BELAJAR

BERDEMOKRASI

Bayu Sapta Hari

Daftar Isi
Demokrasi dan tirani mayoritas Memahami sikap keras HAMAS Sepenggal Keprihatinan untuk Gaza Menyoal Negara Islam Politik dan Kekuasaan Seni mendidik anak Lets enjoy the game! Karena Spanyol bukanlah Inggris atau Argentina Mungkinkah Mengubah Bentuk Tiang Gawang? Guru Dan Kurikulum Dalam Sistem Pendidikan Nasional Luis Suares, pantaskah disebut pahlawan? Isra Mi’raj, Al-Quds, dan Palestina Kampanye = Obral Janji, Adakah Alternatif Lain? Memburu Hidup Sesudah Mati Religious Is Professional

Belajar Berdemokrasi

2

Demokrasi dan Tirani Mayoritas1

Mamat tertegun saat membaca berita di sebuah situs. LARANGAN TOTAL CADAR DI PRANCIS DISETUJUI PARLEMEN, begitulah headline dari berita tersebut. Begitu banyak pertanyaan berkecamuk dalam dada Mamat saat membaca berita itu. Perasaan sedih, marah, dan kasihan bercampur menjadi satu. Saat itulah Robi datang menghampiri Mamat yang sedang tertegun dengan wajah lesu. “Kenapa lu Mat? Keliatannya kok lesu begitu, apa ada yang mengganggu pikiran lu?” kata Robi sambil mendekati Mamat. “Iya Rob, agak sedih gue baca berita di internet,” kata mamat sambil menunjuk ke layar komputer. Robi pun melongokkan kepalanya ke arah layar komputer.

1

Tulisan asli di http://hukum.kompasiana.com/2010/05/12/perlukah-negarademokrasi-mengatur-keyakinan-warganya/

Belajar Berdemokrasi

3

“masa orang mau menjalankan keyakinannya aja kok dilarang sih,” Mamat sambil menunjukkan wajah yang geram. “yah mungkin dianggap mengganggu Mat. mengganggu pemandangan gitu,” kata Robi dengan iseng mencoba mencairkan suasana dengan sedikit gurauan. “gue serius nih Rob,” saut Robi masih dengan wajah cemberut. “Gue cuma ga habis pikir, di negara yang katanya sekuler dan liberal kok ya mau mengatur kehidupan agama warganya. bukannya di negara liberal orang bebas melakukan segala keinginannya tanpa campur tangan pemerintah. apakah cara berpakaian bisa mengganggu orang lain?” lanjut Mamat. “terkadang orang sulit membedakan antara hak asasi dan keinginan mereka sendiri. terkadang minoritas begitu mudah terpinggirkan. Hak asasi mudah sekali diatur berdasarkan mayoritas,” Robi mencoba menanggapi dengan lebih serius. “Itulah Rob. Mestinya kita harus bisa menerima setiap perbedaan dan pendapat meskipun dari mereka yang kita anggap minoritas. Mestinya kebenaran tidak bisa dikalahkan oleh suara mayoritas orang banyak. Gue pikir inilah salah satu kelemahan dari demokrasi. Segalanya diukur berdasarkan suara terbanyak bukan oleh kebenaran yang hakiki,” kata Mamat dengan antusias. “bukan demokrasinya yang salah Mat tapi cara orang mempergunakan demokrasi secara sewenang-wenang itulah yang perlu menjadi keprihatinan. menurut gue demokrasi akan menjadi benar jika dijalankan secara fair oleh orang2 yang memiliki pandangan yang egaliter yang siap dengan perbedaan dan mampu berbuat adil,” saut Robi dengan lebih bijaksana. “gue jadi inget satu pernyataan ‘janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum menjadikan kamu berbuat tidak adil terhadap kaum itu. Berbuat

Belajar Berdemokrasi

4

adillah karena adil itu lebih dekat kepada takwa’. Menurut gue inilah makna demokrasi yang sesungguhnya. Kita mampu bertindak adil terhadap siapapun dan bahkan kepada orang yang tidak kita sukai,” kata Mamat masih semangat dengan pendapatnya. “Hmm .. Jadi elo ga suka orang bercadar dilarang Mat?” tanya Robi yang mencoba kembali ke topik pembicaraan semula. “bukan masalah cadarnya Rob yang ga gue terima. masalahnya ada orang yang berusaha melakukan keyakinannya di suatu negara yang bebas tapi justru dihalang-halangi. Itu yang gue ga terima. Mereka berusaha membuat hukum yang membatasi keyakinan seseorang. Padahal negara itu

memproklamirkan diri sebagai negara penegak HAM dan demokratis yang menjunjung hak warganya. Bener-bener ga masuk akal buat gue Rob,” kilah Mamat. “yah mereka yang selalu menyatakan diri sebagai yang demokratis dan menjunjung tinggi HAM emang belum tentu juga mencerminkan apa yang mereka gembar-gemborkan itu. Terkadang itu hanya sekadar slogan kosong yang boleh jadi sebagai pemanis bibir belaka,” sahut Robi. “Iya bener juga Rob. Semoga saja makna demokrasi dan Hak Asasi Manusia bisa benar-benar dimaknai dengan benar ya Rob,” kata Mamat menutup pembicaraan itu.

Belajar Berdemokrasi

5

Memahami Sikap Keras HAMAS2

Perhatian kita saat ini mau tidak mau akan tertuju ke arah Palestina dan Gaza. Terutama sekali ke arah penduduk Gaza yang masih merasakan penderitaan panjang akibat serangan brutal Israel tahun lalu ditambah blokade dari dunia luar. Sesungguhnya korban yang paling menderita dari semua kejadian ini tidak lain adalah penduduk Gaza. Israel dan amerika berulang kali mengatakan bahwa pihak yang paling bertanggung jawab atas serangan dan blokade israel adalah HAMAS. Sikap keras HAMAS yang tidak mau bekerja sama dengan Israel dan diklaim selalu menembakkan roket ke arah pemukiman Israel selalu dijadikan alasan untuk melakukan balasan kepada Gaza. Israel selalu mengatakan bahwa yang mereka lakukan sebagai balasan atas serangan HAMAS kepada Israel. Dan yang kita lihat adalah serangan balasan Israel yang lebih brutal dibandingkan serangan roket HAMAS. Padahal kalau mau dibandingkan roket rakitan yang dibuat oleh HAMAS dengan senjata nuklir dan rudal canggih Israel dan persenjataan lengkap israel buatan amerika, sungguh sangat jauh berbeda.

2

Tulisan asli di http://politik.kompasiana.com/2010/06/04/memahami-sikap-keras-hamas-dalamkonflik-palestina/

Belajar Berdemokrasi

6

Di sini saya ingin sedikit memberikan pandangan tentang HAMAS dan bagaimana kita memahami sikap kerasnya terhadap israel. Untuk memahami jalan pikiran HAMAS dan untuk memahami sikap keras HAMAS terhadap israel ada baiknya kita mundur ke belakang dan melihat bagaimana pembentukan negara israel. Kita perlu memahami bahwa wilayah yang saat ini diduduki dan diklaim sebagai negara israel sebenarnya adalah wilayah Palestina dan Arab secara umum. Palestina dengan masjid al-quds atau masjidil aqso telah lama dikenal sebagai wilayah Palestina. Wilayah Palestina inilah yang kemudian secara semena-mena diduduki oleh zionis dan yahudi tentu saja dengan bantuan sekutunya inggris dan amerika. Yahudi sendiri sebenarnya sekumpulan orang yang tersebar di berbagai negara. Dan sialnya wilayah Palestinalah yang dijadikan sebagai wilayah yang akan dibuat negara tempat orang-orang yahudi yaitu israel. dengan pendudukan Palestina oleh orang yahudi untuk dijadikan negara israel, orang-orang Palestina sendiri terusir dari wilayahnya dan tanah airnya sendiri. orang Palestina dipaksa menjadi pengungsi yang tersebar di gurun pasir tandus di luar wilayahnya sendiri. Dari sini tentunya kita perlu melihat Palestina yang terusir dari tanah airnya dan israel yang telah merampas wilayah negara lain secara semena-mena. Dari sini saja semestinya kita perlu memaklumi reaksi bangsa Palestina terhadap israel, bahwa pada hakikatnya mereka (bangsa Palestina) tengah berupaya merebut wilayahnya dan tanah airnya dari bangsa yang telah merampasnya. Dari sudut pandang kemanusiaan tentu reaksi bangsa Palestina ini sangatlah wajar. Bahwa ada keterlibatan dunia barat khususnya inggris dan amerika atas terbentuknya negara israel di tanah tempat bangsa Palestina ini tempati sebelumnya membuat sebagian atau oknum dari bangsa Palestina membuat teror di negara-negara barat melalui aksi serangan bom. Mereka menganggap

Belajar Berdemokrasi

7

ini sebagai bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan barat terhadap bangsa yang tertindas, yaitu Palestina. Pada periode berikutnya perjuangan rakyat Palestina terbagi menjadi beberapa faksi dengan faksi terbesar adalah PLO yang dimotori oleh yasser arafat dan HAMAS dengan gerakan intifadahnya. PLO dan yasser arafat kemudian menandatangani pembentukan negara Palestina dengan wilayah yang sangat terbatas, yaitu jalur Gaza dan tepi barat dan mengakui negara israel. Memang dari perjanjian ini terbentuk negara Palestina namun wilayahnya begitu kecil dimana seharusnya Palestina memiliki wilayah yang telah diduduki oleh israel. Sebagian bangsa Palestina tentu saja tidak bisa menerima skema perjanjian ini. Kalangan ini menginginkan israel harus keluar dari wilayah Palestina karena memang wilayah yang ditempati israel itu adalah hak milik Palestina. Mereka juga menganggap perjanjian ini sama saja menyerahkan hak milik mereka kepada orang lain. Dengan mengakui israel itu artinya Palestina memberikan begitu saja wilayahnya kepada orang lain, padahal orang Palestinalah yang paling berhak menduduki wilayah itu. Kalangan yang bersikeras menolak mengakui negara israel tidak lain adalah HAMAS. HAMAS dengan tak kenal lelah terus berjuang melawan israel yang telah merampas tanah airnya. Melalui gerakan intifada HAMAS terus

melakukan perlawanan terhadap Israel dan semakin lama mendapat banyak dukungan dari rakyat. Kita bisa melihat gerakan intifada dengan bersenjatakan batu sebagai sebuah simbol perlawanan yang kontinu terhadap ketidakadilan. Tentu semua juga paham bahwa mana mungkin bisa melawan persenjataan lengkap Israel dengan perlawanan menggunakan batu seperti ini. Tapi ini bisa jadi dapat dianggap sebagai bentuk perlawanan yang pantang menyerah terhadap semua pihak yang telah bertindak semena-mena di Palestina. Dan terbukti Israel teramat takut dan cemas dengan perlawanan intifada ini. Dan bukan
Belajar Berdemokrasi 8

tidak mungkin gerakan intifada telah menimbulkan kerugian yang amat besar kepada Israel dan secara psikologis juga menimbulkan rasa takut. Inilah salah satu keberhasilan dari gerakan intifada yang tidak bisa dicapai oleh bentuk perlawanan lain yang ada di Palestina. Dalam tekanan dunia internasional yang tentunya dikuasai oleh negara barat dan amerika, rakyat Palestina dipaksa untuk mengakui negara israel dan menerima pembentukan negara Palestina di wilayah yang ditentukan. Hal ini tentu saja sangat tidak bisa diterima. Bagaimana mungkin suatu bangsa menerima wilayahnya diduduki oleh bangsa lain sedangkan dirinya hanya menempati wilayah yang sangat kecil saja. Namun secara terpaksa rakyat Palestina harus menerima kondisi ini melalui perwakilan mereka PLO yang telah bersedia menerima perjanjian Palestina-israel. Sebagian rakyat yang menolak israel tentu saja akan berpihak kepada HAMAS yang sejak awal memang tidak pernah mau mengakui negara Israel yang dianggap sebagai negara yang telah merampas tanah air mereka. Tidak heran saat pemilu digelar di Palestina, HAMAS yang ikut sebagai salah satu peserta pemilu mendapat suara mayoritas di legislatif. Suara mayoritas ini bisa jadi mewakili sebagian keinginan rakyat Palestina yang sebenarnya menginginkan wilayah mereka kembali ke tangan mereka yang memang lebih berhak. Namun, Kemenangan ini lagi-lagi tidak bisa diterima israel dan amerika sehingga mereka menolak mengakui hasil pemilu. Ini juga yang menyebabkan HAMAS kemudian membelot dari otoritas Palestina yang diisi oleh fatah. Konflik ini membuat Palestina terpecah dimana HAMAS menguasai jalur Gaza. Dan karena itulah Gaza diblokade dan terisolasi dari dunia luar. Jika kita melihat bahwa israel telah merampas wilayah Palestina dan ada sekelompok orang Palestina yang berusaha melawan ketidakadilan ini, tentu ini adalah tindakan yang wajar. Ini bisa dilihat sebagai perjuangan melawan ketidakadilan. Sebagaimana wajar pula jika ada sekelompok orang yang tidak

Belajar Berdemokrasi

9

mengakui orang lain yang menduduki wilayahnya dan berusaha merebut kembali wilayah yang dirampas orang lain itu. Inilah yang sedang dilakukan oleh HAMAS. dengan latar belakang seperti ini mau tidak mau kita harus maklum dengan keras hatinya dan keras kepalanya HAMAS atas proses dan konflik yang terjadi di Palestina. Namun amat disayangkan, HAMAS sedang melawan sebuah konspirasi besar yang tentu teramat sangat kuat untuk dilawan. Konspirasi yang telah membuat penderitaan rakyat Palestina tidak kunjung berakhir.

Belajar Berdemokrasi

10

Sepenggal Keprihatinan untuk Gaza3

Mamat tertegun di depan layar komputer sambil terduduk dengan gelisah. baru saja mamat mendapat informasi bahwa kapal dengan misi kemanusiaan yang membawa bahan bantuan untuk penduduk Gaza telah dihadang dan ditembak oleh tentara Israel. mulutnya tampak komat-kamit antara rasa gemas dan frustasi. gemas karena prihatin dan cemas atas nasib penduduk Gaza serta frustasi karena tidak bisa melakukan tindakan apa pun untuk membela yang tertindas. Memet pun menghampiri Mamat dengan perasaan yang sama. Memet terlihat begitu terpukul atas kejadian yang menimpa relawan yang ingin menyampaikan bantuan ke Gaza. memet berusaha menumpahkan kekesalan dan keprihatinan hatinya ini kepada Mamat. “Mat, udah dapat informasi tentang tentara Israel yang menembaki dan menghadang kapal kemanusiaan itu belum?” tanya Memet kepada Mamat. “Udah Met,” kata mamat sambil menunjuk ke layar komputer. “tapi aneh ya Met, situsnya banyak yang ga bisa diakses. Apa situs-situs yang memberikan

3

Tulisan asli di http://sosbud.kompasiana.com/2010/06/02/sepenggal-keprihatinan-untuk-gaza/

Belajar Berdemokrasi

11

info tentang kapal kemanusiaan ini sengaja diblokir ya?” lanjut Mamat sambil bertanya. “ehmm .. bisa jadi ya Mat, media-media kan banyak dikuasai oleh zionis dan lobi-lobi yahudi. Boleh jadi mereka sengaja menutupi kejadian yang sebenarnya dan berusaha membuat berita yang sesuai dengan kepentingan mereka,” ujar Memet sambil mencoba memberikan sedikit penjelasan. “apapun yang terjadi atas kapal kemanusiaan Mavi Marmara, ini sekali lagi menunjukkan kekejian Israel atas kemanusiaan,” kata Mamat berusaha mengungkapkan kekesalan hatinya. “lagi-lagi untuk yang kesekian kalinya Israel melakukan pelecehan terhadap kemanusiaan dan untuk yang kesekian kalinya juga dunia tidak bisa melakukan tindakan apapun untuk mencegahnya,” lanjut Mamat dengan geram. “iya Mat gw juga ga habis pikir bagaimana mungkin pelanggaran dan pelecehan terhadap kemanusiaan dibiarkan saja terjadi. padahal dunia juga tahu bagaimana kelakuan Israel yang secara semena-mena telah menginjakinjak rasa keadilan dan mengabaikan berbagai kecaman yang ditujukan kepadanya,” Memet ikut memberikan pendapatnya. “semoga nasib para relawan yang ditangkap akan baik-baik saja ya Met,” kata Mamat. “di antara para relawan juga terdapat warga negara Indonesianya lho Met,” lanjut Mamat. “bener Mat. kita semua berharap mereka semua termasuk relawan dari Indonesia bisa selamat dan baik-baik saja,” balas Memet. “tapi sebenarnya yang lebih memprihatinkan lagi adalah nasib para penduduk Gaza Mat. Akibat blokade Israel, mereka terisolir dari dunia luar. bayangkan saja nasib anak-anak dan orang-orang tua di sana. apa yang bisa mereka makan ketika mereka lapar. jangankan minum susu untuk makan
Belajar Berdemokrasi 12

sehari-hari saja mereka mungkin sudah sangat sulit. Gw benar-benar ga bisa membayangkan kondisi di Gaza Mat,” lanjut Memet dengan raut muka yang sedih. “benar juga ya Met. selama ini penduduk Gaza sudah terisolir dari dunia luar akibat blokade Israel. Ga kebayang deh bagaimana mereka makan dan menjalani kehidupannya. Sekarang, kapal yang membawa bantuan pun dihadang oleh Israel. Padahal bantuan itu sudah dikumpulkan dari seluruh dunia, berupa makanan, pakaian, dan obat-obatan. tapi ngga bisa sampai kepada mereka para penduduk Gaza. benar-benar kejam dan tidak berperasaan Israel itu,” Mamat menanggapi dengan ekspresi yang tak kalah sedih ditambah rasa geram. “Ini sama saja membiarkan penduduk Gaza mati pelan-pelan Mat,” balas Memet. “menurut gw sebuah pembersihan etnis telah terjadi di Gaza. ada sekelompok manusia (Israel) yang dengan sengaja membiarkan dan bahkan menginginkan sekelompok manusia yang lain (penduduk Gaza) mati kelaparan. tidak salah jika dikatakan bahwa sebuah genosida telah terjadi di Gaza. kalau benar seperti ini, sebuah tragedi kemanusiaan sudah terpampang jelas di hadapan kita Mat,” Memet melanjutkan ekspresinya dengan nada getir campur frustasi dan marah. “Benar Met. ini merupakan ketidakadilan yang sangat besar pada masa sekarang ini. sekelompok manusia yang sudah menginjak-injak nilai luhur kemanusiaan dan telah nyata dan sengaja berusaha menghilangkan hak hidup sekelompok manusia yang lain. dari sisi manusia mana pun, ini sungguh sangat memprihatinkan,” timpal Mamat. “dari sudut pandang mana pun tindakan yang mencederai nilai-nilai kemanusiaan tidak bisa diterima. Kita tidak butuh imbauan dari ayat suci dan seruan dari agama untuk bisa ikut larut dalam keprihatinan ini,” ujar Memet menimpali pernyataan Mamat.

Belajar Berdemokrasi

13

“perlu ada tindakan nyata yang bisa mencegah ketidakadilan ini Met. semoga saja semua pihak menyadari keadaan yang terjadi di Gaza dan bisa melakukan upaya yang konkret agar nilai-nilai luhur kemanusiaan dapat ditegakkan kembali,” kata Mamat. “dan bantuan kemanusiaan harus tetap bisa masuk ke Gaza dengan cara apapun. Mungkin ga ya kalau bantuannya disampaikan dalam bentuk uang yang ditransfer langsung melalui rekening ke Gaza atau apapun yang bisa dilakukan untuk bisa mengakses Gaza,” sahut Memet mencoba memberikan solusi. “para relawan itu tentunya lebih paham situasi di sana dan semoga mereka bisa menemukan jalan atau solusi yang memungkinkan mereka bisa masuk ke Gaza. dan jangan lupa untuk selalu berdoa untuk keselamatan mereka para relawan dan penduduk Gaza. Paling tidak ini yang harus tetap kita lakukan sejauh ini,” kata Mamat. “amin .. semoga demikian ya Mat,” sahut Memet Mereka kembali melanjutkan aktivitas kembali dan terus berdoa dan berusaha menemukan solusi agar masalah ini mendapatkan jalan keluar yang baik.

Belajar Berdemokrasi

14

Menyoal Negara Islam4
Wacana islam dalam hubungannya dengan kehidupan bernegara telah banyak dibahas. Dari banyak pembahasan tersebut telah timbul kekhawatiran akan dibentuknya sebuah negara islam yang berusaha menerapkan syariat islam kepada warga negaranya. Negara islam ini dianggap tidak mewakili sebuah negara yang demokratis melainkan berwujud negara yang

memaksakan hukum-hukum islam kepada warganya dengan kaku dan dijalankan oleh kekuasaan tunggal yang otoriter.

Kekhawatiran akan sebuah negara islam yang berdasarkan hukum islam yang diterapkan secara kaku sedemikian menakutkan. Kekhawatiran ini bisa jadi terwakili oleh terbitnya sebuah buku bertajuk ilusi negara islam. Tandatanda akan dibentuknya negara islam boleh jadi mulai dirasakan gelagatnya dengan munculnya partai-partai islam dalam panggung politik. Gejala ini terjadi secara merata di hampir semua negara dengan penduduk mayoritas muslim dan tak terkecuali di Indonesia. Terbukanya saluran aspirasi rakyat secara lebih demokratis melalui pemilu yang boleh diikuti oleh banyak partai membuat kalangan islam ikut mengambil kesempatan ini. Dan, saat kekuatan politik islam mulai menampakkan jati dirinya dan mendapat dukungan yang cukup dari rakyat, ada kalangan yang menganggap ini sebagai sebuah proses

4

Tulisan asli di http://politik.kompasiana.com/2010/05/15/sedikit-pandangan-tentang-negara-islam/

Belajar Berdemokrasi

15

menuju terbentuknya negara islam. Sebuah anggapan yang terlalu berlebihan dan kurang beralasan.

Anggapan akan bangkitnya kekuatan islam yang ingin mendirikan negara islam memang bukanlah sesuatu yang tidak bisa diremehkan. Bukanlah sesuatu yang aneh lagi bahwa ada sebagian kalangan muslim yang memiliki cita-cita akan sebuah sistem pemerintahan dan kenegaraan yang berdasarkan prinsip-prinsip islam. Namun, cita-cita ini disadari merupakan sebuah proses yang panjang dan bukanlah perkara yang mudah. bentuk negara islam itu sendiri masih menjadi wacana dan perdebatan yang panjang di kalangan intelektual islam sendiri.

Negara islam yang menjadi cita-cita sebagian kalangan islam pada dasarnya ingin merujuk kepada sistem pemerintahan di madinah pada masa rasulullah. Namun disadari pula bahwa situasi yang dihadapi saat ini sedemikian kompleks dan sangat berbeda dengan keadaan pada masa rasulullah itu. Oleh karena itu, masih menjadi perdebatan yang panjang bagaimana bentuk dan implementasi dari sebuah negara islam yang bisa dijalankan pada masa sekarang ini.

Masih belum jelasnya bentuk negara islam yang ideal dan pas yang bisa diterapkan pada masa ini dan dalam kondisi yang sangat majemuk membuat sebagian kalangan dari umat islam berusaha bermain dalam tataran hukum dan undang-undang. Sadar bahwa adanya peluang untuk ikut berperan dalam proses pemerintahan baik dalam eksekutif dan legislatif melalui pemilu, sebagian kalangan berusaha masuk melalui jalur yang amat terbuka ini. Jadilah saat ini ada sebagian aktivis islam yang berhasil masuk ke dalam lingkaran eksekutif dan legislatif. Kalangan inilah bisa jadi yang

dikhawatirkan akan menghidupkan wacana negara islam. Meskipun anggapan ini sangat spekulatif karena belum ada indikasi yang jelas ke arah itu.

Belajar Berdemokrasi

16

Kondisi negara yang majemuk ini juga memaksa kalangan yang percaya akan keandalan sebuah negara islam merancang sebuah sistem kenegaraan yang mampu menampung semua aspirasi warganya sekaligus masih berada dalam kerangka syariat islam. Sebuah negara madani dianggap mewakili sebuah sistem kenegaraan yang plural namun tetap dalam kerangka ketuhanan. Kalangan islam ini sadar bahwa tidak bisa dan tidak bijaksana memaksakan diterapkannya suatu sistem kenegaraan tertentu kepada masyarakat. Mereka pun mengalihkan atau sedikit menggeser idealisme tentang sebuah negara islam yang ideal menjadi ke arah negara madani yang demokratis. dan, basis atau dasar dari negara madani ini adalah masyarakat yang mandiri dan mampu menentukan masa depannya sendiri.

Belajar Berdemokrasi

17

Politik dan Kekuasaan5

Pada dasarnya tulisan ini mengarah pada jawaban atas pertanyaan: Apakah politik itu selalu berorientasi kepada kekuasaan? Secara prinsip, politik merupakan upaya untuk ikut berperan serta dalam mengurus dan mengendalikan urusan masyarakat. Karena menyangkut kepentingan rakyat banyak dan kepemimpinan atas masyarakat luas, maka politik amat sangat dekat dengan kekuasaan. Inilah mungkin yang membuat banyak orang memutuskan terjun ke kancah politik. Karena dengan terjun ke politik, orang akan semakin dekat dengan kekuasaan. Bisa jadi inilah yang dipahami oleh kebanyakan orang. Di sisi lain, karena politik berusaha mengurus dan mengendalikan urusan masyarakat, politik juga dapat dijadikan sarana untuk menyampaikan kebaikan dan kebenaran kepada masyarakat luas. Namun, pola ini seakan tertutupi oleh pandangan umum sebagaimana yang disebutkan di atas dan berusaha dibuang jauh-jauh dari masyarakat. Padahal, inilah sesungguhnya hakikat dari politik yang sesungguhnya, sarana untuk menyampaikan kebaikan dan kebenaran melalui orang-orang yang diserahi amanah untuk mengurus urusan masyarakat. Orang-orang yang bekerja dan diberi amanah untuk mengurusi urusan orang banyak yang dipilih melalui proses politik
5

Tulisan asli di http://umum.kompasiana.com/2009/05/28/politik-dan-kekuasaan/

Belajar Berdemokrasi

18

harus memahami hakikat ini. bahwa mereka dipilih untuk mengurusi urusan rakyat dan bekerja sebagai pelayan bagi rakyat. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Orang-orang yang melalui proses politik sekaligus diberi amanah untuk bekerja untuk rakyat malah menjadi orang pertama yang mengkhianati amanah itu, dengan mengedepankan kepentingan pribadi dan golongannya sendiri di atas kepentingan rakyat. Jadi, sebenarnya orang-orang yang bekerja dalam orbit politiklah, dan bukan politik itu sendiri, yang telah membuat stigma dan label bahwa politik selalu berorientasi pada kekuasaan. Orang-orang yang telah mengingkari amanah rakyatlah yang telah membuat politik, dan bekerja dalam orbit politik, itu sesuatu yang buruk dan amat lekat dengan korupsi. Ketika ada sekelompok masyarakat berusaha memahami politik dengan benar, tidak banyak orang yang mempercayainya. Ketika ada sekelompok orang menggunakan politik untuk menyampaikan kebaikan dan kebenaran, orang menganggapnya sebagai sebuah kesia-siaan. Ketika ada sekelompok orang yang berusaha mengembalikan amanah rakyat dalam politik kepada yang berhak mengembannya dan untuk kepentingan rakyat, banyak orang yang memicingkan mata bahkan berpaling darinya. Kita tidak berani mengakui bahwa memang ada sekelompok orang yang benar-benar memahami dan menjalankan politik dengan benar dan tetap mengikuti pandangan umum bahwa politik itu kotor. Disini saya ingin menyodorkan suatu analogi. Sudah menjadi pandangan umum bahwa setiap laki-laki hanya memandang wanita sebagai objek seks belaka. Ini merupakan pandangan umum yang walaupun belum tentu diakui tetapi pada kenyataannya dipakai sebagai pandangan umum. Tentu tidak ada orang yang berani dan secara terang-terangan mengakui hal ini. namun pada kenyataannya pandangan ini banyak dianut oleh banyak orang.

Belajar Berdemokrasi

19

Di lain pihak, ada sebagian kalangan dari pria yang mengingkari pandangan umum ini. menurut kelompok pria ini wanita tidak hanya sebagai objek seks belaka bahkan lebih mulia dan lebih tinggi dari ini. kalangan pria ini lebih memuliakan dan lebih menghargai wanita sebagai makhluk tuhan yang memiliki fitrah. Tentu sulit membuktikan bahwa ada segolongan pria yang menganggap wanita seperti ini, tetapi kita tahu pasti bahwa ada pria yang berpegang teguh dalam pandangan ini. Demikian halnya dengan pandangan bahwa politik yang dipandang secara umum hanya sebagai jalan untuk mencapai kekuasaan. Pandangan ini sudah menjadi pandangan umum yang ada dalam benak banyak orang, walaupun tidak ada seorang pun yang akan mengakui hal ini. tetapi kita tahu pasti kebanyakan orang berpandangan seperti ini. ketika seorang tokoh partai ditanyakan tentang pandangannya untuk terjun ke dalam dunia politik, saya berani menjamin tidak akan keluar dari mulutnya pernyataan bahwa dia menginginkan kekuasaan. Selalu yang keluar dari mulutnya bahwa dia ingin bekerja untuk rakyat. Namun, apakah kenyataannya demikian? Sesuai dengan analogi tadi, ketika ada sekelompok orang yang berusaha memahami politik dengan benar, berusaha mengembalikan amanah rakyat kepada yang berhak menerima, dan bekerja untuk melayani rakyat, kita perlu memahaminya sebagai segolongan pria yang menganggap wanita lebih mulia dan lebih berharga dari sekedar objek seks belaka. Kita mungkin sulit membuktikan golongan ini benar-benar ada tetapi kita tahu mereka benar dan yakin dengan pendiriannya dan golongan ini ada. Jadi, ketika kita mengakui ada segolongan pria yang memiliki prinsip lebih menghargai wanita sebagai makhluk yang memiliki fitrah walaupun tidak bisa dibuktikan, kita tentu juga mau tidak mau harus mengakui bahwa ada sekelompok orang yang memang sungguh-sungguh berusaha memahami politik dengan benar sesuai dengan hakikatnya.
Belajar Berdemokrasi 20

Orang-orang yang berusaha memahami politik dengan benar ini tidak menjadikan kekuasaan sebagai tujuan akhir, tetapi justru dengan kekuasaan itulah mereka baru memulai sebuah usaha yang lebih tinggi dan lebih mulia, menjadi pelayan bagi rakyat dan bekerja untuk kepentingan rakyat. Dan, yakinlah bahwa golongan ini ada dan jika anda meyakininya jangan ragu-ragu untuk memilih mereka.

Belajar Berdemokrasi

21

Seni Mendidik Anak6
Sebagai orang tua yang memiliki anak-anak kecil, saya harus cermat menerapkan cara yang tepat dalam mendidik anak-anak kita. Masa kanakkanak adalah masa pembentukan karakter seorang anak yang akan mempengaruhi perkembangan mental anak. Cara yang salah dalam mendidik anak akan berakibat fatal dalam pembentukan kepribadian ini. Tingkah laku yang menyimpang yang sering terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari yang sering kita temui dewasa ini adalah salah satu contoh ketidakpedulian atau metode yang keliru dalam mendidik anak saat masih kecil.

Bagi saya mendidik anak adalah sebuah seni. Mendidik anak seolah-olah mendesain anak kita sesuai dengan keinginan kita di masa depan. Sebagai orang tua kita tentu menginginkan anak kita mandiri, cerdas, bertanggung jawab, dan siap menghadapi kerasnya kehidupan. Jadi, kita perlu membuat desain bagaimana anak kita bisa memiliki sikap dan sifat yang baik sebagaimana tersebut di atas.

6

Tulisan asli di http://netsains.com/2008/09/adalah-hebat-menjadi-orang-tua-yang-baik/

Belajar Berdemokrasi

22

Usia 1 s/d 5 tahun disebut-sebut sebagai golden age atau masa emas dalam kehidupan seseorang. Artinya, baik tidaknya anak-anak kita ketika tumbuh dewasa nanti sangat ditentukan dari bagaimana mereka mendapatkan perlakuan dan pendidikan yang sesuai saat masih kecil. Jadi, saya sangat memperhatikan dan serius mengikuti perkembangan anak-anak saya yang saat ini sedang memasuki fase tersebut.

Sekecil apapun sikap kita kepada mereka akan memberikan pengaruh besar buat perkembangan kepribadiannya. Saya bukan tipe orang tua yang selalu memperhatikan kemana saja anak saya pergi sambil terus berteriak-teriak memperingatkannya saat ingin melakukan sesuatu tetapi saya juga tidak membiarkan anak-anak saya bertindak seenaknya tanpa menegurnya. Membiarkan mereka bebas bermain membuat mereka kreatif dan berinisiatif, tetapi teguran dan peringatan kecil saat mereka mulai melakukan tindakan di luar batas tetap diperlukan untuk mengingatkan mana yang benar dan mana yang salah.

Salah satu sikap yang menurut saya kurang baik yang sering dilakukan oleh orang tua kepada anak-anaknya yang masih kecil adalah selalu mengikuti kemauan anak-anak kita saat mereka merengek meminta segala kemauannya. Anak kecil sering merengek untuk dibelikan sesuatu atau meminta sesuatu yang diinginkannya. Dan, dengan alasan sayang orang tua selalu mengikuti semua kemauan anaknya. Menurut saya cara ini hanya menjadikan anak kita pemalas, boros, tidak kreatif, dan terlalu manja.

Meskipun kita memiliki banyak uang untuk membeli dan mencukupi segala kemauan anak kita, tidak sepantasnya kita sebagai orang tua untuk selalu mengikuti kemauan anak kita. Rasa sayang dan cinta kepada anak-anak kita semestinya diwujudkan dengan sikap dan interaksi yang mendalam dengan anak-anak dan tidak dengan memberikan mereka segala materi (harta dan uang). Memang materi diperlukan tetapi dalam mendidik kepribadian dan

Belajar Berdemokrasi

23

mental diperlukan prinsip, sikap, dan perhatian yang memadai, tidak sekedar harta yang berkecukupan.

Contoh kecil yang sangat sering saya hadapi adalah saat saya mendengar rengekan anak-anak saya meminta jajan. Anak-anak saya memang anak-anak yang menurut saya agak over dan salah satunya ditandai dengan seringnya mereka merengek meminta jajan. Bagi saya sikap dan prinsip perlu secara disiplin diterapkan bukan semata-mata untuk menghemat pengeluaran tetapi lebih kepada pembentukan karakter. Saya tidak ingin anak-anak saya mempunyai mental selalu meminta-minta. Maka berbagai cara perlu dilakukan untuk mengatasi rengekan anak-anak saya.

Kita harus memberikan pengertian kepada anak-anak kita bahwa mereka tidak harus selalu meminta jajan setiap saat. Ini juga terkadang disertai dengan mengalihkan perhatian mereka kepada bentuk yang lain, misalnya dengan mengajak mereka berjalan-jalan atau memberikan mereka bentuk permainan yang menghibur. Dengan selalu mengajak mereka bermain atau memberikan mereka permainan dapat melupakan keinginan mereka untuk jajan. Di sini diperlukan kesabaran dan ketegasan sikap dari orang tua karena terkadang anak kita merengek sampai menangis untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Orang tua kadang merasa kasihan kepada mereka dan akhirnya menuruti kemauan anaknya. kita harus tegas demi kebaikan anakanak kita juga, bahkan tetap membiarkannya menangis. Sekali lagi saya katakan rasa sayang tidak harus diwujudkan dengan menuruti kemauannya. Justru karena sayang itulah saya bersikeras tidak menuruti kemauan mereka untuk jajan.

Tidak menuruti kemauan anak kita jajan bukan berarti saya sama sekali tidak menyiapkan makanan atau jajanan di lemari kita. Saya terkadang sudah menyiapkan setumpuk makanan yang bisa diberikan kepada anak-anak saat mereka meminta jajan. Tapi kita juga harus tegas dengan hanya

Belajar Berdemokrasi

24

memberikannya satu macam yang boleh dimakan saat itu dan menyimpan makanan yang lain untuk waktu yang lain. Ini juga salah satu bentuk latihan kedisiplinan buat saya dan istri sebagai orang tua dan bagi anak-anak saya.

Contoh kecil yang lain, orang tua yang selalu membawakan tas anaknya yang sekolah tk atau sd. Kita sering melihat ada orang tua yang membawakan tas anaknya yang sekolah. Sikap orang tua ini menurut saya keliru dalam mewujudkan rasa kasih sayangnya kepada anaknya. Sikap disiplin dan tanggung jawab mesti dilatih semenjak dini. Dengan membiarkan anak membawa perlengkapan sekolahnya sendiri, kita melatih anak untuk bertanggung jawab dan mandiri dalam menjalankan tugasnya. Kita perlu menanamkan kepada anak bahwa dia yang sekolah dan dia pula yang bertanggung jawab atas segala yang berhubungan dengan sekolah termasuk membawa tas sendiri.

Sikap tegas dan disiplin terkadang juga keras menurut saya perlu dilakukan dalam berinteraksi dengan anak-anak kita. Ini diperlukan untuk melatih mereka berdisiplin dalam kehidupan mereka sehari-hari. Kita tidak ingin anak-anak kita malas, bukan? Tapi, tentu saja perhatian dan kasih sayang adalah landasan yang harus selalu diterapkan dalam setiap interaksi.

Dan, sepertinya saya dan istri sudah menuai hasilnya. Itu bisa saya rasakan dari sikap anak saya yang pertama, Firdaus. Sebagai anak usia lima tahun yang ditinggal oleh kedua orang tuanya bekerja, Firdaus boleh dikatakan mandiri dan disiplin. Dia tidak pernah bangun tidur kesiangan, kadang tidak lupa untuk salat Subuh, sesuatu yang tidak buruk untuk anak usia lima tahun. Sejak pertama masuk sekolah, dia tidak pernah mau ditemani atau ditunggui oleh orang tuanya atau pengantarnya. Dia cepat bergaul dan berinteraksi dengan orang atau anak yang baru dikenalnya. Memang, Firdaus tidak bisa diam, dia selalu bergerak untuk melakukan apa saja.

Belajar Berdemokrasi

25

Firdaus bisa memanfaatkan barang apapun untuk dijadikan mainannya. Saya perhatikan dia banyak mengumpulkan bungkus kotak bekas susu. Dia bisa mengkhayalkan benda apapun dengan barang bekas yang dia dapatkan.

Tentu saja kami sangat bersyukur memiliki anak yang mandiri dan kreatif. Kami sadar anak adalah amanah dari sang Pencipta buat kita sehingga kami harus menjaga dan mendidiknya dengan cermat.

It’s great to be a good parent.

Belajar Berdemokrasi

26

Lets Enjoy The Game!7

"Pertandingan semifinal kapan ya, Met?"

Demikian isi sebuah pesan singkat yang diterima Memet sore itu. ternyata pesan itu dikirim oleh temannya yang sedang berada di luar kota. kebetulan teman Memet itu sedang mendapat tugas dari tempatnya bekerja yang mengharuskannya berada di luar kota. mungkin karena berada di luar kota teman Memet kesulitan mendapat info tentang piala dunia sehingga perlu menanyakan jadwal pertandingan. tentu saja teman Memet tidak ingin melewatkan setiap momen penting dari piala dunia.

"Mat, ga terasa ya piala dunia udah hampir selesai dan sekarang udah sampai ke semifinal," ujar Memet kepada Mamat.

"Iya nih Met, udah hampir ketahuan siapa yang pantas mengangkat piala dunia. Tapi sayang nih Met, tim kesayangan gw udah keok," balas Mamat dengan sedikit kecewa.

7

Tulisan asli di http://lomba.kompasiana.com/gempita-afsel/2010/07/06/lets-enjoy-the-games/

Belajar Berdemokrasi

27

"emang elo jagoin siapa Mat, Brazil atau Argentina?" tanya Memet.

"gw jagoin keduanya Met. Mereka kan sejauh itu belum terkalahkan dan permainannya juga menurut gw paling oke. apalagi pemainnya juga jago, ada Kaka di Brazil dan Messi di Argentina. Tapi mereka malah keok," sahut Mamat sambil mengemukakan argumennya.

"ga usah sedih gitu donk. Sebenarnya Brazil dan Argentina cuma ga bisa nyetak gol lbh banyak drpd Belanda dan Jerman aja kok ... hehe," sahut Memet sambil bercanda dan mencoba menghibur Mamat.

"Yahh .. jangan ngeledek gitu donk. tetep aja namanya kalah itu mah," sahut Mamat menanggapi.

"Piala Dunia sepertinya bukan ajang bagi pemain bintang, Mat. Piala Dunia sepertinya ajang buat permainan kolektif dan strategi yang jitu. Coba lihat bagaimana Belanda yang bisa menjinakkan Brazil dan Jerman yang bisa menghancurkan Argentina. Hanya kolektivitas tim dan strategi yang bisa membuat hal itu terjadi," ujar Memet mencoba memberikan pendapatnya.

"Juga Spanyol dan Uruguay yang mampu mengalahkan lawan-lawannya. Kecerdikan dan juga keberuntungan kadang ikut menentukan hasil akhir," sahut Memet menambahkan.

"Iya juga sih Met. Khusus untuk Uruguay bisa jadi ada faktor keberuntungan juga yang ikut andil. Ceritanya bisa laen andai penalti buat Ghana bisa jadi gol," kata Mamat.

"Bener juga Mat. Tapi ada juga cerita menarik yang laen Mat," sahut Memet yang membuat Mamat penasaran.

Belajar Berdemokrasi

28

"Apaan tuh Met?" tanya Memet dengan penasaran tepat seperti perkiraan Memet.

"Ini tentang Mueller, Mat. Thomas Mueller pencetak gol pertama Jerman waktu lawan Argentina itu loh. Ternyata Thomas muller mencetak gol ke gawang tim yg pelatihnya pernah menganggapnya anak gawang alias 'ball boy', Mat" ujar Memet dengan meyakinkan.

"Jadi ceritanya, sebelum piala dunia sekitar 4 bulan yang lalu, Argentina pernah ujicoba melawan Jerman dan Argentina waktu itu menang 1 - 0. Nah, pas jumpa pers, Maradona sebagai pelatih Argentina ga mau mengikuti jumpa pers itu karena ngeliat Mueller lagi duduk dan bicara. dikiranya Mueller ini anak gawang, makanya Maradona ga mau menghadiri jumpa pers itu," ujar Memet menjelaskan dengan panjang lebar.

"ha ha ha ... sekarang Mueller malah mencetak gol ke gawang Argentina," sahut Mamat sambil tertawa. "Maradona bakalan malu tuh kalo ingat kejadian itu .. haha," lanjut Mamat.

"Iya bener Mat. Gw aja ga bisa ngebayangin gimana malunya Maradona setelah timnya kalah. Tapi untung juga sih Argentina kalah. jadi Maradona ga perlu telanjang .. haha. seperti janjinya kalo bisa membawa Argentina juara," timpal Memet dengan iseng.

"wah rugi dong kalo gitu .. ga bisa ngeliat Maradona telanjang .. hehe," ujar Mamat ga kalah isengnya dengan Memet.

"ah bisa aja lo Mat .. hahaha," sahut Memet sambil tertawa juga.

Belajar Berdemokrasi

29

"Met, ngomong-ngomong elo sebenarnya jagoin siapa sih? jangan-jangan lo jagoin Belanda atau Jerman ya? sejauh ini emang dua tim itu yang permainannya konsisten sih," tanya Mamat.

"Kalo menurut gw sekarang ga masalah siapa yang menang atau kalah, mendingan enjoy aja lah," ujar Memet.

"Kalo gw boleh berfilosofi ya Mat, Jangan sampai kesukaan atau ketidaksukaan kita terhadap suatu tim menghalangi kita untuk menikmati pertandingan. Lets enjoy the game! Mendingan kita menikmati permainan terlepas siapa pun yang menang. Dan, gw yakin tim yang bermain lebih baik, dialah yang akan memenangkan pertandingan," timpal Memet

menambahkan sambil mencoba berfilsafat.

"Ah ga seru kalo gitu, Met. Tapi emang bisa juga sih seperti itu. sayang juga sih kalo setiap pertandingan hanya dilihat dari kalah atau menang. ada banyak pelajaran dan hikmah yang sebenarnya bisa diambil dari setiap pertandingan. begitu kan Met?" kata Mamat tak mau kalah dan ikut berfilosofi ria.

"bener Mat pelajaran yang baik perlu diambil dan bisa menjadi pengalaman yang berharga buat hidup kita," ujar Memet menimpali penegasan Mamat.

"sekarang saatnya siap-siap menikmati sambal Balando ya Met ... hehe. Maksudnya Belanda," ujar Mamat.

"ah bisa aja lo Mat. oke deh jangan lupa bangunin gw nanti malam ya," sahut Memet mengakhir obrolan mereka.

Belajar Berdemokrasi

30

Karena Spanyol bukanlah Inggris atau Argentina8

Sebuah antiklimaks buat tim panser Jerman. Demikianlah kira-kira ungkapan yang tepat buat hasil semifinal Piala Dunia antara Jerman melawan Spanyol. Wajar saja, karena sebelum pertandingan semifinal ini, banyak pihak terutama para pendukung Jerman sangat yakin Jerman bisa menundukkan Spanyol. Wacana yang berkembang bukan lagi apakah Jerman bisa mengalahkan Spanyol melainkan berapa banyak gol yang mampu dilesakkah phillip Lahm dkk ke gawang Spanyol. Ekspektasi besar dari para pendukung terhadap tim panser bisa jadi tidak terlalu berlebihan. Ini mengingat hasil dua laga Jerman sebelumnya yang sangat meyakinkan dan mau tak mau akan menempatkan Jerman sebagai tim yang paling wajib ditakuti. Meski ramalan paul si gurita yang memilih bendera spanyol, Jerman tetaplah masih sulit untuk tidak diunggulkan.

Laga antara Jerman melawan Inggris di fase perdelapan final adalah awal dari ekspektasi besar itu. Laga itu menjadi bukti atas ketangguhan pasukan muda Jerman. Wayne Rooney dan kawan-kawan dibuat tak berdaya dan
8

Tulisan asli di http://lomba.kompasiana.com/gempita-afsel/2010/07/08/karena-spanyol-bukanlahinggris-atau-argentina/

Belajar Berdemokrasi

31

dipaksa menelan pil pahit dengan kekalahan yang cukup telak 1 - 4. Klose, Mueller, dan Podolski membombardir gawang Inggris secara meyakinkan melalui skema permainan yang mengagumkan. Meski Inggris mampu mencetak gol balasan, namun secara umum permainan mereka seakan berada satu kelas di bawah phillip Lahm dan kawan-kawan. Hasil ini membuat Jerman mulai diprediksi akan mampu mengulang sejarah mereka 20 tahun yang lalu pada Piala Dunia 1990 saat menjadi juara dunia.

Laga perempat final menjadi pembuktian berikutnya dari pasukan Joachim loew. Pada fase ini mereka harus menghadapi lawan berat berikutnya sekaligus musuh bebuyutan mereka, yaitu Argentina. Ketangguhan Jerman akan benar-benar teruji saat menghadapi Messi dan kawan-kawan yang sampai ke perempat final tanpa terkalahkan dan selalu mencetak gol di setiap pertandingannya. Messi, tevez, dan higuain telah membuktikan ketajaman mereka pada pertandingan mereka sebelumnya. Pertandingan pun

diramalkan akan berlangsung ketat dan keras. Pertarungan antara skill individu dan kecepatan messi dkk melawan kolektivitas dan kedisiplinan Mesut Ozil dkk.

Pertandingan pun berlangsung dan Jerman beruntung bisa mencetak gol cepat lewat sundulan Mueller memanfaatkan umpan tendangan bebas Schweinsteiger. Selanjutnya tekanan pun menghantui pemain Argentina yang membuat permainan individu mereka tidak berjalan. Jerman mampu memanfaatkan rasa frustasi pemain Argentina. Mueller, Podolski,

Schweinsteiger, dan Ozil dapat leluasa memainkan bola dan menusuk jantung pertahanan Argentina yang dikawal dimichelis. Alhasil Jerman mampu melesakkan tiga gol tambahan untuk menggenapkan skor menjadi 4 – 0. sebuah kemenangan yang fantastis dan disambut dengan gegap gempita oleh seluruh pendukung Jerman. Kemenangan ini juga mempertebal keyakinan pendukung bahwa Jerman akan mampu membawa pulang Piala

Belajar Berdemokrasi

32

Dunia ke negaranya. Jerman melaju mulus ke semifinal dan akan menghadapi Spanyol.

Spanyol, lawan Jerman di semifinal, bukanlah lawan yang asing buat Jerman. Keduanya pernah saling berhadapan dua tahun lalu di final Piala Eropa 2008. partai final itu sendiri dimenangkan oleh Spanyol dengan skor tipis 1 – 0 yang membawa Spanyol menjadi juara Eropa. Perjalanan Spanyol sampai ke semifinal tidak lebih baik dari Jerman bahkan boleh dianggap kurang meyakinkan. Spanyol bahkan pernah kalah saat menghadapi swiss di pertandingan pertama grup H Piala Dunia ini. Kekalahan ini membuat banyak orang ragu atas kemampuan Spanyol untuk berbuat banyak di Piala Dunia ini. Meski selanjutnya Spanyol mampu meraih dua kemenangan atas Honduras dan Chile yang meloloskan mereka ke babak 16 besar, belum banyak kalangan yang yakin Spanyol mampu melangkah lebih jauh.

Keraguan banyak kalangan atas kemampuan Spanyol akhirnya dijawab dengan keberhasilan Spanyol mengalahkan Portugal di perdelapan final dan Paraguay di fase perempat final masing-masing dengan skor tipis 1 – 0. Spanyol pun terus melaju sampai ke semifinal untuk menantang Jerman. namun sampai sejauh ini pun, meski mampu mengungguli lawan-lawannya, Spanyol masih dianggap belum menunjukkan permainan terbaiknya sebagaimana yang pernah mereka tampilkan saat menjadi jawara Eropa tahun 2008. skor 1 – 0 atas Portugal dan Paraguay seolah menjadi bukti atas keraguan ini. Permainan tiki taka, yang mengandalkan determinasi dan penguasaan bola dengan operan dari kaki ke kaki yang cepat, yang menjadi ciri khas sepak bola Spanyol dianggap belum maksimal dan belum menghasilkan banyak gol seperti harapan banyak orang, namun, banyak kalangan yang membela dengan mengatakan bahwa kemenangan lebih penting walaupun diraih tanpa mencetak banyak gol. Keadaan inilah yang akan dibawa oleh Spanyol saat menghadapi Jerman.

Belajar Berdemokrasi

33

Permainan Spanyol yang disebut memiliki gaya tiki taka disebut-sebut menyerupai gaya permainan Barcelona. Wajar saja karena lini tengah dan belakang Spanyol diisi oleh pemain-pemain Barcelona. Disana ada arsitek permainan pada dua gelandang, yaitu xavi dan iniesta ditambah busquet sebagai gelandang bertahan dan pedro di posisi sayap kanan. Belum lagi dua pemain Barcelona lainnya, yaitu pique dan puyol, menempati jantung pertahanan Spanyol. Penguasaan bola dengan operan pendek dari kaki ke kaki yang mengalir secara cepat merupakan karakteristik permainan Spanyol. Bola pun akan mengalir lancar ke depan untuk diselesaikan oleh torres atau villa sebagai ujung tombak. Pola ini memang tidak sepenuhnya berhasil dan terbukti Spanyol tidak mampu mencetak gol ke gawang swiss walaupun menguasai ball possession lebih banyak. Namun, Konsistensi yang berbuah kemenangan yang mereka tunjukkan pada pertandingan berikutnya pasca kekalahan dari swiss sedikit memberikan bukti keampuhan dari gaya permainan mereka ini. Modal dasar inilah yang akan menjadi senjata Spanyol untuk meredam kecepatan dan kelincahan Jerman. Tentu saja gaya permainan tiki taka ini melawan kedisiplinan pemain Jerman akan menjanjikan tontonan yang menarik.

Determinasi inilah yang benar-benar ditunjukkan Spanyol pada pertandingan semifinal menghadapi Jerman. Sadar bahwa Jerman sangat berbahaya jika dibiarkan menguasai bola, pemain Spanyol berusaha terus memegang bola dan mengalirkannya dengan cepat dari satu pemain ke pemain lainnya. Lini tengah Spanyol terus berusaha merebut bola dan mengalirkan bola dengan cepat. Ini memaksa Jerman tidak mampu memainkan pola serangan cepat mereka dan membuat mereka tertahan di area permainan mereka sendiri. Ketidakhadiran Mueller di lini tengah Jerman sedikit berpengaruh terhadap ketajaman serangan mereka. Keraguan mereka antara tetap bertahan atau melakukan serangan membuat Jerman tidak mampu mengembangkan permainan. Sebuah keuntungan sesungguhnya telah diperoleh Spanyol sepanjang babak pertama meski mereka belum berhasil mencetak gol.

Belajar Berdemokrasi

34

Di babak kedua, Jerman mulai berani melakukan tekanan dan lebih terbuka untuk menyerang. Pertandingan pun berlangsung lebih menarik dengan serangan yang dilakukan kedua belah pihak secara bergantian. Beberapa peluang pun sempat diperoleh kedua tim, bahkan Jerman pun memiliki peluang emas saat tendangan kroos (yang masuk menggantikan trochowski, yang diplot sebagai pengganti Mueller) meluncur deras ke gawang iker casillas. Casillas pun berhasil menepis bola untuk menyelamatkan

gawangnya. Keuntungan yang diperoleh Spanyol saat Jerman bermain lebih terbuka membuat Spanyol dapat menciptakan beberapa peluang berbahaya. Davis villa menjadi lebih bebas bergerak dan beberapa kali mencoba mengancam melalui aksi dan kecepatannya walaupun masih mampu diblok oleh pemain belakang Jerman. Spanyol akhirnya mampu mencetak gol melalui sundulan kepala puyol memanfaatkan sepak pojok Xavi. Gol ini sesungguhnya hasil dari determinasi dan keyakinan pemain Spanyol yang berhasil memanfaatkan sedikit celah pertahanan Jerman yang mulai bermain terbuka. Ingat bahwa gawang Jerman pun pernah dibobol oleh pemain Inggris melalui cara yang sama seperti ini, yaitu melalui sundulan kepala yang memanfaatkan sepak pojok

Spanyol

pun

akhirnya

mampu

mengakhiri

pertandingan

dengan

kemenangan atas tim yang sebelumnya pernah membombardir gawang lawannya dengan mudah. Jerman yang sebelumnya terlihat begitu perkasa dan selalu mengakhiri laga dengan banyak gol pun dibuat tidak berkutik dan tidak berdaya. Kemenangan ini juga mengulangi hasil yang sama saat menghadapi Portugal dimana Portugal juga sebelumnya pernah

mengalahkan Korea Utara dengan skor telak, 7 – 0. Spanyol pun tampaknya boleh disebut pembunuh raksasa dengan satu gol maut.

Kemenangan ini juga seperti mengulang hasil akhir final Piala Eropa dimana Spanyol juga mampu mengalahkan Jerman dengan skor yang sama pula, 1 –

Belajar Berdemokrasi

35

0. Sebuah kemenangan yang amat manis yang mampu mengantarkan mereka mencapai final Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam sejarah. Dan, saya yakin ini tidak ada hubungannya dengan pilihan paul si gurita yang memilih bendera Spanyol dibandingkan bendera Jerman.

Belajar Berdemokrasi

36

Mungkinkah Mengubah Bentuk Tiang Gawang?9

Salah satu hal unik yang patut menjadi perhatian pada piala dunia ini adalah ketidakmampuan wasit untuk menentukan bola yang masuk ke gawang hasil pantulan dari tiang gawang. Kejadian unik ini menimpa tim inggris yang tidak beruntung saat wasit tidak mensahkan gol dari Frank Lampard. Dari tayang ulang bola pantulan dari tiang gawang memang terlihat sudah melewati garis gawang yang mestinya sudah bisa dianggap gol. Namun wasit tidak melakukan hal itu. Tidak disahkannya gol itu sendiri dianggap merugikan tim inggris yang merasa mereka seharusnya mampu

menyamakan keadaan dan memiliki peluang untuk bisa memenangkan laga. Meski, hal ini (inggris bisa menang) belum tentu bisa dilakukan.

Orang kemudian mengangkat wacana penggunaan teknologi dalam sepak bola yang bisa Sedikit membantu wasit dalam mengambil keputusan. Salah satu teknologi yang dianggap bisa sedikit mengatasi masalah ini adalah penggunaan chip dalam bola. Chip ini dilengkapi sensor yang bisa mendeteksi apakah bola sudah melewati garis gawang atau belum. Jadi, wasit akan dengan mudah mengesahkan gol jika bola sudah terdeteksi melewati garis gawang. Alternatif lainnya adalah menggunakan tambahan asisten
9

Tulisan asli di http://lomba.kompasiana.com/gempita-afsel/2010/07/09/mungkinkah-mengubahbentuk-tiang-gawang/

Belajar Berdemokrasi

37

wasit yang ditempatkan di garis belakang tiap gawang. Ini berarti memerlukan tambahan dua orang asisten wasit yang khusus mengamati kejadian di sekitar garis dan gawang. Kehadiran asisten wasit ini diharapkan dapat membantu wasit melihat lebih jelas kejadian di sekitar gawang, salah satunya adalah apakah bola sudah melewati garis gawang atau belum. Alternatif lainnya pun sedang coba dikembangkan.

Di sini saya ingin melihat masalah ini dari sisi bentuk tiang gawang yang digunakan. Tiang gawang yang digunakan saat ini adalah bentuk silinder yang memang terlihat lebih Simetris dan lebih enak dilihat. Menurut saya, bentuk gawang yang silinder seperti ini Menyumbang sedikit porsi atas masalah ini. Saya melihat bentuk gawang ini membuat bola memantul secara liar dan tidak menentu jika bola yang mengenainya dalam keadaan Berputar. Arah bola yang liar ini membuat bola bisa saja berbalik arah dan keluar dari Gawang meski awalnya bola sudah masuk ke gawang. Bola yang ditendang dan bergerak Berlurus sambil berputar memang akan menyulitkan kiper untuk menangkap-nya. Namun, Jika bola ini kemudian mengenai tiang gawang dan memantul, pantulannya bisa bergerak Dengan liar dengan arah yang bisa saja berbalik ke arah semula atau keluar gawang. Bola yang seharusnya masuk ke gawang menjadi memantul kembali ke luar. Bola yang semacam inilah biasanya yang menjadi kontroversi dan menyulitkan wasit mengambil Keputusan. Dan, wasit akan cenderung tidak mengesahkan gol itu karena kenyataannya posisi akhir bola ada di luar gawang dan kiper dengan mudah menangkapnya.

Bentuk silinder yang permukaannya tidak rata bisa membuat bola yang mengenai permukaan ini memantul dengan liar dan tidak mengarah langsung ke arah tertentu. Berbeda dengan bentuk permukaan yang rata, dimana jika bola mengenainya akan langsung mengarah ke arah tertentu dengan pasti. Arah bola yang liar ini membuat bola bisa saja berubah arah ke arah sebaliknya. Bola yang awalnya sudah masuk ke gawang, bisa saja

Belajar Berdemokrasi

38

berbalik arah dan keluar dari gawang. Keadaan bola seperti inilah yang membuat wasit sulit membuat keputusan. Keadaan ini bisa saja dihindari jika bentuk permukaannya lebih rata bukan melengkung seperti silinder sebagaimana yang digunakan saat ini.

Jadi, mungkinkah mengubah bentuk tiang gawang?

Belajar Berdemokrasi

39

Guru Dan Kurikulum Dalam Sistem Pendidikan Nasional10

Guru dan kurikulum adalah komponen penting dalam sebuah sistem pendidikan. Keberhasilan atau kegagalan dari suatu sistem pendidikan sangat dipengaruhi oleh dua faktor tersebut. Sertifikasi tenaga pendidikan dan pengembangan kurikulum yang belakangan ini tengah dilakukan adalah upaya untuk memperbaiki sistem pendidikan melalui dua aspek di atas.

Dalam tulisan ini, penulis ingin menyoroti peran guru dan kurikulum dalam sistem pendidikan nasional. Di sini penulis akan memaparkan kondisi yang ada dan perlunya dilakukan usaha untuk memperbaikinya. Analisis yang dilakukan di sini berdasarkan pengalaman penulis dalam pengajaran dan pengembangan buku pelajaran berbasis kurikulum.

Tulisan asli di http://netsains.com/2008/08/menyoroti-peran-guru-dan-kurikulum-dalam-sistempendidikan-nasional/ Belajar Berdemokrasi

10

40

Dicari, Seorang Guru yang Profesional Kita harus berani mengakui bahwa guru berperan besar dalam menjadikan sebuah pelajaran di sekolah sulit dan tidak menarik minat siswa untuk mempelajarinya. Fakta ini didukung oleh pendapat banyak siswa sekolah yang pernah penulis temui dan pengalaman penulis saat sekolah dulu. Dari pengalaman siswa tersebut, penulis mendapati banyak guru yang tidak punya motivasi dan semangat untuk mengajar di kelas. Entah karena malas atau kurang menguasai materi pelajaran, sering guru tidak hadir di kelas dan kalaupun hadir tidak memberikan pelajaran sesuai dengan waktu yang tersedia. Sering waktu pelajaran di kelas diisi dengan mencatat ataupun mengerjakan tugas tanpa siswa diberi wawasan secukupnya tentang materi tersebut.

Ada

juga

guru

yang

untuk

menutupi

kemalasannya

dan

ketidakmampuannya menguasai materi memberikan tugas kepada siswa untuk merangkum materi pelajaran atau membuat makalah dengan topik materi pelajaran yang akan diajarkan. Dengan siswa telah membuat rangkuman atau makalah guru menganggap siswa sudah mempelajari materi tersebut dan menganggap siswa sudah mampu menjawab semua pertanyaan yang berkaitan dengan materi tersebut. Wow, hebat sekali ya! (Jadi, ngapain aja tuh guru?)

Guru yang lainnya, untuk menutupi kemalasannya dan kekurangannya, ada yang memanfaatkan otoritasnya dengan bersikap galak kepada siswa. Ini diharapkan dapat menarik perhatian siswa terhadap pelajaran yang diajarkannya sehingga guru akan lebih leluasa mengajarkan materi pelajaran. Tetapi, sikap ini malah menambah kebencian siswa kepada guru sekaligus juga terhadap pelajarannya. Tidak heran ada istilah guru killer untuk menyebut guru yang mempunyai sikap seperti ini, galak, kurang jelas dalam

Belajar Berdemokrasi

41

menerangkan materi, dan otoriter. Apakah seperti ini sikap guru yang sesungguhnya?

Wajar saja kalau kegiatan belajar di kelas menjadi kurang menarik dan sulit lha wong gurunya saja tidak pernah memberikan pelajaran sama sekali dan lebih suka marah-marah ketimbang mengajar. Dari mana siswa mendapat tambahan pengetahuan kalau bukan dari guru? Padahal guru bertanggung jawab untuk mengantarkan siswa memahami pelajaran dan membimbing siswa untuk menerapkan pelajaran yang diajarkannya.

Berdasarkan pengalaman penulis, sebenarnya banyak cara, metode, dan sarana yang bisa dijadikan bahan dalam mengajarkan suatu materi sehingga dapat menjadi lebih mudah. Sebagai contoh, ketika mengajarkan materi termodinamika dalam pelajaran fisika (kebetulan penulis berlatar belakang fisika) seorang guru dapat menganalogikan hukum termodinamika I dengan krupuk yang sedang digoreng. Krupuk yang digoreng (diberi panas) akan mengalami perubahan volume (membesar) dan kenaikan suhu. Ini sesuai dengan hukum termodinamika I bahwa Q = ΔU + P.ΔV (panas Q mengakibatkan kenaikan suhu (energi dalam) ΔU dan pertambahan volume P.ΔV). Bukankah cara ini lebih efektif? Dan banyak lagi contoh yang bisa dipakai.

Tidak pantas bagi seorang guru yang membiarkan siswanya tidak mendapat tambahan pengetahuan. Dan, kebanggaan bagi guru yang mampu menanamkan pengetahuan kepada siswanya dan pengetahuan itu

bermanfaat bagi kehidupan di masa yang akan datang. Jadi, kepada guru marilah kita perbaiki sikap dan metode pengajaran yang selama ini kita jalankan dalam mengajarkan satu pelajaran. Dengan memperbaiki sikap dan metode pengajaran kita adalah salah satu jalan untuk membuat pelajaran itu lebih disenangi dan mudah bagi siswa.

Belajar Berdemokrasi

42

Kurikulum yang Tidak Membumi Tidak salah lagi, kurikulum adalah salah satu penyebab suatu pelajaran menjadi sangat sulit dan berat untuk dipelajari dan karenanya kurang disukai siswa. Di sini penulis mengambil contoh pelajaran fisika dan kurikulumnya sebagai studi kasus.

Kurikulum fisika yang ada tidak seharusnya diberikan pada tingkatan sekolah menengah. Karena menurut kurikulum ini materi pelajaran yang harus diberikan sangat banyak dan terlalu sulit jika dilihat bahwa jam pelajaran yang tersedia sangat terbatas dan siswa pun tidak hanya belajar fisika. Siswa juga harus belajar matematika, biologi, kimia, agama, ekonomi, sejarah dan lain-lain. Jadi, sangat tidak bijak apabila siswa dipaksakan (dijejali) untuk memahami semua materi yang ada di kurikulum.

Materi yang harus dipelajari oleh siswa tentang fisika begitu banyak dan mendetail yang masih perlu dipertanyakan haruskah materi ini diajarkan pada tingkat sekolah menengah. Perubahan kurikulum pada dasarnya tidak banyak mengubah materi pelajaran fisika ini karena hanya mengubah susunan atau struktur materi pelajaran. Perubahan kurikulum tidak pernah sama sekali menyentuh hal apakah materi ini layak dan harus diajarkan pada tingkat sekolah menengah. Pelajaran fisika yang selama ini kita pelajari di tingkat sekolah menengah seharusnya dipelajari di tingkat yang lebih tinggi (apa karena ini siswa kita banyak yang menggondol medali emas olimpiade fisika?).

Kurikulum yang ada selama ini hanya mampu diikuti oleh segelintir siswa saja yang mampu sedangkan sebagian besar siswa tidak dapat mengikuti apa yang ada di kurikulum. Seharusnya kurikulum dibuat untuk dapat diikuti oleh semua siswa, tidak hanya oleh segelintir siswa yang pintar saja. Berdasarkan pengalaman penulis untuk menjelaskan satu bagian (misalnya,

Belajar Berdemokrasi

43

hukum termodinamika I) saja dibutuhkan waktu yang cukup lama. Dan belum tentu bisa dipahami oleh semua siswa karena kemampuan masingmasing siswa berbeda-beda. Akibatnya, tidak cukup waktu yang tersedia untuk menyelesaikan seluruh materi yang ada dalam kurikulum.

Akan tetapi, karena kurikulum telah dijadikan pedoman dan bahkan seolaholah bagaikan kitab suci yang wajib digunakan, kekurangan-kekurangan yang ada dalam kurikulum tidak bisa diganggu gugat. Ini menjadi beban tersendiri buat guru dan siswa.

Menurut pandangan penulis pelajaran fisika seharusnya diarahkan untuk dapat membantu memecahkan masalah yang sering timbul dalam kehidupan sehari-hari. Pelajaran fisika bukan sekedar membahas seluruh aspek dari hukum-hukum fisika secara detil sekaligus menyelesaikan semua

perhitungan yang berkaitan dengan hukum tersebut tanpa siswa mengetahui apa manfaat yang nyata dari hukum-hukum tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Bisa dikatakan kurikulum yang ada kurang membumi yang membuat siswa kurang berminat mempelajarinya.

Kurikulum yang terlalu padat dan kurang membumi diperparah oleh ketersedian buku sebagai pegangan guru dan siswa dalam pengajaran fisika di sekolah. Ya, harus diakui bahwa buku pelajaran adalah salah satu elemen penting dalam proses pendidikan di sekolah tak terkecuali dalam pelajaran fisika. Di atas telah disebutkan bahwa buku fisika sebagai pengantar memahami pelajaran fisika yang ada tidak representatif. Ini bukan berarti penulisnya yang salah ataupun penerbit yang tidak bertanggung jawab. Penulis maupun penerbit merasa mereka telah membuat buku sesuai dengan kurikulum yang terbaru (kurikulumnya aja ngga jelas!). Dan mereka beralasan buku yang tidak sesuai kurikulum (walaupun lebih membumi dan lebih bisa dibaca (ada ngga ya!)) tidak akan laku dijual. Buku yang sedianya menjadi salah satu elemen penting dalam pendidikan telah terperangkap

Belajar Berdemokrasi

44

dalam bisnis semata dan seolah-olah mengabaikan aspek pendidikan. Praktik bisnis ini membuat tidak ada penerbit yang berani membuat buku yang lepas dari pakem dan belenggu kurikulum sehingga buku tersebut bisa lebih membumi dan mudah dipahami.

Salah satu ganjalan lain berkaitan dengan kurikulum yang membuat pelajaran fisika menjadi terlihat sulit adalah adanya ujian nasional (UN) sebagai standar kelulusan. Pelajaran fisika (atau sains pada umumnya) yang sedianya dapat dieksplorasi menjadi lebih menarik terbentur oleh batasanbatasan standar ujian nasional. Dengan adanya batasan-batasan ini guru menjadi terbelenggu dan membatasi pengajarannya hanya pada materi yang diprediksi akan keluar dalam UN. Pengajaran fisika yang dapat diarahkan agar lebih menarik digantikan oleh pembahasan soal-soal untuk menghadapi UN. Keindahan ilmu dan penerapan fisika serta merta akan tertutup oleh kekhawatiran bagaimana menyelesaikan soal UN dengan benar. Tentu saja siswa akan merasa bosan dengan metode pengajaran seperti ini tapi apa boleh buat daripada tidak lulus UN bisa berabe. (Mau ditaruh di mana muka gue kalo ngga lulus UN!)

Dengan argumen yang telah dipaparkan di atas, akankah kita diam saja membiarkan praktik semacam ini berlangsung terus?

Penulis yakin apabila setiap pelajaran baik fisika maupun pelajaran lain bisa diarahkan agar lebih membumi dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari akan lebih mudah untuk memahami suatu pelajaran. Dengan demikian, guru juga lebih mudah untuk mengajarkan materi pelajaran kepada siswa di kelas. Dan, pada saat itu tidak akan ada lagi yang mengeluh saat mengikuti suatu pelajaran di kelas.

Belajar Berdemokrasi

45

Luis Suares, Pantaskah Disebut Pahlawan?11

Pertandingan sudah memasuki detik-detik akhir. Saat itu kedudukan masih imbang 1 – 1 dalam pertandingan antara Uruguay vs Ghana dalam perempat final Piala Dunia 2010. Sebuah kemelut terjadi di depan gawang Uruguay. Seorang pemain Ghana menendang bola liar ke arah gawang Uruguay. Luis Suares, pemain depan Uruguay, tepat berada di depan gawang dan kakinya mampu memblok bola. Bola kembali melambung di tengah kerumunan pemain Ghana dan Uruguay. Adiyiah, pemain depan Ghana, beruntung mampu menyundul bola dan bola kembali mengarah dengan liar ke arah gawang Uruguay. Seorang pemain belakang Uruguay mencoba menahan bola dengan kepalanya, tapi tidak kena. Dan, Luis Suares kembali berada tepat di depan gawang. Entah sengaja atau tidak, bola kembali diblok. Namun, kali ini dengan dua tangannya bak seorang kiper yang berusaha mengamankan gawangnya. Bola pun kembali bergulir menjauhi gawang. Tentu saja bola tidak masuk ke gawang namun sebuah hukuman menanti.

Tulisan asli di http://lomba.kompasiana.com/gempita-afsel/2010/07/05/luis-suarez-pantaskahdisebut-pahlawan/ Belajar Berdemokrasi

11

46

Ya, Ghana mendapatkan tendangan penalti sedangkan pemain Uruguay, Luis Suares, tak ayal mendapatkan kartu merah langsung.

Ghana pun kembali memiliki kesempatan untuk mencetak gol yang hampir saja didapatkan lebih awal tadi. Namun kali ini kesempatan itu melalui tendangan penalti. Di atas kertas 80% tendangan penalti akan bisa menjadi gol. Asamoah Gyan, seperti biasa, dipercaya menjadi eksekutor. Sebagian penonton di stadion dan mungkin juga seluruh rakyat Afrika percaya Ghana akan maju ke semifinal. Tendangan pun dilakukan dan bola dengan liar membentur tiang atas gawang. Gol yang begitu dinanti itu tidak pernah terwujud. Seiring dengan itu peluit ditiup oleh wasit dan pertandingan pun selesai tanpa ada pemenang sehingga perlu dilanjutkan dengan adu tendangan penalti. Dan sekali lagi dewi fortuna masih enggan menghinggapi Ghana. Ghana pun tersingkir secara dramatis karena kalah dalam adu penalti. Harapan Afrika itu pun hanya bisa tertunduk lesu. Kemenangan yang sudah di depan mata itu pun buyar begitu saja. Harapan Afrika itu tersingkir dengan cara yang menyakitkan.

Sebaliknya, Uruguay pun mencatat sejarah dengan maju ke semifinal Piala Dunia yang terakhir kali mereka jejak pada tahun 1970 di Meksiko. Ternyata Uruguay pun menjadi satu-satunya semifinalis yang berasal dari Amerika Latin, di antara 3 semifinalis lain yang berasal dari Eropa. Setelah dua negara kuat yang secara tradisional selalu mewakili Amerika Latin, yaitu Brasil dan Argentina, tersingkir kalah dari lawan-lawannya. Keberhasilan Uruguay memenangkan laga yang dramatis ini kemudian dihubungkan dengan aksi “tangan ajaib” Luis Suares. Banyak yang menganggap, tentunya seluruh rakyat Uruguay yang timnya lolos ke semifinal pun demikian, Luis Suares pantas disebut pahlawan. Ini karena secara tidak langsung Suares sudah “menyelamatkan” gawang Uruguay dari kebobolan. Meski dengan cara yang kontroversial dan bisa dianggap kurang sportif. Secara tidak langsung di sini karena Ghana bisa saja menang andai tendangan penalti Gyan sukses

Belajar Berdemokrasi

47

membobol gawang Uruguay. Satu pertanyaan pun masih membayang, benarkah Luis Suares pantas dianggap pahlawan dari kemenangan Uruguay ini?

Luis Suares, Pantaskah disebut pahlawan? Tampak di layar televisi Luis Suares yang bersorak kegirangan dalam perjalanannya ke ruang ganti saat melihat tendangan penalti Gyan membentur tiang gawang dan tidak menjadi gol. Dia tentu amat paham bahwa timnya masih memiliki peluang untuk memenangkan pertandingan melalui adu tendangan penalti, meski tanpa kehadiran dirinya. Sebuah kartu merah plus denda dan larangan tampil di satu pertandingan yang didapatnya seolah tidak bernilai, dibanding peluang untuk memenangkan pertandingan sekaligus maju ke semifinal. Inilah yang menjadi perdebatan. Apakah tindakan Suares ini sportif sehingga dia layak dianggap pahlawan?

Tindakan menahan bola dengan tangan yang dilakukan oleh pemain selain kiper memang suatu pelanggaran. Dan, pelanggaran itu menjadi lebih berat jika dilakukan di depan gawang yang membuat lawan tidak bisa mendapatkan gol. Bahkan tindakan seperti ini yang dilakukan oleh Luis Suares bisa dianggap tidak sportif, apalagi tampak sekali aksi itu dilakukan dengan sengaja. Pertimbangan seperti inilah yang bisa jadi menjadi dasar bagi FIFA untuk menambah sanksi bagi Suares. FIFA tampaknya akan melakukan investigasi terhadap insiden ini dan Luis Suares bisa saja mendapat hukuman yang lebih berat jika dianggap melakukan pelanggaran berat.

Sebutan curang tentu saja terlalu jahat buat aksi yang dilakukan oleh Suares. Kenyataannya Suares sudah mendapatkan ganjaran kartu merah dan Ghana pun mendapatkan hadiah tendangan penalti. Di sinilah sesungguhnya letak perdebatan itu. seolah-olah hadiah tendangan penalti yang masih

Belajar Berdemokrasi

48

menyimpan peluang untuk gagal tidak sebanding dengan kesempatan gol yang hampir saja diperoleh. Seakan hal ini tidak adil. Dan sekali lagi sangat menyakitkan mengalami kekalahan dengan cara seperti ini. namun sekali lagi ini adalah sebuah pertandingan yang perlu menentukan seorang pemenang. Kadang moralitas perlu dikesampingkan untuk sebuah kemenangan. Sebagaimana sebuah tim tidak dilarang untuk memainkan sepak bola negatif untuk memperoleh kemenangan. Meski jika dilihat dari sisi moralitas hal ini bisa dianggap melanggar sportivitas.

Luis Suares pun bukan satu-satunya pemain yang memanfaatkan tangannya untuk membantu timnya. Pemain Australia Harry Kewell juga pernah melakukan tindakan yang serupa yang uniknya juga dilakukan saat berhadapan dengan Ghana di pertandingan penyisihan grup. Namun, Kewell boleh dibilang tidak beruntung karena meskipun terlihat tidak sengaja, Kewell mendapat kartu merah plus larangan tampil satu pertandingan dan timnya juga kebobolan dari tendangan penalti ini. bahkan Australia pun tidak lolos karena kalah selisih gol dari Ghana dan Kewell pun tidak bisa bermain lebih banyak di Piala Dunia ini. saat dikeluarkan oleh wasit karena terkena kartu merah pun Kewell tercatat baru bermain selama setengah jam saja di pertandingan yang baru pertama dilakoninya. Sungguh Harry Kewell yang tidak beruntung!

Untuk kasus yang sedikit berbeda namun mirip, perlu disebutkan disini nama-nama seperti Thierry Henry, Luis Fabiano, dan tentu saja si ‘tangan Tuhan’ Diego Maradona yang juga pernah memanfaatkan tangannya. Bedanya, mereka menggunakan tangannya untuk membantu mencetak gol. Dan mereka lebih beruntung karena aksi yang dilakukan tidak mendapat hukuman dari wasit. Aksi mereka pun tak lepas dari kontroversi dan perdebatan yang masih berlangsung sampai kini, antara dianggap pahlawan dan dianggap curang. Untuk Luis Fabiano (pemain Brazil), aksinya menggunakan tangan sepertinya tidak akan menjadi kontroversi

Belajar Berdemokrasi

49

sebagaimana Henry atau Maradona. Meski terlihat bola menyentuh tangannya bahkan dua kali sebelum Fabiano mencetak gol, tidak terdengar gaung yang mempertanyakan keabsahan golnya itu. aksi Luis Fabiano sendiri dilakukan saat mencetak gol kedua ke gawang Pantai Gading pada pertandingan penyisihan grup.

Perdebatan panjang pun bisa jadi akan mengemuka atas aksi Luis Suares, pantaskah dia dianggap pahlawan? Yang pasti sanksi sudah menunggu Luis Suares jika hasil penyelidikan FIFA membuktikan bahwa dia telah melakukan pelanggaran berat.

Akhir yang menyakitkan bagi Harapan Afrika Pertandingan perempat final antara Uruguay dan Ghana yang berakhir dengan kemenangan Uruguay itu pun masih menyisakan banyak catatan. Ghana sebagai satu-satunya wakil dari Afrika hampir saja mencatatkan namanya dalam sejarah dengan melaju ke semifinal. Ghana dalam perjalanannya sampai ke perempat final untuk berhadapan dengan Uruguay sesungguhnya bisa dianggap selalu dihinggapi dewi fortuna. Coba kita perhatikan catatan berikut ini. Gol kemenangan Ghana atas serbia di babak penyisihan grup adalah hasil tendangan penalti yang didapat setelah salah satu pemain belakang serbia melakukan handsball di kotak penalti. Demikian juga gol ke gawang Australia yang kembali diperoleh dari tendangan penalti akibat handsball-nya pemain Australia, Harry Kewell, di depan gawang. Harry Kewell sendiri juga terkena kartu merah akibat perbuatannya yang dianggap dengan sengaja menahan bola yang hampir masuk di depan gawang. Pertandingannya pun berakhir dengan imbang 1 – 1. Nilai yang didapat dari dua hasil ini cukup untuk membawa Ghana lolos mendampingi Jerman ke fase perdelapan final. Meskipun di pertandingan terakhir grup Ghana kalah dari Jerman. Namun, ironisnya di perempat final ini dewi fortuna yang sebelumnya telah dua kali menaungi Ghana itu tidak mau

Belajar Berdemokrasi

50

mendekat lagi. Tendangan penalti yang seharusnya bisa menjadi gol dan cukup untuk meloloskan Ghana ke semifinal gagal dikonversi menjadi gol kemenangan.

Belajar Berdemokrasi

51

Isra Mi’raj, Al-Quds, dan Palestina12

”Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil haram ke Masjidil aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS Al-Isra atau surat Bani Israil (17): 1) Tahukah kamu bahwa saat ini kita telah berada di bulan Rajab dalam kalender Hijriah? Ada apa dengan bulan Rajab? Masih ingatkah kita kepada saudara-saudara muslim kita di Palestina? Apa hubungannya bulan Rajab dengan Palestina dan Al-Quds? Ayat di atas banyak diperdengarkan di saat-saat ini di bulan Rajab ini, baik di masjid-masjid maupun di pengajian-pengajian. Ayat ini memang bercerita tentang suatu kejadian penting yang terjadi di bulan Rajab, suatu keajaiban dan mukjizat yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad saw.
12

Tulisan asli di http://umum.kompasiana.com/2009/07/17/isra-miraj-al-quds-dan-palestina/

Belajar Berdemokrasi

52

Ya, peristiwa itu adalah Isra dan Miraj yang dialami oleh Baginda Nabi. Dalam ayat di atas Allah yang Maha Kuasa telah menunjukkan kebesaran dan mukjizatnya dengan memperjalankan Nabi Muhammad saw dari Masjidil Haram di kota Mekah (sekarang termasuk dalam negara Arab Saudi) ke Masjidil Aqsa di Palestina. Dua tempat ini berjarak ratusan kilometer dan memakan waktu berhari-hari untuk mencapainya dalam satu perjalanan yang dilakukan saat itu, zaman di mana kuda dan onta adalah satu-satunya kendaraan yang tersedia. Dan, Nabi Muhammad saw hanya memerlukan waktu beberapa detik saja untuk melakukannya tentunya atas izin dan kekuasaan Allah swt. Saya tidak ingin membahas bagaimana kekuasaan Allah itu dapat terjadi atau bagaimana bentuk buraq, binatang yang ditunggangi Nabi Muhammad dalam perjalanan itu. Saya lebih tertarik untuk membahas bagaimana nasib bangsa Palestina yang saat ini masih terlunta-lunta. Padahal dalam ayat di atas disebutkan dengan jelas bahwa “… yang telah Kami berkahi sekelilingnya …” Allah telah menyatakan bahwa negeri-negeri di sekitar Masjidil Aqsha merupakan tempat yang diberkahi-Nya. Semestinya Palestina adalah negeri yang penuh berkah di mana di sana berdiri dengan kokoh Masjidil Aqsa sebagai kiblat pertama umat Islam (udah pada tau khan?). Tapi, apa yang terjadi saat ini? Palestina hanyalah sebuah negeri yang penuh dengan noda darah, air mata, dan perpecahan, yang selalu disebut-sebut sebagai sarang teroris oleh barat (AS dan sekutunya). Boleh jadi, zionis yahudi dan sekutunya lebih memahami ayat ini sehingga mereka memilih palestina sebagai tempat berdirinya negara Israel. Bukanlah sebuah kebetulan bahwa tanah Palestina yang diberkahi itu dijadikan target dan tempat berdirinya negara Israel. Bisa jadi kaum Yahudi memang dari awal telah mengetahui bahwa Palestina memang tempat yang sangat strategis dan merupakan pusat dari pusaran konstelasi dunia. Dengan menempatkan
Belajar Berdemokrasi 53

Israel menduduki wilayah Palestina, Yahudi dan zionis Israel mempunyai posisi strategis di dunia. Dan, dengan mudah mereka bersama dengan sekutu-sekutunya memainkan kendali atas umat Islam secara global. Ini perlu disadari kembali oleh seluruh umat Islam di dunia. Keberadaan Israel dan Zionis yang menduduki wilayah Palestina memang amat merugikan posisi umat Islam dalam konstelasi politik dunia. secara geografis dan politik Israel telah melemahkan posisi umat Islam yang membuat perpecahan yang berlarut-larut di wilayah timur tengah yang efeknya melemahkan kekuatan Islam secara global di seluruh dunia. Telah terbukti bahwa wilayah Timur tengah merupakan kawasan petro dolar dimana minyak telah menjadi komoditas yang telah membuat para pembesar kerajaan di wilayah itu hidup dalam kegelimangan harta dan pundi-pundi dolar. Namun, ada satu tugas besar yang telah dilupakan, yaitu keberadaan zionis Israel yang pada dasarnya telah melemahkan kekuatan umat Islam secara global. selama Israel masih mengangkangi wilayah Palestina, selama itu pula kekuatan dan keberkahan Islam yang telah dijanjikan Allah tidak akan terwujud secara nyata. Saya pikir bulan Rajab ini dan lebih khusus lagi peringatan Isra Miraj yang sebentar lagi akan kita jalani (tanggal 27 Rajab bertepatan dengan tanggal 18 Juli 2008 (?), saya agak bingung nih karena di kalender tanggal merahnya hari senin tgl 20 Juli), adalah momen yang sangat tepat untuk mengingat kembali bahwa masih ada tugas kita sebagai seorang Muslim untuk ikut merasakan dan membantu penderitaan dan perjuangan yang dialami oleh saudara-saudara di Palestina.

Belajar Berdemokrasi

54

Kampanye = Obral Janji, Adakah Alternatif Lain?13

Kalau kita memperhatikan materi kampanye dari setiap capres, hanya ada satu kesimpulan: kampanye = obral janji. Baik yang saat ini sedang berkuasa maupun yang berusaha ingin berkuasa, semua mengklaim dan berjanji untuk memenuhi kemauan rakyat. Saya percaya janji-janji ini hanya omong kosong dan hanya retorika semata. Ketika isu kerakyatan menjadi bahasan dan tema popular yang harus menjadi bagian dari kepemimpinannya kelak, semua calon pun berusaha dan mengklaim bahwa mereka adalah yang paling berhak menyandang gelar kerakyatan, entah itu ekonomi kerakyatan atau bekerja untuk rakyat. Buat saya, masa kampanye adalah saat untuk tidak mempercayai semua yang disampaikan dan dijanjikan oleh setiap calon. Karena retorika mudah dibuat dan mudah juga diabaikan atau dilupakan.

Tulisan asli di http://umum.kompasiana.com/2009/06/18/kampanye-obral-janji-adakah-alternatiflain/ Belajar Berdemokrasi

13

55

Kampanye semacam ini memang wajar dalam rangka menumbuhkan citra positif di mata rakyat. Namun, apakah kita memilih untuk sebuah citra semata? Bukankah kita memilih pemimpin yang dapat membawa kepada kemakmuran dan kesejahteraan rakyat? Melihat kampanye yang demikian yang amat jauh berbeda dengan realitas, saya berpikir untuk memberikan alternatif bentuk kampanye yang lain. Jika selama ini kampanye dilakukan hanya sekedar menampilkan image dan citra yang baik (namun 100 persen menipu!!), mengapa tidak dibuat semacam penilaian kinerja berbasis project. Jika seorang pimpinan lembaga negara (misalnya Pertamina, PLN, gubernur BI) dipilih melalui tes kelayakan, mengapa tidak dilakukan juga terhadap capres-cawapres? Capres merupakan posisi yang sangat strategis, sudah sepantasnya dipilih dari mereka-mereka yang memang memiliki kapabilitas yang sesuai. Jika seorang sarjana, master, dan doktor perlu melalui serangkaian project dan comprehensive test, maka seorang calon pemimpin eksekutif negara sangat perlu dipilih setelah melalui serangkaian test yang benar-benar akan memperlihatkan kualitas dan kapabilitasnya dalam memimpin negara. Debat atau penyampaian visi-misi menurut saya juga kurang efektif untuk menilai kualitas calon karena debat masih berbasis retorika yang bersifat relatif sehingga belum dapat menunjukkan kemampuan yang sebenarnya. Hanya dengan penilaian berbasis project dan kinerja, kita dapat menilai secara objektif. Kata-kata sangat mudah diucapkan. Janji-janji sangat mudah dibuat dan ditetapkan. Namun, apa yang bisa kita dan seluruh rakyat tuntut atas semua kata-kata dan janji-janji yang sudah diucapkan tersebut? Mungkin inilah salah satu kelemahan dari sistem demokrasi, yang didasarkan pada suara terbanyak. Semestinya seorang pemimpin dipilih tidak hanya didasarkan pada dukungan massa yang besar saja, namun

Belajar Berdemokrasi

56

dengan didasarkan pada kualitas dan kapabilitasnya untuk menjadi pemimpin. Dengan sistem demokrasi, seseorang dengan kualitas dan kapabilitas yang baik tidak bisa menjadi pemimpin karena tidak didukung oleh suara yang banyak. Sebaliknya, orang dapat berpeluang besar menjadi pemimpin karena mendapat dukungan yang besar meskipun kualitas dan kapabilitasnya masih perlu dipertanyakan. Maka penilaian dan ujian berbasis project diperlukan untuk menilai dan menunjukkan kapabilitas dari calon pemimpin negara.

Belajar Berdemokrasi

57

Memburu Hidup Sesudah Mati14

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki.” (QS Ali Imran: 169) Atas takdir Allah kaum muslimin di Madinah dihadapkan pada kenyataan bahwa mereka dipertemukan dengan musuh mereka (orang-orang kafir) dalam suatu peperangan besar. Tidak ada pilihan lain bagi kaum muslimin kecuali menghadapi peperangan ini, sebagai bagian dari komitmen mereka kepada Allah dan Rasul-Nya. Tapi, ada sebagian dari kaum muslimin yang menolak perintah ini. Mereka adalah orang-orang munafik yang dengan segala macam alasan tidak ikut berperang menghadapi orang kafir. Dan, pada perang Uhud itu, kaum muslimin mengalami kekalahan akibat kelalaian mereka sendiri.

14

Tulisan asli di http://umum.kompasiana.com/2009/07/21/memburu-hidup-sesudah-mati/

Belajar Berdemokrasi

58

Orang-orang munafik (yang tidak ikut berperang) ini kemudian dengan bangga dan sombongnya mengatakan kepada saudara-saudara mereka, “andaikan kalian tidak ikut berperang, tentu kalian tidak akan terbunuh dalam peperangan ini.” Mereka seolah-olah puas atas kekalahan kaum muslimin dan senang karena tidak ikut terbunuh dalam perang ini. Maka Allah menjawab celaan orang-orang munafik ini melalui ayat di atas. “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki.” Inilah sekelumit kisah dalam Al-quran yang mengandung banyak hikmah. Orang-orang munafik mengira bahwa orang-orang yang mati dalam peperangan (jihad) adalah sesuatu yang sia-sia. Dan, bisa jadi pola pikir seperti ini yang ada dalam pikiran kita semua. Tapi Allah yang Maha Besar memiliki pandangan lain dengan menyatakan bahwa sesungguhnya orangorang yang gugur di jalan Allah tidaklah mati tetapi tetap hidup di sisi Allah dengan mendapatkan rizki dari Allah. Tidakkah kita menginginkan hal ini, hidup di sisi Allah dengan segala kenikmatan dan rizki-Nya? Sesungguhnya inilah kenikmatan terbesar dan hakiki bagi kita. Dan Allah telah membuka jalan bagi kita semua untuk dapat meraihnya, yaitu dengan cara berjuang di jalan Allah. Pada zaman rasul, ini bisa diwujudkan dengan berperang melawan musuhmusuh Allah, yaitu orang-orang kafir. Namun, bagaimana mewujudkan hal ini di zaman sekarang yang berbeda dengan kondisi pada zaman Rasul? Tentu saja kita tidak bisa menyamakan kondisi pada zaman Rasul dengan kondisi sekarang. Kita tidak bisa melakukan perang secara terbuka dengan orang kafir sebagaimana Rasul bersama kaum muslimin melakukannya pada masa lalu. Kita tidak bisa menggunakan ayat ini untuk membuat legitimasi atas kekerasan atau peperangan atas nama agama (baca: Islam).

Belajar Berdemokrasi

59

Perjuangan yang kita lakukan saat ini secara fisik tentu saja tidak sama dengan perjuangan dan jihad pada masa Rasul. Bagi mereka di Palestina, berjuang melawan penjajah Israel adalah jihad mereka. Dan, mereka wajib melakukannya. Tapi, bagi kaum muslimin di AS atau di Eropa, tentu saja tidak bisa melakukan perjuangannya dengan berperang melawan orangorang kafir. Mereka melakukannya dengan syiar dan dakwah Islam. Bukankah demikian? Begitu juga perjuangan umat Islam di Indonesia (seperti kita) tentu saja memiliki bentuk perjuangannya sendiri. Banyak yang bisa kita lakukan dalam memperjuangkan Islam. Mari kita renungkan firman allah, “… bekerjalah kamu maka Allah dan Rasul-Nya akan melihat pekerjaan kamu …” Saat ini kita dituntut untuk menunjukkan sejauh mana kita berbuat bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa. Dengan “bekerja” itulah kita berjuang di jalan Allah. Tentu saja bekerja disini mempunyai makna yang sangat luas. Dengan bekerja kita dapat bermanfaat bagi orang lain. Sebagaimana dalam suatu hadis “sebaik-baik kamu adalah yang paling bermanfaat buat manusia (baca: orang lain)”. Tidakkah kita menginginkan menjadi orang atau hamba yang terbaik di mata Allah dan mendapatkan kenikmatan hidup di sisinya pada kedudukan yang mulia dengan mendapat berkah dan rizki-Nya? Semoga! amin

Belajar Berdemokrasi

60

Religious Is Professional15
Dalam menjalani kehidupan sehari-hari seorang muslim melakukan banyak hal mulai dari keluarga dan kehidupan sosial, sampai profesi dan pekerjaan. Dalam menjalani kehidupannya tersebut seorang muslim harus

melakukannya secara proporsional dan seimbang. Proporsional dan seimbang ini bukan berarti melakukannya dengan porsi yang sama antara satu bagian dengan bagian yang lain, melainkan sesuai dengan proporsi dan prioritas. Dalam Islam seorang muslim mempunyai kewajiban-kewajiban yang diembannya dalam seluruh aspek kehidupannya dan sesuai dengan minat dan potensi yang dimilikinya. Tidak semua muslim harus berprofesi sama (misalnya, harus menjadi guru) tetapi seorang muslim bebas menjalani profesi yang sesuai dengan kecenderungan, minat, dan potensi yang dimilikinya. Namun, sesuatu yang pasti adalah setiap muslim adalah seorang dai yang mengemban amanat untuk menyebarkan, mensyiarkan, dan memberikan teladan islam kepada orang lain, masyarakat, dan umat manusia. Dalam hal ini seorang dai bukanlah seorang dengan pakaian islami yang menyampaikan konsep islam di mimbar-mimbar saja, melainkan seorang dengan wawasan keislaman yang terbentuk dan terintegrasi baik dalam kata-kata maupun perbuatan yang setiap kata-kata dan perbuatannya bermanfaat bagi orang lain dan alam sekitarnya.

15

Tulisan asli di http://filsafat.kompasiana.com/2009/11/12/religius-is-professional/

Belajar Berdemokrasi

61

Dengan predikat sebagai dai itulah seorang muslim bergaul, berinteraksi, menyatu, dan memberikan pandangannya dalam berbagai aspek kehidupan manusia dengan berbagai profesi yang dia miliki. Kekuatannya adalah sejauh mana dia dapat berinteraksi dengan masyarakat, menyampaikan, dan mewarnainya dengan nilai-nilai keislaman dalam bentuk kata-kata,

perbuatan, dan aksi positif tanpa terpengaruh dan terjerumus dalam gaya hidup masyarakat di mana dia berinteraksi. Di sinilah konsep tawazun (seimbang) menjadi konsep yang penting yang perlu dimiliki oleh setiap muslim plus (muslim yang mengemban amanah sebagai dai). Seorang muslim perlu memperhatikan setiap aspek

kehidupannya secara menyeluruh. Ini berarti baik jasmani dan rohani, keluarga, pekerjaan, masyarakat, diri sendiri, maupun orang lain perlu diperhatikan dan diperlakukan secara seimbang dan proporsional. Selain itu, yang tidak kalah penting adalah seimbang antara dunia dan akhirat. Dalam surat al-Qashas ayat 77 Allah berfirman untuk memperhatikan dunia dan akhirat secara seimbang. “Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berbuatkerusakan.”

Dalam menyampaikan dakwah dan syiar Islam, seorang muslim tidak perlu menunggu sampai berdiri di atas mimbar dan di hadapan orang banyak. Bahkan perbuatan, tingkah laku, dan tutur kata yang Islami dan menyentuh hati lebih mulia dan lebih mencerminkan sikap seorang muslim sejati dibandingkan kata-kata kosong di hadapan orang banyak. Oleh karena itu, ruang kerja, warung tempat berbelanja, halte tempat menunggu bis (atau stasiun), dan setiap tempat (di bumi) di mana seorang muslim berpijak

Belajar Berdemokrasi

62

merupakan mimbar-mimbar tempat menyampaikan dakwah dan syiar Islam melalui sikap, tutur kata, dan perbuatan yang Islami. Seorang office boy yang menunjukkan sikap, tutur kata, dan perbuatan yang Islami lebih mulia dibandingkan seorang manajer yang kurang disukai bawahannya karena sikapnya yang kurang baik. (Namun, tentu saja seorang manajer yang menunjukkan sikap, tutur kata, dan perbuatan yang Islami dan tulus ikhlas tanpa pamrih jauh lebih baik). Sikap seperti ini hanya bisa diperoleh melalui pemahaman yang baik terhadap konsep tawazun. Seorang muslim yang tawazun tidak hanya memikirkan dirinya sendiri melainkan juga menjaga sikapnya agar bermanfaat bagi orang lain. Karena berbuat baik dan bermanfaat bagi orang lain tidak mendapatkan balasan langsung di dunia tetapi di akhirat, maka sikap ini tentu lahir dari pemahaman yang mendalam atas konsep keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat. Sikap tawazun akan menjadi landasan yang kokoh bagi seorang muslim yang profesional. Setiap muslim dituntut untuk menjadi manusia-manusia yang profesional dan menjadi teladan bagi umat manusia. Apapun profesi yang dijalaninya, seorang muslim harus selalu menjalankannya secara profesional, dan sikap tawazun adalah landasan yang amat diperlukan dalam proses ini. Seorang muslim belum dikatakan sebagai manusia yang sukses apabila kecemerlangan dan kehebatan kariernya tidak disertai dengan keharmonisan dalam hubungan keluarga dan sosial. Seorang manajer belum dikatakan sempurna dan cakap apabila tidak memiliki kemampuan berinteraksi secara sosial yang baik. So, be religious and be professional

Belajar Berdemokrasi

63

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful