You are on page 1of 13

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

I. STUNTING
1. DEFINISI
Balita pendek (Stunting) adalah masalah kurang gizi kronis yang
disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat
pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting dapat
terjadi mulai janin masih dalam kandungan dan baru nampak saat anak berusia dua
tahun. Stunting (Pendek) adalah kondisi dimana balita memiliki panjang atau tinggi
badan yang kurang jika dibandingkan dengan umur. Kondisi ini diukur dengan
panjang atau tinggi badan yang lebih dari minus dua standar deviasi median standar
pertumbuhan anak dari WHO.
Prevalensi stunting mulai meningkat pada usia 3 bulan, kemudian proses
stunting melambat pada saat anak berusia sekitar 3 tahun. Terdapat perbedaan
interpretasi kejadian stunting diantara kedua kelompok usia anak. Pada anak yang
berusia di bawah 2-3 tahun, menggambarkan proses gagal bertumbuh atau stunting
yang masih sedang berlangsung/terjadi. Sementara pada anak yang berusia lebih
dari 3 tahun, menggambarkan keadaan dimana anak tersebut telah mengalami
kegagalan pertumbuhan atau telah menjadi stunted (Sandra Fikawati dkk, 2017).
Berbagai ahli menurut Wamani et al., dalam Sandra Fikawati dkk (2017)
menyatakan bahwa stunting merupakan dampak dari berbagai faktor seperti berat
lahir yang rendah, stimulasi dan pengasuhan anak kurang tepat, asupan nutrisi
kurang, dan infeksi berulang serta berbagai faktor lingkungan lainnya.
2. EPIDEMIOLOGI
Kejadian balita pendek atau biasa disebut stunting merupakan salah satu
masalah gizi yang dialami oleh balita didunia saat ini. Pada tahun 2017, 22,2% atau
sekitar 150,8 juta balita di dunia mengalami stunting. Namun angka ini sudah
mengalami penurunan jika dibandingkan dengan angka stunting pada tahun 2000
yaitu 32,6% (Joint Child Malnutrition Eltimates, 2018)
Pada tahun 2017 , lebih dari setengah balita stunting di dunia berasal dari
Asia(55%) sedangkan lebih dari sepertiganya (39%) berasal dari Afrika. Dari 83,6
juta balita stuntingdi Asia , proporsi terbanyak berasal dari Asia selatan (58,7%)
dan proporsi paling sedikit di Asia tengah (0,8%) (Joint Child Malnutrition
Eltimates, 2018).
Data prevalensi balita stunting yang dikumpulkan World Health
Organization (WHO), Indonesia termasuk ke dalam negara ketiga dengan
prevalensi tertinggi di regional Asia Tenggara/South-East Asia Regional (SEAR).
Rata-rata prevalensi balita stunting di Indonesia tahun 2005-2017 adalah 36,4%.
Di Indonesia, saat ini stunting masih menjadi permasalahan kesehatan
dengan prevalensi nasional sebesar 20,1% (Pemantauan Status Gizi, 2017). Dari 10
orang anak sekitar 3-4 orang anak balita mengalami stunting (Zahraini, 2013).
Indonesia adalah salah satu dari 3 negara dengan prevalensi stunting tertinggi di
Asia Tenggara. Penurunan angka kejadian stunting di Indonesia tidak begitu
signifikan jika dibandingkan dengan Myanmar, Kamboja, dan Vietnam (Trihono
dkk, 2015).
Prevalensi balita pendek di Indonesia cenderung statis. Hasil Riset
Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 menunjukkan prevalensi balita pendek di
Indonesia sebesar 36,8%. Pada tahun 2010, terjadi sedikit penurunan menjadi
35,6%. Namun prevalensi balita pendek kembali meningkat pada tahun 2013 yaitu
menjadi 37,2%. Prevalensi balita pendek selanjutnya akan diperoleh dari hasil
Riskesdas tahun 2018 yang juga menjadi ukuran keberhasilan program yang sudah
diupayakan oleh pemerintah.
