1 A.

Judul Penelitian Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Berbantuan Alat Peraga Neraca Bilangan untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Kelas VIIC SMP Negeri 1 Sukasada pada Pokok Bahasan Persamaan dan Pertidaksamaan Linier Satu Variabel.

B. Identitas Peneliti Nama NIM : Putu Agus Darmayasa : 0713011002

Semester : VI (enam) Kelas Jurusan :A : Pendidikan Matematika

C. Latar Belakang Masalah Salah satu masalah dari deretan masalah yang dihadapi dunia pendidikan di Indonesia adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. Siswa kurang didorong, dipacu, dan ditantang untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Proses pembelajaran di kelas sebagian besar masih diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghafal informasi. Otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diingatnya itu dan menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Akibatnya, ketika anak didik lulus dari sekolah, mereka pintar berteori, tetapi miskin dalam mengaplikasikan teorinya tersebut. Banyak cara yang dapat dilakukan guru dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik. Salah satu di antaranya adalah menggunakan pembelajaran berbantuan alat peraga. Selain mengusahakan adanya alat peraga dan memahami penggunaannya, seorang guru harus dapat mengembangkan kreasi dan keterampilannya untuk membuat sendiri alat peraga yang dibutuhkan tersebut, disesuaikan dengan kondisi sekolah dan lingkungan. Selain itu, agar pembelajaran matematika berhasil dengan baik, maka guru juga harus

2 merancang proses belajar mengajar yang melibatkan siswa secara aktif, kreatif, dan terampil. Dalam pembelajaran aktif, siswa dipandang sebagai subyek bukan obyek dan belajar lebih dipentingkan daripada mengajar. Di samping itu, siswa ikut berpartisipasi ikut mencoba dan melakukan sendiri yang sedang dipelajari. Sedangkan dalam pembelajaran yang mengacu pada pembelajaran aktif, fungsi guru adalah menciptakan suatu kondisi belajar yang memungkinkan siswa berkembang secara optimal. Pembelajaran yang diterapkan guru selama ini masih mengacu kepada guru sebagai pusat pembelajaran (teacher centered). Guru juga jarang bertanya kepada siswa tentang apa yang siswa rasakan terkait dengan model pembelajaran yang diterapkan. Bahkan, beberapa guru menganggap bahwa model pembelajaran yang telah diterapkannya pasti baik untuk siswa. Padahal, prestasi belajar siswa belum mencapai standar yang ditetapkan. Ternyata, hal tersebut juga terjadi pada SMP Negeri 1 Sukasada. Salah satu metode pembelajaran yang masih digunakan oleh guru mata pelajaran matematika saat mengajar di kelas, khususnya pada pokok bahasan persamaan dan pertidaksamaan linier satu variabel adalah metode ceramah yang disertai latihan soal. Berdasarkan pengamatan peneliti, pembelajaran matematika dengan menggunakan metode ini masih berlangsung satu arah karena kegiatan masih terpusat pada guru. Guru menjelaskan materi pelajaran disertai contoh soal sedangkan siswa mendengarkan dan mencatat. Hal ini menyebabkan siswa yang belum jelas tidak bisa terdeteksi oleh guru. Ketika diberi kesempatan untuk bertanya, hanya sedikit siswa yang melakukannya. Hal ini karena siswa takut atau bingung mengenai apa yang mau ditanyakan. Selain itu, siswa kurang terlatih dalam mengembangkan ide-idenya di dalam memecahkan masalah. Berdasarkan observasi dan wawancara yang lebih mendalam dengan guru dan siswa kelas VIIC, maka didapatkan informasi sebagai berikut: 1. Rendahnya aktivitas (keterlibatan) siswa dalam proses

pembelajaran. Hal ini ditunjukkan dengan sedikitnya siswa yang mau bertanya dan menjawab pertanyaan yang diajukan guru.

3 2. Kurangnya minat siswa dalam mengerjakan soal-soal latihan. Hal ini dapat ditunjukkan dengan adanya siswa yang enggan mengerjakan pekerjaan rumah. 3. Proses kegiatan pembelajaran tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya. Hal ini ditunjukkan oleh sikap guru yang kurang memperhatikan atau mengadakan pendekatan dengan siswa yang mengalami kesulitan dalam memecahkan masalah atau

mengerjakan soal yang diberikan. 4. Rendahnya tingkat ekonomi keluarga siswa sehingga belum mampu menunjang kebutuhan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini dapat dilihat dari kuantitas siswa yang rendah dalam kepemilikan buku pegangan selain dari sekolah dan LKS. Selain data di atas, khusus pada pembelajaran pokok bahasan persamaan dan pertidaksamaan linier satu variabel, guru tidak pernah menggunakan media pembelajaran atau alat peraga dalam menanamkan konsep. Padahal, untuk siswa SMP, utamanya lagi kelas VII, penyampaian konsep dengan benda-benda konkrit, baik melalui media pembelajaran ataupun alat peraga sangat membantu dalam memahami konsep tersebut. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan model pembelajaran yang tepat, di mana dalam proses pembelajaran matematika guru hendaknya memberikan kesempatan yang cukup kepada siswa untuk terlibat aktif dalam pembelajaran karena dengan keaktifan ini siswa akan mengalami, menghayati, dan mengambil pelajaran dari pengalamannya. Berdasarkan pemikiran tersebut, upaya pembelajaran yang dapat dilakukan adalah menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) yang dibantu dengan penggunaan alat peraga neraca bilangan.

D. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan, yaitu: 1. Seberapa besar pengaruh penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) berbantuan alat peraga neraca bilangan

4 pada pokok bahasan persamaan dan pertidaksamaan linier satu variabel dalam meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VIIC SMP Negeri 1 Sukasada? 2. khususnya pada pokok bahasan persamaan dan pertidaksamaan linier satu variabel. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat atau kontribusi yang positif bagi siswa. Tujuan Penelitian Penelitian tentang penerapan model Problem Based Learning (PBL) berbantuan alat peraga neraca bilangan pada pokok bahasan persamaan dan pertidaksamaan linier satu variabel dalam meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VIIC SMP Negeri 1 Sukasada ini bertujuan untuk: 1. Meningkatkan prestasi belajar siswa. Mengetahui pengaruh penerapan model Problem Based Learning (PBL) berbantuan alat peraga neraca bilangan pada pokok bahasan persamaan dan pertidaksamaan linier satu variabel dalam meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VIIC SMP Negeri 1 Sukasada. 3. maupun sekolah. 2. guru. Seberapa besar peningkatan prestasi belajar siswa setelah menggunakan model pembelajaran yang dimaksud? 3. F. Mengetahui tanggapan siswa terhadap model pembelajaran yang diterapkan. Siswa dapat lebih mudah memahami konsep-konsep matematika. khususnya pada pokok bahasan persamaan dan pertidaksamaan linier satu variabel melalui penerapan model Problem Based Learning (PBL) berbantuan alat peraga neraca bilangan. Bagaimana tanggapan siswa terhadap model pembelajaran yang diterapkan? E. Bagi siswa a. yaitu: 1. .

2. Ki Hadjar mengemukakan 10 syarat . oleh Ki Hadjar Dewantara. Faham tua dan faham baru” yang dimuat di Waskita edisi Mei 1929-Jilid I no. 3. b. khususnya dalam perbaikan kualitas pembelajaran matematika. Dalam tulisan “Ketertiban. dan paksaan. perintah.1 Pandangan Konstruktivisme dalam Pendidikan Indonesia Dalam penerapannya di bidang pendidikan. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan kualitas pertimbangan untuk melakukan perbaikan pembelajaran matematika. Bagi guru a. Semakin terbinanya hubungan kemitraan yang telah terjalin antara Universitas Pendidikan Ganesha dengan SMP Negeri 1 Sukasada. c. Siswa kelas VIIC SMP Negeri 1 Sukasada akan memperoleh pengalaman langsung dalam belajar matematika dengan menggunakan model Problem Based Learning (PBL) berbantuan alat peraga neraca bilangan. Guru dapat menjadikan model pembelajaran ini sebagai salah satu pembelajaran inovatif yang dapat dilakuakan lagi pada kelas-kelas yang lain. Kajian Pustaka G. 8. Bagi sekolah a. G. Meningkatkan kemampuan guru dalam mengemas sebuah pembelajaran yang inovatif dan bermakna bagi siswa. teori konvergensi diturunkan menjadi sistem pendidikan yang memerdekakan siswa atau yang disebutnya „sistem merdeka‟.5 b. khususnya pada pokok bahasan persamaan dan pertidaksamaan linier satu varibel. b. Guru yang terlibat langsung dalam penelitian ini akan memperoleh pengalaman baru secara langsung dalam menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) berbantuan alat peraga neraca bilangan pada pokok bahasan persamaan dan pertidaksamaan linier satu variabel.

Dasar pemikiran konstruktivisme adalah pengetahuan merupakan hasil konstruksi manusia. Hal terpenting dalam pembelajaran adalah siswa perlu menguasai bagaimana . Menurut teori ini.6 untuk melakukan “sistem merdeka” agar memperoleh hasil yang baik. 2009). dan (c) cakap mengatur hidupnya dengan tertib. Orang yang belajar tidak hanya meniru atau mencerminkan apa yang yang diajarkan. melainkan menciptakan sendiri pengertian (Bettencourt. Singkatnya. perlu disadari bahwa siswa adalah subjek utama dalam kegiatan penemuan pengetahuan. 1992 dalam Bagus Takwin. 1996. pengetahuan tidak mungkin ditransfer kepada orang lain karena setiap orang membangun pengetahuannya sendiri. Jika dicermati. 2009). mencakup pembelajaran tentang konsekuensi logis dari tindakan sesuai dengan hukum sebab-akibat dan kesadaran tentang pentingnya belajar bagi kehidupan siswa dalam keseharian mereka. Penerapan konstruktivisme dalam proses belajar-mengajar menghasilkan metode pengajaran yang menekankan aktivitas utama pada siswa (Fosnot. serta memperoleh pemahaman tentang seluk-beluk objek-objek dan peristiwa-peristiwa itu. maka “sistem merdeka” dari Ki Hadjar sejalan dengan pandangan konstruktivisme. Menjadi manusia merdeka berarti: (a) tidak hidup terperintah. (b) berdiri tegak karena kekuatan sendiri. serta mampu memberi konstribusi kepada masyarakatnya. Menurut ahli konstruktivisme. dalam Bagus Takwin. Mereka harus menjalani sendiri berbagai pengalaman yang pada akhirnya memberikan percikan pemikiran (insight) tentang pengetahuan-pengetahuan tertentu. Lorsbach & Tobin. Mereka menyusun dan membangun pengetahuan melalui berbagai pengalaman yang memungkinkan terbentuknya pengetahuan. Ki Hadjar menunjukkan bahwa pendidikan diselenggarakan dengan tujuan membantu siswa menjadi manusia yang merdeka dan mandiri. Inti dari syarat-syarat itu adalah memfasilitasi siswa untuk memperoleh pengalaman yang dapat dijadikan media pembelajaran. pendidikan menjadikan orang mudah diatur tetapi tidak bisa disetir. Teori pendidikan yang didasari konstruktivisme memandang murid sebagai orang yang menanggapi secara aktif objek-objek dan peristiwa-peristiwa dalam lingkungannya.

pikiran. Mengajar dalam konteks ini adalah membantu siswa . roh) dan badan anak dengan jalan pengajaran. 1984 dalam Bagus Takwin. maka ganjaran dan hukuman itu harus datang sendiri sebagai hasil atau buah dari segala pekerjaan dan keadaan. mencari kejelasan. Kegiatan mengajar di sini adalah sebuah partisipasi dalam proses belajar. Ini mengingatkan kita kepada teori perkembangan dari tokoh psikologi kognitif. Jean Piaget (1954) yang menyatakan bahwa anak mengkonstruksi sendiri pengetahuannya melalui pengalaman bertemu dengan objek-objek di lingkungan. Teori Piaget juga merupakan salah satu dasar dari konstruktivisme. dan membiasakan anak didik untuk menjadi manusia mandiri dan berperan dalam memajukan kehidupan masyarakatnya. anak adalah pebelajar yang pada dirinya sudah memiliki motivasi untuk mengetahui dan akan memahami sendiri konsekuensi dari tindakan-tindakannya. perlu dihindari pendidikan yang hanya menghasilkan orang yang sekadar menurut dan melakukan perintah. Ini menunjukkan adanya kesesuaian antara pemikiran Ki Hadjar dan konstruktivisme. dan pembiasaan. Pandangan konstruktivisme tentang pendidikan sejalan dengan pandangan Ki Hadjar yang menekankan pentingnya siswa menyadari alasan dan tujuan ia belajar. Ki Hadjar dan konstruktivisme sama-sama memandang pengajar sebagai mitra para siswa untuk menemukan pengetahuan. Pengajar ikut aktif bersama siswa dalam membentuk pengetahuan. 2009). jangan ada perintah dan paksaan dalam pendidikan.” Menurutnya. Mengajar bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari guru ke murid melainkan kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya. teladan. mencipta makna. Ki Hadjar mengartikan mendidik sebagai “berdaya-upaya dengan sengaja untuk memajukan hidup-tumbuhnya budi-pekerti (rasa. bersikap kritis dan memberikan penilaian-penilaian terhadap berbagai hal. Dengan itu.7 caranya belajar (Novak & Gowin. ia bisa jadi pebelajar mandiri dan menemukan sendiri pengetahuanpengetahuan yang ia butuhkan dalam kehidupan. Pendidik adalah orang yang mengajar. Jika pun ada ganjaran dan hukuman. Baginya. Merujuk pada Piaget. memberi teladan.

Jangan sampai pengarahan yang diberikan menghilangkan rasa ingin tahu siswa atau menimbulkan konflik antara pengajar dengan siswa.8 untuk berpikir secara kritis. “Si pendidik hanya boleh membantu kodrat-iradatnya “keadilan”. dan logis dengan membiarkan mereka berpikir sendiri. Ia menyediakan pengalaman-pengalaman yang memungkinkan siswa untuk mengkonstruksi berbagai pengetahuan serta merangsang rasa ingin tahu siswa. Keterlibatan pengajar dengan siswa pada saat-saat siswa sedang berjuang menemukan berbagai pengetahuan sangat diperlukan untuk menumbuhkan rasa percaya siswa baik pada dirinya sendiri maupun pada pengajar. sistematis. Ki Hadjar yang memakai semboyan Tut Wuri Handayani menempatkan juga pengajar sebagai orang yang berada di belakang siswa. membimbing. pengajar harus banyak terlibat dengan siswa agar ia memahami konteks yang melingkupi kegiatan belajar siswa.” . Dalam konstruktivisme dan sistem merdeka. Menurut konstruktivisme. maka pengajar harus hati-hati dalam memberi pengarahan. Dalam perkataan Ki Hadjar. Jika jawaban itu jauh bertentangan dengan prinsip-prinsip keilmuan atau membahayakan. Apa yang dikatakan oleh murid dalam menjawab sebuah pertanyaaan adalah masuk akal bagi mereka saat itu. kalau buahnya segala pekerjaan dan keadaan itu tidak timbul karena adanya rintangan. pengajar berperan sebagai fasilitator atau mediator bagi siswa dalam membangun pengetahuannya sendiri. memberi teladan. atau kalau buahnya itu tidak terlihat nyata dan terang. serta membantu siswa membiasakan dirinya untuk menampilkan perilaku yang bermakna dan berguna bagi masyarakatnya. Pengajar juga melibatkan siswa dalam menentukan apa yang hendak dibicarakan dalam kegiatan belajar-mengajar sehingga siswa benarbenar terlibat. Pengajar harus memiliki fleksibilitas pikiran yang tinggi agar dapat memahami dan menghargai pemikiran siswa karena seringkali siswa menampilkan pendapat yang berbeda bahkan bertentangan dengan pemikiran pengajar. dan mendorong siswa untuk belajar. Sejalan dengan itu.

Padahal menurut teori psikologi kognitif modern. dan bukan penerimaan. Belajar adalah proses konstruktif. Kepala siswa dipandang sebagai kotak kosong yang siap diisi melalui repetisi dan penerimaan. Pengetahuan disusun dalam jaringan . Berbagai kajian dan penelitian menunjukkan efektivitas yang tinggi dari konstruktivisme itu. Dari situ. Jadi pelaksanaan pembelajaran selama ini dianggap sebagai perekaman materi oleh guru saja ke dalam otak siswa. yaitu: 1. dapat diidentifikasi adanya kesamaan pemikiran antara konstruktivisme dengan sistem merdeka dari Ki Hadjar. Mengikuti Glaser (1991) secara umum diasumsikan bahwa belajar adalah proses yang konstruktif dan bukan penerimaan. G. Pembelajaran tradisional didominasi oleh pandangan bahwa belajar adalah penuangan pengetahuan ke kepala siswa. Pendidikan dengan dasar konstruktivisme saat ini merupakan aliran mutakhir yang banyak dianjurkan penggunaannya oleh banyak ahli pendidikan modern.2 Landasan Teoritik Problem Based Learning (PBL) Temuan-temuan dari psikologi kognitif menyediakan landasan teoretis untuk meningkatkan pengajaran secara umum dan khsususnya problem based learning (PBL). ada tiga prinsip pembelajaran yang berkaitan dengan PBL. Perumusan metode pengajaran yang didasari pemikiran Ki Hadjar perlu dilakukan secara lebih sistematis lagi agar dapat diterapkan di kalangan lebih luas dan menjadi satu metode dapat diandalkan. Premis dasar dalam psikologi kognitif adalah belajar merupakan proses konstruksi pengetahuan baru yang berdasarkan pada pengetahuan terkini. bahkan tergolong pemikiran yang sangat maju. dan faktor-faktor sosial dan kontektual mempengaruhi pembelajaran. Berdasarkan pada hal ini. Jika pemikiran itu dioperasionalisasi dengan metode yang tepat dan prosedur yang kongkrit-operasional. memori merupakan struktur asosiatif. maka efektivitasnya pun akan sangat tinggi. Prosesproses kognitif yang disebut metakognisi mempengaruhi penggunaan pengetahuan.9 Dari paparan di atas. dapat dinilai bahwa pemikiran Ki Hadjar tentang pendidikan masih sangat relevan saat ini.

strategi seleksi (how am I doing it?). siswa dilatih untuk mengumpulkan konsep-konsep agar tujuan pembelajaran itu dapat terekam. dan evaluasi tujuan (did it work?).10 antarkonsep. tetapi juga penggunaan metode pemecahan masalah untuk mencapai tujuan. Prinsip kedua yang sangat penting dalam belajar adalah proses cepat. Prinsip ketiga ini adalah tentang penggunaan pengetahuan. Faktor-faktor kontekstual dan sosial. Ketika belajar terjadi informasi baru digandengkan pada jaringan informasi yang telah ada. yakni menyadari bagaimana suatu masalah dianalisis dan apakah hasil pemecahan masalah masuk akal? 3. studi-studi menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan serius dalam menggunakan pengetahuan ilmiah (Bruning et al. 1995). secara umum mengacu pada metakognisi (Bruer. 1996). kemudian disertai dengan pemberian tugas-tugas berupa masalah untuk meningkatkan penggunaan pengetahuan. Mengarahkan siswa untuk memahami pengetahuan dan untuk mampu menerapkan proses pemecahan masalah merupakan tujuan yang sangat ambisius. Dan dalam pembelajaran berbasis masalah. Secara khusus keterampilan metokognitif meliputi kemampuan memonitor prilaku belajar diri sendiri. Knowing about knowing (metakognisi). Keberhasilan pemecahan masalah tidak hanya bergantung pada pemilikan pengetahuan konten (body of knowledge). Namun. mengacu pada jalinan semantik. 1993 dalam Gijselaers. bila siswa mengajukan keterampilan-keterampilan self monitoring. 2. Studi juga menunjukkan bahwa pendidikan tradisional tidak . Jalinan semantik tidak hanya menyangkut bagaimana menyimpan informasi. Metakognisi dipandang sebagai elemen esensial keterampilan belajar seperti setting tujuan (what am I going to do). tetapi juga bagaimana informasi itu diinterpretasikan dan dipanggil. Pembelajaran biasanya dimulai dengan penyampaian pengetahuan oleh guru kepada siswa.

Konstruktivisme Viaget dan Vygotsky. dan Renkl (1993) menyampaikan empat cara pengajaran kepada siswa untuk menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah dunia nyata. Glaser (1991) beralasan bahwa dalam kerja kelompok kecil pembelajar mengekspos pandangan alternatif adalah tantangan nyata untuk mengawali pemahaman. Gruber. . sehingga membangkitkan metode pemecahan masalah dan pengetahuan konseptual mereka. Dalam kelompok kecil tersebut akan terbentuk suatu tanggungjawab siswa. Mandl. 2004 dalam Junaidi Wawan. Kedua model ini menekankan bahwa pengajaran harus terjadi dalam kontek masalah dunia nyata atau parktek-praktek professional. Mereka menyatakan ide-ide dan membagi tanggung jawab dalam memanage situasi masalah. Model pembelajaran berbasis masalah dapat ditelusuri melalui tiga aliran pemikiran pendidikan yaitu: Dewey dan Kelas Demokratis. 1990 dalam Junaidi Wawan. 2009). Belajar Penemuan Bruner (Ibrahim dan Nur. Belajar harus berlangsung dalam situasi kerjasama untuk mengkonfrotasikan keyakinan yang dipegang oleh masing-masing individu Strategi ini dilandasi oleh dua model yang saling melengkapi cognitive apprenticeship dan anchored instruction. 2009). yaitu: 1. Ide-ide yang keluar pun tak terhambat karena disini mereka dapat dengan bebas mengungkapkannya tanpa takut merasa digurui. 3. Pengajaran harus diletakan dalam konteks situasi pemecahan masalah kompleks dan bermakna. Faktor sosial juga mempengaruhi belajar individu.11 memfasilitasi peningkatan pemahaman masalah-masalah (Clement. 2. Pengetahuan dan keterampilan-keterampilan harus diajarkan dari perspektif yang berbeda dan diterapkan pada setiap situasi yang berbeda. 4. Pengajaran harus dipusatkan pada pengajaran keterampilan metakognitif dan bilamana mengunnakannya.

2004). Vygotsky juga percaya bahwa perkembangan intelektual terjadi pada saat individu berhadapan dengan pengalaman baru dan menantang dan ketika mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang . 2. Dalam demokrasi dan pendidikan Dewey menyampaikan pandangan bahwa sekolah seharusnya mencerminkan masyarakat yang lebih besar dan kelas merupakan laboratorium untuk memecahkan masalah kehidupan nyata. 1997). Bagi Piaget pengetahuan adalah konstruksi(bentukan) dari kegiatan/tindakan seseorang (Suparno. Ilmu mendidik Dewey menganjurkan guru untuk mendorong siswa terlibat dalam proyek atau tugas berorientasi masalah dan membantu mereka menyelidiki masalahmasalah intelektual dan sosial. Pandangan ini banyak didasarkan teori Piaget. Dewey juga menyatakan bahwa pembelajaran disekolah seharusnya lebih memiliki manfaat dari pada abstrak dan pembelajaran yang memiliki manfaat terbaik dapat dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok kecil untuk menyelesaikan proyek yang menarik dan pilihan mereka sendiri. Dewey dan Pembelajaran Demokratis Pembelajaran berbasis masalah menemukan akar intelektualnya pada penelitian John Dewey (Ibrahim & Nur. Piaget mengemukakan bahwa siswa dalam segala usia secara aktif terlibat dalam proses perolehan informasi dan membangun pengetahuan mereka sendiri. Konstrukivisme Piaget dan Vygotsky Pembelajaran berbasis masalah dikembangkan diatas pandangan konstruktivis–kognitif (Ibrahim dan Nur. Pengalaman baru ini memaksa mereka untuk membangun dan memodifikasi pengetahuan awal mereka. seorang anak tidak dapat mengkonstruksi pengetahuannya. Pengetahuan tidak bersifat statis tetapi terus berevolusi. Setiap pengetahuan mengandalkan suatu interaksi dengan pengalaman. Pengetahuan tumbuh dan berkembang pada saat pembelajar menghadapi pengalaman baru. Tanpa interaksi dengan objek. 2004). Seperti halnya Piaget.12 1.

Vygotsky memberi tempat lebih pada aspek sosial pembelajaran. Piaget memandang bahwa tahap-tahap perkembangan intelektual individu dilalui tanpa memandang latar konteks sosial dan budaya individu. Ia telah mengembangkan suatu model instruksional kognitif yang sangat berpengaruh yang disebut dengan belajar penemuan. 2004 dalam Junaidi Wawan. Ia percaya bahwa interaksi social dengan orang lain mendorong terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan intelektual pembelajar. Implikasi dari pandangan Vygotsky dalam pendidikan adalah bahwa pembelajaran terjadi melalui iteraksi sosial dengan guru dan teman sejawat. siswa bergerak ke dalam zona perkembangan terdekat mereka dimana pembelajaran baru terjadi (Ibrahim dan Nur. Belajar dimulai dengan suatu permasalahan. 1998 dalam Junaidi Wawan. Melalui tantangan dan bantuan dari guru atau teman sejawat yang lebih mampu. Berusaha sendiri untuk pemecahan masalah dan pengetahuan yang menyertainya. menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna ( Dahar. . 3. Untuk memperoleh pemahan individu mengaitkan pengetahuan baru dengan pengetahuan awal yang telah dimiliki.13 dimunculkan oleh pengalaman ini (Ibrahim & Nur. 2009). Sementara itu. Bruner menyarankan agar siswa hendaknya belajar melalui partisipasi secara aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip agar mereka dianjurkan untuk memperopleh pengetahuan. Bruner dan Belajar Penemuan Bruner adalah adalah seorang ahli psikologi perkembangan dan psikologi belajar kognitif. 2009). Model Problem Based Learning memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut: 1. 2004). Perlunya pembelajar penemuan didasarkan pada keyakinan bahwa pembelajaran sebenarnya melalui penemuan pribadi. Bruner menganggap bahwa belajar penemuan sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia dan dengan sendirinya memberikan hasil yang lebih baik.

Manipulasi ruang permasalahan memungkinkan terjadinya belajar secara aktif dan bermakna. 4. yang mengacu pada permasalahan permasalahan kontekstual. (2) mendefinisikan masalah. Representasi atau simulasi masalah dapat dibuat secara naratif. bukan di seputar disiplin ilmu. Menemukan masalah. Mengorganisasikan pelajaran di seputar permasalahan. Memberikan tanggung jawab sepenuhnya kepada pebelajar dalam mengalami secara langsung proses belajar mereka sendiri. dibutuhkan pebelajar dalam memecahkan masalah. Aktivitas menggambarkan interaksi antara pebelajar. Memastikan bahwa permasalahan yang diberikan berhubungan dengan dunia nyata pebelajar. (4) menyusun dugaan sementara. (5) menyelidiki. (8) menguji solusi permasalahan (Fogarty. Menggunakan kelompok kecil 6. Menuntut pebelajar untuk mendemonstrasikan apa yang telah mereka pelajari dalam bentuk produk atau kinerja (performance). objek yang dipakai. (3) mengumpulkan fakta-fakta. tanda-tanda. dan tanda-tanda serta alat-alat yang menjadi mediasi dalam interaksi. (6) menyempurnakan permasalahan yang telah didefinisikan. 2005). Pebelajar diberikan masalah berstruktur illdefined yang diangkat dari konteks kehidupan sehari-hari. Pernyataan permasalahan diungkapkan dengan kalimat-kalimat yang pendek dan memberikan sedikit fakta-fakta di seputar konteks permasalahan. Masalah yang diberikan kepada pebelajar dikemas dalam bentuk ill-defined. memuat nyata. Pernyataan permasalahan diupayakan memberikan peluang pada pebelajar untuk melakukan penyelidikan. 3. Model Problem Based Learning dijalankan dengan 8 langkah. Manipulasi dan alat-alat ruang yang objek-objek. 5. Masalah dalam model Problem Based Learning mengintegrasikan komponen-komponen konteks permasalahan. atau simulasi masalah. 1997 dalam Santyasa. dan authentik. yaitu: (1) menemukan masalah.14 2. (7) menyimpulkan alternatif-alternatif pemecahan secara kolaboratif. Pebelajar menggunakan kecerdasan inter dan intra- . dan manipulasi ruang permasalahan. representasi.

Dalam hal ini. Pebelajar membuka kembali pengalaman yang sudah diperolehnya dan pengetahuan awal untuk mengumpulkan fakta-fakta. pebelajar melibatkan kecerdasan intra-personal dan kemampuan awal yang dimiliki dalam memahami dan mendefinisikan masalah. Pebelajar menyusun jawabanjawaban sementara terhadap permasalahan. Mendefinisikan masalah. Pebelajar melibatkan kecerdasan majemuk yang dimilikinya dalam memahami dan memaknai informasi dan fakta-fakta yang ditemukannya. Pada tahap ini. dan “apa yang dilakukan (need to do)” untuk menganalisis permasalahan dan fakta-fakta yang berhubungan dengan permasalahan. Mengumpulkan fakta-fakta. Guru membuat struktur belajar yang memungkinkan pebelajar dapat menggunakan berbagai cara untuk mengetahui dan memahami dunia mereka. dengan menyempurnakan perumusan masalah merefleksikannya melalui gambaran nyata yang mereka pahami. “apa yang dibutuhkan (need to know)”. pebelajar juga melibatkan kecerdasan interpersonal yang dimilikinya untuk mengungkapkan apa yang dipikirkannya. Perumusan ulang permasalahan lebih memfokuskan penyelidikan. membuat hubunganhubungan. Pada langkah ini. Pebelajar melibatkan kecerdasan majemuk yang dimiliki untuk mencari informasi yang berhubungan dengan permasalahan. Pebelajar melibatkan kecerdasan verbal-linguistic memperbaiki pernyataan rumusan masalah sedapat mungkin menggunakan kata yang lebih tepat. Pebelajar mendefinisikan masalah menggunakan kalimatnya sendiri. Menyelidiki. jawaban dugaannya. pebelajar mengorganisasikan informasi-informasi dengan menggunakan istilah “apa yang diketahui (know)”. dan menunjukkan . Pebelajar melakukan penyelidikan terhadap data-data dan informasi yang diperolehnya berorientasi pada permasalahan. Pebelajar membuat beberapa definisi sebagai informasi awal yang perlu disediakan. dan penalaran mereka dengan langkah-langkah yang logis.15 personal untuk saling memahami dan saling berbagi pengetahuan antar anggota kelompok terkait dengan permasalahan yang dikaji. Permasalahan dinyatakan dengan parameter yang jelas. Menyusun dugaan sementara. Menyempurnakan Pebelajar permasalahan kembali yang telah didefinisikan.

sumber kritik yang konstruktif. Kolaborasi menjadi mediasi untuk menghimpun sejumlah alternatif pemecahan masalah yang menghasilkan alternatif yang lebih baik ketimbang dilakukan secara individual. fasilitator. Menguji solusi permasalahan. Prinsip reaksi yang berkembang dalam pembelajaran ini adalah. berpikir tingkat tinggi. konsultan. Menyimpulkan alternatif-alternatif pemecahan secara kolaboratif. menulis. Setiap anggota kelompok secara kolaboratif mulai bergelut untuk mendiskusikan permasalahan dari berbagai sudut pandang. Minimnya peran guru sebagai transmiter pengetahuan merupakan ciri sistem social yang berkembang dalam pembelajaran ini. bahwa guru lebih berperan sebagai konselor. dan interaksi kelas dilandasi oleh kesepakatan kelas. Pada tahap ini proses pemecahan masalah berada pada tahap menyimpulkan alternatif-alternatif pemecahan yang dihasilkan dengan berkolaborasi.16 secara jelas fakta-fakta dan informasi yang perlu dicari. . membuat plot untuk mengungkapkan ide-ide yang dimilikinya dalam menguji alternative pemecahan. Sarana pembelajaran dalam model Problem Based Learning adalah masalah-masalah aktual dan upayakan yang bersifat ill-defined yang mampu menciptakan suasana konfrontatif dan dapat membangkitkan proses metakognisi. dan strategi pemecahan masalah yang bersifat divergen. Peran tersebut ditampilkan utamanya dalam proses siswa melakukan aktivitas pemecahan masalah. Pebelajar berkolaborasi mendiskusikan data dan informasi yang relevan dengan permasalahan. pemikir tingkat tinggi. Pebelajar menguji alternatif pemecahan yang sesuai dengan permasalahan aktual melalui diskusi secara komprehensip antar anggota kelompok untuk memperoleh hasil pemecahan terbaik. debat. serta memberikan tujuan yang jelas dalam menganalisis data. Suasana kelas cenderung demokratis. Guru dan siswa memiliki peranan yang sama yaitu memecahkan masalah. Pebelajar menggunakan kecerdasan majemuk untuk menguji alternatif pemecahan masalah dengan membuat sketsa.

2010) Bruner membagi proses belajar siswa menjadi tiga tahap. agar siswa dapat . 1.17 G. 2008 dalam Widyantini dan Sigit. siswa SMP merupakan peralihan dari tahap operasional konkrit menuju ke tahap formal. Tahap Simbolik Selain dua tahap diatas masih ada satu tahap lagi yaitu tahap simbolik dimana siswa mewujudkan pengetahuannya dalam bentuk symbol-simbol abstrak. Menurut teori J. matematika mulai dipelajari dari sekolah dasar. 3. yaitu: 1. Psikologi dan Teori Belajar Matematika. dan simbolik. Menurut Fajar (15. Tahap Ikonik Setelah mempelajari pengetahuan dengan benda nyata atau benda konkrit. Tahap sensorik motorik (0 – 2 tahun) 2. untuk itu agar siswa dapat memahami matematika dengan baik diperlukan pemahaman konsep dasar dalam matematika. Piaget perkembangan intelektual seseorang hingga dewasa terbagi atas empat tahap. 2. Tahap pra operasional (2 – 7 tahun) 3. Tahap Enaktif Pada tahap ini. tahap berikutnya adalah tahap ikonik yaitu siswa mempelajari suatu pengetahuan dalam bentuk gambar atau diagram sebagi perwujudan dari kegiatan yang menggunakan benda konkrit atau nyata. Tahap operasional konkrit (7 – 11 tahun) 4. ikonik. yaitu tahap enaktif. Tahap formal (lebih dari 11 tahun) Selain Piaget ahli lain mengemukakan pendapatnya tentang perkembangan belajar seseorang adalah Bruner. siswa dituntut untuk mempelajari pengetahuan dengan menggunakan benda konkrit atau menggunakan situasi nyata bagi para siswa. Dengan kata lain siswa harus mengalami proses berabstraksi. Oleh karena itu. Berdasarkan teori di atas.3 Pentingnya Penggunaan Alat Peraga Menurut Standar Isi Permendiknas Nomer 22 Tahun 2006.

Alat peraga dipilih dan digunakan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang diharapkan tercapai kompetensinya oleh siswa. Bridge (menjembatani ke arah konsep) Alat peraga ini bukan merupakan wujud konkrit dari konsep matematika. Kata media sendiri berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. atau disusun secara sengaja yang digunakan untuk membantu menanamkan atau mengembangkan konsep-konsep atau prinsipprinsip dalam Matematika (Djoko Iswadji. menurut Sumardiyono setidaknya ada enam golongan alat peraga. Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran. dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses pembelajaran terjadi (Sadiman. perasaan. dibuat.18 menguasai konsep-konsep matematika yang bersifat abstrak maka dalam membelajarkan matematika kepada siswa masih diperlukan azas peragaan. Models (memodelkan suatu konsep) Alat peraga jenis model ini berfungsi untuk memvisualkan atau mengkonkretkan (physical) konsep matematika. Alat peraga merupakan bagian dari media pembelajaran . tetapi merupakan sebuah cara yang dapat ditempuh untuk memperjelas pengertian suatu konsep matematika.2002:6 dalam Widyantini dan Sigit). Oleh karena itu perlu mengetahui fungsi alat peraga sebagai berikut. 2. 2010). Fungsi ini menjadi sangat dominan bila mengingat bahwa kebanyakan . 2003:1 dalam Widyantini dan Sigit. alat peraga merupakan media pembelajaran yang mengandung atau membawakan ciri-ciri dari konsep yang dipelajari. yaitu alat peraga yang dapat digunakan sebagai jembatan bagi siswa untuk berpikir abstrak. Menurut Estiningsih (1994). perhatian. berkaitan dengan topik-topik tertentu yang dapat membantu pemahaman siswa. yaitu: 1. Alat peraga adalah seperangkat benda konkrit yang dirancang. Karenanya. ketika proses pembelajaran matematika berlangsung sudah seharusnya menggunakan model atau benda nyata (benda konkrit).

memahami atau menggunakan konsep-konsep matematika. Jadi. . Penyelesaian masalah yang disuguhkan dalam alat peraga tersebut tidak terkait dengan hanya satu konsep matematika atau satu keterampilan matematika saja. 3. operasi.19 konsep-konsep matematika masih sangat abstrak bagi kebanyakan siswa. Jelasnya. Hal ini bermanfaat untuk melatih kompetensi yang dimiliki siswa dan melatih ketrampilan problem-solving. Skills (mentrampilkan fakta. konsep matematikanya hanya “diperlihatkan” apa adanya. konsep. atau prinsip) Alat peraga ini secara jelas dimaksudkan agar siswa lebih terampil dalam mengingat. Application (mengaplikasikan konsep) Jenis alat peraga ini tidak secara langsung tampak berkaitan dengan suatu konsep. 5. Sources (sumber untuk pemecahan masalah) Alat peraga yang kita golongkan ke dalam jenis ini adalah alat peraga yang menyajikan suatu masalah yang tidak bersifat rutin atau teknis tetapi membutuhkan kemampuan problem-solving yang heuristik dan bersifat investigatif. 6. operasi atau prinsip. alat peraga jenis ini tidak dimaksudkan untuk memperagakan suatu konsep tetapi sebagai contoh penerapan atau aplikasi suatu konsep matematika tersebut. Jenis alat peraga ini biasanya berbentuk permainan ringan dan memiliki penyelesaian yang rutin (tetap). Demonstration (mendemonstrasikan konsep. tetapi merupakan gabungan beberapa konsep. tetapi ia dibentuk dari konsep matematika tersebut. atau prinsip matematika) Alat peraga ini memperagakan konsep matematika sehingga dapat dilihat secara jelas (terdemonstrasi) karena suatu mekanisme teknis yang dapat dilihat (visible) atau dapat disentuh (touchable). 4.

Gambar 1. “Variabel (peubah) adalah lambang yang mewakili (menunjuk pada) anggota sebarang pada suatu semesta pembicaraan”.4 Persamaan dan Pertidaksamaan Linier Satu Variabel dan Alat Peraga Neraca Bilangan Persamaan adalah kalimat matematika terbuka yang dihubungkan dengan tanda “=”. Persamaan linier satu variabel adalah persamaan dalam bentuk ax + b = 0. guru dapat menggunakan bantuan alat peraga neraca . a. a dan b adalah bilangan real dan a ≠ 0. >. dan c adalah bilangan real dan a ≠ 0. Persamaan linier adalah persamaan yang variabelnya berpangkat 1. Pertidaksamaan linier adalah pertidaksamaan yang variabelnya berpangkat 1. menurut Krismanto (2004:4) dalam Masruchin (2005). Pertidaksamaan juga merupakan kalimat matematika terbuka yang dihubungkan dengan tanda “<. Untuk menanamkan konsep persamaan dan pertidaksamaan linier satu variabel pada siswa. dengan x sebagai variabel. Sedangkan istilah variabel.20 G. ≤. atau ≥”. Contoh penggunaan neraca bilangan. Pertidaksamaan linier dapat berbentuk sebagai berikut: ax + b < c ax + b > c ax + b ≤ c ax + b ≥ c dengan x sebagai variabel. b.

Alat peraga ini juga tidak membatasi beban neraca yang akan digunakan. Siswa juga diberikan kebebasan dalam mencari solusi untuk memecahkan masalah-masalah yang diberikan. Salah satu tujuan pembelajaran matematika adalah mengembangkan kemampuan memecahkan masalah. yaitu penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) berbantuan alat peraga neraca bilangan untuk . Beban dari neraca ini dapat berbentuk kelereng atau dadu yang masing-masing mempunyai berat yang sama. Gambar 1 di atas adalah gambar penggunaan alat peraga ini. Alat peraga ini berbentuk seperti neraca (timbangan) biasa yang dapat diisikan beban di kedua lengannya. Dengan cara seperti itu. Hipotesis Tindakan Dari dasar pemikiran yang telah diuraikan di atas. Beban neraca dapat berbentuk apapun asalkan mempunyai kesamaan berat dan disesuaikan dengan permasalahan yang akan diajukan kepada siswa saat kegiatan pembelajaran dilaksanakan. diharapkan prestasi belajar siswa pada pelajaran matematika dapat ditingkatkan. Alat peraga neraca bilangan adalah salah satu media yang diharapkan dapat mengantarkan siswa dalam memahami konsep dan menyelesaikan permasalahan persamaan dan pertidaksamaan linier satu variabel. Salah satu komponen tersebut adalah media pembelajaran atau alat peraga.21 bilangan. maka dapat dirumuskan hipotesis tindakan. siswa secara langsung melihat dan merasakan perubahan-perubahan yang terjadi ketika siswa menambahkan atau mengurangkan beban pada timbangan. Dengan menggunakan alat peraga ini. siswa tidak perlu membayangkan lagi proses yang terjadi pada operasi persamaan dan pertidaksamaan linier satu variabel. Kerangka Berpikir Belajar sebagai proses interaksi antara guru dan murid di dalam kelas akan optimal jika komponen-komponen pengajaran saling mendukung. Dengan keterampilan dan penguasaan dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang berhubungan dengan persamaan dan pertidaksamaan linier satu variabel.

4 Desain dan Prosedur Penelitian Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan mengikuti model penelitian pendidikan yang memandang penelitian tindakan sebagai upaya yang bersifat refleksif mandiri yang dilakukan secara spiral melalui empat tahapan. dan refleksi. Banyaknya subyek penelitian adalah 39 orang. Tanggapan siswa terhadap model pembelajaran yang diterapkan H. pelaksanaan tindakan.2 Subyek dan Tempat Penelitian Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VIIC SMP Negeri 1 Sukasada tahun ajaran 2009/2010.22 meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VIIC SMP Negeri 1 Sukasada pada pokok bahasan persamaan dan pertidaksamaan linier satu variabel. Prestasi belajar matematika siswa 2. Penelitian ini diadakan di SMP Negeri 1 Sukasada yang merupakan salah satu SMP Negeri di Kecamatan Sukasada. Penelitian ini akan dilakukan dalam tiga siklus di mana masing-masing siklus terdiri dari 4 tahapan secara siklis. yaitu .1 Jenis Penelitian Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang bersifat kolaboratif dengan tindakan berupa penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) berbantuan alat peraga neraca bilangan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VIIC SMP Negeri 1 Sukasada pada pokok bahasan persamaan dan pertidaksamaan linier satu variabel. H. Metode Penelitian H. H.3 Obyek Penelitian Obyek penelitian penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) berbantuan alat peraga neraca bilangan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VIIC SMP Negeri 1 Sukasada pada pokok bahasan persamaan dan pertidaksamaan linier satu variabel ini adalah: 1. yaitu perencanaan tindakan. H. observasi. Kabupaten Buleleng.

pelaksanaan tindakan. Masingmasing siklus direncanakan terdiri dari 3 kali pertemuan.23 perencanaan tindakan. . dan refleksi. pelaksanaan perencanaan SIKLUS I refleksi observasi pelaksanaan perencanaan SIKLUS II observasi refleksi pelaksanaan perencanaan SIKLUS III observasi refleksi Gambar 2. Guru menentukan materi yang akan diberikan. Gambaran desain penelitian Prosedur penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut: Siklus I Perencanaan 1. Berikut ini adalah gambar desain penelitian yang akan dilakukan. observasi.

guru hanya memberikan Siswa Siswa mencermati dengan baik cerita yang disampaikan oleh guru. maka pembelajaran di kelas dapat berupa seperti pada tabel di bawah ini. Berkaitan dengan sintaks (langkah) dari model Problem Based Learning. Guru mempersiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP-I) yang sesuai dengan model Problem Based Learning berbantuan alat peraga neraca bilangan 3. Merancang dan membuat alat peraga neraca bilangan Merancang soal-soal latihan/LKS Meminta kesediaan guru lain membantu mengamati Mempersiapkan siswa mengikuti pembelajaran dengan alat peraga Menentukan jadwal pelaksanaan. 5. Siswa kemudian mulai melakukan identifikasi masalah (penyelidikan) berdasarkan cerita yang disampaikan guru .24 2. 6. Pelaksanaan Dalam tahapan pelaksanaan penelitian ini menggunakan pembelajaran matematika yang bermodel Problem Based Learning berbantuan alat peraga neraca bilangan pada pokok bahasan persamaan dan pertidaksamaan linier satu variabel. 7. Tabel di bawah ini merupakan tabel yang menjelaskan tahap inti pembelajaran. Langkah-langkah Pembelajaran Bermodel PBL Berbantuan Alat Peraga Neraca Bilangan pada Pokok Bahasan Persamaan dan Pertidaksamaan Linier Satu Variabel. 4. Tabel 1. Aktivitas Langkah (Tahap) Guru Menemukan masalah Guru bercerita mengenai permasalahan sehari-sehari yang berkaitan dengan pokok bahasan dan cerita guru harus sesuai dengan kehidupan nyata siswa. Dalam bercerita.

Siswa menyusun secara logis apa yang mereka anggap sebagai jawaban atas permasalahan yang dihadapi. Siswa secara aktif mencari fakta-fakta lain yang terkait dengan permasalahan yang mereka temukan. Mengumpulkan faktafakta Guru memberikan keleluasaan kepada siswa untuk mengeksplorasi diri dalam kelompok dan mencari informasi yang terkait dengan permasalahan yang mereka temukan.25 sedikit fakta di seputar konteks permasalahan. Siswa juga membuat hubungan atau keterkaitan antara fakta yang satu dengan yang lain untuk mencari solusi permasalahan. . baik dengan cara berdiskusi dengan teman sekelompok ataupun aktif mencari pada buku-buku yang relevan. Menyusun dugaan sementara Guru mengarahkan atau mengajak siswa untuk menyusun dugaan (jawaban) sementara terkait dengan permasalahan yang mereka hadapi. dengan memanfaatkan fakta-fakta yang ada. Siswa juga dapat bertanya kepada guru mengenai hal-hal yang belum jelas atau kurang dimengerti terkait dengan permasalahan yang mereka hadapi. Guru juga memberikan pertanyaan-pertanyaan arahan apabila ada siswa atau kelompok yang kesulitan dan bertanya kepada guru mengenai permasalahan yang mereka hadapi.

Siswa juga secara aktif menggunakan alat peraga neraca pegas untuk memperjelas fakta-fakta yang mereka punya.26 Menyelidiki Guru mengkondisikan keadaan kelas agar siswa dapat dengan leluasa bereksplorasi. Menyempurnakan permasalahan yang telah didefinisikan Guru mengarahkan dan mengajak siswa untuk meninjau kembali permasalahan yang sudah mereka Siswa dalam kelompok secara antusias meninjau kembali permasalahan yang sudah diidentifikasi di Siswa memahami dan memaknai kembali informasi atau faktafakta yang mereka punya. menyelidiki permasalahan dan dugaan sementara mereka. Guru hanya memberikan pertanyaan arahan kepada siswa ketika ada siswa yang bertanya mengenai penggunaan alat peraga tersebut. guru menawarkan alat peraga neraca bilangan kepada siswa untuk membantu mereka dalam penyelidikan. Pada langkah ini. Ini dilakukan dengan harapan siswa dapat berkreativitas dan menemukan banyak cara dalam menyelesaikan permasalahannya. .

Siswa juga kembali merumuskan permasalahan dengan menggunakan katakata yang tepat. Menyimpulkan alternatif-alternatif pemecahan secara kolaboratif Guru memberikan keleluasaan kepada siswa untuk berdiskusi mengenai alternatif pemecahan masalah yang mereka hadapi. guru mengajak siswa untuk merumuskan permasalahan ke dalam kata-kata yang lebih tepat dan merumuskan kembali fakta-fakta.27 identifikasikan di langkah awal. Pada langkah ini. pada langkah sebelum dipresentasikan ini siswa menguji di depan kelas. siswa juga meinjau ulang fakta-fakta untuk mengetahui apakah ada fakta lain yang mungkin dapat dicari lagi. Pada kebenaran alternatif- . Siswa secara aktif dan kritis mencermati dan mendiskusikan alternatif pemecahan masalah dalam kelompoknya masingmasing dari bergai sudut pandang. Menguji solusi permasalahan Guru memberikan Setelah berdiskusi dan waktu dan ruang kepada menemukan alternatifsiswa untuk menguji solusi permasalahan alternatif pemecahan masalah. Selain itu. langkah awal. Setiap siswa dalam kelompok memberikan tanggapan atas alternatif pemecahan masalah yang diajukan teman sekelompoknya.

28 langkah ini diharapkan akan ada banyak solusi atau alternatif pemecahan masalah yang logis. perhatian siswa. . dan kesiapan menerima pelajaran. Mengamati prestasi belajar siswa dengan melakukan penilaian terhadap hasil latihan soal/LKS. Observasi 1. 3. Guru dan pengamat lain mengamati minat belajar. Pengamatan aktivitas dan keterampilan siswa dalam mengerjakan soalsoal dan berdemonstrasi. Siswa dapat menggunakan alat peraga neraca bilangan tepat yang diajukan oleh untuk membantu masing-masing kelompok. Refleksi Menilai pelaksanaan dari siklus I untuk mengetahui kelebihan dan kekurangannya. benar. 2. Setelah mendapatkan alternatif pemecahan masalah terbaik. siswa mempresentasikannya di depan kelas. menjelaskan dan menunjukkan bahwa alternatif pemecahan masalah yang mereka punya merupakan alternatif pemecahan masalah yang logis dan benar. Hasil dari refleksi ini digunakan untuk memperbaiki dan mempersiapkan pelaksanaan siklus ke II. dan alternatif pemecahan masalah tersebut.

5 Teknik Pengumpulan Data Instrumen yang diperlukan dalam penelitian ini sangat berkaitan dengan data yang akan dijaring atau dikumpulkan. Langkahlangkah pada setiap tahapan dapat mengalami perubahan atau revisi yang disesuaikan dengan hasil pada siklus I. Pengolahan data ini menggunakan skala Likert di mana persepsi atau sikap . Instrumen dan data selengkapnya dapat diuraikan sebagai berikut: 1. tanggapan siswa terhadap pembelajaran yang H.29 Siklus II dan Siklus III Tahapan-tahapan pada siklus II dan III sama dengan tahapan-tahapan pada siklus I. pelaksanaan. 3. Lembar observasi yang digunakan untuk mendokumentasikan proses pembelajaran. skor rata-rata ini akan dianalisis secara deskriptif. observasi. 2. Data ini akan digunakan untuk melakukan tahap refleksi di setiap akhir tindakan. Namun. H. Angket/kuisioner yang digunakan untuk mengumpulkan data mengenai diterapkan. Tes prestasi belajar untuk menjaring prestasi belajar siswa yang dilakukan di setiap akhir siklus. yaitu perencanaan. Kesimpulan juga ditarik dari pengamatan siklus I dan siklus II. dan refleksi. hasil pengamatan yang telah dilakukan didiskusikan dengan pengamat lain kemudian dianalisis untuk mendapatkan kesimpulan.6 Teknik Pengolahan Data Skor prestasi belajar siswa dianalisis dengan menghitung rata-rata kelas dari tes prestasi belajar yang dilaksanakan pada setiap akhir siklus. perubahan ini tidak akan mengubah substansi penelitian yang direncanakan. Untuk melihat seberapa jauh peningkatan prestasi belajar siswa. Diharapkan refleksi ini membenarkan hipotesis yang telah dibuat. Data mengenai tanggapan siswa juga dianalisis secara deskriptif. Pada tahap refleksi di siklus III.

sedangkan yang negatif terdapat pada jawaban 1. skor minimal dan maksimal idelanya dapat ditentukan. diperoleh penggolongan respon siswa sebagai berikut: Tabel 1. maka dengan menggunakan konversi rata-rata skor dari Nurkancana dan Sunartana (1992) dalam Artiniasih. Kriteria dan konversi terhadap tanggapan/respon siswa Konversi rata-rata skor tanggapan siswa Rumus rata-rata skor ̅ ̅ ̅ ̅ ̅ ̅ Rata-rata skor ̅ ̅ ̅ ̅ Kategori Sangat positif Positif Cukup positif Kurang positif Sangat kurang positif H.30 positif dapat diketahui dari jawaban 4 dan 5. dan 3. yaitu 10 dan 50 sehingga dapat ditentukan MI = ½ (50+10) = 30 dan SDi = 1/6 (50+10) = 10. Berdasarkan Mi dan SDi skor tanggapan siswa. 2. Tanggapan siswa tentang model pembelajaran yang diterapkan minimal berkategori positif. . Angket yang digunakan terdiri dari 10 item. Tiap item mempunyai skor minimal 1 dan maksimal 5.7 Indikator Keberhasilan Penelitian ini dikatakan berhasil apabila memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut: 1. Terjadi peningkatan prestasi belajar siswa pada pokok bahasan persamaan dan pertidaksamaan linier satu variabel dari siklus yang satu ke siklus berikutnya dengan rata-rata prestasi belajar minimal 75. Dengan demikian. dkk (2008). 2.

http://muhfida.multiply. Using Problem Based Learning Model to Increase Critical Thinking Skill at Heat Concept. dkk. Meningkatkan Keterampilan Siswa dalam Menyelesaikan Persamaan Linier Satu Variabel dengan Pembelajaran Berbantuan Alat Peraga Kartu Variabel dan Kartu Bilangan pada Siswa Kelas VII C SMP Negeri 2 Grabag Tahun 2004/2005.31 I. 2004. Model Pembelajaran Inovatif dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Muhammad. Santyasa. Beberapa Teknik. Makalah.com/journal/item/28 diakses tanggal 10 Mei 2010 Artiniasih. I Wayan.blogspot. 2008. Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Matematika: Yogyakarta.html diakses tanggal 10 Mei 2010 http://bagustakwin. Skripsi Sahara. 2010. Penerapan Model Pembelajaran Berorientasi pada . Makalah. 2005.com/ diakses tanggal 10 Mei 2010 http://wawan-junaidi. Model. Masruchin. Makalah. Widdiharto.com/2009/06/landasan-teoretik-problembased_10. 2003. La. Pemanfaatan Alat Peraga dalam Pembelajaran Matematika SMP Diklat SMP Jenjang Dasar. dan Strategi dalam Pembelajaran Matematika. Model-model Pembelajaran Matematika SMP. 2005. Jurnal penelitian. dkk. Krismanto. Rachmadi. Daftar Pustaka Kearifan Lokal “Konsep Tri Pramana” dengan Pendekatan Realistik untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas VIIB4 SMP Negeri 1 Singaraja. Usul penelitian. Widyantini.