The 2nd National Conference UKWMS Surabaya, 6 September 2008

PERSEPSI MAHASISWA AKUNTANSI TERHADAP ETIKA PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN
Nurita Universitas Kristen Duta Wacana WED Radianto Universitas Ciputra Surabaya Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menguji perbedaan persepsi mahasiswa akuntansi terhadap etika penyusunan laporan keuangan, antara mahasiswa yang sudah mengambil mata kuliah pendidikan etika dengan mahasiswa yang belum mengambil mata kuliah pendidikan etika. Analisis didasarkan pada data dari 134 responden penelitian yang pengumpulannya melalui kuesioner.Metode yang digunakan oleh peneliti adalah uji Mann Whitney yang digunakan untuk menguji perbedaan persepsi mahasiswa terhadap penyusunan laporan keuangan dan menguji tanggung jawab mahasiswa terhadap pelaporan keuangan, sedangkan uji T-Test digunakan untuk menguji perbedaan persepsi antara pria dan wanita.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara mahasiswa yang sudah mengambil pendidikan etika dengan mahasiswa yang belum mengambil pendidikan etika. Mahasiswa yang sudah mengambil pendidikan etika memiliki persepsi yang baik terhadap etika penyusunan laporan keuangan dibandingkan dengan mahasiswa yang belum mengambil pendidikan etika. Sedangkan mengenai tanggung jawab terhadap pelaporan informasi keuangan mahasiswa yang belum mengambil pendidikan etika lebih tinggi dari pada mahasiswa yang belum mengambil pendidikan etika. Hal ini berarti kurikulum Akuntansi di perguruan tinggi tersebut dianggap belum cukup memberi bekal etika kepada mahasiswa untuk terjun ke dunia kerja, KataKunci: Laporan Keuangan, Etika, Persepsi, mahasiswa

1

Profesionalisme suatu profesi akuntan mensyaratkan tiga hal utama yang harus dipunyai oleh setiap anggota akuntan yaitu keahlian. akuntan intern.The 2nd National Conference UKWMS Surabaya. Di Indonesia sedang berkembang issue seiring dengan terjadinya beberapa pelanggaran etika yang terjadi. Profesi akuntan Indonesia pada masa yang akan datang akan menghadapi tantangan yang semakin berat. agar dapat memperluas jaringannya. pengetahuan. pemakai jasa dan akan menentukan keberadannya dalam persaingan di antara rekan profesi dari negara lainnya. Karakter menunjukkan kepribadian seorang akuntan yang diwujudkan dalam sikap dan tindakan etis akuntansi akan sangat menentukan posisinya di masyarakat. maupun akuntan pemerintah. dan berkarakter. Terkadang penyajian laporan keuangan yang telah dibuat oleh akuntan menyimpang dari etika dan sikap positif seorang akuntan. Semua perusahaan memiliki tujuan untuk memperoleh keuntungan atau laba yang sebesar-besarnya. pemahaman dan dapat menerapkan etika secara memadai dalam melaksanakan 2 . informasi tersebut berupa informasi akuntansi dalam bentuk laporan keuangan. 6 September 2008 PENDAHULUAN Kemajuan ekonomi suatu perusahaan memacu para akuntan untuk melakukan tindakan persaingan yang cukup tajam dalam dunia bisnis. Hal ini tidak akan terjadi jika setiap akuntan dan calon akuntan mempunyai pengetahuan. yang disertai dengan catatan atau informasi atas laporan keuangan. untuk itu kesiapan yang menyangkut profesi seorang akuntan mutlak diperlukan. Misal: Rasio-rasio kegiatan perusahaan di bidang sosial dan sebagainya. Tidak mengherankan jika sejak dahulu etika selalu menyoroti akuntan dalam menyajikan laporan keuangan. Akuntansi merupakan sistem yang digunakan untuk menyediakan informasi keuangan yang dibutuhkan banyak pihak. baik yang dilakukan oleh akuntan publik.

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh bukti empiris mengenai perbedaan persepsi mahasiswa yang belum mengambil matakuliah pendidikan etika dan mahasiswa yang sudah mengambil matakuliah pendidikan etika tentang penyajian laporan keuangan. Dalam hal ini ada salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perilaku seorang akuntan adalah lingkungan pendidikan. tetapi pendidikan tinggi akuntansi juga bertanggung jawab pada pengajaran ilmu pengetahuan yang menyangkut tentang etika yang harus dimiliki oleh mahasiswanya dan agar mahasiswanya mempunyai kepribadian (personality) yang utuh sebagai calon akuntan yang profesional. 3 .The 2nd National Conference UKWMS Surabaya. serta memperoleh bukti empiris mengenai perbedaan persepsi mahasiswa yang belum mengambil matakuliah pendidikan etika dan mahasiswa yang sudah mengambil matakuliah pendidikan etika tentang tanggung jawab terhadap pengguna laporan keuangan. dimana kemampuan seorang akuntan untuk dapat mengerti dan peka terhadap persoalan etika juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan di mana dia berada. Mata kuliah yang mengandung muatan etika tidak terlepas dari misi yang telah dimiliki oleh pendidikan tinggi akuntansi sebagai subsistem pendidikan tinggi. Dengan sikap akuntan yang professional maka akan mampu menghadapi tekanan yang muncul dari dirinya sendiri ataupun dari pihak eksternal. Oleh sebab itu pemahaman seorang calon akuntan (mahasiswa akuntansi) sangat diperlukan dalam hal etika dan keberadaan pendidikan etika ini juga memiliki peranan penting dalam perkembangan profesi akuntansi di Indonesia. 6 September 2008 tugasnya sebagai seorang akuntan yang professional. Dunia pendidikan akuntansi juga mempunyai pengaruh yang besar terhadap perilaku etis seorang akuntan. Pekerjaan seorang akuntan harus dikerjakan dengan sikap yang professional yang sepenuhnya berlandaskan pada standar moral dan etika yang ada.

Rahmi. walaupun ada kecenderungan staf pengajar lebih berorientasi etis dibanding mahasiswa baik di tingkat akhir maupun mahasiswa baru. Sedangkan Ward et al. Hasil analisis yang menggunakan Kolmogorov Sminov one sample test dan pair t-test menunjukkan bahwa dalam derajat tertentu CPA dapat membedakan perilaku etis dan tidak etis. Penelitian yang dilakukan oleh Desriani. Rustiana dan Dian Indri (1999) juga membandingkan persepsi antara novice accountant (mahasiswa). Penelitian yang dilakukan oleh Stevens et al. Gudono (2000) menyimpulkan tidak ada perbedaan 4 . Sedangkan Sriwahjoeni dan M. dan persepsi akuntan publik lebih baik dibanding akuntan pendidik dan novice accountant (mahasiswa). menunjukkan bahwa terdapat perbedaan persepsi yang signifikan antara kelompok akuntan publik terhadap kode etik akuntan. 6 September 2008 KERANGKA TEORITIS DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS Beberapa penelitian mengenai topik terkait sudah pernah dilakukan. Hasil analisis dengan t-test menunjukkan bahwa secara keseluruhan tidak ada perbedaan signifikan di antara kelompok.The 2nd National Conference UKWMS Surabaya. Data dikumpulkan dari 137 mahasiswa bisnis (46 mahasiswa baru dan 67 mahasiswa akhir) dan 34 anggota staf pengajar di Southem University. (1993) mengenai persepsi akuntan publik terhadap kode etik akuntan. akuntan pendidik dan akuntan publik terhadap kode etik akuntan yang hasilnya menunjukkan bahwa terdapat perbedaan persepsi tentang kode etik akuntan diantara tiga kelompok akuntan tersebut. Selain itu hasil dalam penelitian ini juga menunjukkan adanya kecenderungan bahwa mahasiswa akhir lebih berorientasi etis dibandingkan mahasiswa baru.(1993) melakukan penelitian untuk menginvestigasi kemampuan Certified Publik Accountats (CPA) mengenali dan mengevaluasi situasi etis dan tidak etis serta menguji sikap CPA berkaitan tentang pendidikan etika. (1993) melakukan penelitian tentang perbandingan evaluasi atas dari staf pengajar dengan mahasiswa sekolah bisnis.

Dari tinjauan dan penelitian terdahulu. Wulandari dan Sularso (2002) juga meneliti tentang persepsi akuntan pendidik dan mahasiswa akuntansi terhadap kode etik akuntan Indonesia. H2: Tidak terdapat perbedaan persepsi mengenai tanggung jawab terhadap pengguna laporan keuangan antara mahasiswa yang belum mengambil matakuliah pendidikan etika dan mahasiswa yang sudah mengambil matakuliah pendidikan etika. karena jumlah responden mahasiswa yang akan diberi kuesioner diketahui persis oleh peneliti yaitu mahasiswa semester 1 yang belum mengambil matakuliah pendidikan etika dan mahasiswa semester akhir yang sudah mengambil matakuliah pendidikan etika. Data dikumpulkan melalui kuesioner dengan memberikan pertanyaan kepada responden mengenai persepsi mereka terhadap etika penyajian laporan keuangan. METODA PENELITIAN Dalam penelitian ini populasi atau obyek penelitiannya diambil dari mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Yogyakarta. Data dalam penelitian ini dikumpulkan sejak bulan Agustus sampai awal Desember 2007. maka dua hipotesis sebagai berikut: H1: Terdapat perbedaan persepsi mengenai penyajian laporan keuangan antara mahasiswa yang belum mengambil matakuliah pendidikan etika dan mahasiswa yang sudah mengambil matakuliah pendidikan etika. Hasil penelitiannya menyatakan bahwa tidak ada perbedaan persepsi yang signifikan antara kelompok akuntan pendidik dengan mahasiswa akuntansi. Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan cara purposive sampling. 6 September 2008 persepsi diantara tujuh kelompok akuntan yang diteliti terhadap kode etik akuntan. Penelitian ini menggunakan skala 5 .The 2nd National Conference UKWMS Surabaya.

Sampel mahasiswa belum mewakili seluruh perguruan tinggi di Indonesia sehingga hasil penelitian tidak dapat di generalisir. sehingga dapat menghasilkan penelitian yang lebih baik. Tingkat pengembalian kuesioner 85% yaitu sebanyak 170 kuesioner. diharapkan penelitian selanjutnya dapat meningkatkan sampel lebih dari jumlah tersebut. Kuesioner yang diisi lengkap dan dapat digunakan untuk analisis data adalah 64% yaitu sebanyak 128 kuesioner. 2. 6 . 6 September 2008 likert dengan menggunakan 5 kategori penelitian yaitu sangat tidak setuju sampai sangat setuju.The 2nd National Conference UKWMS Surabaya. Data yang diperoleh tersebut kemudian dianalisis dengan menggunakan T-Test dan Uji MannWhitney (U). Setelah dilakukan uji reliabilitas dan validitas selanjutnya dilakukan uji T-Test dan Mann Whitney sebagai konfirmasi. Dalam penelitian ini penulis hanya menggunakan 128 sampel. Keterbatasan Beberapa keterbatasan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Berikut ini adalah data responden yang digunakan untuk pengolahan data. Uji validitas dan reliabilitas yang dilakukan menunjukkan valid dan reliabel. ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN Dalam penelitian ini jumlah kuesioner yang disebarkan secara keseluruhan berjumlah 200 kuesioner. Menambah sample dan populasi penelitian. kuesioner yang tidak diisi dengan lengkap 15% yaitu sebanyak 36 kuesioner. Hasil Pengolahan Data Pada bagian pengolahan data akan dilakukan uji reliabilitas dan validitas terlebih dahulu.

262 yang mempunyai nilai lebih dari 0.05 sehingga mendukung hipotesis pertama atau memang persepsi mengenai penyajian laporan keuangan antara mahasiswa yang belum mengambil matakuliah pendidikan etika dan mahasiswa yang sudah mengambil matakuliah pendidikan etika benar berbeda. terlihat pada kolom tingkat signifikansi sebesar 0.The 2nd National Conference UKWMS Surabaya.14 60. Hasil Pengujian Hipotesis Kedua kelompok sudah mengambil matkul etika belum mengambil matkul etika N 64 64 128 .95 74.262 Mean Rank 68. 6 September 2008 Tabel 1 Data Responden Keterangan Mahasiswa yang sudah mengambil pendidikan etika Mahasiswa yang belum mengambil pendidikan etika Laki-laki 30 26 Perempuan 34 38 Pengujian Hipotesis pertama Tabel 2 Hasil Pengujian Hipotesis Pertama Kelompok Mahasiswa sudah mengambil matkul etika belum mengambil matkul etika Total Signifikansi N 64 64 128 .05 Mahasiswa Total Signifikansi 7 .86 Tabel 2 menunjukkan hasil pengujian hipotesis pertama. Pengujian Hipotesis Kedua Tabel 3.004 Mean Rank 54.

bahwa jika menjadi seorang akuntan dan pelaku kegiatan akuntansi tidak boleh memalsukan ‘informasi‘ sekitar laporan keuangan. Dalam pelaporan informasi keuangan lebih baik disajikan menurut standar etik akuntansi atau dengan perkataan lain dalam kegiatan akuntansi berlaku nilai-nilai akuntansi: 8 . Seorang akuntan harus memiliki akurasi dan kejujuran dalam mengungkapkan segala hal yang terkait dengan peristiwa/kegiatan yang ia periksa (pelaporannya harus accountable).05 sehingga mendukung hipotesis kedua. yang membayarnya). 6 September 2008 Tabel 3 menunjukkan hasil pengujian hipotesis kedua.86. Seorang akuntan tidak boleh memberi pelaporan yang bertujuan membela kepentingan satu pihak saja (pemakai jasa akuntan. Hal ini dapat dilihat juga dari nilai rata-rata kelompok mahasiswa yang sudah mengambil matakuliah pendidikan etika yaitu sebesar 68.262 sehingga mendukung hipotesis pertama. tetapi ia juga harus memperhitungkan kepentingan/kebutuhan semua pihak yang menggunakan pelaporannya. Hal ini dapat dilihat dari tingkat signifikansi sebesar 0. terlihat pada kolom tingkat signifikansi sebesar 0.14.The 2nd National Conference UKWMS Surabaya. nilai ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok mahasiswa yang belum mengambil matakuliah pendidikan etika yaitu 60. atau tidak terdapat perbedaan persepsi mengenai tanggung jawab terhadap pengguna laporan keuangan antara mahasiswa yang belum mengambil matakuliah pendidikan etika dan mahasiswa yang sudah mengambil matakuliah pendidikan etika Analisis Terdapat perbedaan yang signifikan antara persepsi mengenai penyajian laporan keuangan pada perusahaan antara mahasiswa yang belum mengambil matakuliah pendidikan etika dan mahasiswa yang sudah mengambil matakuliah pendidikan etika. Ini terjadi karena jika mahasiswa mengikuti pendidikan etika di kelas mereka akan memperoleh penjelasan dan mengerti tentang kode etik seorang akuntan.004 yang mempunyai nilai lebih dari 0.

Dalam banyak kasus riil. etika selalu memperhitungkan situasi konkrit yang ada. yang menurut kita pekerjaan yang lebih baik serta tidak menuntut kita untuk melakukan perbuatan yang tidak kita inginkan. Kita terkadang bingung jika kita bekerja pada sebuah perusahaan yang akan bangkrut dimana pajak yang harus dibayarkan ternyata cukup tinggi serta banyak karyawan akan di phk (putus hubungan kerja) apabila seorang akuntan diperintah untuk melakukan pelaporan keuangan palsu. Jika mahasiswa yang belum mengambil pendidikan etika maka mahasiswa tersebut belum mengerti kode etik yang diberlakukan bagi seorang akuntan. 6 September 2008  Ketelitian (dalam pemeriksaan)  Kejujuran dan akurasi (dalam pelaporan)  Kepentingan semua pihak Ketiga hal diatas disebut sebagai nilai yang berlaku dalam akuntansi. Mungkin kita dapat berpikir apakah keputusan yang kita ambil dari segi etik/moral dapat dipertanggungjawabkan. Menurut pendidikan etika. dan menginformasikan kepada pemegang saham bahwa kondisi keuangan perusahaan baik-baik saja serta dapat memberikan pengembalian deviden yang cukup untuk pemegang saham. sebab ketiganya bermakna dan berperan besar mendukung seorang akuntan yang dapat menghasilkan apa yang seharusnya/wajib dilakukan oleh seorang akuntan.The 2nd National Conference UKWMS Surabaya. etika memungkinkan pilihan tindakkan yang tidak sepenuhnya baik/benar. tetapi tentu saja tidak boleh yang jahat/salah. sebaiknya kita mengundurkan diri saja dan mencari pekerjaan yang lain. dan mereka lebih memandang kepentingan pihak perusahaan dan karyawan yang bekerja diperusahaan tersebut. apakah kita setuju untuk melakukan hal tersebut. karena pada 9 . jika kita mempunyai prinsip dan lebih mengarah ke yang benar serta standar kode etik dapat dipegang bahwa kita tidak boleh melakukan hal tersebut lebih baik jangan melakukan perbuatan tersebut.

Hasil ini sesuai dengan penelitian terdahulu yang menyebutkan bahwa mahasiswa yang belum mengambil matakuliah pendidikan etika lebih memandang tinggi profesi akuntan dibandingkan mahasiswa yang sudah mengambil matakuliah pendidikan etika. pada mahasiswa yang belum mengambil pendidikan etika lebih mengarah ke setuju sedangkan pada mahasiswa yang sudah mengambil pendidikan etika lebih mengarah ke tidak setuju.95.The 2nd National Conference UKWMS Surabaya. semua bersumber pada diri kita sendiri. karena jika hasil mean yang lebih tinggi menggambarkan tanggung jawab yang lebih tinggi untuk menyajikan laporan keuangan yang informatif bagi penggunannya. Tidak terdapat perbedaan persepsi mengenai tanggung jawab terhadap pengguna laporan keuangan antara mahasiswa yang sudah mengambil matakuliah pendidikan etika dan mahasiswa yang belum mengambil matakuliah pendidikan etika. hal ini dapat dilihat dari tingkat signifikansi sebesar 0. Mahasiswa baru tanggung jawabnya lebih tinggi karena mereka merasa orang awan yang baru masuk pada suatu perkerjaan yang baru.05 jauh dibandingkan dengan mahasiswa yang sudah mengambil matakuliah etika yaitu 54. 6 September 2008 kuesioner yang peneliti sebarkan pada pertanyaan “Saya akan dengan sengaja membuat kesalahan dalam laporan keuangan jika hal itu diperlukan untuk mencegah kebangkrutan perusahaan dan menjaga keamanan pekerjaan karyawan saya“. tetapi jika penulis melihat dari nilai rat-rata pada mahasiswa yang belum mengambil matakuliah etika lebih tinggi yaitu 74. Jadi jika perusahaan memberikan kita pekerjaan untuk melakukan manupulasi data dalam laporan keuangan itu pada prinsipnya ada pada diri kita sendiri kita mau tidak melakukannya apa kita tidak memiliki prinsip yang teguh dan tidak termakan dengan iming-iming yang diberikan perusahaan tersebut.004 sehingga mendukung hipotesis kedua. persepsi terhadap profesi inilah yang mempengaruhi derajat tanggung jawab yang dirasakan mahasiswa jurusan akuntansi terhadap pengguna laporan keuangan. maka mereka merasa 10 .

Pengguna pelaporan akuntansi bisa terdiri dari berbagai pihak dengan kepentingannya masing-masing misalnya: Pemilik modal atau sponsor keuangan.The 2nd National Conference UKWMS Surabaya. 6 September 2008 mempunyai tanggung jawab yang penuh terhadap pekerjaan tersebut pada pertanyaan yang penulis ajukan yaitu ‘Yang bertanggung jawab untuk menjaga kepentingan investor adalah independen auditor. tetapi juga untuk kepentingan pengambilan keputusan untuk kegiatan berikutnya. KESIMPULAN Setelah melakukan penelitian maka dapat diperoleh kesimpulan dari hipotesis sebagai berikut: a. bukan manager perusahaan’ pada pertanyaan yang ini kebanyakkan oleh responden mahasiswa baru lebih memilih tidak setuju karena mereka berpikir jika kita sudah berkerja pada perusahaan tersebut maka kita harus memiliki rasa bertanggung jawab bersama jangan hanya merupakan tanggung jawab seorang independen auditor saja. Sedangkan pada mahasiswa lama mereka lebih memilih kata setuju jadi dapat kita simpulkan bahwa mahasiswa lama memiliki tanggung jawab yang lebih rendah daripada mahasiswa yang baru masuk perguruan tinggi. Mereka memakai pelaporan itu. 11 . biasanya dalam rangka pengambilan keputusan yang berkaitan dengan keikutsertaannya dalam pendanaan kegiatan. karena kita harus merasa memiliki perusahaan tersebut maka kita melakukan perkerjaan tersebut akan dengan hati yang tulus dalam melaksanakannya. Masyarakat umum pengguna pelaporan. untuknya pelaporan itu bukan sekedar sebuah laporan yang mengesahkan kebenaran laporan keuangan. Terdapat perbedaan persepsi yang signifikan mengenai penyajian laporan keuangan antara mahasiswa yang sudah mengambil mata kuliah pendidikan etika dengan mahasiswa yang belum mengambil mata kuliah pendidikan etika. maka hipotesis pertama diterima.

12 . maka hipotesis kedua ditolak. Oleh sebab itu hendaknya dunia pendidikan akuntansi semakin memperhatikan pendidikan etika mahasiswa akuntansi dalam berbagai jenjang pendidikan. Pada akhirnya penelitian ini tidak mengatakan bahwa persepsi mahasiswa yang sudah mengambil mata kuliah pendidikan etika dengan yang belum mengambil mata kuliah pendidikan etika adalah buruk atau baik. 6 September 2008 b. karena pada dasarnya semua profesi memerlukan etika yang baik dalam menjalankan profesinya tidak terkecuali pada pendidikan akuntansi yang mencetak calon akuntan yang berjasa dalam penyediaan informasi laporan keuangan kepada pihak publik.The 2nd National Conference UKWMS Surabaya. Tidak terdapat perbedaan persepsi yang signifikan mengenai tanggung jawab terhadap pengguna dalam laporan keuangan antara mahasiswa yang sudah mengambil mata kuliah pendidikan etika dengan mahasiswa yang belum mengambil mata kuliah pendidikan etika.

Imam. Mengolah Data Statistik Secara Profesional. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 1999. 1993. 2000.2001. 2 Juli: 168-184. Yogyakarta. D. Edisi ketiga.R. Sihwahjoeni dan M.”Persepsi Akuntan terhadap Kode Etik Akuntan Indonesia”. dan Akuntan public. Ghozali. Rustiana dan Dian Indri. 3. 6 September 2008 DAFTAR REFERENSI Djarwanto. Persepsi Kode Etik Akuntan Indonesia: Komparasi Novice Accountant. Jakarta. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS Edisi 3. Ward. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 1985. Universitas Gadjah Mada. Gudono. Journal of Business Ethics 12: 611-619. Drs. dan A. Penerbit: Universitas Diponegoro.”Persepsi Akuntan Pendidik dan Mahasiswa Akuntansi Terhadap Kode Etik Akuntan Indonesia Studi Kasus Di Surakarta”. 7. Rahmi. Ward. BPFE. 2005. Yogyakarta. Jakarta: Penerbit Balai Pustaka.”Persepsi Akuntan Terhadap Kode Etik Akuntan”. Semarang. Suzanne Pinac.B. Program Pasca Sarjana. 2002. 600-610. Akuntan Pendidik. 1993. Deck. Singgih Santoso. Steven. Simposium Nasional Akuntansi II IAIKAPd September. Statistik Nonparametrik Edisi 2.2 Des: 17-89 13 . A Compration of Ethical Evaluations of Business Scholl Faculty and Students: A Pilot Study. Wulandari dan Sularso. Ethical Perception Skill and ttitudes on Ethics Education. Certified Public Accountants. 2005. Jurnal Perspektif FE UNS Vol. 1993.The 2nd National Conference UKWMS Surabaya. No. Penerbit: PT Elex Media Komputindo. No. Desriani. Thesis S-2. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia Vol. Journal of Business Ethics 12.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful