You are on page 1of 23

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

4.1.2. Profil Rumah Sakit Umum Daerah Cut Nyak Dhien Meulaboh

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cut Nyak Dhien Meulaboh terletak di

Gampong Drien Rampak Kecamatan Johan Pahlawan Kabupaten Aceh Barat.

Berdasarkan letak lokasinya, secara geografis RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh

memiliki batasan lokasi sebagai berikut:

1. Sebelah utara berada disisi jalan sisingamangarja dan berbatasan dengan

Gampong Seuneubok Kecamatan Johan Pahlawan Kabupaten Aceh Barat.

2. Sebelah selatan berada disisi lorong banteng/ komplek perumahan dokter dan

berbatasan dengan Gampong Rundeng Kecamatan Johan Pahlawan

Kabupaten Aceh Barat.

3. Sebelah barat berada disisi jalan gajah mada dan berbatasan dengan Gampong

Ujong Baroh Kecamatan Johan Pahlawan Kabupaten Aceh Barat.

4. Sebelah timur berada disisi sekolah MIN/MANPK dan berbatasan dengan

Gampong Gampa Kecamatan Johan Pahlawan Kabupaten Aceh Barat.

RSUD Cut Nyak Dhien dibangun pada tahun 1968 di atas tanah 2.8 hektar

dan memulai aktifitasnya pada tahun 1971 sebagai rumah sakit kelas D serta pada

tahun 1983 diusulkan untuk peningkatan status menjadi rumah sakit kelas C.

Selanjutnya berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia

Nomor 233/MENKES/SK/VI/1985 tertanggal 1 juni 1985 resmi menjadi rumah

sakit kelas C. Pada tahun 2009 Menteri Kesehatan Republik Indonesia telah

37
38

mengeluarkan Surat Keputusan Nomor: HK.07.06/III/2043/09 tentang Pemberian

Izin Penyelenggaraan Rumah Sakit Umum Daerah dengan nama Rumah Sakit

Umum Daerah Cut Nyak Dhien Meulaboh Pemerintah Kabupaten Aceh Barat

Nanggroe Aceh Darussalam.

Pada tahun 2012 Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh dilakukan

penilaian akreditasi versi 2007 oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) dan

berhasil lulus bersyarat tingkat dasar dengan sertifikat nomor: KARS-

SERT/876/VI/2012. Selanjutnya pada tahun 2014 Kepada Dinas Kesehatan

Kabupaten Aceh Barat mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 441/268/SKRS/2014

tentang pemberian izin penyelenggaraan RSUD dengan nama RSUD Cut Nyak

Dhien Meulaboh.

4.1.1. Data Jumlah Ketenagaan RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh

Berdasarkan data kepegawaian ketenagaan RSUD Cut Nyak Dhien

Meulaboh secara keseluruhan berjumlah 656 orang terdiri 181 orang (27.59 %)

laki-laki dan 475 orang (72.41 %) perempuan. Dilihat dari data ketenagaan RSUD

Cut Nyak Dhien Meulaboh dapat dikelompokkan sebagai berikut:

Tabel 4.1. Data Ketenagaan Berdasarkan Status Ketenagaan di RSUD Cut


Nyak Dhien Meulaboh

No Status Laki-Laki Perempuan Jumlah Persen


1 Pegawai Negeri Sipil 107 242 363 55.33
2 THL JKN 14 9 25 3.81
3 THL Pemda 24 17 41 6.25
4 THL Dokter 5 4 9 1.37
5 Sukarela (SR) 54 183 237 36.12
Sumber: Profil RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh (2014)
39

Dari tabel 4.1 di atas diketahui bahwa berdasarkan status ketenagaan di

RSUD RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh terdapat 365 orang (55.33 %) Pegawai

Negeri Sipil, 25 orang (3.81 %) THL JKN, 42 orang (6.25 %) THL Pemda, 9 orang

(1.37 %) THL Dokter dan 237 orang (36.12 %) Sukarela.

Tabel 4.2. Data Jumlah Ketenagaan PNS Berdasarkan Golongan


Kepangkatan di RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh

No Golongan a B c d Jumlah Persen


1 Golongan IV 7 2 1 0 10 2.75
2 Golongan III 45 77 34 42 198 46.28
3 Golongan II 7 27 77 43 154 42.42
4 Golongan I 0 0 0 1 1 0.27
Sumber: Profil RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh (2014)

4.1.2. Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Daerah Cut Nyak Dhien
Meulaboh
Pelayanan Unit Gawat Darurat (UGD) adalah salah satu ujung tombak

pelayanan kesehatan di sebuah rumah sakit. Setiap rumah sakit pasti memiliki

layanan UGD yang melayani pelayanan medis 24 jam. Rumah Sakit Umum Daerah

Cut Nyak Dhien Meulaboh memiliki layanan UGD 24 jam khususnya gawat

darurat. Tujuan dari pelayanan gawat darurat ini adalah untuk memberikan

pertolongan pertama bagi pasien yang datang dan menghindari berbagai resiko,

seperti: kematian, menanggulangi korban kecelakaan, atau bencana lain yang

langsung membutuhkan tindakan.

Pelayanan pada Unit Gawat Darurat untuk pasien yang datangakan langsung

dilakukan tindakan sesuai dengan kebutuhan dan prioritasnya. Bagi pasien yang

tergolong emergency (akut) akan langsung dilakukan tindakan menyelamatkan jiwa

pasien (life saving). Bagi pasien yang tergolong tidak akut dan gawat akan
40

dilakukan pengobatan sesuai dengan kebutuhan dan kasus masalahnya yang setelah

itu akan dipulangkan ke rumah.

UGD RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh dalam memberi memberikan

layanan kegawat daruratan memiliki tenaga perawat berjumlah 29 orang yang dapat

dikualifikasikan berdasarkan tingkat pendidikan dan golongan pegawai sebagai

berikut:

Tabel 4.3. Data Jumlah Ketenagaan Perawat berdasarkan Tingkat


Pendidikan dan Golongan Kepegawaian di Ruang UGD RSUD Cut
Nyak Dhien Meulaboh

No Pendidikan Jumlah Golongan Jumlah


1 S1 1 Orang III C 1 Orang
2 D IV 1 Orang III B 1 Orang
3 D III 21 Orang III A 2 Orang
4 DI 1 Orang II D 4 Orang
5 SPK 5 Orang II C 2 Orang
6 - - SR 17 Orang
7 - - HO 2 Orang
Jumlah 29 Orang Jumlah 29 Orang
Sumber: Profil RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh (2014)

Dari tabel di atas diketahui bahwa jumlah tenaga kesehatan terbanyak

berdasarkan tingkat pendidikan adalah tenaga kesehatan yang pendidikan

terakhirnya Diploma III yaitu berjumlah 21 orang. Selanjutnya jumlah tenaga

kesehatan terbanyak berdasarkan golongan adalah tenaga perawat sukarela (SR)

yaitu berjumlah 17 orang.


41

4.2. Hasil Penelitian

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan mulai 7 – 30 April 2016 di

Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh Kabupaten

Aceh Barat terhadap informan kunci dan informan pokok, maka peneliti

kemukakan kutipan hasil wawancara penelitian yang berkaitan dengan response

time perawat dalam pemberian penanganan pertama pada pasien korban kecelakaan

di RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh Kabupaten Aceh Barat sebagai berikut:

4.2.1. Response Time Perawat di Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Umum
Cut Nyak Dhien Meulaboh Kabupaten Aceh Barat

Penelitian ini diawali dengan observasi atau pengamatan langsung yang

peneliti lakukan terhadap response time perawat dengan alat bantu stopwatch untuk

mengetahui response time, apakah waktu tanggap perawat kurang dari 5 menit atau

lebih dari 5 menit dalam memberikan penanganan pertama pada korban kecelakaan.

Observasi ini dilakukan pada 4 orang pasien korban kecelakaan yang diamati mulai

dari pasien diturunkan hingga pasien mendapat perawatan medis di ruang di Unit

Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh Kabupaten Aceh

Barat. Dari observasi yang telah dilakukan terhadap response time perawat, maka

diperoleh hasil observasi sebagaimana dapat dilihat pada tabel berikut ini:
42

Tabel 4.4. Observasi Response Time Perawat Dalam Memberikan Penanagan


Pertama Pada Korban Kecelakaan di Ruang Unit Gawat Darurat
Rumah Sakit Umum Daerah Cut Nyak Dhien Kabupaten Aceh
Barat

Tanggal Nama Kasus Response Time (Menit)


Pukul Keterangan
Observasi Korban Kecelakaan >5 > 2.5 < 5 < 2.5
7 April 11.15 WIB IP 1 Tabrakan - √ - Cepat
9 April 16.19 WIB IP 2 Tabrakan - √ - Cepat
12 April 09.49 WIB IP 3 Tabrakan √ - - Lambat
17 April 15.56 WIB IP 4 Tabrakan √ - - Lambat
Data Primer: Hasil Observasi (Diolah 2016)

Dari hasil observasi yang telah dilakukan terhadap pasien korban

kecelakaan yang mengalami kejadian tabrakan sepeda motor dapat diketahui bahwa

response time perawat terdapat 2 korban yang ditanggani perawat dalam waktu

tanggap yang sudah kurang dari 5 menit dan terdapat 2 korban lain yang ditangani

dalam waktu tanggap yang lebih dari 5 menit. Untuk mengetahui masih adanya

keterlambatan perawat dalam response time keperawatan, maka perlu dilakukan

wawancara terhadap informan kunci, untuk mengetahui kendala yang dihadapi

perawat pada saat memberikan penanganan pertama pada korban kecelakaan di

Rumah Sakit Umum Daerah Cut Nyak Dhien Meulaboh Kabupaten Aceh Barat,

maka yang menjadi informan kunci penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut

ini:

Tabel 4.5. Informan Kunci dan Informan Pokok Penelitian

No Informan Kunci Usia Pendidikan Keterangan


1 Informan Kunci (IK) 45 Tahun Diploma III Kepala UGD
2 Informan Pokok (IP1) 41 Tahun Diploma III Perawat
3 Informan Pokok (IP2) 27 Tahun Diploma III Perawat
4 Informan Pokok (IP3) 32 Tahun Diploma III Perawat
5 Informan Pokok (IP4) 31 Tahun Diploma III Perawat
6 Informan Pokok (IP5) 26 Tahun Sarjana (S-1) Staff ADM
7 Informan Pokok (IP6) 42 Tahun SMP Pasien
43

8 Informan Pokok (IP7) 37 Tahun SMA Pasien


9 Informan Pokok (IP8) 40 Tahun SMP Pasien
10 Informan Pokok (IP9) 47 Tahun SMP Pasien
Data Primer (Diolah, 2015)

Wawancara yang peneliti lakukan pada informan kunci berkaitan dengan

kendala perawat atas response time perawat yang lebih dari 5 menit di Ruang Unit

Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh Aceh Barat, dalam

hal ini disampaikan bahwa:

“Memang harus. Karena itukan berhubungan dengan nyawa ya


harus segara. Kalau masalah pelayanan ya tetap dilayani langsung
tidak mungkin dibiarkan. Kalau ada kecelakaan masal misalnya
baru ada kendala. Misal terbalik mobil. Ya otomatis yang gawat
darurat yang kita utamakan. Jadi yang tidak gawat itu bisa
menunggu istilahnya. Kita utamakan yang gawat darurat dulu baru
yang tidak gawat atau mengancam nya. Biasa itu kendala. Kalau
untuk pelayanan satu dua itu tetap. Kendala kalau kondisi pasien
ramai, jadi perawat harus mengutamakan yang gawat” (An.
Informan Kunci).

Dari wawancara dengan informan kunci di atas, bahwa sangat jelas

response time perawat memang harus ada dalam memberikan penanganan pada

pasien korban kecelakaan, karena berhubungan dengan keselamatan pasien.

Selanjutnya wawancara lain yang peneliti lakukan terhadap informan pokok 1

mengatakan bahwa:

“Respon memang tidak boleh lebih dari 5 menit. Apalagi sekarang


sistem triase. Melihat secara verbal atau mata, bahwa pasien itu
gawat atau tidak, kalau tidak kami letakkan disini dulu, kalau ada
kecelakaan berat, baru dibawa ke ruang terus untuk ditangani.
Kendala yang terjadi karena mobil tidak memadai, karena dimana
sebenarnya di mana-mana ambulan tidak pakai sistem tandu lagi
karena memperlambat. Sebenarnya tidak boleh ambulan
menggunakan tandu. Tandu itu kalau sendiri tidak efektif, harus
dua. Sebab kalau sendiri tidak efektif “ (An. Informan Pokok 1).

Berkaitan dengan pertanyaan yang sama yang peneliti ajukan kepada

informan pokok 2 terkait dengan response time perawat di Ruang Unit Gawat
44

Darurat Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh Aceh Barat, dalam hal

tersebut informan kunci 2 memberikan penjelasannya sebagai berikut:

“Response time perawat kadang kurang dari 5 menit kadang lebih


dari 5 menit. Tergantunglah dari kecelakaan yang terjadi pada
pasien. Tapi kebanyakan response time perawat kurang dari 5
menit. Kalau masalah kendala setahu saya itu sebelum kita tangani
korban, misal pasien terlambat bawa masuk ke ruang UGD, karena
petugas lain kan hati-hati juga dia waktu menurunkan pasien dari
mobil ambulan misalnya. Mungkin itu yang jadi kendala” (An.
Informan Pokok 2).

Informan pokok 3 berkaitan dengan kendala perawat atas response time

perawat di Ruang Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien

Meulaboh Aceh Barat yang lebih dari 5 menit mengatakan bahwa:

“Response time perawat sudah baik, sudah kurang dari 5 menit.


Tapi kalau ada kecelakaan masal itu baru terlambat, ya
terlambatnya itu karena kurang tenaga perawat di UGD sehingga
kita minta bantu dari ruang lain untuk menangani korban
kecelakaan di UGD. Hmmm, kalau dalam bekerja pasti ada kendala
ya, tergantung juga, kalau korbannya itu lebih dari tiga misal dan
itu parah, jadi perawat harus menunggu untuk dokter lain” (An.
Informan Pokok 3).

Lebih lanjut dalam hal di atas, informan pokok 4 memberikan

penjelasannya kepada peneliti dalam wawancara penelitian ini berkaitan dengan

response time perawat di Ruang Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Cut Nyak

Dhien Meulaboh Aceh Barat mengatakan bahwa:

“Response time perawat di ruang UGD sudah kurang dari 5 menit


dalam penanganan korban kecelakaan. Kendala perawat setahu
saya selama menangani korban kecelakaan itu kalau dari
perawatnya gak ada. Kita tahu apa yang akan kita lakukan untuk
menangani pasien gawat darurat” (An. Informan Pokok 4).

Dari wawancara yang telah dikemukan di atas dapat diketahui bahwa

kendala response time perawat yang masih lebih dari 5 menit dalam memberikan

penanganan pertama pada pasien korban kecelakaan di Unit Gawat Darurat Rumah
45

Sakit Umum Daerah Meulaboh Kabupaten Aceh Barat bukan terletak pada

penanganan pasien yang sudah masuk ke ruang UGD, namun terjadi di luar ruang

UGD yakni pada keterlambatan penurunan pasien dari mobil ambulan karena

perawat harus hati-hati menurunkan dan membawa pasien ke ruang UGD.

Sedangkan kendala dalam penanganan di ruang UGD hanya terjadi pada saat

terjadinya kecelakaan massal, maka yang kecelakaan massal yang terlebih dahulu

ditangani oleh perawat daripada pasien yang mengalami kecelakaan bukan massal.

4.2.2. Perlakuan Perawat Terhadap Pasien Korban Kecelakaan di Unit


Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh
Kabupaten Aceh Barat

Berkaitan dengan permasalahan perilaku perawat terhadap pasien korban

kecelakaan di Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh

Kabupaten Aceh Barat dari hasil wawancara yang telah peneliti lakukan terhadap

informan penelitian, maka diperoleh hasil kutipan wawancara sebagai berikut:

Wawancara yang peneliti lakukan terhadap informan kunci berkaitan

dengan permasalahan yang telah disebutkan di atas, dalam hal ini informan kunci

memberikan tanggapannya yaitu:

“Untuk komunikasi biasanya Alhmadulillah lancar. Dalam proses


bekerja pasti ada yang tidak puas dan ada tidak puas. Namanya
juga manusia ya kan. Tapi untuk sekarang ini itu di UGD kami ada
penambahan personil khusus untuk penerimaan pasien itu dua orang
perawat untuk menyampaikan informasi-informasi yang ada di
UGD” (An. Informan Kunci).

Dari tanggapan yang disampaikan oleh informan kunci diatas berkaitan

dengan pertanyaan yang peneliti ajukan menunjukkan bahwa komunikasi perawat

dengan pasien korban sangat lancar dan peneliti anggap sudah baik, meskipun

masih ada pasien yang merasa tidak puas atas perlakuan perawat dalam menangani
46

korban kecelakaan. Selanjutnya wawancara yang peneliti lakukan terhadap

informan pokok 1 memberikan jawaban sebagai berikut, yaitu:

“Yang pertama kita bicarakan kepada korban agar tidak cemas


adalah meminta pasien untuk tetap tenang karena kita sedang
mengusahakan pemberian pertolongan yang terbaik” (An. Informan
Pokok 1).

Wawancara lain yang peneliti lakukan terhadap informan pokok 2, maka

dari pertanyaan yang peneliti ajukan kepada informan, maka diperoleh hasil

wawancara bahwa:

“Kalau pasien itu sadar, yang kita sampaikan kepada pasien adalah
untuk tidak panik, kerana kita sedang berupaya untuk memberikan
pertolongan kepada pasien” (An. Informan Pokok 2).

Selanjutnya dari hasil wawancara yang dilakukan terhadap informan pokok

3, dalam hal ini dikatakan bahwa:

“Untuk komunikasi perawat kepada korban ya kita minta pasien


untuk tetap tenang dan berdoa, dan yakin kalau kita berupaya untuk
memberikan pertolongan kepada pasien” (An. Informan Pokok 3).

Wawancara terhadap informan pokok 4 berkaitan dengan perilaku perawat

terhadap pasien korban kecelakaan di Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Cut

Nyak Dhien Meulaboh Kabupaten Aceh Barat, dalam hal ini mengataka n bahwa:

“Komunikasi biasa aja, kita minta agar korban tenang dan tidak
boleh panik. Kita tahu pasien gawat darurat itu harus segera
ditolong, istilahnya itu kita gak banyak bicaralah kepada korban”
(An. Informan Pokok 4).

Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan terhadap informan kunci

di atas tentang perilaku perawat dalam memberikan penanganan pasien yang

mengalami kecelakaan dan membutuhkan pertolongan gawat darurat menunjukkan

bahwa tanggapan perawat sudah baik yang dapat diketahui dari komunikasi perawat
47

yang meminta pasien untuk tenang dan tidak panik dengan kondisi yang dialami

pasien.

Berikutnya wawancara yang peneliti lakukan terhadap informan pokok

selaku korban yang mengalami kecelakaan dan membutuhkan pertolongan gawat

darurat, maka sebagai tanggapan untuk mengkonfirmasi kebenaran penyampaian

yang telah dikemukan oleh informan kunci yang sebelumnya telah diwawancarai

terkait dengan perilaku perawat dalam memberikan pertolongan pertama di ruang

Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh Kabupaten

Aceh Barat, dalam tersebut diperoleh kutipan wawancara dengan informan pokok

sebagai berikut:

Wawancara yang peneliti lakukan terhadap informan pokok 6 berkaitan

dengan kekhawatiran korban terhadap tindakan perawat dalam memberikan

pertolongan pertama, diperoleh kutipan hasil wawancara yaitu “Saya tidak merasa

khawatir dengan tindakan perawat, kan itu sudah menjadi tugas mereka untuk

menolong saya”. Sedangkan kaitannya dengan komunikasi perawat terhadap pasien,

informan pokok 6 memberikan jawaban selanjutnya dengan mengatakan bahwa

“Komunikasi perawat sudah baik, mereka berusaha menenangkan agar saya tenang

saja dan berdoa” (An. Informan Pokok 6).

Wawancara selanjutnya terhadap informan pokok 7 berkaitan dengan

pertanyaan yang sama yang peneliti ajukan, diperoleh jawaban yaitu “Khawatir gak

juga, saya yakin mereka berusaha untuk menolong saya”. Sedangkan kaitannya

komunikasi perawat terhadap pasien, informan pokok 7 memberikan jawaban

selanjutnya dengan mengatakan bahwa “Sudah baik. Perawat tidak banyak bicara
48

misal kenapa saya kecelakaan, dengan apa saya tabrakan, jadi mereka langsung

terus bawa saya ke ruang UGD” (An. Informan Pokok 7).

Lebih lanjut informan pokok 8 dalam hal ini juga memberikan jawaban

yang hampir sama dengan jawaban yang sudah disampaikan oleh informan pokok

sebelumnya terkait dengan pertanyaan yang peneliti ajukan dengan memberikan

komentarnya secara singkat yaitu “Gak. Saya gak khawatir kok. Biasa aja”.

Sedangkan kaitannya komunikasi perawat terhadap pasien, informan pokok 8

memberikan jawaban selanjutnya dengan mengatakan bahwa “Sudah. Sudah baik

karena perawat meminta saya untuk tenang supaya mereka cepat memberikan

pertolongan kepada saya” (An. Informan Pokok 8).

Dari hasil wawancara yang telah dilakukan, maka berkaitan dengan perilaku

perawat terhadap pasien korban kecelakaan di Unit Gawat Darurat Rumah Sakit

Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh Kabupaten Aceh Barat sudah baik dilihat dari

pernyataan informan yang telah dipelakukan dan diupayakan untuk tetap tenang

pada saat akan diberikan pertolongan pertama.

4.2.3. Observasi Keperawatan Dalam Menangani Pasien Korban Kecelakaan


di Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh
Kabupaten Aceh Barat

Berkaitan dengan observasi keperawatan pada saat menangani korban

pasien korban kecelakaan di Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Cut Nyak

Dhien Meulaboh Kabupaten Aceh Barat dari hasil wawancara yang telah peneliti

lakukan terhadap informan penelitian, maka diperoleh hasil kutipan wawancara

sebagai berikut:

Wawancara yang peneliti lakukan terhadap informan pokok 1 berkaitan

dengan permasalahan observasi perawat di Ruang Unit Gawat Darurat Rumah Sakit
49

Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh Aceh Barat, dalam hal ini informan pokok 1

memberikan tanggapannya yaitu:

“Observasi pada pasien itu tergantung pada keadaan pasien itu


sendiri, untuk kondisi pasien yang masih gawat setelah dilakukan
life safing, maka observasi kita lakukan setiap satu jam sekali untuk
mengukur suhu tubuh, denyut nadi, fungsi pernapasan dan tekanan
darah. Kalau masalah alat yang memang harus kita gunakan pada
obesrvasi pasien itu seperti ventilator mekanik dan alat monitoring
invesif” (An. Informan Pokok 1).

Selanjutnya wawancara yang peneliti lakukan terhadap informan pokok 2

berkaitan dengan observasi perawat di Ruang Unit Gawat Darurat Rumah Sakit

Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh Aceh Barat memberikan jawaban sebagai

berikut, yaitu:

“Tidak selalu pemeriksaan yang akan kita lakukan dijelaskan secara


rinci kepada pasien meskipun komunikasi tetap harus dilakukan,
karena terkadang hal ini dapat meningkatkan kecemasan pasien atau
mengaburkan data atau data diperoleh menjadi tidak murni. saya
akan menghitung nafas pasien dalam satu menit. Kemungkinan besar
data yang diperoleh menjadi tidak valid, karena kemungkinan pasein
akan berusaha untuk mengatur nafasnya. Hasilnya dicatat dalam
catatan keperawatan, sehingga dapat dibaca dan dimengerti oleh
perawat yang lain” (An. Informan Pokok 2).

Wawancara lain yang peneliti lakukan terhadap informan pokok 3 berkaitan

dengan observasi keperawatan dalam mengangani pasien korban kecelakaan di

Ruang Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh Aceh

Barat mengatakan bahwa:

“Alat observasi yang kita gunakan itu ya seperti alat emergency dan
alat ventilator”. Menurut saya pribadi kalau masalah alat, pasien
tidak merasa cemas, karena memang harus ya, kita menggunakan
alat-alat medis dalam menolong, menyelamatkan jiwa pasien, jadi
mereka itu tidak komentar dengan pekerjaan kita ini” (An Informan
Pokok 3).

Wawancara dengan informan pokok 4 berkaitan dengan observasi

keperawatan dalam mengangani pasien korban kecelakaan di Ruang Unit Gawat


50

Darurat Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh Aceh Barat mengatakan

bahwa:

“Untuk alat observasi perawat itu ventilator atau alat bantu


pernapasan mekanik, saya kira mereka siap saja ya ditolong dengan
alat apa pun, karena yang paling pentingkan mereka terselamatkan,
kalau cemas atau tidak itu saya pikir mereka tidak cemas” (An.
Informan Pokok 4).

Dari wawancara yang telah dilakukan terhadap informan kunci di atas,

maka observasi keperawatan yang diberikan kepada pasien korban kecelakaan pada

umumnya sudah baik dan tidak memberikan rasa cemas kepada pasien, sehingga

dengan adanya dukungan alat-alat observasi keperawatan seperti ventilator, alat

emergency kit yang memang digunakan dalam keperawatan medis, telah

memperlancar perawat untuk memberikan pertolongan pertama pada pasien korban

kecelakaan di UGD Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh.

Selanjutnya untuk mengetahui apakah observasi yang dilakukan perawat

dalam menganani korban kecelakaan di UGD Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien

Meulaboh dimana alat yang digunakan dapat membahayakan atau mencemaskan

pasien, maka dalam wawancara peneliti dengan informan pokok 6 mengatakan

bahwa:

“Saya tidak paham dengan alat-alat yang digunakan perawat pada


saat dilakukan perawatan kepada saya. Menurut saya alat yang
dipakai perawat itu tidak membahayakan pasien” (An. Informan
Pokok 6)

Wawancara yang peneliti lakukan terhadap informan pokok 7 berkaitan

dengan observasi keperawatan di UGD Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien

Meulaboh diperoleh jawaban hasil wawancara singkat bahwa “Alat-alat untuk

menangani saya, saya tidak tahu, kalau masalah bahaya atau tidak saya kurang
51

tahu, yang saya alami pada saat ditolong itu saya pasrah aja” (An. Informan

Pokok 7).

Dari wawancara lain yang peneliti lakukan berkaitan dengan observasi

keperawatan di UGD Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh, dalam ha

tersebut maka informan pokok 8 menyampaikan pendapatnya yaitu:

“Alat observasi saya tidak tahu, mungkin alat yang dipakai perawat
untuk menolong pasien, kalau itu saya pikir tergantung pada perawat
yang menggunakannya, ya kita kan cuma yakin aja kalau alat yang
gunakan perawat itu sudah tentu perawat tahu menggunakannya,
kalau cemas atau bahaya menurut saya tidak ya”.(An. Informan
Pokok 8).

Wawancara selanjutnya dengan informan pokok 9 terkait dengan observasi

keperawatan di UGD Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh diperoleh

jawaban singkat dari informan pokok 9 mengatakan bahwa “Saya gak tahu

masalah bahaya atau tidak ya tentang alat yang perawat gunakan, karena saya

pikir mereka itu kan perawat, sudah tentu lebih paham, alat apa-apa saja yang

digunakan untuk menolong pasien” (An. Informan Pokok 9).

Dari wawancara yang telah dilakukan berkaitan dengan permasalahan

observasi perawatan pada penggunaan alat oleh perawat di UGD Rumah Sakit

Umum Daerah Cut Nyak Dhien Meulaboh, diketahui bahwa secara keseluruhan

pasien korban kecelakaan tidak mengetahui alat yang digunakan perawat, hal ini

dikarenakan pasein hanya lebih mengutamakan pada kerja perawat dalam upayakan

keselamatan jiwa pasien.


52

4.2.4. Keterampilan Keperawatan Dalam Menangani Pasien Korban


Kecelakaan di Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Cut Nyak
Dhien Meulaboh Kabupaten Aceh Barat

Kemampuan yang mutlak harus dimiliki oleh perawat UGD adalah tindakan

penyelamatan nyawa. Tindakan penyelamatan nyawa haruslah dilakukan dengan

cekatan dan cepat, mengingat pasien yang berada di ruang UGD RSU Cut Nyak

Dhien Meulaboh merupakan pasien gawat darurat yang keselamatan nyawanya

bergantung pada kecepatan response time perawat dalam menganani korban

kecelakaan. Oleh karena itu pula, perawat harus memiliki keterampilan response

time keperawatan.

Berkaitan dengan standar keterampilan yang harus dimiliki perawat

kegawatdaruratan di ruang Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Cut Nyak

Dhien Meulaboh, maka dalam ini informan kunci mengatakan bahwa:

“Untuk perawat IGD itu standarnya harus ada BTCLS. BTCLS itu
sudah 100 persen. Itu memang khusus penanganan kegawat daruratan.
Itu memang sudah terlatih semua” (An. Informan Kunci).

Wawancara yang peneliti lakukan dengan informan pokok 5 berkaitan

dengan standar keterampilan yang harus dimiliki perawat kegawatdaruratan di

ruang Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh,

mengatakan bahwa:

“Semua perawat kalau standar pendidikannya itu DIII dan harus


mengikuti pelatihan BTCLS. Untuk pelatihan BTCLS ditujukan bagi
perawat yang sudah bekerja di rumah sakit. Setelah mengikuti
pelatihan ini perawat harus bisa menangani kasus kegawatdaruratan
yang terjadi di rumah sakit” (An. Informan Pokok 5).

Lebih lanjut informan pokok 5 berkaitan dengan pertanyaan mengapa

perawat harus didampingi oleh dokter pada saat menangani pasien korban

kecelakaan, dalam hal tersebut disampaikan bahwa “Karena dokter kan lebih
53

terlatih dalam menangani korban kecelakaan. Misalnya triase lah. Triase harus

dilakukan oleh dokter atau perawat senior yang berpengalaman” (An. Informan

pokok 5). Dari wawancara yang telah dilakukan terkait dengan keterampilan

perawat, maka pada umumnya keterampilan perawat sudah dapat mendukung pada

pelayanan kegawatdaruratan di UGD RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh.

4.3. Pembahasan

4.3.1. Response Time Perawat di Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Umum
Cut Nyak Dhien Meulaboh Kabupaten Aceh Barat

Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan terhadap pasien korban

kecelakaan yang mengalami kejadian tabrakan sepeda motor dapat diketahui bahwa

response time perawat terdapat 2 korban yang ditanggani perawat dalam waktu

tanggap yang sudah kurang dari 5 menit dan terdapat 2 korban lain yang ditangani

dalam waktu tanggap yang lebih dari 5 menit. Kendala response time perawat yang

masih lebih dari 5 menit dalam memberikan penanganan pertama pada pasien

korban kecelakaan di Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Daerah Meulaboh

Kabupaten Aceh Barat bukan terletak pada penanganan pasien yang sudah masuk

ke ruang UGD, namun terjadi di luar ruang UGD yakni pada keterlambatan

penurunan pasien dari mobil ambulan karena perawat masih hati-hati menurunkan

dan membawa pasien ke ruang UGD.

Salah satu indikator keberhasilan penanggulangan medik penderita gawat

darurat adalah kecepatan memberikan pertolongan yang memadai kepada penderita

gawat darurat baik pada keadaan rutin sehari-hari atau sewaktu bencana.

Keberhasilan waktu tanggap atau response time sangat tergantung kepada kecepatan

yang tersedia serta kualitas pemberian pertolongan untuk menyelamatkan nyawa atau
54

mencegah cacat sejak di tempat kejadian, dalam perjalanan hingga pertolongan

rumah sakit (Moewardi, 2003). Waktu tanggap gawat darurat merupakan gabungan

dari waktu tanggap saat pasien tiba di depan pintu rumah sakit sampai mendapat

respon dari petugas Instalasi Gawat Darurat (response time) dengan waktu pelayanan

yang diperlukan sampai selesai proses penanganan gawat darurat (Haryatun dan

Sudaryanto, 2008).

Asumsi peneliti terhadap hasil observasi response time penanganan pasien

korban kecelakaan di IGD RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh bahwa dari pasien

datang sampai selesai pasien ditangani untuk mendapat penanganan masih ada yang

lebih dari 5 menit dikarenakan prioritas kegawatan yaitu masih terkendala pada

keterlambatan petugas ambulans yang mengantarkan pasien ke ruang IGD. Kendala

lain yang terjadi pada korban kecelakaan massal dikarenakan perawat masih kurang

sehingga dibutuhkan perawat dari ruang lain untuk membantu perawat yang ada di

ruang UGD Rumah Sakit Umum Daerah Cut Nyak Dhien Meulaboh.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Matilu (2014)

bahwa Response time perawat di IGD RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado

masih sebagian besar lambat yaitu lebih dari 5 menit, dan keadaan ini menunjukkan

belum terpenuhinya standar IGD sesuai Keputusan Menteri Kesehatan tahun 2009

bahwa indikator response time (waktu tanggap) di IGD adalah harus ≤ 5 menit.

Response time (waktu tanggap) dari perawat pada penanganan pasien gawat darurat

yang memanjang dapat menurunkan usaha penyelamatan pasien.


55

4.3.2. Perlakuan Perawat Terhadap Pasien Korban Kecelakaan di Unit


Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh
Kabupaten Aceh Barat

Unit Gawat Darurat (UGD) adalah salah satu bagian di rumah sakit yang

menyediakan penanganan awal bagi pasien yang menderita sakit dan cedera yang

dapat mengancam kelangsungan hidupnya. Tujuan dari pelayanan gawat darurat ini

adalah untuk memberikan pertolongan pertama bagi pasien yang datang dan

menghindari berbagai resiko, seperti menanggulangi korban kecelakaan, atau

bencana lainnya yang langsung membutuhkan tindakan. Perlakuan profesional

perawat yang memberikan perasaan nyaman, terlindungi pada diri setiap pasien

yang sedang menjalani proses penyembuhan dimana perlakukan ini merupakan

kompensasi sebagai pemberi layanan dan diharapkan menimbulkan perasaan puas

pada diri pasien (Azwar, 2010).

Asumsi peneliti terhadap perlakuan (berkomunikasi) perawat dengan pasien

korban kecelakaan di Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien

Meulaboh Kabupaten Aceh Barat sudah baik karena dilihat dari cara komunikasi

pasien terhadap korban yang sedang kritis agar tetap tenang pada saat akan

diberikan pertolongan pertama. Dengan komunikasi yang baik tersebut dapat

menghilangkan kecemasan atau rasa takut pada pasien sadar sehingga pasien pun

merasa lebih fokus pada saat akan diobesrvasi oleh perawat.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Suyawati (2013)

perilaku perawat telah memberikan penilaian tinggi pada kemampuan dan sikap

profesional petugas IGD dibandingkan dengan penilaian terhadap kondisi ruang

maupun fasilitas yang terdapat di IGD dilihat dri kepuasan pasien RS di Provinsi

Jawa Tengah yang mengatakan mayoritas pelanggan RS puas dengan pelayanan


56

yang telah diterima. Penelitian lain yang sama juga dilakukan oleh Dhaneswari

(2014) berkaitan dengan perlaku perawat dalam komunikasi perawat bahwa

komunikasi antara perawat terhadap pasien di IGD RSU Jati Husada Karanganyar

dapat disimpulkan bahwa komunikasi antara perawat terhadap pasien di IGD RSU

Jati Husada Karanganyar dilaksanakan sesuai dengan kategori usia, kegawatan

kondisi pasien dan jenis kelamin. Selain itu pelayanan komunikasi perawat

terhadap pasien juga sudah sesuai dengan prosedur tetap keperawatan RSU Jati

Husada Karanganyar.

4.3.3. Observasi Keperawatan Dalam Menangani Pasien Korban Kecelakaan


di Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh
Kabupaten Aceh Barat

Dari hasil penelitian bahwa perlakuan perawat terhadap pasien korban

kecelakaan di UGD RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh Kabupaten Aceh Barat

sudah baik karena pasien korban kecelakaan sudah dipelakukan dengan baik dan

juga dapat dilihat dari cara komunikasi pasien terhadap korban yang sedang kritis

agar tetap tenang pada saat akan diberikan pertolongan pertama.

Menurut Musliha (2010) bahwa observasi yang dilakukan meliputi

observasi keadaan pasien, peralatan dan reaksi pasien terhadap tindakan yang

diberikan. Salah satu observasi yang sangat penting adalah observasi terhadap

keharmonisan antara peralatan bantu seperti ventilator mekanik, alat pantau EKG,

alat monitoring invesif dan dengan pasien. Musliha menambahkan bahwa alat bantu

tersebut harus diyakini dapat membantu pasien dan tidak sampai merugikan atau

membahayakan.

Perawat dan dokter UGD mempunyai batasan waktu (respon time) untuk

mengkaji keadaan dan memberikan intervensi secepatnya, yakni kurang dari 5


57

menit. Pemilahan pasien yang perlu didahulukan untuk diberikan tindakan ini

dikenal dengan istilah triage. Perawatan pasien didasarkan gejalanya. Prioritas

pertama diberikan kepada pasien yang mengalami gangguan jalan nafas, bernapas

atau sirkulasi terganggu. Hal ini dikarenakan jika tidak ditolong maka dapat

meninggal/cacat. Observasi pasien di IGD dilakukan sekitar 2-6 jam atau sampai

kondisi pasien sudah stabil, setelah itu diputuskan apakah dirawat di ruang intensif

atau ruang inap (Kartikawati, 2011). Peralatan medis yang ada di UGD antara lain,

alat pemeriksaan rutin, Elektrocardiografi (EKG/alat untuk memeriksa aktifitas

elektronik jantung), ventilator (alat bantu nafas mekanik), defibrillator (alat kejut

jantung), dan emergency kit (Musliha, 2010).

Asumsi peneliti berkaitan dengan observasi keperawatan di Ruang Unit

Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh bahwa observasi

perawat sudah baik dalam menangani pasien korban kecelakaan. Sedangkan

berkaitan dengan alat observasi yang digunakan perawat atau tersedia di ruang unit

gawat darurat sudah sesuai dengan standar peralatan medis.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Eko

Widodo (2015) bahwa kecepatan dan ketepatan pelayanan menjadi Standart

Pelayanan Minimal yang harus dicapai oleh petugas khususnya perawat di IGD.

Kecepatan diukur dengan respon time (waktu tanggap) < 5 menit. Sementara

ketepatan dapat dilihat dari tanggapan pasien dalam menilai tindakan yang diambil

perawat sesuai dengan kebutuhan pasien. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa

dari evaluasi managemen RS. Panti Waluyo, menyatakan bahwa keluhan yang

sering muncul selama ini dalam pelayanan di IGD RS. Panti Waluyo adalah

lamanya waktu petugas dalam memberikan pelayanan, meskipun hal ini tidak
58

sepenuhnya dikarenakan lamanya tindakan di IGD, tapi karena faktor lain, misal:

proses administrasi pendaftaran pasien rawat inap, menunggu pemeriksaan

penunjang (antri radiologi), kamar rawat inap yang belum siap dan faktor lainnya.

Sementara faktor response time (waktu tanggap) < 5 menit yang menjadi salah satu

Standart Pelayanan Minimal IGD RS belum pernah diteliti efektifitasnya bagi

kepuasan pelanggan/pasien.

4.3.4. Keterampilan Perawat Dalam Menangani Pasien Korban Kecelakaan


di Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Cut Nyak Dhien Meulaboh
Kabupaten Aceh Barat

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan berkaitan dengan keterampilan

perawat di ruang unit gawat darurat bahwa perawat telah memiliki keterampilan

yang baik dan mampu memberikan pertolongan pertama kepada pasien korban

kecelakaan serta keterampilan perawat pun sudah sesuai sekali dengan standar yang

harus dimiliki perawat. Keterampilan ini diperoleh perawat dari pelatihan-pelatihan

yang diadakan oleh pihak rumah sakit umum Cut Nyak Dhien Meulaboh.

Pendidikan dan pelatihan merupakan hal penting bagi profesi Perawat.

Pelatihan yang diminati Perawat berdasarkan kebutuhan pekerjaannya sehari-hari

atau berdasarkan kebutuhan ruang rawatan tempat ia bekerja. Pelatihan Basic

Trauma Cardiac Life Support ( BTCLS) merupakan lanjutan dari pelatihan PPGD,

sertifikatnya lebih bergengsi daripada pelatihan PPGD. Mayoritas yang telah

mengikuti pelatihan PPGD akan berminat untuk mengikuti pelatihan BTCLS.

Perawat yang telah mengikuti pelatihan BTCLS juga memiliki nilai tambah untuk

prioritas diterima bekerja di Rumah Sakit (Musliha, 2010).

Asumsi peneliti terhadap penelitian ini bahwa keterampilan perawat yang

sudah baik, meskipun ada juga pendampingan dari dokter telah mampu menangani
59

pasien korban kecelakaan, dikarena ada upaya dari pihak rumah sakit untuk

meningkatkan kemampuan perawat menangani korban kecelakaan. Dengan adanya

keterampilan perawat, maka telah dapat mendukung response time perawat pada

saat menangani pasien korban kecelakaan di Rumah Sakit Umum Daerah Cut Nyak

Dhien Meulaboh.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hanum (2015)

berkaitan dengan keterampilan perawat bahwa dalam menilai ketrampilan

seseorang yang dalam hal ini response time perawat, bisa saja dipengaruhi adanya

faktor lain Keadaan ini tergantung dari motivasi perawat dalam mempraktikkan

ketrampilan kerja yang didapat dari pendidikannya.. Perekrutan perawat ambulan

YES 118 belum ada tes tertulis maupun tes ujian keterampilan. Perekrutan perawat

berdasarkan syarat 5 5 administrasi seperti sudah memiliki izin praktik, sudah

memiliki sertifikat Panduan Pertolongan Gawat Darurat (PPGD) dan wawancara

kerja, dan tidak ada pengalaman minimal perawat. Minimal pendidikan adalah

Diploma keperawatan. Keilmuan dan keterampilan perawat bergantung kepada

institusi dan pelatihan-pelatihan yang diikuti oleh perawat tersebut dengan berbagai

macam variasi keterampilan dan pengetahuan. Berdasarkan wawancara, ambulan

YES 118 belum memiliki standar operasional prosedur dalam melakukan

pertolongan korban, perawat menolong berdasarkan sistem evakuasi PPGD dan

keilmuan masing-masing perawat.