Kultum Mesjid Ar Rahmah Madrasah (Syukurilah Nikmat Tuhanmu!) ADAB BERPUASA November 10, 2009...

10:29 am

KAIDAH-KAIDAH USHUL FIQH*
Jump to Comments 3 Votes BAB I PENDAHULUAN I. Latar Belakang Masalah Qawaidul Ushuliyah (kaidah-kaidah Ushul) adalah suatu kebutuhan bagi kita semua khususnya mahasiswa Azhar, calon mujtahid yang akan meneruskan perjuangan pendahulu-pendahulu kita dalam membela dan menegakkan islam dimanapun berada. Banyak dari kita yang kurang mengerti bahkan ada yang belum mengerti sama sekali apa itu Qawaidul ushuliyah. Maka dari itu, kami selaku penyusun mencoba untuk menerangkan tentang kaidah-kaidah ushul, mulai dari pengertian, perkembangan, sumber-sumbernya, dan beberapa urgensi dari kaidah-kaidah ushul. II. Rumusan Masalah 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Mengerti dan memahami pengertian kaidah ushul. Menyebutkan sumber-sumber pengambilan kaidah-kaidah ushul. Menyebutkan rukun serta syarat-syarat kaidah-kaidah ushul. Mengerti persamaan serta perbedaan antara kaidah ushul dan kaidah fiqh? Mengeerti hubungan antara kaidah-kaidah ushul dengan ushul fiqh itu sendiri? Mengetahui faedah serta kedudukan kaidah-kaidah ushul. Mengetahui buku-buku yang di karang ulama tentang kaidah-kaidah ushul.

III. Tujuan Pembahasan Makalah ini disusun bertujuan agar kita mengetahui, memahami dan mengerti tentang hal-hal yang berhubungan dengan kaidah-kaidah ushul, mulai dari definisi, sumbersumber, rukun, syarat, perbedaannya dengan kaidah-kaidah fiqh, hubungannya dengan ilmu ushul fiqh dan buku-buku yang menjadi subernya. BAB II

Al Qi’dah (cara duduk. Prof. Qo’id ar rojul (Istrinya). Defenisi kaidah Qawaid merupakan bentuk jamak dari qaidah. kita kita akan mencoba menjelaskan beberapa permasalahan mulai dari defenisi kaidah secara bahasa dan istilah. Dari seluruh arti tadi dapat kita simpulkan bahwa kaidah secara bahasa artinya tidak akan keluar dari dasar atau pondasi dan tempat sesuatu. al-Qanun (peraturan dan kaidah dasar). kaidah memilik banyak arti diataranya: al-asas (dasar atau pondasi). penyusun akan mencoba menulis beberapa defenisi dari kalangan ulama atau hanya sekedar menulis defenisi yang menurut penyusun lebih rajih atau lebih kuat. Dr. Muhammad Syabir mendefinisikan sebagai:” ”Suatu perkara kulli (kaidahkaidah umum) yang dengannya bisa sampai pada pengambilan kesimpulan hukum syar’iyyah al far’iyyah dari dalil-dalilnya yang terperinci”.. al-Mabda’ (prinsip). defenisi kaidah-kaidah ushuliyyah secara bersamaan. Dalam bahasa arab. . Jailany mendefinisikan sebagai:” hukum kulli (berifat umum) yang berdiri diatasnya furu’ fiqhiyah yang di bentuk dengan bentuk umum dan akurat”. Dzul Qo’dah (nama salah satu bulan qomariyah yang mana orang orab tidak mengadakan perjalanan didalamnya) dan lain sebagainya. Adapun secara istilah banyak sekali defenisi yang di buat oleh para ulama. defenisi ushul fiqh secara bahasa dan istilah. yang baik atau yang buruk). tetapi yang paling lengkap dan paling baik menurut penyusun adalah: ”Suatu perkara kulli (kaidah-kaidah umum) yang berlaku pada semua bagianbagiannya.PENGERTIAN Sebagai studi ilmu agama pada umumnya. dan al-nasaq (metode atau cara). Defenisi ini belum maani’ karena kaidah-kaidah fiqh masih masuk didalamnya. Dalam studi ilmu kaidah ushul fiqh. Defenisi kaidah-kaidah ushuliyah Dr. Didalam seluruh defenisi tadi terdapat perbedaan pendapat dalam kalangan ulama. Defenisi ilmu tertentu diawali dengan pendekatan kebahasaan. kajian ilmu tentang kaidah-kaidah ushul diawali dengan definisi.“ Defenisi Ushul Fiqh Untuk defenisi ushul fiqh sengaja penyusun tidak sebutkan karena sudah ada yang membahasnya. yang kemudian dalam bahasa indonesia disebut dengan istilah kaidah yang berarti aturan atau patokan.

