You are on page 1of 11

27

1 BAB 4

METODE PENELITIAN

1.1 Rancangan Penelitian

Rancangan penelitian yang digunakan adalah true experimental dengan

desain kelompok kontrol hanya post test untuk mengetahui efek pemberian

salep povidone iodine 10% dan salep ekstrak kunyit (Curcuma domestica,

Val) terhadap jumlah fibroblast pada luka sayat tikus putih.

1.2 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan di laboratorium Fakultas Kedokteran Universitas

Muhammadiyah Malang yang dimulai pada bulan September 2018 sampai

selesai.

1.3 Populasi dan Sampel

1.3.1 Populasi

Populasi penelitian adalah seluruh tikus jantan putih (Rattus

norvegicus strain wistar).

1.3.2 Sampel

Sampel diambil secara purposive sampling dari populasi tikus putih

(Rattus novergicus) strain wistar dewasa sebagai hewan coba yang sesuai

dengan kriteria inklusi.

1.3.3 Besar Sampel

Penelitian menggunakan 3 kelompok perlakuan yaitu kelompok

kontrol tanpa perlakuan, kelompok perlakuan menggunakan salep


28

povidone iodine 10%, kelompok perlakuan menggunakan salep ekstrak

kunyit. Rumus yang digunakan dalam menentukan jumlah minimal dan

maksimal sampel (Arifin & Zahiruddin) yaitu:

Jumlah minimal sampel : n = 10/k + 1

Jumlah maksimal sampel : n = 20/k + 1

Keterangan:

k = kelompok perlakuan

n = jumlah anggota per kelompok

Maka:

Jumlah minimal sampel : n = 10/k + 1

= 10/3 + 1

= 4 ekor/ kelompok

Jumlah maksimal sampel : n = 20/k + 1

= 20/3 + 1

= 8 ekor/ kelompok

Total sampel minimal = minimal n x 3

=4x3

= 12

Total sampel maksimal = maksimal n x 3

=8x3

= 24
29

Jadi untuk total sampel yang digunakan dalam penelitian adalah 12-24

ekor tikus dengan tiap kelompoknya terdiri dari 4-8 ekor tikus. Karena

peneliti memilih menggunakan total sampel maximal, maka setiap

kelompok diisi 8 ekor tikus sehingga total sampel penelitian ini adalah 24

ekor tikus.

1. Kelompok 1: kelompok kontrol dilakukan tindakan perlukaan

dengan scalpel steril di punggung tikus sepanjang 2cm kemudian

luka ditutup dengan menggunakan transparent dressing.

2. Kelompok 2: dilakukan tindakan perlukaan dengan scalpel steril

di punggung tikus sepanjang 2cm + terapi salep povidone iodine

2x / hari selama 14 hari.

3. Kelompok 3: dilakukan tindakan perlukaan dengan scalpel steril

di punggung tikus sepanjang 2cm + terapi salep ekstrak kunyit 2x

/ hari selama 14 hari.

1.3.4 Teknik Pengambilan Sampel

Sampel diambil secara purposive sampling dari populasi tikus putih

jantan strain wistar (Rattus norvegicus) sebagai hewan coba yang telah

dibagi dalam 3 kelompok. Sampel selanjutnya diadaptasi terlebih dahulu

dengan lingkungan dan pakan selama 7 hari.

1.4 Karakteristik Sampel Penelitian

1.4.1 Kriteria Inklusi

1. Tikus Rattus norvegicus jenis kelamin jantan.

2. Umur 3-4 bulan.


30

3. Berat badan 200-250 gram.

4.1.2 Kriteria Eksklusi

1. Tikus yang cacat atau mati selama masa adaptasi.

4.1.3 Kriteria Drop Out

1. Tikus yang sakit.

2. Tikus yang mati selama penelitian.

1.5 Variabel Penelitian

1.5.1 Variabel Bebas:

Salep povidone iodine 10% dan salep ekstrak kunyit (Curcuma

domestica, Val).

1.5.2 Variabel Tergantung:

Jumlah sel fibroblast luka sayat pada tikus jantan putih (Rattus

norvegicus strain wistar).

1.6 Definisi Operasional

1. Salep povidone iodine 10% : obat antiseptik yang banyak digunakan

karena dapat membunuh semua jenis mikroba melalui iodinasi asam

amino. Kandungan iodine dapat menyebabkan sitotoksik sehingga

dapat merusak sel bakteri. Pemberian terapi dilakukan secara topikal 2

kali sehari selama 14 hari (Rahmawati, 2014).

2. Salep ekstrak kunyit : kunyit yang diambil rimpang kunyit yang terdapat

kandungan kurkumin yang bisa berfungsi sebagai antibakteri dan

antiinflamasi. Ekstrak kunyit dibuat dalam bentuk sediaan salep.


31

Pemberian terapi dilakukan secara topikal 2 kali sehari selama 14 hari

(Rinawati, Rismia & Eko, 2015).

3. Jumlah fibroblast : fibroblast adalah sel yang berbentuk gelondong,

memiliki satu inti atau lebih, bersifat basofilik, dan tercat ungu pada

pewarnaan hematoxyline eosin pada saat dilakukan pengamatan

preparat histologi jaringan kulit menggunakan mikroskop olympus

dengan perbesaran 400 kali tiap lapang pandang (Alifia DK et al.,

2015).

1.7 Alat dan Bahan

1.7.1 Alat Pemeliharaan Tikus

a. Kandang tikus.

b. Timbangan analitik Ohaus dengan ketelitian 0,0001 gr.

c. Tempat makan dan minum.

1.7.2 Alat Perlakuan Tikus

a. Scalpel steril.

b. Pisau cukur.

c. Penggaris.

d. Alkohol 70%.

e. Akuades.

f. Lidokain.

g. Transparent dressing.
32

1.7.3 Alat lain

a. Kapas.

b. Sarung tangan.

c. Kasa dan kasa steril.

d. Spuit 3 cc.

e. Kamera digital.

f. Mikroskop cahaya.

g. Object glass.

h. Cover glass.

1.7.4 Bahan yang Digunakan sebagai berikut:

a. Salep Ekstrak kunyit diberikan secara topikal pada bagian luka 2

kali/hari, yaitu pagi dan sore. Pemberian salep dilakukan selama

14 hari.

b. Salep povidone iodine 10% diberikan secara topikal pada bagian

luka 2 kali/hari, yaitu pagi dan sore. Pemberian dilakukan selama

14 hari.

c. Hewan coba.

d. Pemeriksaan histopatologi dilakukan dengan menggunakan

pengecatan HE.

e. Setelah pembuatan spesimen selesai, jaringan tersebut akan

difiksasi terlebih dahulu dengan Buffered Netral Formaldehide

(BNF) 10 %.

f. Tikus di euthanasia dengan menggunakan inhalasi eter 5%


33

1.7.5 Prosedur Penelitian

1. Proses Adaptasi

Tikus diadaptasikan terlebih dahulu dalam suasana

laboratorium selama 1 minggu kemudian dibagi menjadi 3

kelompok perlakuan. Setiap kelompok terdiri dari 8 tikus.

2. Anestesi

Pemberian disinfeksi menggunakan kapas yang telah dibasahi

oleh alkohol 70% diusap pada punggung tikus strain wistar.

Kemudian dilakukan anestesi lokal dengan lidokain.

3. Pembuatan Salep Ekstrak Kunyit

Rimpang kunyit diiris tipis setelah itu dikeringkan dengan suhu

40o C selama 1 jam hingga menjadi simplisia kering. Metode

masesari dengan pelarut etanol 96% digunakan dalam

mengekstrak rimpang kunyit. Pelarut etanol 96% ditambahkan

pada simplisia kering dengan perbandingan 10:1 dan direndam

selama 24 jam. Setelah itu filtrat ditampung dan dilakukan

evaporasi,sehingga menghasilkan ekstrak etanol semi padat.

Proses pembuatan salep diawali dengan menimbang semua

bahan yang diperlukan sesuai perhitungan. Dimasukkan cera alba

dan vaselin album ke dalam cawan porselen yang telah dilapisi kain

kasa, lalu dileburkan diatas penangas air. Setelah meleleh, hasil

leburan diserkai dan dimasukkan dalam lumpang. Digerus hingga

homogen dan dingin. Ditambahkan ekstrak etanol rimpang kunyit


34

sedikit demi sedikit sambil digerus hingga homogen dan menjadi

massa setengah padat. Keluarkan massa (salep) dari lumpang, lalu

ditimbang dan dimasukkan kedalam wadah (Sari A & Amy M,

2016).

4. Eksisi Jaringan Kulit Tikus

Setelah 14 hari tikus diterminasi dengan menggunakan eter

inhalasi. Setelah itu dilakukan eksisi kira-kira 2cm dengan

kedalaman ±3mm hingga subkutan yang diambil dari lokasi luka,

kemudian difiksasi menggunakan larutan formalin 10% dan

disimpan dalam tabung organ.

5. Pembuatan Preparat Histologi Jaringan Kulit Tikus

Jaringan kulit tersebut kemudian dibuat preparat histopatologi

dengan metode blok paraffin dengan pewarnaan HE.

6. Identifikasi Fibroblast

Proses identifikasi fibroblast dilakukan setelah perawatan luka

selesai. Fibroblast adalah sel yang berbentuk gelondong, memiliki

satu inti atau lebih, bersifat basofilik, dan tercat ungu pada

pewarnaan hematoxylin eosin pada saat dilakukan pengamatan

preparat histologi jaringan kulit menggunakan mikroskop olympus

dengan perbesaran 400 kali, serta perhitungan dilakukan dengan 4

lapang pandang yang berbeda kemudian dihitung berapa jumlah

fibroblast tiap lapang pandang, dari lapang pandang 1 sampai

lapang pandang 4 dijumlahkan dan diambil rata-ratanya.


35

1.7.6 Alur Penelitian


Sampel 24 hewan coba memenuhi kriteria
inklusi. Adaptasi selama 7 hari

Pencukuran rambut tikus

Anastesi lokal punggung tikus dengan lidokain dan melakukan


perlukaan sepanjang 2cm dengan kedalaman ±3mm sampai
subkutan menggunakan scalpel

Kelompok Kelompok Perlakuan Kelompok Perlakuan


Kontrol menggunakan salep menggunakan
perlakuan povidone iodine 10% ekstrak salep kunyit
menggunakan dioles pada sekitar dioles pada sekitar
transparent luka 2 kali sehari luka 2 kali sehari
dressing selama 14 hari selama 14 hari
untuk

Tikus diterminasi dengan menggunakan eter inhalasi

Eksisi jaringan kulit tikus

Pembuatan preparat histopatologi jaringan


kulit tikus
Pengamatan preparat
histopatologi

Data jumlah fibroblast Uji statistik

Gambar 4.1
Alur Penelitian
36

1.8 Analisis Data

Dalam menguji perbedaan efektivitas penggunaan povidone iodine 10%

dan ekstrak salep kunyit terhadap luka tikus pada masing–masing kelompok

dilakukan uji dengan menggunakan program SPSS 24 (Statistical Product

and Service Solution versi 24).

a. Uji Normalitas Shapiro wilk dilakukan untuk mengetahui kenormalan

data (data bersifat normal jika sig > 0,05) sebelum uji ANOVA. Apabila

data setiap kelompok tidak berdistribusi normal maka memakai uji

Kruskal Wallis.

b. Uji Homogenitas levene dilakukan untuk mengetahui kehomogenan

varian dari data-data yang diperoleh (data bersifat homogen jika sig >

0,05).

c. Uji ANOVA digunakan untuk membuktikan adanya perbedaan yang

bermakna antara kelompok kontrol dengan kelompok perlakuan yang

diberikan povidone iodine 10% dan ekstrak salep kunyit. Hasil uji

ANOVA dikatakan ada perbedaan yang bermakna jika signifikansi (sig)

< 0.05

d. Uji Post HocBonferroni merupakan uji kelanjutan dari uji ANOVA,

digunakan untuk mengetahui perbedaan yang bermakna antar kelompok

perlakuan dalam penelitian. Sebelumnya dilakukan uji Levene’s test

untuk mengetahui varian data sama atau berbeda. Jika varian data

berbeda maka digunakan uji Post HocTamhane’s.


37