You are on page 1of 10

JOM Vol 2 No 1, Februari 2015

HUBUNGAN MOTIVASI PERAWAT DENGAN KEPATUHAN


PELAKSANAAN PEMBERIAN OBAT ORAL

Nila Putriana1) Sofiana Nurchayati2) Sri Utami3)

Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Riau1


Departemen Keperawatan Komunitas Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Riau2
Departemen Keperawatan Medikal Bedah Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Riau3

E-mail : farhanhabib015@gmail.com

Abstract

The motivation of nurses is influenced by internal and external factors that affect the implementation of the oral
medication obeyed in Utama Room of Arifin Achmad Public Hospital Pekanbaru. Job Motivation is a boost of
encouragement from the nurse consist of (a sense of awareness, sense of responsibility, work interests, loyalty,
discipline) and encouragement from the outside (the recognition of others, opportunities for advancement, promotion
and career opportunities, a sense of security in the work, remuneration appropriate and lack of monitoring of others)
that directs the actions and behavior of nurses to achieve its objectives. The purpose of this research was to determine
the relationship of work motivation nurse with oral medication obeyed. Design research was descriptive correlation
with cross sectional approach. The total sample of 46 respondents using purposive sampling technique. Measuring
tools such as questionnaires and observation sheets. Results of univariate analysis obtained entirely of women (100%)
mostly educated D3 with employment status largely honorary workers (76.1%), long work over 4 years (43.5%). While
the bivariate analysis results obtained ρ value 0.004 < (α = 0.05) using the chi square test, the conclusion there is a
significant relationship between motivation nurse with compliance implementation oral medication obeyed. Suggested
for hospital nurses supervise compliance and further increase the motivation of nurses and provide reword and
punishment to those who do not run the SOP.

Keywords: obedience, motivation nurse, oral medication obeyed


Bibliography: 49 (2003-2014)
global yang tidak bisa ditunda (Amelia,
PENDAHULUAN 2009). Salah satu SDM di RS yang paling
menentukan mutu pelayanan RS adalah
Rumah Sakit (RS) merupakan salah perawat.
satu jaringan pelayanan kesehatan yang Perawat pada dasarnya mempunyai
penting, sarat dengan tugas, beban, masalah beberapa jenis fungsi dalam menjalankan
dan harapan yang digantungkan kepadanya. perannya. Fungsi tersebut antara lain fungsi
Keberagaman dan kerutinan pelayanan keperawatan mandiri (independen), fungsi
tersebut apabila tidak dikelola dengan baik ketergantungan (dependen), fungsi
dapat mengakibatkan kejadian tidak kolaboratif (interdependen). Perawat tidak
diharapkan (KTD) (Kemenkes, 2013). dapat memberikan pelayanan secara
Mengingat hal tersebut dibutuhkan suatu mandiri, tetapi bekerja sama dengan tim
pengorganisasian yang baik dari suatu RS. kesehatan lain untuk menyelesaikan
Pengorganisasian RS tidak akan terlepas masalah kesehatan yang dihadapi klien.
dari sumber daya manusia (SDM) yang ada Salah satu pelayanan kesehatan yang
dalam organisasi RS tersebut (Fathoni, berupa fungsi kolaboratif adalah pelayanan
2006). dalam pemberian obat-obatan bagi klien.
Keberhasilan sebuah RS sangat Selain itu diperlukan juga fungsi
ditentukan oleh pengetahuan, keterampilan, independent yaitu mandiri, karena dalam
kreativitas, dan motivasi staf dan memberikan obat perawat memiliki
karyawannya. Kebutuhan tenaga-tenaga tanggung jawab dan tanggung gugat,
terampil di dalam berbagai bidang dalam sehingga perawat harus mematuhi standar
sebuah RS sudah merupakan tuntutan dunia operasional prosedur (SOP) tetap dalam
802
JOM Vol 2 No 1, Februari 2015

