You are on page 1of 5

Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dan Penyucian Jiwa (1

)

Penyucian jiwa adalah masalah yang sangat penting dalam Islam, bahkan merupakan
salah satu tujuan utama diutusnya Nabi kita Muhammmad shallallahu ‘alaihi wa sallam
(Lihat kitab Manhajul Anbiya’ fii Tazkiyatin Nufuus, hal. 21)

Allah Ta’ala menjelaskan hal ini dalam banyak ayat Al Qur-an, di antaranya firman Allah
Ta’ala,

ْ‫عَلْيُكْم آَياِتَنا َوُيَزّكيُكم‬
َ ‫سوًل ِمْنُكْم َيْتُلو‬ُ ‫سْلَنا ِفيُكْم َر‬
َ ‫َكَما َأْر‬
َ ‫حْكَمَة َوُيَعّلُمُكْم َما َلْم َتُكوُنوا َتْعَلُمو‬
‫ن‬ ِ ‫ب َواْل‬
َ ‫وَُيَعّلُمُكُم اْلِكَتا‬
“Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul di antara kamu yang
membacakan ayat-ayat Kami kepadamu, dan menyucikan(diri)mu, dan mengajarkan
kepadamu Al kitab (Al Qur-an) dan Al Hikmah (As Sunnah), serta mengajarkan
kepadamu apa yang belum kamu ketahui.” (Qs Al Baqarah: 151)

Juga firman-Nya,

ْ‫سوًل ِمن‬ ُ ‫ث ِفيِهْم َر‬ َ ‫ن ِإْذ َبَع‬
َ ‫عَلى اْلُمْؤِمِني‬َ ‫ل‬ ُّ ‫ن ا‬
ّ ‫َلَقْد َم‬
َ ‫عَلْيِهْم آَياِتِه َوُيَزّكيِهْم َوُيَعّلُمُهُم اْلِكَتا‬
‫ب‬ َ ‫سِهْم َيْتُلو‬ِ ‫َأنُْف‬
ٍ ‫ضلٍل ُمِبي‬
‫ن‬ َ ‫ن َقْبُل َلِفي‬ ْ ‫ن َكاُنوا ِم‬ ْ ‫حْكَمَة َوِإ‬ِ ‫َواْل‬
“Sungguh Allah telah memberi karunia (yang besar) kepada orang-orang yang beriman
ketika Allah mengutus kepada mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri,
yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, mensucikan (jiwa) mereka, dan
mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur-an) dan Al Hikmah (As Sunnah). Dan
sesungguhnya sebelum (kedatangan Rasul) itu, mereka benar-benar dalam kesesatan
yang nyata.” (Qs Ali ‘Imraan: 164)

Makna firman-Nya “menyucikan (jiwa) mereka” adalah membersihkan mereka dari
keburukan akhlak, kotoran jiwa dan perbuatan-perbuatan jahiliyyah, serta mengeluarkan
mereka dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya (hidayah Allah Ta’ala). (Lihat Tafsir
Ibnu Katsir, 1/267)

Pentingnya Tazkiyatun Nufus Dalam Islam

Pentingnya tazkiyatun nufus ini akan semakin jelas kalau kita memahami bahwa makna
takwa yang hakiki adalah pensucian jiwa itu sendiri (Lihat kitab Manhajul Anbiya’ fii
Tazkiyatin Nufuus, hal. 19-20). Artinya ketakwaan kepada Allah Ta’ala yang sebenarnya
tidak akan mungkin dicapai kecuali dengan berusaha menyucikan dan membersihkan
jiwa dari kotoran-kotoran yang menghalangi seorang hamba untuk dekat kepada Allah
Ta’ala.

1

akan tetapi mereka sepakat mengatakan bahwa nafsu (jiwa) manusia adalah penghalang utama bagi hatinya untuk sampai kepada ridha Allah Ta’ala. 147 . Oleh karena itu. dan sucikanlah jiwaku (dengan ketakwaan itu). maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan. hal. ْ ‫ح َم‬ ‫ن‬ َ ‫جوَرَها َوَتْقَواها َقْد َأْفَل‬ ُ ‫سّواَها َفَأْلَهَمَها ُف‬ َ ‫س َوَما‬ ٍ ‫وََنْف‬ ‫ساَها‬ّ ‫ن َد‬ ْ ‫ب َم‬ َ ‫خا‬ َ ‫َزّكاَها َوَقْد‬ “Dan (demi) jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). (dan) Engkau-lah Yang Menjaga serta Melindunginya]” (HSR. meskipun jalan dan metode yang mereka tempuh berbeda-beda. anugerahkanlah kepada jiwaku ketakwaan. 2722) Imam Maimun bin Mihran (seorang ulama tabi’in) berkata. Muslim dalam Shahih Muslim no. 132 . ada yang mengatakan: Jiwa manusia itu ibarat sekutu dagang yang suka berkhianat. Sehingga seorang hamba tidak akan mencapai kedekatan kepada Allah Ta’ala melainkan setelah dia berusaha menentang dan menguasai nafsunya (dengan melakukan tazkiyatun nufus)” (Kitab Ighaatsatul Lahfaan. Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah mengatakan.Allah Ta’ala menjelaskan hal ini dalam firman-Nya. anta waliyyuhaa wa mawlahaa” [Ya Allah. Kalau Anda tidak selalu mengawasinya.Mawaaridul Amaan) Ketika menerangkan pentingnya tazkiyatun nufus. “Orang-orang yang menempuh jalan (untuk mencari keridhaan) Allah Ta’ala.Mawaaridul Amaan)) Manhaj Ahlul Bid’ah Dalam Penyucian Jiwa 2 .” (Qs Asy Syams: 7-10) Demikian juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam doa beliau: ‫ت‬ َ ‫ن َزّكاَها َأْن‬ ْ ‫خْيُر َم‬ َ ‫ت‬ َ ‫سى َتْقَواَها َوَزّكَها َأْن‬ِ ‫ت َنْف‬ ِ ‫الّلُهّم آ‬ ‫َوِلّيَها َوَمْوَلَها‬ “Allahumma aati nafsii taqwaaha wa zakkihaa. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu (dengan ketakwaan) dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya (dengan kefasikan). anta khoiru man zakkaahaa. “Seorang hamba tidak akan mencapai takwa sehingga dia melakukan muhasabatun nafsi (introspeksi terhadap keinginan jiwa untuk mencapai kesucian jiwa) yang lebih ketat daripada seorang pedagang yang selalu mengawasi sekutu dagangnya (dalam masalah keuntungan dagang). hal. dia akan pergi membawa hartamu (sebagaimana jiwa akan pergi membawa agamamu)” (Dinukil oleh Imam Ibnul Qayyim dalam kitab beliau Ighaatsatul Lahfaan. Engkau-lah Sebaik-baik Yang Mensucikannya.

Maka setan pun menjerumuskan mereka dalam berbagai macam kerusakan dan kebohongan. 1/83) [1] Maksudnya adalah cerita bohong orang-orang ahli Tasawuf yang bersumber dari bisikan jiwa dan perasaan mereka. atau ciptaan pimpinan-pimpinan kelompok mereka. beliau berkata. Inilah sebab utama yang menjadikan setan mampu menyesatkan mereka sejauh-jauhnya dari jalan yang benar. hal. bahkan sebagian mereka berani mengklaim bahwa hanya dengan mengamalkan metode merekalah seorang hamba bisa mencapai kesucian jiwa yang utuh dan sempurna.Mawaaridul Amaan) Senada dengan ucapan di atas. tidak heran kalau kita mendapati orang-orang ahlul bid’ah berlomba-lomba mengatakan bahwa merekalah yang paling perhatian terhadap masalah ini. Sehingga dengan manerapkan metode-metode mereka tersebut seseorang tidak akan mencapai kesucian jiwa dan kebersihan hati yang sebenarnya. yang sama sekali tidak berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah. serta membukakan bagi mereka pintu pengakuan-pengakuan dusta yang sangat besar.Karena pentingnya kedudukan tazkiyatun nufus dalam agama Islam inilah. yang ditampakkannya kepada mereka sebagai bentuk mukasyafah (tersingkapnya tabir hakikat) dari khayalan-khayalan. Akan tetapi sumbernya adalah pertimbangan akal dan perasaan. “Ketahuilah bahwa sesungguhnya awal mula talbis 3 . kita akan dapati bahwa semua metode tersebut tidak bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah. Setan membisikan kepada mereka bahwa sesungguhnya di luar ilmu (syariat yang bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah) ada jalan lain yang jika mereka menempuhnya maka jalan itu akan membawa mereka kepada tersingkapnya (hakikat dari segala sesuatu) secara jelas dan membuat mereka tidak butuh lagi untuk terikat dengan (hukum dalam) Al Qur’an dan As Sunnah [?!] …maka ketika mereka menempuh jalan yang jauh dari bimbingan ilmu yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. bahkan justru hatinya akan semakin jauh dari Allah karena mereka mengikuti jalan-jalan setan. Imam Ibnul Qayyim mengatakan. Akan tetapi. kalau kita mengamati dengan seksama metode-metode mereka. 193 . karena berpalingnya mereka dari petunjuk Allah dalam Al Qur-an dan Sunnah. setan pun menampakkan kepada mereka berbagai macam kesesatan sesuai dengan keadaan mereka. “Barangsiapa yang berpaling dari dalil (Al Qur-an dan Sunnah) maka jalannya akan tersesat” (Ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah yang dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam kitab Miftahu Daaris Sa’aadah. Imam Ibnul Jauzi ketika menjelaskan perangkap setan dalam menjerumuskan orang-orang tasawuf. kemudian menjadikan khayalan-khayalan tersebut seperti benar-benar nyata sebagai penyingkapan hakikat dari segala sesuatu secara jelas…[?!]” (Kitab Ighaatsatul Lahfaan. “Termasuk tipu daya setan adalah apa yang dilontarkannya kepada orang-orang ahli tasawuf yang bodoh. bahkan berdasarkan khayalan atau mimpi yang kemudian mereka namakan mukasyafah (tersingkapnya tabir) [1]. berupa asy syathahaat (ucapan-ucapan tanpa sadar/igauan) dan penyimpangan besar. dan membisikkan khayalan-khayalan ke dalam jiwa mereka.

maka jika Iblis telah berhasil memadamkan lampu-lampu cahaya mereka.(pengkaburan/perangkap) Iblis untuk menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan adalah dengan menghalangi (memalingkan) mereka dari ilmu agama yang bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah. 389) 4 . hal.” (Kitab Talbiisu Ibliis. karena ilmu agama itu adalah cahaya yang menerangi hati. dia akan mampu mengombang- ambingkan dan menyesatkan mereka dalam kegelapan (kesesatan) sesuai dengan keinginannya.

5 .