You are on page 1of 29

Case Report Session

Entropion

Oleh:

Nor Azuan Bin Mohd Salim 1840312406

Rifky Ramadhan 1510312061

Ghiana Rizkyta 1510312040

Preseptor:

Dr. Fitratul Ilahi, Sp.M(K)

dr. Muhammad Syauqie, Sp.M

BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
RSUP DR. M. DJAMIL PADANG
2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan
hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “Entropion”
Shalawat beriring salam semoga disampaikan kepada Rasulullah SAW beserta
keluarga, sahabat dan umat beliau.

Makalah ini merupakan salah satu syarat mengikuti kepaniteraan klinik di


bagian Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Penulis
mengucapkan terima kasih kepada dr. Fitratul Illahi, Sp.M (K) dan dr.
Muhammad Syauqie, Sp.M selaku pembimbing yang telah memberikan masukan
dan bimbingan dalam pembuatan makalah ini. Penulis mengucapkan terima kasih
juga kepada semua pihak yang telah membantu menyelesaikan makalah ini.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari


kesempurnaan, oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik untuk
menyempurnakan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita
semua.

Padang, Juni 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
DAFTAR GAMBAR iv
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Batasan Masalah 1
1.3 Tujuan Penulisan 1
1.4 Manfaat Penulisan 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 3
2.1 Anatomi Palpebra 3
2.2 Entropion 3
2.3.1 Definisi 6
2.3.2 Epidemiologi 6
2.3.3 Klasifikasi 7
2.3.4 Gejala Klinis 7
2.3.5 Diagnosis 8
2.3.6 Diagnosis Banding 11
2.3.7 Tatalaksana 11
2.3.8 Komplikasi 16
2.3.9 Prognosis 18
BAB III LAPORAN KASUS 18
BAB VI DISKUSI 24
DAFTAR PUSTAKA

iii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Anatomi Palpebra 3


Gambar 2.2 Entropion Involusional 6
Gambar 2.3 Entropion Sikatrik 6
Gambar 2.4 Entropion Kongenital 7
Gambar 2.5 Entropion Spastik 7
Gambar 2.6 Gejala Klinis Entropion 8
Gambar 2.7 Snap back test 9
Gambar 2.8 Pinch test/ distraction test 9
Gambar 2.9 Lateral distraction test (lateral canthal laxity test) 10
Gambar 2.10 Prosedur Perbaikan Fasia Kapsulopalpebra 13
Gambar 2.11 Jahitan quickert 14
Gambar 2.12 Prosedur Weiss. 15
Gambar 2.13 Posterior lamella grafting. 16

iv
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Palpebra mempunyai fungsi melindungi bola mata serta mengeluarkan sekresi


kelenjarnya yang membentuk film air mata di depan kornea. Palpebra berguna
sebagai pelindung bola mata terhadap trauma, trauma sinar, dan pengeringan bola
mata. Palpebra mempunyai lapis kulit yang tipis pada bagian depan sedang
di bagian belakang ditutupi selaput lendir tarsus yang disebut konjungtiva tarsal.
Salah satu kelainan palpebra adalah entropion.1
Entropion adalah suatu keadaan melipatnya kelopak mata bagian tepi atau
margo palpebra ke arah dalam sehingga bulu mata menggeser jaringan
konjungtiva dan kornea. Entropion kelopak mata bawah lebih sering terjadi
daripada entropion kelopak mata atas. Entropion pada kelopak mata bawah lebih
sering karena proses involusional pada proses penuaan, sedangkan pada kelopak
mata atas sering karena sikatrikal seperti akibat trakoma. Entropion dapat terjadi
unilateral maupun bilateral.1
Entropion yang kronik dapat menyebabkan rasa sensitif akut terhadap
cahaya dan angin, serta dapat menyebabkan infeksi mata, abrasi kornea, atau
ulkus kornea. Untuk itu, penting dilakukan perbaikan kondisi oleh dokter sebelum
terjadi kerusakan permanen pada mata.2

1.2 Batasan Masalah

Makalah ini membahas tentang definisi, epidemiologi, klasifikasi,


patofisiologi, manifestasi klinis, diagnosis, diagnosis banding, tatalaksana,
komplikasi, prognosis, serta laporan kasus pasien entropion.