pemberian obat, dan mematuhi prinsip melakukan suatu kesalahan jika tidak
benar yang menjadi pedoman dalam mempunyai tingkat pengetahuan dan
pemberian obat dengan tujuan agar aman kesadaran yang tinggi bahwa tindakan yang
bagi klien (Sari, 2009). dilakukan akan memberikan efek negatif
Terdapat prinsip 10 benar obat pada pasien.
menurut Kee dan Hayes (2006) yang biasa Kematian dan angka kecacatan
dikenal dengan istilah five plus five rights akibat kesalahan dalam pemberian obat
diterjemahkan sebagai 10 benar yang cukup banyak terjadi namun tidak
meliputi right client (benar pasien), right menyebabkan kematian. Angka kematian
drug (benar obat), right dose (benar dosis), akibat kesalahan medis tersebut
right time (benar waktu), right route (benar diungkapkan oleh Institute Of Medicine
rute), right assessment (benar pengkajian), (IOM) (2003) dalam Basuki (2012), dimana
right documentation (benar pencatatan), di RS Amerika Serikat setiap tahunnya
client’s right to education (hak klien hampir berjumlah sebanyak 98.000 orang
mendapatkan pendidikan atau informasi), dan angka cedera 1.000.000 orang. Angka
right evaluation (benar evaluasi), dan kesalahan medis ini lebih banyak daripada
client’s right to refuse (hak pasien untuk jumlah manusia yang meninggal karena
menolak). Govern (2008) menambahkan 2 kecelakaan, kanker, AIDS dan kecelakaan
benar obat lainnya yaitu be aware of kerja. Kesalahan medis ini terbukti juga
potential drug-drug (waspada terhadap dapat menyebabkan kerugian RS karena RS
interaksi obat-obat) dan drug-food harus menanggung biaya kesalahan untuk
interactions (waspada terhadap interaksi perawatan klien. Kelalaian yang dapat
obat-makanan) sehingga menjadi 12 benar mencelakakan orang lain dan akibatnya
obat. sampai merenggut nyawa orang lain akan
Prinsip 12 benar obat ini berhubungan dengan pelanggaran hukum
berkembang dari lima tepat meliputi tepat pidana sedangkan Kelalaian ringan akan
pasien (right client), tepat obat (right drug), berhubungan dengan pelanggaran dibidang
tepat dosis (right dosis), tepat waktu (right pidana dan etik. Kesalahan dalam
time) dan tepat cara (right route). pemberian obat tersebut meliputi resep
Selanjutnya pada perkembangan berikutnya yang tidak akurat, pemberian obat yang
ada hal lain yang tidak dapat ditinggalkan salah, memberikan obat melalui jalur yang
dalam praktek perawatan profesional yaitu tidak tepat dan interval waktu yang salah,
tepat pendokumentasian (right serta memberikan dosis yang salah. Tipe
documentation). Hal ini karena aspek kesalahan yang menyebabkan kematian
dokumentasi termasuk hal yang penting pada pasien yang meliputi 40,9% salah
sebagai pertanggungjawaban secara legal. dosis, 16% salah obat, dan 9,5% salah rute
Semua ketepatan tersebut harus didasari pemberian (Hughes & Potter, 2010).
dengan pengetahuan, ketrampilan dan Penelitian lain yang dilakukan oleh
tindakan keperawatan yang khusus Kuntarti (2009) menunjukkan bahwa secara
(Armiyati, Ernawati & Riwayati, 2007). umum prinsip penerapan "dua belas tepat"
Di ruangan VIP Bougenville RSUD dalam pemberian obat oral oleh 81 perawat
Arifin Achmad Pekanbaru (2013) terdapat di RSCM Jakarta berada pada tingkat
pelaporan kejadian salah orang dalam sedang sampai tinggi. Berdasarkan
pemberian obat oral pada 2 orang pasien penelitian di dapatkan data bahwa dari 12
dan salah dosis pada 10 orang belum benar obat penerapan prinsip obat yang
diruangan lain yang tidak teridentifikasi. bermasalah adalah 63% salah dalam
Menurut Rumampuk, Budu & Nontji penerapan tepat waktu, 24,7% salah dalam
(2009), perawat dalam melaksanakan tugas penerapan tepat obat, 48,1% salah dalam
dan tanggung jawabnya berkolaborasi penerapan tepat cara, 19,8% salah dalam
dengan dokter memberikan terapi obat penerapan tepat dosis sedangkan 41,7%
kepada pasien yang berpotensi besar

