You are on page 1of 25

SEWA GUNA USAHA

(Leasing)

Dirangkum oleh
Dr. Batara M. Simatupang
(Leasing)

Pengertian (SK. Menteri Keuangan)


Sewa Guna Usaha adalah kegiatan pembiayaan dalam
bentuk penyediaan barang modal baik secara sewa guna
usaha dengan hak opsi (finance lease) maupun tanpa hak
opsi (Operating lease) untuk digunakan oleh lessee selama
jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran berkala
 LESSOR: perusahaan sewa guna usaha
 LESSEE: perusahaan yang memanfaatkan jasa Lessor
 SUPPLIER: perusahaan yang menjual barang modal
1. Lessee menghubungi supplier untuk pemilihan dan penentuan jenis barang,
spesifikasi, harga, jangka waktu pengiriman, jaminan purnajual atas barang yang
akan di-lease.
2. Lessee negoasiasi dengan lessor untuk pembiayaan barang modal. Syarat-syarat
pokok pembiayaan leasing antara lain: keterangan barang, cash security deposit,
residual value, asuransi, biaya administrasi, jaminan uang sewa dan persyaratan-
persyaratan lainnya.
3. Lessor mengirimkan letter of offer atau commitment letter kepada lessee yang
berisi syarat-syarat pokok persetujuan lessor untuk membiayai barang modal
yang dibutuhkan lessee tersebut.
4. Penandatanganan kontrak leasing setelah semua persyaratan dipenuhi lessee.
Kontrak leasing mencakup hal-hal antara lain : pihak-pihak yang terlibat, hak
milik, jangka waktu, jasa leasing, opsi bagi lessee, penutupan asuransi, tanggung
jawab atas objek leasing, perpajakan, jadwal pembayaran angsuran sewa dan
sebagainya.
5. Pengiriman order beli kepada supplier disertai instruksi pengiriman barang
kepada lessee sesuai dengan tipe dan spesifikasi barang yang telah disetujui.
6. Pengriman barang dan pengecekan barang oleh lessee sesuai pesanan.
Selanjutnya lessee menandatangani surat tanda terima dan perintah bayar dan
diserahkan kepada supplier
 Independet Leasing Company
Perusahaan leasing yang berdiri semdiri atau tidak
mempunyai hubungan usaha dengan perusahaan supplier.

Pembelian Barang
Supplier Independent
(manufacturer) Pembayaran
Lessor

Kontrak
Angsuran Leasing

Lessee
 Captive Lessor
Perusahaan leasing yang didirikan oleh suppliernya dalam
rangka mendukung peningkatan omzet penjualannya.

Penjualan Barang
Supplier Lessor
(Principal) Pembayaran
(Subsidiary)

Kontrak
Angsuran Leasing

Lessee
 Lease Broker atau Packager
Perusahaan leasing yang kegiatannya mempertemukan
pihak-pihak yang berhubungan dengan pembiayaan leasing

Lessee

Lease
Supplier Lessor
Broker

Pendanaan
 Financial Lease (Sewa guna usaha dengan hak opsi)
 Operating Lease (Sewa guna usaha tanpa hak opsi)
FINANCIAL LEASE
Adalah pembiayaan dimana Lessor sebagai pihak yang
membiayai barang modal, Lessee sebagai pengguna
sewa, atas nama Lessor memilih barang modal,
melakukan pemesanan serta pemeliharaan, dan Lessee
akan melakukan pembayaran angsuran sewa secara
berkala sampai jatuh temponya.

MACAM FIANANCIAL LEASE


 Direct Financial Lease
 Sale Lease Back
 Leverage Lease
 Syndicated Lease
 Cross Border Lease
Direct Financial Lease
Financial lease jenis inilah benar-benar sebagai
pembiayaan leasing
1. Penanda tanganan Lessor
kontrak leasing
2. Penerimaan
pembayan pertama 6 7 5 3
3. Pemesanan Barang
4. Pengiriman barang
modal Perusahaan Supplier
5. Pembayaran lessor Asuransi 1 2 (Dealer)
kepada supplier
8
6. Kontrak penutupan
asuransi
7. Pembayaran premi
asuransi 4
8. Pembayaran
Angsuran leasing
Lessee
Direct Financial Lease

Ciri-Ciri Direct Financial Lease:


 Lessee sebelumnya tidak memiliki barang modal
 Penentuan spesifikasi barang oleh lessee
 Pembelian barang oleh lessor untuk kebutuhan
lessee
 Tujuan mendapatkan pembiayaan untuk
peningkatan kapasitas produksi
SALE AND LEASE BACK
Lessee sengaja menjual barang modalnya kepada
lessor yang kemudian mengadakan kontrak leasing
atas barang modal ybs

Lessor
1. Jual beli brg modal
2 6 2. Penutupan kontrak
asuransi
3. Pembayaran oleh
Perusahaan lessoor
1 3 4 5 7 Asuransi 4. Kontrak leasing
5. Pembayaran
pertama oleh
lessee
6. Pembayaran premi
asuransi
Lessee 7. Pembayaran
angsuran
LEVERAGE LEASE
Jika lessor tidak mampu membiayai sendiri
transaksi leasingnya, kemudian mencari sumber
pendanaan dari lembaga keuangan lain.

Pengikatan jaminan
Lessee Kreditor

Kontak dan
Penagihan
Pembayaran
Penyerahan
Barang

Supplier Lessor
Pembelian barang
SYNDICATED LEASE
Pembiayaan leasing yang dilakukan oleh lebih dari
satu lessor atas suatu objek leasing.
CROSS BORDER LEASE
Transaksi leasing yang dilakukan diluar batas suatu
negara, dimana lessor berkedudukan di negara
berbeda dengan negara lessee
OPERATING LEASE
Leasing dalam bentuk ini adalah Lessor sengaja membeli
yang selanjutnya di-LEASE-kan kepada Lessee yang
membutuhkan

 Barang modalnya berharga sangat mahal.


 Pemakaian hanya sementara.

Ciri-ciri:
1. Periode leasing jangka pendek
2. Lessor menanggung segala risiko ekonomis atas brg
modal
3. Lessee akan membayar secara berkala sewa leasing
4. Pada akhir kontrak barang modal dikembalikan kpd lessor
5. Lessee dapat membatalkan perjanjian kontrak sewaktu-
waktu
PERBEDAAN LEASING DENGAN LAINNYA
Metode Pembiayaan
Penjelasan
Leasing Sewa Beli Sewa Menyewa Kredit Bank

Jenis Barang Barang Barang Brg Bergerak Semua jenis


bergerak/tidak Begerak perlu investasi
Bergerak pemeliharaan

Penyewa/Pem- Perusahaan/per Perusahaan/per Perusahaan/per Perusahaan/Per


beli orangan orangan orangan orangan

Bentuk Perush Badan Hukum Supplier Supplier Bank

Pemilikan Perusahaan Pemilik Barang Pemilik Barang Debitur


Barang Leasing

Jangka Waktu Menengah Pendek Pendek/mene- Pendek/Mene-


ngah ngah/panjang
Besarnya
Pembiayaan 100% 80% Lebih rendah 80%

Biaya Bunga Bunga+margin Tinggi Bunga+margin Interbank rate +


spread
Akhir Kontrak Membeli Barang menjadi Barang kembali Kredit Lunas
Meneruskan milik penyewa pada pemilik Jaminan
Menghentikan kembali
PEMBAYARAN ANGSURAN LEASING
 Payment in Advance (pembayaran dimuka)
Pembayaran angsuran pertama dilakukan pada awal
perjanjian kontrak leasing atau pada awal periode
angsuran
 Payment in Arrears (pembayaran dibelakang)
Pembayaran angsuran pertama dilakukan pada akhir
periode angsuran.

FAKTOR YG MEMPENGARUHI BESARNYA ANGSURAN


1. Nilai Barang Modal
2. Simpanan Jaminan
3. Nilai Sisa
4. Jangka Waktu
5. Tingkat Bunga
CONTOH
 Nilai barang modal Rp 200.000.000,-
 Nilai Sisa Rp 20.000.000,-
 Simpanan Jaminan = 10% x Rp 200.000.000,- = Rp 20.000.000,-
 Tingkat bunga 24% (2% per bulan)
 Jangka waktu 12 bulan

PEMBAYARAN DI MUKA

{(Nb – Ns)(1 + i)n-1 } i


S = ----------------------------
(1 + i)n – 1
dimana
S = Besarnya angsuran
Nb = Nilai barang modal
Ns = Nilai sisa
i = Tingkat Bunga
n = Jumlah periode angsuran
PEMBAYARAN DIBELAKANG

{(Nb – Ns)(1 + i)n } i


S = ----------------------------
(1 + i)n – 1

CONTOH 2
PT. ABISOKA akan mengambilpembiayaan leasing, nilai
barang modal yangdiajukan Rp 400juta, nilai sisa Rp 50juta,
bunga sebesar 21% per tahun, dengan jangka waktu 3 tahun
dengan periode pembayaran kwartalan.
Hitunglah besarnya sewa, jika menggunakan metode:
a. Payment in Advance
b. Payment in Arrears
PERHITUNGAN BUNGA
 Simple interest Rate
Suku bunga dihitung dengan cara membagi tungkat bunga
setahun dengan jumlah periode pembayaran setahun
Misalnya bunga per tahun 24%, maka jika
Bulanan  24% : 12 = 2%
Kwartalan  24% : 4 = 6%
Semesteran  24% : 2 = 12%

 Compound Interest rate


Sistem perhitungan bunga berbunga

C = (1 + i)n – 1
dimana
C = tingkat bunga per periode
i = bunga perbulan
n = Jumlah bulan dalam periode angsuran
SOAL
PT. ANDALAS mengajukan pembiayaan leasing kepada
REMACO Leasing. Nilai barang modalnya Rp 500juta, disepakati
nilai sisa Rp 100juta, jaminan 10% dan bunga pertahun 18%
compound interest rate. Jangka waktu 3 tahun dengan angsuran
kwartalan. Hitunglah besarnya ngsuran sewa jika menggunakan
metode:
- Payment in advance
- Payment in arrears

BERAPA ANGSURAN SEWANYA JIKA BUNGANYA SIMPLE


INTEREST RATE???
Contoh Manajemen Risiko Mandiri Utama Finance (MUF)

Manajemen MUF telah menyusun kerangka kerja manajemen risiko yang


mencakup sistem dan kebijakan yang mengelola risiko guna mendukung
kesehatan dan pencapaian pertumbuhan perseroan, kepatuhan terhadap
ketentuan perundang-undangan, pengembangan sumber daya manusia
serta pengembangan budaya perusahaan.

Kerangka kerja yang berupa Panduan Penerapan Manajemen Risiko yang


disusun mengatur :
1.Organisasi dan Kewenangan (Dewan Komisaris dan Direksi)
2.Kebijakan dan Prosedur Penerapan Manajemen Risiko
3.Identifikasi, Pengukuran, Pemantauan dan Pengendalian Risiko
4.Sistem Pengendalian Intern yang Menyeluruh
5.Penerapan Manajemen Risiko untuk Masing-masing Risiko
6.Penilaian Penerapan Manajemen Risiko (Self Assesment)
7.Serta Penilaian Tingkat Risiko
No Jenis Risiko Penjelasan Objektif
1 Risiko Strategi Bersumber dari strategi yang dimiliki dan Meminimalkan kemungkinan terjadinya
dijalankan Perusahaan tidak sesuai Risiko Strategi yang berdampak pada
dengan kondisi lingkungannya, kebijakan bisnis Perusahaan
Perusahaan yang diterapkan tidak sesuai
dengan posisi strategis Perusahaan.
2 Risiko Operasional Sumber Risiko Operasional adalah Meminimalkan kemungkinan dampak
struktur organisasi, SDM, volume, dan negatif akibat ketidaklayakan atau
beban kerja yang dimiliki, tingkat kegagalan proses internal, manusia,
kompleksitas Perusahaan yang tinggi, sistem teknologi informasi, dan/atau
sistem dan teknologi informasi tidak adanya kejadian yang berasal dari luar
memadai, Perusahaan memiliki lingkungan Perusahaan sehingga
kecurangan dan permasalahan hukum, menimbulkan kegagalan dalam
adanya gangguan terhadap bisnis merealisasikan kegiatan/bisnis
Perusahaan. perusahan.
3 Risiko Aset dan Bersumber dari pengelolaan aset Untuk memastikan bahwa Perusahaan
Liabilitas dilakukan dengan tidak baik, pengelolaan mengelola aset dan mengelola
liabilitas dilakukan dengan tidak baik, liabilitasnya dengan baik sehingga
kesesuaian Aset dan Liabilitas tidak tidak menimbulkan kekurangan dana
memadai. dalam pemenuhan kewajiban
Perusahaan.
No Jenis Risiko Penjelasan Objektif
4 Risiko Sumber Risiko Kepengurusan antara lain Memastikan bahwa Perusahaan
Kepengurusan adalah penunjukan dan pemberhentian memelihara komposisi terbaik Direksi
Direksi dan Dewan Komisaris yang tidak dan Dewan Komisaris yang memiliki
memadai, komposisi dan proporsi Direksi kompetensi dan integritas yang tinggi
dan Dewan Komisaris yang tidak sehingga Perusahaan terhindar dari
mencukupi dan tidak sesuai dengan kegagalan dalam mencapai tujuannya.
kebutuhan Perusahaan, kompetensi dan
integritas Direksi dan Dewan Komisaris
tidak memadai dan tidak menunjang
tugas dan wewenang Direksi dan Dewan
Komisaris, serta kepemimpinan Direksi
dan Dewan Komisaris tidak baik.
5 Risiko Tata Kelola Sumber pada Risiko Tata Kelola meliputi Meminimalkan risiko tidak
Pedoman Tata Kelola yang dimiliki terlaksananya tata kelola yang baik di
Perusahaan tidak memadai, Perusahaan Perusahaan.
tidak menerapkan prinsip tata kelola
yang baik, dan Perusahaan tidak
menerapkan Manajemen Risiko secara
memadai.
6 Risiko Dukungan Bersumber dari kemampuan pendanaan Memastikan bahwa proses
Dana (Permodalan) (permodalan) yang rendah dan Manajemen Risiko dapat
tambahan pendanaan (permodalan) meminimalkan kemungkinan
yang lemah Perusahaan memiliki kemampuan
pendanaan yang lemah dan tambahan
pendanaan yang rendah sehingga
Perusahaan tidak dapat menyerap
kerugian tak terduga.
No Jenis Risiko Penjelasan Objektif
7 Risiko Pembiayaan Sumber Risiko Pembiayaan adalah Meminimalkan kemungkinan terjadinya
komposisi portofolio piutang pembiayaan kegagalan debitur dan/atau pihak lain
dan tingkat konsentrasi yang tinggi, dalam memenuhi kewajiban kepada
strategi penyaluran pembiayaan yang Perusahaan.
tidak memadai, kualitas piutang
pembiayaan rendah, kecukupan
pencadangan yang dilakukan
Perusahaan tidak memadai, dan adanya
faktor eksternal yang dapat berdampak
pada kemampuan debitur dalam
memenuhi kewajibannya.
Sumber: https://www.muf.co.id/pedoman-manajemen-resiko/