1.3 Tujuan Penulisan

Penulisan makalah ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan


pemahaman mengenai entropion

1
1.4 Metode Penulisan

Metode penulisan makalah ini berupa tinjauan kepustakaan yang mengacu


pada berbagai literatur termasuk buku teks dan artikel ilmiah

2
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Anatomi Palpebra

Gambar 2.1 Anatomi Palpebra

Palpebra mempunyai fungsi melindungi bola mata serta mengeluarkan

sekresi kelenjarnya yang membentuk film air mata di depan kornea. Palpebra

merupakan alat menutup mata yang berguna untuk melindungi bola mata terhadap

trauma, trauma sinar, dan pengeringan bola mata.1

Palpebra mempunyai lapis kulit yang tipis pada bagian depan sedang di

bagian belakang ditutupi selaput lendir tarsus yang disebut konjungtiva tarsal.

3
Konjungtiva tarsal melalui forniks menutup bulbus okuli. Konjungtiva merupakan

membran mukosa yang mempunyai sel goblet yang menghasilkan musin. 1

Pada palpebra terdapat bagian-bagian :

 Kelenjar seperti kelenjar sebasea, kelenjar Moll, kelenjar Zeis pada

pangkal rambut dan kelenjar meibom pada tarsus

 Otot seperti M. orbikularis okuli yang dipersarafi N. fasialis, M.

rioland, M. orbikularis, dan M. levator palpebra yang dipersarafi

oleh N. III yang berfungsi untuk mengangkat kelopak dan

membuka mata.

 Di dalam palpebra terdapat tarsus yang merupakan jaringan ikat

dengan kelenjar di dalamnya atau kelenjar meibom yang bermuara

pada margo palpebral

 Septum orbita merupakan jaringan fibrosis berasal dari rima orbita

merupakan pembatas isi orbita dengan kelopak depan

 Pembuluh darah yang memperdarahi adalah a. palpebral

 Persarafan sensorik kelopak mata atas didapatkan dari ramus

frontal N.V sedangkan kelopak bawah oleh cabang II N. V.

 Konjungtiva tarsal yang terletak di belakang kelopak hanya dapat

dilihat dengan melakukan eversi kelopak. Konjungtiva tarsal

melalui forniks mentup bulus okuli. Konjungtiva merupakan

membran mukosa yang mempunyai sel goblet yang menghasilkan

musin.1

4
2.2. Entropion
2.2.1. Definisi
Entropion adalah pelipatan palpebra ke arah dalam dapat involusional
(spastik,senilis), sikatrikal, atau kongenital. Entropion dapat menyebabkan
kerusakan kornea dan konjungtiva yang menyebabkan abrasi kornea, jaringan
parut, penipisan kornea dan neovaskularisasi kornea. Pada kasus lanjut, bisa ada
risiko ulkus kornea dan perforasi.3,4
2.2.2. Epidemiologi
Entropion kelopak mata bawah lebih sering terjadi daripada entropion
kelopak mata atas. Entropion pada kelopak mata bawah lebih sering karena proses
involusional pada proses penuaan, sedangkan pada kelopak mata atas sering
karena sikatrikal seperti akibat trakoma. Entropion dapat terjadi unilateral maupun
bilateral. Dalam sebuah penelitian pada 25.000 orang di atas 60 tahun, entropion
involusional ditemukan pada 2,1% pasien. Prevalensi meningkat dengan usia:
0,9% untuk pasien berusia 60-69 tahun, 2,1% untuk 70-79, dan 7,6% untuk
mereka yang berusia di atas 80 tahun. Penyakit bilateral tiga kali lebih umum
daripada unilateral. Entropion lebih sering terjadi pada wanita, dengan prevalensi
2,4%, daripada pria, prevalensi 1,9%. Entropion involusional memiliki prevalensi
2,4% pada kulit putih dan 0,8% pada kulit hitam.4
2.2.3. Klasifikasi
Berdasarkan etiologi entropion dapat diklasifikasikan menjadi
1. Entropion involusional
Entropion involusional adalah yang paling sering dan menurut defenisi terjadi
akibat proses penuaan. Gangguan ini selalu mengenai palpebra inferior dan
terjadi akibat melemahnya otot-otot refraktor palpebra inferior, migrasi otot
orbkularis praseptal ke atas, dan menekuknya tepi tarsus posterior. 3

