Berikut ini adalah versi HTML dari berkas http://siteresources.worldbank.

org/INTINDONESIA/Resources/2262711168333550999/PERGBAB6Manajemenkeuanganpublik.pdf. G o o g l e membuat versi HTML dari dokumen tersebut secara otomatis pada saat menelusuri web. Page 1 6. BAB 6 Manajemen Keuangan Publik Kajian Pengeluaran Publik Indonesia 2007 Page 2 Kajian Pengeluaran Publik Indonesia 2007 Kajian Pengeluaran Publik Indonesia: Memaksimalkan Peluang Baru 104 BAB 6 Manajemen Keuangan Publik Temuan Pokok 1. Penyusunan dan pelaksanaan anggaran Indonesia telah melaksanakan inisiatif penting untuk meningkatkan transparansi dan kejelasan dalam proses anggaran. Tetapi sistem anggaran baru masih terus bergantung pada dokumen anggaran yang terlalu rinci dan berfokus pada sisi input yang memerlukan banyak waktu untuk mempersiapkan dan membahasnya. Sekarang DPR memiliki wewenang yang begitu besar dalam penentuan anggaran, tetapi interaksi antara pihak eksekutif dan legislatif terlalu berfokus pada hal-hal yang detail sehingga cenderung mengorbankan diskusi mengenai kebijakan.. Hal ini menyita waktu secara tidak proporsional. Pelaksanaan anggaran, terutama untuk proyek-proyek pembangunan, umumnya berjalan lamban dan sering baru bisa direalisasi menjelang akhir tahun anggaran. Lambatnya pencairan anggaran ini menunjukkan adanya gejala hambatan struktural dalam siklus anggaran, termasuk ketentuan dokumentasi yang terlalu rinci, prosedur revisi anggaran yang sangat panjang dan rumit, revisi anggaran besar-besaran pada pertengahan tahun, dan proses pengadaan barang dan jasa yang lamban. 2. Pengadaan barang dan jasa Walaupun kerangka kerja regulasi untuk pengadaan publik telah mengalami perbaikan, kapasitas untuk memenuhi persyaratan proses pengadaan tidak memadai, sehingga memperlambat pelaksanaan proyek. 3. Audit Jumlah pegawai dan sebaran geografis staf lembaga audit eksternal Badan Pemeriksa Keuangan

(BPK), dan Badan Pengawas Keuangan Pembangunan (BPKP) tidak sejalan dengan mandat mereka masing-masing. Pejabat BPK bertanggung jawab terhadap pemeriksaan eksternal dari seluruh aparatur pemerintah, tetapi hanya memiliki setengah dari auditor bersertifikat yang dimiliki BPKP, yang saat ini perannya lebih kecil dan terbatas. Sebagai akibat dari redefinisi peran BPK dan BPKP, semakin sering terjadi tumpang tindih dan ketidakjelasan mengenai fungsi tiga lembaga pemeriksaan internal, yang terdiri dari BPKP, Inspektur Jenderal (Irjen) pada setiap Departemen, dan badan pengawas daerah (Bawasda). Rekomendasi Utama Penyusunan dan pelaksanaan anggaran Hanya setelah pengawasan purnawaktu (ex-post)menjadi semakin kuat, maka secara perlahan gantikan pengawasan berdasarkan line-item di anggaran, kurangi tingkat ke-detail-an dokumen anggaran, dan di saat yang sama sederhanakan proses pengeluaran dokumen anggaran. Pembahasan dan persetujuan DPR terhadap anggaran seharusnya disesuaikan untuk lebih berfokus pada kebijakan dan prioritas. Susun kerangka pengeluaran jangka menengah, berikan peluang untuk pengajuan anggaran multi tahun untuk kategori belanja modal, dan sederhanakan ketentuan mengenai luncuran anggaran pada tahun berikutnya. Langkah pertama bisa berupa otorisasi pengajuan anggaran untuk beberapa tahun, terutama untuk proyek-proyek infrastruktur yang besar. Pengadaan barang dan jasa Lembaga Pengembangan Kebijakan Pengadaan seharusnya diberikan kemandirian yang lebih luas. Indonesia membutuhkan strategi yang lebih komprehensif untuk melaksanakan sistem eprocurement. Kerangka Peraturan yang ada saat ini seharusnya diperkuat melalui pembentukan UU pengadaan barang dan jasa dan peningkatan kapasitas para pelaksana pengadaan. Audit Pengaturan kelembagaan untuk melakukan pemeriksaan internal dapat disederhanakan. Berbagai lembaga pemeriksa internal dapat dokonsolidasikan ke dalam satu lembaga pemeriksaan internal dengan tugas dan tanggung jawab yang jelas untuk bekerja sama dengan BPK, Stafi dan infrastruktur di tingkat propinsi harus diseimbangkan lagi antara pemeriksaan internal dan eksternal

untuk mencerminkan wewenang BPK yang baru. Peran DPR harus diperjelas dalam rangka meminta pertanggungjawaban lembaga eksekutif berdasarkan temuan-temuan BPK. • • • • • • • • • • • • • Page 3 Kajian Pengeluaran Publik Indonesia 2007 Kajian Pengeluaran Publik Indonesia: Memaksimalkan Peluang Baru 105 BAB 6 Manajemen Keuangan Publik Pengelolaan Keuangan Publik di Indonesia: Kemajuan dan Tantangan77 Dengan meningkatnya sumber-sumber keuangan negara, sistem pengelolaan keuangan publik yang baik menjadi jauh lebih penting dalam rangka menjamin mutu pengeluaran anggaran serta mengurangi risiko tindak korupsi. Dengan semakin besarnya jumlah sumber daya keuangan publik yang akan dibelanjakan pemerintah, tuntutan perencanaan, penganggaran, dan tata cara pelaksanaan anggaran juga akan semakin besar. Modernisasi sistem, proses, dan institusi dalam siklus anggaran diperlukan agar peningkatan pengeluaran tersebut mencapai sasaran prioritas program pembangunan pemerintah, seperti pengentasan kemiskinan dan peningkatan pertumbuhan ekonomi. Selanjutnya, pengelolaan keuangan publik yang bermutu dan yang berorientasi pada hasil diperlukan untuk mempertahankan dukungan publik terhadap peningkatan pengeluaran dan penerimaan pemerintah. Indonesia telah mencapai kemajuan besar dalam membangun kerangka kerja perundangan mengenai pengelolaan keuangan publik dan meningkatkan transparansi. Penetapan UU tentang Keuangan Negara, UU Perbendaharaan Negara, UU tentang Audit Keuangan Negara dan UU tentang Perencanaan Pembangunan Nasional

kelemahan dalam kerangka kerja pengelolaan keuangan publik masih terjadi terutama dalam hal perencanaan dan anggaran. • Regulasi mengenai manajemen kas belum tersedia. • Kantor pembayaran daerah (KPPN) akan memegang fungsi verifikasi internal. dan yang paling jelas adalah dalam membuat anggaran pemerintah pusat yang sesuai dengan standar klasifikasi keuangan internasional (GFS). (iii) unifikasi anggaran dengan re-klasifikasi terhadap kategori anggaran. • Rekening dengan Saldo Nihil (zero balance account) sedang diujicobakan pada 50 kantor perbendaharaan daerah (KPPN). dan akuntabilitas eksternal. • Sistem Perbendaharaan • Kantor Akuntansi Regional (KAR) dan kantor verifikasi kabupaten/kota (Kasipa) kini sudah disatukan ke dalam Kanwil dan KPPN. (ii) klasifikasi GFS-. • Audit • Kehadiran dan kondisi staf BPK di daerah telah mengalami perkembangan yang bagus. Semua UU tersebut sekarang sudah diterapkan. pembentukanRekening Perbendaharaan Tunggal (Treasury Single Account/TSA). dengan memperkenalkan (i) anggaran berbasis kinerja dan output.1 Kerangka hukum yang sedang berjalan Bidang Reform Status Pelaksanaan • Perencanaan Anggaran dan Keuangan Negara • Peraturan pemerintah mengenai rencana kerja tahunan. Walaupun akhir-akhir ini reformasi pengelolaan keuangan publik sudah menunjukkan kemajuan. Kini BPK telah . rencana tahunan anggaran telah dikeluarkan. serta penyatuan pos anggaran pembangunan dan rutin yang sebelumnya terpisah. masih menghadapi berbagai tantangan yang berat dalam memantapkan reformasi tersebut melalui pelaksanaan yang benar dan dengan mengatur kembali proses yang mendasarinya.merupakan langkah-langkah penting yang membawa Indonesia menuju praktik-praktik keuangan berstandar internasional. rencana kerja departemen. Departemen Keuangan telah melaksanakan re-organisasi besar-besaran untuk memperbaiki dan meningkatkan fungsi-fungsi mereka. pelaksanaan anggaran. akuntansi dan pelaporan. Tabel 6. • Peraturan pelaksanaan mengenai akuntansi berbasis akrual belum terlaksana. tetapi sebagian besar pengeluaran masih dilaksanakan melalui berbagai rekening pemerintah. kerangka umum hukum kini sudah tersedia. Walaupun.

Bank Dunia. • UU No.0 20. lihat Bab 7.memiliki kantor di 16 provinsi dengan pegawai berjumlah 3.0 -10. Catatan: Angka-angka dalam persen dari total pengeluaran sebelum revisi pertengahan tahun. Page 4 Kajian Pengeluaran Publik Indonesia 2007 Kajian Pengeluaran Publik Indonesia: Memaksimalkan Peluang Baru 106 BAB 6 Manajemen Keuangan Publik Diagram 6. • UU mengenai Audit Keuangan Negara memerlukan tujuh peraturan pelaksanaan..1 Kesenjangan antara anggaran dan realisasinya -15.0 10. 15/2006 tentang BPK yang dikeluarkan pada November 2006.0 -5. Untuk PKP di daerah.0 5.0 30. Diagram 6. tetapi peraturan pelaksanaannya masih tertunda. 77 Bab ini berfokus pada Pengelolaan Keuangan Publik pemerintah pusat.500 orang. dan tidak satu pun dari peraturan ini yang telah dikeluarkan oleh pemerintah.0 0.0 25.0 15.0 FY 01 FY 02 FY 03 FY 04 FY 05 Total Pengeluaran Pengeluaran Pemerintah Pusat Belanja Pegawai Belanja Barang Belanja Modal Subsidi Belanja Pembangunan Transfer ke daerah % Sumber: DepKeu. Sumber: Bappenas.2 Pencairan Pengeluaran Non-Rutin 0 10 20 .

1). sekitar . Subsidi dan transfer anggaran kepada pemerintah daerah cenderung diperkirakan terlalu rendah. terutama mengenai indikator realisasi anggaran. yang mengakibatkan terjadinya kelebihan pengeluaran secara keseluruhan.30 40 50 60 70 80 90 100 Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec Bulanan 06 Bulanan 05 Bulanan 01-04 Kumulatif 06 Kumulatif 05 Kumulatif 01-04 % Sumber: DepKeu. Catatan:Angka-angka dalam bentuk persen dari total anggaran tahunan. beberapa indikator utama tentang kinerja anggaran pemerintah belum mengalami perbaikan. Di samping itu. Realisasi pengeluaran pemerintah pusat selalu menyimpang dari rencana awal. TA 2005 dan 2006 mengacu pada pengeluaran modal dan pengeluaran barang dan jasa Sejauh ini. TA 01 -04 mengacu pada pengeluaran pembangunan. beberapa bagian dari anggaran tersebut—terutama realisasi pengeluaran modal/pengeluaran pembangunan—sering lebih rendah daripada penentuan anggaran awal (Diagram 6. Pada saat yang sama. Stafi Bank Dunia.

Ada tiga alasan pokok yang dapat menjelaskan kesulitan dalam pelaksanaan anggaran yang efisien: (i) lemahnya penyiapan anggaran. Pencairan yang lamban dan cenderung menumpuk dibelakang. Pola pengeluaran seperti ini menimbulkan keperihatinan sebab hal ini menghambat pelaksanaan proyek. Harga minyak merupakan parameter yang sangat penting dalam penentuan anggaran sebab 28 persen dari pendapatan langsung berasal dari minyak dan gas (Pertamina) atau secara tidak langsung melalui pajak atas produk-produk migas. pengeluaran dimulai secara perlahan dan semakin gencar menjelang akhir tahun anggaran (Diagram 6. lemahnya penyiapan anggaran.50 persen dari total pengeluaran modal baru bisa terealisir pada kuartal terakhir tahun yang bersangkutan. karena hanya ada sisa waktu selama empat bulan untuk melaksanakan hasil revisi yang begitu besar dan seringkali berupa peningkatan anggaran yang cukup besar (lihat Kotak 6. Revisi yang Page 5 Kajian Pengeluaran Publik Indonesia 2007 Kajian Pengeluaran Publik Indonesia: Memaksimalkan Peluang Baru 107 BAB 6 Manajemen Keuangan Publik begitu besar telah mengurangi kredibilitas anggaran yang telah disetujui dan mempersulit pelaksanaannya. Pertama. telah menyebabkan revisi anggaran besar-besaran pada pertengahan tahun (dikeluarkan pada bulan Agustus). Kotak 6. Selama kurun waktu lima tahun yang telah lewat. dan untuk proyek-proyek yang memerlukan penyelesaian selama beberapa tahun. pelaksanaan proyek selalu terhenti di awal tahun.1 Estimasi yangterlalu rendah terhadap harga minyak Dari tahun 2003 sampai 2005.1). Akibat lain dari hal ini adalah pelaksanaan proyek dimulai agak terlambat. revisi pertengahan tahun mencapai rata-rata sebanyak 13 persen dari total anggaran. Pada tahun-tahun . terutama taksiran yang jauh lebih rendah dari harga minyak. merupakan gejala dari tantangan yang lebih berat yang harus dihadapi pada setiap tahapan siklus manajemen keuangan publik.2). Hal ini membaik secara substansial di tahun 2006 dalam arti revisi pertengahan tahun hanya sedikit saja karena asumí harga minyak telah disesuaikan pada waktu penyiapan anggaran. dan (iii) hambatan implementasi. (ii) pelaksanaan anggaran yang kaku. Indonesia mencantumkan anggaran penerimaan agregat dan pengeluaran subsidi BBM secara lebih rendah karena menentukan asumsi harga minyak yang lebih rendah. Sejak tahun 2001.

Dengan adanya revisi kenaikan anggaran pada tahun 2005.2 370.2 344.belakangan ini rata-rata harga minyak 50 persen lebih tinggi daripada yang diproyeksikan pada awal penentuan anggaran (lihat Tabel di bawah ini).8 315. Pada 2006.562.529. DAU sebenarnya hanya berjumlah 19 persen dari total anggaran. anggaran menggunakan asumsi harga minyak yang lebih tinggi— dan lebih realistis.6 295.113.8 30. yang menyebabkan kenaikan transfer dana DAU sebesar 65 persen.28 2003 22 28.5 6.9 376.60 2004 22 .591.5 15.74 2002 22 23.9 -8.5 341.6 2.008.505. Asumsi harga minyak memiliki dampak langsung terhadap tingkat alokasi anggaran kepada pemerintah daerah sebab dana DAU ditentukan sebesar 26 persen dari penerimaan pemerintah.79 Anggaran vs.6 1. realisasinya Harga Minyak Total Pengeluaran Anggaran (AS$/barel) Realisasi (AS$/barel) Selisih (%) Anggaran (Rp triliun) Realisasi (Rp triliun) Selisih (%) 2001 24 24.

termasuk kemampuan untuk melakukan pemantauan dan pelaporan yang cukup dengan tujuan untuk mengurangi risiko ketidakkonsistenan dengan tujuan awal program dan pemanfaatan dana yang tidak sebagaimana mestinya. Re-alokasi anggaran antar DIPA dari program-program yang tertunda kepada program yang berjalan lebih baik yang dapat mendorong pelaksanaan anggaran yang memuaskan secara keseluruhan memerlukan proses revisi yang panjang yang melibatkan anggota DPR.974.2 69.0 397.26 2005 24 51.2 13.8 508.938.8 115. khususnya. Dokumen pengeluaran (DIPA).37. pencairan anggaran yang berjalan lamban sangat terkait dengan isu-isu lanjutan yang berhubungan dengan kapasitas kelembagaan.769.95 Sumber: DepKeu Kedua. kapasitas untuk menyelesaikan proses pengadaan tepat waktu dengan prosedur sesuai dengan ketentuan pengadaan yang semakin ketat Penyiapan dan Persetujuan Anggaran Mengingat masalah yang ada dalam melakukan estimasi penerimaan dan dalam menentukan target anggaran yang realistis. pemerintah masih menerapkan proses pelaksanaan anggaran yang cenderung kaku.1 423.5 27.351. walaupun sekarang ini telah dikeluarkan pada permulaan tahun anggaran didasarkan pada anggaran per pos (line item) sehingga kurang fleksibel untuk melakukan penyesuaian dalam komposisi input yang diperlukan untuk melaksanakan suatu kegiatan. perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan keseluruhan mutu penyiapan . Ketiga.9 374. Dengan memberikan fleksibilitas yang lebih besar dalam proses pelaksanaan anggaran untuk mempercepat realisasi pengeluaran anggaran akan memerlukan dicantumkannya tujuan dan target kinerja yang kredibel dan menerapkan langkah-langkah pengamanan. Kontrol yang rinci terhadap input bertujuan untuk menjamin komposisi anggaran agar sesuai dengan prioritas politik dan anggaran tersebut tidak akan diubah selama pelaksanaannya.

3 Siapa yang bertanggung jawab? Tanggung jawab dalam siklus manajemen pengeluaran publik Bappenas Jajaran Kementerian DepKeu. Departemen Keuangan (Ditjen Anggaran dan Ditjen Perbendaharaan) dan jajaran departemen yang lain dirancang untuk mencapai (i) Penyiapan anggaran berbasis kebijakan. departemen teknis selanjutnya menyiapkan rencana kerja dan rencana anggaran mereka (RKA-KL) berdasarkan revisi pagu dari Ditjen Anggaran. dan (ii) penerapan pendekatan dari bawah ke atas (bottom-up) (Diagram 6. Departemen Keuangan dan departemen teknis. Ditjen Perbendaharaan Kabinet/ Presiden . dan meningkatkan kemampuan estimasi penerimaan. Peningkatan mutu anggaran dapat dilaksanakan dengan memperbaiki mutu perkiraan makro-ekonomi dan penyusunan model. Pada saat yang sama.3). Tanggung jawab untuk membuat perencanaan dan menyusun anggaran dibagi antara Bappenas. Page 6 Kajian Pengeluaran Publik Indonesia 2007 Kajian Pengeluaran Publik Indonesia: Memaksimalkan Peluang Baru 108 BAB 6 Manajemen Keuangan Publik anggaran pengeluaran perlu diperhatikan secara terpisah. Hal ini lalu diikuti oleh pelaksanaan anggaran.anggaran. Ditjen Anggaran akan memeriksa kesesuaian antara DIPA dan RKA-KL. yang melibatkan departemen dan Ditjen Perbendaharaan. Dokumen pengeluaran (DIPA) disiapkan oleh departemen dan selanjutnya diserahkan kepada Ditjen Perbendaharaan untuk memperoleh persetujuan. Diagram 6. mutu penyusunan 78 Lihat Bab 7 untuk analisis lebih rinci mengenai pengalihan dana ke daerah pada 2006. Setelah melalui pembahasan dengan DPR. Setiap departemen dan lembaga menyiapkan rencana kerja masing-masing (Renja-KL) dengan merujuk rencana kerja pemerintah secara keseluruhan (RKP) dan pagu anggaran indikatif. Ditjen Anggaran DepKeu. Di samping itu. Pembagian tugas antara Bappenas. Inisiatif ini berkaitan baik dengan upaya untuk melakukan peningkatan kapasitas kelembagaan dan perubahan dalam proses penyiapan anggaran.

DPR Annual Work Plans with indicative Budget Ceilings (RenjaKL Ministerial Regulation) Ensure Consistency with Government Work Plan Ensure Consistency with Budget Priorities Temporary Budget Ceilings Draft Presidential Decree on Budget Enactment Presidential Decree on Budget Enactment Draf t Spending Warrants (DIPA) Issuance Spending Warrants (DIPA) Review and Adjusment of Spending Warrants Fiscal Policy Statement Deliberation of Government Workplan and Fiscal Policy Framework Deliberation of Workplan and Budget Deliberation and Approval of Budget Law Budget Law (UU APBN) General Policy and Budget Priorities Annual .

workplan and Budget (RKA-KL) Annual Workplans and Budgets (Annex to Budget Law) Draft Budget Law) (RAPBN) Annual Government Work Plan (RKP Government Regulation) lir p Ayr a u n aJ g ni n n al P < r e b m e v o Ny a M n oit ar a p er P t .

Integrasi perencanaan dan penganggaran lebih lanjut dapat merupakan bagian dari langkah menuju penganggaran berbasis kinerja. Anggaran diharapkan didasarkan pada kebijakan yang ada dan disusun dengan prinsip dari bawah ke atas. Sejauh ini. Page 7 Kajian Pengeluaran Publik Indonesia 2007 Kajian Pengeluaran Publik Indonesia: Memaksimalkan Peluang Baru 109 BAB 6 Manajemen Keuangan Publik Indonesia bergerak dengan lambat menuju penentuan anggaran berbasis kinerja. Program yang diuraikan di dalam RPJM. Rencana pembangunan jangka menengah (RPJM) yang ada sekarang memuat 32 bidang prioritas. dan 1. 17/2003 maupun UU No. PP No. Baik UU No. staf Bank Dunia. sekitar 250 program.300 kegiatan untuk menangani prioritas-prioritas ini. . proses ini baru diatas kertas dengan dampak yang terbatas terhadap keputusan mengenai alokasi anggaran. 25/2004 telah secara formal memperkuat hubungan antara perencanaan dan penentuan anggaran. 21 tentang RKA-KL.e g d u B < r e b m e c e D n oit u c ex E t e g d u B Sumber: Bappenas.

Bappenas. pembahasan di tubuh DPR cenderung berfokus pada pos-pos anggaran (line item) dan diskusi mengenai hal-hal yang sangat rinci dan bukan pada alokasi anggaran secara keseluruhan. Pada proses penyusunan anggaran untuk tahun anggaran 2008 pemerintah telah bergerak ke arah cakupan proses anggaran yang lebih komprehensif.rencana kerja tahunan pemerintah (RKP). Anggaran yang sekarang berbasis input. dan pencapaian hasil. pada kenyataannya proses pengambilan keputusan pada jajaran departemen. pada anggaran 2006 dan 2007 pagu anggaran sementara telah dikeluarkan hanya untuk satu tahun anggaran kedepan. bagian anggaran yang berjumlah besar seperti subsidi tidak dimasukkan dalam proses perencanaan dan penganggaran. prioritas politik. Akan tetapi. Alokasi dan pelaksanaan anggaran masih didasarkan pada input (line item) yang terperinci yang membatasi fleksibilitas pengeluaran dalam satu program dan melemahkan manfaat dari penyusunan anggaran berbasis kinerja. Regulasi dalam UU tentang Keuangan Negara menyediakan pagu indikatif anggaran yang dikeluarkan untuk waktu dua tahun mendatang. Sejalan dengan hal itu. dan rencana kerja departemen (Renja-KL) secara formal dijadikan pedoman oleh jajaran departemen dalam menyusun rencana anggaran. dan DPR masih lebih didorong oleh fokus terhadap komposisi input anggaran daripada kesesuaian program pengeluaran dengan prioritas dan tujuan politik. Proses pelaksanaan akan memakan waktu yang cukup lama dan belum ada strategi yang jelas untuk merealisasikannya. DPR juga memiliki wewenang . Kenyataannya. Akan tetapi. Sejalan dengan hal itu. Di samping itu. Apalagi. pada tahun anggaran sebelum-sebelumnya. setiap pos dalam anggaran harus disetujui atau ditolak oleh DPR. rinci dan memiliki peran yang penting dalam focus yang kuat terhadap pengawasan dimuka (ex-ante). apalagi pengembangan budaya kerja yang berorientasi pada kinerja. pada tahun 2008 Indonesia merencanakan melaksanakan Kerangka Kerja Pengeluaran Jangka Menengah (MTEF). DPR memiliki wewenang yang sangat kuat dalam proses pembahasan besaran yang dirancang dalam persetujuan anggaran tahunan. Ditjen Anggaran. hanya ada sedikit kemajuan yang telah diperoleh dalam rangka mengembangkan anggaran yang berorientasi pada kinerja. Siklus penyusunan anggaran sekarang yang secara ketat bersifat tahunan tidak mampu memenuhi kebutuhan investasi publik jangka menengah. Untuk mengatasi tantangan ini.

Berdasarkan keputusan ini. 17 Pasal 15). Sebagai tindak lanjut dari penetapan anggaran. Presiden lalu mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) tentang rincian anggaran pada bulan November. DPR lalu memberikan persetujuan rincian anggaran berdasarkan unit organisasi. 17/2003 tentang Keuangan Negara Pasal 12 menyatakan bahwa penyiapan anggaran seharusnya berdasarkan rencana kerja pemerintah (RKP). Kesepakatan pembahasan yang berhasil dicapai akan menjadi rujukan bagi Departemen dan lembaga pemerintah untuk menyiapkan usulan anggaran (RKA-KL). prioritas pengeluaran. 17/2003 Pasal 14). Pemerintah lalu menyerahkan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (R-APBN) kepada DPR pada bulan Agustus tahun sebelumnya untuk dibahas (UU No. Hasil pembahasan awal ini lalu dikirimkan kepada DepKeu pada pertengahan bulan Juli sebagai Rujukan untuk menyusun anggaran tahun berikutnya (UU No. 25/2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional Pasal 25 dan UU No. RKP bersama-sama dengan pernyataan kebijakan fiskal dan kerangka kerja makroekonomi diserahkan kepada DPR pada bulan Mei tahun sebelumnya untuk dilakukan pembahasan (UU No. Kementerian dana lembaga lalu mengirimkan RKA-KL kepada Komisi di DPR yang menjadi rekan kerja pada pertengahan bulan Juni untuk pembahasan awal. dan pendanaan atas defisit anggaran. 17/2003 Pasal 15).2 Keterlibatan DPR dalam proses penganggaran DPR berperan aktif pada keseluruhan siklus anggaran. Pembahasan dilakukan sebagai berikut: Sidang Pleno: DPR menyampaikan pandangan umum terhadap usulan pemerintah dan pemerintah menyampaikan Tanggapan atas pandangan umum tersebut. Page 8 Kajian Pengeluaran Publik Indonesia 2007 Kajian Pengeluaran Publik Indonesia: Memaksimalkan Peluang Baru 110 BAB 6 Manajemen Keuangan Publik Kotak 6. Pembahasan dengan Komisi-Komisi Sektoral: Pembahasan berfokus pada RKA-KL. 17/2003 Pasal 13). program dan kegiatan (UU No. Keputusan mengenai UU Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (R-APBN) harus diambil paling sedikit dua bulan sebelum dimulainya periode anggaran.untuk mengubah perkiraan pendapatan dan asumsi makroekonomi yang dijadikan dasar penyusunan anggaran. UU No. Dengar pendapat dengan Komisi Anggaran: Pembahasan berfokus pada asumsi makroekonomi. fungsi pengeluaran. 17 Pasal 15). jenis pengeluaran. yaitu bulan Oktober tahun sebelumnya (UU No. pendapatan pemerintah. kementerian dan lembaga lalu melakukan revisi terhadap RKA-KL dan menyiapkan dokumen pelaksanaan anggaran (DIPA) pada bulan .

Desember. • • • Sistem anggaran Indonesia menghadapi kesulitan jika diperlukan adanya fleksibilitas. 2007 ). Sementara agregat realisasi belanja pemerintah untuk bulan September 2006 telah mencapai 62 persen dari anggaran yang terutama disebabkan oleh realisasi anggaran rutin yang tepat waktu seperti gaji pegawai. lihat makalah yang akan datang Fengler et. komponen pengeluaran pemerintah pusat yang bersifat variabel masih sangat dipengaruhi oleh penundaan pengeluaran. Lima puluh empat persen dari total belanja modal baru bisa dikeluarkan pada bulan Desember.al. pola pencairan anggaran yang menumpuk pada akhir tahun lebih terlihat daripada biasanya dan kemajuan yang diperoleh pada tahun 2006 mengenai hal ini masih mengecewakan. Seperti yang terjadi di sebagian besar negara lain. pemerintah hanya menggunakan 68 persen dari belanja modal dan 72 persen dari belanja barang dibandingkan dengan jumlah anggaran yang telah disetujui. Akhir-akhir ini Indonesia menghadapi berbagai bencana alam berskala besar. Secara umum. Indonesia hanya memiliki dana cadangan yang sangat kecil di tingkat pusat untuk memenuhi pengeluaran umum yang tidak terduga (Untuk kajian tentang kinerja pengeluaran publik Indonesia setelah bencana tsunami pada bulan Desember 2004 dibandingkan dengan negara lain. Pada akhir tahun 2005. Peristiwa itu menimbulkan tuntutan yang tinggi terhadap sistem pengelolaan keuangan publik: bencana alam menuntut pemerintah untuk memberikan tanggapan cepat. investasi. Hanya dengan persetujuan DPR dana tersebut dapat disalurkan untuk maksud yang berbeda atau antar pengeluaran operasional. dan biasanya memerlukan realokasi dan mobilisasi sumber daya dalam skala besar untuk tahun yang bersangkutan. Walaupun sedikit mengalami perbaikan daripada 2005. dan program. . Lembaga pemerintah menerima anggaran terpisah untuk pembayaran gaji dan pengeluaran operasional lainnya. catatan realisasi anggaran pada tahun anggaran 2006 masih memperihatinkan. Sampai September 2006 hanya 41 persen dari target belanja modal dan 40 persen dari anggaran untuk pengadaan barang dan jasa yang bisa direalisasikan. Indonesia memiliki sistem penganggaran yang tidak fleksibe berkaitan dengan realokasi anggaran untuk tahun yang sedang berjalan. Pelaksanaan Anggaran Pada tahun 2005.

sebagian besar staf proyek belum ditunjuk oleh instansi pelaksana proyek. tetapi pencairan dananya diblokir. dalam beberapa kasus. tetapi hal itu hanya berkaitan dengan alokasi anggaran dalam satu tahun.80 Diagram 6. Bendahara. pendanaan untuk proyek terhenti sama sekali untuk beberapa tahun walaupun kemudian muncul lagi untuk dilanjutkan(Diagram 6.4 Profil skema pencairan proyek Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3 Tahun 4 Tahun 5 Waktu Pencairan Dana Sumber: Staf Bank Dunia. yang mungkin menyebabkan penundaan pelaksanaan proyek. Sebagai akibat dari upaya pemerintah untuk melakukan akselerasi pengeluaran dalam kuartal pertama pada tahun anggaran yang sedang berjalan. DIPA harus mencantumkan Pimpinan Proyek. Walaupun sebagian besar DIPA Page 9 Kajian Pengeluaran Publik Indonesia 2007 Kajian Pengeluaran Publik Indonesia: Memaksimalkan Peluang Baru 111 BAB 6 Manajemen Keuangan Publik dikeluarkan pada bulan Januari 2006. Kerangka peraturan mengenai penganggaran memungkinkan adanya luncuran anggaran pada tahun berikutnya. Dilaporkan. Fasilitas .79 Seleksi staf terjadi pada kuartal pertama dari tahun anggaran. dokumen pengeluaran anggaran (DIPA) untuk 2006 dikeluarkan pada awal tahun anggaran. Masalah ini diperbesar oleh fakta bahwa alokasi dan DIPA hanya dilakukan untuk satu tahun. Anggaran dalam satu tahun telah menumpuk di akhir tahun. anggaran untuk pelaksanaan proyek yang memerlukan waktu beberapa tahun mengalami banyak kendala.Kakunya kerangka kerja pelaksanaan anggaran yang ada sekarang merupakan salah satu faktor penyebab menumpuknya anggaran pada akhir tahun. sejumlah DIPA dikeluarkan walaupun tidak lengkap. Dengan demikian. dan Staf Bagian Pengadaan yang bertanggung jawab terhadap proyek tersebut. Pendekatan tunda lalu jalan (stop-and-go) tentang penentuan anggaran ini telah menyebabkan timbulnya inefisiensi yang sangat besar dalam perencanaan dan pelaksanaan proyek. pelaksanaan proyek tertunda pada setiap tahun anggaran dan.4).

Alokasi anggaran seharusnya disesuaikan dengan kapasitas penyerapan. Baik rencana kerja pemerintah (RKP) maupun rencana anggaran kementerian dan lembaga (RKA-KL) tidak memperhitungkan perencanaan proyek dan pengadaan. Keterampilan perencanaan dan pengadaan perlu didorong dan Lembaga Administrasi Negara (LAN) dapat ditugaskan untuk memberikan layanan tersebut. Akan tetapi. daya serap lembaga tersebut kini mendapat tekanan. Secara historis. seharusnya lebih banyak yang harus dikerjakan untuk mengembangkan kapasitas penyerapan kementerian dan lembaga. jumlah anggaran untuk belanja modal dari program tersebut cenderung menjadi lebih tinggi daripada kapasitas penyerapan dari lembaga yang akan menggunakan anggaran tersebut. dokumen anggaran baru bisa dikeluarkan pada kuartal pertama atau kedua pada tahun anggaran. 79 Format DIPA baru diperkenalkan pada 2005. Mengingat bahwa hampir 30 persen dari anggaran dialokasikan untuk proyek (belanja modal dan barang). anggaran untuk hampir seluruh lembaga pelaksana anggaran telah meningkat cukup besar. Pendekatan yang dapat dilakukan dengan hati-hati adalah dengan menganggarkan biaya proyek multi tahun di satu tahun anggaran dengan uang dialokasikan pada rekening khusus dengan hak pencairan yang hanya dimiliki oleh organisasi pelaksana proyek. pemerintah mengeluarkan DIP hanya untuk pengeluaran pembangunan. Jika dipandang perlu. Pengembangan kapasitas penyerapan lembaga dan keterampilan staf sangat diperlukan. Hubungan yang lemah antara perencanaan dan penentuan anggaran sebagian merupakan penyebab dari hal tersebut. Perencanaan dan penganggaran harus bersifat pragmatis dan mempertimbangkan secara matang kapasitas penyerapan lembaga yang akan menggunakan anggaran tersebut. terutama dalam sistem anggaran tahunan yang ketat dengan mengorbankan mutu pengeluaran tersebut. LAN dapat merekrut para pelatih tambahan yang berasal dari jajaran kementerian. Pada tahun sebelumnya. Pada tahuntahun terakhir ini. dalam beberapa hal. Penganggaran yang melebihi kapasitas penyerapan akan menimbulkan tekanan kuat untuk menggunakan anggaran melebihi kapasitas. Akibatnya.penganggaran untuk beberapa tahun perlu dirancang dengan memperhitungkan berbagai isu kepemerintahan dalam konteks kelembagaan di Indonesia. departemen pengguna anggaran seharusnya juga diizinkan untuk merekrut dan melatih staf demi kepentingan pelaksanaan proyek-proyek tersebut. bahkan bisa .

Sementara itu. 80 Dapat dikatakan bahwa masalah ini merupakan masalah besar karena kegiatan ekonomi. pembayaran untuk setiap kontrak sering dilaksanakan setelah pekerjaan selesai yang didasarkan pada tingkat penyelesaian pekerjaan. Keppres ini mendorong penerapan prinsip-prinsip dasar dalam proses pengadaan barang dan jasa yang transparan. . sebagian besar anggaran masih dilaksanakan melalui rekening bank pada bank komersial yang dipegang oleh unit pengeluaran dan pejabat pemerintah.5 triliun yang disimpan dalam sekitar 1. Format DIP yang digunakan sebelumnya juga mencantumkan tim pelaksanaan proyek. Pengaturan saldo nihil dengan bank-bank komersil telah berhasil diujicobakan pada 50 kantor perbendaharaan daerah terpilih (KPPN) dan pelaksanaan lebih lanjut sedang diuji pada 178 kantor KPPN akan mampu melakukan konsolidasi terhadap lebih dari 1. Pengadaan Kerangka hukum dan perundang-undangan tentang pengadaan barang dan jasa untuk kepentingan publik telah mengalami kemajuan cukup pesat dengan dikeluarkannya Keputusan Presiden (Keppres) No. 80/2003. Page 10 Kajian Pengeluaran Publik Indonesia 2007 Kajian Pengeluaran Publik Indonesia: Memaksimalkan Peluang Baru 112 BAB 6 Manajemen Keuangan Publik Sistem manajemen kas yang terpecah-pecah merusak transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan anggaran.pada kuartal berikutnya.300 rekening giro dan deposito yang tidak tercatat dalam sistem perbendaharaan negara.000 jenis rekening perbendaharaan pada satu TSA. 1/2004 tentang perbendaharaan negara masih terus berjalan.pelaksanaan proyek bermasalah dan kegiatan ekonomi menjadi tidak seimbang. Pelaksanaan rekening perbendaharaan tunggal (TSA) dari sudut pandang UU No. Pelaksanaan peraturan pemerintah mengenai pengelolaan kas akan memperluas kewenangan Menteri Keuangan untuk menutup rekening bank tidak terotorisasi semacam itu dan akan menyediakan perangkat hukum untuk melaksanakan sensus terhadap seluruh rekening pemerintah pada tahun 2007. Sehingga. ini termasuk Rp 8. tetapi juga sangat rentan terhadap penggelapan dan tindakan korupsi. akan dapat didistribusikan lebih merata lagi pada setiap tahun anggaran. seperti pembangunan jalan atau gedung sekolah. Dana yang tersimpan di luar buku (off books) ini tidak saja menyebabkan distorsi terhadap neraca konsolidasi kas pemerintah. Sehingga. Menurut laporan hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh BPK tahun 2005.

pengadaan publik masih membingungkan akibat instrumen hukum yang berlapis-lapis di setiap tingkat pemerintahan. Penilaian itu berdasarkan 12 indikator dasar. Dengan menggunakan BIS. Pelaksanaan sistem desentralisasi memungkinkan pemerintah daerah untuk melakukan pengaturan tersendiri untuk melakukan pengadaan publik. Hasil analisis ini tampak seperti diagram di bawah ini. ekonomis. dan mengatasi berbagai kekurangan yang sangat serius yang terjadi pada sistem yang diberlakukan sebelumnya. kompetitif. (ii) kelembagaan dan kapasitas pengelolaan. Akan tetapi. Page 11 Kajian Pengeluaran Publik Indonesia 2007 Kajian Pengeluaran Publik Indonesia: Memaksimalkan Peluang Baru 113 BAB 6 Manajemen Keuangan Publik Kotak 6. Tingkat pencapaian menggunakan pilar BIS 0 25 50 75 100 Kerangka kerja Legislatif Kerangka kerja Institusional Operasional Proc dan . yang dikembangkan bersama antara OECD dan Bank Dunia. Departemen dan BUMN dapat juga mengeluarkan peraturan mengenai pengadaan publik. (iii) operasional pengadaan dan praktik pasar. yang dibagi menjadi empat kelompok yang disebut pilar: (i) peraturan dan perundangundangan. sebagai tambahan dari indicator kepatuhan/kinerja yang mengukur kinerja sesungguhnya dari sistem ini. hal ini memenuhi sebagian besar kelaziman yang berlaku secara internasional. adil.terbuka.3 Sistem Indikator Baseline (BIS) Internasional untuk pengadaan Sistem Indikator Baseline Internasional (BIS) untuk pengadaan merupakan metodologi. Penilaian ini akan disempurnakan lagi pada Laporan Penilaian Pengadaan (CPAR) tahun anggaran 2007 dengan menggunakan versi 4 dari indikator ini. Akan tetapi. Dampak dari instrumen yang berbeda-beda terhadap pengadaan publik belum terdokumentasikan. mungkin terjadi hal-hal yang tidak konsisten dalam aplikasinya akibat terjadi kesalahpahaman dan/atau perbedaan penafsiran terhadap berbagai peraturan. dan efisien. Dengan kata lain. dan (iv) integritas sistem pengadaan publik. untuk melakukan analisis kuantitatif dan kualitatif atas sistem pengadaan publik. penilaian terhadap sistem pengadaan publik di Indonesia telah dilaksanakan pada tahun 2001.

tidak ada satu lembaga atau pejabat pemerintah pusat yang berwenang untuk meletakkan kebijakan yang sama dan konsisten mengenai hal ini. Masalah utamanya adalah bahwa dalam lingkungan desentralisasi. Indonesia memiliki skor lebih baik dalam hal indikator peraturan dan perundang-undangan serta integritas tetapi kurang baik untuk kinerja pasar dan kerangka kelembagaan. regulasi pengadaan publik melalui keputusan presiden tidak menetapkan prinsip-prinsip dasar dan kebijakan yang mengatur pengadaan publik pada tingkat perundang-perundangan yang cukup tinggi. Regulasi pengadaan publik melalui keputusan Presiden tidak berada pada tingkat hukum yang cukup tinggi. Keppres No. Tingkat baseline untuk kinerja yang memuaskan berada pada angka 50 persen pada setiap indikator. Secara historis. Tugas persiapan LKPN telah rampung dan pengaturan interim sudah dilaksanakan untuk pembentukan LKPN di dalam Bappenas yang bertujuan untuk memperkuat lembaga baru ini dan secara perlahan akan menjadi badan yang mandiri. Ada kebutuhan untuk membentuk LKPN sebagai lembaga independen dan berdayaguna dengan kelengkapan sumber daya yang memadai.Kinerja Pasar Integritas dan Transparansi Indonesia Tingkat Kepuasan Skor menunjukkan persentasi terhadap elemen baseline yang menunjukan “standar praktek yang baik” yang diinginkan yang mampu dipenuhi oleh negara tertentu. serta memastikan adanya sanksi dan mekanisme penegakan yang harus jelas. melalui Lembaga Kebijakan Pengadaan Nasional (LKPN) sedang dalam proses penyiapan rancangan UU tentang pengadaan. Sementara LKPN yang ada dalam Bappenas . Pengesahan UU yang baru tentang pengadaan ini akan memperkuat kerangka perundang-undangan dan mampu menyiapkan instrumen hukum dengan jangkauan yang cukup panjang. Bappenas. Sumber: Metodologi OECD 2006 untuk melakukan penilaian terhadap sistem pengadaan nasional. Walaupun umunya memiliki nilai dibawah tingkat baseline. Inilah yang menyebabkan mengapa ada kebutuhan terhadap UU pengadaan yang memperhatikan baik kelaziman yang berlaku secara internasional maupun kepentingan spesifik Indonesia. 80/2003 membutuhkan pembentukan Lembaga Kebijakan Pengadaan Nasional (LKPN).

80/2003 masih . mengumpulkan data kinerja pengadaan. Tanggal ini telah diubah dua kali dan kini menjadi Januari 2008. Sertifikasi praktisi pengadaan tingkat menengah dan tinggi akan diperkenalkan di masa yang akan datang tetapi tanggal spesifik masih belum ada. Pemerintah seharusnya mempertimbangkan tambahan imbalan setelah mereka berhasil memperoleh sertifikat atas tanggung jawab yang lebih besar serta mendorong para praktisi untuk meniti karir lewat kemampuan mereka. situasi kelembagaan yang ada sekarang tidak menyediakan fungsi untuk memberikan nasihat kepada lembaga yang melakukan pengadaan. atau menentukan sistem layanan terhadap keluhan dan.Keahlian pengadaan hanya terbatas pada sekelompok kecil individu dalam jajaran departemen tertentu. Page 12 Kajian Pengeluaran Publik Indonesia 2007 Kajian Pengeluaran Publik Indonesia: Memaksimalkan Peluang Baru 114 BAB 6 Manajemen Keuangan Publik Pelaksanaan pelatihan tingkat dasar dan ujian untuk mendapatkan sertifikat bagi praktisi pengadaan merupakan insiatif yang penting.memegang tanggung jawab utama dalam hal kebijakan pengadaan.000 orang PNS yang telah mengikuti ujian. dan tidak ada jalur karir atau sistem insentif yang jelas baik untuk manajemen proyek maupun manajemen pengadaan. Regulasi sebelumnya memiliki dampak membatasi persaingan dan membagi pasar dalam negeri. Keberhasilan membuka pasar berdasarkan Keppres No. Persentase PNS yang telah lulus ujian sertifikasi tingkat dasar pada akhir tahun 2006 jumlahnya kurang dari 12 persen dari 168. Hal ini telah menimbulkan fragmentasi dalam menghimpun pengalaman pengadaan di kalangan PNS. Usulan sertifikasi bagi praktisi pengadaan merupakan langkah awal untuk menuju ke arah yang benar tetapi ada begitu banyak permintaan yang masih harus dipenuhi. 80/2003 telah menentukan bahwa bulan Januari 2005 sebagai tenggat waktu untuk melakukan sertifikasi anggota panitia tender dalam hal pengadaan untuk keperluan pokok. yang paling penting. Tidak ada kader praktisi pengadaan. Pimpro dan panitia tender kembali menduduki posisi mereka sebelumnya setelah proyek selesai dilaksanakan. Keppres No. pengembangan secara berkelanjutan tentang sistem pengadaan publik. membina komunitas pengadaan di antara pejabat publik. dengan memberi jaminan bahwa UKM dapat diberikan kontrak kerja pada yurisdiksi pemerintah daerah tempat mereka berdomilisi.

hal itu diarahkan melalui lembaga pemakai (pembeli) dan tidak bersifat independen. Salah satu inisiatif penting untuk memperluas transparansi dan akses terhadap peluang mengikuti tender adalah melalui e-procurement. Dalam hal mekanisme sanksi. tidak ada mekanisme penanganan keluhan yang baik. termasuk pelaksanaan sanksi yang ketat dan tegas jika terjadi penyalahgunaan dan kinerja yang tidak baik. dan melaksanakan draft keputusan presiden. Pengaturan ini menimbulkan isu mengenai reliabilitas dan efisiensi sistem penyampaian keluhan. 80/2003. Selain itu. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) memegang peran penting terkait dengan penanganan keluhan terhadap isu korupsi yang menjadi tugas KPK dan persaingan yang tidak adil yang menjadi wewenang KPPU. Akan tetapi.harus diteliti mengingat adanya lingkungan desentralisasi yang masih baru dan kemungkinan praktik-praktik yang dilakukan di tingkat provinsi dan instrumen hukum yang berdampak terhadap partisipasi di tingkat daerah. Langkah penting berikutnya untuk pembentukan LKPN adalah mengembangkan sebuah rencana induk untuk melaksanakan sistem pengadaan elektronik yang akan menentukan protokol umum yang harus dilaksanakan di seluruh Indonesia. Isu pokok yang dihadapi dalam pengadaan publik dalam rangka pelaksanaan reformasi pengadaan di Indonesia adalah transparansi dan korupsi. sepanjang kapasitas itu terus-menerus pada posisi yang lemah. 80/2003 memungkinkan untuk mengikuti prosedur penyampaian keluhan. Sementara Keppres No. ketidakhadiran UU pengadaan dengan jangkauan yang luas pada dasarnya mengurangi efektifitas penghentian praktik-praktik semacam itu. gaji yang rendah dan tidak ada jalur karir yang memuaskan bagi praktisi pengadaan publik. Dirasakan ada kebutuhan untuk memperkuat pengawasan internal terutama kapasitas penegakan aturan dalam lembaga pemerintahan. Akan tetapi. mengembangkan sistem pengadaan elektronik yang kokoh. ada ketentuan mengenai anti-korupsi di dalam Keppres No. Penyusunan dokumen semacam ini sedang dalam proses dan diharapkan dapat diujicobakan pada tahun 2007. Draft UU yang sedang disiapkan menyediakan kerangka hukum secara keseluruhan mengenai otorisasi dan pemanfaatan tanda tangan elektronik. . Penyusunan dokumen standard lelang merupakan langkah maju yang cukup besar untuk menjamin konsistensi instrumen ini di setiap lembaga dan pemerintah tingkat daerah.

500 stafi 16 provinsi Umumnya audit tentang kepatuhan. maka perbuatan korupsi akan tetap tumbuh subur. Dengan pelaksanaan sistem desentralisasi pengeluaran publik yang komprehensif dan kebutuhan untuk meningkatkan fleksibilitas anggaran lembaga pemerintah. kadang-kadang audit kinerja Audit Internal BPKP Presiden melalui Menteri Pemberdayaan Paratur Negara Kementerian . Page 13 Kajian Pengeluaran Publik Indonesia 2007 Kajian Pengeluaran Publik Indonesia: Memaksimalkan Peluang Baru 115 BAB 6 Manajemen Keuangan Publik Tabel 6. ditambah dengan kebutuhan untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengeluaran publik sesuai dengan kelaziman umum yang dapat diterima. Audit Penguatan fungsi audit internal dan eksternal menjadi semakin penting sewaktu Indonesia melakukan modernisasi pada sektor publiknya. maka reformasi di bidang pemeriksaan/audit menjadi sesuatu yang sangat penting.dan tidak ada sanksi tegas untuk tindak korupsi.2 Peta Audit Lembaga Akuntabel Kepada Cakupan Kapasitas Kehadiran di Daerah Jenis audit Audit Eksternal BPK Badan Pemeriksa Seluruh pemerintah 3.

dan koordinasi di antara lembaga pemeriksa. Penyimpangan yang ditemukan dalam audit disampaikan dengan secara . Profil BPK 2006.termasuk anggaran dekonsentrasi 6. Di samping itu.800 stafi 25 Provinsi Umumnya untuk audit kinerja Inspektur Jenderal Menteri Kementeri termasuk anggaran dekonsentrasi 2. Laporan yang disampaikan oleh BPK kepada umum dan kepada DPR sangat bersifat umum dan tidak memiliki karakteristik dari suatu laporan audit. Oleh karena itu. akuntabilitas. Selanjutnya. auditor terlatih dan bersertifikat yang jumlhanya sangat terbatas di Indonesia tidak dimanfaatkan secara efektif dan efisien sebagaimana mestinya. Penentuan kelembagaan yang rumit dan kerangka peraturan yang bersifat terfragmentasi tidak mendorong terjadinya transparansi.300 stafi Tidak Ada Umumnya audit kinerja Auditor pemerintah daerah (Bawasda) Gubernur/Bupati Pemerintah daerah 16. tampaknya tidak ada mekanisme informal yang berlaku untuk mengatasi hambatan struktural bagi tercapainya audit yang efisien dan efektif . hanya laporan dari BPK yang diteliti oleh pejabat-pejabat yang dipilih dan tersedia untuk umum.000 stafi Semua staf bekerja di 440 kabupaten/ kota Baik audit kepatuhan maupun kinerja Sumber: Penilaian staf Bank Dunia berdasarkan perundang-undangan yang berlaku dan wawancara dengan pejabat pemerintah.

5/1973 telah menentukan BPK sebagai lembaga pemeriksa . yang meliputi penyimpangan yang tidak sesuai dengan ketentuan. BPK hanya bertanggung jawab terhadap anggota badan pemeriksanya. UU No. komisi yang sudah ada. Ada sejumlah manfaat dari pemberian peran yang lebih kuat kepada DPR untuk meminta akuntabilitas BPK: (i) keterlibatan DPR akan menciptakan tekanan yang lebih kuat untuk membuat tindakan audit menjadi relevan dan responsif. atau Page 14 Kajian Pengeluaran Publik Indonesia 2007 Kajian Pengeluaran Publik Indonesia: Memaksimalkan Peluang Baru 116 BAB 6 Manajemen Keuangan Publik organisasi khusus atau baru. walaupun laporan itu mestinya meliputi penyimpangan yang berskala luas mulai dari yang sangat serius sampai dengan pelanggaran kecil. Sesuai dengan UUD 1945. sub-komisi dari komisi yang sudah ada. Mekanisme yang baik perlu diberlakukan—baik melalui komisi yang baru atau terpisah (Komisi Rekening Publik dan Audit). Tidak ada uraian lebih rinci yang dicantumkan dalam laporan itu. BPK adalah lembaga independen tetapi dapat memperoleh manfaat dari peran DPR yang kuat untuk meminta akuntabilitasnya jika hal ini dilakukan dengan hati-hati.sangat umum menggunakan klasifikasi secara garis besar. Di samping itu. Perhatian seharusnya diberikan untuk mendefinisikan peran DPR secara jelas sehubungan dengan keberadaan lembaga pemeriksaan dan laporan mereka sehingga seluruh stakeholders mengetahui dan sepakat terhadap peran mereka. Badan ini memutuskan sendiri apakah anggota mereka harus mengundurkan diri atau tidak. yang diangkat oleh DPR melalui keputusan presiden. Kebanyakan dari penyimpangan yang dilaporkan kepada DPR termasuk dalam kategori tidak sesuai. (ii) keterlibatan DPR dapat memperkuat kesadaran publik terhadap BPK dan laporan yang dibuatnya. seperti (i) tidak sesuai. anggota DPR dan sekretariat mereka perlu membangun kapasitas yang diperlukan untuk menangani laporan pemeriksaan dan informasi secara konstruktif. yang meliputi pengeluaran yang tidak sesuai dengan tujuan semula. ketidakefektifan. (iii) penguatan peran DPR akan menjadi tekanan untuk memacu efisiensi dan efektivitas BPK. dan (iii). (ii) praktik-praktik yang tidak ekonomis dan tidak efisien. Kini BPK memiliki mandat yang lebih luas tetapi masih memiliki keterbatasan terhadap perannya yang semakin luas tersebut. UU tentang Pemeriksaan Keuangan Negara tidak mengatur tentang akuntabilitas eksternal bagi BPK.

Menurut UU tentang Audit Negara. Sebelum penetapan UU tentang audit negara. BPK juga berwenang untuk menentukan standar pemeriksaan untuk lembaga pemerintah.500 pegawai diharapkan mampu menjamin mutu pemeriksaan internal dari hampir 25.000 staf. Di samping itu. UU No. audit kinerja. sementara BPK hanya memiliki kantor di 16 provinsi pada akhir tahun 2006. UU tentang pemeriksaan negara baru ditetapkan pada tahun 2004 dan memberikan mandat kepada BPK untuk melakukan pemeriksaan kepada seluruh lembaga pemerintah di setiap tingkat. Akibatnya adalah bahwa BPKP memiliki sumber daya yang sangat bagus dibandingkan dengan BPK. dan audit forensik. BPK juga melakukan pemeriksaan terhadap BUMN. Mandat BPK relatif jelas tetapi strateginya tidak sesuai dengan kemampuan dan jumlah staf yang ada saat ini.“tertinggi” di Indonesia. BPK melaksanakan audit keuangan. walaupun mereka masih belum mengeluarkan standar tersebut untuk penggunaan internal Tingkat staf BPK tidak sesuai dengan mandat barunya. Inspektur Jenderal pada setiap Departemen). BPKP kini memiliki kantor di 26 provinsi di seluruh Indonesia. Misalnya. Lembaga militer sekarang ini tidak harus diperiksa. pemeriksaan keuangan merupakan tugas BPK dan BPKP sebagai lembaga pemeriksa internal dari pemerintah. Lembaga pemeriksaan eksternal yang hanya memiliki sekitar 3. baik di pusat maupun daerah. Kini BPKP memiliki mandat yang jelas yaitu untuk melakukan pemeriksaan internal bersama-sama dengan lembaga pemeriksa lain (seperti. 15/2004 tentang audit negara telah memberikan kejelasan atas peran yang berbeda dari lembaga pemeriksa dengan cara menyatakan BPK sebagai lembaga pemeriksa eksternal yang independen pada seluruh tingkat pemerintahan. dan dalam hal itu ketentuan yang ada mengharuskan perusahaan-perusahaan yang sudah terdaftar diaudit oleh perusahaan auditor yang terdaftar. BPK menyampaikan laporan tahunan dan laporan semester kepada DPR atas pemeriksaan yang dilakukan dan menyampaikan laporan pemeriksaan pemerintah daerah. Perubahan dalam tanggung jawab ini tidak seluruhnya tercermin dalam realokasi staf dan sumber daya antara kedua lembaga pemeriksa ini. kecuali BUMN yang memperoleh modal melalui pasar modal Indonesia. Pada tahun 2001 BPK menyiapkan rencana . Laporan ini memberikan penilaian terhadap laporan keuangan instansi yang diaudit dan serta memberikan komentar terhadap penyimpangan-penyimpangan yang ditemui di dalam pelaksanaan anggaran yang mungkin ditemukan.

mandat BPKP telah berubah melalui berbagai keputusan presiden. Audit Internal berada dalam ruang lingkup kerja BPKP. Mengingat tantangan yang dihadapi BPK dalam memberikan layanan pemeriksaan eksternal dasar dalam bidang pengelolaan keuangan. Selain itu. mandat BPKP menjadi tidak jelas. Mandat dan pembagian tugas antara ketiga lembaga pemeriksaan yang ada sekarang tidak jelas. Inspektorat Jenderal (Itjen) yang bertugas pada setiap Departemen.pengembangan institusional dan telah melaksanakan langkah praktis untuk menyiapkan diri sehubungan dengan perluasan mandat yang dimilikinya. Selanjutnya. Jumlah staf BPKP yang masih begitu besar belum mencerminkan pengurangan terhadap mandat yang dimiliki saat ini. Sementara UU tentang audit negara memberikan mandat yang semakin kuat kepada BPK. daripada menyampaikan agenda pemeriksaan yang rumit dan canggih. pemerintah provinsi atau kabupaten/kota atas undangan pemerintah daerah. UU yang terpisah mengenai aspek-aspek semacam ini kini sedang disusun dan dipandang penting untuk mengukuhkan dasar lembaga ini sehingga akan diakui sebagai lembaga yang kredibel dan independen. Pada saat ini. BPKP didirikan berdasarkan keputusan presiden pada tahun 1983. BPKP masih memiliki kantor-kantor dengan staf lengkap yang terdesentralisasi di 26 provinsi dan stafnya yang penuh berjumlah 6. Walaupun mandatnya telahberkurang secara signifikan. Page 15 Kajian Pengeluaran Publik Indonesia 2007 Kajian Pengeluaran Publik Indonesia: Memaksimalkan Peluang Baru 117 BAB 6 Manajemen Keuangan Publik . dan mereka dapat menyediakan pelatihan bagi lembaga-lembaga ini. terutama jika dibandingkan dengan BPK sebagai lembaga pemeriksa eksternal. tepat waktu. dan mengingat kapasitas yang dimilikinya saat ini. laporan dari BPKP tidak disampaikan kepada umum atau DPR. Strategi internal BPK untuk periode 2006-10 telah disiapkan dan rencana pelaksanaan taktisnya sedang dalam penyelesaian tahap akhir. maka fokus pekerjaannya sekarang lebih baik diarahkan pada pemberian layanan audit keuangan tradisional yang bermutu tinggi. dan fungsi pemeriksaan di tingkat provinsi dan kabupaten/kota dilakukan oleh Bawasda. dapat membantu Itjen. namun masih belum jelas dalam hal tata pemerintahan internalnya dan struktur manajemen.800 orang tidak digunakan secara optimal.

Di samping itu. Audit terhadap transaksi keuangan masing-masing dari ke 33 pemerintah provinsi dan lebih dari 440 pemerintah kabupaten/kota dilaksanakan berdasarkan ketentuan kelembagaan yang sangat rumit. Bawasda menyampaikan laporan tahunan mereka kepada masing-masing daerah dan mengirimkan salinan laporan mereka kepada Itjen Departemen Dalam Negeri. tetapi mereka tidak memiliki kapasitas yang memadai. Dengan demikian. tetapi staf Bawasda biasanya tidak memiliki keterampilan untuk melaksanakan tanggung jawab pemeriksaan. BPK menyampaikan rangkuman dan konsolidasi hasil laporan kepada DPR dan rangkuman itu mencakup seluruh Bawasda. BPK merupakan lembaga pemeriksa eksternal dari seluruh pemerintah daerah. Oleh karena itu. Itjen. latar belakang profesi staf Itjen. Pengawasan terhadap pengeluaran dan sistem pembayaran sedang ditingkatkan. Itjen pada Departemen Dalam Negeri mengkoordinasikan seluruh kegiatan dari lembaga pemeriksaan internal dalam melaksanakan fungsi pemeriksaan mereka untuk setiap kabupaten/kota. Oleh karena itu. Bawasda melakukan pemeriksaan umum terhadap pengeluaran anggaran daerah. Audit mereka dilakukan secara acak atau sesuai dengan rencana pemeriksaan tahunan yang sudah disetujui. tetapi pelaksanaannya masih belum memuaskan. Untuk meningkatkan tanggung jawab dan akuntabilitas terhadap anggaran pada jajaran departemen. Akan tetapi. setiap sumber pendanaan yang berbeda pada pemerintah daerah diperiksa oleh lembaga pemeriksa yang berbeda pula. tugas pemberian perintah pembayaran telah dialihkan kepada departemen. Laporan mereka tidak disampaikan kepada publik atau DPR. Mandat Itjen yang sebenarnya.Itjen memiliki peran yang berbeda pada setiap Departemen. BPK dan Bawasda pada kabupaten/kota lain dalam rangka pelaksanaan pemeriksaan terhadap pemerintah daerah masing-masing. Bawasda Provinsi. dan pihak yang diperiksa. termasuk ketaatan kepada standar teknis yang berlaku. tetapi tidak berdasarkan pada metodologi berbasis risiko. Itjen bertindak sebagai lembaga tersendiri sesuai dengan jumlah menteri dan kegiatan pemeriksaan biasanya terfokus pada masalah-masalah rutin teknis dan kinerja. biasanya meliputi kualifikasi teknis dan bukannya akunting atau pemeriksaan keuangan. Bawasda mendapat dukungan dari BPKP. dan kegiatannya ditentukan oleh kemeterian yang bersangkutan. Hal ini telah menimbulkan . Bawasda terdapat di setiap kabupaten/kota. staf.

Penyiapan dan pelaksanaan anggaran Pelaksanaan Penganggaran Berbasis Kinerja (PBB) dan Kerangka Pengeluaran Jangka Menengan (MTEF).pemisahan yang lebih baik antara fungsi verifikasi transaksi dan pelaksanaan pembayaran. pelaksanaan. operasional. dan didefinisikan dengan jelas harus dilaksanakan dalam jangka waktu pendek untuk menjawab . Mengingat sifat dari perubahan itu sendiri. kajian terhadap pengeluaran lebih berfokus pada pengeluaran sektoral dan semakin sering menganalisis aspek-aspek kelembagaan dari pelaksanaan anggaran. Laporan pada bab ini merupakan upaya pertama yang cukup komprehensif dalam melakukan analisis dimensi kuantitatif kinerja anggaran di Indonesia. Pada saat yang sama. (ii) World Bank Country Procurement Assessment Report (CPAR) untuk menilai kemajuan modernisasi pengadaan. Sementara pemisahan tugas-tugas ini sudah dirancang dengan baik. pelaksanaan di lapangan tidak seluruhnya memuaskan karena tidak adanya standar yang jelas mengenai bukti-bukti akuntansi. dan komprehensif untuk melakukan reformasi penganggaran dengan mempertimbangkan kondisi tata pemerintahan Indonesian yang unik. dan pemeriksaan anggaran dapat mengambil manfaat dari adanya evaluasi yang dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan terhadap sistem anggaran di Indonesia. dapat terlihat jelas bentuknya. perubahan yang mampu dicapai. Perlu disusun suatu peta perjalanan yang realistik. dan (iii) analisis tentang peran DPR mengenai pengawasan pra-laksana purna-laksana (ex ante dan ex post) terhadap anggaran. Salah satu kelemahan endemis yang perlu diperhatikan bahwa dalam praktik akuntansi berkaitan dengan mutu bukti-bukti akuntansi yang dapat diterima oleh Ditjen Perbendaharaan Page 16 Kajian Pengeluaran Publik Indonesia 2007 Kajian Pengeluaran Publik Indonesia: Memaksimalkan Peluang Baru 118 BAB 6 Manajemen Keuangan Publik Rekomendasi Kebijakan Reformasi yang sedang berjalan dalam penyiapan. maka diperlukan visi jangka panjang. lingkungan pengawasan yang lemah. dan unit pemeriksa pra bayar di instansi pembelanja. Biasanya. Kegiatan tindak lanjut ini termasuk: (i) survei penelusuran pengeluaran publik untuk mengidentifikasi kebocoran. Beberapa kegiatan tindak lanjut masih sedang disiapkan atau dapat digali lebih jauh untuk terus memperkuat dasar analisis dari keputusan anggaran dan membudayakan evaluasi anggaran. prosedur verifikasi. dan masalah korupsi yang sudah dikenal luas.

Perubahan jangka pendek semacam itu dapat meliputi peninjauan dan penyederhanan terhadap dokumen anggaran. pembahasan DPR cenderung berfokus pada diskusi mengenai pos-pos pengeluaran secara rinci dan bukan alokasi anggaran secara keseluruhan. tetapi pada saat yang sama mereka harus akuntabel atas hasil yang mereka capai terhadap penggunaan dana milik publik. Reformasi proses anggaran. serta otorisasi penganggaran multi tahun bagi proyek-proyek investasi berskala besar yang memerlukan waktu penyelesaian selama beberapa tahun. pengawasan terhadap output seharusnya secara perlahan menggantikan pengawasan terhadap input dan pos-pos anggaran (line item). upaya untuk melakukan perubahan dalam bidang ini seharusnya diawali dengan kehati-hatian dan pengawasan ex post yang perlu diperkuat sebelum pengawasan terhadap input diperlunak. prioritas politik. Pembahasan dan persetujuan anggaran oleh DPR seharusnya disesuaikan untuk berfokus pada kebijakan dan prioritas pengeluaran. Anggaran berbasis kinerja (PBB) sering dipahami sebagai alat untuk menunjukkan bahwa pengawasanterhadap input digantikan oleh pengawasan terhadap output dan bahwa tanggung jawab keuangan dan manajemen dari unit pelaksana anggaran mengalami peningkatan. Proses untuk mobilisasi anggaran tahun berjalan dan realokasi sumber daya keuangan pada masa bencana . Sehingga. dan memiliki peranan penting atas fokus yang kuat terhadap pengawasan ex ante. Mengingat bahwa isu tentang tata pemerintahan sangat rentan di Indonesia dan mengingat adanya pengawasan ex post yang lemah saat ini. Untuk jangka menengah.tekanan politik untuk melakukan perubahan secara cepat dan menjaga momentum reformasi. DPR memiliki wewenang yang kuat dalam pembahasan ex ante dan persetujuan terhadap penentuan anggaran tahunan. Anggaran berbasis input. Cara-cara untuk melakukan peningkatan kapasitas. berikut isi dan struktur dokumen anggaran. seharusnya menjadi fokus untuk memperjelas peran DPR dalam penyiapan anggaran dengan tujuan untuk memfokuskan pada pembahasan mengenai hasil dan prioritas penggunaan anggaran. pembuatan laporan tentang hasil yang dicapai tiap tahun bagi program-program yang dilaksanakan di setiap departemen. rinci. Manajer diberikan kebebasan untuk mengelola. dan hasil yang hendak dicapai. serta upaya untuk melakukan reformasi kelembagaan. merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam memperkenalkan penganggaran berbasis kinerja.

Pelaksanaan akuntansi berbasis akrual memiliki implikasi yang sangat luas terhadap keterampilan para pejabat anggaran. Menurut UU No. Konsolidasi lembaga pemeriksa internal memiliki kelebihan di bawah ini: Koordinasi yang lebih baik terhadap pemeriksaan internal tanpa terjadi duplikasi. Harus ada upaya untuk mengembangkan proses anggaran jalur cepat untuk digunakan pada waktu terjadi kebutuhan yang luar biasa untuk pengeluaran publik sementara tetap memelihara kerangka pengamanan untuk memastikan dana publik digunakan secara efektif dan efisien. Koordinasi dan kerja sama yang lebih baik antara lembaga pemeriksa internal dan eksternal karena hanya ada dua pihak yang perlu berkoordinasi. Audit Banyaknya peraturan terpisah yang mengatur pemeriksaan eksternal dan internal tidak memberikan ruang koordinasi dan kejelasan. Memperkuat kemandirian pemeriksaan internal. Konsolidasi terhadap peraturan di bawah satu undang-undang dan menyederhanakan pemberian wewenang untuk mengeluarkan keputusan dan peraturan sekunder akan memberikan transparansi yang lebih luas dan mendorong tercapainya peraturan-peraturan yang konsisten. termasuk anggota DPR. Hal ini sangat penting di daerah. dan pemakai anggaran dan rekening nasional. dan manajemen keuangan. diperlukan pelaksanaan strategi e-procurement secara komprehensif agar mampu berkontribusi untuk meningkat transparansi dan kompetisi pasar.harus disederhanakan. Ada potensi sinergi dan manfaat lain untuk melakukan konsolidasi mengenai ketiga lembaga pemeriksa internal menjadi satu lembaga. 17/2003 tentang Keuangan Negara. yang pada gilirannya akan membuat harga input menjadi lebih rendah dan meningkatkan tata kelola pengadaan. auditor . Akan tersedia sumber daya yang lebih banyak untuk mengembangkan produk-produk audit baru dan akan ada potensi untuk menghemat biaya untuk mendukung layanan pendukung seperti manajemen SDM. Page 17 Kajian Pengeluaran Publik Indonesia 2007 Kajian Pengeluaran Publik Indonesia: Memaksimalkan Peluang Baru 119 BAB 6 Manajemen Keuangan Publik Pengadaan Pembentukan lembaga baru pengadaan merupakan kontribusi sistemik yang penting untuk memberantas korupsi. Di samping itu. anggaran untuk 2006 harus sudah disampaikan berdasarkan sistem akrual .

bappenas. namun menurut hemat kami isu tersebut masih cukup aktual. REFORMASI MANAJEMEN KEUANGAN PEMERINTAH : SEBUAH TINJAUAN Awan Setiawan *) Pengantar Tulisan ini diharapakan dapat menjadi input bagi para perencana di Bappenas khususnya dalam pelaksanaan 3 (tiga) agenda Repenas Transisi.dan laporan keuangan pada tahun itu harus pula disampaikan dan diaudit dengan basis akrual. Walapun informasi yang disampaikan tidak cukup komprehensif. yang salah satunya adalah “mempercepat reformasi”.go. Pelaksanaan yang dilakukan secara bertahap untuk melaksanakan reformasi tersebut harus direncanakan dengan memperhatikan tingkat keterampilan saat ini dan harus pula meliputi kegiatan pelatihan antar lain bagi auditor internal dan eksternal Berikut ini adalah versi HTML dari berkas http://www. terutama mendorong Reposisi Bappenas dan kembali kepada track yang . G o o g l e membuat versi HTML dari dokumen tersebut secara otomatis pada saat menelusuri web.id/get-fileserver/node/2965/. yang dalam tulisan ini fokus pada manajemen keuangan pemerintah.

dan (4) adanya lembaga pemeriksa eksternal yang kuat. profesional. (2) keterbukaan dan setiap transaksi keuangan pemerintah. Adanya manajemen keuangan pemerintah yang baik akan menjamin tercapainya tujuan pembangunan secara khusus. kebutuhan atau aspirasi yang harus diakomodasi di satu sisi. dan mandiri serta dihindarinya duplikasi dalam pelaksanaan pemeriksaan (double accounting). tetapi harus diarahkan untuk mewujudkan nilai-nilai dimaksud. Karenanya. Urgensi . Dengan demikian. diperjuangkan dengan memperhatikan prinsip dan nilai-nilai good governance. pemerintah Indonesia sebenarnya sudah memberi perhatian yang sungguh-sungguh untuk mengakomodasi dan mewujudkan harapan dan tuntutan di atas. manajemen keuangan pemerintah tidak saja harus didasarkan pada prinsip-prinsip good governance. menginkorporasi. bahkan mengedepankan nilai-nilai good governance. Beberapa nilai yang relevan dan urgen untuk diperjuangkan adalah antara lain transparansi. (3) pemberdayaan manajer profesional. dan penegakan sistem manajemen keuangan yang baik merupakan tuntutan sekaligus kebutuhan yang semakin tak terelakkan dalam dinamika pemerintahan dan pembangunan. Desember – Februari 2003). Yang selama ini sudah dilakukan adalah dengan membahas RUU Keuangan Negara yang sudah diundangkan DPR pada tanggal 9 Maret 2003 lalu (jadi setelah artikel ini ditulis) menjadi UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Nasution berjudul “Reformasi Manajemen Keuangan Pemerintah” (Jurnal Forum Inovasi. disamping nilai-nilai efektivitas dan efisiensi tentu saja. sehingga muncul kerangka kerja baru dengan nama “Anggaran Berbasis Kinerja (Performance Budget)” yang pada saat ini sedang diujicobakan pelaksasanaannya dan diharapkan dimulai pada tahun anggaran 2005. maka artikel ini menempatkan reformasi perbendaharaan dan reformasi di bidang auditing sebagai agenda yang mendesak. pengembangan. dan tujuan berbangsa dan bernegara secara umum. terdapat pula tuntutan yang semakin aksentuatif untuk mengakomodasi.benar. pencapaian efektivitas dan efisiensi keuangan pemerintah semakin mengemuka untuk diperjuangkan perwujudnya. langkah-langkah strategis dalam konteks penciptaan. akuntabilitas. Terdapat 4 prinsip dasar pengelolaan keuangan negara yang menjadi fokus perhatian utama dalam UU ini. yaitu (1) akuntabilitas berdasarkan hasil atau kinerja. Munculnya perhatian yang besar akan pentingnya manajemen keuangan pemerintah dilatarbelakangi oleh banyaknya tuntutan. Dalam upaya perwujudan manajemen keuangan pemerintah yang baik. dan terbatasnya sumberdaya keuangan pemerintah di sisi lain. Berdasarkan keempat prinsip tersebut. Upaya mewujudkan manajemen keuangan pemerintah yang baik. Sebagaimana dibahas dalam artikel Mulia P. serta partisipasi masyarakat dalam proses pengelolaan keuangan dimaksud. Pendahuluan Manajemen keuangan pemerintah merupakan salah satu kunci penentu keberhasilan pembangunan dan penyelenggaraan pemerintahan dalam kerangka nation and state building. Dalam konteks yang lebih visioner. antara lain.

. Juga harus dilakukan analisis biayamanfaat (cost and benefit analysis) sehingga kegiatan yang dijalankan tidak saja sesuai dengan skala prioritas tetapi juga mendatangkan tingkat keuntungan atau manfaat tertentu bagi publik. muncul tuntutan yang meluas untuk menerapkan sistem anggaran berbasis kinerja. misalnya sebagai akibat adanya praktek KKN. Menteri Keuangan bertindak sebagai kasir. Dalam konteks ini. Dinamika pemerintah. profesionalisme. transparansi. pengawas. Persoalan ketiga yang menuntut dilakukannya reformasi manajemen keuangan pemerintah adalah terjadinya begitu banyak kebocoran dan penyimpangan. Keempat dan terakhir adalah rendahnya profesionalisme aparat pemerintah dalam mengelola anggaran publik. Dalam penilaian penulis ini kewenangan administratif seyogyanya berada dan diatur oleh masing-masing departemen/lembaga pemerintah. termasuk pengelolaan keuangan di dalamnya. Karenanya. sekaligus sebagai fund manager. manajemen dan kebijakan ekonomi yang sehat. Jarang ditemukan ada manajer yang profesional dalam sektor publik. Sedangkan kewenangan kebendaharaan meliputi tidak boleh secara sempit ditafsirkan sebagai sekedar fungsi kasir untuk membayarkan tagihan atau mengelola penerimaan. artikel ini sampai pada beberapa rekomendasi strategis yang pada intinya ingin mengembalikan manajemen keuangan pemerintah dalam bentuk anggaran sebagai alat akuntabilitas. dilatarbelakangi oleh beberapa pertimbangan strategis yang terutama diwakili oleh luasnya skala persoalan yang harus diatasi. rendahnya efektivitas dan efisiensi penggunaan keuangan pemerintah akibat maraknya irasionalitas pembiayaan kegiatan negara. tidak dikelola secara profesional sebagaimana dijumpai dalam manajemen sektor swasta. Kewenangan administratif meliputi otoritas untuk melakukan perikatan (kontrak) atau tindakan-tindakan lain yang mengakibatkan terjadinya penerimaan atau pengeluaran negara serta perintah untuk melakukan pembayaran atau menagih penerimaan yang timbul sebagai konsekuensi dari suatu perikatan. Selama ini.Pentingnya reformasi keuangan pemerintah dengan beberapa bidang di atas sebagai fokusnya. hampir tidak ada upaya untuk menetapkan skala prioritas anggaran di mana ada keterpaduan antara rencana kegiatan dengan kapasitas sumber daya yang dimiliki. Bahkan terdapat negasi yang tegas untuk memasukkan kerangka kerja sektor swasta ke dalam sektor publik di mana nilai-nilai akuntabilitas. tetapi juga meliputi otoritas untuk meneliti kebenaran penerimaan dan pengeluaran tersebut. dalam penilaian penulis ini. Kedua. Kondisi ini disertai oleh rendahnya akuntabilitas para pejabat pemerintah dalam mengelola keuangan publik. Dengan memperhatikan beberapa patologi tersebut. Persoalan-persoalan dimaksud antara lain : Pertama. sementara kewenangan kebendaharaan berada di tangan Menteri Keuangan. tidak adanya skala prioritas yang terumuskan secara tegas dalam proses pengelolaan keuangan negara yang menimbulkan pemborosan sumber daya publik. Menarik dari pembahasan penulis ini adalah adanya upaya untuk memisahkan secara tegas antara kewenangan administratif dan kewenangan kebendaharaan. Inilah merupakan sindrom klasik yang senantiasa menggerogoti negara-negara yang ditandai oleh superioritas pemerintah. dan economic of scale menjadi kerangka kerja utamanya.

Terlepas dari pro dan kontra di atas. Menteri Keuangan dan Departemen Keuangan sudah saaatnya diberi kewenangan yang lebih luas. yaitu ICW Stbl 1925 Nomor 448. dan kedua. 15 April 2003. atau penyimpangan. Selain nilai-nilai yang diperjuangkan melalui UU di atas. defisit anggaran tidak boleh melebihi 3% dan utang tidak boleh melebihi 60% dari PDRB. penyelewengan. Republika. 24 Maret 2003. terutama efektivitas dan efisiensi walaupun kurang memberikan garansi bagi terwujudnya akuntabilitas dan transparansi karena absennya mekanisme check and balance. para pejabat maupun publik yang terbukti merugikan keuangan negara diwajibkan untuk mengganti kerugian dimaksud (Pasal 35 Ayat 1). Argumentasi yang demikian dilatarbelakangi oleh pertimbangan bahwa badan yang mengelola anggaran seharusnya dilibatkan secara aktif untuk turut menentukan perencanaan pembangunan. mendelegasikan wewenang penganggaran dan perencanaan yang begitu besar kepada Departemen Keuangan sama halnya dengan memberi “cek kosong” kepada lembaga tersebut. penyerahan mandat absolut kepada Departemen Keuangan jelas sangat bertentangan dengan prinsip pemerintahan yang baik (good governance). . UU tersebut sebenarnya ingin mengintroduksi sebuah kerangka kerja baru yang bersemangatkan nilai-nilai good governance. 2003). Sementara itu muncul juga kelompok kedua yang menentang diberlakukannya UU ini. 6 Mei 2003). Adanya wewenang perencanaan dan penganggaran pada satu lembaga akan menyebabkan tidak bekerjanya mekanisme check and balance. Departemen Keuangan diidentifikasi sebagai salah satu pusat masalah dalam pengelolaan anggaran di Indonesia sehingga sangat tidak bijak untuk mendelegasikan wewenang yang besar kepada sebuah lembaga yang memang bermasalah (Forum Indonesia Raya. atau korupsi termasuk kewajiban untuk mengganti kerugian atas keuangan negara (Sinar Harapan.Pembagian yang demikian sangat menarik untuk dibahas sejalan dengan munculnya kontroversi yang luas pasca diundangkannya UU Nomor 17 Tahun 2003. Dengan demikian. penyelewengan. Misalnya ada ketentuan untuk membatasi defisit anggaran sebesar maksimum 60% dari PDB dan dalam penyusunan APBD. ada sinergi dan rasionalitas yang tinggi antara rencana kegiatan yang diusulkan dengan kapasitas anggaran yang tersedia. Semangat baru yang dikedepankan oleh UU ini adalah adanya pengawasan yang semakin meningkat dimana diamanatkan bahwa laporan kepada badan Pemeriksa Keuangan (BPK) harus diajukan selambat-lambatnya 6 bulan setelah tahun anggaran berakhir. UU ini berusaha mendorong terwujudnya suatu kerangka hukum yang jelas tentang tata cara pengelolaan keuangan negara yang bersih dari korupsi. Bagi mereka. Demikian juga. Argumentasi ini dilatarbelakangi oleh pertimbangan bahwa. terutama transparansi dan akuntabilitas. UU tersebut sekaligus mengganti pedoman pelaksanaan keuangan negara yang masih merupakan warisan Hindia Belanda. UU tersebut secara langsung telah mempreteli hak prerogatif presiden dalam melakukan reorganisasi dan restrukturisasi Kementerian Negara. Demikian halnya dengan kemungkinan untuk menuntut bendahara negara secara pribadi yang terbukti melakukan kelalaian. ada juga langkah maju – walaupun masih pada tataran wacana – yang sedang diupayakan dan menjadi kesepakatan semua pihak. dan ketiga. tidak saja untuk mengelola keuangan negara an sich tetapi juga melakukan verifikasi atas penerimaan dan pengeluaran tersebut serta otoritas di bidang perencanaan yang secara langsung maupun tidak langsung akan menghapus – atau tepatnya mengurangi – peran dan fungsi Bappenas serta keberadaan BUMN lainnya (Kontan. Bagi mereka yang pro dengan UU tersebut. Koran Tempo 27 Maret 2003). pertama.

Langkah-langkah capacity building untuk peningkatan profesionalisme aparat pelaksana. Departemen Dalam Negeri. Gejala-gejala KKN dalam manajemen keuangan daerah. sekali lagi. dan Departemen Keuangan RI dalam skema program Initiatives for Local Governance Reform (ILGR) adalah dalam kerangka penegakan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara itu. fungsi tersebut dijalankan oleh BPKP sebagai state auditor. Apa yang telah dipaparkan di atas tidak hanya menjadi pekerjaan rumah pemerintah pusat. yang berhasil membongkar kroni Soeharto. Muncul penilaian bahwa BPKP adalah bagian dari masalah (a part of the problem). Pemberdayaan kapasitas aparat tersebut. tulisan singkat ini juga memberikan perhatian khusus pada penegakan integritas dan profesionalisme SDM aparat pelaksana. jika tidak didukung oleh kapasitas dan moral pejabat yang baik maka kebijakan tersebut tidak akan banyak bermanfaat. Fasilitasi yang dilakukan oleh World Bank bekerjasama dengan Bappenas. Lembaga-lembaga semacam itu bisa dipekerjakan untuk menopangan kinerja keuangan pemerintah. Bersamaan implementasi otonomi daerah. Bagaimanapun idealnya sebuah aransemen kebijakan. . proses tender yang tidak terbuka. dan semakin banyaknya anggaran pembangunan dan pelayanan publik yang mengalir ke daerah menyusul implementasi otonomi daerah di sisi lain. sebuah perusahaan konsultan internasional. Di atas semua itu. dan parktek-praktek manipulatif lainnya kini sudah semakin merebak di daerah. Pembenahan internal dalam tubuh BPKP mutlak dilakukan karena lembaga yang dianggapa sebagai benteng terakhir dalam manajemen keuangan negara ini juga tidak lepas dari masalah. sangat mendesak dilakukan karena diidentifikasi bahwa salah satu persoalan yang menimbulkan kesemrawutan pengelolaan keuangan pemerintah terletak pada rendahnya kapasitas aparat. Bahkan reformasi keuangan pemerintah daerah semakin mendesak dilakukan mengingat masih terbatasnya kemampuan manajemen keuangan di kalangan pemerintah daerah di satu sisi. Muncul pula keluhan bahwa implementasi otonomi daerah hanya memindahkan borok permasalah dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah justru ketika masyaraklat semakin mengharapkan kondisi kehidupan dan kesejahteraan yang semakin baik. Banyak temuan yang berhasil menyelamatkan sumberdaya negara. Lembaga itu tidak jarang terlibat dalam konspirasi dengan pihak kedua yang sangat merugikan keuangan negara. baik yang berwenang mengelola keuangan negara maupun pejabat yang menggunakannya. Ini merupakan lembaga pemeriksa independen yang berasal dari luar pemerintah semisal konsultankonsultan akuntansi publik yang kini banyak berkembang. tidak hanya terbatas pada aparat di pusat tetapi juga aparat daerah. Sebut saja apa yang dilakukan Anderson Counsultant.yaitu perlunya upaya untuk mengefektifkan fungsi pengawasan dan pemeriksaan pengelolaan keuangan negara. maka salah satu alternatif yang bisa ditempuh adalah dengan mendayagunakan independent external auditor. Jika BPKP sebagai state auditor masih terbelit pada berbagai masalah. walaupun tidak sedikit juga yang luput dari pengawasan. Banyak contoh yang memperlihatkan bagaimana kiprah dan kontribusi positif lembaga-lembaga tersebut dalam menyelematkan keuangan negara. Hanya jika terdapat SDM yang memiliki integritas dan moral yang tinggi serta kemampuan manajerial dan operasional yang tinggi baru langkah-langkah reformasi keuangan pemerintah yang telah dirumuskan dalam berbagai paket kebijakan tersebut berhasil diimplementasikan. reformasi manajemen keuangan pemerintah perlu juga dilaksanakan oleh pemerintah daerah. Selama ini. Lembaga ini diberi kewenangan untuk melakukan verifikasi atas semua pos penerimaan dan pengeluaran pembangunan negara yang dilakukan setiap akhir tahun anggaran.

Hari-hari ini akronim tersebut begitu . langkah-langkah reformasi keuangan pemerintah harus dituntun oleh dan diarahkan menuju terwujudnya nilai-nilai good governance yang dilakukan secara serentak baik di pusat maupun daerah. 08 September 2009 09:34 ADA APA DENGAN SPPD? Oleh: Drs Ronny Assa MM (Widyaiswara Departemen Keuangan RI di Balai Diklat Keuangan Manado) Kutipan: ’’Walaupun berpotensi bernilai milyaran rupiah. Pertama. serta banyaknya penyimpangan atau penyalahgunaan. Serial Manajemen Keuangan Negara Tuesday. baik yang berhubungan langsung dengan pengelolaan anggaran maupun tidak langsung. mengingat masalah kebendaharaan dan auditing dilihat sebagai dua titik terlemah dalam manajemen keuangan pemerintah. diperlukan satu langkah lagi yang sangat menentukan yaitu peningkatan kapasitas aparat. Kedua. harus mengalah kepada SPPD yang kecil kemungkinan bernilai ratusan juta rupiah untuk setiap satu SPPD. akronim dari Surat Perintah Perjalanan Dinas. Pembagian kerja dimaksud tetap harus diarahkan pada perwujudan efisiensi dan efektivitas pengelolaan anggaran di samping adanya jaminan transparansi dan akuntabilitas. dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut.Kesimpulan Dari beberapa poin yang disampaikan di atas. irasionalitas dalam pengelolaan. langkah reformasi bisa dilakukan dengan menegakkan sistem check and balance di mana ada pembagian peran yang jelas antara Departemen Keuangan dan departemen teknis lainnya. di luar berbagai paket kebijakan yang sudah bagus. langkah-langkah reformasi keuangan pemerintah sangat diperlukan mengingat banyaknya persoalan yang berkembang pada sektor itu seperti rendahnya tingkat efektivitas dan efisiensi pemanfaatan anggaran. Untuk masalah kebendaharaan. maka langkah-langkah reformasi harus diarahkan untuk mengatasi permasalahan tersebut.’’ SPPD. Kunci keberhasilan reformasi manajemen keuangan daerah tidak hanya terletak pada kebijakan yang didesain dengan baik tetapi juga pada SDM yang akan mengimplementasikan  . Ketiga. SPPD berfungsi sebagai salah satu ‘’alat’’ untuk upaya pencapaian secara maksimal pelaksanaan tugas pokok dan fungsi dari masing-masing satuan kerja instansi publik. Keempat. Harus diakui bahwa secara tradisional.

(walaupun tiket yang dibeli lebih murah atau lebih mahal) di samping uang lumpsum yang dikalikan dengan jumlah hari perjalanan dinas sesuai SPPD. Misalnya untuk tiket Manado-Jakarta bernilai Rp. masih dibutuhkan SP2D agar anggaran tersebut dapat diterima oleh yang berhak. harus mengalah kepada SPPD yang kecil kemungkinan bernilai ratusan juta rupiah untuk setiap satu SPPD. Dengan kata lain. maka akan diikuti dengan terbitnya SP2D oleh Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) untuk alokasi APBN.000. ada oknum-oknum ketua.populer. dan sejenisnya sangat akrab dengan akronim tersebut. konsolidasi. Kini. Bahkan memiliki daya magis tersendiri. ada satu dokumen yang disebut Surat Perintah Pencairan Dana. Di jajaran pejabat struktural. Walaupun berpotensi bernilai milyaran rupiah. atau Bagian Keuangan Pemda untuk alokasi APBD.. Tahapan pelaksanaan (organizing and actuating) sampai ke tahapan pertanggungjawaban atau pelaporan (controlling) juga muncul fungsi dari SPPD dimaksud. tapi Surat Perintah Pencairan Dana ini harus rela mengalah untuk tidak disingkat SPPD tapi menjadi SP2D. Semuanya dilakukan sebagai upaya memaksimalkan pencapaian tupoksi masing-masing satuan kerja. dengan Peraturan Menteri Keuangan No. Padahal satu dokumen SP2D. yang sebenarnya kalau disingkat akan mempunyai akronim yang sama yaitu SPPD. alat tersebut muncul dalam berbagai lini. ada apa dengan SPPD? Begitu menarik kah? Daya pikat apakah yang dimilikinya? Bahkan. dan kembalinya. Di jajaran pejabat negara.600. 7 tahun 2003. Hebatnya lagi. Biaya riil artinya. Harus diakui bahwa secara tradisional. apa sih SPPD ini. ketua fraksi dan anggota biasa dari institusi legislatif.1. HAK & KEWAJIBAN PENERIMA SPPD Lalu. 45 dan 62 tahun 2007 dan ditegaskan lagi Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Departemen Keuangan No. So. karena terindikasi penyalahgunaan SPPD. Koordinasi. pengeluaran yang direstui bersifat At Cost atau Biaya Riil yang dikeluarkan pada saat melakukan perjalanan dinas. meliputi biaya dari tempat kedudukan ke tempat yang dituju.) Uang Harian. 34 dan 37 tanggal 18 dan 20 Juni 2007. diberikan secara lumpsum (dibayarkan sekaligus) dengan perhitungan jumlah . Sejak dari tahapan perencanaan (planning). karena terkait dengan akronim popular SPPD tersebut. Setiap hari ada saja berita melalui media cetak atau elektronik yang mengupas dan mengulas akronim tersebut. biaya yang direstui untuk suatu perjalanan dinas. biaya yang dikeluarkan sesuai bukti-bukti pengeluaran yang sah. wakil ketua. Biaya perjalanan dinas ini. berdasarkan standarisasi yang terdiri dari uang tiket dan uang lumpsum dan dibayarkan sekaligus. SPPD berfungsi sebagai salah satu ‘’alat’’ untuk upaya pencapaian secara maksimal pelaksanaan tugas pokok dan fungsi dari masing-masing satuan kerja instansi publik. Dulu. Apa kelebihan dan kekurangannya? Kenapa sangat mudah disalahgunakan? Apa hak dan kewajiban dari si penerima SPPD? Memang ada perubahan yang cukup mendasar terutama tentang biaya-biaya apa saja yang dapat diberikan/diterima oleh seseorang yang mendapat tugas untuk melakukan perjalanan dinas. Bukan rahasia lagi bahwa beberapa oknum pejabat negara dan/atau pejabat struktural pemerintahan harus berhadapan dengan si ‘’lid’’ dan kemudian si ‘’dik’’ dari kepolisian (maupun kejaksaan) dan bahkan harus rela dititipkan di hotel prodeo. dengan Peraturan Menteri Keuangan No. akronim tersebut telah berfungsi. Semuanya harus bersedia untuk mengikuti tahapan penyelidikan (lid) dan/atau penyidikan (dik). Setiap kali satuan kerja instansi pemerintah menerbitkan Surat Perintah Membayar (SPM). ada pejabat eselon dua atau tiga termasuk bendahara. barulah pengeluaran negara tersebut dapat dicairkan atau dipindahbukukan ke rekening rekanan pada bank yang ditunjuk. yang terdiri dari 3 (tiga) komponen: 1. SPPD merupakan salah satu media penunjang untuk pencapaian sasaran dari program dan/atau kegiatan yang dicanangkan. dapat bernilai milyaran rupiah. Jadi setelah SPM.

dan dengan . dan retribusi di airport bila ada. Hotel Bintang I = Untuk PNS Golongan II dan I. Jadi yang bersangkutan tidak dapat melakukan klaim lagi untuk penggunaan taxi/bus way atau biaya makan walau mempunyai bukti-bukti pengeluaran tanggal 1 sampai dengan tanggal 3 tersebut. tapi SPPD yang terbit lebih dari untuk 1 atau 2 orang itu. Biaya Transport Pegawai.80.(biaya riil).000.. Caranya dengan mendatangi oknum-oknum tertentu di biro perjalanan/travel agen. pasti akan ada kekurangan/kelemahannya. Terkadang undangan/pemberitahuan dari Jakarta telah ditegaskan bahwa SPPD ditanggung pengundang (Jakarta). atau kendaraan lainnya). Airport Tax.-). c. tapi di tempat asal masih juga diterbitkan SPPD.-).000. Hotel Bintang 5= Untuk Pejabat Negara (Ketua/Wakil Ketua dan Anggota Lembaga Tinggi Negara. Potensi-potensi tersebut antara lain: 1) Perjalanan Dinas Fiktif (SPPD fiktif).Uang Harian ini untuk: Uang Makan. Biaya angkutan/taxi dari airport di Jakarta ke tempat tujuan (standarisasi tarif taxi di Jakarta Rp. Selain pesawat udara dapat menggunakan jasa angkutan lainnya (kapal laut/ferry/kereta api/bus. Uang Saku. Hotel Bintang 2 = Untuk Pejabat Eselon IV dan PNS Gol. Biaya Penginapan. (Uang harian tujuan ke Sulawesi Utara = Rp300.140. Setelah ditanda-tangani dan dibubuhi stempel dikirim kembali ke Satker penerbit SPPD. Demikian juga aturan mengenai SPPD ini. maka biaya transport tersebut meliputi: a).. Semuanya dibayarkan sesuai dengan biaya riil yang terjadi.-). yaitu Biaya riil untuk hotel atau tempat penginapan lainnya bila tidak tersedia hotel. Sehingga di Manado cair di Jakarta juga cair. d.000. Uang tiket.350. 2). Sebagai contoh tujuan ke Jakarta untuk 3 (tiga) hari (berangkat tanggal 1 kembali tanggal 3). Hotel Bintang 4 = Untuk Pejabat Negara Lainnya dan Pejabat Eselon I/II.-/hari/orang.000. Tiket Rp850. Biaya angkutan/taxi dari rumah ke airport (untuk Sulawesi Utara dengan standarisasi maksimal Rp. POTENSI PENYALAHGUNAAN Tidak ada suatu kebijakan yang paripurna. 3) Satu kali melakukan perjalanan dinas namun dua kali dibayar. Apalagi di alam reformasi. Paling tidak. SPPD tersebut biasanya dikirim via pos ke Satker/kota tempat tujuan yang tertera dalam SPPD fiktif dimaksud. 450. dengan tarif uang harian di Jakarta = Rp. dan Transport Lokal selama di Jakarta. b). Semuanya sama dengan tarif yang berlaku. Bagaimana baik dan lengkapnya sebuah aturan.000. Menteri dan setingkat Menteri: b. Dengan contoh tujuan ke Jakarta di atas.000. c). Selanjutnya. Yaitu perjalanan dinas hanya dilakukan oleh 1 atau 2 orang saja. dapat menjadi Rp1. 3). memang terhadap SPPD terdapat sejumlah peluang penyalahgunaan dan sangat mudah dilakukan.. disalahpersepsikan. meliputi biaya angkutan sejak dari tempat kedudukan (tempat/kota kantor/satuan kerja berada) sampai ke tempat tujuan (tempat/kota tujuan). 2) Perjalanan Dinas Setengah Fiktif. Uang Harian diberikan dengan tidak mengenal perbedaan golongan/pangkat/jabatan dari seseorang yang melakukan perjalanan dinas. dan menggunakan jasa pesawat udara. Perjalanan dinas tidak dilakukan tapi SPPD terbit.atau lebih.III. siapa berhak atas fasilitas hotel apa? Diatur sebagai berikut: a.IV.000. 4) Tiket dimark-up. e.hari perjalanan dinas dikalikan tarif uang harian yang sudah distandarisasi Menteri Keuangan. maka yang bersangkutan akan menerima uang harian yang dibayarkan secara lumpsum sebesar Rp1. Hotel Bintang 3= Untuk Pejabat Eselon III dan PNS Gol. perubahan terasa begitu cepat terjadi.850. Terlepas dari kasus-kasus yang diindikasikan terjadi penyalahgunaan SPPD selama ini.

# Berita Terbaru • • • • • • • • • • • • • • • Pemilih Pemula Terabaikan Segera Mulai Pilkada YL Tinggal Memilih KAHMI: HJP Layak Wali Kota Liputo Terpilih Calon dari PKS KPU Diminta Konsentrasi Pada Tugas Sendiri KPU Diminta Berhati Besar FPDIP: KPU Hambat Pilkada LSM ‘KJ’ Minta Ditertibkan Hadirkan Arifin Ilham Blazer 525 Didesak Dikembalikan Jabatan Adalah Amanah Jangan Bawa Agama dalam Politik Praktis Usung Tema Pertobatan Nasional Menelusuri Perayaan Imlek (2) . hotel 2 malam. Di airport besar seperti Cengkareng.. maka dengan rincian biaya yang meliputi: Taxi di Manado pp. akan berpotensi pengeluaran sekitar 7 jutaan rupiah untuk 1 (satu) orang. Jadi seolah-olah memang benar melakukan perjalanan dinas dan didukung dengan bukti seolah-olah autentik.menggantikan biaya riil Rp850. dan slip/kuitansi hotel.000. telah ada ‘’calo-calo jasa nakal’’ yang menjajahkan paket perjalanan dinas aspal (bukti-buktinya seolah-olah asli).850. 5) Biaya Penginapan/Hotel dimark-up. 140. airport tax pp.000.000.000. 7 di atas untuk tujuan Jakarta selama 3 hari. tiket penerbangan pp.atau angkutan umum lainnya. 6) Biaya Taxi dari/ke airport. bukan? Semoga bermanfaat.000.padahal dengan jasa dan nomor penerbangan yang sama.sedikit fee keluarlah print-out tiket Rp1... jadilah slip pembayaran hotel Rp 800 ribuan. 7) Paket Perjalanan Dinas Fiktif.-(atau Rp80. Suatu jumlah yang tidak kecil. boarding pass. taxi di Jakarta pp. uang harian 3 hari. Menginap di kamar dengan tarif Rp.di Manado). SEKADAR SIMULASI Bila terjadi penyalahgunaan SPPD dan diasumsikan kasus seperti butir no. tapi diganti dengan Surat Pernyataan yang ditanda-tangani KPA bahwa yang bersangkutan menggunakan taxi senilai Rp. tapi dengan sedikit fee. Menggunakan bis damri Rp2.200-300 ribuan. lengkap dengan airport tax. Mulai dari tiket..

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Lumentut-Tulungen Berpeluang Hari Ini.000 SMS / Hari Bursa Hongkong Cerah Cina Pandu Bursa Korea Bigung Imlek Atau Valday Coklat dan Angpao Selalu Diharapkan Did You Know Valentine Tak Terlupakan Waruga Dilihat Dari Kaca Mata Seni Budaya (3) Cinta Sejati Dilirik 'Pirates 4' Raul Main ke Rumah KD HIDUP LAGI Rugi Besar Saha “Bunuh” Chelsea Tango Tanpa Riquelme Capello Berharap Inggris vs Italia di Final Ambisi Muniain Ke PD Bintang Diprediksi Kesulitan POKOK-POKOKPENGELOLAAN PELAKSANAANANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA (APBN) : 1 POKOK-POKOKPENGELOLAAN PELAKSANAANANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA (APBN) . Diskusi Rayon Manado di TWM Stok Beras Kurang Ulah Spekulan Ritzy paket Spesial di Valentine Raih Top Leader Of The Year 2009 AirAsia Masih Berpeluang Couple Competition.Barongsai Hebohkan IT Center As Gratis 1.

PEMANFAATAN ANGGARAN SECARA EFEKTIF EFISIEN PERUBAHAN SISTEM ANGGARAN : 6 PERUBAHAN SISTEM ANGGARAN PENERAPAN PRINSIP PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN DGN PERSPEKTIF JANGKA MENENGAH PENGANGGARAN TERPADU MEMADUKAN (UNIFIYING) ANGGARAN PENERAPAN PENGANGGARAN BERBASIS KINERJA KEUANGAN NEGARA : 7 KEUANGAN NEGARA PENGERTIAN PASAL 1 ANGKA 1 UU NOMOR 17 TAHUN 2003 ttg KEUANGAN NEGARA menetapkan “KEUANGAN NEGARA ADALAH SEMUA HAK DAN KEWAJIBAN YANG DAPAT DINILAI DENGAN UANG. GOVERNMENT FINANCIAL MANAGEMENT : 9 GOVERNMENT FINANCIAL MANAGEMENT PERUBAHAN SECARA ADMINISTRATIF ? SEMULA PENDEKATAN GOVERNMENT FINANCIAL ADMINISTRATION BERUBAH KE PENDEKATAN GOVERNMENT FINANCIAL MANAGEMENT MEMISAHKAN KEWENANGAN ANTARA MENTERI KEUANGAN selaku CHIEF FINANCIAL OFFICER dengan MENTERIMENTERI TEKNIS selaku CHIEF OPERATIONAL OFFICER PEMBAGIAN KEWENANGAN AKAN MEMBERIKAN JAMINAN AKAN : : 10 . ALOKASI SUMBER DAYA SESUAI PRIORITAS 3.TUJUAN UTAMA REFORMASI : 2 TUJUAN UTAMA REFORMASI MEWUJUDKAN GOOD GOVERNANCE DAN CLEAN GOVERNMENT REFORMASI ADMINISTRATIF Slide 3 : 3 SEMULA DENGAN PENDEKATAN GOVERNMENT FINANCIAL ADMINISTRATION MENJADI PENDEKATAN GOVERNMENT FINANCIAL MANAGEMENT HASILNYA ADANYA PEMISAHAN YANG TEGAS ANTARA MENTERI KEUANGAN SELAKU CHIEF FINANCIAL OFFICER DAN MENTERI MENTERI TEKNIS SELAKU CHIEF OPERATIONAL OFFICER AMANDEMEN UUD ’45 MENGHASILKAN : 4 AMANDEMEN UUD ’45 MENGHASILKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2003 TENTANG KEUANGAN NEGARA UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2004 TENTANG PERBENDAHARAAN NEGARA UNDANG-UNDANG NOMOR 15 TAHUN 2004 TENTANG PEMERIKSAAN PELAKSANAAN ANGGARAN PENDAPATAN dan BELANJA NEGARA (APBN) ANGGARAN : 5 ANGGARAN MENURUT UU NOMOR 17 TAHUN 2003 MEMPUNYAI 3 TUJUAN UTAMA : 1. STABILITAS FISKAL MAKRO 2. TERMASUK KEKAYAAN YG DIPISAHKAN PADA PERUSAHAAN NEGARA. SERTA SEGALA SESUATU BAIK BERUPA UANG MAUPUN BARANG YANG DAPAT DIJADIKAN MILIK NEGARA BERHUBUNG DENGAN PELAKSANAAN HAK DAN KEWAJIBAN TERSEBUT “ HAK DAN KEWAJIBAN NEGARA : 8 HAK DAN KEWAJIBAN NEGARA HAK NEGARA UNTUK MEMUNGUT PAJAK MENGELUARKAN DAN MENGADAKAN UANG DAN MELAKUKAN PINJAMAN KEWAJIBAN NEGARA UTK MENYELNGGARAKAN TUGAS LAYANAN UMUM PEMERINTAHAN NEGARA DAN MEMBAYAR TAGIHAN PIHAK KETIGA PENERIMAAN NEGARA PENGELUARAN NEGARA KEKAYAAN NEGARA YG DIKELOLA SENDIRI ATAU OLEH PIHAK LAIN BERUPA UANG.

: : 13 Keuangan Negara dlm perspektif lain.UNDANG UNDANG TTG PERTANGGUNGJAWABAN APBN Keuangan Negara dlm perspektif lain. YANG MELIPUTI PENDAPATAN dan BELANJA NEGARA (APBN) YG DIBUAT SETIAP TAHUN SEBELUM DILAKSANAKAN HARUSLAH TERLEBIH DAHULU MENDAPATKAN PERSETUJUAN dari DEWAN PERWAKILAN RAKYAT UU NO 17 2003 ttg KEUANGAN NEGARA : 12 UU NO 17 2003 ttg KEUANGAN NEGARA “ ANGGARAN PEMERINTAH ITU MERUPAKAN RENCANA KEUANGAN TAHUNAN PEMERINTAH YG DISETUJUI oleh LEMBAGA LEGISLATIF” TERMASUK DLM PENGERTIAN ITU : UNDANG-UNDANG TTG APBN UNDANG-UNDANG TTG PERUBAHAN APBN . kebijakan serta sistem dan prosedur yg berkaitan dgn pengelolaan keuangan negara dlm rangka pelaksanaan APBN/APBD TUGAS MENTERI KEUANGAN SELAKU PENGELOLA FISKAL : : 16 TUGAS MENTERI KEUANGAN SELAKU PENGELOLA FISKAL : Menyusun kebijakan fiskal dan kerangka ekonomi makro Menyusun rancangan APBN dan rancangan perubahannya Mengesahkan dokumen pelaksanaan anggaran Melakukan perjanjian internasional dibidang keuangan Melaksanaan pemungutan pendapatan negara yg telah ditetapkan dengan undangundang Melaksanakan fungsi bendaharawan umum negara Menyusun laporan keuangan yg merupakan pertanggungjawaban pekaksanaan APBN Melaksanakan tugas-tugas dibidang pengelolaan fiskal berdasarkan ketentuan undang-undang . : SUDUT PANDANG ILMU POLITIK SUDUT PANDANG ILMU HUKUM ? MENGHIMPUN SUMBER-SUMBER ? MEMBEBANKAN KEWAJIBAN KEUANGAN SUDUT PANDANG EKONOMI PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA : 14 PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA DARI SUDUT PENGERTIAN KEUANGAN NEGARA DGN PENGELOLAAN KEUANGAN DLM RANGKA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN HASIL REFORMASI MANAJEMEN KEUANGAN NEGARA PENGELOLAAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN KEUANGAN NEGARA : 15 PENGELOLAAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN KEUANGAN NEGARA Pelaksanaan APBN/D Pelaksanaan pnenerimaan & pengeluaran negara/daerah Pengelolaan kas Pengelolaan piutang dan utang negara/daerah Pengelolaan investyasi dan barang milik negara/daerah Penyelenggaraan akuntansi dan informasi manajemen keuangan negara/daerah Penyusunan laporan pertanggungjawaban perlaksanaan APBN/APBD Penyelesaian kerugian negara/daerah Pengelolaan BADAN LAYANAN UMUM Perumusan standar.PEMBAGIAN KEWENANGAN AKAN MEMBERIKAN JAMINAN AKAN : TERLAKSANANYA MEKANISME SALING UJI (CHECK AND BALANCE) DALAM PELAKSANAAN PENGELUARAN NEGARA KEJELASAN AKUNTABILITAS MENTERI KEUANGAN SEBAGAI BENDAHARA UMUM NEGARA dan MENTERI TEKNIS sebagai PENGGUNA ANGGARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DIMAKSUD adalah :DITETAPKAN DLM BAB VIII UUD 1945 (amandemen) : : 11 PENGELOLAAN KEUANGAN DIMAKSUD adalah :DITETAPKAN DLM BAB VIII UUD 1945 (amandemen) : WUJUD PENGELOLAAN DALAM BENTUK ANGGARAN PEMERINTAH .

A Z A S : 24 2. A Z A S Azas umum penyelenggaraan negara selama ini Azas Kepastian hukum (principle of legal security) Azas tertib penyelenggara negara Azas kepentingan umum KonsepGood Governance dan Clean Government : 25 KonsepGood Governance dan Clean Government Asas akuntabilitas yg berorientasi pada hasil (result oriented accountibility) Asas profesionalitas Asas proporsionalitas Asas keterbukaan dlm pengelolaan keuangan negara . Bendaharawan Umum/Daerah Bendahara Penerimaan/Pengeluaran ANGGARAN NEGARA INDONESIA : 19 ANGGARAN NEGARA INDONESIA PASAL 23 UUD 1945 (amandemen ke-3) “ APBN sebagai wujud pengelolaan keuangan ditetapkan setiap tahun dengan UU dan dilaksanakan secara terbuka dan bertanggung jawab untuk sebesarbesarnya bagi kemakmuran rakyat” Cakupan hak budget lembaga lehgislatif Persetujuan atas belanja Persetujuan atas sumber-sumber penerimaan untuk membiayai belanja yang telah disetujui Siklus Anggaran : 20 Siklus Anggaran Tahap Tahap Persiapan (Budget Prepare) Tahap Pengesahan (An-actment) Tahap Pelaksanaan Tahap Pemeriksaan (Penyesuaian dgn Terminology UU nmr 15 tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pertanggung Jawaban pelaksanaan Anggaran. Tahap Persiapan Cara Penyusunan Anggaran A z a s Pendekatan Penyusunan Anggaran Perbandingan 1.Pengesahan Nota Keuangan dan RAPBN menjadi Undang-Undang .Jen.Pembahasan oleh Direktorat Jenderal Anggaran . Anggaran atau Kanwil DJA 2. Cara Penyusunan Anggaran Bottom up Planning Top down Planning Mixing (campuran) s/d thn 2004 .Jen.Usulan anggaran dep. yang memberikan manfaat bagi pengendalian pelaksanaan) Tahap Pertanggung Jawaban 1. Tahap Persiapan : 21 1. Cara Penyusunan Anggaran : 22 1.MENTERI/PIMPINAN LEMBAGA sebagai PENGGUNA ANGGARAN/PENGGUNA BARANG : 17 MENTERI/PIMPINAN LEMBAGA sebagai PENGGUNA ANGGARAN/PENGGUNA BARANG Menyusun rancangan anggaran kementerian/lembaga yang dipimpinnya Menyusun dokumen pelaksanaan anggaran Melaksanakan anggaran kementerian negara/lembaga yang dipimpinnya Melaksanakan pemungutan PNBP dan menyetorkannya ke KAS NEGARA Mengelola piutang dan utang negara yang menjadi tanggung jawab kementerian negara/lembaga yang dipimpinnya Mengelola barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab kementerian negara/lembaga yang dipimpinnya Menyusun dan menyampaikan keuangan kementerian negara/lembaga yang dipimpinnya Melaksanakan tugas2 lain yang menjadi tanggung jawabnya berdasarkan ketentuan undang-undang PEJABAT PERBENDAHARAAN NEGARA : 18 PEJABAT PERBENDAHARAAN NEGARA Berdasarkan UU Nomor 1 tahun 2004 Tentang PERBENDAHARAAN NEGARA Pengguna Anggaran/Barang pada kementerian negara/lembaga.Jen./lembg (DUK/DUP) Penyusunan Nota Keuangan dan RAPBN .Penyempurnaan DIK/DIP/SPAAP Oleh Dit.Pelaksanaan Anggaran Oleh Dit. Anggaran atau Kanwil DJA . Anggaran atau Kanwil DJA .Pengesahan DIK/DIP Oleh Dit.Penyusunan Satuan Tiga oleh Direktorat Jenderal Anggaran Slide 23 : 23 .

TAHAP PENGESAHAN : 28 2.berbasis kinerja dan berorientasi pada kerangka pengeluaran berjangka menengah dan standar akuntansi pemerintah Fungsi DIPA : 34 Fungsi DIPA Sebagai pedoman dalam merealisasi anggarannya Sebagai perencanaannya Sebagai penegndalian/pengawasan Sebagai pelaporan dan evaluasi Dokumen pendukung kegiatan akuntansi pemerintah D I P A : 35 D I P A DIPA Kantor Pusat DIPA Kantor Daerah DIPA dakam rangka pelaksanaan Dekonsentrasi DIPA dalam rangka pelaksanaan Tugas Pembantuan . termasuk prestasi kerja yang dicapai atas penggunaan anggaran. 5. RAPBN yg telah disetujui selanjutnya disahkan menjadi UU APBN oleh Presiden diundangkan dalam Lembaran Negara 3. Pendekatan penyusunan anggaran Pengeluaran berperspektif jangka menengah (MTEF = Medium Term Expenditure Framework) Penganggaran Terpadu (Unified Budget) Penganggaran berbasis kinerja (Performance budget) 4. TAHAP PENGAWASAN : 30 4. TAHAP PELAKSANAAN : 29 3. TAHAP PERTANGGUNGJAWABAN Penyampaian laporan keuangan Kementerian negara/Lembaga dan berpedoman pada : Keppres RI nmr 42 tahun 2002 ttg APBN Kep. Proses penganggaran mulai thn 2005 : 27 4. Pendekatan penyusunan anggaran : 26 3. DIPA dan POKOK-POKOK PELAKSANAAN ANGGARAN : 32 DIPA dan POKOKPOKOK PELAKSANAAN ANGGARAN Kebijakan Umum Fungsi DIPA DIPA KEBIJAKAN UMUM : 33 KEBIJAKAN UMUM Menyempurnakan manajemen Belanja Negara guna peningkatan efisiensi dan efektifitas pengelolaan Mencerminkan integritas dokumen anggaran masa lalu.(transparancy) Asas pemerikasaan keuangan 3. TAHAP PENGAWASAN Tahapan yang sifatnya memberi manfaat terhadap pengendalian pelaksanaan masing2 kegiatan.MenKeu nmr 337/KMK. sehingga dapat dilakukan perbaikan jika diketahui adanya kelainan dalam pelaksanaan. Kanwil DJPBN/KPPN 2.012/2003 Akuntabilitas dan keterbukaan dlm pengelolaan keuangan negara. TAHAP PENGESAHAN TAHAP PENGESAHAN Rencana Anggaran melalui pembahasan2 antara pemerintah dgn DPR stlh RUU APBN disampaikan oleh Presiden dgn pidato kenegaraan tgl 16 Agustus dlm bentuk NOTA KEUANGAN. Proses penganggaran mulai thn 2005 Penyampaian pagu sementara oleh MENKEU/DJAPK Usulan Anggaran Kementerian/Lembaga (Penyusunan RKA-KL)oleh Kementerian/Lembaga RKA-KL dibahas dibahas dgn Komisi terkait di DPR Penelaahan oleh DJAPK Penyempurnaan Nota Keuangan dan RKA-KL Disampaikan ke DPR dibahas dan ditetapkan menjadi lampiran APBN Penyusunan satuan anggaran/penyusunan rincian anggaran oleh DJAPK Penyusunan DIPA/SRAA oleh Kementerian/Lembaga Pengesahan DIPA oleh DJPBN/Kanwil DJPBN Pelaksanaan Anggaran oleh DJPBN. TAHAP PERTANGGUNGJAWABAN : 31 5. TAHAP PELAKSANAAN Pelaksanaan berpedoman pada DIPA dilakukan oleh masing2 Satker selama satu tahun dimulai tanggal 1 Januari hingga 31 Desember 4.

Desember 2004 Nama NIP Slide 42 : 42 DAFTAR ISIAN PELAKSANAAN ANGGARAN II. UMUM Nomor SP Kementerian Lembaga Unit Organisasi Propinsi Halaman IA.DIPA Kantor Pusat : 36 DIPA Kantor Pusat Pelaksanaannya dilakukan oleh Kantor Pusat Kementerian Negara/Lembaga Penelaahan dilakukan secara bersama Dit PA DJPBN dgn Kementerian Negar/Lembaga Menteri/Pimpinan Lembaga atau Pejabat yang ditunjuk menetapkan DIPA Direktur Jenderal Perbendaharaan atas nama Menteri Keuangan menetapkan Surat Pengesahan DIPA Kantor Daerah : 37 DIPA Kantor Daerah Pelaksanaannya dilakukan dilakukan oleh Kantor Daerah/Instansi Vertikal Kementerian Negara/ Lembaga. Hibah (1) Valuta Asing US $ Rp 3. PNBP Rp. b. Penelaahan dilakukan secara bersama antara Kanwil DJPBN dgn Kantor Daerah/Instansi Vertika Kementerian Negara/lembaga Kepala Kantor Daerah/Instansi Vertikal Kementerian Negara/lembaga atau pejabat ditunjuk menetapkan DIPA dan Kanwil DJPBN an Menteri Keuangan Menetapkan SP DIPA dlm rangka pelaksanaan Dekonsentrasi : 38 DIPA dlm rangka pelaksanaan Dekonsentrasi Pelaksanaannya dilimpahkan kpd Gubernur Penelaahan DIPA dilakukan secara bersama antara Kanwil DJPBN dgn Dinas terkait atas nama Gubernur Gubernur atau Kepala Dinas atau Pejabat yang ditunjuk menetapkan DIPA Kanwil DJPBN atas nama Menteri Keuangan menetapkan Surat Pengesagan (SP) DIPA DIPA dlm rangka pelaksanaan Tugas Pembantuan : 39 DIPA dlm rangka pelaksanaan Tugas Pembantuan Pelaksanannya ditugaskan kpd Gubernus/Bupati/ Walikota/Kepala Desa Penelaahan DIPA dilakukan secara bersama antara Dit.PA DJPBN dgn Kementerian Negara/ Lembaga terkait Menteri/Pimpinan Lembaga atau Pejabat yang ditunjuk menetapkan DIPA Direktur Jenderal Perbendaharaan atas nama Menteri Keuangan menetapkan SP DIPA Slide 40 : 40 DAFTAR ISIAN PELAKSANAAN ANGGARAN TAHUN ANGGARAN 2005 1A. RINCIAN PENGELUARAN (RIBUAN RUPIAH) Nomor SP Kementerian/Lembaga Unit Organisasi Propinsi Jakarta. Pinjaman/Hibah Luar Negeri (2) RPLN US $ Rp 2. Desember 2004 Halaman III AKUNTANSI KEUANGAN DAERAH SEBAGAI BAGIAN DARI MANAJEMEN KEUANGAN DAERAH By dhanialfitra AKUNTANSI KEUANGAN DAERAH SEBAGAI BAGIAN DARI MANAJEMEN KEUANGAN DAERAH . Rincian Pinjaman Hibah Luar Negeri Slide 41 : 41 Halaman II DAFTAR ISIAN PELAKSANAAN ANGGARAN II.1 Anggaran Tahun 2005 Rp Keterangan a. RINCIAN PENGELUARAN (RIBUAN RUPIAH) Nomor SP: Halaman ii Keterangan : 1 – Pegawai 2 – Barang 3 – Modal 4 – Bunga Hutang 5 – Subsidi 6 – Bantuan Sosial 7 – Hibah 8 – Lain-lain Jakarta. (2) RPLN US $ Rp 2. Rupiah Murni Rp. Pinjaman Luar Negeri (1) Valuta Asing US $ Rp 1.

Manajemen keuangan daerah merupakan alat untuk mengelola rumah tangga pemerintah daerah. Salah satu bagian dari manajemen keuangan daerah adalah akuntansi keuangan daerah. Akuntansi keuangan daerah merupakan salah satu bentuk tata usaha dalam manajemen keuangan daerah selain tata umum atau administrasi. Akuntansi keuangan daerah merupakan bagian dari akuntansi sektor publik. Tingkatan tertinggi dalam sektor publik adalah tingkatan negara. Manajemen atau pengelolaan keuangan daerah terdiri atas pengurusan umum dan pengurusan khusus. Pengurusan umum berkenaan dengan APBD, sedangkan pengurusan khusus berkenaan dengan barang-barang inventaris kekayaan daerah. Akuntansi keuangan daerah merupakan kegiatan akuntansi yang terdapat pada pengurusan APBD maupun pengurusan barang-barang inventaris kekayaan daerah. KEUANGAN NEGARA DAN RUANG LINGKUPNYA Keuangan Negara adalah semua hak dan kewajiban Negara yang dapat dinilai dengan uang, serta segala sesuatu baik berupa uang maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik Negara berhubung pelaksana hak dan kewajiban tersebut. Ruang lingkup keuangan Negara adalah semua unsur keuangan atau kekayaan yang menjadi tanggung jawab Negara. Ruang lingkup keuangan Negara dibagi menjadi dua yaitu yang dikelola langsung oleh pemerintah dan yang dipisahakan pengurusannya. Keuangan Negara yang dikelola langsung oleh pemerintah pusat adalah komponen keuangan Negara yang mencakup seluruh penerimaan dan pengeluarannya yang meliputi lembaga tertinggi Negara, lembaga tinggi Negara, departemen, lembaga non departemen, dan bagian anggaran pembiayaan dan perhitungan. Keuangan Negara yang dipisahkan pengurusannya adalah komponen keuangan Negara yang pengurusannya dipisahkan dan cara pengelolaannya berdasarkan hukum publik yang meliputi BUMN. Keuangan Negara diadministrasi melalui pengurusan keuangan Negara yang dibagi menjadi dua yaitu pengurusan umum (administrative) dan pengurusan khusus (bendaharawan). Pengurusan umum berisi hak penguasaan dilaksanakan oleh otorisator, sedangkan yang berisi hak memberikan perintah menagih dan membayar adalah ordonator. Otorisator adalah presiden sedangkan ordonator dipegang oleh menteri keuangan. Pengurusan khusus dilaksanakan oleh bendaharawan yang dibagi dua macam, yaitu : 1. Bendaharawan yang mengurus uang. Bendaharawan ini terdiri atas bendaharawan khusus dan bendaharawan umum. Bendaharawan umum mengurus penerimaan maupun pengeluaran Negara, sedangkan bendaharawan khusus mengurus penerimaan saja atau pengeluaran Negara saja. 2. Bendaharawan yang mengurus barang. APBN DAN APBD Anggaran adalah rencana kegiatan yang diwujudkan dalam bentuk finansial, meliputi usulan pengeluaran yang diperkirakan untuk suatu periode waktu tertentu, beserta cara-cara memenuhi pengeluaran tersebut. Karena APBN dan APBD merupakan inti keuangan (akuntansi) pemerintahan dalam era Pra reformasi dan selama era tersebut anggaran merupakan satu-satunya informasi keuangan yang dihasilkan pemerintah. APBN

APBN merupakan inti pengurusan umum , dan sebagai anggaran Negara yang selalu menyebutkan pengeluaran terlebih dahulu, baru penerimaan hal ini berbeda dengan anggaran perusahaan yang pada umumnya selalu mendahulukan penyusunan penerimaannya. Dalam arti sempit anggaran Negara berarti rencana pengeluaran dan penerimaan dalam satu tahun saja. Dalam arti luas anggaran Negara berarti jangka waktu perencanaan, pelaksanaan, dan pertanggungjawaban anggaran. Adapun fungsi dari anggaran Negara yaitu : 1. Sebagai pedoman bagi pemerintah dalam mengelola Negara untuk suatu periode di masa mendatang. 2. Sebagai alat pengawas bagi masyarakat terhadap kebijaksanaan yang telah dipilih pemerintah karena sebelum anggaran Negara dijalankan harus mendapat persetujuan DPR terlebih dahulu. 3. Sebagai alat pengawas bagi masyarakat terhadap kemampuan pemerintah dalam melaksanakan kebijaksanaan yang telah dipilihnya karena pada akhirnya anggaran harus dipertanggungjawabkan pelaksanaanya oleh pemerintah kepada DPR. Anggaran Negara memiliki suatu daur anggaran yaitu suatu proses anggaran yang terus menerus yang dimulai dari tahap penyusunan anggaran oleh yang berwenang. Daur anggaran Negara Republik Indonesia ada Lima tahap yaitu : 1. Penyusunan dan pengajuan Rancangan Anggaran (Rancangan Undang-Undang APBN) oleh Pemerintah Kepada DPR.
o

Berdasarkan UUD 1945 Pasal 23, tiap tahun APBN ditetapkan dengan UndangUndang.
o o

Bertanggungjawab dalam penyusunan anggaran adalah kekuasaan eksekutif. Proses penyusunan dan pengajuan Rancangan Undang-Undang APBN :

Penerbitan Surat EdaranMenteri Keuangan yang berisi permintaan sumbangan anggaran dalam bentuk Daftar Usulan Kegiatan (DUK) belanja rutin dan Daftar Usulan Proyek (DUP) untuk belanja pembangunan.

DUK dan DUP masing-masing departemen/lembaga disampaikan kepada Direktorat Jenderal Anggaran (DJA) Depkeu. DUP juga disampaikan ke Bappenas.

DUK dibahas di DJA, DUP dibahas di DJA dan Bappenas.

Pembuatan Rancangan Anggaran oleh Menteri Keuangan dengan melibatkan Gubernur Bank Sentral dan Menteri-menteri yang lain dalam tingkat dewan moneter.

Penyusunan Nota Keuangan oleh Depkeu yang berisi antara lain:
o o

Kebijakan fiscal dan moneter

Perkembangan harga-harga, gaji, dan upah

o

Taksiran penerimaan dan pengeluaran Negara untuk tahun mendatang
o 

Jumlah uang yang beredar

Inspektorat Jendral Departemen/Lembaga.

Inspektorat Wilayah Provinsi.

Inspektorat Wilayah Kabupaten/Kotamadya yang bersifat sektoral.

BPKP

1. Pembahasan dan persetujuan DPR atas RUU-APBN dan penetapan undang-undang APBN.
o

Sebelum tahun anggaran baru dimulai, pemerintah menyampaikan Rancangan Undang-undang APBN, nota keuangan, dan perincian lebih lanjut kepada DPR, jika di setujui maka RUU tersebut disahkan menjadi undang-undang dan jika tidak mengggunakan undang-undang tahun lalu (Pasal 23 ayat (1) UUD 1945). Undang-undang APBN mewajibkan pemerintah menyusun laporan realisasi pada pertangan tahun anggaran berikut prognosa 6 bulan berikutnya. Penyusunan perhitungan dan pelaksanaan APBN akan diperiksa dan disampaikan selambat-lambatnya 2 tahun

o

o

2. Pelaksanaan anggaran, akuntansi, dan pelaporan keuangan oleh pemerintah.
o

Kepres perincian lebih lanjut yang dipakai sebagai dasar pelaksaan anggaran oleh pemerintah. Daftar isian kegiatan, daftar isian proyek, dan surat keputusan otorisasi(DIK, DIP, dan SKO) merupakan dokumen dasar pelaksanaan anggaran. Ketiganya merupakan kredit anggaran Setelah DIK diterima oleh kepala kantor dan DIP oleh pimpinan proyek /bendaharawan proyek, maka bisa diajukan Surat Permintaan Pembayaran (SPP) baik SPPR (Rutin) dan SPPP (Pembangunan) ke Kantor Perbendaharaan dan Keuangan Negara (KPKN).
o

o

o

KPKN menerbitkan Surat Perintah Membayar (SPM), SPM-DU digunakan untuk kas kecil, dana awal, sedangkan SPM-GU untuk pengisian kembali kas kecil, SPM-LS digunakan untuk pengeluaran diatas Rp10.000.0000.00, diuangkan ke KPKN. DIK dan DIP ini disebut sebagai otorisasi kredit anggaran (dana anggaran) yang disebut allotment.
o

o

DIK diterbitkan perbagian anggaran, sedangkan DIP diterbitkan perproyek/ bagian proyek.

3. o Perhitungan anggaran (pelaksanaan anggaran) dibuat oleh pemerintah untuk diperiksa oleh Bapeka. o Pengawasan fungsional dapat dilakukan oleh : • Kepala kantor/pemimpin proyek/bendaharawan harus menyampaikan Laporan Keadaan Kredit Anggaran(LKKA) dan Laporan Keadaan Kas (LKK). Pemeriksaan pelaksanaan anggaran dan akuntansi oleh aparat pengawasan fungsional. 1. Pembahasan dan persetujuan DPR atas Perhitungan Anggaran Negara (PAN) dan penetapan undang-undang PAN. bentuk dan susunan APBD mengalami perubahan 2 kali. 2. Periode anggaran.3. beserta uraian dan rinciannya. 4. o o Jumlah penerimaan dan pengeluaran Neagara dalam 1 tahun. Line item atau pendekatan tradisional yang dipakai dalam penyusunan anggaran. Adanya sumber penerimaan yang merupakan target minimal untuk memenuhi biayabiaya sehubungan dengan aktivitas-aktivas tersebut. biasanya 1 tahun. Penyusunan dan penetapan perhitungan APBD merupakan pertanggungjawaban APBD . Karakteristik APBD di era reformasi antara lain : 1. 2. Rencana kegiatan suatu daerah. Jenis proyek yang dituangkan dalam bentuk angka. yaitu realisasi penerimaan dikurangi realisasi pengeluaran. o Pengawasan dilakukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (Bapeka). o Perincian SAL/SAK. Perhitungan anggaran disampaikan ke DPR selambatlambatnya 18 bulan setelah tahun anggaran. Di era pra reformasi. SAL/SAK. APBD disusun oleh DPRD bersama Kepala Daerah (Pasal30 UU No 5/1975). PAN disusun atas Perhitungan Anggaran. 3. Pertanggungjawaban pemerintah tersebut sebagai Perhitungan Anggaran Negara (PAN). o o Isi PAN : Pembukuan APBN menggunakan basis kas (Pasal 1 Kepres Nomer 16 Tahun 1994 tentang pelaksanaan APBN) APBD Adalah suatu anggaran daerah yang memiliki beberapa unsur yaitu : 1.

Tata usaha umum menyangkut kegiatan surat menyurat.kepada Menteri dalam Negeri. dan hak untuk penerimaan lain. DAN AKUNTANSI KEUANGAN DAERAH Keuangan daerah dapat diartikan sebagai : “semua hak dan kewajiban yang dapat dinilai dengan uang. . tata usaha keuangan daerah tersebut tidak memadai sebagai penghasil informasi yang dikehendaki oleh PP nomor 105 tahun 2000 dan Kepmendagri nomor 29 tahun 2002. manajemen keuangan daerah adalah pengorganisasian dan pengelolaan sumber-sumber daya atau kekayaan yang ada pada suatu daerah untuk mencapai tujuan. Pengawasan pengeluaran daerah berdasar tiga unsur yaitu unsure ketaatan pada peratura perundangan. dan pengawasan pengeluaran daerah. menyimpan surat-surat penting. Tata usaha keuangan daerah dibagi menjadi dua golongan. retribusi daerah. MANAJEMEN KEUANGAN DAERAH. Jadi. biaya. kehematan dan keefisiensi. mengagenda. Alat untuk melaksanakan manajemen keuangan daerah disebut dengan tata usaha daerah. Sistem akuntansi keuangan daerah menggunakan stelsel cameral (tata buku anggaran) bukannya stelsel komersial (tata buku kembar berpasangan). Hal ini dikarenakan karena adanya : o o Keharusan membuat laporan aliran kas dan neraca Tuntutan pembuatan anggaran kinerja yang memerlukan informasi keuangan lebih detail o Keharusan penerapan pusat pertanggungjawaban yang menuntut adanya informasi mengenai pendapatan. 4. yaitu : tata usaha umum dan tata usaha keuangan. • • • Sedangkan semua kewajiban adalah kewajiban untuk mengeluarkan uang untuk membayar tagihan-tagihan kepada daerah Keuangan daerah dikelola melalui manajemen keuangan daerah. 6. • Di era informasi keuangan daerah ini. Tata usaha keuangan inilah yang disebut akuntansi keuangan daerah. Pengawasa APBD berdasar objek pendapatan daerah. Tata usaha keuangan adalah tata buku yang merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan secara sistematis di bidang keuangan berdasar prinsip dan standar-standar tertentu sehingga dapat memberikan informasi aktual di bidang keuangan. mengekspedisi. dan hasil program (untuk proyek-proyek daerah). dan investasi. KEUANGAN DAERAH. 5. tujuan pembukuan keuangan daerah pada era tersebut adalah pembukuan pendapatan. baik berupa uang ataupun barang yang dapat dijadikan sebagai kekayaan daerah sepanjang belum dimiliki oleh Negara atau daerah yang lebih tinggi serta pihak-pihak lain yang sesuai dengan ketentuan dan perundangan yang berlaku” Yang dimaksud dengan semua hak adalah hak untuk memungut sumber-sumber penerimaan daerah seperti pajak daerah. hasil perusahaan milik daerah.

yang dalam tulisan ini fokus pada manajemen keuangan pemerintah. KEDUDUKAN AKUNTANSI KEUANGAN DAERAH DI DALAM MANAJEMEN KEUANGAN DAERAH Salah satu pengertian manajemen keuangan daerah adalah definisi manajemen keuangan daerah sebagai usaha-usaha yang dilakukan manajer. dan terbatasnya sumberdaya keuangan pemerintah di sisi lain. dalam membelanjakan dana yang dimiliki daerah sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik daerah tersebut dan dalam mendapatkan dana yang dibutuhkan untuk membiayai pengeluaran tersebut.go. . Adanya manajemen keuangan pemerintah yang baik akan menjamin tercapainya tujuan pembangunan secara khusus. Walapun informasi yang disampaikan tidak cukup komprehensif.bappenas. Pendahuluan Manajemen keuangan pemerintah merupakan salah satu kunci penentu keberhasilan pembangunan dan penyelenggaraan pemerintahan dalam kerangka nation and state building. Alat ini terbagi menjadi dua kelompok yakni tata usaha umum dan tata usaha keuangan. namun menurut hemat kami isu tersebut masih cukup aktual. langkah-langkah strategis dalam konteks penciptaan. dan tujuan berbangsa dan bernegara secara umum. Karenanya. Kedudukan akuntansi keuangan daerah didalam manajemen keuangan daerah yaitu tata usaha merupakan alat untuk melaksanakan manajemen keuangan daerah.id/get-fileserver/node/2965/. yang salah satunya adalah “mempercepat reformasi”. Munculnya perhatian yang besar akan pentingnya manajemen keuangan pemerintah dilatarbelakangi oleh banyaknya tuntutan. pencapaian efektivitas dan efisiensi keuangan pemerintah semakin mengemuka untuk diperjuangkan perwujudnya. pengembangan. yakni pemerintah daerah. Berikut ini adalah versi HTML dari berkas http://www. G o o g l e membuat versi HTML dari dokumen tersebut secara otomatis pada saat menelusuri web. Dengan demikian. kebutuhan atau aspirasi yang harus diakomodasi di satu sisi. dan penegakan sistem manajemen keuangan yang baik merupakan tuntutan sekaligus kebutuhan yang semakin tak terelakkan dalam dinamika pemerintahan dan pembangunan. Akuntansi keuangan daerah sering disebut sebagai tata usaha keuangan.o Keharusan mengelola asset daerah dengan lebih baik. REFORMASI MANAJEMEN KEUANGAN PEMERINTAH : SEBUAH TINJAUAN Awan Setiawan *) Pengantar Tulisan ini diharapakan dapat menjadi input bagi para perencana di Bappenas khususnya dalam pelaksanaan 3 (tiga) agenda Repenas Transisi. terutama mendorong Reposisi Bappenas dan kembali kepada track yang benar.

maka artikel ini menempatkan reformasi perbendaharaan dan reformasi di bidang auditing sebagai agenda yang mendesak. Beberapa nilai yang relevan dan urgen untuk diperjuangkan adalah antara lain transparansi. antara lain. dan (4) adanya lembaga pemeriksa eksternal yang kuat. (3) pemberdayaan manajer profesional. sehingga muncul kerangka kerja baru dengan nama “Anggaran Berbasis Kinerja (Performance Budget)” yang pada saat ini sedang diujicobakan pelaksasanaannya dan diharapkan dimulai pada tahun anggaran 2005. Kondisi ini disertai oleh rendahnya akuntabilitas para pejabat pemerintah dalam mengelola keuangan publik. dan mandiri serta dihindarinya duplikasi dalam pelaksanaan pemeriksaan (double accounting). menginkorporasi. Nasution berjudul “Reformasi Manajemen Keuangan Pemerintah” (Jurnal Forum Inovasi. (2) keterbukaan dan setiap transaksi keuangan pemerintah. Yang selama ini sudah dilakukan adalah dengan membahas RUU Keuangan Negara yang sudah diundangkan DPR pada tanggal 9 Maret 2003 lalu (jadi setelah artikel ini ditulis) menjadi UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. manajemen keuangan pemerintah tidak saja harus didasarkan pada prinsip-prinsip good governance. Persoalan ketiga yang menuntut dilakukannya reformasi manajemen keuangan pemerintah . yaitu (1) akuntabilitas berdasarkan hasil atau kinerja. Desember – Februari 2003). dalam penilaian penulis ini. Persoalan-persoalan dimaksud antara lain : Pertama. Urgensi Pentingnya reformasi keuangan pemerintah dengan beberapa bidang di atas sebagai fokusnya. terdapat pula tuntutan yang semakin aksentuatif untuk mengakomodasi. Berdasarkan keempat prinsip tersebut. pemerintah Indonesia sebenarnya sudah memberi perhatian yang sungguh-sungguh untuk mengakomodasi dan mewujudkan harapan dan tuntutan di atas. Juga harus dilakukan analisis biayamanfaat (cost and benefit analysis) sehingga kegiatan yang dijalankan tidak saja sesuai dengan skala prioritas tetapi juga mendatangkan tingkat keuntungan atau manfaat tertentu bagi publik. serta partisipasi masyarakat dalam proses pengelolaan keuangan dimaksud. rendahnya efektivitas dan efisiensi penggunaan keuangan pemerintah akibat maraknya irasionalitas pembiayaan kegiatan negara.Dalam upaya perwujudan manajemen keuangan pemerintah yang baik. tidak adanya skala prioritas yang terumuskan secara tegas dalam proses pengelolaan keuangan negara yang menimbulkan pemborosan sumber daya publik. akuntabilitas. Selama ini. Dalam konteks yang lebih visioner. Sebagaimana dibahas dalam artikel Mulia P. muncul tuntutan yang meluas untuk menerapkan sistem anggaran berbasis kinerja. tetapi harus diarahkan untuk mewujudkan nilai-nilai dimaksud. dilatarbelakangi oleh beberapa pertimbangan strategis yang terutama diwakili oleh luasnya skala persoalan yang harus diatasi. Upaya mewujudkan manajemen keuangan pemerintah yang baik. Karenanya. profesional. hampir tidak ada upaya untuk menetapkan skala prioritas anggaran di mana ada keterpaduan antara rencana kegiatan dengan kapasitas sumber daya yang dimiliki. Kedua. diperjuangkan dengan memperhatikan prinsip dan nilai-nilai good governance. bahkan mengedepankan nilai-nilai good governance. disamping nilai-nilai efektivitas dan efisiensi tentu saja. Terdapat 4 prinsip dasar pengelolaan keuangan negara yang menjadi fokus perhatian utama dalam UU ini.

mendelegasikan wewenang penganggaran dan perencanaan yang begitu besar kepada Departemen Keuangan sama halnya dengan memberi “cek kosong” kepada lembaga tersebut. Argumentasi ini dilatarbelakangi oleh pertimbangan bahwa. termasuk pengelolaan keuangan di dalamnya. Jarang ditemukan ada manajer yang profesional dalam sektor publik. Pembagian yang demikian sangat menarik untuk dibahas sejalan dengan munculnya kontroversi yang luas pasca diundangkannya UU Nomor 17 Tahun 2003. Menteri Keuangan dan Departemen Keuangan sudah saaatnya diberi kewenangan yang lebih luas. Argumentasi yang demikian dilatarbelakangi oleh pertimbangan bahwa badan yang mengelola anggaran seharusnya dilibatkan secara aktif untuk turut menentukan perencanaan pembangunan. misalnya sebagai akibat adanya praktek KKN. dan economic of scale menjadi kerangka kerja utamanya. artikel ini sampai pada beberapa rekomendasi strategis yang pada intinya ingin mengembalikan manajemen keuangan pemerintah dalam bentuk anggaran sebagai alat akuntabilitas. pertama. Sedangkan kewenangan kebendaharaan meliputi tidak boleh secara sempit ditafsirkan sebagai sekedar fungsi kasir untuk membayarkan tagihan atau mengelola penerimaan. Bahkan terdapat negasi yang tegas untuk memasukkan kerangka kerja sektor swasta ke dalam sektor publik di mana nilai-nilai akuntabilitas. 24 Maret 2003. profesionalisme. penyerahan mandat absolut kepada Departemen Keuangan jelas sangat bertentangan dengan prinsip pemerintahan . Keempat dan terakhir adalah rendahnya profesionalisme aparat pemerintah dalam mengelola anggaran publik. pengawas. Kewenangan administratif meliputi otoritas untuk melakukan perikatan (kontrak) atau tindakan-tindakan lain yang mengakibatkan terjadinya penerimaan atau pengeluaran negara serta perintah untuk melakukan pembayaran atau menagih penerimaan yang timbul sebagai konsekuensi dari suatu perikatan. Dinamika pemerintah.adalah terjadinya begitu banyak kebocoran dan penyimpangan. Dengan memperhatikan beberapa patologi tersebut. ada sinergi dan rasionalitas yang tinggi antara rencana kegiatan yang diusulkan dengan kapasitas anggaran yang tersedia. tetapi juga meliputi otoritas untuk meneliti kebenaran penerimaan dan pengeluaran tersebut. tidak dikelola secara profesional sebagaimana dijumpai dalam manajemen sektor swasta. Menteri Keuangan bertindak sebagai kasir. sekaligus sebagai fund manager. sementara kewenangan kebendaharaan berada di tangan Menteri Keuangan. Dalam penilaian penulis ini kewenangan administratif seyogyanya berada dan diatur oleh masing-masing departemen/lembaga pemerintah. Koran Tempo 27 Maret 2003). manajemen dan kebijakan ekonomi yang sehat. Dalam konteks ini. Bagi mereka. tidak saja untuk mengelola keuangan negara an sich tetapi juga melakukan verifikasi atas penerimaan dan pengeluaran tersebut serta otoritas di bidang perencanaan yang secara langsung maupun tidak langsung akan menghapus – atau tepatnya mengurangi – peran dan fungsi Bappenas serta keberadaan BUMN lainnya (Kontan. 15 April 2003. Bagi mereka yang pro dengan UU tersebut. Sementara itu muncul juga kelompok kedua yang menentang diberlakukannya UU ini. transparansi. Dengan demikian. Menarik dari pembahasan penulis ini adalah adanya upaya untuk memisahkan secara tegas antara kewenangan administratif dan kewenangan kebendaharaan. Republika. Inilah merupakan sindrom klasik yang senantiasa menggerogoti negara-negara yang ditandai oleh superioritas pemerintah.

Jika BPKP sebagai state auditor masih terbelit pada berbagai masalah. Ini merupakan lembaga pemeriksa independen yang berasal dari luar pemerintah semisal konsultankonsultan akuntansi publik yang kini banyak berkembang. para pejabat maupun publik yang terbukti merugikan keuangan negara diwajibkan untuk mengganti kerugian dimaksud (Pasal 35 Ayat 1). yang berhasil membongkar kroni Soeharto. Misalnya ada ketentuan untuk membatasi defisit anggaran sebesar maksimum 60% dari PDB dan dalam penyusunan APBD. Departemen Keuangan diidentifikasi sebagai salah satu pusat masalah dalam pengelolaan anggaran di Indonesia sehingga sangat tidak bijak untuk mendelegasikan wewenang yang besar kepada sebuah lembaga yang memang bermasalah (Forum Indonesia Raya. terutama transparansi dan akuntabilitas. walaupun tidak sedikit juga yang luput dari pengawasan. UU tersebut sebenarnya ingin mengintroduksi sebuah kerangka kerja baru yang bersemangatkan nilai-nilai good governance. penyelewengan. Muncul penilaian bahwa BPKP adalah bagian dari masalah (a part of the problem). Semangat baru yang dikedepankan oleh UU ini adalah adanya pengawasan yang semakin meningkat dimana diamanatkan bahwa laporan kepada badan Pemeriksa Keuangan (BPK) harus diajukan selambat-lambatnya 6 bulan setelah tahun anggaran berakhir. 6 Mei 2003). atau korupsi termasuk kewajiban untuk mengganti kerugian atas keuangan negara (Sinar Harapan. Lembaga-lembaga semacam . fungsi tersebut dijalankan oleh BPKP sebagai state auditor. yaitu perlunya upaya untuk mengefektifkan fungsi pengawasan dan pemeriksaan pengelolaan keuangan negara. maka salah satu alternatif yang bisa ditempuh adalah dengan mendayagunakan independent external auditor. UU ini berusaha mendorong terwujudnya suatu kerangka hukum yang jelas tentang tata cara pengelolaan keuangan negara yang bersih dari korupsi. Sebut saja apa yang dilakukan Anderson Counsultant. UU tersebut sekaligus mengganti pedoman pelaksanaan keuangan negara yang masih merupakan warisan Hindia Belanda. UU tersebut secara langsung telah mempreteli hak prerogatif presiden dalam melakukan reorganisasi dan restrukturisasi Kementerian Negara. penyelewengan. Demikian juga. yaitu ICW Stbl 1925 Nomor 448. Pembenahan internal dalam tubuh BPKP mutlak dilakukan karena lembaga yang dianggapa sebagai benteng terakhir dalam manajemen keuangan negara ini juga tidak lepas dari masalah. Terlepas dari pro dan kontra di atas. Lembaga ini diberi kewenangan untuk melakukan verifikasi atas semua pos penerimaan dan pengeluaran pembangunan negara yang dilakukan setiap akhir tahun anggaran. sebuah perusahaan konsultan internasional. atau penyimpangan. Banyak contoh yang memperlihatkan bagaimana kiprah dan kontribusi positif lembaga-lembaga tersebut dalam menyelematkan keuangan negara.yang baik (good governance). Demikian halnya dengan kemungkinan untuk menuntut bendahara negara secara pribadi yang terbukti melakukan kelalaian. terutama efektivitas dan efisiensi walaupun kurang memberikan garansi bagi terwujudnya akuntabilitas dan transparansi karena absennya mekanisme check and balance. ada juga langkah maju – walaupun masih pada tataran wacana – yang sedang diupayakan dan menjadi kesepakatan semua pihak. Selain nilai-nilai yang diperjuangkan melalui UU di atas. Adanya wewenang perencanaan dan penganggaran pada satu lembaga akan menyebabkan tidak bekerjanya mekanisme check and balance. Selama ini. 2003). dan kedua. Banyak temuan yang berhasil menyelamatkan sumberdaya negara. dan ketiga. defisit anggaran tidak boleh melebihi 3% dan utang tidak boleh melebihi 60% dari PDRB. Lembaga itu tidak jarang terlibat dalam konspirasi dengan pihak kedua yang sangat merugikan keuangan negara.

dan parktek-praktek manipulatif lainnya kini sudah semakin merebak di daerah. Di atas semua itu. jika tidak didukung oleh kapasitas dan moral pejabat yang baik maka kebijakan tersebut tidak akan banyak bermanfaat. mengingat masalah kebendaharaan dan auditing dilihat sebagai dua titik terlemah dalam manajemen keuangan pemerintah. maka langkah-langkah reformasi harus diarahkan untuk mengatasi permasalahan tersebut.itu bisa dipekerjakan untuk menopangan kinerja keuangan pemerintah. Apa yang telah dipaparkan di atas tidak hanya menjadi pekerjaan rumah pemerintah pusat. sekali lagi. Gejala-gejala KKN dalam manajemen keuangan daerah. reformasi manajemen keuangan pemerintah perlu juga dilaksanakan oleh pemerintah daerah. serta banyaknya penyimpangan atau penyalahgunaan. proses tender yang tidak terbuka. Pemberdayaan kapasitas aparat tersebut. Hanya jika terdapat SDM yang memiliki integritas dan moral yang tinggi serta kemampuan manajerial dan operasional yang tinggi baru langkah-langkah reformasi keuangan pemerintah yang telah dirumuskan dalam berbagai paket kebijakan tersebut berhasil diimplementasikan. Pertama. Bagaimanapun idealnya sebuah aransemen kebijakan. Muncul pula keluhan bahwa implementasi otonomi daerah hanya memindahkan borok permasalah dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah justru ketika masyaraklat semakin mengharapkan kondisi kehidupan dan kesejahteraan yang semakin baik. Untuk masalah kebendaharaan. tidak hanya terbatas pada aparat di pusat tetapi juga aparat daerah. baik yang berwenang mengelola keuangan negara maupun pejabat yang menggunakannya. Ketiga. dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut. langkah-langkah reformasi keuangan pemerintah sangat diperlukan mengingat banyaknya persoalan yang berkembang pada sektor itu seperti rendahnya tingkat efektivitas dan efisiensi pemanfaatan anggaran. Fasilitasi yang dilakukan oleh World Bank bekerjasama dengan Bappenas. dan Departemen Keuangan RI dalam skema program Initiatives for Local Governance Reform (ILGR) adalah dalam kerangka penegakan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara itu. irasionalitas dalam pengelolaan. sangat mendesak dilakukan karena diidentifikasi bahwa salah satu persoalan yang menimbulkan kesemrawutan pengelolaan keuangan pemerintah terletak pada rendahnya kapasitas aparat. tulisan singkat ini juga memberikan perhatian khusus pada penegakan integritas dan profesionalisme SDM aparat pelaksana. Bahkan reformasi keuangan pemerintah daerah semakin mendesak dilakukan mengingat masih terbatasnya kemampuan manajemen keuangan di kalangan pemerintah daerah di satu sisi. Departemen Dalam Negeri. Langkah-langkah capacity building untuk peningkatan profesionalisme aparat pelaksana. Kesimpulan Dari beberapa poin yang disampaikan di atas. langkah reformasi bisa . Kedua. langkah-langkah reformasi keuangan pemerintah harus dituntun oleh dan diarahkan menuju terwujudnya nilai-nilai good governance yang dilakukan secara serentak baik di pusat maupun daerah. dan semakin banyaknya anggaran pembangunan dan pelayanan publik yang mengalir ke daerah menyusul implementasi otonomi daerah di sisi lain. Bersamaan implementasi otonomi daerah.

Kedudukannya sangat krusial dan strategis karena ia dipandang sebagai “bahan bakarnya” pendidikan. sesuai dengan Undang-undang No. Keuangan Negara dapat diartikan juga sebagai suatu bentuk kekayaan pemerintah yang diperoleh dari penerimaan. diperlukan satu langkah lagi yang sangat menentukan yaitu peningkatan kapasitas aparat.dilakukan dengan menegakkan sistem check and balance di mana ada pembagian peran yang jelas antara Departemen Keuangan dan departemen teknis lainnya. di luar berbagai paket kebijakan yang sudah bagus. kebijakan fiscal. Pengertian Keuangan Negara Keuangan Negara adalah hak dan kewajiban yang dapat dinilai dengan uang dan segala sesuatu baik berupa uang maupun barang dapat dijadikan “hak milik negara”. atau bisa berupa pengeluaran pemerintah. Kunci keberhasilan reformasi manajemen keuangan daerah tidak hanya terletak pada kebijakan yang didesain dengan baik tetapi juga pada SDM yang akan mengimplementasikan KEUANGAN NEGARA Manajemen keuangan adalah salah satu substansi proble manajemen pendidikan. pinjaman pemerintah. Sumber-sumber keuangan dalam manajemen keuangan di sekolah meliputi: (1) pemerintah pusat atau negara. (4) dana masyarakat atau orang tua peserta didik. 17 tahun 1965 penjelasan pada lembaran Negara No 1776 dijelaskan bahwa A. (3)sumbanagnh dan pembiayaan pendidikan. dan kebijakan moneter. memang tidak bisa lepas dari masalah keuangan Negara. B. 2002) Membicarakan keuangan sekolah. penerimaan negara . (2)pemerintah kabupaten/kota. baik yang berhubungan langsung dengan pengelolaan anggaran maupun tidak langsung. membutuhkan kucuran sumber daya keuangan.atau sumber lain yang tidak bertentangna dengan peraturan perundang-undangan. Ruang lingkup keuangan Negara meliputi: 1. hutang. Keempat. (5)sumber lainnya seperti hibaha. Yang berarti bahwa hampir semua bentuk layanan pendidikan. Pembagian kerja dimaksud tetap harus diarahkan pada perwujudan efisiensi dan efektivitas pengelolaan anggaran di samping adanya jaminan transparansi dan akuntabilitas. (6) yayasana/penylenggara sekolah swasta yang lazimnya menyediakan anggaran rutin operasional SD swasta (Depdiknas.

pinjamana kepada negara maupun pinjaman kepada oraganisasi-organisasi negara 2. Pinjaman pada masyarakat 6. Hadiah hadiah. perusahaan-perusahaan baik PMA Maupun PMDN 2. Keuntungan dari perusahan-perusahan. Cukai 8. Penerimaan keuangan Negara meliputi. meliputi:BUMN. Menciptakan uang baru 4. Pengeluaran keuangan Negara meliputi: Pengeluaran pemerintah menyangkut seluruh pengeluaran untuk membiayai program-program/kegiatan – kegiatan dimana pengeluaran-pengeluaran itu ditujukan pencapaian kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan .2. Kebijakan fiscal dan kebijakan keuangan internasional dan mengelola hutang pemerintah 1. Keuangan Negara yang berasal dari dalam negeri. Pajak 3. Pengeluaran Negara untuk kemakmuran masyarakat meliputi. Pinjaman-pinjaman biak. pengeluaran negara 3. Retribusi 2. Pengeluaran dengan menggunakan uang inilah yng dimaksud pengeluaran pemerintah. . baik dalam melaksanakan tugas-tugasnya untuk kemakmuran masyarakat dengan menggunakan uang. 1. rampasan perang 2. Kegiatan-kegiatan dari segi pengeluaran ini dilakukan dengan menggunakan sejumlah resources dan product. 1. Denda-denda 7. hutang dan pinjaman negara 4. Keuangan Negara yang berasal dari luar negeri 1. Meminjam pada bank 5. kebijakan keuangan yang terdiri dari kebijakan moneter.

Cara menyusun RAPBN. RAPBN disusun berdasarkan kebutuhan negara. Kegiatan-kegiatan dari segi pengeluaran ini dilakukan dengan menggunakan sejumlah resources dan product. Pengeluaran untuk kesejahteraan masyarakat 3. Pengeluaran untuk bunga modal anggaran. Keadaan sumber-sumber yang berhubungan dengan tenaga dan bahan-bahan yang berasal dari luar. Pengeluran untuk pemanfaatan sumber-sumber alam 5. 4. Pengeluaran untuk pengagkutan dan komunikasi C. Harus diperhatikan terhadap pelaksanaan anggaran pada tahun yang dan juga tahun anggaran yang sedang berjalan karena kemungkinan ada anggaran-anggaran yang tidak mungkin dilaksanakan Apabila rencana anggaran telah selesai dibuat maka usulan rencana anggaran tersebut disampaikan kepda DPR unutk dipelajari diolah dan mungkin perubhan-perubahan dalam prosesnya.1. D. Kebijakan keuangan Negara Pengeluaran pemerintah menyangkut seluruh pengeluaran untuk membiayai programproram/ kegiatan – kegiatan dimana pengeluaaran-pengeluaran itu ditujukan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat. Pengeluaran dengan menggunakan uang inilah yang dimaksud . 6. Penerimaan keuangan negara 2. Pengeluaran untuk keamanan dan pertahanan. 4. baik dalam melaksanakan tugas-tugasnya untuk kemakmuran masyarakat dengan menggunakan uang. Setiap penyusunan anggaran perlu diperhatikan dan dipelajari unsure-unsur beberpa jauh usahausaha tersebut dpat dilaksanakan dalam tahun anggaran. Yang perlu diperhatikan dalam penyusunan RAPBN adalah 1. RAPBN disusun oleh menteri keuanagan pada tiap tahun anggran. Kemampuan akan sumber-sumber atau factor-faktor produksi yang tersedia di dalam negeri 3. Pengeluaran untuk pendidikan 2.

dan dari mana diperolehnya dana. penguasaan. Sisi pendapatan berisi macam. Pengelolaan keuangan negara mencakup keseluruhan kegiatan perencanaan. transparan. dan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD setiap tahun ditetapkan dengan Peraturan Daerah (4) APBN/APBD mempunyai fungsi otorisasi. yang berkaitan dengan pendapatan dan pengeluaran uang. taat pada peraturan perundang-undangan. Kebijakan-kebijakan negara meliputi: 1. transparan. perencanaan. . Kebijakan fiskal ini tercermin dalam anggaran. dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan. jumlah dana ke sektor mana dana harus dikeluarkan. efisien. (2) APBN.pengeluaran negara. ekonomis. taat pada peraturan perundang-undangan. dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan Setiap penyelenggara negara wajib mengelola keuangan negara secara tertib. sedangkan sisi belanja berisi macam. yang di Indonesia dinamakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk lingkupan nasional. Sedangkan untuk lingkupan daerah dinamakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). yakni sisi pendapatan (reveues) dan pengeluaran/belanja (expenditures). efisien. efektif. jumlah. dan pertanggungjawaban pelaksanaan APBN setiap tahun ditetapkan dengan undang-undang (3) APBD. 2. efektif. alokasi. Dari namanya itu dapat diketahui bahwa anggaran mempunyai 2 sisi. ekonomis. Kebijakan Fiskal Kebijakan fiskal adalah tindakan kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah. penggunaan. dan pertanggung-jawaban. pengawasan. perubahan APBN. pengawasan. Kebijakan ini erat hubungannya dengan kebijakan moneter karena yang satu saling mempengaruhi yang lain. Kebijakan moneter Kebijakan moneter adalah tindakan kebijakan yang berhubungan dengan jumlah uang yang beredar di masyarakat. perubahan APBD. Keuangan Negara Bab I Ketentuan Umum Pasal 3 menyebutkan poin-poin yang menjadi ketentuan umum keuangan negara sebagai berikut: (1) Keuangan negara dikelola secara tertib.

(Pasal 5) Dalam rangka mendukung terwujudnya good governance dalam penyelenggaraan negara. Fungsi alokasi mengandung arti bahwa anggaran negara harus diarahkan untuk mengurangi pengangguran dan pemborosan sumber daya. Fungsi stabilisasi mengandung arti bahwa anggaran pemerintah menjadi alat untuk memelihara dan mengupayakan keseimbangan fundamental perekonomian. Sesuai dengan amanat Pasal 23C Undang-Undang Dasar 1945. dan stabilisasi Fungsi otorisasi mengandung arti bahwa anggaran negara menjadi dasar untuk melaksanakan pendapatan dan belanja pada tahun yang bersangkutan. Selanjutnya. (8) Penggunaan surplus penerimaan negara/daerah sebagaimana dimaksud dalam ayat (7) untuk membentuk dana cadangan atau penyertaan pada Perusahaan Negara/Daerah harus memperoleh persetujuan terlebih dahulu dari DPR/DPRD. pengelolaan keuangan negara perlu diselenggarakan secara profesional. terbuka. (5) Semua penerimaan yang menjadi hak dan pengeluaran yang menjadi kewajiban negara dalam tahun anggaran yang bersangkutan harus dimasukkan dalam APBN (6) Semua penerimaan yang menjadi hak dan pengeluaran yang menjadi kewajiban daerah dalam tahun anggaran yang bersangkutan harus dimasukkan dalam APBD. Fungsi perencanaan mengandung arti bahwa anggaran negara menjadi pedoman bagi manajemen dalam merencanakan kegiatan pada tahun yang bersangkutan.distribusi. penetapan. Satuan hitung dalam penyusunan.ngan ketentuan perundanganundangan yang berlaku. Fungsi distribusi mengandung arti bahwa kebijakan anggaran negara harus memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan. Pasal 4 dan Pasal 5 mengatur hal-hal sebagai berikut: • • Tahun Anggaran meliputi masa satu tahun. sedangkan penggunaan mata uang lain dalam pelaksanaan APBN/APBD diatur oleh Menteri Keuangan sesuai de. Undang-undang tentang . dan bertanggung jawab sesuai dengan aturan pokok yang telah ditetapkan dalam Undang-Undang Dasar. mulai dari tanggal 1 Januari sampai dengan tanggal 31 Desember (Pasal 4). dan pertanggungjawaban APBN/APBD adalah mata uang Rupiah. (7) Surplus penerimaan negara/daerah dapat digunakan untuk membiayai pengeluaran negara/daerah tahun anggaran berikutnya. Fungsi pengawasan mengandung arti bahwa anggaran negara menjadi pedoman untuk menilai apakah kegiatan penyelenggaraan pemerintahan negara sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas perekonomian.

tetapi juga dimaksudkan untuk memperkokoh landasan pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah di Negara Kesatuan Republik Indonesia. seperti asas tahunan. asas kesatuan. Dengan dianutnya asas-asas umum tersebut di dalam undang-undang tentang keuangan negara.Keuangan Negara perlu menjabarkan aturan pokok yang telah ditetapkan dalam Undang-Undang Dasar tersebut ke dalam asas-asas umum yang meliputi baik asas-asas yang telah lama dikenal dalam pengelolaan keuangan negara. berorientasi pada hasil profesionalitas proporsionalitas keterbukaan dalam pengelolaan keuangan negara pemeriksaan keuangan oleh badan pemeriksa yang bebas dan mandiri Asas-asas umum tersebut diperlukan pula untuk menjamin terselenggaranya prinsip-prinsip pemerintahan daerah sebagaimana yang telah dirumuskan dalam Bab VI Undang-Undang Dasar 1945. UU No. asas universalitas. dan asas spesialitas maupun asas-asas baru sebagai pencerminan best practices (penerapan kaidah-kaidah yang baik) dalam pengelolaan keuangan negara. antara lain: • • • • • akuntabilitas. . 17/2003 bukan hanya menjadi acuan dalam reformasi manajemen keuangan negara.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful