You are on page 1of 365
ASP) Lay UO] |S , ee UNIVERSITAS GUNADARMA MATEMATIKA LANJUT civiliana civil engineering blog SERI DIKTAT KULIAH DAFTAR IS! BAB 1. VEKTOR DI R® DAN ILMU UKUR ANALITIK BUANG 1.1, _KOORDINAT SIKU-SIKU DI RP 1 4.2, RANGKUMAN 2 1.3. SUDUT ARAH, COSINUS ARAH, BILANGAN ARAH 2 1.4. _KOORDINAT TITIK YANG MEMBAGI SEGMEN GARIS ATAS PERBANDINGAN TERTENTU 4 41.5. __ CROSS PRODUCT (PRODUK VEKTOR) 5 1.6.__BIDANG RATA 6 1.7. PERSAMAAN NORMAL BIDANG RATA i 1.8. SUDUT ANTARA BIDANG RATA 8 1,9. JARAK DUA BIDANG RATA YANG SEJAJAR DAN JARAK SUATU TITIK KE BIDANG RATA 8 1.10. _PERSAMAAN BIDANG RATA DIKETAHUI MELALU! SATU TITIK 10 1.11. BERKAS BIDANG RATA 1 1.12. JARINGAN BIDANG RATA. 12 1.13. GARIS LURUS DI R® a 1.14. MENCARI BILANGAN ARAH GARIS LURUS. 13, 1.15. BEBERAPA BENTUK PERSAMAAN GARIS LURUS 14 1.16. GARIS DAN BIDANG RATA 7 1.17, GARIS HUBUNG TERPENDEK DAN JARAK DUA GARIS BERSILANGAN 16 1.18. SOAL-SOAL DAN PEMECAHANNYA 18 4.19. SOAL-SOAL UNTUK LATIHAN 26 2.1. PERSAMAAN GARIS DAN BIDANG LENGKUNG 30 2.2, PROYEKS! GARIS LENGKUNG PADA BIDANG KOORDINAT an 23. BOLA 32 24, _TEMPAT KEDUDUKAN, BIDANG SILINDER, BIDANG KERUCUT, BIDANG PUTAR DAN BIDANG ATUR 36 2.5. _PERSAMAAN STANDAR - 46 2.6. _SOAL-SOAL DAN PEMECAHANNYA _ 45 2.7. _SOAL-SOAL UNTUK LATIHAN. a Py i BAB 3. DIFFERENSIAL KALKULUS DARI FUNGSI BEBERAPA VARIABEL 3.1.__FUNGSI DARI BEBERAPA VARIABEL 32, DOMAIN 3:3, TURUNAN PARSIAL 3.4, DIFFERENSIAL TOTAL Sls ele 3.5. _DIFFERENSIAL FUNGS! DARI FUNGS! 63 36. FUNGSI IMPLISIT, INVERS, JACOBIAN 64 3.7._TURUNAN PARSIAL ORDER TINGG! 2 EEERMeee ue aan) a 4.1. _PERSAMAAN DIFFERENSIAL ORDER SATU 76 42. PERSAMAAN DIFFERENSIAL LINIER 89 43. PERSAMAAN DIFFERENSIAL ORDER DUA 97 44, LEBIH LANJUT TENTANG PERSAMAAN DIFFERENSIAL LINIER 107 45, SOAL-SOAL DAN PEMECAHANNYA 117 46. SOAL-SOAL LATIHAN 142 BAB 5. BARISAN DAN DERET 150 BARISAN TAK HINGGA 150 DERET TAK HINGGA 152 DERET DENGAN SUKU-SUKU POSITIP 155 54,_TES BANDING 159 55. TES RASIO 162 56. DERET DENGAN SUKU-SUKU NEGATIP 167 5.7.__ TEST RASIO UNTUK KONVERGENS! ABSOLUT 168 5.8. _DERET KUASA (PANGKAT) 173 59.__ INTERVAL KONVERGENS! 173 BAB 6. INTEGRAL LIPAT, INTEGRAL GARIS, INTEGRAL PERMUKAAN DAN TEOREMA INTEGRAL 177 6.1,_ INTEGRAL LIPAT DUA 7 INTEGRAL ITERAS! = 178 63._ INTEGRAL LIPAT TIGA 199 64, SOAL-SOAL DAN LATIHAN 207 BAB 7. FUNGS! VEKTOR A 7.1._UMIT, KONTINUITAS DAN TURUNAN FUNGSI VEKTOR = 207 7.2, TAFSIRAN ILMU UKUR DARI TURUNAN VEKTOR _ _ 218 7.3. GRADIEN, DIVERGENSI DAN CURL. _ _ ae) 7.4. _RUMUS-RUMUS YANG MENGANDUNG V 7 22 75. _KOORDINAT KURVILINIER TAGAKLURUS DAN JACOBIAN 221 7.6. _GRADIEN, DIVERGENSI, CURL DAN LAPLACIAN DALAM KOORDINAT KURVILINIER TEGAKLURUS 223 7.7. KOORDINAT KURVILINIER KHUSUS 228 7.8. SOAL DAN PEMECAHANNYA 225 7.9, SOAL-SOAL LATIHAN ES BAB 8. TRANSFORMAS! LAPLACE 244 244 8.1, __ DEFINIS| TRANSFORMASI LAPLACE 8.2. _TRANSFORMAS! LAPLACE UNTUK BEBERAPA FUNGSI ELEMENTER: 245 8.3, SYARAT CUKUP UNTUK KEUJUOAN TRANSFORMASI LAPLACE. 246 8.4. _INVERS TRANSFORMAS! LAPLACE 247 85. TRANSFORMASI LAPLACE DARI FUNGS! TURUNAN 248 8.6. __FUNGSI TANGGA SATUAN 248 ‘8.7. _BEBERAPA TEOREMA KHUSUS PADA TRANSFORMAS! LAPLACE. 249 8.8, PECAHAN BAGIAN (PARTIAL FRACTION) 251 8.9.__PENYELESAIAN PERSAMAAN DIFFERENSIAL DENGAN TRANSFORMAS! LAPLACE 251 8.10._RUMUS INVERS LAPLACE 251 8.11. SOAL-SOAL LATIHAN DAN PENYELESAIAN 251 8.12, SOAL-SOAL LATIHAN 274 BAB 9. INTEGRAE GARI PAV oe 9.1. INTEGRAL GARIS- 287 92, _NOTASI VEKTOR UNTUK INTEGRAL GARIS. 288 9.3. _MENGHITUNG INTEGRAL GARIS- 289 9.4. _SIFAT-SIFAT INTEGRAL GARIS 289 9.5. _KURVA TERTUTUP SEDERHANA, DAERAH TERHUSUNG SEDERHANA DAN GANDA 290 9.6. _SYARAT INTEGRAL GARIS UNTUK TIDAK BERGANTUNG PADA LINTASAN 201 97.__ INTEGRAL PERMUKAAN 202 98, _TEOREMA DIVERGENS! EX 9.9, TEOREMA STOKES 204 9.10. SOAL-SOAL LATIHAN DAN PENYELESAIANNYA 295 8.11, SOALSOAL LATIHAN 323 BAB 10. DERET FOURIER y 40.1. FUNGS! PERIODIK 10.2, _DERET FOURIER 103. SYARAT DIRICHLET 10.4. _FUNGSI GANJIL DAN GENAP 405. DERET FOURIER SINUS ATAU KOSINUS SEPARUH JANGKAUAN (HALF RANGE) 40.6. _PENDIFFERENSIALAN DAN PENGINTEGRALAN DERET FOURIER 10.7. FUNGSI TEGAKLURUS, 40.8, SOAL-SOAL LATIHAN DAN PENYELESAIANNYA 40.9. SOAL-SOAL LATIHAN 2/8|8 18/3 /8(2/8|8 VEKTOR DI R° DAN ILMU UKUR ANALITIK RUANG 1.1. KOORDINAT SIKU-SIKU DI R° Di sini kita hanya memandang sistim koordinat siku-siku (Cartesian), yaitu sistim koordinat dengan sumbu-sumbu X,Y, dan Z yang saling tegak lurus, dan melalui sebuah titik, yang kita sebut titik awal (origin). Sebagai vektor-vektor basis adalah : i = (1,0, 0] pada sumbu X (0, 1, 0} pada sumbu Y 10,0, 1] pada sumbu Z Setiap titik di dalam ruang dinyatakan dengan tripe! bilangan riil (x , y , z) dan disebut "koordinat” titik tersebut. Sedangkan setiap vektor € R? dinyatakan sebagai kombinasi linier dari 7, j , dan k. Misalnya a = [3 , 2, 2] berarti a = 3[1,0, 0] +210,1,0)+210,0, 1] = 31+ 2+ 2k. 1.2, RANGKUMAN Dari pembicaraan kita yang umum di bab 1, kita tulis lagi beberapa hasil pembicaraan tersebut untuk R*. : (1) Dot produk, dari 4 = [x, , y, , z,] dan B = [x,y,z]: 2B =x, x, +9, y, +2, 2%, atau: a6 =1al | b/ cos @ dimana: | a! dan 1b | adalah panjang vektor 4 dan b, sedangkan @ adalah sudut antara 4 dan b. Panjang vektor ll = Va. =Axt+ y? + 2 2). Sudut antara 2. vektor : ab H+ tH fail Nx? y? 422. Nxt + y? + 2 cos 8 = Syarat a tegak lurus b adalah a . b = 0 atau x, x, + y, y, +2, 2,=0 (3). Jarak antara 2 titik (jarak antara titik-ujung ujung vektor radius) PCR,» ¥, » Z,) dan QQ, . y, » 2) PQ = d(OP , 0Q) = Nix, -x) +0,-¥) + &— 4) 1.3. SUDUT ARAH, COSINUS ARAH, BILANGAN ARAH Sudut-sudut arah dari suatu vektor ¥ = [x , y, z] yaitu @ , B, y adalah sudut antara V dengan i, j dan k. Sedangkan cos © , cos dan cos disebut cosinus-cosinus arah dari ¥. vii x ‘ hahwa cos a = 54 ykarenai= (1,0, 0} dani! = 1 Wilil WW = » karenaj = (0,1,0) dan {jl = 1 , karenak = [0,0,1) dan kl = 1 Maka vektor [cos a , cos B , cos y] adalah vektor satuan searah V CATATAN (1) Kita dapat teruskan pembicaraan tentang sudut-sudut arah dan cosinus-cosinus arah sebuah vektor dengan sudut arah dan cosinus arah sebuah garis lurus. Di sini sudut- sudut arah dan cosinus-cosinus arah sebuah garis lurus adalah sama dengan sudut- sudut arah dan cosinus-cosinus arah vektor yang dibawanya (vektor arahnya). Contoh (1.1). Carilah cosinus-cosinus arah dari 4 = [2, -2, 1] dan cosinus-cosinus arah sebuah garis yang melalui titik P(2, 1, 3) dan 02, 2, 3 ). Jawab : Cosinus-cosinus arah dari a = [2 , -2 , 1] ialah : 2 2 2 2 cosa = —— == 5 = 5 Wal V4+4+1 3 3 1 1 cos y= "=~ = —- - Dapat diperiksa cos! ot + cost B + cos y= 1. a > Sedangkan garis melalui (2 , 1 , 3) dan (2 , 2 , 3) akan membawa vektor PQ = [2-2 , 2-1, 3-3] =[0,1, 0], Jadi cos a=0. 1 cos B = ———_— = 1 dan cos y= 0. VO+1+0— Dapat kita catat bahwa garis tersebut / / sumbu Y (vektor arahnya = j). CATATAN (2) Bilangan arah dari sebuah garis lurus adalah bilangan-bilangan yang sebanding dengan cosinus-cosinus arah garis lurus tersebut. Kita sebut bilangan-bilangan arah tersebut a,b,c maka: cosa = cosB = cosy, ec ataua : b : c = cos @ : cos : cos y Hubungan antara bilangan arah dan cosinus arah adalah sebagai berikut : cos O cosB _ cosy misalkan ; 4, jadi cos 0 = ad a b c cos B = ba cos Y= ch dan cos? @ + cos? B + cos? y = 2? (a? + b? +c?) = 1 berarti 1 a NG ——= , jadi cos = —_____., tve+ee iVe+ bao b c cox B = dan cos y = tiers Warere CATATAN (3). Kita lihat bahwa cosinus-cosinus arah dari suatu vektor sebanding x y dengan komponen-komponennya, cos a= x 7=7-, cos B= Taq 3 Jadi PR = 4 PQ = 21K, -%,,¥.-¥,.4-%h OR = OP + PR = [x, ,y,, 2) +4, xp ¥,-y, 4-3 Jadi: xy =x, +2 (x,-x) Ye =, +4. -y) ma%+h@-%) Bila R terletak pada perpanjangan QP, maka 4 negatip. Bila R titik tengah PQ, berarti 2 =", , diperoleh : Rt MNtY | _ Ate ee CONTOH (7.3). Carilah koordinat titik R pada garis PQ, bila PR = 2RQ dan PL, 2,0), QG,1,2). Jadi A = 2/3, berarti : er Xq = 1 + 23.G-1) = 7/3 ; P RQ X, = 2 + 23.(1-2) = 423 ; 2 = 0+ 2/3. (2-0) = 4/3. Jadi R = (71, 4/3, 4/3). 1.5. CROSS PRODUCT (PRODUK VEKTOR) Produk vektor x 6 (baca : "a cross b”) menghasilkan sebuah vektor (sebutlah’c) yang panjang adalah perkalian panjang vektor | @ | serta |b | dan sinus sudut antara a dengan b dikalikan dengan vektor dari c yakni U,, sedangkan arah dari ¢ adalah tegak lurus’a dan B menurut sistem tangan kanan : z Br axb=(lal lb! sin@)}u, a, = = voktor satuan terurah &. ( CATATAN (4). Cross produk hasilnya adalah sebuah vektor. Untuk menghitung cross produk @ = fa, , a, , a, dangan 6 = [b, , b, , b,] kita pakai determinan : TUE a ay b, b, »b, 1 CONTOH (1.4). a= [1,1,3],b=([2,0, 3] maka: axb jk j ji 3, 4+kfi1 ia 3 03 23 20 2 0.3 =3i4+3j — 2k=3{1,0,0] + 30,1, 0) -210,0,1) Se oe2le Panjang laxbl = ¥94+9+44=~V22. CATATAN (5). Cross produk tidak komutatip : @ x B # b x a melainkan Pos ml i b, a4 pool 1.6. BIDANG RATA Kita telah tahu bahwa persamaan umum sebuah bidang rata V adalah: V = Ax + By +Cz+D=0, atau secara simbolis V = 0. Vektor 7 ="[A , B , C] disebut vektor normal dari bidang dan bersifat tegak lurus pada bidang tersebut. Sudut arah dari V sama dengan sudut arah dari n, sedang cosinus arah dari V adalah cosinus arah dari fi. Jadi bilangan-bilangan arah dari V adalah komponen- komponen dari 7 yaitu A , B,C. CONTOH (1.5). Persamaan 2x - 3y + z + 1 = 0, adalah sebuah bidang rata dengan bilangan-bilangan arah 2, -3 , 1 dan mempunyai normal n = (2, -3 , 1). CONTOH (1.6). Carilah vektor normal bidang datarx = (1,2, 1] + Af1, 1, 3] +h (2,0, 3] Maka jelas bahwa ni tegak lurus vektor-vektor [1 , 1 ,3] dan [2 , 0 , 3], dengan cross produk, 0 = [1,1 , 3] x (2,0, 3}=[3,3, -2) 1.7. PERSAMAAN NORMAL BIDANG RATA Misalkan p jarak dari 0(0 , 0 , 0) ke bidang V, sedang 0 , B , Y adalah sudut-sudut arah n (yang tegak lurus V) Kita ambil n = [cos a, cos B , cos 4] yang panjangnya = J cosa + cos’ + cos*y = 1, sebagai vektor normal satuan dari bidang V. OR = [x,y,z]. Proyeksi OF pada OP adalah | OT.OP l= 1 Ix, y, zh [cos a, cos B, cosy] | = x cosa+ycosB +zcos y = p (harus positip) Persamaan : x cos @ + y cos B + z cos y = p, disebut persamaan normal HESSE dari bidang. CATATAN (6). Bila bidang melalui 0(0 , 0 , 0) maka p = 0. CATATAN (7). Pengubahan persamaan umum Ax + By + Cz + D = 0 ke bentuk normal adalah sebagai berikut : Hubungan antara bilangan arah A , B,C dan cosinus arah : cos cox cosy A 6b Uc Jadi cos a = AX, cos B = BA, cos y = CA dan p =~ DA Sedangkan cos? @ + cos? B + cos? y=? (A? + B?+C)=1, = -> misalkan = 4 1 A B Jadi i = + cos % = — ,cos B= 2VA4+B+C 4 VA? + B+ C NA+ B+ C Cc D cos Y= ———___— , p = —______ + VA? +B + C £VA+B4C Tanda + dipilih salah satu sehingga p berharga positip. CONTOH (1.7). Carilah persamaan normal dari bidang 3x + 2y +z = 3. Maka untuk mengubah ke bentuk normal x cos a + y cos B +z cos y= p. D 3 = ——__- = ——— {Kita pilih tanda + supaya p positip), £V9O4441 vi4 _ 3 72 _i cosa =e, cos B=, cos y=. -_ 3x 2y Z 3 Jadi diperoleh : Weetiwtwiw9 1.8. SUDUT ANTARA DUA BIDANG RATA Sudut antara 2 bidang rata adalah sudut antara vektor-vektor normalnya. Misalnya bidang-bidang V, = A, x +B, y +C, 2 +D, = 0dan V,=A,x +B, y +C,z+D,=0, maka normal-normalnya m, =[A,,B,,C),2,=1A,,B,,C]. Sudut antara n, dan 5, ; h, a, A, A, +B, B,+C,C, cos 8 = ——__——__ = lat tat VA? +B?4+C?. 0 VA +B 4C) CONTOH (1.8). Sudut antara bidang x + y +z+3=0 dan 2x+y+2z+11=0 adalah : 12411412 5 5 608 8 =. = atau @ = arc cos . Ni+i+1] .V44144 313 3N3 CATATAN (8). Syarat sejajar : Kalau V, dan V, sejajar berarti i, dan fi, adalah sama (atau ber- kelipatan) , jadi V, // V, bila : CATATAN (9). Apabila berlaku A, = A, , B, = B, , C, = C, dan D, = D, maka bidang V, dan V, bethimpit. CONTOH (1.9). Carilah bidang V, yang / / bidang V, =x + 2y + 2z +9 = 0 dan melalui titik (2 , 0, 0). Maka V, mempunyai bentuk x + 2y + 2z + D, = 0 dan karena melalui (2, 0 , 0) maka harus terpenuhi 2.1 + 2.0 + 2.0 + D, = 0 atau D, = -2. Jadi V,= x + 2y +22-2=0. CATATAN (10) a tegak lurus : Kalau V, dan V, saling tegak lurus maka fi, Li, , berarti juga i, = 0 atau A,A, + BB, +#CC =0 CONTOH (1.10). Carilah bidang V, yang 1 bidang V, = x + y +z = 1, melalui titik awal (0, 0 , 0) dan titik (1, 1, 0). Syaratnya ; A,A, + B,B, + C,C, = 0 atau A, +B, +C, =0. V,=A,x+B,y+C, 74D =0 melalui (0, 6, 0) berarti D = 0 dan melalui 1, 0) berarti A, + B, = 0. =O) Dari (1) dan (2) diperoleh C, = 0 dan A, = - B,. Jadi V, = A,x + B,y + Oz + 0,= 0 atau ~ B,x + B,y = 0 dan kalau kita bagi dengan B, diperoleh V, : -x + y = 0. 1.9. JARAK DUA BIDANG RATA YANG SEJAJAR DAN JARAK SUATU TITIK KE BIDANG RATA Pandang sebuah bidang V, = x cos a + y cos B+ z cos Y= p. Kita hendak menentukan jarak sebuah titik R(x, , y, , z,) ke bidang V, tersebut, Kita buat melalui R, bidang V, //'V,. Jadi V, dan V, mempunyai normal yang sama, sedangkan jarak dari 0 ke V, adalah |p £d I (tergantung letak V, dari 0 dibandingkan V,). V,=xcosatycosB +z cos B+zcosy=Iptdl Karena R(x, , y, . z,) pada V, berarti terpenuhi x, cos @ + y, cos B + z, cos y= Iptdl Jadi d = 1 x, cos a+ y, cos B + z, cos yp | adalah jarak sebuah titik R(X, . y, , z,) ke bidang V, = x cos 0 + y cos z cos = p, atau jarak dua buah bidang V, dan V, yang sejajar. Kalau bidang mempunyai persamaan berbentuk : V, = Ax + By + Cz + D = 0 maka jarak R (x, , y, , z,) ke V, : Ax, + By, + Cz, +D NA+ B+ C CONTOH (1.11). Jarak titik (7 , 3 , 4) ke bidang 6x - 3y + 22-13 =0 6.7-3.34+2.4-13 adalah : d = | ————_— N 36+94+4 Jarak antara bidang V = x +y +z=2danW=x+y+2=5 dapat kita cari sebagai berikut : Kita pilih sebuah titik pada W, misalnya (0, 0 , 5), lalu kita cari jarak titik tersebut ke V : 1.0+1.0+1,.5-2 d Ni+t+1 1.10. PERSAMAAN BIDANG RATA DIKETAHUI MELALUI SATU TITIK Misalkan V = Ax + By + Cz + D = 0 melalui sebuah titik R(x, , y, , z,) maka terpenuhi : Ax, + By, + Cz, + D = 0 atau D =~ Ax, - By, ~ Cz, dan bila disubstitusikan ke V diperoleh Ax + By + Cz ~ Ax, - By, - Cz, = 0. Jadi bentuk umum persamaan bidang melalui 1 titik A(a - x,) + Bly -y,) + C@ -z,) = 0. CONTOH (1.12). Carilah persamaan bidang melalui (1, 1, 1) dan // bidang x + y +22 = 3. , 1) berbentuk : = 0,, dan karena // bidang B=1,C=2 Persamaan bidang melalui (1 , AQ - 1) + By - 1) + C@ x+y +2z2=3, berati A Jadi bidang yang diminta : &-D+tGy-D+2@ -1)=0 ata: x+y +2z2-4=0. 1.11. BERKAS BIDANG RATA Misalkan ada 2 bidang V, = 0 dan V, = 0 maka untuk 2, dan 2, skalar-skalar yang berubah-ubah, persamaan A,V, + 4,V, = 0 menyatakan kumpulan bidang-bidang yang berpotongan pada garis potong V, = 0 dan V, = 0 , yang disebut berkas bidang. Kalau dy # 0 maka berkas menjadi V, + AJA, V, = 0 atau V, + AV, = 0 poros berkas Bila V, = 0 dan V, = 0 sejajar maka bentuk V, + AV, = 0 menyatakan kumpulan bidang- bidang / / V, = 0 dan V, = 0, dan kita sebut berkas bidang sejajar. CONTOH (1.13). Carilah persamaan bidang V, yang mefalui titik (0, 0, 1) dan melalui garis potong bidang-bidang V, = x + y = I dan V,= x + 2y-z2=0. Maka dengan berkas bidang : V, = V, + 2 V, = 0 atau : xty—1+A(x + 2y—2) 30 (1 + Ax + (1 + 2A) y-Az—-1=0 dan karena melalui (0 , 0 , 1) berarti (1 + 4)0 + (I + 2A)0-2-1=0. Jadi 2 = -1 Maka V, = (1 ~ 1)x + (1 -2y -(Iz- 1 =O atuy~z4+1=0. 1.12. JARINGAN BIDANG RATA Pandang bidang-bidang V, = 0 , V, = 0 dan V, = 0 yang tidak melalui satu garis lurus yang sama (bukan dalam satu berkas). Bentuk V, + AV, + HV, = 0 menyatakan kumpulan bidang-bidang yang melalui titik potong ke 3 bidang V, = 0, V, = 0, V, = 0 itu. (Dalam gambar melalui titik T) dan kumpulan bidang-bidang tersebut disebut jaringan bidang. conten (1.14). Carilah persamaan bidang W yang sejajar bidang x+y +z= 1 dan melalui titik potong bidang-bidang =3,V,2y=4, V,=2=0 Jawab : Maka W : V, + AV, + BV. x-3+A(y-4)+pz=0 x thy + hz - (3 + 4a) @. Karena // dengan x + y + z= 1 bilangan-bilangan arah dari W adalah 1, 1 , 1 berarti X= 1 dan p = 1 (dari pers. (*) ). Maka (*) menjadi : x + y + z - 7 = 0. adalah persamaan bidang W yang diminta. 0 atau 1.13. GARIS LURUS DI R® Di dalam Tmu Ukur Analitik Ruang, garis lurus dinyatakan sebagai perpotongan 2 buah bidang rata yang tidak sejajar. Kita tulis, misalnya garis lurus g mempunyai persamaan : g: A,x+B,y+C,z+D,=0 A,x+B,y+C,z+D,=0 CONTOH (1.15). Garis lurus g mempunyai persamaan: x+y +2z-3 =0 2x-y-2z+1=0 maka g adalah garis potong dari bidang-bidang : Vi:x +y+2z-3=0 dan V,:2x-y-2z+1=0 1.14. MENCARI BILANGAN ARAH GARIS LURUS Pandang persamaan garis g : V, A,x+B,y+C,z+D,=0 V,=A,x+B,y+C,z+D,=0 Maka i, = [A,, B, ,C,],,={A,,B,,C,] Maka jelas bahwa vektor arah garis g adalah vektor ii, x ii, (atau ii, x Ti) Boo Iadip=[a,b,cl=| i jk |= | ap | & c |e B, A, B,C, B,C, A, Gl [A B, Ae Atau biasa ditulis sebagai berikut : a io A B, C, A B, A, BG A,B, b CONTOH (1.16) Carilah bilangan arah garis g : 2x +y+3z4+2=0 -x-y+2z+7=0 1.15. BEBERAPA BENTUK PERSAMAAN GARIS LURUS Dari bab 1 kita telah mengetahui persamaan parameter garis lurus di R? yang melalui AQ, , ¥, > 2) dan B(x, , y, , 2) : x =x, +A(x,- x) y=y,+Ay,-y) 2=2,+Mz,-z,) dimana x, ~ x, , y, - y, dan z, ~ z, adalah bilangan-bilangan arah yang sebanding dengan cosinus-cosinus arah. Jadi dapat kita tulis: x = x, +r cos & y =y, +r cos B z= 2, +1 cos ¥, 1 adalah parameter yang menyatakan jarak titik (x, , y, , 2,) ke titik (x , y , z) pada garis tersebut. Kalau parameter-parameter dilenyapkan, diperoleh persamaan linier : y-y 2-4, : an = : Persamaan garis melalui 2 titik wo at (x,y, 2,) dan (x, , y,, %) , asalkan tidak ada x, — x, , y, — y, ataupun z, ~ z, yang sama dengan nol. atau [oy ye 2 —— ———— : persamaan garis melalui satu titik cos G cos B cos Y dan mempunyai bilangan-bilangan arah a , b,c atau cosinus-cosinus arah cos a , cos. B , cos y yang #0. CONTOH (1.17). Carilah persamaan garis melalui (3 , 2, 1) dan (0, 1, 0). 14 x Maka persamaan Tiniemya : —— = ——~ = Bilangan-bilangan arahnya dapat diambil -3 , -1 dan ~1 . 71.16. GARIS DAN BIDANG RATA Pandang garis lurus dengan vektor arah (a , b , c] dan bidang rata Ax + By + Cz + D = 0 ( dengan vektor normal [A,B , C] ). Maka : (1). Garis / / bidang, berarti vektor arah garis tegak lurus vektor normal bidang, Sehingga syarat garis / / bidang : [a,b,c]. [A,B,C] = 0 atau Aa + Bb +Cc=0 (2). Garis tegak lurus bidang, berarti vektor arah garis sama (sejajar/berkelipatan) dengan vektor normal bidang. Sehingga syarat garis tegak lurus bidang : fa,b,cl=2[A,B, C] atau Afa = Bib = Cie (atau A=a,B=b,C=c). Pp g, gly giv g, pada (3). Garis terletak seluruhnya pada bidang, berarti vektor arah garis tegak lurus vektor normal bidang dan bila ditentukan suatu titik sembarang pada garis maka koordinat titik tersebut memenuhi persamaan bidang. [a,b,c]. [A,B,C] =0 > Aa+ Bb +Cc=0 dan Ax, + By, + Cz, + D = 0, untuk setiap (x, , y, , z,) pada garis. x-3 y+2 CONTOH (1.18). Buktikan bahwa garis g : = =— ey 3 _ sejajar bidang x + y +z +7=0. Karena Aa + Bb +Cc=12+1-3+11=0 maka benar garis tersebut sejajar bidang ; namun tak terletak pada bidang, sebab suatu titik misalnya (3, -2 , 0) pada garis tak memenuhi kalau kita masukkan ke persamaan bidang x + y +z + 7 = 0 tersebut. 1.17. GARIS HUBUNG TERPENDEK DAN JARAK DUA GARIS BERSILANGAN Pandang 2 garis lurus g, : eet dan & Veco} v,=0 4 Bentuk: V, + AV, V, + BV, 0 } (A dan p parameter ) menyatakan garis-garis lurus yang memotong g, dan g,. Maka dengan memilih 4 dan 1 tertentu kita dapat menentukan garis hubung ter- pendek (garis tegak lurus persekutuan) antara g, dan g,. CONTOH (1.19). Carilah garis hubung terpendek antara garis-garis : g,:x=0 dang, :xt+y=1 y=0 x+z=0 Kita kerjakan sebagai berikut : Sebut g, garis hubung terpendek dari g, dan g, maka gix+ay=0 xty-L+pix+z=0 dengan syarat g, 1 g, dan g,. Bilangan-bilangan arah g, : 0 1 0 1 oO. 0 1 Bilangan-bilangan arah g, : i fo a. =1,b2-1,¢6 =-1 1 0 1 a ; ° Bilangan-bilangan arah g, : 1h O 1 2, I+] op l+pt g, Lg, berarti aja, + b,b, + cc, 2, Lg, berarti aa, + bb, +c,c,=0-> M+ H-1+4+Ap=0 Dari (1) dan (2) diperoleh 2,=1 , w,=0 dan 42-2, = Jadi kita peroleh g, perpotongan bidang-bidang : x + y =0 ) dan x-y=0 } (**) Karena bidang-bidang pada (*) adalah -x+y-22-1=0 sejajar (berpotongan di e> ) maka sebagai g, kita peroleh : Jarak 2 garis bersilangan : Kita peroleh dengan membuat sebuah bidang melalui salah satu garis dan sejajar garis yang kedua. Kemudian dari garis kedua tersebut kita pilih sebuah titik dan kita tentukan jarak dari titik tersebut ke bidang yang kita buat tadi. CONTOH (1.20). Dari contoh (1.19) di atas kita hendak mencari jarak g, dan g, . Misalnya kita buat sebuah bidang melalui g, dan // g, . 8 Jarak / Sebut bidang itu V, maka V = x + Ay = 0 dan karena // g, , normal bidang harus : a,.1 +bA+¢,0 = 0 atau L1+(IA=03 A=T Jadi V=x+y=0. Pilih sebuah titik pada g, misalnya (0, 1, 0) dan kita cari jarak dari (0 , 1 , 0) ke bidang Vext+y=0. Ax, + By, +Cz,+D 1 1 @ = 2s i = NF; jarak yang diminta. V A? + B?+C? oe 2 1.18. SOAL-SOAL DAN PEMECAHANNYA , 0], k= [0, 0,1] adalah vektor satuan yang kxi,ixt,jxj.kxk Penyelesaian : Dengan sistem tangan kanan ixj = {1ilIJL sin 90°} jxk= (IjlIkI sin 90°} kxiz= {IkIlil sin 90°} Juga dengan mudah kita dapat ei jxizk.ixj sedangkan ix i=jxj=kxk karena sin 0° = 0. CONTOH (1.22). Buktikan bahwa : 4 x (b + ¢) = (ax b) + (@x 0). Bukti : (1). Hal khusus dimana a Lb dana 1 ©. Karena a1 b — (@xb) 1 bidang (a, b) dengan |x bl = 1allb/sin90°=1a1151 Jadi 4 x b ekivalen dengan mengalikan vektor b dengan | | lalu merotasi- kan 90° sesuai dengan gambar. ax(b+0) Demikian pula halnya untuk a x ¢ dan a x (6 + ©). Karena a x (b + 6) adalah diagonal jajaran genjang dengan sisi-sisi 4 x b dan x ¢ maka ax(b+a=(@xb)+xo 18 (ii). Hal umum : Uraikan b menjadi 2 vektor b, 1 4 dan b, // a , dimana b = b, + b,. Kalau y sudut antara & dan & maka b, = 6 sin y sehingga la x by! = [l(b sin yi = [al Ibl sin y= lax 6. Juga arah daria x 6, = arah dari a x 6. Jadi ax b, = 4x6. Hal yang sama dikerjakan terhadap & , berarti a x &, pI » oO Karena b - b, + 6, +6, +, = (b, +) + (b, +B) maka a, + @, +6) =ax (+0). Karena‘ dan c, tegak lurus a maka (menurat bukti (1)) di atas a x (6, +, =@xb)+@xe) 3 ax(b+9=G@xb+GxD Secara mudah berlaku pula (6 +0) x a= (bx a) +(€ +a) (1.23), Buktikan bahwa bila a= a, , a, , a,] , b = [b, , b, , b,] maka axb= ji jk | ay ay by b, b, b, Bukti : =[a,, a,,a) =a,itaj+ak dan 5 = [b, , b, , b) bit bj + bk. Berdasarkan (1.22) : axb=(@i+aj+ak x i+ bj + bk = (aix bi + (ai x bj) + @i x BH + (aj x bi) + (aj x by) + (aj x bk) + (ak x bi) + (ak x bj) + @E x bk) Dengan melihat hasil pada soal 1.21 di atas, didapat seterusnya a x b = a,b,k — a,b,j - a,b K + a,b, + a,bj - a,b, = 1 fb, -ap,) -j @b, — ab) +k (a,b, - a) opt wec Pomel = 1 ~ (1.24). Carilah vektor yang panjangnya = 1 dan tegak lurus vektor-vektor a = (1,2, dan b=(0,1, 2). Penyelesaian : Cross produk 4 x 6 dan b x 4 akan menghasilkan vektor yang Ladanb. axb=)i j ky) = B,2,0 C27 O12 B,2,0 1 ——— 32) Vo+441 V4 c= [3,2;- 1 danc = ——————— = -3,2,-). V94+441 v14 (1.25). Kedudukan istimewa manakah dimiliki bidang-bidang berikut, gambarlah pada suatu koordinat siku-siku. @) x = 2 Gi) x+z=4 (iii) x+y - 2 Penyelesaian : (i) Bidang x = 2y atau x - 2; konstantanya = 0 , berarti melalui sumbu Z dan g XOY adalah x-2y=0 a 0 tidak mengandung z dan s potongnya dengan bidang Bidang x - 2y =0 garis x-2y = 0 2=0 20 (ii). x +2 =4 ; karena tidak mengandung y berarti // sumbu Y dan garis potongnya dengan bidang XOZ adalah garis x + 2 = 4 y=0 (iii) x + y-z=0, konstantanya = 0, bidang harus melalui 0(0 , 0 , 0). Garis potong dengan XOY adalah x + y = 0 x=0 dengan XOZ : x -z=0 } dan dengan YOZ : y-z y=0 x+y=0 (1.26). Tentukan jarak dari titik (0 , 0 , 0) ke bidang 3x + 2y — z = 2 dan juga jarak titik (1 , 1 , 2) ke bidang tersebut. Penyelesaian : Jarak dari (0 , 0 ,0) : 3.0+2.0-1.0-2 2 2 d= ——______- | = J—-] = —— NV P+Pee N14 vi4 24 (1.27). (1.28). (1.29). Jarak dari (1, 1,2) : 34421-12-2 1 Al 42402 Ni4 Cari persamaan bidang melalui P(1 , 0 , -2) dan tegak lurus ke 2 bidang V, = 2x +y =2=2dan V,=x-y-2=3. Penyelesaian : Persamaan bidang melalui (1 , 0 , -2) : V = A(x -1) + By +C @+2)=0 V LV, jadi 2A +B-C=0 V LV, jadi A-B-C=0 Kita jumlahkan (1) dan (2) diperoleh 3A = 2C atau A = 2/3C dan dari (2) diperoleh B = — 1/3C. Jadi persamaan V = 2/3C (x ~ 1) - 1/3Cy + C @ + 2) = 0 atau 2x - y 432+ 4=0 Cari persemaan bidang yang / / 2x — 3y ~ 6z = 14 dan berjarak 5 dari titik ©, 0,0). Penyelesaian : Karena / / dengan 2x ~ 3y ~ 6z = 14,, vektor normal bidang tersebut [A , B , C] = [2 , -3 , -6] , sebut bidang tersebut W , maka W = 2x — 3y - 62+ D =0. Jarak (0 , 0, 0) ke bidang W : D = 5 (diketahui) D y V44+9+ 36 Jadi D? = 49.25 atau D = +35. Jadi W = 2x ~ 3y — 62 £35 =0 Carilah persamaan bidang melalui A(2, 1, 2) , (0, 0 , 0) dan tegak lurus bidang 2x-y+z+2=0. Penyelesaian : Bidang melalui (0 , 0 , 0) maka D = 0 Bidang melalui (2 , 1 , 2) maka 2A + B + 2C = 0, dan tegak lurus 2x - y + z+2=0, maka2A-B+C=0. Dari ke 2 persamaan di atas kita peroleh A =~ ¥,C , B =~ '/,C. Maka persamaan bidang tersebut V = — ¥,Cx -'/,Cy + Cz = 0 atau 3x + 2y — 42 =0. (1.30). (1.31). (1.32). (1.33). Carilah persamaan bidang melalui sumbu Z dan tegak lurus bidang Wex-y-72=3. Penyelesaian : Sumbu Z adalah garis potong bidang x = 0 dan y = 0. Kita pergunakan berkas bidang x + Ay = 0,, yaitu kumpulan bidang-bidang yang melalui sumbu Z . Karena L W berarti: A,A, + B,B, + C,C, = 0 atau 11-12 -10=0 9A=1. Maka persamaan bidang tersebut x + y = 0. Carilah bidang yang melalui titik potong bidang-bidang V, =x -y+2z=3, V, =2x- Sy - 7 = 12, V,= 3x + 2y-2=5. dan sejajar bidang V, = 3x ~ y = 4. Penyelesaian : Kita pergunakan jaringan bilangan : V, + AV, + HV, =0 x -y- 22-344 (2x Sy — 72 — 12) + Wx + 2y-2- 5) =0 > (1+2A43p) x + (CL - 5A + 2p) y + (2 TA) z+ 3 — 20-5) =O. Karena juga // V, : ia berbentuk 3x - y + D = 0. Berarti : (1 + 2A + 3) = 3, C1 - 5A + 2p) =-1 dan (-3 - 124 - 5p) = 5. Dari ke 3 persamaan di atas diperoleh bidang yang diminta 3x - y - 155/19 = 0 atau 57x - 19y - 155 =0. Tentukan persamaan garis Iurus melalui titik P(1 , 2 , 2) dan // garis 9 : 3x — y= 2€y-2=22-5. Penyelesaian : Kita jadikan g sebagai garis potong 2 bidang : Roysm-5} atau 3x-y~2z2+5=0 2y -2= 22-5 dy -324+5 =0 Kita mencari bilangan arah dari g: 8 fied) opi a 0 2 3 0 2 | =6 . Karena garis yang diminta // g maka mempunyai 2) 7-2 3/=9 =o 10) vektor arah [7 , 9 , 6] dan karena melalui (1 , 2 , 2), persamaannya : x-l y-2 2-2 7 oo 6 Carilah persamaan bidang W yang tegak lurus pada potongan garis AB, dimana A(-3 , 2, 1) dan B(9 , 4, 3) serta melalui tengah-tengah AB. Penyelesaian : Misalnya tengah-tengah AB kita sebut C, maka 3 +9 2+4 14+3 Ye 8 RES = 2. €B,3,2). 23 (1.34). (1.35). (1.36). 24 vektor arah garis AB adalah [a , b, c] dimana : Jadi persamaan bidang W yang melalui (3 , 3 , 2) dan 1 garis dengan vektor arah [12 , 2 , 2] (berarti vektor tersebut adalah normal dari W), ialah W = 12(x = 3) + Ay - 3) + Aw-2)=0 atau 6x + y +2- 23 =0. Tentukan titik tembus garis g: x +y-1=0 } 2x -3y+z=5 pada bidang 2x + y + 5z+7=0. Penyelesaian : Di sini kita mencari harga-harga x , y , z yang memenuhi ke 3 persamaan : x+ y-1=0 det(a) = 1 1 0 =-16-8=-24 2x-3y +2=5 2-3 1 (dengan aturan 2x +y +524+7=0 2 1 5 CRAMER): 1 1 0 1 1 0 11 5 3 1 2 5 1 273 7 1. 5 247 =5 201 =2, y= =-l, z= 24 24 24 Jadi titik tembus (2 , -1 , -2). Carilah persamaan bidang V yang memuat garis-garis : mo tye ee x-1_y#1 _ 2-2 a ee Penyelesaian : Jelas g, dan g, sama-sama melalui titik (1, -1 , 2) , demikian pula halnya V , jadi V = A(x ~ 1) + Bly + 1) + C(z - 2), demikian pula halnya V, jadi V = A(x - 1) + Bly + 1) + C@~-2)=0 8, pada V berarti : 4A + 2B + 3C =0 g, pada V berarti : SA+4B+3C=0 dan dari ke 2 persamaan ini kita peroleh A=-2B,C= 2B. Jadi V = -2B(x - 1) + Bly + 1) + 2B(z - 2) = 0 atau 2x +y +2z-1=0. Bagaimanakah kedudukan garis g,: 2x + y + 3z x+y-2z ee . (1.37). dan g,: [x,y ,2]=[-4,8, 4]. +2[-5,7 1]. Kemndian hitung jarak g, dan g,. Penyelesaian : Vektor arahg,: 2 { 3 2 1 » yaitu [-5 7, 1] Temnyata g, // g,. Untuk mencari jarak antara 2 garis sejajar dapat kita lakukan sebagai berikut : ~ Membuat bidang W tegak lurus g, (sekaligus tegak lurus g,) melalui suatu titik P sebarang pada g,. ~ Kita tentukan titik tembus g, pada W, sebut titik Q , maka panjang potong garis PQ adalah jarak g, dan g,. Disini kita tentukan lebih dahulu titik P sebarang pada g, , ambil 2 = 0 3 x = -1,y=0,P(1,0,0), Bidang W melalui P dan tegak lurus g,, W = -5 x + Ty +=5 Titik tembus g, pada W adalah Q (1, 1 , 3). Maka Jarak g, dan g, addlah | PQ1 = (\[+ 1+ -0 + GOP Vi. Tentukan persamaan garis g yang melalui P (1, 1, -3) dan sejajar. bidang V = 0 serta bersilangan tegak lurus dengan Penyclesaian : Vektor arah dari m: 1 04 013 g melalui P (1, -1 , -3) berarti berbentuk : : 1 a = = cas dan karena // V berarti tegak lurus pada a normal V :2a+b-¢ =0 wu. @ Karena g 1m maka berlaku : 4a 3b +¢ = (2) Bila persamaan (1) dan (2) diselesaikan kita dapat b = 3a, ¢ = Sa. z+3 Sa 25 1.19. (1.38). (1.39). (1.40). (1.41). (1.42), (1.43). (1.44). (1.45). (1.46). 26 SOAL-SOAL UNTUK LATIHAN Carilah jarak dari pusat 0 ke titik P bila : @ PQ,3,4); Gi) PC1,2,-30; Gi) PO,0,7; (iv) P(m,2m,3); (vy) P(,1,1); Wi) PCI,2,1); (vil) P@,2,-D; (viii) P (@ , 2a, 3a) Jawab : (1) V29; Gi) VI4; Gil) 7; Gv) NS +9p (WB; (vi) V53; Gi) V6; — (will) a4, Periksa apakah ke 3 vektor @=(2,1,4) , 6=(2,0,~1],¢=[4,1,3] membentuk sebuah segi tiga siku-siku. Carilah sudut-sudut dan Iuasnya. (Jawab : Ya , ¥, ¥I05). Carilah cosinus arah dari vektor V apabila : @ V=(2,1,-2],@¥=(2,-12], Gi) P2,1,2),Q0,0,-3); (iv) P(,1,1),Q2,3,49; () PCL,0,-2,Q0,-3,—4). Gawab : (i) 6V; (ii) V3; 3N3; (iv) V4; V14). Carilah jarak antara P dan Q bila @ P6,7,9,Qd1, 13, 9 Gi) P(2,1,2), Q0,0,-3); (vy) P(-?,0,-2),Q0,-3,-4). Gawab : (i) 6V2; i) V3; Gi) 3N3; (ivy V4 5 (W) V4 +d. Gi) P2,3,4), QG.4,5); dv) P(1,1,1), Q@,3,4) ; Tentukan tengah-tengah PQ pada soal 1.41 (Jawab: (8 , 10 , 9) , (24, , ELA Gg 4). (My ys), 2,2), Ch Ih, 3). Diketahui titik-titik P (1, 1, 1) dan Q 2,3, 4). Titik R 3, y , z)-terletak pada garis lurus PQ. Tentukan y dan z. (lawab : 5,7). b © Dengan produk vektor, buktikan rumus sinus ——- = — : sin @ sin B sin Y = Carilah luas segi tiga ABC yang dibatasi oleh AC = (2, 0 , 3} dan BC = (3,2, 1] . (Petunjuk : Ingat luas segi tiga ABC = ', AB sin 1). Jawab : /, Y101 ). Hitunglah a x b bila: @) @=(2,-1,-4], b=[1,-2, 1] Gi) a= (3,3, 3).b=[2,0, 2]. Gawab: [-9, 2, -5], [6,0, -6] ). (1.47). Untuk a dan 6 pada soal 1.46, carilah € yang | 4 dan 6 dan panjangnya 1. Gawab + IN 110 [-9 , 2 , 5], + 1N72 [6 , 0, -6). (1.48). Buktikan bila 2 =[ a, , a, a), b= [b,,b,,bJ,2=[c,,¢,.¢] @a-.OxD= J} a a b, b, b, 2 & cy a. (6 x), harga mutlaknya menunjukkan volume paralel-epipedum yang dibatasi oleh &, 6, & (iii) Cari volume paralel-epipedum yang melalui (0 , 0 , 0), (3,-1,0), (0, 1,2),(1,5,4). (awab. 20). (1.49), Dari bidang-bidang berikut, carilah vektor normal, bilangan arah dan cosinus arahnya: (i) 2x+3y-z=0, (i)2y-z=3, Gi) x+z=1. Gawab. (i) (2,3,-1),2N14, 3N14,-1V14, (ii) (0,2, -11, 0, 2N5, Gil) (2,0, 1], 2N5 (1.50). Ubablah bidang-bidang pada soal 1.49 ke dalam normal dari Hesse. Lalu tentukan jarak titik 0 ke bidang-bidang tersebut. Gayo ee ee Ee op 2 Satya ve 79° Os ae tae 2x z 1 B + "ws (1.51), Cari persamaan linier bidang x = [-1,2,1]+2(2,1,+nH01,3, 0. Gawab. 2x +y - 52-5 =0). (1.52). Carilah sudut antara bidang V = 4x = 2 dengan bidang W = x - 2y + 22 =0. Gawab. arc cos 2/3) (1.53), Tentukan persamaan bidang yang memotong sumbu-sumbu dengan OA = 1, 0B=4, OC=2, bila A, B, C berturut-turut titik pada sumbu X,Y, Z positip. (Jawab. x/1 + y/4 + 2/2 = 1). (1.54). Carilah persamaan bidang : (1) melalui (1, -2 , 3) dan sejajar bidang x - 3y +2z=0 (di) melalui (1, 1, 1) dan tegak lurus pada bidang-bidang x - y‘- z= Odan 2x +3y +z=2 (iii) melalui (0, 0, 1) dan (2,3 , 1) serta tegak lurus pada bidang XOY. (Jawab. (i) x — 3y + 2z - 13 = 0 (ii) 2x - 3y + 5z- 4=0 (iii) 3x - 2y = 0). a7 (1.55). (1.56). (1.57). (1.58). (1.59). (1.60). (1.61). (1.62). Hitung jarak antara titik (3 , 2 , 0) dengan bidang 3x — 2y + 52 =7,, juga jarak = bidang 3x - 2y + 5z = 9 dan bidang 3x — 2y + 5z=7. (Jawab. 2/V38; 238). Cari persamaan bidang melalui : (1) sumbu X dan tegak lurus bidang 2x - 3y -2=5 (ii) garis potong bidang-bidang 3x — y = 2 + z dan 2x + 3y — 32-5 = 0 serta melalui titik 0 , 0 , 0). (awab. (i) y-32=0; (ii) 11x - lly +2 =0). Tentukan bilangan arah garis-garis berikut : (i) x + y + z = 2 dan x-y-z=3 (ii) 2x-y=3danx-y+2z=1 (iii) x=2 dan 2x-y+ Se ee -2. (Gawab.0,2,-2;2,4,1; 0,1,1; 1,0,1). Tentukan persamaan garis lurus yang melalui P dan tegak lurus bidang V : () PQ,3,4) dan V=3x-y+z=2 (ii) P(,0, 0) dan V = 5x -2y + 32 = 3. ve Se Tentukan persamaan garis lurus melalui P dan // garis g (i) PO, 0 , 0); gix+y+z=2 dan 2x-y-z=4. (ii) P(1,3,0); g:x=2x+3dany=3z-2. (Jawab. x=O,y+z= (Jawab. oi ae a 2 3 Tunjukkan bahwa ke 2 garis : g:2x-y+z=0, 2x-3y+6=Odan m:2¥+Z+3=0, 4x-2y+ 2x + 8 = 0 adalah sejajar. Kemudian hitung jarak mereka. (Jawab. 22 ). Carilah titik tembus 1 dengan V bila (i) 1: x + 2y - 2 = 6 dan 2x-—y + 3z= =13 dengan V = 3x - 2y +3z+16=0; @® 1:x= 1 dengan V=x-y+z=3; (iii) 1;x-y-z=Odan -2x + 2y + 5z = 3 dengan V = 3x + dy + 52 = 15 Gawab. @) C1,2,-3) Gi) @,2,3) Gi) @,1, 1. Carilah persamaan linier bidang yang memuat garis-garis es p50 .2 2 x-3 y+2 2 = =— dan m: = = 1 2 3 2 1 3 (awab, 3x-9y + 5z2-27=0). a (1.63). (1.64). (1.65). (1.66). (1.67). (1.68). (1.69). Carilah garis yang melalui P(3 ,-1 , 4) dan tegak lurus ke 2 garis yang bilangan arahnya 2, -1 , 3 dan 2,-3, 2. x-3 y+l 2-4 Jawab, ~~ = 27 = (Jawad. ; ea Carilah persamaan garis melalui titik P(I , 3, 1) dan memotong tegak lurus garis g:x-z+1 =0 y+2z=3 ). x-1 Carilah juga jarak P ke garis g. (Jawab. » UNI. Ditentukan titik AQ, -1, 4), BO , 6 , 4) dan C(2, 0, 0). Diminta untuk menentukan sebuah titik D pada sumbu X sehingga AC tegak lurus ganda-BD. Tentukan jarak AC dan BD. (awab. D(-5 , 0 , 0) , 28/V33). Carilah persamaan garis lurus yang terletak pada bilangan V =x + 3y-2+4=0 dan memotong tegak lurus garis 1: x - 2z = 3 dany -22=0 (Jawab. Tentukan persamaan garis yang memotong garis-garis 1, : x + y = 4 z=4 dan 1, :x- 0 dan J 1,:x=y = 4-2. y=4 (Jawab. x + y + 22 = 12, x-2y—-z=-8). Tentukan persamaan garis hubung terpendek antara garis-garis : Laxt+y=4 9 danljix=y=z z=0 (Jawab. x +y +2=4,x-y=0). Tentukan jarak antara garis-garis g, : x ~ y = 0 x+y+z2=4 dengan g,;x+y+4=0 z=0 8 (awab. a v3) BIDANG LENGKUNG DAN GARIS LENGKUNG DI DALAM RUANG 2.1. PERSAMAAN GARIS DAN BIDANG LENGKUNG Pada sistim koordinat Cartesian XYZ suatu bidang (surface) dinyatakan sebagai sebuah persamaan yang terdiri dari 3 variabel x,y,z. Bidang nyata misalnya mempunyai persa- maan derajat pertama F(x,y,z) = Ax + By + Cz + D = 0. Suatu titik (x,.Y,,2,) terletak pada suatu surface F (x, y,z) = 0 apabila terpenuhi F(X ¥o%) = 0. Suatu garis lurus/lengkung di dalam ruang biasanya dinyatakan sebagai perpotongan 2 buah bidang, yang berarti dinyatakan dengan 2 persamaan f(x,y,z) = 0 dan G(xy.2) = 0. QA.1. Persamaan :(x-1)? + (y-2)? + (2-3)? = 14 ; adalah v+yteel persamaan garis lengkung yang berbentuk lingkaran (sebagai hasil perpotongan 2 buah bola). 30 2.2. PROYEKSI GARIS LENGKUNG PADA BIDANG KOOR- DINAT Pandang bidang dengan persamaan F(x,y) = 0. Di sini persamaan bebas dari variabel z. Persamaan tersebut menyatakan suatu bidang silinder yang garis lukisnya // sumbu 2. Sebagai garis lengkung arah dari bidang silinder itu, adalah perpotongan bidang silinder dengan bidang koordinat OXY persamaannya F(x,y) = 0 \ sedangkan bidang2 z=0 berbentuk F(x,z) = 0 dan F(y,z) = 0 berturut-turut menyatakan bidang silinder yang // sumbu y dan // sumbu x. 2.2.1. Persamaan x? + y? = 9 menyatakan sebuah silinder dengan garis lengkung arah sebuah lingkaran berpusat dititik 0(0,0,0) berjari-jari 3 dan garis lukisnya // sumbu z. ony H/ Foxy.2)=0 ¢ aEaGial Garis proyeksi H(x,y)=0 x0 3t Pandang garis Jengkung { F(xy,z) =0 — (*) dan misalkan 6 (x,y) = 0 G(xy,z) = 0 diperoleh dengan mengeliminir z dari (*). Maka \$ (x,y) = 0 menyatakan bidang silinder yang // sumbu z dan melalui garis lengkung (*). Jadi jelas perpotongan @ (x,y) = 0 dengan bidang XOY, yaitu (x,y) =0 z=0 menyatakan proyeksi dari garis (*) pada bidang XoyY. Dengan cara yang sama kita eliminir x untuk mendapatkan proyeksi pada bidang YOZ dan kita eliminir y untuk mendapatkan proyeksi pada bidang XOZ. 2.2.2. Perpotongan 2 bola menghasilkan lingkaran : qa) . @tyezel . 24(y-1)4(z-1)? = 1) Carilah proyeksi lingkaran itu pada bidang ta mencari silinder proyeksi dengan mengeliminir Z. Kurangkan pers. (1) pada pers. (2) didapat : y+z=1->2=1-y...... (3). Masukkan (3) pada salah satu dari (1) atau (2) didapat x2+2y?-2y = 0, Maka proyeksi lingkaran pada bidang XOY adalah. we2y22y = 0 z = 0) Yang mana dapat dijabarkan kebentuk standard x (=F . 7 *t a> = | suatu ellips dengan setengah sumbu 2 dan /,. - , 2.3, BOLA * Persamaan standard bola adalah S : x? + y? + z? =r , pusat 0(0,0,0) jari-jari r. ** Apabila pusat adalah titik M(a,b,c) dan berjari-jari r, persamaannya adalah (x-a)? + (YY + @P =P Persamaan umum bola dapat ditulis : x? + y? + 2? + Ax + By +Cz+D=0 -1 Sl -l 1 1 1 dimana : titik pusat M (— A, > B, ~5 C) jari-jari = |. 2.4. (i) Persamaan bola dengan pusat 0(0, 0, 0) dan jari-jari 7 adalah x + y? + 2? = 49 (ii) Bola dengan pusat M(-2, 3, 1) dan jari-jari 2 mempunyai persamaan (x+2)? + (y-3) + 1 = 4 atau x? + y? + 2? + 4x - by -2x + 10 = 0. (iii) x? + y? + 22 — 4x + 2y + 7 = 0 mempunyai pusat + B, —C) = (2, -1,0) dan jarijari = 4 +1+0-7=\-2. 