5
Gambar 2.2 Entropion Involusional
2. Entropion Sikatrik
Entropion sikatrikal dapat mengenai palpebra superior atau inferior diseabkan
karena adanya jaringan parut di konjungtiva atau tarsus. Kelainan ini paling
sering ditemukan pada radang kronis seperti trakoma. 3

Gambar 2.3 Entropion Sikatrik

3. Entropion Kongenital
Entropion kongenital merupakan entropion yang didapat sejak lahir dan
umumnya terjadi pada kelopak mata bawah. Kentropion kongenital jarang
terjadi dan harus dibedakan dengan epiblefaron kongenital. Pada entropion
kongenital, tepian palpebra memutar ke arah kornea. Pada epiblefaron, kulit
dan otot pretarsalnya menyebabkan bulu mata memutari tepi tarsus. 3

6
Gambar 2.4 Entropion Kongenital
4. Entropion Spastik akut
Entropion spastik akut biasanya terjadi pada iritasi maupun inflamasi okuli
dimana terjadi pembengkakan pada kelopak mata dan spasme otot
orbikularis.4

Gambar 2.5 Entropion Spastik akut


2.2.4. Gejala klinis
Kondisi margo palpebra yang melipat ke dalam dapat mengakibatkan bulu
mata menggesek kornea dan konjungtiva. Reaksi yang timbul adalah seperti
sensasi benda asing, mata akan berair, merah dan teriritasi. Bila kondisi ini
dibiarkan berlarut-larut, maka akan terjadi perlukaan pada kornea bahkan bisa
terjadi ulkus.

7
Gambar 2.6 Gejala Klinis Entropion

2.2.5. Diagnosis

Diagnosis entropion dibuat berdasarkan anamnesis, gambaran klinis, dan


pemeriksaan penunjang. Pada anamnesis, pasien biasanya mengeluhkan mata
berair, nyeri, rasa tidak nyaman seperti rasa kelilipan, merah dan penglihatan
kabur serta silau. Selain itu, biasanya didapatkan mata merah akibat injeksi
kongjungtiva karena bulu mata yang menggesek permukaan kornea sehingga
terjadi iritasi terus menerus. Gejala lain antara lain epifora, fotofobia, kelopak
mata menjadi keras, kotoran mata, dan pandangan buram. Perlu ditanyakan
riwayat trauma dan riwayat tindakan bedah pada mata. Kerusakan lebih lanjut
pada kornea dapat berupa epiteliopati (kekeruhan lapisan epitel kornea), dan pada
tahap lanjut bisa terjadi erosi kornea. Pada kondisi yang kronik bisa ditemukan
kekeruhan kornea dan neovaskularisasi.

Pada inspeksi palpebra, harus diperhatikan adanya tanda-tanda iritasi atau


inflamasi kulit dan spasme otot-otot wajah. Pada pemeriksaan oftalmologi, margo
palpebra harus diperhatikan untuk evaluasi adanya trikiasis, distikiasis, dan
epiblefaron yang dapat menyerupai entropion. Dapat ditemukan kerusakan epitel
konjungtiva atau kornea akibat trauma, hiperemia konjungtiva terlokalisasi,
injeksi konjungtiva dan/atau siliar, blefarospasme, kelemahan kelopak mata
(entropion involusional), jaringan parut pada konjungtiva (entropion sikatriks),
atau pertumbuhan kelopak mata bawah abnormal (entropion kongenital).
Pemeriksaan kornea juga harus dilakukan untuk menilai adanya abrasi, jaringan
parut, penipisan, atau neovaskularisasi pada kornea.

Pemeriksaan fisik khusus yang dapat menunjang diagnosis adalah:

8
1. Snap back test:

Pemeriksaan dilakukan dengan cara menarik palpebral inferior menjauhi


bola mata dan dilepaskan kembali. Normal adalah bila palpebral inferior segera
kembali ke posisi normal.

Gambar 2.7 Snap back test

2. Pinch test/ distraction test:

Pemeriksaan dilakukan dengan cara mnarik palpebra inferior menjauhi


bola mata, kemudian diukur jarak antara bola mata dan margo palpebral.

Gambar 2.8 Pinch test/ distraction test.

3. Lateral distraction test (lateral canthal laxity test):

Pemeriksaan dilakukan dengan cara menarik palpebra inferior ke arah


medial. Dilihat perubahan yang terjadi pada kantus lateral. Normal kantus lateral
berbentuk lancip; hasil positif atau laxity kantus lateral adalah bila bentuk kantus
membulat (rounded)

9
Gambar 2.9 Lateral distraction test (lateral canthal laxity test)

4. Blink test:

Pemeriksaan dilakukan dengan cara meminta pasien memejamkan mata


secara kuat. Dikatakan positif bila terjadi entropion.

Entropion dapat tidak tampak, sehingga perlu tes provokasi, yaitu meminta
pasien untuk menatap ke bawah, kemudian palpebra superior ditahan setinggi
mungkin oleh pemeriksa, kemudian pasien diminta memejamkan matanya serapat
mungkin. Tes ini dapat dilakukan dengan atau tanpa instilasi zat anestetik
tetrakain.

Pemeriksaan penunjang umumnya tidak diperlukan untuk diagnosis,


namun dapat mengidentifikasi kelainan-kelainan yang mendasari atau didasari
entropion. Pemeriksaan slit lamp dapat mengidentifikasi lipatan tepi palpebra,
kelemahan palpebra, enoftalmus, injeksi konjungtiva, trikiasis, entropion
memanjang, keratitis punctata superfisial yang dapat menjadi ulkus dan
membentuk pannus, serta keratinisasi tepi palpebra dan simblefaron pada
entropion sikatriks. Tes lain adalah tes Schirmer untuk menilai produksi air mata,
tes fluorescein untuk melihat tanda-tanda kerusakan kornea akibat gesekan bulu
mata atau kulit palpebra, dan eksoftalmometri untuk menilai enoftalmus relatif.

Pemeriksaan histopatologis pada entropion involusional menunjukkan


adanya degenerasi kolagen, serat-serat kolagen tersusun tidak teratur, dan
elastogenesis yang abnormal. Hal ini karena seiring pertambahan usia, komposisi
tarsus berubah dari sebagian besar tersusun dari serat kolagen menjadi serat

10
elastis, akibatnya terjadi peningkatan laxitas horizontal palpebra dan atrofi tarsus.
Namun, entropion juga dapat memiliki tarsus yang menebal, mungkin disebabkan
inflamasi atau disinsersi M. rectractor palpebra.6

2.2.6. Diagnosis banding

Trikiasis

Trikiasis adalah penggesekan bulu mata pada kornea dan dapat disebabkan
oleh entropion, epiblefaron, atau hanya pertumbuhan yang salah arah. Keadaan ini
menyebabkan iritasi kornea dan mendorong terjadinya ulserasi. Penyakit-penyakit
peradangan kronik palpebra, seperti blefaritis dapat menyebabkan terjadinya parut
folikel bulu mata dan nantinya menyebabkan pertumbuhan yang salah arah.

Distichiasis

Distichiasis adalah suatu kondisi yang ditandai dengan adanya bulu mata
tambahan, yang sering tumbuh dari muara kalenjar meibom. Kelainan ini bisa
kongenital atau disebabkan oleh perubahan-perubahan metaplastik kalenjar-
kalenjar di tepi palpebra.

Epiblefaron

Epiblefaron adalah suatu kelainan kongenital pada palpebra, dimana


muskulus pretarsal dan kulit palpebra inferior berada di atas margo palpebra
inferior dan membentuk lipatan horizontal, sementara palpebra berada dalam
posisi yang normal. Hal ini menyebabkan bulu mata berada pada posisi vertikal.7

2.2.7 Tatalaksana
 Non medikamentosa
Terapi non farmakologis dengan menarik kulit palpebra ke arah pipi sehingga
menjauh dari bola mata dapat mengurangi gejala sementara terutama untuk
involusi atau spastik entropion.9
 Medikamentosa
Berupa obat tetes mata yang bersifat lubikasi yang bertujuan melindungi kornea
sebelum tindakan definitif (operasi).10

11
 Operasi
Operasi merupakan terapi definitif untuk entropion. Pembedahan untuk memutar
keluar kelopak mata efektif untuk semua jenis entropion. Pemiliha prosedur
pembedahan tergantung pada penyebab yang mendasari.8 Intervensi bedah
diindikasikan jika salah satu dari gejala berikut muncul persisten yaitu iritasi
okular berulang, konjungtivitis bakteri, refleks hipersekresi air mata, superfisial
keratopati, risiko ulserasi dan keratitis mikroba.5 Beberapa tindakan operasi yang
dapat dilakukan adalah :
 Entropion Kongenital
Entropion kongenital dapat diperbaiki dengan pemasangan kembali fasia
kapsulopalpebra. Prosedur ini dilakukan untuk mengencangkan kelopak mata
anak-anak yang horizontal secara tidak serentak. Perbaikan epiblefaon diperlukan
jika ada bukti keratopati atau jika gejalanya simptomatik.
 Entropion akut spastik
Suntikan toksin botulinum selalu efektif untuk paralisi orbikularis. Efek toksin
botulinum bertahan hanya sekitar 3 bulan, tetapi entropion tidak akan terulang
walaupun efeknya menghilang.1
 Entropion involusional
1. Perbaikan fasia kapsulopalpebra.9
Metode perbaikan entropion ini berdasarkan jenis dan tingkatan masalah. Salah
satu perbaikan fasia kapsulopalpebra dapat menggunakan teknik inferior
refraktorplication. Setelah anestesi lokal, suatu goresan subsiliar dibuat 2 mm di
bawah luka dari bawah punctum menuju cabang cantal. Penutup kulit yang kecil
disayat ke bawah di atas tarsus, dan potongan otot orbikularis pretarsal disayat
sampai batas tarsus. Septum orbita digores dan dibuka, sehingga tepi fasia
kapsulopalpebra yang tipis dapat terlihat. Dengan adanya bantalan inferior orbita,
yang kondisinya sama dengan keadaan kelopak mata bawah terhadap levator,
dapat ditutup dengan empat jahitan sesuai dengan struktur mata. Suatu potongan
tarsal yang mengarah ke samping menunjukkan kelemahan kelopk mata bawah
dan potongan tersebut sesuai dengan banyaknya ketegangan kelopak. Tiga jahitan
dengan silk 6.0 digunakan untuk menyambung kembali fasia kapsulopalpebra
bawah dengan perbatasan tarsal. Kelopak mata tidak harus selalu dikoreksi dan

12
banyaknya jumlah fasia kapsulopalpebral dapat dikonfirmasi dengan melakukan
follow up pasien. Kulit muka yang ditutup dengan jahitan 6.0 biasa, dan jumlah
tepi fasia kapsulopalpebral harus disatukan dengan tiga jahitan pusat untuk
mencegahnya otot orbikularis.

Gambar 2.10 Prosedur Perbaikan Fasia Kapsulopalpebra


2. Jahitan quickert.10
Jika pasien yang menderita involusional entropion dan tidak mampu maka teknik
quickert, atau tiga jahitan, dapat digunakan. Kelemahannya tingkat kekambuhan

13
dengan teknik ini sangatlah tinggi. Jahitan tiga double-kromik 5-0 ditempatkan
horizontal 3 mm melebar ke lateral, tengah, dan medial kelopak mata bawah.
Jahitan melewati forniks sampai batas di bawah perbatasan inferior tarsal lalu
keluar sampai kulit. Masing-masing jahitan ditegangkan untuk koreksi. Berikut
gambar jahitan dengan metode 3 jahitan.

Gambar 2.11 Jahitan quickert


 Entropion sikatrik.

Prosedur Weis. Jika entropionnya asli sikatrik, blefarotomi dan rotasi merginal
(prosedur Weis) efektif untuk memperbaiki kelopak mata atas atau bawah.
Anestesi lokal diberikan pada kelopak mata dan insisi horizontal dibuat 4 mm dari
kelopak sampai kulit dan orbikularis. Dibuat atap marginal yang berada 2-4 mm
dari garis tepi kelopak mata. Kelopak kemudian diangkat, dan dalam hitungan
detik dibuat insisi sampai konjungtiva dan tarsus. Gunting Westcott atau
Tenotomi digunakan untuk memperluas blefarotomi ke medial dan lateral

14
melewati tarsus. Lalu dijahit tiga double-armed dengan silk 6-0 sampai tarsus, ke
atas tarsus yang kemudian keluar melalui kulit dekat bulu mata. Jahitan diikat di
atas kapas untuk melindungi “pemasangan kawat”. Lalu dkoreksi untuk pastinya.
Kulit yang diinsisi ditutup dengan jahitan 6-0 biasa. Jahitan dan kasa penutup
harus diangkat 10-14 hari.1

Gambar 2.12 Prosedur Weiss.


Jika sikatrik entropion masih mengganggu, atau prosedur yang dilakukan gagal,
lamellar posterior tambahan akan sangat membantu. Suatu cangkokan mungkin
ditempatkan antara konjungtiva/retraktor kelopak bawah dan perbatasan inferior
tarsal. Berbagai material cangkok yang tersedia meliputi tulang rawan telinga,
langit-langit keras, dan selaput lendir. Terbentuknya jaringan parut, dan defek
produksi lamellar posterior, bahan cangkok diletakkan dengan jahitan yang bisa
diserap dan kelopak akan dapat disembuhkan dengan jahitan yang direnggangkan.
Lamellar posterior tersebut menyebabkan kelopak mungkin tidak dapat menarik
kembali saat melihat ke bawah.

15
Gambar 2.13. Posterior lamella grafting.

2.2.8 Komplikasi
 Konjungtivitis
Entropion dapat menyebabkan konjungtiva menadi merah dan meradang serta
menimbulkan infeksi. Dimana akan terlihat lapisa putih yang transparan pada
mata dan garis pada kelopaknya.
 Keratitis
Suatu kondisi dimana kornea meradang. Masuknya bulu mata dan tepi kelopak ke
kornea dapat menimbulkan iritasi dan rasa sakit. Jaringan parut akan terbentuk da
dapat menyebabkan kehilangan penglihatan.
 Ulkus Kornea
Ulkus korne adalah ulkus yang terbentuk di kornea, dan biasanya disebabkan oleh
eratitis. Kondisi ini sangat serius karena dapat menyebabkan kehilangan
penglihatan.
 Komplikasi bedah termasuk perdarahan, hematoma, infeksi, rasa sakit dan
posisi tarsal yang buruk.1

16
2.2.9 Prognosis
Entropion memiliki prognosis penatalaksanaan yang baik bila dilakukan
pada stadium dini.6

17
BAB 3

LAPORAN KASUS

IDENTITAS PASIEN

Nama :Y
Usia : 86 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Pekerjaan : IRT
No. RM : 01148203
Masuk RS : 13 Mei 2019

ANAMNESIS
Keluhan Utama
Kelopak bawah mata kiri tampak melipat ke dalam sejak 1 tahun yang lalu
Riwayat Penyakit Sekarang
 Kelopak baawah mata kiri tampak melipat ke dalam sejak 1 tahun yang
lalu
 Rasa mengganjal pada mata
 Pasien mengeluhkan mata berair
Riwayat Penyakit Dahulu
 Pasien tidak memiliki riwayat trauma pada mata
 Tidak ada tiwayat operasi sebelumnya
 Tidak ada riwayat diabetes melitus
Riwayat Penyakit Keluarga
 Tidak ada keluarga yang pernah mengalami penyakit yang sama seperti
pasien.
Pemeriksaan Umum :

- Kesadaran : Komposmentis Kooperatif


- Keadaan Umum : Baik
- Tekanan Darah : 120/87 mmHg
- Nadi : 85 x/menit

18
- Pernafasan : 18 x / menit
- Suhu : 36,6 ⁰C
- Sianosis : Tidak ada
- Edema : Tidak ada
- Anemis : Tidak ada
- Tinggi Badan : 145 cm
- Berat Badan : 40 kg

Kulit : dalam batas normal

Kelenjar getah bening : dalam batas normal

Kepala : dalam batas normal

Rambut : dalam batas normal

Mata : Status Oftalmologi

Telinga : dalam batas normal

Hidung : dalam batas normal

Tenggorok : dalam batas normal

Gigi dan mulut : dalam batas normal

Leher : dalam batas normal

Dada

Paru : dalam batas normal

Jantung : dalam batas normal

Perut : dalam batas normal

Punggung : dalam batas normal

Genitalia : Tidak diperiksa

Anggota gerak : dalam batas normal

19
STATUS OFTALMOLOGI
Tanggal 23 Mei 2019
Oculli Dextra Oculli Sinistra
Visus tanpa koreksi 20/150 PH (-) 20/200 PH (-)
Visus dengan koreksi - -
Refleks fundus (+) (+)
Madarosis (-) Madarosis (-)
Supersilia/silia
Trikiasis (-) Trikiasis (-)
Edema (-) Edema (-)
Palpebra superior
Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Edema (-)
Hiperemis (-)
Edema (-)
Fpv 8 mm
Hiperemis (-)
MRD1 2 mm
Palpebra inferior Fpv 6 mm
MRD2 6 mm Cantal laxity lateral
MRD1 1 mm
3mm
MRD2 5 mm
Cantal laxity medial 2mm
Snap back test 2 detik
Apparat Lakrimal Dalam batas normal Hiperlakrimasi
Hiperemis (-),Papil (-), Folikel Hiperemis (-),Papil (-), Folikel (-),
Konjungtiva Tarsalis
(-), Sikatrik (-) Sikatrik (-)
Konjungtiva Forniks Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Hiperemis (), Injeksi Hiperemis (+), Injeksi konjungtiva
Konjungtiva Bulbi
konjungtiva (-), Injeksi siliar (-) (-), Injeksi siliar (-)
Sklera Putih Putih
Kornea Bening Bening
COA Cukup dalam Cukup dalam
Iris Coklat Coklat
Pupil Bulat, reflek +/+, diameter 3mm Bulat, reflek +/+, diameter 3mm
Lensa Keruh subkapsular posterior Keruh subkapsular posterior
Korpus Vitreum Jernih jernih
Fundus
- Media Bening Bening
- Papil Bulat, batas tegas, c/d 0,3-0,4 Bulat, batas tegas, c/d 0,3-0,4
- Pemb. darah Aa : Vv = 2 : 3 Aa : Vv = 2 : 3
- Retina Perdarahan (-) Eksudat (-) Perdarahan (-) Eksudat (-)
- Makula Refleks fovea (+) Refleks fovea (+)
TIO N N
Posisi bola mata N Ortho
Gerakan bola mata Bebas ke segala arah Bebas ke segala arah

20
Gambar

DIAGNOSIS KERJA
Entropion Involusional palpebra inferior OS
DIAGNOSIS BANDING
Trichiasis
Distichiasis
ANJURAN TERAPI
Cendolyteers ed 6x1 OS
Repair entropion
ANJURAN PADA PASIEN
 Jangan menggosok-gosok mata

PROGNOSIS :

- Quo ad vitam : dubia ad bonam


- Quo ad functionam : dubia ad bonam
- Quo ad sanatianam : dubia ad bonam

21
FOLLOW UP
Tanggal 20 Mei 2019
S/ pasien kontrol post repair entropion palpebra nferior dalam lokal anestesi
O/ Status Oftalmologi
Oculli Dextra Oculli Sinistra
Visus tanpa koreksi 20/150 20/200
Visus dengan koreksi - -
Refleks fundus (-) (+)
Madarosis (-) Madarosis (-)
Supersilia/silia
Trikiasis (-) Trikiasis (-)
Edema (-) Edema (-)
Palpebra superior
Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Edema (-)
Hecting (+)
Hiperemis (-)
Fpv 8 mm
Palpebra inferior Fpv 8 mm
MRD1 2 mm
MRD1 2 mm
MRD2 6 mm
MRD2 6 mm
Apparat Lakrimal Dalam batas normal Dalam batas normal
Hiperemis (-),Papil (-), Folikel Hiperemis (-),Papil (-), Folikel (-),
Konjungtiva Tarsalis
(-), Sikatrik (-) Sikatrik (-)
Konjungtiva Forniks Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Hiperemis (-), Injeksi Hiperemis (-), Injeksi konjungtiva
Konjungtiva Bulbi
konjungtiva (-), Injeksi siliar (-) (-), Injeksi siliar (-)
Sklera Putih Putih
Kornea Bening Bening
COA Cukup dalam Cukup dalam
Iris Coklat Coklat
Pupil Bulat, reflek +/+, diameter 3mm Bulat, reflek +/+, diameter 3mm
Lensa Keruh subkapsular posterior Keruh subkapsular posterior
Korpus Vitreum jernih jernih
Fundus
- Media Bening Bening
- Papil Bulat, batas tegas, c/d 0,3-0,4 Bulat, batas tegas, c/d 0,3-0,4
- Pemb. darah Aa : Vv = 2 : 3 Aa : Vv = 2 : 3
- Retina Perdarahan (-) Eksudat (-) Perdarahan (-) Eksudat (-)
- Makula Refleks fovea (+) Refleks fovea (+)
TIO N(palpasi) N(palpasi)
Posisi bola mata Ortho Ortho
Gerakan bola mata Bebas ke segala arah Bebas ke segala arah

22
Gambar

A/ Post Repair Entropion palpebra inferior OS


P/ Medikamentosa : Chloramphenicol ed 3x1 OS

23
BAB 4

DISKUSI

Telah dilaporkan seorang perempuan berusia 86 tahun dirawat di bangsal


mata RSUP Dr. M Djamil Padang tanggal 13 Mei 2019 dengan diagnosis
Entropion Involusional palpebra inferior OS. Diagnosis ditegakkan berdasarkan
anamnesis, pemeriksaan fisik pada mata, serta dibantu dengan pemeriksaan
penunjang.
Berdasarkan anamnesis, didapatkan keluhan Kelopak bawah mata kiri
tampak melipat ke dalam sejak 1 tahun yang lalu. Pasien mengeluhkan rasa
mengganjal pada mata dan mata berair. Berdasarkan pemeriksaan fisik pada mata
kiri didapatkan adanya pelipatan palpebra ke arah dalam. Berdasarkan anamnesis
dan pemeriksaan fisik pada kasus ini diperoleh diagnosis kerja entropion
involusional palpebra inferior OS dengan diagnosa banding trikiasis dan
distikiasis. Diagnosa trikiasis dapat disingkirkan melalui pemeriksaan fisik
dimana pada trikiasis terdapat pertumbuhan bulu mata ke arah dalam namun
kondisi kelopak palpebra normal. Distikiasis merupakan kelainan kogenital pada
palpebra dimana bulu mata tumbuh pada tempat keluarnya saluran meibom.11
Entropion pada kelopak mata bawah lebih sering terjadi karena proses
involusional pada proses penuaan. Seiring dengan meningkatnya usia maka terjadi
degenerasi progresif jaringan fibrous dan elastik kelopak mata bawah. Gangguan
ini paling sering ditemukan pada kelopak bawah dan merupakan akibat gabungan
kelumpuhan otot-otot retraktor kelopak bawah, migrasi ke atas muskulus
orbikularis preseptal, dan melipatnya tepi tarsus atas. Prevalensi meningkat
dengan usia: 0,9% untuk pasien berusia 60-69 tahun, 2,1% untuk 70-79, dan 7,6%
untuk mereka yang berusia di atas 80 tahun.4,11

24
Daftar Pustaka

1. Ilyas, H. Sidarta. 2009. Ilmu Penyakit Mata, Ed. 3. Jakarta : Balai Penerbit
FKUI.

2. Anonymous. Entropion-eyelids that turn it. American asociaty of


Ophthalmic and Reconstruction of Surger7, 2005.

3. Vaughan DG, Asbury T, Riordan Eva P. Oftalmologi Umum. Editor :


Susanto,D. Edisi 17. Jakarta: EGC, 2007.

4. American Academy of ophtalmology. Entropion .


https://eyewiki.aao.org/Entropion - Diakses Juni 2019

5. Boboridis K, Bunce C. Interventions for involutional lower lid entropion.


Cochrane Batabase for Systematic Review, 2002.

6. Sitorus RS, Sitompul R, Widyawati S, Bani AP. Buku Ajar Oftalmologi


Edisi Pertama. Jakarta. Badan Penerbit FK UI, Jakarta : 2002.

7. Vaughan DG, Asbury T, Riordan Eva P. General Ophthalmology. 2007.


Edisi 17. London: McGraw-Hill.

8. Sullivan JH. Palpebra dan Altieri A, Lester M, Harman F et al.


Comparison of three techniques for repair of involutional lower lid
entropion: a three year follow up study. Ophthalmologica 2003; 217: 265-
272

9. Woo KI, Yi K, Kim YD. Surgical correction for lower lid epiblepharon in
Asians. Br J Ophthalmol 2000;84:1407–1410

10. Shorr N et al. Three-suture technique addresses involutional entropion in


the office. Ocular Surgery News, 2004

11. http://webeye.ophth.uiowa.edu/eyeforum/cases/220-involutional
entropion.htm – Diakses Juni 2019

25