maka tidak perlu di perpanjang di sini. Al Qur’an bisa difahami dari uslub-uslub bahasa arab. dan cara penggunaan dalil serta kondisi pengguna dalil”. (QS An Nahl: 89) Ini adalah kedudukan al Qur’an. dengan dalil ‫إنا أنزلناه قرآنا عربيا لعلكم تعقلون‬ 3. (QS. Allah berfirman : “dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian”. dengan dalil . kaidah-kaidah ushul fiqh bersumber dari naql (Al-Qur’an dan Sunnah). Kitab ini adalah kitab undangundang yang mengatur seluruh kehidupan manusia. AL Isra: 82) Dan firman Allah: “dan Kami turunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”. Adat atau kebiasaan di akui sebagai hukum pada permasalahan yang tidak memiliki dalil. BAB III SUMBER-SUMBER PENGAMBILAN KAIDAH-KAIDAH USHUL Secara global. Al Qur’an merupakan firman Allah SAW yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW. ‘Akal (prinsip-prinsip dan nilai-nilai). Pertama: Al Qur’an. dan merupakan obat bagi ummat dari segalah penyakitnya. dengan dalil ‫وما ينطق عن الهوي إن هو إل وحي يوحي‬ 2. Diantara kaidah-kaidah ushul yang di hasilkan dari Al Qur’an adalah: 1. Penyusun yakin semua orang tahu itu. bahasa (Ushul at tahlil al lughawi). firman Allah yang Maha mengetahui apa yang bermanfaat bagi manusia dan apa yang berbahaya.Defenisi yang menurut penyusun lebih akurat adalah:” Hukum kulli (umum) yang dibentuk dengan bentuk yang akurat yang menjadi perantara dalam pengambilan kesimpulan fiqh dari dalil-dalil. yang secara terperinci kita jelaskan dibawah ini. Sunnah adalah sumber hukum yang di akui. untuk membebaskan manusia dari kegelapan.

Ijma’ Sahabat bahwa “syariat nabi Muhammad menghapus seluruh syariat yang sebelumnya”. Jika seluruh perintah Allah telah disampaian oleh Rasulullah kepada umat. (QS. Allah Berfirman yang artinya:” Muhammad tidak lain hanyalah seorang rasul”. selesailah tugasnya dan wajib bagi umat untuk memperhatikan risalah yang di sampaikan oleh rasulullah. Qiyas merupakan hujjah yang di akui secara syar’I (‫)القياس حجة معتبرة شرعا‬ Ketiga: Ijma’ Diantara kaidah-kaidah ushul yang di ambil dari ijma adalah: 1. 65. Ijma’ merupakah hujjah yang di akui secara syar’I (‫)الجماع حجة معتبرة شرعا‬ 3. 59. Bahkan didalam surat Al Hasyr Allah berfirman: “apa yang diberikan Rasul kepadamu. karena siapapun yang menjadi utusan pasti lebih rendah tingkatannya dari yang mengutus.“ Diantara kaidah-kaidah ushul yang di ambil dari hadits adalah: 1. (QS. 172 juga didalam surat An Nisa ayat: 42. Perintah yang mutlak hukumnya wajib (‫)المر المطلق يفيد الوجوب‬ 2. diantaranya firman Allah dalam surat Ali Imran ayat: 53. Maka nilai kemuliaan Rasulullah bukan dari dirinya sendiri tetapi dari Sang Pengutus yaitu Allah SWT. Ijma’ Sahabat bahwa “hukum yang di hasilkan dari hadits ahad dapat di terima”. Maka terimalah. dan bertakwalah kepada Allah. Ali Imran: 144). dan masih banyak lagi.132. 61. Maka tinggalkanlah. . Jika berkumpul perintah dan larangan maka larangan di dahulukan (‫إذا اجتمع المر‬ ‫)والمحرم قدم المحرم‬ 4. Allah berfirman yang artinya: “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul. sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya.144.‫حذ العفو وأمر بالعرف وأعرض عن الجاهلين‬ Kedua: As Sunnah Allah memberikan kemuliaan kepada nabi Muhammad SAW dengan mengutusnya sebagai nabi dan rasul terakhir untuk umat manusia dengan tujuan menyampaikan pesanpesan ilahi kepada umat. 3. Maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun. Ali Imran: 144) Banyak sekali ayat Al Qur’an yang menjelaskan bahwa sunnah Rasulullah adalah merupakan salah satu sumber agama islam. Apakah jika Dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang. Ijma’ Sahabat bahwa “hukum terbagi menjadi 5 macam”. 64. dan apa yang dilarangnya bagimu. 2. dan Allah akan memberi Balasan kepada orangorang yang bersyukur”.

Dengan demikian dapat kita fahami bahwa islam tidak akan kita fahami tanpa akal. Apa dalil yang menunjukkan bahwa Al Qur’an benar-benar dari Allah? Jika dijawab I’jaz. bahwa akal tidak bisa berkerja sendiri tanpa syar’I. Allah lah yang menjadi hakim. Sebagai contoh. 5. karena kita tidak akan faham islam tanpa akal.Keempat: Akal Akal memiki kedudukan yang tinggi didalam syariat islam. Ilmu Ushuluddin • • • • • • • Baik dan buruk dapat diketahui dengan syar’I bukan dengan akal Rasulullah tidak menetapkan ijtihad yang salah Tidak ada yang ma’sum kecuali nabi Syari’at islam menghapus syari’at sebelumnya Domir goib kadang-kadang kembali pada kalimat yang tidak tertulis. . dan itu bisa di ketahui melalui siyaaq kalimat. 2. Hadits-hadits Ahad zonniyah Qiyas adalah hujjah Hukum yang terakhir menghapus hukum yang terdahulu (naskh) Orang awam boleh taqlid Nash lebih di utamakan dari qiyas maupun ijma’ Diantara kaidah-kaidah ushul yang di ambil dari ilmu-ilmu islam 1. Yang lebih kuat didahulukan dari yang lemah. Baik dan buruk hanya di ketahui melalui syar’I bukan akal. 3. ia berubah menjadi kaliamat insyaa menurut kesepakatan ahli nahwu. Kelima: Perkataan Sahabat Diantara kaidah-kaidah ushul yang diambil dari perkataan-perkataan sahabat Rasulullah adalah: 1. Al Qur’an merupakan dalil yang di akui. Kalimat Aina (‫ )أين‬menunjukkan tempat (syarat ataupun istifham) dan ( ‫)متي و أيان‬ menunjukkan waktu (syarat atupun istifham) Fi’il madi jika menjadi fiil syarat. dan akal merupakan sarana untuk memahami hukum-hukum Allah tersebut. apa dalil yang menunjukkan bahwa I’jazul quran sebagai dalil bahwa alqur’an bersumber dari Allah SWT? Dan seterusnya. Diantara kaidah-kaidah ushul yang di hasilkan dari akal adalah: 1. 2. Apa dalil yang menunjukkan bahwa Allah itu ada? Jika dijawab Al Qur’an. 4. 3. oleh karena itulah akal merupakan syarat taklif dalam islam. Meskipun demikian. Akal hanyalah sarana untuk mengetahui hukumhukum Allah melalui dalil-dalil al quran dan hadits. ada satu hal yang harus di perhatikan dengan seksama.

o Kaidah ‫سد الذرائع‬ o Kaidah adat dan kebiasaan merupakan dalil yang di akui o Kaidah ‫المصالح المرسلة‬ 2. 3. Ilmu Bahasa Arab • • • • • Domir goib kadang-kadang kembali pada kalimat yang tidak tertulis. ‫( النهي للكرار‬larangan menunjukkan pengulangan) umpamanya kita akan menemukan 4 rukun didalamnya: Pertama : Maudu’ (tema) yaitu ‫النهي‬ Kedua : Mahmuul yaitu ‫التكرار‬ Ketiga : Penisbatan antara keduanya yaitu kebergantungan rukun kedua dengan rukun pertama Keempat : Terjadi atau tidaknya rukun ketiga pada keduanya. Kalimat Aina (‫ )أين‬menunjukkan tempat (syarat ataupun istifham) dan ( ‫)متي و أيان‬ menunjukkan waktu (syarat atupun istifham) Fi’il madi jika menjadi fiil syarat. Ilmu Fiqih • • • Kaidah ‫سد الذرائع‬ Kaidah adat dan kebiasaan merupakan dalil yang di akui Kaidah ‫المصالح المرسلة‬ BAB IV RUKUN DAN SYARAT KAIDAH-KAIDAH USHUL Rukun-rukun kaidah Ushuliyyah Ketika kita melihat sebuah kaidah ushul. dan itu bisa di ketahui melalui siyaaq kalimat. 2. dengan kata lain menurut falasifah.. kaidah-kaidah ushul cukup dengan satu rukun saja yaitu rukun yang keempat. (‫ )إلي‬menunjukkan akhir sesuatu (waktu maupun tempat) Dan sebagainya.• • (‫ )إلي‬menunjukkan akhir sesuatu (waktu maupun tempat) Dan sebagainya. . Imam Ar Razi mengatakan bahwa at tasdiq tidak cukup dengan rukun ke empat saja tetapi gabungan dari keempat rukun tersebut. (Apakah perintah menunjukkan pengulangan benar-benar terjadi atau tidak?) Jika keempat-empatnya adalah tasowwurot dimanakah hukumnya atau at tasdiq ?? Ahli mantiq ketika berusaha menyelesaikan permasalahan ini berbeda pada 2 pendapat: 1. Al Falasifah mengatakan bahwa at tasdiq adalah rukun ke empat saja. ia berubah menjadi kaliamat insyaa menurut kesepakatan ahli nahwu.

Hubungan antara keduanya adalah hubungan atara umum dan khusus (ilmu ushul fiqh lebih umum dari ilmu kaidah-kaidah ushul). keduanya tidak akan bisa dipisahkan karena ilmu kaidah-kaidah ushul merupakan bagian dari ilmu ushul fiqh.adillah al ijmaliayah min hautsu dobthi al fiqh. akan jelas sekali perbedaan atara keduanya. Adapun tujuan ushul fiqh adalah pencapaian nilai-nilai yang dapat menyempurnakan ijtihad dalam fiqh. 2. 3. Dengan demikian kaidah-kaidah ushul lebih dahulu muncul dari ilmu ushul fiqh. Tetapi meskipun demikian. dah ilmu ushul fiqh muncul sebelum munculnya ilmu kaidah-kaidah ushul. 4. Perbedaan dalam segi maudu’ (tema). Dengan demikian tujuan ilmu kaidahkaidah ushul adalah ingin memberikan bentuk lain untuk ushul fiqh dalam bentuk kaidah yang lebih singkat dan sistematis. Tujuan dari kaidah-kaidah ushul adalah menyempurnakan ushul fiqh dengan cara menyempurnakan nilai-nilai ushul dengal lafaz yang singkat. Tema kaidah-kaidah ushul adalah ushul fiqh itu sendiri adapun tema ushul fiqh adalah al. dan mengembalikan nilai-nilai tersebut kepada nilai yang lebih umum yang menjadi kaidah buat kaidah tersebut. 6. dan inilah yang menjadi tonggak munculnya ilmu kaidah-kaidah ushul.Syarat-syarat kaidah Ushuliyyah 1. Tidak bertentangan dengan kaidah lain (baik itu kaidah ushul ataupun kaidah fiqh) yang sebanding dengannya atau lebih kuat darinya. Dari segi histories (Apakah ushul fiqh muncul terlebih dahulu atau kaidah-kaidah ushul?) Sahabat-sahabat Rasulullah. tabi’in dan yang mengikuti mereka sejak dahulu telah berijithad dengan memakai kaidah-kaidah ushul. . Adapun perbedaan atara keduanya adalah sebagai berikut: • • • • Mayoritas kaidah-kaidah ushul adalah nilai yang di ambil dari ushul fiqh (ushul fiqh jauh lebih luas pembahasannya daripada kaidah-kaidah ushul). Dari segi Tujuan. Demikian juga ilmu ushul fiqh semakin luas hingga di butuhkan kaidah-kaidah singkat yang dapat dengan mudah diterapkan oleh seorang mujtahid. Kemudian pembahasan semakin luas hingga muncullah ilmu ushul fiqh. Kaidah-kadiah ushul tersebut harus tegas dan tidak ragu-ragu BAB V HUBUNGAN ANTARA KAIDAH-KAIDAH USHUL DENGAN USHUL FIQH Ketika kita melihat defenis dari ushul fiqh dan kaidah-kaidah ushul. Harus dalam bentuk yang singkat Merupakan perkara yang sempurna Maudu’nya (temanya) harus kulli bukan juz’I (umum) Kaidah-kaidah ushul tersebut tidak bertentangan dengan syari’at dan maqosid syari’ah 5.

karena itu kaidahnya kaidah aghlabiyyah (kaidah umum). Kaidah-kaidah ushul jauh lebih sedikit dari kaidah-kaidah fiqh. Perbedaan antara kaidah ushul dan kaidah fiqih pun bisa dilihat dari maudhu’nya (objek). Sehingga istitsna’iyyah (pengecualian) hanya ada sedikit sekali atau bahkan tidak ada sama sekali. Namun. bahwa setiap dalil (baik Qur’an maupun Hadits) yang bermakna perintah menunjukan wajib. kaidah ushul “al-aslu fil amri lil wujub” bahwa asal dalam perintah menunjukan wajib. Kaidah ini tidaklah mengandung suatu hukum syar’i. Kaidah ushul kaidah yang menyeluruh (kaidah kulliyah) dan mencakup seluruh furu’ di bawahnya.BAB VI PERBEDAAN ANTARA KAIDAH-KAIDAH USHULIYYAH DENGAK KAIDAHKAIDAH FIQHIYYAH Persamaan antara kaidah ushul dan kaidah fiqh terletak pada kesaaman sebagai wasilah pengambilan hukum. sebagian . Berbeda dengan kaidah fiqih yang banyak terdapat istitsna’iyyah. Seperti sholat. ia hanyalah sebuah alat atau wasilah kepada kesimpulan suatu hukum syar’i. Kaidah ini menjadi alat yang membantu para mujtahid dalam menentukan suatu hukum. Kaidah-kaidah ushul lebih kuat dari kaidah-kaidah fiqh. Adapun kaidah-kaidah fiqh ulama berbeda pendapat. Kaidah ushul dalam teksnya tidak mengandung asrarus syar’i (rahasia-rahasia syar’i) tidak pula mengandung hikmah syar’i. Berbeda dengan kaidah fiqih “al-dharar yuzal” bahwa kemudharatan mesti dihilangkan. Dengan kata lain. Jika Kaidah ushul maudhu’nya dalil-dalil sam’iyyah. zakat dan lain-lain 5. kita bisa memahami. Seluruh ulama sepakat bahwa kaidah-kaidah ushul adalah hujjah dan mayoritas dibangun diatas dalil yang qot’I. Kaidah ushul pada hakikatnya adalah qa’idah istidlaliyah yang menjadi wasilah para mujtahid dalam istinbath (pengambilan) sebuah hukum syar’iyah amaliah. Dalam kaidah ini mengandung hukum syar’i. Sedangkan kaidah fiqih dari teksnya terkandung kedua hal tersebut. Tetapi dari kaidah ini kita bisa mengambil hukum. dalam perspetif ini kaidah ushul sangatlah mirip dengan kaidah fiqih. Misalnya. Sedangkan. Sebagian mengatakan bahwa kaidah-kaidah fiqh bukan hujjah secara mutlaq. Sehingga kita bisa memahami bahwa kaidah fiqih adalah hukum syar’i. kita pun bisa melihat perbedaan yang signifikan dari kedua kaidah tersebut. Dan kaidah ini digunakan sebagai istihdhar (menghadirkan) hukum bukan istinbath (mengambil) hukum (layaknya kaidah ushul). 6. bahwa kemudharatan wajib dihilangkan. Sedangkan kaidah fiqih maudhu’nya perbuatan mukallaf. secara ringkas perbedaan kedua kaidah tersebut adalah sebagai berikut : 1. Keduanya merupakan prinsip umum yang mencakup masalahmasalah dalam kajian syari’ah. Oleh karena itu. bahwa kaidah ushul bukanlah suatu hukum. kaidah fiqih adalah suatu susunan lafadz yang mengandung makna hukum syar’iyyah aghlabiyyah yang mencakup di bawahnya banyak furu’. 3. 4. 2. baik itu pekerjaan atau perkataan.

memiliki banyak pengikut dan murid. Ulama yang faham ushul fiqh dan kaidah-kaidahnya adalah ulama yang tinggi derajatnya. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan“. Setelah ilmu aqidah. dunia dan akhirat. (QS. Ia tidak menolak syara’ tidak pula menolak akal. jika tidak ada maslahat (minimal dalam pandangannya). begitu juga dengan kaidah-kaidah ushul.. Imam Ghazali berkata:” Sebaik-baik ilmu adalah ilmu yang menggabungkan antara akal dan as-sam’ (Al-Qur’an dan Sunnah) dan yang menyertakan pendapat dan syara’”. Setiap manusia berbuat sesuai dengan kemaslahatannya. baik dengan cara taqlid atau ijtihad. Kaidah-kaidah ushul lebih umum dari kaidah-kaidah fiqh BAB VII FAEDAH KAIDAH-KAIDAH USHUL FIQH DAN KEDUDUKANNYA DIANTARA ILMU-ILMU SYARA’ 1. Ilmu ini diambil dari syara’ dan akal yang suci secara bersamaan. 7. ia tidak akan melaksanakannya. Maslahat dibagi dua. Beribadah atas dasar taqlid tidak sama derajatnya jika dibandingkan dengan beribadah atas dasar ijitihad. dan nilai-nilai itu tidak dapat di ketahui kecuali dengan ilmu fiqh dan ushul fiqh. Sebagai muslim tentu berkeyakinan bahwa maslahat dunia adalah sarana untuk mencapat kebahagiaan utama di akhirat nanti. dan hukum-hukum memiliki ushul dan furu’ . ilmu yang membahas tentang hukum-hukum praktis merupakan ilmu yang paling penting dan harus dikuasai. sebagian yang lain mengatakan bahwa kaidah-kaidah tersebut hujjah secara mutlak. Allah berfirman yang artinya:” niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. tinggi wibawanya . Diantara faedah kaidah-kaidah ushul fiqh adalah: 1. Dapat mengangkat derajat seseorang dari taqlid menjadi yaqin. Jika kita ingin mengetahui manfaat serta kedudukannya maka hendaklah kita melihat kepada nilai atau buah yang dihasilkan oleh kaidah-kaidah ushul fiqh itu sendiri. banyak orang yang mempelajarinya. Abu Bakar Al-Qoffal As-Syasyi berkata dalam bukunya “al-ushul”:” Ketahuilah bahwa Nash yang mencakup segala kejadian tidak ada. Hukum-hukum ini bisa di ketahui. Maka hendaklah memulai dengan ushul untuk mengetahui hukum-hukum furu“. dan furu’ tidak bisa diketahui kecuali dengan ushul. Faedah Kaidah-Kaidah Ushul Fiqh Manfaat sesuatu bisa dilihat dari buah atau nilai yang di hasilkannya.mengatakan hujjah bagi mujtahid ‘alim dan bukank hujjah bagi selainnya. Karena keutamaan ilmu ini lah. Al-Mujadalah: 11) .

Maka ilmu fiqh. tafsir. tujuannya adalah pengambilan hukum syara’ yang praktis dari dalil-dali syara’ dan memperjuangkannya serta memberikan keakuratan dalam berijtihad dan kondisi mujtahid. 2. penyusun telah jelaskan bahwa objek kaidah-kaidah ushul adalah ushul fiqh itu sendiri dari segi keakuratannya. lebih singkat dan akurat yang dapat membantu seorang mujtahid dalam pengambilan hukum. Ma la yatimmu al-fadil illa bihi fahuwa faadhil. 5. tujuan. Dari segi kebutuhan. Dengan memahami kaidah-kaidah ushul. Ilmu apapun yang memiliki tujuan ini adalah ilmu yang memiliki kedudukan tinggi. Semakin besar faedahnya semakin tinggi pula kedudukannya. kekuatan dalilnya serta maslahat yang dihasilkannya. apa yang di bahas. hudud dan lain sebagainya. 4. Kaidah-kaidah ushul menjadikan pemahaman terhadap al-quran dan sunnah dan sumber-sumber islam lainnya menjadi akurat. hadits dan ilmu kalam tidak akan sempurna tanpanya. Juga membahas nilai-nilai ushul fiqh untuk di undang-undangkan. bagaimanakah kedudukan sebuah ilmu yang bertugas menambah keakuratan ushul fiqh? 3. objek. Tujuan akhir adalah untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Kedudukan Kaidah-Kaidah Ushul Fiqh Kedudukan dan keutamaan sebuah ilmu tidak lepas dari tema. besar kebutuhan. Jika ilmu ushul fiqh memiliki kedudukan tinggi dalam islam. kaidah-kaidah ushul berusaha membentuk kembali ilmu ushul fiqh dalam bentuk yang baru. Usaha untuk mengetahui hukum-hukum Allah adalah merupakan kewajiban terpenting dan merupakan tujuan penciptaan kita di dalam kehidupan ini. yaitu berada pada urutan pertama setelah ilmu akidah. 4. BAB VIII BUKU-BUKU KARANGAN ULAMA TENTANG KAIDAH-KAIDAH USHUL . Kaidah-kaidah ushul merupakan asas dan pondasi seluruh ilmu-ilmu islam lainnya. 2. Dari segi faedah dan buah yang di hasilkan oleh kaidah-kaidah ushul. Kaidah-kaidah ushul memiliki kedudukan tinggi.2. Tidak ada kebahagiaan didunia maupun di akhirat tanpa syari’at Allah. 6. Karena kaidah-kaidah ushul merupakan sarana yang menghantarkan seseorang pada hukum-hukum fiqh. Dari segi objeknya. 3. seseorang dapat dengan mudah mengambil kesimpulan-kesimpulan hukum syari’ah al-far’iyyah dari dalildalilnya langsung dan terus melaksanakannya. penyusun telah jelaskan pada penjelasan faedah-faedah ushul fiqh diatas. Dan syariat Allah tidak akan dapat diketahui tanpa kaidah-kaidah ushul. Penjelasannya: 1. Seorang yang faham ushul fiqh dan kaidah-kaidahnya akan dapat dengan mudah mengcounter pemikiran-pemikiran yang berusaha menyerang hukum-hukum islam yang telah mapan seperti wajibnya rajam. Dari segi tujuannya.

Itu artinya ilmu kaidah-kaidah ushul fiqh adalah ilmu yang berdiri sendiri. Al-Waroqot fi Ushul Al-Fiqh karya Al-Juwaini 11. Al-Qowaid wa al-Fawaid Al-Ushuliyah wa ma yata’allaqu biha min al-Ahkam alfar’iyyah karya Ibn Al-Liham Al Hanbaly ( wafat tahun 803 H) 6. Ushul Fiqh karya Syekh Al-Hadary (wafat tahun 1927 M) 16. Kaidah-kaidah ushul. 2. tetapi pada bab ini penyusun hanya akan menyebutkan nama-nama buku yang membahas tentang kaidah-kaidah ushul yang merupakan referensi utama dalam masalah ini. Ilmu Kaidah-kaidah ushul fiqh memiliki objek dan tujuan yang berbeda dengan ilmu lainnya bahkan berbeda dengan objek serta tujuan ilmu Ushul fiqh. Minhaj Al-Ushul ila ilmi al-ushul karya Al-Baidawy 12. Al-Irsyad wa at-taqrib karya Abu Bakar Al-Baqillani 15. bisa membaca buku Nadzoriyah at taq’id al Ushuly karya Dr. At-Tanqih karya Ibnu Mas’ud Al-Hanafi (matan) 9. Ilmu Ushul fiqh karya Syekh Abdul Wahab Khalaf (1888 – 1956 M) 17. At Tamhid fi at-takhrij al-furu’ ala al-ushul karya Al Isnawi (7. Mu’tasar al-muntaha al-ushuly karya Ibnu Al-Hajib (matan) 10. Taqnin Ushul Fiqh karya Dr. Ta’sis An Nazor karya Ubaidillah bin Umar bin Isa Ad Dabusy (364-430 H) 2. Diantara buku-buku itu adalah: 1. Bagi yang ingin mengetahui lebih. Miftah Al-Wusul ila takhrij al-furu’ ala al-Ushul karya Syarif At Tilmisany (710771 H) 4. Muhammad Zaki Abdul Bar BAB IX PENUTUP Kesimpulan 1. Aiman Abdul Hamid Al-Badaroin atau buku-buku lainnya. Kaidah-kaidah ushul fiqh adalah ilmu yang mandiri. Al-Ihkam fi Ushul al-ahkam karya Al-Amadi 14. apakah merupakan dalil atau tidak dapat dikategorikan pada dua kategori yaitu: Pertama: Kaidah-kaidah ushul yang berdiri sendiri yaitu yang berpatokan pada sumber-sumber islam seperti Al qur’an adalah hujjah. Seluruh ulama sepakat bahwa perbedaan antara ilmu dengan ilmu yang lain disebabkan oleh faktor tema atau objek serta tujuan dari ilmu itu sendiri. Raudhatunnazir wa jannatul muanzir karya Ibnu Qudamah 13.4-772 H) 5. Takhrijul Al-Furu’ Ala Al-Ushul karya Mahmud bin Ahmad bin Mahmud Abu Al Manqib Al Jinzani (573-656 H) 3.Sebenarnya banyak sekali buku-buku tentang kaidah-kaidah ushul yang dikarang para ulama sejak dahulu hingga awal abad 20 dan dari awal abad 20 hingga sekarang. begitu . Al-Wusul ila Qowaid al-ushul karya imam Muhammad bin Abdullah bin Ahmad bin Muhammad Al Hanafy ( wafat tahun 1007 H) 7. At-Tahrir karya Kamal bin Al Hamam (matan) 8.

Kaidah-kaidah itu adalah yang diambil dari bahasa arab dan lainnya. Karena ilmu ini merupakan bagian dari ilmu ushul fiqh. saddu ad dzaroi’ dan Istishab. Kedua: Kaidah-kaidah yang tidak berdiri sendiri tetapi hanya sebuah alat. 3. Hubuangan antara keduanya adalah hubungan antara umum dan khusus . ijma’ qiyas. Yang kedua ini bukan merupakan dalil yang mandiri tetapi hanya berfungsi sebagai sarana. masholih mursalah. Ilmu kaidah-kaidah ushul fiqh tidak bisa dipisahkan dari ilmu ushul fiqh itu sendiri. Diantara kaidah ini ada yang disepakati oleh ulama sebagai hujjah dan ada yang masih dalam perdebatan dikalangan ulama.juga dengan sunnah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful