BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Sebelum Islam datang ke dunia ini, telah terdapat sejumlah agama yang dianut oleh umat mansuia. Para ahli Ilmu Perbandingan Agama (The Comparative Study Of Religion ) bida membagi agama secara garis besar ke dala dua bagian. Pertama, kelompok agama yang diturunkan oleh Tuhan melalui wahyu-wahyunya sebagaimana termaksud dalam kitab suci Alquran. Kedua, kelopok agama yang didasarkan pada hasil renungan mendalam dari tokoh yang membawanya sebagaimana terdokumentasikan dalam kitab suci yang disusunnya. Islam adalah agama yang terakhir di antara agama besar di dunia yang semuanya merupakan kekuatan raksasa yang mengeerakkan revolusi dunia, dan mengubah nasib sekalian bangsa. Selain itu, Islam bukan saja agama yang terakhir melainkan agama yang melengkapi segala-galanya dan mencakup sekalian agama yang datang sebelumnya. Dalam memahami agama banyak pendekatan yang dilakukan. Hal demikian perlu dilakukan, karena pendekatan tersebut kehadiran agama secara fungsional dapat dirasakan oleh penganutnya. Berbagai pendekatan tersebut meliputi pendekatan teologis normatif, antropologis, sosiologis, psikologis, historis, kebudayaan dan pendekatan filosofis. Adapun yang dimaksud dengan pendekatan di sini adalah cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam memahami Dikalangan para ahli masih terdapat perbedaan disekitar permasalahan apakah studi islam (agama) dapat dimasukkan ke dalam bidang ilmu pengetahuan, mengingat sifat dan karakteristik antara ilme pengetahuan dan agama berbeda.

-1-

B. Rumusan Masalah Dari latar belakang diatas penulis dapat menarik rumusan masalah yang akan dibahas menjadi pembahsan makalah ini yaitu mengenai 1. Islam Sebagai Produk Wahyu 2. Islam sebagai Produk Sejarah 3. Islam sebagai Produk Budaya dan 4. Islam Sebagai Produk Interaksi social C. Tujuan Makalah Tujuan pembuatan makalah ini adalah agar mahasiswa bisa mengerti mengenai Islam Sebagai Produk Wahyu, Islam sebagai Produk Budaya dan Islam Sebagai Produk Interaksi sosial

-2-

tunduk. Dari asal kata itu dibentuk kata aslama yang artinya memelihara dalam keadaan selamat sentosa dan berarti pula menyerahkan diri. Ada dua sisi yang dapat kita gunakan untuk memahami pengertian agama Islam. hlm 56 -3- . Dan kata salima selanjutnya diubah menjadi bentuk aslama yang berarti berserah diri masuk dalam kedamaian. klasifikasinya. Dienul Islam. Agama Islam ini telah merangkum semua bentuk kemaslahatan yang diajarkan oleh agama-agama sebelumnya. di setiap tempat dan di masyarakat manapun. yaitu dari kata salima yang mengandung arti selamat. Hlm 2 Narsruddin Razak. sentosa dan damai. Dengan agama inilah Allah menutup agama-agama sebelumnya. (Bandung : Al-Ma’arif). Islam Sebagai Produk Wahyu 1.2 1 2 Maulana Muhammad ali. 1977) cet II. Dengan agama Islam ini pula Allah menyempurnakan nikmat atas mereka. yaitu sisi kebahasaan dan sisi peristilahan. Kedua sisi pengertian tentang Islam ini dapat dijelaskan sebagai berikut : Dari segi kebahasaan Islam berasal dari bahasa Arab. Dalam permasalahan kali ini kami akan menjelaskan secara detail tentang Islam sebagai agama wahyu. Islamologi (dinul Islam) (Jakarta : Ikhtiar Baru Vam Hoeve. perbandingan dengan agama lain dan Islam yang telah disalahpahami serta pembenarannya. patuh dan taat. Agama Islam yang beliau bawa ini lebih istimewa dibandingkan agama-agama terdahulu karena Islam adalah ajaran yang bisa diterapkan di setiap masa.1 Senada dengan pendapat di atas. sumber lain mengatakan Islam berasal dari bahasa Arab.BAB II PEMBAHASAN A. 1980). Allah telah menyempurnakan agama ini bagi hamba-hambaNya. terambil dari kata salima yang berarti selamat sentosa. Pengertian Islam Agama Islam adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

1991). Islam ditinjau dari berbagai aspeknya.Dari pengertian itu. membahas ilmu-ilmu al-qiuran. karena surat-surat dan ayat-ayat Alquran satu dan lainnya saling bergabung dan berkaitan. 3 4 Al-Sunnah Harun nasution. patuh. secara ringkas mengutip pendapat para ulama pada umumnya yang menyatakan bahwa Alquran adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. menundukkan. karena dilihat dari segi makna dan kandungannya ayat-ayat Alquran itu satu sama lain saling berkaitan. Alquran Di kalangan para ulama dijumpai adanya perbedaan pendapat di sekitar pengertian Alquran baik dari segi bahasa maupun istilah. 1979. kata Islam dekat arti kata agama yang berarti menguasai. Asy-Syafi’i misalnya mengatakan bahwa Alquran bukan berasal dari akar kata apa pun. hutang. Selanjutnya. Sumber Ajaran Islam Di kalangan ulama terdapat kesepakatan bahwa sumber ajaran Islam yang utama adalah Alquran dan Al-Sunnah. balasan dan kebiasaan. cet.3 2. (terj) . hlm 9 -4- . sedangkan penalaran atau akal pikiran sebagai alat untuk memahami Alquran dan Al-Sunnah . dan bukan pula ditulis dengan memakai kata hamzah. pustaka Firdaus dari judl asli Mabahits fi ulum al-quran. hlm 9 Lihat subhi as-shalih. Pengertian yang demikian senada dengan yang diberikan AlZarqani. dan dinilai ibadah bagi yang membacanya. Al-Asy’ari dan para pengikutnya mengatakan bahwa lafal Alquran diambil dari akar kata qarn yang berarti menggabungkan suatu atas yang lain. 1. (Jakarta : Pustaka firdaus. Sementara itu Al-Farra berpendapat bahwa lafal Alquran berasal dari kata qarain jamak dari kata qarinah yang berarti kaitan. Jilid I ( Jakarta : UI Press. II.4 Manna’ al-Qathhthan. 2. Lafal tersebut sudah lazim digunakan dalam pengertian kalamullah (firman Allah) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw.

setelah Alquran. maka pahala bagi yang membuat sunnah itu dan pahala bagi orang yang mengerjakanny. Yakni seluruh sahabat sepakat untuk menetapkan tentang wajib mengikuti hadis. 2. Sebagai sumber ajaran Islam kedua. Al-Hadis. Yang bersifat global (garis besar) yang memerlukan perincian. Yang bersifat umum (menyeluruh) yang menghendaki pengecualian. bahkan terdapat sesuatu yang secara khusus tidak dijumpai -5- .Kedudukan Al-Sunnah sebagai sumber ajaran Islam selain didasarkan pada keterangan ayat-ayat Alquran dan hadis juga didasarkan kepada pendapat kesepakatan para sahabat. perbuatan dan persetujuan beliau yang berkaitan dengan hukum. dan ada pula 4. Keberadaan AlSunnah tidak dapat dilepaskan dari adanya sebagian ayat Alquran : 1. maka dosa bagi yang membuat sunnah yang buruk itu dan dosa bagi orang yang mengerjakannya. Menurut bahasa Al-Sunnah artinya jalan hidup yang dibiasakan terkadang jalan tersebut ada yang baik dan ada pula yang buruk. Al-Sunnah memiliki fungsi yang pada intinya sejalan dengan alquran. baik dalam bentuk ucapan. Yang bersifat mutlak (tanpa batas) yang menghendaki pembatasan. Sementara itu ulama Ushul mengartikan bahwa Al-Sunnah adalah sesuatu yang berasal dari Nabi Muhammad dalam bentuk ucapan. perbuatan maupun ketetapan. 3. baik pada masa Rasulullah masih hidup maupun setelah beliau wafat. Pengertian Al-Sunnah seperti ini sejalan dengan makna hadis Nabi yang artinya : ”Barang siapa yang membuat sunnah (kebiasaan) yang terpuji. dan barang siapa yang membuat sunnah yang buruk. yaitu segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw. Al-Khabar dan Al-Atsar sama saja. Sementara itu Jumhurul Ulama atau kebanyakan para ulama ahli hadis mengartikan Al-Sunnah. Isyarat Alquran yang mengandung makna lebih dari satu (musytarak) yang menghendaki penetapan makna yang akan dipakai dari dua makna tersebut.

melainkan diturunkan kepada masyarakat. 2. Memiliki kitab suci yang bersih dari campur tangan manusia. walaupun tafsirnya dapat berubah sesuai dengan kecerdasan dan kepekaan manusia. Disampaikan oleh manusia yang dipilih Allah sebagai utusan-Nya. 5. Ajarannya dapat berubah-ubah. ialah : 1. Tumbuh secara komulatif dalam masyarakat penganutnya. Tidak disampaikan oleh utusan Tuhan (Rasul). 4. 6. dan paling tinggi adalah monotheisme nisbi. sesuai dengan perubahan akal pikiran masyarakatnya (penganutnya). 3. 4. masa dan keadaan. Umumnya tidak memiliki kitab suci. yaitu tidak berlaku bagi setiap manusia. Secara pasti dapat ditentukan lahirnya. 2. walaupun ada akan mengalami perubahanperubahan dalam perjalanan sejarahnya. 5. Ciri-ciri Agama Islam -6- . dan keadaan. 3. Kebenaran ajarannya tidak universal. 3. Adapun ciri-ciri Agama Wahyu (langit). animisme. melainkan menyampaikannya. politheisme.keterangannya di dalam Alquran yang selanjutnya diserahkan kepada hadis nabi. ialah : 1. Ajarannya serba tetap. Adapun ciri-ciri agama budaya (ardhi). 4. Konsep ketuhanannya: dinamisme. Kebenarannya adalah universal yaitu berlaku bagi setiap manusia. dan bukan tumbuh dari masyarakat. Utusan itu bukan menciptakan agama. 5. masa. Konsep ketuhanannya adalah : monotheisme mutlak (tauhid) 6.

Kata Islam terambil dari kata dasar sa la ma atau sa li ma yang artinya selamat. silmun artinya damai patuh dan meyerahkan diri. Nabi Daud.Kata Islam. patuh dan menyerahkan diri dari segala ketentuan yang telah ditetapkan Allah SWT. menurut bahasa Al-Qur’an banyak digunakan din. Islam artinya taat. meskipun ketiganya mempunyai pengertian yang berbeda tetapi dalam praktek satu sama lain saling terkait dan tidak dapat dipisahkan.s. Ihsan artinya berakhlak serta berbuat shalih sehingga dalam melaksanakan ibadah kepada Allah dan bermuamalah (interaksi) dengan sesama mahluk dilaksanakan dengan penuh keikhlasan seakan-akan Allah menyaksikan gerakgeriknya sepanjang waktu meskipun ia sendiri tidak melihatnya. Nabi Musa. berbuat. Islam adalah agama sepanjang sejarah manusia.s. tunduk. mengucapkan dengan lisan dan merealisasikannya dalam perbuatan akan adanya Allah SWT. tidak tercela. berasal dari kata ‘as la ma . para Malaikat. Iman artinya membenarkan dengan hati. dan proses terbentuknya hati. islam dan ihsan. Nabi Ibrahim. para Nabi dan Rasul. Nabi Sulaiman dan Nabi Isa a. Dari akar kata sa la ma itu juga terbentuk kata salmon. dengan adanya segala Kemaha sempurnaan-Nya.yus li mu – Is la man’ artinya. sejahtera. menyerahkan diri. tunduk. ajaran dari seluruh nabi dan rasulnya yang penah di utus oleh Allah SWT pada bangsa-bangsa dan kelompokkelompok manusia. patuh. Sedangkan agama. merasa. Kitab-kitab Allah. -7- . hari akhir serta Qadha dan Qadhar. Agama Islam adalah agama Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW untuk disampaikan serta diteruskan kepada seluruh umat manusia yang mengandung ketentuan-ketentuan keimanan (aqidah) dan ketentuan-ketentuan ibadah dan muamalah (syariah) yang menentukan proses berpikir. Pada dasarnya Islam terdiri dari 3 unsur pokok yaitu iman. Islam agama bagi Adam a. Nabi Yakub. tidak cacat.

Humanitas bisa ditangkap apabila rasio dan akal budi dipakai dalam menganalisis teks agama. tetapi juga agama yang sempurna. kaitan antara teks dan budaya memang sering sulit untuk dipisahkan. B. Sehingga agama Islam. latar belakang dan pelaku dari peristiwa tersebut. dan berposisi secara rekonsiliatif. Dari keadaan ini seseorang akan melihat adanya kesenjangan atau keselarasan antara yang terdapat dalam alam idealis dengan yang ada di alam empiris dan historis. waktu. Realitas lokalitas (budaya) kurang mendapat tempat dalam pemahaman mereka. Kekuatan budaya banyak mempengaruhi proses pembentukan teks-teks agama. bukan hanya agama yang benar. Sisi historisitas agama lebih banyak dieksplorasi untuk lebih memahami kenyataan kemanusiaan hari ini. Gagasan Islam otentik dan Islam universal kurang mengeksplorasi sisi historitas Islam.Dari yang telah diuraikan dapat disimpulkan bahwa pada agama Islamlah kita temui ciri-ciri agama wahyu yang lengkap. Islam Sebagai Produk Sejarah Sejarah atau historis adalah suatu ilmu yang di dalamnya dibahas berbagai peristiwa dengan memperhatikan unsur tempat. Ada dialektika antara agama dan budaya. Islam bukanlah agama yang tidak mau memahami konteks perubahan zaman. Islam dengan sangat apresiatif memahami budaya. objek. Mengenai pengaruh budaya dalam Islam pada masa Arab klasik. Dan di Islam. Khalil Abdul Karim menyebut sakralisasi Bulan Ramadhan merupakan salah satu tradisi 5 Abudinnata. Dimensi historisitas Islam lebih melihat kenyataan sosial-budaya untuk membuka ruang kemanusiaan sedalam-dalamnya. Bahkan fenomena budaya banyak dijadikan rujukan keagamaan.5 Melalui pendekatan sejarah seseorang diajak menukik dari alam idealis ke alam yang bersifat empiris dan mendunia. 2001 hal 46 -8- . Metodologi Studi Islam.

Jilbab merupakan produk budaya Arab pada saat itu sebagai alat kultural untuk media pengamanan sosial bagi perempuan. Karena jilbab itu pada awalnya adalah budaya. misalkan juga mengenai jilbab. Muharram. penyebutan bulan-bulan suci itu dilatarbelakangi oleh tradisi bangsa Arab yang tidak membenarkan perang dalam rentang keempat bulan tersebut. dan Rajab) bukan merupakan tradisi Islam. Penggalian makna Islam yang lebih memahami konteks budaya menjadi sesuatu yang tidak tabu dan perlu untuk mendapat tempat seluas-luasnya dalam wacana atau tradisi pemikiran kita6 C. Ada tenggara. Oleh sebab itu. Islam Sebagai Produk Interaksi Sosial 6 http://jn76. Hal semacam itu banyak disalahartikan. Apakah teks seluruhnya merupakan turunan dari langit? Bukankah intervensi manusiawi sangat mempengaruhi nalar pemikiran dalam teks agama? Muhammad dan Jibril sebagai penerima teks pertama juga tidak lepas dari bagaimana keduanya mencoba menafsirkan teks. Kaitan budaya antara Arab dan Islam membuat kita kesulitan untuk memilah mana yang merupakan budaya Islam sendiri dan mana yang bukan. sehingga penetapan empat bulan suci itu sebagai fase gencatan sejata dan kesempatan untuk menunaikan ibadah haji dan umrah. metode “kritik historis” (an-naqd at-tarikhy) sangat penting untuk dilakukan dalam menganalisis tradisi.wordpress. Tradisi berperang merupakan tradisi tribalisme suku-suku Arab pada saat itu.yang diwarisi Islam dari bangsa Arab —yang menjadi sumber dasar Islam.com/2008/09/21/islam-sebagai-produk-budaya/ -9- . Hal lain misalkan. Otentisitas dan universalitas yang ada dalam Islam lebih dimaknai sebagai pemahaman teologis yang sifatnya hanya dalam wilayah privat dalam keyakinan keagamaan kita. dan Al-Qur’an menyebutkannya maka sering kita mengartikan jilbab itu adalah bagian dari tradisi Islam. Dzulhijjah. Atau. mengagungkan bulan-bulan haram (Dzulqa’dah.

Islamologi (dinul Islam) (Jakarta : Ikhtiar Baru Vam Hoeve.10 - . Praja. Praja. karena objeknya adalah “perilaku Tarekat Tijaniah”7 7 Maulana Muhammad ali. 2001 hal 46 http://jn76. Menurut Atang Abd Hakim dan Jaih Mubarok. 1991). II. pustaka Firdaus dari judl asli Mabahits fi ulum al-quran. 1977) cet II. Hakim dan Jaih Mubarok. dan [6] Teori sikap. penelitian di atas meminjam teori-teori yang dibangun dalam ilmu-ilmu sosial. tanpaknya kitapun tidak perlu menyusun teori penelitian tersendiri. Maka. [5] Teori pertukaran sosial.com/2008/09/21/islam-sebagai-produk-budaya/ Juhaya S. Jilid I ( Jakarta : UI Press. menggunakan teori-teori sosial yang disebutkan di atas. Ia disebut penelitian keagamaan [religius research] dalam pandangan Midletton atau penelitian hidup agama dalam pandangan Juhaya S. Hlm 2 Narsruddin Razak. Beberapa teori yang dapat digunakan adalah : [1] Teori perubahan sosial. Dengan demikian. [3] Teori antropologi dan sosiologi agama. [2] Teori struktural-fungsional. Oleh karena itu. hlm 56 Harun nasution. bahwa seorang peneliti Ummu Salamah dalam meneliti “Tradisi Tarekat dan Dampak Konsistensi Aktualisasinya terhadap Perilaku Sosial Penganut Tarekat [Studi Kasus Tarekat Tijaniyah di Kabupaten Garut. Dienul Islam.1997:55-57. berkenaan dengan hal itu. [4] Teori budaya dan tafsir budaya simbolik. tetapi cukup meminjam teori ilmu-ilmu sosial yang sudah ada dan telah diuji. 1979.wordpress. Metodologi Studi Islam. Jawa Barat: dalam Perspektif Perubahan Sosial]”.Penelitian keagamaan merupakan penelitian yang objek kajiannya adalah agama sebagai produk ”interaksi sosial” atau ”perilaku manusia”. (terj) . dalam Atang Abd. 1980). membahas ilmu-ilmu al-qiuran. Islam ditinjau dari berbagai aspeknya. cet. (Jakarta : Pustaka firdaus. 2001:64 . hlm 9 Abudinnata. hlm 9 Lihat subhi as-shalih. metode yang digunakan adalah metode-metode penelitian sosial pada umumnya. (Bandung : Al-Ma’arif).

dikemukakan bahwa perbandingan antara ayat-ayat ibadah dan ayat-ayat yang menyangkut kehidupan sosial adalah satu berbanding seratus – untuk satu ayat ibadah. karena banyak bidang kajian agama yang baru dapat dipahami secara proporsional dan tepat apabila menggunakan jasa bantuan dan ilmu sosiologi. proporsi terbesar kedua sumber hukum Islam itu berkenaan dengan urusan muamalah. ada seratus ayat muamalah (masalah sosial). Karena itu shalat yang dilakukan secara berjemaah dinilai lebih tinggi nilainya daripada shalat yang . Ketiga. bahwa ibadah yang mengandung segi kemasyarakatan diberi ganjaran lebih besar daripada ibadah yang bersifat perseorangan. Jalaluddin Rahmat dalam bukunya yang berjudul Islam Alternatif. maka ibadah boleh diperpendek atau ditangguhkan (tentu bukan ditinggalkan). Hal demikian dapat dimengerti. Soerjono Soekanto mengartikan sosiologi sebagai suatu ilmu pengetahuan yang membatasi diri terhadap persoalan penilaian. Menurut Ayatullah Khomaeni dalam bukunya Al-Hukumah Al-Islamiyah yang dikutip Jalaluddin Rahmat. Kedua. Dari dua definisi terlihat bahwa sosiologi adalah ilmu yang menggambarkan tentang keadaan masyarakat lengkap dengan struktur. Pertama. 3). 2). bahwa ditekankannya masalah muamalah (sosial) dalam Islam ialah adanya kenyataan bahwa bila urusan ibadah bersamaan waktunya dengan urusan muamalah yang penting. menunjukkan betapa besarnya perhatian agama yang dalam hal ini Islam terhadap masalah sosial.Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hidup bersama dalam masyarakat dan menyelidiki ikatan-ikatan antara manusia yang menguasai hidupnya itu. lapisan serta berbagai gejala sosial lainnya yang saling berkaitan. sosiologi dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam memahami agama.11 - . melainkan dengan tetap dikerjakan sebagaimana mestinya. dalam Alquran atau kitab-kitab hadis. Selanjutnya. dengan mengajukan lima alasan sebagai berikut : 1).

dehumanisasi. sosial (sisosfer) maupun psikolgi (psikosfer). Dunia saat ini tengah memasuki era globalisasi dengan dampak negatif dan positifnya. sedangkan dampak positifnya antara lain terbukanya berbagai kemudahan dan kenyamanan. yaitu ilmu sosial yang tidak hanya menjelaskan dan mengubah fenomena sosial. Pandangan Ajaran Islam Tentang Ilmu Sosial Sejak kelahirannya belasan abad yang lalu. Yaitu ilmu sosial yang mampu mengubah fenomena berdasarkan cita-cita . kita saat ini nampaknya sudah mendesak untuk mememiliki ilmu pengetahuan sosial yang mampu membebaskan manusia dari berbagai problema tersebut. Ilmu Sosial Yang Bernuansa Islam Menurut Kuntowijoyo. sekuralisasi dan sebagainya.12 - . dalam Islam terdapat ajaran bahwa amal baik dalam bidang kemasyarakatan mendapat ganjaran lebih besar daripada ibadah sunnah. dan antara urusan ibadah dengan urusan muamalah Dalam keadaan demikian. dalam Islam terdapat ketentuan bila urusan ibadah dilakukan tidak sempurna atau batal. Di antara dampak negatif tersebut misalnya terjadi dislokasi. Islam telah tampil sebagai agama yang memberi perhatian pada keseimbangan hidup antara dunia dan akhirat. 1. kita butuh ilmu sosial profetik. antara hubungan manusia dengan Tuhan. maka kifaratnya (tembusannya) adalah melakukan sesuatu yang berhubungan dengan masalah sosial. Kelima. teknologi (teknosfer). karena melanggar pantangan tertentu. Kuntowijoyo menyebutnya sebagai ilmu sosial profetik. Keempat. Ilmu pengetahuan sosial yang dimaksudkan adalah ilmu 2. pengetahuan yang digali dari nilai-nilai agama. 4). tetapi juga memberi petunjuk ke arah mana transformasi itu dilakukan. antara hubungan manusia dengan manusia. informasi (infosfer). 5). baik dalam lingkungan ekonomi (ekonosfer).dikerjakan sendirian (munfarid) dengan ukuran satu berbanding dua puluh derajat. untuk apa dana oleh siapa.

transendensi. cita-cita kemanusiaan. kesenian. Selanjutnya. adat istiadat dan segala kacakapan lain yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. liberasi dan transendensi yang dapat digali dari ayat tersebut dapat dijelaskan secara singkat sebagai berikut : Pertama. hukum. kita ingin melakukan reorientasi terhadap epistemologi. kepercayaan. Islam Sebagai Produk Budaya Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia. liberasi dan ketiga. kebudayaan adalah hasil daya cipta manusia dengan menggunakan dan mengarahkan segenap potensi batin yang dimilikinya . Sutan Takdir Alisjahbana mengatakan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks. yaitu suatu pandangan bahwa sumber ilmu bukan hanya berasal dari rasio dan empiri sebagaimana yang dianut dalam masyarakat barat. yang terjadi dari unsur-unsur yang berbeda seperti pengetahuan. perubahan tersebut didasarkan pada tiga hal. Dengan demikian. moral. Pertama. Sementara itu tujuan liberasi adalah pembebasan manusia dari lingkungan teknologi. Nilai-nilai kemanusiaan (humanisasi).etik dan profetik tertentu.13 - . tujuan dari transendensi adalah menumbuhkan dimensi transendental dalam kebudayaan. kedua. D. seni. orientasi terhadap mode of thought dan mode of inquirity. dan berarti pula kegiatan (usaha) batin (akal dan sebagainya) untuk menciptakan sesuatu yang termasuk hasil kebudayaan. pemerasan kehidupan. adat istiadat. Dalam ilmu sosial profetik. tetapi juga dari wahyu. Sementara itu. kebudayaan diartikan sebagai hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan. bahwa tujuan humanisasai adalah memanusiakan manusia dari proses dehumanisasi. menyatu dengan orang miskin yang tregusur oleh kekuatan ekonomi raksasa dan berusaha membebaskan manusia dari belenggu yang kita buat sendiri.

atau artinya. “produksi-produksi kebahasaan” (al-Muntaj al-Lughawiyyah). Umar sangat dikenal sebagai seorang rasionalis sejati. Teks menjadi rujukan penting dalam upaya memahami keduanya. Khalifah Umar al-Faruq pernah menyatakan. khitabah. yang kemudian dihubungkan dengan realitas yang tengah terjadi pada saat pembentukan teks. “Arab adalah bahan baku Islam”. tidak hanya berupa turunan dari langit. tidak ada lagi baju “sakralitas” di dalamnya. maka perlu perangkat atau metodologi ilmiah untuk “membongkar” konstruksi nalar yang menjadi bagian penting di dalamnya. Sehingga. juga merupakan bentuk ajaran kehidupan yang lebih melihat kenyataan sosial. Islam. Ketika Islam hadir ke muka bumi dan menyejarah secara totalitas. seperti puisi. Atas dasar argumen yang dikemukakan oleh Umar ini. budaya. Khalil Abdul Karim membuat analisis mengenai kaitan antara agama.14 - . sebagai salah satu agama monoteis (abrahamiyah). Menurutnya. bangsa Arab adalah materi bagi pembentukan Islam. Peradaban Arab-Islam adalah “peradaban teks”. Peryataan Umar itu kemudian banyak dipahami. Islam sangat memahami kenyataan lokalitas budaya setempat dan historisitas proses pergumulan antara teks dan realitas. Karena peradaban Islam adalah teks. Tekstualitas agama lebih mengafirmasi konteks sosial dan budaya yang tengah “bergumul” pada saat itu. dan kekuasaan dalam bukunya Hegemoni Quraisy (LKIS:2002). Dan Al-Qur’an sendiri merupakan kumpulan teks yang menjadi acuan keberagamaan bagi umat Islam. Dan ada kesan beliau berani membuat putusan hukum yang kelihatannya banyak berbeda dengan arus pemikiran sahabat pada saat itu. Padahal. dalam beberapa hal Umar banyak menafsir ulang terhadap syariah. Di dalamnya terkandung pergolakan ilmiah dalam memahami pesan Tuhan. Umar bermaksud menjelaskan. dan beberapa . seperti Thaha Husain. tidaklah demikian. Islam itu tidak bisa lepas dari konteks budaya Arab pada saat itu. yaitu dalam konteks militerisme Islam pada saat itu. Dengan potensi rasionalitas yang sangat mengental dalam pikirannya.Kelahiran agama sangat terkait dengan konstruksi budaya.

1.kata hikmah (amtsal) yang dimiliki oleh orang-orang Arab sebelum kenabian Muhammad. Penyejarahan teks dilakukan agar bisa menyesuaikan dengan kondisi yang memang menjadi kenyataan historis umat manusia Pada saat memahami teks. profanitas (duniawi) sangat melekat dalam konstruksi nalar teks. hegemoni kaum Quraisy sangat menentukan produksi kebahasaan dalam makna agama. Profanitas Teks Tidak selamanya teks itu adalah sesuatu yang sakral. Maka. karena manusia atau si penafsir memosisikan teks itu harus dihubungkan dengan realitas. Pada saat kita memahami makna agama yang tercermin dalam penampakan teks.15 - . Teks yang diam dan sakral itu pasti menjadi objek manusia. bahkan tidak aneh apabila kemudian kita menolak teks dalam beberapa pengamalan syariahnya yang cenderung menindas kemanusiaan dan keadilan Menurut Abu Zayd dalam Mafhumun-Nash: Dirasah fi ‘Ulumil Qur’an (1990). kita tidak bisa mengandalkan penafsiran secara literal. teks menjadi sesuatu yang profan dan berhak untuk diutak-atik. Banyak fakta saat itu membuktikan. tetapi harus ada upaya penafsiran secara hermeneutis (ta’wiliyah) atas kenyataan-kenyataan sosial dan budaya yang mengitari teks. Pembacaan terhadap teks tidak bisa terlepas dari konteks sejarah dan kebudayaan yang melingkupi bangunan teks tersebut. itu semua banyak berperan dalam proses pentauhidan dan persiapan menuju suatu kondisi objektif yang matang. yaitu . Lalu. Al-Qur’an adalah “teks kebudayaan” (muntaj tsaqafy). teks tidak lagi menjadi sesuatu yang diam dan sakral. Kebudayaan suku itu masuk dalam proses pembentukan teks. yang berakhir dengan berdi-rinya Negara Quraisy di Yatsrib. Sehingga kita perlu mencermati lebih mendalam bagaimana kaitan antara agama sebagai pesan suci ilahi dengan intervensi manusia yang lebih mementingkan kekuasaan dan kebudayaannya bisa masuk dalam proses produksi nalar agama.

teks semantik yang menjadi teks sentral dalam wacana pemikiran Islam. dan di dalamnya memuat pergolakan pemikiran ketika Al-Qur’an itu berwujud. AlQur’an memiliki peran budaya yang tidak dapat diabaikan dalam membentuk wajah peradaban Islam. Dalam Islam. Al-Qur’an bisa didekati dengan metode-metode analisis teks. Teks dalam Al-Qur’an adalah teks peradaban karena di dalamnya memuat pembentukan dalam pergolakan (dialog/dialektika) antara manusia dan realitas di satu sisi. dan manusia dengan teks di sisi lain. Dalam konsep teks.16 - . Metode analisis bahasa (semiotika) merupakan metode humaniora yang dapat digunakan untuk memahami wacana keagamaan dalam Islam. . Hal ini sangat tepat diterapkan dalam menganalisis teks Al-Qur’an karena peradaban Islam Arab adalah peradaban teks.

terambil dari kata salima yang berarti selamat sentosa. tanpaknya kitapun tidak perlu menyusun teori penelitian tersendiri. tetapi cukup meminjam teori ilmu-ilmu sosial yang sudah ada dan telah diuji. Dimensi historisitas Islam lebih melihat kenyataan sosial-budaya untuk membuka ruang kemanusiaan sedalam-dalamnya. Humanitas bisa ditangkap apabila rasio dan akal budi dipakai dalam menganalisis teks agama. Maka. tunduk. Oleh karena itu. Islam bukanlah agama yang tidak mau memahami konteks perubahan zaman. patuh dan taat Penelitian keagamaan merupakan penelitian yang objek kajiannya adalah agama sebagai produk ”interaksi sosial” atau ”perilaku manusia”. metode yang digunakan adalah metode-metode penelitian sosial pada umumnya. Kesimpulan Islam berasal dari bahasa Arab.17 - . Sisi historisitas agama lebih banyak dieksplorasi untuk lebih memahami kenyataan kemanusiaan hari ini B. . Saran Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak demi perbaikan makalah ini dimasa yang akan datang. berkenaan dengan hal itu.BAB III PENUTUP A. Dari asal kata itu dibentuk kata aslama yang artinya memelihara dalam keadaan selamat sentosa dan berarti pula menyerahkan diri.

Wawasan Islam. Pendekatan Studi Islam dalam Teori dan Praktek.18 - . M. Metodologi Studi Islam. Atho Mudzhar. . Metodologi Penelitian Agama. Studi Agama Normativitas atau Historisitas. 1996.DAFTAR PUSTAKA Amin Abdullah. Abudinnata. Taufik Abdullah dan Rusli Karim. Endang Saifuddin Anshari. 2001.

Oktober 2010 Penyusun i . Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak demi perbaikan makalah ini dimasa yang akan datang. Produk Sejarah.KATA PENGANTAR Puji syukur penulis ucapkan atas rahmat yang diberikan Allah SWT sehingga penulis dapat menyelesaikan makalahiiiini dengan judul “Islam Sebagai Produk wahyu. Produk Interaksi Sosial Dan Produk Budaya” tepat pada waktunya. Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing yang telah membantu penulis dalam membuat makalah ini dan teman-teman yang telah memberi motivasi dan dorongan serta semua pihak yang berkaitan sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan baik dan tepat pada waktunya.19 - . Bengkulu.

METODE STUDI ISLAM“Islam Sebagai Produk wahyu. Produk Sejarah.20 - .MAKALAH . Produk Interaksi Sosial Dan Produk Budaya” Oleh : Dosen Pembimbing : JURUSAN TARBIYAH PENDIDIKAN GURU AGAMA ISLAM SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI STAIN (BENGKULU) 2010 .

.......... DAFTAR PUSTAKA ......... BAB I PENDAHULUAN A............................................................................................................................................................................................................ B............................................................ DAFATR ISI........................................................................... Islam Sebagai Produk Budaya...................DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ................................. 17 17 iii 3 8 10 13 1 2 2 i ii ii ........................................................................... Latar Belakang........................ Kesimpulan............ BAB III PENUTUP A........... Islam Sebagai Produk Sejarah....................................................... C......... KATA PENGANTAR.................................................21 - ............................... B............................................................................................................................... B.. D.... Kritik dan Saran .... Rumusan Masalah .............................. Tujuan Makalah.... C.................................................................. Islam Sebagai Produk Wahyu............... Islam Sebagai Produk Interaksi Sosial......................... BAB II PEMBAHASAN A....................................................

2001:64 iii .wordpress. Islamologi (dinul Islam) (Jakarta : Ikhtiar Baru Vam Hoeve. hlm 56 Harun nasution. Jilid I ( Jakarta : UI Press.1997:55-57. Hakim dan Jaih Mubarok. Maulana Muhammad ali. Islam ditinjau dari berbagai aspeknya. (Bandung : Al-Ma’arif). 1979.DAFTAR PUSTAKA Abudinnata. Jakarta: 2001.22 - . Metodologi Studi Islam.com/2008/09/21/islam-sebagai-produk-budaya/ Juhaya S. dalam Atang Abd. Taja Grafindo Persada. 1980). Dienul Islam. 1977) cet II. Praja. Pt. Hlm 2 Narsruddin Razak. hlm 9 http://jn76.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful