BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Sanitasi merupakan suatu usaha pengendalian yang terencana terhadap lingkungan produksi, bahan baku, peralatan dan pekerja untuk mencegah pencemaran dan kerusakan pada hasil olah, terjaminnya nilai estetika konsumen, serta mengusahakan lingkungan kerja yang bersih, sehat, aman dan nyaman (Kartika, 1990). PT. SAT sudah mendapatkan sertifikat HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point ) dari pihak Pemerintah Indonesia, misalnya pada produk IQF tahapan yang termasuk CCP (Critical Control Point) adalah penerimaan bahan baku, pemotongan kepala, pencucian, cooking, pembekuan, deteksi logam, dan penyimpanan. Oleh karena itu, perusahaan menetapkan Standar Prosedur Sanitasi yang berguna untuk keamanan produk yang sedang diproses atau yang nantinya akan dijual ke konsumen. Sanitasi yang dilakukan pada PT. SAT meliputi sanitasi bahan baku, sanitasi bahan pembantu, sanitasi peralatan, sanitasi pekerja dan sanitasi lingkungan dalam dan luar pabrik. 4.1 Sanitasi bahan baku Sanitasi bahan baku sangat menentukan kualitas produk akhir karena akan menentukan kondisi dari bahan baku yang nantinya akan diproses. Sanitasi bahan baku ini bertujuan untuk menjamin didapatkannya bahan baku yang baik sebelum sampai dengan setelah diolah sehingga diperoleh produk akhir yang baik dan terjamin keamanannya. Bahan baku yang digunakan oleh PT. SAT adalah udang, dimana udang mentah tersebut dapat dengan mudah terkontaminasi oleh mikroorganisme yang dapat berasal dari lingkungkan hidupnya (air laut atau tambak) maupun selama transportasi dari tambak / laut sampai ke pabrik PT. SAT melakukan penanganan selama proses pengolahan berlangsung untuk mengurangi jumlah mikroorganisme yang terdapat pada udang. Penanganan yang dilakukan oleh PT. SAT dalam menerapkan sanitasi terhadap produk adalah sebagai berikut.

2. perlengkapan kerja. mencuci tangan pekerja dan mencuci udang. Rantai dingin harus terjaga (udang harus dicampur dengan es pada saat menunggu perlakuan berikutnya). sedangkan air asin digunakan untuk membersihkan lantai ruang proses. Air yang digunakan harus memenuhi persyaratan air untuk industri pengolahan pangan.1 Air Air merupakan salah satu bahan penting di dalam proses-proses pengolahan pembekuan udang. ruangan. karbon aktif dan membran Reverse Osmosis (RO) sehingga dihasilkan air yang memenuhi standar air minum. Pada umumnya air yang memenuhi persyaratan standar air minum cukup baik memenuhi persyaratan untuk industri. . pembuatan es curah dan sebagai media atau sarana pembersih. Semua udang yang jatuh harus dicuci dengan aquaplus 50 ppm.2 Sanitasi bahan pembantu 4. penggunaan air yang tidak memenuhi standar dapat menurunkan mutu produk yang dihasilkan. Air ditampung dalam dua buah tandon yang masing-masing berkapasitas 81 m3 dan 137 m3. Air dari sumur berasa asin (payau) sehingga diproses terlebih dahulu melalui water treatment yaitu menggunakan sand filter. seperti membersihkan peralatan. Udang yang baru datang dari supplier harus dicuci dengan aquaplus 50 ppm. SAT berasal dari air PDAM dan air tanah yang diproses kedalam sistem membran RO. Air tawar yang digunakan di PT. 4. Selama proses. Air yang digunakan dipabrik pembekuan udang PT.Meletakkan udang pada tempat yang bersih dan mempertahankan suhu udang maksimal 5oC. SAT berasal dari air sumur bor dan air PDAM. Air tawar digunakan untuk proses pencucian dan pengolahan produk. air dibutuhkan untuk membentuk produk udang beku balok. dimana air sangat diperlukan selama proses pengolahan.

al. Dosis penggunaan klorin dan senyawa disinfektan lain adalah 80 ppm.000 liter dicampur dengan klorin dan senyawa desinfektan lain untuk mengurangi jumlah mikroorganisme dan menjernihkan air yang ada. Pengujian yang dilakukan. 2001). RO dilakukan dengan cara memberikan tekanan pada bagian larutan dengan konsentrasi tinggi menjadi melebihi tekanan pada bagian larutan dengan konsentrasi rendah. Penyaringan kotoran pertamaa adalah dengan pasir hijau untuk menghilangkan bau dan karat logam yang ada.. Air dari tandon selanjutnya dilewatkan pada micro fiber 10 µ dan 5 µ untuk mereduksi jumlah mikroorganisme dan selanjutnya ditambah dengan disinfektan lain dan akhirnya masuk ke sistem membran RO. Sanitasi air yang dilakukan di PT. SAT melakukan pengendalian terhadap sanitasi air dengan menguji air hasil treatment apakah telah sesuai dengan standar atau belum. SAT dilakukan untuk air asin yang berasal dari tanah yang terdiri dari penyaringan kotoran yang ada dengan menggunakan water filter yang terdiri dari 2 unit pasir hijau (green sand) dan 4 unit karbon aktif.000 liter dan 137. sedangkan air asin yang dihasilkan sebagai produk reject akan digunakan untuk membersihkan ruangan produksi. SAT mencapai 60000-100000 liter. Dalam sehari total pemakaian air untuk pengolahan di PT. Air yang berasal dari tandon disalurkan ke ruang proses melalui pipa-pipa. Produk akhir dari sistem membran RO adalah air tawar yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan akan air tawar selain sumber PDAM. Sehingga larutan akan mengalir dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Setelah melewati water filter. Penyaringan kedua dengan karbon aktif untuk menghilangkan kotoran yang masih ada dan juga untuk memperbaiki bau. antara lain pengujian pH air dan .sedangkan air asin didapatkan dari produk reject dari sistem membran RO. air yang diperoleh masuk ke tandon yang memiliki kapasitas 81. PT. Proses perpindahan larutan terjadi melalui sebuah membran yang semipermeabel dan tekanan yang diberikan adalah tekanan hidrostatik (Lee et.

Pengujian mikrobiologis yang dilakukan adalah uji dengan menggunakan TPC dengan waktu pengujian 2x dalam 1 minggu dan jumlah maksimum baktei TPC adalah 5 x 105 cfu per ml sampel. kira-kira 36 ton/hari. Air yang digunakan untuk membuat es curah tersebut adalah air tawar yang memenuhi standar air minum. sanitasi terhadap es curah dilakukan dengan menampung es curah tersebut dalam ruangan tersendiri yang sekaligus berfungsi sebagai tempat penyimpanan es (ice storage). Cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan selalu menutup pintu ruang ice storage apabila tidak dibutuhkan. Sanitasi es di PT. Es curah ini dibuat sendiri oleh PT. SAT dengan menggunakan mesin ice flake.2. SAT dilakukan dengan membersihkan peralatan yang digunakan secara berkala dengan menggunakan larutan klorin 200 ppm. dengan demikian maka udang tidak mengalami kerusakan dan kebusukan serta kesegaran udang dapat dipertahankan. Air juga merupakan bahan baku utama untuk proses pembuatan es dimana penggunaan es dalam pengolahan udang beku bertujuan untuk mempertahankan suhu udang selama proses pengolahan supaya tetap rendah (< 5oC). . Suhu ruangan penyimpanan es perlu dipertahankan tetap rendah (-5oC hingga -2oC) supaya es tidak mencair. dengan cara melapisi dinding dan pintu ruang penyimpan dengan insulator yang dapat menghambat transfer panas dari dalam dan ke luar ruangan sehingga suhu ruang dapat dipertahankan dan mencairnya es dapat dikurangi. Pengujian pH dilakukan untuk mengetahui tingkat keasaman air tawar. SAT. Di PT. Pengujian mikrobiologis yang dilakukan adalah uji dengan menggunakan TPC dengan waktu pengujian 2x dalam 1 minggu dan jumlah maksimum baktei TPC adalah 5 x 105 cfu per ml sampel. 4. SAT adalah es curah. Pengujian mikrobiologis bertujuan untuk mengetahui apakah mikroorganisme pada air hasil treatment telah memenuhi standar atau belum.2 Es Es yang digunakan dalam proses pengolahan udang beku di PT.mikrobiologis.

2. SAT adalah sebagai berikut. inner pan. Untuk peralatan seperti meja stainless steel.4. viber box. sudet dan lain-lain. Kaleng ditempatkan di atas rak. SAT membersihkan mesin dan peralatan secara periodic. Setelah selesai produksi. PT. inner pan. pembersihan dilakukan setiap sebelum dan setelah proses serta selama proses dengan selang waktu 1 jam dengan menggunakan klorin 100 ppm. meja dan pan. Apabila mesin dan peralatan yang digunakan kurang bersih maka produk akhir dapat terkontaminasi. Standard Prosedur Sanitasi terhadap peralatan yang ditetapkan oleh PT. pisau. SAT harus dijaga kebersihannya karena sebagian besar peralatan bersentuhan langsung dengan udang. anatara lain pisau. berupa keranjang untuk menampung udang dan fiber berupa box-box yang digunakan untuk mencuci udang. Keranjang. 4. sekat. tidak boleh berlemak. stretch. PT.3 Sanitasi mesin dan peralatan Mesin dan peralatan juga mempengaruhi mutu dari produk akhir yang dihasilkan. keranjang dan sarung tangan yang digunakan. tidak mudah berkarat dan mudah dibersihkan sehingga aman bagi produk yang dihasilkan. Peralatan yang telah dipakai harus dicuci dengan klorin 100 ppm dan dibilas dengan air bersih. genjret. Stainless steel merupakan bahan yang standar untuk digunakan dalam industry pangan karena bersifat kuat. stretch. sudet. 1. dan lain-lain harus direndam dalam klorin 100 ppm (terendam di bawah larutan klorin ± 2 . SAT juga menggunakan peralatan yang terbuat dari plastik. SAT menggunakan peralatan yang sebagian besar terbuat dari Stainless steel. 5. PT. lantai ruangan disiram dengan klorin 200 ppm dan dibilas dengan air bersih. 6. Contoh : keranjang udang. 3. Semua peralatan yang digunakan harus bersih. untuk mesin pembersihan dan perawatan dilakukan sesuai dengan jadwal yang telah disusun. Semua peralatan yang kontak langsung dengan udang tidak boleh diletakkan di atas lantai. Peralatan yang digunakan dalam proses pembekuan PT.

tidak boleh berlemak dan berdebu. Pekerja merupakan salah satu bagian penting dari proses produksi karena banyak berhubungan langsung dengan produk. Blower / exhaust fan tidak boleh ada sarang laba-laba dan debu. 6. tidak boleh ada sarang laba-laba dan debu. Lampu penerangan dan tempatnya harus tertutup serta tidak boleh ada debu dan sarang laba-laba.cm) jika tidak digunakan dan sebelum digunakan harus dibilas dengan air tawar. 5. Kesehatan yang baik. Lampu untuk pembunuh serangga (insect lamp) harus dibersihkan. SAT juga menerapkan sanitasi terhadap equipment. Dibawah lampu lalat tidak boleh ada produk. tidak boleh ada sarang laba-laba dan debu. 4. dll untuk mendukung suatu kondisi sanitasi proses pengolahan yang baik. mesin. Sanitasi dari pekerja yang menangani produk makanan dalam suatu industry pangan sangat penting peranannya untuk mencegah kontaminasi mikroorganisme yang berasal dari manusia yang masuk ke dalam makanan. seperti : 1. untuk mengurangi kemungkinann pekerja menjadi kontaminan bakteri pathogen. persyaratan bagi para pekerja yang terpenting adalah sebagai berikut: 1. Kebersihan. PT. lampu. Sanitasi pekerja . untuk mengurangi kemungkinan kontaminasi bakteri oleh pekerja. 3. 2.4 Semua mesin yang digunakan harus bersih. Kemauan untuk mengerti tentang sanitasi merupakan persyaratan agar program sanitasi dapat berjalan dengan lancar. 3. Kesehatan karyawan harus diperiksa secara periodik untuk menjamin agar tidak seorang pun yang sakit karena karyawan yang tidak sehat dapat menjadi sumber kontaminasi bagi produk. Pendingin ruangan (unit cooler) tidak boleh kotor. 4. 2. Menurut Jenie (1988).

SAT telah menetapkan Standard Prosedur Sanitasi dan tata tertib agar kualitas produksi tetap terjaga. 3. tujuannya untuk mencegah kemungkinan kontaminasi dari tubuh pekerja. Seragam kerja Terbuat 2. afron. dari kain. topi. Prosedur Sanitasi Sebelum Memasuki Ruang Produksi 1. bertujuan untuk mencegah kontaminasi dari rambut pekerja. yang diuraikan sebagai berikut: A. 5. seragam. SAT selama menangani proses pembekuaan diharuskan untuk mengenakan perlengkapan-perlengkapan kerja yang antara lain adalah sebagai berikut. 4. Sepatu boot Terbuat dari karet. pekerja dengan udang sehingga tidak menyebabkan kontaminasi.Untuk menjamin sanitasi yang baik di lingkungan para pekerja. setiap pekerja di PT. Sarung tangan Terbuat dari karet. tujuannya untuk mencegah kontak langsung antara tangan 3. Celemek plastik / afron Digunakan untuk menjaga kebersihan seragam pekerja. dan sepatu yang sudah ditentukan. 6. Memakai masker. Control QC Para pekerja tidak boleh menggunakan perhiasan dan memiliki kuku yang panjang. Masker Digunakan untuk menutup mulut dan hidung dari pekerja sehingga dapat mencegah kontaminasi dari para pekerja apabila ada pekerja yang sakit atau berbicara. 2. 1. Penutup kepala Terbuat dari kain. . tujuannya adalah untuk melindungi pekerja dari bahaya terpeleset karena lantai ruang pengolahan yang selalu dalam keadaan basah. PT.

B. Dilarang memegang sepatu dengan sarung tangan. 24. Membilas kedua tangan dengan air bersih dan mengeringkan tangan dengan tissue. Dilarang memegang es tanpa sarung tangan. 21. 8. 11. Dilarang menaruh afron dibawah meja. 20. 10. 6. Mencuci tangan dengan sabun antiseptik sampai lengan dan selasela jari. Dilarang meludah di ruang produksi. 25. 17. Melepas sarung tangan saat mengganti suatu proses dengan sepatu khusus Menggantung sepatu proses di tempat yang disediakan. 19. . Dilarang membuka masker. di ruang ice storage. 4. Dilarang memegang udang dan peralatan produksi yang kontak langsung dengan produk tanpa menggunakan sarung tangan. Memakai sarung tangan. 5. Dilarang menaruh sarung tangan di sepatu. Dilarang membawa dan makan permen/makanan. 7. 3. Dilarang menggaruk dengan sarung tangan. sarung tangan. Setiap satu jam sekali. karyawan wajib cuci tangan (karyawan yang menggunakan sarung tangan dengan Aquaplus 15 ppm). Sanitasi di Ruangan Ice Storage Menggunakan seragam. Mencuci tangan dan sarung tangan dengan Aquaplus 15 ppm. Sanitasi di Ruangan Produksi 12. 22. Afron dan sarung tangan disemprot dengan Aquaplus 100 ppm. Sanitasi sepatu dengan Sterbac 200 ppm. Dilarang saling melempar es. 1. Menyikat kuku dan jari tangan. 18. dan topi dengan benar. masker. Roll punggung agar tidak ada rambut yang jatuh ke produk. 14. Dilarang memasukkan es ke dalam sepatu. 23. 9. 13. Dilarang menaruh produk dan keranjang dibawah meja. 15. 16.4. Dilarang merokok. 2.

1.\ Menggunakan topi dan masker. Melepas semua masker. C. kemudian keringkan dengan Melewatkan sepatu dalam larutan sterbac 200 ppm. 10. 13. kecuali waktu istirahat. topi. afron dan sepatu. topi. 12. Roll punggung agar tidak ada rambut yang jatuh. 7. 1. kerudung. 6. seragam. 5. Memakai sandal untuk di toilet. Melewatkan sepatu es ke dalam larutan starbac 200 ppm. 1. Menyemprot afron dengan Aquaplus 100 ppm. seragam.5. 3. topi. dan sepatu dengan benar. Meletakkan sandal pada rak yang sudah disediakan. 2. 4. sela-sela jari. 3. Melepaskan semua masker. 7. Membilas kedua tangan dengan air bersih. Sanitasi di Ruangan Toilet Menggunakan kartu izin keluar proses. dan sepatu Mencuci tangan dengan sabun antiseptik (sabun Dettol)sampai lengan dan Menyikat kuku dan jari tangan. Sanitasi Keluar Area Proses Menggunakan kartu izin keluar proses. seragam. 4. 9. 2. cook (tanpa menggunakan sarung tangan). D. Menggunakan sarung tangan yang baru. 6. Sanitasi di Ruangan Cook Menggunakan sandal pabrik dari loker. 5. afron dan sepatu. E. afron cook. 11. 8. Memakai celana khusus cook. 3. seragam. Dilarang menggunakan uniform jika keluar proses produksi. 2. Mencuci sarung tangan Aquaplus 15 ppm. Sanitasi sepatu dengan sterbac 200 ppm. Menggunakan sabun antiseptik kemudian bilas dengan air setelah selesai Memakai kembali masker. . Mencuci tangan dengan Aquaplus 15 ppm dan keringkan dengan tissue. tissue. Roll punggung agar tidak ada rambut yang jatuh ke produk. dari toilet.

2.1 Lantai Lantai ruang pengolahan PT. SAT merupakan lantai ubin.3 Pintu Setiap pintu dilengkapi dengan air certain dengan maksud agar mencegah terjadinya fluktuasi suhu tinggi dari luar ke dalam serta untuk menghalangi masuknya serangga ke dalam area pengolahan. dan kantin. 4. Alasan digunakannya ubin ini karena termasuk bahan yang kedap air. pekerja berdasarkan divisinya dan dilakukan pencucian setiap 3 hari. Tersedianya tempat pencucian seperti bak pencucian tangan. kamar mandi. resisten terhadap asam.5.Pihak PT. hal ini dikarenakan pengolahan udang merupakan pekerjaan yang basah sehingga kondisi lantai harus memilik kemiringan yang cukup untuk memudahkan mengalirnya air.5. Pembersihan juga dilakukan setelah proses produksi berakhir dengan cara menyikat lantai dengan larutan klorin 200 ppm dan air asin sebagai larutan pembersih akhir. 4.5. Pada bagian depan pintu yang pencucian kaki.2 Langit-langit dan Dinding Dinding ruang pengolahan di PT. Langit-langit ruang proses terbuat dari bahan yang tidak berlubang. dari ruang proses produksi.5. 3. kamar ganti. permukaan rata. Lantai dibuat dengan kemiringan lantai ±5o. 4. bak Tersedianya lemari tempat untuk menyimpan pakaian seragam dari para Dilakukan pemeriksaan kepada para pekerja yang akan masuk dan keluar Sanitasi Lingkungan Produksi 4. berwarna terang dan mudah dibersihkan. . SAT menyediakan berbagai fasilitas untuk menunjang dan mengawasi kegiatan-kegiatan di atas seperti : 1. Kemiringan lantai dibuat 5o dari tepi yang berbatasan dengan dinding ke tengah dan di bagian tengah lantai terdapat saluran pembuangan air. Pembersihan ruang produksi dilakukan selama proses setiap 1 jam dengan menggunakan larutan klorin 200 ppm dan air asin bersih dari produk reject proses system membran RO sebagai larutan pembersih akhir. tahan lama dan mudah dibersihkan. SAT dilapisi dengan keramik dengan tujuan agar memudahkan dalam pembersihannya.

Pada saat pemotongan kepala tidak boleh ada kotoran udang yang tertinggal pada tubuh udang. Air ditambah dengan es batu agar temperaturnya tetap terjaga maksimal 4oC.6 Saluran pembuangan Lubang saluran pembuangan terdapat di ruang pengolahan yang dilengkapi dengan tutup berupa jeruji besi dan setiap 6 meter panjang selokan diberi saringan untuk mencegah masuknya tikus. Pemotongan kepala Bagian yang dipotong mulai dari kelopak kepala (Carapace) hingga batas leher. 4. Sanitasi yang diterapkan dalam pencahayaan ini salah satunya adalah lampu penerangan dan tempatnya harus tertutup serta tidak boleh ada debu dan sarang laba-laba. Tertinggalnya kotoran di tubuh udang dapat memicu pertumbuhan mikroba penyebab pembusukan udang. Ventilasi ini terdapat pada bagian dinding yang dilengkapi dengan exhaust fan tertutup.5 Pencahayaan Sumber pencahayaan di PT.5. Pencucian Pengendalian yang dilakukan pada tahap ini adalah air yang digunakan untuk proses pencucian harus sesuai persyaratan mutu air minum. SAT mulai tahap pencucian awal sampai penyimpanan diuraikan dibawah ini. b.5. Air yang digunakan adalah air hasil proses diberi perlakuan RO. 4. 4. Pencahayaan ini akan mendukung pekerja dalam melaksanakan pekerjaannya serta mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja akibat kurangnya pencahayaan. 4. Pengendalian juga dilakukan pada temperatur air yang digunakan supaya kondisi udang tetap dibawah suhu kritisnya. Selama proses .7 Sanitasi Proses Produksi Sanitasi selama proses yang dilakukan PT. Exhaust fan tidak boleh ada sarang labalaba dan debu. SAT adalah lampu neon.berhubungan dengan ruang proses selalu terdapat bak cuci kaki yang dilengkapi dengan bak cuci tangan. a. Perlakuan ini harus hati-hati agar tidak ada bagian tubuh udang yang ikut terpotong dan agar tidak ada kulit udang yang mengalami cacat.5.5.4 Ventilasi Ventilasi merupakan sarana sirkulasi udara agar dapat mereduksi bau dan mencegah pengembunan.

Pembekuan udang yang tidak sempurna (udang beku tidak tertutup lapisan es seluruhnya) dapat menyebabkan penurunan mutu udang. Pada tahap ini pun dilakukan pengendalian terhadap kontaminan logam melalui alat metal detector. berat dan bentuk dengan label yang tertera pada pengemas yang digunakan. Sortasi Selama sortasi dilakukan pengawasan terhadap mutu (grade) dan ukuran udang yang dilakukan dua kali. Pengupasan Pengawasan mutu yang dilakukan adalah kebersihan produk akhir. Sortasi pertama dilakukan dengan mesin sortasi. e. warna. Pengemasan Pengawasan yang dilakukan pada tahap ini adalah kesesuaian antara ukuran. h. agar tidak ada bagian kulit yang tidak diinginkan tertinggal. . g. Suhu air dibatasi maksimal 3oC. Pengendalian yang dilakukan dalam tahap ini adalah temperatur Cold Storage harus dijaga -20oC±2oC. sedangkan sortasi kedua dilakukan secara manual dengan cepat. c. d. Glazing Pengawasan yang dilakukan adalah pengecekan terhadap suhu air yang digunakan untuk glazing. f. Proses pembekuan sebaiknya dilakukan dengan cepat agar kristal es yang terbentuk kecil-kecil dan halus sehingga tidak merusak jaringan udang dan mutu udang beku hampir sama dengan udang segar yang belum dibekukan. Penyimpanan Penyimpanan produk udang sebelum diekspor dilakukan dalam Cold Storage. Udang yang sudah disortasi langsung ditempatkan dalam bak berisi air dan es batu yang dikelompokkan sesuai jenis dan ukuran udang. serta tidak ada kotoran yang masih melekat (defect). Pembekuan Pengawasan yang dilakukan pada tahap ini adalah dengan mengontrol suhu pembekuan.pemotongan udang tetap dijaga suhunya dengan menempatkan udang pada bak berisi air dan es batu sehingga tidak memungkinkan terjadinya kontaminasi dari lingkungan.

. Bila cara pengolaha dan pembekuan yang dilakukan dengan baik serta bahan baku masih segar. Produk udang beku ini yang telah dikemas kemudian disimpan dalam cold storage. Suhu produk akhir diharapkan berkisar -18oC sampai -25oC.Pengawasan Mutu Produk Akhir Pengawasan mutu produk akhir perlu dilakukan untuk mengetahui kualitas dari produk akhir sehingga produk akhir yang ditujukan untuk ekspor mempunyai kualitas bahan mutu yang paling baik. Pembekuan dan penyimpanan beku merupakan cara yang paling baik untuk penyimpanan produk jangka panjang. Sistem pengeluaran produk udang beku dari cold storage untuk dimasukkan dalam kontainer (peti kemas). PT. SAT melakukan pengawasan mutu produk akhir untuk mengetahui kualitas produk udang beku yang dihasilkan. Udang beku yan gdisimpan dalam master carton disusun dengan rapi sesuai dengan waktu pengolahannya. mengikuti sistem FIFO (First In First Out) sehingga tidak ada produk yang terlalu lama disimpan dalam cold storage. Penyimpanan dalam cold storage harus dilakukan secara baik dan terencana agar perubahan mutu udang selama penyimpanan beku tidak banyak terjadi. maka dapat dihasilkan udang beku yang kualitasnya masih mendekati udang segar.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful