BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL

PUSAT TEKNOLOGI NUKLIR BAHAN
DAN RADIOMETRI
Jl. Tamansari No.71
Telp.(022) 2503997 Fax.(022) 250481
http://www.batan-bdg.go.id
BANDUNG 40132
Peuoman Keselamatan Keija Non Rauiasi
PEDOMAN
KESELAMATAN KERJA NON RADIASI
PENYUSUN :
Drs. SUHULMAN
Dra. RINI HEROE OETAMI, MT
RASITO S.Si
AFIDA IKAWATI, ST
ADE SUHERMAN
ZAINAL ARIFIN
SOLEH SOFYAN
Pedoman Keselamatan Kerja Rev.1/2008 i
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada ALLAH SWT yang karena rahmatNya kami dapat
menyelesaikan penulisan buku Pedoman Keselamatan Non Radiasi untuk Pusat
Teknologi Nuklir Bahan dan Radiometri – BATAN Bandung.
Buku yang ada di tangan anda ini merupakan seri buku keselamatan yang disusun
oleh Bidang Keselamatan dan Kesehatan Pusat Teknologi Nuklir Bahan dan
Radiometri. Seri buku ini membahas khususnya tentang keselamatan dan kesehatan
kerja non radiasi yang disusun mengacu pada buku Pedoman Keselamatan Kerja yang
diterbitkan BATAN dan berbagai sumber lainnya. Selanjutnya buku ini akan menjadi
pedoman keselamatan dan kesehatan kerja non radiasi di PTNBR BATAN Bandung.
Buku ini terdiri dari 11 (sebelas) bab, yang berisi pedoman umum keselamatan dan
kesehatan kerja, penanggulangan bahaya kebakaran, keselamatan dan kesehatan di
lokasi kerja dan penggunaan peralatan kerja, tata-tertib di kawasan, serta penggunaan
pakaian dan alat pelindung kerja.
Setiap individu bertanggung jawab atas masalah keselamatan dan kesehatan kerja.
Untuk itu seluruh tingkatan manajemen dan karyawan di lingkungan PTNBR
diharapkan membaca, memahami dan menerapkan ketentuan yang ada di dalam buku
pedoman ini di masing-masing lingkungan kerja yang menjadi tanggung jawabnya.
Meskipun upaya penyusunan buku pedoman ini telah maksimal, penyusun menyadari
bahwa didalamnya masih terdapat kekurangan. Untuk itu penyusun berharap adanya
saran, kritik, dan masukan dari pembaca untuk penyempurnaan buku Pedoman
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Non Radiasi ini kedepan.
Akhirnya, kepada semua pihak yang telah membantu penyusunan dan penerbitan
buku pedoman ini, kami ucapkan terima kasih.
Bandung, 4 Agustus 2008
Tim Penyusun,
Pedoman Keselamatan Kerja Rev.1/2008 ii
SAMBUTAN
KEPALA PUSAT TEKNOLOGI NUKLIR BAHAN DAN RADIOMETRI
Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh, salam sejahtera buat kita semua!
Sungguh sangat tepat waktunya Bidang Keselamatan dan Kesehatan menyusun buku
Pedoman Keselamatan Kerja yang merupakan revisi total dari seri buku keselamatan
sebelumnya. Dengan kebijakan zero incident yang dianut BATAN, maka usaha untuk
meningkatkan kinerja keselamatan harus lebih mendapat perhatian, kecelakaan-
kecelakaan kecil sekalipun harus tidak terjadi.
Perhatian terhadap keselamatan kerja saat ini makin meningkat, sejalan komitmen
karyawan dan staf pimpinan terhadap keselamatan yang tertuang dalam Kebijakan
Keselamatan. Pusat Teknologi Nuklir Bahan dan Radiometri telah melakukan berbagai
usaha, agar kecelakaan tidak terjadi, antara lain dengan selalu mengkaji setiap
prosedur terkait keselamatan oleh Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja,
melakukan kajian risiko bahaya dari setiap kegiatan yang akan dilakukan, membangun
sistem e-learning keselamatan, melakukan survey keselamatan rutin, mengadakan
audit keselamatan internal maupun eksternal, sosialisasi rutin tentang keselamatan
kerja, pengumuman keselamatan sebelum mulai kerja dan saat selesai kerja, serta
berbagai kegiatan lain terkait keselamatan, akan tetapi hal-hal tersebut belumlah
dianggap optimal, karena kami beranggapan bahwa kinerja keselamatan setiap saat
bisa terus ditingkatkan.
Usaha meningkatkan kinerja keselamatan dan mempromosikan agar selalu bekerja
selamat terus menerus dilakukan, salah satunya adalah dengan diterbitkannya
Pedoman Keselamatan Kerja ini. Buku ini selanjutnya akan dijadikan acuan oleh
seluruh karyawan untuk meningkatkan pengetahuannya tentang keselamatan,
sehingga dapat bekerja dalam kondisi selamat, selamat untuk dirinya, selamat untuk
orang lain, dan selamat untuk lingkungan.
Setiap individu bertanggung jawab atas masalah keselamatan dan kesehatan kerja.
Untuk itu seluruh tingkatan manajemen dan karyawan di lingkungan PTNBR
diharapkan membaca, memahami, dan menerapkan ketentuan yang ada di dalam
buku pedoman ini di masing masing lingkungan kerja yang menjadi tanggung
jawabnya. Bersama kita capai zero incident.
Bandung, 11 Agustus 2008
Kepala Pusat Teknologi Nuklir Bahan dan Radiometri
Drs. Djatmiko, M.Sc.
NIP:330002309
Pedoman Keselamatan Kerja Rev.1/2008 iii
DAFTAR ISI
Hal
KATA PENGANTAR I
SAMBUTAN KEPALA PTNBR II
DAFTAR ISI Iii
Bab I. Pendahuluan........................................................................................... 1
Bab II. Pedoman Umum Keselamatan dan Kesehatan Kerja............................ 4
Bab III. Penanggulangan Bahaya Kebakaran..................................................... 9
Bab IV. Bengkel................................................................................................... 16
Bab V. Peralatan Listrik...................................................................................... 26
Bab VI. Bahan Kimia........................................................................................... 29
Bab VII. Gas......................................................................................................... 38
Bab VIII. Bejana Tekan......................................................................................... 39
Bab IX. Medik...................................................................................................... 45
Bab X. Tata Tertib di Kawasan PTNBR............................................................. 56
Bab XI. Pakaian Kerja dan Alat Pelindung Diri.................................................... 57
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͳ
BAB I
PENDAHULUAN
______________________________________________________________
Bekerja adalah mengembangkan perilaku kehidupan di lingkungan kerja sesuai
dengan keahlian dan ketrampilan yang dimiliki dan bertujuan untuk keselamatan
masyarakat dan lingkungan. Banyak hal yang perlu diketahui oleh seseorang dalam
proses pekerjaan, seperti bagaimana menangani bahan baku, mesin dan peralatan,
bagaimana membaca sebuah gambar atau skema, dan membaca batas waktu
penyelesaian. Namun kriteria terpenting suatu kinerja adalah pada bagaimana
menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan aman.
Bagi karyawan PTNBR yang bekerja di dalam proses produksi maupun operasi
reaktor, keselamatan dan kesehatannya harus menjadi prioritas utama. Tujuan
keselamatan dan kesehatan dari sudut pandang karyawan berarti wajib mematuhi
prosedur kerja standar (standard operating prosedur, SOP) yang telah disediakan dan
tidak boleh mengabaikannya. Dalam pedoman ini akan dijelaskan tindak pencegahan
yang perlu dilakukan untuk menjaga keselamatan dan kesehatan kerja bagi karyawan
baru maupun karyawan lama untuk penyegaran ingatan akan pentingnya keselamatan
dan kesehatan kerja.
Pemahaman tentang konsep dasar pemikiran keselamatan dan kesehatan kerja
sangat penting. Kesehatan jasmani merupakan modal dasar untuk bekerja. Konsep
lama yang mengatakan bahwa kecelakaan tidak bisa dihindari dalam bekerja harus
dihilangkan dari pikiran para karyawan modern. Untuk itu karyawan harus memahami
sebab-sebab kecelakaan dan sakit akibat kerja. Untuk dapat bekerja dalam kondisi
sehat dan aman, jagalah kesehatan, kendalikan diri dari perasaan gelisah, dan
arahkan diri anda kepada suasana kehidupan yang gembira dan menyenangkan.
Mesin yang bagus dan efisien sekalipun dapat menyebabkan kecelakaan atau menjadi
rusak bila dioperasikan dengan tidak benar akibat kondisi fisik pekerja yang sedang
tidak baik.
Cidera terjadi akibat sesuatu kecelakaan, dan kecelakaan dapat dicegah dengan
meniadakan tindakan atau kondisi yang tidak selamat. Kecelakaan dapat terjadi karena
sebab langsung maupun tidak langsung. Di dalam mempelajari penyebab langsung
maka harus diketahui bahwa penyebab tidak langsung melatarbelakangi penyebab
langsung. Karena itu pencegahan terjadinya cidera dimungkinkan dengan cara
menghindari kecelakaan. Tidak saja sebab langsung, tetapi penyebab tidak langsung
juga perlu dihilangkan. Konsep keselamatan yang perlu diperhatikan adalah mencegah
terjadinya kecelakaan apapun akibatnya.
Kecelakaan dapat ditimbulkan oleh kondisi yang tidak selamat, atau tindakan tidak
selamat, atau kombinasi dari keduanya. Karena itu perlu dipahami apa itu kondisi tidak
selamat dan tindakan tidak selamat.
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ʹ
a. Kondisi tidak selamat. Kondisi tidak selamat adalah kondisi yang mengandung
bahaya potensial, misalnya pakaian kerja yang tidak sesuai, menghalangi gang
dengan barang, atau tempat kerja yang tidak tertib. Pekerja harus menjaga
agar tidak timbul kondisi tidak selamat dan harus selalu siap untuk
memperbaiki kondisi tersebut setelah diketahui.
b. Tindakan tidak selamat. Tindakan tidak selamat adalah tindakan yang tidak
sesuai dengan aturan yang dibuat untuk menjamin keselamatan di tempat
kerja. Salah satu konsekuensinya adalah larangan melewati suatu daerah gang
yang ditentukan dengan maksud untuk mengambil jalan pintas atau berlari
dengan tergesa-gesa. Untuk itu peraturan keselamatan harus ditaati setiap
saat dan ditempat manapun.
Tindakan tidak selamat yang menyebabkan banyak cidera di tempat kerja berasal dari
kelalaian atau kecerobohan. Faktor-faktor yang merupakan latar belakang penyebab
langsung disebut penyebab tidak langsung. Harus diingat pula bahwa penyebab
kecelakaan tidak hanya tampak dipermukaan saja tetapi juga yang tersembunyi.
Untuk karyawan pemula maupun karyawan terlatih tetap memerlukan pelatihan untuk
mempertahankan perilaku kerja yang berkualitas. Untuk itu dalam melaksanakan
pelatihan kerja, butir-butir penting berikut ini perlu diperhatikan :
1. Mengikuti pelatihan.
Menjadi peserta pelatihan yang aktif dan penuh semangat dengan memusatkan
memusatkan perhatian dan mempunyai keinginan kuat untuk belajar.
2. Aktif bertanya untuk hal yang belum dimengerti.
Jangan segan dan bosan bertanya untuk hal-hal yang belum dimengerti, sampai
dapat betul-betul memahaminya. Jangan mencoba mengerjakan sesuatu tanpa
pengetahuan yang cukup tentang pekerjaan tersebut, karena dapat menimbulkan
kecelakaan, barang atau data yang dihasilkan menjadi rusak, serta menggangu
pekerjaan diri sendiri, rekan sekerja dan suasana di lingkungan kerja.
3. Ingat akan semua hal yang telah diajarkan.
Karyawan harus mampu melaksanakan semua hal yang telah dipelajari dengan
memiliki keyakinan dan mampu menguasai satu jenis pekerjaan yang telah
dipelajari dan ditugaskan.
4. Hal yang perlu diperhatikan pada waktu melaksanakan pekerjaan
Sambil bekerja karyawan dapat bertanya mengenai hal-hal yang belum dipahami
kepada karyawan yang telah banyak pengalamannya dan atasan anda.
5. Praktek kerja yang dilakukan berulang-ulang.
Ulangi praktek-praktek yang dianjurkan sesuai dengan prosedur yang telah
dipelajari.
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͵
BAB II
PEDOMAN UMUM KESELAMATAN
DAN KESEHATAN KERJA
____________________________________________________________
a. Tujuan
Pedoman Umum Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K-3) ini disusun dengan
tujuan untuk memberikan petunjuk berupa peraturan-peraturan, dan himbauan
kepada seluruh karyawan PTNBR BATAN Bandung dalam melaksanakan
tugasnya sehari-hari, untuk terciptanya suasana kerja yang aman, sehat dan
tertib.
b. Ruang Lingkup
Ruang Lingkup Pedoman ini adalah untuk Pelaksanaan Ketentuan Keselamatan
Kerja non Radiasi bagi Karyawan PTNBR Batan – Bandung.
c. Bahan Acuan
1. Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional, Himpunan Pedoman
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Mekanik
2. Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional, Himpunan Pedoman
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Penanggulangan Kebakaran dan
Konstruksi Bangunan
3. Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional, Himpunan Pedoman
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Listrik
4. LIPI, Peraturan Umum Instalasi Listrik.
5. Himpunan Peraturan dan Perundangan Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
6. Undang-Undang Republik Indonesia No. : 13 tahun 2003 tentang
Ketenagakerjaan.
7. Undang-Undang No. : 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
8. Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Per-04/MEN/1995 tentang Perusahaan
Jasa Keselamatan dan Kesehatan Kerja
9. Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Per-02/MEN/1992 tentang Tata Cara
Penunjukan, Kewajiban dan Wewenang Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja
10. Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Per-05/MEN/1996 tentang Sistem
Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja
d. Definisi
1. Label Keselamatan (Safety Tag) adalah tanda peringatan yang terbuat dari
kertas/ karton yang kuat, logam, papan dll, ditempatkan atau digantung atau
ditempel pada lokasi ataupun peralatan yang sedang diperbaiki atau yang tidak
boleh diganggu. Isi label berupa larangan, peringatan ataupun anjuran.
2. Penanggung jawab keselamatan kerja di PTNBR adalah kepala Kepala PTNBR
3. Pengawas K3 adalah Kepala Bidang Keselamatan dan Kesehatan (K-2) atau
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ Ͷ
Petugas yang ditunjuk untuk melakukan pengawasan terhadap petugas lain
yang sedang bekerja dengan suatu risiko kecelakaan.
4. Obat-obat terlarang adalah obat-obat keras yang termasuk kedalam golongan
narkotika (turunan Opium) dan obat tidur
5. Petugas gilir adalah karyawan yang bekerja bergantian secara rutin dan terus
menerus, untuk suatu tugas yang berkesinambungan
6. Kendaraan khusus: adalah kendaraan yang digunakan dilingkungan kerja dan
bukan merupakan kendaraan penumpangan.
7. Kecelakaan di tempat kerja: Adalah yang mengakibatkan rusaknya sebagian
atau seluruh alat atau kejadian berakibat luka atau kerugian karyawan yang
menyebabkan korban tidak bisa bekerja selama 2 x 24 jam atau lebih.
e. Petunjuk yang wajib dipatuhi.
1. Setiap orang yang bekerja dengan peralatan dan fasilitas di PTNBR
bertanggung jawab atas keselamatan dirinya selama bekerja.
2. Setiap orang yang memasuki lingkungan kerja harus memakai tanda pengenal
3. Setiap orang yang memasuki daerah instalasi diharuskan memakai alat
keselamatan yang sesuai /disyaratkan dan mematuhi semua ketentuan yang
berlaku.
4. Setiap orang diwajibkan mengumpulkan semua jenis sampah dan kotoran
lainnya dan membuangnya ke tempat sampah yang telah disediakan.
5. Setiap orang diwajibkan memakai alat pelindung diri yang telah disediakan,
apabila bekerja dengan barang-barang yang membahayakan ataupun bekerja
di tempat-tempat yang berbahaya.
6. Setiap orang dilarang makan dan minum di laboratorium, di bengkel, di ruang
komputer, dan instalasi untuk keperluan tersebut harap dipergunakan ruang
makan/kantin yang telah disediakan.
7. Setiap orang dilarang menjalankan/memperbaiki mesin, alat-alat lainnya
apabila tidak ditugaskan untuk itu.
8. Setiap karyawan dilarang keras minum semua jenis minuman yang
mengandung alkohol dan obat terlarang selama jam kerja.
9. Setiap karyawan diwajibkan memelihara tempat kerja dan lingkungan kerjanya
agar selalu bersih, segar, rapi dan indah.
10. Setiap karyawan diwajibkan menggunakan sepatu/alas kaki yang sesuai
dengan daerah kerjanya
11. Setiap karyawan diharuskan melaporkan keadaan yang dapat menimbulkan
bahaya atau kecelakaan kepada Pengawas K3
12. Setiap karyawan, sebelum memulai sesuatu pekerjaan perbaikan daerah kerja,
terlebih dahulu harus memperoleh Surat Ijin Kerja yang sesuai dengan
ketentuan di PTNBR.
13. Setiap karyawan pengemudi kendaraan bermotor khusus harus memiliki SIM
dengan kategori yang sesuai dan berlaku dari Kepolisian.
14. Petugas gilir tidak diijinkan meninggalkan pekerjaannya walaupun jam kerja
telah berakhir, sebelum petugas gilir penggantinya tiba di tempat kerja dan
mengadakan serah terima pekerjaan dahulu.
15. Setiap grid (kisi-kisi lantai) yang terpasang di unit kerja harus selalu dalam
keadaan cukup kuat dan aman.
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͷ
16. Tempat kerja harus mempunyai cukup penerangan atau jangan bekerja dengan
penerangan yang kurang memadai, gelap, silau dan pantulan cahaya tidak
dikehendaki dapat menyebabkan bahaya.
17. Tempat kerja harus mempunyai ventilasi dan sirkulasi udara yang baik dan
memadai.
18. Setiap ruangan tempat penyimpananan cairan/gas atau bahan lainnya yang
mudah menguap atau terbakar harus dilengkapi dengan detektor gas sistem
aliran otomatis dan sistem pemadam kebakaran otomatis.
19. Disekitar tempat bekerja yang pekerjaannya mengandung risiko bahaya harus
dipasang rambu-rambu/ label keselamatan. Setiap orang dilarang
memindahkan/merusak rambu-rambu. Label keselamatan, alat-alat pelindung
diri dan sejenisnya yang telah ditempatkan pada lokasi tertentu.
20. Setiap kecelakaan betapa kecilnya harus segera dilaporkan dalam waktu tidak
lebih dari 24 jam ke penanggung jawab ruangan, untuk dilaporkan ke bidang K2
dan jika dianggap perlu akan dibahas oleh P2K3, apabila ada korban segera
bawa ke klinik.
21. Setiap pekerjaan didalam tangki, bejana tekan, apabila menggunakan lampu
penerangan haruslah yang bertegangan setinggi-tingginya 24 Volt, kecuali ada
iziin khusus dari Pengawas K3.
f. Petunjuk Umum
1. Setiap karyawan dianjurkan untuk beristirahat yang cukup di rumah untuk
mencegah terjadinya kecelakaan yang disebabkan oleh faktor kelelahan.
2. Setiap karyawan, sesudah dinas malam, harus tidak dilemburkan karena
kelelahan dapat menimbulkan kecelakaan.
3. Setiap karyawan harus selau dalam keadaan waspada sewaktu melaksanakan
tugas, setiap kecelakaan yang menimpa diri karyawan senantiasa akan
menyebabkan keluarga karyawan menderita.
4. Setiap karyawan sebelum melakukan pekerjaan sebaiknya memikirkan cara
yang aman yang akan dilakukan dan meneliti bahwa semua peralatan kerja
maupun alat perlindungan yang akan dilakukan. Dianjurkan untuk melakukan
evaluasi suatu pekerjaan sebelum pekerjaan dimulai untuk mencegah
terjadinya langkah-langkah yang keliru dan berpotensi mendatangkan bahaya.
5. Dalam melaksanakan suatu pekerjaan yang kiranya membahayakan, setiap
karyawan sebaiknya melakukan musyawarah terlebih dahulu langkah-langkah
2 - 3 yang akan ditempuh. Sumbang saran dari orang lain akan sangat
bermanfaat dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan selamat.
6. Setiap karyawan harap mempertimbangkan dahulu apakah pekerjaan yang
akan dilakukan memerlukan alat-alat pelindung diri ataupun memerlukan
bantuan seorang pengawas Keselamatan Kerja.
7. Setiap karyawan pada saat kerja harus memusatkan konsentrasi sepenuhnya
pada pekerjaan. Dilarang bersendagurau atau mengobrol yang tidak perlu.
8. Dalam melakukan pekerjaan, setiap karyawan selain memikirkan keselamatan
orang lain.
9. Dalam melakukan pekerjaan, setiap karyawan harus menghindari sikap atau
posisi kerja yang tidak mencerminkan keselamatan. Demi keselamatan setiap
karyawan sebaiknya mengambil posisi yang baik dan aman sewaktu bekerja.
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͸
10. Setiap karyawan sebaiknya mencuci tangan hingga bersih dengan
menggunakan sabun atau deterjen setiap kali selesai dengan suatu pekerjaan
dan juga setiap saat akan mulai makan dan minum.
11. Setiap karyawan harap berpakaian yang rapi dan bersih. Pakaian yang kotor
menganggu kesehatan, sedangkan pakaian yang kedodoran akan
membahayakan si pemakai terutama apabila berdekatan dengan mesin
dan/atau peralatan yang berputar.
12. Setiap karyawan harus merapikan rambutnya apabila gondrong atau panjang
karena selain mengganggu pekerjaan, rambut gondrong dapat pula
mengancam keselamatan pemiliknya.
13. Setiap karyawan harus memelihara tempat kerja agar selalu rapi, bersih dan
indah agar dapat bekerja dengan nyaman dan aman.
14. Setiap karyawan dianjurkan untuk membiasakan diri berganti pakaian segera
setibanya dirumah dan mencuci bersih tangan dan kakinya. Perlu diingat oleh
karyawan bahwa ia dapat memindahkan debu atau kotoran dari tempat kerja ke
lingkungan keluarganya.
15. Setiap karyawan harap mendengarkan dengan baik semua instruksi atasannya
sebelum melaksanakan pekerjaan menggunakan alat kerja, menjalankan mesin
dan/atau peralatan instansi lain.
16. Setiap orang harap mengembalikan segala sesuatu yang dilihat tidak pada
tempatnya ataupun yang seharusnya tidak terletak dilantai atau tanah.
17. Setiap karyawan harap meletakkan alat kerja pada tempat yang telah
ditentukan/tersedia.
18. Semua jenis sampah dan kotoran lainnya harap dikumpulkan dan dibuang ke
tempat yang telah disediakan.
19. Setiap tumpahan minyak atau benda cair pada lantai atau meja harap
dibersihkan dengan segera.
20. Setiap karyawan harus membaca instruksi kerja (manual) dengan baik tentang
cara-cara menjalankan mesin dan/atau peralatan sebelum memulai suatu
pekerjaan.
21. Setiap karyawan harap menegur siapa saja yang melakukan suatu pekerjaan
yang dapat membahayakan, tanpa mmemandang paakah orang yang
ditegurnya itu atasan atau bukan.
22. Pada waktu mengemudikan kendaraan bermotor, setiap karyawan harus
mematuhi batas-batas kecepatan serta rambu-rambu lalu lintas lainnya.
g. Sanksi
Pelanggaran terhadap Pedoman Umum Keselamatan dan Kesehatan Kerja dapat
dikenakan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku.
h. Pelatihan
Untuk mencapai dan meningkatkan ketrampilan serta kemampuan personil, harus
disusun program pelatihan yang sesuai dengan kondisi kegiatan. Pelatihan ini
harus meliputi
1. Pelatihan Dasar/awal
2. Pelatihan Kerja termasuk penyegaran
3. Pelatihan Lanjutan dan pelatihan khusus untuk pekerjaan yang berisiko tinggi.
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͹
BAB III
PENANGGULANGAN
BAHAYA KEBAKARAN
____________________________________________________________
a. Tujuan
Pedoman Penanggulangan Bahaya Kebakaran ini disusun dengan tujuan untuk
memberikan petunjuk berupa tindakan – tindakan pencegahan dan
penanggulangan bahaya kebakaran dalam melaksanakan tugas sehari-hari.
b. Ruang Lingkup
Ruang Lingkup Pedoman ini Pelaksanaan tindakan pencegahan dan
penanggulangan bahaya kebakaran dalam melaksanakan tugas sehari-hari bagi
Karyawan di PTNBR BATAN Bandung.
c. Bahan Acuan.
1. Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional, Himpunan Pedoman
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Mekanik
2. Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional, Himpunan Pedoman
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Penanggulangan dan Konstruksi
Bangunan
3. Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional, Himpunan Pedoman
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Listrik
4. Himpunan Peraturan dan Perundangan Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
5. Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI No. Kep-186/MEN/1999 tentang
Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja
d. Definisi
1. Penanggulangan Kebakaran adalah segala daya upaya untuk mencegah dan
memberantas terjadinya kebakaran.
2. Alat Pemadam api ringan adalah alat pemadam api portable berupa tabung
logam yang bisa diisi kembali. Adapun jenisnya berupa jenis tabung, halon, CO
2
ataupun busa.
e. Petunjuk Umum
Organisasi Penanggulangan Kebakaran : Satuan Tugas untuk mempermudah
pengerahan dan pengendalian personil yang dipimpin oleh Ketua UPN atau
Satuan Pelaksana Pemadam Kebakaran (selanjutnya disebut SatLak DAMKAR).
SatLak DAMKAR dapat dikerahkan secara efektif dan dikerahkan secara dini sejak
mulanya terjadi kebakaran sampai tugas mengatasi kebakaran selesai.
Tugas Pokok SatLak DAMKAR : Tugas Pokok SatLak DAMKAR adalah
menyelenggarakan penanggulangan untuk memadamkan dan mencegah
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͺ
meluasnya api dari akibat yang ditimbulkan, memberikan pertolongan dan bantuan
kepada karyawan serta mengungkapkan sebab musibah pelaku, motif terjadinya
kebakaran secara cepat, tepat dan tuntas. Dengan demikian maka tindakan
penanggulangan mecakup usaha dan tindakan yang dilakukan sebelum, sewaktu
dan setelah terjadinya kebakaran.
Pembagian Tugas : Pembagian Tugas untuk memudahkan pengerahan dan
pengoperasian personil, perlu diadakan pembagian tugas bagi anggota SatLak
DAMKAR kelompok kerja berdasarkan kondisi atau letak geografis perkantoran
yang ada di PTNBR dalam bentuk sektor-sektor. Masing-masing anggota SatLak
DAMKAR bersama-sama dengan karyawan dari sektor terkait bertanggung jawab
terhadap keamanan sektornya dari kemungkinan ancaman bahaya kebakaran
sesuai dengan prosedur yang tersedia.
Klasifikasi Daerah: Untuk kepentingan pengamanan dalam penanggulangan
kebakaran tiap pusat atau kawasan membuat klasifikasi daerah berdasarkan :
9 Daerah aktif
9 Daerah tidak aktif rawan kebakaran
9 Daerah tidak aktif rawan bahan kimia beracun
9 Daerah aman
Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) dan Instruksi Kerja (IK) digunakan sebagai
pegangan untuk menjamin adanya keseragaman dalam pola pikir dan pola tindak
di PTNBR dalam rangka penanggulangan kebakaran.
Juklak dan IK memuat urutan tindakan atau peran yang harus dilakukan oleh
perorangan atau kelompok yang tergabung di dalam SatLak DAMKAR.
f. Manajemen Peralatan
Alat Pemadam Api Ringan (APAR) : Kepala PTNBR wajib menyediakan
peralatan pemadam api ringan (APAR) dalam jumlah cukup, siap pakai dan
terpasang di tempat-tempat yang mempunyai potensi bahaya kebakaran dengan
jenis yang telah disesuaikan dengan potensi bahaya kebakaran tersebut.
Fire Alarm System : Selain APAR seperti tersebut diatas untuk setiap gedung
perlu dipasang atau dilengkapi alat-alat proteksi dan atau deteksi kebakaran (fire
alarm system) sebagai tanda peringatan dini terjadinya kebakaran.
Hydran : Selain alat-alat kelengkapan seperti tersebut diatas, kepala PTNBR
harus mengusahakan pompa hydran, bila oleh sesuatu hal belum bisa disediakan
harus menjalin hubungan dengan dinas Pemadam Kebakaran setempat yang
mempunyai armada mobil pemadam kebakaran.
Perawatan dan Pemeliharaan : Baik untuk APAR, fire alarm system maupun
hydran semuanya perlu perawatan dan pemeriksaan rutin sehingga alat-alat
tersebut dapat tetap berdaya guna dan berhasil guna.
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͻ
Kelengkapan Petugas Proteksi Radiasi, Piket UPN dan Jaga reaktor : untuk
mempertinggi kesiap-siagaan Petugas, di ruang piket Petugas Proteksi Radiasi
(pesawat 444), diruang kendali reaktor (pesawat 333) dan piket pengamanan
(pesawat 111) perlu disediakan alat pemadam, alat pelindung diri dan alat-alat
penyelamatan sesuai dengan kebutuhan.
Pelatihan dan Penerangan : Pentingnya latihan guna memupuk kesadaran dan
meningkatkan ketrampilan dalam pencegahan semua karyawan baik yang
bergabung dalam satuan tugas maupun yang tidak,perlu mendapatkan
penerangan atau ceramah dan latihan-latihan menghadapi bahaya kebakaran.
Materi Latihan : Materi Latihan dan penerangan meliputi pengetahuan-
pengetahuan penggunaan alat pemadam kebakaran, upaya tindakan pencegahan
tanda-tanda bahaya kebakaran termasuk pengetahuan bagaimana cara mengatasi
bahaya radiasi.
Bentuk Latihan : Kepala PTNBR harus mengadakan Latihan yang dapat
dilakukan oleh Kepala atau gabungan (terpadu) yang melibatkan seluruh anggota
SatLak DAMKAR dan karyawan. Latihan diadakan sedemikian rupa sehingga
semua personil terutama yang tergabung dalam Satlak DAMKAR benar-benar
mahir dan terampil menghadapi kebakaran.
Koordinasi dan Pengendalian : Pada tingkat pertama terjadi kebakaran yaitu
masih terbatas di lokasi kerja, maka koordinasi pengendaliannya dilakukan Kepala
UPN bekerjasama dengan SatLak DAMKAR dan Kepala Bidang di tempat
Kebakaran terjadi.
Pada saat kebakaran meluas ke luar lokasi kerja : Pada tingkat kebakaran
sudah meluas atau merembet ke luar lokasi kerja maka koordinasi
pengendaliannya dilakukan oleh Kepala PTNBR selaku Penanggung jawab
fasilitas, dibantu Ka.UPN dan SatLak DAMKAR.
Bantuan dari luar PTNBR : Permintaan bantuan pasukan dan peralatan dari luar
PTNBR tidak selalu disertai dengan peralihan komandan pengendalian operasi
meskipun secara taktis dan teknis operasional penggunaan pasukan dan
peralatan tersebut berada di bawah koordinasi komandan pasukan bantuan yang
bersangkutan. Sebelum pasukan atau bala bantuan pemadam bergabung dengan
pasukan yang lain yang sudah beroperasi, terlebih dahulu harus dikoordinasi dan
melapor kepada Kepala UPN untuk mendapatkan petunjuk dan penjelasan
tentang kemungkinan adanya bahaya radiasi.
Koordinasi, pertemuan atau lokakarya: untuk memperlancar dan mendukung
pelaksanaan koordinasi dan pengendalian Satuan Pelaksana penanggulangan
kebakaran, maka pada saat aman, perlu diadakan satu pertemuan atau lokakarya
dengan semua instansi terkait baik instansi pemerintah sipil dan militer maupun
swasta untuk membicarakan / membahas prosedur tetap penanggulangan bahaya
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͳͲ
kebakaran di PTNBR. Dari lokakarya atau pertemuan akan dapat dirumuskan
prosedur tetap yang disepakati bersama dan bisa dilanjutkan dengan latihan
bersama atau tindakan lain yang bermanfaat.
Pos komando: pos komando harus segera didirikan (dibuka) dengan memilih
tempat yang aman dan menguntungkan bagi koordinasi dan pengendalian. Setiap
perpindahan Posko perlu disebarluaskan dengan memberikan tanda atau petunjuk
diposko yang lama bahwa posko telah pindah kesuatu tempat yang jelas.
Pengendalian pada saat hari libur atau sesudah jam kerja: Komando
pengendalian pada saat hari libur atau sesudah jam kerja, sementara Kepala
PTNBR selaku penanggung jawab keselamatan atau pejabat pelaksana harian
yang ditunjuk atau Kepala UPN/Ketua SatLak DAMKAR belum datang ke tempat
kejadian, maka komandan piket pengamanan bertindak sebagai penanggung
jawab dan pelaksana utama dalam penanggulang kebakaran. Untuk mempercepat
dan memperlancar penanggulangan kebakaran sekali lagi perlu diingatkan agar di
ruang petugas pengamanan atau jaga reaktor selalu siap alat-alat pemadam dan
keselamatan pemadam kebakaran.
Komunikasi
a. Sistem Komunikasi Darurat terdiri dari sistem telepon, Handy Talky, dan
sound system (tata suara)
b. Sistem telepon harus direncanakan sedemikian rupa sehingga apabila terjadi
kebakaran masih dapat bekerja minimal satu buah pada tiap-tiap lantai.
c. Sound system terpusat digunakan untuk menyampaikan pengumuman dan
instruksi bila terjadi kebakaran pada tingkat awal.
d. Tanda bahaya dan tanda aman harus dimengerti atau dikenal oleh seluruh
karyawan dan disampaikan pada saat dan dengan cara yang tepat.
g. Penyampaian informasi atau komunikasi antar gedung menggunakan sistem
telepon, Handy Talky, dan sound system (tata suara)
Pengawasan dan Pemeriksaan: Pengawasan dan Pemeriksaan diperlukan untuk
meningkatkan kewaspadaan seluruh karyawan agar menerapkan ketentuan-
ketentuan dan peraturan yang sudah ada baik yang menyangkut perlengkapan
bangunan seperti listrik, gas, sistem alarm, alat pemadam kebakaran maupun
sarana lain yang dimiliki perlu dilakukan pengawasan dan pemeriksaan.
Pentingnya Pengawasan Melekat : Dalam rangka penegakkan dan peningkatan
kewaspadaan dalam menghadapi bahaya kebakaran sangat perlu digalakkan
pengawasan melekat sehingga tidak ada peluang atau memperkecil kemungkinan
terjadinya kelalaian dan kecerobohan yang mengakibatkan bahaya kebakaran.
Tindakan Pencegahan : Usaha-Usaha pencegahan perlu ditanamkan di kalangan
karyawan sehinga menjadi sikap hidup yang positif. Setiap karyawan wajib ikut
aktif mengadakan usaha pencegahan kebakaran di lingkungan PTNBR. Dalam
rangka memperkecil atau menghindari kemungkinan terjadinya kebakaran maka
perlu dilakukan pengaturan dalam hal :
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͳͳ
9 Pengunaan aliran listrik.
9 Penempatan bahan bakar minyak atau bahan mudah terbakar.
9 Penggunaan kompor (gas atau listrik).
9 Pekerjaan-pekerjaan bengkel termasuk pengelasan.
9 Penyimpanan bahan kimia termasuk cairan yang mudah terbakar atau
meledak.
9 Pembuangan dan pembakaran sampah.
Dan lain sebagainya.
h. Langkah-langkah Penanggulangan
1. Setiap karyawan yang melihat atau mengetahui kebakaran harus
memadamkannya dengan alat pemadam api ringan yang telah tersedia di
daerah kerjanya.
2. Pada saat yang sama, karyawan tersebut harus memberitahu karyawan lain
yang ada disekitarnya untuk melaporkan dan menghubungi Satuan
Pengamanan/UPN bahwa terjadi kebakaran.
3. Selama Satuan Pengamanan belum tiba di lokasi kebakaran, adalah
kewajiban karyawan terdekat yang dipimpin oleh pejabat senior
mengkoordinasikan pemadaman.
4. Setibanya di lokasi kebakaran, Satuan Pengamanan akan mengambil alih
koordinator pemadaman bekerja sama dengan atau dibantu karyawan
lainnya. Bila kebakaran diduga menimbulkan bahaya lain seperti terlepasnya
zat radioaktif atau kecelakaan manusia wajib bekerja sama dengan bidang
K2.
5. Sementara itu Petugas Pengamanan yang lain dengan alat komunikasi yang
ada segera melaporkan kepada Kepala PTNBR, Komandan UPN, dan Kepala
Bidang K2 serta Kepala Bagian Tata Usaha bahwa telah terjadi kebakaran.
6. Kepala UPN setibanya di lokasi kebakaran segera mengambil alih komando
pengendalian pemadam dengan mengerahkan seluruh unit teknis yang ada
dibawahnya dibantu Unit Teknis Pemadam dari sektor lain yang telah siap.
7. Bila api terlampau besar, dimana untuk pemadamannya memerlukan bantuan,
maka Kepala UPN atas sepengetahuan Kepala PTNBR meminta bantuan Unit
Mobil Pemadam Kebakaran terdekat.
8. Bila api menjalar keluar lokasi kerja maka kepala PTNBR sebagai
penanggung jawab keselamatan mengerahkan dan mengendalikan semua
kekuatan yang ada dengan meminta bantuan dari Unit Pemadam Kebakaran
terdekat untuk melakukan pemadaman. Ketua SatLak yang tergabung dalam
Organisasi Penanggulangan Keadaan Darurat (OPKD) PTNBR dan Tim P2K3
selalu mengikuti dan mengevaluasi tingkat bahaya yang mungkin terjadi
akibat kebakaran.
9. Setelah kebakaran dapat dikuasai dan api dapat dipadamkan Unit Pemadam
meneliti daerah tersebut dengan seksama untuk mengetahui apakah masih
ada sisa api atau tidak. Sementara itu SatLak Proteksi Radiasi mengecek
paparan radiasi di daerah TKP dan mengecek kontaminasi Petugas.
10. Kepala PTNBR segera menyelidiki sebab-sebab terjadinya kebakaran dengan
membentuk Tim Evaluasi.
11. Setelah api benar-benar padam, maka SatLak DAMKAR melakukan
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͳʹ
konsolidasi menghitung jumlah kekuatan, alat yang masih ada dan yang
hilang atau rusak/habis akibat peristiwa kebakaran. Selanjutnya Kepala UPN
memerintahkan masing-masing SatLak DAMKAR menyusun kembali
kekuatan dalam rangka memelihara kesiapsiagaan.
12. Personil dari biidang yang menjadi anggota SatLak DAMKAR dan bertugas
didaerah terjadinya kebakaran segera melaporkan semua peristiwa yang
terjadi termasuk kemungkinan sebab dan jumlah korban (kalau ada)
disampaikan kepada ketua SatLak DAMKAR untuk menentukan langkah
selanjutnya.
13. Apabila dalam penanggulangan kebakaran terjadi kecelakaan personil, maka
ditempuh prosedur pelaksanaan tentang kecelakaan kerja.
