[PENERAPAN SISTEM BRT SECARA TERPADU, EFISIEN, DAN EFEKTIF SEBAGAI SOLUSI KEMACATAN LALU LINTAS

]

Sustainable Transportation

BAB II TINJAUAN TEORI

2.1 Definisi Istilah Dalam Transportasi Transportasi dapat juga disebut dengan perangkutan. Menurut Warpani:2002, transportasi atau perangkutan adalah kegiatan perpindahan orang dan barang dari satu tempat (asal) ke tempat lain (tujuan) dengan menggunakan sarana (kendaraan). Dalam sistem transportasi, hal yang harus diperhatikan adalah keseimbangan antara kapasitas moda angkutan dengan jumlah barang maupun orang yang memerlukan angkutan. Kapasitas moda angkutan yang tidak seimbang dengan dengan jumlah barang atau orang yang diangkut dapat menimbulkan masalah ketidaknyamanan dan keamanan tidak terjamin. Apabila kapasitas moda lebih kecil dari jumlah barang atau orang yang diangkut maka semakin rendah tingkat keamanan dan kenyamanan. Apabila kapasitas moda lebih besar dari jumlah barang atau orang yang diangkut makan semakin tinggi pula tingkat keamanan dan kenyamanan. Menurut Morlok dalam Warpani, transportasi adalah pemindahan atau

pengangkutan barang atau orang dari suatu tempat ke tempat lain. 2.1.1 Perjalanan dan Pepergian Perjalanan dan pepergian merupakan dua istilah yang berbeda tapi berhubungan. Perjalanan dinyatakan dalam biaya, waktu, jarak, lintasan, dan peristiwa serta kegairahan yang diperoleh sepanjang jalan, sedangkan pepergian dinyatakan dalam hitungan kekerapan dilakukan (Abler,dkk dalam Warpani, 1990:3). Menurut Warpani (1990, 3), perjalanan adalah proes berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Pelaku pergerakan dalam hal ini adalah orang atau barang untuk melakukan suatu tujuan. Perjalanan dilakukan bertujuan untuk menikmati kegiatan perjalanan dengan maksut tertentu. Perjalanan terdapat unsur pepergian di dalamnya. Perjalanan dilakukan melalui suatu lintasan tertentu yang menghubungkan asal dan tujuan, menggunakan alat angkut (kendaraan) dengan kecepatan tertentu (http://dony.blog.uns.ac.id/2010/06/25/page/2/, diakses 13 September 2010).
II - 1 | T i n j a u a n P u s t a k a

[PENERAPAN SISTEM BRT SECARA TERPADU, EFISIEN, DAN EFEKTIF SEBAGAI SOLUSI KEMACATAN LALU LINTAS]

Sustainable Transportation

Pepergian lebih fokus pada hubungan antara tempat asal dan tujuan. Menurut Creighton (1970, 19) dalam Warpani (1990, 3), pepergian adalah pergerakan orang dan barang antara dua tempat kegiatan yang terpisah. Kegiatan tersebut perlu dilakukan oleh masyarakat, seperti perdagangan, pemerintahan, dan lembaga). Tujuan dari pepergian adalah untuk mencapai suatu tempat, bukan menikmati apa yang terjadi. 2.1.2 Lalu Lintas dan Perangkutan Pada dasarnya lalu lintas tidak sama dengan perangkutan. Lalu lintas dan perangkutan tidak dapat dipisahkan, sebab dua istilah tersebut saling bershubungan. Lalu lintas merupakan kegiatan lalu-lalangnya orang atau barang sedangkan perangkutan adalah usaha memindahkan orang atau barang dari satu tempat ke tempat lain. Menurut Blunden (1971, 1) dalam Warpani (1990,4) usaha memindahkan orang atau barang hampir selalu menimbulkan lalu lintas. Perbedaan tersebut dapat dipandang dari definisi, elemen, masalah, persoalan, dan upayanya. Lalu lintas (traffic) adalah kegiatan lalu lalang atau gerak kendaraan, orang, atau hewan di jalanan. Menurut Blunden:1971 dalam Warpani:1990, usaha memindahkan orang atau barang hampir selalu menimbulkan lalu lintas. Persoalan lalu lintas timbul akibat volume kapasitas jaringan jalan dengan volume orang atau barang. Ketidakseimbangan antara kapasitas jaringan jalan dengan volume pengguna jalan dapat mengakibatkan masalah kemacetan, kesemrawutan, dan kecelakaan lalu lintas. Lalu lintas dan transportasi memiliki perbedaan dan persamaan. Dapat dibedakan antara transportasi atau single protector. Hakikat lalu lintas dan angkutan dapat diketahui sebagai berikut.
Tabel 2.1 Hakikat Lalu Lintas dan transportasi
Definisi Perlalulintasan Lalu lintas adalah gerak kendaraan, orang, dan hewan di jalan Perangkutan Angkutan adalah perpindahan orang atau barang dari satu tempat ke tempat lain menggunakan kendaraan 1. Orang, barang 2. Moda angkutan atau kendaraan 1. Banyaknya orang,

Elemen utama

1. Kendaraan, orang, hewan 2. Jaringan jalan 1. Banyaknya kendaraan, orang,

Masalah

II - 2 | T i n j a u a n P u s t a k a

[PENERAPAN SISTEM BRT SECARA TERPADU, EFISIEN, DAN EFEKTIF SEBAGAI SOLUSI KEMACATAN LALU LINTAS]

Sustainable Transportation barang atau muatan yang akan diangkut (M) Kapasitas kendaraan (K) Asal dan tujuan Muatan tidak terangkut Kendaraan dijejali muatan Tidak nyaman, tidak aman Menambah armada (angkutan) Memberikan pilihan moda Mengoperasikan angkutan massal.

hewan di jalan (V) 2. Kapasitas jaringan jalan (C) 3. Lintasan Persoalan 1. Lalu lintas macet 2. Lalu lintas semrawut 3. Kecelakaan lalu lintas

2. 3. 1. 2. 3.

Upaya

1. 2. 3. 4.

Melebarkan ruas jalan Rekayasa lalu lintas Membangun jalan baru Mengurangi kendaraan, orang, hewan di jalan (V)

1. 2. 3.

(Smuber : Warpani, 2002:2)

Sistem transportasi kota merupakan satu kesatuan dari elemen-elemen, komponen-kompenen yang salaing mendukung dan bekerjasama dalam pengadaan transportasi yang melayani wilayah perkotaan. Komponen utama transportasi adalah (Morlok, 1991) : 1. Manusia dan barang (yang diangkut)

2. Kendaraan (alat angkut) 3. Jalan (tempat pergerakan) 4. Terminal (simpul sistem transportasi) 5. Sistem pengoperasian (mengatur 4 komponen diatas) Menurut Menheim:1979, lebih membatasi komponen utama transportasi yaitu : 1. Jalan dan terminal 2. Kendaraan 3. Sistem pengelolaan Berdasarkan Morlok dan Menheim, sistem transportasi kota secara umum adalah gabungan elemen-elemen jalan dan terminal, kendaraan dan sistem pengoperasian yang saling berkait dan bekerja sama dalam mengantisipasi permintaan dari manusia dan barang.

II - 3 | T i n j a u a n P u s t a k a

[PENERAPAN SISTEM BRT SECARA TERPADU, EFISIEN, DAN EFEKTIF SEBAGAI SOLUSI KEMACATAN LALU LINTAS]

Sustainable Transportation

Kendaraan (alat angkut)

Manusia & Barang
(diangkut)

Jalan & Terminal (prasarana angkutan)

Gambar 2.1 Gambar Diagram Sistem Transportasi

Pada gambar 1 dapat diketahui sistem transportasi memiliki elemen manusia dan barang sebagai objek yang membutuhkan perangkutan, kendaraan sebagai moda sebagai alat angkut dan jalan sebagai jaringan transportasi dan prasarana dalam angkutan. Organisasi dalam sistem perangkutan dibutuhkan untuk mengatur, mengelola dan mengawasi dalam kegiatan perangkutan. manusuia bertindak sebagai subjek “pengatur”, “pelaku”, dan “pelaksana” agar perangkutan berjalan lancar, aman dan nyaman. Organisasi perangkutan di Indonesia pada tingkat nasional adalah Departemen Perhubungan dan dibawahnya adalah Bina Marga dan Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan Raya. Kelembagaan tersebut saling bersangkutpaut dalam melaksanakan tugasnya.

2.2 Fungsi dan Manfaat Transportasi Fungsi dasar dari transportasi adalah sebagai penunjang, pemacu, dan pemicu (Warpani:2002,13). Berfungsi sebagai penunjang dan pemicu apabila dipandang dari sisi melayani dan meningkatkan pembangunan serta melayani dan mendorong
II - 4 | T i n j a u a n P u s t a k a

[PENERAPAN SISTEM BRT SECARA TERPADU, EFISIEN, DAN EFEKTIF SEBAGAI SOLUSI KEMACATAN LALU LINTAS]

Sustainable Transportation

berbagai kebutuhan lain. Transportasi berfungsi sebagai pemicu bila dipandang sebagai pembangkit perkembangan dan pertumbuhan suatu wilayah, sebab trasnportasi berfungsi sebagai “urat nadi” dari suatu wilayah untuk mendukung aktifitas dan pergerakan didalamnya. Transportasi berfungsi sebagai pendukung dalam aktifitas manusia. Fungsi transportasi untuk peradaban manusia dan aktifitas manusia yaitu aktifitas ekonomi, sosial, politik adalah sebagai berikut. 1. Peran Transportasi dalam Peradaban Manusia Trasnportasi tidak terlalu dianggap penting pada zaman primitif yang memiliki pola hidup berpindah-pindah karena barang dan jasa yang dibutuhkan relatif sederhana dan cukup diangkut dengan tenaga sendiri. Pola hidup manusia saat ini sudah menetap sehingga kebutuhan semakin bertambah dan diperlukan transportasi yang canggih untuk mendukung aktifitas dan gaya hidup manusia. Perkembangan peradaban manusia tergambar dari perkembangan aktifitas sosial ekonominya. 2. Peran Transportasi dalam Ekonomi Transportasi juga berperan dalam mobilitas barang selain untuk mobilitas manusia. Transportasi sangat berperan dalam proses produksi, distribusi dan pertukaran. Proses produksi dipengaruhi oleh faktor produksi yang tidak berada pada satu tempat seperti tempat bahan baku dan tempat produksi. Transportasi berperan untuk membawa atau mengangkut bahan baku menuju tempat produksi. Transportasi juga berperan untuk mendistribusikan barang produksi menuju pasar. Transportasi berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan antara produsen dengan konsumen. 3. Peran Transportasi dalam Sosial Transportasi dapat mempermudah aktifitas manusia, tidak hanya aktifitas ekonomi tapi juga hubungan sosial dengan orang lain. Hubungan sosial manusia dapat bersifat resmi dan bersifat tidak resmi (Warpani, 1990). Transportasi dapat mendukung kemudahan pertukaran informasi, pelayanan perorangan, mengunjungi kerabat, keagamaan dan ke tempat-tempat pertemuan sosial lainnya.
II - 5 | T i n j a u a n P u s t a k a

[PENERAPAN SISTEM BRT SECARA TERPADU, EFISIEN, DAN EFEKTIF SEBAGAI SOLUSI KEMACATAN LALU LINTAS]

Sustainable Transportation

4. Peran Transportasi dalam Politik Transportasi dapat mendukung usaha persatuan nasional, usaha peningkatan pelayanan yang lebih merata ke seluruh penuuru tanah air. Transportasi juga berperan dalam usaha pengamanan negara dari serangan luar dan menghubungkan dengan negara lain dalam hal diplomatik. Transportasi bertujuan untuk memberikan kemudahan mencapai tempat tujuan dengan waktu yang lebih singkat. Kemudahan akses dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, karena dengan kemudahan bergerak masyarakat mendapatkan pendapatannya. Dengan terwujudnya kesejahteraan masyarakat dapat bergerak untuk mendapatkan dan memenuhi kebutuhan hidupnya.

2.3 Jenis Perangkutan Jenis perangkutan terbagi menjadi 3 yaitu perangkutan darat, laut, dan udara. Perangkutan darat memanfaatkan prasarana transportasi berupa jalan raya dan jalur kereta api yang memiliki jalur khusus bebas hambatan. Jalur laut menggunakan moda angkutan kapal laut dan jalur udara menggunakan moda pesawat terbang. 1. Perangkutan darat a. Jalan Raya Menurut UU No. 38 Tahun 2004, jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas, yang berada pada permukaan tanah, di atas permukaan tanah, di bawah permukaan tanah dan/atau air, serta di atas permukaan air, kecuali jalan kereta api, jalan lori, dan jalan kabel.

2.4 Permasalahan Transportasi Permasalahan transportasi di kota-kota besar terjadi karena tidak

seimbangnya volume angkutan dengan daya tampung prasarana transportasi seperti terminal dan jalan. Permasalahan transportasi yang tidak ditangani dengan tepat dan teliti dapat berdampak terhadap perekonomian suatu wilayah. Kebutuhan

II - 6 | T i n j a u a n P u s t a k a

[PENERAPAN SISTEM BRT SECARA TERPADU, EFISIEN, DAN EFEKTIF SEBAGAI SOLUSI KEMACATAN LALU LINTAS]

Sustainable Transportation

transportasi dapat menyebabkan kemacatan, tundaan, kecelakaan dan masalah lingkungan yang berdampak terhadap kerugian ekonomi. 1. Kemacetan Kemacetan lalu lintas adalah suatu kejadian terhambatnya angkutan dalam kegiatan transportasi. Kemacatan terjadi akibat daya tampung jalan lebih rendah daro jumlah angkutan yang melintasinya. Unsur yang mempengaruhi tingginya tingkat kemacatan lalu lintas kendaraan bermotor di jalur jalanjalan di perkotaan di Indonesia adalah : a. Kondisi jalan dan pedestrian yang tidak dapat menampung volume angkutan orang dan barang b. Sikap dan kebiasaan pengguna jalan dan angkutan umum c. Pergerakan transportasi yang melebihi kapasitas sistem prasarana transportasi yang ada dan melebihi daya tampung wilayah perkotaan d. Perilaku pengemudi angkutan umum e. Infrastruktur perkotaan yang belum optimal atau pergerakan

transportasi yang melebihi kapasitas sistem prasarana transportasi yang ada f. Pengguna kendaraan pribadi lebih tinggi dibanding penggunaan kendaraan umum 2. Sistem transportasi yang ada belum terintegrasi dalam pengembangan tata ruang 3. Sistem transportasi umum masih belum tertata dengan baik, yaitu dalam hal : a. Sistem transportasi berorientasi “jalan” b. Transportasi berbasis rel belum berkembang c. Jaringan transportasi bus belum memiliki interkoneksi yang memadai sehingga menyebabkan efisiensi waktu yang rendah. Kelemahan lainnya adalah kapasitas angkut masih terbatas, waktu tempuh yang cukup lama, tidak ada pemantauan secara baik mengenai tingkat kenyamanan dan keamanannya. d. Rute bus yang masih tumpang tindih e. Manajemen terminal masih lemah
II - 7 | T i n j a u a n P u s t a k a

[PENERAPAN SISTEM BRT SECARA TERPADU, EFISIEN, DAN EFEKTIF SEBAGAI SOLUSI KEMACATAN LALU LINTAS]

Sustainable Transportation

f. Sistem transportasi cepat dan masal belum mencukupi g. Infrastruktur transportasi tidak bermotor belum tersedia h. Pengelolahan kebutuhan transportasi belum efektif, kebutuhan

perjalanan dari dan ke sentra masih tinggi pada jam-jam padat 4. Peningkatan arus lalu lintas mengakibatkan peningkatan pencemaran udara oleh emisi kendaraan bermotor yang melebihi ambang batas, penyebabnya adalah karena perilaku pengemudi dan sistem pengawasan terhadap emisi. Penyebab polusi karena perilaku pengemudi adalah: a. Kebiasaan mengemudi dengan kecepatan melebihi kecepatan optimal b. Penggunaan gigi persneling tidak sesuai dengan kecepatan c. Mengemudi kendaraan dengan kejutan dan menyentak pedal d. Kebiasaa mengisi tangki bahan bakar terlalu penuh dan sampai tumpah Penyebab polusi akibat emisi adalah : a. Kurangnya pengawasan terhadap emisi gas buang kendaraan b. Sistem penguji kendaraan bermotor tidak efektif karena kurang konsisten c. Perawatan dan meningkatkan kinerja kendaraan belum dilaksanakan secara rutin

2. 5 Sistem Transportasi Berkelanjutan Sistem transportasi yang berkelanjutan adalah suatu sistem transportasi yang dapat mengakomodasikan aksesibilitas semaksi -mal mungkin dengan dampak negatif yang seminimal mungkin. Sistem transportasi yang berkelanjutan menyangkut tiga komponen penting, yaitu aksesibilitas, kesetaraan dan dampak lingkungan. Sistem transportasi berkelanjutan lebih mudah terwujud pada sistem

transportasi yang berbasis pada penggunaan angkutan umum dibandingkan dengan sistem yang berbasis pada penggunaan kendaraan pribadi. Sistem transportasi

berkelanjutan merupakan tatanan baru sistem transportasi di era globalisasi saat ini. Persoalan transportasi menjadi persoalan yang memerlukan perhatian dan kajian
II - 8 | T i n j a u a n P u s t a k a

[PENERAPAN SISTEM BRT SECARA TERPADU, EFISIEN, DAN EFEKTIF SEBAGAI SOLUSI KEMACATAN LALU LINTAS]

Sustainable Transportation

dari berbagai perespektif ilmu (Schipper, 2002:11 -25). Pada awal penyelenggara pemerintahan mau menerapkan sistem transportasi berkelanjutan ( sustainable transportat ion). Aksesibilitas diupayakan dengan perenca -naaan jaringan transportasi dan keragaman alat angkutan dengan tingkat integrasi yang tinggi antara satu sama lain. Kesetaraan diupayakan melalui penye-lenggaraan transportasi yang terjangkau bagi semua lapisan masyarakat, menjunjung tinggi persaingan bisnis yang sehat, dan pembagian penggunaan ruang dan pemanfaatan infrastruktur secara adil serta transparansi dalam setiap pengambilan kebijakan. Pengurangan dampak negatif diupayakan melalui penggunaan energi ramah lingkungan, alat angkut yang paling sedikit menimbulkan polusi dan perencanaan yang memprioritaskan keselamatan. Memperhatikan kondisi makro yang ada terutama pengaruh iklim globalisasi menempatkan persoalan transportasi menjadi layanan kebutuhan atau aksesibilitas yang harus disediakan oleh Negara. Aksesibilitas transportasi menjadi penting seiring dengan meningkatnya peradaban umat manusia. Salah satu sistem trasnportasi berkelanjutan adalah Bus Rapid Transit. BRT merupakan sistem transportasi yang terpadu, efektif dan efisien. Sistem ini berawal dari Bogota. Sistem tersebut saat ini banyak diaplikasikan oleh negara-negara di dunia. Selain Bogota, Kota Curitiba juga merupakan pelopor sistem BRT. Sisten ini diterapkan di Curitiba untuk mengatasi masalah kemacatan lalu lintas akibat keedakan penduduk. Dengan memberikan kenyamanan dan harga yan terjangkau mampu mrnarik perhatian penduduk untuk lebih memilih menggunakan transportadi publik ini dari pada kendaraan pribadi. Sistem transportasi yang menggunakan alat transportasi bus sebagai media. Bus yang menggunakan sistem ini biasa disebut busway. Bus ini memiliki keistimewaan dengan jalur khusus sebagai lintasannya yang berada di tengah jalan arteri, sehingga bus dapat bergerak bebas tanpa da halangan dari kendaraan lainnya. Sistem ini mampu mengintegrasi antar moda dan memberikan pelayanan yang setara kepada seluruh lapisa masyarakat. Sistem BRT lebih efektif untuk mengatasi masalah kemacatan dan efisien dapat terjangkau oleh semua kalangan. Dengan 1
II - 9 | T i n j a u a n P u s t a k a

[PENERAPAN SISTEM BRT SECARA TERPADU, EFISIEN, DAN EFEKTIF SEBAGAI SOLUSI KEMACATAN LALU LINTAS]

Sustainable Transportation

kali pembayaran dengan harga terjangkau, penumpang dapat mengakses ke seluruh bagian kota. Transportasi ini juga hemat energi dengan waktu dan jarak tempuh yang lebih pendek.

Gambar 2.2 Gambar Penampang Jalan di Curitiba

II - 10 | T i n j a u a n P u s t a k a