803
JOM Vol 2 No 1, Februari 2015

salah dalam penerapan tepat ketepatan TUJUAN


dokumentasi. Tujuan penelitian adalah
Saat ini RSUD Arifin Achmad mengetahui hubungan motivasi perawat
Pekanbaru masih menggunakan prinsip 6 dengan dengan kepatuhan dalam
benar dalam pemberian obat karena prinsip pelaksanaan pemberian obat oral.
12 benar dalam pemberian obat belum
direliasasikan di lingkungan RSUD Arifin
Achmad Pekanbaru. Prinsip 6 benar obat METODE
tersebut terdiri dari tepat pasien, tepat obat, Desain; Penelitian ini merupakan
tepat dosis, tepat waktu, tepat cara dan tepat penelitian kuantitatif dengan desain
pendokumentasian. Pelaksanaan pemberian penelitian deskriptif korelatif dengan
obat di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru rancangan cross sectional
ini dilakukan dengan cara setelah dilakukan Sampel: Metode pengambilan
pengecekan obat, obat tersebut akan sampel yang digunakan dalam penelitian ini
diberikan kepada pasien namun 4 dari 5 adalah purposive sampling dengan jumlah
perawat mengakui bahwa mereka tidak sampel sebanyak 46 orang.
sempat menjelaskan manfaat dari obat dan Instrumen: Alat pengumpulan data
perawat juga tidak menunggui pasien untuk yang digunakan berupa lembar kuesioner.
meminum obatnya, beberapa obat ada yang Kuesioner atau pertanyaan tersebut terdiri
masih dipegang oleh pasien dan tidak dari beberapa bagian. Bagian pertama berisi
disiapkan oleh perawat. Secara tidak data demografi perawat (umur, jenis
langsung hal ini menjelaskan bahwa prinsip kelamin, pendidikan, status pekerjaan dan
benar obat tidak dapat terealisasi dengan masa kerja). Bagian kedua berisi motivasi
baik dan tidak dapat dijamin ketepatannya. perawat dalam pemberian obat oral yang
Berdasarkan hasil wawancara terdiri dari 15 pernyataan. Bagian ketiga
dengan 10 perawat di Irna Utama RSUD adalah lembar observasi kepatuhan perawat
Arifin Achmad Pekanbaru, perawat tidak dalam pemberian obat oral yang dilakukan
memperhatikan prinsip 6 benar dalam perawat dalam kegiatannya sehari-hari,
pemberian obat dengan alasan tidak lembar observasi berdasarkan SOP ini
mengetahui tentang prinsip 6 benar obat nantinya diisi oleh peneliti atau asisten
dengan baik, beban kerja yang terlalu peneliti.
banyak, dan motivasi serta keinginan untuk Analisa Data: Univariat dan
melaksanakan 6 benar obat yang kurang. Bivariat.
Motivasi perawat yang kurang tersebut juga
berdasarkan pada kurangnya kepedulian HASIL PENELITIAN
(caring) perawat terhadap pasien, sehingga Berdasarkan penelitian didapatkan hasil
menurunkan kinerja perawat itu sendiri sebagai berikut:
dalam melakukan tindakan perawatan
sehari-hari. Tidak hanya itu saja, kurangnya Tabel 1
pemantauan (supervise) dari kepala ruangan Distribusi responden berdasarkan
menyebabkan kurang disiplinnya perawat karakteristik: umur, jenis kelamin,
dalam menerapkan 6 benar dalam pendidikan, status pekerjaan, masa kerja
pemberian obat. Permasalahan tersebut
menjadi latar belakang peneliti untuk No Karakteristik
Jumlah Persentase
melakukan penelitian dengan judul (orang) (%)
“Hubungan motivasi perawat dengan 1 Umur Responden
kepatuhan pelaksanaan pemberian obat oral - 17- 25 Tahun 2 4,3
di ruang rawat inap instalasi pelayanan - 26- 35 Tahun 40 87
utama RSUD Arifin Achmad Pekanbaru”. - 36-45 Tahun 4 8,7
Jumlah 46 100
2 Jenis Kelamin
46 100
-Perempuan
804
JOM Vol 2 No 1, Februari 2015

Jumlah 46 100
Tingkat Pendidikan Analisa Univariat
3
Responden
- D3 Keperawatan 40 87 Umur
- S1 Keperawatan 3 6,5 Depkes (2009) mengelompokkan
- Ners 3 6,5 umur menjadi 3 kategori, yaitu remaja akhir
Jumlah 46 100 (17- 25 tahun), dewasa awal (26- 35 tahun),
4 Status Pekerjaan dan dewasa akhir (36- 45 tahun). Hasil
- PNS 11 23,9 penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian
- Tenaga Honorer 35 76,1 besar responden berada pada tahap usia
Jumlah 46 100 dewasa awal (26- 35 tahun), dimana rata-
5 Lama Bekerja rata responden diruang IRNA Utama RSUD
- 4 tahun 20 43,5 Arifin Achmad Pekanbaru berusia 28 tahun.
- 5 tahun 12 30,4
Usia termuda adalah 25 tahun dan usia
- Lebih dari 5 tahun 14 26,1
responden tertua adalah 38 tahun.
Jumlah 46 100
Hasil penelitian ini sesuai dengan
penelitian Roatib (2007), pada variabel
Tabel 2 umur diperoleh nilai signifikansi 0,021 hal
Distribusi Responden berdasarkan Motivasi ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang
Perawat bermakna antara umur perawat dengan
Jumlah motivasi perawat dalam menerapkan
No Motivasi Perawat Persentase (%)
(orang)
komunikasi terapeutik. Secara fisiologi
1. Tinggi 25 53,4%
pertumbuhan dan perkembangan seseorang
2. Rendah 21 45,7%
dapat digambarkan dengan pertambahan
Total 46 100%
umur, peningkatan umur diharapkan terjadi
pertambahan kemampuan motorik sesuai
Tabel 3 dengan tumbuh kembangnya. Akan tetapi
Distribusi Responden berdasarkan pertumbuhan dan perkembangan seseorang
Kepatuhan Pelaksanaan Pemberian Obat pada titik tertentu akan terjadi kemunduran
Oral akibat faktor degeneratif (Martini, 2007).
Jumlah Persentase
No Kepatuhan Penelitian Saragih dan Rumapea
(orang) (%) (2013) menyatakan bahwa ada hubungan
1. Tinggi 29 63,0 yang bermakna antara umur dengan tingkat
2. Rendah 17 37,0 kepatuhan perawat dalam melakukan cuci
Total 46 100% tangan. Umur berpengaruh terhadap pola
fikir seseorang dan pola fikir berpengaruh
Tabel 4 terhadap perilaku seseorang. Umur
Hubungan Motivasi Perawat dalam seseorang secara garis besar menjadi
Kepatuhan Pelaksanaan Pemberian Obat indikator dalam setiap mengambil
Oral keputusan yang mengacu pada setiap
pengalamannya, dengan semakin banyak
Kepatuhan OR
umur makaρ value
dalam menerima sebuah
Motivasi Total
Patuh Tidak Patuh (95% CI)
instruksi dan dalam melaksanaan suatu
Perawat
N % N % N % prosedur akan semakin bertanggungjawab
Tinggi 21 84,0 4 16,0 25 100 8,531
dan berpengalaman. Semakin cukup umur
(2,135 – 34, 0,004
Rendah 8 38,1 13 61,9 21 100 seseorang akan semakin matang dalam
090)
Jumlah 29 63,1 17 36,9 46 100 berfikir dan bertindak.

Jenis Kelamin
Hasil penelitian ini menunjukkan
PEMBAHASAN bahwa semua responden (100%) diruang

805
JOM Vol 2 No 1, Februari 2015

IRNA Utama RSUD Arifin Achmad Hasil penelitian ini menunjukkan


Pekanbaru berjenis kelamin perempuan. bahwa dari 46 responden diruang IRNA
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Utama RSUD Arifin Achmad Pekanbaru,
(Pakudek, 2014) mengenai hubungan mayoritas responden memiliki status
motivasi perawat dengan pelaksanaan pekerjaan tenaga honorer yaitu sebanyak 35
dokumentasi asuhan keperawatan di responden (76,1%).Ternyata diruangan
instalasi rawat inap C RSUP Prof. Dr. R. D. IRNA Utama tenaga honorer memiliki
Kandou Manado yang menyatakan bahwa tingkat kepatuhan dan motivasi yang tinggi.
dari 51 responden, yang berjenis kelamin Tenaga honorer memiliki motivasi
perempuan berjumlah 48 orang. yang lebih tinggi dan kepatuhan dalam
Hasil penelitian ini menggambarkan pemberian obat oral dibandingkan dengan
sebagian besar responden berjenis kelamin responden yang berstatus PNS dimana hal
wanita 83,0%. Analisis peneliti ini dipengaruhi oleh beberapa faktor
menunjukkan bahwa pekerjaan perawat diantaranya karena status pekerjaan yang
masih banyak diminati oleh perempuan belum tetap dan adanya pengawasan yang
dibandingkan laki-laki karena keperawatan dilakukan oleh pihak yang lebih tinggi. Hal
masih diidentikkan dengan pekerjaan yang ini sesuai dengan faktor-faktor yang
cocok dan sesuai dengan sifat perempuan mempengaruhi motivasi kerja (Luthans,
yang lebih sabar, lemah lembut, dan peduli 2006) baik motivasi internal yang meliputi
(Ilyas, 2001). minat terhadap pekerjaan itu sendiri,
tanggung jawab, rasa aman dalam bekerja
maupun faktor eksternal berupa pengakuan
Pendidikan dari orang lain, peluang untuk maju,
Hasil penelitian ini menunjukkan prestasi yang diraih, imbalan yang sesuai
bahwa dari 46 responden diruang IRNA serta adanya pengawasan.
Utama RSUD Arifin Achmad Pekanbaru,
mayoritas responden memiliki tingkat Masa kerja
pendidikan D3 Keperawatan yaitu sebanyak Hasil penelitian ini menunjukkan
40 responden (87%). Hasil penelitian ini bahwa dari 46 responden diruang IRNA
sesuai dengan penelitian Roatib (2007), Utama RSUD Arifin Achmad Pekanbaru,
menyatakan bahwa semakin tinggi mayoritas responden bekerja selama 4
pendidikan seseorang semakin tinggi pula tahun yaitu sebanyak 20 responden
pengetahuan dan sikap. Dengan adanya (43,5%).
pengetahuan yang memadai seseorang Hasil penelitian ini sesuai dengan
dapat memenuhi kebutuhan dalam penelitian Martini (2007) yang menyatakan
mengaktualisasikan diri dan menampilkan bahwa semakin lama masa kerja maka
produktifitas dan kualitas kerja yang tinggi, kecakapan akan lebih baik karena sudah
serta adanya kesempatan untuk menyesuaikan diri dengan pekerjaannya.
mengembangkan dan mewujudkan Seseorang akan mencapai kepuasan tertentu
kreatifitas. bila sudah mampu menyesuaikan diri
Hasil penelitian ini sesuai dengan dengan lingkungan.
tingkat pendidikan yang ada diruangan Roatib (2007) menyatakan bahwa
IRNA Utama RSUD Arifin Achmad terdapat hubungan antara lama bekerja
Pekanbaru yaitu sebagian besar responden seorang perawat dengan motivasinya dalam
berpendidikan D3 Keperawatan dan menerapkan komunikasi terapeutik. Hal ini
memiliki motivasi yang tinggi serta juga sesuai dengan teori yang dikemukakan
memiliki tingkat kepatuhan dalam oleh Notoatmodjo (2003), terdapat
pemberian obat oral. beberapa faktor internal yang
mempengaruhi pengetahuan seseorang
Status pekerjaan yaitu diantaranya pengalaman. Faktor
pengalaman merupakan sesuatu yang

806
JOM Vol 2 No 1, Februari 2015

dialami seseorang akan menambah


pengetahuan atau wawasan seseorang. Hasil penelitian ini menunjukkan
Hasil penelitian ini sesuai dengan bahwa dari 46 responden di ruang ruang
motivasi dan kepatuhan perawat diruang IRNA Utama RSUD Arifin Achmad
IRNA Utama RSUD Arifin Achmad Pekanbaru mayoritas responden memiliki
Pekanbaru dalam pemberian obat oral perilaku patuh, yaitu sebanyak 29
dimana perawat yang memiliki masa kerja responden (63,0%). Hasil penelitian ini
yang lebih sedikit memiliki motivasi dan sesuai dengan penelitian Selly (2013)
kepatuhan yang lebih tinggi. tentang Hubungan motivasi dengan
kepatuhan perawat dalam melaksanakan
enam langkah lima momen cuci tangan di
Motivasi kerja ruang intensif RSUP Sanglah yang
Hasil penelitian ini menunjukkan menyatakan bahwa terdapat hubungan
bahwa dari 46 responden diruang IRNA antara motivasi dengan kepatuhan perawat
Utama RSUD Arifin Achmad Pekanbaru dalam melaksanakan enam langkah lima
mayoritas responden memiliki motivasi momen cuci tangan.
yang tinggi yaitu sebanyak 25 responden
(53,4%). Hasil penelitian ini sesuai dengan
penelitian (Pakudek, 2014) yang Hubungan Motivasi perawat dan
menyatakan ada hubungan motivasi Kepatuhan pelaksanaan pemberian obat
perawat dengan pelaksanaan dokumentasi oral
asuhan keperawatan di instalasi rawat inap Hasil penelitian ini menunjukkan
C RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado bahwa motivasi perawat dalam kepatuhan
dengan ρ value < α (0,005). Dengan pelaksanaan pemberian obat oral diruang
motivasi manusia akan lebih cepat dan IRNA Utama RSUD Arifin Achmad
bersungguh-sungguh dalam melakukan Pekanbaru, diperoleh data bahwa 21 dari 25
kegiatannya (Purwanto, 2012). Dan responden yang mempunyai motivasi yang
motivasi intrinsik berpengaruh terhadap baik dan yang tinggi memiliki perilaku
pencapaian hasil yang optimal yang yang patuh (84,0%) dan 4 responden (16%)
menyebabkan dirinya menjadi semakin memiliki perilaku yang tidak patuh.
produktif. Penelitian ini juga menjelaskan bahwa 13
Hasil penelitian ini juga sesuai dari 21 responden memiliki motivasi yang
dengan (Sitepu, 2012) yang menyatakan rendah dan perilaku yang tidak patuh
bahwa ada hubungan yang bermakna antara (61,9%) dan 8 responden (36,9%) memiliki
motivasi dengan penerapan komunikasi perilaku yang patuh.
teraupetik oleh perawat pada pasien diruang Berdasarkan hasil uji statistik
rawat inap RSJSH. Dalam penelitian dengan menggunakan uji chi-square di
tersebut menyatakan motivasi yang tinggi dapatkan ρ value = 0,004 < α (0,05), hal ini
mendorong seseorang melakukan tugasnya dapat disimpulkan bahwa ada hubungan
dengan baik. yang signifikan antara motivasi perawat
Menurut Anoraga (2005), motivasi dengan kepatuhan pelaksanaan pemberian
kerja adalah sesuatu yang menimbulkan obat oral. Hasil analisis diperoleh nilai Odd
semangat atau dorongan kerja. Oleh sebab Ratio (OR) = (95% CI = 2,135 – 34,090)
itu, motivasi kerja dalam psikologi kerja artinya responden memiliki motivasi tinggi
biasa disebut pendorong semangat kerja. kemungkinan 8,531 kali lebih besar untuk
Kuat atau lemahnya motivasi kerja memiliki perilaku patuh dibandingkan
seseorang tenaga kerja ikut menentukan dengan perawat yang memiliki motivasi
dasar besar kecilnya prestasinya. rendah.
Hasil penelitian ini sesuai dengan
Kepatuhan pelaksanaan pemberian obat penelitian Devi dan Wijayanti (2013) yang
oral menyatakan bahwa dari hasil uji chi square

807
JOM Vol 2 No 1, Februari 2015

diperoleh ada hubungan motivasi dengan Diharapkan kepada Komite


kepatuhan perawat pelaksana dalam Keperawatan untuk bekerja sama dengan
melaksanakan perawatan luka post operasi manajemen dalam Pemberian Reword dan
sesuai dengan SOP di RSUD Batang ( ρ = punishmant terhadap perawat yang tidak
0,009). menjalani SOP (Standar Operasional
Teori motivasi menurut Douglas Mc Prosedur), agar perawat selalu melakukan
Gregor bahwa motivasi itu penting untuk segala tindakan sesuai SOP (Standar
mendorong seseorang dalam bekerja karena Operasional Prosedur) yang ada untuk
motivasi merupakan energi yang meminimal kesalahan yang mungkin akan
mendorong seseorang untuk bangkit terjadi sehingga perawat selalu bekerja
menjalankan tugas pekerjaan mencapai dalam koridor yang aman.
tujuan yang telah ditetapkan. Pencapai
tujuan dipengaruhi oleh tinggi rendahnya
motivasi kerja yang pada akhirnya akan DAFTAR PUSTAKA
mempengaruhi hasil pekerjaan yang Amelia, R. (2009). Pengaruh motivasi
dilakukan (Suyanto, 2009). berprestasi terhadap kinerja
Kepatuhan perawat merupakan perawat dalam asuhan keperawatan
perilaku perawat yang dapat di observasi pasien gangguan jiwa di rumah
dan dapat langsung diukur Praptianingsih sakit jiwa daerah Provinsi Sumatera
(2007). Katz dan Green (2009), Utara. Majalah Kedokteran
menyebutkan ada beberapa faktor yang Nusantara. Volume 42(1); p. (8-13).
berpengaruh terhadap tingkat kepatuhan
antara lain kemampuan, motivasi, masa Anoraga, P. (2005). Manajemen Bisnis,
kerja, latar belakang pendidikan, fasilitas Cetakan Ketiga, Jakarta: Rineka
atau peralatan, serta kejelasan prosedur. Cipta.
Motivasi dan kepatuhan itu
merupakan hal yang berbanding lurus Armiyati, Y, Ernawati & Riwayati. (2011).
dalam arti semakin tinggi motivasi yang ada Hubungan tingkat pendidikan dan
didalam diri perawat maka akan semakin lama kerja perawat dengan
tinggi pula tingkat kepatuhannya dalam penerapan prinsip “enam tepat”
pemberian obat oral. dalam pemberian obat di ruang
rawat inap RS Dr. Kariadi
Semarang. Diperoleh pada tanggal
KESIMPULAN 12 Oktober 2014 dari
Hasil penelitian menunjukkan http://jurnal.unimus.ac.id
bahwa responden yang memiliki motivasi
yang tinggi memiliki kecenderungan untuk Basuki, D. (2012). Hubungan persepsi
patuh dalam pelaksanaan pemberian obat perawat pelaksana tentang
oral, dan responden yang memiliki motivasi supervise pimpinan ruang dengan
yang rendah memiliki kecenderungan untuk pelaksanaan standar operasional
memiliki tidak patuh dalam pelaksanaan prosedur pemberian obat parenteral
pemberianobat oral. intravena di rumah sakit daerah
Berdasarkan uji statistik dengan Sidoarjo. Diperoleh tanggal 14
menggunakan chi-square didapatkan ρ Agustus 2014 dari
value = 0,004, artinya ρ value < α (0,05) lib.ui.ac.id/file?file=digital/2030143
dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak yang 8...%20Pengaruh%20supervisi.pdf
berarti terdapat hubungan yang bermakna
antara motivasi perawat dengan kepatuhan Burn, N., & Grove, S.K. (2005). The
pelaksanaan pemberian obat oral. practice of nursing research:
conduct, crique, and utilization. (5 th
SARAN ed). Missouri: Elsevier Sounder

808
JOM Vol 2 No 1, Februari 2015

Institute Of Medicine (IOM)(2003). To err


Depkes RI (2009). Profil Kesehatan is human building a safer health
Indonesia. Jakarta: Depertemen system. Diperoleh pada tanggal 14
Republik Indonesia Agustus 2014 dari
http://iom.edu/Reports/1999/To-Err-
Devi dan Wijayanti. (2013). Hubungan is-Human-Building-A-Safer-Health-
motivasi dengan kepatuhan perawat System.aspx
pelaksana dalam melaksanakan Katz, J.A., & Green, R.P. (2009),
perawatan luka post operasi sesuai Entrepreneurial Small Business,
dengan SOP di RSUD Batang. Second Edition, New
Diperoleh tanggal 25 Januari 2015
dari http://www.e-skripsi.stikesmuh- Kee, J.L & Hayes, E.R. (2006).
pkj.ac.id Pharmacology a nursing process
approach, 5th edn, Singapore:
Fathoni, A. (2006). Manajemen Sumber Elsevier.
Daya Manusia. Bandung: Rineka
Cipta. Kemenkes RI. (2013). Buletin jendela data
dan informasi kesehatan, topik
Govern , M. C. (2008). Nursing standards utama gambaran kesehatan
on intravenous practice, Association masyarakat di Indonesia. Pusat data
of nursing service administrators of dan Informasi Kementerian
the philippines (ANSAP), Kesehatan RI.
philippines.
Kuntarti (2009). Penerapan dua belas tepat
Hastono, P. S & Sabri, L. (2011). Statistik pemberian obat. Diperoleh pada
Kesehatan. Jakarta: PT. Raja tanggal 14 Agustus 2014 dari
Grafindo Persada http://lib.ui.ac.id..

Herwina, E. R. (2012). Hubungan Lestari, Y.N. (2009). Pengalaman perawat


pelaksanaan metode tim dalam menerapkan prinsip enam
keperawatan dengan kesalahan benar dalam Pemberian obat di
pemberian obat di RSUD Gunung ruang rawat inap rumah sakit mardi
Jati Cirebon. Depok: FIK Program rahayu kudus, Skripsi, S.Kep.
Magister Ilmu Keperawatan Program Studi Universitas
Kekhususan Kepemimpinan dan Diponegoro. Diperoleh pada tanggal
Manajemen Keperawatan Depok. 15 Agustus 2014 dari
eprints.undip.ac.id/10734/1/ARTIK
Hidayat. (2008). Riset keperawatan dan EL.doc.
teknik penulisan ilmiah. Jakarta:
Salemba Medika. Linder, J. (2006). Understanding
Behaviour. Journal of extention
Hughes, R. G & Potter, P. A. (2010). Volume 36 number 3.
Medication administration. Jakarta:
EGC Luthans, F. (2006). Organizational
Behavior. Eight Edition, Mc.Graw-
Ilyas, Yasis. Kinerja Teori, Penilaian, Hill Book co-Singapore.
dan Penelitian. Depok: Pusat
Kajian Ekonomi Kesehatan FKM Martini. (2007). Hubungan karakteristik
UI. 2001. perawat, sikap, beban kerja
ketersediaan fasilitas dengan
pendokumentasian asuhan

809
JOM Vol 2 No 1, Februari 2015

keperawatan di rawat inap


BPRSUD Kota Salatiga. Diperoleh Riyanto, A. (2011). Aplikasi metodologi
tanggal 25 Januari 2007 dari http:// penelitian kesehatan. Jakarta: nuha
eprints.undip.ac.id medika

Notoatmodjo, S. (2003). Pendidikan dan Roatib, Ali., Suhatini., Supriyadi. (2007).


perilaku kesehatan. Jakarta: Rineka Hubungan anatra karakteristik
Cipta perawat dengan motivasi perawat
pelaksana dalam menerapkan
Notoatmodjo, S. (2010). Metodologi komunikasi teraupetik pada fase
penelitian kesehatan. Jakarta: kerja di Rumah Sakit Islam Sultan
Rineka Cipta. Agung Semarang. Diperoleh tanggal
25 Januari 2015 di http://
Nursalam. (2008). Konsep dan penerapan eprints.undip.ac.id
metodologi penelitian ilmu
keperawatan. Jakarta. Salemba Robbins (2009). Perilaku Organisasi. PT.
Medika. Prenhallindo: Jakarta.

Nursalam. (2011). Konsep dan penerapan RSUD Arifin Achmad Pekanbaru. (2013).
metodologi penelitian ilmu Quality mutu. Pekanbaru: RSUD
keperawatan. Ed.2. Jakarta:
Salemba Medika RSUD Arifin Achmad Pekanbaru. (2013).
Rekam medis pengolahan data.
Pakudek, Kriska H., Robot, Fredna J.M., Pekanbaru: RSUD Arifin Achmad
Hamel, S.Rivelino.(2014). Pekanbaru
Hubungan motivasi perawat dengan
pelaksanaan dokumentasi asuhan Rumampuk, M. V. H, Budu & Nontji, W.
keperawatan di IRNA C RSUP Prof. (2009). Peran kepala ruangan
Dr. R.D. Kandou Manado.Diperoleh melakukan supervisi perawat
tanggal 25 Januari 2015 dari dengan penerapan patient safety di
http://ejournal.unsrat.ac.id ruang rawat inap rumah sakit.
Diperoleh pada tanggal 14 Agustus
Pohan, I. (2009). Jaminan Mutu Layanan 2014 dari pasca.unhas.ac.id
Kesehatan. Penerbit Buku
Kedokteran ECG, Jakarta. Saragih, Rosita & Rumapea, Natalina.
(2013). Hubungan karakteristik
Potter, P. A, & Perry, A. G. (2010). Buku perawat dengan tingkat kepatuhan
ajar fundamental keperawatan : perawat melakukan cuci tangan di
Konsep, proses dan praktek. Edisi Rumah Sakit Columbia Asia Medan.
IV. Jakarta: EGC Diperoleh tanggal 25 Januari 2015
dari
Praptianingsih, S. (2007). Kedudukan http://uda.ac.id/jurnal/files/7.pdf
Hukum Perawat dalam Upaya
Pelayanan Kesehatan di rumah Sari, D. (2009). Gambaran tingkat
sakit. Jakarta: Raja Grafindo pengetahuan perawat tentang
Purwanto, H. (2012). Pengantar Perilaku prinsip sepuluh benar pada
Manusia untuk Keperawatan.Jakarta: EGC pemberian obat secara injeksi di
rumah sakit kepolisian pusat raden
Rivai, H. V. (2011). Manajemen Sumber said sukanto kramat jati jakarta,
Daya Manusia Untuk Perusahaan Skripsi, S.Kep, Program Studi Ilmu
Edisi 2. Jakarta: PT. Raja Grafindo. Keperawatan Fakultas Ilmu-ilmu

810
JOM Vol 2 No 1, Februari 2015

Kesehatan Universitas Suyanto. (2009). Kepemimpinan dan


Pembangunan Nasional Veteran, Manajemen Keperawatan di Rumah
Jakarta. Diperoleh pada tanggal 15 Sakit. Yogyakarta: Mitra Cendekia
Agustus 2014 dari
www.library.upnvj.ac.id/pdf/2s1kep Triwibowo, C. (2013). Manajemen
erawatan/205312009/bab1.pdf pelayanan keperawatan di rumah
sakit. Jakarta: Trans Info Media
Selly, F. (2013). Hubungan motivasi York: McGraw-Hill/Irwin.
dengan kepatuhan perawat dalam
melaksanakan enam langkah lima Yuwalliatin, S. (2006). Pengaruh Budaya
momen cuci tangan diruang intensif Organisasi, Motivasi dan Komitmen
RSUP Sanglah.Diperoleh tanggal 25 Terhadap Kinerja Serta
Januari 2015 dari Pengaruhnya Terhadap Keunggulan
http://www.sanglahhospitalbali.com Kompetitif Dosen Unissula
/v1/penelitian.php?ID=82 Semarang. Jurnal Ekonomi dan
Bisnis,Vol. 7 No. 2, Juli, p. 241-
Sitepu. (2012). Hubungan motivasi dengan 256.
penerapan komunikasi teraupetik
oleh perawat pada pasien di ruang
rawat inap rumah sakit jiwa Dr.
Soeharto Heerdjan Jakarta.
Diperoleh pada tanggal 25 Januari
2015 dari
lib.ui.ac.id/file?file=digital/2029908
7-S1654-Hubungan%20motivasi.pdf

Stevens, P. J. M, Schade, A, Chalk, B,


Oliver & Slevin. (2005). Pengantar
Riset: Pendekatan Ilmiah Untuk
Profesi Kesehatan. Jakarta: EGC

Suarli, S dan Bahtiar, Y. (2010).


Manajemen Keperawatan dengan
pendekatan praktis. Penerbit
Erlangga. Jakarta

Sujarweni, V.W. (2014). Metodologi


penelitian keperawatan.
Yogyakarta: Gava Media.

Suyanto. (2009). Faktor – Faktor yang


mempengaruhi minat para perawat
untuk Mmelanjutkan ke sarjana
keperawatan. Diperoleh pada
tanggal 15 Agustus 2014 dari
http://repository.usu.ac.id/bitstream/
123456789/22398/4/Chapter%20II.
pdf

811