You are on page 1of 3

Sianida sebagai Limbah B3 pada Industri Tapioka

I. Pendahuluan
Agroindustri merupakan industri yang mengolah bahan-bahan hasil pertanian menjadi
produk-produk lain yang mempunyai nilai tambah. Salah satu agroindustri yang banyak
dikembangkan adalah industri pengolahan singkong atau ubi kayu menjadi tapioka.
Tapioka sendiri merupakan tepung pati dari ubi kayu, yang kemudian secara luas
digunakan sebagai bahan utama atau tambahan pada beberapa makanan olahan, pakan,
kosmetika, industri kimia, pengolahan kayu dan juga sebagai bahan untuk pembuatan perekat
atau lem.
Ubi kayu pada umumnya terbagi menjadi dua, yaitu yang bercabang hijau dan bercabang
merah. Kedua jenis ubi kayu ini memiliki toksin yang berasal dari sianida, yang menyebabkan
adanya sedikit sensasi pahit pada waktu dimakan.
Ubi kayu bercabang merah pada umumnya memiliki kandungan toksin sianida yang lebih
rendah dibandingkan dengan ubi kayu bercabang hijau. Oleh karenanya, ubi kayu bercabang
merah dapat langsung dikonsumsi, sedangkan ubi kayu bercabang hijau, harus diolah terlebih
dahulu untuk mengurangi kandungan toksin nya sebelum dikonsumsi.
Karena rasanya yang lebih pahit, maka ubi kayu bercabang hijau lebih sering pula dikenal
sebagai ubi kayu pahit. Konsumsi berlebihan selama beberapa minggu dari ubi kayu pahit yang
kurang tepat dalam pengolahannya, dapat menyebabkan sebuah penyakit paralitik yang dikenal
dengan sebutan Konzo.
Karena adanya Sianida sebagai racun alami yang terdapat dalam ubi kayu, maka secara
alami pula industri tapioka menghasilkan sianida sebagai limbahnya. Yang terbuang akibat
proses-proses dalam produksinya, dalam bentuk cair dan padatan.

II. Sianida dan Proses Produksi Tapioka


Menurut Adiwisastra (1992), sianida merupakan zat yang sangat beracun dan berbahaya.
Garam-garam sianida jika masuk ke dalam tubuh dapat berubah menjadi asam sianida, yang
kemudian menyebar ke seluruh tubuh, menyerang membran sel sehingga menyebabkan oksigen
tidak dapat bersenyawa dengan hemoglobin untuk membentuk oksihemoglobin. Akibatnya
oksigen tidak dapat beredar ke setiap jaringan sel dalam tubuh, sehingga menyebabkan terjadinya
kelumpuhan, termasuk alat-alat pernafasan dan apabila korban tidak tertolong maka akan
menyebabkan kematian. Berdasarkan sifat dan reaksinya ini, maka sianida digolongkan sebagai
bahan B3, oleh karenanya limbah yang mengandungnya pun digolongkan sebagai limbah B3.
Karena sianida terdapat secara alami pada ubi kayu maka pada proses produksi tapioka,
sianida dihasilkan pada hampir seluruh tahapan yang ada. Mulai dari pengupasan kulit, pencucian
bahan baku, hingga proses pengendapan pati, dan pemisahan ampas serta serat kasarnya. Namun
sebagian besar sianida akan terpisahkan dan menjadi limbah pada waktu proses pencucian dan
pengendapan patinya. Jika sianida yang terbentuk ini terkonsentrasi, kemudian tidak diolah
secara tepat, dan terbuang ke badan air atau tanah, maka akan menimbulkan efek pencemaran
yang serius.
Pada lingkungan perairan, efek toksik sianida ditentukan dari konsentrasi asam sianida
dan ion sianidanya. Sianida dalam bentuk ion kompleks tidak dapat digunakan untuk menentukan
tingkat ketoksikan dari suatu lingkungan perairan, karena sianida dalam bentuk ion kompleks
dapat terurai menjadi sianida bebas dengan bantuan radiasi ultraviolet walaupun laju reaksinya
sangat lambat (Othmer, 1979).

III. Pengolahan Limbah Cair Industri Tapioka


Salah satu cara mengatasi limbah sianida adalah dengan membuangnya ke laut dengan
menggunakan drum-drum beton (Rijadi, 1982). Namun begitu, cara tersebut tidak menyelesaikan
masalah, karena hanya memindahkan lokasi limbahnya dari satu tempat ke tempat lainnya selain
itu juga kurang praktis, oleh karenanya diperlukan suatu cara pengolahan lain, yaitu dengan
prinsip degradasi.
Prinsip degradasi limbah sianida adalah dengan mengubah ion sianida yang berbentuk
senyawa berbahaya menjadi senyawa lainnya yang tidak berbahaya. Misalnya dengan pengolahan
kimiawi, dimana sianida yang ada akan dioksidasi dengan penambahan natrium hipoklorit dalam
suasana basa, sehingga pada hasil akhir dari reaksi akan terbentuk nitrogen, ion karbonat dan ion
klorida yang pada batas tertentu masih ramah lingkungan (Peterson, 1996).
Solusi lain dari pengolahan limbah cair tapioka yang mengandung sianida adalah dengan
menggunakan teknologi EM (Effective Microorganism). Yang merupakan campuran dari lima
kelompok mikroorganisme yang mampu melakukan biodegradasi limbah organik dan juga
anorganik sianida. Mikroorganisme EM juga mampu hidup baik pada medium asam atau basa,
temperatur tinggi 45-50 °C (organisme termofilik) dan pada kondisi aerob maupun anaerob (Higa,
2000).
Pada dasarnya, pilihan manapun yang diambil dalam pengolahan limbah industri tapioka
terutama untuk menurunkan kadar cemaran sianida, haruslah sanggup dan cukup efektif untuk
membuat limbah cair tersebut layak dibuang ke alam, sesuai dengan ambang batas yang sudah
diatur dalam Kep. Men. No 51/MENLH/10/1995 tentang Baku Mutu Limbah Cair bagi Kegiatan
Industri. Dimana disitu disebutkan sianida yang boleh dibuang hanya 0.05 mg/L (untuk Limbah
Cair Golongan I) dan 0.5 mg/L (untuk Limbah Cair Golongan II).

IV. Daftar Pustaka


• Tapioka, Teknologi Tepat Guna Agroindustri Kecil Sumatra Barat, Hasbullah, Dewan
Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Industri Sumatra Barat, Januari 2001.
• Kutukan Industri Tapioka, http://politik.kompasiana.com/2010/04/12/kutukan-industri-
tapioka/
• Natrium Hipoklorit sebagai Pendegredasi Sianida pada Limbah Industri,
http://flowernays.blogspot.com/2009/06/natrium-hipoklorit-sebagai-pendegradasi.html
• Pengolahan Limbah Cair Tapioka dengan Teknologi EM (Effective Microorganisms), T.
Abu Hanifah, Christine Jose, Titania T. Nugroho, FMIPA - Unsri, 2001.
• Kep. Men No. 51/MENLH/10/1995, tentang Baku Mutu Limbah Cair bagi Kegiatan
Industri, Kementrian Lingkungan Hidup, 1995.