You are on page 1of 18

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA PANGAN

PENENTUAN KADAR NIKOTIN PADA ROKOK

Kelas : Kimia 6C
Kelompok 1 : Khoerunissa N.R (11160960000067)
Dessy Ramadhaniati (11160960000075)
Asri Prasasti (11160960000083)
Dosen : Anna Muawanah, M.Si & Tarso Rudiana, M.Si
Tanggal Percobaan : Senin, 8 Mei 2019

Laboratorium Kimia Pangan


Pusat Laboratorium Terpadu
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Tembakau merupakan jenis tanaman yang sangat dikenal di kalangan
masyarakat Indonesia. Tanaman ini tersebar di seluruh Nusantara dan mempunyai
kegunaan yang sangat banyak terutama untuk bahan baku pembuatan rokok.
Bahan utama rokok adalah daun tembakau (Nicotiana tabacum) kering yang
merupakan sumber utama nikotin. (Yuni. 2006)

Nikotin adalah zat yang terdapat dalam rokok yang dapat menyebabkan
ketagihan, ini yang menyebabkan para pengguna rokok sulit sekali untuk berhenti
merokok. Nikotin merupakan zat pada rokok yang menyebabkan penyakit jantung,
25 persen dari para pengidap penyakit jantung disebabkan oleh kegiatan merokok.
(Jaya Muhammad, 2009)

Nikotin adalah zat atau bahan senyawa pirrolidin yang terdapat dalam
Nicotiana tabacum Nicotiana rustica dan spesies lainnya atau sintetisnya yang
bersifat adiktif dan dapat mengakibatkan ketergantungan. Merokok dapat
menyebabkan gangguan kesehatan, gangguan kesehatan ini dapat disebabkan oleh
nikotin yang berasal dari asap arus utama dan asap arus samping dari rokok yang
di hisap oleh perokok. Dengan demikian penderita tidak hanya perokok sendiri
(perokok aktif) tetapi juga orang yang berada di lingkungan. Nikotin adalah suatu
alkaloid yang sudah lama dikenal, dalam asap rokok lama kelamaan akan tera-
kumulasi pada dinding pembuluh darah perokok menyempitkan pembuluh darah.
Nikotin dalam asap rokok yang masuk ke paru-paru dengan cepat diabsorpsi dari
paru-paru ke dalam darah dan efisiensinya hampir sama dengan apabila diberikan
secara intravena. Senyawa ini mencapai otak dalam waktu 8 detik setelah inhalasi.
(Yuni,2006). Kadar nikotin pada daun tembakau bervariasi tergantung pada
beberapa faktor diantaranya varietas tembakau, posisi daun, dan teknik budidaya
tanaman seperti pangkasan daun yang tidak tepat dapat meningkatkan kadar
nikotin pada daun, penggunaan pupuk Cl dan N yang terlalu tinggi dapat
meningkatkan kadar nikotin.
1.2.Tujuan Percobaan

Untuk menentukan kadar nikotin pada sampel tembakau (rokok)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Rokok
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.109 tahun 2012
rokok merupakan salah satu zat adiktif yang bila digunakan mengakibatkan
bahaya kesehatan bagi individu maupun masyarakat, oleh karena itu diperlukan
berbagai kegiatan pengamanan rokok bagi kesehatan. Rokok adalah hasil olahan
tembakau terbungkus termasuk cerutu atau bentuk lainnya yang dihasilkan dari
tanaman Nicotiona tabacum l, Nicotiana rustica dan spesies lainnya atau
sintetisnya yang mengandung nikotin dan tar dengan atau tanpa bahan tambahan.
Rokok Filter (RF) adalah rokok yang pada bagian pangkalnya terdapat
filter semacam gabus. Rokok Non Filter (RNF) adalah rokok yang pada bagian
pangkalnya tidak terdapat gabus. Kandungan Rokok itu sendiri, sebenarnya
mengandung lebih dari 4000, Adapun Rokok berdasarkan penggunaan filter.
Bahan kimia berbahaya yang akan menimbulkan penyakit-penyakit dalam tubuh
manusia
Rokok mengandung lebih dari empat ribu zat-zat dan dua ribu diantaranya
telah dinyatakan berdampak tidak baik bagi kesehatan kita, diantaranya adalah
Aceton (bahan pembuat cat), Naftalene (bahan kapur barus), Arsenik (penyebab
kematian aktivis HAM, Munir), Tar (bahan karsinogen penyebab kanker),
metanol (bahan bakar roket), Vynil Chloride (bahan plastik PVC), Fenol Butane
(bahan bakar korek api), Potassium Nitrat (bahan baku pembuatan bom dan
pupuk), Polonium -201 (bahan radioaktif), Amonia (bahan untuk pencuci lantai),
DDT (digunakan untuk racun serangga), Hidrogen Sianida (gas beracun yang
digunakan dikamar eksekusi hukuman mati), Nikotin (zat yang menimbulkan
kecanduan), Cadmium (digunakan untuk aki mobil), dan Karbonmonoksida (asap
dari knalpot kendaraan). Dan zat pada rokok yang paling berbahaya adalah Tar,
Nikotin dan Karbonmonoksida(Jaya, 2009)

2.2 Nikotin
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.109 tahun 2012
Nikotin adalah zat, atau bahan senyawa pyrrolidine yang terdapat dalam nicotiana
tabacum, nicotiana rustica dan spesies lainnya atau sintetisnya yang bersifat
adiktif dapat mengakibatkan ketergantungan(pp). Nikotin merupakan alkaloid
utama dalam daun tembakau yang aktif sebagai insektisida dan kadar nikotin 2–8 %
tergantung pada spesies tembakau(Matsumura, 1989). Nikotin merupakan alkaloid
alam berbentuk cairan tidak berwarna suatu basa yang mudah menguap berubah
menjadi warna coklat dan berbau seperti tembakau setelah terpapar udara. Nikotin
penting bukan dalam pengobatan tapi bersifat toksik dalam tembakau yang
menimbulkan ketergantungan pada pengguna rokok
Nikotin dalam asap rokok lama kelamaan akan tera-kumulasi pada dinding
pembuluh darah perokok menyempitkan pembuluh darah. Nikotin dalam asap
rokok yang masuk ke paru-paru dengan cepat diabsorpsi dari paru-paru ke dalam
darah dan efisiensinya hampir sama dengan apabila diberikan secara intravena.
Senyawa ini mencapai otak dalam waktu 8 detik setelah inhalasi(Yuni Susilowati,
2006)
Nikotin (C10H14N2) merupakan cairan berwarna hingga kuning muda,
sangat higroskopis, memiliki bau yang tidak menyenangkan, berubah menjadi
kecoklatan bila terpapar udara atau cahaya. Larut dalam air, alkohol, kloroform,
eter, petroleum ether, minyak tanah dan beberapa minyak tertentu. Memiliki titik
didih 247oC, berat molekul 162,4 mg/mol dan banyak digunakan sebagai
insektisida pertanian dalam bentuk uap ataupun spray. Struktur dari nikotin
terdapat pada Gambar 1.
N

CH3
N
Gambar 1. Struktur Nikotin

2.3 Peraturan Pemerintah No. 81 Tahun 1999


Dikeluarkannya peraturan pemerintah tersebut diatas berdasarkan
pertimbangan bahwa rokok merupakan salah satu zat adiktif yang bila digunakan
mengakibatkan bahaya kesehatan bagi individu maupun masyarakat dan dalam
pelaksanaan ketentuan pasal 44, Undang-Undang No. 23 Tahun 1992 tentang
Kesehatan.
Dalam Peraturan Pemerintah No. 81 Tahun 1999, Tentang pengamanan
rokok bagi kesehatan pasal 4 (1) menetapkan bahwa kandungan nikotin dalam
setiap batang rokok tidak boleh melebihi 1,5 mg/batang. Penyelenggaraan
pengamanan rokok bagi kesehatan bertujuan untuk mencegah penyakit akibat
penggunaan rokok bagi individu
dan masyarakat dengan :
1. Melindungi kesehatan masyarakat terhadap insiden penyakit yang fatal
dan penyakit yang dapat menurunkan kualitas hidup akibat pengguna
rokok;
2. Melindungi penduduk usia produktif dan remaja dari dorongan lingkungan
untuk penggunaan rokok dan ketergantungan terhadap rokok ;
3. Meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat terhadap
bahaya kesehatan terhadap pengguna rokok.

2.4 Metode Asidimetri


Titrasi Asidimetri dapat memberikan titik akhir yang cukup tajam dan
untuk itu digunakan pengamatan dengan indikator bila pH pada titik ekivalen
antara 4-10. Demikian juga titik akhir titrasi akan tajam pada titrasi asam atau
basa lemah jika penitrasian adalah basa atau asam kuat dengan perbandingan
tetapan disosiasi asam lebih besar dari 10-4. Selama titrasi asam basa, pH larutan
berubah secara khas. pH berubah secara drastis bila volume tittrannya mencapai
titik ekivalen. Reaksi asam basa bersifat reversibel.
Mengukur volmetri larutan adalah jauh lebih cepat dibandingkan dengan
menimbang berat suatu zat dengan suatu zat dengan suatu metode gravimetri.
Analisis volumetri juga dikenal sebagai titrimetri, dimana zat yang akan dianalisis
dibiarkan bereaksi dengan zat lain yang kosentrasinya diketahui dan dialirkan dari
buret dalam bentuk larutan. Kosentrasi larutan yang tidak diketahui (analit)
kemudian dihitung. Syaratnya adalah reaksi harus berlangsung secara cepat, reaksi
berlangsung kuantitatif dan tidak ada reaksi samping, selain itu jika reagen
penitrasi yang diberikan berlebih, maka harus dapat diketahui dengan suatu
indicator(Khopkar, 1990).
Asidimetri adalah salah satu metode penetapan kadar dengan larutan
standart asam sebagai titrannya. Prinsip penetapannya adalah reaksi penetralan
asam basa, nikotin yang merupakan basa lemah bereaksi dengan HCl akan
mengikat satu atom H+ dan melepaskan ion Cl-. Reaksi ini terjadi pada kisaran pH
6,0-6,2 sehingga dipakai indikator metal merah, titik akhir titrasi diketahui dengan
terbentukya warna merah konstan. Reaksi yang terjadi dijelaskan pada Gambar 2.

N + HCl N
+ Cl

CH3 CH3
N N

Gambar 2. Reaksi antara Nikotin dengan HCl

(Sudarmadji, 2007)

2.5 Dampak Negatif penggunaan Rokok


Merokok telah diketahui dapat menyebabkan gangguan kesehatan.
Gangguan kesehatan ini dapat disebabkan oleh nikotin yang berasal dari asap arus
utama dan asap arus samping dari rokok yang dihisap oleh perokok. Dengan
demikian penderita tidak hanya perokok sendiri (perokok aktif) tetapi juga orang
yang berada di lingkungan asap rokok (Environmental Tobacco Smoke) atau
disebut dengan perokok pasif(Dube & Green, 1992). Gangguan kesehatan yang
ditimbulkan dapat berupa bronchitis kronis, emfisema, kanker paru-paru, larink,
mulut, faring, esofagus, kandung kemih, penyempitan pembuluh nadi dan lain-
lain. Namun demikian masih banyak orang baik laki-laki maupun perempuan
yang belum atau tidak dapat meninggalkan kebiasaan merokok ini (Amstrong,
1984).
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lingkungan asap rokok
adalah penyebab berbagai penyakit, dan juga dapat mengenai orang sehat yang
bukan perokok. Paparan asap rokok yang dialami terusmenerus pada orang
dewasa yang sehat dapat menambah resiko terkena penyakit paru-paru dan
penyakit jantung sebesar 20 - 30 persen. Lingkungan asap rokok dapat
memperburuk kondisi seseorang yang mengidap penyakit asma, menyebabkan
bronkitis, dan pneumonia. Asap rokok juga menyebabkan iritasi mata dan saluran
hidung bagi orang yang berada di sekitarnya. Pengaruh lingkungan asap tembakau
dan kebiasaan ibu hamil merokok dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada
anaknya bahkan sebelum anak dilahirkan. Bayi yang lahir dari wanita yang
merokok selama hamil dan bayi yang hidup di lingkungan asap rokok mempunyai
resiko kematian yang sama (Amstrong, 1984)
Nikotin dalam metabolisme dapat menghilang dari tubuh dalam beberapa
jam, namun jika perokok terus menerus merokok dan semakin lama bertambah
kuat sehingga merokok hanya untuk mendapatkan rangsangan yang diinginkan.
Sayangnya jika menghentikan masukan nikotin biasanya diikuti dengan reaksi
ketergantungan (withdrawl syndrome) yang mungkin membutuhkan waktu sekitar
satu bulan atau lebih. Hal tersebut termasuk gejalanya, yakni muncul sifat lekas
marah, terlalu sensitif, kecanduan, pengurangan fungsi kognitif tubuh dan
pemusatan perhatian, serta terjadi gangguan tidur. Efek paling berbahaya dari
mengkonsumsi tembakau dan kertergantungan nikotin adalah menyebabkan
kanker dan sepertiga dari semua penyakit kanker itu yakni kanker paru-paru.
Penyakit ini pembunuh pertama pada pria maupun wanita dan menguasai sekitar
90% dari semua kasus kanker paru-paru pada perokok(Yuni Susilowati, 2006).
BAB III

METODE PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan

Pada percobaan ini alat yang digunakan adalah mortar, corong pisah,
erlenmeyer, buret, pipet ukur, dan pipet volume. Bahan yang digunakan adalah
sampel tembakau, pelarut kloroform, NaOH 20%, indikator metil merah, dan HCl
0,01 N.

3.2 Prosedur Percobaan

Dimasukkan 1 gram sampel rokok yang sudah dihaluskan kemudiam ke dalam


erlenmeyer 50 ml yang tertutup dan tambahkan 1 ml 20% NaOH dengan
menggunakan pipet ukur. Diaduk sampai merata dengan gelas pengaduk. Lalu
ditambahkan kloroform 20 ml dan tutup rapat. Dikocok agar homogen sambil
menekan tutupnya dan didiamkan selama 30 menit hingga bagian atas koroform
menjadi jernih. Selanjutnya dipipet 10 ml cairan kloroform dengan pipet dan
pindahkan ke erlemeyer lain. Diuapkan pelarut pada penangas air, hingga cairan
tinggal lebih kurang 2 ml (selama 2 menit). Ditambahkan aquades 10ml dan dua
tetes indikator metil merah. Kemudia dititrasi dengan 0,01 N HCl sampai warna
hijau kekuningan berubah menjadi merah muda.
Dimasukkan 1 g sampel rokok yang sudah
dihaluskan ke dalam erlenmeyer 50 ml (tertutup)

Ditambahkan 1 ml 20% NaOH kemudian di aduk

Ditambahkan kloroform 20 ml dan tutup rapat

Dikocok agar homogen sambil menekan tutupnya

didiamkan selama 30 menit hingga bagian atas koroform


menjadi jernih.

dipipet 10 ml cairan kloroform dengan pipet dan


pindahkan ke erlemeyer lain.

Diuapkan pelarut pada penangas air, hingga cairan


tinggal lebih kurang 2 ml (selama 2 menit)
Ditambahkan aquades 10ml dan dua tetes indikator
metil merah.

Ditambahkan aquades 10ml dan dua tetes indikator metil


merah. Kemudia dititrasi dengan 0,01 N HCl sampai
warna hijau kekuningan berubah menjadi merah muda.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

Tabel 1. Perlakuan yang diberikan pada sampel

No. Perlakuan Gambar Keterangan


1 Penambahan 1 mL NaOH -
20%

2 Setelah dikocok dengan Antara sampel


20 mL diethyl ether dan larutan
larutan didiamkan penyari
30menit memisah

3 Pemisahan Ekstrak Diambil larutan


yang bening
saja
4 Sampel sebelum Larutan
diencerkan dengan berwarna
akuades kuning muda

5 Sampel diencerkan Warna sampel


dengan akuades sedikit lebih
kuning tua

6 Sampel setelah dititrasi Larutan


dengan HCl berwarna jingga

Tabel 2. Hasil titrasi dan kadar Nikotin Sampel

Sampel Berat Sampel Vol. HCl 0,01 N (ml) Kadar Nikotin


(mg)
Simplo 1,04 g 10,5 ml 17,034 mg
Duplo 1,01 g 12,2 ml 19,792 mg
Rata-rata 1,025 g 11,35 ml 18,41 mg

Perhitungan
Kadar Nikotin dalam sebatang rokok

Dalam 1 mL HCl setara dengan 1,6223 mg nikotin

𝑁 𝐻𝐶𝑙 1,6223 𝑚𝑔
Nikotin = V HCl x 0,01 𝑁 x x 100%
𝑊𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙

0,1 𝑁 1,6223 𝑚𝑔
= 1,3 mL x 0,001 𝑁 x x 100%
1025 𝑚𝑔

= 1,79640 %

Miligram Nikotin

1,79640
Nikotin = x Wsampel
100
1,79640
= x 1025 mg
100

= 18,41 mg

4.2 Pembahasan
Rokok adalah hasil olahan tembakau terbungkus termasuk cerutu atau
bentuk lainnya yang dihasilkan dari tanaman Nicotiana tabacum, Nicotiana
rustica dan spesies lainnya atau sintesisnya yang mengandung nikotin dan tar
dengan atau bahan tambahan (PP RI No.19 Tahun 2003). Menurut Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO), lingkungan asap rokok adalah penyebab berbagai
penyakit, dan juga dapat mengenai orang sehat yang bukan perokok. Paparan asap
rokok yang dialami terus-menerus pada orang dewasa yang sehat dapat
menambah resiko terkena penyakit paru-paru dan penyakit jantung sebesar 20 - 30
persen. Lingkungan asap rokok dapat memperburuk kondisi seseorang yang
mengidap penyakit asma, menyebabkan bronkitis, danpneumonia. Asap rokok
juga menyebabkan iritasi mata dan saluran hidung bagi orang yang berada di
sekitarnya. Resiko yang dapat ditimbulkan oleh karena merokok sebenarnya dapat
dikurangi bila diketahui kadar nikotin dalam asap rokok (Susanna, 2003).
Bila kadar ini dicantumkan maka calon perokok dapat memilih rokok
dengan kandungan nikotin yang sekecil mungkin atau kandungan yang paling
sedikit diantara jenis-jenis rokok. Nikotin adalah zat alkaloid yang ada secara
natural di tanaman tembakau. Nikotin juga didapati pada tanaman - tanaman lain
dari famili Solanaceae seperti tomat, kentang, terong dan merica hijau pada level
yang sangat kecil dibanding pada tembakau. Nikotin tidak berwarna tetapi segera
menjadi coklat ketika bersentuhan dengan udara.
Pada percobaan kali ini, kami melakukan percobaan untuk menentukan
kadar nikotin pada tembakau, dalam percobaan kali ini kami menggunakan rokok
Dji Sam Soe sebagai sample untuk memperoleh tembakau. Nikotin adalah suatu
alkaloid dengan nama kimia 3-(1-metil-2-pirolidil) piridin. Nikotin termasuk salah
satu kelompok senyawa alkaloid yang terdapat pada tembakau. Rokok yang
dilengkapi dengan filter akan menahan sebagian nikotin pada filter, sedangkan
yang lainnya lolos masuk ke dalam paru-paru. Pada dasarnya alkaloid merupakan
senyawa yang mengandung substansi dasar Nitrogen basa.
Untuk mentukan kadar nikotin dalam percobaan kali ini digunakan metode
Acidimetri. Acidimetri adalah salah satu metode penetapan kadar dengan larutan
standart asam sebagai titrannya. Dalam percobaan kali ini digunakan HCl 0,01 N
sebagai titrannya. Sebelum dilakukannya titrasi terlebih dahulu 1 gr tembakau
ditambah 1 ml NaOH 20 % . Penambahan NaOH 20 % pada percobaan ini sebagai
pembasah pada tembakau rokok. Pembasahan sebelum dilakukan penyarian
dimaksudkan memberikan kesempatan sebesar-besarnya kepada cairan penyari
memasuki seluruh pori-pori pada tembakau rokok sehingga mempermudah
penyarian selanjutnya. Dietil ether digunakan sebagai larutan penyari untuk
mengekstraksi nikotin yang terdapat dalam tembakau rokok. Didiamkan selama
30 menit untuk memberi waktu pada cairan penyari untuk mengekstraksi nikotin
dalam tembakau rokok. Kemudian ekstrak rokok yang telah terpisah diuapkan di
hot plate hingga hanya tersisa 2mL saja, kemudian setelah diuapkan diencerkan
dengan 10 mL aquadest.
Prinsip penetapan kadar nikotin: Prinsip penetapannya adalah reaksi
penetralan asam basa, nikotin (C10H14N2) yang merupakan alkaloid yang bersifat
basa lemah bereaksi dengan HCl akan mengikat satu atom H+ dan melepaskan ion
Cl. Reaksi ini terjadi pada kisaran pH 6,0 - 6,2 sehingga dipakai indikator methyl
red, titik akhir titrasi diketahui dengan terbentuknya warna merah yang konstan.
Reaksi yang terjadi sebagai berikut :

N + HCl N
+ Cl

CH3 CH3
N N

Dimana pada pecobaan ini titik akhir terjadi pada volume 11,35 mL karena
setiap 1 mL HCl 0,01 N setara dengan kandungan nikotin sebanyak 1,6232 mg.
Jadi dalam percobaan kali ini sampel rokok Dji Sam Soe mengandung nikotin
dengan kadar 1,79640 dengan jumlah sebanyak 18,41 mg. Hal ini berbeda dengan
kandungan nikotin yang terterapada bungkus rokok Dji Sam Soe yaitu 2.3 mg.
Perbedaan ini bisa terjadi karena dalam penentuan kadar nikotin terjadi beberapa
kesalahan dalam prosedur yang dilakukan.
Dalam pasal 4 Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 1999 menetapkan
batas kadar maksimum kandungan nikotin pada setiap batang rokok yang beredar
di wilayah Indonesia tidak boleh melebihi kadar kandungan nikotin 1,5 mg. Dari
hasil penelitian rokok tersebut mengandung 18,41 mg maupun kadar yang tertera
dalam kemasan rokok tersebut yaitu kadar nikotin 2,3 mg yang sudah melebihi
batas maksimum yang dianjurkan untuk 1 batang rokok pada Peraturan
Pemerintah, artinya rokok tersebut tidak baik untuk dikonsumsi bahkan walaupun
hanya 1 batang rokok. Pada seseorang yang mengkonsumsi rokok tubuhnya akan
menyerap 1 mg nikotin untuk satu batang rokok yang dihisap. Kadar nikotin 4-6
mg yang diisap oleh orang dewasa setiap hari sudah bisa membuat seseorang
ketagihan (Suhenry, 2010).
Nikotin merangsang bangkitnya hormon adrenalin dari anak ginjal yang
dapat menyebabkan:
1) Nikotin merangsang pelepasan catecholamine yang bisa meningkatkan denyut
jantung.
2) Meningkatkan tekanan darah serta kadar kolesterol dalam darah, yang erat
kaitannya dengan terjadinya serangan jantung.
3) Meningkatkan kadar kolesterol dalam darah.
Sebuah bahan kimia otak termasuk dalam perantara keinginan untuk terus
mengkonsumsi, yakni neurotransmiter dopamine, dalam penelitian
menunjukkan bahwa nikotin meningkatkan kadar dopamine tersebut. Nikotin
diterima oleh reseptor asetilkolin-nikotinik yang kemudian membaginya ke jalur
imbalan dan jalur adregenik. Pada jalur imbalan, perokok akan merasakan rasa
nikmat, memicu sistem dopaminergik. Hasilnya perokok akan merasa lebih
tenang, daya pikir serasa lebih cemerlang, dan mampu menekan rasa lapar.
Sementara di jalur adrenergik, zat ini akan mengaktifkan sistem adrenegik pada
bagian otak lokus seruleus yang mengeluarkan serotonin. Meningkatnya serotonin
menimbulkan rangsangan rasa senang sekaligus keinginan untuk mencari rokok
lagi. Nikotin yang membuat ketagihan. Itulah sebabnya para perokok ingin terus
menghisap tembakau secara rutin karena mereka ketagihan nikotin. Ketagihan
tersebut ditandai dengan keinginan yang menggebu untuk selalu mencari dan
menggunakan, meskipun mengetahui akan konsekuensi negatif terhadap
kesehatan.
Pada tanaman tembakau nikotin terutama terdapat di dalam daunnya.
Kadar nikotin dalam daun tembakau berkisar sekitar 4% dan pada tanaman
tembakau jenis teitentu yang baik kadar nikotin di dalam daunnya dapat mencapai
8%, tembakau yang baik setelah diproses akan lengket dan tidak rusak dalam
beberapa tahun (Suhenry, 2010).
Nikotin dalam metabolisme dapat menghilang dari tubuh dalam
beberapa jam, namun jika perokok terus menerus merokok dan semakin lama
bertambah kuat sehingga merokok hanya untuk mendapatkan rangsangan yang
diinginkan. Sayangnya jika menghentikan masukan nikotin biasanya diikuti
dengan reaksi ketergantungan (withdrawl syndrome) yang mungkin membutuhkan
waktu sekitar satu bulan atau lebih. Hal tersebut termasuk gejalanya, yakni
muncul sifat lekas marah, terlalu sensitif, kecanduan, pengurangan fungsi kognitif
tubuh dan pemusatan perhatian, serta terjadi gangguan tidur. Efek paling
berbahaya dari mengkonsumsi tembakau dan kertergantungan nikotin adalah
menyebabkan kanker dan sepertiga dari semua penyakit kanker itu yakni kanker
paru-paru. Penyakit ini pembunuh pertama pada pria maupun wanita dan
menguasai sekitar 90% dari semua kasus kanker paru- paru pada perokok. Nikotin
mumi termasuk senyawa yang berbahaya baik bagi manusia atau binatang dapat
mematikan hewan-hewan kecil seperti ulat dan beberapa jenis serangga. Dalam
kadar rendah nikotin bersifat membius. Senyawa nikotin dengan cepat masuk
kedalam otak bagi seorang perokok, nikotin yang dihisap akan rampu
menyebabkan kematian apabila kadamya lebih dari 30 mg (Suhenry, 2010).
BAB V
KESIMPULAN

1. Prinsip pada percobaan ini adalah reaksi penetralan asam basa, nikotin
(C10H14N2) yang merupakan alkaloid yang bersifat basa lemah bereaksi
dengan HCl akan mengikat satu atom H+ dan melepaskan ion Cl.

2. Penentuan kadar nikotin dalam percobaan ini menggunakan metode


Acidimetri yaituvsalah satu metode penetapan kadar dengan larutan standart
asam sebagai titrannya.

3. Pada sampel rokok Dji Sam Soe terkandung nikotin sebesar 1,79640 %
dengan jumlah sebanyak 18,41 mg.

4. Kadar nikotin selain dipengaruhi oleh varietas tembakau, juga oleh kedudukan
daun. Setiap jenis tembakau mempunyai kandungan kimia yang berbeda
DAFTAR PUSTAKA

Amstrong, B. (1984). Merokok dan Kesehatan. Jakarta.


Dube, M., & Green, C. (1992). Methods of Collection of Smoke Analytical
Purposes. Recent Advances in Tobacco Science, 8, 42–102.
Jaya, M. (2009). Pembunuh Berbahaya itu Bernama Rokok. Yogyakarta: Riz’ma.
Khopkar, S. . (1990). Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: UI Press.
Matsumura, F. (1989). Toxicology of Insecticides. Second edition. New York and
Londol: Plenum Press.
Suhenry, S. (2010). Pengambilan Nikotin dari Batang Tembakau. Jurusan Teknik
Kimia, Fakulltas Teknologi Industri, Universitas Pembangunan Nasional.

Susanna, D. (2003). Penentuan Kadar Nikotin Dalam Asap Rokok. Majalah


Kesehatan, 7(2): 1-2.

Sudarmadji, S. (2007). Prosedur Analisa untuk Bahan Makanan dan Pertanian.


Yogyakarta: Liberty.
Yuni Susilowati, E. (2006). Identifikasi Nikotin dari Daun Tembakau (Nikotina
tabacum) kering dan Uji Efektivitas Ekstrak Daun Tembakau sebagai
Insektisida Penggerek Batang Padi (Scirpophaga innonata).