Prevalensi balita sangat pendek dan pendek usia 0-59 bulan di Indonesia
tahun 2017 adalah 9,8% dan 19,8%. Kondisi ini meningkat dari tahun sebelumnya
yaitu prevalensi balita sangat pendek sebesar 8,5% dan balita pendek sebesar 19%.
Provinsi dengan prevalensi tertinggi balita sangat pendek dan pendek pada usia 0-
59 bulan tahun 2017 adalah Nusa Tenggara Timur, sedangkan provinsi dengan
prevalensi terendah adalah Bali.
Di wilayah Bontang , angka balita stunting mengalami fluktuasi disetiap
tahunnya, yakni tercatat 16,1 %. pada 2014, menjadi 21,8 %. pada 2015, turun
menjadi 20,4 %. tahun 2016, dan naik menjadi 32,4 %. pada 2017. Terbanyak
kedua Kabupaten Kutai Timur yang pada 2014 tercatat 24,7 %., pada 2015 menjadi
30,2 %., pada 2016 turun menjadi 29,8 %., dan pada 2017 kembali naik menjadi
32,2 %.
3. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI STUNTING
Stunting disebabkan oleh faktor multi dimensi dan tidak hanya disebabkan
oleh faktor gizi buruk yang dialami oleh ibu hamil maupun anak balita. Secara lebih
detail, beberapa faktor yang mempengaruhi kejadian stunting dapat digambarkan
sebagai berikut:
a. Faktor langsung
1) Faktor ibu
Faktor ibu dapat dikarenakan nutrisi yang buruk selama prekonsepsi,
kehamilan, dan laktasi. Selain itu juga dipengaruhi perawakan ibu seperti usia ibu
terlalu muda atau terlalu tua, pendek, infeksi, kehamilan muda, kesehatan jiwa,
BBLR, IUGR dan persalinan prematur, jarak persalinan yang dekat, dan hipertensi
(Sandra Fikawati dkk, 2017).
2) Faktor Genetik
Faktor genetik merupakan modal dasar mencapai hasil proses pertumbuhan.
Melalui genetik yang berada di dalam sel telur yang telah dibuahi, dapat ditentukan
kualitas dan kuantitas pertumbuhan. Hal ini ditandai dengan intensitas dan
kecepatan pembelahan, derajat sensitivitas jaringan terhadap rangsangan, umur
pubertas dan berhentinya pertumbuhan tulang (Narsikhah, 2012). Menurut Amigo
et al., dalam Narsikhah (2012) salah satu atau kedua orang tua yang pendek akibat
kondisi patologi (seperti defisiensi hormone pertumbuhan) memiliki gen dalam
kromosom yang membawa sifat pendek sehingga memperbesar peluang anak
mewarisi gen tersebut dan tumbuh menjadi stunting. Akan tetapi, bila orang tua
pendek akibat kekurangan zat gizi atau penyakit, kemungkinan anak dapat tumbuh
dengan tinggi badan normal selama anak tersebut tidak terpapar faktor resiko yang
lain.
3) Asupan makanan
Kualitas makanan yang buruk meliputi kualitas micronutrient yang buruk,
kurangnya keragaman dan asupan pangan yang bersumber dari pangan hewani,
kandungan tidak bergizi, dan rendahnya kandungan energi pada complementary
foods. Praktik pemberian makanan yang tidak memadai, meliputi pemberian makan
yang jarang, pemberian makan yang tidak adekuat selama dan setelah sakit,
konsistensi pangan yang terlalu ringan, kuantitas pangan yang tidak mencukupi,
pemberian makan yang tidak berespon. Bukti menunjukkan keragaman diet yang
lebih bervariasi dan konsumsi makanan dari sumber hewani terkait dengan
perbaikan pertumbuhan linear. Analisis terbaru menunjukkan bahwa rumah tangga
yang menerapkan diet yang beragam, termasuk diet yang diperkaya nutrisi
pelengkap, akan meningkatkan asupan gizi dan mengurangi risiko stunting (Sandra
Fikawati dkk, 2017).
4) Pemberian ASI Eksklusif
Masalah-masalah terkait praktik pemberian ASI meliputi Delayed
Initiation, tidak menerapkan ASI eksklusif, dan penghentian dini konsumsi ASI.
Sebuah penelitian membuktikan bahwa menunda inisiasi menyusu (Delayed
initiation) akan meningkatkan kematian bayi. ASI eksklusif didefinisikan sebagai
pemberian ASI tanpa suplementasi makanan maupun minuman lain, baik berupa
air putih, jus, ataupun susu selain ASI. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)
merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama untuk
mencapai tumbuh kembang optimal. Setelah enam bulan, bayi mendapat makanan
pendamping yang adekuat sedangkan ASI dilanjutkan sampai usia 24 bulan.
Menyusui yang berkelanjutan selama dua tahun memberikan kontribusi signifikan
terhadap asupan nutrisi penting pada bayi (Sandra Fikawati dkk, 2017).
5) Faktor infeksi
Beberapa contoh infeksi yang sering dialami yaitu infeksi enterik seperti
diare, enteropati, dan cacing, dapat juga disebabkan oleh infeksi pernafasan (ISPA),
malaria, berkurangnya nafsu makan akibat serangan infeksi, dan inflamasi.
Penyakit infeksi akan berdampak pada gangguan masalah gizi. Infeksi klinis
menyebabkan lambatnya pertumbuhan dan perkembangan, sedangkan anak yang
memiliki riwayat penyakit infeksi memiliki peluang mengalami stunting (Picauly
& Toy, 2013).
b. Faktor tidak langsung
1) Faktor sosial ekonomi
Status ekonomi yang rendah dianggap memiliki dampak yang signifikan
terhadap kemungkinan anak menjadi kurus dan pendek (UNICEF, 2013). Menurut
Bishwakarma dalam Khoirun dkk (2015), status ekonomi keluarga yang rendah
akan mempengaruhi pemilihan makanan yang dikonsumsinya sehingga biasanya
menjadi kurang bervariasi dan sedikit jumlahnya terutama pada bahan pangan yang
berfungsi untuk pertumbuhan anak seperti sumber protein, vitamin, dan mineral,
sehingga meningkatkan risiko kurang gizi.
2) Tingkat Pendidikan
Menurut Delmi Sulastri (2012), pendidikan ibu yang rendah dapat
mempengaruhi pola asuh dan perawatan anak. Selain itu juga berpengaruh dalam
pemilihan dan cara penyajian makanan yang akan dikonsumsi oleh anaknya.
Penyediaan bahan dan menu makan yang tepat untuk balita dalam upaya
peningkatan status gizi akan dapat terwujud bila ibu mempunyai tingkat
pengetahuan gizi yang baik. Ibu dengan pendidikan rendah antara lain akan sulit
menyerap informasi gizi sehingga anak dapat berisiko mengalami stunting.
3) Pengetahuan gizi ibu
Menurut Delmi Sulastri (2012) menjelaskan bahwa pengetahuan gizi yang
rendah dapat menghambat usaha perbaikan gizi yang baik pada keluarga maupun
masyarakat. sadar gizi artinya tidak hanya mengetahui gizi tetapi harus mengerti
dan mau berbuat. Tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang tentang
kebutuhan akan zat-zat gizi berpengaruh terhadap jumlah dan jenis bahan makanan
yang dikonsumsi. Pengetahuan gizi merupakan salah satu faktor yang dapat
berpengaruh terhadap konsumsi pangan dan status gizi. Ibu yang cukup
pengetahuan gizinya akan memperhatikan kebutuhan gizi anaknya agar dapat
tumbuh dan berkembang secara optimal.
4) Faktor lingkungan
Lingkungan rumah, dapat dikarenakan oleh stimulasi dan aktivitas yang
tidak adekuat, penerapan asuhan yang buruk, ketidakamanan pangan, alokasi
pangan yang tidak tepat, rendahnya edukasi pengasuh. Anak-anak yang berasal dari
rumah tangga yang tidak memiliki fasilitas air dan sanitasi yang baik berisiko
mengalami stunting (Putri dan Sukandar, 2012).
4. DAMPAK STUNTING
Stunting memiliki dampak yang besar terhadap tumbuh kembang anak dan
juga perekonomian Indonesia di masa yang akan datang. Dampak stunting terhadap
kesehatan dan tumbuh kembang anak sangat merugikan. Stunting dapat
mengakibatkan gangguan tumbuh kembang anak terutama pada anak berusia di
bawah dua tahun. Anak-anak yang mengalami stunting pada umumnya akan
mengalami hambatan dalam perkembangan kognitif dan motoriknya yang akan
mempengaruhi produktivitasnya saat dewasa. Selain itu, anak stunting juga
memiliki risiko yang lebih besar untuk menderita penyakit tidak menular seperti
diabetes, obesitas, dan penyakit jantung pada saat dewasa. Secara ekonomi, hal
tersebut tentunya akan menjadi beban bagi negara terutama akibat meningkatnya
pembiayaan kesehatan. Potensi kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh stunting
sangat besar. Laporan World Bank pada tahun 2016 menjelaskan bahwa potensi
kerugian ekonomi akibat stunting mencapai 2-3% Produk Domestik Bruto (PDB).
Dengan demikian, apabila PDB Indonesia sebesar Rp 13.000 trilyun, maka potensi
kerugian ekonomi yang mungkin dialami adalah sebesar Rp260-390 trilyun per
tahun. Di beberapa negara di Afrika dan Asia potensi kerugian akibat stunting
bahkan lebih tinggi lagi bisa mencapai 11% .
Permasalahan kekurangan gizi pada anak erat kaitannya dengan tingkat
pendapatan keluarga. Keluarga dengan tingkat pendapatan yang rendah pada
umumnya memiliki masalah dalam hal akses terhadap bahan makanan terkait
dengan daya beli yang rendah. Selain pendapatan, kerawanan pangan di tingkat
rumah tangga juga sangat dipengaruhi oleh inflasi harga pangan. Faktor penting
lain yang mempengaruhi terjadinya masalah kekurangan gizi pada anak balita
adalah buruknya pola asuh terutama pemberian ASI eksklusif akibat rendahnya
tingkat pengetahuan orang tua, buruknya kondisi lingkungan seperti akses sanitasi
dan air bersih, rendahnya akses pada pelayanan kesehatan. Melihat faktor penyebab
permasalahan stunting yang multi dimensi, penanganan masalah gizi harus
dilakukan dengan pendekatan multi sektor yang terintegrasi.
5. PENCEGAHAN STUNTING
Dalam mengatasi permasalahan gizi, pemerintah telah menetapkan
Peraturan Presiden Nomor 42 Tahun 2013 yang mengatur mengenai Pelaksanaan
Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi. Peta Jalan Percepatan Perbaikan Gizi
terdiri dari empat komponen utama yang meliputi advokasi, penguatan lintas
sektor, pengembangan program spesifik dan sensitif, serta pengembangan
pangkalan data. Intervensi gizi baik yang bersifat langsung (spesifik) dan tidak
langsung (sensitif) perlu dilakukan secara bersama-sama oleh
kementerian/lembaga serta pemangku kepentingan lainnya.
Penanganan stunting tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri (scattered) karena
tidak akan memiliki dampak yang signifikan. Upaya pencegahan stunting harus
dilakukan secara terintegrasi dan konvergen dengan pendekatan multi sektor.
Untuk itu, pemerintah harus memastikan bahwa seluruh kementerian/lembaga serta
mitra pembangunan, akademisi, organisasi profesi, organisasi masyarakat madani,
perusahaan swasta, dan media dapat bekerjasama bahu-membahu dalam upaya
percepatan pencegahan stunting di Indonesia. Tidak hanya di tingkat pusat,
integrasi dan konvergensi upaya pencegahan stunting juga harus terjadi di tingkat
daerah sampai dengan tingkat desa.
Upaya pencegahan stunting yang konvergen dan terintegrasi perlu segera
dilakukan. Sejak akhir tahun 2017, Kementerian PPN/Bappenas telah meluncurkan
“Intervensi Pencegahan Stunting Terintegrasi” sebagai upaya komprehensif dengan
pendekatan multi sektor. Upaya ini mencakup intervensi multi sektor yang cukup
luas mulai dari akses makanan, layanan kesehatan dasar termasuk akses air bersih
dan sanitasi, serta pola pengasuhan. Hal ini menegaskan kembali bahwa
permasalahan stunting bukanlah semata-mata masalah sektor kesehatan tetapi
melibatkan faktor-faktor lain di luar kesehatan. Sebagai langkah awal, pada tahun
2018 sebanyak 100 kabupaten/kota dan 1000 desa telah terpilih sebagai fokus area
intervensi. Selanjutnya, untuk tahun 2019, 60 kabupaten/kota dan 600 desa telah
ditambahkan sebagai area fokus intervensi pencegahan stunting terintegrasi.
Stunting juga merupakan salah satu target Sustainable Development Goals
(SDGs) yang termasuk pada tujuan pembangunan berkelanjutan ke-2 yaitu
menghilangkan kelaparan dan segala bentuk malnutrisi pada tahun 2030 serta
mencapai ketahanan pangan. Target yang ditetapkan adalah menurunkan angka
stunting hingga 40% pada tahun 2025.
Untuk mewujudkan hal tersebut, pemerintah menetapkan stunting sebagai
salah satu program prioritas. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 39
Tahun 2016 tentang Pedoman Penyelenggaraan Program Indonesia Sehat dengan
Pendekatan Keluarga, upaya yang dilakukan untuk menurunkan prevalensi stunting
di antaranya sebagai berikut:
1. Ibu Hamil dan Bersalin
a. Intervensi pada 1.000 hari pertama kehidupan;
b. Mengupayakan jaminan mutu ante natal care (ANC) terpadu;
c. Meningkatkan persalinan di fasilitas kesehatan;
d. Menyelenggarakan program pemberian makanan tinggi kalori, protein,
dan mikronutrien (TKPM);
e. Deteksi dini penyakit (menular dan tidak menular);
f. Pemberantasan kecacingan;
g. Meningkatkan transformasi Kartu Menuju Sehat (KMS) ke dalam Buku
KIA;
h. Menyelenggarakan konseling Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan ASI
eksklusif; dan
i. Penyuluhan dan pelayanan KB.
2. Balita
a. Pemantauan pertumbuhan balita;
b. Menyelenggarakan kegiatan Pemberian Makanan Tambahan (PMT)
untuk balita;
c. Menyelenggarakan stimulasi dini perkembangan anak; dan
d. Memberikan pelayanan kesehatan yang optimal.
3. Anak Usia Sekolah
a. Melakukan revitalisasi Usaha Kesehatan Sekolah (UKS);
b. Menguatkan kelembagaan Tim Pembina UKS;
c. Menyelenggarakan Program Gizi Anak Sekolah (PROGAS); dan
d. Memberlakukan sekolah sebagai kawasan bebas rokok dan narkoba
4. Remaja
a. Meningkatkan penyuluhan untuk perilaku hidup bersih dan sehat
(PHBS), pola gizi seimbang, tidak merokok, dan mengonsumsi narkoba;
dan
b. Pendidikan kesehatan reproduksi.
5. Dewasa Muda
a. Penyuluhan dan pelayanan keluarga berencana (KB);
b. Deteksi dini penyakit (menular dan tidak menular); dan
c. Meningkatkan penyuluhan untuk PHBS, pola gizi seimbang, tidak
merokok/mengonsumsi narkoba.
II. KADER POSYANDU
Menutut Anggidin (2017), Kader posyandu adalah warga masyarakat yang ditunjuk
untuk bekerja secara sukarela dalam melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan
pelayanan kesehatan sederhana di Posyandu. Kader posyandu dipilih oleh petugas
Posyandu dari anggota masyarakat yang bersedia, mampu dan memiliki waktu untuk
menyelenggarakan kegiatan posyandu.
Kriteria kader posyandu menurut Kemenkes RI (2011) ada tiga, yaitu pertama,
kader yang dipilih diutamakan berasal dari anggota masyarakat setempat sehingga kader
lebih mengetahui karakteristik dan memahami kebiasaan masyarakat. Selain itu kader lebih
mudah dalam memantau situasi dan kondisi bayi dan balita yang ada diwilayah kerja
posyandu dengan melakukan kunjungan rumah bagi bayi dan balita yang tidak datang pada
hari buka posyandu maupun memantau status pertumbuhan bayi dan balita yang
mengalami permasalahan gizi buruk dan gizi kurang. Kedua, kader juga harus bisa
membaca dan menulis huruf latin karena pelaksanaan tugas di posyandu berhubungan juga
dengan pencatatan dan pengisian KMS yang menuntut kader agar bisa membaca dan
menulis. Ketiga, kader sebaiknya dapat menggerakkan masyarakat untuk berpartisipasi
dalam kegiatan di posyandu serta bersedia bekerja secara sukarela, memiliki kemampuan
dan waktu luang agar kegiatan terlaksana dengan baik.
Jadi, persyaratan-persyaratan yang diutamakan dapat disimpulkan bahwa kriteria
pemilihan kader kesehatan antara lain dapat bekerja secara sukarela, mendapat
kepercayaan dari masyarakat serta mempunyai kredibilitas yang baik dimana perilakunya
menjadi panutan masyarakat, memiliki jiwa pengabdian yang tinggi, mempunyai
penghasilan tetap, pandai baca tulis, sanggup membina masyarakat sekitarnya. Kader
posyandu mempunyai peran besar dalam upaya meningkatkan kemampuan masyarakat
menolong dirinya sendiri untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal.selain itu peran
kader ikut membina masyarakat dalam bidang kesehatan dengan melalui kegiatan yang
dilakukan di posyandu.
Dalam keadaan tertentu, misalnya diaerah perkotaan karena kesibukan yang
dimiliki tidak mudah mencari nggota masyarakat yang bersedia aktif secara sukarela
sebagai kader posyandu. Untuk mengatasinya kedudukan dan peran kader posyandu
dapatdigantikan oleh tenaga professional terlatih yang bekerja secara purna/paruh waktu
sebagai kader posyandu dan mendapat imbalan khusus yang dikumpulkan oleh warga
masyarakat (Zulkifli,2003).
Di wilayah kerja Puskesmas Bontang barat yang terbagi dalam tiga kelurahan, yaitu
Kelurahan Kanaan, Kelurahan Gunung Telihan dan Kelurahaan Belimbing terdapat 21
Posyandu. Di kelurahan kanaan terdapat 2 Posyandu, yaitu Posyandu sejahtera I dan
sejahtera IV. Di kelurahan Gunung Telihan terdapat 8 Posyandu, yaitu Posyandu Sejahtera
II, Sejahtera III, Sejahtera V, Bakung, Cendrawasih I, Anggerek I, Tulip dan Taman Hati.
Sedangkan di kelurahan Belimbing terdapat 11 posyandu, yaitu Posyandu Sakura,
Srikandi, Harapan bunda, Kusuma, Anyelir, Suka makmur, mawar, Mekarsari, Permata
bunda, Anggrek II, Cendrawasih II. Dari keseluruhan wilayah posyandu terdapat 105 kader
yang aktif dalam kegiatan posyandu.
III. PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN KADER POSYANDU
Pengetahuan merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi keterampilan,
seperti yang disebutkan Sutermeister (1978) dalam Sugiyono (2008) tentang teori
produktivitas kerja. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keterampilan adalah
pengetahuan, pengalaman, pendidikan, pembinaan, sikap dan kepribadian seseorang.
Pengetahuan adalah hasil dari “tahu”, dan ini terjadi setelah seseorang melakukan
penginderaan terhadap sesuatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera
manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar
pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2010).
Aspek kognitif dibedakan atas enam jenjang menurut taksonomi Bloom yang
diurutkan secara hirarki piramidal. Sistem klasifiksi Bloom ini dijabarkan oleh
Notoatmodjo (2010), yaitu tahu, memahami, aplikasi, analisis, sintetis, dan evaluatif.
Berdasarkan klasifikasi ini, maka keterampilan kader baru dapat terlihat jika telah sampai
pada tahap aplikasi. Hasil penelitian Fitrianingrum (2010) menyatakan bahwa kader yang
memiliki pengetahuan baik (77,1%) tidak selalu merupakan kader yang terampil (22,9%),
tetapi ditemukan adanya hubungan antara tingkat pengetahuan kader dengan keterampilan
dalam pemantauan pertumbuhan balita.
Selain itu, tingkat pengetahuan dan ketrampilan kader akan lebih baik jika
pendidikannya tinggi, mengikuti kursus, mendapat pengajaran lima modul dasar dalam
kursus, aktif dalam mengikuti pembinaan serta mempunyai frekuensi tinggi mengikuti
pembinaan. Pengalaman juga dapat mempengaruhi keterampilan. Semakin lama seseorang
bekerja menjadi kader Posyandu maka keterampilan dalam melaksanakan tugas pada saat
kegiatan posyandu akan semakin meningkat. Semua tindakan yang pernah dilakukan akan
direkam dalam bawah sadar mereka dan akan dibawa terus sepanjang hidupnya. Dari sini
dapat disimpulkan bahwa semakin banyak pengalaman seseorang dan dikaitkan dengan
masa kerja yang lama dalam menangani suatu pekerjaan, orang tersebut akan semakin
terampil dan pekerjaannya menjadi kebiasaan (Hidayat, 2011).
Namun penelitian Hamariyana (2011) di Kota Semarang menyebutkan bahwa tidak
ada hubungan antara lama bekerja sebagai kader dengan keterampilan kader dalam menilai
kurva pertumbuhan balita. Pendidikan yang dimaksud disini adalah pendidikan formal
yang merupakan bagian dari karakteristik kader. Tingkat pendidikan seorang kader
Posyandu merupakan faktor yang penting dalam mempengaruhi cakupan pelayanan
Posyandu. Pendidikan merupakan modal untuk bisa menjalankan tugas dan peranannya
dengan baik disamping pelatihan yang didapatnya (Kemenkes RI, 2011). Semakin tinggi
tingkat pendidikan kader, maka semakin bertambah pula kecakapannya baik secara
intelektual dan emosionalnya.
Semakin tinggi pendidikan formal kader maka keterampilannya juga akan semakin
baik. Tingkat pendidikan formal kader berperan penting dalam pengelolaan Posyandu
khususnya dalam hal pencatatan dan pelaporan karena kader dengan pendidikan formal
yang tinggi cepat dan mudah mengerti serta memahami segala sesuatu yang diperolehnya
baik pada waktu mengikuti pelatihan maupun waktu melaksanakan kegiatan di Posyandu.
Menurut Notoatmodjo (2010), pendidikan merupakan kegiatan yang sengaja dilakukan
untuk memperoleh hasil berupa pengetahuan, keterampilan dan sikap seseorang.
Pendidikan yang tinggi membuat seseorang lebih mudah memahami suatu informasi.

IV. PENILAIAN STUNTING


Tinggi badan merupakan indikator yang dapat digunakan untuk menilai status gizi
anak disamping faktor genetik. Pengukuran ini dapat dilakukan dengan mudah dalam
menilai gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak (Hidayat, 2009). Disamping itu
tinggi badan merupakan ukuran kedua yang penting karena dengan menghubungkan barat
badan terhadap tinggi badan (Quac stick), faktor umur dapat dikesampingkan (Supariasa
et al, 2008).
Penilaian status gizi balita yang paling sering dilakukan adalah dengan cara
penilaian antropometri. Secara umum antropometri berhubungan dengan berbagai macam
pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat
gizi. Antropometri digunakan untuk melihat ketidakseimbangan asupan protein dan energi.
Beberapa indeks antropometri yang sering digunakan adalah berat badan menurut umur
(BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U), berat badan menurut tinggi badan (BB/TB)
yang dinyatakan dengan standar deviasi unit z (Z-Score) (Trihono dkk, 2015).
Tinggi badan menurut umur (TB/U) adalah indikator untuk mengetahui seorang
anak stunting atau normal. Tinggi badan merupakan antropometri yang menggambarkan
pertumbuhan skeletal. Dalam keadaan normal, tinggi badan tumbuh seiring pertambahan
umur. Pertumbuhan tinggi badan relatif kurang sensitif terhadap masalah kekurangan gizi
dalam waktu pendek. Indeks TB/U menggambarkan status gizi masa lampau serta erat
kaitannya dengan sosial ekonomi.
Indikator TB/U memberikan indikasi masalah gizi yang sifatnya kronik sebagai
akibat dari keadaan berlangsung lama, misalnya kemiskinan, perilaku hidup sehat dan
pola asuh/pemberian makanan yang kurang baik dari sejak anak dilahirkan yang
mengakibatkan anak menjadi pendek. Angka tinggi badan setiap anak balita
dikonversikan ke dalam nilai terstandar (Z-score) menggunakan baku antropometri anak
balita WHO 2005. Kategori dan ambang batas indikator tinggi badan menurut umur
(TB/U) menurut nilai standar Zscore menggunakan baku antropometri WHO 2005
adalah :
Sangat pendek : Zscore < -3,0
Pendek : Zscore ≥ -3,0 s/d Zscore < -2,0
Normal : Zscore ≥ -2,0
Menurut Kemenkes RI (2010) pengukuran panjang badan atau tinggi badan sangat
penting untuk menentukan status gizi bayi dan balita. Pada kenyataannya ada sebagian
besar kader Posyandu yang tidak melakukan pengukuran ini sehingga kegiatan data
panjang atau tinggi anak tidak tersedia di Puskesmas. Menurut Almatsier et al. (2011) jika
pengukuran dilakukan dengan cara anak dibaringkan maka hasilnya disebut dengan
panjang badan. Jika pengukuran dilakukan dengan posisi anak berdiri maka hasilnya
disebut dengan tinggi badan. Menurut Patterson dan Pietinen (2004) dari semua ukuran
antropometri yang ada, ukuran berat badan dan tinggi/panjang badan memiliki keuntungan
utama bahwa ukuran ini cukup akurat, tidak invasif, dan tidak mahal. Keuntungan lainnya
adalah bahwa pengukuran ini dapat memberikan informasi mengenai riwayat gizi jangka
panjang dan dapat dikerjakan oleh petugas yang relatif tidak terampil.
Kesalahan-kesalahan yang terjadi dalam pemantauan pertumbuhan dapat
mengakibatkan terjadinya kesalahan interpretasi status pertumbuhan anak dan kesalahan
plot pada KMS. Kesalahan interpretasi status pertumbuhan dapat menyebabkan kesalahan
dalam memberikan intervensi kepada bayi atau balita tersebut.