You are on page 1of 20

ْ ‫ م‬،‫ت أَ ْعمَالّنَا‬

‫َن‬ ّ ‫س ّي ه َئا‬
َ ‫ن‬ ْ ‫سنَا َو ّم‬ّ ‫ور أَ ْن ُف‬ ّ ‫ش ُر‬ ُ ‫ن‬ ْ ‫هلل ّم‬ ّ ‫وذ بّا‬ ُ ‫ َونَ ُع‬،‫ست َْغ ّف ُر ُه‬ ْ َ‫س َت ّع ْي ُن ُه َون‬ ْ َ‫م ُد ُه َون‬ َ ‫ـح‬ ّ ‫َم َد ّ ه‬
ْ َ‫لِل ن‬ ْ ‫إن الـح‬ َّ
ُ ‫شه‬
‫َد‬ َ َ
ْ ‫ك ل ُه وَأ‬ َ ‫ش ّر ْي‬ َ ‫َح َد ُه َال‬ َّ َ َّ
ْ ‫ش َه ُد أن ال إّل َه إّال هللا و‬ َ َ
ْ ‫ وَأ‬،‫ي ل ُه‬ َ َ ‫ها ّد‬ َ ‫ل ف ََل‬ َ ْ ّ‫ضل‬ ْ ‫َن ُي‬ْ ‫ َوم‬،‫ل ل ُه‬ َ َّ ‫ض‬ َ
ّ ‫ي َْه ّد ّه هللاُ ف ََل ُم‬
ُ
.‫مداً َع ْب ُد ُه َورَسوله‬
ُ َّ ‫ح‬َ ‫ن ُمـ‬ َّ َ‫أ‬
َ ‫م‬
‫ون‬ ُ ّ‫سل‬ ْ ‫م ُم‬ ْ ‫ن إّ َّال وَأَ ْن ُت‬ َّ ‫مو ُت‬ ُ َ‫ه و ََال ت‬ّ ّ‫َق تُ َقات‬ َّ ‫َّللا ح‬َ َّ ‫يَا أَيُّهَا ال َّ ّذينَ آ َم ُنوا اتَّ ُقوا‬
ً ‫َث ّم ْن ُهمَا ّرج‬
‫َاال َكثّيرًا‬ َّ ‫جهَا َوب‬ َ ‫ق ّم ْنهَا َز ْو‬ َ َ‫خل‬َ ‫ح َد ٍة َو‬ ّ ‫س وَا‬ ٍ ‫ن نَ ْف‬ ْ ‫م ّم‬ ْ ‫خلَ َق ُك‬ َ ‫م الَّ ّذي‬ ُ ‫اس ات َّ ُقوا َربَّ ُك‬ ُ ‫يَا أَيُّهَا ال َّن‬
‫م َرقّيبًا‬ ْ ‫ان َعلَ ْي ُك‬ َ ‫َّللا َك‬ َ َّ ‫ن‬ َّ ّ‫م إ‬ َ ‫َاْل َ ْرحَا‬
ْ ‫هو‬ ّ ّ‫ون ب‬َ ُ‫ساءَل‬ َ َ‫َّللا ال ّذي ت‬َّ َ َّ ‫سا ًء وَات َّ ُقوا‬ َ ّ‫َون‬
‫س ّدي ًدا‬ ً
َ ‫َّللا وَقولوا َق ْوال‬ُ ُ َ َّ ‫يَا أَيُّهَا ال َّ ّذينَ آ َم ُنوا اتَّ ُقوا‬
‫ما أَ َّما ب َْع ُد‬ ً ‫ظي‬ ّ ‫َسولَ ُه َف َق ْد َفا َز َف ْو ًزا َع‬ ُ ‫َّللا َور‬ َ َّ ّ‫طع‬ ّ ‫َن ُي‬ ْ ‫م َوم‬ ْ ‫م ُذنُوب َُك‬ ْ ‫م َوي َْغ ّف ْر لَ ُك‬ ْ ‫م أَ ْعمَالَ ُك‬ ْ ‫ح لَ ُك‬
ْ ّ‫صل‬ْ ‫ُي‬

Status Riwayat
Pengantar khotbah di atas diriwayatkan dari enam sahabat. Mereka adalah: Ibnu
Mas’ud, Abu Musa Al-Asy’ari, Abdullah bin Abbas, Jabir bin Abdillah, Nubaith bin
Syarith, dan Aisyah radhiallahu ‘anhum.
Dalam hal ini, kami hanya menyebutkan riwayat Ibnu Mas’ud.

[‫ة‬ َ ‫ط َب َة ْالحَا‬
ّ ‫ج‬ ْ ‫خ‬ َ َّ ‫َسل‬
ُ ‫م‬ ّ ‫هللا صَلَّى هللاُ َعلَي‬
َ ‫هو‬ ّ ‫ل‬ ُ ‫َسو‬ َ َّ ‫ َعل‬: ‫عن أبي عبيدة بن عبد هللا عن أبيه قال‬
ُ ‫منَا ر‬
ْ ‫إن ْالح‬
ّ ‫َم ُد ّ ه‬
‫الخ‬.…‫لِل‬ َّ : ] ‫كاحّ َو َغ ْي ّر ّه‬
َ ‫ي النّه‬
ْ ّ‫ف‬

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam mengajari kami khutbatul hajah … –sebagaimana lafal di atas– ….” (H.r. Abu
Daud, An-Nasa’i, Al-Hakim, Daud Ath-Thayalisi, Imam Ahmad, dan Abu Ya ‘la; dinilai
sahih oleh Syekh Al-Albani)
Keterangan Umum
Pengantar khotbah di atas disebut sebagai “khutbatul hajah“. Ada yang mengatakan
bahwa yang dimaksud dengan “hajah” pada hadis ini adalah ‘akad nikah’, karena pada
acara inilah, umumnya seseorang membaca khutbatul hajah, yang umumnya tidak
dibaca pada kesempatan yang lain.
Hanya saja, yang zahir, hadis ini bersifat umum untuk semua hajat dan kepentingan,
baik kepentingan akad nikah maupun lainnya. Karena itu, selayaknya seseorang
menggunakan pengantar khotbah ini untuk menyampaikan kepentingannya dan semua
rencana hidupnya. Demikian keterangan dari Imam Muhammad As-Sindi dalam
Hasyiyah (catatan kaki) untuk Sunan Nasa’i, 3:105.

Setelah mengutip pendapat di atas, Syekh Al-Albani memberi komentar, “Pemaknaan


ini (‘hajah’ dimaknai dengan ‘nikah’) adalah pemaknaan yang lemah, bahkan keliru,
karena adanya riwayat yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa
beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyampaikannya selain saat akad nikah.”
(Khutbatul Hajah, hlm. 31)
Kapan Khotbah ini Diucapkan?
Hadis di atas menunjukkan bahwa pengantar khotbah ini diucapkan ketika ada hajat
dan kebutuhan yang hendak disampaikan. Di antaranya adalah ketika hendak
melakukan akad nikah atau menyampaikan khotbah jumat. Terdapat keterangan lain,
sebagaimana disebutkan dalam riwayat berikut,
‫ة‬ َ ‫ل حَا‬
ٍ ‫ج‬ َ ‫كاحّ أَ ْو فّي َغ ْي ّر‬
‫ فّـي ُك ّ ه‬:َ‫ها ؟ َقال‬ َ ‫ة النّه‬ َ : ‫ت ّْلَبّـي إّسحَاق‬
ُ ‫ه ّذ ّه فّي‬
ّ ‫خط َب‬ ُ ‫ ُق ْل‬: ‫ش ْعبَة‬ َ ‫َقا‬
ُ ‫ل‬

Syu’bah bertanya kepada gurunya, Abu Ishaq, “Apakah ini khusus untuk khotbah nikah
atau boleh dibaca pada kesempatatan lain?” Jawab Abu Ishaq, “Diucapkan pada setiap
acara yang penting.” (Sunan Al-Kubra, karya Al-Baihaqi, no. 13604)
Syu’bah bin Hajjaj adalah salah satu perawi hadis yang menyebutkan tentang khutbatul
hajah.
Cara Baca
‫ ”إن الـ َح ْمد ل ّ ل‬ada beberapa cara baca:
Untuk lafal “‫ِل‬

1. Huruf nun pada kata “ ‫ ” إن‬ditasydid dan dal pada kata “ ‫ ” الـ َح ْمد‬diberi harakat fathah,
َّ
sehingga dibaca “‫”إن الـ َح ْمدَ ل ِّلل‬.
2. Huruf nun pada kata “ ‫ ” إن‬ditasydid dan dal pada kata “ ‫ ” الـ َح ْمد‬diberi harakat dhammah,
َّ
sehingga dibaca “‫”إن الـ َح ْمدُ ل ِّلل‬. Hal ini sebagaimana keterangan Mula Ali Qari dalam
kitab Mirqah Al-Mashabih.
3. Huruf nun pada kata “ ‫ ” إن‬tidak ditasydid dan dal pada kata “ ‫ ” الـ َح ْمد‬diberi harakat
dhammah, sehingga dibaca “‫” لإ لن الـ َح ْمد ُ ل ِّلل‬. Ini sebagaimana keterangan Al-Jazari
dalam Tashih Al-Mashabih.
Semua keterangan di atas disarikan dari ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, 6:108.
Makna “Amma Ba’du”
Kata “‫ ”أَ َّما بَ ْعد‬sering kita dengarkan setiap kali seseorang menyampaikan pengantar
khotbah. Bisa juga diungkapkan dengan: “‫”وبَ ْعد‬ َ . Keduanya bermakna sama, yaitu:
“adapun selanjutnya”.

Kalimat ini disebut “‫ب‬ َ ‫لخ‬


‫طا ل‬ ْ َ‫( ”ف‬kalimat pemisah). Diriwayatkan dari Abu Musa Al-
‫صل ا ل‬
Asy’ari radhiallahu ‘anhubahwa beliau mengatakan, “Orang yang pertama kali
mengucapkan ‘amma ba’du’ adalah Nabi Daud ‘alaihis salam, dan itu adalah fashlal
khitab.” (Al-Awail Ibni Abi Ashim, no. 188; Al-Awail Ath-Thabrani, no. 40)
Allah berfirman,

ّ ‫ل ْال‬
‫خطَاب‬ ْ ‫م َة و ََف‬
َ ‫ص‬ ّ ‫ك ُه وَآتَ ْينَا ُه ْال‬
َ ‫ح ْك‬ َ ‫َش َد ْدنَا ُم ْل‬
َ ‫و‬

“Kami kuatkan kerajaannya serta Kami berikan ilmu dan fashlul khitab.” (Q.s. Shad: 20)
Kalimat ini digunakan untuk memisahkan mukadimah dengan isi dan tema khotbah. Ini
merupakan bagian dari perhatian seseorang terhadap ceramah yang disampaikan.
Demikian keterangan Syekh Ibnu Utsaimin dalam Asy-Syarhul Mumthi’, 1:7.
Anjuran Para Ulama
Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi mengatakan, dalam mukadimah kitab beliau, Musykilul
Atsar, “Saya mulai kitab ini dengan pembukaan ketika menyampaikan hajat,
sebagaimana perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamyang diriwayatkan dari
berbagai jalur, yang akan kami sebutkan –insya Allah– sebagai berikut. Innal hamda
lillah ….” (Musykilul Atsar, 1:3)
Syekh Muhammad Hayat As-Sindi mengatakan, “Selayaknya, seseorang menggunakan
pengantar khotbah ini untuk menyampaikan kepentingannya dan semua rencana
hidupnya….” (Hasyiyah untuk Sunan Nasa’i, 3:105)
Imam Asy-Syafi’i mengatakan, “Khutbatul hajah termasuk hal yang dianjurkan untuk
disampaikan pada awal semua akad, seperti: jual beli, akad nikah, atau yang lainnya.”
(Hasyiyah As-Sindi untuk Sunan Nasa’i, 3:105)
Setelah mengutip perkataan Imam Syafi’i di atas, Syekh Al-Albani memberi komentar,
“Keterangan ulama yang menganjurkan pengucapan khotbah ini dalam jual beli atau
semacamnya adalah pendapat yang lemah, karena inti akad jual beli dan semacamnya
adalah ijab qabul …. Karena para sahabat yang berjumpa dengan Nabishallallahu ‘alaihi
wa sallam, hingga manusia zaman sekarang ini pun, sering melakukan akad tanpa
diiringi dengan perkataan tertentu, namun menggunakan gerakan yang menunjukkan
keinginan adanya akad …. (Khutbatul Hajah, hlm. 32)
Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah, seseorang yang
bergelar muhadditsul ‘ashr (ahli hadis abad ini), menulis buku khusus tentang khutbatul
hajah. Beliau berharap, buku ini bisa menjadi motivasi bagi banyak orang untuk
menghidupkan kembali sunah pembukaan khotbah yang hampir hilang. Di akhir
bukuKhutbatul Hajah, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani mengatakan,
“Sesungguhnya, tujuan menulis risalah (buku kecil) ini adalah menyebarkan sunah yang
hampir sudah biasa ditinggalkan banyak orang. Karenanya, aku tujukan kepada seluruh
khatib, da’i, mudarris (pengajar), dan yang lainnya agar betul-betul menghafalnya,
menggunakannya untuk membuka khotbah-khotbah dan ceramah mereka. Semoga
Allah mewujudkan keinginan mereka dengan sebab khutbatul hajah.” (Khutbatul Hajah,
hlm. 33)
Mukadimah Lainnya untuk Khotbah
Selain khutbatul hajah di atas, masih banyak bentuk mukadimah khotbah lainnya.
Hanya saja, mukadimah tersebut tidak berlandaskan dalil, dan hanya merupakan kreasi
dari para da’i serta penceramah ketika hendak menyampaikan khotbahnya.
Bagi Anda yang hendak menggunakan pengantar khotbah yang tidak ada dalilnya,
hendaknya tidak menggunakan pengantar khotbah yang berlebihan, dipaksa-paksakan
agar bersajak, dan mengandung pujian yang berlebihan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam. Karena itu, untuk lebih aman, sebaiknya kita gunakan pengantar khotbah
yang pernah disampaikan oleh para ulama dalam buku-buku mereka. Berikut ini
beberapa pengantar khotbah yang sering digunakan oleh da’i.
Mukadimah Singkat
Mukadimah 1:
‫َق َونُو ُدوا أَ ْن‬ ْ
ّ ‫ل َربّهنَا بّالح ه‬
ُ ‫س‬
ُ ‫َت ُر‬ َ ‫ي لَ ْو َال أَ ْن‬
ُ َّ ‫هدَانَا‬
ْ ‫َّللا لَ َق ْد جَاء‬ َ ‫لِل ال َّ ّذي‬
َ ‫هدَانَا لّ َه َذا َومَا ُك َّنا لّن َْه َت ّد‬ ْ ‫ْالح‬
ّ َّ ّ ‫َم ُد‬
َ ُ‫م تَ ْعمَل‬ ْ ‫ها بّمَا ُك ْن ُت‬ ُ ‫ور ْث ُت‬ ُ َ ‫م ْال‬ ُ ‫تّ ْل ُك‬
‫ون‬ َ ‫مو‬ ّ ‫ج َّن ُة أ‬

Artinya:
Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini; dan kami sekali-
kali tidak akan mendapat petunjuk jikalau Allah tidak memberi petunjuk kepada kami.
Sesungguhnya, telah datang rasul-rasul Tuhan kami, membawa kebenaran. Diserukan
kepada mereka, “ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan amalan yang
dahulu kamu kerjakan.”

Keterangan:
Mukaddimah ini merupakan surat al-A’raf, ayat 43. Pujian disampaikan oleh penghuni
surga, ketika mereka telah melihat kenikmatan yang Allah berikan kepada mereka.

Mukadimah 2:
َ ‫م ْال‬
‫خبّي ُر‬ َ ‫َه َو ْال‬
ُ ‫حكّي‬ ُ ‫خ َر ّة و‬
ّ ‫اْل‬ ْ ‫اْلَرْضّ وَلَ ُه ْالح‬
ْ ‫َم ُد فّي‬ ْ ‫السمَاوَاتّ َومَا فّي‬
َّ ‫لِل ال َّ ّذي لَ ُه مَا فّي‬ ْ ‫ْالح‬
ّ َّ ّ ‫َم ُد‬

Artinya:
Segala puji bagi Allah yang memiliki segala perbendaharaan langit dan bumi, serta
bagi-Nya (pula) segala puji di akhirat. Dan Dialah yang Mahabijaksana lagi Maha
Mengetahui.

Keterangan:
Mukadimah ini ada di surat Saba, ayat pertama.

Mukadimah 3:
‫ش ُكو ٌر‬ َّ ّ‫َن إ‬
َ ‫ن َربَّنَا لَ َغ ُفو ٌر‬ َ ‫لِل ال َّ ّذي أَ ْذهَبَ َع َّنا ْال‬
َ ‫حز‬ ْ ‫ْالح‬
ّ َّ ّ ‫َم ُد‬
Artinya:
Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya,
Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.

Keterangan:
Mukadimah ini merupakan surat Fathir, ayat 34.

Mukadimah 4:
ّ ‫ل لَ ُه‬
ً ‫ع َو‬
‫جا‬ ْ ‫َج َع‬
ْ ‫مي‬ َ ‫لِل ال َّ ّذي أَ ْن َز‬
ْ َ‫ل َعلَى َع ْب ّد ّه ْالكّتَابَ وَل‬ ْ ‫ْالح‬
ّ َّ ّ ‫َم ُد‬

Artinya:
Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Al-Kitab (Alquran) kepada hamba-Nya,
dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya.

Keterangan:
Mukadimah ini ada di surat Al-Kahfi, ayat pertama.

Mukadimah 5:
‫ون‬ ْ ‫م ال َّ ّذينَ َك َف ُروا بّ َربّه ّه‬
َ ُ‫م ي َْع ّدل‬ ُّ ‫ل الظ ُّ ُلمَاتّ و‬
َّ ُ‫َالنو َر ث‬ َ ‫َاْلَرْضَ َو‬
َ ‫ج َع‬ ْ ‫السمَاوَاتّ و‬
َّ َ ‫لِل ال َّ ّذي‬
َ َ‫خل‬
‫ق‬ ْ ‫ْالح‬
ّ َّ ّ ‫َم ُد‬

Artinya:
Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi serta mengadakan gelap
dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan
mereka.

Keterangan:
Mukadimah ini ada di ayat pertama, surat Al-An’am.

Mukadimah 6:
‫َف‬ ْ َ‫ى أ‬
ّ ‫شر‬ َّ ‫صَل َ ُة و‬
َ ‫َالسَل َ ُم َعل‬ َّ ‫ وَال‬،‫ين‬ ُّ ‫ن َعلَى ُأ ُمور‬
‫الد ْنيَا وَال ّه‬ ُ ‫س َت ّع ْي‬ْ َ‫ه ن‬ ّ ّ‫ َوب‬، َ‫مين‬ ّ َ‫بّ ْال َعال‬
‫لِل َر ه‬ ْ ‫ْالح‬
ّ َّ ّ ‫َم ُد‬
ّ ‫د‬ ّ
َ
‫ أ َّما ب َْع ُد‬، َ‫جـمَـ ّعين‬ َ
ْ ‫هأ‬ ْ ‫ه َوص‬ ُ ‫الـ‬
ّ ‫َح ّب‬ ّ ّ‫ى آل‬ َ ‫ْسلّينَ َو َعل‬ َ ‫مر‬

Artinya:
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Dengan-Nya kita meminta pertolongan
dalam segala urusan dunia dan akhirat. Salawat dan salam tercurah untuk seorang
utusan yang paling mulia, keluarganya, dan semua sahabatnya …. Amma ba’du ….

Mukadimah 7:
‫ أَ َّما ب َْع ُد‬،‫َن وَاال َ ُه‬
ْ ‫ه َوم‬ ْ ‫ه َوص‬
ّ ‫َح ّب‬ ّ ّ‫ى آل‬ ّ ‫َس ْو‬
َ ‫ل هلل َو َعل‬ َّ ‫صَل َ ُة و‬
َ ‫َالسَل َ ُم َعل‬
ُ ‫ىر‬ َّ ‫هلل وَال‬ ْ ‫ْالح‬
ّ ‫َم ُد‬

Artinya:
Segala puji bagi Allah. Salawat dan salam tercurah untuk Rasulullah, para keluarganya,
sahabatnya, dan orang-orang yang tunduk lagi taat kepada beliau. Amma ba’du ….

Mukadimah 8:
‫ أَ َّما‬، َ‫جـمَـ ّعين‬
ْ َ‫ه أ‬ ْ ‫ه َوص‬
ّ ّ‫َحب‬ ّ ّ‫ى آل‬ َ ‫ْسلّينَ و‬
َ ‫َعل‬ ُ ‫ف الـ‬
َ ‫مر‬ ْ َ‫ى أ‬
ّ ‫ش َر‬ َّ ‫صَل َ ُة و‬
َ ‫َالسَل َ ُم َعل‬ ّ َ‫بّ ْال َعال‬
َّ ‫م ْينَ وَال‬ ْ ‫ْالح‬
ّ ‫َم ُد‬
‫هلل َر ه‬
‫ب َْع ُد‬

Artinya:
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Salawat dan salam tercurah untuk seorang
utusan yang paling mulia, keluarganya, dan semua sahabatnya …. Amma ba’du ….

Mukadimah 9:
‫م‬ْ ‫َن تَبّ َع ُه‬
ْ ‫ه َوم‬ َ َ‫ه وَأ‬
ّ ّ‫صحَاب‬ َ ‫ْسلّينَ َو َع‬
ّ ّ‫لى آل‬ ُ ‫ف اْل َ ْنبّيَا ّء وَالـ‬
َ ‫مر‬ ْ َ‫لى أ‬
ّ ‫ش َر‬ َ ‫َالسَل َ ُم َع‬ َّ ‫صَل َ ُة و‬َّ ‫هلل وَال‬ ْ ‫ْالح‬
ّ ‫َم ُد‬
َ
‫ أ َّما ب َْع ُد‬،‫ين‬
ّ ‫د‬ ّ ‫ن اّلَى يَو‬
‫م ال ّه‬ َ ‫ح‬
ٍ ‫سا‬ ْ ّ‫بّإ‬

Artinya:
Segala puji bagi Allah. Salawat dan salam semoga tercurah untuk seorang nabi dan
rasul yang paling mulia, keluarganya, sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti
mereka dengan baik sampai hari kiamat. Amma ba’du ….

Mukadimah 10:
‫ أَ َّما‬،‫اه َتدَى‬
ْ ‫َن‬
ّ ‫ه َوم‬ ْ ‫ه َوص‬
ّ ‫َح ّب‬ َ ‫ َو َعل‬،‫صطَ َفى‬
ّ ّ‫ى آل‬ ُ ‫ه ْالـ‬
ْ ‫م‬ ُ ‫ىر‬
ّ ّ‫َسول‬ َّ ‫صَل َ ُة و‬
َ ‫َالسَل َ ُم َعل‬ َّ ‫ وَال‬،‫هلل و ََك َفى‬ ْ ‫ْالح‬
ّ ‫َم ُد‬
‫ب َْع ُد‬

Artinya:
Segala puji hanya bagi Allah, dan cukup Dia. Salawat dan salam tercurah untuk
seorang utusan-Nya yang terpilih, keluarganya, sahabatnya, dan setiap orang yang
menempuh jalan hidayah. Amma ba’du ….

Mukadimah 11:
‫ل إّلَى ْال ُهدَى‬ َّ ‫ض‬
َ ‫َن‬ ْ ‫ون م‬ َ ‫م ي َْد ُع‬ ّ ‫ل ْال ّع ْل‬ ّ ‫ه‬ ْ َ‫ن أ‬ ْ ‫ل بَ َقايَا ّم‬ ّ ‫س‬ ُّ َ‫ن َف ْت َر ًة ّمن‬
ُ ‫الر‬ ٍ ‫ل َزمَا‬ ‫ل فّي ُك ّ ه‬ َ ‫ج َع‬ َ ‫هلل ال َّ ّذي‬ ّ ‫َم ُد‬ ْ ‫ْالح‬
َ َ ْ َ
ْ ‫هللا أ‬ َ ‫صه ُر‬ َ ‫ـحي‬ ْ ‫ ُي‬،‫م َعلى اْل َذى‬ َ ْ َ َ ‫ص ّب ُر‬
‫ن‬ ْ ‫م ّم‬ ْ ‫ فك‬،‫ل ال َعمَى‬ َ ‫ه‬ ّ ‫ور‬ ّ ‫ون بّ ُن‬ ّ َ‫م ْوتَى َو ُيب‬ َ ‫هللا الـ‬ّ ّ‫َون ّبكّتَاب‬ ْ ‫ون ّم ْن ُه‬ ْ َ‫َوي‬
َ َ ْ َ َ َ َ َ َ َ َ َ َ
َّ َ
ّ‫سنَ أث ّرهم على الناسّ وَأقبَح أث ّر ال ُناس‬ َّ َ ُ
ْ
ْ ُ
َ ‫ه قد ه َدوه فمَا أح‬ ْ َ ْ َ
ٍ ّ‫ل تائ‬ ‫ه‬ َ ْ ْ
ٍ ‫ِلبلّيسَ قد أحيَوه وَكم ّمن ضا‬ ُ ْ ْ ْ ْ ْ ّّ ‫ل‬ ٍ ‫َقتّ ْي‬
ُ
‫هلّينَ ال ّذ ْينَ َع َق ُدوا أل ّويَّ َة‬ َّ ّ ‫ل الجَا‬ َ ‫طلّينَ َوتَأ ّو ْي‬ ّ ‫م ْب‬ ُ ‫ل الـ‬ ‫ه‬
َ ‫يف ال َغالّينَ وَا ْنتّحَا‬ َ ‫ـح ّر‬ ْ َ‫هللا ت‬ّ ّ‫ن كّتَاب‬ ْ ‫ن َع‬ َ ‫ ُي ْن َف ْو‬.‫م‬ ْ ‫َعلَ ْي ّه‬
َ
ّ ‫ون َعلى ُم َفارَق‬
‫ة‬ َ َ ‫مع‬ ُ ّ ‫ج‬ْ ‫ون لّلكّتَابّ ُم‬ ْ َ ‫خالّ ُف‬ َ ‫ون فّي الكّتَابّ ُم‬ َ ‫َخ َتلّ ُف‬ ْ ‫مم‬ َ
ْ ‫ة ف ُه‬ ّ ‫ل ال ّف ْت َن‬ َ ‫ع َقا‬ ُ
ّ ‫ة وَأطلقوا‬َ ْ َ ّ ‫البّ ْد َع‬
‫م‬ َ َ‫ه ّمن‬
ّ ‫الك ََل‬ ّ ّ‫َشاب‬ َ ‫مت‬ َ ‫م‬
ُ ‫ون بّالـ‬ ُ َّ ‫َكل‬
َ ‫م يَت‬ٍ ‫ع ْل‬
ّ ‫هللا بّ َغ ْي ّر‬
ّ ‫ب‬ ّ ‫هللا َوفّي‬
ّ ‫هللا َوفّي ّكتَا‬ ّ ‫ون َعلَى‬ َ ُ‫ب ي َُقول‬
ّ ‫كتَا‬
ّ ‫ال‬
َ ‫ه‬
‫ أ َّما ب َْع ُد‬، َ‫ضلّين‬ّ ‫م‬ ْ
ُ ‫َن ال‬ ْ ‫هلل ّم‬ ُ َ
ّ ‫م ف َن ُعوذ بّا‬ َ َ ‫ش ّب ُه‬
ْ ‫ون َعل ْي ّه‬ ْ ‫اس بّمَا ُي‬ ‫ل ال َّن‬
َ ‫ج َّها‬ َ ‫ـخ ّد ُع‬
ُ ‫ون‬ ْ ‫َو ُي‬
ّ ‫ن فّت‬ ّ

Artinya:
Segala puji itu hanya menjadi hak Allah. Dialah Dzat yang memunculkan para ulama
yang masih saja tersisa di setiap zaman yang mengalami kekosongan rasul. Para
ulama tersebut mendakwahi orang yang tersesat kepada hidayah, dan mereka
bersabar atas berbagai gangguan. Dengan kitab Allah, mereka hidupkan orang-orang
yang hatinya sudah mati. Mereka perlihatkan cahaya Allah kepada orang yang buta
mata hatinya. Betapa banyak korban iblis yang berhasil mereka selamatkan. Betapa
banyak orang yang tersesat dan bingung berhasil mereka tunjuki jalan yang benar.
Betapa bagus pengaruh mereka di tengah-tengah manusia dan betapa jelek balasan
manusia terhadap mereka. Para ulamalah yang mengingkari penyelewengan makna
Alquran yang dilakukan oleh orang-orang yang berlebih-lebihan serta pemalsuan yang
dibuat oleh para pembela kebatilan. Yaitu, orang-orang yang memasang tali bid’ah dan
mengencangkan ikatan fitnah. Mereka memperdebatkan kitabullah, menyelisihi
Alquran, dan sepakat untuk keluar dari aturan Alquran. Mereka berbicara atas nama
Allah, tentang Allah, dan tentang kitabullah, tanpa dalil. Mereka membicarakan tentang
hal yang rancu dan menipu manusia-manusia bodoh dengan kerancuan berpikir yang
mereka sebarkan. Kami berlindung kepada Allah dari ujian karena orang-orang yang
sesat. Amma ba’du ….

Keterangan:
Mukadimah di atas merupakan mukadimah yang disampaikan oleh Imam Ahmad dalam
kitabnya, Ar-Radd ‘ala Al-Jahmiyah wa Az-Zanadiqah. Banyak ulama yang mengutip
pengantar beliau untuk dijadikan pembukaan khotbah atau pun ceramah yang bertajuk
“Kesesatan dan Jalan Menyimpang”.
‫‪Khutbah Pertama :‬‬
‫ة‪،‬‬ ‫ط َن ّ‬
‫ه َر ّة وَالبَا ّ‬ ‫ه الظَّا ّ‬ ‫م ّ‬ ‫ش ُك ُر ُه َعلَى نّ َع ّ‬ ‫م ُد َربّ هي وَأَ ْ‬‫ح َ‬ ‫م ال َق ّد ْي ُر‪ ،‬أَ ْ‬ ‫الكبّ ْي ُر‪ ،‬اَل َعلّ ْي ُ‬
‫ي َ‬ ‫لِل اَ ْل َع ّل ُّ‬
‫َم ُد ّ َّ ّ‬ ‫لِل‪ ،‬اَ ْلح ْ‬ ‫َم ُد ّ َّ ّ‬ ‫اَ ْلح ْ‬
‫َد أَنَّ‬ ‫شه ُ‬ ‫َ‬
‫ص ْي ُر‪ ،‬وَأ ْ‬ ‫م ّ‬ ‫ه ال َ‬ ‫ك لَ ُه إّلَ ْي ّ‬ ‫َح َد ُه َال َ‬
‫ش ّر ْي َ‬ ‫َّ‬ ‫َ‬
‫ش َه ُد أ ْن َال إّلَ َه إّال هللاُ و ْ‬ ‫َ‬
‫ه‪ ،‬وَأ ْ‬ ‫م ّ‬‫م الشك ّر َعلَى نّ َع ّ‬ ‫ْ‬ ‫ُّ‬ ‫سأل ُه َدوَا َ‬ ‫ُ‬ ‫َ‬ ‫وَأَ ْ‬
‫م ٍد‬‫ح َّ‬
‫ك ُم َ‬ ‫َس ْولّ َ‬‫ك َور ُ‬ ‫ك َعلَى َع ْب ّد َ‬ ‫َار ْ‬
‫م َوب ّ‬ ‫َس ّل ه ْ‬
‫لو َ‬‫ص ّه‬‫م َ‬ ‫خلّ ْي ُل ُه‪ ،‬اَلل َّ ُه َّ‬ ‫َس ْولُ ُه َو َ‬ ‫م ًدا َع ْب ُد ُه َور ُ‬ ‫ح َّ‬ ‫َس ّي ه َدنَا ُم َ‬ ‫نَبّيَّنَا و َ‬
‫م لّ ُن ْ‬ ‫َ‬
‫م وَأ ْن ُف ّ‬ ‫َ‬
‫ه ُد ْوا بّأ ْموَالّ ّه ْ‬ ‫َّ‬
‫ه اَل ّذ ْينَ جَا َ‬ ‫منّ ْي ُر‪َ ،‬و َعلَى آلّ ّ‬ ‫ج ال ُ‬ ‫سرَا ُ‬ ‫ش ْي ُر ال َّن ّذ ْي ُر‪ ،‬وَال ه ّ‬ ‫اَلبَ ّ‬
‫ن ّ‬
‫هللا‬ ‫ص َر ّة ّد ْي ّ‬ ‫س ّه ْ‬ ‫َحبّ ّ‬ ‫ه َوص ْ‬
‫ُّ‬
‫ْض بّال ُهدَى وَالن ْو ّر‪.‬‬ ‫ت اْلر ُ‬ ‫َ‬ ‫شر ََق ّ‬ ‫َ‬
‫ح َّتى أ ْ‬ ‫َ‬

‫أَ َّما ب َْع ُد‪:‬‬

‫َع ُق ْوبَاتّ ّ‬
‫ه‪.‬‬ ‫هو ُ‬ ‫ن َغ َ‬
‫ض ّب ّ‬ ‫ج َّناتَ ُه‪َ ،‬وتَ ْن ُ‬
‫ج ْو ّم ْ‬ ‫هللا تَبْلُ ُغ ْوا ّر ْ‬
‫ضوَانَ ُه َو َ‬ ‫َفات َّ ُق ْوا َ‬

‫‪Ibadallah,‬‬

‫‪Sesungguhnya Rab kalian yang Maha Mulia mengingatkan kalian dengan nikmat-‬‬
‫‪nikmat yang umum dan yang khusus agar kalian bersyukur kepadaNya. Allah‬‬
‫‪berfirman,‬‬

‫ْض ال إّلَ َه إّال ُ‬


‫ه َو‬ ‫َّ‬
‫السمَا ّء وَاْلر ّ‬ ‫َّللا يَ ْر ُز ُق ُك ْ‬
‫م ّمنَ‬ ‫ق َغ ْي ُر َّ ّ‬
‫خالّ ٍ‬ ‫ل ّم ْ‬
‫ن َ‬ ‫ه ْ‬ ‫َّللا َعلَ ْي ُك ْ‬
‫م َ‬ ‫م َة َّ ّ‬ ‫يَا أَيُّهَا ال َّن ُ‬
‫اس ا ْذ ُك ُروا نّ ْع َ‬
‫َفأَنَّى تُ ْؤ َف ُك َ‬
‫ون‬

‫‪“Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah Pencipta selain Allah‬‬
‫‪yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi ? tidak ada Tuhan‬‬
‫‪selain dia; Maka Mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?” (QS. Fathir: 3).‬‬

‫‪Allah juga berfirman,‬‬

‫م بّ َذاتّ‬ ‫ن َّ َ‬
‫َّللا َع ّلي ٌ‬ ‫م ْعنَا وَأَطَ ْعنَا وَات َّ ُقوا َّ َ‬
‫َّللا إّ َّ‬ ‫ه إّ ْذ ُق ْل ُت ْ‬
‫م َ‬
‫س ّ‬ ‫اق ُه ال َّ ّذي وَاثَ َق ُك ْ‬
‫م بّ ّ‬ ‫َّللا َعلَ ْي ُك ْ‬
‫م َو ّمي َث َ‬ ‫وَا ْذ ُك ُروا نّ ْع َ‬
‫م َة َّ ّ‬
‫ُّ‬
‫ور (‪)٧‬‬ ‫الص ُد ّ‬

‫‪“Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya yang telah diikat-Nya dengan‬‬
‫‪kamu, ketika kamu mengatakan: “Kami dengar dan Kami taati”. dan bertakwalah‬‬
‫‪kepada Allah, Sesungguhnya Allah mengetahui isi hati(mu).” (QS. Al-Maidah: 7).‬‬

‫‪Dan firman-Nya,‬‬

‫ط َن ًة‬ ‫َه ظَا ّ‬


‫ه َر ًة َوبَا ّ‬ ‫غ َعلَ ْي ُك ْ‬
‫م نّ َعم ُ‬ ‫ْض وَأَ ْ‬
‫س َب َ‬ ‫ت َومَا فّي اْلر ّ‬ ‫َّ‬
‫السمَاوَا ّ‬ ‫خ َر لَ ُك ْ‬
‫م مَا فّي‬ ‫س َّ‬ ‫ن َّ َ‬
‫َّللا َ‬ ‫م تَ َر ْوا أَ َّ‬
‫أَلَ ْ‬
“Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk
(kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan
untukmu nikmat-Nya lahir dan batin.” (QS. Luqman: 20).

Dan Allah mengabarkan kepada kita bahwasanya seluruh karunia berasal dari-Nya
agar kita menunaikan hak Allah Ta’ala dalam beribadah dan bersyukur. Dan kita
berharap tambahan kepada-Nya. Allah berfirman,
ّ ‫ن نَ ْف‬
َ ‫س‬
‫ك‬ ّ ‫ة َف‬
ْ ‫م‬ ٍ ‫س ّي ه َئ‬ َ َ‫َّللا َومَا أَصَاب‬
ْ ‫ك ّم‬
َ ‫ن‬ ّ َّ َ‫من‬
ّ ‫ة َف‬
ٍ ‫َس َن‬ َ َ‫مَا أَصَاب‬
ْ ‫ك ّم‬
َ ‫نح‬

“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang
menimpamu, Maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. An-Nisaa: 79).

Maka kebaikan-kebaikan yang dirasakan oleh manusia semuanya adalah semata-mata


karunia dari-Nya dan kasih sayang dari segala sisi. Dan keburukan-keburukan
dikarenakan oleh manusia dan Allah telah menetapkan dan mentaqdirkannya, dan Allah
tidaklah zalim sedikit pun kepada siapa pun.

Orang-orang mengenal banyak kenikmatan, akan tetapi lupa akan mayoritas


kenikmatan, sungguh betapa sering kenikmatan Allah giringkan kepadamu –wahai
manusia- manjadikanmu menikmatinya sementara engkau tidak menyadarinya. Betapa
banyak keburukan dan musibah yang Allah tolak darimu sementara engkau tidak
menyadarinya.

Allah berfirman tentang penjagaan manusia:

ّ َّ ‫ن أَ ْم ّر‬
‫َّللا‬ ُ ‫َح َف‬
ْ ‫ظونَ ُه ّم‬ ّ ‫خ ْل ّف‬
ْ ‫هي‬ ْ ‫ه َو ّم‬
َ ‫ن‬ ّ ‫ن يَ َد ْي‬
ّ ‫ن بَ ْي‬ ٌ ‫لَ ُه ُم َع ّ هقب‬
ْ ‫َات ّم‬

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan
di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.” (QS. Ar-Ra’du: 11).

‫ون‬ َّ ‫م يَ َت َف‬
َ ‫ك ُر‬ ٍ ‫ك ْليَاتٍ لّ َق ْو‬ َّ ّ‫مي ًعا ّم ْن ُه إ‬
َ ّ‫ن فّي َذل‬ َّ
َ ّ‫السمَاوَاتّ َومَا فّي اْلرْض‬
ّ ‫ج‬ ْ ‫خ َر لَ ُك‬
‫م مَا فّي‬ َّ ‫َس‬
َ ‫و‬

“Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi
semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.” (QS. Al-
Jaatsiyah: 13).
Dan banyak dari anggota badan yang bergerak dengan sendirinya –diluar kesadaran
manusia- untuk kemanfaatan badan dan berlangsungnya kehidupan badan. Allah
berfirman,

ّ ‫م أَ َفَل تُ ْب‬
َ ‫ص ُر‬
)٢١( ‫ون‬ ّ ‫َوفّي أَ ْن ُف‬
ْ ‫س ُك‬

“Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka Apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Ad-
Dzaariyat: 21).

ٌ ‫ان لَظَلُو‬
‫م َك َّفا ٌر‬ َ ‫س‬ َّ ّ‫ها إ‬
َ ‫ن اِل ْن‬ ْ ُ‫َّللا ال ت‬
ُ ‫ح‬
َ ‫صو‬ َ ‫وَإّ ْن تَ ُع ُّدوا نّ ْع‬
ّ َّ ‫م َة‬

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya.
Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS.
Ibrahim: 34).

Barangsiapa yang tidak mampu menghitung nikmat Allah maka tentu ia tidak tahu
mayoritas karunia-Nya.

Allah memberi karunia kepada kita untuk kita gunakan dalam menjalankan ketaatan-
Nya dan beribadah kepada-Nya, untuk memakmurkan dunia dan memperbaikinya.
Allah berfirman,

َ ‫م‬
‫ون‬ ْ ‫م لَ َعلَّ ُك‬
ْ ُ‫م ت‬
ُ ّ‫سل‬ ْ ‫م َت ُه َعلَ ْي ُك‬ ُّ ‫ك ُي ّت‬
َ ‫م نّ ْع‬ َ ّ‫َك َذل‬

“Demikianlah Allah menyempurnakan nikmat-Nya atasmu agar kamu berserah diri


(kepada-Nya).” (QS. An-Nahl: 81).

ْ ‫َاْلفئّ َد َة لَ َعلَّ ُك‬


‫م‬ ْ ‫ع وَاْل ْبصَا َر و‬ َّ
َ ‫الس ْم‬ ُ ‫ل لَ ُك‬
‫م‬ َ ‫ش ْي ًئا َو‬
َ ‫ج َع‬ َ ‫م‬
َ ‫ون‬ ْ ‫ن ُأ َّمهَاتّ ُك‬
ُ َ‫م ال تَ ْعل‬ ّ ‫ن ُبطُو‬
ْ ‫م ّم‬
ْ ‫َك‬ ْ َ‫ََّللا أ‬
ُ ‫خ َرج‬ ُ َّ ‫و‬
َ ‫ش ُك ُر‬
)٧٨( ‫ون‬ ْ َ‫ت‬

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui
sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu
bersyukur.” (QS An-Nahl: 78).

Maka bersyukur atas karunia adalah dengan mengumpulkan beberapa perkara:

Pertama: Dengan mencintai Sang Pemberi Karunia atas karunia-Nya.


Kedua: Tunduk kepada Allah yang maha suci atas karunia-Nya, disertai keyakinan hati
bahwasanya seluruh nikmat adalah semata-mata karunia dan pemberian Allah dalam
segala hal, sang hamba asalnya tidak punya hak atas nikmat tersebut.

Ketiga: Memuji Rab dengan lisan atas karunia-karunia tersebut.

Keempat: Menerima karunia tersebut dengan menunjukkan kemiskinan dan kefaqiran


kepada Allah.

Kelima: Mengagungkan karunia tersebut dan menggunakannya pada perkara yang


dicintai oleh Allah.

Barangsiapa yang menggunakan karunia Allah pada perkara yang dicintai oleh Allah
dan diridhainya serta menjadikannya sarana untuk menegakan agama pada dirinya,
menjalankan kewajiban-kewajiban yang diwajibkan kepadanya, dengan berbuat baik
kepada makhluk Allah maka ia telah mensyukuri karunia tersebut. Dan barangsiapa
yang menggunakan karunia Allah pada perkara yang dibenci oleh Allah atau
menghalangi hak-hak yang wajib pada karunia tersebut maka ia telah kufur nikmat
(mengingkari nikmat).

Ummul Mukminin Asiyah radhiallahu ‘anha menulis kepada Mu’awiyah radhiallahu ‘anhu:
ّ ‫س ّب ْيَل ً إّلَى م َْع‬
ّ ّ‫صيَت‬
‫ه‬ ّ ‫م َعلَ ْي‬
َ ‫ه‬ َ ‫ل مَا اَ ْن َع‬ ْ ‫ه أَ َّال ي‬
ْ ‫َج َع‬ َ ‫َن أَ ْن َع‬
ّ ‫م َعلَ ْي‬ ْ ‫م َعلَى م‬ ُ ‫ب لّ ْل‬
ّ ‫م ْن ّع‬ َّ ‫ن أَ َق‬
ُ ّ‫ل مَا يَج‬ َّ ّ‫إ‬

“Sesungguhnya minimal yang wajib atas orang yang mendapat karunia kepada Sang
Pemberi karunia adalah tidak menjadikan karunia tersebut jalan untuk bermaksiat
kepada-Nya.”

Keenam: Hendaknya nikmat tersebut tidak menjadikannya sombong dan tertipu, dan
syaitan membisikannya bahwa ia lebih baik dari orang lain karena nikmat tersebut, dan
ia tidaklah terkhususkan dengan nikmat tersebut kecuali karena ia memiliki
keistimewaan dibandingkan yang lainnya.

Hendaknya ia mengetahui bahwasanya Allah menguji dengan kebaikan dan keburukan


agar Allah mengetahui orang-orang yang bersyukur dan orang-orang yang bersabar.
Dan keimanan setengahnya adalah bersyukur dan setengahnya lagi bersabar. Allah
berfirman,

ُ َ ‫صبَّار‬ ‫ك ْليَاتٍ لّ ُك ّ ه‬ َّ ّ‫ه إ‬


َ ّ‫ن فّي َذل‬ ْ ‫َّللا لّ ُي ّري َُك‬
ْ ‫م ّم‬ ّ َّ ‫ة‬ ْ ‫ج ّري فّي ْالب‬
َ ‫َح ّر بّنّ ْع‬ َّ َ‫م تَ َر أ‬
َ ‫ن ْال ُف ْل‬
ْ َ‫ك ت‬ ْ َ‫أَل‬
)٣١( ‫ور‬
ٍ ‫شك‬ ٍ َ ‫ل‬ ّ ّ‫ن آيَات‬ ّ ‫م‬
“Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan
nikmat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebahagian dari tanda-tanda
(kekuasaan)-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-
tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur.” (QS. Luqman: 31).

Dan diatas manzilah bersyukur atas nikmat adalah bersyukur karena musibah dan
keburukan, serta memuji Allah atas perkara-perkara yang dibenci yang menimpa
seorang muslim. Dan para pemilik manzilah ini adalah orang yang pertama kali
dipanggil untuk masuk ke surga, karena mereka senantiasa memuji Allah dalam segala
kondisi.

Allah telah memerintahkan kita untuk bersyukur, Allah berfirman,

ّ ‫َاش ُك ُروا لّي وَال تَ ْك ُف ُرو‬


)١٥٢( ‫ن‬ ْ ‫مو‬ ُ ‫َفا ْذ ُك ُرونّي أَ ْذ ُكر‬
ْ ‫ْك‬

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan
bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al-
Baqarah: 152).

َ ‫ش ُك ُر‬
)٦( ‫ون‬ ْ ‫م لَ َعل َّ ُك‬
ْ َ‫م ت‬ ْ ‫م َت ُه َعلَ ْي ُك‬ ْ ‫هر َُك‬
َّ ّ‫م َولّ ُيت‬
َ ‫م نّ ْع‬ ‫ن ُي ّري ُد لّ ُيطَ ّه‬
ْ ّ‫وَلَك‬

“Tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu,


supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Maidah: 6).

ْ ‫َّللا إّ ْن ُك ْن ُت‬
َ ‫م إّيَّا ُه تَ ْع ُب ُد‬
)١١٤( ‫ون‬ َ ‫َاش ُك ُروا نّ ْع‬
ّ َّ ‫م َة‬ ْ ‫و‬

“Dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” (QS. An-
Nahl: 114).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


‫ه‬ ْ ‫م ّم‬
ّ ‫ن نّ َع‬
ّ ‫م‬ ُ ‫َّللا لّمَا ي َْغ ُذ‬
ْ ‫وك‬ ّ َ‫أ‬
َ َّ ‫حبُّوا‬

“Cintailah Allah karena nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada kalian” (HR. At-
Tirmidzi).

Bentuk syukur yang terbesar adalah beriman kepada Rabbul ‘alamin, dan ia adalah
bentuk bersyukur atas nikmat risalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang
diutus sebagai rahmat terhadap seluruh manusia. Dan setelahnya adalah bersyukur
atas tiap-tiap kenikmatan masing-masing, bahkan terhadap kenikmatan yang terkecil,
meskipun tidak ada kenikmatan Allah yang kecil.
Dan bentuk kekufuran yang terbesar adalah kufur kepada Alquran dan sunnah, maka
tidak ada faedahnya bersyukur atas kenikmatan apapun jika dibarengi dengan
kekufuran terhadap Islam. Allah berfirman,

)٥( َ‫س ّرين‬ َ ‫خ َر ّة ّمنَ ْال‬


ّ ‫خا‬ ُ ‫حبّطَ َعمَلُ ُه و‬
ّ ‫َه َو فّي اْل‬ ّ ‫َن ي َْك ُف ْر بّاِليمَا‬
َ ‫ن َف َق ْد‬ ْ ‫َوم‬

“Barangsiapa yang kafir terhadap keimanan maka hapuslah amalannya dan ia di hari
kiamat termasuk orang-orang merugi.” (QS. Al-Maidah: 5).

Dan Allah telah manjanjikan bagi orang-orang yang bersyukur berkesinambungannya


kenikmatan, bertambahnya dan keberkahannya. Allah berfirman,

)٧( ‫ش ّدي ٌد‬ َّ ّ‫م إ‬


َ َ‫ن َع َذابّي ل‬ ْ ُ‫ن َك َف ْرت‬ ْ ‫ْلزيدَن َّ ُك‬
ْ ّ‫م وَلَئ‬ ّ ‫م‬ َ ‫ش‬
ْ ُ‫ك ْرت‬ ْ ّ‫لَئ‬
َ ‫ن‬

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu,
dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”
(QS. Ibrahim: 7).

Dan orang-orang yang bersyukur adalah orang-orang yang meraih kemenangan


dengan kebaikan dunia dan akhirat. Allah berfirman,

َّ ْ ‫َسن‬
َ ‫ه ّم ْنهَا و‬ ّ ‫َن ُي ّر ْد ثَوَابَ اْل‬
ّ ّ‫خ َر ّة نُ ْؤت‬ ْ ‫ه ّم ْنهَا َوم‬ ُّ َ‫َن ُير ْد ثَوَاب‬
ّ ّ‫الد ْنيَا نُ ْؤت‬
)١٤٥( َ‫الشاكّ ّرين‬ ‫َج ّزي‬ ّ ْ ‫َوم‬

“Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala
dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula)
kepadanya pahala akhirat itu. dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang
yang bersyukur.” (QS. Ali Imran: 145).

Orang-orang yang bersyukur merekalah yang selamat dari hukuman di dunia,


keburukan-keburukan di dunia dan selamat dari penderitaan di akhirat. Allah berfirman
tentang kaum Nabi Luth ‘alaihissalam:
َ ‫ش‬
)٣٥( ‫ك َر‬ ْ ‫ج ّزي م‬
َ ‫َن‬ َ ّ‫ع ْن ّدنَا َك َذل‬
ْ َ‫ك ن‬ ْ ‫م ًة ّم‬
ّ ‫ن‬ َ ‫)نّ ْع‬٣٤( ‫سح ٍَر‬ ْ ‫ه‬
َ ّ‫م ب‬ ٍ ‫ل لُو‬
َّ َ‫ط ن‬
ُ ‫ج ْينَا‬ َ ‫صبًا إّال آ‬
ّ ‫م حَا‬ َ ‫إّنَّا أَر‬
ْ ‫ْس ْلنَا َعلَ ْي ّه‬

“Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa


batu-batu (yang menimpa mereka), kecuali keluarga Luth. mereka Kami selamatkan
sebelum fajar menyingsing, sebagai nikmat dari kami. Demikianlah Kami memberi
Balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Al-Qamar: 34-35).

Dan bersyukur merupakan kedudukan para Nabi, para Rasul, dan hamba-hamba Allah
yang beriman. Allah berfirman tentang Nabi Nuh ‘alaihissalam:
)٣( ‫ش ُكورًا‬ َ ‫إّن َّ ُه َك‬
َ ‫ان َع ْب ًدا‬

“Sesungguhnya Dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.” (QS. Al-Isra': 3).

Allah berfirman,

‫هدَا ُه إّلَى‬
َ ‫اج َتبَا ُه َو‬
ْ ‫ه‬ ّ ‫)شاكّرًا ْل ْن ُع‬
ّ ‫م‬ ُ ‫ك ّمنَ ْال‬
ْ ‫م‬
َ ١٢٠( َ‫ش ّركّين‬ ْ َ‫حنّي ًفا وَل‬
ُ َ‫م ي‬ ّ َّ ّ ‫ان ُأ َّم ًة َقانّ ًتا‬
َ ‫لِل‬ َ ‫م َك‬ َ ‫هي‬ َّ ّ‫إ‬
ّ ‫ن إّ ْبرَا‬
)١٢١( ‫يم‬ ٍ ‫س َت ّق‬ ْ ‫ط ُم‬ٍ ‫صرَا‬ ّ

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh
kepada Allah dan hanif. dan sekali-kali bukanlah Dia termasuk orang-orang yang
mempersekutukan (Tuhan), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah
memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus.” (QS. An-Nahl: 120-121).

Allah berfirman,

َّ
)١٤٤( َ‫الشاكّ ّرين‬ ْ ‫ك و َُك‬
َ‫ن ّمن‬ ُ ‫كَل ّمي َف‬
َ ‫خ ْذ مَا آتَ ْي ُت‬ َ ّ‫ساالتّي َوب‬
َ ‫اس بّ ّر‬
ّ ‫ك َعلَى ال َّن‬
َ ‫صطَ َف ْي ُت‬
ْ ‫وسى إّنّهي ا‬
َ ‫يَا ُم‬

“Hai Musa, sesungguhnya aku memilih (melebihkan) kamu dan manusia yang lain (di
masamu) untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku, sebab
itu berpegang teguhlah kepada apa yang aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu
Termasuk orang-orang yang bersyukur.” (QS. Al-A’raf: 144).

Aisyah radhiallahu ‘anha berkata,


“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sholat malam hingga kedua kakinya pecah-pecah”.
Maka Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah engkau sholat malam hingga kedua kakimu
pecah-pecah padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu maupun
yang akan datang?”. Maka Nabi berkata, “Mengapa tidakkah lebih baik aku menjadi
hamba yang bersyukur?” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Maka orang-orang yang bersyukur adalah orang-orang yang Allah khususkan kepada
mereka kenikmatan yang tidak diberikan kepada selain mereka. Allah berfirman,

َ َ‫َّللا بّأَ ْعل‬


َّ ّ‫م ب‬
)٥٣( َ‫الشاكّ ّرين‬ ُ َّ َ‫ن بَ ْينّنَا أَلَ ْيس‬
ْ ‫م ّم‬ ُ َّ ‫َن‬
ْ ‫َّللا َعلَ ْي ّه‬ َ َ‫م بّب َْعضٍ لّي َُقولُوا أ‬
َّ ‫ه ُؤال ّء م‬ َ ‫ك َف َت َّنا ب َْع‬
ْ ‫ض ُه‬ َ ّ‫و ََك َذل‬
“Dan Demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang kaya) dengan
sebahagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang Kaya itu) berkata:
“Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah Allah kepada
mereka?” (Allah berfirman): “Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang
yang bersyukur (kepadaNya)?” (QS. Al-An’am: 53).

Dan orang-orang yang bersyukur adalah orang-orang yang khusus di sisi Allah, oleh
karenanya mereka sedikit. Allah berfirman,

)١٣( ‫الش ُكو ُر‬


َّ َ‫عبَا ّدي‬ ٌ ‫و ََقلّي‬
ْ ‫ل ّم‬
ّ ‫ن‬

“Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih.” (QS. Saba': 13).

Wahai orang yang bersyukur, tetaplah terus bersyukur dan istiqomah, barangsiapa
yang benar bersama Allah maka Allah akan memenuhi janji-Nya. Allah berfirman,

ُ
َ ‫ي َفا ْر‬
ّ ‫ه ُبو‬
)٤٠( ‫ن‬ َ ‫م وَإّيَّا‬ ّ ‫وَأَ ْو ُفوا بّ َع ْه ّدي أو‬
ْ ‫ف بّ َع ْه ّد ُك‬

“Dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya
kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk).” (QS. Al-Baqarah: 40).

Jangan sampai engkau ditutup oleh setan –wahai hamba yang bersyukur- sehingga
engkaupun kurang dalam bersyukur atau kau merubah bersyukur menjadi kufur
terhadap nikmat, kondisi juga akan berubah kepadamu dari kebaikan menjadi
keburukan dan kejelekan. Allah berfirman,

ُ ‫ش ّد‬
‫يد‬ َ َّ ‫ن‬
َ ‫َّللا‬ َّ ‫ن ب َْع ّد مَا جَا َء ْت ُه َف ّإ‬ ّ َّ ‫م َة‬
ْ ‫َّللا ّم‬ َ ‫ل نّ ْع‬
ْ ‫َن ُيبَ ّهد‬
ْ ‫ة َوم‬
ٍ ‫ة بَيّ ه َن‬ ْ ‫م ّم‬
ٍ َ‫ن آي‬ ْ ‫ه‬ ْ ‫ل َك‬
ُ ‫م آتَ ْينَا‬ ْ ّ‫ل بَنّي إ‬
َ ‫سرَائّي‬ ْ ‫س‬َ
)٢١١( ّ‫ْال ّعقاب‬
َ

“Tanyakanlah kepada Bani Israil: “Berapa banyaknya tanda-tanda (kebenaran) yang


nyata, yang telah Kami berikan kepada mereka”. dan Barangsiapa yang menukar
nikmat Allah setelah datang nikmat itu kepadanya, Maka Sesungguhnya Allah sangat
keras siksa-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 211).

Barangsiapa yang senantiasa bersyukur maka Allah akan menambahkan kenikmatan


baginya, dan barangsiapa yang berpindah dari kemaksiatan menuju keridoan Allah
maka akan berubah kondisinya dari hal yang dibencinya kepada hal yang disukainya.
Barangsiapa yang mentaati Allah dalam ketaatan dan menjauhi kemaksiatan maka
Allah akan mengatur urusannya dan memberi taufiq kepadanya dan membaguskan
kesudahannya dalam segala perkara. Dari Anas radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam dari Jibril dari Allah berfirman:
“Barangsiapa yang merendahkan wali-Ku maka ia telah mengumandangkan perang
dengan-Ku. Dan Aku tidaklah bimbang terhadap perkara yang hendak Aku lakukan
sebagaimana kebimbangan-Ku dalam mencabut nyawa seorang mukmin. Ia benci
kematian sementara aku tidak ingin melakukan sesuatu yang ia tidak sukai, padahal ia
harus meninggal.

Dan sesungguhnya diantara hamba-hamba-Ku yang beriman ada yang menghendaki


sebuah pintu dari ibadah, maka Aku pun menahannya agar ia tidak dimasuki oleh ujub
yang akhirnya merusak amalannya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan dirinya kepada-
Ku sebagaimana ia menunaikan apa yang Aku wajibkan kepadanya. Dan senantiasa
hamba-Ku mendekatkan dirinya dengan yang sunnah-sunnah hingga Aku
mencintainya. Barangsiapa yang Aku mencintainya maka aku baginya menjadi
pendengaran, penglihatan, tangan, dan penolong. Ia berdoa kepada-Ku maka Aku
kabulkan, ia meminta kepada-Ku maka aku berikan. Ia telah berbuat kebaikan demi Aku
maka Aku memberikannya kebaikan.

Dan diantara hamba-hamba-Ku ada yang tidak baik keimanannya kecuali disertai
kekayaan. Kalau Aku menjadikannya miskin, maka hal itu akan merusaknya. Dan
diantara hamba-hamba-Ku ada yang imannya tidak baik kecuali dengan kemiskinan.
Kalau Aku lapangkan hartanya, maka akan merusaknya. Dan di antara hamba-hamba-
Ku ada yang tidak baik keimanannya kecuali dengan sakit, kalau Aku menyehatkannya
maka akan merusaknya. Dan diantara hamba-hambaKu ada yang tidak baik
keimanannya kecuali dengan kesehatan, kalau Aku menjadikannya sakit maka akan
merusaknya. Aku mengatur hamba-hamba-Ku dengan ilmu-Ku tentang apa yang ada di
hati-hati mereka, sesungguhnya Aku maha mengetahui lagi maha mengenal” (HR Ath-
Thabrani, dan sebagian lafalnya memiliki syawahid dalam riwayat yang shahih).

Maka hendaknya engkau –wahai hamba Allah- bersama orang-orang yang bersyukur
yang Allah mencurahkan kebaikan kepada mereka.

Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah menyebutkan sebuah atsar ilahi:


Allah berfirman: Orang yang mengingat-Ku orang yang bermujalasah dengan-Ku, orang
yang bersyukur kepada-Ku adalah orang yang mendapatkan tambahan-Ku, orang yang
taat kepada-Ku adalah orang yang mendapatkan kemuliaan-Ku, dan para pelaku
maksiat tidaklah Aku menjadikan mereka putus asa dari rahmat-Ku jika mereka
bertaubat, maka Aku kekasih mereka, dan jika mereka tidak bertaubat maka Aku
menjadi Tabib mereka, Aku menguji mereka dengan musibah-musibah untuk
mensucikan mereka dari kesalahan-kesalahan.”

Dan sungguh Allah telah memerintahkanmu untuk termasuk mereka yang beruntung,
Allah berfirman,

َّ
)٦٦( َ‫الشا ّك ّرين‬ ْ ‫اع ُب ْد و َُك‬
َ‫ن ّمن‬ َ َّ ‫َل‬
ْ ‫َّللا َف‬ ّ ‫ب‬

“Karena itu, Maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu Termasuk
orang-orang yang bersyukur.” (QS. Az-Zumar: 66).

Allah telah menyebutkan kenikmatan-kenikmatan secara khusus dalam kitab-Nya


karena manfaatnya dan karena keberkahannya bagi umat hingga hari kiamat.

Dan diantara washiat Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bermanfaat adalah
sabda beliau:
“Wahai Mu’aadz sesungguhnya aku mencintaimu, maka hendaknya di setiap dubur
(akhir) setiap sholat engkau berkata:

َ ّ‫عبَا َدت‬
‫ك‬ ّ ‫ن‬ ْ ‫ح‬
ّ ‫س‬ َ ‫َش ْك ّر‬
ُ ‫ك َو‬ َ ‫ي َعلَى ّذ ْك ّر‬
ُ ‫كو‬ ّ َ‫م أ‬
ْ ‫ع ّنه‬ َّ ‫اَلل َّ ُه‬

“Ya Allah tolonglah aku untuk mengingatMu, bersyukur kepadaMu, dan baik dalam
beribadah kepada-Mu.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa-i).

Dan al-Hamdu dan asy-Syukru saling bercampur makna keduanya disamping masing-
masing memiliki makna detail yang khusus. Dan setiap waktu Allah memiliki nikmat-
nikmat yang khusus dan umum. Dan bersatunya umat merupakan karunia bagi umat
dan kekuatan bagi agama Allah dan penjagaan bagi teraturnya kemaslahatan dunia.

Dan membaiat Pelayan Dua Kota Suci, Raja Salman bin Abdil Aziz hafizahullah, yang
telah dilakukan baru saja dan baiat terhadap wakilnya Pangeran Muqrin bin Abdil
Aziz hafizahullah, dan baiat kepada wakil dari wakil Raja yaitu Pangeran Muhammad bin
Nayif hafizahullah akan merealisasikan manfaat-manfaat, maslahat-maslahat,
keuntungan-keuntungan agama dan duniawi bagi negeri dan penduduknya, serta
terpenuhinya banyak kebaikan dan hilangnya makar dan kejahatan syaitan terhadap
negeri ini. Sebagaimana telah berlaku baiat-baiat sebelumnya. Allah mengingatkan kita
untuk bersatu dan melarang kita dari perselisihan. Allah berfirman,
‫مي ًعا وَال تَ َف َّر ُقوا‬ ّ َّ ‫ْل‬
َ ‫َّللا‬
ّ ‫ج‬ ُ ‫ص‬
َ ّ‫موا ب‬
ّ ‫حب‬ ْ ‫و‬
ّ ‫َاع َت‬

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu
bercerai berai.” (QS. Ali Imran: 103).

Dan ini adalah baiat dari Ahlu Al-Hil wa Al-Aqd dari kalangan para pangeran/pemimpin
dan para ulama serta para pemuka merupakan kelaziman –secara syar’i- bagi yang
hadir maupun yang tidak hadir. Dan seluruh pemduduk wajib terkena baiat,
barangsiapa yang memandang bahwa baiat tersebut tidak wajib baginya maka ia
adalah seorang mubtadi’ dan ia tidak memberi kemudharatan kecuali hanya kepada
dirinya sendiri. Allah berfirman,

َ ‫م‬
)١٠٢( ‫ون‬ ُ ّ‫سل‬ ْ ‫ن إّال وَأَ ْن ُت‬
ْ ‫م ُم‬ َّ ‫مو ُت‬
ُ َ‫ه وَال ت‬ َ َّ ‫يَا أَيُّهَا ال َّ ّذينَ آ َم ُنوا اتَّ ُقوا‬
َّ ‫َّللا ح‬
ّ ّ‫َق تُ َقات‬

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa


kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama
Islam.” (QS. Ali Imran: 102).

Mensyukuri nikmat manfaat-manfaatnya bagi orang yang bersyukur baik di dunia


maupun akhirat. Lalai dari bersyukur mendatangkan kemudorotan bagi yang lalai itu
sendiri. Allah berfirman,

)١٢( ‫مي ٌد‬ َ ‫ي‬


ّ ‫ح‬ َ َّ ‫ن‬
ٌّ ‫َّللا َغ ّن‬ َّ ‫َن َك َف َر َف ّإ‬
ْ ‫ه َوم‬ ّ ‫َش ُك ُر لّن َْف‬
ّ ‫س‬ ْ ‫َش ُك ْر َفإّنَّمَا ي‬
ْ ‫َن ي‬
ْ ‫َوم‬

“Dan Barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur


untuk dirinya sendiri; dan Barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah
Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Luqman: 12).

‫ َونَ َف ْعنَا‬،‫م‬ ّ ‫حكّ ْي‬َ ‫ذ ْك ّر ال‬ ‫ه ّمنَ اْليَاتّ وَال ّه‬ ّ ‫م بّمَا فّ ْي‬ ْ ‫اك‬ ُ َّ‫ َونَ َف ْعنّي وَإي‬،‫م‬ ّ ‫ظ ْي‬
ّ ‫ْآن ال َع‬
ّ ‫القر‬ ُ ‫م فّي‬ ْ ‫ي وَلَ ُك‬ ْ ّ‫ك هللاُ ل‬ َ ‫بَا َر‬
ّ
ْ ‫م ْينَ ّم‬ ْ ُ ْ ُ َ ْ ْ َ َ ْ َ ُ ْ ُ َ ْ َ ْ َ ْ ُ
‫ن‬ ّ ّ ‫ل‬ ‫س‬ ‫م‬ ‫ال‬ ‫ر‬ّّ ‫ئ‬ ‫ا‬ َ
‫س‬ ّ ‫ل‬‫و‬َ ‫م‬ ‫ك‬ ‫َل‬
‫و‬ ‫ي‬ ‫ل‬
ّ َ‫هللا‬ ُ
‫ر‬ ‫ف‬
ّ ‫َغ‬ ‫ت‬‫س‬ ‫َأ‬
‫و‬ ‫ا‬‫ذ‬ َ
‫ه‬ ‫ي‬ ّ ‫ل‬‫و‬ ‫ق‬ ‫ل‬ ‫و‬ ‫ق‬ ‫أ‬ .‫م‬ّ ّ‫ي‬ ‫و‬‫ق‬ ‫ال‬ ‫ه‬
ّ ّ ‫ل‬‫و‬ ‫َق‬‫و‬ َ‫ن‬‫ي‬ ‫ل‬
ّ َ
‫ْس‬ ‫ر‬ ‫م‬ ‫ال‬ ‫د‬
ّ ّ‫ه‬ ‫ي‬‫س‬َ ّ ‫بّه َْد‬
‫ي‬
ُ ‫ح ْي‬
.‫م‬ ّ ‫ه َو ال َغ ُف ْو ُر ال َّر‬ َّ ْ
ُ ‫استَغ ّف ُر ْو ُه إّن ُه‬ ْ ‫ ف‬،‫ب‬َ ٍ ‫ل َذ ْن‬‫ُك ّ ه‬

Khutbah Kedua :
ُ ‫حم‬
‫َد‬ ْ َ‫ أ‬،ّ‫الش َهوَات‬َ ‫ع‬َ َ‫ه َفاتَّب‬ّ ّ‫مت‬ َ ‫ح ْك‬ ّ ّ‫شا َء بّ َع ْدل‬
ّ ‫ه َو‬ َ ‫َن‬ ْ ‫لم‬ َ ‫خ َذ‬
َ ‫ َو‬،ّ‫خ ْيرَات‬ َ ‫شا َء إّلَى ال‬ َ ‫َن‬ ْ ‫قم‬ َ ‫ي و ََّف‬ ْ ‫لِل ال َّ ّذ‬
ّ َّ ّ ‫َم ُد‬ْ ‫اَ ْلح‬
‫ْض‬ َ ُّ
ّ ‫ك لَ ُه رَب اْلر‬ َ ‫ش ّر ْي‬َ ‫َح َد ُه َال‬ ْ ‫ش َه ُد أَ ْن َال إّلَ َه إّ َّال هللاُ و‬ ْ َ‫ وَأ‬،‫ست َْغ ّف ُر ُه‬
ْ َ‫ه وَأ‬ ّ ‫ب إّلَ ْي‬ ُ ‫ وَأَتُ ْو‬،‫ش ُك ُر ُه‬ ْ َ‫َربّ هي وَأ‬
ْ ‫َار‬ ْ ‫َس ّل ه‬ ‫ص ّه‬ َّ
َّ ‫ اَلل ُه‬،ّ‫َك ُرمَات‬ ْ ‫كعبة الم‬
ُ ‫َس ْولُ ُه‬
ُ ‫م ًدا َع ْب ُد ُه َور‬ َّ ‫ح‬ َ ‫ن نَبّيَّنَا و‬
َ ‫َس ّي ه َدنَا ُم‬ َ
َّ ‫ش َه ُد أ‬ َ
ْ ‫ وَأ‬،ّ‫َالسمَاوَات‬ َّ ‫و‬
‫ك‬ ّ ‫م َوب‬ َ ‫لو‬ َ ‫م‬
َّ
.ّ‫ي الط َعات‬ ْ ‫ه َذ ّو‬ ْ ‫ه َوص‬
ّ ‫َح ّب‬ ّ ّ‫َعلَى آل‬ َ ‫ و‬،‫م ٍد‬ َّ ‫ح‬َ ‫ك ُم‬ َ ّ‫َس ْول‬ ُ ‫ك َور‬ َ ‫َعلَى َع ْب ّد‬

:‫أَ َّما ب َْع ُد‬


َّ ‫ وَا ْذ ُك ُر ْو ُه ح‬،‫ش ْك ّر ّه‬
.‫َق ّذ ْك ّر ّه‬ َ ‫َفات َّ ُق ْوا‬
ُ ّ‫هللا قّيَا ًما ب‬

Ibadallah,

Allah Ta’ala berfirman,


‫خرَى‬ْ ‫َازر ٌَة ّو ْز َر ُأ‬ ْ ‫ض ُه لَ ُك‬
ّ ‫م وَال تَ ّز ُر و‬ َ ‫ش ُك ُروا يَ ْر‬
ْ َ‫ضى لّ ّعبَا ّد ّه ْال ُك ْف َر وَإّ ْن ت‬ َ ‫م وَال يَ ْر‬ْ ‫ي َع ْن ُك‬ َ َّ ‫ن‬
ٌّ ّ‫َّللا َغن‬ َّ ّ‫إّ ْن تَ ْك ُف ُروا َفإ‬
ُّ ٌ ‫ون إّن ُه َعلّي‬َّ ُ ُ ُ ُ َ ُ
ْ ‫ج ُعك‬ ْ ‫م إّلَى َربّ ه ُك‬َّ ُ‫ث‬
)٧( ‫ور‬ ّ ‫م بّ َذاتّ الص ُد‬ َ ‫م تَ ْعمَل‬ ْ ‫م بّمَا ك ْن ُت‬ْ ‫م ف ُي َن ّب هئك‬ ّ ‫م َم ْر‬

“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak
meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai
bagimu kesyukuranmu itu; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang
lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu, lalu Dia memberitakan kepadamu apa
yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya Dia Maha mengetahui apa yang tersimpan
dalam (dada)mu.” (QS. A-Zumar: 7).

Ketahuilah bahwasanya seorang hamba bagaimanapun ia berusaha untuk taat kepada


Rabnya dan mendekatkan dirinya kepada Allah dengan berbagai ibadah, maka ia tidak
akan bisa menegakkan rasa syukur kepada Rabnya dengan sempurna. Akan tetapi
cukup baginya untuk mengerjakan yang wajib-wajib dan tidak malakukan perkara-
perkara yang dilarang. Hendaknya ia mengetahui kalau bukan karena rahmat Allah,
maka ia termasuk orang-orang yang merugi. Hendaknya ia selalu beristighfar dari
kekurangan, dan memperbanyak doa kepada Rabnya agar ditolong dan diberi taufik.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa


sallam berdoa:
ْ َّ‫ب تَ َقب‬
‫ل‬ ّ ‫ َر ه‬،‫ها ُمنّيبًا‬ ً ‫ك أَ َّوا‬
َ ‫ إّلَ ْي‬،‫خ ّب ًتا‬
ْ ‫ك ُم‬ ْ ‫ك ّم‬
َ َ‫ ل‬،‫طوَا ًعا‬ َ َ‫ ل‬،‫َهابًا‬ َ َ‫ ل‬،‫ك َذ َّكارًا‬
َّ ‫ك ر‬ َّ ‫ش‬
َ َ‫ ل‬،‫كارًا‬ َ ‫ك‬ َ َ‫اج َع ْلنّي ل‬
ْ ‫ب‬ ّ ‫َر ه‬
َ‫مة‬
َ ‫خي‬ َ ‫ل‬
ّ ‫س‬ ُ
ْ ‫َاسل‬ ْ َ ْ
ْ ‫ و‬،‫ وَاه ّد قلبّي‬،‫سانّي‬ َ ّ‫د ْد ل‬‫َس ّه‬
َ ‫ و‬،‫حج ّتي‬ َّ ْ َ ْ
ُ ‫ وَث ّب هت‬،‫ب دَع َوتّي‬ ْ ‫ج‬ َ
ّ ‫ وَأ‬،‫ح ْوبَتّي‬ ْ ‫س‬
َ ‫ل‬ ْ
ّ ‫ وَاغ‬،‫تَ ْوبَتّي‬
‫ص َْد ّري‬

“Wahai Rabku jadikanlah aku hamba yang selalu bersyukur kepada-Mu, selalu berdzikir
kepadamu, selalu takut kepada-Mu, selalu taat kepada-Mu, selalu menghiba kepada-
Mu, selalu kembali kepada-Mu. Wahai Rabku, terimalah taubatku, cucilah dosa-dosaku,
kabulkanlah doaku, kokohkanlah hujjahku, luruskanlah lisanku, tunjukilah hatiku, dan
bersihkanlah dadaku dari penyakit-penyakit.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

َ َّ ‫ن‬
‫َّللا‬ َّ ّ‫ إ‬ :َ‫ه َف َقال‬ َ ّ‫م هللاُ بّ َذل‬
ّ ّ‫ك فّي كّتَاب‬ ُ ‫هللا َكمَا أَ َمر َُك‬ّ ‫ن َع ْب ّد‬ّ ‫م ّد ا ْب‬ َ ‫م هللاُ َعلَى ُم‬
َّ ‫ح‬ ُ ‫اك‬ ُ ‫َع‬
َ ‫م ْوا ر‬ َ ‫َوصَل ُّ ْوا و‬
ُ ‫َس ّل ه‬
ُّ ُّ
‫ل‬َ ‫ و ََقا‬، ]56:‫ [اْلحزاب‬ً‫سلّيما‬ ْ َ‫موا ت‬ ُ ‫َس ّل ه‬َ ‫هو‬ ّ ‫ي يَا أَيُّهَا ال َّ ّذينَ آ َم ُنوا صَلوا َعلَ ْي‬ّ ‫ون َعلَى ال َّن ّب ه‬ َ ‫ك َت ُه ُيصَل‬ َ ّ‫َوم َََلئ‬
.))‫شرًا‬ ْ ‫ه َع‬ َّ
ُ َّ ‫ح َد ًة صَلى‬
ّ ‫َّللا َعلَ ْي‬ ّ ‫ي وَا‬ َّ َ‫َن صَلى َعل‬َّ ْ ‫ ((م‬: ‫م‬ َّ
َ ‫َسل‬ َ ‫هو‬ ّ ‫صَلَّى هللاُ َعلَ ْي‬
‫ج ْي ٌد‬
‫م ْي ٌد َم ّ‬‫ح ّ‬ ‫ك َ‬ ‫م إّن َّ َ‬
‫ه ْي َ‬ ‫م َو َعلَى ّ‬
‫آل إّ ْبرَا ّ‬ ‫ه ْي َ‬ ‫ت َعلَى إّ ْبرَا ّ‬ ‫م ٍد َكمَا صَلَ ْي َ‬ ‫ح َّ‬
‫ل ُم َ‬ ‫م ٍد َو َعلَى آ ّ‬ ‫ح َّ‬ ‫ل َعلَى ُم َ‬ ‫ص ّه‬ ‫م َ‬ ‫لل َّ ُه َّ‬
‫م ْي ٌد َمجّ ْي ٌد‪.‬‬‫ح ّ‬ ‫ك َ‬ ‫م إّن َّ َ‬
‫ه ْي َ‬
‫آل إّ ْبرَا ّ‬ ‫م َو َعلَى ّ‬ ‫ه ْي َ‬ ‫علَى إّ ْبرَا ّ‬ ‫ت َ‬ ‫م ٍد َكمَا بَار َْك َ‬ ‫ح َّ‬‫ل ُم َ‬ ‫م ٍد َو َعلَى آ ّ‬ ‫ح َّ‬‫ك َعلَى ُم َ‬ ‫َار ْ‬
‫‪َ ،‬وب ّ‬
‫َان ّذيْ‬ ‫م َر ال َفا ُر ْوقّ ‪ ،‬و َُع ْثم َ‬ ‫ُ‬ ‫ْ‬ ‫ه‬ ‫ه‬ ‫ْ‬ ‫َ‬ ‫ْ‬ ‫ْ‬ ‫َّ‬ ‫َ‬ ‫ْ‬ ‫َّ‬ ‫َ‬ ‫ُ‬ ‫َّ‬ ‫ُ‬ ‫َّ‬
‫ص ّديقّ ‪ ،‬وَع َ‬ ‫ي بَك ّر ال ّ‬ ‫ة المَه ّديّينَ أبّ ْ‬ ‫ش ّدينَ اْلئّم ّ‬ ‫ن الخل َفا ّء الرا ّ‬ ‫وَارْضَ اللهم َع ّ‬
‫َن تَ ّب َع ُه ْ‬ ‫ة أَ‬ ‫َّ‬ ‫َّ‬ ‫ُ‬ ‫َس َن ْين َعلّي‪ ،‬وَارْضَ الل َّ‬ ‫ن‪ ،‬وَأَبّي ال‬
‫م‬ ‫ن التَا ّب ّع ْينَ َوم ْ‬ ‫ّ‬ ‫َ‬
‫َع‬‫و‬ ‫‪،‬‬ ‫نَ‬ ‫ْ‬
‫ي‬ ‫ع‬
‫ّ‬ ‫َ‬
‫م‬ ‫ْ‬
‫ج‬ ‫ّ‬ ‫َ‬ ‫ب‬ ‫َا‬
‫ح‬ ‫ص‬ ‫ال‬ ‫ن‬‫ّ‬ ‫َ‬
‫ع‬ ‫م‬ ‫ه‬ ‫ّ‬ ‫َ‬ ‫ح‬ ‫ال ُن ْو َر ْي ّ‬
‫ْ‬ ‫َ‬
‫م اْلك َر ّم ْينَ ‪.‬‬ ‫ْ‬ ‫َ‬ ‫ك وَإّ ْ‬ ‫َ‬ ‫َّ‬
‫ن‪َ ،‬و َعنا َم َع ُه ْ‬ ‫َ‬
‫ك يَا أك َر َ‬ ‫سانّ َ‬ ‫ح َ‬ ‫ك وَك َر ّم َ‬ ‫منّه َ‬ ‫م بّ َ‬ ‫د ْي ّ‬ ‫م ال ّه‬ ‫ن إّلى يَ ْو ّ‬ ‫سا ٍ‬ ‫ح َ‬ ‫بّ ّإ ْ‬

‫ن‬‫د ْي ّ‬‫ح ْو َز َة ال ّه‬‫م َ‬ ‫م ْ‬


‫اح ّ‬ ‫ش ّركّ ْينَ ‪َ ،‬و َد ّ هم ْر أَ ْعدَا َء ال ّه‬
‫د ْينَ ‪ .‬اَلل َّ ُه َّ‬ ‫م ْ‬ ‫كو ْ‬
‫َال ُ‬ ‫هّ‬
‫الش ْر َ‬ ‫م ْينَ ‪ ،‬وَأَ ّذ َّ‬
‫ل‬ ‫سلّ ّ‬ ‫م ْ‬ ‫مو ْ‬
‫َال ُ‬ ‫س ََل َ‬ ‫ِل ْ‬‫ع َّز ا ّ‬ ‫م أَ ّ‬
‫اَلل َّ ُه َّ‬
‫ُ‬ ‫َ‬ ‫َ‬ ‫َ‬
‫م آ ّم َّنا فّي أ ْوطَانّنَا وَأ ْ‬ ‫م ْينَ ‪ .‬اَلل َّ ُه َّ‬
‫ك‬‫ك وَاتَّ َقا َ‬ ‫خ َ‬
‫اف َ‬ ‫َن َ‬‫ل ّو َاليَ َتنَا فّ ْيم ْ‬ ‫م َتنَا َو ُو َال َة أ ُم ْو ّرنَا‪ ،‬و ْ‬
‫َاج َع ْ‬ ‫ح أئّ َّ‬ ‫صلّ ْ‬ ‫َب ال َعالَ ّ‬ ‫يَا ر َّ‬
‫اعتّ َ‬
‫ك‬ ‫ع ْن ُه َعلَى طَ َ‬ ‫َ‬
‫ك وَأ ّ‬ ‫ضا َ‬‫ل َعمَلَ ُه فّي ّر َ‬ ‫َاج َع ْ‬
‫كو ْ‬ ‫َ‬
‫ي أ ْم ّرنَا لّ ُهدَا َ‬ ‫ق َولّ َّ‬‫م وَفهّ ْ‬ ‫َّ‬
‫م ْينَ ‪ .‬اَلل ُه َّ‬ ‫َب ال َعالَ ّ‬ ‫ك يَا ر َّ‬ ‫ضا َ‬ ‫ع ّر َ‬ ‫وَاتَّبَ َ‬
‫م ْينَ ‪.‬‬ ‫َ‬ ‫َّ‬
‫ح َة يَا رَب ال َعال ّ‬ ‫َّ‬
‫ح َة النا ّ‬
‫ص َ‬ ‫وَا ْر ُز ْق ُه ال ّبطانَ َة الصالّ َ‬
‫َّ‬ ‫َ‬

‫َم َم ْوتَانَا َو َم ْوتَى‬ ‫م وَا ْرح ْ‬ ‫ب َعلَى ال َّتائّ ّب ْينَ ‪ ،‬اَلل َّ ُه َّ‬ ‫م َو ُت ْ‬ ‫م ْينَ ‪ ،‬اَلل َّ ُه َّ‬ ‫سلّ ّ‬ ‫م ْ‬ ‫اغ ّف ْر ُذنُ ْوبَ ال ُ‬
‫م ْذنّ ّب ْينَ ّمنَ ال ُ‬ ‫م ْ‬ ‫لل َّ ُه َّ‬
‫م ْينَ‬ ‫م ْ‬
‫سلّ ّ‬ ‫م ْو ّم ْينَ ّمنَ ال ُ‬ ‫م الم َْه ُ‬ ‫ه ُ‬ ‫ج ُ‬ ‫م َف ّر ْ ه‬ ‫م ْينَ ‪ ،‬اَلل َّ ُه َّ‬ ‫سلّ ّ‬ ‫م ْ‬ ‫ضى ال ُ‬ ‫ضانَا َو َم ْر َ‬ ‫ف َم ْر َ‬
‫َاش ّ‬‫مو ْ‬ ‫م ْينَ ‪ ،‬اَلل َّ ُه َّ‬ ‫م ْ‬
‫سلّ ّ‬ ‫ال ُ‬
‫َ‬ ‫ُّ‬
‫ي يَا َقي ْو ُم أ ْن َ‬ ‫ْ‬ ‫ْ‬ ‫ْ‬ ‫ْ‬
‫َس ُبنَا‬‫تح ْ‬ ‫ح ُّ‬ ‫م يَا َ‬ ‫ِلكرَا ّ‬ ‫ل وَا ّ‬ ‫م ّد ْينّ ْينَ يَا َذا الج َََل ّ‬ ‫ن ال َ‬ ‫ض ال َّد ْينَ َع ّ‬ ‫و ََف ّره ْج َكرْبَ المَك ُر ْوبّ ْينَ ‪ ،‬وَاق ّ‬
‫َّ‬
‫س ّرينَ }‪َ {.‬ربنَا آتّنَا فّي‬ ‫خا ّ‬ ‫ْ‬ ‫َّ‬
‫َمنَا لنَكونَن ّمنَ ال َ‬ ‫ُ‬ ‫َ‬ ‫َ‬
‫م تَغ ّف ْر لنَا َوتَ ْرح ْ‬ ‫ْ‬ ‫َّ‬
‫سنَا وَإّن ل ْ‬ ‫ل‪َ { .‬ربَّنَا ظَلَ ْمنَا أَن ُف َ‬ ‫م ال َوكّ ْي ّ‬ ‫َونّ ْع َ‬
‫ار }‪.‬‬ ‫َّ‬ ‫ابَ‬ ‫َ‬ ‫َ‬ ‫َ‬ ‫ً‬ ‫َ‬ ‫َ‬ ‫َ‬ ‫ً‬
‫الد ْنيَا حَسنة وفّي اْل ّ‬
‫َ‬ ‫َ‬ ‫ُّ‬
‫خ َر ّة حَسنة وقّنَا عذ الن ّ‬

‫ص َن ُع َ‬
‫ون‪. ‬‬ ‫م مَا تَ ْ‬ ‫َّللا أَ ْكبَ ُر و َّ ُ‬
‫ََّللا ي َْعلَ ُ‬ ‫ه ي َّز ْد ُك ْ‬
‫م ‪  ،‬وَلَ ّذ ْك ُر َّ ّ‬ ‫َاش ُك ُر ْو ُه َعلَى نّ َع ّ‬
‫م ّ‬ ‫م‪ ،‬و ْ‬
‫ْك ْ‬ ‫هللا‪ :‬اُ ْذ ُك ُر ْوا َ‬
‫هللا ي َْذ ُكر ُ‬ ‫عبَا َد ّ‬
‫ّ‬

‫‪Diterjemahkan dari khotbah Jumat Asy-Syaikh Ali bin Abdirrahman Al-Hudzaifi (Imam‬‬
‫)‪dan Khotib Masjid Nabawi‬‬
‫‪Oleh Abu Abdil Muhsin Firanda‬‬