You are on page 1of 5

M - IV

PENGISIAN BAHAN PELEDAK

4.1 Tujuan
Tujuan pembahasan materi ini adalah agar praktikan mengetahui cara
menentukan jumlah bahan peledak yang digunakan berdasarkan perhitungan
serta cara pengisian bahan peledak ke dalam lubang ledak.

4.2 Kolom Isian Bahan Peledak (Explosive Column)
Agar sedapat mungkin seluruh energi bahan peledak, dalam suatu
ledakan, termanfaatkan untuk sejumlah massa batuan yang akan diledakan,
maka distribusi bahan peledak di dalam lubang bor adalah satu-satunya faktor
yang penting demi suksesnya hasil peledakan. Bila bulk explosive, misalnya
ANFO atau bulk emulsion, dimasukkan ke dalam lubang bor seluruh cross-
section lubang bor dapat terisi penuh, keadaan demikian disebut fully “coupled”.
Tapi bila bahan peledak cartridge digunakan biasanya berdiameter lebih kecil
dari pada lubang bor, untuk kemudahan saat pengisian, keadaan demikian
karena ada rongga / udara disebut “decoupled” terhadap dinding lubang bor.
Tingkat decoupling dapat mempengaruhi daya kerja yang diperoleh di
dalam kolom isian bahan peledak. Karena adanya decoupling borehole pressure
akan berkurang, sehingga hasil kerja tidak tersalurkan seluruhnya kepada
sejumlah massa batuan yang harus diledakkan.

4.3 Menghitung Berat Bahan Peledak dalam Kolom Isian
Berat bahan peledak yang terdapat dalam kolam isisan pada tiap lubang
bor merupakan fungsi dari pada density, diameter dan kolom isian bahan
peledak. Berat bahan peledak tersebut (loading factor) dapat dihitung dengan
cara sebagai berikut :
Loading factor = Loading Dencity x Panjang Kolam Isian
Ew = 7,85 x De2 x ρ x Ecl
de = 7,85 x De2 x ρ

Dari pengalaman. Dengan powder factor dapat diketahui konsumsi bahan peledak yang dipakai untuk menghasilkan sejumlah batuan. Untuk menghitung dengan basis volume (cubic yard) tiap lubang bor dihitung seperti persamaan berikut : V = (B x S x H) / 27 Dimana : V = Volume (cubic meter) B = Burden (m) S = Spacing (m) H = Tinggi Jenjang (m) 2.60 kg/m3 1. Ada empat cara dalam menyatakan Powder Factor : 1. Dimana : Ew = Berat bahan peledak dalam kolom isian (kg) De = Diameter bahan peledak (dm) ρ = Density bahan peledak (kg/dm3) Ecl = Panjang kolom isian (m) de = Loading density (kg/m) 4. berkisar 0. Untuk menghitung dengan basis berat (ton) tiap lubang bor dipakai persamaan seperti berikut : W = (B x S x H) / 27 x (27) / 2000 Dimana : W = Berat batuan (kg) ρ = Density batuan (lb/ft3) . harga powder factor pada operasi penambangan. Volume batuan per berat bahan peledak (m3/kg) 4. Berat bahan peledak per berat batuan yang diledakkan (kg/ton) 3. powder factor dapat dihubungkan dengan unit hasil produksi pada operasi peledakan.4 Powder Factor Powder Factor adalah hubungan matematis antara bahan peledak terhadap jumlah bataun yang diledakkan. dengan batuan yang relative solid. Istilah powder factor disebut juga “specific charge weight” . Berat bahan peledak per volume batuan yang diledakkan (kg/m3) 2.30-0. Berat batuan per berat bahan peledak (ton/kg) Secara umum.

tetapi dapat dibuat sendiri dari dinamit. diantara kolom isian bahan peledak diisi dengan material pengisi.2 Diameter dan Panjang Primer Bila diameter primer sama dengan diameter kolom ANFO. Jarak decking minimal 6 x diameter lubang. sedangkan untuk ukuran yang besar ( 10 cm ). Alasan lain dengan decking adalah untuk mengurangi getaran (ground vibration) atau mengurangi berat bahan peledak tiap delay. Untuk diameter lubang ledak yang kecil ( 3 cm ). maka cartridge akan meledak. Dalam hal ini detonator atau sumbu ledak hanya dimasukkan ke salah satu dari dodol dinamit.1 Primer Primer adalah istilah yang diberikan pada bahan peledak peka detonator yaitu bahan peledak berbentuk cartridge berupa pasta atau keras yang sudah dipasangi detonator yang diletakkan di dalam kolom lubang ledak. Proses peledakan di dalam kolom lubang ledak yaitu setelah alat pemicu ledak menginisiasi detonator. Sedangkan bila diameter primer lebih kecil dari pada diameter ANFO.6. Sedangkan primer itu sendiri dihentakkan (dishock) dengan detonator atau sumbu ledak. crushed stone atau pasir). Primer berfungsi untuk menghentakkan (shock) ANFO atau blasting agant lainnya. Dengan cara ini. Meledaknya cartridge atau primer akan memberikan energi cukup kuat untuk menginisiasi bahan peledak utama di sepanjang kolom lubang ledak.4. dengan berat satu dodol 200 gram.6. primer dapat dibuat dari ½ atau 1/3 dodol dinamit. kemudian baru dicapai Vod stabil (jauh dari primer).6 Priming 4.5 Decking (Deck Loading) Decking adalah suatu cara membagi kolom isian bahan peledak menjadi 2 (dua) atau lebih.keras -lemah (soft seam) atau terdapat rongga-rongga. 4. VOD ANFO sangat tinggi pada awal ledakkan. primer dapat dibuat dari 3 atau 6 dodol yang disatukan. . Primer ada yang sdah dibuat atau langsung dari prabrik. Ukuran atau berat dari dinamit yang diperlukan disesuaikan dengan diameter dan dalamnya lubang ledak. Cara ini biasanya diterapkan pada daerah batuan yang berlapis . steamming (misalnya drill cutting. 4.

3 Posisi Primer • Bottom priming. Kesulitan lain juga akan timbulnya backbreak dan tonjokan pada lantai jenjang. . joint. 4.VOD ANFO pada awal ledakkan lebih rendah. Case 1 :Bongkaran secara menyeluruh akan memperoleh karena tidak ada pengaruh hambatan. diameter lubang bor. Sehingga jarak burden harus diperpendek (case 4). Lebih baik panjangnya kurang lebih 2 x diameter untuk mendapatkan kepastian stable flat pressure yang terbentuk pada primer. Case 3 :Kedudukan fracture tegak lurus dengan arah ledakkan dan hal ini mendapat kesulitan dengan jarak spacing yang lebar. proses penghancuran dan fragmentasinya. Case 2 :Terdapat satu set fracture dan sedikit menyudut terhadap arah ledakkan. Case 4 :Jika horison section menyusuri melalui lubang bor. pertimbangan lain adalah pengaruh ketinggian jenjang. diletakkan di tengah kolom lubang ledak • Top atau collar priming. dip dan rongga-rongga. Hasil bongkaran akan berkurang karenanya. Panjang primer harus paling tidak sama dengan atau lebih besar dari pada diameternya. diletakkan di atas kolom lubang ledak 4. Bidang fracturee mempantulkan energi gelombang ledak dan mempersulit hasil bongkaran. Sehubungan dengan factor geologi.7 Pertimbangan Geologis Geologi / kondisi batuan merupakan faktor yang penting dalam mendesain peledakan. Hasil bongkaran dipengaruhi oleh adanya fracture tersebut karena energi gelombang ledak akan dipantulkan oleh adanya bidang- bidang bebas yang terbentuk diantara fracture. Element-element penting dari factor geologis adalah adanya bedding planes. Hal ini berpengaruh besar terhadap pemakaian bahan peledak dan fragmentasinya. Primer harus cukup panjang untuk diperoleh rated VOD. peledakkan ke arah kiri dip akan sulit.6. diletakkan di dasar kolom lubang ledak • Middle priming.

. Fakultas Teknik. Universitas Islam Bandung 2010. DAFTAR PUSTAKA Diktat TEKNIK PELEDAKAN Laboratorium Tambang Jurusan Teknik Pertambangan.