ASKEP ATRESIA ANI 1.

Definisi Istilah atresia berasal dari bahasa Yunani yaitu “a” yang berarti tidak ada dan trepsis yang berarti makanan atau nutrisi. Dalam istilah kedokteran, atresia adalah suatu keadaan tidak adanya atau tertutupnya lubang badan normal. Atresia ani adalah malformasi congenital dimana rectum tidak mempunyai lubang keluar (Walley,1996). Ada juga yang menyebutkan bahwa atresia ani adalah tidak lengkapnya perkembangan embrionik pada distal anus atau tertutupnya anus secara abnormal (Suriadi,2001). Sumber lain menyebutkan atresia ani adalah kondisi dimana rectal terjadi gangguan pemisahan kloaka selama pertumbuhan dalam kandungan. Jadi menurut kesimpulan penulis, atresia ani adalah kelainan congenital anus dimana anus tidak mempunyai lubang untuk mengeluarkan feces karena terjadi gangguan pemisahan kloaka yang terjadi saat kehamilan. Walaupun kelainan lubang anus akan mudah terbukti saat lahir, tetapi kelainan bisa terlewatkan bila tidak ada pemeriksaan yang cermat atau pemeriksaan perineum. 2. Etiologi Etiologi secara pasti atresia ani belum diketahui, namun ada sumber mengatakan kelainan bawaan anus disebabkan oleh gangguan pertumbuhan, fusi, dan pembentukan anus dari tonjolan embriogenik. Pada kelainan bawaananus umumnya tidak ada kelainan rectum, sfingter, dan otot dasar panggul. Namun demikian pada agenesis anus, sfingter internal mungkin tidak memadai. Menurut peneletian beberapa ahli masih jarang terjadi bahwa gen autosomal resesif yang menjadi penyebab atresia ani. Orang tua yang mempunyai gen carrier penyakit ini mempunyai peluang sekitar 25% untuk diturunkan pada anaknya saat kehamilan. 30% anak yang mempunyai sindrom genetic, kelainan kromosom atau kelainan congenital lain juga beresiko untuk menderita atresia ani. Sedangkan kelainan bawaan rectum terjadi karena

gangguan pemisahan kloaka menjadi rectum dan sinus urogenital sehingga biasanya disertai dengan gangguan perkembangan septum urorektal yang memisahkannya. Faktor predisposisi Atresia ani dapat terjadi disertai dengan beberapa kelainan kongenital saat lahir seperti : 1. Sindrom vactrel (sindrom dimana terjadi abnormalitas pada vertebral, anal, jantung, trachea, esofahus, ginjal dan kelenjar limfe). 2. Kelainan sistem pencernaan. 3. Kelainan sistem pekemihan. 4. Kelainan tulang belakang. 3. Klasifikasi Secara fungsional, pasien atresia ani dapat dibagi menjadi 2 kelompok besar yaitu : 1. Yang tanpa anus tetapi dengan dekompresi adequate traktus gastrointestinalis dicapai melalui saluran fistula eksterna. Kelompok ini terutma melibatkan bayi perempuan dengan fistula rectovagina atau rectofourchette yang relatif besar, dimana fistula ini sering dengan bantuan dilatasi, maka bisa didapatkan dekompresi usus yang adequate sementara waktu. 2. Yang tanpa anus dan tanpa fistula traktus yang tidak adequate untuk jalam keluar tinja. Pada kelompok ini tidak ada mekanisme apapun untuk menghasilkan dekompresi spontan kolon, memerlukan beberapa bentuk intervensi bedah segera. Pasien bisa diklasifikasikan lebih lanjut menjadi 3 sub kelompok anatomi yaitu :

1. Anomali rendah Rectum mempunyai jalur desenden normal melalui otot puborectalis, terdapat sfingter internal dan eksternal yang berkembang baik dengan fungsi normal dan tidak terdapat hubungan dengan saluran genitourinarius. 2. Anomali intermediet Rectum berada pada atau di bawah tingkat otot puborectalis; lesung anal dan sfingter eksternal berada pada posisi yang normal. 3. Anomali tinggi Ujung rectum di atas otot puborectalis dan sfingter internal tidak ada. Hal ini biasanya berhungan dengan fistuls genitourinarius – retrouretral (pria) atau rectovagina (perempuan). Jarak antara ujung buntu rectum sampai kulit perineum lebih daai1 cm. Sedangkan menurut klasifikasi Wingspread (1984), atresia ani dibagi 2 golongan yang dikelompokkan menurut jenis kelamin. Pada laki – laki golongan I dibagi menjadi 4 kelainan yaitu kelainan fistel urin, atresia rectum, perineum datar dan fistel tidak ada. Jika ada fistel urin, tampak mekonium keluar dari orifisium eksternum uretra, mungkin terdapat fistel ke uretra maupun ke vesika urinaria. Cara praktis menentukan letak fistel adalah dengan memasang kateter urin. Bila kateter terpasang dan urin jernih, berarti fistel terletak uretra karena fistel tertutup kateter. Bila dengan kateter urin mengandung mekonuim maka fistel ke vesikaurinaria. Bila evakuasi feses tidak lancar, penderita memerlukan kolostomi segera. Pada atresia rectum tindakannya sama pada perempuan ; harus dibuat kolostomi. Jika fistel tidak ada dan udara > 1 cm dari kulit pada invertogram, maka perlu segera dilakukan kolostomi. Sedangkan pada perempuan golongan I dibagi menjadi 5 kelainan yaitu kelainan kloaka, fistel vagina, fistel rektovestibular, atresia rectum dan fistel tidak ada. Pada fistel vagina, mekonium tampak keluar dari vagina. Evakuasi feces menjadi tidak lancar sehingga sebaiknya dilakukan kolostomi. Pada fistel vestibulum, muara fistel terdapat divulva. Umumnya evakuasi feses lancar selama penderita hanya

Jika udara > 1 cm dari kulit perlu segera dilakukan kolostomi. tindakan definitive harus dilakukan. anus tampak normal tetapi pada pemerikasaan colok dubur. Tidak ada evakuasi mekonium sehingga perlu segera dilakukan kolostomi. Kegagalan migrasi dapat juga karena kegagalan dalam agenesis sacral dan abnormalitas pada uretra dan vagina. Patofisiologi Anus dan rectum berkembang dari embrionik bagian belakang. lubangnya terdapat anterior dari letak anus normal. . sama dengan perempuan. traktus genetalis dan jalan cerna. tetapi sangat sempit. Evakuasi feses tidal lancar sehingga biasanya harus segera dilakukan terapi definitive. Bila tidak ada fistel dan udara <> Sedangkan golongan II pada perempuan dibagi 3 kelainan yaitu kelainan fistel perineum. Fistel perineum sama dengan pada wanita . Terjadi stenosis anal karena adanya penyempitan pada kanal anorektal. tetapi tanda timah anus yang buntu menimbulkan obstipasi. Pada membran anal biasanya tampak bayangan mekonium di bawah selaput. Tidak ada pembukaan usus besar yang keluar anus menyebabkan fecal tidak dapat dikeluarkan sehungga intestinal mengalami obstrksi. lubang anus terletak di tempat yang seharusnya. stenosis anus dan fistel tidak ada. fistel tidak ada. Pada stenosis anus. Bila evakuasi feses tidak ada sebaiknya dilakukan terapi definit secepat mungkin. Lubang fistel perineum biasanya terdapat diantara vulva dan tempat letak anus normal. Bila tidak ada fistel.minum susu. Terjadi atresia anal karena tidak ada kelengkapan migrasi dan perkembangan struktur kolon antara 7 dan 10 mingggu dalam perkembangan fetal. Kolostomi dapat direncanakan bila penderita dalam keadaan optimal. Bila tidak ada fistel dan pada invertogram udara <> 4.Pada atresia rectum. Evakuasi mulai etrhambat saat penderita mulai makan makanan padat. stenosis anus. Evakuasi feses umumnya tidak sempurna sehingga perlu cepat dilakukan kolostomi. Bila terdapat kloaka maka tidak ada pemisahan antara traktus urinarius. Pada stenosis anus. dibuat invertogram. membran anal. Golongan II pada laki – laki dibagi 4 kelainan yaitu kelainan fistel perineum. jari tidak dapat masuk lebih dari 1-2 cm. Ujung ekor dari bagian belakang berkembang menjadi kloaka yang merupakan bakal genitoury dan struktur anorektal.

1996) Bayi muntah – muntah pada usia 24 – 48 jam setelah lahir juga merupakan salah satu manifestasi klinis atresia ani. Pemeriksaan radiologis Dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya obstruksi intestinal.5. Ultrasound terhadap abdomen Digunakan untuk melihat fungsi organ internal terutama dalam system pencernaan dan mencari adanya faktor reversible seperti obstruksi oleh karena massa tumor. tidak ada atau stenosis kanal rectal. 7. Pemeriksaan Penunjang Untuk memperkuat diagnosis sering diperlukan pemeriksaan penunjang sebagai berikut : 2. . d. pembesaran abdomen.2001). gangguan intestinal. Cairan muntahan akan dapat berwarna hijau karena cairan empedu atau juga berwarna hitam kehijauan karena cairan mekonium. Gejala lain yang nampak diketahui adalah jika bayi tidak dapat buang air besar sampai 24 jam setelah lahir. 4. Sinar X terhadap abdomen Dilakukan untuk menentukan kejelasan keseluruhan bowel dan untuk mengetahui jarak pemanjangan kantung rectum dari sfingternya. adanya membran anal dan fistula eksternal pada perineum (Suriadi. 3. Manifestasi Klinis Manifestasi klinis yang terjadi pada atresia ani adalah kegagalan lewatnya mekonium setelah bayi lahir. CT Scan Digunakan untuk menentukan lesi. pembuluh darah di kulir abdomen akan terlihat menonjol (Adele.

sebab pengkajian merupakan awal dari proses keperawatan. 2. Penatalaksanaan Keperawatan disebut diseksi posterosagital atau plastik anorektal posterosagital. 8. Menurut Gordon data dapat dikelompokkan menjadi 11 konsep yang meliputi : . g. f.1 Pengkajian Diperlukan pengkajian yang cermat dan teliti untuk mengetahui masalah pasien dengan tepat. 2. Pyelografi intra vena Digunakan untuk menilai pelviokalises dan ureter. Dan keberhasilan proses keperawatan tergantung dari pengkajian. 1. Penatalaksanaan Medis Malformasi anorektal dieksplorasi melalui tindakan bedah yang Colostomi sementara 2. Rontgenogram abdomen dan pelvis Juga bisa digunakan untuk mengkonfirmasi adanya fistula yang berhubungan dengan traktus urinarius.e. Konsep teori yang difunakan penulis adalah model konseptual keperawatan dari Gordon. Pemeriksaan fisik rectum Kepatenan rectal dapat dilakukan colok dubur dengan menggunakan selang atau jari. Penatalaksaan 1.

3. Pola nutrisi – Metabolik Anoreksia.1996). penciuman. daya ingatan masa lalu dan ketanggapan dalam menjawab pertanyaan. kulit dan paru maka tubuh dibersihkan dari bahan .1. Oleh karena pada atresia ani tidak terdapatnya lubang pada anus. Pola Aktivitas dan Latihan Pola latihan dan aktivitas dipertahankan untuk menhindari kelemahan otot. . Keinginan pasien untuk makan mungkin terganggu oleh mual dan munta dampak dari anestesi. penurunan BB dan malnutrisi umu terjadi pada pasien dengan atresia ani post kolostomi. Pola Eliminasi Dengan pengeluaran melalui saluran kencing. Pola Tidur dan Istirahat Pada pasien mungkin pola istirahat dan tidur terganggu karena nyeri pada luka inisisi. Persepsi Kesehatan – Pola Manajemen Kesehatan Mengkaji kemampuan pasien dan keluarga melanjutkan perawatan di rumah. 2. pendengaran. sehingga pasien akan mengalami kesulitan dalam defekasi (Whaley & Wong. usus. 6. 5.bahan yang melebihi kebutuhan dan dari produk buangan. Pola Persepsi Kognitif Menjelaskan tentang fungsi penglihatan. 4.

7. Pemeriksaan Fisik Hasil pemeriksaan fisik yang didapatkan pada pasien atresia ani adalah anus tampak merah. Terjadi perilaku distraksi. efek hospitalisasi. 10. body comfort. rumah (Doenges. gelisah. Pola Pertahanan Diri. 11. Pola Reproduktif dan Sexual Pola ini bertujuan menjelaskan fungsi sosial sebagi alat reproduksi (Doenges.1993). 9.1993). Peran dan Pola Hubungan Bertujuan untuk mengetahui peran dan hubungan sebelum dan sesudah sakit. Perubahan pola biasa dalam tanggungjawab atau perubahan kapasitas fisik untuk melaksanakan peran (Doenges.1993). Pola Keyakinan dan Nilai Untuk menerangkan sikap. Dengan ini diharapkan perawat dalam memberikan motivasi dan pendekatan terhadap klien dalam upaya pelaksanaan ibadah (Mediana. Stress dan Toleransi Adanya faktor stress lama. masalah keuangan.1998). 8. keyakinan klien dalam melaksanakan agama yang dipeluk dan konsekuensinya dalam keseharian. Konsep Diri dan Persepsi Diri Menjelaskan konsep diri dan persepsi diri misalnya body image. 2. usus melebar. penolakan karena dampak luka jahitan operasi (Doenges.1993). kadang – kadang .

tinja dalam urin dan vagina (Whaley & Wong.2001).1996).1993). 6. (Doenges. termometer yang dimasukkan melalui anus tertahan oleh jaringan. tanpa mekonium dalam 24 jam setelah bayi lahir. d. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia (Doenges.tampak ileus obstruksi. jaringan (Doenges.1996). perawatan di rumah (Whaley & Wong.1993). . 7. berlebih (Doenges. pada auskultasi terdengan hiperperistaltik. c. Diagnosa Keperawatan Data yang diperoleh perlu dianalisa terlebih dahulu sebelum mengemukkan diagnosa keperawatan. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan kolostomi (Doenges. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur pembedahan (Doenges. 9. sehingga dapat diperoleh diagnosa keperawatan yang spesifik. b.1993). Kecemasan keluarga berhungan dengan prosedur pembedahan dan Gangguan citra diri berhubungan dengan adanya kolostomi Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan trauma saraf Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan penumpuksan secket Kurangnya pengetahuan keluarga berhungan dengan kebutuhan kondisi bayi (Suriadi.1993). Inkontinen bowel (tidak efektif fungsi eksretorik berhubungan dengan tidak lengkapnya pembentukan anus (Suriadi.1993).1993).2001). Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien atresia ani yaitu: a. 2. 8. 5.

Kaji area stoma. Tujuan yang diharapkan adalah tidak terjadi gangguan integritas kulit. sekitar 1/8 dari ukuran stoma. 5. 2. Intervensi Keperawatan Fokus intervensi keperawatan pada atresia ani adalah sebagai berikut : 1. 2. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan kolostomi (Doenges. Tujuan yang diharapkan yaitu terjadi peningkatan fungsi usus.tidak ada nyeri saat defekasi. Pertahankan puasa dan berikan terapi hidrasi IV sampai fungsi usus normal. tidak terjadi kerusakan di daerah sekitar anoplasti. dengan kriteria hasil : penyembuhan luka tepat waktu. . Intervensi : 1. area stoma. 3.2001).1996). dengan kriteria hasil : pasien akan menunjukkan konsistensi tinja lembek. Inkontinen bowel (tidak efektif fungsi eksretorik) berhubungan dengan tidak lengkapnya pembentukan anus (Suriadi. Intervensi : 1. Dilatasikan anal sesuai program. tidak terjadi perdarahan. Yakinkan lubang bagian belakang kantong berperekat lebih besar Selidiki apakah ada keluhan gatal sekitar stoma. 4.2. 2. terbentuknya tinja. Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian lembut dan longgar pada Sebelum terpasang colostomy bag ukur dulu sesuai dengan stoma.

Pertahankan masukan cairan sedikitnya 2500 ml/hari kecuali kontra indikasi. batuk efektif dan mengeluarkan sekret. 4. Pantau dan batasi pengunjung .c. Pertahankan teknik septik dan aseptik secaa ketat pada prosedur medis atau perawatan. d. mengeluarkan sekret tanpa bantuan dengan kriteria hasil : bunyi nafas bersih. TTV normal. adanya hemaptoe.1993). 2. 6. contoh : bunyi nafas. jumlah spuntum. Amati lokasi invasif terhadap tanda-tanda infeksi. Beri antibiotik sesuai advis dokter. Tujuan yang diharapkan adalah mempertahakan efektif jalan nafas. jumlah sel darah putih. Intervensi : 1. penghisapan sesuai keperluan. . 3. Pantau suhu tubuh.1993). 5. irama dan kedalaman dan penggunaan otot tambahan. beri isolasi jika memungkinkan. 5. lekosit normal. Catat kemampuan untuk mengeluarkan dahak atau batuk efektif. Kaji fungsi pernafasan. 4. 3. 2. kecepatan. Berikan posisi semi fowler dan Bantu pasien untuk batuk efektif dan latihan nafas dalam. Kolaborasi pemberian mukolitik dan bronkodilator. catat karakter. Tujuan yang diharapkan adalah tidak terjadi infeksi. Intervensi : 1. dengan kriteria hasil : tidak ada tanda – tanda infeksi. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur pembedahan (Doenges. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukkan sekret berlebih (Doenges. menunjukkan perilaku perbaikan jalan nafas misalnya. Bersihkan secret dari mulut dan trakea.

Kecemasan keluarga berhungan dengan prosedur pembedahan dan kondisi bayi. bebas tanda mal nutrisi. 4.2001. Berikan pujian pada keluarga saat memberikan perawatan pada pasien. Intervensi : 1. Berikan informasi tentang kondisi. Pantau berat badan secara periodik. 3. 5. Intervensi : 1.1993). Jelaskan kebutuhan terapi IV. 4. dengan kriteria hasil : keluarga akan mengekspresikan perasaan dan pemahaman terhadap kebutuhan intervensi perawatan dan pengobatan. Kaji kesukaan makanan anak. misal membawa makanan dari rumah. Libatkan orang tua. 2. Pemberian nutrisi secara parenteral. Beri makan sedikit tapi sering. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia (Doenges. Berikan isirahat yang adekuat. 6. 5. untuk mempertahankan kebutuhan kalori sesuai program diit.(Suriadi. Beri perawatan mulut sebelum makan. pembedahan dan perawatan di rumah. 8. membujuk anak untuk makan. pengukuran tanda – tanda vital dan pengkajian. nilai laboratorium normal. 3. Ajarkan keluarga untuk berpartisipasi dalam perawatan pasien. Ajarkan untuk mengekspresikan perasaan. Tujuan yang diharapkan adalah kebutuhan nurtisi tubuh tercukupi. NGT. 2. 7.159) Tujuan yang diharapkan adalah memberi support emosional pada keluarga. dengan kriteria hasil : menunjukkan peningkatan BB. Pantau masukan/ pengeluaran makanan / cairan. 6. .e.

1996). 2.1996). dengan kriteria hasil : pasien mentatakan menerima perubahan ke dalam konsep diri tanpa harga diri rendah. TTV normal. 4. menunjukkan penerimaan dengan merawat stoma tersebut. Catat kemungkinan penyebab nyeri. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan trauma saraf jaringan (Doenges. Tujuan yang diharapkan adalah pasien mau menerima kondisi dirinya sekarang. pasien akan tampak rileks.6. Ajarkan dan anjurkan tehnik relaksasi. Intervensi : 1. tidak ada rasa nyeri saat defekasi. Auskultasi bising usus. Tanyakan pada pasien tentang nyeri. 2. dengan kriteria hasil : BAB 1x/hari. Gangguan citra diri berhubungan dengan adanya kolostomi (Doenges. Intervensi : . 3. Resiko tinggi terhadap konstipasi berhubungan dengan ketidakadekuatan masukan diit (Doenges. dengan kriteria hasil : ekspresi wajah pasien relaks. Tujuan yang diharapkan adalah pola eliminasi sesuai kebutuhan. Tujuan yang diharapkan adalah pasien akan melaporkan nyeri hilang atau terkontrol. feses lunak. Observasi pola diit dan itake cairan 6. Intervensi : 1. 6.1993). menyatakan perasaannya tentang stoma. Anjurkan pemakaian obat dengan benar untuk mengontrol nyeri.

2. Kurangnya pengetahuan keluarga berhungan dengan kebutuhan perawatan di rumah (Walley & Wong. Intervensi : 1. 3. 2. Validasi rencana keperawatan Suatu tindakan untuk memberikan kebenaran. Ajarkan perawatan kolostomi dan partisipasi dalam perawatan sampai mereka dapat melakukan perawatan.1. Observasi perilaku pasien. 3. Latih pasien untuk kebiasaan defekasi. Ajarkan bagaimana memberikan pengamanan pada bayi dan melakukan dilatasi pada anal secara tepat. Tujuan validasi data adalah menekan serendah mungkin terjadinya kesalahpahaman. dokumentasi rencana keperawatan dan melakukan tindakan keperawatan. 6. Ajarkan pasien dan keluarga untuk memodifikasi diit (misalnya serat) 2.5 Implementasi Keperawatan Seperti tahap lainnya dalam proses keperawatan fase pelaksanaan terdiri dari : validasi rencana keperawatan. 4. Hindari menyinggung perasaan pasien atau pertahankan hubungan positif. Berikan kesempatan pada pasien untuk merawat stomanya. Ajarkan cara perawatan luka yang tepat. 4. 5. Motivasi pasien untuk megungkapkan perasaannya. 5. Kaji persepsi pasien tentang stoma. 1. dengan kriteria hasil keluarga menunjukkan kemampuan untuk memberikan perawata untuk bayi di rumah. Ajarkan untuk mengenal tanda – tanda dan gejala yang perlu dilaporkan perawat. 6. Kaji ulang tentang alasan pembedahan. 6.1996). Tujuan yang diharapkan adalah pasien dan keluarga memahami perawatan di rumah. salah .

Dalam hal ini diperlukan pengetahuan keehatan dan strategi evaluasi. . 3. 6. maka kemampuan perawat diuji untuk memodifikasi alat maupun situasi. maka harus mempunyai landasan kuat. Dokumentasi rencana keperawatan Agar rencana perawatan dapat berarti bagi semua pihak. 2.persepsi. masalah. Karena adanya potensi manusia berbuat salah dalam proses penilaian. perawat dan anggota tim kesehatan lainnya. Tujuan dari evaluasi adalah menilai apakah tujuan dari rencana keperawatan tercapai atau tidak. kadang timbul situasi yang bertentangan dengan tindakan yang direncanakan. dan bermanfaat secara optimal. Evaluasi Evaluasi adalah suatu kegiatan yang terus menerus dengan melibatkan klien. tujuan serta rencana tindakan. Tindakan keperawatan Meskipun perawat sudah mengembangkan suatu rencana keperawatan yang maksimal. Perawat hendaknya mengadakan pertemuan dengan tim kesehatan lain untuk membahas data.

Sedangkan kelainan bawaan rectum terjadi karena . kelainan kromosom atau kelainan congenital lain juga beresiko untuk menderita atresia ani. fusi. Atresia ani adalah malformasi congenital dimana rectum tidak mempunyai lubang keluar (Walley. Dalam istilah kedokteran. Menurut peneletian beberapa ahli masih jarang terjadi bahwa gen autosomal resesif yang menjadi penyebab atresia ani. Namun demikian pada agenesis anus. Orang tua yang mempunyai gen carrier penyakit ini mempunyai peluang sekitar 25% untuk diturunkan pada anaknya saat kehamilan.2001). Etiologi Etiologi secara pasti atresia ani belum diketahui. namun ada sumber mengatakan kelainan bawaan anus disebabkan oleh gangguan pertumbuhan. sfingter internal mungkin tidak memadai. Walaupun kelainan lubang anus akan mudah terbukti saat lahir.1996). 30% anak yang mempunyai sindrom genetic. atresia ani adalah kelainan congenital anus dimana anus tidak mempunyai lubang untuk mengeluarkan feces karena terjadi gangguan pemisahan kloaka yang terjadi saat kehamilan. Jadi menurut kesimpulan penulis. atresia adalah suatu keadaan tidak adanya atau tertutupnya lubang badan normal. Pada kelainan bawaananus umumnya tidak ada kelainan rectum. tetapi kelainan bisa terlewatkan bila tidak ada pemeriksaan yang cermat atau pemeriksaan perineum. dan otot dasar panggul.ASKEP ATRESIA ANI Definisi Istilah atresia berasal dari bahasa Yunani yaitu “a” yang berarti tidak ada dan trepsis yang berarti makanan atau nutrisi. sfingter. Sumber lain menyebutkan atresia ani adalah kondisi dimana rectal terjadi gangguan pemisahan kloaka selama pertumbuhan dalam kandungan. Ada juga yang menyebutkan bahwa atresia ani adalah tidak lengkapnya perkembangan embrionik pada distal anus atau tertutupnya anus secara abnormal (Suriadi. dan pembentukan anus dari tonjolan embriogenik.

esofahus. pasien atresia ani dapat dibagi menjadi 2 kelompok besar yaitu : 1. trachea. Sindrom vactrel (sindrom dimana terjadi abnormalitas pada vertebral. 2. Pasien bisa diklasifikasikan lebih lanjut menjadi 3 sub kelompok anatomi yaitu : . ginjal dan kelenjar limfe). Kelainan sistem pencernaan. Yang tanpa anus tetapi dengan dekompresi adequate traktus gastrointestinalis dicapai melalui saluran fistula eksterna. anal. 3. maka bisa didapatkan dekompresi usus yang adequate sementara waktu. Faktor predisposisi Atresia ani dapat terjadi disertai dengan beberapa kelainan kongenital saat lahir seperti : 1.gangguan pemisahan kloaka menjadi rectum dan sinus urogenital sehingga biasanya disertai dengan gangguan perkembangan septum urorektal yang memisahkannya. Klasifikasi Secara fungsional. dimana fistula ini sering dengan bantuan dilatasi. memerlukan beberapa bentuk intervensi bedah segera. Kelainan sistem pekemihan. Yang tanpa anus dan tanpa fistula traktus yang tidak adequate untuk jalam keluar tinja. jantung. 2. 4. Kelainan tulang belakang. Kelompok ini terutma melibatkan bayi perempuan dengan fistula rectovagina atau rectofourchette yang relatif besar. Pada kelompok ini tidak ada mekanisme apapun untuk menghasilkan dekompresi spontan kolon.

Jika ada fistel urin. Bila evakuasi feses tidak lancar. muara fistel terdapat divulva. 2. Jika fistel tidak ada dan udara > 1 cm dari kulit pada invertogram. lesung anal dan sfingter eksternal berada pada posisi yang normal. fistel vagina. Pada fistel vagina. atresia ani dibagi 2 golongan yang dikelompokkan menurut jenis kelamin. Anomali tinggi Ujung rectum di atas otot puborectalis dan sfingter internal tidak ada. Pada atresia rectum tindakannya sama pada perempuan . Bila kateter terpasang dan urin jernih. Anomali intermediet Rectum berada pada atau di bawah tingkat otot puborectalis. 3. mungkin terdapat fistel ke uretra maupun ke vesika urinaria. Pada laki – laki golongan I dibagi menjadi 4 kelainan yaitu kelainan fistel urin. harus dibuat kolostomi. penderita memerlukan kolostomi segera. Cara praktis menentukan letak fistel adalah dengan memasang kateter urin. Sedangkan pada perempuan golongan I dibagi menjadi 5 kelainan yaitu kelainan kloaka. mekonium tampak keluar dari vagina. Pada fistel vestibulum. fistel rektovestibular. Evakuasi feces menjadi tidak lancar sehingga sebaiknya dilakukan kolostomi. tampak mekonium keluar dari orifisium eksternum uretra. maka perlu segera dilakukan kolostomi. perineum datar dan fistel tidak ada. Sedangkan menurut klasifikasi Wingspread (1984). Bila dengan kateter urin mengandung mekonuim maka fistel ke vesikaurinaria. Anomali rendah Rectum mempunyai jalur desenden normal melalui otot puborectalis. atresia rectum dan fistel tidak ada. atresia rectum. Jarak antara ujung buntu rectum sampai kulit perineum lebih daai1 cm. terdapat sfingter internal dan eksternal yang berkembang baik dengan fungsi normal dan tidak terdapat hubungan dengan saluran genitourinarius.1. Hal ini biasanya berhungan dengan fistuls genitourinarius – retrouretral (pria) atau rectovagina (perempuan). Umumnya evakuasi feses lancar selama penderita hanya . berarti fistel terletak uretra karena fistel tertutup kateter.

Tidak ada pembukaan usus besar yang keluar anus menyebabkan fecal tidak dapat dikeluarkan sehungga intestinal mengalami obstrksi. Evakuasi feses umumnya tidak sempurna sehingga perlu cepat dilakukan kolostomi. Terjadi stenosis anal karena adanya penyempitan pada kanal anorektal. Evakuasi feses tidal lancar sehingga biasanya harus segera dilakukan terapi definitive. traktus genetalis dan jalan cerna.Pada atresia rectum. Kolostomi dapat direncanakan bila penderita dalam keadaan optimal. lubangnya terdapat anterior dari letak anus normal. Bila tidak ada fistel dan udara <> Sedangkan golongan II pada perempuan dibagi 3 kelainan yaitu kelainan fistel perineum. Pada stenosis anus. Pada stenosis anus. anus tampak normal tetapi pada pemerikasaan colok dubur. sama dengan perempuan. tindakan definitive harus dilakukan. Bila evakuasi feses tidak ada sebaiknya dilakukan terapi definit secepat mungkin. membran anal.minum susu. tetapi sangat sempit. dibuat invertogram. lubang anus terletak di tempat yang seharusnya. stenosis anus dan fistel tidak ada. Kegagalan migrasi dapat juga karena kegagalan dalam agenesis sacral dan abnormalitas pada uretra dan vagina. Bila terdapat kloaka maka tidak ada pemisahan antara traktus urinarius. Tidak ada evakuasi mekonium sehingga perlu segera dilakukan kolostomi. Evakuasi mulai etrhambat saat penderita mulai makan makanan padat. Bila tidak ada fistel dan pada invertogram udara <> Patofisiologi Anus dan rectum berkembang dari embrionik bagian belakang. jari tidak dapat masuk lebih dari 1-2 cm. Jika udara > 1 cm dari kulit perlu segera dilakukan kolostomi. Fistel perineum sama dengan pada wanita . stenosis anus. fistel tidak ada. Ujung ekor dari bagian belakang berkembang menjadi kloaka yang merupakan bakal genitoury dan struktur anorektal. Golongan II pada laki – laki dibagi 4 kelainan yaitu kelainan fistel perineum. Bila tidak ada fistel. Pada membran anal biasanya tampak bayangan mekonium di bawah selaput. Lubang fistel perineum biasanya terdapat diantara vulva dan tempat letak anus normal. Terjadi atresia anal karena tidak ada kelengkapan migrasi dan perkembangan struktur kolon antara 7 dan 10 mingggu dalam perkembangan fetal. tetapi tanda timah anus yang buntu menimbulkan obstipasi. .

pembuluh darah di kulir abdomen akan terlihat menonjol (Adele. pembesaran abdomen. d. Sinar X terhadap abdomen Dilakukan untuk menentukan kejelasan keseluruhan bowel dan untuk mengetahui jarak pemanjangan kantung rectum dari sfingternya. Cairan muntahan akan dapat berwarna hijau karena cairan empedu atau juga berwarna hitam kehijauan karena cairan mekonium.2001). 3. 4. tidak ada atau stenosis kanal rectal.1996) Bayi muntah – muntah pada usia 24 – 48 jam setelah lahir juga merupakan salah satu manifestasi klinis atresia ani. gangguan intestinal. Pemeriksaan Penunjang Untuk memperkuat diagnosis sering diperlukan pemeriksaan penunjang sebagai berikut : 2. Pemeriksaan radiologis Dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya obstruksi intestinal. Ultrasound terhadap abdomen Digunakan untuk melihat fungsi organ internal terutama dalam system pencernaan dan mencari adanya faktor reversible seperti obstruksi oleh karena massa tumor. CT Scan . adanya membran anal dan fistula eksternal pada perineum (Suriadi.Manifestasi Klinis Manifestasi klinis yang terjadi pada atresia ani adalah kegagalan lewatnya mekonium setelah bayi lahir. Gejala lain yang nampak diketahui adalah jika bayi tidak dapat buang air besar sampai 24 jam setelah lahir.

2. Penatalaksaan 1. Pemeriksaan fisik rectum Kepatenan rectal dapat dilakukan colok dubur dengan menggunakan selang atau jari. Menurut Gordon data dapat dikelompokkan menjadi 11 konsep yang meliputi : 1.1 Pengkajian Diperlukan pengkajian yang cermat dan teliti untuk mengetahui masalah pasien dengan tepat. sebab pengkajian merupakan awal dari proses keperawatan. g.Digunakan untuk menentukan lesi. Rontgenogram abdomen dan pelvis Juga bisa digunakan untuk mengkonfirmasi adanya fistula yang berhubungan dengan traktus urinarius. e. Konsep teori yang difunakan penulis adalah model konseptual keperawatan dari Gordon. Pyelografi intra vena Digunakan untuk menilai pelviokalises dan ureter. 1. Persepsi Kesehatan – Pola Manajemen Kesehatan . Penatalaksanaan Medis Malformasi anorektal dieksplorasi melalui tindakan bedah yang Colostomi sementara 2. Dan keberhasilan proses keperawatan tergantung dari pengkajian. 2. Penatalaksanaan Keperawatan disebut diseksi posterosagital atau plastik anorektal posterosagital. f.

Pola Eliminasi Dengan pengeluaran melalui saluran kencing. daya ingatan masa lalu dan ketanggapan dalam menjawab pertanyaan. 5.1996). Oleh karena pada atresia ani tidak terdapatnya lubang pada anus. 6. pendengaran. Pola nutrisi – Metabolik Anoreksia. 2. 7. sehingga pasien akan mengalami kesulitan dalam defekasi (Whaley & Wong. usus. 4. Keinginan pasien untuk makan mungkin terganggu oleh mual dan munta dampak dari anestesi. penurunan BB dan malnutrisi umu terjadi pada pasien dengan atresia ani post kolostomi.Mengkaji kemampuan pasien dan keluarga melanjutkan perawatan di rumah. penciuman. Pola Tidur dan Istirahat Pada pasien mungkin pola istirahat dan tidur terganggu karena nyeri pada luka inisisi.bahan yang melebihi kebutuhan dan dari produk buangan. Konsep Diri dan Persepsi Diri . kulit dan paru maka tubuh dibersihkan dari bahan . Pola Aktivitas dan Latihan Pola latihan dan aktivitas dipertahankan untuk menhindari kelemahan otot. Pola Persepsi Kognitif Menjelaskan tentang fungsi penglihatan. 3.

11. Pola Pertahanan Diri. rumah (Doenges. Dengan ini diharapkan perawat dalam memberikan motivasi dan pendekatan terhadap klien dalam upaya pelaksanaan ibadah (Mediana.1993). masalah keuangan. Perubahan pola biasa dalam tanggungjawab atau perubahan kapasitas fisik untuk melaksanakan peran (Doenges. termometer yang dimasukkan melalui anus tertahan oleh jaringan. usus melebar. efek hospitalisasi. body comfort. Pola Keyakinan dan Nilai Untuk menerangkan sikap.1993). pada auskultasi terdengan hiperperistaltik.1993). kadang – kadang tampak ileus obstruksi. 8. Pola Reproduktif dan Sexual Pola ini bertujuan menjelaskan fungsi sosial sebagi alat reproduksi (Doenges. 9. Stress dan Toleransi Adanya faktor stress lama. Peran dan Pola Hubungan Bertujuan untuk mengetahui peran dan hubungan sebelum dan sesudah sakit. penolakan karena dampak luka jahitan operasi (Doenges.Menjelaskan konsep diri dan persepsi diri misalnya body image. 10. keyakinan klien dalam melaksanakan agama yang dipeluk dan konsekuensinya dalam keseharian. Terjadi perilaku distraksi. 2.1993). gelisah. Pemeriksaan Fisik Hasil pemeriksaan fisik yang didapatkan pada pasien atresia ani adalah anus tampak merah.1998). .

1993). Gangguan integritas kulit berhubungan dengan kolostomi (Doenges. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia (Doenges. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien atresia ani yaitu: a. jaringan (Doenges. Diagnosa Keperawatan Data yang diperoleh perlu dianalisa terlebih dahulu sebelum mengemukkan diagnosa keperawatan. b.1993). (Doenges. d.1996).1993). perawatan di rumah (Whaley & Wong.1996). Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur pembedahan (Doenges. 9. Intervensi Keperawatan . 6.2001). c.1993). 8. 2. berlebih (Doenges. tinja dalam urin dan vagina (Whaley & Wong.2001). Inkontinen bowel (tidak efektif fungsi eksretorik berhubungan dengan tidak lengkapnya pembentukan anus (Suriadi. Kecemasan keluarga berhungan dengan prosedur pembedahan dan Gangguan citra diri berhubungan dengan adanya kolostomi Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan trauma saraf Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan penumpuksan secket Kurangnya pengetahuan keluarga berhungan dengan kebutuhan kondisi bayi (Suriadi. 5. sehingga dapat diperoleh diagnosa keperawatan yang spesifik.tanpa mekonium dalam 24 jam setelah bayi lahir. 7.1993). 2.1993).

1996). Intervensi : 1. 4. 5. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur pembedahan (Doenges. Tujuan yang diharapkan adalah tidak terjadi gangguan integritas kulit. Tujuan yang diharapkan yaitu terjadi peningkatan fungsi usus. . area stoma. dengan kriteria hasil : pasien akan menunjukkan konsistensi tinja lembek. Yakinkan lubang bagian belakang kantong berperekat lebih besar Selidiki apakah ada keluhan gatal sekitar stoma.1993). c. terbentuknya tinja. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan kolostomi (Doenges. 2. Intervensi : 1. sekitar 1/8 dari ukuran stoma. 3. tidak terjadi kerusakan di daerah sekitar anoplasti.2001). dengan kriteria hasil : penyembuhan luka tepat waktu.tidak ada nyeri saat defekasi. tidak terjadi perdarahan. Kaji area stoma. Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian lembut dan longgar pada Sebelum terpasang colostomy bag ukur dulu sesuai dengan stoma. Pertahankan puasa dan berikan terapi hidrasi IV sampai fungsi usus normal. Dilatasikan anal sesuai program.Fokus intervensi keperawatan pada atresia ani adalah sebagai berikut : Inkontinen bowel (tidak efektif fungsi eksretorik) berhubungan dengan tidak lengkapnya pembentukan anus (Suriadi. 2.

e. Kolaborasi pemberian mukolitik dan bronkodilator. Amati lokasi invasif terhadap tanda-tanda infeksi. 2. Pantau suhu tubuh. jumlah spuntum. TTV normal. mengeluarkan sekret tanpa bantuan dengan kriteria hasil : bunyi nafas bersih. Pertahankan masukan cairan sedikitnya 2500 ml/hari kecuali kontra indikasi. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukkan sekret berlebih (Doenges. kecepatan. 4. 5. 5. 4. 6. 3. Berikan posisi semi fowler dan Bantu pasien untuk batuk efektif dan latihan nafas dalam. dengan kriteria hasil : tidak ada tanda – tanda infeksi.Tujuan yang diharapkan adalah tidak terjadi infeksi. d. Bersihkan secret dari mulut dan trakea. Intervensi : 1. Catat kemampuan untuk mengeluarkan dahak atau batuk efektif. Beri antibiotik sesuai advis dokter. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia (Doenges. Pertahankan teknik septik dan aseptik secaa ketat pada prosedur medis atau perawatan. beri isolasi jika memungkinkan. penghisapan sesuai keperluan. Tujuan yang diharapkan adalah mempertahakan efektif jalan nafas. irama dan kedalaman dan penggunaan otot tambahan. lekosit normal. Kaji fungsi pernafasan. catat karakter. adanya hemaptoe. 3.1993). menunjukkan perilaku perbaikan jalan nafas misalnya.1993). . Intervensi : 1. contoh : bunyi nafas. Pantau dan batasi pengunjung . 2. jumlah sel darah putih. batuk efektif dan mengeluarkan sekret.

Intervensi : 1. Pemberian nutrisi secara parenteral.2001. Berikan informasi tentang kondisi. untuk mempertahankan kebutuhan kalori sesuai program diit. dengan kriteria hasil : menunjukkan peningkatan BB. 4. Ajarkan untuk mengekspresikan perasaan. dengan kriteria hasil : keluarga akan mengekspresikan perasaan dan pemahaman terhadap kebutuhan intervensi perawatan dan pengobatan. Kecemasan keluarga berhungan dengan prosedur pembedahan dan kondisi bayi. Kaji kesukaan makanan anak. . Intervensi : 1. bebas tanda mal nutrisi. pembedahan dan perawatan di rumah. Pantau berat badan secara periodik. pengukuran tanda – tanda vital dan pengkajian.1996). 5. Libatkan orang tua. (Suriadi. Ajarkan keluarga untuk berpartisipasi dalam perawatan pasien. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan trauma saraf jaringan (Doenges. Beri perawatan mulut sebelum makan. Beri makan sedikit tapi sering. 7. Berikan pujian pada keluarga saat memberikan perawatan pada pasien.Tujuan yang diharapkan adalah kebutuhan nurtisi tubuh tercukupi. nilai laboratorium normal. 4. 6. 2. membujuk anak untuk makan. misal membawa makanan dari rumah. Pantau masukan/ pengeluaran makanan / cairan.159) Tujuan yang diharapkan adalah memberi support emosional pada keluarga. 3. 2. NGT. 8. 3. Jelaskan kebutuhan terapi IV. 5. Berikan isirahat yang adekuat.

Resiko tinggi terhadap konstipasi berhubungan dengan ketidakadekuatan masukan diit (Doenges.1996). Intervensi : 1. Intervensi : 1. feses lunak. Tanyakan pada pasien tentang nyeri. 3. Observasi pola diit dan itake cairan Gangguan citra diri berhubungan dengan adanya kolostomi (Doenges.1993). menunjukkan penerimaan dengan merawat stoma tersebut. Observasi perilaku pasien. dengan kriteria hasil : BAB 1x/hari. menyatakan perasaannya tentang stoma. TTV normal. Kaji persepsi pasien tentang stoma. Ajarkan dan anjurkan tehnik relaksasi. Auskultasi bising usus. Tujuan yang diharapkan adalah pola eliminasi sesuai kebutuhan.Tujuan yang diharapkan adalah pasien akan melaporkan nyeri hilang atau terkontrol. dengan kriteria hasil : pasien mentatakan menerima perubahan ke dalam konsep diri tanpa harga diri rendah. Tujuan yang diharapkan adalah pasien mau menerima kondisi dirinya sekarang. Kaji ulang tentang alasan pembedahan. 3. 4. Intervensi : 1. Catat kemungkinan penyebab nyeri. Motivasi pasien untuk megungkapkan perasaannya. 2. dengan kriteria hasil : ekspresi wajah pasien relaks. tidak ada rasa nyeri saat defekasi. 4. . 2. Anjurkan pemakaian obat dengan benar untuk mengontrol nyeri. 2. pasien akan tampak rileks.

1. dokumentasi rencana keperawatan dan melakukan tindakan keperawatan.1996).5 Implementasi Keperawatan Seperti tahap lainnya dalam proses keperawatan fase pelaksanaan terdiri dari : validasi rencana keperawatan. 3. 6. Ajarkan bagaimana memberikan pengamanan pada bayi dan melakukan dilatasi pada anal secara tepat.5. 6. Latih pasien untuk kebiasaan defekasi. Ajarkan pasien dan keluarga untuk memodifikasi diit (misalnya serat) 2. Ajarkan untuk mengenal tanda – tanda dan gejala yang perlu dilaporkan perawat. Tujuan validasi data adalah menekan serendah mungkin terjadinya kesalahpahaman. 5. Ajarkan cara perawatan luka yang tepat. Ajarkan perawatan kolostomi dan partisipasi dalam perawatan sampai mereka dapat melakukan perawatan. Karena adanya potensi manusia berbuat salah dalam proses penilaian. salah persepsi. Tujuan yang diharapkan adalah pasien dan keluarga memahami perawatan di rumah. Kurangnya pengetahuan keluarga berhungan dengan kebutuhan perawatan di rumah (Walley & Wong. dengan kriteria hasil keluarga menunjukkan kemampuan untuk memberikan perawata untuk bayi di rumah. 2. Validasi rencana keperawatan Suatu tindakan untuk memberikan kebenaran. Dokumentasi rencana keperawatan . Berikan kesempatan pada pasien untuk merawat stomanya. 2. 4. Intervensi : 1. Hindari menyinggung perasaan pasien atau pertahankan hubungan positif.

Evaluasi Evaluasi adalah suatu kegiatan yang terus menerus dengan melibatkan klien. 3. Dalam hal ini diperlukan pengetahuan keehatan dan strategi evaluasi. 6. Tujuan dari evaluasi adalah menilai apakah tujuan dari rencana keperawatan tercapai atau tidak. . Tindakan keperawatan Meskipun perawat sudah mengembangkan suatu rencana keperawatan yang maksimal. masalah. kadang timbul situasi yang bertentangan dengan tindakan yang direncanakan. maka harus mempunyai landasan kuat. perawat dan anggota tim kesehatan lainnya. dan bermanfaat secara optimal. Perawat hendaknya mengadakan pertemuan dengan tim kesehatan lain untuk membahas data. maka kemampuan perawat diuji untuk memodifikasi alat maupun situasi. tujuan serta rencana tindakan.Agar rencana perawatan dapat berarti bagi semua pihak.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful