# 17

RANCANG BANGUN ALAT BANTU PROSES BELAJAR MENGAJAR
STATIKA DAN ANALISIS STRUKTUR METODE MATRIK
PADA SEKOLAH KEJURUAN DAN PERGURUAN TINGGI TEKNIK
DENGAN TINJAUAN STRUKTUR ELEMEN FRAME
(PORTAL BIDANG)

Sudarmono

Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Semarang
Jln. Prof. Soedarto, S.H., Tembalang Semarang 50275
Email : darmono_polines@yahoo.com

Abstract
This report presented the manufacture and tsting of the model aids the learning process matrix
method of structural analysis to review the structure of frame elements (portals). The process of
measuring stresses in the structures of degrees of freedom (DOF) which consists of a horizontal
translation, vertical and rotation (rotation angle), the measurement is done by calculating the
rotational movement of the vertical to the horizontal, so that the measurement of displacement is
happening quite done it horizontally and vertically with the help of a dial gauge. Pattern load acting
on the structure of this new experiment carried out with the assumption of horizontal loads such as
earthquake load behavior of a node placed on the first floor. The amount of load on a node is 1 to
30 kgf. From the experimental result show that the displacement difference between testing with the
theoretical results and software SAP90 still within reasonable limits. Therefore based on these
results can be used for tools and practice aids analysis of the structure matrix method. But to
complement these tools in order to obtain a high precision strain gauge required (strain gauge) and
longer data recorder.

Keywords : models, tools, fame structure (portal), DOF, translation, rotation, ASMM

PENDAHULUAN
Struktur adalah suatu kerangka utama sistem
bangunan yang akan menyangga beban dari
elemen yang lain baik secara langsung maupun
bangunan dapat dipersamakan dengan struktur
jabatan pada suatu institusi baik swasta maupun
negeri, misalnya struktur jabatan institusi pada
politeknik dapat dianalogikan dengan struktur
pada bangunan gedung, balok induk identik
dengan ketua jurusan, kolom dengan asisten
direktur, dan pondasi sebagai direktur sehingga
di pundak direkturlah semua tanggung jawab
institusi politeknik.

Dalam penyerapan suatu materi kuliah
terkadang mudah diterima tanpa dengan alat
bantu dan atau sangat diperlukan alat bantu.
Mata kuliah analisis struktur metode matrik
merupakan salah satu mata kuliah yang sangat
memerlukan alat bantu peraga guna
mempermudah pemahaman materi. Karena
dasar utama teori analisis struktur metode
ditunjukkan dengan DOF (degree of freedom).
DOF ini dapat berupa perpindahan translasi
maupun rotasi. Pada struktur truss perpindahan
yang terjadi hanya berupa translasi, sedangkan
yang dalam merespon gaya hanya akan diterima
sebagai gaya aksial. Pada struktur portal (frame)
perpindahan yang terjadi dapat berupa translasi
maupun rotasi.

18 Wahana TEKNIK SIPIL Vol. 14 No. 1 April 2007: 17-28

Tujuan utama analisis struktur adalah untuk
menentukan gaya luar dan gaya dalam dari
sistem struktur yang akan dipergunakan untuk
memperkirakan dimensi penampang elemen
struktur tersebut. Gaya-gaya dalam yang
merupakan respons struktur terhadap gaya luar
dapat dibedakan menjadi gaya aksial, lentur ,
dan gaya puntir.

Gaya aksial akan bekerja pada elemen struktur
searah dengan sumbu batang berupa gaya tarik
atau tekan, sedangkan gaya lentur akan bekerja
memutar sumbu selain aksial, My dan atau Mz,
gaya puntir bekerja memutar sumbu aksial
batang (Mx). Selanjutnya dengan melihat
perilaku elemen dalam merespons gaya luar
yang bekerja padanya, maka dibedakan elemen
berikut, yaitu elemen aksial, elemen lentur, dan
elemen torsi. Elemen-elemen tersebut akan
membentuk sistem struktur rangka, portal
bidang, balok grid, dan portal ruang bergantung
jumlah elemen yang digunakan.

Dalam menganalisis struktur terdapat beberapa
pemodelan yang bertujuan untuk menyeder-
hanakan masalah, antara lain pada elemen frame
suatu batang elemen dianggap sebagai suatu
garis yang tidak mempunyai dimensi tebal dan
lebar. Hal ini menyebabkan analisis tidak sesuai
dengan kondisi sebenarnya dari struktur
tersebut. Namun, analisis lebih lanjut dari model
struktur yang meninjau tebal dan lebar elemen
akan lebih tepat disebut elemen kontinum baik
menggunakan elemen shell maupun solid.

Elemen aksial adalah suatu elemen struktur
yang di dalam merespons gaya luar akan
diterima sebagai gaya tarik atau tekan yang
bekerja searah dengan sumbu elemen. Secara
singkat model elemen aksial digambarkan
sebagai berikut.

Gambar 1 Model Elemen Aksial

Elemen lentur adalah elemen apabila ditinjau dari
sifatnya dalam merespons gaya berupa momen
lentur dan atau gaya lintang atau dengan kata lain
repons perpindahan yang terjadi berupa displacemen
dan putaran sudut ujung batang. Model elemen
tersebut ditunjukkan konfigurasi gambar berikut.

Gambar 2 Model Elemen Lentur

Contoh model dari sistem struktur yang
menggunakan model elemen ini adalah balok di atas
dua tumpuan (simple beam), sistem portal dua
dimensi, portal tiga dimensi dan balok grid.

Elemen torsi adalah elemen dimana dalam
merespons gaya selalu memutar sumbu elemen
(batang) sehingga perpindahan yang terjadi berupa
putaran sudut. Gaya torsi ini pada struktur banyak
dijumpai pada sistem portal balok tepi, balok tengah
dengan bentang yang saling berseberangan tidak
sama panjang dan as pemutar pada mesin.

Dalam kenyataannya akan dijumpai sistem struktur
(portal) yang merupakan gabungan dari beberapa
elemen, yaitu portal 3D, 2D, dan balok grid.
a. Portal 3D merupakan portal yang menggunakan
elemen paling komplit dalam memodelkannya.
Struktur portal ini terdiri dari elemen aksial,
lentur My dan Mz serta momen torsi Mx.
b. Portal 2Dl ini merupakan penyederhanaan dalam
mengalisis struktur portal 3D apabila dipenuhi
kondisi, yaitu susunan portal bersifat simetris
sehingga model 2D dapat mewakili portal yang
lain. Portal 2D ini terdiri dari elemen aksial dan
elemen lentur My atau Mz.
c. Balok Grid merupakan perpindahan yang terjadi
pada sistem ini berupa displacement dan lentur.
Struktur ini merupakan portal bidang pada bidang
dua sumbu koordinat mendatar.

Berdasarkan jenis elemen yang digunakan sering
dibedakan sistem struktur antara lain sistem struktur
rangka batang bidang (plane truss), rangka batang
ruang (space truss), portal bidang, portal ruang, dan
balok grid serta struktur pelat dan cangkang (
sumbu elemen atau
x
z
y
Dz
My My
Dz
RANCANG BANGUN ALAT BANTU PROSES BELAJAR MENGAJAR……..(Sudarmono ) 19

biasanya dianggap non struktural ). Dalam analisis
sistem struktur dapat juga dilakukan analisis antara
elemen frame dengan elemen kontinum secara
bersamaan artinya, antara elemen frame dengan
elemen kontinum disuperposisikan, dengan
menjumlahkan gaya dan perpindahan yang sesuai.
Analisis ini biasanya menggunakan cara diskret
(cara ini sering dipakai pada analisis struktur metode
elemen hingga). Penggunaan elemen pada sistem
struktur tersebut dapat disajikan dalan Tabel 1.

Tabel 1. Sistem Struktur
Sistem Model Elemen Kek. Elemen
Portal Ruang

[k]
12x12
{d}
12x1
={f}
12x1

Portal bidang

[k]
6x6
{d}
6x1
={f}
6x1

Grid

[k]
6x6
{d}
6x1
={f}
6x1

Rangka ruang

[k]
2x2
{d}
2x1
={f}
2x1

Rangka bidang

[k]
2x2
{d}
2x1
={f}
2x1

Banyak metode yang dapat digunakan didalam
mengalisis struktur dari yang paling sederhana
sampai yang rumit dan detail. Namun, secara garis
besar dapat dibedakan dengan dua cara, yaitu cara
pendekatan dan cara eksak. Yang termasuk dalam
kelompok cara pendekatan adalah cara cross,
Takabeya, Claperron, kani, dan lain-lain.

Cara-cara tersebut dalam mendapatkan gaya elemen
dilakukan dengan cara iterasi berupa momen ujung
batang, selanjutnya dari momen ujung batang
tersebut diperoleh gaya-gaya yang lain berupa gaya
aksial dan lintang. Cara ini biasanya hanya terbatas
untuk menganalisis struktur dua dimensi, artinya di
dalam analisis akan dilakukan penyederhanaan,
misalnya struktur dianggap terwakili oleh portal dua
dimensi.
Pada cara eksak antara lain metode matrik, metode
elemen hingga, dan metode beda hingga disebut cara
eksak dikarenakan di dalam mendapatkan gaya-gaya
dalam pada elemen akan diperoleh secara langsung
dari sistem persamaan yang melibatkan propertis
penampang elemen. Cara ini sekarang berkembang
pesat setelah ditemukan komputer sehingga derajat
kebebasan struktur tidak menjadi kendala dalam
mencari invers matrik kekakuan struktur. Bahkan,
dalam metode diskret elemen hingga suatu struktur
dapat dibuat DOF dari yang terkecil sampai terbesar
dengan menambah joint-joint tambahan. Joint-joint
tambahan tersebut bersifat nonmandatory, artinya
hanya diperlukan bila ingin mendapatkan free body
yang lebih rinci pada tiap jarak tertentu, misalnya
tiap 50 cm atau tiap 1 meter. Jika kita mempunyai
panjang elemen 5 meter, maka dengan 5 joint
d2,f2
d1,f1
d4,f4
d5,f5
d3,f3
d7,f7
d8,f8
d9,f9
d10,f10
d6,f6
d11,f11 d12,f12
d1,f1
d2,f2
d3,f3
d4,f4
d5,f5
d6,f6
d1,f1
d2,f2
d3,f3
d4,f4
d5,f5
d6,f6
d1,f1
d2,f2
d1,f1
d2,f2
20 Wahana TEKNIK SIPIL Vol. 14 No. 1 April 2007: 17-28

tambahan akan diperoleh detail free body tiap 1
meter dan seterusnya.

Analisis struktur metode matrik merupakan cara
langsung mendapatkan gaya-gaya dalam elemen
struktur. Hal terpenting dalam metode ini adalah
menentukan kekakuan elemen lokal, kekakuan
elemen struktur (global), dan menjumlahkannya
perpindahan nodal struktur akibat bekerjanya gaya.
Banyak metode yang digunakan untuk mendapatkan
kekakuan elemen, antara lain metode slope
deflection, dan metode energi.

Berdasarkan uraian di atas ternyata cukup sulit bagi
mahasiswa untuk dapat menyerap secara cepat
materi kuliah analisis struktur metode matrik. Oleh
karena itu, pada penelitian ini telah dibuat model
alat bantu guna mempermudah penyerapan dalam
proses belajar mengajar. Prinsip model alat ini
adalah dengan cara mengukur perpindahan (DOF)
baik secara mendatar, vertikal, maupun rotasi. Alat
akan dibuat untuk model elemen frame portal
berupa portal 2 dimensi sampai 2 tingkat. Iahap
berikutnya akan diteruskan dengan model portal 3
dimensi yang dilengkapai dengan pengukuran
dengan strain gage dan perekam digital.

Hingga saat ini belum ada peralatan model peraga
(dof) pada analisis struktur metode matrik. Dengan
dibuatnya alat ini, maka kita dapat membandingkan
pola perilaku deformasi struktur dari teori dan
eksperimen secara langsung. Oleh karena itu, perlu
dilakukan rancang bangun model alat pengukur
deformasi untuk mendapatkan nilai perpindahan
sesuai arah DOF yang diasumsikan. Dengan adanya
alat ini proses belajar mengajar dapat memberikan
gambaran secara jelas kepada mahasiswa mengenai
perilaku DOF (Derajat Kebebasan Struktur) pada
analisis struktur metode matrik. Rancang Bangun
model alat untuk mengukur deformasi pada analisis
struktur metode matrik didasarkan asumsi berikut,
yaitu:
a. teori elastisistas masih berlaku;
b. selama pembebanan material masih berperilaku
elastis;
c. penampang rata tetap rata sebelum dan sesudah
penegangan (azas Bernoulli dan Navier);
d. adapun bentuk model yang akan digunakan
dalam pembuatan model ini adalah :
1. bahan pelat strip tebal 5 mm lebar 24 mm dari
baja mutu standar;
2. pengukuran dilakukan secara manual untuk
menentukan perpindahan mendatar dan
vertikal yang ditunjukkan dengan kertas
milimeter, sedangkan untuk kontrol rotasi
dihitung berdasarkan perpindahan vertikal dan
perpindahan horizontal dengan alat ukur dial;
3. nilai perpindahan yang didapat digunakan
untuk membandingkan hasil perhitungan
secara teoritis (metode matrik);
4. gambar secara singkat model adalah sebagai
berikut.

Gambar 3a. Model Struktur Portal Satu Tingkat

Gambar 3b. Model Portal 2 Dimensi 2 Lantai

Secara ringkas tujuan penelitian ini adalah
membuat alat bantu kuliah bagi mahasiswa
dalam pembelajaran mata kuliah Analisis
Struktur Metode Matrik dengan membuat model
alat peraga dan menunjukkan gambaran perilaku
perpindahan joint pada struktur dengan elemen
frame khususnya portal 2Dimensi. Dengan
kompetensi kelulusan mahasiswa Politeknik
Negeri Semarang dalam bidang analisis struktur
dalam perencanaan bangunan, melatih
kemandirian staf pengajar untuk menciptakan
sendiri peralatan penunjang yang diperlukan
dalam proses belajar mengajar, dan dapat
H
39,5 cm
39,5 cm
39,5 cm
34,5 cm
2x39,5 cm
H
2
H
1
RANCANG BANGUN ALAT BANTU PROSES BELAJAR MENGAJAR……..(Sudarmono ) 21

meningkatkan kompetensi diri pengajar dalam
proses tranfer ilmu pengetahuan dan teknologi

Analaisis struktur metode matrik secara umum
dibedakan dalam dua metode, yaitu metode
gaya (fleksibilitas) dan metode perpindahan
(kekakuan). Metode gaya dalam penyusunan
persamaan matrik strukturnya didasarkan
perpindahan satu satuan yang selaras. kemudian
nilai perpindahan yang selaras tersebut
digunakan untuk mendapatkan matrik gaya
nodal, sedangkan metode perpindahan didalam
persamaan matrik struktur didasarkan pada gaya
nodal ekivalen yang besarnya bergantung pada
beban yang bekerja. Dengan beban nodal yang
diketahui atau dari beban bentang yang
dikonversi ke beban nodal tersebut selanjutnya
digunakan untuk mendapatkan perpindahan titik
nodal dan pada akhirnya untuk mencari gaya
elemen baik dalam sumbu global maupun dalam
sumbu lokal.

[f]{P} = {X}, di mana [f]= matrik
fleksibilitas (invers dari matrik kekakuan), {P}=
matrik gaya, dan{X}= matrik perpindahan,
sesuai dengan dof struktur yang biasanya
diasumsikan satu satuan.

(kekakuan). Metode ini merupakan metode yang
paling disukai banyak orang karena
kemudahannya untuk ditetapkan dalam program
komputer, yaitu [K]{D} = {P}, dimana [K] =
matrik kekakuan struktur,{D}= matrik per-
pindahan titik nodal, dan {P} = matrik gaya
nodal. Penurunan matrik kekakuan elemen
dapat dilakukan dengan beberapa metode, yaitu
metode energi, metode deformasi. Selajutnya
penurunan matrik kekakuan elemen yang
digunakan dalam struktur terutama elemen
frame (terdiri dari elemen aksial, elemen lentur,
dan elemen torsi). Matrik kekakuan elemen
frame dalam penurunan persamaan dibedakan
dalam tiga elemen dasar, yaitu elemen aksial,
lentur, dan torsi. Penurunan akan menggunakan
metode deformasi yang didasarkan pada hukum
Hooke untuk elemen aksial serta teori slope
deflection untuk elemen lentur serta teori geser
torsi. Penurunan persamaan elemen kekakuan
dengan metode energi perlu pemahaman
diferensial dan intergral matrik, terutama untuk
mencari integrasi fungi bentuk yang dihasilkan
dari teori elemen hingga.

Suatu konstruksi bangunan yang menerima
pembebanan baik beban bentang maupun beban
pada titik nodal, maka konstruksi tesebut akan
mengalami deformasi. Besarnya deformasi ini
sangat dipengaruhi oleh propertis elemen
struktur tersebut. Propertis penampang ini
kekakuan elemen aksial, kita tinjau gambar
model struktur yang menerima gaya aksial
berikut :

Gambar 4 Model Deformasi Elemen Axial
Untuk mendapatkan hubungan gaya, kekakuan,
dan perpindahan ditinjau masing-masing gaya
yang menyebabkan deformasi yang didasarkan
pada hukum Hooke F = k. x , di mana
F = gaya, k= konstanta sesuai
elemen (kekakuan elemen), dan x = perpindahan
yang sesuai. Kukum Hooke hanya akan berlaku
apabila material bersifat elastis linier.
Pengertian material elastis linier, elastis
nonlinier, dan plastis dapat dijelaskan dari
grafik hubungan tegangan regangan berikut.

Gambar 5 Grafik Tegangan Regangan
A,E B
A
NB
NA
x x
1
σ σ
σ
Elastis Linier Elastis non Linier
Plastis
ε ε
ε
22 Wahana TEKNIK SIPIL Vol. 14 No. 1 April 2007: 17-28

Selanjutnya untuk mendapatkan matrik
kekakuan elemen diturunkan dengan
memisahkan akibat gaya NA dan reaksinya
yang sepadan di titik B serta gaya NB dan
reaksinya di titik A sebagai berikut :

a. Akibat gaya NA, mengakibatkan
perpendekan sebesar x
1

Gambar 6 Matrik Elemen Aksial Gaya NA
Dari keseimbangan gaya diperoleh hubungan
gaya sebagai berikut :
1
x
L
AE
NA = ……………………………..... (1)
1
x
L
AE
NB − = ……………………………... (2)

b. Akibat gaya NB, mengakibatkan
perpanjangan x
2

Gambar 7 Matrik Elemen Aksial Gaya NB
2
x
L
AE
NA − = …………………………….. (3)
2
x
L
AE
NB = ……………………………… (4)
Dengan mensuperposisikan kempat kondisi
tersebut didapat persamaan :

2 1
2 1
x
L
AE
x
L
AE
NB
x
L
AE
x
L
AE
NA
+ − =
− =
……………………… (5)
Atau dalam bentuk matrik :

)
`
¹
¹
´
¦

=
)
`
¹
¹
´
¦
2
1
x
x
L
AE
L
AE
L
AE
L
AE
NB
NA
………….. (6)
atau secara umum

x
x
K K
K K
NB
NA
2
1
22 21
12 11
)
`
¹
¹
´
¦

=
)
`
¹
¹
´
¦
…………. (7)

di mana {N}= Matrik gaya nodal ujung, [K]=
matrik kekakuan (selalu simetris), kecuali
dimensi penampang berubah, dan {x}= matrik
perpindahan
atau

=
1 1
1 1
L
AE
k …………………………… (8)
Persamaan (7) disebut sebagai persamaan
matrik kekakuan elemen aksial.

Jika batangnya lebih dari satu yang dirangkai
dalam satu konstruksi, maka cara
penyelesaiannya juga sama dengan berpegang
prinsip setiap gaya aksi akan menimbulkan
reaksi yang berlawanan arah dengan aksi
tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa kekakuan
elemen menjadi bagian kekakuan dari struktur
gabungan atau dengan kata lain bila struktur itu
terdiri dari beberapa elemen, maka kekakuan
struktur merupakan penjumlahan dari kekakuan
elemen yang didasarkan acuan sumbu yang
pada elemen-elemen yang saling koneksi dalam
suatu nodal.

Gambar 8 Matrik Gabungan Elemen

Dengan cara yang sama seperti pada persamaan
(5 dan 6), yaitu dengan mengekang tumpuan
lain bila tumpuan 1 diberi F1 kemudian F2
A,E B A
NB
NA
l

x
1
A,E
B
A
NB NA
l

x
2
A
3

2
A
F
3
F
1
x
x
1
L
3

A
2
A
1

F
2

x
L
2
L
1

3
1
RANCANG BANGUN ALAT BANTU PROSES BELAJAR MENGAJAR……..(Sudarmono ) 23

tumpuan 1 dan 3 dikekang dan terakhir diberi
gaya F3 dengan mengekang tumpuan 1 dan 2
diperoleh persamaan :

3
3
3 3
3
2
2 2
2
2
2 2
1
3 3
3
3
2
2 2
2
2
2 2
2
1
1 1
1
1
1 1
2
3
1
1 1
1
3
3 3
2
1
1 1
1
1
1 1
1
x
L
E A
x
L
E A
x
L
E A
x
3 L
E A
F
x
L
E A
x
L
E A
x
L
E A
x
L
E A
F
x
L
E A
x
L
E A
x
L
E A
x
L
E A
F
+ + − − =
− + + − =
− + − =
(9)
Jika
3
3 3
2
2
2 2
2
1
1 1
1
L
E A
k dan
L
E A
k ,
L
E A
k = = =
F
1
= (k
1
+k
3
)x
1
– k
2
x
2
– k
3
x
3

F
2
= -k
1
x
1
+ (k
1
+k
2
)x
2
– k
2
x
3

F
3
= -k
3
x
1
– k
2
x
2
+ (k
2
+k
3
) x
3

atau dalam bentuk matrik menjadi :

¦
)
¦
`
¹
¦
¹
¦
´
¦

+ − −
− + −
− − +
=
¦
)
¦
`
¹
¦
¹
¦
´
¦
3
2
1
3 2 2 3
2 2 1 1
3 2 3 1
3
2
1
x
x
x
k k k k
k k k k
k k k k
F
F
F
(10)

Matrik kekakuan pada persamaan 10 di atas
masih merupakan matrik kekakuan elemen
dalam sumbu lokal, untuk menyusun matrik
struktur diperlukan matrik kekakuan elemen
dalam sumbu global yaitu dengan bantuan
matrik transformasi yang meng-hasilkan matrik
kekakuan elemen dalam sumbu global untuk
elemen aksial sebegai berikut.
| |

− −
− −
− −
− −
=
2 2
2 2
2 2
2 2
s cs s cs
cs c cs c
s cs s cs
cs c cs c
L
EA
K ….. (11)

Selanjutnya dengan menyelesaikan persamaan
(2) kita dapat menghitung gaya batang baik
berdasarkan sumbu local maupun sumbu global.

Sedangkan untuk elemen lentur dapat
dinyatakan dengan meninjau suatu elemen balok
AB yang menerima beban luar adalah
a. beban tengah bentang q(x)
b. beban ujung M
A
, V
A
, N
A
, dan M
B
, V
B
, N
B

Gambar 9 Model Elemen Lentur

maka persamaan deferensial penentu dari
) x ( q
dx
y d
EI
4
4
= ……………………….. (12)
Apabila yang bekerja hanya beban-beban ujung,
0
dx
y d
EI
4
4
=
maka selanjutnya dengan melakukan integrasi
empat kali akan diperoleh persamaan gaya
lintang, momen, sudat putar, dan lendutan
dengan urutan integrasi berikut.

0
dx
y d
EI
4
4
= (beban merata) …………… (12)
1
3
3
C
dx
y d
EI = (gaya lintang) ……………. (13)
2 1
2
2
C x C
dx
y d
EI + = (momen lentur) …… (14)
3 2
2
1
C x C
2
x
C
dx
dy
EI + + = (rotasi) …….. (15)
4 3
2
2
3
1
C x C
2
x
C
6
x
C EI + + + = (lendutan) (16)
q(x)
E,A,I,L
E,A,I,L
V
M
V
M
y

x

y
A
y
B
θ
B
θ
A
24 Wahana TEKNIK SIPIL Vol. 14 No. 1 April 2007: 17-28

C
1
, C
2
, C
3
, dan C
4
dicari berdasarkan kondisi batas alam elemen
(boundary condition), yaitu berupa perpindahan
(displacement) dan rotasi ujung batang pada x =
0 dan x = L berikut.
A
dan θ
A.

Dengan memasukkan ke persamaan (16)
didapat :

y = C
4
= y
A
…………………………. (17)

A 3
0 x
sudut putaran C
dx
dy
EI θ = = =

=
… (18)
B
dan θ
B

B 4 3
2
2
3
1
y C L C L C
2
1
L C
6
1
y = + + + = …. (19)
B 3 2
2
1
L x
C L C L C
2
1
dx
dy
EI θ = + + =

=
… (20)
4
= y
A
dan C
3
= θ
A

Selanjutnya dengan mesubstitusikan nilai C
4

dan C
3
kedalam persamaan (9c dan 9d) didapat
persamaan dengan variabel C
1
dan C
2
yang
merupakan dua persamaan dengan dua varibel,
sehingga nilai C
1
dan C
2
dapat diperoleh dengan
eliminisi kedua variabel secara bergantian
berikut.

a. Eliminasi C
2
didapat C
1

( ) ( )
B
2
B
3
A
2
A
3
1
B A B A
3
1
A A
3
1 B B
A 2
2
1 B
A A
2
2
3
1 B
L
6
y
L
12
L
6
y
L
12
C
L
2
1
y y
L
12
C
y L *
2
1
L C
12
1
L
2
1
* y
______ __________ __________ __________
L
2
1
x L C L C
2
1
y L L C
2
1
L C
6
1
y
θ + − θ + =

θ + θ + − =
+ θ + − = |
¹
|

\
|
θ −

θ + + = θ
+ θ + + =

b. Eliminasi C
1
didapat C
2

Dengan cara yang sama, mengalikan dengan
L/3 :
( )
B B
2
A
2
A
2
2
B A B A
2
2
A A
2
2 B B
A 2
2
1 B
A A
2
2
3
1 B
L
2
y
L
6
L
4
y
L
6
C
L *
3
1
L *
3
2
y y
L
6
C
y L *
3
2
L C
6
1
L
3
1
* y
______ __________ __________ __________
L
3
1
x L C L C
2
1
y L L C
2
1
L C
6
1
y
θ − + θ − − =

θ − θ − + − =
+ θ + = |
¹
|

\
|
θ −

θ + + = θ
+ θ + + =

Mengingat hubungan gaya dengan deformasi
persamaan (14 dan 15) serta free body elemen,
yaitu nilai M
A
B
posistif, sedangkan gaya
lintang ditinjau dari kiri V
A
positif dan V
B

negatif sehingga didapat persamaan berikut.
2
2
A
dx
y d
EI
M
= − dan
3
3
A
dx
y d
EI
V
=

θ + − θ + = − =
=

= −

θ + − θ + = =
=

=
=
=
B B A A
2
2 A
2
0 x
2
2
A
B
2
B
3
A
2
A
3
1 A
1
0 x
3
3
A
L
2
y
2
L
6
L
4
y
L
6
EI EI C M
C
dx
y d
EI
M
L
6
y
L
12
L
6
y
L
12
EI EI C V
C
dx
y d
EI
V

θ + − θ + =
+ =

=

θ − + θ − − =
= = + =

= −
=
=
B B
2
A A
2
B
2 1
L x
2
2
B
B
2
B
3
A
2
A
3
B
B A 1
L x
3
3
B
L
4
y
L
6
L
2
y
L
6
EI M
C L C
dx
y d
EI
M
L
6
y
L
12
L
6
y
L
12
EI V
0 q karena 0, V V syarat atau C
dx
y d
EI
V
Apabila keempat persamaan tersebut disusun
dalam bentuk matrik menghasilkan
RANCANG BANGUN ALAT BANTU PROSES BELAJAR MENGAJAR……..(Sudarmono ) 25

¦
¦
)
¦
¦
`
¹
¦
¦
¹
¦
¦
´
¦
θ
θ

− − −

=
¦
¦
)
¦
¦
`
¹
¦
¦
¹
¦
¦
´
¦
B
B
A
A
Z
2
Z Z
2
Z
2
Z
3
Z
2
Z
3
Z
Z
2
Z Z
2
Z
2
Z
3
Z
2
Z
3
Z
B
B
A
A
y
y
L
EI 4
L
EI 6
L
EI 2
L
EI 6
L
EI 6
L
EI 12
L
EI 6
L
EI 12
L
EI 2
L
EI 6
L
EI 4
L
EI 6
L
EI 6
L
EI 12
L
EI 6
L
EI 12
M
V
M
V

− − −

=
L
EI 4
L
EI 6
L
EI 2
L
EI 6
L
EI 6
L
EI 12
L
EI 6
L
EI 12
L
EI 2
L
EI 6
L
EI 4
L
EI 6
L
EI 6
L
EI 12
L
EI 6
L
EI 12
k
Z
2
Z Z
2
Z
2
Z
3
Z
2
Z
3
Z
Z
2
Z Z
2
Z
2
Z
3
Z
2
Z
3
Z
(21)
dan k disebut sebagai matrik kekakuan elemen
lentur. Gabungan (superposisi) antara elemen
axial dan elemen lentur menghasilkan matrik
kekakuan elemen portal dua dimensi dalam
sumbu lokal, dengan persamaan sebagai berikut.

Gambar 10 Elemen Portal Dua Dimensi dalam
Sumbu Lokal

− − −

=
¦
¦
¦
¦
¦
)
¦
¦
¦
¦
¦
`
¹
¦
¦
¦
¦
¦
¹
¦
¦
¦
¦
¦
´
¦
L
EI 4
L
EI 6
0
L
EI 2
L
EI 6
0
L
EI 6
L
EI 12
0
L
EI 6
L
EI 12
0
0 0
L
EA
0 0
L
EA
L
EI 2
L
EI 6
0
L
EI 4
L
EI 6
0
L
EI 6
L
EI 12
0
L
EI 6
L
EI 12
0
0 0
L
EA
0 0
L
EA
f
f
f
f
f
f
Z
2
Z Z
2
Z
2
Z
3
Z
2
Z
3
Z
Z
2
Z Z
2
Z
2
Z
3
Z
2
Z
3
Z
6
i
5
i
4
i
3
i
2
i
1
i

¦
¦
¦
¦
)
¦
¦
¦
¦
`
¹
¦
¦
¦
¦
¹
¦
¦
¦
¦
´
¦
6
5
4
3
2
1
d
d
d
d
d
d
.............................................. (22)
Persamaan (21) tersebut merupakan persamaan
matrik elemen struktur dalam sumbu lokal
dimana tanda superscrip 1 s.d. 6 menyatakan
nomor unsur perpindahan dan rotasi dan i
menyatakan kode nomor elemen. Selanjutnya
dengan menyusun matrik kekakuan elemen dari
persamaan (22) dan menyelesaikan persamaan
matrik struktur (2) didapat hasil teoritis untuk
dikomparasi dengan percobaan.

METODE PENELITIAN
Pengembangan teori analisis struktur metode
matrik dan mekanika bahan (mechanics of
materials) akan menjadi acuan utama untuk
pembuatan model alat pengukur deformasi pada
joint dalam penelitian ini, yaitu masalah
pengukuran perpindahan secara manual. Di
samping itu, teori deformasi dan slop deplection
juga menjadi dasar dalam penentuan matrik
kekakuan elemen aksial dan elemen lentur
untuk penelitian selanjutnya [1,2,3,4,7].
Penentuan dimensi model dimulai dari studi
pustaka dan teori-teori pendukung agar tidak
perilaku model yang dihasilkan dengan kondisi
sebenarnya, oleh karena itu diperlukan konversi
dan verifikasi dari hasil pengujian model.

Setelah studi pustaka dan pendimensian model
perlu adanya pengujian bahan untuk mengetahui
properties elemen terutama modulus Elastisitas.
Untuk menganalisis alat pengukur deformasi
joint pada sistem rangka batang sesuai dengan
dof, dibawah ini merupakan ringkasan langkah-
langkah penelitian :
a. penentuan sifat material dan dimensi
struktur;
b. menentukan bentuk dan susunan frame
model;
masing-masing dof kemudian diverifikasi
dengan hasil pengukuran secara elektrik dari
rangkaian strain gage yang terpasang pada
model;
d. menentukan sistem sambungan frame
apakah dengan las atau dengan sistem sok
x
y
d
1
, f
i
1
d
3
,
d
4
,
f
4
d
5
, f
i
5
d
2
,
d
6
, f
i
6
i
26 Wahana TEKNIK SIPIL Vol. 14 No. 1 April 2007: 17-28

sperti pada sambungan pipa guna mencari
kondisi sambungan yang paling elastis;
e. membuat frame model dan skala pengukur
perpindahan dof serta memasang strain gage
yang dirangkai dengan alat perekam;
f. melakukan pengujian model secara manual;
g. menganalisis hasil pengujian dan membuat
laporan.

HASIL
Berdasarkan hasil eksperimen dilaboratorium
untuk portal satu lantai dengan ukuran seperti
pada gambar 4a diatas dihasilkan perpindahan
yang ditunjukkan dalam tabel 2 dibawah ini.
Agar diperoleh gambar grafik yang
menunjukkan pola perilaku truktur yang masih
bersifat elastis dilakukan pembebanan secara
bertahap.

Gambar 11 Konfigurasi Pengujian Model
Beban yang bekerja berupa beban terpusat yang
diletakkan pada joint 4, sedangkan dial
pengukur perpindahan vertikal dan horizontal
diletakan pada joint 3 dan 4. Gambar 9 diatas
menyatakan hubungan perpindahan sesuai dof
yang dipasangkan dengan gaya yang sesuai.

Tabel 2 Perpindahan DOF pada Joint 3
Beban (kg)
Perpindahan
X (mm) Z (mm) Rotasi (rad)
Eksperimen Teori Eksperimen Teori Eksperimen Teori
1 0,6995 0,97821 -0,0001 -0,0000000038 0,001063 0,00248
2 1,3990 1,95643 -0,0001 -0,0000000075 0,002125 0,00495
3 2,0985 2,93464 -0,0002 -0,0000000113 0,003188 0,00743
4 2,7979 3,91285 -0,0003 -0,0000000151 0,00425 0,00991
5 3,4974 4,89106 -0,0003 -0,0000000188 0,005313 0,01238
10 6,9948 9,78213 -0,0007 -0,0000000377 0,010626 0,02477
15 10,4923 14,67319 -0,0010 -0,0000000565 0,015938 0,03715
20 13,9897 19,56426 -0,0013 -0,0000000753 0,021251 0,04953
25 17,4871 24,45532 -0,0017 -0,0000000942 0,026564 0,06191
30 20,9845 29,34638 -0,0020 -0,0000001130 0,031877 0,07430

Tabel 3 Perpindahan DOF pada Joint 4
Beban (kg)
Perpindahan
X (mm) Z (mm) Rotasi (rad)
Eksp Teori Eksp Teori Eksp Teori
1 0,6996 0,97829 -0,000067 -0,0000000038 0,001063 0,0024765
2 1,3991 1,95658 -0,000134 -0,0000000075 0,002126 0,0049531
3 2,0987 2,93487 -0,000201 -0,0000000113 0,003188 0,0074296
4 2,7983 3,91316 -0,000269 -0,0000000151 0,004251 0,0099061
5 3,4978 4,89146 -0,000336 -0,0000000188 0,005314 0,0123826
10 6,9956 9,78291 -0,000672 -0,0000000377 0,010628 0,0247653
15 10,4934 14,67437 -0,001007 -0,0000000565 0,015941 0,0371479
20 13,9913 19,56582 -0,001343 -0,0000000753 0,021255 0,0495306
25 17,4891 24,45728 -0,001679 -0,0000000942 0,026569 0,0619132
30 20,9869 29,34874 -0,002015 -0,0000001130 0,031883 0,0742958
39,5 cm
39,5 cm
d4,F4
d5,F5
d6,F6
4
1
2
d1,F1
d2,F2
d3,F3
3
RANCANG BANGUN ALAT BANTU PROSES BELAJAR MENGAJAR……..(Sudarmono ) 27

Berikut grafik yang menggambarkan pola
perpindahan hasil eksperimen portal satu
tingkat dikomparasi dengan hasil analisis
struktur metode matrik (teoritis).

Gambar 12 Hubungan Gaya dengan
Perpindahan Translasi X joint 3

Gambar 13 Hubungan Gaya dengan
Perpindahan Translasi Z joint 3

Gambar 14 Hubungan Gaya dengan
Perpindahan Rotasi Y joint 3

Kondisi yang sama atau hampir sama dengan
secara teoritis maupun eksperimental.

Gambar 15 Hubungan Gaya dengan Perpindahan
Translasi X Joint 4

Gambar 16 Hubungan Gaya dengan
Perpindahan Translasi Z Joint 4

Gambar 17 Hubungan Gaya dengan
Perpindahan Rotasi Y joint 4

Berikut grafik hubungan perpindahan dengan
beban bekerja pada joint 6 dan 9 untuk portal 2
lantai :

0
10
20
30
40
1 2 3 4 5 10 15 20 25 30
P
e
r
p
i
n
d
a
h
a
n
(
m
m
)
Gaya Hori zontal (Kgf)
Grafik Perpindahan X Joint 3
Ekspe ri men
Teori ti s
-0.00250
-0.00200
-0.00150
-0.00100
-0.00050
0.00000
1 2 3 4 5 10 15 20 25 30
P
e
r
p
i
n
d
a
h
a
n
(
m
m
)
Gaya Horizontal (Kgf)
Grafik Perpindahan Z Joint 3
Eksperimen
Teori ti s
0.0000
0.0200
0.0400
0.0600
0.0800
1 2 3 4 5 10 15 20 25 30
R
o
t
a
s
i
(
r
a
d
)
Gaya Horizontal (Kgf)
Grafik Perpindahan Rotasi Y
Joint 3
Eksperi men
Teori ti s
0
10
20
30
40
1 2 3 4 5 10 15 20 25 30
P
e
r
p
i
n
d
a
h
a
n
(
m
m
)
Gaya Hori zontal (Kgf)
Grafik Perpindahan x Joint 4
Eksperimen
Teoriti s
-0. 00250
-0. 00200
-0. 00150
-0. 00100
-0. 00050
0. 00000
1 2 3 4 5 10 15 20 25 30
P
e
r
p
i
n
d
a
h
a
n
(
m
m
)
Gaya Horizontal (Kgf)
Grafik Perpindahan z Joint 4
Eksperi men
Teoriti s
0.00000
0.02000
0.04000
0.06000
0.08000
1 2 3 4 5 10 15 20 25 30
R
o
t
a
s
i
(
R
a
d
)
Gaya Horizontal (Kgf)
Grafik Perpindahan Rotasi y
Joint 4
Eksper imen
Teori tis
28 Wahana TEKNIK SIPIL Vol. 14 No. 1 April 2007: 17-28

Gambar 18 Hubungan Gaya dengan
Perpindahan Translasi X Joint 4

Gambar 19 Hubungan Gaya dengan
Perpindahan Translasi Z Joint 4

Gambar 20 Hubungan Gaya dengan
Perpindahan Rotasi Y joint 4

PEMBAHASAN
Dari gambar grafik diatas menunjukkan bahwa
pada beban yang relatif kecil hasil antara
eksperimen dibanding dengan hasil teoritis hampir
sama, hal ini dikarenakan sifat material.

SIMPULAN
Dari hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa
perbedaan yang terjadi antara eksperimen dengan
teoritis menunjukkan kesalahan yang relatif kecil
untuk kondisi pembebanan yang dalam batas-batas
elastis. namun untuk batas-batas beban yang sudah
cukup signifikan. Berdasarkan hasil tersebut alat
dapat digunakan untuk peraga/ praktik mata kuliah
analisis struktur metode matrik, namun perlu
dikembangkan lagi sistem pengukuran yang lebih
akurat.

UCAPAN TERIMA KASIH
Penelitian diperlukan ketekunan, keseriusan untuk
mencapai suatu hasil yang diharapkan maksimal,
juga menjadi kendala dalam keberhasilan dan
kelanjutan penelitian tersebut. Selanjutnya
diterapkan dalam masyarakat industri. Dalam
penelitian ini atas nama tim peneliti mengucapkan
berbagai pihak yang telah mendukung
pelaksanaan penelitian ini kepada pihak Politeknik
Negeri Semarang yang telah mendanai
pelaksanaan penelitian ini, UP2M Polines yang
telah membantu terselenggaranya penelitian, para
anggota tim penliti terutama para mahasiswa yang
telah bekerja keras untuk membantu proses
penelitian.

DAFTAR PUSTAKA
1. Ajit, K.M and Singh, 1991. Deformation of
Elastic Solid. New Jersey: Prentice Hall,
Englewood Cliffs.
2. Armenakas, A.E, 1991. Modern Structural
Analysis The Matrix Method Approach. New
York: Mc Graw-Hill, Inc.
3. Cook, R.D, 1985. Advanced Mechanics of
Materials. New York: Macmillan Publishing
Company.
4. Cook, R.D., 1990. Konsep dan Aplikasi
Metode Elemen Hingga. “ Edisi Pertama.
Bandung: PT Eresco.
5. Dally, J.M and Riley, W.F, 1991, 3
rd
edition.
Experimental Stress Analysis. New York: Mc
Graw-Hill International.
6. Reddy, J.N., 1993. An Introduction to the
Finite Element Method. Second Edition: New
York: McGraw-Hill International.
7. Wilson E.L and Habibullah A, 2002. SAP2000
A Series Of Computer Program for the Static
and Dynamic Finite Element Analysis of
Structures. California: CSI, Inc, Berkeley.
-0.040
0.010
0.060
0.110
0.160
0.210
1 2 3 4 5 10 15 20 25 30
P
e
r
p
i
n
d
a
h
a
n
(
m
m
)
Gaya Horizontal (Kgf)
Grafik Perpindahan X Joint 4
Eksperimen
Teoritis
-0.00500
-0.00400
-0.00300
-0.00200
-0.00100
0.00000
1 2 3 4 5 10 15 20 25 30
P
e
r
p
i
n
d
a
h
a
n
(
m
m
)
Gaya Horizontal (Kgf)
Grafik Perpindahan Z Joint 4
Eksperimen
Teoritis
0.0000
0.0020
0.0040
0.0060
1 2 3 4 5 10 15 20 25 30
R
o
t
a
s
i
(
r
a
d
)
Gaya Horizontal (Kgf)
Grafik Perpindahan Rotasi Y
Joint 4
Eksperimen
Teori tis

f1 d2. dengan Tabel 1. Model Elemen d3.f5 d6. artinya hanya diperlukan bila ingin mendapatkan free body yang lebih rinci pada tiap jarak tertentu.f2 d9.f4 d6.f3 d1.f1 d2. Analisis ini biasanya menggunakan cara diskret (cara ini sering dipakai pada analisis struktur metode elemen hingga). Namun.f2 [k]2x2{d}2x1={f}2x1 bila diurai jadi orde 4 Banyak metode yang dapat digunakan didalam mengalisis struktur dari yang paling sederhana sampai yang rumit dan detail. Joint-joint tambahan tersebut bersifat nonmandatory. selanjutnya dari momen ujung batang tersebut diperoleh gaya-gaya yang lain berupa gaya aksial dan lintang.f10 d2.f11 d7.f7 d12.(Sudarmono ) . Cara ini biasanya hanya terbatas untuk menganalisis struktur dua dimensi. Bahkan. dan lain-lain. secara garis besar dapat dibedakan dengan dua cara. Cara ini sekarang berkembang pesat setelah ditemukan komputer sehingga derajat kebebasan struktur tidak menjadi kendala dalam mencari invers matrik kekakuan struktur.f2 d3.f6 [k]6x6{d}6x1={f}6x1 [k]6x6{d}6x1={f}6x1 Grid d1. misalnya struktur dianggap terwakili oleh portal dua dimensi.f1 d3. dan metode beda hingga disebut cara eksak dikarenakan di dalam mendapatkan gaya-gaya dalam pada elemen akan diperoleh secara langsung dari sistem persamaan yang melibatkan propertis penampang elemen. antara elemen frame dengan elemen kontinum disuperposisikan.f4 d5. kani. artinya di dalam analisis akan dilakukan penyederhanaan. Dalam analisis sistem struktur dapat juga dilakukan analisis antara elemen frame dengan elemen kontinum secara bersamaan artinya. yaitu cara pendekatan dan cara eksak. misalnya tiap 50 cm atau tiap 1 meter. Jika kita mempunyai panjang elemen 5 meter. Elemen [k]12x12{d}12x1={f}12x1 Portal bidang d2. Cara-cara tersebut dalam mendapatkan gaya elemen dilakukan dengan cara iterasi berupa momen ujung batang.f8 Kek. Takabeya. dalam metode diskret elemen hingga suatu struktur dapat dibuat DOF dari yang terkecil sampai terbesar dengan menambah joint-joint tambahan. metode elemen hingga.f2 Rangka ruang [k]2x2{d}2x1={f}2x1 bila diurai jadi orde 6 d1.f6 d4. Penggunaan elemen pada sistem struktur tersebut dapat disajikan dalan Tabel 1. Yang termasuk dalam kelompok cara pendekatan adalah cara cross..f12 d10.f5 d2.f6 d11.f3 d5.biasanya dianggap non struktural ).f5 d4.f4 d5.f1 Rangka bidang d1.f1 d4. Sistem Struktur Sistem Portal Ruang menjumlahkan gaya dan perpindahan yang sesuai. Claperron.f2 d1.f9 d8. Pada cara eksak antara lain metode matrik. maka dengan 5 joint 19 RANCANG BANGUN ALAT BANTU PROSES BELAJAR MENGAJAR…….f3 d6.

