You are on page 1of 33

RESOLUSI PAPUA

PARTAI RAKYAT DEMOKRATIK

1 Jl. Tebet Dalam I C No.3,


Tebet Barat, Kecamatan Tebet
Jakarta Selatan 12810
RESOLUSI
PARTAI RAKYAT DEMOKRATIK (PRD)

UNTUK PAPUA

2
Pengantar

Sukarno sering menganalogikan Indonesia,


dengan seluruh wilayah dan kehidupan di
atasnya, sebagai satu kesatuan tubuh.
Layaknya sebuah tubuh manusia, bila ada
bagian tubuh yang sakit, tentu kita akan
merasakannya.

Karena itu, setiap ketidakadilan di atas bumi


Indonesia ini, di manapun, terhadap suku,
agama, gender, atau ras apa pun, sakitnya
kita rasakan semua. Begitulah seharusnya
kita melihat dan terpanggil untuk
menyelesaikan berbagai persoalan di Papua.

Hari ini, Papua terbelit banyak persoalan.


Dari soal politik, ekonomi, hingga sosial-
3
budaya. Wujudnya pun sangat nyata:
kemiskinan, gizi buruk, diskriminasi atau
perlakuan tidak adil, pelanggaran Hak Azasi
Manusia dan banyak lagi.

Namun, sebelum jauh mengulik berbagai


persoalan itu, ada persoalan mendasar yang
selalu mengganggu cara pandang kita melihat
Papua. Cara pandang itu yang membuat kita
tidak pernah jernih dan adil dalam melihat
Papua.

Cara pandang itu sudah bercokol lama di alam


berpikir kita, dari sejak Orba hingga sekarang.
Dan menjangkiti hampir kita semua, dari
pengambil kebijakan, aparat keamanan,

4
politisi, media massa, intelektual, dan tak
sedikit masyarakat kita.

Kami menyebut cara pandang itu dengan


istilah nasionalisme teritorial, yaitu sebuah
cara pandang berbangsa yang sekedar
berbicara keutuhan Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI) dari perspektif
keutuhan wilayah atau teritorial semata, tetapi
mengabaikan nasib dan kehidupan manusia di
atasnya.

Padahal, ketika para pendiri bangsa menjahit


dasar-dasar kebangsaan, yang dirajut pertama
adalah manusianya, lewat penyatuan nasib,
kehendak untuk bersatu, dan penyamaan cita-
cita menuju masyarakat adil dan makmur.

5
Karena itu, nasionalisme Indonesia sejak
pembenihannya memperjuangkan manusia
yang merdeka, setara dan berkeadilan sosial.

Namun, persis di situlah hampir semua


persoalan Papua itu berpangkal, seakan tak
tersadari, dan tanpa ada upaya untuk
mengoreksinya. Karena cara pandang
nasionalisme teritorial itu, tanah Papua kita
pertahankan mati-matian, tetapi mengabaikan
nasib dan kehidupan manusia di atasnya.

Pertama, sejak Orde Baru hingga pasca


reformasi, Negara lebih banyak memfasilitasi
kepentingan investasi swasta. Sebaliknya,
Negara justru absen dalam memagari hak-hak

6
hidup masyarakat Papua dari desakan
kapitalisme.

Sungguh ironis, sementara gagasan


nasionalisme sempit itu digaungkan tinggi-
tinggi, sejak 1967 hingga periode pasca
reformasi, arus investasi asing dan swasta
justru menderas masuk ke tanah Papua,
menguasai dan mengeksploitasi sumber daya
di sana, yang banyak kasus justru
menyingkirkan hak hidup penduduk setempat.

Kita bisa melihat kisah pahit Freeport, yang


sudah setengah abad mengangkangi kekayaan
tambang Papua. Kendati belakangan terbukti
bahwa perusahaan tambang asal Amerika
Serikat itu tidak membawa banyak faedah

7
bagi bangsa ini, malah menyebabkan
kerusakan lingkungan, perampasan ruang
hidup, dan rentetan pelanggaran HAM, tetapi
hampir setengah abad Negara ini tak punya
nyali untuk menghukum perusahaan tersebut.

Tanah Papua kini penuh sesak dengan


konsesi-konsesi; pertambangan, pengelolaan
hasil hutan, perkebunan, dan pertanian.
Catatan dari Koalisi Peduli Ruang Hidup
Papua Barat (KPRHPB) dan Koalisi
Masyarakat Sipil untuk Tata Ruang Papua
(KMSTRP) menyebutkan, hingga tahun 2017,
sekitar 14,9 juta hektar atau 34,77 persen dari
total luas Papua dikuasai oleh konsesi.
Ironisnya, ketika investasi mengepung Papua,
ketika tanah dan sumber daya alamnya

8
dikeruk besar-besaran, justru kehidupan
ekonomi masyarakat Papua tidak jauh-jauh
dari cerita tentang kemiskinan, gizi buruk,
dan kelaparan. Yang terjadi, tanah beserta
kekayaan alamnya dikeruk, tetapi manusianya
terabaikan dan termiskinkan.

Kedua, Negara abai membangun manusia


Papua. Lihat saja, hampir setengah abad
Papua menjadi bagian Indonesia, tetap saja
tertatih-tatih di belakang di banding provinsi-
provinsi lain dalam soal pembangunan
manusia.

Lihatlah Indeks Pembangunan Manusia


(IPM), yang mengukur kualitas pembangunan
manusia, di Papua. Sepanjang 2010 sampai

9
2017, Papua menjadi Provinsi penyandang
IPM terendah se-Indonesia. Tahun 2017,
skornya masih di angka 59,09, sedangkan
nasional di angka 70,81.

Rendahnya skor IPM ini menyingkap fakta,


bahwa pengembangan pendidikan, layanan
kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi di
Papua berjalan sangat lambat.

Akibatnya, ketika kapitalisme berkembang


pesat di Papua, dengan hukum besi
persaingan bebasnya, masyarakat Papua justru
terpinggirkan. Persis seperti potongan lagu
Edo Kondologit: Kami tidur di atas emas/
Berenang di atas minyak / Tapi bukan kami

10
punya/ Semua anugerah Itu/ Kami hanya
berdagang buah-buah pinang.

Ketiga, karena cara pandang nasionalisme


sempit itu, Negara tidak pernah
memperlakukan setiap aspirasi maupun
ekspresi politik orang Papua sebagai hak
saudara sebangsa yang wajib didengarkan.

Yang sering terjadi, Negara begitu gampang


melemparkan tudingan separatis terhadap
setiap aspirasi dan ekspresi politik warga
Papua, tanpa berusaha memeriksa duduk
persoalan sebenarnya dan jalan keluarnya.

Akibat cara pandang nasionalisme sempit itu,


setelah setengah abad lebih Papua menjadi
bagian Indonesia, yang dirasakan bukan
11
kebanggaan sebagai saudara sebangsa dalam
rumah Indonesia, melainkan merasa
diperlakukan sebagai anak tiri yang hanya
ditaruh di teras rumah.

Sayangnya, kekecewaan yang sudah tumpuk-


menumpuk itu, bukannya dijawab dengan
rangkulan dan dialog yang tulus dan terbuka,
tetapi justru dengan pendekatan militer yang
memperpanjang rantai kekerasan.

Memang, sejak tahun 2001, berlaku UU


Nomor 21 tahun 2001 yang memberi otonomi
khusus bagi Provins i Papua, yang menjamin
aspirasi dan hak-hak dasar orang Papua.
Tetapi, faktanya, Otsus ini kurang berhasil

12
mengangkat partisipasi politik dan
kesejahteraan rakyat Papua.

Kemudian, di bawah pemerintahan Jokowi,


ada sedikit perhatian ke Papua. Infrastruktur
mulai dibangun. Dalam 4,5 tahun, Jokowi 11
kali mengunjungi Papua. Hanya saja, kendati
sudah ada perhatian, haluan kebijakan belum
berubah sepenuhnya. Investasi asing dan
swasta makin gencar menyerbu Papua.
Sementara rentetan kekerasan belum juga
redup.

Namun, bukan berarti persoalan Papua tak


bisa diselesaikan. Selama ada itikad baik,
disertai keinginan mengubah pelan-pelan cara

13
pandang terhadap Papua, persoalan-persoalan
besar di Papua pelan-pelan bisa diselesaikan.

Karena itu, melalui Musyawarah Besar


(Mubes) yang diselenggarakan di Yogyakarta,
pada 5-7 Agustus 2019, PRD berusaha
menemukan pangkal persoalan dan jalan
keluar atas berbagai persoalan yang dialami
oleh masyarakat Papua.

Berikut poin-poin resolusi PRD untuk


penyelesaian persoalan di Papua secara
ekonomi, politik dan sosial-budaya.

****

14
BIDANG POLITIK

15
I. BIDANG POLITIK

A. Mengubah cara pandang atas persoalan


Papua dengan berlandaskan pada prinsip
sosio-nasionalisme (kebangsaan dan
kemanusiaan).
B. Negara harus mengedepankan cara-cara
non-militeristik dalam merespon ekspresi
politik yang dilakukan secara damai.
C. Negara harus melakukan dialog yang
seluas-luasnya dan partisipatif untuk
menyelesaikan berbagai persoalan di
Papua.
D. Otonomi Khusus harus bisa menjawab
berbagai persoalan masyarakat Papua
dengan cara:
I. Persoalan Kelembagaan Otonomi
Khusus (Otsus)
16
Kelembagaan Otonomi Khusus
harus mampu mewadahi aspirasi
masyarakat Papua. Pada dasarnya
struktur sosial masyarakat Papua
yang paling mengakar adalah suku-
suku. Karena itu kelembagaan
Otonomi Khusus harus mampu
mengakomodir hal tersebut. Untuk
itu harus dibentuk sebuah badan
legislatif yaitu Dewan Rakyat Papua
(DRP) sebagai pengganti model
kelembagaan politik lama (DPRP dan
MRP). Dewan Rakyat Papua (DRP)
ini terdiri atas:
a) Perwakilan Partai Politik
b) Perwakilan Suku

17
c) Perwakilan Agama
d) Perwakilan Perempuan

II. Dewan Rakyat Papua (DRP) dibentuk


di tingkat Propinsi dan Kota/Kabupaten

III. Mekanisme Pemilihan Dewan Rakyat


Papua
a) Perwakilan Partai Politik:
Dipilih melalui Pemilihan Umum
(Pemilu) sama seperti yang
dilakukan di daerah-daerah lain.
b) Perwakilan Suku:
 Anggota Perwakilan Suku Tingkat
Propinsi dipilih melalui
Musyawarah Mufakat suku-suku

18
dan marga-marga di tingkat
kota/kabupaten
 Anggota Perwakilan Suku
Tingkat Kota/Kabupaten dipilih
melalui Musyawarah Mufakat
suku-suku dan marga-marga
tingkat Kecamatan/Distrik
c) Perwakilan Agama
Dipilih melalui musyawarah
mufakat tiap-tiap agama sesuai
teritorialnya.
d) Perwakilan Perempuan
Dipilih dan diusulkan oleh
organisasi-organisasi/komunitas-
komunitas perempuan yang
diputuskan lewat mekanisme

19
musyawarah-mufakat sesuai dengan
tingkatannya.

IV. Tugas, Fungsi dan Wewenang Dewan


Rakyat Papua
 Legislasi, yaitu berkaitan dengan
pembentukan peraturan daerah
(Perda)
 Anggaran, berupa kewenangan
dalam hal anggaran daerah
(APBD)
 Pengawasan, berupa kewenangan
mengontrol pelaksanaan Perda
dan peraturan lainnya serta
kebijakan pemerintah daerah.
***

20
BIDANG EKONOMI

21
II. BIDANG EKONOMI

Pembangunan ekonomi Papua ke depan harus


berpijak pada tiga aras: pendidikan, kesehatan
dan pemberdayaan ekonomi rakyat.

A. Pemajuan Pendidikan
Pemajuan pendidikan di Papua
harus diawali dengan hal-hal
berikut:
Pertama, memperluas akses rakyat
Papua untuk mendapatkan
pendidikan yang berkualitas.
Perluasan akses ini meliputi:

22
a. Penerapan pendidikan gratis bagi
setiap anak Papua, dari sekolah
dasar hingga perguruan tinggi,
untuk memastikan setiap anak
Papua bisa menikmati pendidikan
tanpa dirintangi masalah biaya;
b. Memperluas infrastruktur
pendidikan, mulai bangunan
sekolah hingga sarana
pendukungnya (perpustakaan, buku
pelajaran, alat tulis-menulis,
laboratorium, sarana olahraga,
internet, dll) ke seluruh pelosok
Papua;
c. Memaksimalkan mobilisasi tenaga
pengajar baik formal dan non
formal (ASN) ke desa-desa;

23
d. Memperbanyak sekolah-sekolah
pendidikan vokasi
(kejuruan/keahlian);
e. Memperbanyak guru keliling untuk
menjangkau peserta didik yang
berada di pedalaman.

Kedua, merancang dan menerapkan Peraturan


Daerah Khusus (Perdasus) Tentang
Pendidikan, yang di antaranya mengatur: Soal
kewajiban pemerintah daerah dalam
penyelenggaraan pendidikan secara gratis dari
Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi.

a. Kewajiban anak usia sekolah untuk


bersekolah. Harus ada sanksi bagi

24
orang tua yang tidak
menyekolahkan anaknya.
b. Mobilisasi tenaga pengajar.
c. Mendirikan kembali sekolah-
sekolah keguruan.

Ketiga, pembuatan kurikulum pengajaran


yang sesuai kebutuhan pengembangan
ekonomi rakyat Papua.

Keempat, kurikulum pendidikan harus


bermuatan kultur dan budaya rakyat Papua
(seni, tradisi, bahasa, lingkungan hidup, dan
sejarah).

Kelima, harus ada pembaruan metode


pengajaran yang efektif dalam mentransfer

25
ilmu pengetahuan kepada peserta didik, antara
lain harus disesuaikan dengan budaya rakyat
Papua, atau dikombinasikan antara
pendidikan indoor dan outdoor.

Keenam, Pengakuan terhadap metode dan


nilai-nilai pendidikan leluhur.

B. Pemajuan Kesehatan
Pemajuan kesehatan rakyat Papua melalui:

Pertama, memperluas akses rakyat Papua


terhadap layanan kesehatan dengan:

a. Kesehatan gratis untuk seluruh


rakyat Papua

26
b. Memperbanyak infrastruktur
kesehatan (rumah sakit dan
Puskesmas)
c. Menciptakan sebanyak-banyaknya
kader-kader kesehatan dari
masyarakat untuk layanan
kesehatan di kampung-kampung.
d. Pengakuan dan pemajuan terhadap
metode pengobatan dalam tradisi
masyarakat Papua.
e. Pengadaan Rumah Sakit tipe A di
setiap propinsi di Papua.
f. Mendorong dan memastikan
terwujudnya 1 marga 1 dokter.
g. Pengadaan dokter spesialis dari
masyarakat asli Papua.

27
Kedua, mendorong lahirnya peraturan atau
regulasi soal penyelenggaraan kesehatan
rakyat di Papua.

C. Pemberdayaan Ekonomi

Memajukan ekonomi rakyat Papua dengan


cara:

a. Pengakuan Negara terhadap Hak


Masyarakat Adat (Marga/Suku) terhadap
SDA (tanah, air, hutan, dan lain-lain)
b. Penghentian izin investasi baru hingga
ada penataan kembali peruntukan sumber
daya alam yang menjamin akses
masyarakat Papua terhadap faktor-faktor
produksi. ***

28
BIDANG BUDAYA

29
III. BIDANG BUDAYA

A. Setiap regulasi, baik nasional maupun


lokal harus menghargai budaya dan tradisi
masyarakat Papua
B. Mengangkat budaya yang maju seperti
gotong-royong dan semangat
kebersamaan
C. Mendorong kesetaraan gender di Papua
D. Menghargai filosofi rakyat Papua bahwa
tanah adalah mama (ibu)
E. Mendata secara lengkap dan detail
keberadaan suku-suku dan kebudayaan di
Papua untuk menggali segala potensi
yang ada

30
F. Memberikan jaminan pendidikan dan
kesehatan yang berkualitas
G. Mendorong kemajuan dan kehidupan seni
dan adat Papua dengan pendirian balai-
balai kesenian dan kebudayaan, museum,
perpustakaan, konservasi
H. Mendorong pertunjukan seni atau
pameran kebudayaan Papua di tingkat
nasional maupun internasional
I. Mendorong keterlibatan pekerja seni dan
budaya Papua dalam berbagai ajang
nasional
J. Menjadikan pahlawan nasional asal Papua
menjadi nama-nama jalan, gedung
maupun fasilitas publik lainnya
K. Mendirikan kantor-kantor adat di setiap
kota/kabupaten di Papua.

31
Demikian resolusi ini kami susun
sebagai bagian dari komitmen kami
terkait penyelesaian masalah Papua

Jogjakarta, 8 Agustus 2019

32
Ini Jalan Kita Ke Depan :

Bangun Persatuan Nasional

Wujudkan Kesejahteraan Sosial

Menangkan Pancasila

33