BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Ringkasan Eksekutif Hasil Pemeriksaan Kontraktor PSC PT Chevron Pacific Indonesia Badan

Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia telah memeriksa lifting, biaya yang dapat diganti (cost recovery) dan alokasi biaya overhead kantor pusat luar negeri (overhead allocation) pada Kontraktor PSC PT Chevron Pacific Indonesia (PT CPI) tahun buku 2004 dan 2005 (Smt I). Pemeriksaan didasarkan pada Surat Tugas Anggota/Pembina Auditama Keuangan Negara V (BUMN) No. 83/ST/VII-XV.1/11/2005 tanggal 16 November 2005, Surat Tugas Anggota/Pembina Auditama Keuangan Negara V (BUMN) No. 89 /ST/VII-XV.1/11/2005 tanggal 17 Nopember 2005 dan Surat Tugas Anggota/Pembina Auditama Keuangan Negara V (BUMN) No. 98/ST/VIIXV.1/12/2005 tanggal 22 Desember 2005. Pemeriksaan bertujuan untuk menilai kewajaran lifting dan cost recovery serta alokasi biaya overhead kantor pusat luar negeri (Home Office/Chevron Corp.) pada PT CPI Blok Rokan, Siak dan MFK tahun buku 2004 dan 2005 (s.d semester I) Jumlah lifting minyak mentah Blok Rokan, Siak dan MFK tahun 2004 masing-masing adalah sebesar 163.309 MBBLS, 956 MBBLS, dan 177 MBBLS. Sedangkan untuk tahun 2005 (Semester I) masing-masing adalah sebesar 37.690 MBBLS, 221MBBLS dan 44 MBBLS. Jumlah biaya yang dapat diganti (cost recovery) Blok Rokan, Siak dan MFK untuk tahun 2004 masing-masing adalah sebesar US$994,904 ribu, US$7,627 ribu , dan US$1,602 ribu. Sedangkan untuk tahun 2005 masing-masing adalah sebesar US$192,064 ribu, US$1,218 ribu dan US$323 ribu. Pemeriksaan menghasilkan temuan pemeriksaan yang berhubungan dengan pengendalian intern, lifting, cost recovery dan alokasi biaya overhead kantor pusat luar negeri dengan rincian sebagai berikut: A. 3 (tiga) temuan yang berhubungan dengan pengendalian intern, yaitu: 1. Pengendalian intern atas proses lifting yang dilakukan di Dumai Pump Station kurang memadai. 2. Kelemahan pada pengendalian internal yang ada di PT Chevron Pacific Indonesia (PT CPI) dan Badan Pengelola Hulu Minyak dan Gas Bumi (BPMigas) mengakibatkan cost recovery dan lifting antara Pemerintah dan PT CPI tidak dapat diyakini kewajarannya. 3. Terdapat keterlambatan pengajuan perpanjangan Ijin Memperkerjakan Tenaga Kerja Asing (IMTA) Ketiga temuan tersebut di atas menunjukkan adanya kelemahan sistem pengendalian intern yang dapat mempengaruhi kewajaran lifting dan cost recovery. Kelemahan pengendalian intern ini tidak saja disebabkan oleh PT CPI sebagai Kontraktor PSC, namun juga oleh BPMigas sebagai pelaksana utama atas pengawasan kegiatan
BPK-RI i KKKS PT Chevron Pacific Indonesia

perminyakan di Indonesia. Adapun kelemahan sistem pengendalian intern pada PT CPI dan BPMigas yang akan berpengaruh terhadap kewajaran lifting dan cost recovery adalah sebagai berikut: a. Pada kegiatan lifting, stock opname atas besarnya persediaan minyak pada pipa tidak pernah dilakukan, pembukaan segel dan proses lifting dilakukan tanpa disaksikan oleh pihak Bea Cukai dan BPMigas dan pencatatan nilai lifting bagian kontraktor oleh PT CPI tidak menggunakan nilai penjualan yang sebenarnya. b. PT CPI dalam melaksanakan proses PIS tidak sepenuhnya melakukan evaluasi yang memadai mengenai kesiapan aset untuk dioperasikan, terbukti dengan adanya beberapa aset yang telah di PIS, ternyata sebagian diantaranya merupakan aset yang tidak/belum bermanfaat. c. Terdapat beberapa AFE yang biayanya telah melebihi anggaran di atas 10% dan sampai dengan 31 Desember 2005 belum dilaporkan ke BPMigas dan terdapat beberapa AFE close out yang telah dilaporkan ke BPMigas, namun belum mendapat persetujuan dari BPMigas. d. Terdapat beberapa kelompok material yang pengadaannya tidak mempertimbangkan kebutuhan penggunaannya sehingga material tersebut menjadi slow moving dan diusulkan untuk dihapuskan. Selain itu, juga terdapat material yang diterima tidak sesuai pesanan sehingga tidak dapat digunakan serta material yang dinilai nol karena sudah dibebankan ke dalam suatu proyek meskipun material tersebut tidak digunakan untuk proyek tersebut. e. Terdapat beberapa kelompok biaya yang tidak berhubungan dengan operasi PT CPI, namun dibebankan ke cost recovery seperti bantuan biaya operasional Sekolah Cendana, bantuan Biaya operasional International School, Pembangunan Politechnic Caltex Riau dan biaya-biaya Community Development dan Community Relationship (CDCR). Kelompok biaya tersebut dianggarkan dalam Work Program and Budget (WP&B) dan telah disetujui oleh BPMigas. f. Terdapat keterlambatan penagihan biaya technical services dari Home Office yang melewati periode berjalan, rate technical services yang ditetapkan bukan merupakan rate yang menguntungkan dan tidak adanya kewajiban pimpinan proyek untuk mencatat time sheet sehingga tidak diketahui berapa lama konsultan bekerja.

g. Terdapat verifikasi tagihan atas transaksi related parties yang tidak dapat dilakukan secara bebas, tidak adanya jaminan atas kewajaran rate yang ada dan tidak terdapatnya analisa yang memadai atas perlu tidaknya pengadaan jasa pada related parties. B. 12 (dua belas) temuan yang berkaitan dengan cost recovery dengan rincian sebagai berikut: 1. Proyek Modifikasi Stasiun Pengumpul (Gathering Station Modifikation) dengan total biaya US$33,979.92 ribu tidak memberikan manfaat yang menguntungkan bagi kegiatan operasional PT CPI. 2. Terdapat Overrun Authorization For Expenditure Closed Out (AFE CO) PT. Chevron Pasific Indonesia (PT CPI) sebesar US$75,887.04 ribu dan telah diperhitungkan pada cost recovery, serta terdapat overrun AFE yang belum di-closed out sebesar US$5,718.22 ribu yang telah diselesaikan pelaksanaannya tanpa persetujuan BPMigas terlebih dahulu. 3. Material senilai US$18,916,99 ribu tidak memberikan manfaat bagi PT CPI namun telah dibebankan sebagai cost recovery.

BPK-RI

ii

KKKS PT Chevron Pacific Indonesia

4. Pelaksanaan Authorization For Expenditure (AFE) No.00-2112 untuk proyek Polytechnic Caltex Riau PCR) membebani cost recovery sebesar US$6,563.16 ribu 5. Biaya listrik dan steam yang dimintakan kembali ke Pemerintah sejak PT CPI melakukan kerja sama dengan PT MCTN diragukan kewajarannya dan mengakibatkan kerugian bagi Pemerintah sebesar US$210,000.00 ribu serta berpotensi merugikan negara sebesar US$1,233,319.10 ribu. 6. Pelaksanaan pekerjaan Waste Gas Disposal System Facility tidak mencapai tujuan dan membebani cost recovery sebesar US$5,036.57 ribu 7. Biaya operasi berupa school cost (dependent) selama tahun 2004 dan 2005 (s.d kuartal II) sebesar US$6,285.72 ribu dan sumbangan pada International School sebesar US$5,938.26 ribu tidak dapat dibebankan sebagai cost recovery PT CPI. 8. Pengeluaran dana melalui akun biaya Community Development (CD) dan Community Relationship (CR) membebani cost recovery tahun 2004 dan tahun 2005 masing-masing sebesar US$1,543.72 ribu dan US$1,471.78 ribu. 9. Terdapat interest recovery yang seharusnya tidak dibebankan sebagai cost recovery PT CPI tahun 2004 dan 2005 (s.d kuartal II) sebesar US$4,965.72 ribu. 10. Terdapat pembayaran upah pokok petugas security yang tidak sesuai dengan perjanjian 11. Terdapat beberapa material berdasarkan kontrak pengadaan material OP-1583 pada PT National Oil Well senilai US$133,36 ribu belum diterima secara lengkap, namun telah dibayar dan telah dicatat sebagai biaya operasi PT CPI yang di-recovery Pemerintah. 12. Pemerintah RI dan PT CPI mengalami kerugian pada tahun 2004 masing-masing sebesar US$4,217,883.72 dan US$5,623,844.97 atas transaksi pertukaran Duri Crude dengan Gas ConocoPhillips melalui Perjanjian PTEA C. Terdapat 1 (satu) temuan yang berkaitan dengan alokasi biaya overhead kantor pusat luar negeri, yaitu: Alokasi PCO pada tahun 2004 dan 2005 (Juni) masing-masing sebesar US$10,897.22 ribu dan US$5,014.654 ribu belum sepenuhnya dapat diyakini kewajarannya D. Simpulan Pemeriksaan Beberapa temuan pemeriksaan masih perlu dibahas lebih lanjut dengan Badan Pengelola Minyak dan Gas (BPMigas) karena PT CPI, melalui tanggapannya, masih berkeberatan dengan temuan-temuan pemeriksaan BPK-RI. Hal ini terjadi karena adanya beberapa ketentuan baik dalam Kontrak Kerja Sama (Production Sharing Contract/PSC) maupun buku pedoman dan kebijakan-kebijakan BPMigas yang masih belum jelas penerapannya, terutama mengenai batasan-batasan biaya-biaya yang boleh dan yang tidak boleh di-cost recovery-kan ke Pemerintah. Selain itu masih lemahnya pengawasan dan pembinaan serta evaluasi yang dilakukan BPMigas terhadap kontraktor terutama yang berkaitan dengan pengawasan atas proses dan hasil pembangunan proyek-proyek dengan teknologi perminyakan yang baru yang mengakibatkan tingginya cost recovery walaupun efektivitasnya diragukan. Oleh karena itu, dari hasil pemeriksaan dan pembahasan temuan, dapat disimpulkan bahwa lifting dan cost rescovery serta pembebanan overhead home office, untuk beberapa pos diragukan kewajarannya. Berdasarkan hasil pemeriksaan yang ringkasannya telah diuraikan di atas, secara ringkas BPK RI menarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Secara umum proses lifting dan cost recovery telah berjalan dengan baik, namun kami menganggap masih perlu dilakukan perbaikan di beberapa aspek. Masalah utama yang
BPK-RI iii KKKS PT Chevron Pacific Indonesia

2. Rekomendasi BPK-RI merekomendasikan agar: 1. Widodo. BPMigas lebih memperkuat pengawasan dan pengendalian serta evaluasi atas kegiatan kontraktor untuk menjaga kepentingan negara dengan merancang dan melaksanakan sistem pengendalian yang lebih baik secara konsisten. Ak NIP 240001665 BPK-RI iv KKKS PT Chevron Pacific Indonesia . H. E. yaitu: belum ada ketentuan yang memuat daftar biaya-biaya yang tidak dapat di-cost recovery-kan sehingga pihak kontraktor menganggap semua biaya dapat di-cost recovery-kan meskipun biaya-biaya tersebut tidak terkait langsung dengan kegiatan operasi perminyakan kontraktor. 4. Pengawasan atas pelaksanaan PSC yang dilakukan pleh BPMigas tidak sepenuhnya berjalan dengan baik. sifatnya masih terlalu umum dan kurang mendetail sehingga memunculkan banyak penafsiran. PSC dan aturan-aturan terkait dengan cost recovery yang berlaku di Indonesia. Terhadap mereka yang lalai baik dari sisi BPMigas maupun PT CPI sehingga menimbulkan kesalahan perhitungan cost recovery dan mengakibatkan kerugian negara atas biaya yang telah dibayar Pemerintah perlu dimintakan pertanggungjawabannya. Mumpuni. BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Penanggung Jawab Pemeriksa Drs. 4. BPMigas mengkaji ulang ketentuan-ketentuan yang telah berlaku baik pada PSC maupun buku pedoman dan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan BPMigas untuk mendapatkan ketentuan yang lebih jelas mengenai batasan-batasan dari biaya-biaya yang boleh di cost recovery. 3. Tidak adanya ketentuan yang mengatur sanksi bagi kontraktor yang secara sengaja melanggar ketentuan yang berlaku.kami anggap penting adalah pengendalian internal yang dimiliki oleh BPMigas selaku wakil pemerintah dan PT CPI selaku kontraktor masih belum sepenuhnya berjalan dengan baik. J. BPMigas dan PT CPI mengkaji ulang atas kegiatan-kegiatan yang sudah dilakukan oleh PT CPI yang telah dan akan berpotensi merugikan negara di waktu yang akan datang. serta masih memiliki kelemahan. MBA. 3. 2.

fungsi dan kegiatan Kontraktor PSC PT Chevron Pasific Indonesia. Lingkup Pemeriksaan Lingkup pemeriksaan meliputi pemeriksaan atas: 1. 2.1/11/2005 tanggal 16 Nopember 2005. Melakukan pengujian terhadap sistem pengendalian intern dari masing-masing bidang yang dipemeriksaan dengan pendekatan pada tugas. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1973 tentang Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia. 4. Waktu Pelaksanaan Pemeriksaan Pemeriksaan dilaksanakan mulai tanggal 19 Desember 2005 s.1/12/2005 tanggal 22 Desember 2005. E. Dasar Hukum Pemeriksaan 1.BAB I PENDAHULUAN A. 3. Melakukan pengujian substantif terhadap transaksi dan bukti-bukti. Metodologi Pemeriksaan Dalam melaksanakan pemeriksaan ini. D. Pembebanan biaya home office. Prosedur pemeriksaan lain yang diperlukan. Standar Pemeriksaan Standar pemeriksaan yang digunakan dalam pemeriksaan ini adalah Standar Audit Pemerintahan (SAP). Pengujian fisik secara uji petik dengan pemilihan sampel yang selektif. Entitas yang Diperiksa Entitas yang diperiksa adalah Kontraktor PSC PT Chevron Pasific Indonesia. 4. 3. 3. Surat Tugas BPK-RI No. metode pemeriksaan yang dilakukan adalah: 1. B. Siak dan MFK tahun buku 2004 dan 2005 (s. 2. 4. Volume dan nilai lifting minyak mentah tahun 2004 dan 2005 (Smt I). G.d semester I). Surat Tugas BPK-RI No. C. Tujuan Pemeriksaan Pemeriksaan pada entitas tersebut bertujuan untuk menilai kewajaran atas lifting dan cost recovery pada PT CPI Blok Rokan. Volume dan nilai produksi minyak mentah tahun 2004 dan 2005 (Smt I) 2. BPK-RI -1- PT Chevron Pacific Indonesia . 98/ST/VII-XV. 83/ST/VII-XV. F. 89 /ST/VII-XV. Biaya yang dimintakan penggantian (cost recovery).d 17 Maret 2006. Surat Tugas BPK-RI No.1/11/2005 tanggal 17 Nopember 2005.

Hambatan Pemeriksaan 1. BPK-RI -2- PT Chevron Pacific Indonesia .H. Keterbatasan data dan informasi yang tersedia serta keterbatasan waktu pelaksanaan pemeriksaan.

BAB II GAMBARAN UMUM

A. Hubungan antara BPMigas dengan Kontraktor PSC UU No.22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, pasal 41 ayat (2) menyatakan bahwa pengawasan pelaksanaan Kegiatan Usaha Hulu berdasarkan Production Sharing Contract (PSC) dilaksanakan oleh Badan Pelaksana. Badan Pelaksana adalah suatu badan yang dibentuk dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 42 tahun 2002 untuk melakukan pengendalian Kegiatan Usaha Hulu di bidang Minyak dan Gas Bumi. Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (BPMigas) adalah kepanjangan Pemerintah sebagai pemegang Kuasa Pertambangan. Dalam melaksanakan fungsi dan wewenangnya, BPMigas mempunyai tugas: 1. Memberikan pertimbangan kepada Menteri atas kebijaksanaannya dalam hal penyiapan dan penawaran Wilayah Kerja serta PSC; 2. Melaksanakan penandatanganan PSC; 3. Mengkaji dan meyampaikan rencana pengembangan lapangan selain sebagaimana dimaksud dalam huruf c; 4. Memberikan persetujuan rencana kerja dan anggaran; 5. Melaksanakan monitoring dan melaporkan kepada Menteri mengenai pelaksanaan PSC; 6. Menunjuk penjual Minyak Bumi dan/atau Gas Bumi bagian negara yang dapat memberikan keuntungan sebesar-besarnya bagi negara Sesuai dengan PP No.42/2002, kesepakatan kerjasama dalam bentuk PSC dalam sektor Minyak dan Gas dibuat antara BPMigas dan Kontraktor. Dalam PSC disebutkan bahwa BPMigas memiliki dan bertanggung jawab atas managemen operasi perminyakan, namun bagaimanapun, BPMigas akan membantu dan berkonsultasi dengan Kontraktor dengan pandangan bahwa dalam kenyataannya Kontraktor bertanggung jawab terhadap Work Program. B. Perkembangan PT Chevron Pacific Indonesia PT Chevron Pacific Indonesia (PT CPI) adalah perusahaan eksplorasi dan produksi minyak dan gas (migas). CPI yang sebelumnya dikenal dengan nama PT Caltex Pacific Indonesia beroperasi dibawah perjanjian PSC dengan Pemerintah Indonesia yang diwakili oleh BPMigas (Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas), sehingga PT CPI disebut Kontraktor PSC. Sejarah PT CPI berawal dari tahun 1924, ketika Tim Geologi dari Standard Oil of California (Socal) sampai di Pulau Sumatera. Tahun 1936, Socal bersama Texaco mendirikan Caltex. Tahun 1963, perusahaan cikal bakal PT CPI yang beroperasi pada masa sebelum dan setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia resmi menjadi PT. Caltex Pasific Indonesia. Socal kemudian berubah menjadi Chevron. Tahun 2001, Chevron dan Texaco bergabung
BPK-RI -3PT Chevron Pacific Indonesia

menjadi ChevronTexaco dan menjadi salah satu perusahaan energi terbesar di dunia. Bulan Mei 2005, ChevronTexaco berganti nama menjadi Chevron Corporation. Chevron memiliki unit bisnis di lebih dari 180 negara dan didukung oleh sekitar 47.000 karyawan di seluruh dunia. Saat ini, PT CPI bertindak sebagai kontraktor dari tiga PSC di Sumatera, yaitu PSC Rokan, PSC C&T Siak dan PSC C&T MFK. PSC Rokan merupakan Production Sharing Contract antara Pertamina dengan PT CPI tanggal 9 Agustus 1971 yang diamandemen berdasarkan persetujuan Menteri Pertambangan tanggal 24 Desember 1983 dan tanggal 15 Oktober 1992. PT CPI memperoleh hak kuasa pertambangan minyak dan gas bumi di daerah Sumatera Bagian Tengah (Rokan Block) lebih kurang seluas 9.898 km2. Kontrak awal berlangsung sampai dengan 8 Agustus 2002, dan perpanjangan kontrak berlaku untuk waktu 20 tahun (s.d. 8 Agustus 2021). Area yang tersisa setelah dilakukan penyerahan 35% dari area kontrak awal adalah 65% dari area kontrak dan tidak boleh melebihi 6.433 km2. PSC C&T Siak merupakan Production Sharing Contract antara Pertamina, Chevron Siak Inc dan Texaco. Inc tanggal 28 Maret 1991. C&T Siak memperoleh hak kuasa minyak dan gas bumi di daerah Siak Block yang meliputi area eksplorasi seluas 8,314 km2. Sedangkan PSC C&T MFK merupakan Production Sharing Contract antara Pertamina dengan California Asiatic Oil Company (Calasiatic) dan Texaco Overseas Petroleum Company (Topco) (C&T) tanggal 20 Januari 1975 yang diamandemen tanggal 21 Desember 1978 dan 28 Januari 1980. C&T MF Kuantan memperoleh hak kuasa minyak dan gas bumi di daerah Mountain Front & Kuantan (MFK) Block yang terletak di Kabupaten Rokan Hulu meliputi area eksplorasi seluas 6.865 km2, yaitu di Mountain Front Block seluas 805 km2 dan Kuantan Block seluas 6.060 km2 yang berlangsung sampai dengan 20 Januari 2005. C. Wilayah Kerja PSC Rokan dioperasikan PT CPI di 3 (tiga) lapangan minyak utama, yaitu: Duri, Minas dan Bekasap. Lapangan Duri memproduksi minyak bumi yang terkenal dengan nama Duri Crude. Lapangan Duri ditemukan tahun 1941 dan mulai berproduksi tahun 1958. Lapangan Minas merupakan lapangan minyak terluas yang pernah ditemukan di Asia Tenggara. Ditemukan pada tahun 1941 dan mulai berproduksi tahun 1952. Minas menghasilkan jenis minyak bumi yang terkenal di dunia, yaitu Sumatran Light Crude (SLC). Lapangan Bekasap memiliki sejumlah lapangan minyak kecil produktif yang memproduksi light crude. PSC C&T Siak dioperasikan di lapangan Siak dan memproduksi minyak bumi SLC. Sedangkan PSC MFK diopersikan di lapangan Kuantan dan memproduksi minyak bumi SLC. D. Struktur Organisasi PT Chevron Pacific Indonesia (PT CPI) merupakan anak perusahaan Chevron-San Ramon, Texaco, dan American Overseas Petroleum Ltd., (AOPL) yang berkedudukan di Houston, Amerika. American Overseas Petroleum Ltd., (AOPL) adalah Kantor Pusat (Home Office) dari PT CPI, yang dibentuk oleh pemegang saham, Chevron-San Ramon dan Texaco Inc. Houston, untuk mengawasi atau mengendalikan operasi PT CPI di Indonesia. Kegiatan operasi PT CPI di
BPK-RI -4PT Chevron Pacific Indonesia

Indonesia sampai dengan tahun 2005 adalah PT CPI Rokan-PS, C&T MF-Kuantan, dan C&T Siak. Dalam melaksanakan kegiatannya PT CPI dipimpin oleh President & Chairman of the Managing Board yang berkedudukan di Jakarta dan dibantu oleh Executive Vice President dan Managing Director yang berkedudukan di Rumbai, Pekanbaru Riau. • President & Chairman of the Managing Board membawahi Managing Director, Sr. VP. Jakarta, VP. Corp. Finance and Treasury, Sr.VP. Sumatera, General Counsel, Manager Corp. Communication, Manager Corp. Relations, dan Manager Internal Audit. Sr.Vice President Jakarta membawahi GM Eksplorations, Manager New Ventures, GM NOJV, GM Amoseas, Manager Jakarta General Services, dan GM Special Project. Managing Director membawahi Sr.VP. Sumatera, GM. External Affairs, VP. Corp. Human Resources, VP. Corp. Human Resources, Manager Corp. HES., dan Manager Corp.Quality, Plan & Budget. Sr.VP Sumatera membawahi Manager Power Gen & Transmision, Manager Technology Support, Manager Drilling, GM Procurrement, VP. Operations Minas SBU, VP. Operations Duri SBU, VP. Operations Bekasap SBU, dan VP Operation Support.

• •

Susunan manajemen PT CPI adalah sebagai berikut: (1) President Director (2) Executive Secretary (3) SR VP Bussn. Develop. & Merger Intrgr (4) Chief Counsel & Land (5) Mgr. Planning & Reserves (6) Executive Director (7) GM. Human Resources (8) GM. Finance : Suwito Anggoro : Liana Indriati W : Open Position : Robinar DJ. : I Nyoman Pujana : Nelson, Frederick Dan : Nurbaity A.W. : Rasfuldi

Struktur organisasi PT CPI-Rokan Block menjadi satu dengan struktur organisasi C&T MFKuantan, dan C&T Siak. E. KEGIATAN USAHA 1. Produksi dan Lifting a) PT CPI-Rokan PS Sampai tahun 2004 minyak/kondensat dan gas yang dihasilkan berasal dari 6.178 sumur yang terletak di 81 lapangan. Minyak/kondensat yang dihasilkan sampai tahun 2004 adalah sebanyak 162.994.000 barrel dengan produksi rata-rata per hari 445.000 barrel, sedangkan gas mulai diproduksi secara komersial pada tahun 1998 yang sampai tahun 2004 telah menghasilkan gas sebanyak 31.137.000 MCF dengan perincian sebagai berikut:

BPK-RI

-5-

PT Chevron Pacific Indonesia

690 (MBBLS) % (MBBLS) (MBBLS) (1. Adapun data produksi dan lifting PSC ini adalah sebagai berikut: Tahun 2005 No Uraian Anggaran Realisasi Tahun 2004 Selisih Anggaran Realisasi Selisih (MBBLS) (MBBLS) a) (1) (2) b) (1) (2) Crude & Condensate .Produksi .Produksi .lifting Gas .lifting 0 0 221 221 210 210 100.309 7.248 162.000 barrel dengan produksi rata-rata per hari 2.452 38.lifting 0 0 0 0 38.00% 0 0 (MBBLS) % (MBBLS) % (11) (5) (11) (5) 882 757 957 956 21 199 13 26 0 0 - 0 0 0 0 0 0 - c) PT CPI-C&T MF-Kuantan PS Sampai tahun 2004.000 barrel. minyak/kondensat dan gas yang dihasilkan berasal dari 47 sumur yang terletak di 9 lapangan.137 0 0 3.746 1.Produksi .362 31.840 37.lifting Gas .Produksi . sedangkan gas belum diproduksi secara komersial.Tahun 2005 No Uraian Anggaran Realisasi Tahun 2004 Selisih Anggaran Realisasi Selisih % (MBBLS) 1) a) (1) (2) b) (1) (2) PT CPI-Rokan Crude & Condensate . minyak/kondensat dan gas yang dihasilkan berasal dari 23 sumur yang terletak di 1 lapangan. Minyak/kondensat yang dihasilkan sampai tahun 2004 adalah sebanyak 956.807 5 1 0 0 - 27.150) (3) 161. sedangkan gas belum diproduksi secara komersial.994 (1.000 barrel. Adapun data produksi dan lifting dari PSC ini adalah sebagai berikut: BPK-RI -6- PT Chevron Pacific Indonesia .502 163.388) (4) 155.775 0 14 - b) PT CPI-C&T Siak PS Pada tahun 2004.840 37. Minyak/kondensat yang dihasilkan tahun 2004 adalah sebanyak 177.

sedangkan depreciation expense merupakan penggantian atas pengadaan barang dan pemborongan pekerjaan dari tahun-tahun lalu dan tahun sekarang.lifting 0 0 43 43 44 44 (MBBLS) % (MBBLS) % 1 1 2 2 156 156 177 177 21 21 13 13 0 0 - 0 0 0 0 0 0 - 2. meliputi: operating cost dan depreciation expense.Produksi .lifting Gas .904 ribu dan US$ 213.Tahun 2005 No Uraian Anggaran Realisasi Tahun 2004 Selisih Anggaran Realisasi Selisih (MBBLS) (MBBLS) a) (1) (2) b) (1) (2) Crude & Condensate . Operating cost diganti dengan bagian dari lifting pada tahun terjadinya. Adapun data cost recovery tahun 2004 dan 2005 (semester I) untuk ketiga PSC adalah sebagai berikut: a) PSC Rokan Jumlah cost recovery untuk PSC Rokan tahun 2004 dan 2005 (semester I) masing-masing sebesar US$ 994.Produksi . Cost Recovery Cost yang dapat di-recover.906 ribu dengan perincian sebagai berikut: BPK-RI -7- PT Chevron Pacific Indonesia .

105 11.603 191.08% 81.064 (21.083 5.18% (99) -32.016) -20.656 549.953 (152) -1.81% 213.743) -10.664) -22.476 22.223 (6.123) -3.062) -10.095) (143) -3.74% b) PT CPI – C&T Siak Block Jumlah cost recovery untuk PSC Rokan tahun 2004 dan 2005 (semester I) masing-masing sebesar US$7.710 (27.860 303 204 (21.21% 994.105 947.(dalam ribu US$) 2005 (kuartal I) 2004 Uraian 1 Cost Recovery Unrecovered Other Cost Operating Cost : Exploration and Development Production General & Administration Total Operating Cost Depr Prior Year Asset Depr Current Year Asset Total Cost Recovery Investment Credit Total Recoverables Angg Real 2 3 Selisih 4=3-2 % 5=4/2 Angg 6 Real 7 Selisih 8=7-6 % 9=8/6 - - - - - - - - 22.923 129.799 10.26% 103.894 78.537 144.51% 29.39% 12.61% 117.86% -0.18% 131.771 (3.77% -1.594) -3.697 614 12.812 (6.765 (27.693) -8.867 106.465) (3.842) -10.016 21.704 9.627 ribu dan US$1.044 163.861 (479) -2.601 111.904 957.304 757.351 (15.962 (37.191 546.754 2.238) -3.906 192.78% 179.67% 984.42% 5.42% 213.781 104.76% 785.378) -5.666 (37.55% (15.218 ribu dengan perincian sebagai berikut: BPK-RI -8- PT Chevron Pacific Indonesia .887 2.

218 307 33.00% 35 69 34 97.627 2.628 1.275 105 4.54% 98.244 1.95% c) PT CPI – C&T MF Kuantan Jumlah cost recovery untuk PSC Rokan tahun 2004 dan 2005 (semester I) masing-masing sebesar US$ 1.752 39.04% 2.16% 4.218 307 33.52% 41.70% 5.Exploration and Development .General & Administration Total Operating Cost Depr Prior Year Asset Depr Current Year Asset Total Cost Recovery Investment Credit Total Recoverables 374 451 51 112 936 101 (262) 485 50 -70.14% 916 999 83 9.07% 911 1.516 (808) 44 119.138 38.492 6.06% 0 0 0 - 81 384 303 374.90% - 2004 Real Selisih 3 4=3-2 % 5=4/2 Angg 6 Real Selisih 7 8=7-6 % 9=8/6 2 876 1.467 149 2.05% 107.489 7.13% -35.(dalam ribu US$) 2005 (kuartal I) Uraian Angg 1 Cost Recovery Unrecovered Other Cost Operating Cost : .627 2.602 ribu dan US$ 323 ribu dengan perincian sebagai berikut: BPK-RI -9- PT Chevron Pacific Indonesia .Production .138 38.489 7.70% 5.149 273 31.112 2.95% 0 0 0 - 0 0 0 - 911 1.

602 919 134.70% (16) -59.15% 682 1.15% 683 1.55% 0 0 - - 0 0 0 - 239 323 84 35.602 919 134.(dalam ribu US$) 2005 (kuartal I) Uraian Angg 1 Cost Recovery Unrecovered Other Cost Operating Cost : Exploration and Development Production General &Administration Total Operating Cost Depr Prior Year Asset Depr Current Year Asset Total Cost Recovery Investment Credit Total Recoverables 0 212 27 1 311 11 1 70 449 163 1 1.15% 2004 Real 3 Selisih 4=3-2 % 5=4/2 Angg 6 Real 7 Selisih 8=7-6 % 9=8/6 2 - - - - - - - - 99 46.234 367 (69) -98.00% - 0 0 0 - 1 0 (1) 0 0 0 - 0 0 0 239 323 84 35.55% BPK-RI .602 920 134.26% 239 323 84 35.90% 100.57% 785 174.15% 683 1.83% 204 125.10 - PT Chevron Pacific Indonesia .

Prosedur penyerahan minyak mentah pada Dumai Pump Station tanggal 3 Agustus 1993 menyatakan bahwa : a.BAB III HASIL PEMERIKSAAN BPK-RI telah memeriksa lifting. dimana pada setiap penyerahan dilakukan pengujian dengan BPK-RI . Keran-keran pada ujung pipa penyalur yang berada di dermaga maupun keran pada ujung pipa penyalur yang menuju ke kilang Pertamina UP II Dumai. Dari tangki-tangki penimbun. b.000 barrel. Dimana terdapat empat dermaga pada pelabuhan Dumai Pump Station tersebut. Untuk menentukan jumlah minyak mentah yang diserahkan. 1. Minyak mentah yang akan diserahkan. kemudian ke saluran pipa penyalur minyak mentah dan akhirnya terus ke dermaga atau ke kilang Pertamina UP-II Dumai. Secara administratif. serta temuan lifting. saringan. dipergunakan 16 (enam belas) unit Positive Displacement Meter (PD Meter) yang dikelompokkan ke dalam empat gugus (Meter Banks). Terdapat empat saluran pipa penyalur minyak mentah yang dipakai untuk mengangkut minyak mentah dari tangki-tangki penimbun ke Stasiun Meter (Metering Station) dan diteruskan ke dermaga-dermaga atau ke kilang Pertamina UP-II Dumai.100. atau melalui pipa penguji meter (meterprover). Temuan yang berhubungan dengan pengendalian intern. Hasil pemeriksaan menunjukkan terdapat beberapa temuan yang berhubungan dengan kelemahan sistem pengendalian intern. Secara rinci temuan-temuan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut: A. minyak mentah akan dipompa melalui deaerator. Proses dilaksanakan tanpa disaksikan oleh Petugas dari Bea dan Cukai maupun BPMigas. Disamping itu. PD Meter dan disalurkan ke pipa penyalur minyak mentah. PT CPI sudah membuat surat permohonan buka/tutup segel ke Bea dan Cukai setempat. bila sedang tidak digunakan untuk penyerahan minyak mentah. cost recovery dan alokasi biaya kantor pusat (home office) pada Kontraktor PSC Chevron Pacific Indonesia di Rumbai dan Jakarta. Pengendalian intern atas proses lifting yang dilakukan di Dumai Pump Station kurang memadai Lifting PT CPI dilakukan di point of lifting pada Dumai Pump Station yang menyalurkan minyak mentah yang dihasilkan oleh PT CPI ke kapal maupun pipa. Berdasarkan hasil pengamatan fisik yang dilakukan pada Dermaga 1 dan 3 Pelabuhan Dumai Pump Station pada tanggal 5 Januari 2006 diketahui bahwa keran yang menghubungkan antara pipa milik PT CPI dengan Loading Arm yang digunakan untuk mengisi crude oil ke tanker tidak disegel oleh Bea dan Cukai. temuan yang mengakibatkan perlunya koreksi terhadap cost recovery. disimpan terlebih dahulu dalam tangki-tangki penimbun di Stasiun Pompa Pusat (Central Pump Station) yang mempunyai daya tampung sebesar 5. Setiap penyerahan minyak mentah ke kapal tanker melalui saluran pipa penyalur harus disetujui oleh Bea dan Cukai. proses lifting crude oil dan loading oil ke kapal tanker hanya disaksikan oleh Petugas dari PT CPI yang terdiri dari operator Loading Arm dan Loading Master serta beberapa petugas pembantu. meskipun pihak BPMigas serta Bea dan Cukai ikut menandatangani beberapa dokumen lifting seperti Prover Report dan Batch Report. harus ditutup dan disegel.11 PT Chevron Pacific Indonesia .

PT CPI menerangkan lebih lanjut bahwa sekarang setiap keran yang ada di ujung loading line sudah disegel oleh pihak Bea dan Cukai. Minyak BPK-RI . Hal tersebut mengakibatkan jumlah lifting tidak dapat diyakini kewajarannya dan terdapatnya peluang terjadinya kecurangan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. PT CPI serta Bea dan Cukai. tidak melaksanakan kewajibannya sebagai mana mestinya. air. CPI lebih meningkatkan kontrol atas proses lifting di Dumai Pump Station dan meningkatkan kerja sama dengan pihak-pihak terkait seperti BPMigas dan Bea Cukai. Kelemahan tersebut terjadi baik pada PT CPI sebagai Kontraktor Production Sharing Contract (PSC) maupun pada pihak BPMigas sebagai pihak yang diberi kuasa oleh pemerintah untuk melaksanakan isi PSC.pipa penguji meter untuk mendapatkan factor meter yang kemudian dicatat dalam Prover Report dan ditanda-tangani oleh wakil-wakil dari Pertamina. dan lumpur. PT CPI serta Bea dan Cukai. setiap lifting dokumen tetap disetujui oleh Bea Cukai. PT CPI selalu meminta Bea Cukai untuk membuka dan menutup segel untuk setiap proses lifting ke tanker.12 - PT Chevron Pacific Indonesia . PT CPI sependapat dengan BPK-RI bahwa sesuai dengan prosedur yang berlaku. BPK-RI menyarankan agar PT. Hal tersebut disebabkan BPMigas sebagai pengawas dan offtaker minyak mentah yang dilifting oleh PT CPI serta Bea dan Cukai sebagai pengawas semua transaksi penyerahan atau penjualan di semua area pelabuhan di Indonesia. Kelemahan pada pengendalian internal yang ada di PT Chevron Pacific Indonesia (PT CPI) dan Badan Pengelola Hulu Minyak dan Gas Bumi (BPMigas) mengakibatkan cost recovery dan lifting antara Pemerintah dan PT CPI tidak dapat diyakini kewajarannya Berdasarkan hasil pemeriksaan di lapangan ditemukan beberapa kelemahan pengendalian intern. c. pihak Bea Cukai tidak selalu datang membuka/menutup segel pada proses lifting. yang kemudian dikoreksi dengan menggunakan factor meter dan persentase Basic Sediment and Water (BS&W). Cairan tersebut kemudian diproses lebih lanjut untuk memisahkan antara minyak. Namun adakalanya. Akan tetapi. Disamping itu BPMigas dan Bea Cukai diharapkan ikut terlibat secara langsung dalam proses lifting tersebut sesuai dengan prosedur lifting yang tertuang dalam Dumai Offtaker Procedur. Beberapa kelemahan pengendalian intern tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Kelemahan pengendalian internal pada proses lifting Secara ringkas proses produksi minyak mulai dari sumur produksi (field) sampai dengan titik lifting minyak di pelabuhan Dumai dapat dijelaskan sebagai berikut: Cairan yang mengandung minyak diperoleh dari hasil pengeboran pada sumur-sumur produksi yang kemudian disalurkan ke Central Gathering Station (CGS). Adapun tindakan perbaikan yang sudah dilakukan adalah mengkomunikasikan temuan ini dengan pihak Bea dan Cukai pada tanggal 8 Feb 2006. Penentuan jumlah minyak mentah yang diserahkan. 2. menggunakan PD Meter dan ditunjuk dalam Batch Report dari mode computer yang dicetak oleh sistem Smith Supervisory Computer untuk tiap gugus meter. dimana Batch Report tersebut harus ditanda-tangani oleh wakil-wakil dari Pertamina (BPMigas).

baik ke kapal tanker maupun kilang Dumai. PT CPI tidak mengetahui berapa persisnya CGT menjual minyak dan kepada siapa karena tidak memperoleh salinan kontrak dan invoice-nya. Proses pembukaan segel dan lifting tersebut ternyata tidak selalu disaksikan oleh pihak BC dan BPMigas. Angka persediaan ini perlu dibandingkan dengan angka yang persediaan sebenarnya. besarnya minyak yang akan diangkut. Angka awal dan akhir yang ditunjukkan oleh PD Meter tsb dijadikan patokan penulisan angka lifting pada BL dan dokumen lainnya. Namun. BPK-RI . Besarnya persediaan minyak yang dicatat oleh PT CPI hanya diperoleh dari hasil menambahkan persediaan awal dengan besarnya produksi (yang diketahui dari meteran yang ada antara CGS dan pipa yang menuju Dumai) dikurangi dengan own use and loss site consumption dan besarnya lifting. Angka meter baru terdapat di Metering Station yang terdiri atas enam belas unit Positive Diplacement Meter (PD Meter). 3) Pencatatan nilai lifting bagian kontraktor oleh PT CPI tidak menggunakan nilai penjualan yang sebenarnya. Selama ini PT CPI hanya melakukan stock opname atas persediaan yang ada di storage tank. dapat dikemukakan beberapa kelemahan pengendalian intern sebagai berikut: 1) Stock Opname atas besarnya persediaan minyak pada pipa tidak pernah dilakukan. Berdasarkan penelahaan lebih lanjut terhadap proses lifting. serta kapan kapal tersebut akan berlabuh dan berlayar. COSD adalah suatu unit pada PT CPI yang bertanggung jawab untuk melakukan nominasi dan mengatur tanggal pemuatan minyak (acceptance loading date). 2) Pembukaan segel dan proses lifting dilakukan tanpa disaksikan oleh pihak BC dan BPMigas. dengan jumlah dan kuantitas tertentu sesuai dengan angka yang tercantum pada Bill of Ladding (BL). CGT juga yang mengatur kapal apa yang akan mengangkut minyak tersebut. Hanya wakil dari PT CPI dan kapten kapal yang selalu ada pada saat proses tersebut berlangsung. Minyak yang terdapat di tangki penimbun kemudian di salurkan melalui pipa ke Stasiun Meter (Metering Station) dan terus ke dermaga yang selanjutnya disalurkan ke kapal melalui keran yang ada di dermaga sesuai nominasi lifting yang ditentukan/diperintah oleh Crude Oil Shipment Department (COSD) Jakarta. Proses lifting dimulai dengan membuka segel pada keran yang menghubungkan antara pipa milik PT CPI dengan Loading Arm yang digunakan untuk mengisi crude oil ke kapal. yaitu angka persediaan yang diperoleh dengan melakukan stock opname. sampai dengan selesainya pemeriksaan lapangan. sehingga kewajaran nilai persediaan tidak dapat diyakini. Minyak yang merupakan bagian PT CPI dijual oleh Chevron Global Trading (CGT) cabang Singapura kepada berbagai pihak yang tidak diketahui. baik yang dilakukan oleh PT CPI maupun oleh pemerintah. Perintah tersebut merupakan perintah untuk pengisian minyak. 2 Maret 2006.yang diperoleh dari hasil pemisahan tersebut kemudian disalurkan melalui pipa sampai tiba di tangki penimbun Central Pump Station (CPS) di Dumai. Oleh karena PSC hanya mengatur ketentuan lifting sampai dengan point of lifting dari off taker. Namun tidak ada segel pada keran pembuka ini. Oleh karena persediaan yang ada di pipa harus selalu terisi penuh maka persediaan yang ada di pipa tersebut adalah seluruh volume pipa milik PT CPI yang volumenya dianggap tetap. namun tidak pernah mengevaluasi berapa volume persediaan yang ada di pipa. tidak diketahui berapa besarnya volume pipa tersebut. Pada keran tersebut tidak terdapat angka meter.13 PT Chevron Pacific Indonesia .

3 dan 5. Empat bulan setelah kegiatan tersebut selesai. Berdasarkan pengujian terhadap daftar realisasi AFE.95. sehingga selalu diasumsikan bahwa usulan tersebut disetujui. terdapat AFE yang realisasinya melampaui anggaran (AFE Overrun) pada tahun 2004 dan 2005 masing masing sebanyak 130 dan 70 buah. meskipun dalam PSC diatur bahwa lifting pada pihak ketiga dicatat berdasarkan harga sebenarnya (net realized value). Kelemahan pengendalian internal pada proses Authorization For Expenditures (AFE) Setiap kegiatan proyek-proyek utama (main project) maupun pekerjaan non proyek (non project) yang memerlukan pengeluaran US$500.62. Selain itu PT CPI tidak memiliki ketentuan yang mengatur perlakuaan atas aset yang setelah di-PIS lalu berhenti beroperasi.222. Hal tersebut menunjukkan bahwa PT CPI dalam melaksanakan proses PIS tidak sepenuhnya melakukan evaluasi yang memadai mengenai kesiapan aset untuk dioperasikan. serta fasilitas Gas-Incinerator. Total anggaran yang disetujui dari proyek-proyek tersebut adalah sebesar US$31.844.152.488. c. Suatu aset dapat disebut telah di-PIS jika aset tersebut telah digunakan dalam kegiatan operasi kontraktor. Selain itu juga diketahui bahwa AFE yang realisasi pembiayaannya melebihi 10% dari anggaran tersebut. namun PT CPI mencatat keseluruhan minyak yang diangkut tersebut (termasuk lifting pada pihak ketiga) dengan harga Indonesian Crude Price (ICP) pada bulan diangkutnya minyak dan tidak mencatat dengan harga sebenarnya (net realized value).14 - PT Chevron Pacific Indonesia . jika dalam pelaksanaannya biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan yang bersangkutan diperkirakan akan melampui AFE lebih dari 10%.00 atau lebih harus menggunakan AFE sebagai dasar untuk pengeluarannya. Kontraktor harus mengajukan AFE closed out untuk melaporkan keseluruhan kegiatan beserta realisasi biayanya. Selain itu terdapat 24 proyek barang modal (capital assets) yang realisasi biayanya telah melebihi anggaran di atas 10% dan sampai dengan 31 Desember 2005 belum dilaporkan ke BPMigas.553. Kontraktor mengajukan proposal sebagai dasar pertimbangan disetujui atau tidaknya pengeluaran tersebut. Setelah AFE disetujui.398. barang modal (capital asset) hanya dapat didepresiasi dan diganti kembali oleh pemerintah jika telah di PIS.195. sehingga terdapat Overrun di atas 10% sebesar US$5.Disamping itu. total nilai pelampauannya masing-masing sebesar US$64. sehingga layak jika diperhitungkan beban depresiasinya. ternyata sebagian diantaranya merupakan aset yang tidak/belum bermanfaat.303.00 dan US$11. Penelaahan lebih lanjut juga menunjukkan bahwa usulan PIS aset pada umumnya tidak mendapat jawaban dan review oleh BPMigas.718.00. b. BPK-RI . Selain itu terdapat pula aset yang hanya dapat dimanfaatkan dalam jangka pendek (satu sampai tiga bulan) lalu macet sebagimana terjadi fasilitas Sand Removal Facilities (SRF) di Central Gathering System (CGS) 4.00 dengan realisasi pengeluaran sebesar US$40. Berdasarkan pengujian terhadap beberapa aset yang telah di PIS. AFE Overrun tersebut belum mendapat persetujuan dari BPMigas.000. Kelemahan pengendalian internal pada proses Placed Into Service (PIS) Berdasarkan PSC.937. maka Kontraktor harus mengajukan permohonan pertambahan AFE disertai dengan alasan pelampauannya. Aset tersebut adalah fasilitas Sand Removal Facilities (SRF) di Central Gathering System (CGS) 1.

Kelemahan pengendalian internal pada Technical Services (TS) PT CPI menggunakan banyak pakar dari Chevron Corporation. Material non capital berdasarkan PSC akan di-recovery ketika material tersebut “landed in Indonesia”. sehingga mereka tidak mengetahui secara pasti lamanya para konsultan tersebut bekerja. Pelaksanaan TS sebagian dilakukan di Indonesia dan sebagian lainnya dilakukan di luar negeri. BPK-RI . Kegiatan tersebut adalah: bantuan biaya operasional Sekolah Cendana. yaitu: 1) Pencatatan “technical services” baru dilakukan pada saat Chevron menagih dan bukannya pada saat jasa tersebut diterima oleh PT CPI. dan biaya lain-lain.d. Ini menjadi masalah terutama ketika penagihannya terlambat sehingga berpindah tahun (mencederai prinsip akrual basis) atau ketika AFE bersangkutan telah ditutup (tagihan dibebankan ke AFE lain). dan melakukan evaluasi pelaksanaan upstream business-nya melalui program TS. juga terdapat material yang diterima tidak sesuai pesanan sehingga tidak dapat digunakan serta material yang dinilai nol karena sudah dibebankan ke dalam suatu proyek meskipun material tersebut tidak digunakan untuk proyek tersebut. Kelemahan pengendalian internal pada proses persetujuan Work Program and Budget (WP&B) PT CPI setiap tahun mengajukan WP&B kepada BPMigas untuk membiayai kegiatankegiatannya. Sekolah Cendana merupakan sekolah yang berada di lingkungan kamp PT CPI. f. WP&B tersebut harus mendapat persetujuan BPMigas sebelum dilaksanakan. International School merupakan tempat pendidikan anak-anak karyawan ekspatriate. Berdasarkan pemeriksaan terhadap kegiatan-kegiatan yang diajukan dalam WP&B PT CPI. 3) “Business Process and Procedures” (BPP) PT CPI tidak memuat kewajiban Champion (pimpinan proyek) untuk mencatat time sheet pelaksanaan pekerjaan para konsultan dari Chevron. Pengadaan material tersebut dilakukan oleh fungsi pengadaan. baik berdasarkan permintaan dari unit yang membutuhkan (user) maupun ketika tingkat persedian material yang bersangkutan telah mencapai jumlah minimum (buffer stock). dan bantuan Biaya operasional International School. Komponen biaya TS umumnya mencakup honor konsultan. terdapat kegiatan yang menurut BPK tidak terkait dengan operasi PT CPI. training terhadap karyawan nasional. Kuantitas maupun kualitas serta spesifikasi teknis material yang dipesan pada dasarnya sesuai dengan pesanan user. 2) PT CPI tidak membandingkan “rate” yang dibebankan oleh Chevron dengan pihak ketiga lainnya untuk mendapatkan “rate” yang paling menguntungkan. sehingga tidak layak jika dimintakan penggantian kepada pemerintah.15 - PT Chevron Pacific Indonesia . sebagai pemegang saham. e. Berdasarkan pemeriksaan terhadap material non capital PT CPI diketahui bahwa terdapat beberapa kelompok material yang pengadaannya tidak mempertimbangkan kebutuhan penggunaannya sehingga material tersebut menjadi slow moving dan diusulkan untuk dihapuskan. untuk membantu PT CPI melakukan studi. Kelemahan pengendalian internal pada proses pengadaan Material Non Capital PT CPI mengadakan material non capital untuk mendukung operasinya. Disamping itu. Sekolah ini terutama ditujukan untuk tempat pendidikan anak karyawan PT CPI. Pada dasarnya biaya-biaya tersebut tidak terkait langsung dengan operasi kontraktor di Indonesia. Terhadap pembayaran “technical services” tersebut terdapat beberapa masalah. biaya perjalanan.

aplikasi JDE untuk keuangan. berhasil guna. Transaksi-transaksi yang melibatkan related parties di atas pada umumnya menimbulkan masalah-masalah berikut: 1) Verifikasi tagihan tidak dapat dilakukan secara bebas. Security. mencakup: biaya training. mencakup beban-beban: negotiation.g. yaitu: Chevron dan Texaco. maka selanjutnya pemegang saham PT CPI tinggal Chevron.16 PT Chevron Pacific Indonesia . Counsel & Services Fee. dan procurement. business development & planning. exploration. Berkaitan dengan masalah “related parties” ini. mencakup pemegang saham perusahaan. mencakup: aplikasi NetGil untuk jaringan. yaitu: Home Office Indirect Services (Counsel & Services Fee) serta Corporation Direct Services. BPK-RI . Berdasarkan ketentuan-ketentuan berikut: a. serta berdaya saing tinggi dan berkelanjutan atas Minyak dan Gas Bumi milik negara yang strategis dan tidak terbarukan melalui mekanisme yang terbuka dan transparan. 3) Pembebanan “direct charges”. Finance & treasury. dan koreksikoreksi pembebanan untuk kepentingan PT CPI. Co. mencakup bebanbeban: Human Resources. 5) Pembelian jasa “steam processing” dan “electricity processing” kepada PT Mandau Cipta Tenaga Nusantara yang mayoritas pemegang sahamnya adalah Chevrontexaco Global Energy. UU No. dan information technology. legal & procurement. ChevronTexaco Home Office (CTOP) dan Amoseas Singapore/Houston. tax & finance. Transaksi antara perusahaan dengan “related parties” meliputi: 1) Penggunaan tenaga kerja ekspatriate yang berstatus pegawai pada “related parties” dalam jangka waktu tertentu dengan menanggung “salary and benefits”. 2) Tidak ada jaminan bahwa besarnya “rate” yang harus dibayar merupakan “rate” yang paling menguntungkan. serta aplikasi Utx untuk upstream. HES. 22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi 1) Bab I Ketentuan Umum pasal 1 angka 23 Badan Pelaksana adalah suatu badan yang dibentuk untuk melakukan pengendalian Kegiatan Usaha Hulu di bidang Minyak dan Gas Bumi 2) Bab II Azas dan Tujuan pasal 3 Penyelenggaraan kegiatan usaha Minyak dan Gas Bumi bertujuan : Huruf a Menjamin efektivitas pelaksanaan dan pengendalian kegiatan usaha Eksplorasi dan Eksploitasi secara berdaya guna. 2) Penggunaan jasa “related parties” untuk memenuhi kebutuhan perusahaan di bidang Information and Technology. international gas. 4) Alokasi biaya overhead dari ChevronTexaco Corporation. air line travel. dan Emergency Response. yaitu Chevron Texaco Overseas Petroleum (CTOP) sebagai media dalam bertransaksi dengan PT CPI. sementara Corporation Direct Services. Chevron menggunakan perantara salah satu divisinya. PSC menggunakan istilah “affiliated company” atau “affiliate” dengan pengertian yang kurang lebih serupa. Chevron pada tahun 2001 mengakuisisi Texaco. 3) Analisa atas perlu tidaknya pengadaan jasa tersebut tidak sepenuhnya dilakukan. yaitu pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa dengan perusahaan. “Related parties” tersebut. Kelemahan pengendalian internal pada transaksi Related Parties PT CPI di dalam kegiatan operasinya melaksanakan banyak transaksi dengan “related parties”. well engineering. Procurement.

2) Merupakan upstream job dan berhubungan dengan perencanaan proyek-proyek di Indonesia. c. Surat kepala BPPKA Pertamina No 028/L0230/90-S4 pada tanggal 16 januari 1990 mengenai technical services from abroad menyatakan antara lain: Technical services from Aboard harus memenuhi kategori: 1) Merupakan non routine atau extra ordinary job. PSC pada Section IV Right and Obligations of The Parties angka 1. 3) BAB III Pengusaan dan Pengusahaan pasal 4 Ayat (1) Minyak dan Gas Bumi sebagai sumber daya alam strategis takterbarukan yang terkandung di dalam Wilayah Hukum Pertambangan Indonesia merupakan kekayaan nasional yang dikuasai oleh negara. dan besarnya nilai bagi hasil pemerintah dan PT CPI tidak dapat diyakini kewajarannya. Tingginya resiko akan adanya lifting yang tidak tercatat.1 huruf (a) menyatakan: All crude oil taken by contractor. Ayat (3) Pemerintah sebagai pemegang Kuasa Pertambangan membentuk Badan Pelaksana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 23. assessment of tax and keeping and showing of books and records. and sold to third parties shall be valued at the net realizad price f. d. KPS perlu mengajukan proposal dan AFE secara rinci kepada pertamina/BPPKA untuk rencana penggunaan tenaga technical services from abroad tersebut. b. Kelemahan-kelemahan pengendalian internal di atas mengakibatkan: a. 5) Tidak tumpang tindih/overlap/double charge dengan alokasi pembebanan biaya overhead from abroad.b received by contractor for such crude oil. 6) Dalam setiap tahun usulan anggaran. Nilai WAP yang digunakan untuk menghitung besarnya minyak yang diperoleh PT CPI untuk cost recovery dan investment credit. b. Ayat (2) Penguasaan oleh negara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diselenggarakan oleh Pemerintah sebagai pemegang Kuasa Pertambangan. Contractor shall comply with the requirements of the Tax Law in particular with respect to filling of returns. 3) Belum dapat dikerjakan oleh Inhouse people dan tidak ada available consulting company di Indonesia. including its share and the share for the recovery of operating costs and investment credit.Huruf e Meningkatkan pendapatan negara untuk memberikan kontribusi yang sebesar-besarnya bagi perekonomian nasional dan mengembangkan serta memperkuat posisi industri dan perdagangan Indonesia.2 huruf (r) menyatakan: Contractor shall pay to the Government of Republic of Indonesia the income tax including the final tax on profits after tax deduction imposed on it pursuant to the Indonesian Income Tax Law and its Implementing Regulations. 4) Tarif yang diberlakukan harus dapat competitive dengan tarif apabila pekerjaan tersebut dikerjakan oleh pihak ke-3 di Indonesia.o.17 - PT Chevron Pacific Indonesia . BPK-RI . PSC pada Section VI Valuation of Crude oil angka 1.

f. Ketentuan PSC yang menyatakan bahwa material non capital akan di recovery ketika landed in Indonesia memberi insentif kepada kontraktor untuk memiliki persediaan material secara berlebihan. yang tentu tidak efisien dilakukan setiap hari ataupun bulan. e. Material yang telah dibayar oleh pemerintah kepada PT CPI menjadi besi tua dan nilainya menjadi sangat berkurang. PT CPI memanfaatkan kelemahan pada PSC dan BPMigas untuk memintakan penggantian biaya yang tidak terkait operasi perminyakan. b. Besarnya depresiasi yang diajukan oleh PT CPI tidak dapat diyakini kewajarannya.1)Besarnya persediaan minyak yang ada di pipa relatif konstan oleh karena ukuran dan panjang pipa adalah tetap dan selalu terisi. Pengawasan atas proses AFE. sehingga menyatakan PIS aset yang tidak beroperasi. mulai dari diajukan sampai di-closed. Besarnya income tax yang dibayarkan oleh PT CPI tidak mencerminkan kewajiban yang sebenarnya. Ini dapat dilakukan oleh FOM Team dengan melakukan inventarisasi panjang pipa dan trunk line dan menghitung kembali jumlah dead stock di dalam pipa bila diperlukan. Untuk itu. Jikapun ada perubahan relatif sangat kecil yang kemungkinan disebabkan oleh pengosongan ataupun pengisian (saat pertukaran DC dengan SLC atau sebaliknya) pada loading line di Dumai. PT CPI menjelaskan sebagai berikut: a. Hal-hal tersebut di atas terjadi karena: a. BPMigas belum membuat ketentuan yang mengatur secara rinci syarat suatu aset dapat diPIS dan yang mengatur perlakukan jika aset yang telah di-PIS rusak dalam jangka waktu tertentu. h. yang dilakukan oleh BPMigas tidak berjalan efektif. BPMigas tidak tegas dalam menjalankan ketentuan dalam PSC terkait penilaian terhadap lifting contractor. j. d. g. stock opname pada pipa merupakan konfirmasi mengenai angka stock pada pipa yang relatif tetap dengan hasil perhitungan panjang dan besarnya pipa. d. “Rate” yang dibayar oleh PT CPI belum tentu merupakan rate yang paling menguntungkan. PT CPI cenderung ingin segera mendapatkan penggantian atas dana yang telah tertanam dalam proyek yang dikerjakannya. g. c. Biaya-biaya yang tidak terkait dengan operasi kontraktor di Indonesia masuk ke dalam WP&B PT CPI dan disetujui oleh BPMigas untuk diganti. BPMigas tidak mampu mengawasi proses lifting. Besarnya biaya “technical services” yang dicatat tidak mencerminkan biaya sebenarnya i. i. PT CPI memandang Chevron dan PT CPI sebagai satu kesatuan perusahaan. PSC dan BPMigas tidak secara jelas menguraikan jenis-jenis biaya apa saja yang masuk kategori operating cost dan yang tidak. f. h. Penggunaan AFE sebagai alat kendali BPMigas untuk memonitor pelaksanaan kegiatan kontraktor tidak efektif. Tidak ada alat yang dapat dipakai untuk menguji kewajaran besarnya tagihan yang diajukan oleh Chevron Corporation. e.18 - PT Chevron Pacific Indonesia . BPK-RI .c.

penyampaian laporan penyelesaian proyek. Finance Team juga harus melakukan Phyisical Inventory guna memastikan keberadaan aset tsb dan juga memastikan bahwa aset tsb telah digunakan sebagaimana mestinya. Hal ini dilakukan karena menyadari bahwa selama ini PT CPI kurang memperhatikan kewajibannya terkait dengan aturan tentang AFE. depresiasi dapat dilakukan setelah aset tersebut PIS ( Placed Into Service). a. b. Adapun Fasilitas-fasilitas Sand Removal Facilities (SRF) di CGS 1. setiap lifting dokumen tetap disetujui oleh Bea Cukai. salah satunya biaya sewa rig. Pengecualian dilakukan untuk AFE yang terkait dengan pengeboran sumur. Untuk itu. pihak Bea Cukai tidak selalu datang membuka/menutup segel pada proses lifting. harus dihentikan. maka Finance akan membukukan aset tsb dgn Depr Category “00” yang mana depresiasi untuk aset dengan kategori ini tidak akan dihitung oleh sistem.3 . Akan tetapi. dan nantinya akan dijustifikasi pada saat AFE close out. Kondisi saat ini: Sistem pemasangan segel sudah berjalan sesuai dengan loading procedure yang dilakukan oleh pihak Bea dan Cukai. Disamping itu. hampir semua AFE tersebut terkait dengan kegiatan pengeboran sumur dan umumnya adalah AFE yang dikeluarkan tahun 2004 dan sebelumnya. dan lain-lain).19 PT Chevron Pacific Indonesia . Berdasarkan kesepakatan dan aturan dari BPMigas. c. kegiatan pengeboran hanya berkisar antara 7 sampai 10 hari dimana tidak memungkinkan untuk mengirimkan revisi AFE. Pimpinan PT CPI (Managing Director) telah mengeluarkan aturan atau surat edaran internal ke seluruh pimpinan. Berdasarkan edaran pimpinan PT CPI diatas dinyatakan bahwa semua proyek yang belum selesai dimana biayanya sudah mencapai 110% dan belum dapat approval dari BPMigas untuk revisinya. Apabila aset tsb belum berfungsi ataupun digunakan sebagaimana mestinya.a. Kebijakan ini menimbang kerugian yang akan ditimbulkan apabila pengeboran dihentikan. PT CPI BPP (Business Process Procedure) mengatur proses close out sbb: Finance Team membukukan aset ke dalam Aset Ledger setelah menerima Project Close-out Report (PCR) yang ditanda-tangani oleh Leader dari Project Controller dan juga Asset Owner yang mengoperasikan aset tsb. dan pelaksana proyek.3)Pencatatan nilai lifting dilakukan oleh PT CPI dengan mempergunakan harga ICP (Indonesian Crude Price) yang diumumkan oleh Pertamina/BPMigas setiap bulannya kepada Kontraktor PSC. untuk mematuhi semua aturan yang terkait dengan AFE (AFE approval. 4 dan 5 sudah beroperasi secara normal.2)Sesuai dengan prosedur yang berlaku. Hal ini merupakan kebijaksanaan Pemerintah yang menetapkan harga minyak mentah dengan formula ICP sebagai realization price untuk menjamin adanya keseragaman harga penjualan diantara Kontraktor PSC dan mengamankan penerimaan negara. Terhitung bulan Juli 2004. Namun adakalanya. Menyikapi kelebihan anggaran yang dinyatakan terjadi pada tahun 2005. Tindakan perbaikan yang sudah dilakukan adalah mengkomunikasikan temuan ini dengan pihak Bea dan Cukai pada tanggal 8 Feb 2006. Pada tahun 2005 BPMigas telah mengeluarkan pedoman pelaksanaan prosedur AFE dan telah mensosialisasikannya kepada PT CPI pada bulan April 2005 dan diteruskan dengan BPK-RI . Sementara itu untuk Gas Incinerator yang belum beroperasi maka aset tsb dibukukan dengan Depr Category “00” ( depresiasi belum dihitung). PT CPI hanya diharuskan melaporkan kejadian pada saat pengeboran yang memungkin terjadinya kelebihan anggaran (melalui telpon atau fax). PT CPI selalu meminta Bea Cukai untuk membuka dan menutup segel untuk setiap proses lifting ke Tanker. batas anggaran. Seperti yang ditentukan dalam PSC. manajer proyek.

Untuk jenis barang yang tercatat sebagai surplus ini. Dengan demikian. Untuk material yang tidak sesuai dengan pesanan. Oleh karena itu. Dapat pula kami sampaikan bahwa. International School diselenggarakan di daerah operasi PT CPI karena belum BPK-RI . PT CPI mengoperasikan ribuan fasilitas produksi dan peralatan penunjang lainnya. Sejak diterapkannya proses baru tersebut penambahan vendor claim pada branch plant ini sangat minimal. 3) Adanya suku cadang yang di sertakan pada saat pembelian peralatan sebagai cadangan dan belum dipergunakan sampai saat ini. dan International School merupakan kebijakan perusahaan dan menjadi bagian dari benefit in-kind yang diberikan kepada pegawai PT CPI. Namun demikian. maka barang tsb disimpan ke dalam Stock-room tersendiri dengan nilai US$ 0 sehingga setiap proyek lain ataupun user lain dapat mempergunakan barang tsb. suku cadang sarana produksi dan operasi harus selalu tersedia pada saat dibutuhkan untuk menjamin tidak terganggunya kegiatan produksi dan operasi. d. reordering system yang ada akan terkunci sampai barang surplus ini digunakan seluruhnya. steam generator. Untuk mendukung sarana produksi yang cukup besar.951.pelatihan-pelatihan lanjutan. Sebahagian besar suku cadang dari peralatan seperti pompa. PT CPI selalu mengutamakan penggunaan slow moving material dimana hal ini dapat dibuktikan dengan penurunan nilai slow moving material dari tahun ke tahun. Jika pada saat penutupan proyek terdapat barang yang berlebih. maka PT CPI akan melakukan proses klaim dan mengembalikan barang tersebut kepada supplier yang berkaitan. Nilai material yang tidak sesuai dengan pesanan tersebut relatif sangat kecil yaitu sejumlah US$80.36 yang ada pada branch plant 11WHCL dimana sebahagian besar adalah akumulasi vendor claim lama (diatas 5 tahun) yang tidak berhasil ditagih karena vendornya sudah tidak ada. Oleh karena itu bantuan tersebut selayaknya dibebankan ke cost recovery.20 PT Chevron Pacific Indonesia . Pengadaan Barang Non-Capital mencakup kebutuhan untuk Perawatan. Pemberian bantuan pendidikan bagi anak-anak pegawai. BPP (Business Process Procedure) yang berkaitan dengan AFE telah diperbaiki dan disosialisasikan kepada AFE Owner dan Project Engineer agar dapat diimplementasikan dengan baik. e. Surplus material dari proyek yang sudah di Close out dipindahkan ke stock dengan nilai US$ 0 untuk dapat dipergunakan oleh proyek lain ataupun untuk operasional . Pada tahun 2005 juga. flow meters. Perbaikan & Operasi (Maintenance Repair & Operations) terutama terdiri dari suku cadang peralatan sarana operasi dan produksi serta material untuk memenuhi kebutuhan operasi lainya seperti. PT CPI membutuhkan persediaan cadangan (buffer stock)yang memadai untuk mengantisipasi lead time tersebut. kompresor. 2) Adanya barang / suku cadang yang kritikal yang harus selalu ada meskipun penggunaannya dalam jangka waktu yang lama ataupun tidak tertentu. YPC. kemungkinan terjadinya vendor claim dapat diminimalkan. dan material lainnya berasal dari luar negeri ( import) . Sementara di lain pihak. sehingga memerlukan lead time yang panjang. semenjak 2004 PT CPI sudah menerapkan proses penerimaan yang memungkinkan dilakukannya penangguhan pembayaran jika ada indikasi tidak sesuainya spesifikasi maupun jumlah barang yang dikirimkan. Jumlah ini sangat kecil dibandingkan dengan pembelian PT CPI yang mencapai US$80 juta sampai dengan US$100 juta setiap tahunnya. Adanya material /suku cadang yang belum digunakan (slow moving) disebabkan oleh beberapa hal antara lain : 1) Adanya suku cadang dari peralatan yang sudah tidak digunakan/ dioperasikan lagi(obsolete) . Pengeluaran atas pembelian barang untuk suatu AFE dibebankan kepada AFE tersebut. instrumentasi.

Biaya tenaga ahli dari perusahaan induk yang dipakai adalah biaya standar untuk semua daerah operasi di dunia. Lampiran-lampiran yang menunjang acceptance letter juga dilampirkan seperti Jumlah Kwh. Di dalam AFE tersebut terdapat dokumen bernama DPD (Detailed Project Description) yang mencantumkan jenis pekerjaan dan biaya para ahli secara rinci. dll) melakukan peneraan kWh BPK-RI . g. Pada saat pertemuan Pre-AFE.Migas melalui persetujuan AFE ataupun WP&B. pimpinan proyek akan melakukan pencatatan waktu sendiri saat ahli dari perusahaan induk atau perusahaan dalam negeri bekerja di Sumatra. Pimpinan proyek bisa menghitung semua biaya yang akan dikeluarkan dan mencocokan dengan tagihan yang masuk. PT CPI selalu membutuhkan technical services baik dari perusahaan induk maupun perusahaan di dalam negeri untuk pelaksanaan pekerjaan pada waktu tertentu yang tidak dapat dilakukan oleh pegawai PT CPI. Perusahaan induk akan mengirim tagihan melalui surat elektronik untuk menghindari keterlambatan dalam penagihan sehingga pekerjaan pada tahun berjalan dapat dibayar pada tahun yang sama. sebagai contoh keahlian karakterisasi reservoir.tersedianya fasilitas sekolah untuk orang asing di Pekanbaru dan Duri. AFE dari Proyek TSA akan ditutup setelah pimpinan proyek memastikan sudah tidak ada tagihan lagi. Oleh karena itu. MCTN. f. Berkaitan dengan pelaksanaan proyek. industri perminyakan selalu melakukan usaha perbaikan yang sangat intensif dan terus menerus untuk mencapai tingkat produksi yang ditargetkan. perhitungan availability dan juga perhitungan jumlah yang harus di bayar.21 - PT Chevron Pacific Indonesia . PT CPI dan lembaga pemerintah yang yang berwenang (LMK. Pengadaan jasa dari related parties ini juga tentunya dilakukan setelah dilakukan analisa yang mendalam atas perlunya jasa tsb dan resources yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan tsb dan mendapatkan persetujuan dari BP. BPP (Business Process and Procedure) tidak memuat proses pencatatan waktu karena sudah merupakan bagian dari tanggung jawab profesi pimpinan proyek. Seluruh transaksi yang ada di PT CPI termasuk transaksi-transaksi yang melibatkan related parties harus diverifikasi sebelum dibukukan oleh perusahaan. Untuk transaksi dengan MCTN: 1) Verifikasi atas tagihan : Verifikasi tagihan bulanan dilakukan berdasarkan prosedur yang ada melalui mekanisme acceptance letter. PT CPI mempunyai SOP ataupun BPP yang terkait dengan Intercompany Transaction yang umumnya mencatat transaksi yang terkait dengan related parties. PT CPI akan berusaha menggunakan perusahaan di dalam negeri apabila keahlian yang dibutuhkan ada. Perhitungan-perhitungan yang dipakai telah ditentukan dan diatur di dalam perjanjian . BPMigas melakukan pengkajian yang seksama secara teknis maupun finansial untuk persetujuan bahwa pekerjaaan tersebut layak dilakukan oleh ahli dari luar PT CPI. Sebagai industri yang padat modal dan teknologi maju. Untuk memastikan ketelitian kWh meter yang di pakai. Kemudian PT CPI tidak bisa membandingkan dengan biaya ahli dari dalam negeri karena keahlian yang dibutuhkan tidak ada. sebagai contoh keahlian simulasi minyak berat (heavy oil). Mengirim anakanak para pegawai ekspatriate sekolah keluar daerah operasi PT CPI tidak bisa dilakukan karena usia mereka masih belia dan memerlukan pendampingan dari orang tua. PT CPI selalu mengajukan AFE terlebih dahulu kepada BPMigas sebelum pelaksanaan pekerjaan yang membutuhkan technical services.

2) Rate yang dibayarkan sudah diatur di dalam perjanjian (Energy Service Agreement ESA). Rate tersebut adalah rate yang wajar karena sudah di review oleh tim gabungan yang dipimpin oleh Ditjen Migas dan terdiri dari wakil-wakil Ditjen Migas. PT CPI hanya mengajukan beban-beban yang terkait secara langsung dengan operasinya di Indonesia dalam WP&B. f. Goods/Services Equipment.meter setiap 6 bulan sekali. BPK-RI . secara teratur minimal setahun sekali. 2) BPMigas mengawasi secara langsung proses lifting. PT CPI dan BPMigas melaksanakan semua ketentuan yang terkait dengan AFE Overrun serta memberi sanksi kepada personil yang tidak mematuhi ketentuan yang berlaku. d. technical services. melakukan inventarisasi atas material yang slow moving. BPK RI menyarankan: a. seperti yang dapat dilihat pada tabel berikut. serta membuat aturan yang menyatakan bahwa AFE close out untuk tecnical services harus dilengkapi dengan time sheet-nya. BPMigas membuat maksimal rate untuk transaksi yang banyak melibatkan related parties. 3) PT CPI dan BPMigas menggunakan harga pasar sebagai dasar untuk mencatat lifting bagian kontraktor.44. Home sale incentive. Pertamina-BPPKA.906. PT CPI dan BPMigas melaksanakan ketentuan terkait dengan pengadaan material. Biaya tersebut kemudian dimintakan penggantiannya oleh PT CPI kepada pemerintah melalui mekanisme cost recovery. 1) PT CPI bersama BPMigas melakukan stock opname atas persediaan minyak. dan PT CPI. BPMigas menelaah atas technical services pada kontraktor yang ada dan membuat batasan rate maksimal. Expatriate payroll and burden (salary and benefit) tersebut terdiri atas Base Salary.22 - PT Chevron Pacific Indonesia . Premium. misalnya: salary and benefit expatriate. Ditjen LPE. yang tidak dapat digunakan. c. g. PT CPI dan BPMigas membuat ketentuan yang lebih detail mengenai persyaratan suatu aset telah dapat dilakukan PIS. Oleh karenanya verifikasi atas tagihan dapat dilakukan secara bebas dengan mengikuti semua aturan/perjanjian yang telah ada. Home Maintenance Allocation. VA allowance dan Burden dimana pada tahun 2004 Expatriate payroll and burden yang dibebankan oleh home office kepada PT CPI adalah sebesar US$17. Terdapat keterlambatan pengajuan perpanjangan Ijin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing (IMTA) Expatriate Payroll and Burden merupakan salah satu komponen biaya yang dibebankan oleh Home Office Chevron kepada PT CPI sebagai salah satu anak perusahaan. serta memberi sanksi kepada personil yang tidak mematuhi ketentuan yang berlaku. dan direct services. e. baik yang terdapat pada tangki maupun pada pipa. serta yang melebihi kebutuhan proyek dan melaporkan hasilnya kepeda BPMigas. Sehingga akan menjamin jumlah listrik yang disalurkan akan selalu benar. 3) Analisa terhadap perlunya pengadaan jasa-jasa pemrosesan listrik dan uap telah dilakukan oleh PT CPI melalui studi kelayakan proyek (feasibility study) pada pertengahan s/d akhir tahun 1996. Theoritical tax. 3.870. b. serta ketentuan yang mengatur aset yang berhenti beroperasi sementara atau selamanya setelah dilakukan PIS. Housing equalization. serta BPMigas lebih teliti dalam memberikan izin atas WP&B kontraktor.

00 7.67 0.201.291.602.64 1.33 1.805.328. Sehingga keterlambatan tersebut menyebabkan ekspatriate yang dipekerjakan oleh PT CPI tidak mempunyai IMTA.099.00 723.92 1.391.432.00 0.606.713.618.920.86 1. Juni) masing-masing sebesar US$1.793.No.974.328.819.870.59 406.39 1.17 20.002.97 337. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Bulan Januari Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agust September Oktober Nopember Desember Jumlah Total Income 1.229. pembebanan biaya tersebut ke dalam Cost Recovery pada umumnya hanya berdasarkan Debit Memo/Invoice saja tanpa dilampiri bukti-bukti pendukung dan cara-cara perhitungan yang mendasarinya.391.13 tahun 2003 Bab VIII pasal 42 ayat 1 tentang penggunaan tenaga kerja asing menjelaskan bahwa setiap pemberi kerja yang memperkerjakan tenaga kerja asing wajib memiliki ijin tertulis dari Menteri atau pejabat yang ditunjuk.36 2.906.826.86 1.40 1.556.859.336. Rata-rata perpanjangan IMTA tersebut baru diajukan oleh PT CPI setelah 3 (tiga) bulan bahkan ada yang setelah 8 (delapan) bulan baru diajukan.810.20 1.896.119.44 Namun.d.62 1.00 664.886.701.398.95. diketahui bahwa PT CPI selalu terlambat dalam mengajukan perpanjangan IMTA kepada Departemen Tenaga Kerja dan Imigrasi.057.762.440. Juni) masing-masing sebesar USD1.500.26 1.00 0.964.96 2.410.748.38 1.00 469.11 387.12 1.00 281.181.00 350.037.14 407.579.23 PT Chevron Pacific Indonesia .399.349.418.90 1.301.576. IMTA yang sudah diterbitkan oleh Dinas Tenaga Kerja Propinsi Riau.332. Hal tersebut disebabkan PT CPI tidak mematuhi SK Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No.627.22 1.26 379.588.011.832.574.581.74 405. Pasal 11 point 1 SK Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No:KEP-20/MEN/III2004 tentang tata cara memperoleh ijin memperkerjakan tenaga kerja asing menyebutkan bahwa pemberi kerja mengajukan permohonan perpanjangan IMTA kepada Direktur atau Gubernur dalam jangka waktu selambat-lambatnya 30 hari kerja sebelum jangka waktu berlakunya IMTA berakhir.60 379.021.226. Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap proses pengajuan atau perpanjangan Ijin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing (IMTA) yang dilakukan PT CPI. Sedangkan point 3 menjelaskan bahwa IMTA perpanjangan tidak dapat diterbitkan apabila masa berlaku IMTA berakhir.79 17.643.04 dan US$1.808.375. Sehingga sulit untuk menentukan kewajaran perhitungan atas Expatriate Payroll and Burden tersebut. BPK-RI .927.616.446.757.824.65 401.76 430.045.646.72 381.616.590.62 4.437.72 419.92 1.316.579.452. Lebih jauh.063. invoice billing summary dan ekspatriate summary.777.97 2.92 1. UU No.487.116.65 1.001.531.372.40 Billed 1.50 1.402.03 3.255. Hal tersebut mengakibatkan Expatriate Payroll and Burden terlalu tinggi dibebankan ke dalam cost recovery tahun 2004 dan 2005 (s.567. namun salary tetap dibayarkan oleh PT CPI sehingga dengan memperhitungkan keterlambatan minimal 3 (tiga) bulan maka terdapat Expatriate Payroll and Burden yang terlalu tinggi dibebankan ke dalam cost recovery PT CPI tahun 2004 dan 2005 (s.117.581.692.95.88 -/8.d.00 1.386.523.27 915.Kep-20/MEN/III/2004 tentang jangka waktu pengajuan perpanjangan IMTA dan kurangnya control dari PT CPI atas kebenaran perhitungan Expatriate Payroll and Burden yang dibebankan oleh Home Office Chevron.415.49 1.04 dan US$1.96 Burden 412.

Dimana PT CPI tidak bisa memulai proses perpanjangan IMTA 3 bulan sebelum periodenya berakhir karena perpanjangan IMTA harus sesuai dengan periode jabatan yang tercantum RPTK 2004-2007. BPK-RI . AFE ini kemudian direvisi menjadi sebesar US$20. IMTA tersebut berlaku surut sesuai dengan masa berlaku KITAS yang baru. dari Dinas Tenaga Kerja sebelum masa berlaku IMTA berakhir. Sesuai dengan tahapan proses pengajuan perpanjangan IMTA.924 tidak memberikan manfaat yang menguntungkan bagi kegiatan operasional PT CPI. PT CPI akan selalu melakukan proses perbaikan kerja ke depan sehingga proses mendapatkan IMTA perpanjangan ini dapat diperoleh tepat waktu. B.797. Adapun proses perpanjangan IMTA yang periodenya berakhir antara September dan Desember 2004. CPI lebih meningkatkan kontrol atas pengajuan dan perpanjangan IMTA serta meningkatkan kerja sama dengan pihak-pihak terkait agar pengajuan dan perpanjangan IMTA tersebut tidak terlambat. Anggaran untuk Expatriate Payroll and Burden telah disetujui oleh BPMigas dalam WP&B tahunan dan keberadaan mereka sesuai dengan Rencana Penggunaan Tenaga Kerja (RPTK) yang telah disetujui oleh Pemerintah Indonesia melalui Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan syah sesuai dengan Kartu Izin Tinggal Terbatas (KITAS) yang dikeluarkan oleh Kantor Imigrasi dan Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing (IMTA) yang dikeluarkan oleh Dinas Tenaga Kerja Propinsi Riau. Temuan yang berhubungan dengan cost recovery. Tetapi mulai pertengahan 2005 PT CPI sudah dapat memulai proses pengurusan dokumen pegawai ekspatriate sekitar 3 bulan sebelum IMTA berakhir.979.24 - PT Chevron Pacific Indonesia . 3 dan 5. Proyek Modifikasi Stasiun Pengumpul (Gathering Station Modification) dengan total biaya US$33. BPK-RI menyarankan agar PT. 1.000. diajukan terlambat karena RPTK 2004-2007 yang berlaku mulai 1 November 2004 baru disetujui Depnakertrans pada 20 Agustus 2004. sesuai dengan advis BPK. Dengan perbaikan proses ini.228. PT CPI juga sudah berhasil memperpendek waktu pengurusan DPKK dengan membayarnya di Bank BNI Pekanbaru. PT CPI telah mendapatkan Surat TA-02 yang merupakan syarat untuk dapat mengajukan KITAS dan membayar DPKK. mulai awal 2006 IMTA perpanjangan diharapkan bisa diperoleh lebih cepat.PT CPI menjelaskan bahwa semua biaya yang timbul dari keberadaan ekspatriate di perusahaan berupa Expatriate Payroll and Burden layak dimasukkan ke dalam perhitungan Cost Recovery karena para ekspatriate tersebut benar-benar bekerja untuk PT CPI dan keberadaan mereka telah sesuai dengan aturan yang berlaku. Pasir dari minyak yang diproduksi beserta air yang diolah mengendap di tangki-tanki pemisah. meskipun tanda terima tetap harus dimintakan dari Bank BNI Cabang Tebet di Jakarta.000. Proyek modifikasi stasiun pengumpul dilaksanakan berdasarkan AFE No. dan telah disetujui oleh Pertamina BPPKA pada tanggal 14 Oktober 1997. Sekalipun IMTA perpanjangan diterbitkan terlambat. yang disetujui oleh Pertamina BPPKA pada tanggal 1 Juli 1996 dengan jumlah anggaran yang diajukan adalah sebesar US$3. Peningkatan jumlah anggaran yang mencapai 544% ini terjadi karena perubahan jumlah Central Gathering System (CGS) yang akan dimodifikasi dari sebelumnya hanya 1 (CGS 4) menjadi 4 dengan tambahan CGS 1. Proyek ini bertujuan untuk membangun Sand Removal Facilities (SRF) yang berfungsi untuk mengambil padatan berupa pasir (sand) yang berada di tangki-tangki pemisah di fasilitas CGS. 95-7008.

Dalam PSC tidak disebutkan syarat-syarat apa yang harus dipenuhi agar suatu proyek sudah dapat dinyatakan PIS. Walaupun PT CPI belum menerima persetujuan dari BPMigas atas AFE Closed Out Report yang diajukan. 077/C0000/2000-SO dinyatakan bahwa pengadaan barang/jasa wajib dilaksanakan dengan prinsip-prinsip efektif dan efisien. pasir dikeluarkan melalui mangkok saluran pasir yang terdapat pada dasar tangki sementara tangki harus diisolasi (shut down) untuk kemudian dibersihkan secara manual. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi ini relatif baru.979. Pembangunan empat SRF sekaligus tanpa adanya pilot projek dan adanya over budget yang besar sekali menunjukkan bahwa pihak PT CPI yang terlibat dalam proyek ini tidak bekerja secara profesional. berdasarkan Memorandum yang disampaikan kepada Finance and Accounting Team PT CPI.d tahun 2002. Berdasarkan PSC CPI Rokan artikel III. Sebelumnya. panitia pengadaan. penyedia barang/jasa dan para pihak yang terkait dalam pelaksanaan pengadaan barang/jasa seharusnya memenuhi etika pengadaan barang/jasa. namun PT CPI menerapkannya dengan langsung membangun fasilitas ini di 4 CGS. Dasar/pertimbangan pelaksanaan proyek ini adalah untuk menjaga kapasitas CGS pada tingkat yang dibutuhkan sesuai dengan perkiraan produksi. pasir diambil dari kolam tersebut menggunakan calm-shell shovels dan diangkut dengan truk ke pembuangan akhir.841. dinyatakan bahwa depresiasi akan dihitung pertama kali saat aset telah Placed Into Service (PIS) dengan jumlah penuh yang diperkenankan untuk tahun pertama. Disamping itu. biaya depresiasi yang telah dibebankan sebagai cost recovery untuk proyek ini adalah sebesar US$23. daya. Berdasarkan pemeriksaan lebih lanjut diketahui bahwa yang menyatakan PIS suatu proyek adalah Project Manager Operation Support PT CPI. Berdasarkan Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pertamina/KPS/JOB/TAC. Pasir dan lumpur dari mangkok saluran pasir tadi dialihkan ke kolam penampungan. kemandirian dan menjaga informasi yang bersifat rahasia. sehingga pasir harus dapat diambil dari tangki-tangki pemisah sedangkan tangki-tangki masih tetap dihidupkan dan pembersihan secara manual dapat dikurangi. Pejabat yang berwenang. tanpa mempertimbangkan apakah proyek ini dapat berjalan dengan baik dan mencapai tujuan yang diharapkan.515. BPMigas sebagai Badan yang diberi tugas untuk melakukan pengawasan atas pelaksanaan kegiatan operasional Kontraktor PSC seharusnya BPK-RI . Artinya harus sesuai dengan kebutuhan yang ditetapkan dan dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya sesuai dengan sasaran yang ditetapkan perusahaan serta harus diusahakan dengan menggunakan dana.924 atau terjadi over budget sebesar 63%. Selanjutnya. fasilitas yang sekecil-kecilnya untuk mencapai sasaran yang ditetapkan dalam waktu sesingkatsingkatnya dan dapat dipertanggungjawabkan. kandungan minyak yang terbuang bersama air juga dapat dikurangi. Sampai dengan Semester II tahun 2005. yaitu bekerja secara profesional dengan menjunjung tinggi kejujuran. Pada tanggal 29 September 2004. Over budget ini terjadi karena walaupun penerapan dari teknologi pemindahan pasir bukanlah hal yang baru. PT CPI menyampaikan Close out Report dengan realisasi biaya yang dikeluarkan untuk proyek ini adalah sebesar US$33. SK Direksi Pertamina No.Pasir ini akan mengurangi isi tangki dan harus dikeluarkan. namun untuk memindahkan pasir berminyak adalah yang pertama kali dilakukan.25 PT Chevron Pacific Indonesia . PT CPI telah membebankan biaya proyek ini ke cost recovery dengan mendepresiasi nilai proyek ini sesuai PSC (proyek dinyatakan telah Placed Into Services) dari tahun 1996 s. sehingga aset-aset yang berasal dari proyek tersebut dapat didepresiasi.

SRF dalam kondisi rusak (shut down). Berdasarkan data produksi diketahui bahwa SRF ini berproduksi pertama kali pada bulan May 2002 dengan jumlah sand yang dihasilkan sebanyak 22 m3.800 m3 per bulan) untuk tiga tahun pertama dan akan meningkat menjadi 90m3 per hari (2.menjadi pihak yang memberi keputusan apakah suatu proyek sudah dapat di PIS atau belum.700 m3 per bulan) untuk 3 tahun mendatang. 27 Januari 2006. Karena dengan telah PIS-nya suatu proyek. laporan aktivitas dan wawancara yang dilakukan pada petugas di lapangan. 27 Januari 2006.000 m3 per bulan) untuk tiga tahun pertama dan akan meningkat menjadi 450 m3 per hari (13. Saat pengecekan fisik dilakukan. Sampai saat ini. Sampai saat ini belum menghasilkan sand (belum berproduksi). Apabila yang melakukan PIS suatu proyek adalah pihak Kontraktor PSC saja tanpa adanya evaluasi dan persetujuan dari BPMigas.700 m3 per bulan) untuk 3 tahun mendatang. Suatu aset seharusnya baru bisa dianggap telah PIS apabila aset tersebut telah berjalan dengan baik sesuai dengan tujuan yang diharapkan. BPK-RI . Karena dengan semakin cepatnya PIS suatu proyek. b. Meskipun demikian. SRF di CGS 4 sudah mulai beroperasi kembali setelah sebelumnya rusak dan diperbaiki (belum didapat informasi sejak kapan SRF ini mulai beroperasi kembali). maka Pemerintah akan mengganti biaya dari suatu proyek tersebut tanpa mendapat manfaat atas proyek tersebut. tentu saja pihak Kontraktor PSC akan berupaya untuk melakukan PIS secepat mungkin tanpa mempertimbangkan apakah proyek tersebut sudah dapat berjalan dengan baik atau tidak. Berdasarkan. Pada bulan Juni dan Juli. maka Pemerintah sudah dibebankan dengan merecover biaya proyek tersebut dengan mekanisme depresiasi.26 - PT Chevron Pacific Indonesia . SRF di CGS 1 mulai dibangun pada bulan Agustus 1996 dengan perkiraan sand yang akan dihasilkan adalah sebanyak 60m3 per hari (1.800 m3 per bulan) untuk tiga tahun pertama dan akan meningkat menjadi 90m3 per hari (2.500 m3 per bulan) untuk 3 tahun mendatang. SRF di CGS 4 mulai dibangun pada bulan November 1997 dengan perkiraan sand yang akan dihasilkan adalah sebanyak 300m3 per hari (9. c. Adanya emisi H2S dekat SRF mengakibatkan rusaknya beberapa perlengkapan SRF dan membahayakan operator. SRF ini telah di Placed Into Services (PIS) pada bulan Juni 2002 dan dibiayakan (di cost recovery) melalui mekanisme depresiasi sejak tahun tersebut. maka semakin cepat pula biaya proyek tersebut diganti oleh Pemerintah. SRF ini telah PIS pada bulan Juni 2002 dan dibiayakan (di cost recovery) melalui mekanisme depresiasi sejak tahun tersebut. Saat pengecekan fisik dilakukan. SRF di CGS 3 dalam kondisi rusak (shut down). Apabila BPMigas tidak melibatkan diri dalam menyatakan suatu proyek sudah dapat di PIS. didapatkan informasi sebagai berikut: a. SRF ini belum menghasilkan sand dan beberapa aset SRF ini hilang (dicuri). SRF di CGS 3 mulai dibangun pada bulan November 1997 dengan perkiraan sand yang akan dihasilkan adalah sebanyak 60m3 per hari (1. dikhawatirkan proyek-proyek yang gagal atau tidak/belum memberikan manfaat yang dijanjikan sesuai proposal proyek yang diajukan ke Pemerintah. SRF ini PIS pada bulan Mei 2002 dan dibiayakan (di-cost recovery) melalui mekanisme depresiasi sejak tahun tersebut. pengecekan fisik yang dilakukan pada proyek ini.

Disamping itu. namun beberapa kali mengalami kerusakan sehingga tidak dapat beroperasi secara optimal. d. SRF di CGS 5 dalam kondisi rusak (shut down). SRF ini tidak beroperasi lagi (shut down).800 m3 per bulan) untuk tiga tahun pertama dan akan meningkat menjadi 90m3 per hari (2. SRF di CGS 5 mulai dibangun pada bulan November 1997 dengan perkiraan sand yang akan dihasilkan adalah sebanyak 60m3 per hari (1. Apabila dibandingkan antara jumlah sand yang diperkirakan akan dihasilkan (1. kegiatan operasi di CGS dapat berjalan tanpa perlu mematikan tangki.27 PT Chevron Pacific Indonesia . Terbukti dengan kondisi 3 SRF yang dalam keadaan rusak dan 1 SRF (SRF di CGS 4) meskipun dalam keadaan beroperasi. Dengan sistem seperti ini.33% dari perkiraan jumlah sand yang direncanakan diproduksi. sand plant shut down lagi sampai dengan bulan Desember 2002. Pada bulan Agustus dan September. Agar kegiatan operasi di masing-masing CGS tidak terganggu. maka didapati bahwa hasil terbaik yang pernah dicapai oleh SRF ini adalah menghasilkan sand sebanyak 14. Juni 2005 belum diperoleh. Hal ini dapat dilakukan tanpa perlu mematikan tangkitangki pemisah tersebut. Bulan Januari sampai dengan bulan Mei 2003. Saat ini.44% dari perkiraan jumlah sand yang direncanakan diproduksi.dilakukan perbaikan atas sand plant ini sehingga tidak dapat digunakan. sand dapat dihasilkan sebanyak 80m3 dan 120m3.800m3 per bulan) dengan jumlah terbanyak sand yang pernah dihasilkan SRF di CGS 5 (260m3 pada bulan November 2002). Pada bulan-bulan berikutnya. maka didapati bahwa hasil terbaik yang pernah dicapai oleh SRF ini adalah menghasilkan sand sebanyak 1. Apabila dibandingkan antara jumlah sand yang diperkirakan akan dihasilkan (9. saat ini pasir-pasir yang menumpuk di tangki-tangki pemisah dialirkan ke kolam penampungan melalui pipa tanpa melalui slurry tank dan sand plant. Adapun penambahan fasilitas yang diperlukan untuk sistem ini dibandingkan pada saat belum adanya proyek ini adalah pembangunan sand-plant valves dan jetting valves. Adanya kerusakan-kerusakan SRF di atas tidak hanya menggangu kegiatan operasi PT CPI. kemudian bulan Januari 2003 sampai dengan Maret 2003. Pada bulan berikutnya (Desember) tidak beroperasi. SFR sudah mulai beroperasi kembali.000m3 per bulan) dengan jumlah terbanyak sand yang pernah dihasilkan SRF di CGS 4 (120m3 pada bulan September 2002).700 m3 per bulan) untuk 3 tahun mendatang. Berdasarkan data produksi diketahui bahwa SRF ini berproduksi pertama kali pada bulan May 2002 dengan jumlah sand yang dihasilkan adalah sebanyak 260m3. Berdasarkan data diatas dapat disimpulkan bahwa SRF ini tidak dapat beroperasi dengan baik.d. 16 m3 dan 6 m3. kembali memproduksi sand namun dengan jumlah yang sangat sedikit sekali. apabila dibandingkan antara perkiraan pasir yang akan dihasilkan dengan aktual pasir yang dihasilkan dapat disimpulkan bahwa pembangunan SRF ini tidak mencapai tujuannya dan tidak bermanfaat bagi kegiatan operasi PT CPI. Kemudian. SRF ini PIS pada bulan November 2002 dan dibiayakan (di-cost recovery) melalui mekanisme depresiasi sejak tahun tersebut. Jetting ring yang terpasang bersamaan dengan sand-plant berguna untuk BPK-RI . namun juga akan menambah biaya perbaikan. 2 Maret 2006. yaitu masing-masing sebanyak 70 m3. Sampai dengan akhir pemeriksaan lapangan. data produksi bulan Mei 2003 s.

BPMigas tidak melakukan pengendalian yang cukup atas proyek ini dengan tidak memberikan jawaban (disetujui atau tidak) AFE Close out yang telah diajukan oleh PT CPI. Atas permasalahan tersebut.979. membangunan SRF di empat CGS sekaligus (tanpa adanya pilot project) meskipun proyek ini merupakan proyek baru bagi PT CPI dan bagi industri perminyakan. b.000. PT CPI membebankan biaya proyek yang belum berjalan dengan baik dan belum mencapai tujuan yang diharapkan ke dalam perhitungan cost recovery melalui mekanisme depresiasi. Dengan adanya fasilitas ini. AFE 95-7008 ini mempunyai budget US$ 3. pelampauan anggaran (overrun) yang terjadi dapat dijustifikasi dalam laporan AFE close out.924 tidak memberikan manfaat yang menguntungkan bagi kegiatan operasional PT CPI. Hal ini disebabkan karena: a.000.Pemogokan buruh yang terjadi (hal ini terjadi pada masa reformasi dan pergolakan politik di Indonesia sedang mengalami euforia) di area PT CPI mengakibatkan rendahnya produktifitas pekerjaan. Biaya Proyek Modifikasi Stasiun Pengumpul sebesar US$33.797. Close Out Report). serta infrastruktur seperti water makeup. BPK-RI . dan sandjetting. PT CPI menyatakan bahwa Proyek Modifikasi Stasiun Pengumpul ini adalah bagian dari paket AFE DSF Area 8. Proposal perubahan anggaraan biaya diajukan ke BPMigas untuk menambah beberapa ruang lingkup pekerjaan antara lain sand handling equipment. 3. mengganti tube bundles. . c.28 PT Chevron Pacific Indonesia . Sesuai dengan ketentuan untuk proyek yang diketahui akan overrun dimana penyelesaian fisiknya telah melebihi 70%. Adanya alternatif pemindahan sand di tangki pemisah tanpa perlu mengisolasi tangki semakin menguatkan bahwa pembangunan fasilitas ini tidak memberikan manfaat bagi kegiatan operasi PT CPI. 8 & 9 karena proyek enhanced oil recovery (steam flood). Permasalahan tersebut mengakibatkan: a. yang pada akhirnya akan menambah biaya penyelesaian proyek.515 dengan me-recover biaya penyusutan atas proyek ini. b. dan compressor (Ref. transformer.00 yang dipergunakan untuk modifikasi stasiun pengumpul dengan menambah sand plants dan sand jets. Perubahan AFE ini sudah didiskusikan dan disetujui oleh BPMigas. pasir dalam tanki dapat dikeluarkan tanpa perlu mengisolasi (shutdown) tangki. sehingga entitlement Pemerintah menjadi berkurang. 4 dan 5 sehingga merubah budget menjadi US$ 20. terbukti dengan over budget yang besar (63%).Penambahan peralatan yang harus dibeli setelah AFE disetujui supaya sistem ini dapat dioperasikan sebagaimana mestinya. Berikut ini adalah beberapa alasan yang menyebabkan terjadi kenaikan biaya pekerjaan ini: .228. sandpan. Pada awal desainnya. memasang air cooled heat exchanger dan menambah charge pumps (hanya CGS 4 saja).menggemburkan pasir. PT CPI tidak berkerja secara profesional dengan tidak merencanakan Proyek Modifikasi Stasiun Pengumpul ini dengan matang. motor control center. slop oil handling equipment dan penambahan fasilitas shipping pump untuk CGS 1.00. Pemerintah dirugikan sampai tahun 2005 (semester II) sebanyak US$23. Peralatan tersebut antara lain adalah peralatan untuk otomatisasi water make up. Perubahan ini dilakukan untuk mengantisipasi tambahan pasir berminyak (oily sand) yang dihasilkan dari produksi area 7. waste water treating equipment.841.

Selain itu BPMigas harus mengevaluasi/menilai kembali fungsi dan pemanfaatan proyek-proyek tersebut. Slurry Tank dan perlengkapan pendukungnya tidak diaktifkan sementara menunggu perbaikan kedua alat tersebut diatas selesai.307.039 dan Telah Diperhitungkan Pada Cost Recovery. selaku BPK-RI .496.000. Usaha perbaikan untuk mencapai kehandalan operasi (reliabity) sedang dilakukan sehingga peralatan ini dapat dipergunakan secara efektif dan efisien. atau hanya 8% melebihi dari anggaran yang disetujui oleh BPMigas maupun PT CPI management. PT CPI menyadari bahwa pada saat ini terdapat masalah reliability dalam pengoperasian sebagian sistem SRF. akan tetapi secara keseluruhan biaya pelaksanaan untuk paket AFE Area 8 ini masih dalam range 108% dari total anggaran yang diajukan (Budget US$ 133. fasilitas sand plant telah menunjukkan kinerja yang baik dalam mereduksi dan me-recover kandungan air dan oil dalam pasir yang akan dibuang pada masa run test dan pada saat Place Into Services. kemudian kedua biaya tersebut dibebankan kepada pengeluaran kapital proyek ini. Pada saat ini. hal ini dapat dilihat dari perbedaan kualitas pasir buangan yang dihasilkan langsung ke sand pit dengan pasir buangan yang dihasilkan oleh sand plant skid.00 Vs Actual US$ 143. Dalam Production Sharing Contract (PSC). Selama masa perbaikan sand plant skid di CGS 1 dan CGS 3. Authorization For Expenditure (AFE) merupakan sistem yang dirancang untuk memberikan informasi yang penting bagi BPMigas. Chevron Pacific Indonesia (PT CPI) Sebesar US$ 75.222.580. dimana depresiasi hanya dilakukan apabila aset telah terpasang dan beroperasi (PIS). untuk sementara proses pembuangan pasir dilakukan dengan menggunakan sand-plant dan sand jetting beserta pompa pendukung lainnya yang dipasang bersamaan dengan pembangunan fasilitas sand plant untuk kemudian di-drain menuju sand pit.. BPK-RI menyarankan agar untuk aset-aset yang belum berjalan dengan baik (belum mencapai tujuan yang diharapkan) tidak disusutkan terlebih dahulu.29 - PT Chevron Pacific Indonesia . 2. Keseluruhan SRF pada masing-masing CGS telah berhasil dioperasikan. .95 Yang Telah Diselesaikan Pelaksanaannya Tanpa Persetujuan BPMigas Terlebih Dahulu. BPMigas sebagai lembaga yang diberi kewenangan untuk melakukan pengendalian atas Kontraktor PSC seharusnya melakukan pengendalian yang memadai terhadap proyek-proyek Kontraktor PSC dengan mengevaluasi Laporan Closed out AFE yang diajukan oleh Kontraktor PSC dan menentukan kapan suatu proyek ini sudah dapat PIS (didepresiasi). Terdapat Overrun Authorization For Expenditure Closed Out (AFE CO) PT.887. Meskipun biaya yang dikeluarkan untuk Proyek Modifikasi Stasiun Pengumpul ini adalah lebih besar 62% dari anggaran yang diajukan. SRF di CGS 4 dan 5 telah berfungsi dengan baik. Secara fungsi kerja.Estimasi biaya di AFE untuk cone bottom tank relatif rendah karena adanya kenaikan harga material.00). Serta Terdapat Overrun AFE Yang Belum Di-Closed Out sebesar US$5. peralatan yang sedang dalam perbaikan adalah Sand Plant Skid di CGS 1 dan CGS3.Biaya tetap dan biaya inspeksi pada saat perhitungan perkiraan biaya diperkirakan akan dibebankan kepada Operating Expense Budget.718. Cost recovery untuk biaya kapital melalui depresiasi dilakukan setelah Placed Into Services sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pasir buangan yang dihasilkan jika hanya melalui sand plant dan sand jetting tanpa diproses terlebih dahulu melalui slurry tank dan sand plant skid masih mempunyai kadar air dan minyak yang tinggi. Untuk CGS 1 dan CGS 3.

Sampai berakhirnya pemeriksaan.30 PT Chevron Pacific Indonesia .398. Dari 24 proyek tersebut.95 dan belum mendapat persetujuan dari BPMigas. Kontraktor PSC mengajukan usulan AFE kepada BPMigas berdasarkan Rencana Pekerjaan (Work Program & Budget/WP&B) yang disusun sebelumnya.718. namun belum dilaporkan ke BPMigas menggunakan kode “60”. dengan demikian potensial untuk tidak di-recovery. Untuk AFE lainnya yang masih berjalan dan belum selesai dikategorikan sebagai AFE berstatus Aktif. AFE juga merupakan pedoman batas anggaran yang harus dipatuhi oleh Kontraktor PSC dalam melaksanakan kegiatan/pekerjaan. diketahui terdapat 130 AFE tahun 2004 dan 70 AFE di tahun 2005 yang pelaksanaan pembiayaannya melebihi batas anggaran yang ditetapkan dalam AFE approval (terlampir). diketahui sebanyak 24 proyek barang modal (capital assets) dengan realisasi biaya telah melebihi anggaran di atas 10% yang sampai dengan 31 desember 2005 belum dilaporkan ke BPMigas. Setelah pekerjaan/kegiatan selesai.937. Selanjutnya berdasarkan informasi dari Bagian Management Asset dan Project diketahui bahwa seluruh nilai pelampauan tersebut belum mendapatkan pengesahan secara formal dari BPMigas. Dari pemeriksaan terhadap Financial Quarterly Report (FQR) per 31 Dsember 2004 diketahui bahwa status proyek-proyek AFE tersebut sudah selesai namun belum dilaporkan kepada BPMigas.152. Berdasarkan laporan AFE Closed out (kode “80”) dan Laporan Realisasi Overrun AFE per 31 Desember 2004 dan 2005 pada PT CPI. Apabila dalam pelaksanaan pekerjaan ternyata terdapat pengeluaran yang melebihi batas anggaran sebesar 10% atau lebih. tim belum menerima persetujuan dari BPMigas terhadap pelampauan anggaran tersebut.553.222.488.303.195. BPK-RI . total nilai budget yang disetujui adalah sebesar US$31. menyetujui dan memantau pengeluaran proyek-proyek dalam rangka kontrak bagi hasil. AFE ini harus disampaikan ke BPMigas dalam waktu paling lama 4 (empat) bulan setelah pekerjaan selesai dilaksanakan. mengevaluasi. Dari Lampiran 1 dan 2 diketahui bahwa pada Tahun 2004 dan 2005 terdapat AFE yang realisasi pembiayaannya melebihi 10% dari anggaran dengan total nilai pelampauan masing-masing sebesar US$64.65. Sebelum melaksanakan pekerjaan. dan selaku penanggung jawab operasional untuk keperluan menganalisa. Dalam rangka pengendalian AFE.00 atau lebih. Selanjutnya. baik untuk kegiatan proyek-proyek utama (main project) maupun pekerjaan non proyek (non project) yang memerlukan pengeluaran US$500.844 dan US$11. maka Kontraktor PSC berkewajiban untuk memberikan penjelasan/justifikasi secara rinci sebab-sebabnya. PT CPI menerapkan kodering untuk status AFE yang telah selesai dan yang dilaporkan ke BPMigas dengan menggunakan kode “80”. Untuk AFE yang telah selesai dan di closed out secara finansial dalam laporan keuangan PT CPI. dan justifikasi tersebut harus mendapat pengesahan dan persetujuan dari BPMigas. 2 Maret 2006. BPMigas mengkaji usulan AFE tersebut dan memberikan persetujuan (approval) untuk dilaksanakan apabila telah memenuhi persyaratan teknis dan keuangan. sehingga terdapat overrun di atas 10% sebesar US$5.00 dengan realisasi sebesar US$40. AFE tersebut akan disampaikan kembali ke BPMigas beserta laporan realisasinya yang tertuang dalam laporan AFE Closed Out.penanggung jawab manajemen untuk memperoleh informasi lengkap mengenai kegiatan yang diusulkan Kontraktor PSC. Sedangkan untuk AFE tahun 2004 dan 2005 yang berstatus 60.000.

Kondisi tersebut mengakibatkan a. Peraturan BPMigas yang memberikan kesempatan bagi kontraktor untuk terjadinya overrun b. c. PT CPI mengusulkan tenggang waktunya dijadikan 6 (enam) bulan.31 - PT Chevron Pacific Indonesia . PT CPI menjelaskan bahwa proyek yang penyelesaian fisiknya telah melebihi 70%. kebanyakan terjadi untuk AFE pemboran sumur (drilling development). BPK-RI menyarankan PT CPI lebih aktif melakukan koordinasi dengan BPMigas untuk segera memperoleh persetujuan atas justifikasinya terhadap pelaksanaan proyek-proyek AFE yang melampaui anggaran. AFE merupakan sistem yang dirancang agar dapat menyediakan informasi penting bagi BPMigas dalam menganalisa. Laporan Close Out harus disampaikan kepada BPMigas paling lambat 4 bulan setelah dilakukan Put On Production (POP) atau Placed Into Services (PIS). disebutkan bahwa: a. evaluasi persetujuan. b. d. Sebagai konsekuensinya. Tidak maksimalnya pengawasan dan pengendalian oleh BPMigas atas proses pelaksanaan proyek yang realisasinya melampaui anggaran. Jika jumlah realisasi biaya diatas 10% dari budget.261. Terjadi overrun atas AFE yang melampaui anggaran sebesar US$81. Kontraktor PSC diberikan peluang untuk melakukan overrun dan menjustifikasinya dalam laporan AFE close out. maka waktu tenggang 4 (empat) bulan setelah PIS harus menyampaikan laporan AFE Close Out tidak realistis. Justifikasi tersebut akan dikaji kelayakannya oleh BPMigas baik secara teknis maupun finansial.Kondisi tersebut tidak sesuai dengan Financial Budget and Reporting Procedure Manual of Production Sharing Contract (1993 Revision Manual). bahwa revisi AFE diberi kesempatan 2 (dua) kali dan dilakukan karena proyek fisik belum selesai (kurang dari 70%) apabila lebih maka ada resiko tidak di cost recovery. Dari analisa PT CPI terhadap realisasi AFE yang melampaui anggaran tersebut. pelampauan anggaran (overrun) yang terjadi dapat dijustifikasi dalam laporan AFE Close Out yang pada umumnya mencakup perubahan scope pekerjaan. c.605. Tujuan BPMigas untuk menggunakan AFE sebagai sistem untuk melakukan analisa. Dengan kondisi banyaknya AFE yang harus dikelola dan kompleksitas pengalokasian biaya ke setiap AFE sumur. maupun gangguan sosial yang terjadi dilapangan. Petunjuk penanganan AFE yang meliputi aspek isi dan prosedur proses persetujuan AFE antara lain mengatur. Selain itu BPMigas harus lebih tegas dalam penanganan proyek-proyek BPK-RI . maka operator harus melampirkan penjelasan terinci untuk mendapatkan konfirmasi dan persetujuan dari BPMigas. PT CPI tidak segera membuat Laporan Penyelesaian Proyek (AFE Closed out) kepada BPMigas khususnya untuk proyek yang telah selesai.95 Hal tersebut disebabkan adanya: a. kondisi alam. PT CPI mengusulkan untuk paket pemboran beberapa sumur yang sejenis (typical) digabungkan menjadi 1 (satu) AFE saja. dan pemantauan atas pelaksanaan pengeluaran biaya oleh Kontraktor PSC tidak tercapai. mengevaluasi. b. menyetujui dan memonitor semua pengeluaran proyek-proyek dari Kontraktor PSC. salah estimasi harga.

overrun. Disamping itu. khususnya yang penyelesaiannya sudah melebihi 70% dengan tidak me-recovery sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Namun karena kesalahan manajemen pengadaan material yang lama. 3. jumlah persediaan material menjadi sangat besar dan berlebih. Material senilai US$18.65. 3) Material yang induknya (parent unit-nya) sudah tidak ada lagi dan telah 5 tahun atau lebih tidak bergerak dan tidak ada prospek pemakaiannya.261. Material Branch Plant 11 WHSW. dengan nilai US$3. Setelah bulan Maret 2004. Tiap SBU berhak mengelola unitnya masing-masing. yaitu biaya material yang pembebanannya melalui mekanisme depresiasi (material capital) dan biaya material yang langsung dibebankan (material non capital) pada saat material tersebut telah menjadi milik PT CPI dan telah berada di Indonesia. b. 2) Material yang telah diupayakan untuk dioptimalkan penggunaannya dilingkungan PT CPI dalam menunjang operasinya. 4) Material yang telah diupayakan untuk dijual melalui penawaran ke lingkungan BPMigas/ PSC lain dengan cara dimasukkan ke Website BPMigas. Akibatnya.127.58.990. SBU dibubarkan sehingga pengadaan material pun menjadi terpusat.59 tidak memberikan manfaat bagi PT CPI namun telah dibebankan sebagai cost recovery Salah satu unsur biaya terbesar dalam kegiatan operasi PT CPI adalah biaya material. yang ternyata adalah material yang slow moving dan kemudian menjadi material dead stock. PT CPI melaksanakan sistem sentralisasi.261. PT CPI dibagi ke dalam beberapa Strategic Bussiness Unit (SBU). Sistem pengadaan material tersebut mengakibatkan menumpuknya jumlah material karena masing-masing SBU melakukan pembelian material yang mereka butuhkan tanpa melihat ketersedian material yang berada pada SBU lain. Pengadaan material dilakukan oleh Bagian Procurement PT CPI dengan mempertimbangkan ketersediaan material dan kebutuhan material. biaya material dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori. serta material yang dinilai nol karena sudah dibebankan ke dalam suatu proyek meskipun material tersebut tidak digunakan untuk proyek tersebut. Rincian material adalah sebagai berikut: a. Material dalam kelompok ini adalah material yang diusulkan untuk dihapuskan (write off) dengan memenuhi persyaratan sebagai berikut: 1) Material yang telah disimpan melebihi 5 (lima) tahun. juga terdapat material yang diterima tidak sesuai pesanan sehingga tidak dapat digunakan. yaitu sebesar US$15. Material Branch Plant 11WHSI dengan nilai sebesar US$15. PT CPI telah dibebani dengan material yang telah dibeli dengan jumlah yang tidak sedikit.32 - PT Chevron Pacific Indonesia . Sebelum bulan Maret 2004. Berdasarkan pemeriksaan terhadap material PT CPI diketahui bahwa terdapat beberapa kelompok material yang pengadaannya tidak mempertimbangkan kebutuhan penggunaannya sehingga material tersebut menjadi slow moving dan diusulkan untuk dihapuskan. BPK-RI .777. termasuk mengadakan material. Dilihat dari cara pembebanannya.916.58.708. Dengan sistem ini semestinya pengadaan material dapat dilakukan degan lebih efektif.708.

Pemerintah menanggung kesalahan manajemen pengadaan material PT CPI. PT CPI seharusnya merencanakan pembelian material dengan baik sehingga material yang dibeli adalah material yang benar-benar dibutuhkan dan dipakai untuk kegiatan operasinya. Berdasarkan PSC dinyatakan bahwa material non capital dapat dibebankan sebagai cost recovery apabila material tersebut telah dimiliki oleh PT CPI dan berada di Indonesia. Material Branch Plant 11WHCL. Ketentuan Umum Rantai Suplai. namun dalam sistem di PT CPI bernilai nol.951. Material Branch Plant 11WHSL. malah cenderung menambah beban PT CPI untuk memelihara material tersebut. c. Prinsip Dasar Pengelolaan Rantai Suplai dinyatakan bahwa “Kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan rantai suplai wajib dilaksanakan dengan prinsip Efektif. Berdasarkan Pedoman Tata Kerja Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BPMigas) No. BPK-RI . 007/PTK/VI/2004 tentang Pengelolaan Rantai Suplai Kontraktor Kontrak Kerja Sama. Akibatnya. d. Hal ini terlihat dari banyaknya jumlah material yang belum memberi manfaat ekonomis bagi PT CPI. BAB II huruf E. Material ini merupakan material yang berasal dari sisa proyek. rusak atau cacat. berarti harus sesuai dengan kebutuhan yang telah ditetapkan dan dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya sesuai dengan sasaran yang dietapkan perusahaan”. namun biaya material yang tidak digunakan tersebut dibebankan pada proyek tersebut. Buku Satu. Seharusnya PT CPI dapat menentukan harga perolehan dari material tersebut. Material dalam kelompok ini adalah material yang belum dan tidak dapat digunakan.5) Material yang tidak dapat lagi ditukar dikaitkan dengan pengadaan barang untuk kebutuhan operasi PT CPI. dengan nilai sebesar US$80.33 - PT Chevron Pacific Indonesia . dengan tetap mengganti biaya material yang tidak digunakan tersebut dalam bentuk cost recovery. dengan nilai yang dianggap nol. Dengan sistem recovery biaya seperti ini mengakibatkan PT CPI tidak merencanakan dan memesan pengadaan material dengan baik. Keempat kelompok material diatas merupakan material yang biayanya telah dimintakan penggantiannya (cost recovery) meskipun material tersebut belum memberikan manfaat apapun bagi terlaksanakan kegiatan operasional PT CPI dan belum memberi manfaat apapun bagi Pemerintah. kecil sekali material ini bisa ditagih kembali karena supplier material tersebut tidak berbisnis lagi dengan PT CPI. Kami kesulitan untuk mengetahui berapa nilai material kelompok ini karena PT CPI telah membebankan biaya material ini pada proyeknya dan nilai material yang tersisa dianggap nol. Material yang tidak digunakan. terdapat beberapa material yang fisiknya tidak melekat pada proyek tersebut karena memang material tersebut tidak digunakan. Material ini merupakan material yang tidak sesuai dengan pesanan namun telah diterima di gudang PT CPI dan telah dibayar.36. tidak selayaknya dibebankan sebagai biaya operasi. Hal ini terjadi karena suatu proyek memasukkan seluruh biaya material untuk proyek tersebut sesuai dengan jumlah material yang dibelinya tanpa memperhatikan apakan material tersebut digunakan untuk proyek tersebut atau tidak. Berdasarkan keterangan dari PT CPI. Seharusnya PT CPI tidak membayar material yang tidak sesuai dengan pesanan. Hal ini terjadi karena pengadaan material yang tidak efektif.

Dapat pula kami sampaikan bahwa. Surplus ini yang diperbolehkan adalah 10% dari nilai proyek dan tidak melebihi dari AFE yang telah disetujui.59 Pemerintah menjadi lebih kecil. terbukti dengan berkurangnya jumlah material tersebut menjadi US$14. Dan sistem pembelian material sudah diperbaiki. e. Ada kecenderungan dari PT CPI untuk membebankan material yang tidak digunakan dalam suatu proyek ke dalam biaya proyek yang diminta penggantian (cost recovery) sehingga biaya proyek tersebut menjadi lebih besar (overstated). semenjak 2004 kami sudah menerapkan proses penerimaan yang memungkinkan dilakukannya penangguhan pembayaran jika ada indikasi tidak sesuainya spesifikasi maupun jumlah barang yang dikirimkan. d. Jumlah ini sangat kecil dibandingkan dengan pembelian PT CPI yang mencapai US$80 juta sampai dengan US$100 juta setiap tahunnya. Material Branch Plant 11 WHSW telah memenuhi umur yang ditentukan. namun juga merugikan dari segi biaya pemeliharaannya. termasuk juga didalamnya pengendalian terhadap surplus stock tersebut. d.Permasalahan tersebut mengakibatkan: a.990. Material Branch Plant 11WHSL. Inefisiensi dalam pengadaan material sebesar US$18. Pihak BPMigas sangat tegas dalam penerapan aturan tersebut. c. b. PT CPI tidak segera menagih atas kesalahan pengiriman materialnya pada supplier sehingga terdapat material yang salah kirim dan tidak berguna bagi PT CPI. Cost recovery PT CPI terlalu tinggi sebesar US$18. Material Branch Plant 11WHSI masih digunakan.916. kemungkinan terjadinya vendor claim dapat diminimalkan. Dengan demikian. tidak akan dipakai lagi karena kebutuhannya sudah tidak ada (antara lain karena parent equipmentnya sudah tidak dioperasikan lagi). Material Branch Plant 11WHCL sebahagian besar adalah akumulasi vendor claim lama (diatas 5 tahun) yang tidak berhasil kami tagih karena vendor-nya sudah tidak ada. PT CPI tidak merencanakan pembelian material dengan baik sehingga terdapat banyak sekali material yang tidak digunakan dan tidak berguna. Pola pengadaan yang tidak ditujukan untuk efisiensi.59 Pemerintah melalui penggantian (cost recovery) ke PT CPI. dari SBU menjadi sentralisasi. Hal ini terjadi karena: a. Terdapat material yang tidak dapat digunakan yang selain tidak memberi manfaat ekonomis. dengan nilai yang dianggap nol merupakan surplus material dari proyek yang sudah di close out dipindahkan ke stock dengan nilai US$ 0 untuk dapat dipergunakan oleh proyek lain.34 PT Chevron Pacific Indonesia .4 juta per Pebruari 2006. yang membebankan sehingga entitlement c.916. BPK-RI . b. b. Sejak diterapkannya proses baru tersebut penambahan vendor claim pada branch plant ini sangat minimal. Kami pernah mengalami beberapa kasus dimana Usulan Penghapusan (WOP) yang kami ajukan dikembalikan karena ada data yang kurang lengkap atau meragukan mereka. Atas permasalahan tersebut. PT CPI menyatakan bahwa: a. c. PT CPI sudah mempunyai AFE monitoring system untuk mengontrol status (Over/Under) dari setiap AFE.990.

material yang diterima tidak sesuai pesanan namun tetap dibayar dan dibiayakan ataupun material sisa proyek dapat diminimalisir. Pemerintah tetap mengganti biaya material tersebut pada Kontraktor PSC meskipun material tersebut belum/tidak memberikan manfaat. khususnya di Propinsi Riau. PT CPI bekerjasama dengan Pemerintah Daerah setempat melalui Authorization For Expenditure (AFE) No.563.840.Sesuai dengan rencana yang sudah ada. Elektronik.aktivitas akademik Total Anggaran $5. dan Komunikasi.021 $56. suatu material sudah dapat di cost recovery apabila material tersebut telah landed (berada) di Indonesia.106. dan laporan closed out ke BPMigas baru diselesaikan pada tanggal 15 Desember 2005. disarankan agar PT CPI lebih aktif menawarkannya ke Kontraktor PSC lain atau ke pihak lain. seharusnya dibuat lagi ketentuan mengenai kapan suatu material dapat dibiayakan. karena Pemerintah akan menanggung resiko kesalahan Kontraktor PSC dalam membeli material. Institut tersebut bernama Politehnik Caltex Riau (PCR) dengan tiga program pembelajaran yaitu Komputer. diketahui bahwa proyek pembangunan PCR ini dimulai pada bulan Pebruari 2000 (mendahului persetujuan proyek oleh BPMigas) dan direncanakan selesai pada bulan Juni 2003. Berdasarkan laporan biaya capital untuk konstruksi fisik dari nilai biaya yang dikeluarkan sebesar US$5.510/L0000/2000-S1 tanggal 06 Juni 2000 membangun Institut Politehnik Riau di Pekanbaru. dead stock.00-2112 untuk Proyek Polytechnic Caltex Riau (PCR) membebani cost recovery sebesar US$6. Yayasan ini mengelola PCR sampai dengan yayasan dan PCR diserahkan pengelolaannya kepada Pemerintah Daerah Selanjutnya berdasarkan hasil pemeriksaan atas dokumen AFE.021 senilai 3. Untuk material yang dead stock atau surplus. Pelaksanaan Authorization For Expenditure (AFE) No.000 $1.35 - PT Chevron Pacific Indonesia .457.000 $6. Disamping itu.000 Realisasi $5. peralatan. PT CPI akan tetap mengoptimalkan penggunaan untuk kebutuhan internal dan melaporkan perkembangannya setiap kwartal ke BPMigas dengan tembusan ke BPK.563.000 telah digunakan dan beroperasi (Placed Into Services) BPK-RI .157 Dari hasil pemeriksaan atas proposal pendirian PCR diketahui bahwa PCR dikelola oleh sebuah yayasan dengan nama Yayasan Politehnik Riau yang berdiri berdasarkan Akta Notaris No.00-21112 yang disetujui oleh BPMigas dengan Surat No.Gedung. furniture Biaya Operasi . Karena berdasarkan PSC.136 $6. 4.500.83 tanggal 22 Juli 2000 yang bertujuan meningkatkan pendidikan di Indonesia. Proyek baru selesai seluruhnya pada Juni 2005.021 $1.050.136 $63. BPK RI menyarankan agar proses pembelian material direncanakan dengan lebih baik lagi sehingga material yang slow moving. Ketentuan dalam PSC tersebut sangat tidak adil bagi Pemerintah. seperti Pertamina. Rincian anggaran dan realisasi biaya pembangunan PCR adalah sebagai berikut: Jenis Pengeluaran Konstruksi fisik .457.450. Artinya apabila material tersebut belum atau tidak jadi digunakan.157 Overrun $7.156 Dalam rangka mendukung program pengembangan komunitas wilayah kerja PT CPI di Propinsi Riau.

781010 menunjukkan bahwa PT CPI juga menganggarkan dana untuk kegiatan akademis PCR.000 serta berpotensi merugikan Negara sebesar US$1.457. Texaco Overseas Holding Inc (TOHI).391 dan sebesar US$176.156. b. yang meliputi:eksplorasi. Cost recovery bertambah besar dengan adanya dana dari community development untuk tahun 2004 dan 2005 masing-masing sebesar US$122.03. selain berasal dari 3 (tiga) power plant yang dimiliki.630 yang pada akhirnya dimasukkan sebagai beban pemerintah melalui mekanisme cost recovery. Kebutuhan tenaga listrik dan uap PT CPI sejak Desember tahun 2000. produksi. Laporan Close Out harus disampaikan kepada BPMigas paling lambat 4 bulan setelah dilakukan Put On Production (POP) atau Placed Into Services (PIS).106. pengembangan. Kondisi di atas mengakibatkan a.36 PT Chevron Pacific Indonesia . Prinsip pengertian biaya operasi adalah meliputi semua pengeluaran yang terjadi dan kewajiban yang timbul untuk melaksanakan operasi perminyakan. Biaya listrik dan steam yang dimintakan kembali ke Pemerintah sejak PT CPI melakukan kerja sama dengan PT MCTN diragukan kewajarannya dan mengakibatkan kerugian bagi pemerintah sebesar US$210. Untuk tahun 2004 dan 2005 perkiraan ini telah direalisasikan untuk PCR masing-masing sebesar US$122.233.sejak tahun 2002 artinya pada tahun yang sama seharusnya laporan close out-nya disampaikan ke BPMigas sebagaimana syarat yang dituangkan dalam surat BPMigas tanggal 06 Juni 2000. Sedangkan biaya operasional kegiatan aktivitas akademik telah dibebankan sepenuhnya sebesar US$1.563.021 biayanya telah di-recovery melalui depresiasi sebesar US$3.319.146.136 sejak tahun 2000 sampai dengan 2004. PT CPI menjelaskan bahwa Proyek PCR telah dilaksanakan sesuai persetujuan BPMigas dan telah disetujui untuk dilakukan pembiayaan melalui mekanisme cost recovery.630. yaitu PT Mandau Cipta Tenaga Nusantara (MCTN) yang merupakan konsorsium (joint venture) antara Chevron Overseas Petroleum Inc (COPI). Bagian pemerintah berkurang dengan adanya pembebanan proyek PCR yang digantikan melalui cost recovery senilai US$6.391 dan sebesar US$176.000.652. Pemeriksaan lebih lanjut terhadap perkiraan community development No. Kondisi tersebut tidak sesuai dengan Financial Budget and Reporting Procedure Manual of Production Sharing Contract (1993 Revision Manual). dan PT Nusagalih BPK-RI . BPK-RI menyarankan PT CPI untuk bersama-sama BPMigas membuat aturan yang jelas mengenai kegiatan-kegiatan apa saja yang tidak terkait dengan operasi perminyakan yang tidak boleh dibiayai melalui mekanisme cost recovery. Hal tersebut disebabkan: PT CPI tidak sepenuhnya menerapkan prinsip biaya operasi sebagaimana yang dimuat dalam PSC dan tidak tegasnya BPMigas dalam memberi batasan biaya yang tidak boleh di-recovery terutama kegiatan yang tidak terkait dengan operasional perminyakan. account 110250. juga dipenuhi oleh mitra kerja samanya. Sampai dengan tahun 2005 dari nilai realisasi biaya capaital sebesar US$5. b. 5. pengangkutan dan pemasaran. yang menyebutkan: a.104.

Khusus untuk tahun 2004 dan 2005 (sampai dengan semester I) total biaya listrik dan steam adalah masing-masing sebesar US$78. Setiap bulannya PT CPI membayar antara US$6 juta – US$7 juta sebagai biaya pemrosesan gas dan feedwater menjadi tenaga listrik dan uap kepada PT MCTN. beberapa pegawai PT CPI juga harus dipekerjakan di instalasi cogen tersebut sesuai dengan Manpower Agreement antara PT CPI dan Amoseas Indonesia Inc. yang dibuat tanggal 26 November 1999. bonus. melainkan menunjuk Amoseas Indonesia (Chevron Technology Energy Indonesia) sebagai operator yang juga merupakan perusahaan seinduk dengan PT CPI. PT CPI juga harus mengeluarkan crude oil untuk ditukarkan gas sebagai bahan bakar.01. Hal ini dibuktikan dengan menempatkan beberapa pegawainya pada instalasi cogen yang dimiliki oleh mitra kerja samanya (MCTN). yang sampai sekarang masih bekerja dan beroperasi dengan baik.598. keahlian dan pengalaman dalam pengoperasian dan pemeliharaan turbin generator gas dan uap serta fungsi-fungsi pendukung lainnya.018.893. salah satu unit organisasi yang ada di PT CPI.172. dioperasikan dan dipelihara oleh karyawan PT CPI sendiri di bawah koordinasi dan operasi PG&T (Power. PT CPI sendiri telah mengenal dan menggunakan teknologi instalasi cogen sejak tahun 1990 yaitu pada salah satu power plant-nya (central).084. andal. Teknologi yang digunakan dalam pembangunan instalasi pembangkit listrik tersebut adalah teknologi Instalasi Cogeneration (cogen) yaitu teknologi yang mengubah gas dan feedwater menjadi tenaga listrik dan uap.80.469 barrels. Total pembayaran listrik dan uap sejak Desember tahun 2000 sampai dengan Desember tahun 2005 adalah sebesar US$400. Pengoperasian Cogen Plant tidak dilakukan sendiri oleh PT MCTN.688. terlebih dahulu dibuat Nota Kesepakatan Bersama (MOU) antara PT CPI dan PERTAMINA-BPPKA tertanggal 27 Maret 1998. Namun demikian. AI akan me-reimburse PT CPI semua pengeluaran yang berhubungan dengan pegawai yang dipekerjakan di cogen plant. produksi dan ekspor minyak. pada dasarnya PT CPI telah menguasai dengan baik teknologi cogen tersebut. Cogen merupakan proses pembangkit tenaga listrik yang hemat bahan bakar serta ramah lingkungan yang memanfaatkan gas dan feedwater untuk diubah menjadi tenaga listrik dan uap. hemat biaya. Seluruh fasilitas cogen milik PT CPI dikerjakan. Dengan demikian. Sebelum kerjasama antara PT CPI dengan PT MCTN dilakukan. benefit dan kompensasi lainnya termasuk tunjangan pajak tetap menjadi tanggungjawab PT CPI. selain biaya jasa pemrosesan. Selain itu.99 dan US$ 31. PT CPI tidak lagi menggunakan crude oil sebagai bahan bakar untuk membangkitkan tenaga listrik karena tidak efisien. Gaji. Total crude oil yang ditukarkan dengan gas sejak PT CPI menerima suplai tenaga listrik dari PT MCTN adalah sebanyak 104. PT CPI masih menggunakan crude oil untuk ditukarkan dengan gas yang berasal dari Asamera/Gulf Oil (Conoco).669. bahkan seluruh tenaga ahlinya merupakan pegawai yang masih aktif pada PT CPI. Amoseas akan mengoperasikan instalasi cogen untuk MCTN dan memasok daya listrik dan uap bagi PT CPI. Generator and Transmision).Untuk meningkatkan cadangan. BPK-RI . yang sudah terbiasa dengan Cogen Plant. PT CPI membutuhkan suatu penyediaan 3140 MMBtu/h uap dan 300 MW tenaga listrik dalam jangka panjang yang terkendali. MOU tersebut menyebutkan bahwa : . Dengan demikian.37 PT Chevron Pacific Indonesia . Seluruh biaya listrik tersebut di atas sudah di-recovery pada tahun-tahun yang bersangkutan. Perjanjian ini didasari atas kebutuhan AI akan tenaga kerja yang memiliki pengetahuan.Nusantara (Yayasan Serangan Umum 1 Maret 1949). tunjangan.

yang merupakan perusahaan satu induk dengan PT CPI.6 menyatakan bahwa Penyedia Barang/Jasa yang BPK-RI . Setelah membuat beberapa kesepakatan bersama dengan Pertamina-BPPKA.1645/L0000/97-S1 tanggal 26 Agustus 1997 menyetujui rencana PT CPI tersebut.PT CPI dan para pemegang sahamnya berkeyakinan bahwa yang paling efisien adalah dengan menerapkan teknologi co-generation (COGEN). PT CPI akan menyediakan suatu area di Duri Field untuk lokasi pusat pembangkit COGEN kepada JV untuk dipakai tanpa beban biaya selama periode ESA (termasuk perpanjangannya).1 yang menyatakan bahwa Pengadaan barang/jasa yang nilainya lebih besar dari Rp20 milyar atau US$20 juta harus dilakukan melalui mekanisme pelelangan (tender).077 Tahun 2000 Bab II Butir A.Telah disetujui bahwa rencana PT CPI membentuk kerjasama dengan JV harus berdasarkan konsep-konsep antara lain sebagai berikut : Jangka waktu kerjasama (ESA) akan berakhir tanggal 9 Agustus 2021 (saat berakhirnya Kontrak Production Sharing Rokan). melalui suratnya No.. Para pemegang saham PT CPI dan NN telah menandatangani suatu MOU untuk maksud tersebut. PT CPI diharuskan pula untuk membangun dan mengoperasikan sarana penunjang mekanikal berupa jaringan pipa untuk suplai bahan bakar gas dan air penyulang PT CPI ke Pusat Pembangkit Co-generation ke Sistem Injeksi Uap Lapangan Duri.38 PT Chevron Pacific Indonesia . tanpa melalui mekanisme pengadaan dengan pelelangan/tender. PT CPI membuat perjanjian kerjasama berupa Energy Service Agreement (ESA) dengan PT MCTN tanggal 1 Oktober 1998 yang merupakan penjabaran lebih rinci dari MOU yang telah disepakati.Para pemegang saham PT CPI bersedia untuk bersama-sama mengerjakan usulan proyek COGEN dalam bentuk usaha patungan (JV) dengan PT Nusagalih Nusantara/Yayasan Serangan Umum 1 Maret 1949 (NN). Dari kondisi tersebut di atas dan dari hasil pemeriksaan atas dokumen-dokumen terbatas yang diperoleh. PT CPI akan menyediakan pasokan bahan bakar gas dan air penyulang yang cukup kepada JV untuk membangkitkan tenaga listrik dan uap guna memenuhi rencana PT CPI. yang merupakan perusahaan afiliasi PT CPI ditunjuk sebagai operator JV tersebut. didapatkan beberapa permasalahan yaitu sebagai berikut: a. PT CPI harus membangun dan mengoperasikan fasilitas-fasilitas untuk mengambil uap dan tenaga listrik dan menyerahkan bahan bakar gas dan air penyulang. . PT CPI telah mengeluarkan suatu “Letter of Intent” tanggal 27 Agustus 1997 kepada JV untuk memberikan jasa-jasa pengolahan khusus tersebut dan Amoseas Indonesia Inc. . Proses pengadaan proyek cogen dilakukan tanpa tender dan sangat kuat berindikasikan praktek-praktek KKN. . Pertamina-BPPKA akan berusaha sebaik mungkin untuk mempercepat segala proses persetujuan yang diperlukan dari Pertamina dan Instansi Pemerintah lainnya dalam mendukung PT CPI membangun dan mengoperasikan fasilitas-fasilitas tersebut.Pertamina-BPPKA. Proses pengadaan proyek cogen senilai US$ 190 juta ini dilakukan dengan memilih langsung PT MCTN. Selain itu pada BPP 007 Pedoman Tata Kerja BPMigas tahun 2004 Buku II Bab I Petunjuk Umum Butir G. Hal ini bertentangan dengan Keppress 16 Tahun 1994 dan BPP Pedomam Tata Kerja BPMigas No.

penyedia barang/jasa dan para pihak yang terkait harus memenuhi etika. Sebagai perbandingan.2 sen merupakan rata-rata biaya pemrosesan listrik yang ditagihkan MCTN ke PT CPI.15). Sedangkan perhitungan tarif per kwh termasuk biaya fuel adalah sebesar 7.688. Pihak PT CPI memberikan justifikasi bahwa proses pengadaan dilakukan melalui pemilihan langsung dengan pertimbangan mendesaknya kebutuhan tenaga listrik untuk memenuhi target peningkatan produksi minyak PT CPI. maka nilai pengadaan sebesar US$ 190 juta diragukan kewajarannya. Chevron Corporation beritikad mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya melalui penerimaan pembayaran jasa pemrosesan listrik dan uap yang ditagihkan ke PT CPI melalui MCTN tanpa memperhatikan kepentingan/keuntungan Pemerintah.keikutsertaannya menimbulkan pertentangan kepentingan dilarang menjadi peserta pengadaan. Panitia Pengadaan. biaya listrik yang dibebankan ke PLN apabila PLN membeli aliran listrik dari pihak swasta adalah 4. Mekanisme pemilihan langsung kepada perusahaan satu afiliasi ini bertentangan dengan Etika Pengelolaan Rantai Suplai pada BPP 007/2004 yang menyatakan bahwa Pejabat yang berwenang. mencegah terjadinya pertentangan kepentingan (conflict of interest) pihak-pihak yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam proses pengelolaan rantai suplai.35 sen dollar (3.5 sen.15 merupakan salah satu unsur biaya listrik yaitu biaya fuel yang dibebankan PT CPI ke BOB dalam jasa penyediaan tenaga listrik untuk BOB PT BSP.01 yang telah ditagihkan MCTN dan telah dibayar seluruhnya oleh PT CPI juga diragukan kewajarannya. US$3. sedangkan US$4. Dengan dilakukannya proses pengadaan melalui proses pemilihan langsung (direct appointment) kepada perusahaan satu induk (MCTN). Namun menurut data-data produksi minyak PT CPI sejak tahun 2000 sampai dengan sekarang (awal tahun 2006) produksi minyak terus menurun. antara lain.2 + 4. Kecenderungan pihak PT CPI memilih langsung (direct appointment) dan menunjuk PT MCTN sebagai pelaksana proyek sangat terlihat karena yang ditunjuk sebagai pelaksana proyek pembangunan instalasi cogen merupakan perusahaan satu afiliasi (sister company) dengan PT CPI yang saham terbesarnya sama-sama dimiliki oleh Chevron Corp.5 sen dollar. Chevron Corp bersama-sama dengan Texaco dan PT Nusagalih Nusantara membentuk PT MCTN dalam rangka menanamkan investasi senilai US$ 190 juta untuk membangun proyek instalasi cogeneration (cogen). Chevron dan Texaco kemudian melakukan merger pada tahun 2001 menjadi Chevron Corporation. pada butir 3.172. Angka atau tarif listrik yang dibayar PT CPI ke MCTN juga jauh di atas harga atau tarif listrik PLN yaitu sebesar 4. sehingga 95% saham PT MCTN dimiliki Chevron Corp.39 - PT Chevron Pacific Indonesia . BPK-RI . Pola penunjukan langsung seperti yang dilakukan PT CPI ini tidak terlepas dari peran Chevron sebagai parent company dari kedua perusahaan tersebut. Pihak pemerintah dalam hal ini Pertamina-BPPKA (BPMigas) sama sekali tidak memperhitungkan berapa besarnya keuntungan yang akan diterima Chevron dan besarnya kerugian yang telah dialami dan terus akan dialami pemerintah hingga tahun 2021 Seperti telah disebutkan di atas. Demikian pula jumlah seluruh tagihan atas jasa pemrosesan listrik dan steam sebesar US$400. Praktekpraktek bisnis yang tidak sehat ini sangat kuat berindikasikan KKN.

6 yang menyatakan bahwa “Penyedia Barang/Jasa yang keikutsertaannya menimbulkan pertentangan kepentingan dilarang menjadi peserta pengadaan”.969. Oleh karena terdapat hubungan istimewa antara kedua perusahaan tersebut (sister company).40 PT Chevron Pacific Indonesia .838 4.d 2005 adalah sbb : YEAR 2001 2002 2003 2004 2005 Delivery (kWh) 2.600 2.117 4. Hal ini sangat bertentangan dengan Buku II Pedoman Tata Kerja Pengelolaan Rantai Suplai PSC No. PT CPI sendiri seluruh sahamnya dimiliki oleh Chevron Corp.934. BAB I (Petunjuk Umum) butir G.400 2.43 198. 2 Maret 2006.79 4.900 Fuel (MSCF) 25.369.418. Terdapat pertentangan kepentingan (conflict of interest) yang terjadi karena PT CPI dan PT MCTN (sebagai penyedia jasa pemrosesan listrik) merupakan perusahaan yang sama-sama dimiliki oleh Chevron Corp.10 tanggal 16 Agustus 1999.510.79 sen sampai dengan 8.44 120. Sampai dengan akhir pemeriksaan.105.85 Elect.203. b.00 6.950. Atau biaya total per kwh adalah berkisar antara 7 sen sampai dengan 11.150.141 27. yaitu sama-sama dimiliki oleh Chevron Corp.65 Jadi besarnya biaya listrik yang menjadi beban PT CPI adalah tagihan MCTN per kwh sebesar US$3.462.838 4. yang kemudian diubah pada Akte Notaris Haji Parlindungan Lumban Tobing No.506.165 4. Panitia Pengadaan.538. didapatkan angka pemakaian crude oil untuk bahan bakar Cogen dari tahun 2001 s.503. Kemudian pada tahun 2001.167. Chevron dan Texaco melakukan merger menjadi Chevron Corp sehingga kepemilikan PT MCTN menjadi 95% oleh Chevron dan 5% tetap oleh PT Nusagalih Nusantara. menunjukkan komposisi kepemilikan saham PT MCTN adalah sebanyak 47.09 44.289.552 27. PT MCTN sesuai dengan akte pendirian perusahaan No 317 tanggal 27 Agustus 1998 dengan Notaris Haji Muhammad Afdal Gazali.906.393. Selain itu hal ini juga bertentangan dengan Etika Pengelolaan Rantai Suplai pada BPP 007/2004 yang menyatakan bahwa Pejabat yang berwenang. Tidak ada analisa terhadap keputusan membangun sendiri atau outsourcing atas proyek Cogen.430 DC Price $/Bbl 22. Sehingga baik PT MCTN maupun PT CPI saham mayoritasnya dimiliki oleh Chevron Corp. BPK-RI .19 98.665.65.59 145. Price (c$/kwh) 3. penyedia barang/jasa dan para pihak yang terkait harus memenuhi etika mencegah terjadinya pertentangan kepentingan (conflict of interest).736.00 Fuel Cost (PTEA) 91.752.273 25.5% oleh Texaco Inc dan 5% dimiliki oleh PT Nusagalih Nusantara/Yayasan Serangan Umum 1 Maret 1949. Proyek instalasi Cogen tersebut akhirnya diserahkan pembangunannya kepada PT MCTN yang dananya sebesar US$190 juta juga berasal dari Chevron dan Texaco. 47.772.627 Fuel (BOE) 4.361.15 8.85 sen.30 27.5% oleh Chevron Inc.420.867.10 5.560 27.007/2004.459. tim belum mendapatkan analisa atau perhitungan yang mendasari keputusan manajemen PT CPI untuk tidak membangun sendiri dan tidak mengusahakan agar dana investasi yang berasal dari Chevron dan Texaco masuk langsung ke PT CPI tanpa melalui PT MCTN.Selain itu dari data-data mengenai crude oil yang dikonsumsi PT CPI untuk ditukarkan gas dengan Asamera (Gulf Oil) dan Conoco melalui PTEA.11 32.02 23.2 sen ditambah biaya fuel seperti tabel tersebut di atas yang berkisar antara 3. maka terjadinya pertentangan kepentingan (conflict of interest) sangat mungkin terjadi.614.468. Hal ini membuktikan bahwa terdapat hubungan yang istimewa (related party) antara PT CPI dengan PT MCTN.933. c.210.100 2.599.800 2.

PT MCTN telah menerima uang jasa pemrosesan listrik sebesar US$400.319.03.172.104.41 PT Chevron Pacific Indonesia . Pemerintah akan menghemat sebesar selisih antara total pembayaran jasa pemrosesan listrik dari Desember 2000 sampai dengan akhir 2005 yang telah di-cost recovery-kan dengan total depresiasi selama 5 tahun.104. sampai dengan bulan Desember 2005.208 dari PT CPI (Chevron) yang kemudian dimintakan penggantiannya ke Pemerintah. Dengan pola membangun sendiri oleh PT CPI. Jadi tidak ada alasan yang jelas mengapa PT CPI atau Pertamina-BPPKA membiarkan Chevron sebagai pemegang saham terbesar tidak menyediakan dana pembangunan proyek itu langsung ke PT CPI melainkan menanamkan investasinya di PT MCTN untuk membangun instalasi cogen dan menerima pembayaran tagihan listrik dari PT CPI. untuk menghitung nilai sekarang (Present Value) dari BPK-RI . Setelah lima tahun. Pemerintah melalui Pertamina BPPKA telah mengakomodasi/mendorong seluruh PSC untuk berusaha melakukan kegiatan meningkatkan produksi minyak seperti pembangunan proyek cogen yang menggunakan dana investasi tinggi dengan mengeluarkan insentif berupa interest recovery.233. Penghematan yang akan dialami Pemerintah adalah sebesar US$ 210. Walaupun telah membayar sebesar US$400. PT CPI tidak perlu membayar biaya pemrosesan listrik dan Pemerintah tidak terbebani untuk mengganti biaya pemrosesan listrik tersebut. sehingga beban pemerintah hanya sebesar nilai depresiasi dari biaya investasi sebesar US$190 juta. biaya yang akan dimintakan penggantiannya (cost recovery) ke pemerintah hanya merupakan biaya depresiasi dari total biaya pembangunan instalasi cogen.233. instalasi cogen akan menjadi milik Pemerintah. WP&B dan AFE. maka Pemerintah masih akan menanggung/mengganti biaya pemrosesan listrik ke Chevron sebesar US$ 1.Berkaitan dengan penerimaan pembayaran dari PT CPI. Dari kondisi tersebut. Pembangunan instalasi listrik cogen ini menurut PSC dikategorikan dalam Grup 2 yang akan didepresiasi (25%) selama 5 tahun dengan metode double declining.688.688 dan masih harus membayar kurang lebih sebesar US$1.03. Jumlah tersebut merupakan total tagihan MCTN ke PT CPI sejak Januari 2006 sampai dengan berakhirnya masa kontrak ESA yaitu 9 Agustus 2021 tanpa memperhitungkan tingkat inflasi dan kenaikan suku bunga serta biaya maintenance/operasi.172.000.560. Bila instalasi cogen dibangun sendiri oleh PT CPI dengan dana berasal dari Chevron.000 (US$ 400 juta – US$ 190 juta). Biaya tambahan bila mengoperasikan sendiri adalah biaya maintenance. Besarnya biaya depresiasi bila PT CPI membangun sendiri fasilitas cogen tersebut untuk 5 tahun berturut-turut masing-masing sebesar US$47. Beban yang ditanggung pemerintah akan jauh lebih rendah apabila PT CPI mengusahakan sendiri membangun instalasi cogen tersebut dengan mekanisme pengajuan POD. Jika asumsi rata-rata perbulan PT MCTN (Chevron) menerima US$6.5 juta untuk tahun pertama dan US$ 36. Lebih dari itu. Bila biaya listrik selama periode tahun 2000 sampai dengan 2005 ditarik mundur ke tahun 2000 dengan rata-rata biaya listrik per tahun sebesar US$80 juta. dapat disimpulkan bahwa Chevron corp melalui PT MCTN berusaha mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dari upah pemrosesan gas menjadi tenaga listrik dari anak perusahaannya sendiri (PT CPI).5 juta untuk 4 tahun berikutnya.319. Chevron sebagai parent company PT CPI seharusnya menyediakan dananya untuk keperluan pembangunan instalasi cogen tersebut langsung ke PT CPI dan tidak melalui PT MCTN yang dijadikan sebagai SPV oleh Chevron. seluruh fasilitas instalasi cogen tersebut tetap menjadi milik PT MCTN (Chevron).

Tingkat pengembalian dan keuntungan atas investasi sebesar US$190. Hal ini disebabkan: a.104.233.42 PT Chevron Pacific Indonesia .36 juta.000.03. Selain itu hal ini juga bertentangan dengan Etika Pengelolaan Rantai Suplai pada BPP 077/2000 yang menyatakan bahwa Pejabat yang berwenang. c. Biaya pembangunan instalasi cogen senilai US$190.000 yang diperoleh Chevron sangat tinggi dan dapat diperoleh dalam kurun waktu yang singkat serta Chevron masih akan menerima keuntungan atas penerimaan dari tagihan listrik yang dibayar PT CPI sampai dengan tahun 2021.000.000. beli atau sewa beli atau membangun sendiri’. Pembayaran atas biaya pemrosesan listrik kepada PT MCTN dilaksanakan melalui pentransferan langsung dari rekening PT CPI ke rekening atas nama Amoseas Indonesia di Bank of America. Amosesas Indonesia adalah operator yang ditunjuk oleh PT MCTN untuk melakukan pemrosesan instalasi cogen ini.butir 5. Seperti yang telah disebutkan di atas. Chevron Corporation sebagai pihak pemegang saham PT MCTN dan PT CPI dengan sengaja tidak menginvestasikan langsung melalui PT CPI melainkan berinvestasi melalui PT MCTN yang baru dibentuk sebagai SPV dengan maksud memperoleh pengembalian investasi dan keuntungan yang sebesar-besarnya dari tagihan listrik dan steam. Di lain pihak Pemerintah/Negara c.000 dan biaya listrik serta uap yang telah dibayarkan PT CPI ke PT MCTN dan telah di-cost recovery-kan ke Pemerintah sebesar US$400. BPK-RI .q PT Pertamina-BPPKA (BPMIGAS) telah dirugikan sebesar US$210.319. Pemerintah berpotensi menderita kerugian lebih besar lagi yaitu kurang lebih sebesar US$1. untuk periode 2006 sampai dengan 2021 (akhir masa kontrak). Atau bila dihitung dengan membandingkan total investasi dengan nilai sekarang (PV) dari total biaya listrik yang telah dikeluarkan.104.000.total biaya listrik yang telah dibayarkan dengan menggunakan asumsi LIBOR + 2% atau berkisar 5%.007/PTK/VI/2004. Panitia Pengadaan.36 juta (346. BAB I (Petunjuk Umum) butir E yang menyatakan bahwa “Pengadaan Barang/Jasa harus memperhitungkan faktor keekonomian dengan memperhatikan hal-hal antara lain optimalisasi pengadaan dengan menentukan pola pengadaan berupa sewa. Permasalahan ini mengakibatkan: a.000 dan masih berpotensi dirugikan kembali sebesar US$1. saham mayoritasnya dimiliki oleh Chevron Corporation.36 juta -190 juta) Selain itu. b.172. Hal ini bertentangan dengan Buku II Pedoman Tata Kerja Pengelolaan Rantai Suplai PSC No.000 bila dihitung dengan membandingkan biaya investasi dengan cost yang telah dikeluarkan.03. Dengan kata lain Pemerintah telah dirugikan oleh Chevron atas pola kerjasama antar perusahaan seinduk sebesar US$210. maka didapatkan nilai sekarang dari US$ 400 juta pada tahun 2000 adalah sebesar US$346.688 diragukan kewajarannya. Amoseas Indonesia. tidak menyalahgunakan wewenang untuk melakukan kegiatan bersama secara langung atau tidak langsung dengan tujuan untuk keuntungan pribadi. PT MCTN dan PT CPI. Pemerintah dirugikan sebesar US$156.319. penyedia barang/jasa dan para pihak yang terkait harus memenuhi etika. antara lain sebagai berikut : .233.butir 6. golongan atau pihak lain. mencegah terjadinya kerugian Negara dan perusahaan .

14 3.89 2.77 ESA-Revisi ($/MMBTU) 0.66 2. PertaminaBPPKA. d.95 $/MMBtu (5) North Duri Cogen Electricity Price (US cents per kWh) Steam Price (US$ per MMBTU) 6. dan PT CPI. dan perhitungan kembali aspek keekonomian lainnya. Tabel berikut menunjukkan perbandingan harga listrik dan uap termasuk biaya bahan bakar dengan proyek sejenis lainnya.43 - PT Chevron Pacific Indonesia . Pertentangan kepentingan (conflict of interest) antara PT MCTN dan PT CPI yang sahamnya sama-sama dimiliki oleh Chevron Corp.52 $/MMBtu (4) @ 2. Kerjasama antara PT CPI dan PT MCTN merupakan kerjasama antara dua perusahaan yang mempunyai hubungan istimewa (related parties) dan cenderung didasari atas pola kerja yang berindikasikan KKN yang juga melibatkan pihak pemerintah (PertaminaBPPKA) yang hanya memperhatikan keuntungan pihak pemegang saham (Chevron Corp) tanpa memperhatikan kepentingan/keuntungan Negara. ESA-awal (cent/kWh) Committed Capacity Committed + Uncommitted Capacity 3. 90 4.52 $/MMBtu (4) @ 1.62 6. Atas permasalahan tersebut. Ditjen LPE.b. Pengawasan dan Pembinaan terhadap PSC PT CPI pada perencanaan dan pelaksanaan ESA yang tidak ditujukan untuk kepentingan dan keuntungan Negara.157 Revisi di atas dilakukan berdasarkan biaya investasi aktual sebesar US$190 juta.44 --- --- 3. Hasil dari revisi harga pemrosesan Listrik dan Uap ini menjadikan harga listrik yang dibayar PT CPI kepada MCTN sangat kompetitif dan menjamin bahwa tidak ada pihak yang dirugikan dalam penetapan harga ini. c.157 ESA-Revisi (cent/kWh) 2. PT CPI Cogen Texaco California @ 2. sebab biaya pemrosesan Listrik dan Uap (steam) yang dibayarkan PT Caltex Pacific Indonesia (CPI) kepada PT Mandau Cipta Tenaga Nusantara (MCTN) mengacu kepada perjanjian Energy Service Agreement (ESA) yang telah direvisi bulan Agustus 2000 oleh tim gabungan yang dipimpin oleh Ditjen Migas dan terdiri dari wakil-wakil Ditjen Migas. melainkan cenderung menguntungkan para pihak pemegang saham PT CPI dan PT MCTN (Chevron Corp). Tim gabungan tersebut dibentuk guna menilai ulang kewajaran harga dalam ESA yang ditandatangani antara PT CPI dan MCTN pada bulan September 1998. Adapun hasil revisi biaya pemrosesan Listrik dan Uap rata-rata dalam kurun waktu 20 tahun (levelized) dalam ESA menjadi sebagai berikut. Penyalahgunaan wewenang yang dilakukan pihak-pihak PT Pertamina-BPPKA (BP Migas) dalam Persetujuan.09 2.85 ESA-awal ($/MMBTU) Steam Processing Fee 0.27 5. PT CPI menyatakan tidak setuju dengan pendapat BPK.52 IPP Indonesia (1) IPP Thailand (2) $/MMBtu (3) conventional generation @ 2.03 BPK-RI .14 5.03 4.57 2.

6 dan 8): tentang syarat-syarat penunjukkan langsung. MCTN yang di dukung oleh C&T memiliki teknologi dan pengalaman dalam mengoperasikan teknologi cogen dengan tingkat keandalan yang tinggi secara efektif dan effisien.: tentang wewenang KPS dalam lelang dan pemilihan Iangsung yang menyangkut kegiatan operasi. 1995. lnstr-1 575/C0000/94-S0: tentang Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa di lingkungan PERTAMINA dan Kontraktor Production. • Proyek cogen didanai dan dibangun oleh pihak ke tiga yang selanjutnya akan memproses air dan gas menjadi tenaga listrik dan uap. BPK-RI . 2) Instruksi Direktur PERTAMINA No. Penunjukkan tersebut di atas telah disetujui oleh Pertamina-BPPKA berdasarkan kepada peraturan yang berlaku pada saat itu : 1) Keppres 16/1994. 4) JUKLAK PERTAMINA Bab II. • Memberikan nilai keekonomian yang lebih baik bagi investor untuk menanamkan modalnya dalam proyek cogen ini.52 $/MMBTUatau sebesar 1. didasarkan kepada pertimbangan sebagai berikut : a. PT CPI tidak setuju dengan pendapat pemeriksaanor yang mengatakan terdapat conflict of interest. c. Pasal 23 (5) C : tentang Pengadaan barang/jasa untuk keperluan operasional/eksploitasi. memiliki dan mengoperasikan fasilitas COGEN dengan kapasitas total 1000 MW di AS dan bagian dunia lainnya termasuk di PT CPI. Pasal 3. • Memberikan fleksibilitas tinggi untuk bisa memasuki pasar PLN apabila kapasitas tenaga listrik PT CPI melebihi sebagaimana yang diproyeksikan. 3) BP 077/REV. Proses yang tercepat untuk memenuhi urgensi kebutuhan tambahan tenaga listrik dan uap agar tepat waktu. sebab penunjukan MCTN (sebagai bagian dari Joint Venture) oleh PT CPI untuk menyediakan jasa pemrosesan listrik dan uap dalam proyek ini. maka proses indikasi KKN yang disebutkan tidak beralasan.44 PT Chevron Pacific Indonesia • . dapat disimpulkan bahwa harga kontrak pemrosesan listrik dan uap yang dibayarkan PT CPI kepada MCTN adalah wajar. Dengan dilaluinya proses penunjukkan langsung secara transparan diatas dan melibatkan pihak-pihak terkait .55 cent/Kwh pada harga gas 1.01 cent/Kwh pada harga gas 2. Penunjukan langsung pelaksanaan proyek cogen kepada JV berdasarkan beberapa pertimbangan sebagai berikut : Urgensi kebutuhan PT CPI untuk mendapatkan tambahan tenaga listrik dan uap. dan juga sudah mendapat persetujuan dari pihak yang berwenang.Catatan : *) Biaya bahan bakar untuk North Duri Cogen adalah sebesar 2. Bab III. b. Bagian Pertama. Pasal A. Cara pendekatan ini akan mempercepat jangka waktu pembangunan fasilitas-fasilitas yang diperlukan tanpa menggangu sumber-sumber daya dari PT CPI yang sudah terbatas. dalam hal ini Pertamina-BPPKA.95 $/MMBTU. Bab I. dalam rangka PT CPI mewujudkan potensi cadangan minyak bumi sebesar 2 milyar barrel. Dari hasil peninjauan kembali harga pemrosesan listrik diatas. C&T memiliki keahlian dan teknologi yang spesifik/khusus dalam membangun dan mengoperasikan Co-generation untuk kegiatan EOR dengan sistem injeksi uap. C&T telah membangun. Hal ini dibuktikan dengan kunjungan kerja team dari Lemigas.2. dan tetap menjaga prinsip saling menguntungkan bagi semua pihak.

C&T dengan dewan pengambil keputusan yang dipimpin langsung oleh Presiden Direktur PT CPI. b.45 - PT Chevron Pacific Indonesia . Pihak-pihak dari PT Pertamina-BPPKA. BPK-RI . Dasar referensi yang diberikan oleh BPK yaitu : Buku II Pedoman Tata Kerja Pengelolaan Rantai Suplai PSC No. dapat disimpulkan bahwa proyek cogen tidak memenuhi batasan minimum keekonomian proyek yang ditentukan oleh PT CPI. Hasil Pemeriksaan tersebut dapat dilihat pada Lampiran 10. apabila dilaksanakan di dalam ruang lingkup kerangka PSC. BPK menyarankan agar : a.6 dan Etika Pengelolaan Rantai Suplai pada BPP 007/2004 tidak dapat diberlakukan untuk dijadikan referensi dalam proses pengadaan proyek cogen mengingat proyek tersebut dilaksanakan sebelum tahun 2000. Adapun hasil dan usulan dari studi kelayakan tersebut adalah sebagai berikut : 1) Membangun Cogen Plant untuk pemenuhan kebutuhan tenaga listrik 300 MW dan uap 350 MBEWPD. maka PT CPI tidak perlu membeli dan membangun tambahan Turbin Gas dan Pembangkit Uap konvensional. Penunjukkan langsung pelaksanaan proyek cogen oleh PT CPI kepada MCTN (JV) yang telah disetujui oleh Pertamina-BPPKA telah diketahui dan diakui secara luas oleh lembagalembaga pemerintah yang kemudian merevisi harga pemrosesan listrik seperti: Ditjen Migas dan Ditjen LPE. 4) Apabila proyek cogen dilakukan diluar kerangka PSC. b. PT CPI telah mengadakan studi kelayakan dengan membentuk tim yang terdiri dari wakil-wakil PT CPI. Pihak pemeriksaan dari BPKP pun sudah melakukan pemeriksaan investigasi terhadap proyek ini dan menyatakan bahwa proyek cogen dapat dilanjutkan untuk diselesaikan dengan catatan untuk dilakukan peninjauan kembali harga pemrosesan listrik agar didapat harga yang paling wajar dalam rangka mendapatkan IUKU.007/2004. Pihak PLN pun telah dihubungi oleh PT CPI dalam proses mendapatkan IUKU(Ijin Usaha Kelistrikan untuk Umum). BAB I (Petunjuk Umum) butir G. yang terlibat dalam penanganan dan persetujuan MOU dan ESA tentang penyediaan tenaga listrik ke PT CPI harus bertanggungjawab atas kerugian Negara yang telah dan akan terjadi sampai dengan tahun 2021. seperti terlampir pada Lampiran 9 yang menyatakan PLN tidak keberatan terhadap rencana pembangunan proyek cogen di Duri Utara. 3) Nilai keekonomian proyek dapat ditingkatkan dengan adanya kesempatan menjual kelebihan tenaga listrik yang mungkin terjadi di masa yang akan datang. PT CPI telah melakukan analisa atas keputusan membangun sendiri atau outsourcing atas proyek cogen pada pertengahan 1996 sampai akhir 1996. dimana yang berlaku adalah seperti yang kami sebut di atas.5) JUKLAK PERTAMINA Bab V. Peninjauan kembali harga pemrosesan listrik telah dilakukan pada Agustus 2000. 2) Pelaksanaan realisasi proyek cogen akan memberikan nilai yang saling menguntungkan bila dilakukan di luar kerangka PSC . Pihak-pihak PT MCTN dan PT CPI yang terlibat baik langsung maupun tidak langsung dalam perencanaan dan pelaksanaan Energy Service Agreement (ESA) yang mengakibatkan kerugian negara harus dimintakan pertanggungjawabannya atas kerugian negara yang telah dan akan terjadi. Pasal 5. dan d: tentang tentang syarat-syarat Pengadaan barang/jasa spesifik. Dari semua analisa dan perhitungan keekonomian proyek dalam studi tersebut.

c.200 untuk 3 (tiga) fasiltas gas incinerator. Berdasarkan data proyek CVC untuk Area-7 Lapangan Duri ini diketahui BPK-RI . Pekerjaan tersebut merupakan pembangunan sistem pengumpul uap selubung.394.394. Memasang stasiun pengumpul uap selubung uap dan US$8.200 28.394. baru pada bulan September 2003 proyek tersebut dapat sepenuhnya diselesaikan dan tidak segera dibuatkan laporan AFE closed out-nya.502.000 dan kemudian direvisi dengan penambahan pekerjaan untuk 3 (tiga) fasilitas pembuangan gas senilai US$3.000 pendingin di Area -7 Lapangan Duri 2.000 1.849.496.445 1.432. valve.505.938 5. Lingkup pekerjaan dalam AFE tersebut adalah sebagai berikut: AFE No.245.936. Realisasi anggaran dan status pekerjaan terhadap tiga proyek CVC system dan gas incinerator system di area 5.570.532.036.493 2.445 19% 100% 95-7521 Area-5 2.000 12.92-7109 revisi 2 dan telah disetujui oleh Pertamina/BPKKA (BPMigas) untuk Duri Area 7.q PT Pertamina dan BP Migas harus melakukan pengkajian ulang atas Energy Service Agreement yang telah dilaksanakan dan mencari jalan alternatif untuk mencegah kerugian negara yang bertambah besar.532. Ruang lingkup Pekerjaan Biaya disetujui 90-7009 Pembelian material dan pembangunan fasilitas CVC di US$9.573 Dalam rangka melaksanakan standar emisi udara untuk kegiatan ekplorasi dan produksi minyak dan gas. Pemerintah c. 90-7009 Area-6 9.738 Dari pemeriksaan lebih lanjut terhadap dokumen AFE No.6.000 16% 100% 92-7109 Area-7 10.979.000 termasuk sistem perpipaan.92-7109 diketahui bahwa proyek ini ditargetkan selesai pada bulan Maret 2001.200 4.000 Area . disebut dengan Casing Vapor Collection System (CVC System) yang juga mencakup sistem fasilitas pembakaran gas-incinerator.200 AFE No.511.000.000 sehingga total anggaran yang disetujui BPPKA pada tanggal 18 Maret 1998 menjadi sebesar US$9. dan 7) adalah sebanyak 11 unit.293 103% 100% 22. dan 7 Lapangan Duri per Desember 2004 adalah sbb: AFE Lokasi Anggaran $ Realisasi $ Overrun $ %overun Progres No. disebut dengan Waste Gas Disposal System Facility. 6.6 Lapangan Duri 95-7521 Pembangunan pembakar gas H2S di Area-5 Lapangan Duri US$2.570.6.455. Memasang 5 unit fasilitas pembakaran gas incinerator US$2. Sedangkan AFE No.355.46 - PT Chevron Pacific Indonesia . Dalam realisasinya. Pelaksanaan pekerjaan Waste Gas Disposal System Facility tidak mencapai tujuan dan membebani cost recovery senilai US$5.000 11. dan listrik/instrument di stasiun pengumpul uap selubung Area -7 Total anggaran biaya yang disetujui dalam AFE revisi 2 US$10.000 Dari hasil pemeriksaan terhadap Laporan Bulanan per Desember 2004 atas pelaksanaan proyek capital PT CPI diketahui bahwa jenis pekerjaan yang serupa juga dilaksanakan di Lapangan Duri Area-5 dan 6 dengan masing-masing anggaran yang disetujui Pertamina BPPKA adalah sebagai berikut: AFE No. 95-7521 yang disetujui tanggal 09 Pebruari 1995 adalah sebesar US$2.570.027.90-7009 disetujui tanggal 24 Mei 1991 sebesar US$6.072. Jadi jumlah seluruh fasilitas gas incinerator yang ada di tiga area tersebut (5. pada tahun 1996 PT CPI mengajukan AFE No. Ruang lingkup Pekerjaan Biaya disetujui 92-7109 1.

957.605 2.On plot piping at CVC station.Incinerator. namun terpaksa tidak dilanjutkan karena terjadi insiden yang membahayakan yaitu asap sangat pekat keluar dari cerobong incinerator sehingga menyebabkan proses pembakaran tidak sempurna. Kondisi fasilitas gas incinerator yang tidak dapat dioperasikan.Fuel tank.293 (US$1.946 762.571.043 92-7109 2.Cooler Separator.697/BPA2000/2004-S1 tanggal 08 September 2004. Dengan Surat No. Atas hal tersebut.Electrical.669. walaupun proyek telah selesai dan terdapat kelebihan biaya yang terjadi diatas anggaran (overrun >10%) sebesar US$3. dan telah disetujui oleh BPMigas melalui surat No. 90-7009) untuk fasilitas gas incinerator yang belum dioperasikan di Lapangan Duri sebagaimana disebutkan pada tabel di atas menurut penjelasan Manajer Tehnik Aset dan Proyek Zulhelnery. 95-7521) dan Area 6 (AFE No. . Keterlambatan pengajuan perubahan AFE tersebut menunjukkan kurang perhatiannya PT CPI sebagai penanggungjawab operasional untuk melaporkan kepada pihak BPMigas.796.47 - PT Chevron Pacific Indonesia . Semua peralatan di atas dimasukkan ke dalam kategori barang capital dan fungsinya berhubungan dengan peralatan gas incinerator tersebut. diketahui bahwa cost recovery untuk kategori biaya capital dilakukan melalui depresiasi setelah Placed Into Services (PIS). Berdasarkan pemeriksaan terhadap jumlah depresiasi untuk fasilitas gas incinerator ini diketahui masing-masing jumlah biaya yang telah di-recover sejak di PIS adalah sebagai berikut: AFE No. Sedangkan persetujuan permintaan dana tambahan untuk perbaikan gas incinerator yang rusak dilakukan Divisi Operasi Fasilitas dan Konstruksi BPMigas tanpa analisa dan evaluasi.036.bahwa gas-incinerator mulai akan dioperasikan pada bulan September 2003.000 + US$2. akan menggunakan pendekatan yang sama dengan Area-7 CVC sebagai pilot project. .892 5..502.92-7109 tersebut dan mencari penyebab kegagalan start up secara rinci. Pada tanggal 26 Juli 2005 (10 bulan kemudian) proyek tersebut dilaporkan realisasinya ke BPMigas (laporan closed out) dengan memberikan status not operate and closed yet atas fasilitas pembakaran gas-incinerator ini pada laporan AFE closed out proyek CVC tersebut. Peralatan terkait dengan proyek waste gas disposal system ini antara lain adalah sebagai berikut: . PT CPI mengajukan tambahan biaya sebesar US$2.218/BPA2000/2005-S1 tanggal 03 Maret 2005.756. . Penyelesaian AFE terhadap jenis kegiatan yang sama pada Area -5 (AFE No. .058 95-7521 2.341 1. kedua AFE tersebut belum di-close out dan dilaporkan kepada BPMigas. dan . Cost (aset PIS $) Akumulasi Dep (Cost Recovery $) 90-7009 4. mengakibatkan PT CPI merubah disain selama eksekusi proyek.Air compressor. Namun sampai dengan berjalannya pemeriksaan tanggal 10 Januari 2006. BPMigas telah menegur PT CPI untuk segera meng-close out AFE No. yaitu gas buangan tidak dapat terbakar karena adanya kondensat yang terbawa masuk ke dalam incinerator.455. Hal ini menggambarkan kurangnya pengawasan BPMigas sebagai penanggung jawab manajemen terhadap pengeluaran biaya dan pencapaian tujuan proyek.573 BPK-RI .518.767.293) Terkait dengan permasalahan cost recovery.472 Total 9.399.000.

Kriteria penentuan PIS diatur oleh PSC term.48 PT Chevron Pacific Indonesia No Area . d. b.961 15. Petunjuk penanganan AFE yang meliputi aspek isi dan prosedur proses persetujuan AFE mengatur. dan pemantauan atas pelaksanaan pengeluaran biaya oleh PSC tidak tercapai. walaupun peralatan tersebut tidak berfungsi.849 1. b. Jumlah un-depreciated expenditure untuk fasilitas yang belum PIS adalah sebesar US$10. PT CPI tidak segera melakukan closed out atas pekerjaan yang telah selesai dan melaporkannya kepada BPMigas.349 PT CPI tidak melakukan depresiasi terhadap aset yang belum PIS (Placed Into Services). PT CPI tidak mentaati batas anggaran yang telah ditetapkan dalam AFE Approval.829 M dengan rincian sebagaimana tercantum dalam tabel berikut: Expenditure to Un-depreciated date (M US$) Expenditure (M US$) 1 Area 5 Waste Gas Incinerator 4.738 yang belum mendapat persetujuan BPMigas tidak mempunyai dasar yang kuat untuk dapat di-recoverykan.036. Tujuan BPMigas untuk menggunakan AFE senilai US$28. yaitu: a.938 sebagai sistem untuk melakukan analisa. Kondisi tersebut mengakibatkan: a. Laporan Close Out harus disampaikan kepada BPMigas paling lambat 4 bulan setelah dilakukan Put On Production (POP) atau Placed Into Services (PIS). Biaya yang telah dimintakan penggantiannya (cost recovery) melalui depresiasi senilai US$5. Jika jumlah realisasi biaya diatas 10% dari budget. c. Data terakhir sampai dengan Pebruari 2006. Kondisi tersebut tidak sesuai dengan Financial Budget and Reporting Procedure Manual of Production Sharing Contract (1993 Revision Manual). evaluasi persetujuan. Seharusnya akumulasi depresiasi sebesar US$5.967 4. AFE merupakan sistem yang dirancang agar dapat menyediakan informasi penting bagi BPMigas dalam menganalisa. expenditure fasilitas penanganan waste gas (Incinerator) di lapangan Duri Area 5. bahwa revisi AFE diberi kesempatan 2 (dua) kali dan dilakukan karena proyek fisik belum selesai (kurang dari 70%) apabila lebih maka ada resiko tidak di cost recovery.829 10. 7 adalah sebesar US$ 15. d. Kenyamanan kerja terganggu dari adanya gas buangan yang tidak menyehatkan. 6.573 belum boleh dilakukan sampai (di hold) fasilitas gas incinerator tersebut dapat beroperasi dan bermanfaat. BPK-RI . maka operator harus melampirkan penjelasan terinci untuk mendapatkan konfirmasi dan persetujuan dari BPMigas. Tidak adanya analisa dan evaluasi yang dilakukan BPMigas terhadap proyek yang mengalami kesalahan teknis.936.Dari tabel di atas diketahui bahwa biaya dari kesebelas unit gas incinerator tersebut telah diganti berdasarkan tanggal PIS masing-masing. b.786 3 Area 7 Waste Gas Incinerator 5.602 2 Area 6 Waste Gas Incinerator 5.573 dan biaya yang melampaui anggaran senilai US$5. Buruknya pengawasan dan pengendalian oleh BPMigas atas proses pelaksanaan proyek yang pengeluaran biayanya telah melampaui anggaran yang disetujui. mengevaluasi. menyetujui dan memonitor semua pengeluaran proyek-proyek dari PSC. c. Hal tersebut disebabkan: a.013 3. c.432.349 M.036. PT CPI menjelaskan bahwa depresiasi dilakukan berdasarkan tanggal Placed Into Services (PIS).

669 M o Juli 2005 – melakukan close out report untuk Area 7 o Dec 2005 – melakukan start up Area 7 SW incinerator dengan baik pada Desember 2005 dan hand over fasilitas ke tim operasi pada bulan Januari 2006.907 Jumlah 3.d kuartal II) sebesar US$6. yaitu Employee Children Grants for High Schools and Universities.d kuartal II) diketahui bahwa terdapat biaya School Cost (Dependent) dengan kode akun 689011. dan Area 7 pada bulan Juli 2005.261 tidak dapat dibebankan sebagai cost recovery PT CPI Berdasarkan pemeriksaan terhadap FQR PT CPI tahun 2004 dan 2005 (s. Close out AFE Area 5 dan 6 dilakukan pada bulan Januari 2006. Fasilitas waste gas handling kecuali Area 7 SW.654. o Maret 2005 – mendapatkan persetujuan BPMigas untuk me-retrofit Area 7 incinerator sebesar US$ 2. dan 7 telah disampaikan kepada BPMigas.611 1.230. PT CPI telah mendapatkan cost recovery sebesar US$5. memang belum difungsikan sampai sekarang disebabkan antara lain oleh hal-hal berikut: o Tahun 2001 – adanya liquid carry over yang menyebabkan diperlukannya stratifier o Tahun 2002 – pemasangan stratifier untuk menangani liquid carry over o September 2003 – pengoperasian facilitas incinerator Area 7 SW ditangguhkan oleh karena adanya incident yang membahayakan pada saat start up.050.450. Serta bersamasama BPMigas untuk mereview dan mengevaluasi kelebihan pengeluaran diatas 10% dari anggaran yang telah disetujui.285.200 180.417 M. 7. Seluruh AFE close out untuk Area 5.480 M.718 dan sumbangan pada International School sebesar US$5. BPK-RI menyarankan PT CPI mengeluarkan beban depresiasi sebesar US$5. dimana untuk tahun ajaran 2004/2005.573 dari cost recovery dan memperhitungkan kembali setelah incinerator tersebut berfungsi.518 6.49 PT Chevron Pacific Indonesia .938. Melakukan RCA untuk mengetahui root cause nya sebelum men-start up kembali. yaitu beasiswa yang diberikan kepada semua anak karyawan pada tingkat pendidikan SMU dan Universitas dengan batasan kemampuan akademik tertentu (dengan parameter Indeks Prestasi).000 2. Biaya operasi berupa School Cost (Dependent) selama tahun 2004 dan 2005 (s.054.718 Beasiswa untuk anak karyawan terdiri dari dua jenis beasiswa.349 M. o Agustus 2004 – pengajuan untuk budget revisi Area 7 tidak disetujui oleh BPMigas dan disarankan untuk segera di-closed.911 mahasiswa BPK-RI .Dari aset yang telah didepresiasi melalui prosedur PIS sebesar US$5.835. 6.285. PT CPI tetap menahan depresiasi dari aset yang belum PIS sebesar US$10.907 5.200 2. Hal ini juga diberlakukan untuk fasilitas yang sama di area lain.036.811 Sumbangan pd YPC 2.400. jumlah siswa yang menerima beasiswa tersebut adalah 831 siswa (SMU) dan 1. Setelah ditelusuri pada rincian transaksinya diketahui bahwa akun tersebut merupakan akun biaya sehubungan dengan pemberian beasiswa pada anak karyawan PT CPI dan pemberian sumbangan pada Yayasan Pendidikan Cendana (YPC) dengan perincian sebagai berikut: Tahun 2004 2005 Jumlah Beasiswa 1.

50 PT Chevron Pacific Indonesia . penampungan dan penyimpanan. Adapun tujuan pemberian sumbangan ini adalah untuk membantu operasi dari YPC. Berdasarkan proposal budget yang disampaikan YPC kepada PT CPI diketahui bahwa sumber pendanaan kegiatan operasi YPC bukan hanya dari sumbangan PT CPI. termasuk pengeboran sumur delinasi seperti pengeboran ulang. PT CPI juga memberikan sumbangan kepada International School (IS) (akun Misc. meskipun jumlahnya relatif lebih sedikit. lapangan. fasilitas. PSC menyebutkan bahwa biaya operasi adalah biaya yang berhubungan dengan kegiatan memproduksi minyak.979 merupakan biaya yang material. biaya survey dan biaya eksplorasi lain dan biaya pengeboran tidak berwujud dengan tujuan penetapan proven reservoir. sehingga tidak semua anak karyawan PT CPI memperoleh beasiswa ini. Jumlah penerima beasiswa tersebut saat ini adalah 165 Orang. Ketiga komponen biaya diatas.25 keatas dan mahasiswa yang memiliki IP 2. sumbangan pada YPC dan IS tidak terkait. terhadap kegiatan operasi PT CPI. dengan total biaya sebesar US$12.(Universitas).261. biaya aktivitas eksplorasi.938. Jenis beasiswa yang kedua adalah.50 ke atas. BPK-RI . pendalaman atau penyelesaian sumur serta biaya pembuatan jalan yang menuju ke sumur-sumur. Services & Fees). tapi tidak terbatas pada upah tenaga kerja. kegiatan operasional PT CPI tidak akan terganggu. Beasiswa diberikan untuk siswa yang memiliki Indeks Prestasi (IP) 7. Disamping itu termasuk pula biaya-biaya yang berkenaan dengan perkantoran. Disamping pemberian sumbangan pada YPC. Pada penjelasan mengenai operating cost disebutkan bahwa operating cost terdiri dari: non capital cost tahun berjalan depresiasi untuk capital cost tahun berjalan biaya operasi tahun sebelumnya yang belum di-recovery. namun juga berasal dari penerimaan SPP (school fee). baik langsung maupun tidak langsung. Pembebanan school cost (dependent) ini oleh PT CPI dilatarbelakangi oleh adanya penjelasan pada PSC yang membuka peluang bagi kontraktor untuk membebankan pengeluaran apa saja yang dimungkinkan. Beasiswa ini diberikan dengan jalan mengadakan penyaringan di internal PT CPI. jasa dan administrasi umum serta pengeluaran luar negeri lainnya. Pemberian sumbangan kepada YPC dilakukan tiap tahun. tidak akan mempengaruhi jumlah produksi minyak mentah.223. tidak selayaknya biaya tersebut harus ditanggung oleh Pemerintah (dimasukkan ke cost recovery). Berdasarkan pemeriksaan secara uji petik yang dilakukan. Educational Assistance Scholastic Awards. Sedangkan non capital cost terdiri dari. Artinya. biaya pengeboran tidak berwujud yang digunakan untuk pengoboran sumur dengan tujuan untuk menemukan cadangan belum terbukti (unproven reservoir) dan termasuk biaya pembuatan jalan menuju ke sumur-sumur. meskipun PT CPI tidak memberikan beasiswa pada anak karyawan dan sumbangan pada YPC dan IS. secondary recovery. angkutan dan fasilitas penyerahan. fasilitas penunjang serta aktivitas lain termasuk perbaikan dan pemeliharaan. Berdasarkan PSC Section I disebutkan bahwa biaya operasi (operating cost) adalah pengeluaran yang terjadi dan kewajiban yang timbul untuk melaksanakan operasi perminyakan. Jadi. Pemberian beasiswa pada anak karyawan. jumlah sumbangan yang diberikan pada IS ini adalah sebesar US$5. penggunaan material dan jasa untuk aktivitas sehari-hari berkenaan dengan operasi sumur.

Program ini sudah diterapkan selama puluhan tahun sebagai salah satu strategi perusahaan untuk mendapatkan dan mempertahankan pegawai-pegawai unggul agar tetap bekerja untuk perusahaan. Sebelum Yayasan Pendidikan Cendana (YPC) didirikan. Hal ini disebabkan karena: a.Dengan adanya pernyataan “tapi tidak terbatas pada” diatas memberi peluang bagi PT CPI untuk meminta penggantian (cost recovery) atas biaya yang dikeluarkannnya meskipun tidak terkait langsung maupun tidak langsung dengan kegiatan operasi perminyakan. Yayasan Pendidikan Cendana. terutama yang menyatakan mengenai difinisi dari operating cost. Perlu diketahui bahwa anggaran untuk biaya tersebut telah termasuk dalam WP&B dan disetujui oleh BPMigas oleh karena itu bantuan tersebut selayaknya dibebankan ke cost recovery. Sampai saat ini perusahaan tetap memberikan bantuan kepada YPC agar bisa menyelenggarakan pendidikan buat anak-anak pegawai sebagai salah satu strategi perusahaan untuk mendapatkan dan mempertahankan pegawai-pegawai unggul agar tetap bekerja untuk perusahaan. Lemahnya PSC. dan Caltex American School merupakan kebijakan perusahaan dan menjadi bagian dari benefit yang diberikan kepada pegawai PT CPI. BPMigas sebagai lembaga yang diberi kewenangan untuk melakukan pengendalian atas PSC seharusnya membuat aturan yang jelas mengenai kegiatankegiatan apa saja yang dapat dan tidak dapat di cost recovery. PT CPI menyatakan bahwa pemberian bantuan pendidikan ke anak-anak pegawai melalui program School Grant dan Scholastic Award. Oleh karena itu bantuan tersebut selayaknya dibebankan ke cost recovery. BPK-RI . BPK-RI menyarankan agar PT CPI membatasi pembebanan cost recovery-nya atas biaya-biaya yang benar-benar berhubungan dengan kegiatan mendapatkan minyak sesuai dengan pengertian operating cost. Fasilitas pendidikan untuk anak-anak pegawai ekspatriate ini juga menjadi salah satu strategi perusahaan untuk mendapatkan dan mempertahankan pegawai-pegawai unggul agar tetap bekerja untuk perusahaan. dulu perusahaan mengelola sendiri sekolah-sekolah di daerah operasi perusahaan dan guru-gurunya menjadi pegawai perusahaan.d kuartal II) sebesar US$12. PT CPI membebankan biaya pendidikan anak karyawan ke dalam biaya yang dimintakan penggantiannya pada Pemerintah (cost recovery) tanpa mempertimbangkan apakah biaya tersebut relevan dengan kegiatan operasi PT CPI. b.979 sehingga bagi hasil yang diterima (entitlement) Pemerintah menjadi lebih kecil. Permasalahan tersebut mengakibatkan: Pemerintah menanggung beban cost recovery yang terlalu tinggi pada tahun 2004 dan 2005 (s.51 PT Chevron Pacific Indonesia . Mengirim anak-anak para pegawai ekspatriate untuk bersekolah ke luar daerah operasi PT CPI tidak bisa dilakukan karena usia mereka masih belia dan memerlukan pendampingan dari orang tua. Atas permasalahan tersebut. Caltex American School didirikan dan dikelola oleh perusahaan di daerah operasi PT CPI karena tidak tersedianya fasilitas sekolah untuk orang asing di Pekanbaru dan Duri. Pemberian bantuan pendidikan ke anak-anak pegawai diselenggarakan melalui program School Grant dan Scholastic Award.223. PSC harus diperjelas agar tidak memberi peluang kepada kontraktor untuk me-recovery biaya-biaya yang tidak berhubungan dengan operasi minyak.

462 564. Namun melalui akun CD dan CR ini segala pengeluarannya telah dimintakan penggantiannya (cost recovery) sehingga membebani pemerintah.471.403 603.473 480. artinya tak ada satupun dari biaya-biaya per bidang tersebut berhubungan dengan kegiatan operasi perminyakan.534.723 1.824 240.011 140.532 0 130.471.769 485.006. Kondisi tersebut mengakibatkan bagian pemerintah berkurang dengan adanya pembebanan akun CD dan CR yang digantikan melalui cost recovery senilai US$3.471.777).520 42.8. sedangkan pengeluaran operasi langsung menjadi beban pada saat terjadinya pengeluaran. PT CPI tidak sepenuhnya menerapkan prinsip biaya operasi sebagaimana yang dimuat dalam PSC.52 - PT Chevron Pacific Indonesia . produksi. Kedua jenis pengeluaran tersebut akan digantikan oleh BPMigas sebagai kepanjangan tangan Pemerintah-RI melalui mekanisme cost recovery.629 924.534.534.249 56.006.824 1. yang meliputi: eksplorasi. Pengeluaran dana melalui akun biaya Community Development (CD) dan Community Relationship (CR) membebani cost recovery tahun 2004 dan 2005 masing-masing sebesar US$1.722 dan US$1.410. pengembangan. yang menyebutkan bahwa prinsip pengertian biaya operasi adalah meliputi semua pengeluaran yang terjadi dan kewajiban yang timbul untuk melaksanakan operasi perminyakan.500 Dari rincian pada tabel tersebut di atas dapat diketahui bahwa semua kegiatan tersebut tidak satupun terkait dengan PT CPI sebagai pelaksana operasi perminyakan.722 + US$1. Kondisi tersebut tidak sesuai dengan Financial Budget and Reporting Procedure Manual of Production Sharing Contract (1993 Revision Manual).777 PT Chevron Pasific Indonesia (PT CPI) sebagai penanggung jawab operasional Production Sharing Contract (PSC) dengan BPMigas tiap periode melaporkan kegiatan operasionalnya kepada BPMigas untuk seluruh pengeluaran operasionalnya baik yang bersifat barang modal yang disebut dengan capital aset expenditure maupun yang terkait dengan pengeluaran rutin operasi perminyakan atau disebut dengan operating expenditure.434 130. dengan rincian sebagai berikut: No 1 2 3 4 5 6 Bidang Ekonomi Pendidikan dan Kebudayaan Kesehatan & Lingkungan Sosial & Fasilitas Umum Keagamaan Lain-lain Total Tahun Total ($) 14.500 (US$1. pengangkutan dan pemasaran.839 1. Untuk pengeluaran barang modal mekanisme cost recoverynya melalui depresiasi. Berdasarkan pengujian terhadap biaya operasional yang terkait tentang hubungan dengan pihak luar (external affair) diketahui bahwa selama tahun 2004 dan 2005 telah dikeluarkan dana operasional yang digunakan sebagai bentuk partisipasi PT CPI terhadap lingkungan kerja di wilayah Propinsi Riau Daratan (Pekanbaru) untuk membantu kegiatan baik Pemerintahan Daerah mapun kegiatan Kemasyarakatan dalam berbagai bidang. BPK-RI .031 123.532 0 240. Hal tersebut disebabkan: a.777 3.468 424.

569 dan US$1.53 - PT Chevron Pacific Indonesia .d kuartal II) masing-masing sebesar US$3. interest recovery diberikan berdasarkan surat Direktur Utama Pertamina No. terdapat tiga proyek yang mendapatkan insentif berupa pemberian interest recovery. dengan rate interest recovery sebesar LIBOR + 0 %. dengan rate interest recovery sebesar LIBOR + 1 %.5%. biaya bunga atas pendanaan dari pihak ketiga ini tidak dapat dimasukkan ke unsur cost recovery. sehingga pada dasarnya kontraktor harus membiayai sendiri kegiatan operasionalnya. interest recovery).605. PSC menyatakan bahwa: a. Selama tahun 2004 dan 2005. Tidak tegasnya BPMigas dalam memberi batasan biaya yang tidak boleh di-recovery terutama kegitan yang tidak terkait dengan operasional perminyakan. Berdasarkan pemeriksaan terhadap Financial Quarterly Reporting (FQR) CPI diketahui bahwa terdapat interest recovery sebagai salah satu unsur dari cost recovery selama tahun 2004 dan 2005 (s.153 (akun 599010. Untuk projek LOSF. interest recovery diberikan berdasarkan surat Pjs. PSC menyatakan bahwa kontraktor harus memiliki kemampuan finansial untuk melaksanakan kegiatan operasinya. Kalaupun kontraktor membiayai kegiatan operasinya dengan pendanaan dari pihak ketiga. kemampuan teknis dan keahlian profesional yang dibutuhkan untuk menjalankan operasi perminyakan. 9.b.965. interest recovery diberikan berdasarkan surat Direktur Utama Pertamina No. PSC harus diperjelas agar tidak memberi peluang kepada kontraktor untuk me-recovery biaya-biaya yang tidak berhubungan dengan operasi minyak. yaitu proyek Light Oil Steam Flood (LOSF) Minas dan Proyek Duri Steam Flood (DSF) Area 10 dan 11 Duri. Terdapat Interest Recovery yang seharusnya tidak dibebankan sebagai cost recovery PT CPI tahun 2004 dan 2005 (s.J19. Besarnya interest recovery yang diberikan dihitung berdasarkan actual cost masing-masing proyek/area yang belum di-recover. Kepala Badan Pembina Pengusahaan Kontraktor Asing No. Kontraktor memiliki dana. Pemberian insentif berupa interest recovery dilakukan berdasarkan persetujuan dari Pertamina (sekarang BP Migas). PT CPI menjelaskan bahwa Proyek PCR telah dilaksanakan sesuai persetujuan BPMigas dan telah disetujui untuk dilakukan pembiayaan melalui mekanisme cost recovery.d kuartal II) sebesar US$4. Sedangkan untuk proyek DSF Area 11.722 Interest recovery merupakan insentif yang diberikan BPMigas pada PT CPI untuk mengganti beban bunga PT CPI dalam membiayai proyek-proyek barunya. BPK-RI . BPK-RI menyarankan PT CPI untuk bersama-sama BPMigas membuat aturan yang jelas mengenai kegiatan-kegiatan apa saja yang tidak terkait dengan operasi perminyakan yang tidak boleh dibiayai melalui mekanisme cost recovery. dimana rate interest recovery yang diberikan adalah sebesar maksimal LIBOR + 1.360. Rate interest recovery menggunakan LIBOR (London Interbank Offer Rate) untuk suku bunga deposito US Dollar 3 (tiga) bulanan berdasarkan publikasi the Asian Wall Street Journal pada hari kerja terakhir untuk bulan yang bersangkuran. Untuk proyek DSF Area 10. 687/C00000/2001-S1 tanggal 31 Juli 2001. 004/L0000/97-S1 tanggal 3 Januari 1997. 684/C00000/2001-S1 tanggal 31 Juli 2001.

khususnya yang berhubungan dengan interest expense.6. pembayaran pesangon.722 sehingga entitlement Pemerintah menjadi lebih kecil.837. Article III. Salah satu bunyi kontrak.965. Atas permasalahan tersebut. 10. dimana pada PSC Exibit C. PT Chevron Pacific Indonesia (PT CPI) telah bekerja sama dengan Pihak-III (ketiga) dalam hal pemberian jasa pengamanan.. Kontraktor tidak boleh membebankan biaya bunga untuk membiayai kegiatan operasinya. dimana pada PSC dinyatakan bahwa kontraktor harus mempunyai dana sendiri dan tidak boleh membebankan biaya bunga untuk kegiatan operasinya. Hal ini disebabkan karena: a.54 PT Chevron Pacific Indonesia .d kuartal II) sebesar US$4. HES coordinator diketahui bahwa realisasi upah pokok yang dibayarkan tidak sesuai dengan upah pokok yang ditawarkan dalam BPK-RI .b. PT CPI berusaha untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya tanpa memperhatikan kepentingan Pemerintah. sfhift leader. asuransi.837. Terdapat pembayaran upah pokok petugas security yang tidak sesuai dengan perjanjian Untuk mengamankan fasilitas operasi kegiatan perminyakan dan sarana pendukungnya.patroli officer. BPK RI menyarankan agar BPMigas bersama-sama dengan PT CPI beserta pihak-pihak yang terkait merumuskan lagi mengenai adanya perbedaan persepsi mengenai interest recovery ini. Interest recovery ini telah mendapat persetujuan dari Pertamina (Sekarang BPMigas).3 bahwa kontraktor harus memakai semua usaha yang wajar untuk menghindari setiap gangguan dalam situasi perburuhan yang ada yang akan berpengaruh bagi usaha Perusahaan (PT CPI) Berdasarkan hasil pemeriksaan uji petik Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) terhadap security officer . menjelaskan bahwa kontraktor harus bertanggungjawab atas biaya gaji. PT CPI menyatakan bahwa pembebanan interest recovery pada biaya operasi telah sesuai dengan PSC Rokan.016.076. namun pada exibit PSC dinyatakan bahwa interest recovery dapat dibebankan sebagai cost recovery. Point 3 dinyatakan bahwa bunga pinjaman yang diperoleh dari perusahaan afiliasi atau induk perusahaan atau dari pihak ketiga dengan tingkat suku bunga yang tidak melebihi tingkat suku bunga komersil biaya investasi pada operasi perminyakan dapat di cost recovery. Permasalahan tersebut mengakibatkan: Cost recovery PT CPI terlalu tinggi pada tahun 2004 dan 2005 (s. Minas dan Petapahan diketahui bahwa pemenangnya adalah PT Bradjamusti Citra Nusantara (PT BCN) dengan harga penawaran setelah negosiasi Rp84. upah.076.Kontrak No. cuti dan maslahatmaslahat dibawah undang-undang dan perjanjian perburuhan yang berlaku. Kemudian juga dijelaskan pada pasal 4. administrator.016. Penjelasan dari PT CPI diatas menunjukkan terdapat kelemahan dalam PSC. yaitu Pasal 4.dengan jangka waktu 2 tahun terhitung mulai tanggal 1 September 2004 sampai dengan tanggal 31 Agustus 2006. Dari hasil pemeriksaan terhadap dokumen pelelangan untuk jenis pekerjaaan pengamanan di daerah Rumbai.5. b.1.1983 OK telah ditandatangani tanpa tanggal antara PT CPI dengan PT BCN senilai Rp84. PSC harus diperjelas mengenai batasan-batasan interest recovery. PT CPI dan BPMigas tidak mentaati PSC.

Indikasi tersebut didasarkan atas hasil wawacara kepada beberapa petugas security dimana diketahui bahwa upah pokok yang mereka terima memang benar adalah sebesar Rp760.“Exhibit D” perjanjian kontrak. BPK-RI .000.150.000 509.400.058.270 kasus senilai US$1.828. kaos kaki ternyata PT BCN baru menyerahkan sebagian perlengkapan sesuai dengan “Exhibit D” sehingga merugikan PT CPI serta pegawai PT BCN sebesar Rp509.058.000 yang berakibat terganggunya operasi sehingga tujuan utama kontrak security dengan pihak PT BCN untuk mengamankan aset-aset PT CPI yang dapat merugikan PT CPI/negara belum mencapai sasaran yang diharapkan.000 105.000.untuk tahun-2 (kedua). Selain itu berdasarkan hasil pemeriksaan fisik yang dihadiri oleh Pihak PT CPI dan Pihak PT BCN atas penyerahan kendaraan penunjang tugas security pada tanggal 31 Agustus 2004 diketahui bahwa PT BCN belum dapat menyerahkan 3 unit kendaraan stasion wagon jenis Panther dari 18 unit yang harus diserahkan.000 128.000 Mengingat kontrak jasa security antara PT CPI dengan PT BCN akan berakhir pada tanggal 31 Agustus 2006 maka kecil kemungkinan PT BCN akan menyerahkan perlengkapan petugas security sesuai dengan kontrak No. baju PDL.000.000 17000 17000 5000 Total Total 7=4x5x6 113.000 78.000.410.000 100.260. Tim BPK-RI belum menerima Berita Acara Serah Terima 3 unit kendaraan tersebut kepada PT CPI..dengan perhitungan terlampir (Lampiran 1).55 PT Chevron Pacific Indonesia .Selain realisasi pembayaran upah pokok yang tidak sesuai dengan tertera pada “Exhibit D” berdasarkan pemeriksaan secara uji petik atas tanda terima perlengkapan security antara lain : celana PDL. Hal tersebut tidak sesuai dengan kontrak bahwa PT BCN harus menyediakan kendaraan untuk digunakan oleh pegawai PT BCN dalam tugas-tugas pengelolaan. sepatu PDH.815.000 64.000.. kaos dalam.000 12.000 30.260.840.400.Padahal menurut kontrak No.000 19.dengan perincian sebagai berikut : Jatah Keterangan 1 Pakaian Dinas Lapangan (PDL) Pakaian Dinas Harian (PDH) Sepatu PDH Sepatu PDL Topi PDH Topi PDL Kaos dalam Kaos kaki Buku saku dan bolpoint perlengkapan 2 4 4 2 2 2 2 8 4 1 Realisasi 3 2 2 1 1 1 1 2 2 0 Selisih 4=2-3 2 2 1 1 1 1 6 2 1 Jumlah Petugas 5 630 642 642 630 642 630 630 642 630 Unit price 6 90.000 67.750. sepatu PDL.000 20. koordinasi atau tugas lain yang mendukung kelancaran pelaksanaan jasa-jasa dalam jumlah minimum sebagaimana dirinci dalam Exhibit C-3.000 21.367. pengawasan.1983 OK dalam “Exhibit D”.600.000 125. Dari data laporan kejadian pencurian selama tahun 2004 dan tahun 2005 terjadi pencurian sebanyak 1.1983 OK dalam Exhibit D harus berjumlah Rp900.000 3. Berdasarkan perhitungan selisih upah pokok yang dibayarkan dengan upah pokok yang harus dibayar oleh kontraktor kepada pegawainya terdapat indikasi manipulasi upah pokok pekerja yang belum dibayar oleh PT BCN sebesar Rp1.untuk tahun-1 (pertama) dan Rp810. Hal-hal tersebut di atas mengakibatkan menurunnya disiplin para petugas security yang dapat dilihat dari meningkatnya jumlah pencurian aset-aset milik PT CPI. PT CPI belum mengenakan sanksi kepada PT BCN karena belum dapat menyerahkan 3 unit kendaraan stasion wagon.

Terdapat beberapa material berdasarkan kontrak pengadaan material OP-1583 pada PT National Oil Well senilai US$133. PT CPI tidak akan melakukan pembayaran terhadap item yang bermasalah tersebut. pemeriksaan barang akan dilakukan di tempat tujuan akhir penerimaan yaitu gudang PT CPI di Sumatera.356.53 belum diterima secara lengkap.56 - PT Chevron Pacific Indonesia . Tiga unit kendaraan station wagon yang harus diserahkan kepada PT CPI untuk pengamanan tidak dapat digunakan. Sebagai konsekuensinya.058. Untuk seragam dan perlengkapan security telah diserahkan sepenuhnya sesuai dengan tanda terima seragam dan perlengkapan tahun kedua yang telah kami serahkan kepada tim BPK sedangkan berita acara serah terima kendaraan untuk 3 unit kendaraan telah kami sampaikan pada tanggal 15 Maret 2006 kepada Tim BPK.5. PT CPI mengadakan kontrak pengadaan material (Purchase Order/PO) dengan PT National Oil Well Indonesia (PT NOWI) dengan nomor kontrak OP-1583 tertanggal 31 Oktober 2003.3.000. Berdasarkan PO tersebut juga dinyatakan bahwa “Untuk penyerahan di Loyang Singapore. Penurunan kinerja dari petugas pengamanan yang berakibat turunnya kewaspadaan terhadap gangguan keamanan yang mengancam PT CPI.1983 OK Pasal 4.1983 OK dan PT BCN lalai dalam penyerahan 3 unit kendaraan jenis station wagon sesuai dengan Kontrak No. antara lain adalah item 1. Terjadi indikasi manipulasi upah pegawai yang dilakukan oleh PT BCN sebesar Rp1. c. Untuk kedua item persediaan tersebut dinyatakan bahwa tanggal penyerahannya (delivery time) adalah tanggal 27 Maret 2004 di Pelabuhan Loyang Singapura.3 PT CPI menanggapi bahwa PT CPI tidak memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa rincian pembayaran oleh PT BCN kepada pihak Ketiga sesuai dengan tarif yang tersebut dalam exhibit D mengingat pembayaran kontrak oleh PT CPI kepada PT BCN adalah berdasarkan pencapaian kinerja.840. dengan nomor MEC 362023005. PO ini terdiri dari beberapa item persediaan. Hal tersebut terjadi karena PT CPI tidak memeriksa kepatuhan dan ketaatan PT BCN terhadap pembayaran upah pokok serta perlengkapan sesuai dengan perjanjian yang tercantum dalam Exhibit D kontrak No. Pasal 4.1.b.. Rekanan juga menanggung segala biaya yang dibebankan oleh Pemerintah Indonesia atas pengiriman barang/dokumen” BPK-RI .dan terdapat perlengkapan security yang belum diserahkan kepada petugas security PT BCN sebesar Rp509.6. Exhibit C-3 dan Exhibit D tentang besarnya upah pokok dan perlengkapan yang harus diserahkan oleh PT BCN untuk menunjang operasi pengamanan. 11. namun telah dibayar dan telah dicatat sebagai biaya operasi PT CPI yang di-recovery Pemerintah Guna memenuhi kebutuhan material.PT CPI seharusnya turut mengawasi kontrak antara PT Chevron Pacific Indonesia dengan PT Bradjamusti Citra Nusantara tanpa tanggal No. Hal tersebut mengakibatkan hal-hal sebagai berikut : a.815.000.1983 OK Exhibit C. BPK-RI menyarankan agar PT CPI memberikan teguran atau menagihkan kembali bila memungkinkan kepada PT BCN atas pembayaran upah pokok serta perlengkapan petugas security dan 3 unit kendaraan yang tidak sesuai dengan perjanjian. dengan nomor MEC 362023006 dan item 4. Rekanan akan diberitahu untuk menyaksikan dan bertanggungjawab untuk menyelesaikan setiap adanya penyimpangan hasil pemeriksaan dalam berita acara. Indonesia.

PT CPI juga telah mencatat pembelian material tersebut pada tanggal 23 September 2004. bukan wewenang pihak warehouse. sehingga PT CPI telah membayar dan membiayakan material yang belum lengkap/bermasalah. Sampai dengan saat pemeriksaan fisik yang dilakukan ke gudang (warehouse) di Dumai tanggal 30 Januari 2006. b. diketahui bahwa kekurangan material tersebut belum dikirim oleh PT NOWI. Untuk item 1 terdapat kekurangan spacer dan flange companion. maka disepakati untuk memeriksa lagi dengan mengikutsertakan user pada tanggal 21 Juli 2004.57 PT Chevron Pacific Indonesia . Perwakilan PT NOWI kemudian memenuhi undangan pada tanggal tersebut. Seharusnya pembelian material dapat dicatat sebegai biaya yang dimintakan penggantiannya pada Pemerintah (cost recovery) apabila material tersebut telah memenuhi standar yang disyaratkan sehingga bisa digunakan.356. service manual. spancer dan flange companion. namun sekarang fungsi tersebut sudah tidak ada lagi. Warehouse PT CPI di Duri mengirimkan undangan untuk memeriksa material tersebut. Permasalahan tersebut mengakibatkan: Biaya material yang telah dikeluarkan PT CPI dan telah dimintakan penggantiannya melalui mekanisme cost recovery kepada Pemerintah menjadi lebih besar senilai US$133. b. PT CPI menyatakan bahwa PT CPI setuju untuk memberikan sanksi penalti kepada vendor atas komponen barang yang terlambat diterima (sesuai dengan BPK-RI . dinyatakan bahwa: a. PT CPI meminta agar pihak PT NOWI segera melengkapi kekurangan suku cadang tersebut. namun karena deskripsi dan spesifikasi barang yang rumit. kedua item material di atas diterima di Traffic Dumai. Tidak ada koordinasi yang baik antara bagian Piutang PT CPI dengan bagian Gudang. Berdasarkan Syarat-syarat Khusus PO yang menyatakan bahwa PT CPI tidak akan membayar item material yang bermasalah. Tidak adanya fungsi PT CPI yang diberi tanggung jawab untuk menangani klaim Atas permasalahan tersebut. Lamanya proses klaim atas material yang tidak lengkap ini tidak hanya dapat mengganggu kegiatan operasi PT CPI. Dulu PT CPI mempunyai fungsi Claim Analyst. namun juga berpotensi untuk tidak dapat di klaim apabila tidak ada fungsi di PT CPI yang diberi tanggungjawab untuk melakukan klaim tersebut. sedangkan apabila sengketa dengan PT CPI. Dari hasil pemeriksaan yang dituangkan dalam Joint Survey Report yang ditandatangani oleh pihak PT NOWI. test certificate dan laporan hasil pengujian. Lebih lanjut dinyatakan bahwa pihak warehouse hanya bertanggung jawab untuk menerima dan memelihara barang. Untuk item 4 terdapat kekurangan key way. Lamanya proses penyelesaian masalah ini (18 bulan sejak Joint Survey dilakukan). user dan gudang. Sesuai dengan ketentuan dalam PO.Pada tanggal 9 Juni 2004. Hal ini disebabkan karena: a. Berdasarkan pemeriksaan lebih lanjut diketahui bahwa ternyata PT CPI telah membayar kedua item material di atas berdasarkan invoice PT NOWI tertanggal 19 Agustus 2004. buku operasi manual. disebabkan karena tidak jelasnya pihak yang bertanggung jawab untuk mengklaim supplier. menurut keterangan dari pihak warehouse PT CPI. maka pada tanggal 11 Juni 2004.53 yang mengurangi entitlement Pemerintah.

856.248 (US$) 28.47 7. PTEA adalah perjanjian pertukaran Duri Crude milik PT CPI dengan gas milik ConocoPhillips.492. Sebelum tahun 1997.623. 18 November 2013.119.74 29.49 7.59 Crude Exchange ICP/ barel bbls 1.093. BPK-RI menyarankan agar PT CPI memperbaiki pengendaliannya atas kegiatan pembelian dan pembayaran material.58 - PT Chevron Pacific Indonesia .80 4.869 1.280.65 31.261 1.689 (194. penggunaan formula tersebut merugikan PT CPI dan pemerintah RI.d. PTEA (Petroleum Transfer and Exchange Agreement) yang ditanda-tangani pada tanggal 25 Januari 1997 dilatarbelakangi oleh Surat Dirjen Migas No. PT CPI setuju untuk mengeluarkan dari cost recovery sampai komponen tersebut diterima (dinyatakan dengan Joint Survey Report).928.985.844.697.963.942 (453. Dalam perjanjian PTEA section 8.34 7.819.08 33. barangbarang tersebut adalah Insurance Items dan dipesan untuk stock (Stand By Unit).119. Sebagai ilustrasi kami menggunakan angka pertukaran gas dengan crude oil pada tahun 2004 sebagai berikut: Bulan Januari Februari Maret April Mei Actual Exchange mmscf 7.13 32. Pemerintah RI dan PT CPI mengalami kerugian pada tahun 2004 masing-masing sebesar US$4.975 tanggal 3 Mei 1994 tentang bersedianya PT CPI menerima Asamera Gas dengan dasar bahwa penggunaan tersebut tidak akan mempengaruhi posisi keuangan PT CPI (tidak akan menimbulkan kerugian).46 31.761) 175.37 33.58 Crude Value (US$) 37.291.279) (225.149. adalah gas yang masuk menggunakan BBTU yang kemudian dikonversikan dengan menggunakan crude oil (Bbls).49 7. Hal tersebut disebabkan penggunaan crude oil sebagai bahan bakar untuk menggerakan generator dianggap sangat tidak efisien karena konsumsi crude oil untuk membangkitkan tenaga listrik sangat besar.497.737.985.84 6.42 28.39 31.629. barang yang sudah diterima tersebut tidak bisa digunakan.263) (96.631.352 GOI' Loss CPI and GOI' Loss (35%) (US$) *) 1.458.742.52 32.232.111.350.102.24 Price/bbtu (US$) 4.435.139.70 Gas Value (US$) 31.72 dan US$5.883.337. PTEA berlaku efektif sejak tanggal 18 November 1998 s.571) 131.350.70 4.384 1.331) 307.84 CPI Loss 826. Menurut data di system.963.10 4.944 727.563 1. Atas material yang belum diterima tersebut agar dikeluarkan dari cost recovery. Konversi antara perhitungan gas (Bbtu) dengan crude oil (Bbls) mengunakan formula dengan perhitungan sebagai berikut (Appendix C dari Agreement): “1 Bbl Crude oil setara dengan 1 Bbl x Heat Value MMBtu/BBL Gas dengan thermal Efficiency Factor tertentu (berkisar 0.47 7.34 7.590. PT CPI mengganti penggunaan crude oil tersebut dengan gas.358/06/DJM/94 tanggal 30 April 1994 tentang pemanfaatan gas dari Asamera Corridor Block untuk Proyek Duri Steam Flood (DSF) dan Surat PT CPI kepada Dirjen Migas No.57 38. Realisasi dari perjanjian PTEA tersebut.9532 sd 1)”.747.24 bbtu 7.9 disebutkan bahwa crude yang diserahkan sebagai pengganti gas tersebut dialokasikan sebagai own use dan tidak dikenai DMO.78 28.914.176. PT CPI juga akan memastikan apakah tanpa komponen yang belum diterima. Berdasarkan hasil analisa kami.591.154 1. Apabila memang tidak bisa digunakan.291.925 969.317.017) (128.476. namun sesudah tahun 1997.861 1.418.581.00 4.217.252 (259.255.kondisi yang ada pada kontrak). 12.331.84 6.476.802 (15%) (US$) (20%) (US$) BPK-RI .97 atas transaksi pertukaran Duri Crude dengan Gas ConocoPhillips melalui Perjanjian PTEA PT CPI menggunakan tekhnologi Water Steam Flood untuk memudahkan proses pemompaan crude oil dari dalam bumi di Duri Area.34 27. Sistem Water Steam Flood ini menggunakan crude oil sebagai bahan bakar.475. dimana Pertamina menjamin PT CPI berada dalam posisi netral (no gain no loss).

sehingga tidak memberi penerimaan tambahan bagi pemerintah.52 39. Pada pra-1997.321) 327.80 35.883. belum ada pasar untuk gas yang ditemukan Asamera dan sementara itu PT CPI membakar Duri Crude untuk bahan bakar sebanyak 70.354.255.070. Maka tidak akan ada pembagian bagi pemerintah.150. demi untuk perbaikan dan kepentingan bersama. Tujuannya agar pemerintah bisa (i) meningkatkan produksi total.889.84 45.258) (1.426.522.240) 245.078. Government Loss dihitung dari selisih share oil dan gas government di PT CPI dan Conoco (85% share oil Govrn dari PT CPI dan 65% share gas govrn dari Conoco atau 85%-65%=20%). CPI dan Pemerintah.118. (ii) me-monetize aset gas yg tadinya ”tidur” di bumi Sumatra Selatan.94 7.402 1.000 barrel per hari.242.642 (581.112.144.51 7.604 2. PTCPI akan terus membakar crude oil.705.443.276 (US$) 30.61 7.94 7.452 2. BPK-RI menyarankan agar kontrak PTEA ditinjau kembali dan dilakukan tinjauan ulang atas kelayakan dan manfaat PTEA terhadap PT.999.99 7.822.51 7.456.706 1.924.97 atas pertukaran gas COPI dengan Duri Crude milik PT CPI.891.767 1.426.060 13.40 4.257.92 7.136.160.30 5.203.124 1. d.292.314.92 35.498 (1.224.890.623.Bulan Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Total Actual Exchange mmscf 7.844.20 87.886.290.078. dan (iii) menghidupkan bisnis pipa transportasi gas sepanjang Sumatera Selatan sampai Riau.811.20 87.00 4.468.426 1.856 (775.70 5.54 36.456.39 39. c.310.279.140.356.624.025.119.16 Crude Value (US$) 33.996.368.99 7.076) 4.591.61 7.480 1. Ketiga hal ini meningkatkan total penerimaan bagi pemerintah Indonesia.292.56 30.30 4.768) 5. Hal tersebut mengakibatkan Pemerintah RI dan PT CPI mengalami kerugian pada tahun 2004 masing-masing sebesar US$4.200.005) (718.26 39. perlu pengendalian intern yang lebih kuat atas pelaksanaan pertukaran tersebut. Untuk itu.845 (15%) (US$) (20%) (US$) *) CPI Loss dihitung dari Share Oil PT CPI sebesar 15%.62 36.914.884 GOI' Loss CPI and GOI' Loss (35%) (US$) *) (511.202 1.193.72 dan US$5. Dan ConocoPhilip tidak akan mempunyai pasar untuk gasnya.81 30.841.779 1.74 37.34 Crude Exchange ICP/ barel bbls 1. PTM menjamin PT CPI berada dalam posisi netral (no gain no loss).30 5.867 1.150.947.341.92 7.16 Price/bbtu (US$) 4. Selain itu PT CPI mengalami ketergantungan terhadap pasokan gas dari ConocoPhillips.217. Hal tersebut disebabkan kontrak yang ada tidak mempertimbangkan perbedaan fluktuasi harga antara crude oil dan gas serta bernuansa KKN karena menguntungkan salah satu pihak dengan merugikan negara.844) 9.15 44.671. Jika tidak terjadi pertukaran (kontrak PTEA).310.76 44.139.62 7. dengan catatan: Kontrak PTEA hanya mempertukarkan gas dengan minyak (btu to btu) karena latar belakang pembuatan kontrak dalam situasi sbb: a.504.150.27 34.873. Melihat hal ini Pemerintah Indonesia meminta agar PT CPI mau menukarkan minyak yang dibakar tsb dengan gas dari Asamera.485 3.985.973 1.458.90 Gas Value (US$) 35.801.59 PT Chevron Pacific Indonesia .785.99 417.085 1.253) (539. Seharusnya sesuai PTEA Recital E.992.570.967.623. Namun demikian PT CPI setuju jika BPK-RI membawa masalah ini ke BPMigas.217.17 CPI Loss (219.62 7.16 bbtu 7.136.60 445.102.200.729 (292.27 36.213.871. Tanpa kontrak PTEA ketiga hal di item (c) tidak akan terjadi.102.135.178. e.12 36.561) 572.37 30. BPK-RI . PT CPI menjelaskan bahwa realisasi PTEA tersebut sesuai dengan kontrak yang telah disetujui bersama. dimana apabila terdapat kesalahan kecil atau hal yang terjadi pada saluran pipa akan mempengaruhi produksi minyak PT CPI.049.255.40 37. b.630 1.

897.014.801. (selanjutnya disebut Chevron) dan Texaco.00 dan US$5. exploration. business development & planning.000.227.897. mencakup corporate procurement: business management. global shared services non US. SM&I.647. Sponsor general and administration.088. Corporate Security Lain-lain Jumlah $40. Strategic Sourcing.00. Inc. yaitu: a.647.00 Rincian lebih lanjut atas beban-beban di atas antara lain: a. dan sponsor group workforce renewal.00 $5.00 $10.340. kami menemukan adanya pembebanan “Parent Company Overhead” (PCO) dari pemegang saham di atas terhadap PT CPI. Counsel & Services Fee.00 $1. well engineering. IRIS.60 PT Chevron Pacific Indonesia .741.00 $3. Jenis Beban Counseling and Services Fee Procurement Human Resources Nilai pembebanan 2005 (Juni) 2004 $2.002. 1. Sebagai contoh workforce renewal cost yang dialokasikan pada PT CPI BPK-RI . Procurement. profesional dan administrasi.C. 5. mencakup: global shared services US.303.00.656. global workforce development fee.216.216.850.996.897. 2.216. Inc.00 $979. Asia shared services fee.187. alokasi PCO tersebut masing-masing sebesar US$10.00 Dasar Alokasi Tingkat pengeluaran Ukuran bisnis unit Jumlah karyawan (ekspatriate dan nasional) (92%) & actual service (8%) Jumlah tetap per tahun 4. sebagai berikut: No. PT CPI menjadi kontraktor Production Sharing Contract (PSC) berdasarkan perjanjian antara Pertamina dengan PT CPI untuk Blok Rokan pada tanggal 9 Agustus 1971 yang terakhir diperbaharui pada tanggal 15 Oktober 1992. (selanjutnya disebut Texaco). 3. c. dan information technology. b. Pada dasarnya PCO dibebankan oleh CTOP kepada PT CPI sebagai imbalan atas disediakannya jasa tehnik.00 dan US$5.200. expatriate processing.014. US expatriate intercultural orientation.00 $290.632.00 belum sepenuhnya dapat diyakini kewajarannya PT Caltex Pacific Indonesia (PT CPI) merupakan perusahaan patungan antara Chevron U. Temuan yang berkaitan dengan alokasi biaya overhead kantor pusat luar negeri 1. HES.000. Alokasi PCO pada tahun 2004 dan 2005 (Juni) masing-masing sebesar US$10. international gas.00 $80. Terdapat beberapa masalah terkait pembebanan PCO tersebut. Pembebanan PCO tersebut dilakukan berdasarkan perjanjian yang dibuat antara CTOP dengan PT CPI pada tanggal 2 September 2003 dan berlaku surut mulai 10 Oktober 2001.S. tax & finance. PSC tersebut pada exhibit C article III accounting methods to be used to calculate recovery of operating costs angka 2 tentang overhead allocation antara lain menyatakan bahwa Home Office dapat mengalokasikan general and administrative costs kepada operasinya.00 $359.00 $1. Pada tahun 2004 dan 2005 (Juni).014.00 $5. legal & procurement. dan eProcurement. Alokasi PCO di atas dapat dirinci berdasarkan jenis beban. Sebagian besar PCO tersebut merupakan alokasi biaya tidak langsung (indirect cost) dari Chevron sehingga manfaat dari pembayaran biaya tersebut tidak dapat diidentifikasi secara jelas oleh PT CPI.647.A. mencakup beban-beban: negotiation. Berdasarkan hasil pemeriksaan. Human Resources.

PCO merupakan kumpulan tagihan dari berbagai unit di kantor pusat. Biaya yang dikeluarkan mencapai US$100. termasuk jasa-jasa teknis guna menunjang operation tersebut. Permasalahan-permasalahan di atas.00 per karyawan selama 2 tahun pertama. PT CPI tidak pernah menjalankan haknya untuk menguji keabsahan tagihan PCO.647. Dokumen sumber tersebar di berbagai belahan dunia sehingga menyulitkan PT CPI untuk mem-validasi tagihan-tagihan tersebut.000.v.2. . Biaya pengelolaan yang timbul karenanya. Permasalahan tersebut diatas tidak sesuai dengan ketentuan sebagai berikut: a.216. antara lain menyatakan: 5. Kontraktor atas PSC Blok Rokan adalah PT CPI. mengakibatkan alokasi PCO pada tahun 2004 dan 2005 (Juni) masing-masing sebesar US$10. kepada operasi di Indonesia. Home office overhead memerlukan pemeriksaan yang mendetail berdasarkan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut: .kewajaran dari overhead charges. BPK-RI . baik bersifat global maupun regional. Selain itu jika PT CPI akan memanfaatkan tenaga mereka.b. Biaya ini tidak dirasakan manfaatnya secara langsung oleh PT CPI.00 belum sepenuhnya dapat diyakini kewajarannya karena PT CPI tidak melakukan validasi atas dokumen sumber.014. c. baik dengan mempekerjakan mereka atau menjadikan mereka sebagai konsultan via technical services. 2. tentu dipikul oleh hasil operation tersebut.841. PSC untuk Blok Rokan yang terakhir pada tanggal 15 Oktober 1992 ditandatangani oleh Pertamina dan PT CPI. Tim pemeriksaan sampai dengan waktu pemeriksaan berakhir juga tidak berhasil mendapatkan akses ke dokumen sumber PCO. Parent Company Overhead Allocation Agreement antara PT CPI dengan CTOP pada tanggal 2 September 2003.b.61 - PT Chevron Pacific Indonesia .897.00 merupakan biaya yang dikeluarkan oleh Chevron untuk mendidik dan mengembangkan 53 karyawan baru. Surat Dirut Pertamina kepada Dirjen Pengawasan Keuangan Negara pada tanggal 5 Juni 1981. pada tahun 2004 dan tahun 2005 (Juni) masing-masing sebesar US$906. d. prorata allocation home office administration overhead. e. pada dasarnya mencakup 2 jenis costs: 2) Administration Overhead costs yang menyangkut computation of home office administration overhead. sehingga pengertian “overhead allocation” yang dapat di-cost recovery sewajarnya hanya overhead dari PT CPI dan tidak mencakup overhead dari pemegang saham PT CPI. diantaranya menyatakan: 1) Home office costs yang dialokasikan kepada Indonesia Operations. . Upon 30 days written notice to CTOP or Parent Company. baik melalui administrasi overhead maupun technical charges. c. PT CPI tetap harus membayar gaji dan tunjangan atau rate mereka.00 dan US$461.852.menghindari kemungkinan alokasi overhead cost dari operasi di luar Indonesia.00 dan US$5.menghindari duplication of charge to Indonesia. b. Suatu operation selalu memerlukan pengelolaan suatu kantor pusat. Company shall have the right to pemeriksaan CTOP’s accounts and records relating to the cost incurred by CTOP herewith the purpose of verifying CTOP’s cost and PCO rates.

metode overhead telah dibicarakan dan disampaikan ke BPMigas pada tanggal 26 September 2002 dengan no. Mengenai sistem dan methodologi dari alokasi Home Office overhead kepada kegiatan di Indonesia.49 % BPK-RI .897. d. Mengacu pd butir 2 dan 3 diatas. c. khususnya dari segi keuangan.681 PERCENTAGE 1. pengadaan. PT. Adapun perubahan-perubahan organisasi yang terjadi akibat dari merger antara Chevron dan Texaco.62 - PT Chevron Pacific Indonesia . 947/C.30 % 1.) c.216 US$ 12. b. Administration Overhead costs yang menyangkut computation of home office administration overhead. Surat 4419/Rbi/2002 dan surat No. kepada anak perusahaan atau afiliasinya sebagaimana yang diterima oleh PT CPI merupakan sesuatu transaksi yang wajar. dsb). b. Administrasi bukti/transaksi pembebanan pada PT CPI tidak mencerminkan transaksi yang terjadi karena hanya menggunakan dokumen sekunder.936. Sesuai dengan exhibit C Article III. yaitu perhitungan alokasi PCO. ketaatan atas pembebanan maksimal biaya PCO. mengingat masih sangat tergantungnya kegiatan operasional perusahaan.941. PSC dan BP Migas tidak secara tegas mengatur kewajiban untuk menyiapkan dokumen sumber sebagai syarat diterimanya alokasi overhead. Pertamina selaku pemegang management didalam penerapan management kontrol sesuai dg ketentuan-ketentuan PSC. hukum. ataupun kegiatan pendukung lainnya (manajerial.377. prorata allocation home office administration overhead. teknologi. tenaga kerja. Dalam hubungan ini Dirut Pertamina mengeluarkan surat No. PT CPI menjelaskan bahwa pembebanan atau alokasi Parent Company Overhead (PCO) dari induk perusahaan (Home Office) selaku pemegang saham. PT CPI memandang Chevron dan PT CPI sebagai satu perusahaan dan bukannya entitas yang berbeda.2 Kontrak PSC dan butir 1 dan 2 diatas. CPI telah melakukan penelitian dan pembahasan dengan BPPKA/Pertamina dan telah menerima persesetujuan atas sistem dan metode alokasi dg nomor surat 164A/L0H00/97-S4 tanggal 31 Maret 1997 dari bagian FINEK BPPKA. Untuk melegalisir hal tersebut diatas PT CPI telah membuat perjanjian dengan Home Office (CIEP) yang ditanda tangani pada tanggal 2 September 2003 mengenai alokasi PCO.193 US$ 867.099 PCO US$ 10. Kebijaksanaan Pertamina dalam menentukan batas maksimum Home Office Overhead sebesar 2% dari total expenditure kepada kontraktor PS masih memerlukan perhitungan detail (subject to pemeriksaan.Permasalahan-permasalahan tersebut disebabkan: a. Juklak tersebut secara garis besar mengatur hal-hal sebagai berikut: a. dapat dilihat pada fakta sebagai berikut: TAHUN 2004 2005 EXPENDITURE US$ 839.5067/RBI/2002 tgl 7 Nopember 2002. maka batas maksimal overhead 2% dari total expenditure adalah merupakan kewajaran. Pembebanan PCO hanya berdasarkan kesepakatan. serta berdasarkan hasil studi overhead yang telah kami lakukan.0000/81 tanggal 5 Juni 1981 yang memberikan klarifikasi mengenai petunjuk pelaksanaan atas pembebanan “Home Office Overhead” didalam PSC.

b.oleh karena itu semua biaya-biaya tadi ditampung pd departemen yg bersangkutan dan dibebankan ke unit operasi berdasarkan metode yg telah disetujui. namun PT CPI tidak bisa memberikan dokumen sumber karena keterbatasan waktu yang diberikan pada kantor pusat dan selain itu sifat dari dokumen sumber adalah campuran dari banyak transaksi termasuk allocated cost yang dialokasikan at cost kepada seluruh SBU melalui metode alokasi yang telah disetujui. Untuk meyakinkan kebenaran dokumen sumber di kantor pusat. Program ini dirancang untuk mengatasi kesulitan penggantian pegawai yg ada saat ini (PT CPI mempunyai 65 pegawai asing dalam bidang engineering/scientific professional) bila mereka direpatriasi karena pindah lokasi atau pension dan training ini sangat diperlukan untuk menjamin kesinambungan operasi perusahaan. c. khususnya dilakukan atas biaya-biaya yang non rutin dan/atau signifikan jumlahnya.63 - PT Chevron Pacific Indonesia . serta PT CPI untuk menugaskan personilnya untuk memverifikasi dokumen sumber atas setiap tagihan dari Parent Company. Pada prinsipnya workforce renewal cost adalah biaya training untuk pegawai baru yang akan ditempatkan diseluruh dunia termasuk Indonesia maka oleh karena itu semua biaya-biaya tersebut sewajarnya di alokasikan keseluruh unit operasi Chevron sesuai dengan metode alokasi yang telah disetujui bersama. Alokasi PCO telah sesuai dengan dengan perjanjian alokasi PCO antara PT CPI dan CIEP melalui mekanisme alokasi yang telah dijelaskan dikantor pusat. PT CPI telah menerima semua supporting dokumen dan melakukan verifikasi atas kebenaran pembebanan biaya dilakukan secara judgemental.841. Dengan jumlah volume dan biaya-biaya yg banyak terjadi di kantor pusat rasanya tidak mungkin atau effisien untuk membebankan setiap biaya ke setiap unit operasi. Global Workforce renewal cost pada tahun 2004 sebesar US$906.0000/81 tanggal 5 Juni 1981 dan persetujuan atas sistem dan metode alokasi dg nomor surat 164A/L0H00/97-S4 tanggal 31 Maret 1997 dari bagian FINEK BPPKA. PT CPI akan berusaha mendapatkannya. 947/C. maka dapat PT CPI jelaskan sebagai berikut: a. BPK RI menyarankan BPMigas untuk mengkaji ulang kelayakan Parent company dari PT CPI untuk membebankan overhead-nya. Pengecekan secara transaksional untuk PCO allocation sudah dilakukan dan sudah sesuai dengan perjanjian alokasi PCO antara PT CPI dan CIEP. Kantor pusat telah memberikan supporting dokumen atas beberapa tagihan sesuai dengan permintaan.852 dan 2005(Juni)sebesar US$461.a. Bila BPK masih memerlukan dokumen sumber yang specifik. Dasar penerapan overhead allocation adalah merujuk pada surat Dirut Pertamina No. Kebenaran dari alokasi kantor pusat telah diperiksa oleh eksternal auditor (PwC) dan hasil pemeriksaan mengatakan bahwa alokasi telah dilakukan dengan sistem “at cost” basis.Menanggapi temuan BPK bahwa pembebanan PCO terdapat masalah.d kami mohon agar diberikan 30 hari pemberitahuan dan daftar dari spesifik samples yang akan diperiksa agar pemeriksaan ini lebih efektif. d. PT CPI telah menyerahkan hasil pemeriksaan tahun 2004 dari eksternal auditor (PwC) atas semua biaya overhead kantor pusat (CIEP). BPK-RI . e. Pada pemeriksaan y.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful