringan yang
lebih dalam lagi. (Joyce M. Black, 2014)
2. Organ Imun
a) Nodus Limfa
Nodus limfa merupakan organ terkecil yang tersebar diseluruh
tubuh dan saling berhubungan melalui pembuluh limfa. Struktur nodus
limfa relatif kompleks dan berperan pada sistem imun dan RES.
Nodus limfa menerima cairan, partikel, dan zat terlarut dari organ
yang letaknya jauh memalui kapiler. Nodus limfa banyak ditemukan
pad adaerah toraks dan abdomen. Nodus limfa yang berada dekat
dengan peemukaan tubuh disebut dengan nodus superfisial. Nodus
servikal berada disepanjang leher, nodus aksilaris berada diketiak, dan
nodus inguinal berada dilipatan paha.
b) Nodus Limfatikus
Nodus limfatikus terdapat pada mukosa epitel pelapis saluran
pernapasan, saluran pencernaan, dan saluran perkemihan
c) Limpa
Limpa erupakan organ terbesar dalam tubuh. Fungsi pertahanan
yang dilakukan limpa adalah melalui pembersihan darah yang
difasilitasi mukrofag yang terdapat pada sinusoid. Selain itu limpa
juga merupakan tempat utama terjadinya respons imun humoral
terhadap pathogen yang menular melalui darah. Fungsi limpa
membantu dalam mendaur ulang zat besi dengan cara menangkap
hemoglobin yang dilepaskan pada proses penghancuran sel darah
merah dan melakukan pitting (yaitu proses menghilangkan partikel
asing dari sel darah merah tanpa menghancurkan sel darah merah).
d) Timus
Timus terletak di mediastinum dan mencapai puncak
perkembangannya pada saat anak-anak. Setelah pubertas timus mulai
mengalami atrofi, tetapi organ sisa masih tetap ada hingga tua. Timus
merupakan organ endokrin yang menyekresikan horon yang
berkontribusi pada pemeliharaan dan fungsi populasi sel T perifer.
(Joyce M. Black, 2014)
e) Sumsum Tulang
Sumsum tulang dibagi menjadi merah dan kuning. Sumsum merah
merupakan organ yang berisi sel-sel penyokong yang melingkui
agrerasi sel hematopoesis dan bersebelahan dengan kapiler sinusoid.
Sumsum kuning berisi lebih sedikit sel hematopoesis dengan warna
jernih yang berasal dari sel lemak. Fungsi sumsum tulang :
a. Pemeliharaan sel induk pluripoten yang nantinya akan menjadi sel
darah
b. Tempat untuk diferensisasi dan maturasi sel darah.
c. Tempat penyimpanan neutrofil dan eritrosit
d. Transformasi limfosit yang belum terdiferensisasi menjadi sel B
matur
e. Tempat produksi antibodi pada respon imun sekunder terhadap
antigen bergantung pada timus yang masuk melalui intravena
(Kirnantoro, 2012)
3. Pertahanan Non Spesifik
Kulit dan membran mukosa merupakan garis pertahanan nonspesifik
pertama melawan masuknya benda asing melalui kulit atau luka
terbuka.mekanisme aris pertahanan pertama tersebut :
a) Kulit
Menjadi penghalang dan rintangan fisik yang ditutupi oleh minyak
dan derajat keasaman yang disekresi dari kelenjar sebaceous dan
kelenjar keringat.
b) Potein antimikroba
Terkandung dalam air liur, air mata, dan sekresi lain yang
ditemukan pada membran mukosa.
c) Cairan lambung
Yang mengandung asam klorida atau enzim dapat membunuh
sebagian besar mikroba
d) Silia
Yang melapisi tabung pernapasan dan berfungsi membersihkan
benda-benda asing dari paru-paru
e) Bakteri simbiotik
Yang ditemukan pada saluran pencernaan dan vagina
menyingkirkan bermacam-macam organisme asing yang dapat
menyebabkan kerusakan
f) Sel darah putih
Merupakan sistem pertahanan kedua. Apabila benda asing mampu
menembus rintangan fisik, maka sel darah putih akan menghancurkan
benda tersebut melalui proses fagositosis. Terdapat lima jenis sel darah
putih yang tersapat disumsum tulang yaitu:
1) Neutrofil
Memiliki fungsi fagositosis yaitu menelan mikroorganisme dan sisa-
sisa sel mati
2) Eosinofil
Memiliki peranan dalam reaksi alergi
3) Basofil
Dapat melepas senyawa kimia seperti histamin yang menyebabkan
reaksi inflamasi
4) Monosit
Akan berkembang menjadi mukrofag yang juga berfungsi fagositosis
5) Limfosit
Berperan sebagai atibodi
g) Respon peradangan (inflamasi)
Inflamasi merupakan respons tubuh terhadap kerusakan jaringan,
proses ini dipengaruhi oleh histamine dan prostaglandin. Histamine
sangat berguna sebagai pertahanan tubuh, sebab reaksi tersebut
mencegah penyebaran infeksi ke jaringan lain dan mempercepat
proses penyembuhan.
h) Fagositosis
Fagositosis adalah suatu mekanisme pertahanan yang dilakukan
oleh sel fagosit, dengan jalan mencerna (memakan)
mikroorganisme/partikel asing yang masuk ke tubuh
i) Protein antimikroba
Adalah jenis protein yang berperan dalam sistem pertahanan tubuh
nonspesifik yaitu protein komplemen dan interferon. Protein
komplemen membunuh bakteri penginfeksi dengan cara membentuk
lubang pada dinding sel dan membran plasma bakteri tersebut.
Interferon akan membentuk zat yang mampu mencegah replikasi virus,
sehingga serangan virus dapat dicegah.
4. Pertahanan Spesifik
Sistem perahanan spesifik bekerja apabila sistem pertahanan tubuh
non spesifik gagal menahan masuknya pathogen. Sistem pertahanan
spesifik melibatkan peranan limfosit dan antibodi. Selain itu sistem ini
melibatkan sel dalam menyerang organisme asing. (Kirnantoro, 2012)
5. Respon Imun Primer Dan Sekunder
a. Primer
Respon imun primer terjadi hanya sekali. Kualitas dan kuantitasrespon
imun bergantung pada banyak faktor. Terkadang bergantung pada
inangnya atau pada kondisi lain bergantung pada jenis antigennya dan
bagaimana antigen tersebut dipaparkan pada penerima. Respon imun
primer dapat dibagi menjadi tiga tahapan:
1) Fase Aferen
a) Paparan terhadap antigen
Paparan pada kulit hanya dapat dilakukan olehmaterial tertentu
yang disebut dengan proantigen, garam nikel dan kromium,
serta formaldehid. Paparan mukosa melalui epitel di saluran
pernapasan, saluran pencernaan, atau saluran urogenital dipicu
oleh makanan, serbuk sari, atau debu.
b) Transport antigen
Nodus limfa yang terdapat pada lapisan mukosa. Transportasi
antigen tidak membutuhkan antigen dimasukan kedalam
jaringan padat untuk kontak dengan saluran limfatik dan
dibawa ke nodus limfa terdekat. paparan antigen intravena
dikumpulkan di pulpa putih limpa. Proantigen yang dipaparkan
dikulit akan diserap dan berkonjugasi dengan sel langerhans
pada jaringan subepitelial, kemudian berpasangan dengan
protein autogenus.
c) Kedatangan antigen
Datangnya antingen pada jaringan limfoid perifer diikuti oleh
pengambilan APC. Molekul eksogen atau sel yang tidak
mempunyai penanda sel diri sendiri akan diidentifikasi sebagai
antigen natural buatan, atau sintesis.
2) Fase Sentral
Pada fase dua, fase tengah antigen akan berikatan dengan sel
penyaji dan pemroses. Protein antigen akan diprosessecara
intraselular oleh APC menjadi fragmen peptide.
3) Fase Eferen
Jika masih terdapat sisi antigen dalam jaringan, unit efektor akan
berikatan dengan antigen hingga antigen dapat dinetralisasi dan
dihilangkan. Sisa antigen paling sering ditemui pada parasit obligat
atau fakulatif.
b. Sekunder
Respon imun sekunder terjadi ketika individu yang sudah diimunisasi
dengan sebuah antigen dan mengalami tantangan ulang oleh substansi
yang sama. Respon kedua dan slanjutnya akan menghasilkan unit
efektor yang lebih besar dan le bih kuat untuk waktu yang cukup lama
dan molekul antibodi yang dihasilkan memiliki afnitas yang lebih kuat
terhadap antigen tersebut.

D. Sistem Hematologi
1. Pengertian
Sistem hematologi terdiri dari semua sel-sel darah, sum-sum tulang
tempat sel-sel tumbuh matang, dan jaringan lomfoid tempat sel darah
disimpan jika tidak bersirkulasi. Sistem hematologi dirancang untuk
membawa oksigen dan nutrisi, mengangkut hormon, membuang produk
sampah, dan menghantarkan sel-sel untuk mencegah infeksi,
menghentikan perdarahan, dan memfasilitasi proses penyembuhan. Darah
juga memungkinkan tubuh memberi makanan dan menyembuhkan dirinya
serta menghubungkan antara bagian-bagian tubuh. (Elizabeth J. Crowin,
2009) fungsi darah :
a. Sebagai sistem transpor dari tubuh, yaitu menghantarkan bahan kimia,
oksigen, dan nutrien keseluruh tubuh
b. Mengangkut sisa metabolit ke organ pembuangan
c. Menhantarkan hormon-hormon ke organ sasaran
d. Mengangkut enzim, zat bufer, elektrolit keseluruh tubuh
e. Mengatur keseimbangan suhu.
Darah terdiri dari dua komponen yaitu komponen padat yang terdiri
dari sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), sel pembeku
darah (trombosit) dan komponen cair yairu plasma darah. (Syaifuddin,
2011)
2. Komponen padat darah
a. Sel darah merah
Sel darah merah bekerja mengangkut hemoglobin. Hemoglobin
sendiri berperan sebagai pembawa oksigen dan karbondioksida.
Bentuk ertrosit ini pipih dan tidak berinti. Eritrosit dibentuk dalam
sumsum merah tulang pipa dan tulang pipih. (kirnantoro, 2012)
Bentuk sel darah merah seperti cakram/bionkaf, tidak mempunyai
inti, ukurannya 0,007 mm, tidak bergerak, banyaknya kira-kira 4,5-5
juta/mm3, warnanya kuning kemerah-merahan, sifatnya kenyal
sehingga dapat berubah bentuk sesuai dengan pembuluh darah yang
dilalui. Jumlah hemoglobin dalam masing-masing sel adalah normal,
darah mengandung rata-rata 15 gram, dan tiap gram mampu mengikat
1,39 ml oksigen.
b. Sel darah putih
Fungsi sel darah putih adalah sebagai sistem pertahanan dan
kekebalan tubuh dengan cara membunuh dan memakan
mikroorganisme serta zat asing yang masuk kedalam tubuh. Leukosit
dibentuk pada sumsum tulang dan juga kelenjar limfa. (kirnantoro,
2012)
Bentuknya bening, tidak bewarna lebih besar dari eritrosit, dapat
berubah dan bergerak dengan perantaraan kaki palsu mempunyai
bermacam-macam inti sel. Leukosit dapat bergerak dari pembuluh
darah menuju jaringan, saluran limfe, dan kembali kedalam aliran
darah. Leukosit bersama sistem mukrofagjaringan atau sel
retikuluendotel dari hepar, limpa, sumsum tulang, alveoli paru,
microglia otak, dan kelenjar getah bening dan melakukan fagositosis
terhadap kuman dan virus yang masuk. Setelah di salam sel
kuman/virus dicerna dan dihancurkan oleh enzim pencerna sel.
1) Eosinofil
Merupakan fagosit yang lemah dan menunjukan kemotaksis,
mempunyai kecenderungan khusus untuk berkumpul pada tempat
reaksi antigen-antibodi dalam jaringan. Eosinofil mempunyai
kesanggupan khusus untuk memfagositosis dan mencernakan
kompleks antigen-antibodi setelah proses kekebalan melakukan
fungsinya.
2) Basofil
Basofil dalam melakukan fungsi-fungsi yang sama dalam
aliran darah, mungkin darah hanya mentranspor ke jaringan tempat
ia kemudian menjadi sel mast dan berfungsi mengeluarkan
heparin. Sel mast dan basofil juga melepaskan histamine maupun
sejumlah kecil bradikinin dan serotonin.
3) Imunitas
Imunitas (kekebalan) tubuh dilakukan oleh neutrofil, limfosit,
dan monosit dengan tiga cara merespon kekebalan.
a) Respon fagositosis, dilakukan oleh neutrofil, limfosit dan
monosit dengan cara menelan dan mencerna benda asing yang
masuk.
b) Respon antibody humoral, dilakukan oleh antibody yang
beredar dalam plasma. Cara kerja limfosit berubah menjadi sel
plasma bila bertemu dengan antigen tertentu. Cara kerja
limfosit berubah menjadi sel plasma bila bertemu dengan
antigen tertentu. Bila bertemu dengan antigen yang sesuai akan
terjadi ikatan antigen, antibodi, dan kompleks.
c) Antibodi seluler, dilakukan oleh sel limfosit dengan cara
mengubah diri menjadi special killer T-cell (pembunuh
khusus). Setelah limfosit dipekakan dengan antigen tertentu, ia
mempunyai spesialisasi tertentu.
4) Trombosit
Trombosit merupakan benda-benda kecil yang bentuk dan
ukuranya bermacam-macam, ada yang bulat dan ada yang lonjong,
warna nya putih. Trombosit bukan berupa sel melainkan berbentuk
keeping-keping yang merupakan bgaian-bagian kecil dari sel
besar. (Syaifuddin,2011)
Tromosit berfungsi untuk membekukan darah ketika terjadi
luka yang menyebabkan pendarahan. Trombosit dibentuk pada
sumsum tulang belakang dan bentuk bulat, lonjong tanpa berinti.
(Kirnantoro, 2012)
3. Komponen Cair Darah
Plasma darah adalah bagian darah yang berupa cairan. Fungsi plasma
darah adalah untuk mengangkut sari-sari makanan keseluruh tubuh.
Plasma darah juga mengandung beberapa protein yang memiliki fungsi
khusus. Sebagai contoh, protein berbentuk albumin yang fungsinya
menjaga tekanan osmotic darah, atau protein berbentuk globulin yang
berfungsi membentuk antibody.
Komponen cair darah plasma merupakan bagian dari 5% berat badan
plasma merupakan media sirkulasi elemen-elemen darah yang membentuk
sel darah merah, sel darah putih dan sel pembeku darah. Plasma darah
adalah cairan bewarna kuning yang dalam reaksinya bersifat alkali.
a. Protein Plasma
Protein plasma terdiri dari fraksi albumin, globulin, dan
fibrinogen. Fraksi protein dapat dipisahkan dan dinyatakan dengan
kecepatan pengendapan relatifnya pada ultrasentrifuga elektroforesis
yang merupakan teknik untuk memisahkan fraksi protein. Fungsi
protein plasma:
1) Mempertahankan tekanan osmotik plasma yang diperlukan untuk
pembentukan dan penyerapan cairan jaringan.
2) Bergabug bersama asam dan alkali protein, plasma bertindak
sebagai penyangga dalam mempertahankan pH normal tubuh
3) Fibrinogen dan protrombin penting untuk pembekuan darah
4) Immunoglobulin sangat esensial dalam pertahanan tubuh melawan
infeksi.
b. Tekanan osmotik plasma
Protein merupakan zat yang terlarut dalam plasma yang tidak
mudah berdifusi kedalam cairan interstisial. Protein segera dikeluarkan
dari ruangan interstisial tersebut melalui pembuluh limfe. Protein yang
terlarut di dalam dan cairan interstial bertanggung jawab untuk
tekanan osmotik pada membran kapiler.
c. Konsep klirens plasma
Istilah bersihan (klirens) plasma digunakan untuk menyatakan
kemampuan ginjal untuk membersihkan plasma dari berbagai zat. Jika
plasma mengalir melalui ginjal mengandung 0,1 gram suatu zat dalam
tiap 100 ml dan 0,1 gram zat ini mengalir kedalam urine tiap menit,
maka pe menit 100 ml plasma tersebu dibersihkan dari zat
tersebut.konsep bersihan plasma penting karena merupakan suatu
ukuran yang sangat baik untuk ginjal. (Syaifuddin,2011)
DAFTAR PUSTAKA

Joyce M. Black, dkk.2014. Keperawatan Medikal Bedah, Ed 8. Singapore :


Elsevier
Syaifuddin, 2011. Anatomi Fisiologi : Kurikulum Berbasis Kompetensi Untuk
Keperawatan & Kebidanan, Ed 4, Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC
Mutaqin Arif, 2012. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Dengan
Gangguan Sisrem Pernapasan. Jakarta : Salemba Medika
Corwin Elizabeth J, 2008. Buku Saku Patofisiologi, Ed 3, Jakarta : EGC
Setiadi, 2007. Anatomi & Fisiologi Manusia. Yogyakarta : Graha Ilmu
Kirnantoro, 2016. Anatomi Fisiologi. Yogyakarta : Pustaka Baru Press