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͳ͵
BAB IV
BENGKEL
____________________________________________________________
a. Tujuan
Pedoman ini disusun dengan maksud untuk memberikan petunjuk secara umum
kepada seluruh karyawan PTNBR BATAN Bandung tentang Keselamatan dan
Kesehatan Kerja dalam melakukan kegiatan perbengkelan.
b. Ruang Lingkup
Ruang Lingkup yang dibahas dalam Pedoman ini meliputi Bengkel Elektronik,
bengkel instrumen, bengkel mesin yang dikelompokkan sebagai mesin-mesin
pengiris, mesin penyambung dan pemotong, pembentuk, pelapis dan bengkel
gelas dan mesin lain yang digunakan di PTNBR BATAN Bandung.
c. Bahan Acuan
Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional, Himpunan Pedoman
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Mekanik.
d. Definisi
1. Mesin Pengiris : mesin gergaji, mesin bor, mesin bubut, mesin frais, mesin
gerinda, mesin sekrap, mesin pengasah.
2. Mesin Penyambung dan pemotong : berbagai mesin las, pemotongan dengan
gas.
3. Mesin pembentuk :
a. Mesin rol, mesin tekuk plat, mesin bengkok pipa
b. Mesin Cor
4. Mesin Pelapis : mesin cat, electroplating
e. Petunjuk
Bengkel Elektronik
Umum
1. Setiap pekerja harus menempatkan solder pada tempat yang aman dari
jangkauan yang dapat mengakibatkan kecelakaan.
2. Setiap pekerja harus menggunakan alat pelindung pernapasan atau
menghidupkan fan penghisap untuk menghindari asap dari timah cair.
3. Setiap pekerja yang melakukan pen solder dan posisi hidung tidak boleh
diatas langsung mata solder.
4. Setiap pekerja harus berhati-hati terhadap tegangan tinggi yang tersedia atas
bahaya sengatan listrik.
5. Setiap pekerja harus waspada terhadap pelarut PCB (Feri Klorid yang
membahayakan mata dan kulit).
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͳͶ
6. Setiap pekerja harus berhati-hati terhadap sambungan kabel-kabel yang
terbuka (telanjang).
7. Setiap pekerja yang bekerja dengan tegangan tinggi harus menggunakan
sepatu dan sarung tangan dari karet, dan tidak menggunakan perhiasan dari
logam untuk menghindari hantaran listrik.
8. Komponen-komponen yang dipasang harus sesuai dengan tegangan yang
diperlukan untuk menghindari bahaya kebakaran (terutama komponen
resistor) dan ledakan (terutama komponen kapasitor).
9. Alat ukur yang digunakan harus sesuai dengan batas kemampuan
pengukuran.
10. Alat-alat yang telah selesai digunakan harus dimatikan dari sumber listriknya.
11. Komponen-komponen harus disimpan pada tempat yang benar, jauhkan dari
sinar matahari langsung dan tempat yang lembab (basah).
Khusus :
Untuk bengkel elektronik yang khusus akan ditentukan oleh Kepala BIE.
Bengkel Instrumen
Umum
1. Alat-alat ukur harus dikalibrasi secara berkala sesuai prosedur.
2. Instrumen harus dioperasikan pada daerah kerjanya dan pakailah sekring-
sekring yang sesuai dengan yang diperlukan.
3. Setiap pemakai alat ukur harus berusaha menghindari kesalahan pemakaian
pada berbagai macam pengukuran.
4. Instrumen harus disimpan pada tempat, posisi yang benar dan jauhkan dari
sinar matahari langsung serta tempat yang lembab (basah).
5. Setiap pemakai alat ukur harus berhati-hati terhadap kabel yang terkelupas,
tersayat dan telanjang.
6. Probe HV harus dipergunakan pada waktu mengukur tegangan tinggi diatas 1
KV AC/DC.
7. Setiap pekerja harus menggunakan sepatu dan sarung tangan karet, serta
tutup kepala non-logam di lingkungan tegangan yang disyaratkan, serta tidak
menggunakan perhiasan dari logam untuk menghindari hantaran listrik.
8. Instrumen-instrumen analog dalam setiap penggunaannya jangan sampai
polaritasnya terbalik.
9. Alat-alat yang telah selesai digunakan harus diputus dari sumber listriknya.
10. Instrumen gas (manometer gas/regulator) harus terpasang, tersambung
dengan rapat dan kuat.
11. Slang instrumen pneumatik, hidraulik dan gas-gas bertekanan, harus rapat
dan kuat pada sambungannya.
12. Slang penghubung fluida (zat alir) jangan sampai terganggu (tersumbat,
tergencet, rusak)
Ruang Kerja
Setiap pekerja yang melakukan tugas di ruang tertutup harus dihindarkan
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͳͷ
kemungkinan dari bahaya keracunan, sengatan listrik, ledakan, benturan / jatuh
karena penerangan yang kurang intensitasnya.
Khusus
Untuk bengkel instrumen yang khusus akan ditentukan oleh Kepala Balai
Instrumentasi dan Elektromekanik (BIE).
Bengkel Mesin
Umum
1. Setiap orang harus memahami lokasi kerja terhadap bahaya kebakaran,
kearah mana pintu-pintu darurat dan atasilah api secepatnya dan semaksimal
mungkin dengan menggunakan peralatan yang telah disediakan sebelum
pekerja menuju ke pintu darurat.
2. Setiap pekerja harus memelihara, memberlakukan alat dengan baik dan
menggunakan secara benar, sesuai dengan fungsi.
3. Setiap pekerja yang mendapat luka walaupun kecil/ringan harus segera
diobati supaya tidak terkena infeksi.
4. Setiap pekerja harus mematikan mesin dari hubungan listriknya jika akan
meninggalkan atau bila akan anda perbaiki.
5. Mesin harus dimatikan bila ada kerusakan pada benda kerja dan atau
kerusakan pada mesin itu sendiri.
6. Mesin jangan dibersihkan, dilumasi disetel dan diperbaiki pada saat
dioperasikan.
7. Setiap orang dilarang mencuci tangan menggunakan air pendingin (coolant).
8. Bagian mesin yang bergerak dari pesawat tenaga, perlengkapan transmisi
tenaga mekanis dan semua bagian yang berbahaya, harus diberi pengaman
secara efektif, kecuali apabila dipasang atau ditempatkan sedemikan rupa
sehingga tidak ada orang atau benda yang dapat menyinggungnya.
9. Setiap orang atau perusahaan yang memasang mesin-mesin baru, bagian
mesin atau perlengkapannya harus menjamin bahwa semua pekerjaan yang
telah dilakukan ditetapkan dalam peraturan.
10. Setiap orang dilarang memindahkan ataupun merubah suatu alat pengaman
dari suatu mesin sehingga mesin tersebut menjadi berbahaya, terkecuali
apabila mesin dalam perbaikan.
11. Setiap petugas harus melaporkan bila terjadi kerusakan atau
ketidaksempurnaan dalam suatu mesin, pengaman pesawat atau alat dari
tempat kerjanya.
12. Setiap petugas yang mengetahui setiap terjadinya kerusakan mesin saat
operasi harus segera mematikan tenaga penggerak dan alat pengaman harus
atau memberi tanda yang bersifat pengumuman yang mudah dibaca dengan
ditempelkan pada mesin tersebut dan melarang penggunaanya sampai
perbaikan yang diperlukan telah dilakukan dan mesin tersebut berada dalam
keadaan baik.
13. Bahan pengamanan standard atau penutup harus dibuat :
a. Dari metal yag kuat atau berlubang atau kawat teranyam dengan bingkai
besi siku, pipa besi atau batang besi padat.
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͳ͸
b. Dari kayu, plastik atau bahan lain yang cocok untuk apa bahan-bahan itu
dipergunakan.
14. Semua pengaman harus dipasang dengan cara diletakkan dengan aman
kepada mesin, lantai dinding atau plafond dan harus tetap berada
ditempatnya bilamana mesin dioperasikan.
15. Roda gaya dari penggerak utama yang terbuka harus diberi perlindungan
supaya tidak membahayakan dengan cara dipagar, konstruksi pada bagian
luarnya dilengkapi celah-celah pengaman standar.
16. Alat-alat pembatas kecepatan, penghenti keselamatan atau klep penghenti
darurat harus dilengkapi dengan sakelar jarak jauh, sehingga dalam keadaan
darurat penggerak utama dapat dimatikan dari tempat yang aman.
17. Semua sekrup penyetel dalam bagian-bagian yang bergerak, dimanapun
berada, harus dibuat rata, terbenam atau dilindungi dengan tabung
penyelamat atau pembungkus stasioner.
18. Semua kunci, gerendel, nipel gemuk dan lain-lain proyeksi dalam bagian-
bagian yang berputar, harus dibuat rata, atau pembungkus sedemikian rupa
untuk menjaga orang-orang menyentuh proyeksi-proyeksi itu.
19. Titik yang bergerak dari transmisi roda-roda gesek apabila dibuka untuk
bersentuhan, harus ditutup seluruhnya.
20. Bagian yang menggeser dari kompling jepit harus diikatkan kepada pemindah
poros yang dijalankan, yaitu pemindah poros tidak bekerja apabila kopling
dilepas.
21. Roda gigi yang terbuka yang digerakkan dengan mesin harus dijaga dengan
menutup keseluruhan dan atau menutup sebagian pada tempat yang dapat
menimbulkan bahaya.
22. Gigi yang digerakkan dengan tangan harus dijaga dengan cara yang sama
sebagaimana diuraikan untuk gigi yang digerakkan dengan mesin apabila gigi
tersebut dapat menimbulkan bencana.
23. Roda gigi rantai yang digerakkan dengan mesin rantai, harus tertutup
samasekali, kecuali telah aman lokasinya.
24. Mesin tidak boleh diminyaki dengan tangan dalam keadaan jalan hal ini dapat
menyebabkan kecelakaan bagi petugas.
25. Bantalan pemindah poros tidak boleh diminyaki dengan tangan ketika
pemindahan poros sedang berjalan.
26. Tombol listrik penghidup mesin harus terbenam, dan ditempatkan sedemikian
rupa sehingga sukar terhubung karena sentuhan.
27. Jumlah tombol penghenti harus satu atau lebih sesuai dengan posisi kerja dari
operator.
28. Tombol penggerak awal harus dari bahan berwarna hijau dan tombol
penghenti dari bahan berwarna merah terkecuali ditentukan lain seperti
tombol-tombol khusus untuk motor-motor tunggal tidak harus diberi warna
merah.
29. Mesin-mesin yang dioperasikan oleh lebih dari seorang, maka setiap operator
harus disediakan tombol control untuk mengggerakkan dan menghentikan
mesin, dan mesin tidak akan bekerja sampai semua tombol penggerak pada
posisi yang sama.
30. Mesin-mesin yang dijalankan dengan dua motor atau lebih dengan tombol
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͳ͹
tekan pengontrol yang terpisah harus dilengkapi dengan atau lebih tombol
penghenti yang dapat menghentikan kerja mesin secara keseluruhan.
31. Pada mesin-mesin berat yang tetap berputar setelah sumber tenaga
diputuskan harus diberi perlengkapan rem yang secara otomatis bekerja bila
diperlukan untuk mencegah bahaya yang terjadi.
Mesin-mesin Pengirisan
1. Mesin harus diberi sekat/pelindung agar percikan gram atau alat yang
memungkinkan terlepas dapat ditahan sehingga tidak melukai orang.
2. Setiap pekerja harus memakai kacamata bila bekerja untuk pekerjaan yang
menghasilkan gram.
3. Lampu yang ada disetiap mesin harus dinyalakan saat bekerja , agar
pekerjaan dapat berjalan lancar tanpa kesalahan atau penyimpangan.
4. Ikatan yang saling berkaitan harus dikencangkan, misalnya ikatan-ikatan
mesin, benda kerja dan alat pemotong.
5. Setiap orang tidak boleh membuka alat-alat pengamanan/tutup mesin yang
sedang bekerja atau berputar.
6. Setiap pekerja dalam kegiatan mengangkat, menarik barang-barang harus
menggunakan sarung tangan. Karena menarik tali kabel atau rantai tanpa
sarung tangan akan mengundang bahaya.
7. Pelat cekam yang sedang berputar atau benda putar yang sedang dikerjakan
jangan sampai tersentuh.
8. Setiap pekerja dilarang melawan kekuatan mesin dengan kekuatan fisik misal
menghentikan putaran dengan tangan, mengencangkan ikatan (baut, mur)
dengan tangan dan lain-lain.
9. Gigi tenaga spindle kopeling silang dan poros pada mesin pelubang dan
mesin bubut harus dilindungi dengan alat pengaman standar.
10. Meja putar horisontal pada mesin vertikal yang besar harus dikelilingi oleh
pagar pengaman, yang menunjang sampai diatas bagian atas alat kerja yang
berada diatas meja pengaman dapat terdiri dari dua bagian yang dapat
dilepas pada bingkai mesin/lantai untuk memudahkan masuk untuk menyetel
atau memperbaiki.
11. Pelat genggam pada meja bubut logam horisontal harus diperlengkapi dengan
sekrup penyetel yang terpendam atau dirancang sedemikian rupa sehingga
tidak terdapat bagian-bagian yang menonjol.
12. Pelat genggam pada pelat genggam pelat cakram beralur pada meja bubut
logam horisontal harus ditutup dengan alat pengaman standar yang akan
mencakup bagian-bagian yang bergerak.
13. Mesin bubut logam horisontal harus diperlengkapi dengan rem otomatis, dan
para pekerja harus dilarang meletakkan tangannya di atas pelat genggam
meja bubut untuk memegang benda yang sedang dikerjakan atau di atas
cakram beralur pace plate kecuali tenaga telah dimatikan.
14. Mesin bubut logam horisontal yang ditempatkan dekat gang atau jalan lewat
atau paralel satu sama lain berdekatan, harus dipasang pengaman apabila
perlu untuk menghindarkan pecahan-pecahan halus yang terbang mengenai
orang-orang yang sedang lewat atau pekerja pada mesin bubut yang lain.
15. Alat penggerak pemotong untuk meja gerak diatas mesin frais harus ditutup
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͳͺ
sebagai pengaman.
16. Setiap pekerja pada mesin frais dilarang mencoba membuang kepingan-
kepingan dari benda yang dikerjakan dekat pemotong sebelum mesin
dihentikan.
17. Mesin frais otomatik harus dilengkapi dengan pengaman percikan minyak
pendingin pemotongan.
18. Setiap pekerja dilarang naik pada meja kerja mesin bubut vertikal, mesin
ketam logam ketika mesin sedang beroperasi. Dengan ketentuan bahwa
berada di atas meja kerja dapat diperbolehkan apabila sifat operasi
memerlukannya.
19. Blok pancang pada pengetam logam horisontal harus dilengkapi dengan
pengaman standar untuk sepanjang langkahnya.
Mesin Penyambung dan Pemotong
1. Setiap pekerja dengan mesin las harus memakai kacamata alas untuk
melindungi mata dari cahaya las, percikan bunga api, ingat jangan sekali-kali
melihat cahaya las dengan mata telanjang.
2. Setiap pekerja dilarang mengubah parameter-parameter pengelasan pada
saat pengelasan sedang berlangsung.
3. Setiap pekerja harus memakai apron, sarung tangan dan perlengkapan
pelindung lain, pakailah sarung tangan yang kering untuk melindungi tangan
dari kemungkinan terkena aliran listrik (electric shock), pakailah penutup mulut
dan hidung sebagai filter agar asap dan gas yang timbul pada saat
pengelasan sedang berlangsung tidak berbahaya bagi kesehatan.
4. Tabir penghalang harus dipergunakan untuk menghalangi cahaya tajam dan
percikan bunga api supaya tidak menganggu orang lain.
5. Instrumen gas harus dipasang dengan benar, (manometer, regulator) rapat
dan kuat.
6. Benda yang di las harus diletakkan pada posisi aman agar tidak mudah jatuh
di waktu pengelasan sedang berlangsung.
7. Api rokok atau korek api biasa tidak boeh dipergunakan untuk menyalakan
gas pembakar, pakailah korek gas.
8. Penyembur api dilarang untuk digantungkan pada tabung gas asetilen.
9. Katup silinder zat asam dan asetilen harus ditutup dan buanglah gasnya
hingga manometer menunjukkan angka nol bila pengelasan telah selesai.
10. Katup tabung bila tidak dipakai harus ditutup dengan benar.
11. Selang pipa las tidak boleh dibiarkan tergencet/terjepit dan tertekuk dan
hindarkan selang melintang jalan, supaya tidak tergilas kereta sorong.
12. Setiap pekerja las dilarang mengelas tangki pipa drum yang mengandung
bahan yang mudah meledak/terbakar, sebelum dibersihkan.
13. Setiap orang dilarang mengambil gas, tabung las untuk pernapasan; oksigen
pernapasan.
14. Air pendingin digunakan pada mesin las potong, plasma cutting, gergaji
pemotong baja harus dilengkapi dengan pengaman percikan.
15. Setiap pekerja dilarang membuang pecahan-pecahan gergaji yang patah
tanpa menghentikan terlebih dahulu mesin.
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͳͻ
Mesin Pembentuk
Roll, Tekuk Plat, Bengkok Pipa
1. Perlengkapan pengaman, penghalang yang tepat atau yang dapat disetel,
harus dipasangkan pada sisi rol yang bergerak sehingga bahan-bahan yang
akan diproses dapat diisikan kepada rol, tanpa menyebabkan tangan operator
terpegang diantara rol atau diantara pengaman dan rol.
2. Setiap pekerja dilarang membersihkan rol tanpa lebih dahulu menghentikan
alat-alat mesin, dan memutuskan arus, kecuali pada mesin yang besar yang
tidak dapat diputar dengan tangan dan dilengkapi dengan pengatur tenaga
yang berjalan lambat.
Mesin Cor
1. Setiap pekerja harus memastikan bahwa kelengkapan dan kesiapan sarana
pendukung pesawat cor dapat beroperasi dan berfungsi dengan baik.
2. Setiap pekerja harus memahami secara keseluruhan sistem mesin tersebut.
3. Setiap pekerja harus mengenakan pakaian kerja yang mampu menahan suhu
panas, percikan api dan percikan logam panas. Pakailah sepatu, sarung
tangan kerja, topi pengaman.
4. Setiap pekerja dilarang mengubah parameter-parameter pesawat cor selagi
sedang beroperasi.
5. Setiap pekerja dilarang melihat cahaya logam cair dengan mata telanjang
terlalu lama, oleh karena itu diwajibkan menggunakan kacamata untuk
pekerjaan cor.
6. Tabir penghalang untuk menghalangi cahaya tajam dan percikan bunga api
supaya tidak menganggu orang lain harus dipasang.
7. Alat pengangkat dan pengangkut yang disediakan harus dipergunakan
dengan cara yang benar terhadap bahan baku dan bahan yang telah jadi.
8. Setiap orang dilarang berdiri atau melewati di depan pintu sewaktu operasi
penyalaan.
Mesin-mesin Pelapis
1. Setiap pekerja harus memastikan bahwa kelengkapan dan kesiapan sarana
pendukung pesawat cat sehinga dapat beroperasi dan berfungsi dengan baik.
2. Setiap pekerja dilarang mengubah parameter pesawat pengecatan yang telah
diset selama berlangsung pengecatan.
3. Setiap pekerja harus memastikan bahwa udara yang digunakan dalam
keadaan kering, keadaan tekanan angin/kompresor telah cukup untuk
mengabutkan cat yang akan digunakan.
4. Setiap pekerja harus mengenakan pakaian pengecatan, kacamata, dan
penutup rambut.
5. Setiap pekerja yang melakukan kegiatan dengan mesin electroplating berhati-
hatilah dengan bahan asam kuat dan hidupkan exhauser untuk mengeluarkan
uap kimia yang terjadi sehingga ventilasi ruangan harus bekerja dengan baik
dan pastikan tidak ada kebocoran pada sistem salurannya.
6. Setiap pekerja harus hati-hati dalam membuat larutan, harus diingat zat kimia
yang dipergunakan mungkin sangat korosif dan reaktif (misalnya: H
2
SO
4
, HF,
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ʹͲ
HNO
3
)
7. Setiap pekerja harus mempergunakan sarung tangan karet, masker,
kacamata untuk menghindari percikan asam kuat.
8. Setiap pekerja harus memperhatikan posisi anoda dan katoda jangan sampai
terbalik.
Bengkel Gelas
1. Setiap pekerja harus memeriksa semua peralatan pengaman saluran gas,
meter dan cobalah sebelum mulai bekerja, supaya dalam melaksanakan
pekerjaan yang sebenarnya tidak terjadi hal-hal yang tidak dinginkan dan
dalam hal penggunaan mesin-mesin yang berputar cobalah terlebih dahulu
mendapatkan putaran yang sesuai.
2. Setiap pekerja harus memeriksa semua ikatan, mesin, benda kerja dan alat
pemotong, dengan kuat dan benar sesuai dengan keadaan yang
dipersyaratkan.
3. Setiap pekerja dengan api pemotong gelas harus memakai kacamata
pelindung yang sesuai dengan pekerjaannya.
4. Setiap pekerja harus mengetahui urutan membuka kran pengatur (buka kran
pengatur gas terlebih dahulu) dan jangan salah langkah dalam menutup kran
pengatur (tutup kran oksigen terlebih dahulu).
5. Setiap pekerja dilarang menyalakan penyembur api dan apapun juga, jika
dicurigai ada kran atau sambungan maupun pipa/slang gas oksigen yang
bocor.
6. Setiap pekerja dilarang menyalakan penyembur api dengan nosel mengarah
ke tubuh.
7. Setiap pekerja dilarang meninggalkan potongan-potongan gelas disekitar
mesin.
8. Setiap pekerja harus menggunakan sarung tangan tahan panas bila
memasukkan/mengambil benda kerja ke/dari dalam oven.
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ʹͳ
BAB IV
PERALATAN LISTRIK
____________________________________________________________
a. Tujuan
Pedoman ini disusun dengan maksud untuk memberikan petunjuk umum kepada
seluruh karyawan PTNBR BATAN Bandung tentang langkah-langkah umum dalam
keselamatan kerja dengan peralatan listrik.
b. Ruang Lingkup
Ruang lingkup yang dibahas dalam pedoman ini meliputi seluruh peralatan listrik
yang ada di PTNBR BATAN Bandung
c. Bahan Acuan
1. Peraturan Umum Instalasi Listrik.
2. Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional, Himpunan Pedoman
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Penanggulangan Kebakaran dan
Konstruksi Bangunan.
3. Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional, Himpunan Pedoman
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Listrik.
4. Himpunan Peraturan dan Perundang-undangan Keselamatan dan Kesehatan
Kerja.
d. Definisi
1. Petugas adalah orang yang diberi wewenang untuk suatu jenis pekerjaan, dengan
suatu syarat mempunyai kecakapan dan pengalaman teknis serta terampil dalam
bidangnya.
2. Bagian listrik bisa berupa Instansi/Bidang/Bagian/Sub.Bid/Sub.Bag yang diberi
wewenang dan tanggung jawab terhadap semua instansi listrik dari unit yang
bersangkutan, baik dari segi operasi maupun pemeliharaannya.
3. Peralatan listrik adalah semua komponen/peralatan listrik termasuk pemutus arus,
isolasi, dan kabel.
4. Kawat pentanahan adalah kawat tembaga telanjang (bare) dengan luas
penampang tidak kurang dari 50 mm yang di klem pada peralatan mesin dengan
baik dan dihubungkan ke tanah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
5. Tegangan adalah beda potensial dari kedua kutub/kawat. Untuk keperluan juklak
ini tegangan lebih besar dari 220 volt disebut tinggi dan untuk tegangan lebih kecil
dari 220 volt disebut tegangan rendah.
6. Pekerjaan adalah semua kegiatan baik berupa pengoperasian, perbaikan dan
pengontrolan instalasi listrik.
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ʹʹ
Petunjuk yang wajib dipatuhi dan petunjuk yang disarankan
1. Setiap petugas dilarang melakukan perbaikan sebelum ada ijin dari atasan
ataupun dan diwajibkan melapor bila perbaikan telah selesai dilakukan.
2. Selama peralatan diperbaiki setiap petugas wajib mencegah kemungkinan-
kemungkinan yang bisa membahayakan dan wajib menggunakan label-label
peringatan/pengamanan ataupun menguncinya pada posisi yang aman.
3. Setiap petugas dilarang memperbaiki instalasi-instalasi listrik yang bertegangan
dan bila tidak bisa dihindari perbaikan tersebut dapat dilakukan dibawah
pengawasan atau tanggung jawab dari Kepala BIE.
4. Setiap orang dilarang memasuki/bekerja pada daerah tegangan tinggi kecuali
petugas yang mempunyai otorisasi. Daerah/instalasi tegangan tinggi harus
dikunci, dan kunci disimpan oleh Kepala BIE.
5. Setiap petugas dilarang keras bekerja dengan alat-alat yang bertegangan listrik
terutama di dalam kamar dimana ada bahaya kebakaran atau ledakan, dan di
dalam ruangan dengan udara yang basah atau yang sangat lembab.
6. Setiap petugas dilarang melakukan perbaikan di malam hari kecuali untuk
pekerjaan-pekerjaan yang betul-betul penting demi lancarnya pekerjaan/produksi
dan keselamatan dari instalasi.
7. Setiap petugas dilarang mengubah posisi pemutus arus kecuali atas ijin Kepala
BIE. Dalam keadaan darurat petugas diperbolehkan melakukan tindakan untuk
menyelamatkan jiwa ataupun instalasi.
8. Label peringatan “Jangan dijalankan” harus dipasang pada semua pemutus arus
yang telah diisolasi. Label peringatan ini hanya boleh dipindahkan/dicabut oleh
petugas yang memasangnya. Jangan sekali-kali mengambil risiko, jika timbul
keragu-raguan hubungilah pengawas anda.
9. Semua petugas yang melakukan pekerjaan pada instalasi listrik harus tunduk
kepada instruksi-instruksi dari Kepala BIE.
10. Setiap pekerjaan pada peralatan tegangan tinggi harus dilakukan setelah terlebih
dahulu dilakukan pemutusan arus, pelepasan semua pengamanan/sekering dan
pentanahan peralatan yang diperbaiki. Khusus untuk transformator hal tersebut di
atas dilakukan baik pada sisi primer dan sekunder.
11. Pentanahan pada peralatan tegangan tinggi harus dilakukan instalasi yang baik
dan benar sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
12. Setiap petugas dilarang memperbaiki sekering dari tipe cartridge dengan jalan
menghubungkan sekering itu dengan kawat.
13. Setiap orang dilarang melakukan pekerjaan penggalian atau membuat lubang di
lapangan atai di daerah-daerah sekitarnya sebelum lebih dahulu mendapat ijin.
14. Setiap orang dilarang berjalan melalui atau melintasi peralatan/perlengkapan
instalasi listrik.
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ʹ͵
BAB V
BAHAN KIMIA
____________________________________________________________
a. Tujuan
Pedoman ini disusun dengan maksud untuk memberikan petunjuk secara umum
kepada seluruh karyawan PTNBR BATAN Bandung tentang keselamatan dan
kesehatan kerja dalam menggunakan bahan kimia.
b. Ruang Lingkup
Ruang lingkup meliputi sarana tempat kerja, bahan kimia, peralatan, dan pekerja
yang merupakan unsur utama dalam melaksanakan kegiatan dengan
menggunakan bahan kimia.
c. Bahan Acuan
1. Hand Book of Laborotory Safety, CRC Press Inc. Boca Raton Florida.
2. Safety Hand Book, Australian Automic Energy Commission, July 1983.
3. Soemanto Iman Khasani, Keselamatan Kerja dalam Laboratorium Kimia, PT.
Gramedia, Jakarta, 1990.
d. Definisi
1. Kimia toksik adalah bahan kimia beracun, yang bahayanya terhadap kesehatan
sangat bergantung pada jumlah zat tersebut yang masuk ke dalam tubuh.
2. Bahan kimia korosif/iritan adalah bahan kimia yang mampu merusak berbagai
peralatan dari logam dan apabila bahan kimia ini mengenai kulit akan
menimbulkan kerusakan berupa iritasi dan peradangan kulit.
3. Bahan kimia eksplosif adalah bahan kimia mudah meledak.
4. Bahan kimia oksidator adalah bahan kimia yang dapat menghasikan oksigen
dalam penguraian atau reaksinya dengan senyawa lain, bersifat reaktif dan
eksplosif serta sering menimbulkan kebakaran.
5. Limbah bahan kimia adalah bahan kimia baik padat, cair, dan gas bekas pakai
yang karena sifatnya tidak dapat digunakan lagi.
6. Nilai Ambang Batas (NAB) adalah konsentrasi dari zat, uap atau gas dalam
udara yang dapat dihirup selama 8 jam/hari selama 5 hari/minggu, tanpa
menimbulkan gangguan kesehatan yang berarti.
7. Tempat dan sarana laboratorium adalah tempat yang digunakan untuk
melakukan kegiatan yang menggunakan bahan kimia serta dilengkapi sarana
sebagai kelengkapan laboratorium, misal ruang asam, glove box, fumehood,
meja kerja, exhaust fan, dan sebagainya.
8. Pekerja adalah peneliti, teknisi, laboran yang secara langsung atau tidak
langsung menggunakan bahan kimia.
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ʹͶ
e. Petunjuk
Umum
1. Setiap wadah bahan kimia harus diberi label dan tanda – tanda yang jelas sesuai
dengan sifatnya dan mudah dibaca.
2. Setiap bahan kimia yang terdapat disuatu tempat harus diinventarisasi
berdasarkan sifatnya.
3. Dalam rangka penyimpanan bahan kimia yang akan dilakukan harus
memperhatikan sifat masing-masing bahan yang akan disimpan. Pengelompokan
dalam rangka penyimpanan bahan kimia dapat dilakukan dengan memperhatikan
sifat masing-masing bahan kimia yang akan disimpan.
4. Pekerja yang akan melakukan kegiatan dengan menggunakan bahan kimia harus
menggunakan alat pelindung diri yang sesuai.
5. Setiap pekerja harus melakukan optimasi jumlah bahan kimia yang akan
digunakan dengan memperhatikan nilai ambang batasnya.
6. Sumber api harus dijauhkan apabila digunakan bahan kimia yang mempunyai sifat
mudah terbakar atau mudah meledak.
7. Penggunaan peralatan bantu yang terbuat dari logam harus dihindari apabila
bahan kimia yang digunakan bersifat korosif.
8. Bahan kimia yang mempunyai sifat dapat melakukan reaksi secara cepat harus
dijauhkan dari bahan kimia mudah meledak yang akan digunakan.
9. Pembuangan limbah kimia dapat dilakukan setelah melalui proses olahan sesuai
dengan sifat bahan kimianya.
10. Tumpahan/tetesan bahan kimia yang mempunyai sifat iritan harus dihindari.
11. Orang yang tidak berkepentingan dilarang mendekati daerah kerja.
Ruang Kerja
1. Selama melakukan kegiatan menggunakan bahan kimia, sistem ventilasi ruang
kerja harus baik dengan pergantian udara minimal 8 kali per jam.
2. Fumehood, glove box, atau ruang asam harus digunakan dalam kegiatan yang
menggunakan bahan kimia yang mempunyai sifat yang sesuai, kecepatan aliran
udara minimal 0,5 m/detik.
3. Temperatur dan kelembaban di dalam laboratorium harus dijaga kestabilannya
sesuai dengan jenis peralatan dan pekerjaan yang dilakukan.
4. Ruang kerja harus dilengkapi dengan tempat limbah khusus.
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ʹͷ
TABEL 1 : NILAI AMBANG BATAS (NAB) BAHAN-BAHAN KIMIA
NO. NAMA BAHAN NAB (ppm) NAB (mg/m³)
1. Air raksa - 0,05
2. Amoniak 25 18
3. Anilin 2 10
4. Asam bromida 3C 10C
5. Asam klorida 5 7
6. Asam flourida 3C 2,5C
7. Asam formiat 5 9
8. Asam nitrat 2 5
9. Asam sianida 10C 10C
10. Asam sulfat - 1
11. Asam sulfida 10 14
12. Asbes - 5 serat/cm
Panjang 5 um
13. Aseton 750 1.780
14. Benzena 10 30
15. Benzil klorida 1 5
16. Brom 0,1 0,7
17. DDT - 1
18. Dioksan 25 180
19. Etil asetat 400 1.400
20. Etil eter 400 1.200
21. Fenol 5 19
22. Fluor 1 2
23. Formaldehida 1 1,5
24. Heksana 100 360
25. Iodin 0,1C 1C
26. Kadmium(uap, debu) - 0,05
27. Karbon dioksida 5.000 9.000
28. Karbon disulfida 10 30
29. Karbon monoksida 50 55
30. Karbon tetraklorida 5 30
31. Klor 1 3
32. Kloroform 10 50
33. Metanol 200 260
34. Nitrobenzena 1 5
35. Nitrogen dioksida 3 6
36. Ozon 0,1 0,2
37. Sulfur dioksida 2 5
38. Timbal (uap, debu) - 0,15
39. Timbal tetraetil - 0,1
40. Vinil klorida 5 10
Keterangan :
ppm : bagian dari satu juta (volume)
C : batas konsentrasi tertinggi dalam udara tempat kerja.
Daftar di atas diambil dari : Threshold Limit Volues and Biological Exppsure Indices for 1986-
1987 American Conference of Govermental Industrial Hygienists.
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ʹ͸
TABEL 2. DAFTAR BAHAN KOROSIF CAIR
Asam Mineral
Asam nitrat (HNO
3
)
Asam sulfat (H
2
SO
4
)
Asam klorida (HCl)
Asam fluoride (HF)
Asam posfat (H
3
PO
4
)
Asam Organik
Asam format (HCOOH)
Asam asetat (CH
3
COOH)
Asam monokloroasetat (CH
2
ClCOOH)
Pelarut Organik
Petroleum
Hidrokarbon terklorinasi
Karbon disulfide
Terpentin
TABEL 3. DAFTAR BAHAN KOROSIF PADAT
Basa
Natrium hidroksida NaOH
Kalium hidroksida KOH
Natrium silikat Na
2
O.xSiO
2
Amonium karbonat (NH
4
)2CO
3
Kalsium oksida/hidroksida CaO, Ca (OH)
2
Kalsium karbida CaC
2
Kalsium sianida Ca (CN)
2
Asam Ttrikhloroasetat CCl
3
COOH
Lain-lain
Fenol C
6
H
5
OH
Natrium Na
Kalium K
Posfor P
Perak nitrat AgNO
3
TABEL 5. BAHAN KIMIA OKSIDATOR
Oksidator Anorganik
Permanganat
Perklorat
Dikhromat
Hidrogen peroksida
Periodat
Persulfat
Peroksida Organik
Benzil peroksida
Asetil peroksida
Eter oksida
Asam perasetat
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ʹ͹
TABEL 4. BAHAN KIMIA KOROSIF GAS
Amonia NH
3
Asam klorida HCl
Asam fluorida HF
Formaldehida HCHO
Asam asetat CH
3
COOH
Sulfurklorida S
2
Cl
2
Tionil klorida SOCl
2
Sulfuri klorida SO
2
Cl
2
Belerang oksida SO
2
Klor Cl
2
Brom Br
2
Arsen triklorida AsCl
3
Posfor triklorida PCl
3
Posfor penta klorida PCl
5
Ozon O
3
Nitrogen oksida NO
2
Fosgen COCl
2
Akrolein CH
2
CHCHO
Dikloroetilsulfida S(CH
2
CH
2
Cl)
2
Diklorometileter O(CH
2
Cl)
2
Kloropikrin CCl
3
NO
3
Dimetilsulfat (CH
3
)
2
SO
4
TABEL 6. PELARUT ORGANIK MUDAH TERBAKAR
No. PELARUT
Daerah konst. (%)
mudah terbakar
Titik A
(
o
C)
Titik B
(
o
C)
Titik C
(
o
C)
1. Aseton 3 – 13 56 -18 538
2. Benzena 1,4 – 8 80 -11 562
3. Bensin 1,4 – 7,6 38 – 204 -43 280 – 456
4. Etilalkohol 3,3 – 19 79 12 423
5. Etil eter 1,85 – 48 34 -45 180
6. Heksana 1,1 – 7,5 68 -22 261
7. Heptana (n) 1,2 – 6,7 98 -4 223
8. Karbon disulfida 1 – 44 46 -30 100
9. Metanol 6 – 36,5 65 12 464
10. Metil etil keton 2 – 10 80 -7 515
11. Minyak tanah 0,7 – 5 170 – 300 38 – 66 229
12. Oktana 1,0 – 4,6 125 13 220
13. Pentana 1,4 – 8 36 -49 309
14. Petroleum eter 1 – 6 30 – 60 -57 288
15. Toluena 1,4 – 6,7 111 4,4 536
Titik A = titik didih Titik B = titik nyala Titik C = titik bakar
Titik A adalah suhu dimana tekanan uap zat tersebut sama dengan tekanan luar.
Titik B adalah titik nyala (flash point) adalah suhu dimana suatu cairan menghasilkan
uap yang dapat membentuk campuran dengan udara yang dapat dibakar pada
permukaan cairan.
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ʹͺ
Titik C = titik bakar (ignition point) adalah suhu minimum suatu zat yang diperlukan
agar zat tesebut dapat terbakar tanpa bantuan energi dari luar.
BAHAN-BAHAN YANG DIKETAHUI DAN DIDUGA BERSIFAT KARSINOGENIK
TERHADAP MANUSIA.
Bahan-bahan ini dibagi dalam 3 kelompok, yaitu :
KELOMPOK A : Bahan yang bersifat karsinogenik dan telah ditentukan Nilai Ambang
Batas (NAB) :
BAHAN NAB
Acrylonitrile – kulit 2 ppm
Asbestos
Amosite 0.5 fibre > 5 um/cm
3
Chrysotile 2.0 fibre > 5 um/cm
3
Crocidolite 0.2 fibre > 1 um/cm
3
Other forms 1.0 fibre > 5 um/cm
3
Bis (chloromethyl) ether 0.001 ppm
Pengolahan batuan chromite (chromate) 0.05 mg/m
3
, as Cr
Chromium (VI), senyawa larut dalam air 0.05 mg/m
3
, as Cr
Coal tar pitch volatiles 0.2 mg/m
3
as benzene solubles
Pembakaran Nikel Sulphide,asap dan debu 1.0 mg/m
3
, as Ni.
KELOMPOK B : Bahan yang bersifat karsinogen, tanpa Nilai Ambang Batas (NAB)
4 – Aminodiphenil (p-Xenylamine) – kulit
Benzidine – Kulit
Betta – Napthylamine
4 – nitrodiphenil
Tidak diperkenankan adanya paparan atau kontak langsung dengan bahan – bahan
ini, baik melalui pernafasan, kulit, atau mulut. Pekerja harus dilindungi sedemikian rupa
sehingga tidak akan terkena karsinogen tersebut.
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ʹͻ
KELOMPOK C :
BAHAN NAB
Acrylonitrile – kulit 2 ppm
Amitrol -
Antimony trioxide Production -
Arsenic Trioxide Production -
BIS (Chloromethyl) eter 0.001 ppm
Benzene 10 ppm
Benzo (a) pyrene -
Berrium 2.0 ug/m3
1, 3-Butadiene -
Cadnium oxide production -
Carbon tetrachloride – kulit 5 ppm
Chloroform 10 ppm
Chloromethyl methyl eter -
Chromates dari Pb dan Zn, sebagai Cr 0.05 mg/m3
Chrysene -
3, 3-Dichlorobenzidine – kulit -
Dimethylcarbamyl chloride -
1, 1-Dimethil hydrazine – kulit 0.5 ppm
Dimethil sulphate – kulit 0.1 ppm
Ethylene dibromide – kulit -
Ethylene oxide 1 ppm
Formaldehyde 1 ppm
Hexachlorobutadiene 0.002 ppm
Hexamethyl phosphoramide – kulit -
Hydrazine – kulit 0.1 ppm
4, 4-methylene bis (2-chloroaniline) – kulit 0.1 ppm
Methyl hydrazine – kulit 0.2 ppm
Methyl iodine – kulit 2 ppm
2 – Nitropropane 10 ppm
N – Nitrosodimethyllamine -
N – phenyl – beta – naphthylamine -
Phenulhydrazine – kulit 5 ppm
Propane sultone -
Beta – propiolactone 0.5 ppm
Propyleneimine – kulit 1 ppm
O – Tolidine -
O – Toluidine – kulit 2 ppm
Vinyl bromide 5 ppm
Vinyl cyclohexene dioxide 10 ppm
Vinyl chloride 5 ppm
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͵Ͳ
TABEL 7. BEBERAPA SIFAT BAHAN
NO. TANDA ISYARAT CONTOH BAHAN / PRODUK
1. E = Explosive material
Bahan mudah meledak
- Ammonium dikromat
Hindari goncangan, tumbukan,
gesekan, bunga api dan panas.
2. O = Oxidizing substance
Bahan mudah teroksidasi
- Potasium Klorat.
- Hidrogen peroksida.
- As perklorat.
Jauhkan dari bahan bakar.
3. F = Inflamable material
Bahan mudah terbakar
- Solar
- Aceton
- Bensin
- Anh. Asam Asetat
- I. D. O.
- Bayonox activate
- Alkohol
Hindari air, nyala api bebas, panas &
bunga api.
4. T = Poisonous material
Bahan beracun/toksik
- Phostoxin
- Baygon
- Asuntol
Hindari kontak dengan badan; segera
mencari pengobatan bila kesehatan
terasa terganggu.
5. C = Corrosive material
Bahan
korosif/menimbulkan luka
pada kulit
- As. Asetat
- Anh. As. Asetat
- As. Fosfat
- Soda Kausti
- As. Sulfat
- As. Klorida
- Pip. -65
Hindari kontak dengan badan, jangan
menghirup uap, cari pengobatan bila
terasa terganggu.
6. Xn = harmful substance
Bahan berbahaya
Xi = cause irritation
Menimbulkan iritasi
- Xn = - neguvon
- AAs. salisilat
- Xi = - larutan amonia
- As. klorida
Jangan menghirup uap, hindari kontak
dengan kulit, mata dan pakaian.

Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͵ͳ
BAB VI
GAS
____________________________________________________________
a. Tujuan
Pedoman ini disusun dengan maksud untuk memberikan petunjuk secara umum
kepada selurah karyawan PTNBR BATAN Bandung tentang kesehatan dan
keselamatan kerja dalam menggunakan bahan gas.
b. Ruang Lingkup
Ruang lingkup yang akan dibahas adalah bahan gas yang lazim digunakan di
laboratorium/lapangan, serta peralatan, jenis gas yang digunakan, dan pekerja yang
terlibat.
c. Bahan Acuan
1. Safety Hand Book, Australian Atomic Energy Commission, July 1983.
2. Soemanto Imam Khasani, Keselamatan Kerja dalam Laboratorium Kimia, PT.
Gramedia, Jakarta, 1990.
d. Ketentuan
Umum
1. Semua gas harus diinventarisasi dan diberi label dan tanda-tanda yang
menerangkan jenis, masa berlaku dan sebagainya serta mudah dibaca.
2. Tabung gas bertekanan tinggi disimpan dalam keadaan tegak dan terikat.
3. Tabung gas harus disimpan pada tempat yang aman, jauh dari sumber panas atau
api, dari bahan kimia korosif.
4. Pengelompokan gas yang akan disimpan dapat dilakukan dengan memperhatikan
sifat masing – masing gas.
5. Setiap pekerja harus telah mendapatkan pelatihan khusus tentang pemadaman
kebakaran, pelatihan mekanik gas dan sebagainya.
6. Setiap pekerja yang akan menggunakan bahan gas harus menggunakan jas lab
dan peralatan bantu yang sesuai dengan sifat gasnya, misalnya masker, sarung
tangan karet dan sebagainya.
Ruang Kerja
1. Selama melakukan kegiatan menggunakan bahan gas, sistem ventilasi harus dalam
keadaan baik.
2. Temperatur ruangan dan kelembaban harus tetap terjaga kestabilannya.
3. Apabila bahan gas/tabung berada di luar laboratorium, maka pipa yang
menyalurkan gas dibagian luar ruangan harus diberi kran.
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͵ʹ
BAB VII
BEJANA TEKAN
____________________________________________________________
a. Tujuan
Usaha pencengahan kecelakaan baik secara preventif maupun korektif terhadap
bahaya yang timbul akibat bejana tekan berupa bahaya peledakan yang terjadi
karena tekanan tinggi dari dalam bejana, bahaya kebakaran atau keracunan oleh
sifat fluida di dalam bejana dan bahaya akibat kesalahan penanganan bejana
tekan itu sendiri.
b. Ruang Lingkup
Pedoman umum tentang bejana tekan adalah pedoman keselamatan dan
kesehatan kerja yang wajib dipatuhi dan dilaksanakan dalam hal penanganan dan
penggunaan bejana yang berisi fluida bertekanan seperti udara, gas, uap, air dan
cairan berupa tangki tekan, tangki tandon pada kompresor, tabung-tabung baja,
termasuk ketel uap dan meliputi penggunaan material, pemeriksaan dan
perlengkapan perlindungan bejana tekan.
c. Bahan Acuan
Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional :
1. Himpunan Pedoman Keselamatan & Kesehatan Kerja Bidang Mekanik
2. Himpunan Pedoman Keselamatan & Kesehatan Kerja Bidang Listrik dan Uap
3. Standar Nasional Indonesia No. : SNI-1715-1989-E tentang Pewarnaan Botol
Baja / Tabung Gas Bertekanan.
d. Definisi
1. Bejana tekan adalah bejana yang di dalamnya berisi fluida bertekanan lebih
tinggi daripada tekanan udara luar.
2. Tabung baja adalah bejana tekan selain pesawat uap yang dipakai untuk
menampung gas atau gas campuran termasuk udara baik dikempa menjadi cair
dalam keadaan larut atau beku.
3. Pelat nama adalah pelat yang dipasang pada suatu alat/pesawat/bejana yang
memuat data-data atau identitas alat itu.
4. Alat kendali temperatur adalah suatu alat yang dipakai untuk mengetahui dan
mengendalikan temperatur dari suatu bejana bertekanan supaya tidak melebihi
suhu rancangan.
5. Kompresor adalah suatu alat untuk memampatkan gas atau udara.
e. Petunjuk
Tanda-tanda pengenal
1. Pada setiap bejana tekan harus tertera tanda-tanda pengenal berupa pelat nama
atau tercetak langsung pada bejana itu yang harus diperhatikan dalam
penanganan dan penggunaan bejana tekan tersebut.
2. Tanda pengenal harus tercetak tidak mudah terhapus, mudah dan tampak jelas
terlihat dan dibaca dan diusahakan tidak tertutup. Bila bejana harus dibalut isolasi,
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͵͵
maka di atas tanda pengenal diberi petunjuk untuk dapat dibuka dan dibaca.
3. Tanda-tanda pengenal yang harus ada memuat :
a. Tanda atau nama pabrik pembuat
b. Nomor Tag/Seri pembuatan
c. Tahun pembuatan
d. Nama jenis fluida isi (bukan simbol kimia)
e. Volume air yang dapat diisikan
f. Berat kosong
g. Berat isi penuh
h. Kisaran suhu penyimpanan
i. Tekanan kerja maksimum
j. Tekanan uji hidrostatika
k. Waktu pengujian (terakhir)
4. Khusus bejana tekan jenis botol baja harus diberi kode warna dan tulisan sesuai
standar yang dengan itu dapat dikenali isinya untuk perhatian dalam penanganan.
a. Botol baja untuk kelompok gas yang dapat menyebabkan tercekik/kekurangan
zat asam (Asphyxian Gases) misalnya : nitrogen, karbondioksida, gas mulia
(argon, helium, kripton, xenon dan neon), gas fluoro carbon (refrigerant) harus
dicat warna abu-abu.
b. Botol baja untuk kelompok gas mudah terbakar dan atau meledak (Inflammable
and or Explosive Gases) misalnya : hydrogen, asetilen, gas-gas hydrocarbon
(carbonil sulfida, pentana, methana, propylene, methanol, ethanol, benzena,
alkohol, vinil chlorida, butane dan propane) harus dicat warna biru (light blue)
dengan tanda warna merah pada bagian sekeliling tingkapnya.
c. Botol baja untuk kelompok gas beracun (Poisonous Gases) misalnya : arsine,
cyanogen, hydrogen cyanida, phosgene, berbagai macam pestisida, asam
chlorida, dichlorobenzena, nitrogen dioksida, atau tetraoksida, penta chlorida,
fenol, naptalena. Amonium chlorida, carbon monoksida, glioksida dan bromethil
harus dicat warna kuning tua.
d. Botol baja untuk kelompok gas menyengat (Corrosive Gases) misalnya:
anhydrous amoniak, amoniak, boron trikhlorida, khlor, sulfur dioksida, hidrogen
khlorida, methil khlorida, dan methil bromida harus dicat warna kunig muda.
e. Botol baja untuk kelompok gas pengoksida (Oxidijing Gases) misalnya: oksigen
termasuk udara tekan harus dicat warna biru muda.
f. Botol baja untuk gas campuran (Mixed Gases) harus dicat warna gabungan
masing-masing kelompok gas yang dicampurkan.
g. Botol baja untuk kelompok gas bagi keperluan kesehatan (Medical Gases)
harus dicat warna putih.
h. Pada bagian badan botol saja sepanjang badan harus diberi tulisan nama gas
yang diisikan dibuat dengan sablon warna hitam.
i. Pada leher botol dapat ditempelkan label dan tanda-tanda khusus mengenai :
sifat gas, bahaya dan petunjuk penanganannya.
j. Standar warna botol baja ini tidak berlaku untuk tabung alat pemadam api
ringan.
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͵Ͷ
Jaminan kualitas bejana tekan
1. Bejana tekan yang dipergunakan harus terjamin kualitasnya yang dinyatakan
dengan kelengkapan sertifikat hasil pemeriksaan atau pengujian yang telah
dilakukan.
2. Sebelum bejana tekan dipergunakan harus diperiksa secara visual terhadap
kerusakan, karat atau cacat pada permukaan. Bejana tekan yang kedapatan rusak
sedemikian rupa sehingga diduga tidak memenuhi syarat keselamatan harus diuji
lagi kekuatannya dan atau dilarang dipergunakan.
3. Pengujian ulang dengan tekanan hidrostatika harus dilakukan secara berkala
sesuai ketentuan ijin yang berlaku.
4. Pengujian ulang juga harus dilakukan pada bejana tekan yang mengalami
perubahan konstruksi, pekerjaan tambah atau dilakukan reparasi atas bejana
tekan itu.
Alat pengaman dan perlengkapan lain
1. Tiap bejana tekan harus dilengkapi dengan alat pengaman dan perlengkapan lain
agar bejana tekan dapat menjamin untuk digunakan dengan aman.
2. Yang termasuk alat pengaman adalah :
a. Alat penurun tekanan.
b. Alat pengurang vakum.
c. Alat kendali temperatur.
3. Yang termasuk perlengkapan lain adalah :
a. Indikator tekanan.
b. Indikator tinggi permukaan cairan.
c. Saluran pembuangan (drainage)
d. Lubang angin (venting)
4. Alat penurun tekanan harus mampu mencegah kenaikan tekanan lebih tidak
melebihi 110% dari disain kisaran tekanan yang disebabkan ekspansi isi bejana
oleh kenaikan suhu, reaksi kimia atau daya tekan dari pompa/kompresor.
5. Alat penurun tekanan yang dipasang, untuk fluida mampat berupa katup
pengaman (safety valve) dan untuk fluida tak mampat berupa katup penurun
tekanan (relief valve) yang dapat bekerja otomatis atas tekanan lebih atau
mempergunakan pelat dapat pecah (rupture disc). Alat penurun tekanan dapat
dipasang tunggal atau rangkap untuk jaminan terhadap keselamatan.
6. Ukuran alat penurun tekanan dan saluran buangannya harus mampu membuang
sejumlah maksimum yang dapat dihasilkan pada bejana tersebut tanpa menaikkan
tekanan lebih besar dari pada 110% disain kisaran tekanan.
7. Diantara bejana dan alat penurun tekanan dilarang ada katup penutup, kecuali
memenuhi persyaratan untuk pemeriksaan berkala atau pemeliharaan dari alat
penurun tekanan tersebut dan dapat disegel dalam posisi tertutup atau terbuka
yang dilakukan berdasarkan prosedur penyegelan oleh pihak yang berwenang.
8. Buangan dari alat penurun tekanan harus dilakukan sedemikian rupa sehingga
mencegah bahaya bagi orang atau kerusakan pada peralatan lain. Kecuali
ditentukan lain, untuk bejana berisi zat beracun atau mudah terbakar dapat
dibuang ke atmosfer dengan ketentuan buangan ada di luar dan jauh dari
bangunan.
9. Pada setiap bejana tekan harus sekurang-kurangnya dipasang 1 (satu) indikator
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͵ͷ
tekanan yang berfungsi baik dan dikalibrasi.
10. Indikator tekanan harus tampak dari posisi operator mengontrol tekanan bejana,
jelas terbaca dengan ketelitian mempunyai skala pengukura 1,5 sampai 2 kali
tekanan kerja yang diijinkan.
11. Pada bejana tekan harus ada saluran pembuangan cairan yang terletak pada
bagian terbawah bejana, terutama pada tiap bejana yang berisi atau mungkin akan
membawa karat bagi bejana atau yang merugikan atau yang mudah terbakar.
Bilamana menggunakan katup untuk pembuangan material yang merugikan atau
mudah terbakar, maka harus disambung pipa pembuangan yang mengalir ke
lokasi aman, mencegah bahaya bagi orang atau kerusakan peralatan.
12. Pada bejana tekan harus ada lubang angin yang terletak pada bagian tertinggi
bejana untuk mengalirkan udara sewaktu uji tekan hidrostatika.
13. Lokasi pemasangan katup, alat penurun tekanan, alat pengamanan dan
perlengkaan lain harus pada tempat yang mudah dicapai bila diperlukan untuk
operasi, pemeriksaan maupun pemeliharaan.
Peletakan, pengangkutan dan perlakuan terhadap bejana tekan
1. Bejana tekan yang dipasang tetap dalam dudukan dengan penunjang yang kuat
dalam posisi horisontal rata air atau vertikal.
2. Lokasi bejana tekan berada harus terlindungi dan dihindari dari zat yang korosif.
3. Pengangkutan atau pemindahan bejana tekan harus menggunakan alat
pengangkut atau pengangkat yang tepat dan dicegah dari kemungkinan jatuh atau
terantuk dengan benda lain yang keras dan tajam.
4. Terhadap bejana tekan harus selalu dilakukan pemeliharaan, pemeriksaan alat
pengaman dan kelengkapannya serta dijaga kebersihannya.
5. Botol-botol baja bila tidak dipergunakan harus dipasangkan kap pelindungnya
dengan tepat untuk melindung katupnya.
6. Botol baja isi bertekanan dilarang berada dekat dengan sumber panas atau
terkena sinar matahari langsung.
7. Bahan pelumas dan paking yang mengandung minyak atau lemak dilarang
dipergunakan atau untuk melumasi katup pada botol baja yang berisi oksigen atau
gas lain yang mengandung oksida.
8. Botol-botol baja yang digunakan atau disimpan harus diletakkan berdiri dan diberi
pengikat dari kemungkinan roboh dengan memperhatikan jenis isi masing-masing
botol. Botol baja berisi oksigen harus dijauhkan dari botol gas lainnya yang mudah
terbakar, minimum 6 m.
9. Instansi pemakai wajib menyimpan daftar semua botol baja yang menjadi
tanggung jawabnya, lengkap dengan data tanda pengenal, isi dan masa berlaku
isinya.
10. Dari sisi tekan pada kompresor yang berhubungan dengan tangki tandon tidak
boleh ada katup, bila ternyata ada maka harus dipastikan dan diamankan dalam
keadaan terbuka pada saat operasi.
11. Tangki tandon pada kompresor harus secara berkala dikeringkan dari air embunan
di dalamnya dengan membuka katup pada saluran pembuangannya atau
dipasangkan katup pembuangan otomatis (automatic drain).
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͵͸
f. Pengawasan
1. Terhadap bejana tekan harus selalu dilakukan pengawasan untuk menghindari
risiko bahaya yang dapat timbul dan melaksanakan pemeliharaan bejana serta
alat-alat pengaman dan perlengkapan lainnya dengan sebaik-baiknya.
2. Sambungan-sambungan katup, pipa dan perlengkapan pada bejana tekan
harus selalu diperiksa kekedapannya. Kebocoran yang terjadi pada botol baja
sebagai penampung gas akan memberikan kerugian dan pada botol baja yang
berisi kelompok gas yang menyebabkan tercekik, kelompok gas mudah
terbakar dan meledak, kelompok gas beracun dan kelompok gas menyengat
dapat menimbulkan bahaya.
3. Fungsi dari alat-alat pengaman dan perlengkapan bejana tekan harus selalu
diuji ulang untuk menjamin keandalannya.
4. Bejana tekan yang berada di lingkungan zat korosif harus selalu diperiksa
kemungkinan kerusakan karena karat. Untuk botol baja yang berisi kelompok
gas korosif dapat diperiksa dengan diketuk-ketuk, bila bunyinya tidak nyaring
berarti dinding dalam telah dimakan karat yang akan mengurangi kekuatannya.
5. Pengecekan ulang botol baja harus dilakukan apabila warna sudah berubah,
luntur, warna hilang atau tertutup sehingga tidak lagi menunjukkan identitas
warna yang sesungguhnya, atau setelah dilakukan uji tekan hidrostatika ulang,
atau bila dilakukan penggantian isi dengan gas lain atas ijin Departemen
Tenaga Kerja.
g. Pendidikan dan Pelatihan
1. Pengoperasian bejana tekan termasuk peralatan pembangkit tekanan terkait
seperti pompa, kompresor dan pesawat uap harus dilakukan oleh teknisi atau
operator yang mempunyai wewenang mengoperasikan dan telah menjalani
pendidikan dan pelatihan untuk alat-alat itu. Kesalahan operasi seperti
kesalahan buka tutup katup dapat menimbulkan kerusakan dan bahaya fatal.
2. Kepada operator yang melayani penggunaan botol-botol baja berisi gas
berbahaya harus diberikan pendidikan dan pelatihan penanganan terhadap
bahan-bahan berbahaya.
h. Pelaporan
1. Dalam pengoperasian mesin pembangkit tekanan untuk bejana tekan harus
selalu diikuti dengan pencatatan rekaman data dalam buku/lembar log seperti
data tekanan dan temperatur yang dicatat setiap waktu secara berkala.
2. Pengelolaan bejana tekan harus menyimpan sertifikat uji bejana tekan dan
surat ijin pemakaian yang masih berlaku yang dikeluarkan oleh instansi
berwenang, dan mengajukan permohonan perpanjangan ijin sebelum
kadaluarsa.
3. Pengelola harus mencatat jumlah botol-botol baja beserta tanda-tanda
pengenalnya, melakukan pemeriksaan dan mencatat data-data isi gas, tekanan
dan kondisi secara berkala baik digunakan ataupun tidak digunakan.
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͵͹
BAB VIII
MEDIK
____________________________________________________________
A. PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN
a. Tujuan
Pedoman ini dibuat sebagai petunjuk bagi awam untuk penyelamatan apabila
terjadi kecelakaan ditempat kerja dengan tujuan agar korban menjadi atau merasa
aman dan tenang serta mencegah kondisi yang lebih buruk sambil menunggu
pertolongan dokter. Oleh karena itu pedoman ini sengaja dibuat rinci.
b. Ruang lingkup
Ruang lingkup pedoman ini meliputi petunjuk umum : pertolongan pertama pada :
pingsan, terbakar, pendarahan, patah tulang, shock akibat aliran listrik, gigitan ular
berbisa; pernafasan buatan dan pijat jantung.
c. Bahan Acuan
1. Kartono M. Pertolongan Pertama, Gramedia, Jakarta, 1980.
2. Safety Handbook, Australia Atomic Energy Commision, 1983
3. Panduan Bahan Berbahaya, Edisi I, Departemen Kesehatan Republik Indonesia
(1985).
4. Diagnosis dan Penilaian Cacat karena Kecelakaan dan Penyakit Akibat Kerja,
Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional, Jakarta, 1989.
d. Definisi
1. Kecelakaan adalah suatu kejadian yang tidak direncanakan yang dapat
menyebabkan luka atau kerugian pada manusia dan benda yang disebabkan
oleh suatu kejadian atau kondisi yang tidak terduga.
2. Kecelakaan kerja adalah kecelakaan yang dialami oleh seorang karyawan
semenjak ia meninggalkan rumah kediaman sampai menuju ke tempat
pekerjaannya, selama jam kerja, maupun sekembalinya dari tempat kerja
menuju rumah kediamannya melalui jalan yang biasa ditempuh, sedemikian
rupa sehingga karyawan tersebut dalam waktu 2 x 24 jam setelah kejadian
kecelakaan itu tidak dapat melakukan pekerjaan.
3. Perlemahan (impairment) adalah setiap gangguan atau ketidaknormalan
psikologik dan atau fisiologik dan atau struktur anatomi dan atau fungsi.
4. Ketidakmampuan (disability) adalah setiap keterbatasan atau berkurangnya
kemampuan (sebagai akibat dari perlemahan) untuk melakukan aktivitas
dengan cara atau dalam batas–batas yang dianggap normal untuk manusia.
5. Cacat (handicap) adalah kerugian yang diderita oleh seseorang sebagai akibat
dari perlemahan atau ketidakmampuan yang membatasi atau mencegah orang
itu untuk melakukan perannya yang normal untuk ukuran orang itu.
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͵ͺ
e. Petunjuk
Umum
1. Apabila terjadi kecelakaan di suatu unit atau daerah kerja, maka karyawan yang
mula-mula mengetahui kejadian tersebut harus memberikan pertolongan pertama.
2. Karyawan yang telah memberikan pertolongan pertama ataupun karyawan lain
yang mengetahui kejadian tersebut, harus segera menghubungi poliklinik PTNBR
atau poliklinik yang terdekat dan kepala bidang K2 guna mendapatkan bantuan
segera. Pemberitahuan perihal terjadinya kecelakaan harus singkat dan jelas
dengan menyebutkan lokasi kejadian, identitas pelapor serta peristiwa kejadian.
3. Apabila karena keadaan, poliklinik tidak dapat menangani atau merawat korban,
maka dokter yang bertugas akan mengirim korban ke unit gawat darurat RSU
terdekat guna mendapatkan pertolongan lebih lanjut.
4. Atasan langsung tempat korban bekerja harus melaporkan kejadian tersebut
secara tertulis kepada Kepala Bidang K2 menggunakan formulir laporan
kecelakaan dalam waktu tidak lebih dari 24 jam.
5. Dokter poliklinik yang bertugas harus pula membuat laporan kecelakaan dengan
menyebutkan keadaan korban dan mengirimkan laporan tersebut kepada Kepala
bidang K2.
6. Kepala Bidang K2 harus melaporkan kejadian tersebut kepada Kepala PTNBR.
7. Atas dasar laporan tersebut, Kepala PTNBR akan mengirimkan laporan resmi
kepada Deputi terkait tentang kecelakaan tersebut.
8. Kepala PTNBR akan meneliti sebab-sebab kecelakaan dan menentukan lebih
lanjut langkah-langkah pencegahan agar kecelakaan serupa tidak terulang lagi.
9. Setelah penderita sembuh atau tidak dirawat di rumah sakit, maka ia wajib
melaporkan diri ke dokter poliklinik PTNBR dengan menyerahkan surat keterangan
dari rumah sakit dan/atau dokter yang merawatnya kepada Kepala Bidang K2.
10. Dokter poliklinik PTNBR akan mengirimkan laporan sembuh dengan menjelaskan
tentang prosentase cacat atau keadaan lainnya dari korban kepada Kepala Bidang
K2.
11. Bila kecelakaan kerja menimpa seorang karyawan diluar kawasan atau lingkungan
kerja, maka setiap karyawan ataupun pihak keluarga yang mengetahui kejadian
tersebut harus memberitahukan ke Kepala PTNBR melalui atasan
langsung/Kepala UPN/Kepala Bidang K2.
Pertolongan Pertama
Pingsan
Apabila ada seseorang yang pingsan pada waktu menjalankan tugas karena suatu
kecelakaan, maka korban harus segera mendapatkan pertolongan pertama dari
karyawan lainnya. Langkah-langkah yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Korban dibawa ke tempat yang teduh dan aman dimana cukup tersedia udara
bersih.
2. Ikat pinggang dilonggarkan, kaos kaki dilepas, serta baju dan sepatunya
dibuka.
3. Pernafasannya diperhatikan dengan melihat naik turunnya dada dan dinding
perut dan mendengarkan dari dekat mulut korban.
4. Apabila korban tidak bernafas, pernafasan buatan harus segera dilakukan.
5. Ujung-ujung jari kaki dan tangan, punggung dan perut dipanasi dengan botol
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͵ͻ
berisi air hangat.
6. Kepada korban diberikan bau-bauan yang merangsang.
Pendarahan
Apabila seseorang mengalami kecelakaan yang mengakibatkan pendarahan, langkah-
langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Korban diterlentangkan atau dibaringkan dengan menegakkan atau meninggikan
bagian yang luka (kecuali bila ada patah tulang).
2. Tempat perdarahan ditekan dengan tangan secara hati-hati. Sebaiknya digunakan
perban steril untuk menutup tempat perdarahan sebelum ditekan. Selanjutnya
tempat perdarahan dibalut dengan kuat untuk mencegah perdarahan lebih lanjut.
3. Apabila perdarahan masih terus berlangsung, perban steril dan pembalut lain
harap ditambahkan tetapi JANGAN MELEPAS YANG PERTAMA.
4. Apabila terdapat benda asing di tempat luka, seperti : gelas, logam, kayu, dan
sebagainya, maka jangan mencabut benda tersebut. Dalam kasus ini, tekan
bagian tepi dari luka dengan menempatkan perban steril di sekeliling luka dan
balut.
5. Jika perlu bawa korban ke poliklinik terdekat untuk mendapatkan tindakan yang
medis yang lebih lengkap.
Terbakar
1. Apabila seseorang terbakar api badannya dan kemudian pingsan, maka
pertolongan pertama-tama diatasi pingsannya terlebih dahulu. Setelah sadar,
bagian yang terbakar diolesi dengan vaselin atau levertran zalf, kemudian
diselimuti. Jangan sekali-kali memecahkan kulit yang melepuh atau bengkak berisi
air.
2. Apabila seseorang terbakar bajunya, maka orang tersebut harus berguling-guling
dipasir atau dibungkus selimut untuk mematikan apinya. Setelah itu ditolong
seperti prosedur di atas. Jangan merobek atau menarik baju yang terbakar.
3. Apabila seseorang terpercik atau tersiram bahan kimia korosif pada bagian mata,
kulit, atau badan, segera disiram dengan air yang mengalir sebanyak-banyaknya
selama minimal 15 menit.
Patah tulang
Apabila terjadi kecelakaan yang mengakibatkan patah tulang, maka pada tempat yang
patah dipasang dua papan (spalk) dan kemudian diperban :
1. Tulang paha : Spalk dipasang di kanan dan kiri dari paha yang patah dan
kemudian dibalut.
2. Tulang kering betis : Spalk dipasang di kanan dan kiri dari bagian betis yang
patah dan dibalut.
3. Tulang lengan atas atau lengan bawah : Spalk dipasang di kanan dan kiri
dari tangan yang patah dan kemudian dibalut. Setelah itu digendong dengan kain
yang diikatkan pada leher.
4. Tulang telapak tangan : Spalk dipasang disebelah punggung tangan dan
kemudian dibalut. Setelah itu digendong dengan kain yang diikatkan pada leher.
5. Tulang belakang: Penderita diterlentangkan menengadah pada tempat yang keras
dan rata (papan). Diletakkan bantalan di bagian punggung dan dibalut.
6. Tulang leher : Penderita diterlentangkan menengadah. Diletakkan bantalan di
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͶͲ
kanan kiri batang leher yang patah dan kemudian dibalut.
7. Pada patah tulang terbuka atau tulang kelihatan, maka mula-mula tempat tulang
yang keluar ditutup dengan perban steril kemudian dibalut. Setelah itu dipasang
spalk seperti prosedur di atas.
CATATAN : Jangan coba memeriksa dengan menggerakkan bagian
tubuh yang diduga patah !
Shock akibat aliran listrik
1. Korban dibebaskan dari aliran listrik dengan jalan memutuskan saklar yang
langsung mengalirkan aliran listrik tersebut. Apabila aliran listrik tersebut tidak dapat
diputuskan, korban diusahakan ditarik dengan tangan yang memakai sarung tangan
karet anti listrik, tongkat anti listrik atau tali. Perlu diingatkan bahwa semua alat
pertolongan tersebut harus kering dan jangan sentuh korban dengan tangan
telanjang atau logam.
2. Pernafasan korban diperiksa dengan memperhatikan cara naik turunnya dada dan
dinding perut dan mendengarkan dari dekat mulut korban. Bila tidak bernafas,
segera ditolong dengan pernafasan buatan.
3. Bila denyut jantung berhenti, diberikan pijat jantung (cardiac massage)
Pernafasan buatan
Apabila terjadi kecelakaan dan korban tidak bernafas, maka segera dilakukan
pernafasan buatan. Prosedur pertolongan pertama gawat darurat yang memadukan
teknik nafas buatan dan teknik sirkulasi buatan dianggap tindakan penyadaran jantung-
paru yang paling baik, untuk nafas buatan adalah pernafasan mulut ke mukut atau
nafas buatan mulut, dan teknik penyadaran yang baik untuk sirkulasi buatan yang baik
adalah pijat jantung eksternal. Dalam hal ini selalu dimulai nafas buatan mulut terlebih
dahulu. Kemudian ditentukan perlu tidaknya pijat jantung eksternal.
Prosedur teknik nafas buatan mulut
1. Korban dibaringkan terlentang
2. Penolong berlutut di samping korban
3. Mulut dan saluran nafas dibersihkan dari benda asing seperti permen karet, gigi
palsu dan kotoran lainnya.
4. Salah satu penolong diletakkan di bawah leher dengan posisi menyangga
5. Tangan lainnya diletakkan pada jidat korban sedemikian rupa sehingga jempol dan
telunjuk dapat menutup hidung
6. Tangan dibawah leher diangkat dengan hati-hati sedangkan tangan pada dahi
korban ditekan ke bawah. Kejadian ini akan merentangkan leher korban dan
membuka saluran nafas
7. Nafas ditarik dalam-dalam (lebih kurang 2 kali nafas normal) mulut dibuka lebar-
lebar, mulut penolong diletakkan di atas mulut korban dan udara dihembuskan
8. Penolong menahan hingga dada korban menggembung. Segera setelah itu mulut
penolong diangkat dari mulut korban dan hembusan dari korban dibiarkan berakhir
dengan sendirinya.
9. Diulangi sampai 12 – 14 kali tiap menit untuk orang dewasa, 18 – 20 kali untuk
bayi dan anak – anak.
10. Jika dada korban tidak menggembung, diperiksa apakah terdapat salah satu atau
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ Ͷͳ
lebih keadaan berikut ini dan harus diperbaiki. Kebocoran udara; dalam hal ini
kemungkinan letak mulut penolong tidak rapat pada mulut atau hidung korban,
sehingga udara bocor ke samping. Sumbatan saluran nafas korban; dalam hal ini
jari dimasukkan ke dalam mulut korban dan benda asing, muntahan, dan bekuan
darah dikeluarkan. Jika dada masih tidak mampu menggembung, tangan diangkat
dari leher, jempol dimasukkan ke dalam mulut dan rahang bawah dicengkeram
diantara jempol dan jari dan rahang diangkat ke atas, ditahan pada kedudukan ini
sambil diteruskan melakukan pernafasan buatan.
11. Pada anak-anak dan bayi jumlah udara yang diperlukan lebih sedikit. Pada bayi
jumlah udara yang tertahan dalam dada penolong dapat mencukupi. Tetapi,
hendaknya mulut penolong segera diangkat setelah dada korban mengembung,
agar tidak terjadi kerusakan..
12. Pernafasan mulut-hidung dapat dilakukan dengan teknik sama kecuali tentunya,
mulut korban ditutup, sedangkan mulut penolong diletakkan rapat di atas hidung
korban
13. Jika penolong ragu-ragu meletakkan mulutnya di atas mulut korban, pernafasan
mulut ke mulut dengan memuaskan dapat dilakukan melalui sapu tangan.
Pijat jantung eksternal
Setelah pernafasan mulut ke mulut dilakukan dengan 5 – 6 nafas cepat, periksa untuk
mengetahui apakah pijat jantung eksternal harus dimulai, dalam hal ini hanya
diperlukan jika jantung berhenti. Umumnya penyegaran pernafasan mulut ke mulut
akan cukup menyebabkan pergerakan kembali jantung. Denyut nadi diperiksa, dalam
hal ini yang paling baik adalah denyut nadi karotid pada leher, yakni, arteri besar yang
terletak dekat permukaan sisi samping jakun kiri kanan
Pupil mata diperiksa, dalam hal ini jika pupil mata terbuka lebar dan tidak berkerut jika
terkena cahaya, maka aliran darah ke otak tidak mencukupi.
Jika tidak terdapat denyut nadi atau pupil mata terbuka lebar dan tidak berkerut, pijat
jantung eksternal dimulai.
Dilakukan penekanan pada atas tulang dada.
Telapak salah satu tangan diletakkan pada tulang dada sepertiga lebih rendah (tanda
“X” pada gambar 11) dan tangan lainnya di atas nadi.
Tulang dada ditekan ke arah tulang belakang dengan menekan tangan ke bawah
menggunakan bobot bagian tubuh sebelah atas.
Tekanan ini kemudian dilepas cepat-cepat. Siklus ini diulangi 60-80 kali tiap menit
untuk orang dewasa, 80-100 kali tiap menit untuk anak-anak.
Tulang dada harus bergerak 3,75 cm – 5 cm pada orang dewasa. Dada anak-anak
tidak sekuat itu dan pijat jantung eksterna pada bayi dapat dikerjakan dengan dua jari
sedangkan pada anak-anak lebih tua hingga hingga usia 10 biasanya satu tanganpun
sudah mencukupi.
Jari harus tetap jauh dari rusuk untuk menghindarkan patah.
Sering kali denyut jantung dieriksa untuk mengetahui apakah jantung sudah mulai
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ Ͷʹ
bergerak kembali.
Gigitan ular berbisa
Dari lebih dari 2000 spesies ular di dunia, hanya sekitar 250 spesies yang berbisa.
Bisa ular mengandung enzim, protein non-ensimatik dan zat-zat lain seperti asetilkolin
dan shidroksi-triptamin. Beratnya efek toksik dari gigitan ular tergantung kepada jenis
dan jumlah bisa yang digigitkan. Gejala-gejala akibat gigitan ular berbisa :
1. Efek lokal : Ular berbisa meninggalkan dua atau kadang-kadang satu tanda gigitan
ular taring yang khas, sedangkan gigitan ular tak berbisa meninggalkan tanda
gigitan satu gigi yang berbentuk setengah lingkaran. Kulit di tempat gigitan
tersebut berwarna merah, bengkak dan sakit. Setelah beberapa hari, dapat terjadi
kematian jaringan, sehingga kulitnya berubah menjadi kehitam-hitaman disertai
nyeri yang sangat.
2. Sistem Sistematik :
9 Mual dan muntah
9 Pusing dan berkunang-kunang karena tekanan darah turun.
9 Kelemahan otot, sukar bicara dan sukar menelan sebagai akibat kelumpuhan
otot-otot badan. Kadang-kadang disertai kelumpuhan otot-otot pernafasan dan
akhirnya pingsan atau meninggal dunia.
Kotak P3K
1. Isi kotak P3K yang minimum harus ada adalah :
Salep luka bakar 10 g 1 tube
Mercurochroom 25 ml 1 botol
Pembalut 25 g (bungkus plastik) 2 bungkus
Plester 0,5 inci 1 rol
Band aid 10 buah
Refagan/Aspirin 10 tablet
Obat anti diare (Entrostop, Diare dsb.) 10 tablet
2. Kotak P3K ditempatkan di setiap tempat yang telah ditentukan.
f. Pendidikan dan latihan
Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan adalah tindakan yang semestinya dapat
dikerjakan oleh setiap orang. Oleh karena itu setiap karyawan wajib membekali diri
dengan pengetahuan dan keterampilan untuk keperluan itu. Agar tujuan tersebut dapat
tercapai maka perlu diadakan kursus singkat dan pelatihan Pertolongan Pertama Pada
Kecelakaan (P3K). Kursus singkat dan pelatihan ini sebaiknya dilakukan setiap
setahun sekali baik bagi karyawan baru maupun karyawan lama (sebagai kursus
penyegaran agar keterampilan tersebut tidak hilang) dan diorganisasikan oleh kepala
satuan kerja yang ditunjuk dengan bantuan para dokter.
B. ANTIDOTUM
a. Tujuan
Dalam menangani keracunan, disamping dilakukan berbagai tindakan, diberikan
terapi antidotum. Maksud pemberian antidotum ini adalah mengakhiri sentuhan
racun atau menetralkan efek racun.
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ Ͷ͵
b. Ruang Lingkup
Pedoman ini dibuat untuk awam, sedangkan yang pemberiannya lewat injeksi
harus dilakukan oleh dokter.
c. Bahan Acuan
1. Panduan Bahan Berbahaya, Edisi I, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia (1985).
2. Manual of Early Medical Treatment of Possible Radiation SS No. 25 IAEA.
d. Definisi
Antidotum adalah suatu zat atau bahan yang berfungsi menetralkan efek racun.
Antidotum Umum terdiri dari bahan/zat perangsang muntah, bahan penyerap racun,
zat pengasam dan pengakalis air kemih. Zat perangsang muntah (emetikum) adalah
zat yang kerjanya merangsang pusat muntah pada batang otak. Efektifitasnya
meningkat bila diberikan bersamaan dengan pemberian air sebanyak 200-300 ml.
Emetikum tidak boleh diberikan pada korban-korban yang tidak sadar (pingsan), shock,
pada kasus-kasus keracunan bahan korosif kuat dan pada korban keracunan destilat
minyak bumi.
Antidotum Spesifik adalah antidotum yang penggunaanya hanya sesuai untuk penawar
racun spesific yang sesuai. Antidotum untuk logam yang paling efektif jika diberikan
segera setelah terjadi keracunan logam berat atau sejenisnya.
e. Petunjuk
Umum
Tabel 8. Daftar Antidotum Umum
Sub kelas Jenis Tujuan Penggunaan Dosis
Emetikum
1. Apomorfin Rangsangan muntah
Suntikan bawah
kulit 0,1 mg/kg BB
disertai minum air
200-300 ml
2. Sirup
ipeka
Rangsangan muntah
terutama untuk anak-
anak
Oral : dewasa 20
ml diikuti 200-300
ml pemberian
dapat diulangi 1x
setelah 20 menit.
Zat
penyerap
Karbon aktif Penyerap racun
Oral : 30-100 gr
dalam 250 ml air,
dapat diulangi jika
dikehendaki
Zat
pengasam
kemih
Amonium
klorida
Untuk menghalangi
serapan kembali basa
organik, termasuk
senyawa uranium,
oleh tubulus ginjal.
Oral : dewasa 1 gr-
2gr, diberikan 4-6 x
sehari. Dosis
disesuaikan
dengan monitor pH
kemih
Zat
pengakalis
Natrium
bikarbonat
Untuk menghalangi
serapan kembali
Oral : dewasa 1-4 x
sehari, 300mg-
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͶͶ
Sub kelas Jenis Tujuan Penggunaan Dosis
asam organik oleh
tubulus ginjal.
1,8gr diberikan
sebelum makan.
Intravena : 2-5
mEq/kg BB. Dosis
disesuaikan
dengan monitor pH
kemih.
Spesifik
Tabel 9. Daftar Antidotum Spesifik
Sub kelas Jenis
Tujuan
Penggunaan
Dosis
Antagonis
logam berat
Kalsium
dinartrium
edetat
Selatisasi logam
berat beracun atau
sejenisnya
terutama.
Suntik : Intravena
dewasa : 1,5 gr/m
permukaan tubuh
dibagi dalam 2
dosis.
Deferoksa-
minamesilat
Selatisasi logam
berat beracun
terutama besi.
Suntikan
intramuskulair 1
gr diikuti dengan
dosis tiap 4 jam
500 mg,
tergantung
respon.
Dimercaprol
Selatisasi logam
berat beracun
terutama Arsen
Emas dan Air
raksa.
Dosis diatur
secara individual
sesuai dengan
respon. Yaitu,
kita-kira 2,5-
5mg/kg BB
diberikan
suntikan
intramuskulair.
C. PEMERIKSAAN KESEHATAN
a. Ruang Lingkup
Pemeriksaan Kesehatan pekerja radiasi bertujuan untuk :
1. Mengetahui kondisi kesehatan pekerja radiasi baik sebelum, selama maupun
sesudah masa kerja.
2. Menentukan apakah seseorang boleh bekerja sebagai pekerja radiasi atau tidak.
3. Menyesuaikan penempatan pekerja dengan kondisi kesehatannya.
4. Untuk mengetahui apakah penyakit yang diderita oleh pekerja akibat kerja atau
bukan.
b. Pemeriksaan kesehatan ini dibedakan menjadi
Pemeriksaan kesehatan sebelum masa kerja, pemeriksaan kesehatan selama masa
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ Ͷͷ
kerja, dan pemeriksaan kesehatan setelah masa kerja.
c. Bahan Acuan
1. Safety Series No. 25, Medical Supervision of Radiation Worker. IAEA, VIENNA,
1968.
2. Safety Series No. 83. Radiation Protection in Occupational Health, IAEA,
VIENNA, 1987.
3. BSS No.115 IAEA, VIENNA, 2003
d. Petunjuk
Jenis pemeriksaan
Anamnesa : Pemeriksaan anamnesa dilaksanakan dengan menggunakan formulir
khusus yang diisi dan ditanda tangani oleh karyawan yang diperiksa kesehatannya dan
dokter pemeriksa. Pemeriksaan Anamnesa meliputi :
1. Latar Belakang Keluarga.
2. Riwayat Kesehatan.
3. Riwayat Pekerjaan.
Pemeriksaan Medik . Pemeriksaan Medik meliputi :
1. Pemeriksaan umum meliputi pencatatan data anthropometrik (tinggi dan berat
badan, tekanan darah/tensi, fungsi organ seperti jantung, paru-paru, hati limpa dan
anggota gerak.
2. Pemeriksaan THT.
Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan telinga, hidung, mulut/tenggorokan dan
audiometri.
3. Pemeriksaan laboratorium :
Pemeriksaan laboratorium ini meliputi pemeriksaan darah lengkap dan urine.
4. Pemeriksaan Mata :
Pemeriksaan mata meliputi visus, kelainan refraksi dan ishihara (buta warna).
5. Pemeriksaan Gigi.
6. Pemeriksaan Sistim kardiovaskular :
Pemeriksaan ini meliputi elektrokardiogram (EKG) pada keadaan istirahat.
Frekuensi Pemeriksaan Kesehatan
Pemeriksaan Kesehatan secara lengkap dilakukan secara berkala sekurang-
kurangnya satu kali dalam setahun.
Penanggung jawab Pemeriksaan Kesehatan :
1. Pelaksana Pemeriksaan Kesehatan berkala dilaksanakan oleh SubBid
Pelayanan kesehatan dan dikoordinasi oleh Bidang K2
2. Hasil pemeriksaan kesehatan karyawan disimpan oleh SubBid Pelayanan
kesehatan - Bidang K2
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ Ͷ͸
BAB IX
TATA TERTIB DI KAWASAN PTNBR
____________________________________________________________
a. Bahan Acuan
1. Petunjuk keamanan dan ketertiban di lingkungan Badan Tenaga Nuklir
Nasional.
2. Pengelolaan keselamatan dan keamanan kegiatan nuklir RSG-LP.
3. Keputusan Direktur Jenderal BATAN tentang Klasifikasi Kerahasiaan dan
Pengamanan Bahan Keterangan.
b. Definisi
1. Kecelakaan adalah suatu kejadian yang mendadak, tidak dikehendaki, tidak
direncanakan, tidak terkendali, yang dapat menyebabkan kerugian material
ataupun penderitaan bagi yang ditimpanya.
2. Alat penyelamat adalah alat yang digunakan untuk menyelamatkan orang,
sarana dan prasarana kerja dari kecelakaan, kerusakan dan kemusnahan.
3. Alat deteksi adalah alat yang digunakan untuk mengetahui macam/jenis bahan,
konsentrasi dan kondisi dari sesuatu yang dapat menimbulkan bahaya atau
kecelakaan.
c. Petunjuk umum
Tata Tertib Lalu Lintas Orang (Karyawan & Tamu)
1. Setiap pengunjung (kontraktor, mahasiswa, dan tamu) yang akan memasuki
kawasan PTNBR harus melaporkan terlebih dahulu ke pos penjagaan dan wajib
mengikuti peraturan yang berlaku selama berada di dalam kawasan PTNBR.
Tata Tertib Lalu Lintas Kendaraan dan Barang
1. Setiap barang yang dibawa seseorang atau diangkut dengan kendaraan harus
dilaporkan dengan singkat dan jelas tentang sifat dan kondisi barang tersebut
kepada petugas PAM yang berjaga untuk antisipasi dalam cara pengangkutan dan
penyimpanannya di dalam kawasan.
2. Penyimpanan, penggunaan, perlakuan dan pengawasan terhadap benda-benda
kimia berbahaya mengikuti ketentuan-ketentuan yang diatur dalam Bahan Kimia.
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ Ͷ͹
BAB X
PAKAIAN KERJA DAN ALAT PELINDUNG
DIRI
____________________________________________________________
a. Tujuan
Pemakaian alat pelindung diri pada waktu bekerja atau memasuki suatu tempat
kerja bertujuan untuk melindungi setiap karyawan dari berbagai bahaya yang
dapat menimpa dirinya dan/atau mengganggu pelaksanaan pekerjaanya.
b. Ruang Lingkup
Pedoman umum tentang peralatan kerja dan alat pelindung diri adalah pedoman
keselamatan dan kesehatan kerja yang wajib dipatuhi dan dilaksanakan dalam hal
penanganan dan penggunaan pakaian dan peralatan pelindung dari bahaya
kecelakaan kerja yang ada di PTNBR BATAN Bandung
c. Bahan Acuan
1. Dr. Sumakmur P.K.,M.Sc. Keselamatan Kerja dan Pencegahan
Kecelakaan
2. Dr. Sumakmur P.K.,M.Sc. Higiene Perusahaan dan Keselamatan Kerja
3. Herry Soetopo Alat-Alat Perlengkapan Keselamatan Kerja
4. Tia Setiawan, Harun Keselamatan Kerja dan Tata Laksana
Bengkel
5. Soemanto Imamkhasani, PhD Buku Pedoman Keselamatan Kerja Bidang
Kimia
d. Petunjuk
1. Setiap karyawan dalam melakukan pekerjaan yang berbahaya atau memasuki
tempat kerja yang berbahaya baik terhadap kesehatan maupun
keselamatannya harus memakai alat-alat pelindung diri yang sesuai dengan
jenis pekerjaannya dan tingkat bahaya yang dihadapinya.
2. Setiap karyawan berkewajiban merawat dan memelihara alat pelindung diri
yang diterimanya agar selalu dalam keadaan baik dan bersih.
3. Setiap kerusakan alat pelindung diri, haruslah segera dilaporkan kepada Bidang
K2 atau atasan langsungnya guna perbaikan atau mendapatkan penggantian
dengan alat-alat pelindung diri yang baru.
4. Setiap karyawan harus mengembalikan dan menempatkan pakaian kerja dan
alat pelindung diri pada tempat yang ditentukan.
e. Jenis-Jenis Alat Pelindung Diri
Untuk melindungi diri dari berbagai macam bahaya, alat pelindung yang jenisnya
seperti yang termuat dalam daftar di bawah ini harus digunakan:
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ Ͷͺ
Tabel 10. Jenis Alat Pelindung Diri
Faktor bahaya
Bagian tubuh yang
perlu dilindungi
Alat-alat proteksi diri
Tertimpa atau
terantuk benda berat
dan keras
Kepala, betis, tungkai
Tungkai logam atau plastik
lapisan pelindung (decker) dari
kain, kulit, logam, dsb.
Pergelangan kaki,
kaki, dan jari kaki.
Sepatu steelbox toe.
Tertimpa benda
sedang & tidak berat.
Kepala Helm kerja
Benda-benda
beterbangan.
Kepala Helm kerja
Mata
Goggle (=Kacamata yang
menutupi seluruh samping
mata)
Muka Tameng plastic
Jari, tangan, lengan.
Sarung tangan kulit berlengan
panjang.
Tubuh Jaket atau jas kulit
Betis, tungkai, mata
kaki.
Pelindung dari kulit, berlapis
logam dan tahan api.
Debu
Mata
Goggle, kaca mata sisi kanan
kiri tertutup.
Muka Penutup muka dari plastik.
Alat pernafasan Respirator/masker khusus.
Percikan api atau
logam.
Kepala Helm plastik berlapis asbes.
Mata Goggle, kaca mata.
Muka Penutup muka dari plastik.
Jari, tangan, lengan
Sarung tangan asbes berlengan
panjang.
Betis, tungkai. Pelindung dari asbes.
Mata-kaki, kaki. Sepatu kulit.
Tubuh. Jaket asbes/kulit.
Gas, asap, fumes.
Mata. Goggles.
Muka. Penutup muka khusus.
Alat pernafasan.
Jika mengancam jiwa: gas
masker khusus dengan filter.
Tidak mengancam jiwa secara
langsung : gas masker biasa.
Tubuh.
Pakaian karet, plastik/bahan lain
yang tahan kimiawi.
Jari, tangan, lengan.
Sarung plastik, karet berlengan
panjang dan anggota-anggota
badan itu diolesi dengan barrier
cream.
Betis, tungkai. Pelindung dari plastik/karet.
Mata-kaki, kaki.
Sepatu yang kondusif (yang
menyalurkan aliran listrik)
Cairan dan bahan-
bahan kimia.
Kepala Penutup kepala plastik
Mata Goggles
Muka Penutup dari plastic
Alat pernafasan Respirator khusus tahan kimiawi
Jari, tangan, lengan Sarung plastik/karet
Tubuh Pakaian plastik/karet.
Betis, tungkai
Pelindung khusus dari plastik
atau karet.
Mata-kaki, kaki Sepatu karet, plastik atau kayu.
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ Ͷͻ
Faktor bahaya
Bagian tubuh yang
perlu dilindungi
Alat-alat proteksi diri
Panas
Kepala Helm asbes.
Lain-lain bagian
Sarung, pakaian, pelindung dari
asbes atau bahan lain yang
tahan panas/api.
Kaki
Sepatu dengan sol berisolator /
bahan tahan panas.
Mata
Goggle dengan lensa tahan
sinar infra merah
Basah dan air
Kepala. Penutup kepala plastik.
Tangan, lengan, jari.
Sarung tangan plastik, karet
berlengan panjang.
Tubuh. Pakaian khusus
Kaki, tungkai. Sepatu boot karet
Terpeleset, jatuh Kaki. Sepatu anti slip
Terpotong, tergosok
Kepala Helm kerja (logam)
Jari, tangan, lengan
Sarung tangan kulit, dilapisi
logam, berlengan panjang
Tubuh Jaket kulit
Betis, tungkai.
Celana kulit dengan decker
pada lutut dan pergelangan kaki
Mata-kaki, kaki Sepatu dilapisi baja, zool kayu.
Dermatis, atau
radang kulit
Kepala Penutup kepala plastik
Muka Sun block, pelindung plastik.
Jari, tangan, lengan
Sun block, sarung tangan karet,
plastic
Tubuh Penutup karet, plastik.
Betis, tungkai, mata-
kaki, kaki
Sepatu karet, zool kayu
Listrik.
Kepala Penutup kepala plastik, karet.
Jari, tangan, lengan.
Sarung tangan karet tahan
sampai 10.000 volt selama 3
menit.
Tubuh, betis, tungkai,
mata kaki, kaki.
Pelindung yang bahayanya dari
karet
Mesin-mesin.
Kepala Penutup kepala
Jari, tangan, lengan Sarung tangan tahan api
Tubuh Jaket dari karet
Betis, mata kaki Celana tahan api atau decker.
Sinar silau. Mata
Goggle, kacamata dengan filter
khusus.
Percikan api dan
silau pada
pengelasan.
Mata Goggle, kacamata filter khusus.
Muka
Penutup muka dengan
kacamata filter khusus.
Tubuh
Jaket tahan api (asbes) atau
kulit.
Kaki Sepatu dilapisi baja.
Penyinaran sedang
Kepala Penutup kepala khusus.
Mata
Goggle, kacamata dengan filter
lensa.
Muka Pelindung muka khusus.
Penyinaran kuat.
Kepala Penutup kepala khusus.
Mata, muka
Goggle dengan filter khusus dari
logam/plastik.
Kebisingan Telinga Earmuff
Peuoman Keselamatan Keija RevǤͳȀʹͲͲͺ ͳ
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL
PUSAT TEKNOLOGI NUKLIR BAHAN DAN RADIOMETRI
Jl. Tamansari No.71
Telp.(022) 2503997 Fax.(022) 250481
http://www.batan-bdg.go.id
BANDUNG 40132

PEDOMAN KESELAMATAN KERJA NON RADIASI

PENYUSUN :
Drs. SUHULMAN Dra. RINI HEROE OETAMI, MT RASITO S.Si AFIDA IKAWATI, ST ADE SUHERMAN ZAINAL ARIFIN SOLEH SOFYAN

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada ALLAH SWT yang karena rahmatNya kami dapat menyelesaikan penulisan buku Pedoman Keselamatan Non Radiasi untuk Pusat Teknologi Nuklir Bahan dan Radiometri – BATAN Bandung. Buku yang ada di tangan anda ini merupakan seri buku keselamatan yang disusun oleh Bidang Keselamatan dan Kesehatan Pusat Teknologi Nuklir Bahan dan Radiometri. Seri buku ini membahas khususnya tentang keselamatan dan kesehatan kerja non radiasi yang disusun mengacu pada buku Pedoman Keselamatan Kerja yang diterbitkan BATAN dan berbagai sumber lainnya. Selanjutnya buku ini akan menjadi pedoman keselamatan dan kesehatan kerja non radiasi di PTNBR BATAN Bandung. Buku ini terdiri dari 11 (sebelas) bab, yang berisi pedoman umum keselamatan dan kesehatan kerja, penanggulangan bahaya kebakaran, keselamatan dan kesehatan di lokasi kerja dan penggunaan peralatan kerja, tata-tertib di kawasan, serta penggunaan pakaian dan alat pelindung kerja. Setiap individu bertanggung jawab atas masalah keselamatan dan kesehatan kerja. Untuk itu seluruh tingkatan manajemen dan karyawan di lingkungan PTNBR diharapkan membaca, memahami dan menerapkan ketentuan yang ada di dalam buku pedoman ini di masing-masing lingkungan kerja yang menjadi tanggung jawabnya. Meskipun upaya penyusunan buku pedoman ini telah maksimal, penyusun menyadari bahwa didalamnya masih terdapat kekurangan. Untuk itu penyusun berharap adanya saran, kritik, dan masukan dari pembaca untuk penyempurnaan buku Pedoman Keselamatan dan Kesehatan Kerja Non Radiasi ini kedepan. Akhirnya, kepada semua pihak yang telah membantu penyusunan dan penerbitan buku pedoman ini, kami ucapkan terima kasih.

Bandung, 4 Agustus 2008 Tim Penyusun,

Pedoman Keselamatan Kerja Rev.1/2008

i

SAMBUTAN
KEPALA PUSAT TEKNOLOGI NUKLIR BAHAN DAN RADIOMETRI Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh, salam sejahtera buat kita semua! Sungguh sangat tepat waktunya Bidang Keselamatan dan Kesehatan menyusun buku Pedoman Keselamatan Kerja yang merupakan revisi total dari seri buku keselamatan sebelumnya. Dengan kebijakan zero incident yang dianut BATAN, maka usaha untuk meningkatkan kinerja keselamatan harus lebih mendapat perhatian, kecelakaankecelakaan kecil sekalipun harus tidak terjadi. Perhatian terhadap keselamatan kerja saat ini makin meningkat, sejalan komitmen karyawan dan staf pimpinan terhadap keselamatan yang tertuang dalam Kebijakan Keselamatan. Pusat Teknologi Nuklir Bahan dan Radiometri telah melakukan berbagai usaha, agar kecelakaan tidak terjadi, antara lain dengan selalu mengkaji setiap prosedur terkait keselamatan oleh Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja, melakukan kajian risiko bahaya dari setiap kegiatan yang akan dilakukan, membangun sistem e-learning keselamatan, melakukan survey keselamatan rutin, mengadakan audit keselamatan internal maupun eksternal, sosialisasi rutin tentang keselamatan kerja, pengumuman keselamatan sebelum mulai kerja dan saat selesai kerja, serta berbagai kegiatan lain terkait keselamatan, akan tetapi hal-hal tersebut belumlah dianggap optimal, karena kami beranggapan bahwa kinerja keselamatan setiap saat bisa terus ditingkatkan. Usaha meningkatkan kinerja keselamatan dan mempromosikan agar selalu bekerja selamat terus menerus dilakukan, salah satunya adalah dengan diterbitkannya Pedoman Keselamatan Kerja ini. Buku ini selanjutnya akan dijadikan acuan oleh seluruh karyawan untuk meningkatkan pengetahuannya tentang keselamatan, sehingga dapat bekerja dalam kondisi selamat, selamat untuk dirinya, selamat untuk orang lain, dan selamat untuk lingkungan. Setiap individu bertanggung jawab atas masalah keselamatan dan kesehatan kerja. Untuk itu seluruh tingkatan manajemen dan karyawan di lingkungan PTNBR diharapkan membaca, memahami, dan menerapkan ketentuan yang ada di dalam buku pedoman ini di masing masing lingkungan kerja yang menjadi tanggung jawabnya. Bersama kita capai zero incident. Bandung, 11 Agustus 2008 Kepala Pusat Teknologi Nuklir Bahan dan Radiometri

Drs. Djatmiko, M.Sc. NIP:330002309

Pedoman Keselamatan Kerja Rev.1/2008

ii

DAFTAR ISI
Hal KATA PENGANTAR SAMBUTAN KEPALA PTNBR DAFTAR ISI Bab I. Bab II. Bab III. Bab IV. Bab V. Bab VI. Bab VII. Pendahuluan........................................................................................... Pedoman Umum Keselamatan dan Kesehatan Kerja............................ Penanggulangan Bahaya Kebakaran..................................................... Bengkel................................................................................................... Peralatan Listrik...................................................................................... Bahan Kimia........................................................................................... Gas......................................................................................................... I II Iii 1 4 9 16 26 29 38 39 45 56 57

Bab VIII. Bejana Tekan......................................................................................... Bab IX. Bab X. Bab XI. Medik...................................................................................................... Tata Tertib di Kawasan PTNBR............................................................. Pakaian Kerja dan Alat Pelindung Diri....................................................

Pedoman Keselamatan Kerja Rev.1/2008

iii

Tujuan keselamatan dan kesehatan dari sudut pandang karyawan berarti wajib mematuhi prosedur kerja standar (standard operating prosedur. bagaimana membaca sebuah gambar atau skema. atau kombinasi dari keduanya. Untuk itu karyawan harus memahami sebab-sebab kecelakaan dan sakit akibat kerja. dan membaca batas waktu penyelesaian. . Pemahaman tentang konsep dasar pemikiran keselamatan dan kesehatan kerja sangat penting. atau tindakan tidak selamat. kendalikan diri dari perasaan gelisah. Bagi karyawan PTNBR yang bekerja di dalam proses produksi maupun operasi reaktor. mesin dan peralatan. Konsep lama yang mengatakan bahwa kecelakaan tidak bisa dihindari dalam bekerja harus dihilangkan dari pikiran para karyawan modern. jagalah kesehatan. tetapi penyebab tidak langsung juga perlu dihilangkan. Cidera terjadi akibat sesuatu kecelakaan.BAB I PENDAHULUAN ______________________________________________________________ Bekerja adalah mengembangkan perilaku kehidupan di lingkungan kerja sesuai dengan keahlian dan ketrampilan yang dimiliki dan bertujuan untuk keselamatan masyarakat dan lingkungan. dan kecelakaan dapat dicegah dengan meniadakan tindakan atau kondisi yang tidak selamat. Kecelakaan dapat ditimbulkan oleh kondisi yang tidak selamat. Dalam pedoman ini akan dijelaskan tindak pencegahan yang perlu dilakukan untuk menjaga keselamatan dan kesehatan kerja bagi karyawan baru maupun karyawan lama untuk penyegaran ingatan akan pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja. Untuk dapat bekerja dalam kondisi sehat dan aman. Karena itu pencegahan terjadinya cidera dimungkinkan dengan cara menghindari kecelakaan. Kecelakaan dapat terjadi karena sebab langsung maupun tidak langsung. Konsep keselamatan yang perlu diperhatikan adalah mencegah terjadinya kecelakaan apapun akibatnya. Karena itu perlu dipahami apa itu kondisi tidak selamat dan tindakan tidak selamat. seperti bagaimana menangani bahan baku. keselamatan dan kesehatannya harus menjadi prioritas utama. Di dalam mempelajari penyebab langsung maka harus diketahui bahwa penyebab tidak langsung melatarbelakangi penyebab langsung. Kesehatan jasmani merupakan modal dasar untuk bekerja. SOP) yang telah disediakan dan tidak boleh mengabaikannya. Tidak saja sebab langsung. Namun kriteria terpenting suatu kinerja adalah pada bagaimana menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan aman. Banyak hal yang perlu diketahui oleh seseorang dalam proses pekerjaan. Mesin yang bagus dan efisien sekalipun dapat menyebabkan kecelakaan atau menjadi rusak bila dioperasikan dengan tidak benar akibat kondisi fisik pekerja yang sedang tidak baik. dan arahkan diri anda kepada suasana kehidupan yang gembira dan menyenangkan.

Mengikuti pelatihan. Praktek kerja yang dilakukan berulang-ulang. 5.a. sampai dapat betul-betul memahaminya. Tindakan tidak selamat adalah tindakan yang tidak sesuai dengan aturan yang dibuat untuk menjamin keselamatan di tempat kerja. Untuk karyawan pemula maupun karyawan terlatih tetap memerlukan pelatihan untuk mempertahankan perilaku kerja yang berkualitas. Menjadi peserta pelatihan yang aktif dan penuh semangat dengan memusatkan memusatkan perhatian dan mempunyai keinginan kuat untuk belajar. 2. Hal yang perlu diperhatikan pada waktu melaksanakan pekerjaan Sambil bekerja karyawan dapat bertanya mengenai hal-hal yang belum dipahami kepada karyawan yang telah banyak pengalamannya dan atasan anda. Pekerja harus menjaga agar tidak timbul kondisi tidak selamat dan harus selalu siap untuk memperbaiki kondisi tersebut setelah diketahui. Harus diingat pula bahwa penyebab kecelakaan tidak hanya tampak dipermukaan saja tetapi juga yang tersembunyi. misalnya pakaian kerja yang tidak sesuai. Ulangi praktek-praktek yang dianjurkan sesuai dengan prosedur yang telah dipelajari. karena dapat menimbulkan kecelakaan. serta menggangu pekerjaan diri sendiri. Aktif bertanya untuk hal yang belum dimengerti. menghalangi gang dengan barang. barang atau data yang dihasilkan menjadi rusak. Kondisi tidak selamat adalah kondisi yang mengandung bahaya potensial. 4. Tindakan tidak selamat yang menyebabkan banyak cidera di tempat kerja berasal dari kelalaian atau kecerobohan. Untuk itu dalam melaksanakan pelatihan kerja. atau tempat kerja yang tidak tertib. Jangan segan dan bosan bertanya untuk hal-hal yang belum dimengerti. Untuk itu peraturan keselamatan harus ditaati setiap saat dan ditempat manapun. Tindakan tidak selamat. Jangan mencoba mengerjakan sesuatu tanpa pengetahuan yang cukup tentang pekerjaan tersebut. Ingat akan semua hal yang telah diajarkan. b. Salah satu konsekuensinya adalah larangan melewati suatu daerah gang yang ditentukan dengan maksud untuk mengambil jalan pintas atau berlari dengan tergesa-gesa. . Kondisi tidak selamat. butir-butir penting berikut ini perlu diperhatikan : 1. Karyawan harus mampu melaksanakan semua hal yang telah dipelajari dengan memiliki keyakinan dan mampu menguasai satu jenis pekerjaan yang telah dipelajari dan ditugaskan. 3. rekan sekerja dan suasana di lingkungan kerja. Faktor-faktor yang merupakan latar belakang penyebab langsung disebut penyebab tidak langsung.

ditempatkan atau digantung atau ditempel pada lokasi ataupun peralatan yang sedang diperbaiki atau yang tidak boleh diganggu. logam. Kewajiban dan Wewenang Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja 10. c. Per-04/MEN/1995 tentang Perusahaan Jasa Keselamatan dan Kesehatan Kerja 9. Pengawas K3 adalah Kepala Bidang Keselamatan dan Kesehatan (K-2) atau b. d. : 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Himpunan Pedoman Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Listrik 4. Isi label berupa larangan. Himpunan Pedoman Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Penanggulangan Kebakaran dan Konstruksi Bangunan 3. untuk terciptanya suasana kerja yang aman. Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional. . Per-02/MEN/1992 tentang Tata Cara Penunjukan. Ruang Lingkup Ruang Lingkup Pedoman ini adalah untuk Pelaksanaan Ketentuan Keselamatan Kerja non Radiasi bagi Karyawan PTNBR Batan – Bandung. Penanggung jawab keselamatan kerja di PTNBR adalah kepala Kepala PTNBR 3. dan himbauan kepada seluruh karyawan PTNBR BATAN Bandung dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari. Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional. Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional. sehat dan tertib. Per-05/MEN/1996 tentang Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja Definisi 1. peringatan ataupun anjuran. Himpunan Peraturan dan Perundangan Keselamatan dan Kesehatan Kerja. 6. Label Keselamatan (Safety Tag) adalah tanda peringatan yang terbuat dari kertas/ karton yang kuat. LIPI. Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Himpunan Pedoman Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Mekanik 2. papan dll. Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Undang-Undang Republik Indonesia No. 7. Bahan Acuan 1. Tujuan Pedoman Umum Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K-3) ini disusun dengan tujuan untuk memberikan petunjuk berupa peraturan-peraturan. 5. : 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja 8. Undang-Undang No. Peraturan Umum Instalasi Listrik. 2.BAB II PEDOMAN UMUM KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA ____________________________________________________________ a.

untuk suatu tugas yang berkesinambungan Kendaraan khusus: adalah kendaraan yang digunakan dilingkungan kerja dan bukan merupakan kendaraan penumpangan. alat-alat lainnya apabila tidak ditugaskan untuk itu. apabila bekerja dengan barang-barang yang membahayakan ataupun bekerja di tempat-tempat yang berbahaya. Setiap karyawan. sebelum petugas gilir penggantinya tiba di tempat kerja dan mengadakan serah terima pekerjaan dahulu. . Obat-obat terlarang adalah obat-obat keras yang termasuk kedalam golongan narkotika (turunan Opium) dan obat tidur Petugas gilir adalah karyawan yang bekerja bergantian secara rutin dan terus menerus. 9. rapi dan indah. 13. 2. 6.4. Setiap orang diwajibkan memakai alat pelindung diri yang telah disediakan. Setiap orang yang memasuki lingkungan kerja harus memakai tanda pengenal 3. 5. Setiap orang dilarang makan dan minum di laboratorium. e. 7. terlebih dahulu harus memperoleh Surat Ijin Kerja yang sesuai dengan ketentuan di PTNBR. 6. 14. 1. 10. 8. Kecelakaan di tempat kerja: Adalah yang mengakibatkan rusaknya sebagian atau seluruh alat atau kejadian berakibat luka atau kerugian karyawan yang menyebabkan korban tidak bisa bekerja selama 2 x 24 jam atau lebih. Setiap karyawan dilarang keras minum semua jenis minuman yang mengandung alkohol dan obat terlarang selama jam kerja. Setiap karyawan pengemudi kendaraan bermotor khusus harus memiliki SIM dengan kategori yang sesuai dan berlaku dari Kepolisian. Setiap orang yang bekerja dengan peralatan dan fasilitas di PTNBR bertanggung jawab atas keselamatan dirinya selama bekerja. Setiap orang dilarang menjalankan/memperbaiki mesin. segar. di ruang komputer. Petugas yang ditunjuk untuk melakukan pengawasan terhadap petugas lain yang sedang bekerja dengan suatu risiko kecelakaan. sebelum memulai sesuatu pekerjaan perbaikan daerah kerja. dan instalasi untuk keperluan tersebut harap dipergunakan ruang makan/kantin yang telah disediakan. Setiap orang diwajibkan mengumpulkan semua jenis sampah dan kotoran lainnya dan membuangnya ke tempat sampah yang telah disediakan. Setiap karyawan diwajibkan memelihara tempat kerja dan lingkungan kerjanya agar selalu bersih. 7. 15. Setiap grid (kisi-kisi lantai) yang terpasang di unit kerja harus selalu dalam keadaan cukup kuat dan aman. Petunjuk yang wajib dipatuhi. Setiap orang yang memasuki daerah instalasi diharuskan memakai alat keselamatan yang sesuai /disyaratkan dan mematuhi semua ketentuan yang berlaku. 5. Setiap karyawan diharuskan melaporkan keadaan yang dapat menimbulkan bahaya atau kecelakaan kepada Pengawas K3 12. Petugas gilir tidak diijinkan meninggalkan pekerjaannya walaupun jam kerja telah berakhir. Setiap karyawan diwajibkan menggunakan sepatu/alas kaki yang sesuai dengan daerah kerjanya 11. 4. di bengkel.

6. Setiap karyawan harap mempertimbangkan dahulu apakah pekerjaan yang akan dilakukan memerlukan alat-alat pelindung diri ataupun memerlukan bantuan seorang pengawas Keselamatan Kerja. Disekitar tempat bekerja yang pekerjaannya mengandung risiko bahaya harus dipasang rambu-rambu/ label keselamatan. Setiap karyawan. 5. setiap karyawan sebaiknya melakukan musyawarah terlebih dahulu langkah-langkah 2 . Petunjuk Umum 1. 9. kecuali ada iziin khusus dari Pengawas K3. Dianjurkan untuk melakukan evaluasi suatu pekerjaan sebelum pekerjaan dimulai untuk mencegah terjadinya langkah-langkah yang keliru dan berpotensi mendatangkan bahaya. Setiap kecelakaan betapa kecilnya harus segera dilaporkan dalam waktu tidak lebih dari 24 jam ke penanggung jawab ruangan. sesudah dinas malam. 7. setiap karyawan selain memikirkan keselamatan orang lain. 21.16. 4. 20. . Label keselamatan. 2. apabila menggunakan lampu penerangan haruslah yang bertegangan setinggi-tingginya 24 Volt. bejana tekan. harus tidak dilemburkan karena kelelahan dapat menimbulkan kecelakaan. Dalam melaksanakan suatu pekerjaan yang kiranya membahayakan. Setiap karyawan sebelum melakukan pekerjaan sebaiknya memikirkan cara yang aman yang akan dilakukan dan meneliti bahwa semua peralatan kerja maupun alat perlindungan yang akan dilakukan. 18. Dalam melakukan pekerjaan. Demi keselamatan setiap karyawan sebaiknya mengambil posisi yang baik dan aman sewaktu bekerja. Setiap karyawan pada saat kerja harus memusatkan konsentrasi sepenuhnya pada pekerjaan. Dalam melakukan pekerjaan. Sumbang saran dari orang lain akan sangat bermanfaat dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan selamat. 19. setiap karyawan harus menghindari sikap atau posisi kerja yang tidak mencerminkan keselamatan.3 yang akan ditempuh. gelap. 8. Dilarang bersendagurau atau mengobrol yang tidak perlu. Setiap ruangan tempat penyimpananan cairan/gas atau bahan lainnya yang mudah menguap atau terbakar harus dilengkapi dengan detektor gas sistem aliran otomatis dan sistem pemadam kebakaran otomatis. untuk dilaporkan ke bidang K2 dan jika dianggap perlu akan dibahas oleh P2K3. alat-alat pelindung diri dan sejenisnya yang telah ditempatkan pada lokasi tertentu. 3. Setiap pekerjaan didalam tangki. Tempat kerja harus mempunyai ventilasi dan sirkulasi udara yang baik dan memadai. silau dan pantulan cahaya tidak dikehendaki dapat menyebabkan bahaya. f. Setiap karyawan harus selau dalam keadaan waspada sewaktu melaksanakan tugas. 17. Setiap karyawan dianjurkan untuk beristirahat yang cukup di rumah untuk mencegah terjadinya kecelakaan yang disebabkan oleh faktor kelelahan. Setiap orang dilarang memindahkan/merusak rambu-rambu. Tempat kerja harus mempunyai cukup penerangan atau jangan bekerja dengan penerangan yang kurang memadai. setiap kecelakaan yang menimpa diri karyawan senantiasa akan menyebabkan keluarga karyawan menderita. apabila ada korban segera bawa ke klinik.

Setiap karyawan harap meletakkan alat kerja pada tempat yang telah ditentukan/tersedia. Pelatihan ini harus meliputi 1. 19. Setiap karyawan harap mendengarkan dengan baik semua instruksi atasannya sebelum melaksanakan pekerjaan menggunakan alat kerja. 13. 21. g. Perlu diingat oleh karyawan bahwa ia dapat memindahkan debu atau kotoran dari tempat kerja ke lingkungan keluarganya. 17. 11. Setiap karyawan harus membaca instruksi kerja (manual) dengan baik tentang cara-cara menjalankan mesin dan/atau peralatan sebelum memulai suatu pekerjaan. 22. Sanksi Pelanggaran terhadap Pedoman Umum Keselamatan dan Kesehatan Kerja dapat dikenakan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku. Pelatihan Dasar/awal 2. rambut gondrong dapat pula mengancam keselamatan pemiliknya.10. Setiap tumpahan minyak atau benda cair pada lantai atau meja harap dibersihkan dengan segera. bersih dan indah agar dapat bekerja dengan nyaman dan aman. Setiap karyawan sebaiknya mencuci tangan hingga bersih dengan menggunakan sabun atau deterjen setiap kali selesai dengan suatu pekerjaan dan juga setiap saat akan mulai makan dan minum. 14. Pakaian yang kotor menganggu kesehatan. Semua jenis sampah dan kotoran lainnya harap dikumpulkan dan dibuang ke tempat yang telah disediakan. Setiap karyawan harus memelihara tempat kerja agar selalu rapi. Setiap karyawan harap berpakaian yang rapi dan bersih. Setiap orang harap mengembalikan segala sesuatu yang dilihat tidak pada tempatnya ataupun yang seharusnya tidak terletak dilantai atau tanah. 16. 12. Setiap karyawan harus merapikan rambutnya apabila gondrong atau panjang karena selain mengganggu pekerjaan. Pelatihan Untuk mencapai dan meningkatkan ketrampilan serta kemampuan personil. menjalankan mesin dan/atau peralatan instansi lain. Pelatihan Kerja termasuk penyegaran 3. . h. harus disusun program pelatihan yang sesuai dengan kondisi kegiatan. sedangkan pakaian yang kedodoran akan membahayakan si pemakai terutama apabila berdekatan dengan mesin dan/atau peralatan yang berputar. setiap karyawan harus mematuhi batas-batas kecepatan serta rambu-rambu lalu lintas lainnya. 20. Setiap karyawan dianjurkan untuk membiasakan diri berganti pakaian segera setibanya dirumah dan mencuci bersih tangan dan kakinya. 18. Pada waktu mengemudikan kendaraan bermotor. tanpa mmemandang paakah orang yang ditegurnya itu atasan atau bukan. 15. Setiap karyawan harap menegur siapa saja yang melakukan suatu pekerjaan yang dapat membahayakan. Pelatihan Lanjutan dan pelatihan khusus untuk pekerjaan yang berisiko tinggi.

Himpunan Peraturan dan Perundangan Keselamatan dan Kesehatan Kerja. halon. Himpunan Pedoman Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Penanggulangan dan Konstruksi Bangunan 3. Kep-186/MEN/1999 tentang Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja d. c. 2. Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional. Ruang Lingkup Ruang Lingkup Pedoman ini Pelaksanaan tindakan pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran dalam melaksanakan tugas sehari-hari bagi Karyawan di PTNBR BATAN Bandung. Tugas Pokok SatLak DAMKAR : Tugas Pokok SatLak DAMKAR adalah menyelenggarakan penanggulangan untuk memadamkan dan mencegah . Adapun jenisnya berupa jenis tabung. 1. b. Definisi 1. Tujuan Pedoman Penanggulangan Bahaya Kebakaran ini disusun dengan tujuan untuk memberikan petunjuk berupa tindakan – tindakan pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran dalam melaksanakan tugas sehari-hari. Petunjuk Umum Organisasi Penanggulangan Kebakaran : Satuan Tugas untuk mempermudah pengerahan dan pengendalian personil yang dipimpin oleh Ketua UPN atau Satuan Pelaksana Pemadam Kebakaran (selanjutnya disebut SatLak DAMKAR). Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional. Bahan Acuan. Himpunan Pedoman Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Listrik 4. Penanggulangan Kebakaran adalah segala daya upaya untuk mencegah dan memberantas terjadinya kebakaran. 5. Himpunan Pedoman Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Mekanik 2. e. Alat Pemadam api ringan adalah alat pemadam api portable berupa tabung logam yang bisa diisi kembali. CO2 ataupun busa.BAB III PENANGGULANGAN BAHAYA KEBAKARAN ____________________________________________________________ a. Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI No. Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional. SatLak DAMKAR dapat dikerahkan secara efektif dan dikerahkan secara dini sejak mulanya terjadi kebakaran sampai tugas mengatasi kebakaran selesai.

fire alarm system maupun hydran semuanya perlu perawatan dan pemeriksaan rutin sehingga alat-alat tersebut dapat tetap berdaya guna dan berhasil guna. . f. tepat dan tuntas. Manajemen Peralatan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) : Kepala PTNBR wajib menyediakan peralatan pemadam api ringan (APAR) dalam jumlah cukup. Perawatan dan Pemeliharaan : Baik untuk APAR. Pembagian Tugas : Pembagian Tugas untuk memudahkan pengerahan dan pengoperasian personil.meluasnya api dari akibat yang ditimbulkan. Klasifikasi Daerah: Untuk kepentingan pengamanan dalam penanggulangan kebakaran tiap pusat atau kawasan membuat klasifikasi daerah berdasarkan : Daerah aktif Daerah tidak aktif rawan kebakaran Daerah tidak aktif rawan bahan kimia beracun Daerah aman Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) dan Instruksi Kerja (IK) digunakan sebagai pegangan untuk menjamin adanya keseragaman dalam pola pikir dan pola tindak di PTNBR dalam rangka penanggulangan kebakaran. Juklak dan IK memuat urutan tindakan atau peran yang harus dilakukan oleh perorangan atau kelompok yang tergabung di dalam SatLak DAMKAR. kepala PTNBR harus mengusahakan pompa hydran. Hydran : Selain alat-alat kelengkapan seperti tersebut diatas. memberikan pertolongan dan bantuan kepada karyawan serta mengungkapkan sebab musibah pelaku. Masing-masing anggota SatLak DAMKAR bersama-sama dengan karyawan dari sektor terkait bertanggung jawab terhadap keamanan sektornya dari kemungkinan ancaman bahaya kebakaran sesuai dengan prosedur yang tersedia. Fire Alarm System : Selain APAR seperti tersebut diatas untuk setiap gedung perlu dipasang atau dilengkapi alat-alat proteksi dan atau deteksi kebakaran (fire alarm system) sebagai tanda peringatan dini terjadinya kebakaran. siap pakai dan terpasang di tempat-tempat yang mempunyai potensi bahaya kebakaran dengan jenis yang telah disesuaikan dengan potensi bahaya kebakaran tersebut. perlu diadakan pembagian tugas bagi anggota SatLak DAMKAR kelompok kerja berdasarkan kondisi atau letak geografis perkantoran yang ada di PTNBR dalam bentuk sektor-sektor. bila oleh sesuatu hal belum bisa disediakan harus menjalin hubungan dengan dinas Pemadam Kebakaran setempat yang mempunyai armada mobil pemadam kebakaran. sewaktu dan setelah terjadinya kebakaran. motif terjadinya kebakaran secara cepat. Dengan demikian maka tindakan penanggulangan mecakup usaha dan tindakan yang dilakukan sebelum.

UPN dan SatLak DAMKAR. maka pada saat aman. Piket UPN dan Jaga reaktor : untuk mempertinggi kesiap-siagaan Petugas. di ruang piket Petugas Proteksi Radiasi (pesawat 444). Latihan diadakan sedemikian rupa sehingga semua personil terutama yang tergabung dalam Satlak DAMKAR benar-benar mahir dan terampil menghadapi kebakaran. alat pelindung diri dan alat-alat penyelamatan sesuai dengan kebutuhan. dibantu Ka.Kelengkapan Petugas Proteksi Radiasi. Bantuan dari luar PTNBR : Permintaan bantuan pasukan dan peralatan dari luar PTNBR tidak selalu disertai dengan peralihan komandan pengendalian operasi meskipun secara taktis dan teknis operasional penggunaan pasukan dan peralatan tersebut berada di bawah koordinasi komandan pasukan bantuan yang bersangkutan. diruang kendali reaktor (pesawat 333) dan piket pengamanan (pesawat 111) perlu disediakan alat pemadam. Bentuk Latihan : Kepala PTNBR harus mengadakan Latihan yang dapat dilakukan oleh Kepala atau gabungan (terpadu) yang melibatkan seluruh anggota SatLak DAMKAR dan karyawan. Sebelum pasukan atau bala bantuan pemadam bergabung dengan pasukan yang lain yang sudah beroperasi. Pelatihan dan Penerangan : Pentingnya latihan guna memupuk kesadaran dan meningkatkan ketrampilan dalam pencegahan semua karyawan baik yang bergabung dalam satuan tugas maupun yang tidak. terlebih dahulu harus dikoordinasi dan melapor kepada Kepala UPN untuk mendapatkan petunjuk dan penjelasan tentang kemungkinan adanya bahaya radiasi.perlu mendapatkan penerangan atau ceramah dan latihan-latihan menghadapi bahaya kebakaran. Materi Latihan : Materi Latihan dan penerangan meliputi pengetahuanpengetahuan penggunaan alat pemadam kebakaran. maka koordinasi pengendaliannya dilakukan Kepala UPN bekerjasama dengan SatLak DAMKAR dan Kepala Bidang di tempat Kebakaran terjadi. Koordinasi dan Pengendalian : Pada tingkat pertama terjadi kebakaran yaitu masih terbatas di lokasi kerja. Pada saat kebakaran meluas ke luar lokasi kerja : Pada tingkat kebakaran sudah meluas atau merembet ke luar lokasi kerja maka koordinasi pengendaliannya dilakukan oleh Kepala PTNBR selaku Penanggung jawab fasilitas. upaya tindakan pencegahan tanda-tanda bahaya kebakaran termasuk pengetahuan bagaimana cara mengatasi bahaya radiasi. pertemuan atau lokakarya: untuk memperlancar dan mendukung pelaksanaan koordinasi dan pengendalian Satuan Pelaksana penanggulangan kebakaran. perlu diadakan satu pertemuan atau lokakarya dengan semua instansi terkait baik instansi pemerintah sipil dan militer maupun swasta untuk membicarakan / membahas prosedur tetap penanggulangan bahaya . Koordinasi.

d. Dari lokakarya atau pertemuan akan dapat dirumuskan prosedur tetap yang disepakati bersama dan bisa dilanjutkan dengan latihan bersama atau tindakan lain yang bermanfaat. dan sound system (tata suara) b. Dalam rangka memperkecil atau menghindari kemungkinan terjadinya kebakaran maka perlu dilakukan pengaturan dalam hal : . Sistem Komunikasi Darurat terdiri dari sistem telepon. Setiap karyawan wajib ikut aktif mengadakan usaha pencegahan kebakaran di lingkungan PTNBR. Tindakan Pencegahan : Usaha-Usaha pencegahan perlu ditanamkan di kalangan karyawan sehinga menjadi sikap hidup yang positif. Untuk mempercepat dan memperlancar penanggulangan kebakaran sekali lagi perlu diingatkan agar di ruang petugas pengamanan atau jaga reaktor selalu siap alat-alat pemadam dan keselamatan pemadam kebakaran. sementara Kepala PTNBR selaku penanggung jawab keselamatan atau pejabat pelaksana harian yang ditunjuk atau Kepala UPN/Ketua SatLak DAMKAR belum datang ke tempat kejadian. Tanda bahaya dan tanda aman harus dimengerti atau dikenal oleh seluruh karyawan dan disampaikan pada saat dan dengan cara yang tepat. maka komandan piket pengamanan bertindak sebagai penanggung jawab dan pelaksana utama dalam penanggulang kebakaran. sistem alarm. Penyampaian informasi atau komunikasi antar gedung menggunakan sistem telepon. dan sound system (tata suara) Pengawasan dan Pemeriksaan: Pengawasan dan Pemeriksaan diperlukan untuk meningkatkan kewaspadaan seluruh karyawan agar menerapkan ketentuanketentuan dan peraturan yang sudah ada baik yang menyangkut perlengkapan bangunan seperti listrik. alat pemadam kebakaran maupun sarana lain yang dimiliki perlu dilakukan pengawasan dan pemeriksaan. Pos komando: pos komando harus segera didirikan (dibuka) dengan memilih tempat yang aman dan menguntungkan bagi koordinasi dan pengendalian. Setiap perpindahan Posko perlu disebarluaskan dengan memberikan tanda atau petunjuk diposko yang lama bahwa posko telah pindah kesuatu tempat yang jelas. Pengendalian pada saat hari libur atau sesudah jam kerja: Komando pengendalian pada saat hari libur atau sesudah jam kerja. Pentingnya Pengawasan Melekat : Dalam rangka penegakkan dan peningkatan kewaspadaan dalam menghadapi bahaya kebakaran sangat perlu digalakkan pengawasan melekat sehingga tidak ada peluang atau memperkecil kemungkinan terjadinya kelalaian dan kecerobohan yang mengakibatkan bahaya kebakaran. g. Sistem telepon harus direncanakan sedemikian rupa sehingga apabila terjadi kebakaran masih dapat bekerja minimal satu buah pada tiap-tiap lantai.kebakaran di PTNBR. Komunikasi a. Sound system terpusat digunakan untuk menyampaikan pengumuman dan instruksi bila terjadi kebakaran pada tingkat awal. c. gas. Handy Talky. Handy Talky.

8. 6. 11. 10. 7. Setelah kebakaran dapat dikuasai dan api dapat dipadamkan Unit Pemadam meneliti daerah tersebut dengan seksama untuk mengetahui apakah masih ada sisa api atau tidak. Setibanya di lokasi kebakaran. Pada saat yang sama. 9. Bila api menjalar keluar lokasi kerja maka kepala PTNBR sebagai penanggung jawab keselamatan mengerahkan dan mengendalikan semua kekuatan yang ada dengan meminta bantuan dari Unit Pemadam Kebakaran terdekat untuk melakukan pemadaman. dan Kepala Bidang K2 serta Kepala Bagian Tata Usaha bahwa telah terjadi kebakaran. Sementara itu SatLak Proteksi Radiasi mengecek paparan radiasi di daerah TKP dan mengecek kontaminasi Petugas. Sementara itu Petugas Pengamanan yang lain dengan alat komunikasi yang ada segera melaporkan kepada Kepala PTNBR. Bila api terlampau besar. Dan lain sebagainya. Satuan Pengamanan akan mengambil alih koordinator pemadaman bekerja sama dengan atau dibantu karyawan lainnya. Pekerjaan-pekerjaan bengkel termasuk pengelasan. karyawan tersebut harus memberitahu karyawan lain yang ada disekitarnya untuk melaporkan dan menghubungi Satuan Pengamanan/UPN bahwa terjadi kebakaran. Setiap karyawan yang melihat atau mengetahui kebakaran harus memadamkannya dengan alat pemadam api ringan yang telah tersedia di daerah kerjanya. maka Kepala UPN atas sepengetahuan Kepala PTNBR meminta bantuan Unit Mobil Pemadam Kebakaran terdekat. Kepala UPN setibanya di lokasi kebakaran segera mengambil alih komando pengendalian pemadam dengan mengerahkan seluruh unit teknis yang ada dibawahnya dibantu Unit Teknis Pemadam dari sektor lain yang telah siap. 5. Langkah-langkah Penanggulangan 1.Pengunaan aliran listrik. dimana untuk pemadamannya memerlukan bantuan. adalah kewajiban karyawan terdekat yang dipimpin oleh pejabat senior mengkoordinasikan pemadaman. Ketua SatLak yang tergabung dalam Organisasi Penanggulangan Keadaan Darurat (OPKD) PTNBR dan Tim P2K3 selalu mengikuti dan mengevaluasi tingkat bahaya yang mungkin terjadi akibat kebakaran. Pembuangan dan pembakaran sampah. Penempatan bahan bakar minyak atau bahan mudah terbakar. Penggunaan kompor (gas atau listrik). Bila kebakaran diduga menimbulkan bahaya lain seperti terlepasnya zat radioaktif atau kecelakaan manusia wajib bekerja sama dengan bidang K2. 3. Selama Satuan Pengamanan belum tiba di lokasi kebakaran. h. 4. Setelah api benar-benar padam. maka SatLak DAMKAR melakukan . Penyimpanan bahan kimia termasuk cairan yang mudah terbakar atau meledak. 2. Komandan UPN. Kepala PTNBR segera menyelidiki sebab-sebab terjadinya kebakaran dengan membentuk Tim Evaluasi.

Personil dari biidang yang menjadi anggota SatLak DAMKAR dan bertugas didaerah terjadinya kebakaran segera melaporkan semua peristiwa yang terjadi termasuk kemungkinan sebab dan jumlah korban (kalau ada) disampaikan kepada ketua SatLak DAMKAR untuk menentukan langkah selanjutnya. alat yang masih ada dan yang hilang atau rusak/habis akibat peristiwa kebakaran. 12. 13.konsolidasi menghitung jumlah kekuatan. . maka ditempuh prosedur pelaksanaan tentang kecelakaan kerja. Selanjutnya Kepala UPN memerintahkan masing-masing SatLak DAMKAR menyusun kembali kekuatan dalam rangka memelihara kesiapsiagaan. Apabila dalam penanggulangan kebakaran terjadi kecelakaan personil.

Himpunan Pedoman Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Mekanik. mesin pengasah. bengkel instrumen. mesin tekuk plat. Tujuan Pedoman ini disusun dengan maksud untuk memberikan petunjuk secara umum kepada seluruh karyawan PTNBR BATAN Bandung tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam melakukan kegiatan perbengkelan. electroplating Petunjuk Bengkel Elektronik Umum 1. mesin bor. Mesin pembentuk : a.BAB IV BENGKEL ____________________________________________________________ a. mesin gerinda. 4. Setiap pekerja harus berhati-hati terhadap tegangan tinggi yang tersedia atas bahaya sengatan listrik. Mesin Penyambung dan pemotong : berbagai mesin las. pembentuk. Setiap pekerja yang melakukan pen solder dan posisi hidung tidak boleh diatas langsung mata solder. mesin frais. bengkel mesin yang dikelompokkan sebagai mesin-mesin pengiris. Ruang Lingkup Ruang Lingkup yang dibahas dalam Pedoman ini meliputi Bengkel Elektronik. mesin bengkok pipa b. Mesin Pengiris : mesin gergaji. pemotongan dengan gas. b. . d. Setiap pekerja harus menggunakan alat pelindung pernapasan atau menghidupkan fan penghisap untuk menghindari asap dari timah cair. 2. c. 2. Definisi 1. Setiap pekerja harus waspada terhadap pelarut PCB (Feri Klorid yang membahayakan mata dan kulit). mesin penyambung dan pemotong. 3. Bahan Acuan Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional. Mesin rol. mesin bubut. Mesin Pelapis : mesin cat. mesin sekrap. e. 3. Setiap pekerja harus menempatkan solder pada tempat yang aman dari jangkauan yang dapat mengakibatkan kecelakaan. pelapis dan bengkel gelas dan mesin lain yang digunakan di PTNBR BATAN Bandung. 5. Mesin Cor 4.

Alat ukur yang digunakan harus sesuai dengan batas kemampuan pengukuran. Setiap pekerja harus menggunakan sepatu dan sarung tangan karet. 6. 10. 5. Alat-alat ukur harus dikalibrasi secara berkala sesuai prosedur. 7. 4. 8. jauhkan dari sinar matahari langsung dan tempat yang lembab (basah). Instrumen-instrumen analog dalam setiap penggunaannya jangan sampai polaritasnya terbalik. Setiap pekerja harus berhati-hati terhadap sambungan kabel-kabel yang terbuka (telanjang). Slang penghubung fluida (zat alir) jangan sampai terganggu (tersumbat. Probe HV harus dipergunakan pada waktu mengukur tegangan tinggi diatas 1 KV AC/DC. posisi yang benar dan jauhkan dari sinar matahari langsung serta tempat yang lembab (basah). 9. 9. 3. Setiap pekerja yang bekerja dengan tegangan tinggi harus menggunakan sepatu dan sarung tangan dari karet. serta tutup kepala non-logam di lingkungan tegangan yang disyaratkan. hidraulik dan gas-gas bertekanan. Alat-alat yang telah selesai digunakan harus diputus dari sumber listriknya. Instrumen gas (manometer gas/regulator) harus terpasang. Komponen-komponen yang dipasang harus sesuai dengan tegangan yang diperlukan untuk menghindari bahaya kebakaran (terutama komponen resistor) dan ledakan (terutama komponen kapasitor). 11. Instrumen harus dioperasikan pada daerah kerjanya dan pakailah sekringsekring yang sesuai dengan yang diperlukan. tersambung dengan rapat dan kuat. Bengkel Instrumen Umum 1. 11. Komponen-komponen harus disimpan pada tempat yang benar. Instrumen harus disimpan pada tempat. tersayat dan telanjang. 2. Alat-alat yang telah selesai digunakan harus dimatikan dari sumber listriknya. serta tidak menggunakan perhiasan dari logam untuk menghindari hantaran listrik. 7. Setiap pemakai alat ukur harus berusaha menghindari kesalahan pemakaian pada berbagai macam pengukuran. Khusus : Untuk bengkel elektronik yang khusus akan ditentukan oleh Kepala BIE. 8. tergencet. Setiap pemakai alat ukur harus berhati-hati terhadap kabel yang terkelupas.6. 10. harus rapat dan kuat pada sambungannya. 12. dan tidak menggunakan perhiasan dari logam untuk menghindari hantaran listrik. rusak) Ruang Kerja Setiap pekerja yang melakukan tugas di ruang tertutup harus dihindarkan . Slang instrumen pneumatik.

Setiap orang dilarang mencuci tangan menggunakan air pendingin (coolant). 5. 11. 6. dilumasi disetel dan diperbaiki pada saat dioperasikan. sengatan listrik. 3. terkecuali apabila mesin dalam perbaikan. ledakan. memberlakukan alat dengan baik dan menggunakan secara benar. Setiap orang dilarang memindahkan ataupun merubah suatu alat pengaman dari suatu mesin sehingga mesin tersebut menjadi berbahaya. pengaman pesawat atau alat dari tempat kerjanya. 12. . perlengkapan transmisi tenaga mekanis dan semua bagian yang berbahaya. harus diberi pengaman secara efektif. 7. 9. Setiap pekerja yang mendapat luka walaupun kecil/ringan harus segera diobati supaya tidak terkena infeksi. sesuai dengan fungsi. kecuali apabila dipasang atau ditempatkan sedemikan rupa sehingga tidak ada orang atau benda yang dapat menyinggungnya. Setiap petugas harus melaporkan bila terjadi kerusakan atau ketidaksempurnaan dalam suatu mesin. 2. Mesin harus dimatikan bila ada kerusakan pada benda kerja dan atau kerusakan pada mesin itu sendiri. Setiap petugas yang mengetahui setiap terjadinya kerusakan mesin saat operasi harus segera mematikan tenaga penggerak dan alat pengaman harus atau memberi tanda yang bersifat pengumuman yang mudah dibaca dengan ditempelkan pada mesin tersebut dan melarang penggunaanya sampai perbaikan yang diperlukan telah dilakukan dan mesin tersebut berada dalam keadaan baik.kemungkinan dari bahaya keracunan. bagian mesin atau perlengkapannya harus menjamin bahwa semua pekerjaan yang telah dilakukan ditetapkan dalam peraturan. Bagian mesin yang bergerak dari pesawat tenaga. Setiap orang harus memahami lokasi kerja terhadap bahaya kebakaran. 10. Bahan pengamanan standard atau penutup harus dibuat : a. Dari metal yag kuat atau berlubang atau kawat teranyam dengan bingkai besi siku. 4. Mesin jangan dibersihkan. 13. Setiap orang atau perusahaan yang memasang mesin-mesin baru. Bengkel Mesin Umum 1. Setiap pekerja harus mematikan mesin dari hubungan listriknya jika akan meninggalkan atau bila akan anda perbaiki. benturan / jatuh karena penerangan yang kurang intensitasnya. Setiap pekerja harus memelihara. 8. kearah mana pintu-pintu darurat dan atasilah api secepatnya dan semaksimal mungkin dengan menggunakan peralatan yang telah disediakan sebelum pekerja menuju ke pintu darurat. pipa besi atau batang besi padat. Khusus Untuk bengkel instrumen yang khusus akan ditentukan oleh Kepala Balai Instrumentasi dan Elektromekanik (BIE).

18. nipel gemuk dan lain-lain proyeksi dalam bagianbagian yang berputar. 19. yaitu pemindah poros tidak bekerja apabila kopling dilepas. kecuali telah aman lokasinya. 24. Dari kayu. harus tertutup samasekali. atau pembungkus sedemikian rupa untuk menjaga orang-orang menyentuh proyeksi-proyeksi itu. konstruksi pada bagian luarnya dilengkapi celah-celah pengaman standar. Tombol penggerak awal harus dari bahan berwarna hijau dan tombol penghenti dari bahan berwarna merah terkecuali ditentukan lain seperti tombol-tombol khusus untuk motor-motor tunggal tidak harus diberi warna merah. Semua pengaman harus dipasang dengan cara diletakkan dengan aman kepada mesin. Titik yang bergerak dari transmisi roda-roda gesek apabila dibuka untuk bersentuhan. 28. 30. plastik atau bahan lain yang cocok untuk apa bahan-bahan itu dipergunakan. lantai dinding atau plafond dan harus tetap berada ditempatnya bilamana mesin dioperasikan. harus ditutup seluruhnya. dimanapun berada. 27. Gigi yang digerakkan dengan tangan harus dijaga dengan cara yang sama sebagaimana diuraikan untuk gigi yang digerakkan dengan mesin apabila gigi tersebut dapat menimbulkan bencana. 21. 22. penghenti keselamatan atau klep penghenti darurat harus dilengkapi dengan sakelar jarak jauh. dan mesin tidak akan bekerja sampai semua tombol penggerak pada posisi yang sama. 23. 15. Semua kunci. 25. Mesin-mesin yang dioperasikan oleh lebih dari seorang. Roda gigi yang terbuka yang digerakkan dengan mesin harus dijaga dengan menutup keseluruhan dan atau menutup sebagian pada tempat yang dapat menimbulkan bahaya.14. Semua sekrup penyetel dalam bagian-bagian yang bergerak. gerendel. dan ditempatkan sedemikian rupa sehingga sukar terhubung karena sentuhan. Alat-alat pembatas kecepatan. harus dibuat rata. 16. sehingga dalam keadaan darurat penggerak utama dapat dimatikan dari tempat yang aman. Bagian yang menggeser dari kompling jepit harus diikatkan kepada pemindah poros yang dijalankan. maka setiap operator harus disediakan tombol control untuk mengggerakkan dan menghentikan mesin. 17. Jumlah tombol penghenti harus satu atau lebih sesuai dengan posisi kerja dari operator. Roda gigi rantai yang digerakkan dengan mesin rantai. Tombol listrik penghidup mesin harus terbenam. Mesin tidak boleh diminyaki dengan tangan dalam keadaan jalan hal ini dapat menyebabkan kecelakaan bagi petugas. Mesin-mesin yang dijalankan dengan dua motor atau lebih dengan tombol . Roda gaya dari penggerak utama yang terbuka harus diberi perlindungan supaya tidak membahayakan dengan cara dipagar. b. terbenam atau dilindungi dengan tabung penyelamat atau pembungkus stasioner. 20. harus dibuat rata. 29. 26. Bantalan pemindah poros tidak boleh diminyaki dengan tangan ketika pemindahan poros sedang berjalan.

mur) dengan tangan dan lain-lain. misalnya ikatan-ikatan mesin. 5. Karena menarik tali kabel atau rantai tanpa sarung tangan akan mengundang bahaya. 15. Mesin bubut logam horisontal harus diperlengkapi dengan rem otomatis. Pada mesin-mesin berat yang tetap berputar setelah sumber tenaga diputuskan harus diberi perlengkapan rem yang secara otomatis bekerja bila diperlukan untuk mencegah bahaya yang terjadi. 2. Pelat genggam pada pelat genggam pelat cakram beralur pada meja bubut logam horisontal harus ditutup dengan alat pengaman standar yang akan mencakup bagian-bagian yang bergerak. 4. Meja putar horisontal pada mesin vertikal yang besar harus dikelilingi oleh pagar pengaman. Lampu yang ada disetiap mesin harus dinyalakan saat bekerja . Pelat genggam pada meja bubut logam horisontal harus diperlengkapi dengan sekrup penyetel yang terpendam atau dirancang sedemikian rupa sehingga tidak terdapat bagian-bagian yang menonjol. menarik barang-barang harus menggunakan sarung tangan. benda kerja dan alat pemotong.tekan pengontrol yang terpisah harus dilengkapi dengan atau lebih tombol penghenti yang dapat menghentikan kerja mesin secara keseluruhan. yang menunjang sampai diatas bagian atas alat kerja yang berada diatas meja pengaman dapat terdiri dari dua bagian yang dapat dilepas pada bingkai mesin/lantai untuk memudahkan masuk untuk menyetel atau memperbaiki. Setiap pekerja harus memakai kacamata bila bekerja untuk pekerjaan yang menghasilkan gram. Gigi tenaga spindle kopeling silang dan poros pada mesin pelubang dan mesin bubut harus dilindungi dengan alat pengaman standar. 12. mengencangkan ikatan (baut. 6. 9. Mesin bubut logam horisontal yang ditempatkan dekat gang atau jalan lewat atau paralel satu sama lain berdekatan. 11. Alat penggerak pemotong untuk meja gerak diatas mesin frais harus ditutup . Mesin-mesin Pengirisan 1. 10. Mesin harus diberi sekat/pelindung agar percikan gram atau alat yang memungkinkan terlepas dapat ditahan sehingga tidak melukai orang. agar pekerjaan dapat berjalan lancar tanpa kesalahan atau penyimpangan. 13. Setiap pekerja dalam kegiatan mengangkat. Ikatan yang saling berkaitan harus dikencangkan. 14. 8. Setiap pekerja dilarang melawan kekuatan mesin dengan kekuatan fisik misal menghentikan putaran dengan tangan. Pelat cekam yang sedang berputar atau benda putar yang sedang dikerjakan jangan sampai tersentuh. Setiap orang tidak boleh membuka alat-alat pengamanan/tutup mesin yang sedang bekerja atau berputar. 7. 3. 31. dan para pekerja harus dilarang meletakkan tangannya di atas pelat genggam meja bubut untuk memegang benda yang sedang dikerjakan atau di atas cakram beralur pace plate kecuali tenaga telah dimatikan. harus dipasang pengaman apabila perlu untuk menghindarkan pecahan-pecahan halus yang terbang mengenai orang-orang yang sedang lewat atau pekerja pada mesin bubut yang lain.

3. sebelum dibersihkan. 18. 12. 8. pakailah korek gas. pakailah sarung tangan yang kering untuk melindungi tangan dari kemungkinan terkena aliran listrik (electric shock). Tabir penghalang harus dipergunakan untuk menghalangi cahaya tajam dan percikan bunga api supaya tidak menganggu orang lain. Blok pancang pada pengetam logam horisontal harus dilengkapi dengan pengaman standar untuk sepanjang langkahnya. 17. Setiap pekerja dengan mesin las harus memakai kacamata alas untuk melindungi mata dari cahaya las. 7. Mesin frais otomatik harus dilengkapi dengan pengaman percikan minyak pendingin pemotongan. (manometer. Setiap pekerja las dilarang mengelas tangki pipa drum yang mengandung bahan yang mudah meledak/terbakar. sarung tangan dan perlengkapan pelindung lain. tabung las untuk pernapasan. Instrumen gas harus dipasang dengan benar. 11. 19. Katup tabung bila tidak dipakai harus ditutup dengan benar. ingat jangan sekali-kali melihat cahaya las dengan mata telanjang. .sebagai pengaman. 13. pakailah penutup mulut dan hidung sebagai filter agar asap dan gas yang timbul pada saat pengelasan sedang berlangsung tidak berbahaya bagi kesehatan. Setiap pekerja dilarang membuang pecahan-pecahan gergaji yang patah tanpa menghentikan terlebih dahulu mesin. Katup silinder zat asam dan asetilen harus ditutup dan buanglah gasnya hingga manometer menunjukkan angka nol bila pengelasan telah selesai. Mesin Penyambung dan Pemotong 1. 2. 10. regulator) rapat dan kuat. Selang pipa las tidak boleh dibiarkan tergencet/terjepit dan tertekuk dan hindarkan selang melintang jalan. 9. Air pendingin digunakan pada mesin las potong. percikan bunga api. plasma cutting. Setiap pekerja pada mesin frais dilarang mencoba membuang kepingankepingan dari benda yang dikerjakan dekat pemotong sebelum mesin dihentikan. Setiap pekerja dilarang mengubah parameter-parameter pengelasan pada saat pengelasan sedang berlangsung. 14. Dengan ketentuan bahwa berada di atas meja kerja dapat diperbolehkan apabila sifat operasi memerlukannya. 4. Benda yang di las harus diletakkan pada posisi aman agar tidak mudah jatuh di waktu pengelasan sedang berlangsung. Api rokok atau korek api biasa tidak boeh dipergunakan untuk menyalakan gas pembakar. Setiap orang dilarang mengambil gas. Penyembur api dilarang untuk digantungkan pada tabung gas asetilen. supaya tidak tergilas kereta sorong. oksigen pernapasan. 16. 15. gergaji pemotong baja harus dilengkapi dengan pengaman percikan. 6. 5. Setiap pekerja dilarang naik pada meja kerja mesin bubut vertikal. Setiap pekerja harus memakai apron. mesin ketam logam ketika mesin sedang beroperasi.

Alat pengangkat dan pengangkut yang disediakan harus dipergunakan dengan cara yang benar terhadap bahan baku dan bahan yang telah jadi. 2. Tabir penghalang untuk menghalangi cahaya tajam dan percikan bunga api supaya tidak menganggu orang lain harus dipasang. Setiap pekerja dilarang mengubah parameter-parameter pesawat cor selagi sedang beroperasi. 3. Setiap pekerja harus memastikan bahwa kelengkapan dan kesiapan sarana pendukung pesawat cat sehinga dapat beroperasi dan berfungsi dengan baik. kecuali pada mesin yang besar yang tidak dapat diputar dengan tangan dan dilengkapi dengan pengatur tenaga yang berjalan lambat. 6. 2.Mesin Pembentuk Roll. percikan api dan percikan logam panas. Tekuk Plat. 4. HF. 5. tanpa menyebabkan tangan operator terpegang diantara rol atau diantara pengaman dan rol. Setiap pekerja harus mengenakan pakaian kerja yang mampu menahan suhu panas. Mesin Cor 1. 4. Setiap pekerja harus hati-hati dalam membuat larutan. harus dipasangkan pada sisi rol yang bergerak sehingga bahan-bahan yang akan diproses dapat diisikan kepada rol. 2. Setiap pekerja harus memahami secara keseluruhan sistem mesin tersebut. . harus diingat zat kimia yang dipergunakan mungkin sangat korosif dan reaktif (misalnya: H2SO4. oleh karena itu diwajibkan menggunakan kacamata untuk pekerjaan cor. Setiap pekerja harus memastikan bahwa udara yang digunakan dalam keadaan kering. topi pengaman. dan memutuskan arus. 8. 5. penghalang yang tepat atau yang dapat disetel. Mesin-mesin Pelapis 1. kacamata. Setiap pekerja dilarang melihat cahaya logam cair dengan mata telanjang terlalu lama. keadaan tekanan angin/kompresor telah cukup untuk mengabutkan cat yang akan digunakan. Setiap pekerja yang melakukan kegiatan dengan mesin electroplating berhatihatilah dengan bahan asam kuat dan hidupkan exhauser untuk mengeluarkan uap kimia yang terjadi sehingga ventilasi ruangan harus bekerja dengan baik dan pastikan tidak ada kebocoran pada sistem salurannya. Pakailah sepatu. 3. Setiap pekerja dilarang membersihkan rol tanpa lebih dahulu menghentikan alat-alat mesin. Setiap pekerja harus mengenakan pakaian pengecatan. dan penutup rambut. Perlengkapan pengaman. 6. 7. Setiap pekerja harus memastikan bahwa kelengkapan dan kesiapan sarana pendukung pesawat cor dapat beroperasi dan berfungsi dengan baik. Bengkok Pipa 1. Setiap pekerja dilarang mengubah parameter pesawat pengecatan yang telah diset selama berlangsung pengecatan. Setiap orang dilarang berdiri atau melewati di depan pintu sewaktu operasi penyalaan. sarung tangan kerja.

HNO3) Setiap pekerja harus mempergunakan sarung tangan karet. Setiap pekerja harus memeriksa semua peralatan pengaman saluran gas. benda kerja dan alat pemotong. Setiap pekerja harus mengetahui urutan membuka kran pengatur (buka kran pengatur gas terlebih dahulu) dan jangan salah langkah dalam menutup kran pengatur (tutup kran oksigen terlebih dahulu). supaya dalam melaksanakan pekerjaan yang sebenarnya tidak terjadi hal-hal yang tidak dinginkan dan dalam hal penggunaan mesin-mesin yang berputar cobalah terlebih dahulu mendapatkan putaran yang sesuai. Setiap pekerja harus menggunakan sarung tangan tahan panas bila memasukkan/mengambil benda kerja ke/dari dalam oven. 6.7. Setiap pekerja dilarang menyalakan penyembur api dengan nosel mengarah ke tubuh. dengan kuat dan benar sesuai dengan keadaan yang dipersyaratkan. 5. meter dan cobalah sebelum mulai bekerja. jika dicurigai ada kran atau sambungan maupun pipa/slang gas oksigen yang bocor. mesin. 2. Setiap pekerja harus memperhatikan posisi anoda dan katoda jangan sampai terbalik. 4. Setiap pekerja dilarang meninggalkan potongan-potongan gelas disekitar mesin. Setiap pekerja harus memeriksa semua ikatan. Setiap pekerja dilarang menyalakan penyembur api dan apapun juga. 3. masker. Setiap pekerja dengan api pemotong gelas harus memakai kacamata pelindung yang sesuai dengan pekerjaannya. 8. Bengkel Gelas 1. 7. . 8. kacamata untuk menghindari percikan asam kuat.

Tujuan Pedoman ini disusun dengan maksud untuk memberikan petunjuk umum kepada seluruh karyawan PTNBR BATAN Bandung tentang langkah-langkah umum dalam keselamatan kerja dengan peralatan listrik. Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional. 4. c. dengan suatu syarat mempunyai kecakapan dan pengalaman teknis serta terampil dalam bidangnya. Bagian listrik bisa berupa Instansi/Bidang/Bagian/Sub. Himpunan Pedoman Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Penanggulangan Kebakaran dan Konstruksi Bangunan. Himpunan Peraturan dan Perundang-undangan Keselamatan dan Kesehatan Kerja.BAB IV PERALATAN LISTRIK ____________________________________________________________ a. 2. 2. Peralatan listrik adalah semua komponen/peralatan listrik termasuk pemutus arus. Kawat pentanahan adalah kawat tembaga telanjang (bare) dengan luas penampang tidak kurang dari 50 mm yang di klem pada peralatan mesin dengan baik dan dihubungkan ke tanah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 3.Bag yang diberi wewenang dan tanggung jawab terhadap semua instansi listrik dari unit yang bersangkutan. 3. Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional. perbaikan dan pengontrolan instalasi listrik. 4. 1. Ruang Lingkup Ruang lingkup yang dibahas dalam pedoman ini meliputi seluruh peralatan listrik yang ada di PTNBR BATAN Bandung Bahan Acuan Peraturan Umum Instalasi Listrik. baik dari segi operasi maupun pemeliharaannya. isolasi. Untuk keperluan juklak ini tegangan lebih besar dari 220 volt disebut tinggi dan untuk tegangan lebih kecil dari 220 volt disebut tegangan rendah. Himpunan Pedoman Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bidang Listrik.Bid/Sub. Pekerjaan adalah semua kegiatan baik berupa pengoperasian. d. 6. 1. Definisi Petugas adalah orang yang diberi wewenang untuk suatu jenis pekerjaan. Tegangan adalah beda potensial dari kedua kutub/kawat. dan kabel. b. 5. .

6. Pentanahan pada peralatan tegangan tinggi harus dilakukan instalasi yang baik dan benar sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Khusus untuk transformator hal tersebut di atas dilakukan baik pada sisi primer dan sekunder. 9. 4. 5. 12. 11. dan di dalam ruangan dengan udara yang basah atau yang sangat lembab. jika timbul keragu-raguan hubungilah pengawas anda. 7. pelepasan semua pengamanan/sekering dan pentanahan peralatan yang diperbaiki. Jangan sekali-kali mengambil risiko. Setiap petugas dilarang melakukan perbaikan di malam hari kecuali untuk pekerjaan-pekerjaan yang betul-betul penting demi lancarnya pekerjaan/produksi dan keselamatan dari instalasi. Setiap petugas dilarang keras bekerja dengan alat-alat yang bertegangan listrik terutama di dalam kamar dimana ada bahaya kebakaran atau ledakan. dan kunci disimpan oleh Kepala BIE. Selama peralatan diperbaiki setiap petugas wajib mencegah kemungkinankemungkinan yang bisa membahayakan dan wajib menggunakan label-label peringatan/pengamanan ataupun menguncinya pada posisi yang aman. . 10.Petunjuk yang wajib dipatuhi dan petunjuk yang disarankan 1. Setiap orang dilarang memasuki/bekerja pada daerah tegangan tinggi kecuali petugas yang mempunyai otorisasi. Setiap petugas dilarang mengubah posisi pemutus arus kecuali atas ijin Kepala BIE. 3. Setiap orang dilarang berjalan melalui atau melintasi peralatan/perlengkapan instalasi listrik. Semua petugas yang melakukan pekerjaan pada instalasi listrik harus tunduk kepada instruksi-instruksi dari Kepala BIE. Setiap orang dilarang melakukan pekerjaan penggalian atau membuat lubang di lapangan atai di daerah-daerah sekitarnya sebelum lebih dahulu mendapat ijin. Setiap petugas dilarang melakukan perbaikan sebelum ada ijin dari atasan ataupun dan diwajibkan melapor bila perbaikan telah selesai dilakukan. Label peringatan “Jangan dijalankan” harus dipasang pada semua pemutus arus yang telah diisolasi. 2. Setiap petugas dilarang memperbaiki sekering dari tipe cartridge dengan jalan menghubungkan sekering itu dengan kawat. Dalam keadaan darurat petugas diperbolehkan melakukan tindakan untuk menyelamatkan jiwa ataupun instalasi. 13. Setiap petugas dilarang memperbaiki instalasi-instalasi listrik yang bertegangan dan bila tidak bisa dihindari perbaikan tersebut dapat dilakukan dibawah pengawasan atau tanggung jawab dari Kepala BIE. Daerah/instalasi tegangan tinggi harus dikunci. Setiap pekerjaan pada peralatan tegangan tinggi harus dilakukan setelah terlebih dahulu dilakukan pemutusan arus. Label peringatan ini hanya boleh dipindahkan/dicabut oleh petugas yang memasangnya. 8. 14.

uap atau gas dalam udara yang dapat dihirup selama 8 jam/hari selama 5 hari/minggu. exhaust fan. Bahan Acuan 1. misal ruang asam. 4. b. teknisi. Bahan kimia oksidator adalah bahan kimia yang dapat menghasikan oksigen dalam penguraian atau reaksinya dengan senyawa lain. bahan kimia. dan sebagainya. 6. Soemanto Iman Khasani. Gramedia. peralatan. Tujuan Pedoman ini disusun dengan maksud untuk memberikan petunjuk secara umum kepada seluruh karyawan PTNBR BATAN Bandung tentang keselamatan dan kesehatan kerja dalam menggunakan bahan kimia. .BAB V BAHAN KIMIA ____________________________________________________________ a. 3. yang bahayanya terhadap kesehatan sangat bergantung pada jumlah zat tersebut yang masuk ke dalam tubuh. dan gas bekas pakai yang karena sifatnya tidak dapat digunakan lagi. 7. bersifat reaktif dan eksplosif serta sering menimbulkan kebakaran. tanpa menimbulkan gangguan kesehatan yang berarti. 2. c. 8. CRC Press Inc. Ruang Lingkup Ruang lingkup meliputi sarana tempat kerja. Safety Hand Book. d. glove box. Tempat dan sarana laboratorium adalah tempat yang digunakan untuk melakukan kegiatan yang menggunakan bahan kimia serta dilengkapi sarana sebagai kelengkapan laboratorium. 3. Jakarta. dan pekerja yang merupakan unsur utama dalam melaksanakan kegiatan dengan menggunakan bahan kimia. Nilai Ambang Batas (NAB) adalah konsentrasi dari zat. Australian Automic Energy Commission. Bahan kimia eksplosif adalah bahan kimia mudah meledak. Keselamatan Kerja dalam Laboratorium Kimia. meja kerja. July 1983. Definisi 1. 5. PT. 2. Boca Raton Florida. Pekerja adalah peneliti. Limbah bahan kimia adalah bahan kimia baik padat. Bahan kimia korosif/iritan adalah bahan kimia yang mampu merusak berbagai peralatan dari logam dan apabila bahan kimia ini mengenai kulit akan menimbulkan kerusakan berupa iritasi dan peradangan kulit. laboran yang secara langsung atau tidak langsung menggunakan bahan kimia. 1990. Hand Book of Laborotory Safety. fumehood. cair. Kimia toksik adalah bahan kimia beracun.

Pembuangan limbah kimia dapat dilakukan setelah melalui proses olahan sesuai dengan sifat bahan kimianya. 6. 7. Setiap bahan kimia yang terdapat disuatu tempat harus diinventarisasi berdasarkan sifatnya. Dalam rangka penyimpanan bahan kimia yang akan dilakukan harus memperhatikan sifat masing-masing bahan yang akan disimpan. Sumber api harus dijauhkan apabila digunakan bahan kimia yang mempunyai sifat mudah terbakar atau mudah meledak. sistem ventilasi ruang kerja harus baik dengan pergantian udara minimal 8 kali per jam.e. Orang yang tidak berkepentingan dilarang mendekati daerah kerja.5 m/detik. Temperatur dan kelembaban di dalam laboratorium harus dijaga kestabilannya sesuai dengan jenis peralatan dan pekerjaan yang dilakukan. 3. Penggunaan peralatan bantu yang terbuat dari logam harus dihindari apabila bahan kimia yang digunakan bersifat korosif. Petunjuk Umum 1. glove box. 8. 3. 10. kecepatan aliran udara minimal 0. Setiap pekerja harus melakukan optimasi jumlah bahan kimia yang akan digunakan dengan memperhatikan nilai ambang batasnya. 5. Tumpahan/tetesan bahan kimia yang mempunyai sifat iritan harus dihindari. Selama melakukan kegiatan menggunakan bahan kimia. 4. 9. 4. 2. atau ruang asam harus digunakan dalam kegiatan yang menggunakan bahan kimia yang mempunyai sifat yang sesuai. Pengelompokan dalam rangka penyimpanan bahan kimia dapat dilakukan dengan memperhatikan sifat masing-masing bahan kimia yang akan disimpan. Ruang Kerja 1. Pekerja yang akan melakukan kegiatan dengan menggunakan bahan kimia harus menggunakan alat pelindung diri yang sesuai. 2. Setiap wadah bahan kimia harus diberi label dan tanda – tanda yang jelas sesuai dengan sifatnya dan mudah dibaca. Ruang kerja harus dilengkapi dengan tempat limbah khusus. . Fumehood. 11. Bahan kimia yang mempunyai sifat dapat melakukan reaksi secara cepat harus dijauhkan dari bahan kimia mudah meledak yang akan digunakan.

1C 5.TABEL 1 : NILAI AMBANG BATAS (NAB) BAHAN-BAHAN KIMIA NO. 19. 28. 10.5 360 1C 0.000 10 50 5 1 10 200 1 3 0.200 19 2 1. 25. 20.05 9. 26. debu) Karbon dioksida Karbon disulfida Karbon monoksida Karbon tetraklorida Klor Kloroform Metanol Nitrobenzena Nitrogen dioksida Ozon Sulfur dioksida Timbal (uap. 17. 21. 16.780 30 5 0. 39. Daftar di atas diambil dari : Threshold Limit Volues and Biological Exppsure Indices for 19861987 American Conference of Govermental Industrial Hygienists. 38.1 25 400 400 5 1 1 100 0. . 24.15 0. 31. 9.1 2 5 NAB (mg/m³) 0. 2.7 1 180 1. NAMA BAHAN Air raksa Amoniak Anilin Asam bromida Asam klorida Asam flourida Asam formiat Asam nitrat Asam sianida Asam sulfat Asam sulfida Asbes Aseton Benzena Benzil klorida Brom DDT Dioksan Etil asetat Etil eter Fenol Fluor Formaldehida Heksana Iodin Kadmium(uap. 1. 33.2 5 0. 36. 22. 30. 14. 13.1 10 Keterangan : ppm : bagian dari satu juta (volume) C : batas konsentrasi tertinggi dalam udara tempat kerja.05 18 10 10C 7 2. 4. debu) Timbal tetraetil Vinil klorida NAB (ppm) 25 2 3C 5 3C 5 2 10C 10 750 10 1 0. 11. 18. 7. 12. 8. 27. 23.400 1. 37.000 30 55 30 3 50 260 5 6 0. 32.5C 9 5 10C 1 14 5 serat/cm Panjang 5 um 1. 40. 29. 15. 35. 3. 34. 6. 5.

xSiO2 (NH4)2CO3 CaO. DAFTAR BAHAN KOROSIF PADAT Natrium hidroksida Kalium hidroksida Natrium silikat Amonium karbonat Kalsium oksida/hidroksida Kalsium karbida Kalsium sianida Ttrikhloroasetat Fenol Natrium Kalium Posfor Perak nitrat NaOH KOH Na2O. Ca (OH)2 CaC2 Ca (CN)2 CCl3COOH C6H5OH Na K P AgNO3 Basa Asam Lain-lain TABEL 5. BAHAN KIMIA OKSIDATOR Permanganat Perklorat Dikhromat Hidrogen peroksida Periodat Persulfat Benzil peroksida Asetil peroksida Eter oksida Asam perasetat Oksidator Anorganik Peroksida Organik .TABEL 2. DAFTAR BAHAN KOROSIF CAIR Asam nitrat (HNO3) Asam sulfat (H2SO4) Asam klorida (HCl) Asam fluoride (HF) Asam posfat (H3PO4) Asam format (HCOOH) Asam asetat (CH3COOH) Asam monokloroasetat (CH2ClCOOH) Petroleum Hidrokarbon terklorinasi Karbon disulfide Terpentin Asam Mineral Asam Organik Pelarut Organik TABEL 3.

2 – 6. 14. 12. 7.5 1. .6 3.0 – 4. 5. 4. 1. (%) mudah terbakar 3 – 13 1.4 Titik C (oC) 538 562 280 – 456 423 180 261 223 100 464 515 229 220 309 288 536 Titik A = titik didih Titik B = titik nyala Titik C = titik bakar Titik A adalah suhu dimana tekanan uap zat tersebut sama dengan tekanan luar.7 Titik A (oC) 56 80 38 – 204 79 34 68 98 46 65 80 170 – 300 125 36 30 – 60 111 Titik B (oC) -18 -11 -43 12 -45 -22 -4 -30 12 -7 38 – 66 13 -49 -57 4. 8.4 – 7.7 – 5 1. 3. 11. 10. 6.85 – 48 1. Titik B adalah titik nyala (flash point) adalah suhu dimana suatu cairan menghasilkan uap yang dapat membentuk campuran dengan udara yang dapat dibakar pada permukaan cairan.TABEL 4.4 – 6. 13.6 1. 15.5 2 – 10 0.7 1 – 44 6 – 36.4 – 8 1–6 1.3 – 19 1. 9.1 – 7. PELARUT Aseton Benzena Bensin Etilalkohol Etil eter Heksana Heptana (n) Karbon disulfida Metanol Metil etil keton Minyak tanah Oktana Pentana Petroleum eter Toluena Daerah konst. PELARUT ORGANIK MUDAH TERBAKAR No.4 – 8 1. BAHAN KIMIA KOROSIF GAS Amonia Asam klorida Asam fluorida Formaldehida Asam asetat Sulfurklorida Tionil klorida Sulfuri klorida Belerang oksida Klor Brom Arsen triklorida Posfor triklorida Posfor penta klorida Ozon Nitrogen oksida Fosgen Akrolein Dikloroetilsulfida Diklorometileter Kloropikrin Dimetilsulfat NH3 HCl HF HCHO CH3COOH S2Cl2 SOCl2 SO2Cl2 SO2 Cl2 Br2 AsCl3 PCl3 PCl5 O3 NO2 COCl2 CH2CHCHO S(CH2CH2Cl)2 O(CH2Cl)2 CCl3NO3 (CH3)2SO4 TABEL 6. 2.

yaitu : KELOMPOK A : Bahan yang bersifat karsinogenik dan telah ditentukan Nilai Ambang Batas (NAB) : BAHAN Acrylonitrile – kulit Asbestos Amosite Chrysotile Crocidolite Other forms Bis (chloromethyl) ether Pengolahan batuan chromite (chromate) Chromium (VI). tanpa Nilai Ambang Batas (NAB) 4 – Aminodiphenil (p-Xenylamine) – kulit Benzidine – Kulit Betta – Napthylamine 4 – nitrodiphenil Tidak diperkenankan adanya paparan atau kontak langsung dengan bahan – bahan ini. . NAB KELOMPOK B : Bahan yang bersifat karsinogen. atau mulut. as Cr 0. Pekerja harus dilindungi sedemikian rupa sehingga tidak akan terkena karsinogen tersebut. baik melalui pernafasan.001 ppm 0.asap dan debu 2 ppm 0. kulit.Titik C = titik bakar (ignition point) adalah suhu minimum suatu zat yang diperlukan agar zat tesebut dapat terbakar tanpa bantuan energi dari luar. senyawa larut dalam air Coal tar pitch volatiles Pembakaran Nikel Sulphide. BAHAN-BAHAN YANG DIKETAHUI DAN DIDUGA BERSIFAT KARSINOGENIK TERHADAP MANUSIA.05 mg/m3. as Ni. Bahan-bahan ini dibagi dalam 3 kelompok.0 mg/m3.05 mg/m3.2 mg/m3 as benzene solubles 1.0 fibre > 5 um/cm3 0. as Cr 0.0 fibre > 5 um/cm3 0.2 fibre > 1 um/cm3 1.5 fibre > 5 um/cm3 2.

1-Dimethil hydrazine – kulit Dimethil sulphate – kulit Ethylene dibromide – kulit Ethylene oxide Formaldehyde Hexachlorobutadiene Hexamethyl phosphoramide – kulit Hydrazine – kulit 4.001 ppm 10 ppm 2. 3-Butadiene Cadnium oxide production Carbon tetrachloride – kulit Chloroform Chloromethyl methyl eter Chromates dari Pb dan Zn.5 ppm 0.2 ppm 2 ppm 10 ppm 5 ppm 0. sebagai Cr Chrysene 3.5 ppm 1 ppm 2 ppm 5 ppm 10 ppm 5 ppm .KELOMPOK C : BAHAN Acrylonitrile – kulit Amitrol Antimony trioxide Production Arsenic Trioxide Production BIS (Chloromethyl) eter Benzene Benzo (a) pyrene Berrium 1. 4-methylene bis (2-chloroaniline) – kulit Methyl hydrazine – kulit Methyl iodine – kulit 2 – Nitropropane N – Nitrosodimethyllamine N – phenyl – beta – naphthylamine Phenulhydrazine – kulit Propane sultone Beta – propiolactone Propyleneimine – kulit O – Tolidine O – Toluidine – kulit Vinyl bromide Vinyl cyclohexene dioxide Vinyl chloride NAB 2 ppm 0.1 ppm 1 ppm 1 ppm 0.05 mg/m3 0.1 ppm 0.1 ppm 0.002 ppm 0. 3-Dichlorobenzidine – kulit Dimethylcarbamyl chloride 1.0 ug/m3 5 ppm 10 ppm 0.

Asam Asetat . hindari kontak dengan kulit. . bunga api dan panas. As.Xn = .larutan amonia Menimbulkan iritasi . . O = Oxidizing substance . Asetat Bahan .As perklorat. F = Inflamable material .Bensin .As.Soda Kausti .Alkohol Hindari air. C = Corrosive material .Hidrogen peroksida.As.Anh. 5. klorida Jangan menghirup uap.TABEL 7.As.Anh. 1. mata dan pakaian.Asuntol Hindari kontak dengan badan. segera mencari pengobatan bila kesehatan terasa terganggu.Bayonox activate . O. Hindari goncangan. Jauhkan dari bahan bakar. TANDA ISYARAT E = Explosive material Bahan mudah meledak CONTOH BAHAN / PRODUK .Pip.Ammonium dikromat 2. -65 Hindari kontak dengan badan.I.As. nyala api bebas. gesekan.As.neguvon Bahan berbahaya .Xi = . 3. D. panas & bunga api. .Aceton . Bahan mudah teroksidasi .Potasium Klorat. Sulfat . 6. BEBERAPA SIFAT BAHAN NO.Phostoxin Bahan beracun/toksik .Baygon . 4. Klorida .AAs. cari pengobatan bila terasa terganggu. Xn = harmful substance . salisilat Xi = cause irritation . jangan menghirup uap. tumbukan. Asetat korosif/menimbulkan luka . T = Poisonous material .Solar Bahan mudah terbakar . Fosfat pada kulit .

Temperatur ruangan dan kelembaban harus tetap terjaga kestabilannya. 2. Ketentuan Umum 1. Tujuan Pedoman ini disusun dengan maksud untuk memberikan petunjuk secara umum kepada selurah karyawan PTNBR BATAN Bandung tentang kesehatan dan keselamatan kerja dalam menggunakan bahan gas. Setiap pekerja harus telah mendapatkan pelatihan khusus tentang pemadaman kebakaran. Tabung gas harus disimpan pada tempat yang aman. 1990. 4. sarung tangan karet dan sebagainya. Australian Atomic Energy Commission. jauh dari sumber panas atau api. Ruang Kerja 1. d. pelatihan mekanik gas dan sebagainya. Setiap pekerja yang akan menggunakan bahan gas harus menggunakan jas lab dan peralatan bantu yang sesuai dengan sifat gasnya. Gramedia. Jakarta. serta peralatan. Pengelompokan gas yang akan disimpan dapat dilakukan dengan memperhatikan sifat masing – masing gas. PT. Ruang Lingkup Ruang lingkup yang akan dibahas adalah bahan gas yang lazim digunakan di laboratorium/lapangan. 2. 1. masa berlaku dan sebagainya serta mudah dibaca. Keselamatan Kerja dalam Laboratorium Kimia. b. jenis gas yang digunakan. Soemanto Imam Khasani. dan pekerja yang terlibat. c. July 1983. dari bahan kimia korosif. Semua gas harus diinventarisasi dan diberi label dan tanda-tanda yang menerangkan jenis. 3. 6. 5. maka pipa yang menyalurkan gas dibagian luar ruangan harus diberi kran.BAB VI GAS ____________________________________________________________ a. Apabila bahan gas/tabung berada di luar laboratorium. . Tabung gas bertekanan tinggi disimpan dalam keadaan tegak dan terikat. sistem ventilasi harus dalam keadaan baik. 3. misalnya masker. Selama melakukan kegiatan menggunakan bahan gas. 2. Bahan Acuan Safety Hand Book.

Standar Nasional Indonesia No. Definisi 1. Pelat nama adalah pelat yang dipasang pada suatu alat/pesawat/bejana yang memuat data-data atau identitas alat itu. 2. 2. 4. gas. mudah dan tampak jelas terlihat dan dibaca dan diusahakan tidak tertutup. Tujuan Usaha pencengahan kecelakaan baik secara preventif maupun korektif terhadap bahaya yang timbul akibat bejana tekan berupa bahaya peledakan yang terjadi karena tekanan tinggi dari dalam bejana. e. Bejana tekan adalah bejana yang di dalamnya berisi fluida bertekanan lebih tinggi daripada tekanan udara luar. tabung-tabung baja. pemeriksaan dan perlengkapan perlindungan bejana tekan. Bila bejana harus dibalut isolasi. Bahan Acuan Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional : 1. Kompresor adalah suatu alat untuk memampatkan gas atau udara. Petunjuk Tanda-tanda pengenal 1.BAB VII BEJANA TEKAN ____________________________________________________________ a. Alat kendali temperatur adalah suatu alat yang dipakai untuk mengetahui dan mengendalikan temperatur dari suatu bejana bertekanan supaya tidak melebihi suhu rancangan. Tanda pengenal harus tercetak tidak mudah terhapus. Ruang Lingkup Pedoman umum tentang bejana tekan adalah pedoman keselamatan dan kesehatan kerja yang wajib dipatuhi dan dilaksanakan dalam hal penanganan dan penggunaan bejana yang berisi fluida bertekanan seperti udara. 5. air dan cairan berupa tangki tekan. uap. bahaya kebakaran atau keracunan oleh sifat fluida di dalam bejana dan bahaya akibat kesalahan penanganan bejana tekan itu sendiri. tangki tandon pada kompresor. b. c. Pada setiap bejana tekan harus tertera tanda-tanda pengenal berupa pelat nama atau tercetak langsung pada bejana itu yang harus diperhatikan dalam penanganan dan penggunaan bejana tekan tersebut. termasuk ketel uap dan meliputi penggunaan material. 3. d. Himpunan Pedoman Keselamatan & Kesehatan Kerja Bidang Mekanik 2. : SNI-1715-1989-E tentang Pewarnaan Botol Baja / Tabung Gas Bertekanan. . Himpunan Pedoman Keselamatan & Kesehatan Kerja Bidang Listrik dan Uap 3. Tabung baja adalah bejana tekan selain pesawat uap yang dipakai untuk menampung gas atau gas campuran termasuk udara baik dikempa menjadi cair dalam keadaan larut atau beku.

Amonium chlorida. Kisaran suhu penyimpanan i. helium. vinil chlorida. amoniak. Nama jenis fluida isi (bukan simbol kimia) e. gas mulia (argon. glioksida dan bromethil harus dicat warna kuning tua. methanol. c. Botol baja untuk kelompok gas menyengat (Corrosive Gases) misalnya: anhydrous amoniak. . berbagai macam pestisida. Berat isi penuh h. cyanogen. f. Berat kosong g. Tekanan uji hidrostatika k. xenon dan neon). g. Tekanan kerja maksimum j. naptalena. methana. penta chlorida. Waktu pengujian (terakhir) Khusus bejana tekan jenis botol baja harus diberi kode warna dan tulisan sesuai standar yang dengan itu dapat dikenali isinya untuk perhatian dalam penanganan. butane dan propane) harus dicat warna biru (light blue) dengan tanda warna merah pada bagian sekeliling tingkapnya. d. propylene. asam chlorida. Botol baja untuk kelompok gas bagi keperluan kesehatan (Medical Gases) harus dicat warna putih. Tanda atau nama pabrik pembuat b. Botol baja untuk gas campuran (Mixed Gases) harus dicat warna gabungan masing-masing kelompok gas yang dicampurkan. gas fluoro carbon (refrigerant) harus dicat warna abu-abu. sulfur dioksida. Botol baja untuk kelompok gas beracun (Poisonous Gases) misalnya : arsine. e. gas-gas hydrocarbon (carbonil sulfida. kripton. methil khlorida. Botol baja untuk kelompok gas mudah terbakar dan atau meledak (Inflammable and or Explosive Gases) misalnya : hydrogen. Tanda-tanda pengenal yang harus ada memuat : a. alkohol. dan methil bromida harus dicat warna kunig muda. Pada leher botol dapat ditempelkan label dan tanda-tanda khusus mengenai : sifat gas. benzena. nitrogen dioksida. dichlorobenzena. 4. Botol baja untuk kelompok gas pengoksida (Oxidijing Gases) misalnya: oksigen termasuk udara tekan harus dicat warna biru muda.3. Tahun pembuatan d. i. maka di atas tanda pengenal diberi petunjuk untuk dapat dibuka dan dibaca. pentana. hidrogen khlorida. atau tetraoksida. Volume air yang dapat diisikan f. fenol. hydrogen cyanida. boron trikhlorida. Nomor Tag/Seri pembuatan c. carbon monoksida. khlor. a. Botol baja untuk kelompok gas yang dapat menyebabkan tercekik/kekurangan zat asam (Asphyxian Gases) misalnya : nitrogen. ethanol. bahaya dan petunjuk penanganannya. asetilen. Pada bagian badan botol saja sepanjang badan harus diberi tulisan nama gas yang diisikan dibuat dengan sablon warna hitam. h. j. phosgene. karbondioksida. Standar warna botol baja ini tidak berlaku untuk tabung alat pemadam api ringan. b.

6. b. Alat kendali temperatur. Diantara bejana dan alat penurun tekanan dilarang ada katup penutup. Yang termasuk alat pengaman adalah : a. c. Saluran pembuangan (drainage) d. Alat penurun tekanan. 4. Yang termasuk perlengkapan lain adalah : a. Pengujian ulang juga harus dilakukan pada bejana tekan yang mengalami perubahan konstruksi. karat atau cacat pada permukaan. 2. kecuali memenuhi persyaratan untuk pemeriksaan berkala atau pemeliharaan dari alat penurun tekanan tersebut dan dapat disegel dalam posisi tertutup atau terbuka yang dilakukan berdasarkan prosedur penyegelan oleh pihak yang berwenang. 7. c. Bejana tekan yang kedapatan rusak sedemikian rupa sehingga diduga tidak memenuhi syarat keselamatan harus diuji lagi kekuatannya dan atau dilarang dipergunakan. untuk bejana berisi zat beracun atau mudah terbakar dapat dibuang ke atmosfer dengan ketentuan buangan ada di luar dan jauh dari bangunan. Alat penurun tekanan yang dipasang. Pengujian ulang dengan tekanan hidrostatika harus dilakukan secara berkala sesuai ketentuan ijin yang berlaku. Ukuran alat penurun tekanan dan saluran buangannya harus mampu membuang sejumlah maksimum yang dapat dihasilkan pada bejana tersebut tanpa menaikkan tekanan lebih besar dari pada 110% disain kisaran tekanan. Lubang angin (venting) 4. 5. Sebelum bejana tekan dipergunakan harus diperiksa secara visual terhadap kerusakan. 3.Jaminan kualitas bejana tekan 1. Alat pengurang vakum. 2. Alat pengaman dan perlengkapan lain 1. Kecuali ditentukan lain. Alat penurun tekanan dapat dipasang tunggal atau rangkap untuk jaminan terhadap keselamatan. pekerjaan tambah atau dilakukan reparasi atas bejana tekan itu. Tiap bejana tekan harus dilengkapi dengan alat pengaman dan perlengkapan lain agar bejana tekan dapat menjamin untuk digunakan dengan aman. 9. Bejana tekan yang dipergunakan harus terjamin kualitasnya yang dinyatakan dengan kelengkapan sertifikat hasil pemeriksaan atau pengujian yang telah dilakukan. Alat penurun tekanan harus mampu mencegah kenaikan tekanan lebih tidak melebihi 110% dari disain kisaran tekanan yang disebabkan ekspansi isi bejana oleh kenaikan suhu. Indikator tekanan. 8. untuk fluida mampat berupa katup pengaman (safety valve) dan untuk fluida tak mampat berupa katup penurun tekanan (relief valve) yang dapat bekerja otomatis atas tekanan lebih atau mempergunakan pelat dapat pecah (rupture disc). Indikator tinggi permukaan cairan. 3. Buangan dari alat penurun tekanan harus dilakukan sedemikian rupa sehingga mencegah bahaya bagi orang atau kerusakan pada peralatan lain. Pada setiap bejana tekan harus sekurang-kurangnya dipasang 1 (satu) indikator . reaksi kimia atau daya tekan dari pompa/kompresor. b.

pengangkutan dan perlakuan terhadap bejana tekan 1. Peletakan. Bilamana menggunakan katup untuk pembuangan material yang merugikan atau mudah terbakar. Terhadap bejana tekan harus selalu dilakukan pemeliharaan. Botol baja isi bertekanan dilarang berada dekat dengan sumber panas atau terkena sinar matahari langsung. pemeriksaan maupun pemeliharaan. 10. 7. Lokasi pemasangan katup. 2. 11. pemeriksaan alat pengaman dan kelengkapannya serta dijaga kebersihannya.5 sampai 2 kali tekanan kerja yang diijinkan. Bahan pelumas dan paking yang mengandung minyak atau lemak dilarang dipergunakan atau untuk melumasi katup pada botol baja yang berisi oksigen atau gas lain yang mengandung oksida. 4. . Botol baja berisi oksigen harus dijauhkan dari botol gas lainnya yang mudah terbakar. Lokasi bejana tekan berada harus terlindungi dan dihindari dari zat yang korosif. 5. 12. terutama pada tiap bejana yang berisi atau mungkin akan membawa karat bagi bejana atau yang merugikan atau yang mudah terbakar. Bejana tekan yang dipasang tetap dalam dudukan dengan penunjang yang kuat dalam posisi horisontal rata air atau vertikal. jelas terbaca dengan ketelitian mempunyai skala pengukura 1. 9. 8.tekanan yang berfungsi baik dan dikalibrasi. 3. 6. maka harus disambung pipa pembuangan yang mengalir ke lokasi aman. 13. Dari sisi tekan pada kompresor yang berhubungan dengan tangki tandon tidak boleh ada katup. bila ternyata ada maka harus dipastikan dan diamankan dalam keadaan terbuka pada saat operasi. Pengangkutan atau pemindahan bejana tekan harus menggunakan alat pengangkut atau pengangkat yang tepat dan dicegah dari kemungkinan jatuh atau terantuk dengan benda lain yang keras dan tajam. 10. Indikator tekanan harus tampak dari posisi operator mengontrol tekanan bejana. Instansi pemakai wajib menyimpan daftar semua botol baja yang menjadi tanggung jawabnya. alat pengamanan dan perlengkaan lain harus pada tempat yang mudah dicapai bila diperlukan untuk operasi. Pada bejana tekan harus ada saluran pembuangan cairan yang terletak pada bagian terbawah bejana. isi dan masa berlaku isinya. alat penurun tekanan. 11. Botol-botol baja yang digunakan atau disimpan harus diletakkan berdiri dan diberi pengikat dari kemungkinan roboh dengan memperhatikan jenis isi masing-masing botol. Pada bejana tekan harus ada lubang angin yang terletak pada bagian tertinggi bejana untuk mengalirkan udara sewaktu uji tekan hidrostatika. lengkap dengan data tanda pengenal. minimum 6 m. mencegah bahaya bagi orang atau kerusakan peralatan. Tangki tandon pada kompresor harus secara berkala dikeringkan dari air embunan di dalamnya dengan membuka katup pada saluran pembuangannya atau dipasangkan katup pembuangan otomatis (automatic drain). Botol-botol baja bila tidak dipergunakan harus dipasangkan kap pelindungnya dengan tepat untuk melindung katupnya.

Pengoperasian bejana tekan termasuk peralatan pembangkit tekanan terkait seperti pompa. warna hilang atau tertutup sehingga tidak lagi menunjukkan identitas warna yang sesungguhnya. Pengelolaan bejana tekan harus menyimpan sertifikat uji bejana tekan dan surat ijin pemakaian yang masih berlaku yang dikeluarkan oleh instansi berwenang. kompresor dan pesawat uap harus dilakukan oleh teknisi atau operator yang mempunyai wewenang mengoperasikan dan telah menjalani pendidikan dan pelatihan untuk alat-alat itu. 5. Fungsi dari alat-alat pengaman dan perlengkapan bejana tekan harus selalu diuji ulang untuk menjamin keandalannya. . 3. Pelaporan 1. Pengelola harus mencatat jumlah botol-botol baja beserta tanda-tanda pengenalnya. Pengecekan ulang botol baja harus dilakukan apabila warna sudah berubah. Pengawasan 1. Pendidikan dan Pelatihan 1. 3. melakukan pemeriksaan dan mencatat data-data isi gas. 2. Dalam pengoperasian mesin pembangkit tekanan untuk bejana tekan harus selalu diikuti dengan pencatatan rekaman data dalam buku/lembar log seperti data tekanan dan temperatur yang dicatat setiap waktu secara berkala. kelompok gas mudah terbakar dan meledak.f. dan mengajukan permohonan perpanjangan ijin sebelum kadaluarsa. 4. g. bila bunyinya tidak nyaring berarti dinding dalam telah dimakan karat yang akan mengurangi kekuatannya. Kepada operator yang melayani penggunaan botol-botol baja berisi gas berbahaya harus diberikan pendidikan dan pelatihan penanganan terhadap bahan-bahan berbahaya. Kebocoran yang terjadi pada botol baja sebagai penampung gas akan memberikan kerugian dan pada botol baja yang berisi kelompok gas yang menyebabkan tercekik. 2. luntur. h. tekanan dan kondisi secara berkala baik digunakan ataupun tidak digunakan. Terhadap bejana tekan harus selalu dilakukan pengawasan untuk menghindari risiko bahaya yang dapat timbul dan melaksanakan pemeliharaan bejana serta alat-alat pengaman dan perlengkapan lainnya dengan sebaik-baiknya. Sambungan-sambungan katup. atau bila dilakukan penggantian isi dengan gas lain atas ijin Departemen Tenaga Kerja. kelompok gas beracun dan kelompok gas menyengat dapat menimbulkan bahaya. pipa dan perlengkapan pada bejana tekan harus selalu diperiksa kekedapannya. 2. Bejana tekan yang berada di lingkungan zat korosif harus selalu diperiksa kemungkinan kerusakan karena karat. atau setelah dilakukan uji tekan hidrostatika ulang. Kesalahan operasi seperti kesalahan buka tutup katup dapat menimbulkan kerusakan dan bahaya fatal. Untuk botol baja yang berisi kelompok gas korosif dapat diperiksa dengan diketuk-ketuk.

pendarahan. Bahan Acuan 1. selama jam kerja. sedemikian rupa sehingga karyawan tersebut dalam waktu 2 x 24 jam setelah kejadian kecelakaan itu tidak dapat melakukan pekerjaan. Cacat (handicap) adalah kerugian yang diderita oleh seseorang sebagai akibat dari perlemahan atau ketidakmampuan yang membatasi atau mencegah orang itu untuk melakukan perannya yang normal untuk ukuran orang itu. pernafasan buatan dan pijat jantung. 1980. terbakar. Perlemahan (impairment) adalah setiap gangguan atau ketidaknormalan psikologik dan atau fisiologik dan atau struktur anatomi dan atau fungsi. d. Tujuan Pedoman ini dibuat sebagai petunjuk bagi awam untuk penyelamatan apabila terjadi kecelakaan ditempat kerja dengan tujuan agar korban menjadi atau merasa aman dan tenang serta mencegah kondisi yang lebih buruk sambil menunggu pertolongan dokter. 2. Jakarta. Safety Handbook. Edisi I. 4. patah tulang. Kartono M. Pertolongan Pertama. 5. Definisi 1. Panduan Bahan Berbahaya. c. PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN a. 1983 3. b. Ruang lingkup Ruang lingkup pedoman ini meliputi petunjuk umum : pertolongan pertama pada : pingsan. Oleh karena itu pedoman ini sengaja dibuat rinci. 1989. Diagnosis dan Penilaian Cacat karena Kecelakaan dan Penyakit Akibat Kerja. Gramedia. shock akibat aliran listrik. Australia Atomic Energy Commision. Jakarta. Departemen Kesehatan Republik Indonesia (1985). 3. Ketidakmampuan (disability) adalah setiap keterbatasan atau berkurangnya kemampuan (sebagai akibat dari perlemahan) untuk melakukan aktivitas dengan cara atau dalam batas–batas yang dianggap normal untuk manusia. Kecelakaan adalah suatu kejadian yang tidak direncanakan yang dapat menyebabkan luka atau kerugian pada manusia dan benda yang disebabkan oleh suatu kejadian atau kondisi yang tidak terduga. Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional. 4. 2.BAB VIII MEDIK ____________________________________________________________ A. gigitan ular berbisa. Kecelakaan kerja adalah kecelakaan yang dialami oleh seorang karyawan semenjak ia meninggalkan rumah kediaman sampai menuju ke tempat pekerjaannya. . maupun sekembalinya dari tempat kerja menuju rumah kediamannya melalui jalan yang biasa ditempuh.

e. 10. 9. maka korban harus segera mendapatkan pertolongan pertama dari karyawan lainnya. identitas pelapor serta peristiwa kejadian. Apabila karena keadaan. Kepala Bidang K2 harus melaporkan kejadian tersebut kepada Kepala PTNBR. Apabila korban tidak bernafas. Korban dibawa ke tempat yang teduh dan aman dimana cukup tersedia udara bersih. Ujung-ujung jari kaki dan tangan. poliklinik tidak dapat menangani atau merawat korban. Atas dasar laporan tersebut. maka karyawan yang mula-mula mengetahui kejadian tersebut harus memberikan pertolongan pertama. harus segera menghubungi poliklinik PTNBR atau poliklinik yang terdekat dan kepala bidang K2 guna mendapatkan bantuan segera. Petunjuk Umum 1. Apabila terjadi kecelakaan di suatu unit atau daerah kerja. serta baju dan sepatunya dibuka. 7. 5. Kepala PTNBR akan mengirimkan laporan resmi kepada Deputi terkait tentang kecelakaan tersebut. Bila kecelakaan kerja menimpa seorang karyawan diluar kawasan atau lingkungan kerja. Kepala PTNBR akan meneliti sebab-sebab kecelakaan dan menentukan lebih lanjut langkah-langkah pencegahan agar kecelakaan serupa tidak terulang lagi. Dokter poliklinik yang bertugas harus pula membuat laporan kecelakaan dengan menyebutkan keadaan korban dan mengirimkan laporan tersebut kepada Kepala bidang K2. 5. 4. Pertolongan Pertama Pingsan Apabila ada seseorang yang pingsan pada waktu menjalankan tugas karena suatu kecelakaan. maka setiap karyawan ataupun pihak keluarga yang mengetahui kejadian tersebut harus memberitahukan ke Kepala PTNBR melalui atasan langsung/Kepala UPN/Kepala Bidang K2. Dokter poliklinik PTNBR akan mengirimkan laporan sembuh dengan menjelaskan tentang prosentase cacat atau keadaan lainnya dari korban kepada Kepala Bidang K2. 6. 2. 3. 3. Pernafasannya diperhatikan dengan melihat naik turunnya dada dan dinding perut dan mendengarkan dari dekat mulut korban. Ikat pinggang dilonggarkan. punggung dan perut dipanasi dengan botol . maka ia wajib melaporkan diri ke dokter poliklinik PTNBR dengan menyerahkan surat keterangan dari rumah sakit dan/atau dokter yang merawatnya kepada Kepala Bidang K2. 11. 2. Karyawan yang telah memberikan pertolongan pertama ataupun karyawan lain yang mengetahui kejadian tersebut. maka dokter yang bertugas akan mengirim korban ke unit gawat darurat RSU terdekat guna mendapatkan pertolongan lebih lanjut. 8. Atasan langsung tempat korban bekerja harus melaporkan kejadian tersebut secara tertulis kepada Kepala Bidang K2 menggunakan formulir laporan kecelakaan dalam waktu tidak lebih dari 24 jam. Setelah penderita sembuh atau tidak dirawat di rumah sakit. Pemberitahuan perihal terjadinya kecelakaan harus singkat dan jelas dengan menyebutkan lokasi kejadian. 4. kaos kaki dilepas. pernafasan buatan harus segera dilakukan. Langkah-langkah yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut : 1.

5. langkahlangkah yang dilakukan adalah sebagai berikut : 1. Spalk dipasang di kanan dan kiri dari bagian betis yang 2. Tulang kering betis : patah dan dibalut. 4. Jangan sekali-kali memecahkan kulit yang melepuh atau bengkak berisi air. Apabila seseorang terbakar bajunya. Jika perlu bawa korban ke poliklinik terdekat untuk mendapatkan tindakan yang medis yang lebih lengkap. Apabila perdarahan masih terus berlangsung. Tulang paha : Spalk dipasang di kanan dan kiri dari paha yang patah dan kemudian dibalut. Tulang lengan atas atau lengan bawah : Spalk dipasang di kanan dan kiri dari tangan yang patah dan kemudian dibalut. tekan bagian tepi dari luka dengan menempatkan perban steril di sekeliling luka dan balut.6. Tulang telapak tangan : Spalk dipasang disebelah punggung tangan dan kemudian dibalut. maka orang tersebut harus berguling-guling dipasir atau dibungkus selimut untuk mematikan apinya. maka jangan mencabut benda tersebut. Setelah itu ditolong seperti prosedur di atas. berisi air hangat. perban steril dan pembalut lain harap ditambahkan tetapi JANGAN MELEPAS YANG PERTAMA. 4. atau badan. Apabila seseorang terbakar api badannya dan kemudian pingsan. Selanjutnya tempat perdarahan dibalut dengan kuat untuk mencegah perdarahan lebih lanjut. Sebaiknya digunakan perban steril untuk menutup tempat perdarahan sebelum ditekan. 5. Kepada korban diberikan bau-bauan yang merangsang. maka pada tempat yang patah dipasang dua papan (spalk) dan kemudian diperban : 1. kemudian diselimuti. 6. Patah tulang Apabila terjadi kecelakaan yang mengakibatkan patah tulang. Setelah sadar. 2. logam. Tempat perdarahan ditekan dengan tangan secara hati-hati. Dalam kasus ini. Terbakar 1. kayu. Diletakkan bantalan di . kulit. 3. 3. Korban diterlentangkan atau dibaringkan dengan menegakkan atau meninggikan bagian yang luka (kecuali bila ada patah tulang). seperti : gelas. maka pertolongan pertama-tama diatasi pingsannya terlebih dahulu. Diletakkan bantalan di bagian punggung dan dibalut. Tulang leher : Penderita diterlentangkan menengadah. Jangan merobek atau menarik baju yang terbakar. Pendarahan Apabila seseorang mengalami kecelakaan yang mengakibatkan pendarahan. Tulang belakang: Penderita diterlentangkan menengadah pada tempat yang keras dan rata (papan). Setelah itu digendong dengan kain yang diikatkan pada leher. Setelah itu digendong dengan kain yang diikatkan pada leher. 3. bagian yang terbakar diolesi dengan vaselin atau levertran zalf. dan sebagainya. Apabila seseorang terpercik atau tersiram bahan kimia korosif pada bagian mata. 2. Apabila terdapat benda asing di tempat luka. segera disiram dengan air yang mengalir sebanyak-banyaknya selama minimal 15 menit.

Penolong berlutut di samping korban 3. korban diusahakan ditarik dengan tangan yang memakai sarung tangan karet anti listrik. Bila denyut jantung berhenti. 9. Diulangi sampai 12 – 14 kali tiap menit untuk orang dewasa. Nafas ditarik dalam-dalam (lebih kurang 2 kali nafas normal) mulut dibuka lebarlebar. Korban dibaringkan terlentang 2. tongkat anti listrik atau tali. Bila tidak bernafas. 3. 10. Tangan lainnya diletakkan pada jidat korban sedemikian rupa sehingga jempol dan telunjuk dapat menutup hidung 6. maka segera dilakukan pernafasan buatan. Pernafasan korban diperiksa dengan memperhatikan cara naik turunnya dada dan dinding perut dan mendengarkan dari dekat mulut korban. Segera setelah itu mulut penolong diangkat dari mulut korban dan hembusan dari korban dibiarkan berakhir dengan sendirinya. 18 – 20 kali untuk bayi dan anak – anak. diberikan pijat jantung (cardiac massage) Pernafasan buatan Apabila terjadi kecelakaan dan korban tidak bernafas. Setelah itu dipasang spalk seperti prosedur di atas. untuk nafas buatan adalah pernafasan mulut ke mukut atau nafas buatan mulut. Tangan dibawah leher diangkat dengan hati-hati sedangkan tangan pada dahi korban ditekan ke bawah.7. maka mula-mula tempat tulang yang keluar ditutup dengan perban steril kemudian dibalut. Mulut dan saluran nafas dibersihkan dari benda asing seperti permen karet. Kemudian ditentukan perlu tidaknya pijat jantung eksternal. Salah satu penolong diletakkan di bawah leher dengan posisi menyangga 5. Apabila aliran listrik tersebut tidak dapat diputuskan. kanan kiri batang leher yang patah dan kemudian dibalut. gigi palsu dan kotoran lainnya. Kejadian ini akan merentangkan leher korban dan membuka saluran nafas 7. Dalam hal ini selalu dimulai nafas buatan mulut terlebih dahulu. segera ditolong dengan pernafasan buatan. Korban dibebaskan dari aliran listrik dengan jalan memutuskan saklar yang langsung mengalirkan aliran listrik tersebut. Perlu diingatkan bahwa semua alat pertolongan tersebut harus kering dan jangan sentuh korban dengan tangan telanjang atau logam. Jika dada korban tidak menggembung. 2. dan teknik penyadaran yang baik untuk sirkulasi buatan yang baik adalah pijat jantung eksternal. Penolong menahan hingga dada korban menggembung. Pada patah tulang terbuka atau tulang kelihatan. CATATAN : Jangan coba memeriksa dengan menggerakkan bagian tubuh yang diduga patah ! Shock akibat aliran listrik 1. 4. Prosedur pertolongan pertama gawat darurat yang memadukan teknik nafas buatan dan teknik sirkulasi buatan dianggap tindakan penyadaran jantungparu yang paling baik. Prosedur teknik nafas buatan mulut 1. mulut penolong diletakkan di atas mulut korban dan udara dihembuskan 8. diperiksa apakah terdapat salah satu atau .

Tulang dada harus bergerak 3.. 12. Jari harus tetap jauh dari rusuk untuk menghindarkan patah. hendaknya mulut penolong segera diangkat setelah dada korban mengembung. Dilakukan penekanan pada atas tulang dada. Umumnya penyegaran pernafasan mulut ke mulut akan cukup menyebabkan pergerakan kembali jantung. agar tidak terjadi kerusakan. Jika dada masih tidak mampu menggembung. Jika tidak terdapat denyut nadi atau pupil mata terbuka lebar dan tidak berkerut. jempol dimasukkan ke dalam mulut dan rahang bawah dicengkeram diantara jempol dan jari dan rahang diangkat ke atas. Dada anak-anak tidak sekuat itu dan pijat jantung eksterna pada bayi dapat dikerjakan dengan dua jari sedangkan pada anak-anak lebih tua hingga hingga usia 10 biasanya satu tanganpun sudah mencukupi. Telapak salah satu tangan diletakkan pada tulang dada sepertiga lebih rendah (tanda “X” pada gambar 11) dan tangan lainnya di atas nadi. Pada anak-anak dan bayi jumlah udara yang diperlukan lebih sedikit. sedangkan mulut penolong diletakkan rapat di atas hidung korban 13. Jika penolong ragu-ragu meletakkan mulutnya di atas mulut korban. Tulang dada ditekan ke arah tulang belakang dengan menekan tangan ke bawah menggunakan bobot bagian tubuh sebelah atas. dan bekuan darah dikeluarkan. dalam hal ini jari dimasukkan ke dalam mulut korban dan benda asing. Tekanan ini kemudian dilepas cepat-cepat. Pijat jantung eksternal Setelah pernafasan mulut ke mulut dilakukan dengan 5 – 6 nafas cepat. pijat jantung eksternal dimulai.75 cm – 5 cm pada orang dewasa. muntahan. ditahan pada kedudukan ini sambil diteruskan melakukan pernafasan buatan. dalam hal ini kemungkinan letak mulut penolong tidak rapat pada mulut atau hidung korban. dalam hal ini hanya diperlukan jika jantung berhenti.lebih keadaan berikut ini dan harus diperbaiki. yakni. Denyut nadi diperiksa. dalam hal ini yang paling baik adalah denyut nadi karotid pada leher. mulut korban ditutup. dalam hal ini jika pupil mata terbuka lebar dan tidak berkerut jika terkena cahaya. 11. tangan diangkat dari leher. periksa untuk mengetahui apakah pijat jantung eksternal harus dimulai. pernafasan mulut ke mulut dengan memuaskan dapat dilakukan melalui sapu tangan. 80-100 kali tiap menit untuk anak-anak. Kebocoran udara. Siklus ini diulangi 60-80 kali tiap menit untuk orang dewasa. Tetapi. maka aliran darah ke otak tidak mencukupi. Pada bayi jumlah udara yang tertahan dalam dada penolong dapat mencukupi. Sumbatan saluran nafas korban. Pernafasan mulut-hidung dapat dilakukan dengan teknik sama kecuali tentunya. Sering kali denyut jantung dieriksa untuk mengetahui apakah jantung sudah mulai . sehingga udara bocor ke samping. arteri besar yang terletak dekat permukaan sisi samping jakun kiri kanan Pupil mata diperiksa.

dapat terjadi kematian jaringan. sehingga kulitnya berubah menjadi kehitam-hitaman disertai nyeri yang sangat. diberikan terapi antidotum. protein non-ensimatik dan zat-zat lain seperti asetilkolin dan shidroksi-triptamin. Kotak P3K 1. Kadang-kadang disertai kelumpuhan otot-otot pernafasan dan akhirnya pingsan atau meninggal dunia. Maksud pemberian antidotum ini adalah mengakhiri sentuhan racun atau menetralkan efek racun. Oleh karena itu setiap karyawan wajib membekali diri dengan pengetahuan dan keterampilan untuk keperluan itu. Agar tujuan tersebut dapat tercapai maka perlu diadakan kursus singkat dan pelatihan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K). . Kelemahan otot. Isi kotak P3K yang minimum harus ada adalah : Salep luka bakar 10 g Mercurochroom 25 ml Pembalut 25 g (bungkus plastik) Plester 0. Efek lokal : Ular berbisa meninggalkan dua atau kadang-kadang satu tanda gigitan ular taring yang khas. hanya sekitar 250 spesies yang berbisa. Tujuan Dalam menangani keracunan. Diare dsb. ANTIDOTUM a. B. Bisa ular mengandung enzim. bengkak dan sakit. Gejala-gejala akibat gigitan ular berbisa : 1. 2. Sistem Sistematik : Mual dan muntah Pusing dan berkunang-kunang karena tekanan darah turun. Kulit di tempat gigitan tersebut berwarna merah. Setelah beberapa hari. f. Gigitan ular berbisa Dari lebih dari 2000 spesies ular di dunia.5 inci Band aid Refagan/Aspirin Obat anti diare (Entrostop. sukar bicara dan sukar menelan sebagai akibat kelumpuhan otot-otot badan. Kursus singkat dan pelatihan ini sebaiknya dilakukan setiap setahun sekali baik bagi karyawan baru maupun karyawan lama (sebagai kursus penyegaran agar keterampilan tersebut tidak hilang) dan diorganisasikan oleh kepala satuan kerja yang ditunjuk dengan bantuan para dokter.bergerak kembali.) 1 tube 1 botol 2 bungkus 1 rol 10 buah 10 tablet 10 tablet 2. sedangkan gigitan ular tak berbisa meninggalkan tanda gigitan satu gigi yang berbentuk setengah lingkaran. disamping dilakukan berbagai tindakan. Kotak P3K ditempatkan di setiap tempat yang telah ditentukan. Pendidikan dan latihan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan adalah tindakan yang semestinya dapat dikerjakan oleh setiap orang. Beratnya efek toksik dari gigitan ular tergantung kepada jenis dan jumlah bisa yang digigitkan.

Ruang Lingkup Pedoman ini dibuat untuk awam. 2. oleh tubulus ginjal.1 mg/kg BB disertai minum air 200-300 ml Oral : dewasa 20 ml diikuti 200-300 ml pemberian dapat diulangi 1x setelah 20 menit. Daftar Antidotum Umum Sub kelas Jenis Tujuan Penggunaan Dosis Suntikan bawah kulit 0. Petunjuk Umum Tabel 8. Edisi I. diberikan 4-6 x sehari. zat pengasam dan pengakalis air kemih. Manual of Early Medical Treatment of Possible Radiation SS No. Untuk menghalangi serapan kembali Natrium bikarbonat . Dosis disesuaikan dengan monitor pH kemih Oral : dewasa 1-4 x sehari. d. Emetikum tidak boleh diberikan pada korban-korban yang tidak sadar (pingsan). Antidotum Spesifik adalah antidotum yang penggunaanya hanya sesuai untuk penawar racun spesific yang sesuai. Zat perangsang muntah (emetikum) adalah zat yang kerjanya merangsang pusat muntah pada batang otak. 25 IAEA. pada kasus-kasus keracunan bahan korosif kuat dan pada korban keracunan destilat minyak bumi. c. Oral : 30-100 gr dalam 250 ml air. Bahan Acuan 1. Departemen Kesehatan Republik Indonesia (1985). shock. 300mg- 1. termasuk senyawa uranium. sedangkan yang pemberiannya lewat injeksi harus dilakukan oleh dokter. Definisi Antidotum adalah suatu zat atau bahan yang berfungsi menetralkan efek racun. dapat diulangi jika dikehendaki Oral : dewasa 1 gr2gr. bahan penyerap racun.b. Apomorfin Rangsangan muntah Emetikum 2. e. Antidotum untuk logam yang paling efektif jika diberikan segera setelah terjadi keracunan logam berat atau sejenisnya. Antidotum Umum terdiri dari bahan/zat perangsang muntah. Efektifitasnya meningkat bila diberikan bersamaan dengan pemberian air sebanyak 200-300 ml. Sirup ipeka Rangsangan muntah terutama untuk anakanak Zat penyerap Karbon aktif Penyerap racun Zat pengasam kemih Zat pengakalis Amonium klorida Untuk menghalangi serapan kembali basa organik. Panduan Bahan Berbahaya.

8gr diberikan sebelum makan. Intravena : 2-5 mEq/kg BB.Sub kelas Jenis Tujuan Penggunaan asam organik oleh tubulus ginjal. tergantung respon. Ruang Lingkup Pemeriksaan Kesehatan pekerja radiasi bertujuan untuk : 1. PEMERIKSAAN KESEHATAN a. kita-kira 2. Dimercaprol Selatisasi logam berat beracun terutama Arsen Emas dan Air raksa.5 gr/m permukaan tubuh dibagi dalam 2 dosis. Deferoksaminamesilat Antagonis logam berat Selatisasi logam berat beracun terutama besi. pemeriksaan kesehatan selama masa . Suntikan intramuskulair 1 gr diikuti dengan dosis tiap 4 jam 500 mg. Yaitu. Untuk mengetahui apakah penyakit yang diderita oleh pekerja akibat kerja atau bukan. Mengetahui kondisi kesehatan pekerja radiasi baik sebelum. 4. Menyesuaikan penempatan pekerja dengan kondisi kesehatannya. Dosis Suntik : Intravena dewasa : 1. 2.55mg/kg BB diberikan suntikan intramuskulair. Pemeriksaan kesehatan ini dibedakan menjadi Pemeriksaan kesehatan sebelum masa kerja. C. Daftar Antidotum Spesifik Sub kelas Jenis Kalsium dinartrium edetat Tujuan Penggunaan Selatisasi logam berat beracun atau sejenisnya terutama. b. 3. Dosis diatur secara individual sesuai dengan respon. Menentukan apakah seseorang boleh bekerja sebagai pekerja radiasi atau tidak. Dosis 1. Dosis disesuaikan dengan monitor pH kemih. Spesifik Tabel 9. selama maupun sesudah masa kerja.

Safety Series No. 4. 1968. Pemeriksaan umum meliputi pencatatan data anthropometrik (tinggi dan berat badan. Pemeriksaan Medik meliputi : 1. Riwayat Kesehatan. Pemeriksaan THT. 25. paru-paru.kerja. IAEA. VIENNA. Pelaksana Pemeriksaan Kesehatan berkala dilaksanakan oleh SubBid Pelayanan kesehatan dan dikoordinasi oleh Bidang K2 2. Bahan Acuan 1. VIENNA. 5. IAEA. 2. 2003 d. Hasil pemeriksaan kesehatan karyawan disimpan oleh SubBid Pelayanan kesehatan . tekanan darah/tensi. 3. Pemeriksaan laboratorium : Pemeriksaan laboratorium ini meliputi pemeriksaan darah lengkap dan urine. Latar Belakang Keluarga. Penanggung jawab Pemeriksaan Kesehatan : 1. mulut/tenggorokan dan audiometri. Riwayat Pekerjaan. fungsi organ seperti jantung.Bidang K2 . Safety Series No. Petunjuk Jenis pemeriksaan Anamnesa : Pemeriksaan anamnesa dilaksanakan dengan menggunakan formulir khusus yang diisi dan ditanda tangani oleh karyawan yang diperiksa kesehatannya dan dokter pemeriksa. VIENNA. 1987. Pemeriksaan Sistim kardiovaskular : Pemeriksaan ini meliputi elektrokardiogram (EKG) pada keadaan istirahat. 3. Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan telinga. c.115 IAEA. 83. 6. Frekuensi Pemeriksaan Kesehatan Pemeriksaan Kesehatan secara lengkap dilakukan secara berkala sekurangkurangnya satu kali dalam setahun. Radiation Protection in Occupational Health. hidung. Medical Supervision of Radiation Worker. 3. Pemeriksaan Gigi. kelainan refraksi dan ishihara (buta warna). Pemeriksaan Medik . dan pemeriksaan kesehatan setelah masa kerja. 2. BSS No. Pemeriksaan Anamnesa meliputi : 1. Pemeriksaan Mata : Pemeriksaan mata meliputi visus. hati limpa dan anggota gerak. 2.

2. 2. Setiap barang yang dibawa seseorang atau diangkut dengan kendaraan harus dilaporkan dengan singkat dan jelas tentang sifat dan kondisi barang tersebut kepada petugas PAM yang berjaga untuk antisipasi dalam cara pengangkutan dan penyimpanannya di dalam kawasan. tidak direncanakan. 2. Petunjuk umum Tata Tertib Lalu Lintas Orang (Karyawan & Tamu) 1. . Tata Tertib Lalu Lintas Kendaraan dan Barang 1. 3. mahasiswa.BAB IX TATA TERTIB DI KAWASAN PTNBR ____________________________________________________________ a. konsentrasi dan kondisi dari sesuatu yang dapat menimbulkan bahaya atau kecelakaan. Definisi 1. penggunaan. tidak terkendali. yang dapat menyebabkan kerugian material ataupun penderitaan bagi yang ditimpanya. Alat deteksi adalah alat yang digunakan untuk mengetahui macam/jenis bahan. Keputusan Direktur Jenderal BATAN tentang Klasifikasi Kerahasiaan dan Pengamanan Bahan Keterangan. Penyimpanan. perlakuan dan pengawasan terhadap benda-benda kimia berbahaya mengikuti ketentuan-ketentuan yang diatur dalam Bahan Kimia. sarana dan prasarana kerja dari kecelakaan. 3. Alat penyelamat adalah alat yang digunakan untuk menyelamatkan orang. Kecelakaan adalah suatu kejadian yang mendadak. Setiap pengunjung (kontraktor. dan tamu) yang akan memasuki kawasan PTNBR harus melaporkan terlebih dahulu ke pos penjagaan dan wajib mengikuti peraturan yang berlaku selama berada di dalam kawasan PTNBR. kerusakan dan kemusnahan. Petunjuk keamanan dan ketertiban di lingkungan Badan Tenaga Nuklir Nasional. tidak dikehendaki. Bahan Acuan 1. Pengelolaan keselamatan dan keamanan kegiatan nuklir RSG-LP. b. c.

Setiap karyawan harus mengembalikan dan menempatkan pakaian kerja dan alat pelindung diri pada tempat yang ditentukan. Harun 5.M.K. 3. 3. Setiap karyawan dalam melakukan pekerjaan yang berbahaya atau memasuki tempat kerja yang berbahaya baik terhadap kesehatan maupun keselamatannya harus memakai alat-alat pelindung diri yang sesuai dengan jenis pekerjaannya dan tingkat bahaya yang dihadapinya. 4. Ruang Lingkup Pedoman umum tentang peralatan kerja dan alat pelindung diri adalah pedoman keselamatan dan kesehatan kerja yang wajib dipatuhi dan dilaksanakan dalam hal penanganan dan penggunaan pakaian dan peralatan pelindung dari bahaya kecelakaan kerja yang ada di PTNBR BATAN Bandung c.Sc. Sumakmur P. e.BAB X PAKAIAN KERJA DAN ALAT PELINDUNG DIRI ____________________________________________________________ a. Herry Soetopo 4. Tujuan Pemakaian alat pelindung diri pada waktu bekerja atau memasuki suatu tempat kerja bertujuan untuk melindungi setiap karyawan dari berbagai bahaya yang dapat menimpa dirinya dan/atau mengganggu pelaksanaan pekerjaanya. haruslah segera dilaporkan kepada Bidang K2 atau atasan langsungnya guna perbaikan atau mendapatkan penggantian dengan alat-alat pelindung diri yang baru. Setiap karyawan berkewajiban merawat dan memelihara alat pelindung diri yang diterimanya agar selalu dalam keadaan baik dan bersih. 2. alat pelindung yang jenisnya seperti yang termuat dalam daftar di bawah ini harus digunakan: .M. Sumakmur P. Setiap kerusakan alat pelindung diri. Bahan Acuan 1. Tia Setiawan. b. Jenis-Jenis Alat Pelindung Diri Untuk melindungi diri dari berbagai macam bahaya. Soemanto Imamkhasani. 2. Petunjuk 1. PhD Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan Higiene Perusahaan dan Keselamatan Kerja Alat-Alat Perlengkapan Keselamatan Kerja Keselamatan Kerja dan Tata Laksana Bengkel Buku Pedoman Keselamatan Kerja Bidang Kimia d. Dr.. Dr.K..Sc.

Penutup muka dari plastik. tangan. Alat pernafasan. Muka. Sepatu yang kondusif (yang menyalurkan aliran listrik) Penutup kepala plastik Goggles Penutup dari plastic Respirator khusus tahan kimiawi Sarung plastik/karet Pakaian plastik/karet. Jika mengancam jiwa: gas masker khusus dengan filter. Mata. tangan. karet berlengan panjang dan anggota-anggota badan itu diolesi dengan barrier cream. Goggle. Tubuh Betis. Sarung tangan asbes berlengan panjang. Gas. Tubuh. kaki. Mata-kaki. Pakaian karet. Tidak mengancam jiwa secara langsung : gas masker biasa. Mata Debu Muka Alat pernafasan Kepala Mata Muka Jari. Jenis Alat Pelindung Diri Faktor bahaya Tertimpa atau terantuk benda berat dan keras Tertimpa benda sedang & tidak berat. Jari. Sepatu kulit. Kepala Mata Muka Alat pernafasan Jari. plastik/bahan lain yang tahan kimiawi. kaki. mata kaki. Alat-alat proteksi diri Tungkai logam atau plastik lapisan pelindung (decker) dari kain. Helm plastik berlapis asbes. Jaket asbes/kulit. plastik atau kayu. Mata-kaki. . lengan. Tubuh. kaca mata. tungkai. Pelindung khusus dari plastik atau karet. fumes. logam. kulit. Kepala Kepala Mata Benda-benda beterbangan. Sepatu steelbox toe. tangan. Respirator/masker khusus. Sepatu karet. tungkai Mata-kaki. kaki. lengan Betis.Tabel 10. kaca mata sisi kanan kiri tertutup. betis. Goggles. asap. Jaket atau jas kulit Pelindung dari kulit. Helm kerja Helm kerja Goggle (=Kacamata yang menutupi seluruh samping mata) Tameng plastic Sarung tangan kulit berlengan panjang. Goggle. lengan Tubuh Betis. Sarung plastik. Pelindung dari plastik/karet. dan jari kaki. Penutup muka dari plastik. tungkai Pergelangan kaki. tungkai. Pelindung dari asbes. Percikan api atau logam. dsb. kaki Cairan dan bahanbahan kimia. tungkai. tangan. Penutup muka khusus. berlapis logam dan tahan api. Bagian tubuh yang perlu dilindungi Kepala. Muka Jari. lengan. Betis.

Jaket tahan api (asbes) atau kulit. berlengan panjang Jaket kulit Celana kulit dengan decker pada lutut dan pergelangan kaki Sepatu dilapisi baja. lengan Tubuh Betis. kaki Kepala Muka Dermatis. Sarung tangan plastik. Sepatu dilapisi baja. Penutup kepala plastik Sun block. Mata-kaki. betis. jari. sarung tangan karet. mata kaki Mata Mata Percikan api dan silau pada pengelasan. tangan. Sepatu dengan sol berisolator / bahan tahan panas. lengan Terpotong. tangan. kaki Kepala Jari. Goggle. muka Telinga Terpeleset. plastic Penutup karet. jatuh Listrik. karet berlengan panjang. zool kayu Penutup kepala plastik. plastik. Sarung tangan karet tahan sampai 10. pakaian. Kepala Jari. karet. . tungkai. Penutup muka dengan kacamata filter khusus. Kepala Jari. Pelindung yang bahayanya dari karet Penutup kepala Sarung tangan tahan api Jaket dari karet Celana tahan api atau decker. Goggle. Goggle dengan lensa tahan sinar infra merah Penutup kepala plastik. Tubuh. tangan. Muka Tubuh Kaki Kepala Penyinaran sedang Mata Muka Kepala Penyinaran kuat. tergosok Tubuh Betis.Faktor bahaya Bagian tubuh yang perlu dilindungi Kepala Lain-lain bagian Alat-alat proteksi diri Helm asbes.000 volt selama 3 menit. atau radang kulit Jari. Goggle. Kebisingan Mata. Sepatu karet. lengan Tubuh Betis. kacamata filter khusus. kaki. Pelindung muka khusus. zool kayu. Basah dan air Tangan. Sarung. tungkai. Earmuff Panas Kaki Mata Kepala. matakaki. lengan. dilapisi logam. mata kaki. Kaki. lengan. pelindung plastik. Kaki. kacamata dengan filter lensa. Tubuh. Sinar silau. Sun block. Penutup kepala khusus. tungkai. pelindung dari asbes atau bahan lain yang tahan panas/api. tangan. Pakaian khusus Sepatu boot karet Sepatu anti slip Helm kerja (logam) Sarung tangan kulit. Mesin-mesin. Goggle dengan filter khusus dari logam/plastik. tungkai. Penutup kepala khusus. kacamata dengan filter khusus.

id BANDUNG 40132 .BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL PUSAT TEKNOLOGI NUKLIR BAHAN DAN RADIOMETRI Jl.batan-bdg.71 Telp.(022) 250481 http://www. Tamansari No.go.(022) 2503997 Fax.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful