You are on page 1of 12

JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)

Volume 5, Nomor 5, Oktober 2017 (ISSN: 2356-3346)


http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm

STUDI EPIDEMIOLOGI DESKRIPTIF KEJADIAN PNEUMONIA PADA


BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS LANGENSARI II KOTA
BANJAR JAWA BARAT TAHUN 2017

Euis Novi Solihati, Suhartono, Sri Winarni


Bagian Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Diponegoro
Email: euisnovis@gmail.com

ABSTRACT

Pneumonia was one of leading under-five child mortality causes in Indonesia.


Prevalence of cases at 2014 in Banjar City was included in the top ten (7,25%) in
West Java. Banjar Public Health Office data showed the highest prevalence
(2016) found in Langensari II Public Health Center (13,05%). This research
aimed to describe epidemiology of pneumonia at under-five years according to
characteristic of person, place, and time and mapping the spread of cases used
spatial approach in Langensari II public health center working area from January
2016 until February 2017. Research type was descriptive observasional with
crossectional design and spatial approach used GIS (Geographic Information
System). 71 samples of children aged 0-59 months were taken by stratified
random sampling and cases distribution mapping used total population.
Dependent variable was pneumonia incidence, independent variables were
individual characteristics, place characteristics (house physical condition and land
use), and time. The results showed that the majority of cased were age 12-35
months (57%), male (57%), immunization history, breast milk and vitamin A were
completed (81,7%;87,3%;87,3%), good nutrition status (71,8%), hadn’t low-birth
weight history (93%), mother was graduation from junior high school (52,1%),
unemployed mother (74,6%), temperature, humidity, natural light intensity, and
cooking fuel type were ineligible (84,5%;69%;66,2%;53,5%), ventilation, floor
type, and wall type were eligible (59,2%;63,4%;73,2%), smokers presence in
family (76,1%), and not densely occupied (59,2%). The highest case was
Langensari village with spreading points gathered in residential area. Langensari
II public health care expected to hold socialization about pneumonia and simple
healthy house to mother who have under-five child.

Keyword : pneumonia, under-five child, epidemiology, GIS

PENDAHULUAN pneumonia adalah Adenoviruses,


Pneumonia merupakan infeksi Rhinovirus, Influenza virus,
akut yang mengenai jaringan paru- Respiratory syncytial virus (RSV)
paru (alveoli) yang dapat disebabkan dan Parainfluenza virus, sedangkan
oleh berbagai mikroorganisme bakteri yang biasanya menyebabkan
seperti virus, jamur, bakteri, pajanan pneumonia yaitu Streptococcus dan
bahan kimia atau kerusakan fisik Mycoplasma pneumonia.1 Gejala
dari paru-paru, maupun pengaruh yang tampak pada penderita
tidak langsung dari penyakit lain. pneumonia yaitu panas tinggi
Virus yang biasanya menyebabkan disertai batuk berdahak, napas cepat

618
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 5, Nomor 5, Oktober 2017 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm

dengan frekuensi nafas ≥60 kali profil kesehatan Indonesia tahun


pada anak usia <2 bulan, ≥50 2015, sebanyak 4,62% kasus
kali/menit pada anak usia 2-11 pneumonia pada balita ditemukan di
bulan, ≥40 kali pada anak usia 12-5 Provinsi Jawa Barat. Angka tersebut
tahun, sesak, dan gejala lainnya merupakan angka tertinggi di pulau
seperti sakit kepala, gelisah dan Jawa.6 Sedangkan di Kota Banjar
nafsu makan berkurang. Pada bayi, ditemukan 1.202 kasus pneumonia
biasanya gejala tidak disertai pada balita dari 306.133 kasus di
dengan batuk.2,3 Jawa Barat pada tahun 2014.
Pneumonia merupakan salah Prevalensi kejadian pneumonia pada
satu penyebab tertinggi kematian balita di Kota Banjar 7,25% dan
balita di dunia maupun di Indonesia. menduduki peringkat 10 besar di
Menurut laporan UNICEF (2013), Jawa Barat.8
pneumonia membunuh lebih dari Berdasarkan data Dinas
3.000 anak balita setiap harinya di Kesehatan Kota Banjar, selama 3
tahun 2012 yang berarti pneumonia tahun terakhir wilayah kerja
adalah pembunuh terbesar balita Puskesmas Langensari II di Kota
dan merupakan penyebab kematian Banjar menduduki peringkat pertama
utama penyakit infeksi pada balita. kasus pneumonia balita. Dari tahun
Pneumonia juga tercatat 2014 sampai tahun 2016 penemuan
menyumbang 17% dari seluruh penyakit pneumonia di Puskesmas
kematian balita, sebagian Langensari II selalu terjadi
diantaranya kurang dari 2 tahun.4 peningkatan. Pada tahun 2014
Pada tahun 2015, berdasarkan data ditemukan sebanyak 277 (11,7%)
yang dirilis oleh Direktorat Jenderal balita menderita pneumonia terjadi
Pengendalian Penyakit dan peningkatan 6% di tahun 2015
Penyehatan Lingkungan (Ditjen dengan jumlah 289 kasus (12,2%),
P2PL) Kemenkes RI, diperkirakan kemudian terjadi peningkatan
sekita 16% (944.000) dari seluruh kembali sebesar 8,5% pada tahun
kematian balita (5,9 juta) di dunia 2016 menjadi 309 kasus (13,05%).
diakibatkan penyakit pneumonia.5 Sedangkan untuk target yang telah
Sedangkan pada tahun 2016 ditetapkan oleh Dinas Kesehatan
berdasarkan laporan WHO, angka Kota Banjar yaitu 8,6%.9
kematian akibat Pneumonia di Kejadian pneumonia pada
seluruh dunia pada anak dengan balita dapat disebabkan oleh
usia di bawah 5 tahun adalah beberapa faktor. Dalam epidemiologi
sebesar 15%.6 deskriptif dikenal 3 karakteristik
Hasil Sample Registration utama untuk menentukan faktor
System (SRS) tahun 2014 yang saling berkaitan dengan suatu
menyatakan bahwa pneumonia kejadian atau penyakit. Ketiga
merupakan penyebab kematian karakteristik tersebut meliputi
nomor 3 pada balita di Indonesia variabel orang, tempat dan waktu.10
yaitu sebesar 9,4% dari jumlah Umur balita, jenis kelamin balita,
kematian balita. Diperkirakan 2-3 riwayat pemberian ASI ekslusif pada
orang balita setiap jam meninggal balita, BBLR, riwayat pemberian
karena Pneumonia.5 Menurut Profil vitamin A, riwayat pemberian
Kesehatan Indonesia, pneumonia imunisasi, pendidikan formal ibu,
menyebabkan 15% kematian balita pengetahuan ibu, dan pekerjaan ibu
yaitu sekitar 922.000 balita pada mempengaruhi kejadian pneumonia
tahun 2015 di Indonesia.7 Menurut pada balita.11

619
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 5, Nomor 5, Oktober 2017 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm

Kondisi fisik rumah adalah digunakan adalah stratified random


media penularan penyakit sampling dengan menstratakan
pneumonia pada balita karena balita penderita pneumonia per-
secara langsung berinteraksi dengan dusun kemudian diambil sampel
penghuninya. Kondisi fisik rumah perdusun tersebut sesuai dengan
meliputi jenis lantai, jenis dinding, proporsi yang telah ditentukan.
ventilasi, suhu, kelembapan, Populasi pada penelitian ini
pencahayaan alami, serta yang adalah seluruh pasien balita baru
mempengaruhinya seperti penderita pneumonia yang tercatat
kepadatan hunian, keberadaan di laporan Puskesmas Langensari II
perokok dalam rumah, jenis bahan Kota Banjar Jawa Barat pada bulan
bakar, dan jenis obat nyamuk yang Januari 2016 sampai bulan Februari
digunakan.12,13,14 Kondisi fisik luar 2017 dengan jumlah 182 balita
rumah ada kemungkinan kasus. Namun yang ditemukan di
mempengaruhi kondisi fisik dalam lapangan anya 150 balita kasus.
rumah seperti timbulnya polusi Besar sampel yang digunakan
udara. Adanya pertukaran udara luar dalam penelitian ini yaitu 2 jenis.
dan udara dalam rumah, Besar sampel dengan keseluruhan
memungkinkan polutan dari luar populasi digunakan untuk pemetaan
rumah masuk dan mempengaruhi pola sebaran kejadian pneumonia
kualitas udara dalam rumah. Polusi dan penggambaran beberapa
udara luar behubungan erat dengan variabel, diantaranya umur balita,
penggunaan lahan. Perubahan jenis kelamin balita, dan waktu
penggunaan lahan agraris menjadi kejadian pneumonia menurut
non agraris mampu membuat karakteristik orang. Besar sampel
lingkungan hidup menjadi semakin minimal yaitu 71 balita kasus
buruk. Penggunaan lahan bangunan digunakan untuk penggambaran
seperti pemukiman dan industri variabel lainnya. Sampel diambil dari
menyumbang polutan yang cukup 11 dusun di wilayah kerja
besar terhadap lingkungan.15 Puskesmas Langensari II Kota
Banjar sesuai proporsi kasus. Beriku
METODE PENELITIAN merupakan jumlah sampel yang
Penelitian ini menggunakan diambil tiap dusun.
jenis penelitian deskriptif dengan
metode observasional dan
menggunakan desain cross-
sectional yaitu pengukuran variabel-
variabelnya hanya dilakukan satu
kali, pada satu saat. Penelitian ini
hanya mendeskripsikan suata
fenomena tanpa melakukan analisis
mengapa fenomena tersebut terjadi,
sehingga tidak memerlukan
hipotesis untuk melakukan uji
hipotesis (uji statistika).16 Selain itu,
penelitian ini juga menggunakan
pendekataan spasial dengan SIG
(Sistem Informasi Geografis) untuk
pemetaan persebaran kasus. Teknik
pengambilan sampel yang

620
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 5, Nomor 5, Oktober 2017 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm

Tabel 1. Jumlah Sampel kerja Puskesmas Langensari II


Berdasarkan Proporsi mencakup 3 Desa/Kelurahan 11
Kasus Perdusun Dusun di Kecamatan Langensari.
Nama Dusun Jumlah Sampel Adapun desa tersebut
ଶ଼
Karangmukti ‫ ݔ‬71 = 10,9 dibulatkan 11 diantaranya Desa Langensari,
ଵ଼ଶ
Sidamulya ଵଵ Desa Waringinsari, dan
‫ ݔ‬71 = 4,3 dibulatkan 4
ଵ଼ଶ
ଶହ
Kelurahan Muktisari. Desa
Sukahurip ‫ ݔ‬71 = 9,75 dibulatkan 10
ଵ଼ଶ Langensari terdiri atas 4 dusun,
ଶଽ
Sinargalih ‫ ݔ‬71 = 11,3 dibulatkan 11 yaitu Dusun Karangmukti, Dusun
ଵ଼ଶ
Kedungwaringin ଻
‫ ݔ‬71 = 2,7 dibulatkan 3
Sidamulya, Sukahurip, dan
ଵ଼ଶ
ଶଶ
Sinargalih. Desa Waringinsari
Purwodadi ‫ ݔ‬71 = 8,6 dibulatkan 9
ଵ଼ଶ terdiri atas 4 dusun, yaitu Dusun
Sukarahayu ଵସ
‫ ݔ‬71 = 4,5 dibulatkan 5 Kedungwaringin, Dusun
ଵ଼ଶ
Sukanegara ଵସ Purwodadi, Dusun Sukanegara,
‫ ݔ‬71 = 5,4 dibulatkan 5
ଵ଼ଶ

dan Dusun Sukarahayu.
Babakan ‫ ݔ‬71 = 1,6 dibulatkan 2
ଵ଼ଶ Kelurahan Muktisari terdiri atas 3
Langen ଵଶ
‫ ݔ‬71 = 4,7 dibulatkan 5 dusun, yaitu Dusun Babakan,
ଵ଼ଶ
Sidamukti ଵ଺
‫ ݔ‬71 = 6,2 dibulatkan 6
Dusun Langen, serta Dusun
ଵ଼ଶ Sidamukti.
Total 71
Wilayah kerja Puskesmas
Langensari II Kota Banjar
HASIL DAN PEMBAHASAN merupakan dataran rendah dan
A. Gambaran Umum Lokasi mayoritas lahan yaitu irigasi dan
Penelitian persawahan. Jumlah penduduk
Puskesmas Langensari II sebanyak 26.514 jiwa, 1.745 jiwa
merupakan salah satu dari 10 diantaranya berusia balita dengan
(sepuluh) puskesmas di Kota kepadatan penduduk 19,55
Banjar Provinsi Jawa Barat dan jiwa/Ha.
salah satu dari 2 puskesmas di
Kecamatan Langensari. Wilayah

B. Gambaran Kejadian Pneumonia pada Balita Menurut Karakteristik Orang


Tabel 2. Kejadian Pneumonia pada Balita Menurut Karakteristik Orang
Variabel Nilai-nilai Deskriptif Distribusi Frekuensi
Median Minimum Maksimum
Umur Balita 26,5 4,0 59,0 0 – 11 bulan : 9%
12 – 35 bulan : 57%
36 – 59 bulan : 34%
Jenis Kelamin Balita Laki-laki : 57%
Perempuan : 43%
Imunisasi Tidak lengkap : 18,5%
Lengkap : 81,7%
ASI ekslusif Tidak lengkap : 12,7%
Lengkap : 87,3
Vitamin A Tidak lengkap : 12,7%
Lengkap : 87,3%
Status Gizi Baik : 71,8%
Buruk : 1,4%
Kurang : 26,8%
Riwayat BBLR BBLR : 7%
Tidak BBLR : 93%
Tingkat Pendidikan Tamat SD : 33,8%
Ibu Tamat SMP : 52,1%
Tamat SMA : 11,3%
Tamat Perguruan Tinggi : 2,8%
Jenis Pekerjaan Ibu Tidak bekerja/IRT : 74,6%
Pedagang : 11,3%

621
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 5, Nomor 5, Oktober 2017 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm

Variabel Nilai-nilai Deskriptif Distribusi Frekuensi


Median Minimum Maksimum
Petani : 11,3%
Buruh/karyawan : 1,4%A
PNS : 1,4%
Mayoritas balita penderita saluran udara dan ruang udara,
pneumonia adalah kelompok sehingga menyebabkan laju
umur 12-35 bulan (57%; median aliran udara lebih tinggi dan
26,5; minimum 4; maksimum 59), hambatan jalan napas lebih
jenis kelamin laki-laki (57%), rendah.18 Selain itu, pertumbuhan
riwayat imunisasi lengkap saluran pernapasan pada anak
(81,7%), ASI ekslusif lengkap perempuan lebih cepat daripada
(87,3%), pemberian vitamin A jaringan parenkim, namun
lengkap (87,3%), status gizi baik sebaliknya pada laki-laki
(71,8%), tidak memiliki riwayat (pertumbuhan disanapsis)
BBLR (93%), tingkat pendidikan menyebabkan saluran
tamat SMP/MTs (52,1%), dan ibu pernapasan balita laki-laki lebih
tidak bekerja/IRT (74,6%). sempit.18 Sama halnya
Balita penderita pneumonia pernyataan Sunyataningkamto
paling banyak terjadi pada dkk. (2004) yang menyebutkan
kelompok umur 12-35 bulan bahwa diameter saluran
(57%; Median 26,5; Minimum 4,0; pernapasan anak laki-laki lebih
Maksimum 59,0) dimana keadaan kecil dibandingkan dengan
balita umur ≤24 bulan belum diameter saluran pernapasan
memiliki sistem imun yang anak perempuan.19
sempurna dan lumen pernapasan Salah satu faktor ekstrinsik
masih sempit.17 Balita umur 2-3 kejadian pneumonia pada balita
tahun merupakan puncak yaitu tingkat pendidikan ibu.
terjadinya pneumonia akibat Mayoritas pendidikan ibu kasus
infeksi virus.2 yaitu tamat SMP/MTs (52,1%).
Pneumonia lebih banyak Rendahnya pendidikan ibu
terjadi pada balita berjenis menunjukan rendahnya
kelamin laki-laki (57%). Carey et. pengetahuan ibu mengenai
al (2008) mengemukakan bahwa pneumonia. Rendahnya
kemunculan surfaktan pada pengetahuan ibu dalam
wanita neonatal lebih awal. pencegahan dan mengenali
Estrogen dalam paru berfungsi gejala awal kesakitan pneumonia
untuk stimulasi surfaktan paru. pada balita menyebabkan
Kemunculan surfaktan tingginya risiko kesakitan akibat
menjadikan patensi kecilnya pneumonia.

C. Gambaran Kejadian Pneumonia pada Balita Menurut Karakteristik


Tempat

622
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 5, Nomor 5, Oktober 2017 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm

Gambar 1. Peta Pola Persebaran Kasus Pneumonia


Kejadian balita pneumonia tertinggi jumlah penduduknya dan
paling banyak terjadi di Desa titik sebarannya cenderung
Langensari yang merupakan desa bergerombol.

Tabel 3. Kejadian Pneumonia pada Balita Menurut Kondisi Fisik Rumah


Variabel Nilai-nilai Deskriptif Distribusi Frekuensi
Median Minimum Maksimum
Suhu 31,4 29,1 33,4 Tidak memenuhi syarat : 84,5%
Memenuhi syarat : 15,5%
Kelembapan 75,2 64,0 81,0 Tidak memenuhi syarat : 69%
Memenuhi syarat : 31%
Luas ventilasi 10,0 3,5 13,5 Tidak memenuhi syarat : 40,8%
Memenuhi syarat : 59,2%
Intensitas cahaya 50,0 21,3 91,3 Tidak memenuhi syarat : 66,2%
alami Memenuhi syarat : 33,8%
Jenis lantai Tidak memenuhi syarat : 36,6%
Memenuhi syarat : 63,4%
Jenis dinding Tidak memenuhi syarat : 26,8%
Memenuhi syarat : 73,2%
Jenis bahan bakar Tidak memenuhi syarat : 53,5%
memasak Memenuhi syarat : 46,5%
Perokok dalam Ada perokok : 76,1%
keluarga Tidak ada perokok : 23,9%
Kepadatanb hunian 9,4 4,0 43,0 Padat : 40,8%
Tidak padat : 59,2%

Mayoritas kejadian pneumonia memenuhi syarat yaitu masih


ditemukan pada balita dengan menggunakan kayu bakar (53,5%),
kondisi fisik rumah suhu udara tidak luas ventilasi memenuhi syarat yaitu
memenuhi syarat yaitu >30oC ≥10% luas lantai (59,2%; median
(84,5%; median 31,4oc; minimum 10%; minimum 3,5%; maksimum
29,1oc; maksimum 33,4oC), 13,5%), jenis lantai memenuhi syarat
kelembapan udara tidak memenuhi yaitu terbuat dari bahan permanen
syarat yaitu >70% (69%; median dan kedap air (63,4%), jenis dinding
75,2%; minimum 64%, maksimum memenuhi syarat yaitu terbuat dari
81%), intensitas cahaya alami tidak tembok atau kedap air (73,2%),
memenuhi syarat yaitu <60 lux adanya perokok dalam keluarga
(66,2%; median 50 lux; minimum (76,1%), dan tidak padat hunian
21,3 lux, maksimum 91,35 lux), jenis yaitu ≥9 m2/jiwa (59,2%).
bahan bakar memasak tidak

623
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 5, Nomor 5, Oktober 2017 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm

Suhu udara dalam rumah perkembangbiakan bakteri-bakteri


Mayoritas suhu udara patogen penyebab pneumonia.
dalam rumah balita di lokasi Selain itu, kelembapan udara
penelitian tidak memenuhi syarat yang terlalu tinggi (kelebihan uap
yaitu lebih dari 30oC (84,5%; air di udara) dapat menyebabkan
median 31,4oc; minimum 29,1oc; udara basah yang dihirup
maksimum 33,4oC). Suhu udara berlebihan sehingga dapat
yang disyaratkan yaitu 18oC-30oC mengganggu fungsi paru. 21

Lokasi penelitian yang


merupakan dataran rendah (<25 Intensitas Cahaya Alami
mpdl) merupakan salah alasan Hasil pengukuran
tingginya udara dalam rumah. menunjukan intensitas cahaya
Tingkat kepadatan hunian dan alami di lokasi penelitian rendah
sirkulasi udara juga dapat (<60 lux) yaitu tidak memenuhi
meneybabkan tingginya suhu syarat terutama di bagian kamar
udara dalam rumah. Suhu udara balita. Intensitas cahaya alami
di atas 30oC merupakan suhu dalam rumah yang baik yaitu ≥60
dimana kebanyakan bakteri dapat lux. Rendahnya intensitas cahaya
tumbuh dan berkembangbiak yang masuk dipengaruhi oleh
secara optimal. Bakteri penyebab pepohonan yang menutupi jalan
pneumonia, salah satunya masuk cahaya maupun posisi
Streptococcus pneumoniae yang tidak sesuai dan ukuran
tumbuh pada suhu dengan jendela yang kecil. Cahaya alami
rentang 25oC-40oC, namun berfungsi untuk penerangan dan
optimal tumbuh pesat pada mengandung sinar ultraviolet.
rentang suhu 31oC-37oC. Suhu Sinar ultraviolet dengan panjang
udara minimum dalam rumah gelombang tertentu dapat
balita penderita pneumonia membunuh mikroorganisme
menurut survei 29,1oC.20 patogen dengan cara merusak
DNA mikroba sehingga menjadi
Kelembapan udara dalam steril. DNA steril tidak mampu
rumah bereproduksi dan akhirnya akan
Mayoritas kelembapan mati.
udara dalam rumah balita tidak
memenuhi syarat yaitu >70% Jenis bahan bakar memasak
(69%; median 75,2%; minimum Mayoritas keluarga balita
64%, maksimum 81%). pneumonia masih menggunakan
Kelembapan udara dalam rumah bahan bakar kayu untuk
yang baik yaitu 40-70%. memasak (53,5%). Hal ini
Tingginya kelembapan udara disebabkan karena kayu bakar
dalam rumah di lokasi penelitian lebih mudah didapatkan dan lebih
dapat diakibatkan oleh lokasi murah dibandingkan dengan
penelitian rata-rata persawahan bahan bakar gas. Umumnya
dan irigasi, sirkulasi udara rumah bahan bakar kayu digunakan
yang rendah menyebabkan uap untuk memasak nasi dan air.
air cenderung statis di dalam Smith KR, Samet JM,
rumah, serta pencahayaan alami Romieu I, dan Bruce N
yang rendah. Kelembapan yang mengungkapkan bahwa
tinggi (>70%) merupakan media penggunaan bahan bakar padat
yang baik untuk pertumbuhan dan yang belum diproses terutama

624
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 5, Nomor 5, Oktober 2017 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm

bahan bakar biomassa dan batu tingginya paparan asap biomasa


bara merupakan penyebab utama memungkinkan terjadinya
terjadinya polusi udara dalam penurunan mekanisme kerja
ruangan. D. Mahalanabis, S. paru, merusak mekanisme
Gupt, D. Paul, A. Gupta, M. pertahanan paru, gangguan
Lahiri, dan M. A. Khaled dalam fungsi paru-paru, dan
penelitiannya menyatakan bahwa meningkatkan kerentanan anak
terdapat hubungan yang kuat balita terkena ARI/ISPA serta
antara penggunaan bahan bakar pneumonia.23
kayu dengan peningkatan
kejadian pneumonia pada balita. Keberadaan Perokok
Melihat dari kuatnya hubungan Mayoritas balita pneumonia
dan temporal sequence memiliki keluarga perokok aktif
memungkinkan asap dari bahan (76,1%). Rata-rata jumlah
bakar kayu secara langsung anggota keluarga balita kasus
menyebabkan gangguan yang merokok yaitu 1 orang
pernapasan pada anak.22 Anak dengan paling sedikit tidak
balita lebih banyak menghabiskan ditemukan perokok dan paling
waktunya di dalam rumah dan banyak ditemukan 2 orang
berada di sisi ibunya, bahkan perokok. Sebagian besar perokok
mereka ikut ketika ibunya mampu menghabiskan lebih dari
memasak. Tingkat risiko kejadian 1 bungkus rokok perhari. Ketika
pneumonia dipengaruhi oleh sedang di rumah, seringkali
kontinuitas paparan karena perokok merokok di dalam satu
tergantung pada dosis-respon. ruangan yang sama dengan
Semakin sering balita terpapar balita. Sehingga besar
asap pembakaran bahan bakar kemungkinan balita terpapar asap
kayu maka semakin tinggi pula rokok tersebut.
risiko kejadian pneumonia pada Asap rokok mengandung
balita tersebut. racun yang sangat berbahaya
Polutan toksik yang bagi sistem pernapasan manusia
membahayakan sistem terutama perokok pasif. Rokok
pernapasan dan konsentrasinya menjadi salah satu penyebab
lebih tinggi dari hasil pembakaran pneumonia karena asap rokok
bahan bakar yang tidak diproses merusak sistem pertahanan paru
terlebih dahulu seperti kayu bakar dengan mengganggu fungsi silia
diantaranya Benzo(a)pyrene dan kerja sel makrofag alveolus.
menyebabkan penekanan Sehingga mikroorganisme masuk
kekebalan tubuh dan ke saluran pernapasan dan
meningkatkan risiko infeksi dan dengan mudah mencapai paru-
kesakitan, Nitrogen oksida dapat paru kemudian merusak jaringan
meningkatkan reaktivitas bronkus paru dengan cara mengeluarkan
dan kerentanan terhadap infeksi toksin, sehingga agen infeksius
virus dan bakteri, dan PM10 masuk ke dalam saluran
mampu menginduksi respon pernapasan. Kemudian
inflamasi sistemik melalui melakukan adhesi pada dinding
stimulasi sumsum tulang bronkus dan bronkiolus,
belakang dan berkontribusi selanjutnya bermultiplikasi dan
patogenesis morbiditas timbul pemicu terjadinya
kardiorespirasi. Sehingga inflamasi. Pada saat terjadi

625
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 5, Nomor 5, Oktober 2017 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm

inflamasi, kantung udara terisi terkena penyakit infeksi karena


dengan cairan eksudat yang sistem kekebalan tubuh balita
banyak mengandung protein. Zat- tersebut jauh lebih lemah
zat racun dalam rokok dapat dibandingkan dengan balita yang
mematikan sistem kekebalan jarang atau tidak sama sekali
tubuh.24 Balita yang terpapar terpapar asap rokok.
rokok pasif memiliki risiko lebih

Tata guna lahan

Gambar 2. Peta Persebaran Pneumonia pada Balita Menurut Tata Guna


Lahan

Gambar 2. menunjukan bahwa penggunaan bahan bakar kayu, dan


wilayah Desa langensari berupa tingginya jumlah keberadaan
tegalan, pusat perdagangan, anggota keluarga yang merokok
persawahan, dan pemukiman. dapat menjadi faktor penyebab
Wilayah Kelurahan Muktisari berupa tingginya kejadian pneumonia di
persawahan, pemukiman, kuburan lokasi penelitian. Titik kasus
umum, dan pusat perdagangan. pneumonia balita di area pemukiman
Sedangkan wilayah Desa cenderung bergerombol menunjukan
Waringinsari berupa persawahan tingkat tranmisi penyakit pneumonia
dan pemukiman. Kondisi fisik pada balita cukup tinggi terutama di
lingkungan rumah yaitu tingginya Desa Langensari. Sedangakan titik
suhu dan kelembapan udara dalam kasus balita pneumonia di area
rumah, rendahnya intensitas cahaya persawahan cenderung menyebar
alami masuk ke rumah, tingginya karena jarak antar rumah berjauhan

626
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal) (e
Volume 5, Nomor 5, Oktober 2017 (ISSN: 2356-3346)
2356
http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm

dan tingkat transmisi penyakit pneumonia sangat rendah.

D. Gambaran Umum Menurut Karakteristik Waktu


Trendline Kasus Pneumonia Pada Balita Januari 2016-Februari
2016 Februari
2017

30

25

20

15
Frekuensi
10
Linear (Frekuensi)
5

Gambar 3. Trendline Kasus Pneumonia Pada Balita


Balita Januari 2016-Februari
2016
2017

Gambar 3. menunjukan dengan angka kejadian


bahwa kasus pneumonia pada pneumonia tertinggi tepatnya di
balita paling banyak terjadi pada Dusun Sinaragalih, Dusun
bulan Agustus dan September Sukahurip, dan Dusun
2016, dimana pada bulan Karangmuki ki yang juga
tersebut merupakan musim merupakan 3 dusun tertinggi
kemarau mendekati pancaroba kasus Pneumonia balita di
atau pergantian musim kemarau Wilayah kerja Puskesmas
ke musim penghujan. Langensari II Kota Banjar pada
Berdasarkan trendline linear bulan Januari 2016 hingga
kasus
asus pneumonia pada balita Februari 2017.
bulan Januari 2016 hingga bulan 2. Proporsi balita penderita
Februari 2017 cenderung turun. pneumonia lebih banyak
Meskipun demikian, mengingat berjenis kelamin laki-laki
laki dengan
polanya fluktuatif kasus yang kelompok umur mur 24-35
24 bulan
akan muncul pada b
bulan sebanyak 57%.
berikutnya belum tentu akan tetap 3. Distribusi frekuensi kejadian
turun. pneumonia lebih banyak pada
balita yang memiliki ibu dengan
KESIMPULAN tingkat pendidikan tamat
1. Gambaran kasus pneumonia SMP/MTs sebanyak 52,1% dan
yang menyerang
enyerang balita di berprofesi sebagai ibu rumah
wilayah kerja Puskesmas tangga sebanyak 74,6%.
Langensari II Kota Banjar Jawa 4. Distribusi kasus pneumonia
Barat berdasarkan angka berdasarkan
sarkan kondisi fisik rumah,
kejadian penyakit, Desa lebih banyak pada balita yang
Langensari merupakan desa tinggal di rumah dengan suhu
udara dalam rumah tidak

627
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 5, Nomor 5, Oktober 2017 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm

memenuhi syarat dengan nilai 12 November 2015 [Internet].


median 31,4oC dan 2015; Available from:
persentasenya 84,5%, http://dinkes.inhukab.go.id
kelembapan udara dalam rumah 6. Integra Newsletter. Pneumonia
tidak memenuhi syarat dengan [Internet]. 2016. Available from:
nilai median 75,2% dan http://www.integra.co.id
persentasenya 69%, intensitas 7. Kementerian Kesehatan RI.
pencahayaan tidak memenuhi Profil Kesehatan Indonesia
syarat dengan nilai median 50 2015. 2016. 403 p.
lux dan persentasenya 66,2%, 8. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa
masih menggunakan kayu bakar Barat. Profil Kesehatan Provinsi
untuk aktivitas memasak Jawa Barat Tahun 2014. 2014.
sebanyak 53,5%, dan memiliki 9. Dinas Kesehatan Kota Banjar.
anggota keluarga yang merokok Laporan ISPA. 2016.
sebanyak 76,1%. 10. Noor NN. Epidemiologi. Jakarta:
5. Kasus pneumonia pada balita di Rineka Cipta; 2008. 324 p.
wilayah kerja Puskesmas 11. Herman. Fakor-faktor yang
Langensari II Kota Banjar bulan Berhubungan dengan Kejadian
Januari 2016 hingga Februari Pneumonia Pada Anak Baita Di
2017 tertinggi terjadi pada bulan Kabupaten Ogan Kabupaten Ilir
Agustus 2016 dan bulan Sumatera Selatan Tahun 2002.
September 2016. Lonjakan yang Tesis. Depok: FKM UI; 2002.
cukup tinggi terjadi pada bulan 12. Azhar K. Faktor lingkunagn di
Agustus 2016 dari bulan dalam rumah dan prevalensi
sebelumnya yaitu bulan Juli pneumonia balita di Indonesia
2016. 2007. Widyariset.
2012;15(2):455–62.
DAFTAR PUSTAKA 13. Dinda RA, Nikie AYD S.
1. Anwar A, Dharmayanti I. HUbungan Kondisi Lingkungan
Pneumonia pada Anak Balita di Dalam Rumah Dengan Kejadian
Indonesia. J Kesehat Masy Nas. Pneumonia Pada Balita di
2014;8(8):359–65. Wilayah Kerja Puskesmas Pati I
2. Badan Penelitian dan Kabupaten Pati. Kesehat Masy
Pengembangan Kesehatan. Univ Diponegoro. 2016;
Riset Kesehatan Dasar 14. Padmonobo H, Setiani O, Joko
(RISKESDAS) 2013. Lap Nas T. Hubungan Faktor-Faktor
2013. 2013;1–384. Lingkungan Fisik Rumah
3. Frontieres MS. Clinical dengan Kejadian Pneumonia
guidelines Medicines sans pada Balita di Wilayah Kerja
Frontiers. 2016. 358 p. Puskesmas Jatibarang
4. Anthony D, Mullerbeck E. Kabupaten Brebes. J Kesehat
Committing to Child Survival: A Lingkung I. 2013;11(2):194–8.
Promise Renewed: UNICEF 15. Darmanto D, Andrean T,
Progress Report 2013. 2013. 19 Setiawan A, Antoro MD.
p. Seminar Nasional
5. Ditjen P2PL Kemenkes RI. Hari Pendayagunaan Informasi
Pneumonia Sedunia 2015: Geospatial. Jogjakarta; 2013. p.
Wujudkan Kesetaraan Akses 5.
Pencegahan & 16. Sastroasmoro S, Ismael S.
Penatalaksanaan Pneumonia. Dasar-dasar Metodologi

628
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 5, Nomor 5, Oktober 2017 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm

Penelitian Klinis. 4th ed.


Jakarta: Sagung Seto; 2011.
519 p.
17. Departemen Kesehatan RI.
Pedoman Program
Pemberantasan Penyakit Infeksi
Saluran Pernapasan Akut
(ISPA) untuk Penanggulangan
Pneumonia pada Balita. Jakarta:
Depkes RI; 2004.
18. Carey MA et. al. It’s all about
sex: male-female differences in
lung development and disease.
Natl Inst Heal. 2008;d(8):308–
13.
19. Sunyataningkamto dkk. The
Role of Indoor Air Pollution and
Other Factors in The Incidence
of Pneumonia in Under-five
Children. Paediatr Indones.
2004;44(1–2):25–8.
20. Sari EL, Suhartono, Joko T. The
Association Between Physical
Environmental Condition Of
House With The Pneumonia On
Children Under Five Years At
Working Area Pati I Public
Health Center Subdistrict Pati
Regency. J Kesehat Masy.
2014;2(1):56–61.
21. Lubis P. Perumahan Sehat.
Jakarta: Pusat Diknakes Proyek
PPTS; 1985.
22. D. Mahalanabis, S. Gupt, D.
Paul, A. Gupta, M. Lahiri dan
MAK. Risk factors for
pneumonia in infants and young
children and the role of solid fuel
for cooking : a case-control
study. Epidemiol Infect.
2002;129:65–71.
23. Mishra V. Indoor Air Pollution
from Biomass Combustion and
Acute Respiratory Illness in
Preschool Age Children in
Zimbabwe. Int J Epidemiol.
2003;32(Respiratory):847–53.
24. Bruyere HJ. Bacterial pneumoni.
7th ed. Philadelphi: Lippincott
Williams & Wilkins; 2007.

629