You are on page 1of 6

Jurnal Medik dan Rehabilitasi (JMR), Volume 1,Nomor 2, Desember 2018

HUBUNGAN MEROKOK DENGAN NILAI INDEKS ERITROSIT (MCV, MCH, MCHC)


PADA MAHASISWA PEROKOK
1
Richardo Jordan Laloan
2
Sylvia R. Marunduh
2
Ivonny M. Sapulete
1
Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi
2
Departemen Fisiologi Universitas Sam Ratulangi
Email: richardojordan10@gmail.com

Abstract: Cigarette smoking is world’s major leading causes of death because there are over 4000 dangerous
compounds in tobacco smoke. According to the forecast of World Health Organization (WHO), throughout
2020-2030 there will be ten thousands death per year caused by tobacco smoke and 70% occurs in the
developing countries. The 2015 European Urology Focus exhibit that approximately more than 120 thousand
adult smokers lived in ten ASEAN countries and half of them were in Indonesia (sixty-five thousands smokers).
Data from Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Indonesia by province shows that the highest prevalence of
tobacco use in North Sulawesi is 1-10 tobacco per day in average. Several studies suggest that cigarette smoking
contributes to affects blood parameters including erythrocyte indices value. Aims: This study aims to determine
the correlation between smoking and erythrocyte indices value. Methods: This study uses observational analytic
with cross-sectional design that was conducted to 30 smoking students at Faculty of Social and Political Science,
Sam Ratulangi University Manado. This study is using Spearman Rank (rho) statistics analysis test and using
Shapiro-Wilk for normality analysis test. Results: This study shows that p>0.05 of correlation analysis of
smokers to each of erythrocyte indices value consecutively: MCV (p=0.338), MCH (p=0.386) and MCHC
(p=0.789). Conclusion: There was no significant correlation between smoking and erythrocyte indices value
among smoking-college students.
Keywords: Cigarette smoking, eryhtrocyte indices, smoking-college students.

Abstrak: Merokok merupakan penyebab terbesar kematian di seluruh dunia karena terdapat lebih dari 4000 zat
berbahaya terkandung di dalam rokok. Menurut perkiraan World Health Organization (WHO) pada periode
2020-2030 rokok akan menyebabkan 10 juta kematian per tahun, dengan 70% persentasinya terjadi pada negara-
negara berkembang. European Urology Focus tahun 2015 menunjukkan bahwa tercatat lebih dari 120 juta
perokok dewasa berada di 10 negara ASEAN dan setengah dari angka tersebut berasal dari Indonesia (65 juta).
Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Indonesia, untuk provinsi Sulawesi Utara menunjukkan pengonsumsian
batang rokok yang tertinggi pada jumlah rata-rata 1-10 batang rokok per hari. Beberapa penelitian menunjukkan
bahwa rokok dapat memengaruhi parameter darah termasuk nilai indeks eritrosit. Tujuan: Penelitian ini
bertujuan mengetahui apakah terdapat hubungan antara merokok dengan nilai indeks eritrosit pada perokok.
Metode: Penelitian ini bersifat analitik observasional dengan rancangan penelitian potong lintang yang dilakukan
pada 30 mahasiswa perokok di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sam Ratulangi. Uji statistik
yang digunakan adalah Spearman Rank (rho) dengan uji normalitas Shapiro-Wilk. Hasil: Penelitian ini
menunjukkan hasil p>0,05 pada masing-masing uji statistik merokok dengan indeks eritrosit MCV (p=0,338),
MCH (p=0,386) dan MCHC (p=0,789). Simpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan bermakna antara
merokok dengan nilai indeks eritrosit pada mahasiswa perokok.
Kata Kunci: merokok, indeks eritrosit, mahasiswa perokok.

PENDAHULUAN
Merokok merupakan penyebab kematian berbahaya yang terkandung pada asap rokok yaitu
terbesar di seluruh dunia, serta merupakan penyebab nikotin, tar dan karbon monoksida.4
utama Penyakit Arteri Koroner yang terjadi 2-4 kali World Health Organization (WHO)
lebih tinggi pada perokok dibandingkan yang bukan memperkirakan bahwa pada periode dekade 2020-
perokok.1 Masalah kesehatan lain juga seperti 2030 rokok akan menyebabkan 10 juta kematian per
kanker paru, emfisema dan bronkitis kronik juga tahun, dengan 70% persentasinya terjadi pada
terjadi akibat merokok yang disebabkan karena negara-negara berkembang.5 Menurut European
keterpaparan bahan kimia dalam rokok terutama zat Urology Focus tahun 2015 menunjukkan bahwa
nikotin.2 Diketahui terdapat lebih dari 4000 zat terdapat sekitar 60% perokok di dunia diantara tahun
berbahaya serta bahan karsinogen terkandung di 2010 sampai 2012 tinggal di 3 negara Asia, yaitu
dalam rokok.3 Zat kimia yang paling besar dan Cina (317 juta perokok), India (122 juta perokok)

1
Jurnal Medik dan Rehabilitasi (JMR), Volume 1,Nomor 2, Desember 2018

dan Indonesia (115 juta perokok).6 Tercatat lebih Micros 60 ABX. Data diolah menggunakan
dari 120 juta perokok dewasa berada di 10 negara Microsoft Excel 2016 dan program pengolah data
ASEAN dan setengah dari angka tersebut berasal SPSS versi 23.
dari Indonesia (65 juta perokok).7 Menurut data dari
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, HASIL PENELITIAN
proporsi penduduk menurut kebiasaan merokok dan Berdasarkan usia, didapatkan hasil
jenis kelamin di Indonesia sebesar 47,5% untuk terbanyak adalah berusia 20 tahun dengan jumlah 9
persentase pria yang aktif merokok setiap hari orang (30%). Usia responden yang termuda adalah
dibandingkan dengan wanita yang aktif merokok berusia 18 tahun dengan jumlah responden paling
setiap hari hanya sebesar 1,1%.8 Menurut WHO sedikit yaitu 1 orang (3,3%) sedangkan subjek
perokok dibagi dalam tiga kategori sesuai dengan dengan usia tertua berusia 23 tahun dengan jumlah 3
pengonsumsian batang rokok perhari, yakni ringan orang (10%) (Tabel 1).
(1-10 batang), sedang (11-19 batang) dan berat Tabel 2 menunjukkan lama merokok
(lebih dari sama dengan 20 batang).9 responden yang terbanyak berada pada rentang 1-5
Eritrosit adalah sel yang berbentuk cakram tahun dengan jumlah responden 26 orang (86,7%).
bikonkaf yang berperan dalam efisiensi Berdasarkan usia pertama merokok,
pengangkutan O2. Eritrosit tidak mengandung terbanyak ditemui pada subjek yang merokok pada
nukleus atau organel yang mana ini dimaksudkan rentang usia 16-20 tahun dengan jumlah 22 orang
untuk menyediakan tempat bagi hemoglobin. Dua (73,3%) (Tabel 3).
enzim kunci dalam eritrosit adalah enzim glikolitik Berdasarkan tabel 4, jenis rokok yang di
yang berfungsi untuk menghasilkan energi dalam konsumsi subjek menunjukkan jumlah terbanyak
menjalankan mekanisme transpor aktif; dan karbonat adalah rokok filter (biasa) dengan jumlah 23 orang
anhidrase yang berfungsi dalam transpor CO2 dan (76,7%). Tabel 5 menunjukkan hasil jumlah rokok
katalisis reaksi kunci perubahan CO2. Setiap mililiter yang dikonsumsi dalam sehari yang dikaitkan
darah rata-rata mengandung 5 miliar eritrosit.10,11 dengan klasifikasi WHO pada responden penelitian.
Indeks eritrosit terdiri atas Mean Hasil yang ditunjukkan adalah jumlah terbanyak
Corpuscular Volume (MCV), Mean Corpuscular dengan pengonsumsian 1-10 batang per hari dengan
Haemoglobin (MCH) dan Mean Corpuscular klasifikasi WHO ringan yang didapatkan pada 21
Haemoglobin Concentration (MCHC). MCV orang responden (70%).
merupakan pengukuran volume atau ukuran rata-rata Tabel 6 menunjukkan data hasil indeks
pada sel darah merah, yang didapatkan dari eritrosit MCV diperoleh hasil normal dengan rerata
perhitungan rumus: MCV = [HCT (%) x 10/RBC 83,73 fL pada semua responden berjumlah 30 orang
(million/cmm)] fL. MCH adalah perhitungan jumlah (100%). Pada indeks eritrosit MCH terdapat variasi
hemoglobin rata-rata dalam satu sel darah merah, pada hasil nilainya dimana hasil normal didapatkan
yang didapatkan dari rumus: MCH = [Hb pada 23 orang (76,7%) dengan nilai rerata 30,97 pg,
(g/dL)/RBC (million/cmm)] pg. MCHC adalah dan hasil MCH yang meningkat ditunjukkan oleh 7
perhitungan rata-rata konsentrasi hemoglobin dalam orang responden (23,3%) dengan nilai rerata 34,54
satu sel darah merah, yang didapatkan dari pg. Dalam tabel 6, pada indeks eritrosit MCHC
perhitungan: MCHC = [Hb (g/dL)/HCT (5%)] menunjukkan hasil yang meningkat dengan nilai
g/dL.12,13 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rerata 39,16 g/dL pada 18 orang responden (60%),
hubungan antara merokok dengan nilai indeks sedangkan jumlah responden 12 orang (40%)
eritrosit pada mahasiswa perokok. menunjukkan hasil yang normal dengan rerata 35,73
g/dL.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan jenis penelitian Tabel 1. Karakteristik responden berdasarkan usia
yang bersifat analitik observasional dengan Usia (tahun) n Persentase (%)
rancangan desain potong lintang. Penelitian 18 1 3,3
dilaksanakan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu 19 5 16,7
Politik Universitas Sam Ratulang, dimulai dari bulan 20 9 30,0
Oktober sampai November 2018. Sampel penelitian 21 6 20,0
berjumlah 30 responden yang diambil dengan 22 6 20,0
metode purposive sampling dengan syarat 23 3 10,0
memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi penelitian.
Responden yang terpilih dan bersedia Jumlah 30 100
mengikuti penelitian awalnya menyetujui lembaran
persetujuan (informed-consent) kemudian mengisi
kuesioner untuk mendapatkan data penggunaan
rokok secara individual. Sampel darah diambil
melalui darah vena oleh petugas laboratorium dan
diperiksa di Laboratorium Klinik menggunakan alat

2
Jurnal Medik dan Rehabilitasi (JMR), Volume 1,Nomor 2, Desember 2018

Tabel 2. Karakteristik responden berdasarkan lama Tabel 3. Karakteristik berdasarkan usia pertama
merokok merokok

Variabel n Persentase (%) Variabel n Persentase (%)


Lama 1-5 26 86,7 Usia 10-15 7 23,3
Merokok 6-10 3 10,0 Pertama 16-20 22 73,3
(tahun) ≥11 1 3,3 Merokok >20 1 3,3
(tahun)
Jumlah 30 100
Jumlah 30 100
Tabel 4. Karakteristik berdasarkan jenis rokok
Jenis Rokok n Persentase (%)
Filter 23 76,7
Non-Filter 6 20,0
Mix 1 3,3

Jumlah 30 100%

Tabel 5. Karakteristik responden berdasarkan jumlah batang rokok dalam sehari


Variabel Klasifikasi WHO n Persentase (%)

Rokok Per Hari (batang) 1-10 Ringan 21 70,0


11-19 Sedang 6 20,0
>20 Berat 3 10,0

Jumlah 30 100

Tabel 6. Karakteristik responden berdasarkan indeks eritrosit (MCV, MCH, MCHC)


Indeks Eritrosit n Mean ± SD Persentase (%)
MCV (fL) Rendah 0 0
Normal 30 83,73 ± 3.139 100,0
Tinggi 0 0

Jumlah 30 100

MCH (pg) Rendah 0 0


Normal 23 30,97 ± 1.464 76,7
Tinggi 7 34,54 ± 1.064 23,3

Jumlah 30 100

MCHC (g/dL) Rendah 0 0


Normal 12 35,73 ± 0.748 40,0
Tinggi 18 39,16 ± 0.488 60,0

Jumlah 30 100

Berdasarkan uji Spearman Rank (rho) menunjukkan kekuatan korelasi yang kuat. Arah
didapatkan hasil untuk ketiga indeks eritrosit MCV, hubungan ketiga indeks eritrosit tersebut
MCH dan MCHC memiliki nilai p>0,05 yang memberikan hasil nilai yang positif pada nilai
menunjukkan tidak terdapat adanya hubungan yang correlation coefficient dalam analisis data, maka
signifikan antara merokok derajat ringan, sedang, dapat disimpulkan bahwa hubungan masing-masing
berat dengan nilai indeks eritrosit. Kekuatan variabel searah. Hal ini berarti semakin tinggi
hubungan antara merokok dengan nilai indeks konsumsi batang rokok per hari dan semakin lama
eritrosit MCV dan MCH menunjukkan korelasi mengonsumsi rokok maka akan memengaruhi
yang sangat lemah, sedangkan MCHC indeks eritrosit. Bila dinyatakan dalam kurva maka

3
Jurnal Medik dan Rehabilitasi (JMR), Volume 1,Nomor 2, Desember 2018

masing-masing variabel akan mengikuti arah satu Pankaj et al19 tahun 2014 yang menunjukkan hasil
sama lain. nilai MCHC yang rendah pada perokok (p=0,009)
dibandingkan dengan bukan perokok.
BAHASAN Peningkatan nilai indeks eritrosit yang
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh ditemukan pada beberapa responden dalam
hasil nilai signifikansi p>0,05 pada hasil uji penelitian ini dapat menjelaskan teori yang
korelasi hubungan merokok dengan nilai indeks mendukung. Ketika zat karbon monoksida yang
eritrosit yaitu MCV (p=0,338), MCH (p=0,386) dan terkandung dalam rokok masuk dalam tubuh maka
MCHC (p=0,789). Berdasarkan hasil tersebut maka akan meningkatkan afinitasnya bersama
dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat adanya hemoglobin dan berkombinasi membentuk
hubungan yang signifikan antara merokok dengan karboksihemoglobin yang merupakan keadaan
indeks eritrosit (MCV, MCH dan MCHC). dimana Hb tidak tersedia untuk mengangkut O 2,
Indeks eritrosit MCV didapatkan hasil meskipun konsentrasi Hb dan PO2 normal.10, 19
normal yang nilai rerata 83,73 fL. Hal ini selaras Karbon monoksida yang dihasilkan dari
dengan penelitian oleh Lymperaki, E. et al.14 tahun pembakaran tidak lengkap dari bahan yang
2015 yang melakukan penelitian kepada 32 orang mengandung karbon dalam asap rokok diketahui
usia 20-23 tahun, menemukan bahwa nilai MCV menyebabkan peningkatan aktivitas enzim glutation
tidak terjadi perubahan yang bermakna (p>0,05) perioksidasi eritrosit dan menurunkan aktivitas
pada kelompok perokok (p=0,342) dan bukan enzim utama dalam eritrosit yaitu enzim karbonik
perokok (p=0,315). Berbeda dengan hasil penelitian anhidrase eritrosit.13, 20
yang diperlihatkan oleh Inal et al.15 tahun 2014 pada Karboksihemoglobin yang terbentuk
171 subjek laki-laki sehat usia antara 20-30 tahun membuat pergeseran ke kiri (shift-to-the-left) kurva
yang secara statistik menunjukkan kontras tentang disosiasi Hb menyebabkan keadaan hipoksemia
nilai MCV yang signifikan tinggi (p<0,05) pada sehingga terjadi gangguan hantaran oksigen ke
kelompok perokok bila dibandingkan dengan bukan jaringan, dan selanjutnya terjadi hipoksia jaringan
perokok. yang merujuk pada penurunan tekanan oksigen dan
Indeks eritrosit MCH didapatkan hasil nilai merangsang sekresi pelepasan hormon eritropoietin
yang normal pada 23 orang dengan nilai rerata (EPO) dari ginjal sehingga terjadi eritropoiesis.
30,97 pg dan hasil nilai yang tinggi pada 7 orang Mekanismenya adalah terkadang keadaan hipoksia
dengan nilai rerata 34,54 pg. Indeks eritrosit di bagian tubuh lain yang bukan pada ginjal, dapat
MCHC didapatkan hasil nilai yang normal pada 12 merangsang sekresi eritropoietin ginjal. Hal ini
orang dengan nilai rata-rata 35,73 g/dL dan hasil menunjukkan bahwa mungkin terdapat beberapa
nilai yang tinggi pada 18 orang dengan nilai rata- sensor di luar ginjal yang mengirimkan sinyal
rata 39,16 g/dL. Hasil nilai normal MCH normal tambahan ke ginjal untuk memproduksi hormon
dalam penelitian ini sejalan dengan penelitian oleh EPO. 11, 12, 18, 21
Tungtrongchitr et al. 16 pada subjek laki-laki Pada keadaan hipoksia jaringan yang terjadi,
perokok dan bukan perokok, menunjukkan hasil termasuk penurunan penyaluran oksigen ke ginjal,
tidak ada perbedaan secara statistik pada nilai MCV akan meningkatkan kadar hypoxia-inducible factor-
(p=0,828) dan MCH (p=0,855) pada perokok dan 1 (HIF-1) jaringan, yang berfungsi sebagai faktor
bukan perokok. Penelitian oleh Malenica et al12 transkripsi untuk sejumlah besar gen terinduksi
tahun 2017 yang melakukan penelitian terhadap hipoksia (hypoxia-inducible genes), termasuk gen
156 responden perokok dan bukan perokok, eritropoietin (EPO). HIF-1 mengikat unsur respons
menunjukkan nilai yang signifikan meningkat hipoksia (hypoxia response element) yang ada pada
hanya pada nilai MCH bila dibandingkan dengan gen eritropoietin, merangsang transkripsi mRNA
nilai indeks eritrosit lainnya (p<0,001) dan nilai dan pada akhirnya meningkatkan sintesis
MCHC yang tidak berbeda secara signifikan eritropoietin ke dalam darah dan hormon ini pada
(p>0,05) antara perokok dan bukan perokok gilirannya merangsang eritropoiesis oleh sumsum
(p=0,526). merah.10,11 Hasil dari proses tersebut terjadi proses
Penelitian yang menunjukkan hal yang respon adaptif dan mekanisme kompensasi
berbeda ditunjukkan oleh Ahmed17 tahun 2017 peningkatan sekresi eritropoietin, peningkatan
yang dilakukan pada 60 responden perokok dan konsentrasi plasma eritropoietin, produksi eritrosit
bukan perokok, menunjukkan hasil yang rendah dan kapasitas darah yang membawa oksigen,
pada nilai indeks eritrosit nilai MCV dan MCH termasuk peningkatan kadar hemoglobin, sehingga
pada perokok dengan unit pengukuran Pack-Years kapasitas darah yang mengangkut O2 meningkat
yang tinggi. dan penyaluran O2 ke jaringan kembali ke normal.
Hasil meningkat MCHC dalam penelitian ini Hasil dari proses mekanisme kompensasi ini adalah
selaras dengan penelitian oleh Elgari18 tahun 2017 terjadi peningkatan akan hitung eritrosit dan indeks
yang mendapatkan hasil signifikan meningkat eritrosit yang pada akhirnya menyerupai keadaan
(p<0,05) pada nilai MCHC (p=0,001). Berbeda pada polisitemia.21, 22
dengan hasil penelitian yang dikemukakan oleh

4
Jurnal Medik dan Rehabilitasi (JMR), Volume 1,Nomor 2, Desember 2018

Pengaruh secara lebih molekuler telah MCHC meningkat, itu dapat menjadi indikator
dijelaskan pada penelitian Pretorius, E. et al. 23 sferositosis herediter.24
tahun 2013 di Afrika Selatan, yang melaporkan Keterbatasan dalam penelitian ini
mengenai hubungan merokok dengan perubahan dipengaruhi oleh beberapa faktor yang
bentuk dan membran eritrosit yang diidentifikasi memengaruhi indeks eritrosit pada tiap individu.
menggunakan Scanning Electron Microscopy Faktor yang berperan yakni usia, ras dan etnis,
(SEM) dan Atomic Force Microscopy (AFM). Pada aktivitas fisik, ketinggian daerah tempat tinggal,
penelitian tersebut menunjukkan bahwa membran usia pertama kali merokok yang berkorelasi dengan
sel darah merah pada semua sampel perokok kebiasaan lamanya merokok, jenis rokok yang
mengalami perubahan fluiditas serta terjadi dikonsumsi, asupan makanan yang dikonsumsi
gangguan arsitektur sel darah merah yang serta diet protein yang rendah. Peneliti tidak
menyebabkan sel kehilangan kemampuannya untuk meninjau lebih lanjut beberapa faktor yang
mempertahankan bentuk diskoid tipikalnya. Hal ini disajikan dalam kuesioner terlampir, seperti waktu
terlihat melalui penampakan ultrastuktur sel darah yang diperlukan setiap subjek untuk merokok saat
merah yang terlihat adanya ekstensi runcing dan dari bangun tidur. Faktor ini mungkin dapat
tampak adanya gelembung (bubble-like) serta dijelaskan bahwa semakin cepat individu merokok
bentuknya terlihat seperti balon (balloon-like). Hal saat dari bangun tidur maka berbanding lurus
tersebut disebabkan karena rokok mengandung dengan jumlah zat yang masuk dalam tubuh dan
logam dan besi sehingga diperkirakan oleh karena kecanduan akan rokok itu sendiri.
kedua komposisi ini menyebabkan perubahan Pengaruh konsumsi alkohol juga dapat
ultrastruktur permukaan membran sel darah merah memengaruhi nilai indeks eritrosit perokok,
dan alasan mengapa adanya ektensi yang berbentuk sehingga hal ini dapat mengganggu nilai indeks
runcing. Sel darah merah kehilangan fluiditasnya eritrosit responden. Penelitian ini menggunakan
karena kandungan-kandungan zat dalam rokok data primer berupa kuesioner untuk mendapatkan
yang membuat perubahan lemak bilayer (lipid data kebiasaan dan konsumsi rokok yang
bilayer) dan kerusakan pada polyunsaturated fatty didapatkan dari kuesioner. Hal itu tergantung juga
acid. pada jawaban jujur responden serta pemahaman
Gambaran mengenai ketiga indeks eritrosit responden terhadap penjelasan yang diberikan
dapat mengindikasikan berbagai keadaan. Nilai peneliti serta pertanyaan yang diajukan dalam
MCV yang menurun mengindikasikan keadaan kuesioner. terbatasnya waktu penelitian serta
mikrositik yang berarti ukuran rata-rata sel darah dipengaruhi jadwal subjek penelitian yang bertolak
merah yang kecil; kemudian, nilai MCV yang belakang dengan waktu peneliti; kesalahpahaman
berada pada rentang normal menggambarkan peneliti terhadap informan dari tempat penelitian,
keadaan normositik atau ukuran rata-rata sel darah sehingga membuat terbatasnya jumlah sampel yang
merah normal, sedangkan nilai MCV yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi juga
meningkat mengindikasikan gambaran makrositik mungkin berpengaruh terhadap eksekusi dan hasil
yaitu ukuran rata-rata sel darah merah yang besar. penelitian.
Nilai MCV yang menurun merupakan tanda dari
beberapa keadaan diantaranya adalah defisiensi SIMPULAN
besi, anemia mikrositik dan thalassaemia Berdasarkan hasil analisis penelitian dapat
syndrome. Sementara nilai MCV yang meningkat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang
merujuk pada keadaan alkoholisme yang kronik, signifikan antara merokok (derajat ringan, sedang,
defisiensi vitamin B12 dan defisiensi folat.24 berat) dengan nilai indeks eritrosit.
Indeks eritrosit MCH gambarannya adalah
bila nilai MCH yang ditemukan dibawah dari nilai SARAN
rujukan tersebut bisa ditemukan pada keadaan Perlu dilakukan penelitian mengenai
defisiensi besi, thalassaemia dan di beberapa kasus hubungan merokok dengan nilai indeks eritrosit
anemia pada penyakit kronik, sedangkan nilai MCH pada perokok dalam jumlah sampel yang lebih
yang meningkat dari rujukan normal bisa besar dalam populasi tertentu.
didapatkan pada keadaan anemia makrositik.20 Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut
Gambaran indeks eritrosit MCHC biasanya mengenai hubungan merokok dengan faktor-faktor
digunakan untuk mendiagnosis defisiensi besi. yang dapat memengaruhi seperti asupan makanan
Gambaran nilai MCHC yang menurun merupakan dan diet protein serta alkohol terhadap nilai indeks
indikator sensitif untuk mendiagnosis defisiensi eritrosit pada perokok.
besi dengan dihitung menggunakan Packed Cells
Volume atau hematokrit. Kadar nilai MCHC dapat DAFTAR PUSTAKA
juga menjadi suatu indikasi dari sintesis abnormal 1. Taylor AL, Bettcher DW. 2000. WHO
hemoglobin, kegagalan osmoregulasi darah dan Framework Convention On Tobacco Control;
kegagalan osmolaritas plasma. Ketika kadar nilai A Global Good For Public Health. Buletin of
the WHO; 78(7):920-29.

5
Jurnal Medik dan Rehabilitasi (JMR), Volume 1,Nomor 2, Desember 2018

2. Temperance RR, Robbert T. Will Chronic E- Smokers. Turk J Biochem. 2013; 38 (1); p: 75-
Cigarette Use Cause Lung Disease? Am. J. 80.
Physiol. Lung Cell Mol. Physiol. 2015; 14. Lymperaki E, Makedou K, Iliadis S, Vagdatli
309(12): L1398-L1409. PMCID: PMC468331. E. Effects of Acute Cigarette Smoking on Total
3. Green CR, Rodgman A. The Tobacco Blood Count and Markers. Thessaloniki,
Chemists’ Research Conference: A Half Greece. HIPPOKRATIA. 2015; 19(4): p. 293-
Century Forum For Advances In Analytical 297.
Methodology of Tobacco and Its Products. 15. Inal B, Hacibekiroglu T, Cavus B, Musaoglu
Recent Adv Tobacco Sci 1996; 22:131–304. Z, Demir H, Karadag B. Effects of Smoking on
4. Nururramah. Pengaruh Rokok Terhadap Healthy Young Men’s Hematologic
Kesehatan Dan Pembentukan Karakter Parameters. NCI. 2014; Vol. 1(1): p. 19-25.
Manusia. Seminar Nasional Pendidikan 16. Tungtrongchitr R. et al. Relationship of
Karakter Palopo. Fakultas SAINS Universitas Tobacco Smoking with Serum Vitamin B12,
Cokroaminoto Palopo. 2014; Vol. 01(1): 78- Folic Acid and Haematological Indices in
81. Healthy Adults. Public Health Nutrition. 2003;
5. World Health Organization. Guidelines For Vol. 6(7): p. 675-681.
Controlling And Monitoring The Tobacco 17. Ahmed OA. Effect of Pack-Year of Cigarette
Epidemic. Geneva; Word Health Organization. Smoking on Erythrocyte Parameters and
2001: p. 2-7. Glucose Level Among Healthy Males. 2017;
6. Islami F, Stoklosa M, Drope J, Jemal, A. Vol. 28: p. 196-199.
Global and Regional Patterns of Tobacco 18. Elgari, MM. Hematological Changes Induced
Smoking and Tobacco Control Policies. by Heavy Cigarette Smoking. Global Advanced
Elsevier. European Urology Focus. 2015; Vol. Research Journal of Medicine and Medical
1:p. 8. Sciences. 2017 December; Vol. 6(12) pp. 327-
7. Tan YL, Ulysses D. Smoking prevalence: Adult 329.
male and female smokers in ASEAN In: 19. Pankaj J, Reena J, Mal KL, Ketan M. Effect of
Southeast Asia Tobacco Control Alliance. The Cigarette Smoking on Haematological
Tobacco Control Atlas ASEAN Region. 2016; Parameters: Comparison Between Male
3rd Ed. p: 1-2. Smokers and Non-Smokers. IJSN. 2014;5(4). P:
8. Riset Kesehatan Dasar. Proporsi Penduduk 740-3.
Umur ≥10 Tahun Menurut Kebiasaan Merokok 20. Zafar, I. et al. Effects of Cigarette Smoking on
Dan Karakteristik Di Indonesia. Badan Erythrocyte, Leukocytes and Haemoglobin.
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, University of Peshawar Pakistan. J. Med. Sci;
Kementerian Kesehatan RI. 2013. p: 134. June 2003: Vol 3(3): 245-250.
9. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 21. Goel, A. et al. Study of Relationship of
Konsumsi Rokok dan Prevalensi Merokok. Tobacco Smoking With Hemoglobin
Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Concentration in Healthy Adults. Journal of
Indonesia; 2004. Pharmaceutical and Biomedical Sciences.
10. Sherwood, LZ. Fisiologi Manusia dari Sel ke 2017; Vol. 01: p. 2.
Sistem. Edisi 8. 2014. Jakarta: EGC. 22. Widmaier, E., Raff, H., Strang, K. Vander’s
11. Hall JE, Guyton AC. Buku Ajar Fisiologi Human Physiology: The Mechanism of Body
Kedokteran. Edisi 12. 2014. Jakarta: EGC. Function. 12th edition. McGraw-Hill
12. Maja MM, Besim P, Tamer B, Tanja D, Sabina Education; 2013: p. 417-420.
S, Selma S, et al. Effect of Cigarette Smoking 23. Pretorius, E. et al. Smoking and Fluidity of
on Haematological Parameters in Healthy Erythrocyte Membranes: A High Resolution
Population. Journal of Academy of Medical Scanning Electron and Atomic Force
Sciences in Bosnia and Herzegovina. NCBI. Microscopy Investigation. Department of
2017 April; 71(2): 132-6. Physiology, University of Pretoria South
13. Asif M, Karim S, Umar Z, Malik A, Ismail T, Africa. Elsevier. 2013; Vol. 35: 42-46.
Caudhary A, et al. Effect of Cigarette Smoking 24. Arika WM., Nyamai DW, Musila MN, Ngugi
Based on Hematological Parameters: MP, Njagi ENM. Hematological Markers of In
Comparison Between Male Smokers and Non- Vivo Toxicity. J Hematol Thrombo Dis, 2016;
Vol. 4(2): 1-3.