2 32 Di sini bola adalah bola imaginer karena ? = -2 <0 Dalam hal P > 0 dan P = 0 berturut-turut disebut bola sejati dan bola titik. CATATAN (1): Pada hakekatnya bola adalah perluasan dari lingkaran (di R?) maka banyak sifat-sifat dan dalii-dalil dari lingkaran dapat diperluas untuk bola, antara lain: * Persamaan bidang singgung dititik singgung P (x,, y,, z,) pada bola adalah (ingat kaidah membagi adil) ; (xx+yy+z2=9, atau (2) (x,-a) (x-a)4(y,-b)(y-b)H(z,-€) (2) = (3) xx,tyy,+22,4,A (x+x,) +.B (yty,) + % C (ztz,) + D = 0. Persamaan garis kutub dari lingkaran diperluas sebagai persamaan bidang kutub dari bola dengan titik kutub. POY 2,35 ()xxtyytzz=P (2) (x,-a) (x-a) + (yb) (¥-b) + @-*) (2-0) =P (3) x,x+y,y422,44,A (x+x,) +, B (y4y,) +, C Z+z,) +D=0 Kuasa sebuah titik P(x,,y,,2,) terhadap bola ; melalui titik P dibuat garis yang memotong bola berturui-turut dititik A dan B maka PA.PB ternyata konstan dan harga yang Konstan ini disebut kuasa titik P terhadap bola S = 0 Kalau jari-jari bola r : PAPB = (PM-t) (PM4r) = PM? - 2 = PO? Sedang PM? = (x, — a)? + (y,- b)? + (z,~ o). Jadi kuasa adalah : (x, a)? + (y,- b) + (z,- c - P= S (x, y,2,). 0 P(X pY 2) 2.5. Kuasa titik (4,1,0) terhadap bola B x’4 y? + 27+ 2x—y +2z=7 adalah: et Yi +2,4+2x,-yt2,-7=474+12+04+24-14+0-7517. * Kalau kuasa titik P yaitu: K > 0 maka P di luar bola K = 0 maka P pada bola. K <0 maka P di dalam bola. 2.6. Periksa letak titik P(2,1,3) terhadap bola B = x? + y?+ x?- 2x+y-z+2= 0, Maka kuasa titik P pada bola. K = (2)%#(1)?+(3)?-2(2)+(1)-(3) + 2 = 10 > 0, Jadi titik P terletak di luar bola. CATATAN (2): Bidang kuasa dari 2 bola B, = 0 dan B, = 0 adalah tempat kedudukan titik-titik yang kuasanya terhadap B, = 0 dan B, = 0 sama, persamaan bidang kuasa : B, = B,. CATATAN (3) : Titik-titik yang mempunyai kuasa yang sama terhadap ke 3 bola B, = 0, B, = 0 dan B, = 0 terletak pada sebuah garis lurus yang disebut garis kuasa. Persamaan garis kuasa : B, = B, = B,. CATATAN (4) : 4 buah bola B, = 0, B, = 0, B, = 0 dan B, = 0 yang tidak melalui dua titik potong yang sama akan mempunyai sebuah titik yang kuasanya terhadap ke 4 bola tersebut sama. Titik tersebut disebut titik kuasa dan koordinatnya diperoleh dari persamaan-persamaan : B, = B, = B, = B,. CATATAN (5) :_ Berkas bola. Kumpulan bola-bola yang melalui perpotongan dua buah bola B, = 0 dan B, = 0 disebut berkas bola dan mempunyai persamaan : B, + A B, = 0. (X= parameter). Untuk setiap harga tertentu, diperoleh sebuah bola yang melalui perpotongan B, = 0 dan B, = 0 dan disebut anggota dari berkas tersebut. 2.7. Persamaan bola yang melalui 0(0,0,0) dan melalui lingkaran perpotongan bola- bola B, = x+y? + 2-2x-24=0 dan B= x+y? + 2+x-6y-12=0 adalah : B,+AB, =O xt+y?+22-2x-M +A (P+ y+ 22+ x - by - 12) =0, dan karena melalui 0(0,0,0) maka : -W-120=0324 Jadi bola tersebut : xtty'+ 2+ 4x — 12y = 0, CATATAN (6) : Jaringan bola, Pandang 3 bila B, = 0 , B,= 0, , B, = 0 yang tidak terletak pada satu berkas yang sama, Kumpulan bola-bola yang melalui titik potong ke 3 bola tersebut disebut jaringan bola dan mempunyai persamaan B, + 2B, + » B, = 0 (A dan p parameter-parameter). 34 CATATAN (7): Persamaan berkas bola yang menyinggung suatu bidang V = 0 dititik P(x,,¥,2,) Mempunyai persamaan : Ox, ¥ + (-y,? + (Zz, +4 V=0. 2.8. Ditanya persamaan bola yang melalui titik (0,0,0) dan yang menyinggung bidang Vex+y+z=1 dititik (0,01) Berkas bola ; (x-0)? + (y-0)? + (2-1 + ¥ (xty+z-1) = 0. Karena melalui 0(0,0,0) diperoleh 4 = 1. Jadi persamaan bola tersebut : x7 + y?+2*7+x+y-z=0. CATATAN (8): Bola-bola yang menyinggung garis g: V, = 0 v,=0 dititik (x,,y,,2,) membentuk jaringan bola : (x-x,? + (y-y,)? + (2-2, +2-V, + BV, = 0, CATATAN (9): Dua bola berpotongan tegak lurus. Bola B, dan B, dikatakan ber- potongan tegak lurus apabila kedua bidang ruang di sembarang titik pada lingkaran potong saling tegak lurus, selalu berlaku, r,? + = (M,M,)*. Kuasa M, tethadap B, adalah + 12, Kuasa M, terhadap B, adalah + 1,2. CATATAN (10) : Bola B, membagi dua sama bola B, jika bola B, melalui lingkaran besar bola B,. Di sini berlaku : MM2, = r, - 1, 35 2.4. TEMPAT KEDUDUKAN, BIDANG SILINDER, BIDANG KERUCUT, BIDANG PUTAR DAN BIDANG ATUR TEMPAT KEDUDUKAN (TK) : Adalah kumpulan titik-titik atau garis-garis yang memenuhi suatu hubungan tertentu. Secara umum soal-soal mengenai TK dapat dibagi 3 golongan : (a). 29. B). 36 Diambilkan titik sembarang (x,y,,2,) pada TK tersebut. Dari hubungan-hubungan yang ada dapat disimpulkan suatu hubungan antara XyYo% dengan bilangan-bilangan yang diketahui, lalu dengan membuang indeks 0 (nol) tersebut diperoleh TK yang diminta, Cari TK titik-titik yang berjarak a dari bidang OYZ dan untuk mana jumlah dari kwadrat jarak ketitik (b,0,0) dan (—b,0,0) adalah tetap (= c?). Maka ambil sembarang titik (X,,yy2,) pada TK maka syarat (1) , x, = a dan syarat (2) : (xpd) yQ2+ 22, (Xt b+ yt z,? = c? atau 22,2 + 2y,2+ 22,2 = c? — 2b. Jadi hanya tinggal hubungan antara x,y4x, dengan a,b,c dan dengan membuang indeks (disebut menjalankan titik (x,y,,2,) diperoleh TK : xa 2x? + 2y* +22? = c?— 2b? suatu lingkaran perpotongan bidang x = a dan bola berpusat (0,0,0) jari-jari Niece Ada satu atau lebih parameter-parameter, dicari hubungan antara x,y,z dengan parameter-parameter tadi, lalu parameter-parameter dieliminir. 2.10. ©. Cari TK garis kuasa bola-bola B, = x? + y* + = 1, B, yang melalui (0,0,0) berpusat di (0,p,1) B, melalui (0,0,0) pusat (1,0,p) persamaan B, : x? + y? + 2? = 2py - 2z = 0 dan B, : x+y? + 2? 2x ~ 2pz = 0. Persamaan garis kuasa : B, = B, = B, atau 1 = 2py + 2z = 2x + 2pz. Jadi Kombinasi dari (A) dan (B), misalnya bidang silinder dan bidang kerucut. BIDANG SILINDER : Adalah TK garis lurus-lurus yang saling // dan selalu memotong suatu garis tertentu. Untuk mencari persamaan suatu bidang silinder kita lakukan kombinasi dari (A) dan (B) di atas. Cari persamaan silinder dengan garis lengkung arah sebuah lingkaran pada bidang z = 0 berpusat di (0,0,0) dan jari-jari 3, sedang garis lukisnya berarah [2,1,1]. ‘Maka lingkaran arah silinder adalah perpotongan bola x? + y? + 2? = 9 dan bidang z= Oat: +y?+2=9 7 Ambil sembarang titik (x,,y,,0) pada lingkaran, berarti terpenuhi x,’ + y,? = (*). Persamaan garis lukis melalui (x,,y,,0) berarah 2.1,1 adalah [x,y,z] = Lay) +A [ 241] ; dan dengan mensubstitusikan ke (*) diperoleh : (x - 22) + (y — z) = 9 atau x? + y? + 52? — 4xz — 2yz = 9 adalah persamaan bidang ‘silinder yang diminta. 37 oo 38 BIDANG KERUCUT : Adalah TK garis-garis yang melalui sebuah titik tetap tertentu (disebut puncak) dan selalu memotong sebuah garis lengkung tertentu (disebut garis arah). Misalnya hendak mencari persamaan kerucut berpusat di T (1,1,2) dan baris Jengkung arahnya adalah sebuah lingkaran terletak di bidang OYZ pusat (0,0,0) jari-jari = 1. Maka persamaan lingkaran we+yt Pal x =0 Ambil titik sembarang (0,y,,2,) pada lingkaran, tersebut , yetaz=l *. garis lukis — > Az=1-x y=l+y,A-A——> y=y-lt+d _ yx a Ix 2-242, Z-2x -%—3 a= = a Ix y-x\2 z- 2x\2 Substitusi ke (*) diperoleh :{———-]._ + {[——_} =1 TX es atau ; 4x2 + y? + 2? — xy - 4xz + 2x-1 yang diminta. 0 adalah persamaan bidang kerucut BIDANG PUTAR : Terjadi bila suatu garis lurus/lengkung diputar sekeliling sebuah garis lurus tertentu (yang disebut sumbu putar). Tiap-tiap titik dari garis yang berputar tadi akan melalui sebuah lingkaran, yang mana bidang lingkaran tersebut tegak Iurus sumbu putar. sumbu putar garis yang diputar Misalkan kita hendak mencari persamaan bidang putar yang terjadi apabila sebuah garis lurus : y = 0, x/a + 2/b = 1 diputar sckeliling sumbu Z. Ambil titik sembarang (x,0,z,) pada garis tersebut maka terpenuhi : xJa + z,/b =1. @). Persamaan lingkaran yang dibuat oleh perputaran titik (x,0,7,) sekeliling sumbu z adalah perpotongan silinder x + y? = x2 dan bidang z = Z, atau : Y+yax? Z=% Substitusi ke (*) diperoleh : yang adalah suatu kerucut lingkaran tegak. BIDANG ATUR : Adalah bidang yang dibentuk oleh sebuah garis lurus yang bergerak di dalam ruang menurut ketentuan-ketentuan yang diberikan. Silinder dan kerucut adalah contoh-contoh dari bidang atur 2.5. PERSAMAAN STANDAR 2 So te 2 & 2 Pusat (0,0,0) dan setengah sumbu-sumbu a,b,c. Dalant hal : a= b #c, bentuk (*) adalah sebuah ellipsoida putar dengan sumbu putar sumbu z. Dalam hal : a = b = c, bentuk (*) adalah sebuah bola. * ELLIPSOIDA : =1 GC) Ellipsoida imaginer : * HIPERBOLOIDA : | Hiperboloida Daun satu : 2 yt 2 Hiperboloida Daun dua: —— - 2—-—*_ 21. e bo a 2 | * KERUCUT: ~—+ a e Dalam hal a = b kerucutnya adalah kerucut lingkaran tegak. xe y 2 + > = 0 menyatakan sebuah titik riil Persamaan —~- + a v 3 x=0, y=, z=0 dan kerapkali pula kita sebut sebagai kerucut imaginer (ada pula yang menyebutnya ellipsoida titik) 40 * PARABOLOIDA : 2 : Paraboloida elliptk : ——- + = 2pz e ey Paraboloida hiperbolik : =~ 2 = 2p * SILINDER TEGAK : Kita tahu bahwa silinder tegak (garis lukis // sumbu z) per- samaannya hanya terdiri dari 2 variabel x dan y , maka : od y (1) Silinder elliptik : 2 + -t 1 Kalau a = b maka silinder adalah silinder lingkaran. (2). Silinder hiperbolik : Zz" ¥ =1 (3). Silinder parabolik : y? = 2px x (4). Silinder imaginer : a CATATAN (11) Bentuk umum bidang derajat kedua di R? adalah a, ,x7+2a, xy+a,,y"+2a,,XZ+2a,,yZ+a,,27+2, ,x+2a,,y+2a,, Z4a,, = atau : V'AV + 2B'V + c = 0 bila: A= fa, a a] » B= [a], C=(a,).;V=[x a, apy ay y a; yy ay z Didalam diktat ini bidang derajat kedua hanya dibahas secara singkat dan sederhana saja. Disini kita cukup memperluas pengertian-pengertian translasi, rotasi, vektor dan akar karakteristik yang dibahas di bab 1 untuk R?, Akan diberikan beberapa contoh: 2.13. Pada sistim koordinat Cartesian diketahui bidang derajat kédua 2x°+2y’+522-2xy- 4xzt4yz-2x+62-4=0 (**). Carilah titik pusat, bentuk standar dan jenisnya. Penyelesaian Persamaan pusat dapat diperluas sebagai : 42 2.14, > = = =O atm = 2p, - p21 =0 -P, + 2p,+2p, = 0 ) pusat ; —2p, +2p,+5p,+3 = 0 ) (0,1-1) =0. Kita pakai rumus translasi ke titik pusat : x = x’+ 0, y=y'+1,z=2'-1. Kalau kita substitusikan ke (**) persamaan menjadi : 2x'? + 2y'? + Sx? Ix’y’ — dx’2’ + dy'z’ 7 = 0. Untuk melenyapkan bagian homogen kwadratis (suku kembar x’y’, x2’, y’2”) kita lakukan rotasi ke vektor-vektor karakteristiknya. Persamaan karakteristiknya : | 2-2-1 -2 1 24 2] =052,=a=1 - iss Bentuk standar adalah 4.x”? + Ay”! + 2, 2”? - 7 = 0. atau: x? y? 2 ++ 7 1 putar dengan sumbu putar sumbu Z” dan setengah sumbu a=b = V7, c=1. x24 "2472" = 7 atau = 1, suatu ellipsoida Selidiki titik pusat dan bentuk standar dari : 2x? + y? + 22 — Ixy — 2x2 - 2x -2y +241=0 .. (1*) Penyelesaian : at af ar Pusat = ~~ = 5p = O atau 2p,—p,~p, -1=0 PtP = -P, - + ptl=0 ternyata r(A) = 2 # 1(A,B) = 3 tak ada jawab schingga pusat tak ada. Kita lakukan rotasi lebih dahulu. Persamaan karakteristik: 2A -1 1 A= -1 1A 0] =Odiperoleh: 4, = 3 -1 0 1A a, = 0 43 2.15. 44 tersebut A, = 1 maka: x-y-z=0 diperoleh [xy,z] x =0 =H (01-1 dan = { 0,1N2,-1N2} _vektor karakteristik yang panjangnya = Luntuk A, =3 maka -x-y-z=0 -x-2y =0 ( cukup —x-2% =0 Kita ambil 2 persamaan dan diperoleh {x,y,z} =}. {-2,1,1} dan {-2N6,1N6,1/ V6) panjangnya = 1. Untuk A, = 0 maka : 2x-y-z=0 -x+y =0 ( kita peroleh: [x,y,z] =p [ 1,1,1] x +z=0 dan w {1/V3,1N3,143} panjangnya = 1 Setiap vektor [x,y,z] relatif terhadap [1,0,0] , [0,1,0] , [0,0,1] mempunyai hubungan : x[1] +y[o]+z Joj=« Jo +y | -2N6} +27 | 1N3 0 1 0 wW2 NG 1N3 0 0 1 -12. 1N6 1N3 x= ~2N6y’ + 1N32’ y = 1N2x’ +IN6y’ + 132’ (2%). z=-IN2x’ — +1Nb6y’ + 132’ Dengan rotasi bentuk homogen kwadratis menjadi A,x’? + A,y"? + Ayz’? atau x’? + 3y”, dan bila (2*) kita masukkan ke bagian linier -2x - 2y + 2z diperoleh : -2N2x’ + 4N6y’ — 232’. Jadi (1*) menjadi : x’? - 2V2x’ + 3y"? + 4N6y’ — 2N3z’ +1 = 0 atau (x’-V2)? + 3(y'+2/3V6)? = 2N3(2’ + 11V3/18). Dengan translasi : x” = x’ — ¥2 y”=y’ + 23V6 persamaan standar adalah : z= 7) + LVS x” y” . = x? + 3y”? = 2N3z atau or a 2N3_ z” suatu paraboloida elliptik. , x? + 2y?— Ta? + 4xy — 2xz — 12yz - 2x + 10z = 0 (*) selidiki pusat, bentuk standar dan jenisnya. . of Penyelesaian Persamaan pusat Tk Ty Te = 0 atau P+ 2p, - py-1 =0 2p, + 2p,- 6p, =0( 1(A) = 1(A,B) = 2 jadi bila diselesaikan diperoleh ~P, ~ 6p, - 7p,+ 5 =0 jawab berupa garis p = [ 1,-1,0] + [5,-2,1] , jadi diperoleh segaris titik-titik pusat dan kita ambil titik pusat sembarang misalnya (4,-1,1) untuk pusat translasi: x = x' + 4, y = y’ — 1, z= 2’ +1 dan kita substitusikan ke (*) di- dapat : x’? + 2y’? - 722 + 4x’y’ - 12y’z’ - 2x’ + 1 = 0. Untuk menghilangkan suku kembar x’y’, x2’, x’2’, kita lakukan rotasi kevektor- vektor karakteristik ; LA 2 24 -6 =0>2,=6,a,- 10, a, =0. 2 -1 “1 6 -7R Maka persamaan setelah rotasi adalah A,x”? + Ay”? + Az”? + 1 = O atau ~6x"2 + ly =1; x” 2 1/6 1/10 =l Suatu silinder hiperbolik. 2.6. SOAL-SOAL DAN PEMECAHANNYA 2.16. Tentukan proyeksi garis lengkung : (i) x? + y? = 3z dan 2x — y +2=0, (ii) x =ty=,z=0, kebidang OXY. (1) kita eliminir z. Q Penyelesaian : (1) yx? + y? = 3z x-y+z 0. maka (2) > z = — 2x + y dan substitusikan ke (1) : x? + y? = 3 (-2xty) atau x? + y? + 6x - 3y = 0. Jadi garis lengkung proyeksi tersebut : x? + y?+ 6x - 3y =O — suatu 2=0 lingkaran yang terletak pada bidang OXY dengan pusat (3,11/,,0) jari-jari_°/,5. @)x=ty=tC,z=0 atau: proyeksi pada bidang OXY adalah y = x? itu. parabol: t=O suatu parabola pada bidang OXY. 45 2.17. 2.18. 46 Carilah sebuah titik pada garis x = y = z yang berjarak 5 terhadap sumbu z. Penyelesaian : Kita tahu bahwa bidang silinder lingkaran adalah TK titik-titik yang berjarak sama terhadap porosnya. Jadi kita dapat membuat bidang silinder lingkaran dengan poros sumbu z dan jari-jari = 5, yaitu x? + y* = 25 Maka titik tembus garis x = y = z pada bidang silinder adalah titik-t diminta. Kita kerjakan sebagai berikut : x =y=z—2[xyz]=A( 111] substitusikan pada (*) : 42 + 22 = 25 A= + 24,N2. Jadi titik yang diminta (24/N2, 24/,N2, 2V,N2) dan (-2Y,N2, -2'/,N2, -24/,N2) Diketahui bola B : x? + y? + 2? + 2x + 4y + 4z— 16 = 0 dan bidang datar V: x + 2y + 2z = 0. Periksa apakah bidang V tersebut memotong bola B. Kemudian cari pusat dan jari-jari lingkaran, hasil perpotongan V dan B tersebut. Penyelesaian : Bola pusat M (-1,-2,-2) jari-jari = V1+4+4+16 = 5. Jarak dari M ke bidang V : =14(2) 2)42(-2) Karena d = 3 < jari-jari = 5 jelas V memotong bola B. Jari-jari lingkaran N25 7 . Garis g L V jadi arahnya { 1,2,2 ] dan melalui pusat bola ( ~1,-2,-2 ), maka per- samaannya : [ xy,z] = [-1-2-2] + & [12,2] (*). N adalah titik tembus g pada V maka substitusikan (*) pada V : (1+ 4) + 2-242A) + 22424) =O —> A= 1 Jadi titik tembus (pusat lingkaran perpotongan) : N(0,0,0). Hitung persamaan bola yang memotong tegak lurus bola B, : x? + y?+ 2? — 6x + 4y — 22 = 11, membagi dua sama besar bola, B, : x? + y? + 2? = 3 dan menyinggung garis lurus g : x = 7-2y = -z dititik P(1,3,-1). Penyelesaian : Jaringan bola menyinggung g dititik P. (x-1)' + (y-3)? + (2+1)? +X (xt2y-7) + ph (x42) =O 9 P+ y+ 2+ (Dt At Wx + (642 Ny + (2+p)z + (11-7 2) = 0 qa Bola B, : pusat M, (3,-2,1), jari-jari 94441411 = 5. Karena B berpotongan tegak lurus dengan B, maka kuasa M, terhadap B = 25 atau: B (3-21) = (3)? + C2? + (1? + (2 +A + p)3 + (-O+2A)-2) + (24H) 1411-74 = 25 - (8) eS Oe eee (2). Bola B, : pusat M, (0,0,0) jari-jari V3, dan karena B membagi 2 sama besar B, maka kuasa M, tethadap B, = -(V3)? = -3 atau (0) ooo, = (0) + OP + OP +0 +(2thop) O+2+H O+(1-M)=33A=2 3). Jadi dengan (2) diperoleh p. = 2. Maka persamaan bola B yang diminta (1) menjadi : x? + y* + 2 + 2x - 2y + 42 -3=0. Diminta TK titik-pusat 2 bola-bola B yang menyinggung bidang V : y =z + 1 dan kuasa 0(0,0,0) terhadap bola-bola tersebut sama dengan kuasa titik 0 ter- hadap bola B, : x? + y? + 2? - 6x + 5 = 0. Penyelesaian : Kuasa 0(0,0,0) terhadap B, adalah (B,) p= 5- Misalkan B : (x-x,)"+ (y-¥))"# (2-2, =P .. Karena B menyinggung B berartir = d= | y,-z,-1 VO+1+i atau P=", (yy-2-1)?. (1) menjadi B : x? - y? + 22 — 2x x = 2ypy — 27% + ¥%, + Yayt, + Wz, + Vola + Yo ~ By ~My = 0 Kuasa 0 terhadap B, = 5 (diketahui), atau (B) (0,0,0) = x’, + "Vy", + “ty + Yor + Yg— 2% ~ "= 5, dan dengan menjalankan titik (xy.¥q2) diperoleh TK : 2x? + y? + 2 + 2yz + 2y - 22-11 =0. alah persamaan kerucut yang berpuncak dititik T (-1,2,3) dan mempunyai garis lengkung arah sebuah lingkaran yang terletak di bidang OYZ, pusat (0,2,2) dan jari-jari = 1. a7 Penyelesaian : Persamaan lingkaran arah : x? + (y-2)? + (2-2)? = 1 \ x=0 bila titik (O,y,,z,) pada lingkaran, terpenuhi : (Y - 2? +(@,- 2 =1. (*). Persamaan garis lukis melalui T (-1,2,3) dan (O,y,,z,) (xy.2) = (C1,2,3) + (.yp-2,25-3) atau : x=-1+A—>A=x4+1 y=2+hy,-2A—sy=y-2422 9 y+2x a carl z-34+320 z+3x z=342y-34— y= ; Kita substitusikan ke (*) diperoleh : (2. 7 x 3: 2, ati 2 = 1 atau: y?4 2424 2x2- 6x —4y +720. x 2.22, Lingkaran yang terletak di bidang x = 0 berjari-jari a dan menyinggung sumbu 48 Y, diputar sekeliling sumbu Y. Carilah persamaan bidang putar yang terjadi. Penyelesaian : Persamaan lingkaran : x = 0 x+y? + (al =a’ Ambil titik (0,y,2,) pada lingkaran, terpenuhi : y%, + (2g a)? = @ vases Lingkaran yang dilalui titik (0,y,,z,) waktu mengelilingi sumbu y persamaannya: I™ Yo xt+ y+ z= yt, +2, S (#8) kita hilangkan y, dan z, dari (**) dan (*) diperoleh persamaan : eyes da Vee Benda putar ini disebut torus (doughnot). Tentukan persamaan bidang yang terjadi akibat perputaran ellips x = 0, x + 2y? - 2x = 0 sekeliling garis g : y = 0, z = px. Penyelesaian : Ambil titik (x,y,0) pada ellips, terpenuhi : x2, + 2y?, - 2x, = 0.. ellips (qq) Sumbu putar Perhatikan gambar, lingkaran L yang dilalui (x,,yo.0) waktu berputar sekeliling g terletak pada bidang yang 1 g. Arahg: 0 1 0 O71 [-1,0-p] p 0-1p0 p 0-1 p 0 Jadi W : -1(x-x,) - pz = 0 > -x—n +x, = 0. Lingkaran L tersebut kita anggap sebagai perpotongan W dan bila B (dengan pusat (0,0,0) dan jari-jari Vx, +y7,) atau: L: X + pZ-X)=0 x) =x + pz) KeyezZaxy ty ) (**), dan dengan melenyapkan X, dan y, dari (*) dan (**) diperoleh persamaan bidang putar : x? + 2y? + (2 — p?)z? - 2pxz ~ 2x — 2pz = 0 49 2.24, 2.25. Ditanya persamaan bidang atur yang dilalui oleh garis lurus yang selalu // dengan OYZ dan yang selalu memotong sumbu x dan garis lengkung x = t, y =, z= t (t parameter). Penyelesaian : Garis lurus yang // bidang OYZ terletak pada bidang x = }...... (1). Garis lurus s yang memotong sumbu x terletak pada berkas bidane ytrz= See eece y=x 32@ Dari (1) dan (3) serta (x) dan (4): y=", 2= 3 dan substitusikan ke (2) : p? + 4 2 - 0 > pl + Ay) =0 Jadi p = O dan 1 +Ap=0...... (5). Dari (1) : p = x dan dari (2) : ‘Maka persamaan bidang atur diperoleh dari (5) : x = 0 dan (1 — y/z) (x) xy =0 Bola-bola B, dan B, jari-jarinya = r, titik pusatnya masing-masing M,(0,0,0) dan M, (1,1,2). Tentukan persamaan silinder selubung persekutuannya. Penyelesaian : Garis lukis silinder // M,M,, arahnya [1,1,2]. UPL ZIO> KLELLLLLLP] Lingkaran arah arah L adalah perpotongan B, dengan bidang W yang tegak lurus (1,1,2] dan melalui M,. Jadi x+y + 2z=0, L: x+y+2z =0 Peyt oa Ambil (X,,Yq.2)) pada L terpenuhi : Xp + Yo + 2x, = 0... (1) dan 2, +2, +2, = 2. Garis lukis melalui (X,,Vq.7)) berarah [1, 2): ; Ixy.2] = [XpVo%] +0 [ly i 2 atau x,tx-h,yy=y-A,2=2-2 @). 2.7. 2.26. 2.27. 2.28. 2.29. 2.30. 2.31. kita masukkan ke (1) (x-R) + (yA) + 2(2-2A) = 0 2 16 (xty422) «nn (4). Dari (2) dan (3) (x-A)2 + (y-A)? + (z-2 2)? = 2. Dan ganti A dari (4) diperoleh : 5x* + Sy? + 2x? — 2xy - dxz — dyz - 61 = 0. SOAL-SOAL UNTUK LATIHAN Tentukan jenis proyeksi pada bidang OYX dari garis lengkung x4y?4+27 = at } Gawab. Ellips melalui 0, berpusat (1/3a,1/3a,0). a Xty4Z = Tentukan persamaan bola melalui 4 titik (0,0,0), (0,0,1), (2,0,0), (0,1,0). (awab xX + yr + 2 - 2x -y-2z= 0). Tentukan persamaan bola yang pusatnya terletak pada bidang x-2y+z = 5 dan memotong bidang 3x-y+2z = 1 menurut sebuah lingkaran yang berpusat di (2,1,-2) dan jari-jarinya 2’/,. (awab. (x-5) + y? + 2 = (°/,). ‘Tentukan pusat dan jari-jari bola yang menyinggung bidang x+2y~z = 6 dititik (1,2,-1) dan yang dengan bola, yang melalui 0(0,0,0), (4,0,0), (0,6,0) dan (8,0,2), mempunyai sebuah bidang kuasa yang sejajar sumbu z. Gawab. (-1,-2,1), jari-jari 2V6). Tentukan persamaan bola yang melalui (1,-3,4), terhadap mana kuasa titik (-4,-1,0) adalah 13, memotong tegak lurus bola x2+y"+z?-4x-2y+12z+4 = 0 serta membagi dua sama besar bola x+y2+z2+2x+8y-4z+14 = 0. (lawab. x2+y?+2?-2x+6y-6 = 0). Carilah persamaan silinder yang garis lengkung arahnya sebuah ellips yang ter- letak dibidang OXY, pusat (0,0,0) dan '/, sumbu 1 dan 2, (sumbu pendek ber- himpit dengan sumbu x), garis lukis silinder // garis 2x = y = z. (lawab. 4x? + y? + 22? — 4xz - 2yz - 4 = 0). 51 DIFFERENSIAL KALKULUS DARI FUNGSI BEBERAPA VARIABEL 3.1. FUNGSI DARI BEBERAPA VARIABEL Jika untuk setiap titik (x,y) di bidang XY dikaitkan dengan suatu bilangan nyata z, maka dikatakan z sebagai fungsi dari x dan y, ditulis z=F(x, y) ve (3.1) zaxv+y? ty += 25 x? + 2y? + 327 = 6 x? + 2y? — 32? = 6 x? - dy? 32 =6 x+2y+3z=6 misal : GD 3.1.2) G.1.3) G14) (3.1.5) G.1.6) oe z = F(x,y) menggambarkan suatu permukaan benda (lengkung atau rata). Pada persamaan (3.1.1) sampai 3.1.6) menggambarkan permukaan-permukaan Para- boloida, bola, Ellypsoida, Hyperbola daun 1, Hyperbola daun 2 dan bidang rata, seperti gambar di bawah berikut ini. 52 53 meee eeeeee 32. DOMAIN Pada lazimnya fungsi y = f(x) selalu didefinisikan pada interval a < x < b. Untuk fungsi z = F(x,y) diperlukan konsep serupa, jadi didefinisikan pada daerah empat persegi panjang asxsb csysd Masalah yang dihadapi adalah daerah yang berbentuk lingkaran, Ellyps dan se- bagainya. Untuk dapat mencakupi ini, perlu dirumuskan pengertian “domain”. Definisi: Domain adalah himpunan terbuka yang bersifat untuk setiap 2 titik P dan Q dari himpunan dapat dihubungkan oleh garis patah yang seluruhnya terletak dalam himpunan. Jelas himpunan titik-titik dalam lingkaran merupakan domain. Gambar 7 Definisi : Lingkungan, dari titik (x,,y,) diartikan sebagai himpunan titik-titik dalam lingkaran berpusat di (x,,y,) dan berjari-jari 5; dimana untuk setiap titik (x,y) dari lingkungan memenuhi. (K-xP + -y,P <® Definisi : Seluruh himpunan yang dapat dicakupi dalam suatu lingkungan yang cukup besar disebut himpunan terbatas. Himpunan terbatas dapat terbuka atau tertutup. 54 Misal : 1. 1x1S\$1] adalah himpunan titik-titik dari bujur sangkar yang tertutup dan lytst terbatas. 2. x? + 4y? < Lhimpunan titik-titik dalam Ellyps yang terbatas dan terbuka. Y Gambar 8 Gambar 9 Definisi : Kawasan adalah suatu himpunan terbuka ditambah dengan sebagian atau seluruh batas (himpunan tertutup) misal : Key sd, 3.3. TURUNAN PARSIAL Misal z = F(x,y) didefinisikan dalam suatu domain D di bidang XY. Untuk y = y, = tetap, maka z = F(x,y,) menyatakan z sebagai suatu fungsi dari x saja dan z = F(x,y,) menggambarkan suatu kurva akibat perpotongan antara permukaan z = F(x,y) dengan bidang y=y, yang sejajar dengan bidang XOZ (Jihat gambar 10). 55 2=F(x, y,) Gambar 10 Untuk x = x, = tetap, maka Z = F(x,, y) menyatakan z hanya merupakan fungsi dari y saja dan z = F(x,, y) menggambarkan kurva akibat perpotongan permukaan z = F(x,y) dengan bidang x = x, yang sejajar dengan YOZ (gambar 11) x Gambar I] isal z = F(x, y,) didefinisikan pada interval a < x = mn dapat ditulis dengan z, dan z, atau F, dan F, x Contoh-contoh : 1. Diketahui: = z=? + y?—3 x =x, =-Idan yey,=3 oz Hitung _ dititik (-1, 3) x zee —— dititik C1, 3) oy 87 Jawab : Untuk x, = -1 zey-2 az Untuk y, = az — = 2¢1) = 2 ox das oy Z= xt + y? + 3yx Lax aay ox cay sax oy z= sin (2x + 3y) oz Ber = 608 (x + 3y) . 2 = 2 cos (2x + 3y) a “Fo = 008 (2x + 3y) 3 = 3 00s (2x + 3y) 'y xy zee oz xy xy ze Qxy = 2ye ox az xy xy 5. az x ——— = 2y are tan. —— + (x + y’) oy x ety? Be Oe ace ) 2xry ae sy + >= 0 my ye 3.4, DIFFERENSIAL TOTAL az az Dalam bentuk turunan parsial —— dan ae petubahan Ax dan Ay ditinjau K berasingan. Sekarang tinjau perubahan x dan y secara bersama-sama. Misal (x,y) titik dalam domain D dan (x + Ax, y + Ay) titik lain dalam D juga, maka z berubah sebesar Az berawal dari titik (x, y) sampai (x + Ax, y + Ay). sebesar : AZ = f(x + Ax, y + Ay) -f ( y) » (3.4.1) Pernyataan (4.1) menyatakan Az sebagai fungsi dari Ax dan Ay, x dan y dianggap tetap, dengan sifat khusus. AZ =0 Jika Ax = 0 dan Ay = 0 we (3.4.2) Contoh : lo zsxtxyty? z+ Az = (x + Ax? + (x + Axy + Ay) + (y + Ay? = x? + Ox Ax + Ax? + xy +x Ay + y Ax + Ax Ay + y? + 2y Ay + Ay? Setelah dikurangi didapat Az = Ax (2x + y) + Ay (x + 2y) + Ax Ay + Ax? + Ay? =Axatdy.b+c Ax Ay +d Arte Ay? Jika Az merupakan fungsi dari Ax dan Ay. Umumnya : fungsi z = F(x,y) dikatakan mempunyai differensial total di titik (x.y) jika di titik tersebut, Az dapat ditulis sebagai : Adz =a Ax +b Ay +€, Ax +e, Ay . (3.4.3) dengan a, b tidak tergantung pada Ax dan Ay dan €,, €, adalah fungsi-fungsi dari Ax dan Ay sehingga. lim e, =0, lim e,=0 Ax0 x30 Ay30 Ay30 Bentuk linier dari Ax dan Ay : a. Ax +b. Ay. disebut differensial total dari z di titik (x,y) dinyatakan dengan dz dimana dz =adx +b dy son GAA) Jika Ax dan Ay cukup kecil, nilai Az mendekati dz. Dari (3.4.3) Az = Ax (a+) + dy (b+) Penggantian ¢, dan €, dengan 0 (nol) tidak mengakibatkan kesalahan berarti, jika Ax dan Ay diambil cukup kecil. Dalil : Jika 2 = F (x,y) mempunyai differensial di titik (x, y), maka az az a = —— dan b = —, adalah ax ay kedua turunan parsial di titik (x, y) Bukti : Tentukan Ay = 0, karena y tetap az Az (ate) Ax slim = —— = lim ax x0 Ax te Ax = lim (a+€,)=a Analoog dapat ditunjukkan az : ay ‘Terdapatnya turunan parsial di titik (x, y) tidak menjamin adanya differensial total, tetapi Kontinuitas di sekian titik tersebut cukup memberi jaminan, = F (x, y) mempunyai turunan parsiel pertama yang kontinu di D. maka z mempunyai differensial total. 61 az az — dz = —— dz + — dy, di setiap oy ox. titik (x,y) dari D. Untuk fungsi dari 3 variabel atau lebih. misal : @ = F (x, y, u, v) maka ....... a a do = ax ays du + dv ox ay ou av Contoh : a, 441 @=—, maka, z ee Zz z 2 442 o-=Veryoe m 4 doo =, (x? + y? + 22 2x de + 1, (2 + y? + a2. 2ydy +1, 2 + y? + 2 De de 4 x dx y dy z dz oe Vt + y+ 22 Reyez Vxrrsyt+ zt y y , 443. ase” an Mx dz=e 7 dx +e Copy x yy dx ~ —dy)e ” y y 44.4. 2 = arc sin (x2y? — xy) 1 Vi - ry - xP 1 + (3x? - 2x) dy V1 ~ (ey — xy dz= (oxy? — 3x22) dx 3.5. DIFFERENSIAL FUNGSI DARI FUNGSI Fungsi berikut yang akan ditinjau didefinisikan dalam domain tertentu dan mempu- nyai turunan parsiel pertama yang kontinu, sehingga turunannya dapat bentuk Dalil : Jika z = F(x,y) dimana x = f(t) dan y = g(t) maka dz az x ey dt Ox dt dy dt Dalil : Jika 2 = F(x,y) dimana x = f(u,v) dan y = g(u,v), maka az az ox oz ody ee + = du ox du dy = du ee eee ee Pada umumnya : Jika = F(X, ys 2 ss) dimana 63 Catatan : 1. z= F(x, y) dengan x = f(t), y = g(t) maka dapat ditulis Z =F {f(0, gO} 2. z=F(., y) dengan x = f(u, v) dan y = g(u, v) maka dapat ditulis 2=F {f(u,v), g(u,v)} Kedua catatan di atas disebut juga turunan fungsi atas fungsi 3.6. FUNGSI IMPLISIT, INVERS, JACOBIAN Bentuk fungsi implisit F(x y, 2) = 0 Dari bentuk ini z bisa dinyatakan sebagai fungsi dari x, y ditulis : = Fy) (3.6.2) misal : w+y?+2-4=0 maka z=+V(4—x-y? atau -V@-7-y Jika ada 2 bentuk fungsi implisit F (x, y, z, w) =0 G(x y, 2, w) =0 maka kita dapat menyelesaikan kedua persamaan (3.6.3) menjadi z=f jy) @=8 (xy) Jika ada 3 bentuk fungsi implisit F(x, y, z, u,v) =0 GG, y,z u,v) =0 .. 3.6.4) 64 maka kita dapat menyelesaikan ketiga persamaan menjadi x=f(u,v) g (u,v) z=h (uy, v) Pada umumnya jika ada m persamaan dalam n buah variabel dengan m < n, maka kita mungkin dapat memecahkan m persamaan sebagai fungsi dari (n-m) variabel lain- nya, Jumlah variabel bebas sama dengan banyaknya persamaan. Dari persamaan (1.6.4) dapat ditulis menjadi : F [f,(u,v), g(u,¥), h(u,v), u, v) = 0 { G [f(u.¥), g(u,v), h(u,v), u, v] = 0 H (f(y), (u,v), (u,v), u, v] = 0 Differensial total dari fungsi-fungsi di atas sama dengan nol, maka F, dx +F, dy +F dz+F,du+F,dv =0 G, dx + G, dy + G, dz + G, du+G, dv =0 H, dx + G, dy +H, dz +H, du +H, dv =0 dx, dy dan dz dapat dinyatakan dalam du dan dv, sebagai berikut dx=- ea ~4tw D D r s | -- D D m n dz = -—— du - —- dv D D dimana RE F pe|adgG HOH OH, , HY OH, RFR F _ p= |G & G a= |G 6 G, Bane ROR OH 65 _ ROR FE r=|¢ G Gl; s= |G G G Hon OH HOH OE, 1B F ROR F m=|F d Gl; n= |G 6 G, _ H HY HY RF RFR -E Gag GG GC, Be [ee 6 ace a | HF, yk F Fy) & JR FE Fy G. 6 G, G & GC, HOH OH, H, HOH, Determinan D di sini dibentuk oleh turunan parsiel dari 3 fungsi yang merupakan variabel Determinan semacam ini disebut determinan Jacobian, yang ditulis sebagai Bore 2, G, 4) 3 ——--|—, G, G - 3.6.5) 9%, y, 2) oY HL HY HL (3.6.5) dibaca lengkapnya sebagai determinan Jacobian dari F, G, H atas x, y, 2, maka persamaan (3.6.4) dapat dinyatakan dengan a(F, G, H) oF, G, H) ax My. ay Ax, u 2) aK y. D Dari pernyataan di atas, kita dapat simpulkan : 1, Jika terdapat 1 persamaan dengan 2 variabel dy F, dx _ 2, Jika terdapat 1 persamaan dengan 3 variabel F (x, y, 2) = 0 maka dz F dz. F * y =- dan ——— = - dx F, dy F, F (x, y) = 0 maka 66 3. Jika terdapat 2 persamaan dengan 3 variabel. Foy, z)=0 G (x, y, z)=0 maka ae, G) 99, 9 dy oF, G) ay, 2) dz dx 0 (F, G) , . dengan = me 3G G, , G 4, Tika terdapat 2 persamaan dengan 4 variabel F@y,2z,)= 0 Gay zp =0 maka af, G) oF, G) x ey) ax ay) a =| «XE, G) ot a(x, y) (x, y) a, G) a, G) ay a2) gy awd % a, G) a «AF, GG) Ax, y) a(x, y) Contoh : 361. fe +y4eeP+Paa x+y+z+t=b,a, b= tetap ox ax 8} Tentukan ae dz ot oe at Dapat diselesaikan dengan 2 cara Cara I (Pakai rumus) Fax+y+z+t-a G=xty+z+t-b 67 —— dan ot oz Cari sendiri ! Cara II Differensial parsial x, y terhadap t dari ke z persamaan untuk mencari ox oy dan ——— at ot ox ox +2y +2=0 at at Ox oy 1 +1 +1=0 at at j~2t 2y| ax |-1 1 2y — 26 yrt at |2x ay! 2x-2y x-y 11 2x = oy 1-1 2t — 2x t-x a = = Untuk mencari dan i coba sendiri ! | a az 3.6.2. xy txztyz=5 3.6.3, _ or Ry or 2e* cos @ —— - e* sin 8 —— ox. ox . or 008 0 = 2e* sin @ —— + e* cos 8 —— ox ox -e* sin 8 e* cos 8 1 or | 0 e* cos ® ox. 2e¥cos 8 -e* sin @ 2e*sin@ — e* cos 8 2e* cos? @ + 2e* sin? 0 cos 8 oF de 40 0 = 2c cos @ ——— ~ e* sin @ dy dy dr a0 1 = 2c sin @ —— + e* cos @ dy dy dre sin@ — sin® dy e® Oe d0_2e* cos @ cos 8 Sa dy 2e* e* d0 2e*sin@ sin ® de® e* Soal-soal : dz a | 1. Tentukan dan —— dari dx dy oo: @ z= -2 yx (b) 2 =x) + 3xy 43x +y? (©) 2 = cos 3x sin 4y x @ z= are cotg —— y (©) 2° — 3xy? + 6xyz = 0 a de 2. (a) Jika z = Vx? + y? ; tunjukkan x ~~ + y = . dx dy y 4 4: (b) Jika z= In (x? + y?)"?; tunjukkan x 2 4 y S221 & ay 4, ¥, (©) Jika z= ¥ sin +e “cos —, tunjukkan y x (@ Sika z = (ax + by)? + em + sin (ax + by) dz dz tunjukkan : b —— dx dy Tentukan persamaan garis singgung (a) pada Parabola z= 2x? - 3y?, y = 1 pada titik (-2,1,5) (b) pada Hyperbola z = 2x? — 3y?, z = 5 pada titik (-2,1,5) Tentukan differensial total dari (a) z= xy? + 2x’y (b) 6 = are tan iy? : © ze ty @ z=x(e+y) ? @) uexry ax x = 30 } Tentukan —— = y= 20° dt (b) w= x cos y +y sin x x =cos 2t y =sin 2t ‘Tentukan 2 ot a: 0; : (©) Tentukan dan 2 dari ds at z= xt-2y! x= 3s + 2t y = 2s -3t (d) Juga untuk z = x? + 2y? x= sin s +.cos t y = cos s-sint (e) z= sin (4x + 5y) xestt yss-t n y=t+ 2st (6) Jikau (7) Jikaz= x" f oe) Tunjukkan : de de x a ak ay ™ 3.7. TURUNAN PARSIAL ORDER TINGGI oz Turunan parsial —— dati z = F (x, y) boleh diteruskan turunan parsialnya x terhadap x dan y menjadi turunan kedua a | ae ™ aa ee a = n=) . Juga > bisa didapatkan turunan kedua terhadap y dan x ly oz 9 az a WF Ty Gy Fem 2%, "Ox ay” Jika z = F(x, y) dan turunan parsielnya kontinu maka berlaku | dx dy dy dx Contoh : 1 z= x94 3xy?+ y? az az —— = 3x? + 3y? ; = 6xy + 3y? ax ly ida eel ore Ox? ax Ox. ox. eee ey) 6c ay? dy ay” oy ez a az a aroyiator dove aur i Pe? 8 gay ayye aon ay; forts ay v= 6 (6xy + 3y?) = 6y 2. 2=xsiny—y cos x a : Gre CS a wz a | ' mR CG =a Gin y + y sin x) = + y cos x a az : y Ge Gy ors 005 9) =m sin y ez az a Se po =cos y + sin x oz ao a a . =— (—) = — (siny + y sip x) adyax dy ox ay = cos y + sinx Soal : 8. Cari untuk fungsi-fungsi di bawah ini ez 0% oz ez “Ox? " ay? * Ox dy ” dy ax (a) z= 5x?- dy + y? yt x y (b) z= (©) z= sin 3 x cos 4y x (@) z= are cos — y oz 0 & 9 @) Jikaz=—2~, tunjukkan x@ ——” + any 22 4 yp» 2 20 y an Ox dy ay? (b) Jika 2 = e® cos By dan B = + ay, tunjukkan bahwa ee a cas ox? ay? (©) Jika z = e* (Sin x + cos y), tunjukkan bahwa ez Pz az. ice can oad Ox? dy? at (4) Jika z = sin ax sin by sin kt Va? + b? tunjukkan bahwa a em oz ae ax? dy? PERSAMAAN DIFFERENSIAL Definisi : Suatu persamaan differensial persamaan yang mengandung variabel-variabel x, y serta turunan-turunan y terhadap x + F (xy, ae an sone) =O , (1) dx dx? Order dari suatu persamaan differensial adalah order tertinggi dari turunan. misal : ay dy +2—--8y=0 dx? dx a 2. dy=(Qx+y)dx ay ae + 2y =0 dy +3 ore 78 Pada contoh 1 persamaan differensial disebut persamaan differensial order 2. Pada contoh 2 persamaan differensial disebut persamaan differensial order 1 Pada contoh 3 persamaan differensial disebut persamaan differensial order 2 derajat 3. Solusi jawab) dari persamaan differensial ialah suatu hubungan antara variabel- variabel yang mana tak mengandung turunan dan memenuhi persamaan differensial. dy Jadi solusi dr F(x, y _ reais 0 dx" dx? i) adalah y = F(x,c) atau f(x, y) =¢ Solusi umum dari persamaan differensial order n adalah suatu solusi yang mana mengandung maksimal n buah konstanta sembarang ditentukan ¥ = FO, ©, C,...¢,) ata FUR, Ys Cy Cy vn C,) = 0 (2) 4.1, PERSAMAAN DIFFERENSIAL ORDER SATU Bentuk umumnya ialah dy F (x, y, —) =0 Gs y. a Bentuk umum ini dapat ditulis juga sebagai dy — =F, ax (% y) Bentuk sederhana dari persamaan differensial order 1 ialah dy nF ox (x) dimana solusinya mudah dicari dari rumus-rumus integral sebagai berikut : dy — = Fix) a dy = F(x) dx y=] FW dx = Gq +e 76 misal : a Do sinx +e +X? dx dy = (sin x + & + x?) dx y =J (sin x + e* + x?) dx y=-cosxt se +, x +0, Dari persamaan (1.1.2) dy — =F(x, ox (% y) dy — F(xy) dx = 0. M «x y) Ny) M(x, y) dx + N(x, y) dy = 0 Jika F(x, y) = - maka persamaan (1.1.2) menjadi yang merupakan bentuk lain dari persamaan differensial order 1. Dari bentuk (1.1.4), jika M (x,y) = f,(x) g,(y) dan N(xy) = £,(x) g,(y) maka (1.1.4) menjadi £,(x) g(y) dx + £00 8,0) dy = 0 atau £,(x) _ 8,09) ay £,(x) 8) = (115) =0 1.1.6) Bentuk (1.1.5) menjadi (1.1.6) disebut persamaan differensial terpisah, karena variabel-variabelnya dapat dipisahkan. Jawab dari persamaan (1.1.6) ialah J £0) ne 5 80) _ c £0) 8,9) +. (L.7) Contoh-contoh : 1 78 x dy -ydx=0 d: dx ss S y x dy dx y ’ x Iny-Inx=c mn =n, x yx = C, atau y = C,x adalah solusinya. dy 1+y? dx 1+ dy dx T+y Tex dy dx tty * tex are tan y = arc tan x + C +C Kalau diteruskan, maka arc tan y = arc tan x + arc tan C, y = tan (arc tan x + arc tan C,) x+C, 1-Cx y Gy | iy y ee dx xy? (1 + x?) xy? (1 + x2) dy + (1 + y3) dx =0 y'dy dx +——— =0 1+y? x(1 + x?) jt y a dx ley’ xdex) 1f d tj sty) (1 + y*) J& x dx =0 yy l+y? 1+x d(1 + x) Ainlisyleintixt-Lf 222 3 1+x Inx(l+y)@-% nl +x)=C Inx (1 +38 - In (1 + x2) = nC, x+y x(1+ yy x+y? =n, = C, atau =C, (,=C,9 dy sin’y “dx costx dy dx simy coex ds dx J ca “J cae -ctgy =tanx+C Dari bentuk persamaan : differensial M(x,y) dx + N(xy) dy = 0 f (Ax, Ay) = 2° f(x, y) y = vx, maka dy = vdx +x dv 0 maka persamaan differensial ini disebut homogen, jika M(x,y) dan N(x,y) adalah ho- mogen dengan derajat n jika berlaku 1.1.8) Cara mencari jawab dari Persamaan differensial homogen ialah dengan memisalkan a9) 79 Contoh : 5. 2xy dy = (x?- y?) dx Persamaan differensial ini homogen order 2, karena M (xy) = x2 y? MAAx, Ay) = A?x? - Ay? = Vey’) = M(xy) Selidiki sendiri untuk N(x,y) = 2xy misalkan y = vx maka dy = v dx + x dv, kemudian substitusikan ke soal. 2x (vx)(v dx + x dv) = (x? - vx?) dx bagi dengan x” 2v (v dx + x dv) = (1 - v4) dx (2v? - 1 + v?) dx + 2xvdv = 0 (Gv? - 1) dx + 2xvdv = 0 vdv dx i 3v?- 1 x fsoved fe 2 ‘h 3ve-1 ¥, In Bv? - 1+ In Ixl = In C, In x Bv?- 1)! = In C, % Gv-1)=C, a) _ 8 BZ-D=G, 3xy?- x3 = C, 6. x sin (y dx + x dy) + y cos (x dy - y dx) =0 x x 80 Selidiki sendiri bahwa Persamaan differensial di atas adalah homogen a i ==s=sS x substitusi : x sin v (vx dx + xv dx + x’dv) + vx cos v (xv dx + x2 dv - vx dx) = 0 dibagi dengan x? menghasilkan sin v (2v dx + xdv) + v cos (x dv) = 0 2v sin v dx + (x sin v + xv cos v) dv = 0 2v sin v dx + x (sin v + v cos v) dv =0 dx sinv+vcosv 2— + —___—_d=0 x v sin v dxf siny + v cos v 5 |) ee x vsinv dx dv cos v dv JS Jose ec x v sin d (sia v) 2inixteinivis) 2 2c, sinv In vx? + In I sin v! = In C, vx? sin v = C, atau Il xy sin = C, I] merupakan solusi dari persamaan differensial x 7. (x? 2y?) dy - 2xy dx = 0 dengan memisalkan y = vx (karena merupakan persamaan differensial homogen didapat (x? - 2x*v2)(xdv + vdx) - 2vx? dx = 0 (1 - 2v9) (xdv + v dx) - 2v dx = 0 (v - 2v3 + 2v) dx + (I - v4) x dv =0 ox = v4) dv x 3v-2v) dx (= 2v) dv _ x v3 - 2v’) 82 j2 dx [aos 2v?) dv vG-2v) 4 4 [% Jaf oe x Vv 3G - 2v4) 1 4 dQ - 2 intxt+—Inivl-—+( js 3 3 3-20 1 In xvi +n 3- vel = In, In x v3 3 - 2v4)!8= In C, xv23-2v)9=C x¥v (3 - 2v4) =C, y (3x? - 2y) = C, adalah solusi dari persamaan differensialnya. Pandang bentuk Persamaan differensial biasa order 1. M (xy) dx + N(@xy) dy = 0 oo Persamaan differensial ini disebut EKSAK jika berlaku : aM aN . (14) (1.1.10) dy ox Persamaan (1.1.4) adalah differensial total dari z = F(x, y) dengan dz = 0 we (LL) Jadi solusi umumnya order z = ¢ atau F (xy) = C Dari; 2 = F (x, y) = C maka F ac OF ay =e =0 ax ay Kita dapatkan dari persamaan M dx + N dy = 0 yakni aF x _ OF f Dari S— = M ==> F= J Max + Qy) x Jika f diturunkan ke y kita dapat aF a F = ( Jain + 00 } aF sedang = Ne maka a 3 | Ju ox + Qy)} = Ny) y atau : a —{ Ju Ox} + Q’(y) = N(x,y) oy Dari sini akan dapat tentukan Q(y) Contoh : 8. Selesaikan persamaan differensial : (2 + y) dx (x3 + d) dx =0 M=xr+y ; N=y+x oM oN Se ay ax ~. PD ini adalah eksak F=f[@+y)dx+Q) Fas, x3 + yx + Qy) Turunkan F terhadap y dengan menganggap x tetap, ro . (1.1.13) oF oF — =x + Q'(y) , sedang —=N=yi+x ay ay ©. didapat persamaan identik x+QQ)ax+y’ ~Um=y¥ Qy) = 14 yt Jadi solusi dari PD eksak di atas (1.1.14) 1 1 Fox +¢xy+—y'=C 3 OaraA atau jika PD di atas adalah eksak, maka diselesaikan dengan cara lain sebagai berikut (2 + y) dx + (y3 +x) dy =0 Xx dx + (y dx + x dy) + y? dy =0 x? dx +d (xy) + y? dy =0 d(x) +dy+d( y) =0 [dQ @+xy+%,y)=Jac Ws, e+ xy + y= Cll 9. (x + e% sin y) dx - (y + e* cos y) dy = 0 Selesaik: ag. aM aN M=x-+e*sin y ==> —— =e*cos y, N= -y - e* cos y ==> — = e* cos y ay ox © PD adalah eksak oF ' — sM=xteXsiny ax F=/, x2-e%sin y + Qy) F turunkan parsial ke y oF s— = 0% cos y + Q’(y), sedang oy oF [ ae y Kita dapat identitas -e* cos y + Q’(y) -y | Vy Qy)=-hy | 2. Solusi PD eksak F='/xt-e%siny- 4%, y2=C Atau dengan cara lain (karena PD eksak) (x + e* sin y) dx - (y + e* cos y) dy = 0 x dx + e* sin y dx - e* cos y dy - y dy =0 x dx - d (e*sin y) - y dy =0 | d (V,x2) - d (e* sin y) - d (hy) = 0 | d (¥,x2- et sin y - 7, y2) =0 | Y, 8-e* sin y -¥, y= C 84 Catatan : Jika kita telah mengetahui PD adalah eksak, maka cara terakhir adalah lebih cepat asalkan mengetahui turunan-turunan seperti 1. d(xy) =x dy +y dx x dy-ydx 2 @@y x dx -x dy 3. diy -2 FS" y x dy - y dx 4 (are ten 2) = SOY x x+y? d (x2 + y?) = 2 (x dx + y dy) 1 xdx+y dy —d { In? + y)} = ————_ 5 { In? + y)} way Contoh : 10. x dy + y dx = 2x? y dx Kombinasi x dy + y dx memberi suggesti sama dengan d (xy) atau dapat juga x dy +y dx xy d (In xy) = Untuk soal di atas tak dapat ruas kiri menjadi d (xy) karena ruas kanan ada variabel x,y. Oleh karena itu dilakukan pembagian dengan xy, sehingga ruas kanan hanya ada variabel x saja x dy +y dx xy d (in (xy) = d (+ C) Ini xyl=x7+C Suatu persamaan differensial order 1 M dx +N dy = 0 disebut non eksak, jika tak berlaku = 2x dx aM _ aN — = — atau dy ox aM aN ay ox 85 PD non eksak dapat dibuat menjadi PD eksak dengan cara mengalikan PD non eksak dengan suatu faktor yang disebut faktor integrasi (x,y) <. M dx +N dy = 0 non eksak kalikan dengan pL | }.M dx +p. N dy = 0 PD eksak maka berlaku OHM) — O(N) dy Ox Dari sini akan kita dapatkan faktor integrasi jt sebagai berikut oM a oN cl I not (1.1.14) a ee Bay aye ae ok aM aN aM aN, Hg ay 3x a. 27 oy Hyg aH OM aN BEN Oy ey OM ON lengan — - — # =o) ES Jika p hanya merupakan fungsi x saja, maka O maka Contoh : I. x dy + Gy-e) dx =0 dengan faktor integrasi f(x). Cari solusinya Jawab : oM M=3y-e > —=3 ay an Nex 35- Oe Op ox Ox bo oM ON St ay ox. op 2 = x ow Ox ros an ax Jadi PD yang baru, menjadi x dy + By - e) x2dx =0 x? dy + 3x¢y dx - xe dx = 0 d (ey) - we" dx = 0 Jd @y) - J er dx = 0 xy - (et - 2xe* + 2e") = C x¥y - xe" + Ixet- 20% = C adalah solusinya ! : 87 ee 12. Selesaikan : Gy +y- 1) dx +x dy =0 Jawab : aM. M=xyt+y-1;—=x41 ay N Ny Bxjs-s : ax aM | aN —— # —— di sini faktor integrasi merupakan f(x). ay” ox cy hee ax pe x _ oH wa a ie uw Inp=x Het PD baru : e (xy +y- 1) dx - etx dy =0 e'y (x + 1) dx + ex dy - e* dx = 0 d (e* xy) - etdx = dC e(xy-1)=C Soal-soal : (x? - y) dx - x dy =0 y (x - 2y) dx - x2 dy =0 (x2 + y?) dx + xy dy =0 (2 + y?) dx + Oxy dy =u (x + y cos x) dx + sin y dy = 0 (1 + e®) dp + 2p &% dd =0 Awe wy 10. i. 12. 13. 14. 15. dx - Vat - x2 dy = 0 (2x + 3y + 4) dx + (3x + 4y +5) dy =0 1 y (-—_) ax + x(x+y) x+y cosec x tan x dy - (y cosec x - tan’x) dx = 0 + 2y (x + 1)) dy=0 x dx + y dy = (x? + y?) dx (2y - 3x) dx - x dy =0 (x - y?) dx + 2 xy dy =0 y dx - x dy +Inx dx =0 (Bx? + y?) dx - 2 xy dy =0 4.2, PERSAMAAN DIFFERENSIAL LINIER Bentuk persamaan differensial linier adalah dy —— + y P(X) = Q&) dx atau : dx — +x Py) = Qy) dy Cara mencari solusi dari (1) “dx du ae + v —— ; substitusi dx u— dx ke (1) didapat dv du UY tv PO) = Q00 dx x dv u—+#+v (2 + PO) = O@) dx dx .. (4.2-3), dimana u dan v merupakan fungsi dari x Agar supaya persamaan ini dapat diselesaikan, maka ou PQ =0 © Lupe dx du — + P(x) dx =0 5 J 2+ Jee ar=0 u tin u =~ J Pe dx [P00 de u=e Untuk mencari v, substitusi (5) ke (4) # dy +C, 1 —+C, y — Vis cy! 4 ee a V1+C, y? y dy ———— = dx _ J y dy J ————— = J x Je Vi + Gy =Cx+C, Cx +oj=1+¢y —— 6. Selesaikan +3 dx? qd d di Py ly -1wy=0 ix Jawab : dengan memisalkan y = e™ didapat persamaan : m + 3m-10=0 (m + 5) (m2) = 0 m, =-5; m,=2 Jadi solusinya : y = C, e** + C, &% & d PY 5s 26 dx? dx dengan memisalkan y = e™ didapat 7. Selesaikan m? + 5m =0 m(m+5)=0 m, =0 m, =-5 101 102 Jadi solusinya : y =C,e* + Ce atau y = C, + C,e* é 4 fy | ae dx dengan memisalkan y = e™ didapat Selesaikan m-6m+9=0 (m-3)=0 m, = m, = 3 maka solusinya : y = (c, + ¢, x) e* Selesaikan persamaan a d Sg Dasyeo dt dx dengan memisalkan y = e™ didapat m?-2m+5=0 (m-17+4=0 (m- 1 + 2iXm— 1-21) = 0 m,=1-2i m, = 1+ 2i Solusinya : y =C, elt 4 C2 eftran = Ce e+ Cor, et = C, €* (cos2x - i sin 2x) + C, &* (cos 2x + i sin 2x) =e {(C, + C,) cos 2x + (Gi - C,i) sin 2x)} = e*(A cos 2x + B sin 2x) Rumus : C ** = cos x + i sin x 10. Selesaikan persamaan d 4 SY ig Y nyerst xt dx Mencari jawab komplementer, persamaan differensialnya : d 4 4 _aryco ax? dx Dengan memisalkan y = e™, didapat m— 4m - 21 =0 (m - 7)(m + 3) = 0 Jawab komplementer : y= C,. e* + C, e* Mencari solusi partikulir, di sini C(x) = x2 +1 maka dimisalkan y =Ax?+ Bx +C; sehingga y’ =2Ax +B y"=2A Substitusi ke dalam persamaan (soal) di dapat 2A — 4 (2Ax + B) - 21 (Ax?+ Bx + C)=x2+1 -21 Ax? + (8A =-21B) x + 2A -4B-21C)=x°+1 i -UAs1 3 As-—— 2 8 8 -8A - 1B =0 > 5 -- 2B >= 441 2 32 2A ~ 4B - 21C = 1 3 - ——--—_-2IC = 21 441 551 ~~ 9261 103 1. Jadi jawab partikulir : 8 551 x? + —— x + ——_ 21 441 9261 Jawab umum dari persamaan : y 1 De a Selesaikan persamaan &y ax Jawab : mencari solusi komplementer + 4y =sin x + 4y = 0, dengan memisalkan : dx? y = e™ didapat m+4=0 (m + 2i(m = 21) = 0 m, = 2i m, = -2i Jawab komplementer : y =C, e*+C,e% y =C, (Cos 2x +i sin 2x) + C, (cos 2x ~ i sin 2x) y =(C, + C,) cos 2x + (iC, - iC) sin 2x y = A cos 2x +B sin 2x Mencari solusi partikulasi, misalkan y =C, cos x +C, sin x, sehingga y’ =-C, sin x + C, cos x y” =-C, cos x- C, sin x Substitusi ke persamaan, didapat 43C, cos x + 3C, sin x = sin x xt 441 551 9261 12, Jawab partikulasi : y = '/ sin x Jawab umum : y =Acos 2x +B sin 2x + ¥/, sin x Selesaikan : d di BY gD gy a ae dx? dx Jawab : ay dy oo - 3 —— - 4y = 0 untuk mencari solusi komplementer. ax? mis : y = e™ ; substitusi ke persamaan menghasilkan : m’-3m-4=0 (m - 4\(m + 1) =0 m, = 4, m,= 1 Solusi komplementer : y=C,e%+C,e* Untuk mencari solusi partikulir misalkan : y = De, karena C(x) = 3e™* y =D y? = 4D & Substitusi ke persamaan di atas (soal) 4D e — 6D e* — 4D e* = 3 &® ~D=3 D=-%, Solusi partikulir adalah y=-', *. Solusi umum persamaan adalah y =C, e*+C, er—-'/, &* 105 Soal-soal Selesaikan persamaan differensial order 2 berikut ini : dy 1, —> =3x+2 dx? wy 2 ex cama ie ( ) e 3, 2 =-9 cos 3x = ¢ 4 Ae eo a ¢ 4 (ee ox dk ay 4 6. yw ge dx dx wey ly 7. 3 4220 ax? a ¢ 4 s 3 ax? ay a +2—+y=0 dx a fy 4 = 0 a ax d 4 1, 4 9 sy ox 43 ae dx ay 12. + dy = Bet ey gy ‘ 13. 6S oyaxtes de dk a&y . 14, + = cos 2x +2 sin 2x dx? 108 4.4. LEBIH LANJUT TENTANG PERSAMAAN DIFFERENSIAL LINIER BENTUK UMUM PERSAMAAN DIFFERENSIAL LINIER ORDE n Bentuk umum persamaan differensial orde n adalah pi ae dy \$0) Spt AOD FF AOD = ROD) rr (44-1) aa Suatu persamaan differensial yang tidak dapat dituliskan dalam bentuk ini dinamakan taklinier. wy dy Contoh 1. x a +3 =z 2xy =sin x adalah suatu persamaan linier orde dua. x IK dy Contoh 2. a ] (> af “y. + xy = e* adalah bukan suatu persamaan linier orde dua. Jika R(x) di, ruas kanan (1) diganti nol, maka persamaan differensial yang dihasilkan dinamakan persamaan komplementer, tereduksi atau homogen. Jika R(x) # 0, maka persamaan tersebut dinamakan persamaan lengkap atau tak homogen. di Contoh 3. Py oy dx ft Xe t3 gp 7 Pay = O adalah persamaan komplementer,tereduks atau homogen dari persamaan tersebut, Jika a(x), a,(x),. . ., a,(x) adalah Konstanta, (1) dikatakan mempunyai koefisien Konstanta; dalam hal lain dikatakan mempunyai koefisien peubah. TEOREMA KEUJUDAN DAN KETUNGGALAN Tika a(x), a(x), .. . , a,(x) dan R(x) kontinu pada selang Ix - x, < 8 dan a(x) = 0, maka ada satu dan hanya satu penyelesaian dari (1) yang memenuhi syarat ws (4.4-2) YO) =¥o VODEY ye ---> YASS ye? 107 LAMBANG OPERATOR Kadang-kadang baik sekali untuk menggunakan lambang Dy, D’y, ..., D*y untuk dy dy ay : 5 menyatakan ——, ——,.. , —~. Lambang D, D2, . . .D* dinamakan operator diffe- dx’ dx ax rensial dan bersifat sama seperti besaran aljabar. Dengan menggunakan lambang ini, kita menuliskan (1) sebagai [a@)D" + aQ)D +... +a @OD + aly = RO) eee (4.4-3) atau disingkat oD)y = RO) dimana \$(D) = a,(x)D" + a(x)D™! +... + a, ,(x)D + a(x) dinamakan operator suku banyak dalam D. ey dy : er ’ Contoh 4. x > +3 G— ~ 2ny = sin x dapat ditulis sebagai (xD* + 3D - 2x)y = K sin x OPERATOR LINIER Suatu operator L dinamakan operator linier jika untuk suatu konstanta A, B dan fungsi u, v di mana L dapat digunakan, kita mempunyai hubungan L(Au + By) = AL(u) + BL(v) Operator D, D?, . . . dan (D) adalah operator linier (Lihat Soal 3.3). TEOREMA DASAR PERSAMAAN DIFFERENSIAL LINIER Untuk menentukan penyelesaian umum dari oD)y = Rx) sesserees( 4) di mana R(x) # 0, misalkan Y,(x) penyelesaian umum persamaan komplementer tere- duksi atau homogen BD)y = 0 anes (4.4-5) 108 Kita seringkali menyebutkan Y,(x) sebagai penyelesaian komplementer atau penyele- saian homogen. Berikut ini kita mempunyai teorema penting yang kadang-kadang dina- makan prinsip atau teorema superposisi. Teorema 3-1. Penyelesaian umum (4) diperoleh dengan menjumlahkan penyelesaian komplementer Y,(x) ke suatu penyelesaian khusus Y,(x) dari (4) yaitu y= ¥,@) + Y,0) Contoh 5. Penyelesaian umum persamaan (D? - 3D + 2)y = 0 adalah y = c,e*+ c,e* dan suatu penyelesaian khusus dari (D? - 3D + 2)y = 4x? adalah 2x? + 6x + 7. Maka penyelesaian umum dari (D? — 3D + 2)y = 4x? adalah y = c,e* = ce — 2x? + Ox +7. Berdasarkan teorema ini, jelaslah bahwa kita dapat memandang secara terpisah terhadap masalah menentukan penyelesaian umum persamaan homogen dan penyelesaian khusus persamaan takhomogen. KETAKBEBASAN LINIER DAN DETERMINAN WRONSKIAN Suatu himpunan n fungsi y,(x), y,(%), - . . . y,() dikatakan takbebas linier pada suatu selang jika ada n konstanta c,, c,, . . .. ,, yang tidak semua nol, sehingga kesamaan cy,(x) + Gy,(x) +... + oy,(0) = 0 berlaku pada selang itu. Jika tidak demikian himpunan fungsi itu dikatakan bebas linier. Contoh 6. 2e*, Se*, e~* tak bebas linier pada suatu selang karena kita dapat menen- tukan konstanta ¢,, ¢,, ¢; yang tidak semua nol sehingga c,(2e*) + c,(Se*) + ce) = 0 identik untuk c, = -5, ¢,=2, ¢, = 0. Contoh 7. ¢* dan xe* bebas linier karena c,e* + c,xe* = 0 identik jika c= 0 dan c, = 0 Teorema 3-2. Himpunan fungsi y,(x), ¥,(0), -. . y,(*) (diandaikan mempunyai turunan) adalah bebas linier pada suatu selang jika dan hanya jika determinan y,(x) y,(x) BACs) Wp Yo s+ ¥) =] YQ) y’ (x) y’ (x) y,@Q) yD) y.-00) yang dinamakan Determinan Wronskian dari y,, . . . y, tidak nol pada selang tersebut. Teorema terakhir ini sangat penting dalam hubungannya dengan penyelesaian homogen atau persamaan tereduksikan. Teorema 3-3, _(Prinsip superposisi). Jika y,(x), y,(x), . » Y,(X) adalah n penyelesaian bebas linier dari persamaan linier orde-n \$(D)y = 0, maka y = cy, (x) + cy,(x) +... + cy) di mana.c,,c,,..., c* adalah konstanta sembarang, adalah penyelesaian umum \$(D)y = 0. PENYELESAIAN PERSAMAAN LINIER DENGAN KOEFISIEN KONS- TANTA Catatan berikut dapat digunakan untuk menentukan persamaan umum (1). Penye- derhanaan khusus terjadi bilamana persamaan tersebut mempunyai konstanta dan seka- rang kita bahas kasus ini. Dua prosedur umum yang digunakan pada kasus ini adalah yang tidak menggunakan teknik operator dan yang menggunakannya. Untuk setiap kasus terdapat metode untuk menentukan penyelesaian komplementer dan penyelesaian khususnya, dan keduanya kita gabungkan dengan menggunakan Teorema Dasar 3-1. TEKNIK TANPA OPERATOR 1. 110 PENYELESAIAN KOMPLEMENTER ATAU PENYELESAIAN HOMOGEN Misalkan y = e™, m = konstanta pada (a,D" + aD"! +... + a,)y = 0 schingga diperoleh am’ +am™4...4+a,=0 .(4.4-6) yang dinamakan persamaan pembantu atau persamaan karakteristik. Persamaan ini dapat difaktorkan ke dalam a,(m - m,) (m - m). yang mempunyai akar m,, m,, ini. (m - m,) = 0 4-7) ,m,, Kita akan memandang tiga kasus berikut Kasus 1. Semua akarnya riil dan berlainan. Pada kasus ini e*, e"2*, . . ., e"«* adalah n penyelesaian bebas linier sehingga dengan menggunakan Teorema 3-3, penyelesaian yang diinginkan adalah = ce" + ce +... + Cem su(4.4-8) Kasus 2, Beberapa akarnya kompleks. Jika a, ,,..., a, ril, dan bilaman a + bi adalah akar dari (6), maka a ~ bi juga akarnya (di sini a, b riil). Maka penyelesaian yang berkaitan dengan akar a + bi dan a — bi adalah y = e%(c, cos bx +c, sin bx) (44-9) yang diperoleh dengan menggunakan rumus Euler e* = cos u + i sin u. Kasus 3. Beberapa akarnya berulang. Jika m, adalah suatu akar dengan multiplisitas (pengulangan) k, maka suatu penyelesaiannya diberikan oleh Y=, tox + oR +... 4 6,xHem* (44-10) PENYELESAIAN KHUSUS Dua metode penting untuk menentukan suatu penyelesaian khusus dari \$(D)y = R(x) berikut ini sering digunakan. 1. Metode koefisien taktentu. Dalam metode ini kita mengandaikan bahwa suatu penyelesaian coba-coba (trial solution) yang memuat konstanta tidak diketahui (dinyatakan dengan a, b, c, . . .) dapat ditentukan dengan memasukkannya ke persamaan yang diberikan. Dalam setiap kasus, penyelesaian coba-coba tersebut diandaikan bergantung pada bentuk khusus R(x) yang ditunjukkan pada tabel berikut ini. Pada setiap kasus, f, g, p, q adalah konstanta yang diberikan dan k suatu bilangan bulat Cit \$8) 0s pe oe Get 4 8) sin px 1 Metode di atas berlaku dalam kasus penyelesaian coba-coba yang diandai- kan tidak mengandung suku dari penyelesaian komplementernya. Bilamana suatu suku dari penyelesaian coba-coba ini dengan pangkat positif terkecil dari x yang cukup besar sehingga setiap sukunya tidak muncul lagi pada penyelesaian kom- plementernya. 2. Metode variasi parameter. Misatkan penyelesaian komplementer dari \$(D)y = R(x) adalah y = cy,(x) + Gy) +... + oy,” Gantilah konstanta sembarang ¢, ¢,. . .. ¢, dengan fungsi K(x), K(x), . . .. K,(x) yang akan ditentukan sehingga y = K,y, + Ky, +. . . + K,y, adalah penye- lesaian dari (D)y = R(x). Karena untuk menentukan n buah fungsi ini kita harus menentukan n pembatas padanya dan karena satu dari pembatas tersebut adalah persamaan differensialnya harus dipenuhi, maka sisa pembatas yang harus diten- tukan adalah (n-1). Syarat yang harus dipenuhi untuk penyederhanaannya diberikan oleh persamaan Kiy,+Kiy, +...+Kiy,=0 Kiy, + Ky, +...+ Ky, =0 Kye + Kiyo? + + Ky, =0 Kiy,0-) + Kay, + + KY) = ROw/a, di mana persamaan terakhir menyatakan syarat agar persamaan differensial yang diberikan dapat dipenuhi. Karena determinan sistem persamaan di atas adalah determinan Wronskian dari y,, ¥. ++ Y, yang diandaikan tidak sama dengan nol, maka persamaan tersebut dapat diselesaikan untuk K',, K',, . .., K',, Dari sini K,, K,, . . . dapat ditentukan dengan mengintegralkan untuk memperoleh penyelesaian yang di- inginkan, Metode ini digunakan bilamana penyelesaian komplementernya dapat ditentukan, termasuk kasus di mana ay . . ., a, tidak Konstan. TEKNIK OPERATOR Bilamana a, a,,.. , a, adalah konstanta, maka persamaan \$(D)y = R(x) dapat ditulis dalam faktor berbentuk a(D - m,) (D- m)... D- m)y = R@® (44-12) 112 di mana m,,. . .. m, adalah konstanta dan orde dari faktor-faktor (D - m,), . - -» (D - m) tidak dipentingkan. Hal ini tidak benar untuk a, a,,..., a, bukan konstanta (lihat Soal 3.2). Konstanta m,, . . ., m, sama seperti akar-akar persamaan pembantu (6) atau (7), dan juga penyelesaian komplementernya dapat dituliskan seperti sebelumnya. Untuk menentukan penyelesaian khususnya, metode operator, berikut ini akan sangat berguna. 1. Metode penurunan (reduksi) orde. Misalkan a(D ~ m,) . . . (D ~m,)y = Y,. Maka (12) menjadi (D - m,)Y, = R(x) yang dapat diselesaikan untuk Y,. Kemudian misalkan a(D — m,).. . (D - m,)y = Y, schingga (D - mY, = Y, dapat diselesaikan untuk Y,. Dengan melanjutkan cara ini, y dapat ditentukan. Metode ini menghasilkan penyelesaian umum jika semua Konstanta sembarangnya dibiarkan, sedangkan bila konstanta sembarangnya dihi- Jlangkan akan menghasilkan suatu penyelesaian khusus. 2. Metode Operator Invers. 1 Misalkan —— R(x) didefinisikan sebagai suatu penyelesaian khusus y, 4D) schingga (Dy, = R(x). Kita namakan 1/4(D) suatu operator invers. Dengan berpe- doman pada jajaran dalam tabel berikut ini, tenaga yang dilibatkan untuk menen- tukan penyelesaian khusus (D)y = R(x) seringkali sangat berkurang. Dalam menggunakan ini kita seringkali meezan teorema I 1 amy (RO + ERO) = er 5) R@ + ay B®) yang secara sederhana menyatakan bahwa pernyataan 1/(D) adalah suatu operator linier. 113 a DO we eroem Cae “Re” berarti “Bagian cil dasi” dan “Tin” ks 96) #0, dalam a ingen Dera “agin maj ag? . c : 114 =@+oD+.+6Den. je | G+oD+.. +6 Doe dengan mengursikan 1/9(D) dalam pang- | _karena D? + %x? =O untuk x > 0: kat dari D. (p = bilangan balat posi). : : PERSAMAAN LINIER DENGAN KOEFISIEN PEUBAH ‘Ada beberapa macam metode yang tersedia untuk menyelesaikan persamaan dif- ferensial berbentuk (1) di mana ay a,,.., a, tak-konstan. Berikut ini kita daftarkan beberapa metode penting. 1. MACAM-MACAM TRANSFORMASI PEUBAH 1. Persamaan Cauchy atau Euler. Persamaan ini berbentuk (bx"D" + BAND"! +... +b, xD + boy = R(x) di mana by, b,, . . ., b, adalah konstanta. Ini dapat diselesaikan dengan memi- salkan x = et dan menggunakan hasil xD = D, xD? = D(D,- 1), XD? = DD, - 11D, - 2)... di mana D, = d/dt, sehingga mereduksi persamaannya menjadi persamaan dengan koefisien konstanta. Kasus di mana R(x) = 0 dapat diselesaikan dengan me- misahkan y = x? dan menentukan konstanta p. 2. Kasus di mana satu penyelesaian diketahui. Jika satu penyelesaian y = Y(x) dari \$(D)y = R(x) diketahui, maka penggantian y = v¥(x) akan mentransfor- masikan persamaan differensial tersebut ke dalam persamaan berorde (n-1) dalam. v.. Jika n = 2, persamaan berorde (n - 1) dalam v’. Jika n = 2, persamaan tersebut dapat diselesaikan secara eksak, Lihat Soal 34. 3. Reduksi ke bentuk kanonik. Bentuk umum persamaan linier tingkat dua y” + py’ + q@y =r) (4.4-13) dapat ditransformasikan ke dalam bentuk kanonik v" + fv = g(x) di mana f(x) = q(x) = V{LPOOP - 4p"), g(x) = r(x)el?! HR... (44-15) dengan menggunakan penggantian y = vet?! mene : (4-4-1) Jadi jika (14) dapat diselesaikan, demikian juga (13). Lihat Soal 35 dan 36. 115 Ml. Mm. Nv. PERSAMAAN EKSAK Persamaan [a,(x)D* + a,(x)D™! +... + a,(x)ly = R(x) dinamakan eksak jika a(x)D" + a,(x)D™! +... + a(x) = D(p)D™" +... + p,@)] Sebagai contoh, [a,(x)D? + a,(x)D + a,(x)]y = R(x) eksak jika dan hanya jika kesamaan a’, — a’, + a, = 0 berlaku. Lihat Soal 37 dan 38. VARIASI PARAMETER Metode ini identik dengan metode di halaman 81, yang dapat digunakan bila- mana penyelesaian komplementernya diketahui. PEMFAKTORAN OPERATOR Jika (D) dapat difaktorkan ke dalam faktor-faktor di mana setiap faktornya berbentuk p(x)D + q(x), maka metode penurunan tingkat (di halaman 81) dapat digunakan, Lihat Soal 39. METODE DERET Persamaan a,(x)y” + a,(x)y’ + a,(x)y = 0 di mana a,, a,, a, adalah suku banyak seringkali dapat diselesaikan dengan pengandaian bahwa Ye @ tox toxt+...)=E oxt di mana o =0,k <0 nu(4417) = di mana B dan c, konstanta. Masukkan (17) ke dalam persamaan differensial agar dicapai suatu persamaan untuk c, yang dinamakan persamaan berindeks (indicial equation), dan persamaan untuk konstanta cy, ¢,, . . . yang berbentuk suatu rumus rekursi (recursion formula). Dengan menyelesaikannya untuk B dan konstanta lain- nya, seringkali dapat diperoleh suatu penyelesaian berbentuk deret. Deret ini dina- ‘makan suatu Deret Frobenius dan metodenya seringkali dinamakan metode Frobe- nius. Lihat Soal 40. PERSAMAAN DIFFERENSIAL SIMULTAN Suatu sistem persamaan differensial dengan dua atau lebih peubah takbebas dan satu peubah bebas dapat diselesaikan dengan mengeliminasi satu dari peubah takbebasnya, sehingga diperofeh suatu persamaan differensial yang tunggal. Penyelesaian yang diper- oleh akan diperiksa kembali dengan memasukkannya ke persamaan differensial asalnya untuk mendapatkan bilangan yang sebenarnya dari Konstanta sembarang yang disajikan. 116 PENGGUNAAN Masalah—masalah dalam mekanika, kelistrikan dan bidang lain dalam ilmu penge- tahuan dan teknologi seringkali mencapai persamaan differensial dan dapat diselesaikan dengan metode di atas. Lihat Soal 42 - 47. 4.5. SOAL-SOAL DAN PEMECAHANNYA OPERATOR 1. Tunjukkan bahwa (D? + 3D + 2)e* = (D + 2)(D + De* = (D + 1)(D + 2)e™ (D? + 3D + 2)e% = D’e* + 3De* + 2e* = 16% + 12% + 2e* = 300% (D + 2D + Ie = D + 2(DeX + 8) = (D + 2)(de" + et) = (D + 2)(5e") = 30e D+ ND + Het = (D + 1Det + 2) = D + (de + 2e*) = D + 1)(6e%) = 30eM Hasil ini menggambarkan bahwa hukum komulatif dari perkalian operator dengan koefisien konstanta berlaku. Secara umum, hukum komulatif untuk perkalian tidak berlaku bagi operator dengan koefisien pada konstanta seperti terlihat pada Soal 2. 2. Tunjukkan bahwa operator xD + 1 dan D — 2 tidak komulatif terhadap perkalian. QD + 1D - Dy = (WD + 1’ - 2y) = xD(y’ - 2y) + (y’ — 2y) = xy” - 2xy’ + y’ - 2y (D — 2)xD + Dy = D - 2Xay’ + y) = D(xy’ + y) - 2(xy’ + y) = xy” — 2xy’ + 2y’ - 2y Maka (xD + 1)(D - 2)y # (D - 2(xD + Hy dan hasil yang diinginkan terbukti. 3. (a) Buktikanlah bahwa D, D?, D?, . . . adalah operator linier. (b) Buktikanlah bahwa (D) = a,(x)D* + a(x)D™! +... + a(x) adalah suatu operator linier. d du dv (a) D(Au + By) = —— (Au + Bv) = A—— + B——= A Du+B Dv dx dx dx sehingga D adalah suatu operator linier (lihat halaman 78). Dengan cara yang sama kita dapat menunjukkan bahwa D’, D*, . . . adalah operator linier. (b) (D)[Au + Bv) = (a,D" + a+... +a)[Au + By] a,D'[Au + By] +... + a,[Au + By] (Aa,D*u + Ba,D*v) +... + (Aau + Ba,v) = AG@D' +... +a)u+ Ba@D'+...+a)v = AgDu + BOD) sehingga \$(D) adalah suatu operator linier. W7 4, Buktikan bahwa jika y,, y,,.. , y, adalah penyelesaian persamaan \$(D)y = 0, maka cy, +cy,+...+¢,y, di manac,, c,,...c, konstanta sembarang juga merupakan penyelesaian persamaan itu. Kita mempunyai \$(D)y, = 0, (Dy, = 0,..., Dy, =0 Maka dengan menggunakan Soal 3, OD)ley, + Gy, +... + Gy] = co(D)y, + ¢,O(D)y, +... + c,0D)y, -schingga cy, + c,y, +... +c,y, adalah suatu penyelesaian. 5. Buktikanlah Teorema 3—1 di halaman 109. Misalkan y = Y,(x) adalah penyelesaian umum \$(D)y = 0, yang mempunyai n konstanta sembarang. Misalkan y = Y,(x) adalah suatu penyelesaian khusus \$(D)y = R(x). Maka y = Y,(x) + Y,(x) adalah penyelesaian umum \$(D)y = R(x) karena menurat Soal 3. ODIIY(X) + YC] = OD)Y,C)] + OD)LY,(0)] = 0 + RK) = RO) KETAKBEBASAN LINIER DAN DETERMINAN WRONSKI 6. Tunjukkan bahwa fungsi-fungsi cos 2x, sin°x, cos? x takbebas linier. Kita harus menunjukkan adanya konstanta c,, c,,c, yang tidak semua nol sehingga ¢, cos 2x + ¢, sin? x + c, cos? x = 0 secara identik. Karena cos 2x = cos? x ~ sin’x, kita dapat memilih c, = 1, c, = 1, c, = 1 dan hasil yang diinginkan terjadi. 7. Buktikanlah bahwa bila diterminan Wronski dari fungsi-fungsi y,, . . . y, tidak sama dengan nol pada suatu selang, maka fungsi-fungsi tersebut bebas linier pada selang itu. Andaikan tidak demikian, yaitu fungsi-fungsi tersebut tak bebas linier pada selang itu. Maka ada n konstanta c,, . . ., c, yang tidak semua nol sehingga cy, +... + oy, =0 1) secara identik. Dengan pendiferensialan berturut-turut kita sampai pada kesamaan Sekarang selesaikan sistem n persamaan (1) dan (2) untuk memperoleh jawaban Cy ++» ©, Yang tidak semua nol, kita harus mendapatkan Karena W # 0 menurut hipotesa, pertentangan ini menunjukkan bahwa fun, tersebut tidak dapat takbebas linier, sehingga haruslah bebas linier. ‘ungsi Buktikanlah bahwa jika fungsi-fungsi y,, .. .. y, bebas linier pada suatu selang, maka determinan Wronskinya tidak sama dengan’ nol. Andaikan tidak demikian, yaitu determinan Wronskinya nol untuk suatu nilai khusus x, pada selang itu. Perhatikan sistem persamaan cy) +... Gy (x) = 0 yy) +... + GY,’ (Xp) 0 ey, +. Karena determinan Wronskinya nol, kita lihat bahwa sistem ini mempunyai penye- lesaian cy, . . . ¢, yang tidak semua nol. Sekarang misalkan y soy (x) +... + ey,(X) (2) Tita y,(x), - « ¥,(x) adalah penyelesaian Q(D)y = 0, maka menurut Soal 4; (2) juga penyelesaian dari \$(D)y = 0 yang dapat dilihat dari persamaan (1) memenuhi syarat ¥(K,) = 0, ¥'(K,) = 0,.. « ¥(K,) = 0. Tetapi y = 0 memenuhi 6(D)y = 0 dengan syarat yang sama. Jadi menurut teorema ketunggalan di halaman 44, ini mengakibatkan bahwa penyelesaiannya hanya y = 0, yaitu 5 cy, +... + ey,(x) = 0 dan dari sini kita lihat bahwa y,, . . ., y, takbebas linier. Karena y,, . . ., y, bebas linier menurut hipotesa; pertentangan ini menunjukkan bahwa determinan Wrons- kinya tidak dapat nol untuk x, dan hasil yang diinginkan terbukti. Soal ini dan Soal 7, bersama-sama membuktikan Teorema 3-2. Misalkan y,(x), y,(<) adalah penyelesaian y” + pOdy’ + q(x)y = 0. (a) Buktikan bahwa determinan Wronskinya adalah W = y,y’, - y,y’, = ce“** (b) Syarat manakah untuk ¢ yang membuat y, dan y, bebas linier. (a) Karena y, dan y, adalah penyelesaian, maka y", + py’, tay, =0, y", + py’, + ay, =0 119 Kalikan persamaan ini berturut-turut dengan y, dan y, kemudian kurangkan, diperoleh YY" — Ya") + POY’? — Ya") = 0 (1) Kemudian gunakan W = y,y’, - y,y’, dan dengan mengingat y,y”, — y,y", = dWidx, menjadi aw —+pw=0 dx yang mempunyai penyelesaian W = yy’, - yay, = cot Hasil ini kadang-kadang dinamakan Kesamaan Abel. (b) Karena e*** tidak pernah nol, maka W # 0 jika dan hanya jika c # 0. Jadi jika ¢ #0, y, dan y, bebas linier. ). Gunakanlah Soal 9, untuk membuktikan bahwa jika y, adalah penyelesaian yang diketahui dari y” + poy’ + qQoy = 0, maka suatu penyelesaian bebas liniemya adalah ens aa yay J dx sehingga penyelesaian umumnya adalah y = cy, + ©,Y, Dari (2) soal 9, setelah membaginya dengan y?, # 0, kita memperoleh a ee dx. y y, Kemudian integralkan dan selesaikan untuk menentukan y, sehingga diperoleh penye- lesaian bebas linier yang diinginkan. PERSAMAAN TEREDUKS!I ATAU HOMOGEN uM. 120 (@) Tentukan tiga penyclesaian bebas linier dari (D — 9D)y = 0 dan (b) tuliskanlah penyelesaian umumnya. (a) Andaikan y = e™ adalah suatu penyelesaian, m konstanta. Maka (D? ~ 9D)e™ = (m? — 9m)e™ bemilai nol bilamana m?- 9m = 0, yaitu m(m — 3)(m + 3) = O atau m= 0, 3, -3. 13. 15. Maka e® = 1, e%, e~* adalah penyelesaiannya. Determinan Wronskinya adalah rn as 3e*% Be 0 3e* Be] = = 54 de 9334 0 9e* 9e* schingga fungsi-fungsi tersebut bebas linier berdasarkan Teorema 3-2. (b) Penyelesaian umumnya adalah y = ce™ + c,e™ + ce = c, + ce" + ce. . Selesaikanlah (a) 2y” — Sy’ + 2y = 0. (b) (2D* - D? - SD - 2)y = 0. (a) Persamaan karakteristiknya adalah 2m? - 5m +2=0 atau (2m — 1)(m— 2) = 0 sehingga m = 1/2,2. Maka penyelesaian umumnya adalah y = ce? + c,e* (b) Persamaan karakteristiknya adalah 2m’ — m? — 5m ~ 2 = 0 atau (2m + 1) (m + 1)(m ~ 2) = 0 sehingga m = -1/2, -1,2. Maka penyelesaian umumnya adalah y = c,e*? + c,e* + c,e™ Selesaikanlah y” + 9y = 0 atau (D? + 9)y = 0. Persamaan karakteristiknya adalah m? + 9 = 0, dan m = + 3i, Maka penyelesaian umumnya adalah y = Ae* + Be = A(cos 3x + i sin 3x) + B(cos 3x — i sin 3x) yang dapat ditulis sebagai y = c, cos3x +c, sin 3x. Karena cos 3x, sin 3x bebas linier, penyelesaian ini merupakan penyelesaian umum. . Selesaikanlah (D? + 6D + 25)y = 0. Persamaan karakteristiknya adalah m? + 6m + 25 = 0, sehingga m’ = 64V36— 100 648i , 5-3 #41, Maka penyelesaian umumnya adalah y = Ae 4 BeC4* = (Ae + Be) = e*(c, cos 4x +c, sin 4x) Selesaikanlah (D* - 16)y = 0. Persamaan karakteristiknya adalah m‘ + 16 = 0, atau (m?+ 4)(m? — 4) = 0 yang mempunyai akar 2i, 2. Maka penyelesaian umumnya adalah y = c, cos 2x +c, sin 2x + ce* + ce 424 16. Selesaikanlah y” ~ 8y’ + 16y = 0. Persamaannya dapat ditulis sebagai (D? - 8D + 16)y = 0 atau (D ~ 4)¥y = 0. Persamaan karakteristiknya (m — 1)? = 0 mempunyai akar m = 4,4 sehingga e*, e* adalah penyelesaian yang berkaitan untuk akar yang terulang itu. Tetapi kedua penye- lesaian itu tak bebas linier schingga kita tidak dapat mengatakan bahwa y = ce + c,e* adalah penyelesaian umumnya karena penyelesaian itu dapat ditulis (c, + c,)e* = ce yang hanya melibatkan satu konstanta sembarang. Di sini ada dua metode yang dapat digunakan untuk memperoleh penyelesaian umumnya. Metode 1. Tulislah persamaan yang diberikan sebagai (D - 4)(D — 4)y = 0 dan misalkan (D - 4)y = Y, sehingga (D - 4)¥, = 0 dan Y, = Aye. Jadi (D - 4)y = Aye®. Selesaikan, dan kita memperoleh y = (c, + ¢,x)e* Metode ini dinamakan metode penurunan orde (reduction of order), yang menggambarkan suatu prosedur umum untuk akar-akar berulang. Dengan menggunakan metode ini, jika 4 adalah akar yang berulang tiga kali, penyelesaian umumnya menjadi y = (c, + ¢,x + ¢x2)e™ Metode 2. Karena satu penyelesaiannya, y, = e* diketahui, kita dapat menggunakan Soal 10 untuk menentukan penyelesaian linier. foo =e J © dx = xe* 4 J (ery Maka penyelesaian umumnya adalah y = ce + c,xe = (c, + ¢,x)e™ 17. Selesaikan (D + 2)(D - 3)'(D* + 2D + 5)y = 0. Persamaan karakteristiknya adalah (m + 2)(m — 3)‘(m? + 2m + 5) = 0 yang mempunyai akar -2, -2, -2, 3, 3, 3, 3, -1 + 2i. Maka penyelesaian umumnya adalah ¥ =, + ox + oe + 0, + Cx + CA? + CxO + ENC, COS 2x +c, sin 2x), PERSAMAAN TAK-HOMOGEN ATAU LENGKAP METODE KOEFISIEN TAK-TENTU 18, Selesaikanlah (D* + 2D + 4)y = 8x? + 12e* Penyelesaian komplementernya adalah e*(c, cosV3x + c, sinV3x). 122 Untuk memperoleh suatu penyelesaian khususnya andaikan berkaitan dengan 8x? dan 12e* penyelesaian coba-cobanya berturut-turut adalah ax? + bx + c dan de™, karena tidak ada dari suku ini yang muncul pada penyelesaian komplementernya. Kemudian substitusikan y = ax? + bx +c + de* dalam persamaan yang diberikan, kita memperoleh 4ax? + (4a + 4b)x + (2a + 2b + 4c) + 3de* + 8x? + 12e% Samakan koefisien yang berkaitan pada kedua ruas persamaan, 4a +8, 4a+4b=0, 2a + 2b + 4c +0, 3d = 12 Makaa=2, b=-2, c=0, d=4 dan penyelesaian khususnya adalah 2x? — 2x + 4e% Jadi penyelesaian umum yang diinginkan adalah y = e%(c, cosV3x + c, sinV3x) + 2x?~ 2x + 4e* 19, Selesaikanlah Soal 3.18 jika suku 10 sin 3x ditambahkan pada muas kanannya. Berkaitan dengan suku yang ditambahkan, 10 sin 3x; kita mengandaikan penye- esaian coba-coba yang ditambahkan h cos 3x + k sin 3x, yang tidak muncul dalam penyelesaian komplementernya. Dengan mensubstitusikan ini ke dalam persamaan (D? + 2D + 4)y = 10 sin 3x, (6k ~ 5h) cos 3x — (5k + 6h) sin 3x = 10 sin 3x Samakan koefisiennya, 6k ~ 5h =0, 5k + 6h =-10 10 ~Grr: Maka penyelesaian umum yang diinginkan adalah 12 10 y = e*(c, cosV3x + c, sinV3x) + 2x? - 2x + 4e*— — cos 3x - — sin 3x 61 61 20. Selesaikanlah (D* + 4)y = 8 sin 2x Penyelesaian komplementemya adalah c, cos2x + ¢, sin 2x. Untuk suatu penyelesaian khususnya, biasanya kita mengandaikan penyelesaian coba-coba a cos 2x +b sin 2x. Tetapi Karena suku ini muncul dalam penyelesaian komplementernya, kita kalikan dengan x untuk memperoleh penyelesaian coba-coba x(a cos 2x +b sin 2x), Kemudian substitusikan penyelesaian ini ke persamaan yang diberikan, 2 —4a cos 2x - 4b sin 2x = 8 sin 2x sehingga 4a = 0, —4b = 8 dan a = 0, b = -2. Maka penyelesaian umum yang diinginkan adalah y =, cos 2x +c, sin 2x — 2x sin 2x . Selesaikanlah (D’ — 3D‘ + 3D* - Dy = x? + 2x + 3e* Persamaan karakteristiknya adalah m> ~ 3m‘ + 3m? — m? = 0 atau m’(m — 1)? = 0. Jadi m = 0, 0, 1, 1, 1 dan penyelesaian komplementemya adalah ayes 6, FOX + (C, +O,x 40,22) Berkaitan dengan suku banyak x? + 2x, normalnya kita mengandaikan penye- lesaian coba-coba ax? + bx +c. Tetapi beberapa di antara suku ini muncul dalam penyelesaian komplementernya. Kalikan penyelesaian coba-coba ini dengan x se- hingga menjadi x(ax + bx +c) = ax? + bx? + cx, tetapi satu dari suku ini muncul juga dalam penyelesaian komplementernya. Akhimya kalikan lagi dengan x dan diperoleh ax‘ + bx? + cx?, kita lihat bahwa tidak ada lagi bentuk ini yang muncul dalam penyelesaian komplementernya, sehingga ini adalah penyclesaian coba-coba yang diperlukan. Dengan cara yang sama, berkaitan dengan 3e* biasanya kita mengandaikan penye- lesaian coba-coba de*, Tetapi karena suku ini dan juga dxe* dan dx?e* muncul dalam penyelesaian komplementernya, maka kita harus menggunakan penyelesaian coba- coba dxie*. Jadi penyelesaian coba-coba yang diandaikan adalah ax! + bx? + ox? + dx’e® substitusikan jni, dalam persamaan yang diberikan, kita memperoleh —12ax? + (72a — 6b)x + (18b — 72a — 2c) + 6de* = x? + 2x + 3e* sehingga a=-1/12, b=~4/3, c=-9, d= 1/2 dan penyelesaian umumnya adalah 1 : aye et 4 3 9x2 Y= OH OK (6, + OK + ERC + wlet — xt — oat — On PERSAMAAN TAKHOMOGEN ATAU LENGKAP METODE VARIASI PARAMETER 28 124 Selesaikanlah y” + y = sec x atau (D* + I)y = sec x. Penyelesaian komplementernya adalah c, cos x +c, sin x. Maka kita mengan- daikan penyelesaian umumnya berbentuk y = K, cos x + K, sin x dimana K,, K, adalah fungsi yang sesuai dengan perubahan x dan akan ditentukan. Pendi- ferensialannya memberikan y’ =-K, sin x + K, cos x + K’cos x + K’, sin x ) Karena ada dua fungsi, K, dan K,, maka kita harus sampai pada dua syarat untuk menentukan keduanya. Tetapi salah satu syarat ini adalah persamaan differensialnya harus dipenuhi. Karena itu kita bebas untuk merentukan syarat kedua. Kita memilih syarat ini untuk menyederhanakan (1), namakaniah K’,cos x + K’, sinx =0 .Q) Maka (1) menjadi y’ = -K, sin x + K, cos x Differensialkan lagi, y” =-K, cos x — K, sin x — K’, sin x + K’, cos x Jadiy" +y =-K’, sin x + K’, cos x = sec x Dari dua persamaan K’, cos x + K’, sin x = 0 sin x + K’, cos x = sec x kita memperoleh K’, = 1 dan K’, = -tan x. Jadi dengan mengintegralkannya, K, = x +c, K,=-In sec x +c, dan penyelesaian umum yang diinginkan adalah y =c, sin x + c, cos x + x sin x — cos x In sec x 23. Selesaikanlah (D* + 4D)y = 4 cot 2x. Penyclesaian komplementernya adalah c, + c, cos 2x + c, sin 2x. Maka kita mengatur persamaan berikut untuk menentukan fungsi K,, K,, K, dalam penyele- saian umum, y = K, + K, cos 2x + K, sin 2x cos 2x + K’, sin 2x = 0 in 2x + 2K’, cos 2x = 0 0 - 4K’, cos 2x ~ 4K’, sin 2x = 4 cot 2x Selesaikan sistem ini, kita memperoleh K’, = cos 2x, K’, = ~cos* 2x/sin 2x, K’, = ~cos 2x sehingga K, = /, In sin 2x +c, K, =~", In (esc 2x ~ cot 2x) ~ /, cos 2x + cy K,=—-"%, sin 2x +c, 125 Dari sini kita memperoleh penyelesaian umumnya y = ¢, +6, cos 2x +c, sin 2x + ¥/, In sin 2x ~ ¥/, cos 2x In (csc 2x — cot 2x) D-2 TEKNIK OPERATOR 1 24, Selesaikanlah ——— (e%) Metode 1. Misalkan et = y. Maka menurut definisinya, (D — 2)y = e atau 2 ~2y = e**, Selesaikanlah ini seperti suatu persamaan linier tingkat pertama dengan faktor pengintegralan e, kita memperoleh y = /,e% + ce*. Karena yang kita perhatikan hanya penyelesaian khususnya, Lae ee” D-2 2 Metode 2 (gunakan rumus A, di halaman 81, kerjakan seperti dalam metode I]. 1 ott wer font dcee fous ten 1 25. Tentukanlah —__—__—- (3e*). (@ +1). - 2) Metode 1. 1 1 ——___—_ (3e) = ——_ M+) O-2 D+1 1 =— [e* J ee) dx sorter Ferce ax] 1 =p bhuetse Jerre dx = Ye Metode 2. Gunakan pecahan bagian. 4 Ber) =[ che + - @+)O-d par *plaie™ 126 1 = (eo) + Dai“ y = -e%J e(e™) dx +e J e(e™)dx = 3/,e% 1 2x) =e 1 om 26. (a) Buktikanlah bahwa —— e™ + ——— jika (p) # 0. oy * Gm (b) Tentukanlah penyelesaian umum (D* - 3D + 2)y = e® dengan menggunakan hasil (a). (a) Menurut definisinya, (D) = aD" + aD"! +... +a, dimana a, a, ..., a, konstanta. Maka o(D)e™ = (a,D" + aD" +... + ae™ = (ap" + apt +... + ayer = o(p)e" 1 oa Sadi jika \$(p) # 0, maka — er = o(D) 9) 1 1 e (yy ee) D?- 3D +2 GP - 3(5) +2 12 Karena penyelesaian komplementernya adalah c,e* + c,e%, maka penyelesaian x umumnya adalah y = c,e* + ce + ——— 27. (a) Buktikanlah bahwa —— cos (px + q) = 2° * sika opt) #0 27. (a) Buktikan! wa ——- cos (px + q) = ———— Jika (-p?) # oD) oP) (b) Tentukanlah penyelesaian umum dari (D? + 1)%y = cos 2 x dengan menggunakan hasil (a). (a) 9(D*) = a (D3 + (D3 +... + a, sebingga O(D*) cos (px +q) = [a,(D*)" + a(D*) "+... + a,] cos (px +q) = [a,(-p°Y + a(-p?)"! +... + a,] cos (px +q) = Op") cos (px + q) Gunakan D*{cos (px+ q)] (px + q), dan seterusnya. = =p? cos (px +), (D*? cos (px + q) = Cp? cos Jadi jika \$(—p?) # 0, diperoleh hasil yang diinginkan. 1 (b) os 2) = COS 2x = > cos 2x menurut (a). 1 1 = x = ———_ +1) (441) Karena penyelesaian komplementernya adalah c, cos x + ¢, sin x + x(c, cos x +c, sin x), penyelesaian umum yang diinginkan adalah 1 ¥ =o, cos x + 0, sin x + x(c, cos x +c, sin x) + —— cos 2x 1 28. Hitunglah ————_ cos 2) mn Deb +2D-1 Kita dapat menunjukkan dengan metode yang sama seperti dalam Soal 27, yaitu D? secara formal dapat diganti oleh -2* = —4, Jadi 1 1 I 2x = 2x = cos 2: D+D+D41 "De -4+2D-1 DHS QD-5) (QD - 5) = 0095 2x = - 005 2 4D? — 25 a4) — 25 1 1 =— (2D ~ 5) cos 2x = — (4 sin 2x ~ 5 cos 2x) 41 41 29. Buktikanlah bahwa (a) D'{e"R(x)] = e(D + p)"RO), (6) @(D) [e*R(X)] = 1 1 [e"R(x)] = e* ——_—— Ri om” wep” (a) Gunakan induksi matematika. Hasil tersebut benar untuk n = 1, karena D[e*R(x) *DR(x)] + pe’*R(x) = e™(D + p)R(x). Andaikan hasil tersebut benar untuk n =k. Maka D*{e"R(x) = e(D +p)*R(x). Differensial kedua ruas, ePG(D + p)R(X), () Dk * fem R(x)] = Dle™(D + p)RO)) = e™D(D + p¥kR(x) + pe™(D + p(X) = em[(D + p)**! R)] Jadi jika hasil tersebut benar untuk n = k, ia benar pula untuk n = k + 1; tetapi karena ia juga benar untuk n = 1, maka hasil tersebut harus benar untuk n = 1, ... dan untuk semua n. (b) —— (D) [e* ROO] = a,Dle"R(x) + a,D™ {ePRO)] +... +a, = e"[a(D +p)" +(D + py +... + a IR) = em G(D + p)R(x) I (©) Misalkan > [ e"R(a)] = y sehinggs @(D)y = e"R(x), Maka (D)fe™(ye™)] = ePG(D + p) [ye] = e# R(x) atau O(D + p)lye™] = RO) 1 hit ox ———___—. RG sehingga Lee an x) 30. Selesaikanlah (D? + D)y = e% cos 2x. Gunakan Soal 29, 1 (e% cos 2x) = ¢* ——_______ cos 2x D+D (D-2~+D-2 1 1 =e ——______. 0 2x = ¢* ——___—_ cos 2x D?- 6D? + 13D - 10 ~4D + 24+ 13D - 9D -14 ——— 0s 2x = e* cos 2x 9D +14 81D? — 196 2 ot e (QD - 14) cos 2x = (9 sin 2x + 7 cos 2x) 260 ~BI1Cd) — 196 Karena penyelesaian komplementernya adalah ¢, + c, cos x +c, sin x, penyelesaian yang diinginkan adalah ex y =o, +0, cosx +e, sin x + (9 sin 2x + 7 cos 2x) 1 31. Hitunglah op=prT (x3 — x) Dengan pembagian ame dalam pangkat dari D yang semakin membesar, ae —— (84 v= G+ D at s.. ew 2D°-D+2 DD 4° 8 «16 = (x3 — x) + 7,3x? = 1) + 76x) - 7,6) Bye +324 Ux 9, 129 PERSAMAAN CAUCHY ATAU EULER 32. Misalkan D = d/dx dan D, = d/dt. Buktikanlah bahwa jika x = e!, maka (a) xD =D, (b) eD* = D(D, - I) dy dt dy de oy (a) = =— = SLY ner ® serpy dx dt dx dt dt dt dt . Maka xDy = e'Dy = Dy or xD = D, ) Dy = — = = (et %) = as @® 1 = e™D - Doy Maka x°D*y = e D¥y = (Dt - Dy atau x°D* = D2 - D, = DD, - 1), 33. Selesaikanlah (xD? + xD - 4)y = x3 Dengan transformasi x = e', persamaan tersebut menjadi {D,@, - 1) + D,- 4Jy = (e'? atau (D*, - 4)y = e* Maka penyelesaian umumnya adalah y = ce + c,e + Ye = ox? + 6.x? + 5x2. Metode lain. Misalkan y = x? dalam persamaan komplementer (x°D? + xD — 4)y = 0, kita memperoleh p(p — 1x? + px? ~ 4x? = 0 atau (p* - 4)x? = 0, yaitu = p = +2. Jadi x? dan x? merupakan penyelesaian dan penyelesaian komplementernya adalah y= Kx? + Kx Sekarang kita dapat menggunakan metode variasi parameter untuk menentukan penyelesaian yang diinginkan. KASUS DENGAN SATU PENYELESAIAN YANG DIKETAHUI 34, Selesaikanlah (1 — x®)y” ~ 2xy’ + 2y = 0 diketahui bahwa y = x adalah suatu penyelesaian. Misalkan y = xv. Maka y’ = xv’ + v, y” = xv” + 2v’ dan persamaan yang diberikan menjadi 130 dv’ 2-4x2 1 = xv" + 2 = 4xQv = 0 atau + x = (1 ~ BV" + 2 - 4x5) wt Gane & - av’ 2 2x Integralnya memberikan J —— + J (— - ) dx = ¢, a x x? yaitu Inv’ +2inx+In(1-x)=¢, atau Maka sehingga penyelesaian umumnya adalah +x x y=v=c,(—In -1)+ox 2 1-x Kita dapat juga menggunakan hasil soal 10 untuk menyelesaikan persamaan tersebut. REDUKSI KE BENTUK KANONIK 35. Dengan memisalkan y = uv dan memilih u yang sesuai, tentukanlah persamaan dif- ferensial yang berkaitan dengan y” + p(x)y’ + q(x)y = r(x) tanpa melibatkan suku turunan pertama tersebut. Substitusikan y = uv pada persamaan yang diberikan, kita memperoleh uv” + (2u’ + pu)v’ + (u” + pu” + qu)v =r Misalkan 2u’ + pu = @ schingga u = e“", Maka (1) menjadi V+ = Vp? ~ "pv = role seperti yang diinginkan. Persamaan (2) dinamakan bentuk kanonik dari persamaan yang diberikan. 36. Selesaikanlah 4x’y” + 4xy’ + (x? ~ Dy = 0. Bandingkan dengan Soal 35, p = I/x, q = (x? - 1)/4x%, r = 0. Maka bentuk kanoniknya adalah 131 vs [ \ in? v’ + "hv = 0 atau v =, cos ¥/,x + ¢, sin 9x 1 in | 0s Vx +c, sin Vx vx Jadi yy = veomm = PERSAMAAN EKSAK 37. Tunjukkan bahwa [a,(x)D? + a,(x)D + a,(x)y = R(x) eksak jika dan hanya jika kesamaan a," - a," + a, = 0 berlaku. Menurut definisi suatu persamaan eksak, maka ada fungsi p,(x), p,(x) sehingga [a,D? + a,D + ay = D(pD + p)y = [p,D’ + (p) + p,)D + Ply Maka kita memperoleh a= Py a =P + Pp =P, Eliminasi p,, p, dari 3 persamaan ini, kita memperoleh a,” ~ a,’ + a, = 0. Sebaliknya jika a," — a,' + a, = 0, maka {a,D? + aD + a,ly = [aD + aD + a,' — a,"ly = Dia,D + a, — ayy dan persamaan ini eksak. 38, Selesaikanlah (1 — x2)y” — 3xy’ - y = 1. Bandingkan dengan Soal 37, a = 1 — x, a, = -3x, a, =I dan a", —a', + a, = 0 sehingga persamaan tersebut eksak dan dapat ditulis sebagai D{(i — x,)D - xly = 1 Integralkan persamaan ini dan selesaikan persamaan differensial linier tingkat satu yang dihasilkan, dy x x+e, “ex 1-x%” 1-% kita memperoleh sin'x ¢ y -1 “Tre * Te 132 PEMFAKTORAN OPERATOR 39. (a) Tunjukkanlah bahwa operator xD? + (2x + 3)D + 4 = (D + 2)(xD + 2). (b) Gunakan (a) untuk menyelesaikan xy” + (2x + 3)y’ + 4y = e%. (a) (D + 2)(xD + 2y) = DexDy + 2y) + 2(xDy + 2y) = xD¥y + Dy + 2Dy + 2xDy + 4y = [xD? + (2x + 3)D + 4ly (b) Persamaan yang diberikan dapat ditalis (D + 2)(xD + 2)y = e%. Misalkan (xD + 2)y = Y. Maka (D + 2)Y = e* dan Y = ¥,0% + ce Sekarang dengan menyelesaikan QD + 2)y = Ve% + ce, kita memperoleh wy = 1, J xe™ dx +c, J xe™ dx + 02 = Me™ (x —,) - Nee (x +) +c, METODE DERET 40, Selesaikanlah Soal 36 dengan menggunakan metode Frobenius. & c,x* di mana kita mendefinisikan ¢, = 0 untuk k < 0. Misalkan y = 5 ox? = bo Maka y= Dk+ Pax, y= = (k + Bk +B - 1ext? tanpa menuliskan batas-batas jumlahnya. Sadi 4x2y” + 4xy’ + (0 - Dy =D 4k + BK + B - Nox +E 4k + B)oxt? + Dexter Yo xk Untuk menyelesaikan penulisan deret di ruas kanan dalam suku-suku dari koefisien x, kita harus mengganti indeks jumlah k pada deret ketiga dengan k — 2 (perhati- kan bahwa hal ini tidak mempengaruhi batas jumlah co dan eo dari indeks penjum- lahannya). Maka deret pada ruas kanan dapat dituliskan iA + BYk + B- Ne, + 4k + B)e,+ c,, — ext = E [(4(k + BY Lo, +6, Ja? Karena ini harus nol, maka setiap koefisiennya harus nol, sehingga {4k + BP - Hoy + = 0 Misalkan k = 0, Kemudian karena c_, = 0, (1) menjadi (4B? - 1)c, = 0 yang dina- makan persamaan indeks. Andaikan c, # 0, akibatnya 4B? - 1 = 0, 6 = £¥,. Kita mempunyai dua kasus, B = ',, -¥, dan pertama kita memandang nila kecil ~ ',. Kasus 1, B =~. Dalam kasus ini, (1) menjadi (4k — 17)? - Lo, + 6,, = 0 atau 4k(k - No, + ¢,, = 0 Ambil k = 1, 2, 3, 4,... dalam (2), kita memperoleh - & e403 GodeZe2del — ~, 4-605 Pe6e5e4e3e201 (2) dan dari sini jelaslah bahwa c, dan c, taktentu sedangkan cy, Cy Cy . . . ditentukan sebagai suku-suku dari c, dan c, sebagai berikut : - x & = Gy 2 Geo 39> Gear > Bears” Bese Maka penyelesaian yang berkaitan tersebut adalah y = Lox =F qxk? xin =o (x ‘2 Grass esis - x2) (x/2y*__(«/2)8 7 1x or a a cee (2/8 7 e (2) SF y ¢08 (x/2) + 2c, sin ik yang ekivalen dengan penyelesaian Soal 36. te, (x? -..) Perhatikan bahwa bentuk pesamaan ini kita tidak perlu memperhatikan Kasus 2. 6 = 1, karena kita telah siap memperoleh penyelesaian yang diinginkan. Perhatikan juga bahwa jika pertama kita memandang 6 ='/, kita tidak akan memperoleh penye- lesaian umumnya. Ciri khas ini secara umum terjadi bilamana akar persamaan indeksnya berbeda dengan suatu bilangan bulat kecuali nol. dalam persamaan lain, kedua kasusnya harus diperhatikan, yang menghasilkan penyelesaian berbentuk deret. Penyelesaian umumnya kemudian diperoleh dari deret ini setelah mengalikan setiap deretnya dengan suatu konstanta sebarang dan menjumlahkannya. PERSAMAAN SIMULTAN 41. Selesaikanlah sistem persamaan ax dy &y dx + +3x =e ~ 4 — + 3y = sin 2 dt? dt de dt Tulislah sistem ini sebagai (D2 +3)x + Dy =e%, —4Dx + (D2 + 3)y = sin 2t Model 1, menggunakan determinan. Aturan Cramer yang biasa untuk menyelesaikan persamaan linier dapat digunakan, dan kita memperoleh Cy D sin 2t D?+3| (D? + 3Xe*) — D(sin 28) 4e* — 2 cos 2t D+3 D D‘+ 10D? +9 (? + 1)? + 9) 4D D+3 D+3 et -4D © sin 2t | (D? + 3)(sin 2t) — (4D)e9) ~sin 2t — 4e* aS — = = D+3 D D‘+ 10D? +9 (D? + 1D? + 9) 4D D+3 di mana kita menghitung determinannya sehingga operator-operator dituliskan di depan fungsi. Perhatikan bahwa hasil tersebut ekivalen dengan (D? + 1)(D? + 9)x = 4e*- 2 cos 2t, (D? + {)(D? + 9)y = -sin 2t - det Selesaikan persamaan ini, kita memperoleh X=, Cost +c, sin t +c, cos 3t + c, sin 3¢ + "“e~+7/,, cos 2t y=c, cost +c, sint + c, cos 3t +c, sin 3t- Ve" + '/,, sin 2t Kita dapat menunjukkan bahwa semua konstanta sembarang pada penyelesaian terse- but sama dengan derajat suku banyak dalam d yang diperoleh dari determinan. D+3 D “4p pa3] = D+ 10D? +9 yaitu 4. Jadi ada bubungan di antara konstanta c,, ¢,, Cy C, dan Cy, C, Cy Cy. Untuk menentukan hubungan ini kita harus memasukkan nilai x dan y yang diperoleh di atas ke dalam persamaan asalnya. Bilamana kita kita melakukan ini, diperoleh C= 2c, c.=-2c, ¢,=-2e, c= 2c, Jadi penyelesaian yang diinginkan adalah = i fs \ y =c, cost +c, sin t +c, cos 3t + c, sin 3t + Vet + 7/,, cos 2t y = 2c, cos t — 2c, sin t — 2c, cos 3t + 2c, sin 3t— Yet +, sin 2t Metode 2. Kita dapat juga mengeliminasikan salah satu peubahnya, seperti x; dan meng- operasikannya pada persamaan pertama dari (1) dengan 4D, persamaan kedua dengan D? + 3 dan menjumlahkannya. Untuk menyelesaikan persamaan yang dihasilkan, kita dapat menggunakan metode koefisien taktentu. PENERAPAN 42. Suatu partikel P bermassa 2 (gram) bergerak pada sumbu x ke arah titik (0) dengan suatu gaya yang secara numerik besarnya 8x. Bilamana pada saat awal x = 10 (cm), tentukanlah posisinya pada setiap saat dengan pengandaian (a) tidak ada gaya lain yang bekerja padanya, (b) ada gaya redaman yang secara numerik sama dengan 8 kali kecepatan sesaatnya. (a) Pilihan arah positif ke kanan. Lihat Gambar 4-1]. Bilamana x > 0, gaya to- talnya berarah ke kiri (negatif), schingga besamya -8x. Bilamana x-< 0, gaya totalnya berarah ke Kanan {positif] dan besamya juga —8x. Jadi berdasarkan Hukum Newton, 2gm eS 0 Gambar 4-1 ax &x 2 —— = -8x atau de de? +4x=0 dan x = c, cos 2t +c, sin 2t 136 Karena x = 10, dx/dt = 0 pada t = 0, kita memperoleh x = 10 cos 2t. Grafik gerakan ini dapat dilihat pada Gambar 4-2, Amplitudonya (per- pindahan terbesamya dari titik O] adalah 10 (cm). Periodenya (waktu untuk satu siklus lengkap) adalah x (detik). Frekuensinya (banyaknya siklus per detik] adalah (/m (siklus per detik). Gerakan ini seringkali dinamakan gerakan har- monis sederhana. o> Gambar 3-2 Gambar 3-3 (b) Gaya redaman yang diberikan adalah -8 dx/dt, bergantung pada letak partikel. Jadi, sebagai contoh misainya x <0 dan dx/dt > 0, maka partikel tersebut berada di sebelah kiri 0 dan bergerak ke kanan sehingga gaya redamannya harus ke kiri, yaitu negatif. Menurut Hukum Newton, ax dx ax dx —— = -8x ~ 8 — atau —_ +4 +4x=0 d? dt de dt yang mempunyai penyelesaian umum x = 2c, + c,). Karena x = 10, dx/dt = 0 bilamana t = 0, maka c, = 10, c, = 20 sehingga x = 10e7(1 + 2t). Gerakan ini tidak berosilasi. Partikel tersebut mendekati O tetapi tidak pernah menca- painya [libat Gambar 4-3). 43. Suatu benda 20 kg digantung pada ujung pegas vertikal sehingga pegasnya mere- gang 20 cm. Andaikan tidak ada gaya luar, tentukanlah posisi benda itu pada setiap saat bilamana pada awalnya benda tersebut (a) ditarik ke bawah 10 cm dan dilepas- kan, (b) ditarik ke bawah 15 cm dan diberikan kecepatan awal 106 cm/detik ke bawah. Pada setiap kasus, tentukan juga periode dan amplitudonya. Misalkan A dan B [Gambar 4-4] menyatakan posisi akhir pegas sebelum dan sesudah benda W ditarik. B dinamakan posisi seimbang (equilibrium position). Namakan y perpindahan W pada suatu posisi c dari posisi seimbangan. andaikan 137 bahwa y positif dalam arah ke bawah. Y Menurut Hukum Hooke, 20 kg meregangkan pegas sepanjang 20 cm, 1 kg meregangkannya 1 cm sehingga (20 + y) kg meregangkannya (20 + y) cm. Jadi bilamana w terletak di c, tegangan pada pegas adalah (20 + y) kg. Menurut Hukum Newton, = Gaya total pada W = Berat ke bawah — Tegangan pegas ke atas 20 = (20 + y) Massa Percepatan 20 dy 980 dt? 0 atau — 4 OY ; yang menjadi —— + 49y = 0 atau y = c, cos 7t + c, sin 7t de (a) Karena y = 10 cm, dy/dt = 0 pada t = 0; kita memperoleh c, = 10 dan c sehingga y = 10 cos 7t. Amplitudonya 10 cm dan periodenya 2n/7 detik. (b) Karena y = 15 om, dy/dt = 105 emidetik, c, = 15, ¢, = 15 dan y = 15cos 7t-+ 15 sin 1= VIS" + 15% sin (4+) = isidsin (72+) Maka amplitudonya 15V2 = 21,2 em (pendekatan) dan periodenya 2n/7 detik. 44, Selesaikanlah Soal 43 bila ke dalam perhitungannya dimasukkan gaya redaman luar Bv (dalam kilogram) di mana v kecepatan sesaat dalam cm/detik dan (a) B = 1/7, (b) B = 2/7, (©) B = 4/7. 138 45. Persamaan géfak dengan gaya redaman By = B dy/dt adalah 1 dy | dy wy dy = -y-B— atau — + 498 — + 49y =0 ow Fe an * Bg + OY * (@) Jika B = 1/7, — 7 5 ay = 0. Selesaikan a syarat y = 10, dy/dt = 0 pada t = 0, kita memperoleh 10 3 NB 20 N3 yaG et ( V3 cos st sin > d= ar o> sin ( at > Gerakan ini berosilasi teredam (dampet oscillatory) dengan periode 3 nl oe ) = 4073) atau 1,04 detik dy (b) Jika B = 2/7, (b) Sika B 7 Selesaikan terhadap syarat seperti pada (a), y = 10e"(1 + 7). Gerakan ini dinamakan teredam kritis (critically dampet) karena untuk nilai lebih kecil dari akan menghasilkan gerakan berosilasi. é 4 © wika 6 = 47, SX + 28 Y 4 avy =0 dan kita memperoleh 10,77e°** — 0,77e*. Gerakan ini dinamakan terlalu tere- dam (overdamped). (a) Kerjakan Soa} 43 (a) jika suatu gaya luar diberikan oleh F(t) = 20 cos 7t digunakan untuk t > 0 dan (b) berikan suatu tafsiran fisis apakah yang akan terjadi bilamana t membesar. (a) Persamaan gerak dalam kasus ini menjadi 2 &y 980 dt? = 20 - (20 + y) + 20 cos 7t atau a + 49y = 980 cos 7t Penyelesaian persamaan ini terhadap syarat y = 10, dy/dt = 0 pada t = 0 adalah ys. 10 cos 7t + 70t sin 7t 46. 140 (b) Bilamana t membesar, suku 70t sin 7t membesar tanpa batas secara numerik dan secara fisis berarti pegas akan patah. Ini menggambarkan fenomena resonansi dan menunjukkan apa yang terjadi bilamana frekuensi dari gaya yang digunakan sama dengan frekuensi alami sistem tersebut. Suatu batang AOB [lihat Gambar 4-5 di bawah] diputar pada suatu bidang tegak di sekitar titik O dengan kecepatan sudut tetap . Suatu partikel P bermassa m diken- dalikan untuk bergerak sepanjang batang tersebut. andaikan tidak ada gaya gesek, tentukanlah (a) suatu persamaan differensial gerakan P, (b) posisi P pada suatu saat dan (c) syarat agar P menghasilkan gerakan harmonis -sederhana. Vertikal ' Horisontal 1" ' ' 1 ' 1 1 Gambar 4-5 (a) Misalkan r jarak dari P ke O pada saat t dan andaikan bahwa batang itu mendatar pada saat t = 0. Kita mempunyai Gaya total di P = Gaya sentrifugal + Komponen gaya berat = = mor - mg sin ot ar @r ; atau or = -gsin ot av dimana r= ty dr/dt = v, pada t = 0 yaitu r, dan v, adalah perpindahan awal dan kecepatan P. (b) Selesaikan (1) terhadap syarat (2), kita memperoleh in wt ra (a eB) ew (8 gy BM 2 20 4a? 2 20 4a? 207 47, 48. (©) Gerakan harmonis sederhana sepanjang batang terjadi jika dan hanya jika 1, = 0 dan v, = g/20, Suatu induktor 2 henry, resistor 16 ohm dan kapasitor 0,02 farad dihubungkan secara seri dengan suatu baterai dengan ggl.E = 100 sin 3t. Pada t = 0 muatan dalam kapasitor dan arus dalam rangkaian adalah nol, Tentukanlah (a) muatan dan (b) arus pada t > 0. Misalkan Q dan I menyatakan muatan dan arus sesaat pada waktu t; berdasarkan Hukum Kirchoff kita memperoleh = 100 sin 3t di 2—— + 16L + dt , atau karena I = dQ/dt, #Q dQ wpe t BG 1 HQ= 50 sin 3t Selesaikan ini tethadap syarat Q = 0, dQ/dt = 0 pada t = 0, kita memperoleh (a) q=e@ sin 3t ~ 3 cos 3t) +2 ews cos 3t + 2 sit 3t) 52 52 (b) I = = = (2 cos 3t + 3 sin 3t) - 2 e“(17 sin 3t + 6 cos 3t) dt 52 52 Suku pertama adalah arus tunak (steady-state) dan kedua, yang dapat diabaikan untuk waktu yang bertambah, dinamakan ams transien. Diberikan jaringan listrik pada Gambar 4-6, Tentukanlah arus dalam berbagai cabang jika arus awalnya nol. 20 ohm 4 henri “an HK Gambar 4-6 144 7 Hukum Kirchoff kedua menyatakan bahwa jumlah aljabar tegangan jatuh (voltage drap) sepanjang suatu simpal (loop) tertutup adalah nol. Misalkan kita menjalani simpal KLMNK dan JKNPI berlawanan arah putaran jarum jam seperti ditunjukkan pada gambar, Dalam menjalani simpal ini kita mengandaikan tegangan jatuh positif bilamana kita bergerak berlawanan arah daya arus tersebut. Kenaikan tegangan di- pandang sebagai negatif dari tegangan jatuh. Misalkan I adalah arus pada NPJKN. Arus ini terbagi pada titik cabang K ke dalam I, dan I, sehingga I = I, + 1, Hal ini ekivalen dengan Hukum Kirchoff pertama. Gunakan Hukum Kirchoff kedua pada loop SKNPJ dan KLMNK, kita memper- oleh di, 201 — 120 + 2 —— + 101, dt dl, di, —=— +4—— + 201, =0 dt dt -101, - 2 Ambil I = I, + I, dan gunakan operator D = d/dt, ini menjadi (D + 15), + 101, = 60 -D + 5)I, + (2D + 10)1, = 0 Selesaikan ini terhadap syarat I, = I, = 0 pada t = 0, kita memperoleh 1=3(1-e™, L=%(1-e™, I=%, (1-e%) 4.6. SOAL LATIHAN OPERATOR 1, Tulislah setiap persamaan berikut ini dalam bentuk operator : (a) y” + 4y’ + Sy = e*, (b) 2y” =x-2y’ +y, () xy’ +2y=1. 2. (a) Hitunglah (D* + 1) sin 2x dan (D + 1)(D* - D + 1) sin 2x. (6) Apakah operator D? +1 dan (D + 1)(D? - D + 1) ekivalen? Jelaskan. 3. (a) Hitunglah (xD -3)(D +'2){x2 + x — 4} dan (D + 2)(xD - 3)(x2 + x - 4). (b) Apakah operator (xD - 3)(D + 2) dan (D + 2)(xD — 3) ekivalen? Jelaskan. 142 4. (a) Hitunglah (xD)(xD){x? + 2e*} yang dapat ditulis sebagai (xD)?{x? + 2e*}. (b) Apakah ini sama dengan x?D?{x? + 2e*}? (c) Apakah operator (xD)* dan x*D* ekivalen? Jelaskan. 5. Dengan syarat apakah operator (D + a)(D + b) dan (D + bX(D + a) ekivalen? Jelaskan. KETAKBEBASAN LINIER DAN DETERMINAN WRONSKI 6. (a) Tunjukkanlah bahwa fungsi x?, 3x + 2, x — 1, 2x +5 takbebas linier (b) Apakah fungsi x2 3x + 2, x — 1 takbebas linier? 7. Selidiki ketakbebasan linier dari e*, xe*, x’e. 8. Tunjukkanlah bahwa y = x adalah penyelesaian dari xy” + xy’ — y = 0 dan tentukan penyelesaian umumnya. 9, Jika y, adalah penyelesaian dari y” + p(x)y’ + q(x)y = r(x), jelaskanlah bagaimana menentukan penyelesaian umumnya. Berikan ilustrasinya dengan suatu contoh. PENYELESAIAN TEREDUKS! ATAU HOMOGEN 10. (a) Tentukanlah tiga penyelesaian bebas linier dari (D + 2)(D - 1)(D — 3)y = 0 dan (b) tuliskan penyelesaian umumnya. . Selesaikanlah (a) y” + 8y’ + 12y = 0, (b) (D?- 4D - 1) y =0. 12. Selesaikanlah (a) (D? + 25)y = 0; y(0) = 2, y’(0) = -5, (b) y” - 8y’ + 20y = 0, (©) (D? + 8)y = 0. 13. Selesaikanlah (a) y” + 4y’ + 4y=0 (@) (D' + Dy =0 (b) l6y”- 8y’ +y =0 (e) (D+ 64)f*'y =0 ©) (+6) -3)y=0 14. Selesaikanlah D‘(D + 1)*(D* + 4D + 5)(D? + 4)y = 0. PERSAMAAN LENGKAP ATAU TAKHOMOGEN 15. Selesaikanlah (a) y” — Sy’ + 6y = SO sin 4x, (b) (D* — 8)y = 16x + 18e™ + 64 cos 2x - 32. 16. Selesaikanlah (a) y” + 3y’ + 2y = 4e%*, (b) (D? + 3D%)y = 180x° + 24x. 143 17. Selesaikanlah (Dé — 2D5 + Dy = 120x + 8e%. 18. Selesaikanlah dengan menggunakan metode variasi parameter. (a) y” + 2y’ — 3y = xe* (@ xy’ -y =x (b) y” + 4y = ese 2x (d) (D+ Dy =4 tanx TEKNIK OPERATOR 19, Hitunglah setiap soal berikut L 1 re —— {16° @) pas © } @ pos! x3} 1 1 | foe te — pen (b) DD {9e* — 4e*) ® Dypl2 {xe} 1 © orp sin 2x +3 cos 2x} (h) >= {eXGsin x + cos )} gq 2) 4 ) 7 — (3x! 2 sin x} = 2 sin x © Seppe Boo) pepe OE i () {xe} Gg) ——————— [e* cos 2x} (-4) ( - 4D + 3D + 1) 20. Selesaikanlah dengan menggunakan teknik operator : (a) (D? + 4D + 4)y = 18e% — 8 sin 2x, (6) (D + 1D - 3)y = e* + x, (©) D + 2D - 2y = e* cos x. 21. Buktikanlah jajaran (a) A, (b) B, (c) E, (d) H_ pada tabel di halaman 114 PERSAMAAN CAUCHY ATAU EULER 22, Selesaikanlah (a) xy" + xy’ My =0 d) xt” + 3xy” + xy’ + By = Tx? (b) ey” - 2xy’ + 2y =? @) PR” + 4R"- nn + DR=0 (©) QxD? + 5xD + Dy = In x BERBAGAI METODE LAINNYA 23. (a) Tunjukkanlah bahwa (xD? - xD + 1) = (D - 1)(xD - 1). (b) Kemudian selesaikanlah xy” - xy’ + y = x?. 144 24. Kerjakanlah soal 71 (b) dengan mengingat bahwa y = x adalah suatu penyelesaian persamaan homogennya dan misalkan y = vx. 25, Selesaikan y” + 2xy’ + xy = O dengan mereduksikan persamaannya ke bentuk kanonik. 26. Tunjukkanlah bahwa xy” + (x + 2)y’ + y = 0 eksak dan tentukan penyelesaiannya. 27. Gunakanlah metode Frobenius untuk menyelesaikan persamaan (a) y"+y =O, (b) xy" - 2y’' + xy=0, ©) yar. PERSAMAAN SIMULTAN . . dx xy 28. Selesaikanlah sistem tysex-— st 29. Selesaikanlah sistem dx dy dx + 2x = —— + 10 cos t, + 2y = de® —- —_— dt dt dt dt jika x = 2, y = 0 bilamana t = 0. 30. Selesaikanlah sistem (D* + 2)x + Dy = 2 sin t + 3 cos t + Se*, Dx + (D?~ Dy = 3 cost - 5 sint — e* jika x = 2, y = ~3, Dx = 0, dy = 4 bilamana t = 0. 31. Selesaikanlah dz — = 2 sin + x jika x = y = 2 = O pada t = 0 PENERAPAN 32. Suatu partikel bergerak sepanjang sumbu x menuju titik O dengan gaya yang se- banding terhadap jaraknya dari O. Jika partikel tersebut bergerak mulai dari keadaan berhenti pada x = 5 cm dan sampai pada x = 2,5 cm setelah 2 detik, tentukanlah (a) posisi pada suatu saat t sesudah partikel itu bergerak, (b) arah kecepatannya pada x = 0, (c) amplitudo, periode dan frekuensi sebarannya dan (d) percepatan sesaatnya. 33. Posisi suatu partikel yang bergerak sepanjang sumbu x ditentukan oleh persamaan ax dx, + 4 —— + 8x = 20 cos 2t. dt? dt Jika partikel bergerak dari keadaan diam pada x = 0, tentukanlah (a) x sebagai fungsi dari t, (b) amplitudo, periode dan frekuensinya setelah suatu waktu yang panjang. 145 34, Suatu benda seberat 7 kg digantung pada suatu pegas tegak dan meregangnya 5 cm. Benda tersebut ditarik ke bawah 10 cm dan dilepaskan. (a) Tentukanlah posisi benda itu pada suatu saat jika gaya redamannya secara numerik sama dengan 0,2 kali kecepatan sesaat yang bekerja padanya. (b) Apakah gerakan ini berosilasi, terlalu teredam atau teredam kritis? 35. Berat pada suatu pegas tegak memperoleh gaya vibrasi sesuai dengan persamaan 2 x ae + 4x = 8 sin wt di mana x perpindahan dari posisi seimbang dan @ > 0 konstanta. Jika x = dx/dt = 0 bilamana t = 0, tentukanlah (a) x sebagai fungsi dari t, (b) periode dari gaya luar yang menyebabkan terjadinya resonansi. 36. Muatan pada suatu kapasitor dalam jaringan pada Gambar 4-7 adalah 2 coulomb. Jika sakelar K ditutup pada saat t = 0, tentukanlah muatan dan arus pada saat t > 0 bila (a) E = 100 volt, (b) E = 100 sin 4t. K Evolt 1 j ms 8 cn @ 0,1 farad 2 nen == 0.05 farad }—____"yp,. —_«__ | L, 4ohm 1 ohm Gambar 4-7 Gambar 4-8 37. Tentukanlah arus I, I, dan I, dalam jaringan pada Gambar 4-8 dan juga muatan Q dari kapasitornya jika (a) E = 360, (b) E = 600e™ sin 3t. Andaikan muatan dan arusnya nol pada saat t = 0. JAWABAN SOAL LATIHAN 1. @ @?+4D45yse%, (6) QD'+2D-Dy=x, (©) D+ 2Dy=1 2. (@) Keduanya sama dengan sin 2x — 8 cos 2x. (b) Ya 3. (@) -2x? — 8x + 21, -2x? ~ 6x + 22, (b) Tidak 4. (a) 8x? + 2x3e* + 6x7e" + 2xe* 146 i. 12. 13. 15. 16. Fungsi-fungsinya bebas linier eee | dx . (bt) y = ce + c,e* + c,e* i 2 5 (a) y=ce* + ce (b) y = e%(c,e"% + c,e%™) (a) y =2 cos 5x — sin 5x, (b)_y =e", cos 2x + ¢, sin 2x) (©) y =ce* + exc, cos V3x +c, sin V3x) @ y=, +¢,x)e%, (b) (€, + ¢,x)e™ (©) y=(C, +0, + 6X + 6x? + CxJe™ + (C, + cx)e* ) y=, + ox + ox? + C8 + ox! + ox5 +c, COS x +c, sin x © y=(, + ¢,x)e™ + e%(c, cos 4x + c, sin 4x) + xe*(c, cos 4x + c, sin 4x) L ¥ Hc, +OX + Gx? + 64x" + (c, + CHx)e™ + €™%(C, COS X +c, sin x) + xe*"(c, Cos x + Cy, Sin x) + ¢,, Cos 2x + ¢,, sin 2x (@) y =cex + c,e*x + 2 cos 4x — sin 4x (b) y = ce + eX, cos V3x + c, sin V3x) — 2x + 4 — 2e* ~ 4 cos 2x - 4 sin 2x (a) y =ce* + ce — 4xe™ (b) y = ce* + Gy + Cx — Bx? + 8x? — Sx! + 3x! YRC FOX + GK + OX + (6, + Ox)et + x5 + 4x70 . (a) y = ce + 6c" — Y,xe* yrey “a s (b) y =¢, cos 2x +, sin 2x ~ Vx cos 2 x ~ ¥, sin 2x In csc 2x ©) y=, + ox? + %x%n x — 4) (d) y=, +c, cos x +c, sin x ~ 4 cos x In (sec x + tan x) . (a) eo (b) Ye + Vie (c) -cos 2x (d) -8(sin x + cosx) xoet* © Gi (40 - 6« ex (g) —— (8x? - 20x + 21) 32 147 (h) Y,eX(sin x — 3 cos x) (i) 4x5 — 3x4 + 36x? — 72z + 2 sin x cm 7 @ Fog G 008 2x - sin 2%) 20. (a) y = (c, + ¢,x)e% + 2e* + cos 2x 4 14 I I () y= ce* + Gye + xe xe © y=, +exe™ + ce* + 22. (a) y=ox*+ 0,54 (b) y=o,x +6,x7 + x3, © y=oxtex+inx-3 9 2 e* (4 cos x - sin x) (@) y = ox? + x[c, cos (V3 In x) + , sin (V3 lin x)) + %,x-! © Reer+cs™ e 23. yeox sex | det minx 2 x 25. y = e™ (c,e* + 6,6") 26. y = (c, + ce*V/x 2 x 21. @ y=o(1- or eae =o ca (b) y=c, (x1 shee. x (a x Le dxs © yao (este 2x +0, (x+ a + 28. x=¢,cost—c, sint + Vel +t, 148 Jra Gee ¢, cosh x +c, sinh x Lede Te — + =) 2+ 5x? 2°56 8x0 cee ee) rN 10! y =o, sint +c, cost + Vet - 1 29. 30. 31. ee 33. 34. 35. 36. 37. x =4cost +3 sint-2e*-2etsint, y =sint-2 cost +2e* cost x=cost+sint+et, y=2sint —cos t— cost —2e* x = 2e% - 3et+ e+, y = Bet ~ 3et, —et—3et+ 5-2 cost (a) x =5 cos (nU/6), (b) Sm/6(cmidet), (c) amp. = 5 cm, periode = 12 det, freq.= '/,, cycle per detik, (d) -25n°/36(cm/detik) (a) x = cos 2t + 2 sin 2t — e*(cos 2t +3 sin 2t) (b) amp. = V5, periode = m, freq. = I/n (a) x = 10(1 + 14t)e, (6) terendam kritis 8 sin wt — 4a sin 2t ' (@) x= ka © # 2, x = sin 21 — 2¢ 008 2 jika @ = 2 (b) @ = 2 atau periode = 7 (a) Q=r—e* (3 cos 3t + sin 3t), I= 10e* sin 3t (b) Q = Ge(sin 3t + cos 31) — 3 sin 4t - 4 cos 4t, I= 12e(cos 3t - 2 sin 3t) - 12 cos 4t + 16 sin 4t (a) Q=4 4 5e%—9e, I= 45(e — 0%), I, = 40 + Se — 45e%, I, = 40 + 50% — 90e (b) Q = 25e - 9% — 4e-"(4 cos 31 +3 sin 3t), I = Ble® — 125e* + 4e*(11 cos 3t + 27 sin 3t), I, = 125e ~ 9e% — 4e5(29 cos 3t + 3 sin 31), 1 I, = 250e"* — 90e* — 40e*(4 cos 3t + 3 sin 3t) 149 BARISAN DAN DERET 5.1. BARISAN TAK HINGGA ae adalah suatu fungsi n yang domainnya adalah Barisan {8,} = 8). 8 85 himpunan bilangan bulat posit Barisan di atas adalah barisan tak hingga Definisi : Suatu barisan {s,} dikatakan terbatas, jika ada bilangan P dan Q sedemi- kian sehingga PSs, m, makals—s,1<€ (s,} mempunyai limit disebut barisan konvergen, tapi jika baris tak mempunyai limit, maka barisan disebut divergen. Suatu barisan {s,} dikatakan divergen ke ~ atau lim n~ . jika untuk sembarang bilangan positif M bagaimana besarnya, selalu ada bilangan positip m, sedemikian sehingga untuk n > m, maka Is, 1> ML. atau Jika s, > M, lim s, = +~ dan n+ Jika s,<-M, lim s,=— nt~ 451 Dalil-dalil untuk barisan : L Setiap barisan tak turun (tak naik) tetapi terbatas konvergen. i. Setiap barisan tak terbatas adalah divergen. I. —Suatu barisan konvergen (divergen) akan tetap konvergen (divergen) jika bebe- rapa atau semua suku-suku ditukar. IV. Limit dari barisan konvergen adalah UNIK. Jika lim s, =sdanlim t,t n~ * bo-n V. lim G,+t)=s+t a VI lim) (.s)=ks 1~ Vo. lim (s,.t) =st n>~ VI. lim n>~ TX. _ Jika {s,} adalah barisan yang suku-sukunya tak nol dan jika lim s, = ~ maka lim n~ X. Jikaa>Imakalim = at=+~ n>+~ XL Jikalrl< 1 maka lim r=0 n~ 5.2. DERET TAK HINGGA Definisi ; Jumlah suku dari barisan tak hingga disebut deret tak hingga, dinyatakan dengan 3) Ds =5, +5, +5, + \$8, +o dimana setiap deret dihubungkan dengan jumlah bagian dari barisan. S,=5, 152 Jika lim s, = s (hingga), maka (1) disebut deret konvergen dan s adalah jumlahnya. Jika lim 5, tak ada, maka deret (1) disebut divergen no Juga jika lim —s, = ~ maka deret (1) adalah divergen atau jika n maka besar, s, n~ makin besar (kecil) tanpa mendekati suatu limit, Misatnya deret bergoyang (oscillating series) : 1-1 +1-1+ Di sini s, = 1, s, = 0, s, Dalil : 1. Deret yang konvergen (diverven) akan tetap konvergen (divergen) jika beberapa atau semua suku-sukunya ditukar-tukarkan, TI. Jumlah deret yang konvergen adalah UNIK IIL. Jika E s, konvergen ke s maka zy k. s,, k = konstan sembarang akan konvergen ke ks 1V. Jika Es, Konvergen maka lim _s, = 0 sebaliknya belum tent V. Tika lim s, # 0, maka ¥ s, divergen sebaliknya belum tent. Contoh-contoh : a Misal barisan {s,} konvergen ke s letakkan pada bilangan sekala titik s, s - €, s +, dimana € adalah bilangan positip kecil. Sekarang tempatkan titik-titik s, s,, s,, .... Dari definisi konvergen s,, memberikan kepada kita bahwa m titik pertama terletak di luar dari lingkungan € dari s, titik s,,, dan semua bagian barisan titik terletak di dalam lingkungan. sé 8 S+e 153 2. Tunjukkan barisan—barisan {1 - '/,} dan 1.3.5.7 scsen (2N-1) a Ee MIT" adalah konvergen 2.4.6.8. 2n a 1 ) 1 7 1 s,,=(1- —) =1-—— a n+l mn n(ntl) 1 =s,+ n(n+1) s, atl > s, barisan yang tak turun dan 0 < s, < 1, s, terbatas Menurut dalil {1 — ',} adalah konvergen ke 1 (2n-1) (2n+1) . 2n (2n + 2) Barisan {s,} adalah tak naik dan O 1 maka lim =a" = + ~ n>~ Pilih M > 0, misal a= 1 + b n(n-1) a? = (1+by) = 1 + nb + B+..>1+nb>M : M jikan > —— =m b Maka secara ringkas terdapat bilangan bulat positif terbesar m dalam M b Maka barisan ini divergen. 154 4, Buktikan bahwa setiap barisan tak terbatas {s,} selalu divergen. Bukti : Misal barisan {s,} konvergen. Untuk sembarang bilangan positip € bagaimanapun kecilnya akan terdapat bilangan positip m, sedemikian se- hingga untuk n > m selalu berlaku : 1's, =sl 0 dan menurun pada interval x > €, dimana € adalah bilangan bulat positip maka deret 5, s, konvergen atau divergen sesuai dengan integral tak wajar. Lt f(x) dx ada atau tidak ada € Illa. TEST BANDING UNTUK KONVERGENSI Tika s, 0 dan tak naik dalam interval x > e, dimana & bilangan bulat positip maka deret 5s, konvergen atau divergen sesuai dengan Ftc ax ada atau tak ada g Dalam gambar di bawah ini, luas daerah antara kurva y = f(x) dari x = © sampai x =n didekati oleh'2 himpunan persegi panjang yang alasnya sama yakni satu satuan. Nyatakan luas persegi panjang di bawah kurva terletak antara jumlah luas persegi panjang terkecil dan jumlah luas persegi panjang terbesar. Kita dapatkan Sear * Spa Foe ‘ad n ~ (1) Misa im — J f(x) dx = Jf) dx A Pe a eae € Seay #8pqq tone HSA 8, = 5, +S, +. + \$, adalah terbatas dan tidak turun. Menurut dalil I. Zs, Konvergen 156 | 2 etl 2 3 ed von n + (2) Misal tim — J f(x) dx = J f(x) dx tidak ada NOt € & maka S, = s, + S,, +... + 8, tak terbatas, maka Y's, divergen 2. Gunakan tes integral untuk menyelidiki deret 1 sampai dengan 5 1 f(n) = s, = » ambil “ Vane1 f(x) = Reh f(x) menurun pada interval x > 1 dan f(x) > 0. Ambil € = 1 tz p fc dx ; la dx x) dx = =lim 1 1 V2xtl note 1 Voxei = lim V2x+1 ] = lim V2ne1 - V3" n-~ 1 n~ Integral tak ada, maka deret adalah divergen. 187 1 1 1 1 3. Juga; — +— +— +— + 4 16 36 (64 1 f(n) = s, = —— ambil f(x) = (n) = 5, = Se ambil fo) = Pada interval x > 1, f(x) > 0 dan f(x) menurun, jika x makin besar Ambil € = 1, maka i f(x) dx = lim : n~ i 4x? . =—lim C— rel . Integral ada, maka deret adalah konvergen. 1 T 1 nt 4. Sin x + — sin — + — sin — +... 4 2 9 3 1 nt fin) = nv n 1 Tt f(x) = —— sin —. _ x Pata wera > 2:0) > 0 dn mean al = 2 nT Sito ax = lim a A sin cx Jadi deret di atas adalah konvergen 158 Pada interval x > 1, f(x) > 0 dan menurun. ambil € = 1, maka 1 a 1 J—~ Ip =— {lim n?—1};pel 1 1 Jika p > 1, —— { lim n'* — 1 } = —— maka deret konvergen Ip pl Jika p = 1, {f(n) dx = lim tn n = ~ maka deret divergen 1 no - 1 Jika p, 1, —— { lim n'*—1} = + 10 maka deret divergen Ip n~ 5.4. TES BANDING Tes banding ini digunakan untuk membuktikan apakah deret konvergen atau diver- gen. Oleh karena itu kita harus membandingkan dengan suatu deret lain yang telah kita ketahui konvergen atau divergennya. Misalnya : 1. Deret kali (deret geometri) atartart+...tar+..,a#0 konvergen untuk 0 1. 1 1 1 2. Deret 1 +> + > + + => konvergen untuk p > 1 dan divergen untuk p < 1 ni 159 Soal 6-11 untuk menyelidiki konvergen atau divergen dengan menggunakan test ban- ding. 6 1 1 1 1 1 tt tt tae tt 2 5 10 * 7 n+] Suku umum dari deret 1 — =1,. untuk semua n 1 Deret E t, = 2 — adalah konvergen 0 Menurut konvergensi dengan banding, maka = — => +—+— +... adalah konvergen juga mt Le Vi 1 Suku umum deret s, = =— Vn 1 1 Karena —— > ——- = vo on" 1 Deret = — adalah divergen, menurut divergensi n dengan tes banding, maka deret 1 1 1 aw ee a adalah divergen juga 1 Suku umum deret S, = —— 0 1 1 ae Karena —- \$ 55 (at 2 2") 1 | Dimana deret Y — = 1 + — +— +— + a deret 5 27 ats 10. adalah deret geometri yang turun tak hingga dengan 1 1 r= maka deret % py adalah konvergen Menurut tes banding, tentang konvergensi maka deret 1 X —— adalah konvergen juga al dengan suku umum s, = DP Karena n+] 1 1 1 1 —<—— + we i a nf mn 2 1 _ I = 2.5 —, karena 5 —— adalah deret konvergen n? n ria 1 2X — adalah deret konvergen. 1m Menurut test banding untuk konvergen maka deret nel 3 = w 2 as Bip t at Suku umum deret s, = Py 1 Karena — s = =, dan karena deret n 161 menurat tes banding, maka deret 1 1771 7! D—=1+—+—+— +... adalah konvergen juga. = ee gen juga. Bei 341 441 n+ + + + + B+ Bel P+ n+] =Is, w+ 1 Karena = w+ ios. 1 untuk setiap n, dan karena deret ¥ — adalah divergen, maka menurut tes banding, leret n m+ m+ adalah divergen juga. 5.5. TES RASIO 12. Suatu deret positip Es, konvergen, jika s, lim **1_ <1 dan divergen jika m~ s, : Saat lim >i =e s, misalkan lim =I =L <1, maka n~ ss, untuk sembarang r, dimana L m maka s, atl 1 atau = + ~, maka ada suatu bilangan bulat positip m sedemikian, sehingga untuk s, atl n> m, >i s, Sekarang s,,, > s, dan {s,} tidak konvergen ke 0. Oleh karena itu © s, divergen. s, misalkan lim = L=1 n>~ 5, 1 diambil deret = — ; p > 0 untuk mana n nP s lim —*! = lim =lim no~ s,m (ntl ome 1, pel Karena unit p > 1 deret konvergen dan unit p < 1 deret divergen, maka test rasio gagal dikaitkan dengan konvergen dan divergen 163 13. 164 1 2 3 4 —+ + + 3 3 e ay Selidiki apakah deret di atas konvergen atau divergen . n n+l eg ey onl 1 lim slim —.—= — Jadi deret di atas adalah divergen 2 1.2. Le 4 1+ + + aoe 1 . n! @m+i)! oe 5 Saat = oe Le, (2n+1) ' 1.3.5... 2n1) lim —————————E n~ 5s, n>~ on! 1.3.5... (2n-1) (2n + 1) . o+1l 1 = lim =—5,,, untuk setiap 2. lim s,=0 n- Konvergen absolut : Suatu deret 5 s, = 8, +5, +... +8, +... dengan suku-suku bergantian tanda disebut konvergen absolut jika Dis, lats,l+lsb+..+0s, 14... konvergen Dalil : Setiap deret positip konvergen adalah konvergen absolut. Dalil : Setiap deret yang konvergen absolut adalah konvergen. Konvergen bersyarat Jika & s, konvergen, sedang ¥ !s,! adalah divergen maka 3 s, disebut konvergen bersyarat. Contoh Deret 1, +%,-¥%, +... adalah konvergen bersyarat karena 1 -'/, +1, —'/, + oe konvergen sedang 141%, + °y +4, + wu divergen 5.7. TEST RASIO UNTUK KONVERGENSI ABSOLUT Suatu deret 5 s, dengan suku-suku yang berganti tanda adalah konvergen absolut jika lim Soa n>~ 1< 1 dan divergen jika lim S, nm 1 I>1 s, Jika limitnya adalah 1, maka tidak ada keterangan tentang konvergensi dan diver- gensinya. Contoh-contoh : (1). Buktikan suati deret alternating 5,-8.4, — 5, +... konvergen Jika (1) s, > 8,4, untuk setiap nilai n Q). lim s,=0 n>~ Bukti : Pandang jumlah bagian Sam = 8, — Sy + Sy — 8, + -- + Soy — §, Yang akan kumpulkan sebagai (8) Say = (8, — 8) + (Sy — Sy + + Cams + Syn) (B) Sy = 8, — (8) — 8) — = — Saag — Sima) — Sim dengan hypotesa s, > s,,, dan s,- s,,,> 0 am Karena dengan (a) s,,, > 0 dan karena (b) s,,, < s,, maka barisan {s,,,} adalah berbatas dan konvergen ke suatu limit L < s, Selanjutnya pandang jumlah bagian s,, ., = Sq + Sppyr Maka Tim Syqy = Fim Sy HM Sag 1~ n~ ~ =L+0 =L maka lim s, = L dan deret n> adalah konvergen Tunjukkan deret alternating di bawah ini konvergen maka s, > s,,, dan lim =0, maka n~ deret di atas konvergen Deret adalah konvergen, karena 1 5,25, dan lim "= lim 9 —— n>~ n>~ e =0 Selidiki apakah deret-deret di bawah ini konvergen absolut atau konvergen ber- syarat. 1 11 1-4 - 2 4 8 fo fof Deret mutlak 1 +>— + > + 2— +... adalah Konvergen (deret geometri dengan r= '/, < 1) maka deret di atas adalah konvergen absolut. 2 3 4 1-—+=--— 3° 3B Deret dimutlakkan menjadi 4 1+—+— 4+ a0 adalah konvergen dengan tes rasio, maka deret di atas adalah konvergen absolut 1 1 1 Re Deret dimutlakkan menjadi 1 1 1 I++ tpt adalah divergen dengan p = /, dari deret 1 nP Fee maka deret di atas adalah konvergen bersyarat. 1 2 i >-= at 2 3 2 Deret dimutlakkan : 1 2 1 3 1 eS 2 3 z 4 3 adalah konvergen dengan tes banding dibandingkan dengan deret yang suku-sukunya lebih besar atau sama dengan 1 > Maka deret adalah konvergen absolut. 2 3 1 4 4 8 —-— ee 3. 4°2°5°3 Deret dimutlakkan : 2 3 1 4 «2 +—.— 5 3 _ 5 +. 6 adalah divergen karena tiap suku-sukunya selalu lebih besar dari suku-suku dari deret harmonis. konvergen dengan tes rasio, maka deret adalah konvergen absolut. 1 4 2 16 S-a tat at 2 Bel Bel 441 Dimutlakkan : 1 4 2) ta te tee 2 P+ 3541 konvergen dengan tes integral, maka deret di atas adalah konvergen bersyarat. 10. Soal-soal : 1, Selidiki deret alternating di bawah ini konvergen atau divergen 1 a X(t — nt! 1 b. Cyt —— Inn e. Day aa n 1 le a Gy 2n-1 Inn cay 6 2 f. £1) ! ae 2. Selidiki apakah deret altemating di bawah ini Konvergen absolut atau konvergen bersyarat. 1 Hye @ Zor a5 ays ® Eom 1 © 2 Cy jad n @ Cy n?+1 172 © Tcy" 1 Va(n+1) 1 @ 21) op nt @ Tey" nt+2 5.8. DERET KUASA (PANGKAT) Suatu deret tak hingga : dengan bentuk (1) Ey ax= tax tax tn tax ti. Fgh ® = ot ax + ay dengan a, merupakan konstanta disebut deret kuasa dalam x dan deret. za (x0)! = ay + a, (X-6) + a (KC) Fore se AKEY bees =O) dengan a, adalah konstanta, disebut deret kuasa dalam (x — c) Untuk setiap harga x untuk kedua deret di atas, maka kedua deret di atas dapat konvergen atau divergen. 5.9. INTERVAL KONVERGENSI Nilai total dari harga-harga x yang mengakibatkan deret kuasa adalah konvergen disebut interval konvergensi. Interval konyergensi dapat dicari dengan menggunakan test rasio untuk konvergen mutlak, ‘ Untuk deret kuasa (1) dan (2) masing-masing konvergen untuk x = 0 dan x = c. Setelah kita menemukan interval konvergensi kita harus menyelidiki konvergensi di titik- titik ujung interval. Contoh Soal : 1, Tentukan interval konvergensi dari deret : 1 1 1 X-—— + — -— t+ 2 3 4 1 + (1 — xe n 174 5, = x "on 1 Sy = KH n+l lim | u,,|= tm | on n~ n~|—— x u, ntl slim on n> ——Ixi 1+ = ta HD te 2 3 qd , cyt ) =-(1-——+—-.... + CD)" — 2 adalah konvergen bersyarat jadi konvergen. Untuk x = 3 1 1 1 1+—+—+.... + — adalah deret divergen. 2 3 a Jadi interval konvergensi adalah 1sxs3 Tentukan interval konvergensi dari x+1 (+1? (+1 +e (a1 vn s, im |—“ | =1im | -_— n~ 5, no~ Vee (x4) + 175 176 elx+illim \ no~ Vat slx+11<1 -l 0, maka limit dari (3) akan sama dengan integral lipat dua (2). Supaya lebih berlaku lagi limit ini, mola-muia kita pilih sub interval h, dan bentuk a { % flay yp Ay } ax i= tetap a Kumpulkan semua persegi panjang dengan h, sebagai satu dimensi berarti mengum- pulkan semua persegi panjang yang terletak di kolom ke i. Bila no, ,—»0 dan R lim {2 fix, ¥) Ay } Ax = iz neo (Ft, y) dy } axe 8,04) = (x) Ax Gambar 6.3 Sekarang jumlahkan atas m kolom dan ambil m—eo, maka kita dapat m b lim Dox) Ax= J (x) dx me i=l a (x), =P EF rex» ay } ax a g,(%) ) =P ore. 9 ay ax 2 a g(x) (4) Meskipun kita tidak memakai tanda kurung itu jelas dimengerti bahwa persamaan (4) digunakan untuk mengevaluasi 2 integral tertentu sederhana yang ditulis secara ber- urutan, mula integral di f(x, y) terhadap y dengan menganggap x tetap dari y = g,(x) sebagai batas bawah dan y = g,(x) sebagai batas atas dari R, kemudian integral dari hasil ini terhadap x dengan batas bawah x = a dan x = b sebagai batas atas dan R. Integral (4) ini disebut suatu integral iterasi atau Integral di ulang. Sebagai latihan, jumlahkan mula kumpulan persegi panjang yang terletak pada setiap baris dan kemudian jumlahkan atas semua baris untuk mendapatkan integral iterasi 4 (hy) IPP hexyy ax dy ce hy) dimana h,(y) adalah persamaan busur MKN dan h,(y) adalah persamaan busur MLN Contoh-contoh : Lox Sox 1. J Jayax= Sy]. ax 0 x 0° ® = lex = 2) dx 0 180 2. r i Yay) dx dy -f x4 xy .” dy ly 2 y 2 1 1 =J [— Gy +3y¥-—y-y lay 1 2 2 if 2 =] 6 ytdy = 2y°] i 1 = 4 2 4K 2 x 4x 3. J J xdydx=Sxy] ax 1 2x22 1 2x22 2 =] { x8 + xt- 2x3 + 2x } dx -1 2 =-—xt+— 8 +X] =1 mod cos @ J —prsinol a0 _ 0 n cos @ 4. J Fp sin 6 dp ao 00 1 on — J (cos? sin @) 68 0 1 ot =-— J cose d (cos 6) 2 0 Tn -— cos'9 | =— 6 0 3 181 ", cos 8 = 4 cos 0 s (f pdpde=J*>—p'] ao 0 2 0 4 el 13 ie (256 cos! @ — 16) d0 40 5 i (64 cos! 8 - 4) d8 30 sin20 sin 4@ ™", =[64(—+ —— )- 40] 8 4 32 0 = 10n 6. Hitung J, { dA, dimana R adalah daerah dikwadrant T yang dibatasi oleh setengah parabola y* = x? dan garis y = x. Garis dan parabola berpotongan dititik (0,0) dan (1,1) yang mana merupakan nilai terbesar dari x dan y di daerah R. Gambar 6.4 fda = =! y J ax ay 7 0 =f yay 0 492 eo yet yy 5 7.20 atau J,Jaa = J =) of I aya 0 y=x ! 1 2 = (x - x) dx = — x - — x? | 0 2 5 7. Hitung : J, Jaa, dimana R adalah daerah yang dibatasi oleh : y=2x y=x? danx=1 titik potong (0,0) dan (2,4) J, J ga = 2x =] J aya x=0 y=x? fe oe 0 1 = ¢-—x' 183 Gambar 6.5 atau 5.1 2 ope 2° 4° 3 R, = daerah ABC R, = daerah OAC x=1 Gambar 6.6 8. Hitung J, J xdA, dimana R adalah daerah di kwadran I dan dibatasi oleh xy = 16 dan garis-garis y = x, y = 0 dan x = 8. (ihat gambar) xy=16 Gambar 6.7 Daerah R dibagi atas 3 bagian R, = ABCE dan R, = CDE { fxaa=J Jeaass Jaa R R, R, J Jwaa= P j Peace ff *2 dx dy R y=0 x=y xsy 2 512 1 16 PS a fy y 512 1 3 1 =—y- ve sere t 3 12 12 2 = 340 + 128 - 20 = 448 Integral lipat dua dapat digunakan dalam banyak hal : misal, Menghitung volume antara permukaan z = f(x,y) dan bidang xy Rumus : v= J, f foxy) ax dy |. Menghitung luas daerah dibidang xy dimana f (xy) = 1 Rumus : L=J, J ax dy IIL. Menghitung massa f dipandang sebagai massa jenis (massa persatuan luas) Rumus : M =], J xy) dx dy TV. Menghitung pusat massa f = massa jenis, M = massa dari pelat tipis dan (x, y) = pusat massa di R mak: a M, = J.J x f(xy) dx dy M, = J, Jy fy) dx dy V. Menghitung momen inersia. Moment inersia dari plat tipis tethadap sb x dan sb y, diberikan dengan T= Jy Jy? foxy) dx dys 1, =f J x? txy) dx dy Contoh-contoh : 9. Hitung Iuas daerah yang dibatasi oleh parabola-parabola podca Cari titik potong kedua parabola 4-4x Titik-titike potong : (0, 2) dan (0, -2) (0.2) 0-2) Gambar 6.8 4 2 Ay sfx J y ¥ 0 1-2 4 2 y =2)°@-y-1+—)ay 0 1 2 =2Gy-—y l 4 0 =2(6-2)=8 10. Hitung volume ruang yang dibatasi oleh silinder x? + y= 4 dan bidang-bidang y +z=4danz=0 vefJzaa v=J,J@-y) da 2 Ney Sep ee af fF v7 (4 - y) dx dy 187 2 Vey v=2Sa@x-yrl dy 2 0 3 a. = {la a= ¥) - y C= 9 ay nn y 2 =24(—y V4-y?+— .4 are sin — ) | 2 2 2 -2 y, + uf a-yy d@-y) 2 a? nt 2 ¥, =4@-0)+4.4(—+—) +2.—- 9) 2 2 3 4 = 16x + — (0-0) = 16m 3 11. Hitung volume dari ruang yang dibatasi oleh silinder 4x? + y? = 4, bidang-bidang z= 0 dan z = 2y Gambar 6.10 ve=J, Jada vey 2 a = oe y=0 Wage 79 OY 2 188 2 2 — yy] 3 0 2 16 foe (0 8) 3 3 12. Tentukan pusat bidang yang luasnya dibatasi oleh parabola y = 6x — x*dan y = x y\. Gambar 6.11 Jawab : 6x8? Az=J Jane! "ay ax R° x0 x 189 Ble oe 0 5 1 5 125 125 125 oe eee 2 3 Oo 2 3 6 6x-x’ M,=! Tyaa-ff y dy dx R 0 1 (5 6x-x? _ yl dx 20 x 1 =f exer) de 20 1 = (35x2 — 12x? + x*) dx 20 1, 35 1 5 =—(— 8-3 x8+— x) | 2 3 5 0 1 4375 625 = — (—— - 1875 + 625 ) = ——— 2 3 6 M, I, Tee 5 6x-x? M,=J Jxds=J J xayax R 0 x Pp Panel’ =J al ax=JG@e- 2 -x) dx 0 x 0 5 1 5 | 625 «5 oy ee 3 4 0 3 4 625 2 190 eee ee 2 a ny, Pusat bidang (5/2, 5) ~ 13, Tentukan pusat bidang yang luasnya dibatasi oleh parabola-parabola y=2-x y = 3x? - 6x Gambar 6.12 Jawab : Titik-titik potongnya (0, 0) dan (2, 0) A=J Jaa R 2 2x-x? =f J wy «x 0 3x-6x af @x— x = 3x + 6) dx 0 = Fae + 8x) dx 0 4 2 32 16 =o — 44 | 2-4 16 = + — 3 0 wo 191 2x-x? 21 Qx—x? M,=! Syaa=f Wigs ayor = t=) Ie ae R 0 3x%-6x 0 2° 3x26x ~f = — } { (2x - x2? ~ (3x? - 6x? } dx 20) 64 15 ie 4 y= = ), 5 22-%? 2x-x? Mal Sxdnel PO cayace fry PM x 0 3x*-6x oF (2x? — x3 — 3x? + 6x2) dx } : 16 =[—x-x!] =—-16=—_ 0 3 167 posal 2 a1 A y 4 ++ Pusat bidang (1, ~~) 14, Tentukan I,, I, dan I, untuk luas yang tertutup (loop) dengan persamaan y=x 2-x) 192 Gambar 6.13 misal:2-x =z Jawab : oe Pr xx A=J Jaa=2f [aya R 0 0 =2P ow ae =2fe-» Vz (dz) =r few 29 a 22 (Sma) 8 8 32 =2.(—2-—W=— 2 3 5 5 1 2 xV2-x u=J Jyaa=S J yy ax R 00 21 xV2-x eye a 0 3 0 2 =— Joe Vow ax misal 2-x = 22 30 193 1 0 =-— | O-Mrma 32 et =-— J} Grt- 1225 + 6 2 — 2" dz 3 V2 2 8 12 6 1 2 =— (— 2-— 7 +— Y -— 2") ] 30 «5 7 9 ul 0 2048V2 64 = =—-A 3465231 xV2-x y=f fe anter Ji lige cy an R 00 xV2x eal xy | dx 0 2 — =2) xe VExdx — misal 2x=7 0 2 = 4) (822-1224 + 625 — 24) dz 0 1024V2 32 = = A 315 21 416 =1+1l=—A 231 15. Tentukan luas daerah di luar lingkaran p = 2 dan di dalam cardioida Pp =2 (1 + cos 6). Jawab : Luas daerah yang diminta simetri terhadap sb x /, ,2(1-+c0s 8) azoh? P p dp do 0 2 194 1, 2(1 +cos @) el? i 8 a) ", -! {4(1 + cos®)? -4} do , = 4]? (cos + 2 cos®) 40 0 1 i "1, = 4 [ — cos @ sin @ + 0 +2 sin@ ] 2 2 0 . =4(0+——+2-0)="+8 4 16. Tentukan Iuas daerah di dalam lingkaran p = 4 sin @ dan di luar lemnis cate p? = 8 cos 26 WA 6 Gambar 6.15 ee Jawab : Perpotongan lemnis cate dengan lingkaran di @ = "/, dan luas yang diminta simetri terhadap sumbu Y nar! en paper Sf? Soap 0 7 9 + p dp #1, Boos 20 4,0 (ly sin 6 /, 4sin | et an pe] ae ", * lee 0 , , a=" date tamost 16 sin? @ dO ", 4, = -8 sin @ cos 0 + 8 6 — 4 sin 20 } “+ C8 sin cos 0+ 80) |? 4, 4, 2 =-84+—14+4V34442n 3 8 =(— m+413-4) 3 17. Tentukan I,, I, dan I, untuk Juas dikwadran I di luar lingkaran p = 2a dan di dalam lingkaran p = "4a cos 0. Jawab : F/, ,4a.cos 0 AzJ Jaa=J? J pap ao R 0 2a _ = fda cos 6)? - (2a)?} dO 20 2n + 3N3 -—_ ae */, 8 L Syan= J FG sn 6) p ap 40 R 0 2a 1 = ——J° ((4a cos 6) - (2a)'} sin? @ 48 40 ¥, = dat ! (16 cos* @ — 1) sin? @ dO 4n + N3 =———-a 6 fi ® ye) fean-f (** Gives yp ap a0 R 0 2a 12m + 11N3 =——_—_—__a 2 20 n+ 213 1, = I, + |, = ———— # 2n+3 Soal-soal : Hitung : Integral Iterasi 1 Top le fee o1 ) p P wayaray= 10 © f f Qe + y?) dx dy 1 © S Fay ay ax 0 x 2 sy? x oS fF —daxgy 10. yt 197 1 Nx @ f } + y? dy dx 7 oo @ F Frer ay ax 00 oy FP Pax ay zy tg ¥, 2 sec @ of y p dp do = Hi, @ ia p? cos @ dp do 00 Y, 0 sec 8 w I Jp" co 8 ap eo @ rp f Prove dp de 0 0 Gunakan Integral Iterasi untuk menghitung integral lipat dua atas dari a. x atau daerah yang dibatasi y = x? dan y = x* b. y atas daerah (a) c. x? atas daerah yang dibatasi y = x, y = 2x dan x =2 d. y atas daerah di atas y = 0 dibatasi oleh y? = 4x dan y? = 5-x Hitung integral lipat dua untuk menghitung luas daerah (a) dibatasi oleh 3x + 4y = 24, x =0,y =0 (b) dibatasi oleh x + y = 2, 2 (©) dibatasi oleh x? = 4y, 8y = Cari pusat bidang yang luasnya dibatasi oleh (a) y?= 6x, y = 0, x = 6 dikwadrant 1 (b) y?= 4x, x7 = 5 -2y,x=0 (©) x - 8y +4 =0, x = dy, x = 0 dikwadrant I (d) Kwadrant I dari soal 3(a) 5. Tentukan J, I, dan 1, dari luas berikut ini (a) Masalah (soal) 3¢a) (b) Perpotongan dari y? = 8x dengan latus rectum (©) dibatasi oleh y = x? dan y = x (d) dibatasi oleh y = 4x = x? dan y =x 6. a. Gunakan integral lipat dua untuk menghadapi luas yang dibatasi oleh p = tan @ sec @ dan @ = "/, b. Di luar lingkaran p = 4 dan di dalam p = 8 cos @ 7. Tentukan I, dan i untuk 1 loop dari p? = cos 26 6.3. INTEGRAL LIPAT TIGA Bentuknya: J J J f(xy) f(xy,2) dx dy dz v {(%,y.2) di definisikan pada ruang tertutup V dibagi atas paralelepipedum tegak Jurus oleh bidang-bidang sejajar bidang koordinat. Paralelepipedum dalam V kita beri nomor 1 samopai n. Paralelepipedum ke i mempunyai volume A, V. Integral tripel (integral lipat tiga) di dapat dari limit dari jumlah M JJ J sexy dx dy dz=tim E £*, y4, 2) AV v nec i=] Jika n—e2, sedang diagonal maksimum dari A, V-20. Titik (x,*, y,*, 2,*) dipilih sebarang dalam paralelepipedum ke i. Adanya suatu limit yang unik dapat ditunjukkan, jika f(x,y,z) kontinu di V Teori sederhana berlaku untuk ruang tertutup V yang dilukiskan sebagai X,SxSx,, ¥,) 0), x=0,y=0,2=0. (b) Berikanlah tafsiran fisis untuk SJ espe a axgy ae R (c) Hitunglah integral lipat tiga dalam (b) (a) Daerah yang diinginkan R ditunjukkan dalam Gambar 6-24. (b) Karena x? + y? + 2? adalah kwadrat jarak dari suatu titik (x, y, z) ke titik (0, 0, 0), kita dapat memandang integral lipat tiga tersebut sebagai momen inersia kutub (yaitu momen inersia terhadap titik asal) dari daerah R (dengan mengan- daikan rapat massanya 1 satuan). Kita dapat juga memandang integral lipat tiga tersebut sepagai massa daerah R jika rapat massanya bervariasi dengan persamaan x? + y* + 2°. (c) Integral lipat tiga ini dapat dinyatakan sebagai integral berulang a ax axy J Jo cea yee de ay dx x=0 y=0 2-0 209 a ex xy =! | dy dx x0 y=0 3 20 =x 7 he =P Pf ay y+ oy SE" 9 ay x=0 y=0 3 xy (a-wy yt @-x-y) i + eee = J 2a —xy- x=0 -—- dx 4 12 y=0 a wa-x? (a-x)t (a-x)' (a—x) elie oe = - + 0 2 3 4 12 a, a—x? (a-x! 5 -fySe } ax =— 0 2 6 20 Pengintegralan terhadap z (anggap x dan y tetap) dari z = 0 sampai z = a —z~y bersesuaian dengan jumlah momen inersia kutub (atau massa) yang berhubungan dengan setiap kubus pada kolom tegak. Kemudian integralkan ter- hadap y dari y = 0 sampai y = a — x (anggap x tetap) bersesuaian dengan penjumlahan dari semua kolom tegak yang terletak pada jalur sejajar bidang yz. Akhirnya, integralkan terhadap x dari x = 0 sampai x = a dan jumlah semua jalur sejajar bidang yz. 4. Tentukanlah (a). volume dan (b) pusat daerah R yang dibatasi oleh silinder parabolik z= 4~ x? dan bidang-bidang x = 0, y = 6, z = 0 dengan mengandaikan bahwa rapat massanya tetap sebesar o. Daerah R ditunjukkan dalam Gambar 6-25. @) Volume yang diinginkan = J J J ax dy dz R le al faa x=0 y=0 220 6 -f P 4x9 ay ax x=0 “y=0 -Sia-ny f ~ x=0 210 2 = J (24 - 6x?) dx = 32 Gambar 6-25 2 6 xt (b) Massa total = Jumlah massa f J ox dz dy dx = 320 x=0 y=0 2=0 menurut bagian (a), karena 6 tetap. Maka 2 6 x ros ie ox dz dy dx Jumlah momen terhadap bidang yz x=0 y=0 2-0 X= = Jumlah massa Jumlah massa 240 3 oe 2 76 4-x J oy dz dy dx Jumlah momen terhadap bidang xz x=0 y=0 250 Jumlah massa att 2 6 4x? FSF cxaeay ax Jumlah momen terhadap bidang xy x=0 y=0 2=0 zs : = Jumlah massa Jumlah massa 2560/5 8 326 2~COS Jadi pusat daerah R mempunyai koordinat(3/4, 3, 8/5). Pethatikanlah bahwa nilai untuk y dapat diramalkan sebelumnya karena simetri. TRANSFORMASI UNTUK INTEGRAL LIPAT DUA 5. Berikanlah alasan dari persamaan (21) di halaman {63 untuk pergantian peubah pada integral lipat dua. Dalam koordinat tegak lurus, integral lipat dua dari F(x, y) pada daerah R (daerah gelap pada Gambar 6-9) adalah J, J F(x, y) dx dy. Kita dapat juga meng- hitung integral lipat dua ini dengan memandang suatu jaring yang dibentuk keluarga kurva u dan v pada koordinat kurvilinier untuk daerah R seperti terlihat pada gambar. Misatkan P suatu titik dengan koordinat (x, y) atau (u, v) di mana x = f(u, v) dan y = g(u, v). Maka vektor r dari O ke P diberikan oleh r = xi + yj = f(u, v)i + g(u, v)j. Vektor singgung pada kurva koordinat u = c, dan v = c,, dimana c, dan c, konstanta berturut-turut adalah dr/dv dan dr/du. Maka luas on or, daerah AR pada Gambar 6-9 dapat dihampiri oleh | Tr x ny | Au Av uu M Tetapi ij k ax ay a a ou (u, ju Ov a Ou ae v ax ay 4 Ov av av av a(x, y) | au Av ; ar ar sehingga |—x—lavav =f au Av u, 212 Integral lipat duanya adalah limit jumlah oq, y) a(u, v) > FFG, v), gu, vy} I | Au Av yang diambil di seluruh daerah R. Penjelasan sebelumnya menyatakan bahwa limit ini sama dengan (x, y) J J F(f(u, v), g(u, v)} | I du dv 7 a (u, v) di mana R’ adalah daerah pada bidang uv yang merupakan hasil pemetaan daerah R tethadap transformasi x = f(u, v), y = g(u, v). Hitunglah J, J Vx? y? dx dy, dimana R adalah daerah di bidang xy yang dibatasi oleh x? + y? = 4 dan x24 y? = 9, Di sini kita menyatakan x? + y? dalam koordinat kutub (p, @), di mana z = p cos 8, y =p sin 8. Dengan menggunakan transformasi ini, daerah R [Gambar 6-26 (a)} dipetakan men- jadi daerah R’ [Gambar 6-26 (b)] 249 =9orp=3 s+ y=4orp=2 dA = p dade (@ Gambar 6-26 ae y) a, 8) Karena ps ax, 2 1dp 40 = J, p » p apedo J vx? + y? dx dy = J.J Ve+yl a(p,6) 213 Qn (3 an ph 3 pn 19 38 ef” [> papae=f ae =f” — ae = — 8-0 p=2 6-0 3 0 3 3 Kita dapat juga menulis limit pengintegralan untuk R’ langsung setelah me- meriksa daerah R, karena untuk @ tetap dan p berubah dari p = 3 dalam sektor lingkaran telah ditunjukkan pada gambar 6-26(a). Suatu pengintegralan terhadap @ dari © = 0 sampai 6 = 2x memberikan bentuk semua sektor lingkaran. Secara ilmu ukur, p dp d@ menyatakan luas dA yang ditunjukkan pada Gambar 6-26(a). TRANSFORMASI UNTUK INTEGRAL LIPAT TIGA 7. 214 Berikanlah alasan dari persamaan (11) di halaman 161 untuk pergantian peubah pada integral lipat tiga. x r Gambar 6-27 Dengan cara yang sama seperti Soal 5 kita membangun jaring untuk permukaan koordinat kurvilinier yang membagi daerah R menjadi daerah bagian, salah satu bagiannya adalah AR (lihat Gambar 6-27). Vektor r dari titik awal O ke titik P adalah F=xi+ yj + zk = f(u, v, wi + g(u, v, w)j + h(u, v, wk dengan mengandaikan bahwa persamaan transformasinya adalah x = f(u, v, w), y = g(u, v, w) dan z = h(u, v, w). Vektor singgung pada n kurva koordinat yang bersesuaian dengan pasangan koordinat permukaan diberikan oleh dr/du, dr/dv, dr/aw. Kemudian, volume benda AR pada Gambar 6-27 dihampiri oleh (ee aay ee aa Oy OW Gh Integral lipat tiga dari F(x, y, z) pada daerah tersebut adalah limit jumlah atx. y. TLC, v, w), atu, v, w, ho, v, wy} 1 LE | aw av Aw atu, v, W) Suatu bentuk pengintegralan yang menyatakan Jimit ini adalah (x, y, 2) J LF Bt, vw 200, v 99, btu, yw) | Fda av dw ® atu, v, w) di mana R’ adalah daerah di ruan uvw yang merupakan hasil pemetaan daerah R oleh transformasi tersebut. Nyatakanlah j J J F(x, y, Z) dx dy dz dalam koordinat silinder R Persamaan transformasi dalam koordinat silinder adalah x p cos @, y = p sin 8, z. Jacobian transformasi ini adalah aon y. [e829 P sine 0 = — =| sin 8 @ O| = xp. 8D sin p cos p 0 0 1 Kemudian, dengan menggunakan Soal 6.7, integral lipat tiganya menjadi SJ Sc. ©, 2) p dp a0 az di mana R’ adalah daerah di ruang p, ®, z yang berkaitan dengan R di mana G(p, 8, 2) = F(p cos 8, p sin 8, z) Tentukanlah volume daerah di atas bidang xy yang dibatasi oleh parabola z = x? + y* dan silinder x2 + y? = a. Volume benda ini lebih mudah dihitung dengan menggunakan koordinat ini, persamaan paraboloida dan silinder berturut-turut adalah z p? dan p = a, Maka 215 | Volume benda yang diinginkan = 4 kali volume pada Gambar 6-28 a =al Fp dudp 40 @=0 p=0 2-0 = 41 J pap a0 6=0 p=0 exateyt orp dV = pdedpde T2084 eat or p=a Gambar 6-28 Pengintegralan terhadap z (anggap p dan @ tetap) dari z = 0 sampai z = p? bersesuaian dengan jumlah volume kubus (yang dinyatakan dengan dV) pada kolom tegak perluasan dari bidang xy pada paraboloida. Kemudian pengintegralan terhadap P (anggap @ tetap) dari p = 0 sampai p = a bersesuaian dengan penjumlahan volume semua kolom pada daerah sisi yang terbentuk. Akhimya pengintegralan terhadap @ bersesuaian dengan penjumlahan volume semua daerah sisi yang terbentuk. | Pengintegralan tersebut dapat juga dibentuk dengan urutan lain dan memberikan hasil yang sama. Kita dapat juga menyatakan integral tersebut dengan cara menentukan daerah | R’ dalam ruang p, 6, z yang merupakan hasil pemetaan daerah R oleh transformasi koordinat silinder. 216 FUNGSI VEKTOR Jika untuk setiap nilai skalar u dikaitkan dengan suatu vektor A, maka A dinamakan suatu fungsi dari_u dan dinyatakan dengan A(u). Dalam tiga dimensi kita menulis A(u) = A,(u)i + A,(u)j + A,(u)k. Konsep fungsi ini dapat dengan mudah diperluas. Jadi kita untuk setiap titik (x, y, 2) dikaitkan dengan suatu vektor A, maka A adalah fungsi dari (x, y, z) dan dinyatakan dengan A(x, y, 2) = A\(x, y, i+ AX, ys 2) + AYO y, DK. Kita kadang-kadang menyatakan bahwa sebuah fungsi vektor A(x, y, z) mendefi- nisikan suatu medan vektor karena mengaitkan suatu vektor dengan setiap titik di suatu daerah. Dengan cara yang sama (x, y, z) mendefinisikan suatu medan skalar karena mengaitkan suatu skalar dengan setiap titik di suatu daerah. 7.1. LIMIT, KONTINUITAS DAN TURUNAN FUNGSI VEKTOR Limit, kontinuitas dan turunan fungsi vektor mengikuti aturan yang serupa untuk fungsi skalar yang bersangkutan. Pernyataan berikut menunjukkan kesamaan yang ada. 1, Fungsi vektor A(u) dikatakan kontinu di u, jika diberikan suatu_bilangan positif €, kita dapat menentukan suatu bilangan positif 5 sehingga IA(u) — Ay) ) <€ bilamana 217 tu — uJ < 6. Hal ini ekivalen dengan pernyataan lim A(u) = A(u,). Au, 2. Turunan dari A(u) didefinisikan sebagai dA A(u + Au) - A(u) — = lim ——————_ du ‘Au asalkan limit ini ada. Dalam kasus A(u) = A,(u)i + A,(wj + A,(u)k; maka dA _oA,= dA, dA, : Go du du de Turunan tingkat tinggi seperti misalnya d?A/du?, dan seterusnya dapat didefinisikan dengan cara yang sama. 3, Jika AQ, y, 2) = A(x, ¥, Zi + AG y, 2p + A,Os y, DK, maka dA 2 qd eS dy + cs di eae Cate 3 ye op adalah differensial dari A 4, Turunan dari hasil kali memenuhi aturan yang sama dengan aturan untuk fungsi skalar. Tetapi dalam hasil kali silang, urutannya menjadi penting. Beberapa contah adalah: d - dA do — a ==C=s# by) 2 ALH=A a B a i o>, « ay by 2 axBek eB OA 7 a rye a ee 7.2. TAFSIRAN ILMU UKUR DARI TURUNAN VEKTOR Jika r adalah vektor yang menghubungkan titik asal 0 pada suatu sistem koordinat dan titik (x, yz), maka ciri fungsi vektor r(u) mendefinisikan x, y dan z sebagai fungsi dari u. Sesuai dengan perubahan u, titik ujung dari r menyatakan suata kurva ruang (lihat Gambar 7-1) yang mempunyai persamaan parameter x = x(u), y = y(u), z = 2(u). Jika parameter u tersebut adalah panjang busur s yang diukur dari suatu titik tetap pada kurva, maka a8 Gambar 7-1 adalah suatu vektor satuan dalam arah menyinggung kurva dan dinamakan vektor singgung satuan. Jika u adalah waktu t, maka doo —=V 7 (10) adalah suatu vektor satuan dalam arah menyinggung kurva dan dinamakan vektor singgung satuan. Sika a dF ds ds — | SS Te or ads dt dt AL) adalah kecepatan titik ujung r yang menyatakan kurva. Maka di mana besarnya seringkali dinamakan kepesatan (speed), yaitu ® = ds/dt. Dengan cara yang sama. ar ona . (12) adalah percepatan dari titik ujung r yang menyatakan kurva. Penerapan konsep ini penting dalam mekanika. 7.3. GRADIEN, DIVERGENSI DAN CURL Perhatikanlah operator vektor V (del) yang didefinisikan dengan a a a es ax ay az (13) Kemudian jika (x, y, z) dan A (x, y, z) mempunyai turunan parsial pertama yang kontinu pada suatu daerah (suatu syarat yang dalam banyak hal lebih kuat daripada 219 keperluannya), jika dapat mendefinisikan hal berikut ini. “1, Gradien. Gradien dari didefinisikan dengan dV=Vo=li Dp re =V o=(G—+j— Brac % ox a + oy a . a - Sores arn oat Suatu tafsiran yang menarik adalah bahwa jika (x, y, z) = c adalah persamaan sebuah permukaan, maka V 9 adalah suatu normal untuk permukaan ini (lihat soal 11). 2. Divergensi. Divergensi dari A didefinisikan dengan . 5-7-9 59 9 a AG Se are pe svoseeseed( 15) eeohny cea oes a dy ae 3. Curl. Curl dari a didefinisikan dengan i a oy A, _ aa _ - fay az} -[ax a] | ax ay. =i -j AOA AA, A, A, aA, 9A, \— aA, 2h Ay. — 6 ae oS k FS =< dire % Ay +S ay ) Perhatikan bahwa dalam menguraikan determinan tersebut, operator 0/dx, /dy, 0/0z harus mendahului A,, Ay, Ay. 220 7.4, RUMUS-RUMUS YANG MENGANDUNG V7 Jika turunan parsial dari A, B, U dan V diandaikan ada, maka : YU + V) = VU + VV atau grad (U + V) = grad U + grad V V «(A +B)=7°A+V eB atau div (A +B) = div A+divB Vv x(A+B)3VxA+4V xB atau curl (A +B) = curl A + cul B VW + (UA) = (VU) © A+ UY *A) VY x (UA) = (VU) x A+ UV x A) V+ (Ax By=B+(7xA)-A+(V xB) Vx(AxB)=@+VA-BV A) - A+ VB+AW + B) V(A+B)=B+V)A+A+VB+Bx (Vx A+ Ax(V xB) vu FU aU a re F eB "3 a i 9 Ve) sVU= dinamakan Laplace dari U dan V? dinamakan operator Laplace 10. Vx (JU) = 0. Curl dari gradien U adalah nol. 11. V+ (7 x A) =O. Divergensi dari curl A adalah nol. 2 VxVxAaV(VtA-VA 7.5. KOORDINAT KURVILINIER TEGAKLURUS DAN JACOBIAN Persamaan transformasi : X= fu, uu), y= gu, u, u,), z= hu, uu.) . “T) [diandaikan bahwa f, g, h kontinu, mempunyai turunan parsial yang kuntinu dan mempunyai irtvers bernilai tunggal] memberikan penyesuaian di antara titik dalam sistem koordinat tegak Iurus xyz dan u,, u,, U,. Dalam notasi vektor, transformasi (17Y dapat ditulis sebagai on 18) d+ yjt 7k = fu, a, u)i+ glu, u, uj + hu, u, uk Suatu titik P pada Gambar 7-2 dapat didefinisikan tidak hanya dengan koordinat tegaklurus (x, y, 2) tetapi juga dengan koordinat (u,, u,, u,). Kita menamakan (u,, u, u,) sebagai koordinat kurvilinier dari titik tersebut. : t x Gambar 7-2 Jika u, dan u, konstanta dan u, berubah, maka r menyatakan suatu kurva yang di- namakan kurva koordinat u,. Dengan cara yang sama, kita mendefinisikan u, dan u, sebagai kurva koordinat yang melalui P. Dari (18) kita memperoleh ds & du, + o di a it = —_ + my eB, du. (19) z Vektor 1/du, menyinggung kurva koordinat u, di P. Jika el adalah suatu vektor satuan di P dalam arah ini, maka kita dapat menulis 31/2u, = h,8, dimana h, = ldr/du,]. Dengan cara yang sama kita dapat menulis ar/du, = hé, dan dr/ou, = h,e,, di mana h, = {8c/du,] dan h, = ldr/du,|. Kemudian, (19) dapat dituliskan sebagai dF =h, du, +h, du,&, +h, du, é, 20) Besaran h,, h,, h, kadang-kadang dinamakan faktor-faktor skala. Jika €,, @, &, saling tegaklurus di suatu titik P, maka koordinat kurviliniernya dinamakan tegaklurus. Dalam kasus ini elemen dari panjang busur ds diberikan dengan ds? = dr * dr = b,du?, + h?,du?, + h?,du?, (21) dan bersesuaian dengan panjang kuadrat diagonal paralelepipedum di atas. Juga dalam kasus koordinat tegaklurus, isi paralelepipedumnya diberikan dengan (22) dV = Ih, du, e,) » (h, du, e,) x (b, du, e,)! = hyh,h, du, du, du, yang dapat dituliskan sebagai aa of a y, AV be Ff ay, ay, du, = = | | ay, dy dy nal23) ou, "du, * du, at, uw) : 222 du, du, Ou, . Ox, yz) _ | ay ay dy Gimme Aur uy wy | Bay Bu, By, az a a du, u, 2u, dinamakan Jacobian dari transformasi tersebut. Jelaslah bahwa bilamana Jacobian ini identik dengan nol, maka tidak ada paralele- pipedum yang terbentuk. Dalam kasus seperti itu ada suatu hubungan fungsional di antara x, y dan z, maka ada suatu fungsi 6 sehinga kesamaan 6(x, y, z) = 0 berlaku. 7.6. GRADIEN, DIVERGENSI, CURL DAN LAPLACIAN DALAM KOORDINAT KURVILINIER TEGAKLURUS Jika © adalah suatu fungsi skalar dan A = Ae, + AS, + A,€, suatu fungsi vektor dari Koordinat kurvilinier tegaklurus u,, u,, U,, kita memperoleh hasil berikut ini. L vocgaos 1s, 1 ML 1 we : = = — —~@ +— —e6,+— — . bh, ob me a Oy 7 1 2. VeA=divA =—— hh, A, (hh, A, —— (hh, A. iv inh, [ 5 (hybyA) + > — a 2) + a )] be me, he, 3. VxAzculA ; oe xAzculA = ae ae an hhh, | du, du, du, nA, byA, As | . a hh. a hh, oo 4, V%® = Laplacian dari @ = —— eu i 2 Gee a aplacian dati @ = OE ba du,” du, hy On, a hh, a —(- —)] du, hb, du, o Ini menghasilkan bentuk yang biasa dalam koordinat tegaklurus jika kita mengganti (a, u,, u,) dengan (x, y, 2), dalam hal ini'e,, &, dan ©, diganti oleh i, j dan K dan h, = h,=h, = 1. 22a 7.7.. KOORDINAT KURVILINIER KHUSUS 1. Koordinat silinder (p, 6, z). Lihat Gambar 7-3. Persamaan transfromasi : x=pcoso, y=psing, z=z di mana p20, OS < 2m, -o o | = [ It ad @l aa | dit = 0 dan berikan suatu arti fisis yang mungkin, = ( & fe 200 4 ag 4 (2 sin Stk = (3? + 2)i + 6c + — = — (+ Wi + — (ej + — = Gt + 2i Ure th at Lis ij 10 cos Stk Dit = 0. dr/dt = 21 + 6 + 10k. (b) Dari (a), ldr/dtt = VQ)" + (©? + (10 = VI40 = 2V35 di t = 0. o+ ae ) Bt? + 2)i + 6e79 + 10 cos St K} = 6ti — 12e3j — pee = a a aa : : aa J 50 sin Stk Di t = 0, @r/dt? = - 12). (@) Dari (©), Ir/dt"l = 12 di t = 0. Jika t menyatakan waktu, maka hal ini berturut-turut menyatakan kecepatan, besarnya kecepatan percepatan dan besarnya percepatan pada t = 0 dari suatu par- tikel yang bergerak sepanjang kurva ruang x = t} + 2t, y = ~3e, z = 2 sin St. d dB dA 2. Buktikanlah bahwa — (A * B) = A*——+ « B, dimana A dan B adalah du du du fungsi yang mempunyai turunan terhadap u. d _ (A+AA)*(B+AB)-A+B Metode 1. — (A * B) = lim, du 0-90 i ° AB = lim ‘a0 =, _~ 4B dA ~ = lim (A+ +AB) =A*+—+——+B in, (A Au Au Au dus du Metode 2. Misalkan A= Aji+Aj+A,k, B=Bi+B,j+ Bk. Maka ~ = d — (A+B) "a (A,B, + A.B, + A,B.) = (4, Gta oa, 2 zt a,+ =, +n) 3. Sika (x, y, 2) d, -2, 1. OA = (yz) (3x2yi + yz4j — xzk) = 3xty?2i + x2y25j - _ xyz dan A = 3x°yi + yzij — xzk, tentukanlah 5 a) di titik xtyz’k) = 3x4y4i + 3x2y223j — Ix3yzk a a ~ — a (A) = me Bxty*zi + xy?23j 226 2 aye az Jikax=1, y=-2, z=-l, maka -12i -- 12) + 2k. A) = = (Gxty'i + 3x2y2zij — 2xyzk) = Ox"yi + 6x?yzij - 2x2zk . Jika A = x? sin yi + 22 cos y j ~ xy*k, tentukanlah dA. Metode 1. oA - = aA S 2 dA 7 — = 2x sin y i - yk, —— = cos yi- 2 sin yj — 2xyk, — = 2x cos yj ax dy az OA 2 OA 4 5 OA dA = —dx + —dy + —dz ax Oy = (2x sin yi — y*k) dx + (x? cos y i — 2? sin y j — 2xyk) dy + (2z cos y j) dz = (2x sin y dx + x? cos y dy)i + (2z cos y dz — z?sin y dy)j ~ (y? dx + 2xy dy)k Metode 2. dA = d(x? sin y)i + d(z? cos yj — d(xy)k = (2x sin y dx + x? cos y dy)i + (2z cos y dz - z? sin y dy)j - (y? dx + 2xy dy)k Suatu partikel bergerak sepanjang suatu kurva ruang 1(t), di mana t adalah waktu yang diukur dari suatu saat awal. Jika v = Idr/dt] = ds/dt adalah besamya kecepatan partikel tersebut, (s adalah panjang busur sepanjang kurva ruang yang diukur dari posisi awal), buktikanlah bahwa percepatan partikel a ditentukan oleh di mana T dan N adalah vektor singgung dan normal satuan terhadap kurva ruang dan 2-10 eT Sy) Kecepatan partikel dinyatakan dengan v = vT, Maka percepatannya adalah Ww 48 pe @e aT dvs at ds ave aT as = (wT) = +0— =—T+ v- + ed) dt dt It dt dt ds dt "a ds Karena T mempunyai panjang satu satuan, kita memperoleh T * T = 1. Kemudian, dengan mendifferensialkannya terhadap s, kita memperoleh = oF dT aT aT Te =0 atau T+—=0 ds ds ds ds 227 dan dari sini diperoleh dT/ds tegaklurus T. Nyatakanlah vektor satuan sepanjang dT/ ds ini dengan N, yang dinamakan normal utama pada kurva ruang; kita memperoleh aT 2 ee ds (2) di mana « adalah panjang dT/ds. Sekarang, karena T = dr/ds [lihat persamaan (9) di halaman 136), kita memperoleh dT/ds = d’r/ds*, Karena itu ey? dz 2 eS e 7 celSl=((Q)+(S)+(Q)) Definisikan p = 1/k, maka (2) menjadi dT/ds = Nip. Jadi dari (1) kita memper- oleh seperti yang diinginkan, yaitu Komponen dv/dt dan v*/p dalam arah T dan N dinamakan komponen tangen- sial percepatan dan normal percepatan, yang terakhir kadang-kadang dinamakan per- cepatan sentripetal. Besaran p dan x berturut-turut dinamakan jari-jari kelengkungan (radius of curvature) dan kelengkungan (curvature) dari kurva ruang tersebut. GRADIEN, DIVERGENSI DAN CURL 6. Jika 9 = x°y3 dan A = xzi — yj + 2x°yk, tentukan (a) Vo, (b) V * A, (©) Vx A, (d) div @A), (e) curl (A). Oe Co a, ay a j+ =! ey . ~ SOx ay? oz o= 3! : OK ae a - 2 — so _ — (yz3)j + — (Pyz3k = Axyz4i + x25) + Sxyz7k dy az ~ d+ 0. d- - : VR = (Si i tk) «(ati - v5 + Bey = 2-29 a a a = Gy + ON) + FL Ony) = 2 Dy _ ss -. (©) Vx A= (i+ —j + Sk) x (oti - yf + 2b) ax ay a 228 i ofaz aldy afdz xz -y?Oxty a a ny, (2 ¢ y+ = (ary) - —cy)i - Loe Ze ny 24 yji+ ( =) Zoi +o) a 7 —~<2))k ay = 2x + (x - dxy)y (@) div (GA) = Y + (A) = V + (yal — xty'al + axty'zKy a a ¢ = Lx'y!) + xy’) + ntytzt) = Sxtye! — 32's) + 6xty? ax oy oz (©) curl (A) = x @A) = V x (c'yzii — 2y%2 + 2x4y2ziIk) 7 i k afax Ay Ala, yn ey’) Oty'e = Axtyz3 + 3xy23)i +(Ax’yz? — 8x'y*2))j — Qxy'2? + xi2k 7. Buktikanlah V + (A) = (V6) + A + (V7 + A). V+ @A) = V+ GA + Oj + OAD a a 3 = Fy (OA + OAD + 0A) 2 Ey a aA, 9A, 9. Bite Bare BM ox 26- - (Bie Si Bn. "Ait As + Ab +0254 25+ 25) aie Aira = (Vo) + A+ 00 © A) 229 8. 10. 230 Buktikanlah bahwa 7 adalah suatu vektor yang tegaklurus pada permukaan \$(x, y, 2) =, di mana c suatu konstanta. Misalkan T= xi + yj + 2K adalah vektor posisi suatu titik P(x, y, z) pada permukaan, Maka dr = dzi + dyj + dzk terletak pada bidang singgung di permukaan tersebut di P. Tetapi _%, %, 9 (a Mh) a as Ob = Seda + Shay + de = O atau (5 i+ i+ Pe) (dxi + dyj + dzk) =0 yaitu V@ * dr = 0 sehingga 76 tegaklurus pada dr dan karena itu tegaklurus pada permukaan, Tentukanlah suatu normal satuan pada permukaan 2x? + 4yz ~ 52? = — 10 di titik PG, -1, 2). Menurut Soal 8, suatu vektor normal pada permukaan adalah V (ox? + Ayz — 522) = Axi + 42j + (dy — 102)k = 121 + 8] - 24k di (3, -1, 2) 12i + 8j- 24k a suatu normal satuan pada permukaan di P adalah oe 3i + 2j - 6k a 3i + j- 6k Normal satuan lainnya pada permukaan di P adalah - —————— 7 Jika > = 2xy ~ x23, tentukanlah (a) Vo dan (b) V7". (@ Vo= 5 (ary ana yy (b) V% = Laplacian dari ¢ = V + Vo = Jey —2)+ 50%) + ane 3xz2) = 4y - 6xz Metode lain : a 8 & V% = a ae Ee ae Soy — x2) + Soy - x2) ox az Ox = dy -6 xz . Buktikanlah div curl A = 0 ij ek afex dafdy diaz A, A, A diveulA=Ve(VxA)=V7 3 @ onoye Dave) | yon yon: one 50207 andaikan bahwa A mempunyai tucunan parsial kedua yang kontinu sehingga urutan pendifferensiafannya tidak penting. 12. Tentukanlah persamaan (a) bidang singgung dan (b) garis normal pada permukaan F(x, y, z) = 0 di titik P(X, y, %). Lihat Gambar 7-5. (a) Sebuah vektor normal pada permukaan di P adalah N= VAI, Kemudian, jika x, dan ¢ masing-masing adalah vektor dari 0 ke P(x,, yy Z,) dan Q(x, y, 2) pada bidang tersebut, maka persamaan bidangnya adalah @-1,) +N, =@-%) + VF, =0 karena ¥ ~ T, tegaklurus pada N,. Dalam bentuk koordinat menjadi Fl, & - x) + Fl, (y - ¥) + F, @ - 2) = 0 (b) Jika r adafah vektor dari titik 0 pada Gambar 7-5 ke suatu titik (x, y, z) pada garis normal, maka T — i, segaris dengan N, sehingga @-%) x N,=(@-1) x VH,=0 yang datam bentuk koordinat menjadi ~—*® = ¥—¥o _ 7770 Feo re Gambar 7-5 231 13, Tentukanlah persamaan untuk (a) garis singgung, (b) bidang normal pada kurva mang x = fu), y = g(u), z = h(u) pada suatu titik di mana u = u,. Lihat gambar 7-6. (a) Jika R = f( u)i + g(u)j + h(u)k, maka sebuah vektor singgung pada kurva G = _ dR a di titik P dinyatakan oleh T, = |,. kemudian, jika r, dan r adalah ju vektor yang masing-masing digambarkan dari O ke P dan Q pada garis singgung, kita memperoleh € pte =@-1)x— r-1,) x Ty WxT karena r — r, segaris dengan T,. Dalam bentuk koordinat menjadi Y=% _ %-% gu) Wu) Gambar 7-6 (b) Jika T adalah vektor dari 0 ke suatu titik (x, y, z) pada bidang normal, maka T ~ T, tegaklurus Ty. Jadi persamaan yang diinginkan adalah 7a ©-A) Te Ce atau dalam bentuk koordinat menjadi Bu) (x) + BU) Y -¥) +) @- 4) = 0 232 14, Jika F(x, y, z) didefinisikan sebagai suatu titik pada kurva ruang C dan s adalah panjang busurnya ke titik (x, y, z) dari suatu titik yang diberikan pada C, tunjuk- kanlah bahwa di mana T = dr/ds adalah vektor singgung satuan pada C di titik (x, y, 2). _ dF OF dx OF dy OF a Di =e ee ds ox ds dy ds a ds Sey eee oe dx dy~ dz = (Si Fj Ey). (S54 254 2D de aS re ds Kenyataan bahwa T = di/ds adalah suatu vektor satuan yang diperoleh dari bentuk dr = dx? + dy? + dz’, Kita seringkali menamakan dF/ds sebagai turunan berarah dari F di (x, y, z) sepanjang C. KOORDINAT KURVILINIER DAN JACOBIAN 15. Tentukan ds? dalam koordinat (a) silinder dan (b) bola kemudian tentukan juga faktor skalanya, (a) Metode 1. x=pcos\$, y=psing, 2=2 dx = -p sin 9 do + cos 6 dp, dy =p cos > dp + sing dp, dz = dz Maka dst = dx? + dy? + dz? = (p sin 6 do + cos o dp)’ + (p cos @ do + sin o dp)? + (day? = (dp? + p°(do)? + (dz? = b?(dp)? + h?,(doy? + h?,(dz? dan h, =h, = 1h, =h, =, h,=h, = 1 adalah faktor-faktor skalanya. Metode 2. Vektor posisinya adalah T = p cos @7 +p sin j + zk. maka or or or = dp + —— dpe ap a oz 233 = (cos \$7 + sin \$5) dp + Cp sin 61 + p cos > j) do +k dz = (cos dp ~ p sin do)i + (sin } dp + p cos do)j + k dz Jadi ds* = dr * dr = (cos @ dp — p sin do)? + (sin 6 dp + p cos \$ dd)? + (dz)? = (dp) + (do)? + (dz? (b) x =rsin@cos, y=rsin@sing, z=rcos@ Maka dx = -r sin @ sin \$ dd +r cos @ cos dO + sin 8 cos > dr dy = r sin @ cos } do +r cos @ sin dO + sin @ sin 6 dr dz = -+ sin 8 dO + cos @ dr dan (ds)? = (dx)? + (dy? + (dz?'= (dr)? + P(dp)? + °(d0)? + sin? @ (do? Faktor-faktor skalanya adalah h, = h, = 1, h, = bh, =1,.h, =h, =r sin @. 16, Tentukan elemen volume dV dalam koordinat (a) silinder (b) bola dan gambar- kanlah. Elemen volume dalam koordinat kurvilinier tegaklurus u,, u,, u, adalah (x, y, 2) (uy, Uy U3) (a) Dalam koordinat silinder, u, = p, u, = 4, u, = zh, = 1, h, Soal 15(a)] Maka dV = (1)(p)(1) dp do dz = p dp d0 dz Hal ini dapat juga dilihat langsung dari Gambar 7-7(a) berikut. dV = h,h,h, du, du, du, = | I du, du, du, p, h, = 1 (lihat @¥ =f 860) 00K) un edb a0 (a) Elemen volume dalam *" (6) Elemen volume dalam koordinat silinder koordinat bola. Gambar 7-7 234 (b) Dalam koordinat silinder, u, =r, u, = 8, w, = 4, h, = 1, hy = 5, h, = 4 sin 6 lihat soal 15(b)] Maka dV = (ir) sin 9) dr d6 dg = ¢ sin @ dr dO do Hal ini dapat juga dilihat tangsung dari Gambar 5-25(b). . Nyatakanlah dalam koordinat silinder (a) grad ®, (b) div A, (c) V2®. Misalkan u, = p, u, = >, U, =z, h, = 1, h, ==, h, = 1 [lihat Soal 15a) pada hasil 1 halaman 233, serta 2 dan 4 di halaman ........ Maka 1 o@_ 106 1 O_ O_ 100 © (@) grad = Vom — SS Seat SB a Bt ap ot Ge di mana e,, e,, e, adalah vektor satuan dalam arah pertambahan 2 o, z. BAe A DA, aa nea. (b) div am Laon ) p+ aK CLA,) + an p)A,)] di mana A = Ag, + Ag, + Af, 1 a (PMI) a Dd) @, a © Vee 52 OO %), A) a), a (AX) 20. (QD) “dp (1) ap” 8H OH” Gz” (1) dz 12 G@), 1 0, “pap Oa Oe OA I . Jika F(x, y, u, v) = 0 dan G(x, y, u, v) = 0, tentukan (a) du/dx, (b) du/dy, (c) av/ ax, (d) av/ay. ‘Ada dua persamaan yang secara umum mendefinisikan peubah tak bebas u dan v sebagai fungsi (implisit) terhadap peubah bebas x dan y. Dengan menggunakan lambang indeks, kita mempunyai (1) dF =F, dx +F, dy + F, du+F, dv=0 (2) dG =G, dx + G, dy +G, du+G, dv=0 Juga, karena u dan v adalah fungsi dari x dan y, maka @) du=u,dx+u,dy (4) dv=v, dx + v, dy Dengan mensubstitusikan (3) dan (4) ke dalam (1) dan (2); yang menghasilkan 235 (5) dF = (F, + Fu, + Fy,) dx + @ + Fu, + Fy,) dy =0 ©) dG = G, + Gu, + Gy,) dk + G, + Gu, + Gy,) dy = 0 Karena x dan y bebas, koefisien dari dx dan dy dalam (5) dan (6) adalah nol. Karena itu kita memperoleh ot Gu, +Gy, Fu, +Fy,= -F, Fu,+Fv,=-F, Gu, + Gv, = -G, Selesaikanlah (7) dan (8), yang memberikan -F.F, a(F, G) F,-F,| a, G) a (GG) avy dv 1G,-Gl am» (a) w= 7 =o (b) v,= = te 8 BR aF, G) Son 2 | Fr = onic) G,G, atu, v) G, 5 au, v) -F,F,| a) F,-F, 2,6) oe IGG) HM gy, oh 14-G__ X” ay | FR a, G) Yr ae a(F, G) G, | au, v) le G, | atu, v) Determinan fungsional | a él dinyatakan dengan 22D atau J ( ne )s adalah Jacobian dari f dan G terhadap u dan v diandaikan tak nol. Perhatikanlah bahwa ini dibuat untuk mengikat aturannya dengan menuliskan sekali lagi turunan parsial yang diiginkan dalam suku-suku Jacobian. 7.9. SOAL-SOAL LATIHAN ALJABAR VEKTOR 1. Diketahui dua vektor A dan B, gambarkanlah secara ilmu ukur kesamaan 4A + 3(B -A)=A+ 3B. 2. Seseorang berjalan 25 km ke arah timur laut, kemudian dilanjutkan ke arah timur 15 km dan ke arah selatan 10 km. Dengan menggunakan skala yang tepat, tentukanlah secara grafik (a) berapa jauh dan (b) dalam arah mana ia berada dari titik pembe- rangkatannya, Apakah mungkin menentukan jawaban soal ini secara analitis ? 3. Buktikanlah bahwa mA + nB adalah suatu vektor yang terletak di bidang yang dibentang oleh A dan B, jika A dan B adalah dua vektor bukan nol yang arahnya tidak sama. 4, Buktikanlah bahwa x, = x, ¥, = Yo z, = 2, Jika A, B dan C adalah tiga vektor yang tidak sebidang, dan x,A + y,B + z,C = Ae + y,B + 2,C. 5. Misalkan ABCD adalah suatu segiempat dan titik-titik P, Q, R dan S adalah titik tengah dari sisi-sisi yang berurutan. Buktikanlah (a) PQRS adalah suatu jajaran genjang dan (b) keliling PQRS sama dengan jumlah panjang diagonal ABCD. 6. Buktikanlah bahwa ketiga garis berat suatu segitiga berpotongan di satu titik yang merupakan titik pertigaan dari setiap garis berat tersebut. 7. Tentukanlah_suatu vektor satuan dalam arah vektor resultan dari vektor-vektor A = 2-j+k, B=i+j + 2k, dan C = 3i = 2) + 4k. HASILKALI TITIK ATAU SKALAR 8. Hitunglah (A + B) « (A - B)I jika A = 21 - 3) + 5k dan B = 31 + j - 2k. 9. Buktikanlah rumus kosinus untuk suatu segitiga. [Petunjuk ; Ambillah sisi segiti- ganya A, B, C di mana C = A - B. Kemudian gunakanlah C * C = (A - B) * (A - B)). 10. Tentukanlah a sehingga 2i - 3j + 5k tegaklurus 3i + aj - 2k. 11. Tentukan proyeksi A’ + C’dalam arah B, jika A = 2i+j +k, B C=h- 4+ %k 12. Titik-titik sudut segitiga adalah A (2, 3, 1), B (-1, -2, 3). Tentukanlah (a) panjang garis berat yang digambarkan dari B ke sisi AC dan (b) sudut lancip antara garis berat ini dengan sisi BC. 13. Buktikanlah bahwa diagonal suatu belah ketupat saling tegaklurus. 2 14. Buktikanlah bahwa vektor (AB + BA)/(A + B) menyatakan garis bagi sudut antara A dan B. HASILKALI SILANG ATAU VEKTOR 15. Tentukanlah (2A + B) x (A - 2B)I jika A = —~j+K dan B=i+2j- 3k. . Tentukanlah suatu vektor satuan yang tegaklurus bidang yang memuat vektor A = ~ 2j + 4k dan B =i + j — 2k. . Apakah perlu berlaku B = C jika Ax B=AxC? . Tentukanlah jarak terpendek dari titik (3, 2, 1) ke bidang yang melalui titik (1, 1, 0), (3, -1, 1) dan (-1, , 2). HASILKALI LIPAT TIGA 20. 21. 22. 23. 1i +] —4k, tentukanlah (a) A« @ x ©), Buktikanlah bahwa(a) _ A+ a xO) =B (Cx A)=C+ xB) () Ax (Bx C) = BZ+C)-CiA = B). Tentukanlah suatu persamaan bidang yang melalui titik (2, -1, -2), (-1, 2, -3), (4, 1, 0). Tentukanlah volume ‘tetrahedron dengan titik-titik sudut (2, 1, 1), (1, -1, 2), ©, 1. 1), (1, -2, 1). Buktikanlah bahwa (A x B) « (C x D) + (Bx C)* (Ax D) + (Cx A)? ®xD) =0. TURUNAN 24, 25. 26. 27. Suatu partikel bergerak sepanjang kurva ruang T’= e“ cos ti + & sin t+ eK” Tentukanlah besarnya (a) kecepatan dan (b) percepatan pada setiap saat t. d dB dA Buktikanlah bahwa —— (A’x B) = x —— + xB du du du dimana A dan B adalah fungsi yang mempunyai turunan terhadap u. Tentukanlah suatu vektor singgung satuan pada kurva ruang x = t, y=, z= di titik dengan t = 1. dr Buktikan bahwa (a) r x —— = jika F T = 4 cos wt + b sin wt, dimana a dan b adalah vektor-vektor tak-segaris dan @ skalar konstan. 28. 29. 30. 31. 2 Tentukan (a) u (A x B) dan (b) d[A * B x ©) di titik (a, -1, 2). ax dy Jika A = xi - yj + x2K, B= yi + xj — xyzk dan © =1- yj + ak, oR R = - = - Tentukanlah a ce —— | di titik (2, 1, -2). Jika R = x2yi - 2y2j + xy-zk. Buktikan bahwa d A/du tegaklurus A. Jika A adalah suatu fungsi yang mempunyai turunan terhadap u dan IA(u)} = Misalkan T dan N berturut-turut menyatakan vektor singgung satuan dan vektor normal-utama satuan pada kurva ruang f = T(u), di mana 7(u) diandaikan mempunyai turunan. Definisikanlah suatu vektor B = T x N yang dinamakan vektor binormal satuan pada kurva ruang tersebut. Buktikanlah bahwa Ini dinamakan Rumus Frenet-Serret. Dalam rumus ini x dinamakan kelengkungan, + dinamakan torsi; dan kebalikan dari keduanya, p = 1/« dan o = 1/<, masing-masing dinamakan jari-jari kelengkungan dan jari-jari torsi, GRADIEN, DIVERGENSI DAN CURL 32. 33. 34, 35. 36. 37. 38. Buktikanlah bahwa (a) V(U_+ V) = YU + VV, ) 7 *(A+B)=7*A+V +B, () V x (A+B) =V xA+V xB. JikaU, V, A, B mempunyai turunan parsial yang kontinu. Tentukan (a) A * V6, (b) OV * A dan (c) (Wo) x A di titik (3, -1, 2), Jika 9 = xy + yz + xz dan A = x°yi + y°zj + 22xk. Tunjukkanlah bahwa V x (r°r) = 0 di maha F = xi + yj + zk dan =I Tl. Buktikanlah (a) V x (UA) = (VU) x A+ UV x A), (b) V+ (AxB)=Be(V x A)-A*(V xB). Buktikanlah bahwa curl grad U = 0, nyatakan syarat yang sesuai untuk U. Tentukanlah sebuah normal satuan pada permukaan xy — 2xz + 2yz‘ = 10 di titik (2, 1, -1). Tentukanlah curl A, jika A = 3xz4i — yzj + (x + 2z)k. 239 w 9. (a) Buktikanlah V x (V x A) =-V?A + V(V * A). (b) Periksalah hasil pada (a) jika a diketahui seperti pada Soal 38. 40. Tentukanlah persamaan (a) dibidang singgung dan (b) garis normal pada permukaan x? + y? = dz di titik (2, ~4, 5). 41. Tentukanlah persamaan (a) garis singgung (b) bidang normal paa kurva ruang x = 6 sin t, y = 4 cos 3t, z = 2 sin 5t di suatu titik dengan t = 1/4. 42. (a) Tentukanlah turunan berarah dari U = 2xy - z? di (2, -1, 1) dalam arah menuju (3, 1, -1). (b) Dalam arah manakah turunan berarah di maksimum? (c) Tentukanlah nilai maksimum ini. 43. Buktikanlah bahwa sudut lancip y di antara sumbu z dan normal pada permukaan F (x, y, 2) = 0 di suatu titik diberikan oleh rumus sec y = VE? + F? + FAB. 44, (a) Bentuklah rumus untuk jarak terpendek dari titik (x,, yo, Z,) ke suatu permukaan (b) Berikan ilustrasi pada (a) dengan menentukan jarak terpendek dari titik (1, 1, -2) ke permukaan z = x? + y* 45. Misalkan E dan H adalah dua vektor yang diandaikan mempunyai turunan parsial yang kontinu (paling sedikit orde dua) terhadap posisi dan waktu. Selanjutnya, andaikan bahwa E dan H memenubi persamaan . . 7 1 oH __ 1% V+E=0, V*H=0,V xE=-— —,Vx=—— cot © at Buktikanlah bahwa E dan H memenuhi persamaan. (Vektor E dan Hi dinamakan vektor-vektor medan listrik dan magnet dalam teori elektromagnetik. Persamaan (1) adalah hal khusus dari persamaan Maxwell. Hasil (2) membawa Maxwell pada kesimpulan bahwa cahaya adalah suatu fenomena elektromagnetik. Konstanta c adalah kecepatan cahaya). 46. Gunakanlah hubungan dalam Soal 45 untuk menunjukkan bahwa a 1 - ee ee ee He wa . x fg ft )} +7 +x H)=0 240 JACOBIAN DAN KOORDINAT KURVILINIER amy pp ee — (uy, Uy, U,) ou, du, au, 48. Nyatakanlah (a) grad >, (b) div A dalam koordinat bola. 47. Buktikanlah bahwa | 49. Transformasi dari koordinat tegaklurus ke koordinat silinder parabolik didefinisikan oleh persamaan x = ¥, (u>- v4), y = uy, z =z. (a) Buktikanlah bahwa sistem tersebut tegaklurus. (b) Tentukan ds? dan faktor-faktor skalanya, (c) Tentukan Jacobian transformasi ini dan elemen volumenya. 50. Tuliskanlah (a) V® dan (b) div A dalam koordinat silinder parabolik. 51. Buktikanlah bahwa untuk koordinat kurvilinier tegaklurus, 3, 3 & ao eel oy oe uh, Ou au, 4, +S h, (Petunjuk : Misalkan V® = a8, + a,8, + 2,6, dan gunakan kenyataan bahwa d = V@ « dr harus sama dalam kedua koordinat tegaklurus dan kurvilinier). 52. Buktikanlah bahwa percepatan suatu partikel sepanjang suatu kurva ruang yang diberikan dalam koordinat (a) silinder, (b) bola, masing-masing adalah @- pdr, + O + 2pHe, + Ze, Gf— 162 — ng? sin? @)e, + (7 8 + 210 — 19? sin @ cos 6}%, + (2rd sin 8 + 2109 cos 8 +r sin 8, di mana titik menyatakan turunan terhadap waktu dan & i. turut adalah vektor satuan dalam arah p, >, z, 1, 8, . a, G, H) A(x, y, 2) ey E> Gy &, berturut- 53. Hitunglah di (1, -1, 0). Jika F = x + 3y*— 23, G = 2xyz, dan H = 22? - xy. 54, Tentukan apakah ada hubungan fungsional di antara F, G dan H; dan jika ada, tentukan, Jika F = xy + yz + 2x,G=x?+y?+2,danH=x+y+z 2a1 55. 56. 242 Jika F(P, V,T) = 0, buktikar. bahwa oP ov © The b wh OFlahe! di mana tanda garis menyatakan bahwa peubahnya dipandang tetap. Hasil ini digunakan dalam termodinamika di mana P, V, T adalah tekanan, volume dan temperatur dalam suatu sistem fisika, (@) Jika x = f(u, v, w), y = g(u, Vv, w), dan z = h(u, v, w), buktikanlah bahwa ax y, 2) a(u, v, w) o(u, v, w) 9(x, y, w) a(x, y, Z) atu, v, w) = 1 asalkan (b) Berikanlah suatu tafsiran hasil (a) dalam suku-suku dari transformasi ini. JAWABAN SOAL-SOAL LATIHAN 33,6 km, 13,2° dari timur ke arah utara (6i - 2j + TKYNB9 24 . a= 3 . 178 . (a) 1,N26, (b) cos V9I/14 . 25V3 . Qj + KS UNS 2 . (a) 20, (b) 20, (c) 8i- 19j-k, (d) 25i - 15j - 10k 21. 22. 26. 28. 29. 33. 37. 38. 41. 42. 48. 49. 50. 53. dxty-32=9 4, . (a) V3e4, (b) V5et G+ 3+ 3WNI4 (a) -4i + 8], (b) 8 dx 16V5 (a) 25, (b) 2, (©) 561 — 30) + 47k +(3i + 4j - 6K)NGI ~6xi + (62 — Dk x-2 y+4 2-5 . (a) x-2y-245, (b) = 1 2 (a) ee vee 2 (b) 3x - 6y - 5z = 26V2 3 6 5 (a) 10/3, (b) -2i +4) -2k, (c) 26 ao a 1 OB tT Ge" Taine a9 © 12a a 1 a, 0) AD +p ay in 8 AD + = di mana A = Ag, + Af, + Ax, (b) ds? = (u? + v9) du? + (u? + v4) dv? + dz, hy =h, = Vu + v4, hy = 1 (c) u? + v, (u? + v4) du dv dz 1 (2 an) vo Oe we or ei tae ee er) a aA, 0) div A= 5 {5 — ore a) + 5 clr ag} + 10 a TRANSFORMASI LAPLACE 8.1. DEFINIS! TRANSFORMASI LAPLACE Transformasi Laplace dari fungsi f(t) didefinisikan sebagai Lis) = FO = FPeastoat d) dan ada atau tidaknya tergantung dari apakah integral (1) ada (konvergen) atau tidak ada (divergen). Pada pasal ini kita mengandaikan bahwa s adalah riil. Seringkali dalam prakteknya terdapat suatu bilangan riil s, schingga integral (1) ada untuk s > s, dan tidak ada untuk s < s,. Himpunan nilai-nilai s > s, sehingga (1) ada dinamakan daerah kekonvergenan (range of convergence) atau keujudan (existence) dari € {f()}. Mungkin juga terjadi kasus bahwa (1) tidak ada untuk suatu nilai s (Lihat Soal 50). Lambang -< pada (1) dinamakan operator tranformasi Laplace. Kita akan menun- jukkan bahwa < adalah suatu operator linier, yaitu (2) LleF,O + of,0) =e, CF 0) +6, L1F,0 244 8.2. TRANSFORMASI LAPLACE UNTUK BEBERAPA FUNGSI ELEMENTER Dalam tabel berikut ini diberikan transformasi Laplace untuk beberapa fungsi ele- menter khusus dengan daerah keujudan atau kekonvergenannya. Seringkali kita meng- abaikan daerah kekonvergenan ini karena kebanyakan dalam banyak hal dapat diperoleh dengan mudah bilamana diperlukan. £0 < (f®) = Fs) 1 L 1 — s>0 s al 2. e n=1,2, 3... s>0 et +1 ole poe Te*) ooo yet 1 4. e* s>a s-a 8 3. cos Ot sca Cs 0 s+ oF a 6. sin at way (80 st + @ a 7. cosh at Ile s>lal s 8. sinh at as lal se Pada jajaran 3, F (p + 1) adalah fungsi gamma, yang didefinisikan oleh re += Paces dx p>-l 3) Fungsi ini akan dipelajari pada Bab tentang fungsi Gamma. Sekarang kita hanya memer- lukan sifat berikut: T(p + 1) = pI(p). T(,) = VR, T(1)=1 (4) 245 8.3. SYARAT CUKUP UNTUK KEUJUDAN TRANSFORMASI LAPLACE Agar kita dapat menyatakan syarat cukup untuk f(t) yang menjamin keujudan < {f()}, kita memperkenalkan konsep kekontinuan bagian-demi-bagian (piecewise con- tinuity) dan order eksponensial (exponential order) sebagai berikut. 1, Kekontinuan bagian-demi-bagian, Suatu fungsi f(t) dikatakan kontinu bagian- demi-bagian pada suatu selang jika (i) selang tersebut dapat dibagi menjadi sejumlah berhingga selang bagian di mana f(t) kontinu pada selang bagian ini dan (ii) limit fungsi f(t) untuk t mendekati titik akhir setiap selang bagiannya bernilai hingga. Cara lain untuk menyatakan hal ini adatah bahwa suatu fungsi kontinu bagian demi bagian hanya mempunyai sejumlah berhingga titik di mana fungsi tersebut tak- kontinu. Suatu contok fungsi kontinu bagian demi bagian ditunjukkan pada Gambar 8-1. 2. Orde eksponensial. Suatu fungsi f(t) dikatakan berada dalam order eksponensial untuk t > T jika kita dapat menentukan konstanta M dan o sehingga If(t)l < Me™ untuk t > T. Dengan menggunakan ini kita mempunyai rumus berikut. Teorema 8-1. Jika f(t) kontinu bagian demi bagian pada setiap selang berhingga 0 < tT dan berada dalam tingkat eksponensial untuk t > T, maka << {f(} ada untuk s > a. Perhatikanlah bahwa syarat ini hanya syarat cukup (dan bukan syarat perlu), yaitu jika syarat-syaratnya tidak dipenuhi, <£ (f()} mungkin terjadi ada, Sebagai contoh, <{t} ada, meskipun t’” tidak Kontinu bagian demi bagian pada 0 < t < T. Rumus yang menarik sehubungan dengan Teorema 8-1, adalah sebagai berikut 246 Teorema 8-2, _Jika f(t) memenuhi syarat Teorema 8-1, maka lim C{(} = lim F(s) = 0 S— eo Seo Ini mengakibatkan bahwa jika lim F(s) # 0, maka f(t) tidak dapat memenuhi syarat Teorema 8-1. \$0 8.4. INVERS TRANSFORMASI LAPLACE Jika < {f()} = F(s), maka kita namakan f(t) sebagai invers transformasi Laplace dari F(s) dan ditulis <~-1 {F(s)} = f(t). 1 Contoh 1. Karena ~ {t} = , maka kita mempunyai ¢~ { =} Sementara ini jelaslah bahwa bilamana suatu transformasi Laplace ada, maka ia tunggal. Hal yang sama tidak benar lagi untuk suatu invers transformasi Laplace. Contoh 2. t#2 4a Jika f(t) = {, too kita dapat menunjukkan bahwa .C{f(0)} = 1/s?. Tetapi fungsi f(t) ini berbeda dengan Contoh 1 pada t = 2 meskipun keduanya mem- punyai transformasi Laplace yang sama. Ini mengakibatkan bahwa T. maka Lo) =s <{f0} - FO Teorema ini dapat diperluas sebagai berikut Teorema 8-4. Misalkan f(t) suatu fungsi sehingga f(t) kontinu dan f(t) kontinu bagian demi bagian pada setiap selang berhingga 0 < t < T. Misalkan pula bahwa f(t), f'(0), . . ., f(t) berada dalam tingkat eksponensial untuk t > T. Maka LF) = s* L (FO) - 8°'FO) - 8° FO —...- FO) 8.6. FUNGSI TANGGA SATUAN Fungsi tangga satuan (unit step function), juga dinamakan fungsi tangga satuan Heaviside, didefinisikan sebagai berikut 0 ta dan grafiknya ditunjukkan pada Gambar 8-2. ‘v(t-a) a Gambar 8-2 Ini memungkinkan kita untuk menyatakan berbagai fungsi takkontinu sebagai suku- suku fungsi tangga satuan. 248 Kita dapat menunjukkan (Soal 17) bahwa transformasi Laplace dari fungsi tangga satuan ini adalah ee s>0 Lot - a} = s dan dengan cara yang serupa kita memperoleh “ {=} = v(t - a) 8.7. BEBERAPA TEOREMA KHUSUS PADA TRANSFORMASI LAPLACE Karena ada hubungan di antara transformasi Laplace dan inversnya, maka suatu teorema yang melibatkan transformasi Laplace akan berkaitan dengan teorema yang melibatkan inversnya. Berikut ini kita akan melihat beberapa hasil penting yang meli- batkan transformasi Laplace dan dikaitkan dengan inversnya. Pada semua kasus kita mengandaikan bahwa f(t) memenuhi syarat Teorema 8-1. Teorema 8-5 [Teorema Translasi pertama). Jika 2 {f(t)} = F(s), maka {e*f@)} = Fis - a) Dengan cara yang sama jika <1 {F(s)} = f(t), maka-C~1 (F(s ~ a)} = e"f(®) Teorema 8-6 [Teorema Translasi kedua]. Jika £{F()) = F(s), maka < {v(t — a) f(t - a)} = e* F(s) Dengan cara yang sama, jika <"'{F(s)} = f(), maka <“{e*F(s)}= v(-a) ft-a) Teorema 8-7. Jika <{f(t) = F(s), maka 1 s 0, yaitu jika f(t + P) = f(t), maka jr e* f(t) dt < {FO} = So Teorema 8-10. [Pengintegralan]. Jika <{f(t)} = F(s), maka LJ sea } =e Dengan cara yang sama, jika.£~ {F(s)} = f(t), maka {FO AI p00) au s ap FO Teorema 8-11. Jika lin —— ada dan <(fO) = Fis), maka {9} 5 fr F(u) du Teorema 8-12. [Teorema konvolusi]. Jka <{f() = FOS), < (g(0} = G(s), maka Lf‘ see -w) da} = Fs) Gs) Dengan cara yang sama, jika,/ ~ {F(s)} = f(t), ¢"' (G(s)} = g(t), maka £1 1F GO) = J fay gw au Kita menamakan integral di atas sebagai konvolusi dari f dan g, dan ditulis fg = it F(u) gt - u) du Kita memperoleh hasil bahwa f*g = g*f, yaitu konvolusi tersebut komulatif. Dengan cara yang sama kita dapat membuktikan bahwa konvolusi tersebut asosiatif dan distribu- tif (Lihat Soal 75). 250 8.8. PECAHAN BAGIAN (PARTIAL FRACTION) Meskipun teorema di atas seringkali digunakan dalam menentukan invers transfor- masi Laplace, barangkali metode elementer tunggal yang terpenting untuk keperluan kita adalah metode pecahan bagian. Hal ini disebabkan Karena banyak masalah yang akan di- tentukan memerlukan invers dari P(s)/Q(s) dimana P(s) dan Q(s) adalah suku banyak dan derajat Q(s) lebih besar dari pada P(s). Untuk ilustrasi metode ini lihatlah Soal 39 — 41. 8.9, PENYELESAIAN PERSAMAAN DIFFERENSIAL DENGAN TRANS- FORMAS! LAPLACE Metode tranformasi Laplace secara khusus digunakan untuk menyelesaikan persa- maan differensial linier dengan koefisien konstan dan memenuhi syarat awal. Untuk menyelesaikan ini, kita mengambil transformasi Laplace dari persamaan differensial yang diberikan (atau persamaan-persamaan dalam kasus suatu sistem), kemudian gunakan syarat-syarat awalnya, Ini memberikan suatu persamaan aljabar (atau sistem persamaan aljabar) dalam transformasi Laplace dari penyelesaian yang diinginkan, Dengan menye- lesaikan transformasi Laplace ini dan kemudian mengambil inversnya, diperoleh penye- lesaian yang diinginkan. Untuk ilustrasinya lihatlah Soal 42 - 44. 8.10. RUMUS INVERSI LAPLACE Terdapat suatu metode langsung untuk menentukan invers transformasi Laplace, yang dinamakan rumus inversi kompleks (complex incersion formula). 8.11. SOAL-SOAL LATIHAN DAN PENYELESAIAN TRANSFORMASI LAPLACE DARI FUNGS! ELEMENTER L 1. Buktikanlah bahwa : {ett} = —— jika s > a. saa Lier =f ew erat = J” ew at 1 = asalkan s ~ a > 0, yaitus > a s-a T+) spel 2. (a) Buktikanlah bahwa {t?} = jika s > 0 dan p > -1. (b) Tunjukkanlah bahwa : jika p = n suatu bilangan bulat positif, maka a! {ve} =—— disinis>0. aa (@ <() = J e* tr dt. Misalkan st = u dan pethatikan bahwa agar integral 5 tersebut konvergen, maka haruslah s > 0. Jadi infegralnya sama dengan T(p +1) - ° ser 1 fe Pembatasan p > -1 terjadi karena integral tersebut mendefinisikan gamma yang konvergen jika dan hanya jika p > -1. 0) Dengan pengintegralan parsial kita peroleh Lope = [wera = ances IP - FP ences ax =p ie xPlerdx = pI(p) yaitu Tp +1) =p) Jika p =n, maka T(nt 1) = ao) = n(n — Tn - 1) = n(n - Dm - 2)7(a - 2) = n(a ~ 1)... 1) Totapi F(1) = [e+ dx = -e* |= 1, Jadi F(a + 1) = al sehingga dari (a) P ‘0 0 nt diperoleh Lit} = 7 s 3, Buktikanlah bahwa < adalah suatu operator linier. Kita barus menunjukkan bahwa jika c,, c, adalah konstan dan f,(t), f,(t) suatu fungsi sehingga tranformasi Laplacenya ada, maka Lief, @ + of.) =¢LF,O} +0, (F,0) kita peroleh Leos + efor = J 5 GF (0 + eF,(0 at =o, Jesh dt +0, Jefict) dt =o, L{F,0) + ¢,<(F,0} sehingga . adalah suatu operator linier. | _ ii4 -€4iéié—— => () < {sin ot) = — Metode 1. Jika s > 0, maka ets IO 6m FP eset at = Jet oar = Kemudian ambillah bagian riil dan imajinernya, kita peroleh s+ia s _ @ = +i Fre (cos wt +i sin at) dt = = — o4@ P+ S4a% s atau Fre cos wt dt = —, ° 2 = © * J e* sin ot dt = ———— +a °° 2 +o Metode 2. Dengan pengintegralan langsung, 00, e“(@ sin Wt ~—s COS Wt) s J e* cos @t dt = ———________—__ = ° s+ @ o 2 +a? | e @ sin @t — cos Wt) 0 o Fre sin ot dt = ASOD ° + wo ot + oF 5. Tentukanlah transformasi Laplace dari setiap fungsi berikut. (a) 3e“, (b) 2, (©) 4 cos St, (d) sin mt, (e) -3Nt. 3 3 ty = 3.Ltetty & a= @ < Ber} = 3.Lfe ea) ar 34 273) 202! ) £2?) = 2 Cte) = —— = — § § s (©) <{4 cos St) = 4 <{cos 5t} =e ae ™ s>o @ <{sin mt} 253 ? 6. Tentukanlah transformasi Laplace dari setiap fungsi berikut. | (a) 3t*— 20% + 6, (b) 5 sin 2t— 3 cos 2t, (c) Vt + 4e%, (a) 1/2, | (b) (Bt - 267 + 6) =3 L(y -2.L {0%} +6 Lt} Ins) 26) 6 si? s 2+ GAT) 6 . \$2 a 6 s 3r(43) 4 (@) < BVe + 4e%} = 3 Cle} +4 Clery = =o. 3ayrass) 4 ra) = +e + a3 s3 1 eo et ‘4 -_ © <{ a }=S5 ot. Karena integral ini tidak konvergen, transformasi Laplacenya tidak ada, Dalam bagian (a), (b), (c) kita hilangkan daerah keujudannya, yang dengan mudah dapat ditentukan. 3 O4 Kita peroleh LF 0) = Bex fo dt + It om fly at + J” expe at 254 = p e'(3) dt + J “et(-1)dt + J “ea(Oydt ° 2 4 et = 13 We) et = ——— + ——— = \$ 8. Tentukanlah < {sin t cos t} Diketahui : sin 2 t 2 sin t cos t sehingga sin t cos t = '/, sin 2 t. Jadi 1 1 2 1 i =— < {sin 2t) = — + ——— = —_ <{sin t cos t} 5 {sin 2t} ee ind ceed KEUJUDAN TRANSFORMASI LAPLACE 9. Buktikanlah (a) Teorema 8-1, dan (b) Teorema 8-2 (a) Diketahui : FE) = Cig) = FF e* f0 dt = JTee s09 at + Jengen a Sekarang karena f(t) kontinu bagian demi bagian untuk 0 St o: dan hasil yang diinginkan terbukti. (b) Seperti bagian (a), diketahui : = 1LIfO} 1S Ne e“If(ol dt + Feige at Sckarang, karena f(t) kontinu bagian demi bagian pada 0 < t < T, maka ia terbatas, yaitu |f(®)I < K untuk satu konstanta K. Gunakantah ini dan hasil dari (1), maka diperolehlah : °* M K+M < Je" K dt + —_ = —— 2 S-Q@ s-@ ls Te K dt + s-a@ Ambillah limitnya untuk s -» ©, ini mengakibatkan lim F(s) = 0 seperti yang diinginkan, 2 21 10. Buktikanlah bahwa (a) <{ = } ada, (b) lim <{ ——}=0 t+4 s—00 t+4 (a) Pada setiap selang, eM(t + 4) adalah kontinu (dan dengan sendirinya kontinu bagian demi bagian). Juga untuk setiap t > 0, e ee < t+4 4 sehingga e"V(t + 4) berada dalam orde eksponensial. Jadi berdasarkan Soal 9(a), transformasi Laplace tersebut ada. () Ini langsung diperoleh dari soal 9 (b) dan hasil dari (a). BEBERAPA INVERS TRANSFORMAS! LAPLACE YANG ELEMENTER U1. Buktikanlah bahwa (1 adalah suatu operator linier. Karena < adalah suatu operator linier [Soal 3], maka diperoleh : Le F,0 + of} = c, CIF} + CIF} = ¢F\S) + ¢ FY). Jadi berdasarkan definisinya, L7 (GF) + GF(S)} = ¢f,0 + &f,00 = o,L7 (F(S)} + 6.67 (FS) yang menunjukkan bahwa.{~! adalah suatu operator linier. ( 2s - 12, Tentukanlah (a) <{——}, (by Cf 83}, LA 5) @ sin 28 2s-5 1 1 ogtaS Ya2gt{—}-S.U yy} = 2-5 (@) karena £{?} = zeal) va P 3 oe _” Tep+1) tt sett Tp +d) Kemudian misalkan p = k - 1 fet Te) 1 te 4-5s 1 13, Tentukanlah (a) 7! (sr). (b) £1 Ga wc CA b4 ths tte} 12 re “Tem ~>* Tai Bt? 52 gpl _ spn “Vr Oe 1 1 a 1 bed Ca) s+2 (b) 21 { ye% OO (_- } s+ 2s 1 1 aur yay yt bea eed ta Ge ore) =, - Ve = V1 —e) TRANSFORMASI LAPLACE UNTUK FUNGSI TURUNAN 14. Buktikanlah Teorema 8 Karena f"() kontinu bagian demi bagian pada 0 T, maka LIF} = 8? {FO} - sf) - FO Misalkan g(t) = f’(). Maka g(t) memenuhi syarat Teorema 8-3, sehingga: Lig@}=s <{g} - gO) Jadi LF'O) =s LIFO-FO =s{s <{fO} - £0) - FO =s L{(} - sfO) - FO 16. Misalkan f(t) = te*. (a) Tunjukkanlah bahwa f(t) memenuhi persamaan f(t) = af(t) +e, (6) Gunakanlah bagian (a) untuk menentukan < {te*}. (@) f'@ = ter) + e* = af + et ) L{FO}= Claf +e"}=a L(fO} + Cle" Karena f(0) = 0, maka dengan menggunakan soal 14. kita memperoleh s <{fO}-fO=a <{fO} + 1 atau (s - a) < {f()} = a’ s-a yaitu LF} = L{te*} = 1 (s-ay FUNGSI TANGGA SATUAN 17. Buktikanlah bahwa -< (v(t - a)} = —— jika s > 0 5 0 t 0 8, t<2 { 6. qatar suku-suku fungsi tangga satuan dan , t> (b) tentukanlah transformasi Laplacenya. 18. (a) Nyatakanlah fungsi f(t) = t<2 t>2 O ta 2 = 8-2 iF t>2 = 8-2vt-1) (a) Diketahui f= 8+ i 2e* _ 8 -2e* s - s 8 &) tf) = L {8 - 2v¢- } = —— - Hasil tersebut dapat juga diperoleh secara langsung. TEOREMA-TEOREMA KHUSUS PADA TRANSFORMASI LAPLACE 19. Buktikanlah Teorema 8-5 Diketahoi L140) = FO) =F e 109 at Maka fe fo} = J 7 e* fer fy) dt = . et f(t) dt = Fs ~ a) 20. Buktikanlah Teorema 8-6 0 tKa L (v(t a) fit—a)} = Spe* v(t a) ft a) at =f e@asl ec pea at 0 a = Je fe — ay dt = J” em fv) dv a 0 =e is enf(y) dv = e™ F(s) Metode 2. Karena F(s) -f e** f() dt, maka e* Fis) = vee +9 4@) dt =F e* flv — a) dv a = Je av + Je" fy — a) dv 0 a Oo , t 0, maka f(v + P) = f(v), f(v + 2P) = f(v), dan seterusnya kita dapat menggantikan peubah v dengan t. Jadi : Siew F() dt = fee fit) dt +e? fre Fit) dt +e Pes flO d+... 261 = (l¢e%+emy...) Frew 500 a == 7 fF e* 0) ot di mana s > 0 o 24. Buktikanlah Teorema 8-10 Misalkan G(t) = Jf du. Maka G'(t) = f(), G(0) = 0, Jadi LIGH} =s (GH) os atau £{fO}=s £ {GO} F(s) sehingga LIGm) = £ i fu) du } = — L (Ff) = Fi Dari sini diperoleh 2 oye fi o™ du 25. Buktikanlah Teorema 8-11 Kita akan mengandaikan bahwa eC fim FO =o ada (dan juga syarat Teorema 8-1, dalam hal lain, transformasi Laplacenya mungkin tidak ada, Kemudian, jika g(t) = f(O/t, atau f( = tg(t), 4 G(s) d Fs) = L{fO} = 7 = sin ¢ + (t— sin tyu(t -— m) = sint + [m+ (t— 2) + sin (t — m)Jv(t - 7) Kemudian gunakanlah Teorema 8-6 LF] = L{sin th + C {lm + (~ n) + sin (t - mJve - 2} iB 1 1 +es[—+—+—— CF s? aaa Hasil ini dapat juga langsung diperoleh tanpa menggunakan Teorema 8-6. in t 1 sin at 29. Diketahui <{ = } = tan! (—), tentukan C{ ; } = s ee 8-7 sin at 1 1 sin at a CE Y = — tant ( ysitn L{ RAY = tot 2) at a s/a t 8 30. Tentukanlah (a) <{t sin 2t}, (b) < {t? sin 2t}. 2 Menurut Teorema 8-8, karena < {sin 2t} = Faq maka s+ | d 2 4s engin ce Cara area e 2 12s? — 16 X(t si =— poe Oe aes e+ap 31. Tentukanlah transformasi Laplace dari suatu fungsi yang periodenya 2m pada selang 0 —— >}, &) <7 too © ro 5 yp 2st3 -D+5, @ LHS eee cone) s-1 5 2 Oo tO ae” 8 Sekarang karena<-' {———} = cos 2, < st+4 berdasarkan Teorema 8-5 kita memperoleb s-1 ecos 2t, <7 (Way54 =; 7 aaa! = et sin 2t 265 = 'V,e'(4 cos 2t + 5 sin 21) atau jika k = ¥,, £71 (3. ) ans 12 Vn Kemudian berdasarkan Teorema 8-5, 3(s — 3/2) + 1/2 1 { ee } 1 a cam al om a) peo nee 52, 3! 64 4! 1536 34. Tentukanlah (a) + ~ “hs 7 eo (@) Karena C+ {—— ;g) = £08 4, berdasarkan Teorema 8-6 kita memperolch + i 2) cos 4(t - 2) = { ° 4 FP ~* cos 4(t-2) t>2 me a (b) Karena £1 {4 gegeet i dan juga berdasarkan Teorema 8-6, maka ee (t-5yex9 0 A tas 1{__} = u(t - 5) ———— = {(r- sytem Ct gagh = 9 = Cerne iT 1 35. Tentukanlah f-! {In (1 + >. ; 1 1 Misalkan F(s) = In (1 + 4 sehingga F’(s) = aI 7 s Kemudian berdasarkan Teorema 8-8, 36. 37. 38. LO) +L find) atau 1 l-et —}= 1 s+1 s t L fin asta 1 Tentukanlah f+ (Je) Ki a ( } a berdasarkan Te 8-10 kit leh arena HF = pm berdasar! ‘eorema 8-10 kita memperoleh : 1 t wiee -1 {_—} = —— L {or + i? 5, vn 2. 1 at du = le e? dv dengan memisalkan u = 1 (8+ ay Tentukanlah ¢~ { }. si 1 sin at Misalkan F(s) = G(s) = =——; maka f(t) = g(t) = —_— S +a a Jadi berdasarkan teorema konvolusi (Teorema 8-12), LS e+ ait sin au sin a(t — u) aU ——— 1 gt. . 7 7 J pin am sin a (tw) do 1 ¢t 1. = Sar fh loos a 2a — 8) — cos at] du = 5 (sin at — at c0s at) Selesaikanlah y(t) dari persamaan yo = 1+ J yt) cos ew) du Dengan mengambil transformasi Laplace-nya, dan dengan teorema konvolusi kita memperoleh Y(s) +l Y@) =~ + L fyi" 60s t} = + + s Mak i v+i 1 1 a - : J} ¥ ae atau Y(s) = Fer Oe ~ 11 e hing (ty = £1 {—-+—} =1+— schingsa = y= C1 (—- +} = 1+ > yang dapat diperiksa sebagai suatu penyelesaian. Persamaan yang diketahui dinamakan persamaan integral karena fungsi yang tidak diketahui muncul di bawah tanda integral. PECAHAN BAGIAN 39. 268 2s? 4 } 4 Teotukanian <* { 6-D6+ DE—3) 2 2s? - 4 A B Cc —.____—_= +——+ (s ~ 2)(s + 1)(s - 3) 6.2 551 3s 3 Untuk menentukan konstanta A, B, C, kalikanlah dengan (s - 2) (s + 1) (s - 3) sehingga —4= Als + 1)(s — 3) + Bis — 2)(s - 3) - Cls - 2,8 + 1) yang merupakan suatu kesamaan dan harus berlaku untuk setiap nilai s. Kemudian dengan memisalkan s = 2, -1, 3 secara berturut-turut, diperoleh A = —4/3, B = -1/6, C = 7/2. Jadi : Lotz 5) wt ee 2 >a Ysa sa3 . ° : 3841 . Tentukanlah 1 {———___ entukaniah < (oy 3s+1 A Bs+C G-De+) s-1 F4i atau 3s +1 = A(s + 1) + (Bs + CMs - 1) Misalkan s = 1, kita memperoleh A = 2. Misalkan s = 0, kita memperoleh A — C = 1, sehingga C = 1. Kemudian misalkan s sama dengan suatu bilangan lainnya, katakanlah 1, kita memperoleh -2 = 2A - 2(C - B) dan B = 2. Jadi : ot 3s41 yee (@- DS +1) 1 = 2e'- 2 cost + sint yet = Metode Jain Kalikan (a) dengan s sesudah menentukan A dan kemudian misalkan se», kita memperoleh A +B = 0 atau B = —A = -2. Metode ini menghasilkan suatu penye- derhanaan dalam prosedumya. 41. Tentukanlah 2-! { Scien . Tentukanlah £-! { ———_}. < (+ D6 — 2) | eke | ON B c Diketahui :, ————_ = ——_ + ——__ + —"__+ (+ie-2 s+l 6-23 G-2» atau Ss? — 15s + 7 = A(s — 2) + B(s + 1) + C(s + 1)(s — 2) + Ds + 1)(s - 2 Misalkan s = —I, kita memperoleh A = -1. Misalkan s = 2, kita memperoleh B =-1, Misalkan s sama dengan dua bilangan lainnya, katakanlah 0 dan 1, kita mem- peroleh -2C + 4D = 0 dan -2C + 2D = -2 sehingga C = 2, D = 1. Jadi 5s? - 158 +7 7 - 2 1 1 {28a SF bs ei{ + + + (s + 1)(s - 2 s+1 (6-2 (6-28 s-2 = -et— VPe*+ 2te™ + Metode lain. Kalikan (1) dengan s sesudah menentukan A dan misalkan s—o, kita memper- oleh A + D = 0 atau D = 1, yang memberikan penyederhanaan dalam prosedur tersebut. PENYELESAIAN PERSAMAAN DIFFERENSIAL 42. Selesaikanlah y"(t) + y(Q) = 1, y@)=1, y'(0)=0 Ambil transformasi Laplace dari kedua ruas persamaan differensial yang diberi- kan dan misalkan Y = Y(s) =< {y(t)}. Maka (Y"@® + y) = {1} atau s°¥ — sy(0) - yO) + Y = 1/s Karena y(0) = 1, y\(0) = 0-maka 2+ 1 1 1 SY -s+Y =—, (s+ IY =s +— atau Y= 3 3 1 m= {=} = yang merupakan penyelesaian yang diinginkan. sel s Jadi y 43. 270 Selesaikanlah y" — 3y' + 2y = 2e*, y(0) = 2, y'(0) =— 1. Ambil transformasi Laplace dari persamaan differensial yang diketahui : 2 [s°Y — sy(0) — y'(0)] - 2[s¥ - yO] + 2¥ = —— s+1 Kemudian gunakanlah y(0) = 2. y'(0) = -1 dan selesaikanlah persamaan aljabar ini untuk Y. Dengan menggunakan pecahan bagian diperoleh : 2s? — 5-5 1B 4 1B y = (6+ DG-D6-2 s+1 s-1 s-2 Jadi dengan mengambil invers transformasi Laplace tersebut kita memperoleh penye- lesaian yang diinginkan : y = Vet + det — he . Selesaikanlah y*) + 2y" + y = sin t, y(0) = 1, y'(@) = -2, y"(0) = 3, y"(0) = 0. Ambil transformasi Laplace dari persamaan differensial yang diketahui dan gunakanlah syarat awalnya, 1 [stY — s(1) - s%{(-2) - s(3) — 0) + 2[s"¥ - s(1) - (-2)] + Y = _ + yang dapat ditulis sebagai : (st #28? + DY = +922 + 55-4 +1 1 2s + 58-4 1 (8 + 8) — As? + 1) + 45-2 atau Y = + = + @+iy (e+ IP (e+ 1p + IP 1 s 2 4s—2 es . = (+p s+1 Stl +1P Dengan menggunakan teorema khusus transformasi Laplace [lihat Soal 78], maka I 1 3 3 <1 (aa ep int est sint (s? + 1 8 4s -2 . L7 {—_} = 2t sint -sint + t cost (+1? sehingga diperoleh penyelesaian yang diinginkan : ee a 2 t) t ( 2t 1 ?) si = Ga til ene Se ae, oe 7 8 8 8 PENGGUNAAN PADA MASALAH FISIS 45. Selesaikanlah Soal 32 di halaman 60 dengan transformasi Laplace. Seperti dalam Soal 32, persamaan differensialnya adalah : dI E ee = 10) 0 at 2 (a) Jika E = 40, transformasi Laplace dari (1) adalah : _ = 20 [sl - 1(0)] + 5I = —— s di mana] = {1}. Kemudian gunakan J(0) = 0 dan selesaikan untuk I, diper oleh : 202 20 1 1 1 4 l=——— = ~——) =4(—- -) se+5) 5 8 845 3845 Jadi T=40-e%) (b) Jika E = 20e* maka : - 10 [sf - 1(0)] + 51 = —— s+3 _ 10 10 1 1 1 1 hi ie ee ce + 3Ns +5) Os Ges crise isa) ts) Jadi: = L= Se") (0) Jika B = 50 sin St, maka (I-10) +5i= ~ +515 : F425 125, 5/2 (-5/2)s + (25/2) sehingga —— + (s+ 5) +25) s+5 +25 5 Se Jadi : IT=—et_ cos 5t + — sin 5t 2 2 ant 46. Suatu massa m (Gambar 8-4) digantungkan pada ujung suatu pegas tegak dengan konstanta « (gaya yang diinginkan untuk menghasilkan regangan satuan). Suat gaya luar F(t) bekerja pada massa dan juga suatu gaya tahanan yang sebanding dengan kecepatan sesaatnya. Andaikan bahwa x adalah perpindahan massa pada saat t dan massa bergerak dari keadaan diam pada x = 0, (a) tentukanlah suatu persamaan differensial untuk gerakan ini dan (b) tentukan x pada saat t. dx (@) Gaya tahanan tersebut diberikan oleh -B —-, gaya pembalikan pegas diberikan oleh -Kx. Maka berdasarkan Hukum Newton, &x dx mye B aon HR ax dx atau map tBat m= FO) di mana x(0) = 0, x0) = 0 Gambar 8-4 (b) Ambil transformasi Laplace dari (1), (F(t) = Fis), < {x} = X, diperoleh : ms?X — sx(0) ~ x°(0)] + B[sX - x(0)] + &X = F%) sehingga dengan menggunakan (2), Fo) F@) ms +Bs+K — m{(s + B/sm) + R] 2 K di mana R = — - m 4m’ Di sini ada 3 kasus yang diperhatikan. = 272 ee Kasus 1. R > 0. Dalam kasus ini misalkan R = w*. Diperoleh sin ot La = etn =i + Tim + a Kemudian gunakanlah teorema konvolusi, dari (3) kita memperoleh 1 ¢t x=— J Flu) e* sin a(t — u) du om 0 Kasus 2. R = 0. Dalam kasus ini{ “ = tewm Gregan im ne dan teorema konvolusi (3) memberikan : 1 x=— f Fue du m 0 Kasus 3. R < 0. Dalam kasus ini R = -o?. Diperoleh : 1 sinh ot 7 ae < oma! : 3 Kemudian gunakanlah teorema konvolusi (3) yang memberikan : 1 x=—_ ft re ®0% sinh a (tu) du am ‘0 47. Selesaikanlah Soal 48, dengan transformasi Laplace. Dari persamaan (1) dan (2) Soal 48: Dengan mengambil transformasi Laplace dan menggunakan~ {J,} = 1,, < {I,} =1,1=1,+1, C(I) =I, + i, kita memperoleh - - 120 cos ~ 2oG, +L) - — + 26h, - TO] + 101, -101, - 2{si, - 1,(0)] + 4{sl, - 1,(0)] + 201, = 0 Gunakanlah 1,(0) = 0, 1,(0) = 0, dan ini menjadi (20 + 2s)l, + 201, = 120/s (10 ~ 2s)f, + (4s + 20)1, = 0 Selesaikan, 120s 20 3042s 120/s . 0 4s + 20) _ |-10-2s 0 eS = 3042s 20 3042s 20 -10 = 2s 45 +20 “10-25 4s +20 . ® sy 0 3d Ly tau T, = : . aan = (6 + 20) 5 s+2 tacoma 2 °s s+20 Jadi : 1,=301—e®), 1 =¥, 1 -e™, T= 1, +1,=%, (1-e™. 8.12 SOAL-SOAL LATIHAN TRANSFORMASIKAN LAPLACE DARI FUNGS/ ELEMENTER 48. 49, 50. 31. 52. 274 Tentukanlah transformasi Laplace dari setiap fungsi berikut : (a) 4e™* () (e*- e%)2 (h) sin 2t cos 2t (&) 6-3 @® (t+ I(2-Vont = @ Ce - 14VE? (©) @+1F (g) 9 sin? 3t G5 sinh 2t — 5 cosh 2t (d) 2 sin 3t + 5 cos 3t Tentukanlah - {f(t)} dalam setiap kasus @ FO (a osts4 © #0 firth oses3 (a) = = 1 to OF t25 © fm={1 ; é c) oe2 0, t2 Buktikanlah bahwa e® tidak mempunyai transformasi Laplace. Periksalah apakah sin (2) mempunyai transformasi Laplace, dan berilah kesimpulan alasan anda. Tentukanlah (a) -< {10 sin 3t cos St), (b) < {f(t)} jika sint O0 @ fO=% ©) fO=IN, © fO= {, too 2 laskanla. 59. Buktikanlah bahwa < (f"()} = 8° < {f(t)} — s*f(O) — sf") — f"(0), dan beri- kanlah syarat agar ini berlaku. FUNGSI TANGGA SATUAN 60. Tentukanlah (a) £{2v(t = 1) + 3v(t - 2)}, (b) ¢ {tv(t — 3)} dan gambarkanlah grafik setiap fungsi yang ‘diberikan terhadap t. 61. Bahaslah pengertian dari (a) [v(t — a)’, (b) [v(t — a]? di mana p satuan bilangan bulat positif. ss 62. Tentukanlah (a) £-! {——}, (6) C2 == ana gambarkanlah. 8 275 (ee t t>x2 3 t< m2 satuan dan (b) tentukanlah transformasi Laplace-nya. 63. (a) Nyatakanlah fungsi f() = dalam suku-suku fungsi tangga BERBAGAI MACAM TRANSFORMASI LAPLACE 64, Tentukanlah (a) < {Pe}, 9b) <{etcos 2}, () Civte"}, @ Cet}. 65, Tentukanlah (a) -< {t sin 3t). (6) < (# cos 2t}. 66. Tentukanlah -C {tet sin t}. 67. (a) Gambarkanlah grafik fungsi f(0) = t, 0 \$ t <4 yang diperluas secara periodik dengan periode 4 dan (6) tentukanlah transformasi Laplace untuk fungsi ini. 68. Tentukanlah -<{f(t)} jika f(t) = e+, 0S t <2 dan f(t + 2) = FO. t 17 69: Periksalah apakah < { Joos 2u du } =—— < {cos 21}. 5 70. = < (f(0) dan perumum/rampatkantah hare 71. Tentukanlah @) <{—""}, L( SA, © <£ 4. 72. Tentukantah et 73. Tunjukkantah bahwa (a) r= * =n Ir a -= 74. Hitunglah (a) t*e' dan (b) < {t¥e'). 75. Buktikanlah bahwa (a) f*g = g*f, (0) f*(gth) =f g+fh, (c) f*(g*h) = (f*g)*h dan bahaslah pengertian dari hasilnya. BERBAGAI MACAM TRANSFORMASI LAPLACE INVERS +9 1 ce ,} OL oH @L* teas 76, Tentukanlah (a) +" {=> =o . 276 OL eo ottg 77. Tentukanlah 150 @ ty hod oe aa OLS ia ae 1 ) < (er6+3 oo tema) © hy — 78, Tentukanlah (@) £* (<= a oo sar Of {( =, sa @ I, =a! 6 79, Tentukantah + {1n (S25) } s+2 80. Gunakanlah deret dari e* untuk menunjukkan bahwa -' { t 81. Selesaikanlah persamaan integral (a) y(t) + f pt Wet da = 2t = 3, a. (oy J} yO) yee w) du = Pe 82. Gunakanlah transformasi Laplace untuk menghitung sin dx. [Petunjuk ; Perhatikanlah bentuk i sin tx? dx.] PENYELESAIAN PERSAMAAN DIFFERENSIAL 83. Selesaikanlah setiap persamaan differensial berikut : fa) y"@® - 3y'@ + 2y) = 4; yO) = 1, y'(@) =0 (b) y"® + 16y(t) = 32t; y(0) = 3, y’(0) = 2 (©) y'® + 4y’® + 4y() = 65 yO) = -2, yO) = 8 @ y"O+yO=st+1 84. Selesaikanlah y”’(t) + 8y(t) = 32t? = 16t jika y(0) = y’(0) = y"(0) = 0. 277 85. 86. Selesaikanlah persamaan simultan { 2x(t) — yt) - y" = 4(1 - e+) 2°) + y(t) = 21 + 3e%) terhadap syarat x(0) = y(0) = 0. Selesaikanlah Soal berikut dengan transformasi Laplace : ' dx dy a. Selesaikanlah sistem —— + y =e, x -—— = dt dt f 5 dx dy dy dx b. Selesaikanlah sistem —— + 2x = —— + 10 cos t, — + 2y = de? dt dt dt dt Jika x = 2, y = 0 bilamana t = 0 c. Selesaikanlah sistem (D? + 2)x + Dt = 2 sin t +3 cost + 5 et Dx + (D? = Dy = 3 cos t - 5 sin t ~ e* jika x = 2, y = -3, Dx = 0, Dy =4 bilamana t = 0 p dx. dy dz : e d. Selesaikanlah —— = 2x + y, —— = y + 6e*, —— = 2 sint + x jika dt dt dt x=yz=0padat=0 PENERAPAN PADA MASALAH FISIS 87. 278 Selesaikanlah Soal berikut dengan transformasi Laplace a. Suatu partikel bergerak sepanjang sumbu x menuju titik O dengan gaya yang se- banding terhadap jaraknya dari O. Jika partikel tersebut bergerak mulai dari keadaan berhenti pada x = 5 cm dan sampai pada x = 2,5 cm setelah 2 detik, tentukanlah : a. posisi pada suatu saat t sesudah partikel itu bergerak b. arah kecepatannya pada x = 0 c. amplitudo, periode dan frekuensi sebarannya d. percepatan sesaatnya. b. Posisi suatu partikel yang bergerak sepanjang sumbu x ditentukan oleh persa- maan ax dx + 4 — + 8x = 20 cos 2t. de? dt Jika partikel bergerak dari keadaan diam pada x = 0, tentukanlah : a. x sebagai fungsi dari t b. amplitudo, periode dan frekuensinya setelah suatu waktu yang panjang. c. Berat pada suatu pegas tegak memperoleh gaya ubrasi sesuai dengan persamaan ax + 4x = 8 sin wt i? dengan x perpindahan dari posisi seimbang dari w > 0 konstanta Tika x = dx/dt = 0 bilamana t = 0, tentukanlah : a, x sebagai fungsi dari t b. periode dari gaya luar yang menyebabkan terjadinya resonansi. d. Muatan pada suatu kapasitas dalam jaringan pada gambar di bawah ini adalah 2 coulomb. Jika sakelar K ditutup pada saat t = 0, tentukanlah muatan dan arus pada saat t > 0. a. E=100 b. E= 100 sin 4t E kK tf orn =-0,05 farad Gambar 8.4 40hm 89. Selesaikanlah dengan transformasi Laplace Tentukanlah arus I, 1, dan I, dalam jaringan pada gambar di bawah ini dan juga muatan Q dari kapasitornya jika : a B= 360 b. E = 600 e% sin 3t Andaikan muatan dan arusnya nol pada saat t = 0 E volt i 8 ome & henry 1 farad . T th WNW 1Obm Gambar 8.5 90. le? O) ws Ln (e *) © tan (is) P44 nT s In (Ss? + 1) + oe tants (a) e-1-t (bd) (8-1) (a) eG cos 3t + 2 sin 3t) (©) Ue A) te* + 5/2 Pe® (b) e"/2VK (©) v(t — 3) sin m(t — 3) atau v(t — 3) sin at = { Gee) -sintt t>3 (a) sinh 2t (b) ¥,-et+%e% — (©) 2e* -2e* - Ate (@ cos 22 t + V2 sin V2 t- et (©) ©* (4 cos 2t + 3 sin 2t) + e%3 sin 2t - 4 cos 2t) (© ', (sin t cosh t — cos t sinh #) (a) ¥,(e*— 2 - 2t- LD (c) 2tsint-sint+tcost (b) ¥%, (sin t + t cos 0) ‘@ 1G sin t — 3t cos t - t sin t) 1 gest t @ y) = 5t-3-? (b) y(t) = 2V2tn et 82. 83. 84. 85. 282 WNnd2 = 2et + 6% (©) y= Gt + dt 2e™ sin 4t + 3.cos 4t+2t (d) y(t) = c, +c, cost +c,sint+ VP+t @ yo () yD = y(t) = 40 = 2t = 3 + e+ Y,017 cos V3t + V3 sin V3t) x(t) = 3 -2et-e%, y(t) = 2 -4et + 2e® Fe . @) x= So (1-0-8) me INTEGRAL GARIS, PERMUKAAN DAN TEOREMA INTEGRAL INTEGRAL LIPAT DUA Misalkan F(x, y) didefinisikan pada suatu daerah tertutup R di bidang xy (lihat Gambar 9-1). Bagilah R dalam n daerah bagian AR, yang masing-masing luasnya AA, k= 1, 2,..., n. Misalkan (,, 7,) adalah suatu titik pada AR,. Bentuklah jumlah DFE) AA, Perhatikanlah tim SFE, n) AA, pee kel di mana limit ini diambil agar banyaknya daerah bagian n membesar tanpa batas se- hingga dimensi linier terbesar dari setiap AR, mendekati nol. Jika limit ini ada, dinyatakan dengan Jee, yy aa (9-3) R dan dinamakan integral lipat dua (integral ganda/double integral) dari F(x, y) pada daerah R. Gambar 9-1 Dapat dibuktikan bahwa limit ini ada jika F(x, y) kontinu (atau kontinu bagian demi bagian) pada R. INTEGRAL BERULANG (ITERASI/TERATED) Jika R suatu daerah sehingga sembarang garis sejajar sumbu y memotong batas R di paling banyak dua titik (seperti terlihat pada Gambar 9-1), maka kita dapat menuliskan persamaan kurva ACB dan ADB yang membatasi R masing-masing sebagai y = f,(x) dan y = f,(x) di mana f,(x) dan f,(x) fungsi bernilai tunggal dan kontinu pada a < x < b. Dalam kasus ini dapat dihitung integral lipat dua (3) dengan memilih dacrah AR, sebagai persegi panjang yang dibentuk oleh jaring berupa garis-garis sejajar sumbu x dan y, dan AA, yang menyatakan luas daerah ini, Maka (3) dapat ditulis sebagai (9-4) b f(x) J Jee, yy axdy = JS? Fe yy dy ax R xea y=f00) b FC =J {f° raway ia x=a-y=f(x) di mana integral dalam kurung dihitung pertama (dengan menganggap x tetap) dan akhirnya integral terhadap x dari a ke b. Hasil (4) ini menunjukkan bagaimana suatu integral lipat dua dapat dihitung dengan menyatakannya sebagai dua integral tunggal, dan dinamakan integral berulang. Jika R suatu daerah sehingga suatu garis sejajar sumbu x memotong batas R pada paling banyak dua titik (seperti terlihat pada Gambar 9-1), maka persamaan kurva CAD dan CBD dapat ditulis masing-masing sebagai x = g,(y) dan x = g,(y) dan dengan cara serupa kita memperoleh 284 d ( j j® y) i J Fo, y) dx ay F(x, y) dx dy ysc x=8,(y) qd ey) J (7? Roy) ax } ay yee x=g,(y) Jika integral lipat dua ini ada, maka (4) dan (5) secara umum akan memberikan hasil yang sama. Dalam menuliskan suatu integral lipat dua, kita dapat memilih salah satu dari bentuk (4) atau (5), dan bilamana mungkin keduanya, dan dinamakan bentuk satu dapat diubah urutan pengintegralannya terhadap bentuk lainnya. Dalam kasus R tidak terbentuk jenis yang ditunjukkan pada gambar di atas, r secara umum dapat dibagi menjadi daerah-daerah R,, R,,. . . yang berbentuk jenis ini. Kemu- dian integral lipat dua pada daerah r dapat ditentukan dengan mengambil jumlah integral Hipat duanya pada daeah R,, Ry... « INTEGRAL LIPAT TIGA Hasil di atas dapat dengan mudah diperumun (dirampatkan) untuk daerah tiga di- mensi. Sebagai contoh, perhatikanlah suatu fungsi F(x, y, z) yang didefinisikan dalam suatu daerah tertutup R di ruang dimensi tiga. Bagilah daerah ini ke dalam n daerah bagian dengan volume AV,, k = 1, 2, . . .. 1. Misalkan (E,, 1), ¢,) adalah suatu titik dalam setiap daerah bagian, kita bentuk lim D FE, ny &) AV, noe kel 9-6) di mana bilangan n dari pembagian ini menuju tak berhingga dimensi linier terbesar dari setiap daerah bagiannya menuju nol. Jika limit ini ada, maka dinyatakan dengan JUS ray, av 9-7) A dan dinamakan integral lipat tiga (triple integral) dari F(x, y, z) pada daerah R. Limit ini ada jika F(x, y, 2) kontinu (kontinu bagian demi bagian) pada R. Jika kita membangun suatu jaring yang terdiri dari bidang-bidang sejajar xy, yz dan xz, maka daerah R terbagi menjadi daerah bagian yang berbentuk balok. Dalam kasus ini kita dapat menyatakan integral lipat tiga pada daerah R yang diberikan oleh (7) dalam bentuk integral berulang b B(x) f,%y) bg) fay) SoS SF Fayadedyax= J (Fay, 2) dz} dy] ax x20 y=E;(0) z=f,06, 9) x=O y=B\X) Xf, (% 9) (9-8) (di mana integral yang paling dalam dihitung pertama). Integral ini dapat diubah urutan- nya dan memberikan hasil sama. Perluasan ke dimensi yang lebih tinggi dapat juga dikerjakan. TRANSFORMASI PADA INTEGRAL LIPAT Dalam menghitung suatu integral lipat pada suatu daerah R seringkali dipergunakan koordinat lain, selain koordinat tegak lurus; seperti misalnya koordinat kurvilinier pada Bab 3. Jika kita misalkan (u, v) adalah koordinat kurvilinier suatu titik pada bidang, maka akan ada suatu himpunan transformasi dengan persamaan x = f(u, v), y = g(u, v) yang memetakan titik (x, y) pada bidang xy ke titik (u, v) pada bidang uv. Dalam kasus ini daerah R pada bidang, xy dipetakan ke darah R’ pada bidang uv. Kemudian diperoleh os y) LJ Fa ydxay= ff Ge, w IS 3 Lau dy (9-9) di mana G(u, v) = F{f(u, v), g(u, v)} dan ax ax a, y) _ du av on ay ~ fay ay - & du av adalah Jacobian dari x dan y terhadap u dan v (lihat Bab 3). Dengan cara yang sama jika (u, v, w) adalah koordinat kurvilinier dalam tiga dimensi, akan ada himpunan transformasi dengan persamaan x = f(u, v, w), z = hu, v, w) dan kita dapat menuliskan (x, y, Z) a(u, v, w) di mana G(u, v, w) = F {f(u, v, w), g(u, v, w), h(a, v, w)} dan J A.J Fe y, 2) ax dy dz = ILS cayw | I du dv dw ....(9-11) 286 ox dx Ox ow Ow ax. y.2) _| ay ay ay du vw) | du ov Ow a a a ou ov ow adalah Jacobian dari x, y dan z terhadap u, v dan w. Hasil (9) dan (11) ini berkaitan dengan pergantian peubah untuk integral lipat dua dan tiga. Perumusan ke dimensi yang lebih tinggi dapat dikerjakan dengan mudah. 9.1 INTEGRAL GARIS Misalkan C adalah suatu kurva pada bidang xy yang menghubungkan titik A(a,, b,) dan Bia, b,) (lihat Gambar 6-2). Misalkan P(x, y) dan Q(x, y) adalah fungsi bernilai tunggal yang didefinisikan pada setiap titik pada C. Bagilah C menjadi n bagian dengan memilih (n — 1) titik padanya, yaitu (x,, y,), (Xp zr +» «+ Spy» Yo)» Namakan Ax, = K,— X, dan AY, = Yy — Jy yp (@y b.) = (Ky Y,) dan andaikan bahwa titik (,, n,) dipilih sehingga terletak pada C di antara titik-titik (x, , y,_,) dan (%,, y,). Jumlahkanlah : x (PE, n,) Ax, + WG, 1) Ay.) tt Gambar 9-2 Limit jumlah ini untuk no dengan cara membuat semua besaran Ax,, Ay, mendekati nol. Jika limit ini ada, dinamakan suatu integral garis sepanjang c dan dinyatakan dengan 287 (9-14) ie J. RG. y) dx + QG, y) dy] ata [P dx + Q dy] (ab) Limit ini ada jika P dan Q kontinu (atau kontinu bagian demi bagian) di semua titik dari C. Nilai integralnya secara umum bergantung pada P, Q, nilai khusus C dan pada limit (a, b,) dan (a, b,). Dengan cara yang persis sama kita mendefinisikan suatu integral garis sepanjang suatu kurva C dalam tiga dimensi sebagai tim © (AG My 6) 4%, + AG My G) AV + ALE, Me 6) 2} ae kel = J, (A, dx +A, dy +A, dz] di mana A,, A, dan A, adalah fungsi dari x, y dan z. Jenis lain dari integral garis bergantung pada kurva khusus yang dapat didefinisikan. Sebagai contoh, jika As, menyatakan panjang kurva C pada gambar di atas, yang terletak di antara titik-titik (x,, y,) dan (%,,,, Y,,,)» maka ..(9-16) lim’ Lue, ny 4s, = J, Ue yds eo kel dinamakan integral garis dari U(x, y) sepanjang kurva C. Perluasan untuk dimensi tiga (atau lebih tinggi) mungkin dikerjakan. 9.2 NOTASI VEKTOR UNTUK INTEGRAL GARIS Menyatakan suatu integral garis dalam bentuk vektor seringkali sangat membantu dalam memahami masalah fisika dan ilmu ukur, dan juga untuk menyingkat penulisan. Sebagai contoh, jika dapat menyatakan integral garis (15) dalam bentuk Jo 1A, dx +A, dy +A, dz} = J, (Aji + Ag + AK) © (dx i + dy j + dz k) ...-17) = [Aca di mana A = A,i-+ A+ A,k dan df = dx i + dy j + dz k. Integral garis (14) adalah suatn kasus khusus dari sini dengan z = 0. Jika di setiap titik (x, y, z) kita hubungkan dengan suatu gaya F yang bekerja pada suatu obyek (yaitu jika suatu medan gaya didefinisikan), maka (9-18) Jo Fear secara fisis dinyatakan bahwa gaya total yang bekerja untuk menggerakkan obyek terse- but sepanjang kurva C. 9.3 MENGHITUNG INTEGRAL GARIS Jika persamaan suatu kurva C di bidang z = 0 diberikan oleh y = f(x), maka integral garis (14) dihitung dengan mengganti y = f(x), dy = f°(x) dx pada fungsi yang diinte- gralkan untuk memperoleh integral tertentu, (9-19) J?ee. FOO} dx + QUx, FO} f'@) dx] a, 1 yang kemudian dapat dihitung dengan cara biasa. Dengan cara yang sama, jika c diberikan oleh persamaan x = g(y), maka dx = g’(y) dy dan integral garisnya menjadi b, } iso). yt 8°) dy + Qfaty), ¥? dyt , Jika C diberikan dalam persamaan parameter berbentuk x = \$(), ¥ = y(t), maka integral garisnya menjadi so t, 1 PLO, WO} OO dt + QHHO, WO} WO dt] (9-21) di mana t, dan t, masing-masing menyatakan nilai t yang bersesuaian dengan titik A dan B. Kombinasi dari metode di atas mungkin digunakan dalam perhitungan. Cara yang sama digunakan untuk menghitung integral garis sepanjang kurva ruang. 9.4 SIFAT-SIFAT INTEGRAL GARIS Integral garis mempunyai sifat yang sama dengan sifat integral biasa. Sebagai contoh : 1. Sg BG, y) dx + QC y) dy] = J PO, y) dx + J. Ox, y) dy » d,) (a, b,) 2 fp ax+Qay) =- So? pars Qayl (a,b) (ab) jadi perubahan arahlintasan pengintegralan mengubah tanda integral garisnya. (ayy by) (ay, by) (ay, b,) 3. P" Pax+Qay =f” iP dx + Q ay) + {” “IP dx + Q dy] (a, b,) (a,b) (ay, b,) di mana (a,, b,) adalah titik lain pada C. Sifat yang sama berlaku juga untuk integral garis dalam ruang. 9.5 KURVA TERTUTUP SEDERHANA, DAERAH TER- HUBUNG SEDERHANA DAN BERGANDA Suatu kurva tertutup sederhana dalah suatu kurva yang tidak saling beririsan. Secara matematis, suatu kurva di bidang xy didefinisikan dengan persamaan parameter x = (1), y = W(t) di mana dan w adalah fungsi bernilai tunggal dan kontinu pada suatu selang t, StSt,, Jika O(a) = \$(v) dan y(u) = y(v) kurva itu dikatakan tertutup. Jika 9(t,) = O(t,) dan y(t,) = y(t), hanya bila u = v (kecuali dalam kasus khusus u = t, dan v = t,), maka kurva tersebut tertutup dan tidak saling beririsan dengan dirinya sendiri sehingga meru- pakan suatu kurva tertutup sederhana, Bilamana tidak dikatakan lain, jika akan mengan- daikan bahwa @ dan y mempunyai turunan bagian demi bagian pada t, < t < t,. Jika suatu daerah pada bidang mempunyai sifat bahwa suatu kurva tertutup yang terletak padanya dapat menyusut secara kontinu tanpa meninggalkan daerah tersebut, maka daerah itu dinamakan terhubung sederhana; dalam hal lain dinamakan terhubung berganda. [lihat soal 19]. Jika parameter t bergerak dari t, ke t,, maka kurva bidang ditentukan juga oleh arahnya, Untuk kurva di bidang xy, ditentukan arah di sebarang, yaitu positif atau negatif sesuai dengan seseorang yang menjalani kurva ini dengan kepalanya mengarah ke sumbu z positif menghasilkan daerah yang dikelilingi kurva tersebut berturut-turut ke arah kiri atau kanan. Jika kita lihat suatu kurva tertutup sederhana pada bidang xy adalah suatu kurva yang dijalani berlawanan dengan arah jarum, jam untuk arah positif dan searah putaran jarum jam untuk arah negatif. TEOREMA GREEN PADA BIDANG Misalkan P, Q, aP/dy, 9Q/Ox bernilai tunggal dan kontinu pada suatu daerah tertutup sederhana R yang dibatasi oleh suatu kurva tertutup sederhana. Maka 290 §,[P dx + Q dy) = LL) aay (9-22) di mana \$, digunakan untuk wnnekankan | baton C tertutup dengan arah positif. Teorema ini juga benar untuk daerah yang dibatasi oleh dua atau lebih kurva tertutup (yaitu daerah terhutang berganda). Lihat Soal 19. 9.6 SYARAT UNTUK INTEGRAL GARIS UNTUK TIDAK BERGANTUNG PADA LINTASAN Teorema 6-1. Syarat perlu dan cukup untuk J, [P dx + Q dy] tidak bergantung pada lintasan C yang menghubungkan dua titik yang diberikan pada daerah R adalah aP/ay = AQ/x (9-23) pada R, di mana diandaikan bahwa turunan parsial ini kontinu pada R. Syarat (23) juga merupakan syarat agar P dx + Q dy menjadi persamaan differensial eksak, yaitu ada suatu fungsi (x,y) sehingga P dx + Q dy = do. Dalam kasus ini jika titik akhir kurva C adalah (x,, y,) dan x,, y,), maka nilai integral garisnya diberikan oleh (y ¥,) (Xp Y5) PP" ax + Q dy} = Fao = O64, y) - 00 7 &, y) Khususnya, jika (23) berlaku dan C tertutup, diperoleh x, = x, y, = y, dan §, (P dx + Q dy} =0 Untuk buktinya dan teorema-teorema yang berhubungan, lihatlah soal 22 dan 23. Hasil pada Teorema 6-1 dapat diperluas untuk integral garis dalam ruang. Jadi kita memperoleh apa ? Teorema 6-2. Syarat perlu dan cukup untuk J, [A, dx + A, dy + A, dz] tidak bergan- tung pada lintasan C yang menghubungkan dua titik yang diberikan pada daerah } adalah pada R, dA, _ aA, 2A, 0A, A, _ OA, Yy “a? dx zz (9-26) di mana diandalkan bahwa turunan parsial ini kontinu pada R. 291 Hasil tersebut dapat dinyatakan secara singkat dalam notasi vektor. Jika A = A,i + Aj + A,k, maka integral garisnya dapat ditulis |, A + dr dan syarat (26) ekivalen dengan syarat V x A = 0. Jika A menyatakan suatu medan gaya F yang bekerja pada suatu obyek, maka hasil tersebut ekivalen dengan pernyataan bahwa gaya yang bekerja untuk mengerakkan suatu obyek dari satu titik ke titik lainnya tidak bergantung pada lintasan yang menghubungkan dua titik itu jika dan hanya jika V x A = 0. Medan gaya yang demikian seringkali dinamakan konservatif. Syarat (26) [atau syarat yang ekivalen V x A = 0] juga merupakan syarat agar A, dx + A, dy + A, dz [atau A * dr] menjadi differensial eksak, yaitu ada fungsi (x, y, z) sehingga A, dx + A, dy + A, dz = do. Dalam kasus ini jika titik akhir kurva C adalah (%,» Yp 2) dan (X,, Y,, 2), maka nilai integral garisnya diberikan oleh Okay Yar %) Oy Yar JO a de = FO Ny = olay yp 2) ~ Hy Yy 2) Op YX) Gp Yp 2) Khususnya, jika C tertutup dan A x A = 0, kita memperoleh §,A+dr=0 9.7 INTEGRAL PERMUKAAN Misalkan S adalah suatu permukaan dua-sisi yang mempunyai proyeksi R pada bidang xy seperti terlihat pada Gambar 6-3. Andaikan bahwa suatu persamaan untuk s adalah z = f(x, y), di mana f adalah fungsi bemilai tunggal dan kontinu untuk semua x dan y di R. Bagilah R menjadi n daerah bagian dengan luas AA,, p= 1, 2, ....n dan buatlah suatu kolom vertikal pada setiap daerah bagian ini dan memotong S dengan luas AS,. ” Misalkan (x, y, 2) adalah fungsi bernilai tunggal dan kontinu di semua titik pada s. Bentuklah jumlah % om, 6) 48, di mana & Tiy 6.) suatu titik pada AS, Jika limit jumlah ini ada untuk neo dengan cara membuat Setiap AS,—»0, hasil limitnya dinamakan integral permukaan dari \$(x, y, z) pada S dan dinyatakan dengan (9-29) (9-30) J.J oc y, 2) as ‘Karena AS, = Isec 7,1 AA, (nilai hampiran), di mana y, adalah sudut antara garis normal pada S dan sumbu x positif, maka limit jumlah (29) dapat ditulis sebagai 292 JF 06s, y, 2) tsec ft dA Besaran Isec yl ditentukan oleh 1 dz, 2 Isec W = ay = Vit +4 & Kemudian, andaikan bahwa z = f(x, y) mempunyai turunan yang kontinu (atau kontinu bagian demi bagian) pada R, maka (31) dapat ditulis sebagai dz 2 J.J oe y. 2 \ja+ Gt a dx dy Dalam, kasus persamaan untuk § diberikan dalam bentuk F(x, y, 2) = 0, (33) dapat ditulis sebagai VEY + &P+ FP IF (9-32) (9-33) J, Joa ya dx dy (9-34) Hasil (33) atau (34) dapat digunakan untuk menghitung (30). Di atas, kita mengandaikan bahwa S adalah suatu permukaan sehingga suatu garis sejajar sumbu z memotong sumbu S hanya di satu titik. Dalam kasus S tidak berjenis demikian, \$ dapat dibagi menjadi permukaan S,, S,, . . . yang masing-masing dari jenis ini. Kemudian, iritegral permukaan pada S didefinisikan sebagai jumlah integral per- mukaan pada S,, S,, . . . Hasil tersebut dinyatakan berlaku bilamana S\$ diproyeksikan pada daerah R pada bidang xy. Dalam beberapa kasus, lebih baik untuk memproyeksikan S ke bidang yz atau 2x. Untuk beberapa kasus, (30) dapat dihitung dengan modifikasi yang tepat dari (33) dan (34). 9.8 TEOREMA DIVERGENSI Misalkan S adalah suatu permukaan tertutup yang dibatasi suatu daerah dan vo- lumenya V. Pilihlah normal pada permukaan yang digambarkan di sebelah luar sebagai normal positif dan andaikan bahwa o, B, Y adalah sudut antara normal ini berturut-turut dengan sumbu x, y dan z positif. Jika A,, A, dan A, kontinu dan mempunyai turunan parsial yang kontinu pada daerah tersebut, maka aa, ~ oy yang dapat juga ditulis sebagai ifiee, Se a so a= Ia, dy dz + A, dz dx + A, dx dy] (9-36) Dalam bentuk vektor dengan A = Aji + Ajj + A,k dan n = cos ati + cos Bj + cos yk, cara penulisannya dapat disederhanakan sebagai SJlv-Kav = fJa-nas (9-37) ¥ s Bila dinyatakan dengan kata-kata, teorema yang dinamakan teorema divergensi atau Teorema Green ini menyatakan bahwa integral permukaan dari komponen normal suatu vektor A pada suatu permukaan tertutup sama dengan integral dari divergensi A pada isi yang dibatasi oleh permukaan tersebut. 9.9 TEOREMA STOKES Misalkan S suatu permukaan dua-arah terbuka yang dibatasi oleh suatu kurva ter- tutup C yang tidak beririsan (kurva tertutup sederhana). Pethatikanlah suatu garis normal pada S, yang berarah positif bila ia berada pada satu sisi dengan S dan negatif bila berada pada sisi lainnya dari S. Pemilihan sisi sebelah mana yang positif adalah sebarang, tetapi setelah itu untuk selanjutnya demikian. Namakan arah C positif bila seorang penyelidik berjalan pada batas \$ dengan kepalanya mengarah ke normal positif, maka permukaan- nya terletak di sisi kirinya. Jika A,, A,, A, bernilai tunggal, kontinu dan mempunyai turunan parsial pertama yang kontinu pada suatu daerah ruang yang memuat S, diperoleh J, [A, dx + Aydy + A, aq= J. S1S8-S) cova 0A, “Ox. (9-38) cos B + ee ee = Soon ds Dalam bentuk vektor dengan A = A,i + A,j + A,k dan n = cos ati + cos Bj + cos yk, cara penulisannya dapat disederhanakan sebagai Jaed=JSJoxAenas (9-39) c s Bila dinyatakan dengan kata-kata, teorema yang dinamakan Teorema Stokes ini menyatakan bahwa integral garis dari Komponen tangensial suatu vektor A pada kurya tertutup sederhana C sama dengan integral permukaan dari komponen normal curl A pada suatu permukaan \$ yang berbatas C. Perhatikanlah bahwa untuk hal khusus V x A = 0 pada (39), kita memperoleh hasil (28). 294 9.10 SOAL-SOAL LATIHAN DAN PENYELESAIANNYA 2 1. Hitungtan {” ¢ - y) dx + (92 + x) dy] sepanjang (a) suatu garis lurus dari (0, 1) a) sampai (1, 2), (b) garis lurus dari (0, 1) sampai (1, 1) dan kemudian dari (1, 1) sampai (1, 2) (c) parabola x = t, y= +1. (a) (b) (3) ‘Suatu persamaan untuk garis yang menghubungkan (0, 1) dan (1, 2) dan kemudian dari 1, 1) sampai (1, 2), (©) parabola x = t, y= + 1. 1 ' J (02-4 0} dx + (& + 12+ xf dx] = J (2x2 + 20) dx = 58 | 0 Sepanjang garis lurus dari (0, 1) sampai (1, 1), y = 1, dy = 0 dan integral garisnya sama dengan . fice 1) dx +040 O12) G-Nax=-25 x0 0 Sepanjang garis lurus dari (1, 1) sampai (1, 2), x = 1, dx = 0 dan integral garisnya sama dengan 2 f ta-n@+o+day=J ot +1 dy = 108 1 ai Karena itu nilai yang diinginkan = -2/3 + 10/3 = 8/3. Karena t = 0 pada (0, 1) dan t = 1 pada (1, 2), maka integral garisnya sama dengan , Pee — c+ py at + (2 +P 4 2 de) =) 28 448 428 + 2-H ate? Jika A = (3x? - 6yz)i + Qy + 3xz)j + (1 ~ 4xyz%k, hiteungiah {, A + dF dari (0, 0, 0) sampai (1, 1, 1) sepanjang lintasan C berikut : @) (b) xety=@Qz=0. garis lurus dari (0, 0, 0) sampai (0, 0, 1), kemudian sampai (0, 1, 1) dan setelah itu sampai (1, 1, 1). (c) garis lurus yang menghubungkan (0, 0, 1) dan (1, 1, 1). JA + dF = J, x? ~ 6y2yi + (2y + 3x2)j + (1 Axyzk} + (Axi + dyj + dzk) = J, (Gx? - 6yz) dx + (2y + 3xz) dy + (1 ~ 4xyz%) dz] (a) Jika x =1, y =, 2=2, titik @, 0, 0) dan (L, 1, 1) masing-masing dengan t = 0 dan t = 1. Maka a6 I, Aedr= { (30 - 62) dt + (22 + 300} dt?) + ad {1 - 4} dO] = J" (Ge — 615) dt + (40 + 65) dt + (Be? - 12t" dt] = 2 “ Metode lain : Sepanjang C, =tit+ Cj + tk, = GU - 6t}i + (2? + 3¢*j + (1 - 41%)k dan r = xi + yj + zk i + 2tj + 3t?k) dt. Maka 1 [Kear=J (Ge - 6) dt + 40 + 68) dt + Ge - 124) dt] = 2 ©. 0 © Sepanjang garis torus dari (0, 0, 0) sampai (0, 0, 1), = x = 0, y = 0, dx = 0, dy = 0 sedangkan z berubah dari 0 sampai 1. Maka integral sepanjang bagian lintasan ini adalah i [{3()? — 6(0)(z)}0 + {2(0) + 3(O)(z)}0 + {1 - 4(0)(0)(2*)} dz]= ji dz=1 Sepanjang garis lurus dari (0, 0, 1) sampai (0, 1, 1), x = 0, 2 = 1, dx = 0, dz = 0 sedangkan y berubsh dari 0 sampai 1. Maka integral sepanjang bagian lintasan ini adalah J 13EF - 6EM}O + 2y + 3OMC)}dy + (1 - AMANO f 2y dy =1 ye0 y= Sepanjang garis lurus dari (0, 1, 1) sampai (1, 1, 1), y = 1, 2 = 1, dy = 0, dz = 0 sedangkan x berubah dari 0 sampai 1. Maka integral sepanjang bagian intasan ini adalah cl f [{3x? - 6(1)(1)} dx + {2(1) + 3x(1)}0 + {1 - 4x(1)(1)?}0) 0 ' =] Gx-6 dx =-5 - Jadi |, A df= 141-5 =-3. Garis lurus yang menghubungkan (0, 0, 0) dan (1, 1, 1) dalam bentuk persamaan parameter adalah x = t, y = t, z = t. Maka € 1 J A-de=J (Ge - 64 dt + 2 +30) dt + (1 ~ 4th at = 5 c Tentukanlah besarnya usaha dalam gerakan suatu partikel yang menjalani lintasan satu putaran elips C di bidang xy, jika elips tersebut berpusat di titik awal dengan sumbu panjang 4 dan sumbu pendek 3; seperti ditunjukkan pada Gambar 9-3 dan jika medan gayanya diberikan oleh F = (3x - 4y + 22) + (4x + 2y - 322 + (xz — 4y? + 24k Pada bidang z = 0, F = (3x — 4yji + (4x + 2y)j - 4y’k dan df = dxi + dyj sehingga besarnya gaya yang bekerja adalah J Be dt = J, (Gx - 4yhi + (4x + yj - 4y® + (dx + dy = J, [Gx - 4y) dx + (4x + 2y) dy] =4costi+3sinty Gambar 9-3 Pilihlah persamaan parameter untuk elips, x = 4 cos t, y = 3 sin t di manat bergerak dari 0 sampai 2n (lihat Gambar 9-3). Maka integral garisnya sama dengan Pie cos t) — 4(3 sin t)}{4 sin t} dt + {4(4 cos t) + 2(3 sin t)}{3 cos t} dt] 0 a = F (48 — 30 sin t cos t) dt = (48t — 15 sin 2t)| = 960 0 0 Dalam menjalani C, kita memilih arah berlawanan dengan arah jarum jam seperti di- tunjukkan pada Gambar 9-3. Kita namakan ini arah positif, atau dikatakan bahwa C menjalani lintasan dengan arah positif. Jika c menjalani lintasan dalam arah jarum jam (negatif), maka nilai integralnya akan menjadi 96m. 4. Hitunglah J, y ds sepanjang kurva C yang ditentukan oleh y = 2x dari x = 3 sampai x= 24, Karena ds = Vdx? + dy? = V1 + (y’ dx = V1 + I/x dx, maka kita memperoleh 4 is y ds = [Vn VFR dx = 2 J N+ T dx = x + De = 156 TEOREMA GREEN PADA BIDANG 5. Buktikanlah Teorema Green pada bidang jika C adalah suatu kurva tertutup yang mempunyai sifat bahwa setiap garis lurus yang sejajar sumbu koordinat memotong C paling banyak pada dua titik. Gambar 9-4 Misatkan persamaan kurva AEB dan AFB (lihat’ Gambar 9-4) berturut-turut adalah y = Y,(x) dan y = Y,(x). Jika R adalah daerah yang dibatasi C, maka kita memperoleh ap yp fiseork Ue, 7! ax = PoP, y) I, dx = JF tee, ¥)- Pox, YI] dx =) PG, ¥) dx — ff Pex, ¥p dx = -\$ Pax oP Jadi i Pdx =- iJ dx dy (9-40) Dengan cara yang sama, misalkan persamaan kurva EAF dan EBC berturut- turut adalah x = X,(y) dan x = * Maka JJ aca = I (ro 22 slay = J/1Q¢, ») - @%, M1 dy ax x=X1(y) = fac, 9 dy + 17 0c%, ») ay = J Q ay . 9Q Jai \$Q ay =J J ze a Jumlahkan (1) dan 2), §, (dx +Qdyl=f J ( PF) yy, BOK ay Periksalah Teorema Green pada bidang untuk §, Baxy - 2) dx + (x +9 dy] di mana C adalah kurva tertutup dari daerah yang dibatasi oleh y = x? dan y? = x. Kurva-kurva bidang tersebut berpotongan di (0, 0) dan (1, 1). Arah positif dalam menjalani C ditunjukkan pada Gambar 9-5 300 Gambar 9-5 Sepanjang y = x’, integral garisnya sama dengan J ner) - 2) de + (x + (2) dts?) Ji ex + x2 + 288) dx = 116 Sepanjang y? = x, integral garisnya sama dengan Pag) ~ GP) dy) + (92 + 99) dy1 = IP ay! - 29° + 299 dy = 1705 Maka integral gatis yang diinginkan = 7/6 ~ 17/15 = 1/30. ap a a Ii BF) aay = fF (Zoos <— Ory ~ x9} dx dy ax oy = Jfa-2 ax gy = J Js a - 20) dy dx Ji oty = 2ay) IE dx =f (it = 2909 x2 + 282) dx = 1780 Dengan demikian selesailah pemeriksaan Teorema Green. Perluaslah bukti Teorema Green pada bidang yang diberikan dalam Soal 5 ke suatu kurva C di mana garis sejajar sumbu koordinat memotong C lebih dari dua titik. Perhatikaniah suatu kurva tectutup C seperti terlibat pada Gambar 9-6, di mana garis sejajar sumbu koordinat akan memotong C lebih dari dua titik. Dengan cara membuat garis ST, daerah tersebut terbagi menjadi dua bagian, yaitu daerah R, dan R, masing-masing merupakan jenis yang telah dibahas dalam Soal 5 di mana Teorema Green dapat digunakan, yaitu 0Q oP ole ware aat=l I(S-s) aay ap @ J, Bae Qay=f JZ Gambar 9-6 Jumlahkan ruas kiri (1) dan (2), tanpa menuliskan fungsi yang diintegrasikan P dx + Q dy; dalam setiap kasus diperoleh : f+Jefetsfef-JeJ- J srus svis sts TUS.) Svr_sosTS')s TUS. SvT_ TUS dengan menggunakan kenyataan bahwa f = —J 7 Jumlahkan nias kanan (1) dan (2), tanpa menuliskan fungsi yang diintegralkan, [Jel Jef RR OR di mana R terdiri dari R, dan R, . 0Q aP ; . Jadi oe dx + Q dy] = . J¢ a y } dx dy dan terbuktilah teorema ini. Suatu daerah R yang diperhatikan di sini, di mana suatu kurva tertutup yang terletak dalam R dapat menyusut secara kontinu ke suatu titik tanpa meninggalkan R, dinamakan suatu daerah terhubung-sederhana. Suatu daerah yang tidak terhubung- sederhana dinamakan terhubung-berganda. Kita telah menunjukkan bahwa Teorema Green di bidang menggunakan daerah tertutup-sederhana yang dibatasi kurva ter- tutup. Dalam soal 6-10, teorema ini dapat diperluas untuk daerah terhubung ber- ganda. 301 Untuk daerah terhubung sederhana yang lebih rumit, kita perlu membuat lebih banyak garis seperti ST, agar teorema tersebut dapat diperlihatkan. 8. Tunjukkanlah bahwa Iuas daerah yang dibatasi oleh kurva tertutup sederhana C diberikan oleh rumus '/, \$. (x dy - y dx]. Dalam Teorema Green, ambillah P = -y, Q = x. Maka a a ft dy ~y ant =f, J (5 09-5 ap) aay = 2 f, Jax dy =24 di mana A adalah luas yang diinginkan, Jadi A = ¥, \$, [x dy — y dx]. 9. Tentukanlah luas elips x = a cos ®, y = b sin 0, 1 1,20 Luas = >t tx ayy dx] = i {(@ cos 6)(b cos 8) d® — (b sin 8) (a sin 6) 40] 1 ;2n 1,20 = — Jab (cos? 6 + sin? 6) do = — Jab do = nab 2 0 20 10. Tunjukkanlah bahwa teorema Green pada bidang juga berlaku untuk suatu daerah terhubung-berganda R seperti ditunjukkan pada Gambar 9-7. y Gambar 9-7 Daerah yang berwama gelap R, seperti ditunjukkan pada gambar, adalah ter- hubung berganda karena tidak setiap kurva tertutup yang terletak pada R dapat menyusut ke suatu titik tanpa meninggalkan R; sebagai contoh misalnya kurva disekeliling DEFGD. Batas untuk R, yang terdiri dari titik-titik luar batas AHJKLA dan titik-dalam batas DEFGD dijalani dalam arah positif, sehingga seseorang yang berjalan dalam arah ini selalu melihat daerah R di sebelah kirinya, Dapat dilihat bahwa arah positif itu ditunjukkan di tengah gambar tersebut. Untuk menunjukkan teorema ini, buatlah garis AD, yang dinamakan sebuah potongan silang (cross-cut) dan menghubungkan batas-batas luar dan dalam. Daerah yang dibatasi oleh ADEFGDALKJHA terhubung sederhana, sehingga Teorema Green berlaku. Maka 7 aQ ao scardasma + Qn =I I (5-5) a ey Tetapi integral di ruas kiri, tanpa penulisan fungsinya sama dengan J+J +f+f) =f 44 AD DEFGD DA ALKJHA.—«DEGD_—ALKJHA karena J,,, = -J,, Jadi jika C, adalah kurva ALKJHA, C, adalah kurva DEFGD dan C adalah batas R yang terdiri dari C, dan C, (dijalani dalam arah positif), maka ir a = ho sehingga oQ oP iP di dy] = —-—)dad 40 x + Q dy] Ih ye KETAKBERGANTUNGAN PADA LINTASAN 11. Misalkan P(x, y) dan Q(x, y) kontinu dan mempunyai turunan parsial pertama yang kontinu di setiap titik dari daerah terhubung sederhana R. Buktikanlah bahwa syarat perlu dan cukup agar §. {P dx + Q dy] = 0 di sekeliling setiap lintasan tertutup pada R adalah kesamaan OP/dy = Q/x berlaku pada R. Syarat cukup : andaikan P/dy = 3Q/Ox. Menurut Teorema Green, 0Q oP \$ pax+Qayl=J J(—-—) axay=0 c R ax ay di mana R adalah daerah yang dibatasi C. Syarat perlu : Andaikan \$, [P dx + Q dy] = 0 di sekeliling setiap lintasan tertutup C pada R dan aP/dy # 3Q/Ax pada suatu titik pada R. Khususnya andaikan OP/dy — 3Q/x > 0 pada titik (x, y,)- 303 Menurut hipotesa dP/dy dan 3Q/@x kontinu pada R, maka haruslah ada suatu daerah t yang memuat (x,, y,), sebagai titik-dalamnya sehingga dP/dy — 9Q/Ox > 0. Jika T adalah batas t, maka menurut Teorema Green, a0 pdx+Qayl=J J(~-—) dxay>o fa +Qdyl pI a yang bertentangan dengan hipotesa bahwa § [P dx + Q dy] = 0 untuk semua kurva _ tertutup dalam R. Jadi OQ/8x - OP/2y tidak mungkin positif. 12. 304 Dengan cara yang sama dapat ditunjukkan 9Q/0x — aP/ay tidak mungkin ne- gatif, dan ini mengakibatkan bahwa kesamaan OP/dy = OQ/Ox berlaku pada r. Misalkan P dan Q didefinisikan seperti dalam Soal 11. Buktikanlah bahwa syarat perlu dan cukup agar : J wax +Qay) tidak bergantung dari lintasan dalam R yang menghubungkan titik A dan B adalah berlakunya kesamaan dP/dy = dQ/0x dalam R. Gambar 9-8 Syarat cukup. Jika dP/dy = 9Q/0x, maka menurut Soal 11, J Pdx+Qdy}=0 apm (lihat Gambar 9-8). Dari sini, tanpa menuliskan fungsi yang diintegralkan P dx + Q dy, diperoleh f+ f =o f[ = -J = J danjuga J, = f sn * sha fe ee ry yaitu integralnya tidak bergantung pada lintasannya. m 13. @ Buktikanlah bahwa |’ [6xy?—y dx + (6x%y — 3xy’) dy] tidak bergantung pada aa lintasan yang menghubungkan (1, 2) dan (3, 4). (b) Hitunglah integral pada (a). (a) P = 6xy? - y?, Q = 6x°y — 3xy*, Maka aP/ay = 12xy ~ 3y? = 9Q/Ox dan menurut Soal 12 integral garisnya tidak bergantung pada lintasan. (b) Metode 1. Karena integral garisnya tidak bergantung pada lintasan, pilihlah suatu lintasan yang menghubungkan (1, 2) dan (3, 4); sebagai contoh, lintasan ini terdiri dari garis yang menghubungkan (1, 2) dan (3, 2) [sepanjang ini y = 2, dy = 0} dan kemudian dari (3, 2) ke (3, 4) [sepanjang ini x = 3, dx = 0}. Maka integral yang diinginkan sama dengan J’ (24x —8) dx +f" (ay — 99% dy = 80 + 156 = 236 _ 2 ‘ ye a 2 ita mempunyai (1) we 6xy?—y', 2) 2 = 6xry — 3xy?. x ox ay Dari (1), = 3x2y? — xy?'+ f(y). Dari (2). @ = 3x’y? — xy? + g(x). Ini hanya mungkin bilamana kedua bentuk untuk @ sama, yaitu jika f(y) = g(x) =c, suatu konstanta. Karena itu = 3x’y? - xy? + c. Maka ao 4) ay LORY? — y') dx + (6x’y ~ 3xy%) dy] = f 9 UGX? = xy? +0) =3nyt aac [oe = = 3x2y? — xy + » = 236 Perhatikanlah bahwa pada perhitungan ini konstanta sembarang ¢ dapat dihi- langkan. Dengan pemeriksaan kita dapat juga melihat bahwa (Oxy? — y?) dx + (6x?y - 3xy?) dy = (6xy? dx + 6x*y dy) — (y? dx + 3xy? dy) = dx) — d(xy’) = dx’y? — xy) dan dari sini jelaslah bahwa \$ = 3x°y? — xy? +c. 14, Hitunglah \$ [(2y cos x + 2xy sin x — ye") dx + (x? sin x - ye) dy) di sekeliling hiposikloida x + y28 = 2 P = x’y cos x + 2xy sin x — y’e, Q = x? sin x — yet. Maka dP/dy = x? cos x + 2x sin x — 2ye* = dQ/Ox, sehingga menurut Soal 11, integral garis sekeliling suatu kurva tertutup, khususnya x”? + y?5 = a, adalah nol. INTEGRAL PERMUKAAN 15. Jika y adalah sudut di antara garis normal pada suatu titik (x, y, z) pada permukaan dan sumbu z positif, buktikanlah bahwa V+ FP” I sec yl = Vee +2, = yang sesuai dengan persamaan untuk S yaitu z= f(x, y) atau F(x, y, z) = 0. Jika persamaan S adalah F(x, y, z) = 0, suatu normal untuk S di (x, y, z) adalah VF = Fi + Fj + Fk. Maka VF +R = IVF Iki cos y atau F = VF) + F? + F cos 7 \WF+F +F, dan dari sini Isec = seperti yang diinginkan. FI Dalam kasus persamaan z = f(x, y), dapat dituliskan F(x, y, z) = z - f(x, y) = 0, dan dari sini F, = ~z,, F, = -2,, dan F, = 1 schingga kita memperoleh Isec yf = ae 142.42, . Hitunglah J, J U(x, y, 2)4S di mana S adalah permukaan paraboloida z = 2 -(x? + y?) di atas bidang xy dan U(x, y, z) sama dengan (a) 1, (b) x? + y?, (c) 3z. Berikanlah suatu tafsiran fisis dalam kasus ini. Integral yang diinginkan sama dengan J, Sut, y, 2) Vie 2, + 2, dx dy di mana R adalah proyeksi S pada bidang xy yaitu x* + y*=2, z=0 Karena z, = 2x, z, = ~2y, (1) dapat ditulis sebagai J, LUG, y, 2) VI¥ a + ay? dx dy (a) Jika U(x, y, z) = 1, (2) menjadi J, J Vi¥ 4x2 + ay? dx ay Untuk menghitung ini, transformasikanlah ke dalam koordinat kutub (p, 6). Maka integralnya menjadi 13% 2m J — 3 V2 Qn 1 v2 V1 + 4p? p dp do=} = —— (1+ 4p)" 1 do = \$-0 ie FAP p ap op = J + 4p ot Secara fisis, ini menyatakan luas permukaan S, atau massa dari S yang di- andaikan rapat massanya 1 satuan, (b) Jika U(x, y, 2) =x? + y, (2) menjadi J, J (x? + y2) VI + 4x? + dy? dx dy atau dalam koordinat kutub On V2 1497, [J “pi ap? dp do = 0 p=0 30 di mana pengintegralan terhadap p diselesaikan dengan pergantian V1 + 4p? = u Maka secara fisis, ini menyatakan momen inersia dari \$ terhadap sumbu z dengan pengandaian rapat massanya 1 satuan, atau massa dari S yang diandai- kan rapat massanya = x? + y*. (©) Jika U(x, y, 2) = 32, (2) menjadi J J avi ax? + 49? dx dy = J.J 342 - (2 + y} VE + ae + dy? ax dy 307 atau dalam koordinat kutub, abs mm fie s 5 : [x J2 apa - pt) VI 4p? dp ap aa Secara fisis, ini menyatakan massa dari yang diandaikan rapat massanya = 3z, atau tiga kali momen pertama dari S terhadap bidang xy. 17. Tentukanlah luas permukaan suatu setengah bola (hemisphere) berjari-jari a yang dipotong oleh suatu silinder yang garis tengahnya sama dengan jari-jari tersebut. Persamaan untuk setengah bola dan silinder (lihat Gambar 9-20), berturut-turut diberikan oleh x? + y? + 2? = a? (atau z = Va? — x? — y?) dan (x - a/2)? + y* = a 4 (atau x? + y? = ax). Karena %,= Gambar 9-10 Kita memperoleh luas permukaan yang diinginkan =2),J Vive +2 ax ay =24,5 a dx dy Ada dua cara yang mungkin untuk menghitungnya. Metode 1. Gunakanlah koordinat kutub.* Karena x? + y? = ax dalam koordinat kutub menjadi p = a cos 6, integralnya menjadi “props ten Wea el do = 2a? J* (1 ~ sin @) dp = (a ~ 2)? Metode 2. Integral tersebut sama dengan ofr fee G Gre Jac ie a es : fax—x? 0 Misalkan x = a tan? @, maka integralnya menjadi 4a? J™"0 tan @ sec? 0 d0 = 4a? {¥/, @ tan? 0-1, J™ tan? 0 dO} = 202 {6 tan? 1™*— J** (sec? @ - 1) do} = 20 {n4 - (an 0-0),1" } = - 29 Perhatikanlah bahwa integral di atas tak wajar dan cara menghitungnya diker- jakan dengan proses limit yang sesuai. 18. Tentukanlah pusat dari permukaan pada Soal 16. Berdasarkan sifat simetri, x = y = 0 dan JJeas Jf wie 4x? sy! dx dy ze 7 34 aS fe Vi + 4x? + dy? dx dy Pembilang dan penyebut berturut-turut dapat diperoleh dari hasil Soal 16(c) Ate oe 3710 111 lan 16(a), sehingga z = ———— = —— oe 13n/3 130 19, Hitunglah J.J A en dS, di mana A = xyi—x%j + (x +2)k, S adalah bagian dari bidang 2x + 2y +z = 6 yang terletak di oktan pertama dan n adalah suatu normal satuan pada S. Gambar 9-11 Suatu normal untuk S adalah V(2x + 2y + 2 - 6) = 2i + 3j + k, sehingga 7 H+4+k W+A+k Aria (axi-xT + eam (A) 2xy — 2x? + (x +z) 3 2xy — 2x? + (x + 6 - 2x — 2y) * 3 _ Oxy = 2x? = x~ 2y +6 3 Integral permukaan yang diinginkan adalah Qxy — 2x?-—x - 2y + 6. 2xy — 2x? — x - 2; 6 [J -—<—"*us =I s ott) Wie a2 + 2 dx dy 2xy - 2x? x - 2y +6 = ff (et = aa ) VP 242 dx dy — oe — 2x2 x — = 2, SL, Gay 28 x ~2y + 6) dy dx = 22, @yt= any ayy) Pax = 2774 310 20. Sehubungan dengan integral permukaan, kita membatasi pembicaraan kita pada permukaan dua-sisi. Berikanlah suatu contoh permukaan yang bukan dua-sisi. Ambillah suatu pita kertas seperti ABCD pada Gambar 9-12. Pelintirlah pita itu sehingga titik A dan B masing-masing jatuh pada D dan C, seperti pada gambar. Jika n adalah normal positif di titik P pada permukaan, kita memperoleh bahwa bilamana n bergerak di sekeliling permukaan, ia akan berbalik arah pada saat sampai di P kembali. Jika kita mencoba memberi warna hanya pada satu sisi dari permukaan, kita akan memperoleh bahwa seluruhnya terwarnai. Permukaan ini, yang dinamakan Pita Moebius adalah suatu contoh dari permukaan satu sisi. Permukaan ini kadang- kadang dinamakan suatu permukaan tak terorientasi. Suatu permukaan dua sisi adalah terorientasi. A AD. SN Vi Gambar 9-12 TEOREMA DIVERGENSI 21. Buktikanlah teorema divergensi Misalkan S adalah suatu permukaan tertutup sehingga suatu garis sejajar sumbu koordinat memotong \$ paling banyak pada dua titik. Andaikan bahwa permukaan bagian bawah dan atas berturut-turut adalah S, dan S, dengan persamaan z = f(x, y) dan z = f(x, y). Nyatakanlah proyeksi permukaan ini pada bidang xy dengan R. Perhatikanlah bentuk | 311 dz ] dy dx I ov =f coy x=” aa, = z=f(x,y) oz = Maw. Ne oh dy dx = ff TAG yf) - A y. F)1 dy dx Untuk bagian atas S,, dy dx = cos 7, dS, = K + n, dS, karena normal 1, pada S, membuat suatu sudut lancip y, dengan k. 234 Untuk bagian bawah S,, dy dx = -cos 7, dS, = -k +n, dS, karena normal n, dan S, membuat suatu sudut tumpul +, dengan K. Maka If Asx, y, £) dy dx = y AR + 2's, ac y, f) dy dx =- ff AR +a as, s dan f] A(x y, f) dy dx - I Aja ¥, fp) dy dx = SPAR +n, as, + JJ AK +7, 4s, Sy 8 =JJ Ak-was \$ Re nds schingga i * Dengan cara yang sama, proyeksikan \$ pada bidang koordinat lainnya, if av =f Ape tas ox jens Jumlahkan (1), (2) dan (3), aA, AA, *“ kK) ends atau Wo-RaveNRta v Ss 312 Teorema tersebut dapat diperluas untuk permukaan di mana garis yang sejajar sumbu koordinat memotongnya lebih daripada dua titik. Untuk menyelesaikan perluasan ini, bagilah daerah yang di batasi S menjadi daerah bagian di mana syarat di atas dipenuhi. Prosedur yang sama digunakan dalam Teorema Green untuk bidang. ¥2. Periksalah teorema divergensi untuk A = (2x - z) i + x2yj~ xz* yang diambil pada daerah yang dibatasi oleh x = 0,x = 1,y=0,y=1,z=0,z=1. Pertama hitunglah J.J A + n dS di mana S adalah permukaan kubus pada Gambar 9-24, Bidang DEFG: n = i, x = 1. Maka SJasnas=J' J) (2-2i+j- 2k) Tay a ree a. Io @-ndydz=32 0 Bidang ABCO: f = -i, x = 0. Maka Sf KeRas=f ['ab+ Bay az = J" Jz ay az = 12 aco oo 00 Bidang ABEF: i = j, y = 1. Maka SJ Kewas = J" San 2+ xf - x2) Fd de = I" fixe dx dz = 13 io 00 oe 313 24 Bidang OGDC: n = j, y = 0. Maka Rewas =f F (ex ahi - x2%} + G) ax dz =0 owe _ ae Bidang BCDE: n= k, z = 1. Maka yoy 6 -oee ip SPA«nas =S' J (ex - tit yj - xk) °K dx dy = JJ’ ax dy = 10 oe _ oo Bidang AFGO: = -k, z = 0. Maka [PRePas =)" f (2a- xy) +B dx xy =0 ies At Jumlahkan J, [K+ dS =, +, +, +0-%,+0=%, Karena eee ‘1 pr IL ING -KRaveS’ J feos x 2x2) dx dy dz = — 7 000 a sehingga teorema divergensi untuk kasus ini terbukti. 23. Hitunglah J,J7°+ 7 dS, di mana \$ adalah suatu permukaan tertutup. 24. 314 Menurut teorema divergensi, Sf?- mas =f) o-rav s v a =f Goi 53+ Gb si + wav +2. evs lave 3v di mana V adalah volume benda yang dibatasi S. Hitunglah J, J (x2? dy dz + (x2y ~ 2°) dz dx + (2xy + y%z) dx dy] di mana \$ adalah seluruh permukaan setengah bola yang dibatasi oleh z = Va? — x? — y? dan z = 0, (a) dengan teorema divergensi (Teorema Green di ruang), (b) langsung. (a) Karena dy dz = dS cos 0, dz dx = dS cos B, dx dy = dS cos y, integralnya dapat ditulis J, J (xa? cos oF + (xy - 23) cos B + Oxy + yz) cos y} dS =f, J Re nas di mana A = xz4i + (ey — z3)j + Qxy + y°zJk dan n= (cos ai + (cos BY + (cos yk, normal satuan yang digambarkan dalam arah ke luar. Kemudian, dengan teorema divergensi, integral tersebut sama dengan es a a a IF +A av = Sl (oy + Sry - 2) + Syn} av = v Vv ‘Ox ay a I ee+y+aav ¥ di mana V adalah daerah dibatasi setengah bola dan bidang xy. Dengan menggunakan koordinat bola, integral ini sama dengan af J™ J 2. ® sin @ dr d® do = 2a? \$=0 “@=0 “r=0 5 () Jika S, adalah suatu permukaan cembung dari daerah setengah bola dan S2 adalah alasnya (z = 0), maka [faq aJ" [RE -y-eae J" [OR eee y=1 y=a z=0 [J cy-m eae J* 8 [RAPER ETA ae J [era ae J J oxy + 0 ax ay = ° (ee xea y=Vaow? Jj xz? dy dz = 0, W eey 2 ax ax =0 2 1 ff (2xy + y’z) dx dy = ff {2xy + y%(O)} dx dy r 8, 8, x=a la? — x? 2xy dy dx = 0 y=Na? 315 25. 316 Dengan tambahan di atas, kita memperoleh Vary? af* J . epee ea le J y=0 “x=0 x=0 ap Veo? +4 J x=0 V0 W Karena berdasarkan sifat simetri semua integral ini sama, maka dengan menggunakan koordinat kutub diperoleh hasil ie le x?Va? — x? — 2? dz dx z=0 y dy dx a pve? 2 fa ra j Vat = y? dy dx = 12 f J 2 sin? @ Va? — p p di x=0° y=0 ‘¢-0'p=0 4 Pp do 2naé 5 TEOREMA STOKES Buktikanlah Teorema Stokes. Misalkan S adalah sebuah permukaan sehingga proyeksinya pada bidang xy, yz dan xz adalah daerah-daerah yang dibatasi oleh kurva tertutup sederhana seperti di- tunjukkan pada Gambar 9-25. Andaikan S dapat dinyatakan oleh z = f(x, y), atau X = gy, 2), atau y = h(x, z) di mana f, g, h fungsi bernilai tunggal, kontinu dan mempunyai turunan. Kita akan menunjukkan bahwa SJ xR -Ras = jJ [V x(Ai+ Aj + AW] ¢nds =i, Aed di mana C adalah batas dari S. Pertama kita perhatikan iJ [V x (Ap) ¢ nds. 7 jk a a a| a, aa, Karena V x (A,i) =| — — —|= —j-— x ay az} ay A, 0 0 Gambar 9-15 dA,5 > dA, Maka [V7 x (Aj] «nds = Gt F-te as (1) Jika z = f(x, y) diambil sebagai persamaan untuk S, maka vektor posisi suatu titik pada S adalah r = xi + yj + zk = xi + yj + f(x, y)k nf a 5,4 y sehingga ——=j+——k=j+ : dy ay ay a Tetapi —— adalah suatu vektor singgung pada s, schingga ia tegaklurus pada i y Karena itu 5 ae =a 8 Substitusikanlah ini pada (1) untuk memperoleh aA, - - 8A, aa, A Gt ai-St nek) ds = CS 5 k- ak) as ay az dy ay at IV x (AD) «nds cu om a kas au x (AD) ends =- (++ S)ae : az Gz y Sekarang pada S, A,(x, y, 2) = A,[x, y, f(x, y)] = F& y); im 2M: , OA, 2 OF : Karena ita —! —— dan (2) menjadi dy oe dy ay os aF_ — aF IV x (ADl «nds = - — ak ds = - — dx dy ay ay 317 26. 318 Maka JJiv xan vias {,J-F ova di mana R adalah proyeksi S pada bidang xy. Menurut Teorema Green untuk bidang, integral terakhir ini sama dengan §, F dx di mana I’ adalah batas dari R. Karena di setiap titik (x, y) pada B nilai F sama dengan nilai dari A, di setiap titik (x, y, 2) pada C, dan karena dx sama untuk kedua kurva tersebut kita harus memperoleh \$ Fdx= \$, A, dx atau JJ (¥ x (AD) ei dS = §. A, dx Dengan cara yang sama, proyeksinya pada bidang koordinat yang lain memberikan . > SJivxcapreras=\$ aay, I Jivxapy as =A, a Jadi dengan menjumlahkan diperoleh SJ (WxAyends=§, Acd Teorema ini juga berlaku untuk permukaan S yang tidak memenuhi batasan yang diberikan di atas. Dengan pengandaian bahwa S dapat dibagi menjadi permukaan S,, S,.» » S, dengan batas C,, Cy... , C, sehingga memenuhi batas di atas, maka Teorema Stokes berlaku untuk setiap permukaan. Jumlahkan integral permukaan ini, maka diperoleh integral permukaan atas S. Jumlahkan integral garis atas C,, Cy, . . C, yang berkaitan, maka diperoleh integral garis atas C. Periksalah Teorema Stokes untuk A = 3yi — x2j + yz", di mana S adalah permukaan paraboloida 2z = x? + y* yang dibatasi oleh z = 2 dan C sebagai batasnya. Batas C dari \$ adalah suatu lingkaran dengan persamaan x? + y? = 4, z= 2 dan persamaan parameternya adalah x = 2 cos t, y = 2 sin, z = 2 di mana 0 St < 2m, Maka §. Avar=§, [By dx — xz dy + yz? dz] 0 = (3(2 sin t)(-2 sin t) dt - (2 cos t)(2)(2 cos t) dt T 2n Sil (12 sin? t + 8 cos? t) dt = 20x 0 27. Juga, i 7 OG VxA ao (+ xi-@+ 3k xAz|2 2 2) = @ewi- a dy es By —xz ye? Vatty?-22) * xityj-k dan n= = PB’ Wty wl Weryel dx dy Maka J (7 x A)+aas= Jf (7x Ayen aS te 4243) dx dy : 7 A Inkl 2 4 y? =f) pe ay dx dy Dalam koordinat kutub, ini menjadi on [2 : Jn fz {(p cos 6)(p'72) + p? cos ? + p'/2 + 3} p dp do = 20% Buktikanlah bahwa suatu syarat perlu dan cukup agar §, A + dr = 0 untuk setiap kurva tertutup C adalah kesamaan V x A = 0 berlaku. Syarat cukup. Andaikan V x A = 0. Maka berdasarkan Teorema Stokes, \$.a-a=J, (Vx A)endS=0 Syarat perlu. Andaikan \$, A * df = 0 di sekeliling setiap lintasan tertutup C, dan andaikan V x A #0 di suatu titik P. Kemudian andaikan V x A kontinu di suatu daerah P yang memuat P sebagai titik-dalamnya, di mana V x A #0. Misalkan S adalah suatu permukaan yang termuat dalam daerah itu dengan normalnya n di setiap titik mempunyai arah yang sama dengan V x A, yaitu V x A = on di mana O konstanta positif. Misalkan C batas dari S. Maka berdasarkan Teorema Stokes, ba-a@-SJ (WxArads -alfarads>0 28. 320 yang bertentangan dengan hipotesa bahwa \$. A df = 0 dan ini menunjukkan bahwa VxA=0. Ini mengakibatkan bahwa V x A = 0 juga suatu syarat perlu dan cukup untuk Pi suatu integral garis J pa + dF tidak bergantung pada lintasan yang menghubungkan f P, dan P,. Buktikanlah bahwa suatu syarat perlu dan cukup agar V x A = 0 adalah A = V9. Syarat cukup : Jika A = V6, maka V x A= V x Vo=0. Buktikan bahwa curl grad U = 0, nyatakan syarat yang sesuai untuk U. Syarat perlu. Jika V x A = 0, maka berdasarkan Soal 27, § A+ dt = 0 di sekeliling setiap Jintasan tertutup dan J. A ° df tidak bergantung dari lintasan yang menghubungkan dua titik yang kita ambil sebagai (a, b,c) dan (x, y, z). Kita definisikan (x, y, 2) = Jove Aedr= Jorra, dx + A, dy + A, dz] Maka farer (x + Ax, y, 2) — 00% y, 2) = IA, dx + A, dy + A, dz] oye Karena integral terakhir ini tidak bergantung pada lintasan yang menghubungkan (x, y, 2) dan (x + Az, y, 2), maka kita dapat memilih lintasan tersebut sebagai suatu garis lurus yang menghubungkan titik-titik ini, sehingga dy dan dz sama dengan nol. Jadi OK + AX, D-O00Y2 1 Perarya akties cae ee |G “KR dx = A(x + @ Ax, y, 2) 0<0<1 ax mae di mana di sini kita telah menggunakan hukum Nilai Rata-rata untuk integral. Ambil limit kedua ruas ini untuk Ax, ini memberi 26/9x = A,. Dengan cara yang sama kita dapat menunjukkan bahwa 06/0x = A,, 6/2 = A,. 3 9 _ 8 HL . | =e ee on ak a : 29. (a) Buktikanlah bahwa suatu syarat perlu dan cukup agar A,dx + A,dy + A,d: ‘menjadi suatu persamaan diferensial eksak adalah V x A = 0 di mana A = Aji + Aj + Ak (b) Tunjukkanlah bahwa dalam garis kasus berlaku fee Yo %) (Xy Yn %) {A, dx + A, dy + A, dz] = dd = 0% Yy %) — Kp Vp 2) &p ¥p 2) Oy ¥y 2) (a) Syarat perlu : a ab a Tika Ay dx + A, dy + A, dz = d@ = 5 dx +5 dy +5 de, maka iz ab a9 = @s 7’ @ 2. A, Kemudian dengan mendifferensialkannya dengan pengandaian kekontinuan turunan parsial pertamanya, kita memperoleh aA, 9A, aA, OA, 2A, A, Wy ke’ Oy ae OK yang persis sama dengan syarat V x A = 0. Metode Iain. Jika A, dx + A, dy + A, dz = do, maka re | a - % — % — A=Aji+ +Ak=—it+—j+—k=V HHAI TARE Sita ita ¢ Gan dai VxR=VxV0=0. Syarat cukup : Jika V x A = 0, maka menurut Soal 28, A = Vo dan A, dx +A, dy +A, dz=Aedi=Vo° va Sat y+ aa do for (b) Menurut (a), (x, y, 2) = ; A dx + A, dy + A, dz]. (a, b, c) Tanpa menuliskan fungsi yang diintegralkan, A, dx + A, dy + A, dz, kita memper- oleh Xp Yor 2) J yp Yo 2) Ne Ye %) J = . = OK Yq 2) — OH» Yp 2) pee) bo) be) ee 30. (a) (b) Buktikanlah bahwa F = (2xz° + 6y)i + (6x ~ 2yz)j + (3x°z? — y®)k adalah suatu medan gaya yang konservatif. (b) Hitunglah ), F + df tidak bergantung dari lintasan C yang menghubungkandua titik. Suatu syarat perlu dan cukup agar F konservatif adalah V x F = 0. i jE a a a “ox ayaa 2xz246y 6x-2yz 3x°2-y? Karena di sini V x F =| = 0, maka F konservatif. Metode 1. Menurut Soal 29, F * di = (2xz? + 6y) dx + (6x — 2yz) dy + (3x22? - y?) dz adalah suatu differensial eksak do, di mana ¢ memenuhi cr a a —ps —— = 6x - 2) ane 2 yt (Dr = 2x + 6 @) = 6x2 GB) Fo = 3x4 y Dari sini berturut-turut kita memperoleh b= x2) + xy +f, (2) = Sny-y'Zt F(x, 2) O = x2? - yz + F(x, y) Ini akan konsisten bilamana f, (y, z) = -y°z + ¢, f,(x, 2) = x29 + ¢, f(x, y) = Oxy +c sehingga di sini = x°z + 6xy — y’z + c. Jadi menurut Soal 6.38, (2, 1, -1) = (2, 1, -1) ON” Baad + oy-yotcl Oh a15 (,-1, 1D) a, -1, D Sebagai kemungkinan lain, kita catat bahwa dengan pemeriksaan diperoleh F + di = (2xz? dx + 3x2? dz) + (6y dx + 6x dy) - (2yz dy + y? dz) = (d(x°2) + d(6xy) — d(y*z) = d(x°z? + 6xy — y*z +c) dan di sini > ditentukan. Metode 2. Karena integralnya tidak bergantung pada lintasan, kita dapat memilih suatu lintasan untuk menghitungnya; khususnya kita dapat memilih lintasan yang memuat garis lurus dari (1, 1, 1) ke (2, -1, 1), kemudian dilanjutkan ke (2, 1, 1) dan setelah itu ke (2, 1, -1). Hasilnya adalah 2 1 -1 Pe-oass (12-2) dy + J “022 - 1) da = 15 xel yet zl di mana integral pertama diperoleh dari integral garis dengan memisalkan y = -1, z= 1, dy = 0, dz = 0; integral kedua dengan memisalkan x = 2, z = 1, dx = 0, dz = 0; dan integral yang ketiga dengan memisalkan x = 2, y = 1, dx = 0, dy =0. (©) Secara fisis J. F + dr menyatakan usaha yang dilakukan untuk menggerakkan suatu obyek dari (1, -1, 1) ke (2, 1, —1) sepanjang C. Dalam suatu medan gaya konservatif, usaha yang dilakukan tidak bergantung pada lintasan C yang menghubungkan titik-titik ini. 9.11. SOAL-SOAL LATIHAN INTEGRAL LIPAT DUA 1. (@ Gambarkanlah daerah R di bidang xy yang dibatasi oleh y? = 2x dan y = x. (b) Tentukanlah luas daerah R. (c) Tentukanlah momen inersia kutub dari R, andaikan rapat massanya tetap sebesar ©. 2, Tentukanlah pusat daerah pada Soal 1. 3. Diketahui j : [Po + y) dx dy, (a) Gambarkanlah daerahnya dan berikanlah suatu tafsiran fisik yang mungkin dari integral lipat dua ini. (b) Ubahlah urutan pengin- tegrasiannya. (c) Hitunglah integral lipat dua ini. 7 mx ™ 442) 4, Tunjukkanlah bahwa I J, *, sin — dy dx + fed 7, sin — dy dx = 2y 2y ® 5. Tentukanlah isi tetrahedron (bidang-4) yang dibatasi oleh x/a + yfb + z/c = 1 dan bidang-bidang koordinat. 6. Tentukanlah isi daerah yang dibatasi oleh z = x? + y, z= 0, x = -a,x=a,y=-a, y=a 7. Tentukanlah (a) momen inersia terhadap sumbu x dan (b) pusat dari daerah pada Soal 6. INTEGRAL LIPAT TIGA 1 a 2 8. (a) Hitunglah J’ J J xyz dz dy dx. (b) Berikanlah suatu tafsiran x=0 “y=0° zeV4y’ fisis untuk integral pada (a). 9. Tentukanlah (a) isi dan (b) pusat daerah di oktan pertama yang dibatasi oleh x/a + y/o + 2c = 1, dimana a, b, c positif. 10, Tentukanlah (a) momen inersia dan (b) jari-jari kitaran terhadap sumbu z dari daerah pada Soal 9. 11. Tentukanlah massa daerah yang bersesuain dengan x? + y? + 2? < 4,x 20,220, jika rapat massanya sama dengan xyz. 12, Tentukanlah isi daerah yang dibatasi z = x? + y? dan z = 2x. TRANSFORMASI PADA INTEGRAL LIPAT DUA 13. Hitunglah jJ Vx? + y? dx dy, di mana r adalah daerah x? + y? < a? e 14. Hitunglah jJ eo +Y) ax dy, jika R adalah daerah pada Soal 13. 15, Dengan menggunakan transformasi x + y = u, y = uv, tunjukkanlah bahwa e-1 Ji, fis omen ay ax = 16. Tentukanlah luas daerah yang dibatasi oleh xy = 4, xy = 8 xy? = 5, xy? = 15. [Petunjuk : Misalkan xy = u, xy* = v.] 17. Tunjukkanlali bahwa isi benda yang diperoleh dengan memutar daerah di kuadran pertama yang dibatasi oleh parabola y* = x, y* = 8x, x? = y, x? = 8y terhadap sumbu x adalah 279n/2. [Petunjuk : Misalkan y? = ux, x? = vy.] 18. Tentukanlah luas daerah di kuadran pertama yang dibatasi oleh y = = y', x = 4y’. 3, y = 4x3, x 19. Misalkan R adalah daerah yang dibatasi oleh x + y = 1, x = 0, y = 0. Tunjukkanlah bahwa oo Jj Socos ¢ Y) dx dy = sin 1, (Petunjuk : Misalkan x - y =u, x+y =I = TRANSFORMASI PADA INTEGRAL LIPAT TIGA 20. Tentukanlah isi daerah yang dibatasi oleh z = 4 — x? — y? dan bidang xy. 324 21. Tentukanlah pusat daerah pada Soal 20, andaikan rapat massanya tetap sebesar ©. .(@) Hitunglah J, J J Vat + y?+ 2 dx dy dz, di mana R adalah daerah yang dibatasi oleh bidang z = 3 dan z = Vx? +y*, (b) Berikanlah suatu tafsiran fisis dari integral pada (a) [Petunjuk : Bentuklah integral tersebut dalam koordinat silinder dengan urutan 9, z, 9]. 8 23. Tunjukkanlah bahwa isi daerah yang dibatasi oleh kerucut z = Vx? + y? dan paraboloida z = x? + y* adalah 7/6. 24, Tentukanlah momen inersia dari suatu silinder lingkaran tegak berjari-jari a dan tinggi b terhadap sumbunya jika rapat massanya di setiap titik sebanding dengan jaraknya ke sumbu tersebut. dx dy dz 25. (a) Hitunglah J{J ————, di mana R adalah daerah yang dibatasi oleh Rta y+ 22 bole x? + y? + 2? = a? dan x? + y? + 2? = b’ dengan z > b > 0. (b) Berikanlah suatu tafsiran fisis dari integral pada (a). 26. (a) Tentukanlah isi daerah yang di atas dibatasi oleh bola r = 2a cos @, dan di bawah dengan kerucut ¢ =o, di mana 0 < 0 < 12. (b). Bahaslah untuk kasus a = m2. 27. Tentukanlah pusat suatu potongan setengah bola yang jari-jari luamya a dan jari-jari dalamnya b jika rapat massanya (a) tetap, (b) berubah sebanding jarak kuadratnya terhadap alas. Bahaslah kasus a = b. INTEGRAL GARIS 28. oe) i. ® (x +y) dx + (y — x) dy] sepanjang (a) parabola y? = x, (b) suatu garis lurus, (c) garis lurus dari (1, 1) ke (1, 2) dan dilanjutkan ke (4, 2), (d) kurva x=Wetely=e+.. 29. Hitunglah j. [(2x - y +4) dx + (Sy + 3x - 6) dy] di sekeliling suatu segitiga pada bidang xy dengan titik-titik sudut (0, 0), (3, 0), (3, 2) yang dijalani berlawanan dengan arah jarum jam. 30. Hitunglah integral garis pada soal sebelumnya di sekeliling suatu lingkaran berjari- jari 4 dan berpusat di (0, 0). 31. (a) Jika F = (x - y°}i + 2xyj, hitunglah J, F + df sepanjang kurva C di bidang xy yang persamaannya y = x? — x dari titik (1, 0) ke (2, 2). (b) Berikanlah tafsiran fisis dari hasil yang diperoleh. 32. Hitunglah J. (2x + y) ds, di mana C adalah kurva pada bidang xy yang persamaan- nya x? + y? = 25 dan s adalah panjang busur parameter dari titik (3, 4) ke (4, 3) sepanjang lintasan terpendek. 33. Jika f = (3x - 2y)i + (y + 22)j — x?k, hitunglah J. F + dr dari (0, 0, 0) ke (1, 1, 1) di mana C adalah lintasan yang terdiri dari (a) kurva x = t, y = P, z =, (b) suatu garis lurus yang menghubungkan titik tersebut. (c) garis lurus dari (0, 0, 0) ke (0, 1, 0), kemudian ke (0, 1, 1) dan setelah itu ke (1, 1, 1). (d) kurva x = 2, z = y?, 34, Jika T adalah vektor singgung satuan pada suatu kurva C (di bidang atau di ruang) dan F adalah suatu medan gaya yang diberikan, buktikanlah bahwa terhadap syarat yang sesuai akan berlaku J, F ¢ dr = |, F * T ds di mana s adalah panjang busur parameter. Tafsirkanlah hasilnya secara fisis dan ilmu ukur. TEOREMA GREEN PADA BIDANG KETIDAKBERGAN- TUNGAN PADA LINTASAN. 35. Periksalah Teorema Green pada bidang untuk §, [(x? = xy?) dx + (y? - 2xy) dy] di mana C adalah suatu bujur sangkar dengan titik-titik sudut (0, 0), (2, 0), (2, 2), (0, 2). 36. Hitunglah integral garis dari (a) Soal 29 dan (b) Soal 30 dengan menggunakan Teorema Green. 37. (a) Misalkan C adalah sembarang kurva tertutup sederhana yang membatasi suatu daerah dengan luas A. Buktikanlah bahwa jika a,, a,, a,, b,, b,, b, adalah konstanta, maka \$. (x + ay +a,) dx + (b,x + by +b) dy] = (6, - aA (b) Tethadap syarat apakah integral garis di sekeliling suatu lintasan akan menjadi nol? 38. Tentukanlah luas daerah yang dibatasi oleh hiposikloida x + y% = 2%, (Petunjuk : Persamaan parameternya adalah x = a cos’ t, y =a sin? t, 0 , y =p sin 6, buktikanlah bahwa '/, Jixay-yag= uf p de dan berikanlah tafsirannya. 40. Periksalah Teorema Green pada bidang untuk i [G2 — 2y) dx + xy? dy), di mana C adalah batas daerah yang dibatasi lingkaran x? + y? = 4 dan x? + y? = 16. 41. (a) Buktikanlah bahwa Jf"), [xy = y‘ + 3) dx + (dx + (x? - 4xy?) dy] tidak bergantung pada lintasanyang menghubungkan (1, 0) dan (2, 1). (b) Hitunglah inte- gral pada (a). 42. Hitunglah J. [(2xy? — y? cos x) dx + (1 — 2y sin x + 3x2y?) dy] sepanjang parabola 2x = ny? dari (0, 0) ke (#2, 1). 43. Hitunglah integral garis pada soal sebelumnya di sekeliling suatu jajaran genjang dengan titik-titik sudut (0, 0), (3, 0), (5, 2), (2, 2). 44, Buktikanlah bahwa jika x = f(u, v), y = g(u, v) mendefinisikan suatu transformasi yang memetakan suatu daerah r pada bidang xy menjadi daeah R’ di bidang uv, maka J Siac ay = 1 2 aa av dengan menggunakan teorema Green pada integral '/, J. [x dy —y dx] dan tafsirkanlah secara ilmu, ukur, INTEGRAL PERMUKAAN 45. (a) Hitunglah J J 2 + y9 d, di mana S adalah permukaan kerucut 2? = 362 + ¥?) yang dibatasi oleh z = 0 dan z = 3. (b) Tafsirkanlah secara fisis hasil dari (a). 46. Tentukanlah luas permukaan bidang 2x + y + 2z = 16 yang dipotong oleh (a) x = 0,y=0,x=2y = 3, () x= 0, y = 0 dan x? + y? = 64. 47. Tentukanlah luas permukaan paraboloida 2z = x? + y yang terletak di luar kerucut =\eey. 48. Tentukanlah fuas permukaan daerah persekutuan yang diperoleh dengan mengiris- kan silinder x? + y? = a? dan x? + 2 = 2. 50; (a) Tunjukkanlah bahwa umumnya persamaan r = r(u, v) secara ilmu ukur me- nyatakan suatu. permukaan, (b) Bahaslah arti imu ukur dari u = c,, v = c, di mana c, dan c, konstanta. (c) Buktikanlah bahwa elemen panjang busur pada permukaan ini diberikan oleh ds? = E du? + 2F du dv + G dv? C3 or or or or di mana E = — + —, F= : a” Ou *“—G=—+—_ du av av av 51. (a) Sehubungan dengan Soal 50, tunjukkanlah bahwa elemen las permukaannya " diberikan oleh dS = VEG - F* du dv. (6) Dari (a), turunkanlah bahwa luas permukaan r = r(u, v) adalah j, j VEG -F du dv. juk : an oe OF Gunakanlah kenyataan bahwa ey x oan Vv av du av dan kemudian gunakanlah kesamaan (A x B) * (C x D) = (A + OB + D) - A+DB +. 52. (a) Buktikanlah bahwa i = (a sin u cos v)i + a(sin u sin v)j + (a cos wk, OS us m, 0 < v S 2 menyatakan suatu bola berjari-jari a. (b) Gunakan soal 51 untuk menunjukkan bahwa luas permukaan bola tersebut adalah 4na2. TEOREMA DIVERGENSI 53. Periksalah teorema divergensi untuk A = (2xy + 2)i + yj — (x + 3y)k pada daerah yang dibatasi oleh 2x + 2y + 2 = 6,x=0, y =0,2=0. 54, Hitunglah J, J F «5 dS, di mana F = (2? ~ x)i- xyj + 3k dan \$ adalab permukaan yang dibatasi oleh z = 4 — y*, x = 0, x = 3 dan bidang xy. 55. Hitunglah i J A ii dS, di mana A = (2x + 3z)i - (xz + y)j + (y? + 2z)k dan S adalah permukaan bola yang berpusat di (3, -1, 2) dan berjari-jari 3. 56. Tentukanlah nilai J, J [x dy dz + y dz dx + z dx dy], di mana S adalah permukaan yang dibatasi silinder x? + y? = 9 dan bidang x = 0 dan z = 3, (a) dengan menggunakan teorema divergensi, (b) langsung. 328 57. Hitunglah i J (axe dy dz ~ y? de dx + yz dx dy}, di mana S adalah permukaan kubus yang dibatasi oleh x = 0, y = 0, z= 0, x = 1, y = 1, z= 1, (a) langsung, (b) dengan menggunakan teorema green di ruang (teorema divergensi). 58. Buktikanlah bahwa J, j (V7 x A) +i dS = 0 untuk suatu permukaan tertutup S. 59. Buktikanlah bahwa ie j i dS = 0, di mana fi adalah normal yang digambarkan ke juar pada permukaan tertutup S. 60. Jika n adalah normal satuan yang digambarkan ke luar pada suatu permukaan ter- tutup S yang membatasi daerah V, buktikan bahwa (SS avaay =S TEOREMA STOKES 61. Periksa Teorema Stokes untuk A = 2yi + 3xj — zk, di mana S adalah separuh permukaan bagian atas bola x? + y? + z? = 9 dan C adalah batasnya. 62. Periksa Teorema Stokes untuk A = (y + 2)i— x2j + yk, di mana S adalah permukaan dari daerah di oktan pertama yang dibatasi oleh 2x + z = 6 dan y = 2 dan tidak terletak dalam (a) bidang xy, (b) bidang y = 2, (c) bidang 2x + z = 6 dan C adalah batas yang bersesuaian. 63. Hitunglah fe j (V7 x A) + ndS, di mana A = (x - 2)i + (x? + yz)j — 3xy"k dan S adalah permukaan kerucut z = 7 — Vx? + y? di atas bidang xy. 64. Jika V adalah daerah yang dibatasi oleh permukaan tertutup S dan B = V7 x A, buktikanlah bahwa J, J Bn dS = 0. 65. (a) Buktikanlah bahwa F = (2xy + 3ji + (x? - 4z)j - 4yk adalah suatu medan gaya yang konservatif. (b) Tentukanlah \$ sehingga F = V6. (c) Hitunglah J, F + df, di mana C adalah suatu lintasan dan (3, -1, 2) ke (2, 1, -1). 66. Misalkan C adalah suatu lintasan yang menghubungkan sebuah titik pada bola x + y? +z? = 2? ke sebuah titik pada bola x? + y? + 2? = b?, Tunjukkanlah bahwa jika Fa 5?h di mama f= ads sh+ mala | Fed ew ot 67. 68. 69. 10. il. Dalam Soal 66, hitunglah f. Fe drjika F = f(r) di mana f(r) diandaikan kontinu. Selidikilah apakah ada fungsi \$ sehingga F = V9, di mana (a) F = (xz — y)i + (vy + 2°)j + Gxz? — xy)k. (b) F = 2xei + (cos z - x°e)j - (y sin z)k. Jika ada, tentukanlah. Sclesaikanlah persamaan differensial (2 - 4xy) dx + (6y — 2x) dy + (3xz* + 1) dz =0. JAWABAN SOAL-SOAL LATIHAN (b) 2/3; (c) 480/35 = 72m/35, di mana M adalah massa dari R. %= 45,7 =1 2 4x? (b) Pp ie (x + y) dy dx, (©) 241/60 abci6 8a'3 112 4 , (a) a6o = —— Ma’, di mana M = massa 45 15 7 (b) x=y=0,2=— 2? 15 (a) 3/8 (a) abci6; (b) X = a/4, ¥ = b/4, Z = cl4 (a) M(@? + b/10. (b) V@ + ba/10 43 . 12 m2 . 2, Ta? 18. 21. 22. 26. 27. 28. 29. 31. 32. 33. 35. 37. 38. 41. . m1 — e*) . 2In3 V8 ). 80 x=y=0,2=% 2mm(2n2 - 1/2 - 3%, Ma? . (a) 47 In (a/b) 4/, ma3(1 — cos* 0) umbu z sebagai sumbu simetri 0, 2 = %, (at — ba? — b?); 0, 2 = %/, (a — bIV(aS — b) (a) 34/3; (b) U1, ©) 14, @) 32. 12 . 640 (a) 124/15 15 (a) 23/15, (b) 5/3, (¢) 0, @) 13/30. Nilai bersama = 8 () a, =), 3na/8 ). Nilai bersama = 1200 b) 5 331 42. 43. 45. 46, 47. 48. 49. 53. 54. 55. 56. 57. 61. 62. 63. 66. 67. 68. 332 wld 0 (a) 9n (a) 9 (b) 24m 24,(5N5 — 1) 6x 16a? Nilai bersama = 27 16 1087 81n 3/2 Nilai bersama = 97 Nilai bersama tersebut adalah (a) 6, (b) -9, (c) -18 120 . (b) = xy — dyz + 3x + konstanta (c) 6 PP ere ae (@) 6 tidak ada. (b) o = xe cos z + konstanta. xz — 2x’y + 3y + z = konstanta. | 0) DERET FOURIER 10.1. FUNGSI PERIODIK Suatu fungsi f(x) dikatakan mempunyai periode T atau periodik dengan periode T jika untuk. setiap x berlaku f(x + T) = f(x), di mana T konstanta positif, Nilai positif terkecil T dinamakan periode terkecil atau disingkat petiode f(x). Contoh 1. Fungsi sin x mempunyai periode 2n, 4x, 67, . . .karena sin (x + 2n), sin (x + 4z), sin (x + 6m), ... sama dengan sin x, Tetapi 2x adalah periode terkecil atau periode sin x. Contoh 2. Periode fungsi sin nx atau cos nx, di mana n bilangar bulat positif, adalah 2n/n. Contoh 3. Periode tan x adalah 7. Contoh 4. Suatu konstanta mempunyai periode suate bilangan positif. Contoh fainnya dari fungsi periodik ditunjukkan dalam grafik pada Gambar 10-1(a), (b) dan (c) di bawah. 333 © Gambar 10-1 10.2 DERET FOURIER Misalkan f(x) didefinisikan pada selang (-L, L) dan di luar selang ini olehf(x + 2L) = f(x), yaitu diandaikan bahwa f(x) mempunyai periode 2L. Deret Fourier atau uraian Fourier yang bersesuaian dengan f(x) ditentukan oleh see 10-1) nx nx +E (a, cos — + b, sin —) 2 S L L di sini koefisien Fourier a, dan b, adalah i 7c nx 7 [i f(x) cos dx (10-2) Jika f(x) mempunyai periode 2L, maka koefisien a, dan b, dapat ditentukan ekivalen (setara) dengan bentuk 1 c+ 2L nm b= de" 108) cos — ax (10-3) 1 pe+2L ARK b= Je” #08) sin <— ax di sini c suatu bilangan riil. Dalam kasus khusus, c = -L, (3) menjadi (2). Untuk menentukan a, pada (1), kita gunakan (2) atau (3) dengan n = 0. 1 yk Sebagai contoh, dari (2) kita lihat bahwa a, = —— Je #00) dx. Pethatikantah 1 oi bahwa suku konstanta pada (1) sama dengan a iE f(x) dx, yang merupakan 2 2L rata-rata f(x) pada suatu periodenya. Jika L = 1, deret (1) dan koefisien (2) atau (3) sangat sederhana, Fungsi dalam kasus ini mempunyai periode 2n. ; 10.3. SYARAT DIRICHLET Teorema 16-1. Andaikan bahwa : (1) f(x) terdefinisi dan bernilai tunggal kecuali mungkin di sejumlah berhingga titik pada (-L, L). (2) f(x) periodik di luar (-L, L) dengan periode 2L. (3) f(x) dan f(x) kontinu bagian demi bagian pada (-L, L). Maka deret (1) dengan koefisien (2) atau (3) konvergen ke : (a) f(x), bilamana x adalah suatu titik kekontinuannya. +O+ - 0) (>) LR+O + FE= 9) itacnana x adalah suatu titi ketakkontinuannya.- 2 Pada teorema ini, f(x + 0) dan f(x — 0) berturut-turut adalah limit kiri dan limit kanan dari f(x) di x dan menyatakan lim f(x + €) dan lim f(x — €) di sini € > 0, Ini sering 20 4) kali dituliskan lim f(x+ €) dan lim f(x — €) untuk 90 0 menyatakan bahwa €0 dari arah nilai-nilai positif. Buktinya dapat dilihat pada Soal 10-18 dan i0-23. Syarat (1), (2) dan (3) yang dinyatakan pada f(x) adalah syarat cukup tetapi bukan syarat perlu, dan secara umam dalam prakteknya dipenubi, Sekarang ini tidak diketahui syarat perlu dan cukup untuk kekonvergenan deret Fourier. Hal yang menarik adalah bahwa kekontinuan f(x) tidak sendirian menjamin kekonvergenan suatu deret Fourier. 10.4. FUNGSI GANJIL DAN GENAP Suatu fungsi f(x) dinamakan ganjil jika f(-x) = -f(x). Jadi x°, x5 — 3x° + 2x, sin x, tan 3x semuanya adalah fungsi ganjil. Suatu fungsi f(x) dinamakan genap jika f(-x) = f(x). Jadi x‘, 2x°— 4x? + 5, cos x, e* + e* semuanya adalah fungsi genap. Fungsi yang grafiknya digambarkan pada Gambar 10-1(a) dan 10-1(b) berturut-turut adalah fungsi ganjil dan genap; tetapi pada Gambar 10-1(c) fungsinya tidak ganjil dan genap. Dalam deret Fourier yang berkaitan dengan suatu fungsi ganjil, hanya suku-suku sinus yang dapat disajikan. Dalam deret Fourier yang berkaitan dengan suatu fungsi genap, hanya suku-suku cosinus (dan mungkin suatu konstanta yang kita pandang se- bagai suatu suku cosinus) yang dapat disajikan. 335 10.5 DERET FOURIER SINUS ATAU KOSINUS SEPARUH JANGKAUAN (HALF RANGE) Suatu deret Fourier sinus atau cosinus separuh jangkauan berturut-turut adalah suatu deret di mana yang disajikan hanya suku-suku sinus atau hanya suku-suku kosinus, maka fungsi tersebut didefinisikan pada selang (0, L) [separuh selang (-L, L), yang merupakan penjelasan untuk istilah separuh jangkauan] dan kemudian fungsi tersebut dikelompokkan sebagai ganjil atau genap, agar ia dapat didefinisikan pada separuh selang lainnya, namakanlah (-1, 0). Dalam kasus ini, diketahui : 2 © nt a=, b= Jy f09 sin “= 4x untuk separuh jangkanan deret sinus (4) 1X. 7 ak untuk separuh jangkauan deret cosinus 2 b= 0, =I 400) cos IDENTITAS PARSEVAL Identitas ini menyatakan bahwa (5) 1 yL a, oo Ty fe (900 Pax = P+ Zee, + wD jika a, dan b, adalah koefisien Fourier yang bersesuaian dengan f(x) dan jika f(x) memenuhi syarat Dirichlet. 10.6. PENDIFFERENSIALAN DAN PENGINTEGRALAN DERET FOURIER Pendifferensialan dan pengintegralan deret Fourier dapat dikerjakan dengan menggunakan teorema tentang deret yang berlaku secara umum untuk setiap deret. Harus diperhatikan bahwa teorema itu memberikan syarat cukup dan bukan syarat perlu. Teorema berikut ini untuk pengintegralan sering digunakan. Teorema 10-2. Deret Fourier untuk f(x) dapat diintegralan suku demi suku dari a ke x dan deret yang dihasilkan akan konvergen seragam ke J,” f(u) du asalkan f(x) kontinu bagian demi bagian pada -L < x < L dan a, x keduanya terletak pada selang ini. 336 NOTASI KOMPLEKS UNTUK DERET FOURIER Dengan menggunakan kesamaan Euler, e®=cosO@+isin®, e= cos O-isin® di sini i=~V—J deret Fourier untuk f(x) dapat ditulis sebagai Sf(®) = x cent : ie ine. di mana as la fee dx Dalam menuliskan kesamaan (7), kita mengandaikan bahwa syarat Dirichlet berlaku dan selanjutnya f(x) kontinu pada x. Jika f(x) tak kontinu di x, ruas kiri (7) diganti F(x + 0) + f(x -0) den: gan 2 10.7 FUNGSI TEGAKLURUS Dua vektor A dan B dinamakan tegaklurus jika A» B = 0 atau A.B, + A,B, + A,B, =0, di mana A =A,i+ Aj +AK dan B=Bi+BY+Bk Walaupun secara ilmu ukur atau fisis jelas, gagasan ini dapat diperumum untuk vektor-vektor dengan lebih dari tiga Komponen. Khususnya, kita dapat berpikir bahwa suatu fungsi, katakanlah A(x), dipan- dang sebagai suatu vektor dengan tak berhingga komponen (yaitu suatu vektor berdi- mensi tak berhingga); nilai dari setiap komponen ditentukan dengan menggantikan suatu nilai khusus x pada selang (a, b). Masuk akal bahwa dalam kasus ini didefinisikan dua fungsi A(x) dan B(x) saling tegaklurus pada (a, b) jika J A(x) B(x) dx = 0 (10-9) Suatu vektor A dinamakan suatu vektor satuan atau vektor yang dinormalkan jika panjangnya 1 satuan, yaitu jika A ¢ A = A? = 1. Perluasan konsep ini, kita mengatakan bahwa fungsi A(x) adalah normal atau dinormalkan pada (a, b), Jika li {AQ}? dx = 1 1-10-10) Dari hal di atas, jelaslah bahwa kita dapat memandang suatu himpunan fungsi {6,(x)}, =1,2,3,... yang besifat (10-11) i, J, 4,000,0) dx = 0 men J? (er ax =1 Dalam kasus ini, setiap anggota himpunan saling tegaklurus dengan setiap anggota lain- nya di himpunan itu dan juga telah dinormalkan. Kita namakan himpunan fungsi yang demikian sebagai suatu himpunan ortonormal pada (a, b). Persamaan (11) dan (12) dapat diringkaskan dengan menuliskan (10-12) b JP 4,00 0,09 dx = 8, di sini 8,,,, dinamakan Lambang Kronecker dan didefinisikan bernilai 0 jika m #n dan 1 jika m= n. Seperti halnya dengan sembarang vektor r di ruang dimensi 3 dapat diuraikan dalam sekelompok vektor-vektor satuan yang saling tegaklurus i, j, k berbentuk r= ¢, i + ¢, j +c, k, maka kita memandang kemungkinan penguraian suatu fungsi f(x) dalam sekelom- pok fungsi-fungsi yang ortonormal, yaitu f@) = Deo) asxsb (10-14) Deret tersebut, yang dinamakan deret ortonormal, adalah perumuman dari deret Fourier dan sangat banyak kegunaannya baik secara teoretis maupun penerapannya. (10-15) rb J woow,Cow,ondx = 5, di sini w(x) 2 0, kita seringkali mengatakan bahwa y,(x) dan y,(x) ortonormal terhadap fungsi kepadatan (density function) atau fungsi berbobot (weight function). Dalam kasus ini, himpunan fungsi iNet 4,(x)} adalah suatu himpunan ortonormal pada (a, b). 10.8. SOAL-SOAL LATIHAN DAN PENYELESAIANNYA DERET FOURIER 10.1. Gambarkanlah setiap fungsi berikut. O, kita memperoleh ketaksamaan Bessel 2 av (6) 1 +F@ +e) s— [i ro zi : Jika tanda sama yang berlaku, kita memperoleh kesamaan Parseval (Soai 10.13). Kita dapat berpikir bahwa S,(x) seperti menyatakan suatu pendekatan untuk f(x), sedangkan ruas kiri (2) setelah membaginya dengan 2L menyatakan kesalahan rata-rata kuadrat dari pendekatan ini. Kesamaan Parseval menunjukkan bahwa untuk M-e, kesalahan rata-rata kuadratnya mendekati nol, sedangkan ketaksa- maan Bessel menyatakan kemungkinan bahwa kesalahan rata-rata kuadrat ini tidak mendekati nol. Hasil tersebut dihubungkan dengan gagasan dari kelengkapan (completeness) suatu himpunan ortonormal. Sebagai contoh, jika dihilangkan satu atau lebih suku pada suatu deret Fourier (misalnya cos 4mx/L), maka tidak pernah dapat dibuat kesalahan rata-rata kuadratnya mendekati nol bagaimanapun juga banyaknya suku yang diambil. Untuk kemiripannya dengan vektor-vektor di ruang dimensi tiga, lihat Soal 10.46, DIFFERENSIAL DAN PENGINTEGRALAN DERET FOURIER 10.16. Tentukantah suatu deret Fourier untuk f(x) = x, 0 < x < 2, dengan mengintegral kan deret pada Soal 10.12(a) ays 1? (b) Gunakanlah (a) untuk menghitung deret (a) Dari Soal 10.12(a), oe (1) Integraikan kedua ruas dari 0 sampai x (gunakanlah Teorema 10.2 dan kalikan dengan 2, kita memperoleh _ 16 - Tt 1 2nx _ 1 3mx ) 2) x? = C - — (cos— - — cos—— cos —— - | mw 2 2 2 3 2 : since Get, tt di sini C= (1- + qt) (b) Untuk menentukan C dengan cara lain, perhatikanlah bahwa (2) menyatakan deret Fourier cosinus untuk x? pada 0 < x < 2. Kemudian, karena pada kasus ini L = 2, maka ay pe 1 (2 4 C= =—_], fw) ax = — J, dx = — 2 Lf 2 I 3 Kemudian dari nilai C pada (a), kita memperoleh qm io a Oe > =1l-—+—-—+ = . | a 2 RP 16 3 «(12 10.17. Tunjukanlah bahwa pendifferensialan suku demi suku deret pada Soal 10.12(a) tidak berlaku. 1X 2nx 3nx Pendifferensialan suku demi suku memberikan 2(cos—>- — eos + 608 ~ ..) Karena suku ke-n deret ini tidak mendekati nol, maka deretnya tak konvergen untuk suatu nilai x. KEKONVERGENAN DERET FOURIER 10.18. Buktikanlah bahwa 1 sin (M = '/,)t (a) — + cos t + cos 2t +... + cos Mt = —————_ 2 2 sin Yt 1 sin (M + /,)t 1 1 fo. sin(M + Yt 1 oy fe fo Soe a = 1 2 sin, t 2 7 2 sin /,t 2 (a) Diketahui cos nt sin ¥, t = '/, {sin(n + ¥/,)t - sin (n - ¥/,)t} Jumlahkan dari n = 1 sampai M, maka sin '/, (cos t + cos 2t + . . . + cos Mt} = (sin 7/,t — sin '/,t) + (sin ‘/,t — sin®,t) +... + (sin (M + '/,)t— sin (M — ¥/,)0) /, {sin (M + ¥,)t- sin ¥/, t} Bagilah dengan sin '/,t dan tambah '/,, hasil yang diinginkan tercapai. (b) Integratkan hasil pada (a) berturut-turut dari 1 sampai 0 dan dari 0 sampai . Ini memberikan hasil yang diinginkan, Karena integral dari semua suku cosinusnya adalah nol. 10.19. Buktikanlah bahwa limp J 60x) sin nx dx tip J 508) cos nx dx = 0 jika f(x) kontinu bagian demi bagian Ini langsung diperoleh dari Soal 10.15., karena jika deret + = (#, + bt) konvergen, maka lim a, = lim b, = 0. Hasil ini kadang-kadang dinamakan Teorema Riemann. 10.20. Buktikanlah bahwa ian f(x) sin (M+/,)x dx = 0, Kontinu bagian demi bagian. Diketahui: es x ® |, F(x) sih (M+"/,)x dx = ie { f(x) sin 'V,x}cos Mx dx + ie (f(x) cos '/,x}sin Mx dx Maka hasil yang diinginkan langsung diperoleh dengan menggunakan hasil Soal 10.19 dengan f(x) berturut-turut diganti oleh f(x) sin ¥/,x dan f(x) cos ¥,x yang juga kontinu bagian demi bagian jika f(x) ada. Hasil tersebut juga dibuktikan bilamana limit pengintegralannya a dan b diganti dengan -n dan 7m. 10.21. Andaikan bahwa L = 7, yaitu bahwa deret Fourier yang bersesuaian dengan f(x) mempunyai periode 2L = 2m, tunjukkanlah bahwa sin (M + ¥,)t 2 sin Zt Gunakanlah rumus untuk koefisien Fourier dengan L = n , kita memperoleh 1 SM(x) = = + ya, cos nx + b, sin nx) = — fr ft +x oi . 354 1 a, cos nx + b, sin nx = (—— it fu) cos nu du) cos nx + nu 1 (— ih f(a) sin nu du) sin nx nt _— jr ‘f(u) (Cos nu cos nx + sin nu sin nx) du Lye = JF f(a) c0s atu - x) du Juga, ay 7 ” — te f(a) du Maka S,(x) = = + (a, cos nx + b, sin nx) = x jr f(a) du + ~ ¥ fr f(a) cos n(u - x) du 1 1 =— Srp {— + cos nun} du t 2 lo sin (M +) (u- x) = JE py BOO? 4, Ea 2 sin ¥, (u — x) dengan menggunakan Soal 10.18. Misalkan u — x = t, kita memperoleh 1 fr-x sin (M + Yt S,@ = — (t+ x) 0) © Ie Ue 2 sin Vt Karena integran mempunyai periode 2m, kita dapat mengganti selang —n — x, m— x dengan selang lainnya dengan panjang 2n, khususnya (~y, y). Jadi kita mem- peroleh hasil yang diinginkan. 10.22, Buktikanlah bahwa Cae) 1 f (Coe fa- ©) sin Sy(x) — FEA I=) sin (M+ 1,9 at 4 2 ™ Zain yyy? nM + 1 fr ft+x-fR4+0. : Vt dt fe 2 sin Vit Fang) Si OM + 355 Dari Soal 10.21, 1 f° sin (M + '/,)t 1 fe = M +1/)t Sy) = — J, ft + x) ——_— dt + — J, ft + saat (1) n 2 sin '/,t n in Yt Kalikan integral Soal 10.18.(b) berturut-turut dengan f(x — 0) dan f(x + 0) fx +0) + f(x- % _ fo sin (M + '/,)t 1 fx 0) 0) +P f0- 9 So tt F fa +0) sin +t aS (2) 2sin Yt Selisih (2) dengan (1) memberikan hasil yang diinginkan. 10.23. Jika f(x) dan f’(x) kontinu bagian demi bagian pada (-x, 7), buktikanlah bahwa 5 F(x +0) + f(x-0) jim Sy) eee 2 Fungsi SEHD FO kontinu bagian demi bagian pada 0 < t < m karena 2sin YV,t §(x) kontinu bagian. Juga, f+) - F&O) _ lig ft +x) . ce 2 sin Vt : ft +) - fx +0) : t ada, karena menurut hipotesa ’(x) kontinu bagian demi bagian sehingga turunan kanan f(x) ada di setiap x. +x) — fix -0 jadi £04 Y= \$%= 0 5 stimu bagian demi bagian pada 0 -G 9. 1 1 Tunjukkanlah bahwa ——— + ——_ + +... paae soho { Petunjuk : Gunakanlah Soal 10.11] 10.3! | 10.40. 1 m 1 x a —C—rti“—Osi™ésw™O—SCSs