14 No... maka kekakuan struktur merupakan penjumlahan dari kekakuan elemen yang didasarkan acuan sumbu yang sama (sumbu struktur). L (8) Persamaan (7) disebut sebagai persamaan matrik kekakuan elemen aksial. (7) K 22  x 2   NB di mana {N}= Matrik gaya nodal ujung.. L AE x 2 ……………………………… NB = L NA = − (3) (4) Dengan mensuperposisikan kempat kondisi tersebut didapat persamaan : AE AE x1 − x2 L L ……………………… (5) AE AE x2 NB = − x1 + L L NA = x Gambar 8 Matrik Gabungan Elemen Dengan cara yang sama seperti pada persamaan (5 dan 6). Jika batangnya lebih dari satu yang dirangkai dalam satu konstruksi.E mengakibatkan B  AE NA   L  =   NB  − AE  L atau secara umum − AE  L   x 1  ………….. 1 April 2007: 17-28 . [K]= matrik kekakuan (selalu simetris)... L AE NB = − x 1 ……………………………. kecuali dimensi penampang berubah. dan {x}= matrik perpindahan atau k= AE  1 − 1   …………………………… L − 1 1  Gambar 6 Matrik Elemen Aksial Gaya NA Dari keseimbangan gaya diperoleh hubungan gaya sebagai berikut : NA = AE x 1 ……………………………. maka cara penyelesaiannya juga sama dengan berpegang prinsip setiap gaya aksi akan menimbulkan reaksi yang berlawanan arah dengan aksi tersebut..E Gambar 7 Matrik Elemen Aksial Gaya NB AE x 2 ……………………………. Penjumlahan terjadi pada elemen-elemen yang saling koneksi dalam suatu nodal.Selanjutnya untuk mendapatkan matrik kekakuan elemen diturunkan dengan memisahkan akibat gaya NA dan reaksinya yang sepadan di titik B serta gaya NB dan reaksinya di titik A sebagai berikut : a. (6) AE  x 2    L   NA   K11 =   NB  − K 21 − K12   x1    …………. Hal ini menunjukkan bahwa kekakuan elemen menjadi bagian kekakuan dari struktur gabungan atau dengan kata lain bila struktur itu terdiri dari beberapa elemen. Akibat gaya NA. yaitu dengan mengekang tumpuan lain bila tumpuan 1 diberi F1 kemudian F2 Atau dalam bentuk matrik : 22 Wahana TEKNIK SIPIL Vol. mengakibatkan B NB x2 A. Akibat gaya perpanjangan x2 A NA l NB. perpendekan sebesar x1 A NA x1 l A.. L3 A F1 1 x1 A1 L1 2 F2 A3 A2 L2 3 F3 x (1) (2) b.

(Sudarmono ) . k2 = 2 2 L2 L1 dan k 2 = A 3E 3 L3 M yB maka persamaan (9) menjadi : F1 = (k1+k3)x1 – k2x2 – k3x3 F2 = -k1x1 + (k1+k2)x2 – k2 x3 F3 = -k3 x1 – k2x2 + (k2+k3) x3 atau dalam bentuk matrik menjadi :  F1  k 1 + k 3    F2  =  − k 1 F   − k 3  3  −k2 k1 + k 2 −k2 − k 3  x1    − k 2  x 2  (10)  k 2 + k 3  x 3    Apabila yang bekerja hanya beban-beban ujung. dx 3 d2y = C1 x + C 2 (momen lentur) …… dx 2 EI (12) (13) (14) (15) − cs   −s2  …. sudat putar. momen.  c2  [K ] = EA  cs2 L − c   − cs  cs s2 − cs −s2 −c − cs c2 cs 2 maka selanjutnya dengan melakukan integrasi empat kali akan diperoleh persamaan gaya lintang.I.L x Jika k1 = A E A1E 1 .A.tumpuan 1 dan 3 dikekang dan terakhir diberi gaya F3 dengan mengekang tumpuan 1 dan 2 diperoleh persamaan : F1 = A E A E A E A1E1 x1 − 1 1 x 2 + 3 3 x1 − 1 1 x 3 L1 L3 L1 L1 A E A E A E A1E1 x1 + 1 1 x 2 + 2 2 x 2 − 2 2 x 3 L2 L2 L1 L1 A E A E A E A3E3 x1 − 2 2 x 2 + 2 2 x 3 + 3 3 x 3 L3 L2 L2 L3 Sedangkan untuk elemen lentur dapat dinyatakan dengan meninjau suatu elemen balok AB yang menerima beban luar adalah a.. beban ujung MA. maka persamaan menjadi : EI d4y =0 dx 4 Matrik kekakuan pada persamaan 10 di atas masih merupakan matrik kekakuan elemen dalam sumbu lokal.. VB . beban tengah bentang q(x) b. dan MB . EI dy x2 = C1 + C 2 x + C 3 (rotasi) …….A.I.. d4y = 0 (beban merata) …………… dx 4 d3y = C1 (gaya lintang) ……………. (11) cs   s2   EI EI Selanjutnya dengan menyelesaikan persamaan (2) kita dapat menghitung gaya batang baik berdasarkan sumbu local maupun sumbu global. dan lendutan dengan urutan integrasi berikut. (12) dx 4 F2 = − F3 = − (9) q(x) E. VA..L V E. NB y V yA M θA θB Gambar 9 Model Elemen Lentur maka persamaan deferensial penentu dari elemen adalah : EI d4y = q ( x ) ………………………. NA. dx 2 EI = C1 x3 x2 + C2 + C 3 x + C 4 (lendutan) (16) 6 2 23 RANCANG BANGUN ALAT BANTU PROSES BELAJAR MENGAJAR……. untuk menyusun matrik struktur diperlukan matrik kekakuan elemen dalam sumbu global yaitu dengan bantuan matrik transformasi yang meng-hasilkan matrik kekakuan elemen dalam sumbu global untuk elemen aksial sebegai berikut.