17

RANCANG BANGUN ALAT BANTU PROSES BELAJAR MENGAJAR
STATIKA DAN ANALISIS STRUKTUR METODE MATRIK
PADA SEKOLAH KEJURUAN DAN PERGURUAN TINGGI TEKNIK
DENGAN TINJAUAN STRUKTUR ELEMEN FRAME
(PORTAL BIDANG)

Sudarmono

Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Semarang
Jln. Prof. Soedarto, S.H., Tembalang Semarang 50275
Email : darmono_polines@yahoo.com


Abstract
This report presented the manufacture and tsting of the model aids the learning process matrix
method of structural analysis to review the structure of frame elements (portals). The process of
measuring stresses in the structures of degrees of freedom (DOF) which consists of a horizontal
translation, vertical and rotation (rotation angle), the measurement is done by calculating the
rotational movement of the vertical to the horizontal, so that the measurement of displacement is
happening quite done it horizontally and vertically with the help of a dial gauge. Pattern load acting
on the structure of this new experiment carried out with the assumption of horizontal loads such as
earthquake load behavior of a node placed on the first floor. The amount of load on a node is 1 to
30 kgf. From the experimental result show that the displacement difference between testing with the
theoretical results and software SAP90 still within reasonable limits. Therefore based on these
results can be used for tools and practice aids analysis of the structure matrix method. But to
complement these tools in order to obtain a high precision strain gauge required (strain gauge) and
longer data recorder.

Keywords : models, tools, fame structure (portal), DOF, translation, rotation, ASMM

PENDAHULUAN
Struktur adalah suatu kerangka utama sistem
bangunan yang akan menyangga beban dari
elemen yang lain baik secara langsung maupun
tidak langsung. Pengertian struktur pada
bangunan dapat dipersamakan dengan struktur
jabatan pada suatu institusi baik swasta maupun
negeri, misalnya struktur jabatan institusi pada
politeknik dapat dianalogikan dengan struktur
pada bangunan gedung, balok induk identik
dengan ketua jurusan, kolom dengan asisten
direktur, dan pondasi sebagai direktur sehingga
di pundak direkturlah semua tanggung jawab
institusi politeknik.

Dalam penyerapan suatu materi kuliah
terkadang mudah diterima tanpa dengan alat
bantu dan atau sangat diperlukan alat bantu.
Mata kuliah analisis struktur metode matrik
merupakan salah satu mata kuliah yang sangat
memerlukan alat bantu peraga guna
mempermudah pemahaman materi. Karena
dasar utama teori analisis struktur metode
matrik adalah masalah perpindahan yang
ditunjukkan dengan DOF (degree of freedom).
DOF ini dapat berupa perpindahan translasi
maupun rotasi. Pada struktur truss perpindahan
yang terjadi hanya berupa translasi, sedangkan
rotasi tidak ada karena truss adalah tipe struktur
yang dalam merespon gaya hanya akan diterima
sebagai gaya aksial. Pada struktur portal (frame)
perpindahan yang terjadi dapat berupa translasi
maupun rotasi.


18 Wahana TEKNIK SIPIL Vol. 14 No. 1 April 2007: 17-28

Tujuan utama analisis struktur adalah untuk
menentukan gaya luar dan gaya dalam dari
sistem struktur yang akan dipergunakan untuk
memperkirakan dimensi penampang elemen
struktur tersebut. Gaya-gaya dalam yang
merupakan respons struktur terhadap gaya luar
dapat dibedakan menjadi gaya aksial, lentur ,
dan gaya puntir.

Gaya aksial akan bekerja pada elemen struktur
searah dengan sumbu batang berupa gaya tarik
atau tekan, sedangkan gaya lentur akan bekerja
memutar sumbu selain aksial, My dan atau Mz,
gaya puntir bekerja memutar sumbu aksial
batang (Mx). Selanjutnya dengan melihat
perilaku elemen dalam merespons gaya luar
yang bekerja padanya, maka dibedakan elemen
berikut, yaitu elemen aksial, elemen lentur, dan
elemen torsi. Elemen-elemen tersebut akan
membentuk sistem struktur rangka, portal
bidang, balok grid, dan portal ruang bergantung
jumlah elemen yang digunakan.

Dalam menganalisis struktur terdapat beberapa
pemodelan yang bertujuan untuk menyeder-
hanakan masalah, antara lain pada elemen frame
suatu batang elemen dianggap sebagai suatu
garis yang tidak mempunyai dimensi tebal dan
lebar. Hal ini menyebabkan analisis tidak sesuai
dengan kondisi sebenarnya dari struktur
tersebut. Namun, analisis lebih lanjut dari model
struktur yang meninjau tebal dan lebar elemen
akan lebih tepat disebut elemen kontinum baik
menggunakan elemen shell maupun solid.

Elemen aksial adalah suatu elemen struktur
yang di dalam merespons gaya luar akan
diterima sebagai gaya tarik atau tekan yang
bekerja searah dengan sumbu elemen. Secara
singkat model elemen aksial digambarkan
sebagai berikut.



Gambar 1 Model Elemen Aksial

Elemen lentur adalah elemen apabila ditinjau dari
sifatnya dalam merespons gaya berupa momen
lentur dan atau gaya lintang atau dengan kata lain
repons perpindahan yang terjadi berupa displacemen
dan putaran sudut ujung batang. Model elemen
tersebut ditunjukkan konfigurasi gambar berikut.







Gambar 2 Model Elemen Lentur

Contoh model dari sistem struktur yang
menggunakan model elemen ini adalah balok di atas
dua tumpuan (simple beam), sistem portal dua
dimensi, portal tiga dimensi dan balok grid.

Elemen torsi adalah elemen dimana dalam
merespons gaya selalu memutar sumbu elemen
(batang) sehingga perpindahan yang terjadi berupa
putaran sudut. Gaya torsi ini pada struktur banyak
dijumpai pada sistem portal balok tepi, balok tengah
dengan bentang yang saling berseberangan tidak
sama panjang dan as pemutar pada mesin.

Dalam kenyataannya akan dijumpai sistem struktur
(portal) yang merupakan gabungan dari beberapa
elemen, yaitu portal 3D, 2D, dan balok grid.
a. Portal 3D merupakan portal yang menggunakan
elemen paling komplit dalam memodelkannya.
Struktur portal ini terdiri dari elemen aksial,
lentur My dan Mz serta momen torsi Mx.
b. Portal 2Dl ini merupakan penyederhanaan dalam
mengalisis struktur portal 3D apabila dipenuhi
kondisi, yaitu susunan portal bersifat simetris
sehingga model 2D dapat mewakili portal yang
lain. Portal 2D ini terdiri dari elemen aksial dan
elemen lentur My atau Mz.
c. Balok Grid merupakan perpindahan yang terjadi
pada sistem ini berupa displacement dan lentur.
Struktur ini merupakan portal bidang pada bidang
dua sumbu koordinat mendatar.

Berdasarkan jenis elemen yang digunakan sering
dibedakan sistem struktur antara lain sistem struktur
rangka batang bidang (plane truss), rangka batang
ruang (space truss), portal bidang, portal ruang, dan
balok grid serta struktur pelat dan cangkang (
sumbu elemen atau
x
z
y
Dz
My My
Dz
RANCANG BANGUN ALAT BANTU PROSES BELAJAR MENGAJAR……..(Sudarmono ) 19

biasanya dianggap non struktural ). Dalam analisis
sistem struktur dapat juga dilakukan analisis antara
elemen frame dengan elemen kontinum secara
bersamaan artinya, antara elemen frame dengan
elemen kontinum disuperposisikan, dengan
menjumlahkan gaya dan perpindahan yang sesuai.
Analisis ini biasanya menggunakan cara diskret
(cara ini sering dipakai pada analisis struktur metode
elemen hingga). Penggunaan elemen pada sistem
struktur tersebut dapat disajikan dalan Tabel 1.

Tabel 1. Sistem Struktur
Sistem Model Elemen Kek. Elemen
Portal Ruang






[k]
12x12
{d}
12x1
={f}
12x1

Portal bidang







[k]
6x6
{d}
6x1
={f}
6x1

Grid




[k]
6x6
{d}
6x1
={f}
6x1

Rangka ruang





[k]
2x2
{d}
2x1
={f}
2x1

bila diurai jadi orde 6
Rangka bidang




[k]
2x2
{d}
2x1
={f}
2x1

bila diurai jadi orde 4


Banyak metode yang dapat digunakan didalam
mengalisis struktur dari yang paling sederhana
sampai yang rumit dan detail. Namun, secara garis
besar dapat dibedakan dengan dua cara, yaitu cara
pendekatan dan cara eksak. Yang termasuk dalam
kelompok cara pendekatan adalah cara cross,
Takabeya, Claperron, kani, dan lain-lain.

Cara-cara tersebut dalam mendapatkan gaya elemen
dilakukan dengan cara iterasi berupa momen ujung
batang, selanjutnya dari momen ujung batang
tersebut diperoleh gaya-gaya yang lain berupa gaya
aksial dan lintang. Cara ini biasanya hanya terbatas
untuk menganalisis struktur dua dimensi, artinya di
dalam analisis akan dilakukan penyederhanaan,
misalnya struktur dianggap terwakili oleh portal dua
dimensi.
Pada cara eksak antara lain metode matrik, metode
elemen hingga, dan metode beda hingga disebut cara
eksak dikarenakan di dalam mendapatkan gaya-gaya
dalam pada elemen akan diperoleh secara langsung
dari sistem persamaan yang melibatkan propertis
penampang elemen. Cara ini sekarang berkembang
pesat setelah ditemukan komputer sehingga derajat
kebebasan struktur tidak menjadi kendala dalam
mencari invers matrik kekakuan struktur. Bahkan,
dalam metode diskret elemen hingga suatu struktur
dapat dibuat DOF dari yang terkecil sampai terbesar
dengan menambah joint-joint tambahan. Joint-joint
tambahan tersebut bersifat nonmandatory, artinya
hanya diperlukan bila ingin mendapatkan free body
yang lebih rinci pada tiap jarak tertentu, misalnya
tiap 50 cm atau tiap 1 meter. Jika kita mempunyai
panjang elemen 5 meter, maka dengan 5 joint
d2,f2
d1,f1
d4,f4
d5,f5
d3,f3
d7,f7
d8,f8
d9,f9
d10,f10
d6,f6
d11,f11 d12,f12
d1,f1
d2,f2
d3,f3
d4,f4
d5,f5
d6,f6
d1,f1
d2,f2
d3,f3
d4,f4
d5,f5
d6,f6
d1,f1
d2,f2
d1,f1
d2,f2
20 Wahana TEKNIK SIPIL Vol. 14 No. 1 April 2007: 17-28

tambahan akan diperoleh detail free body tiap 1
meter dan seterusnya.

Analisis struktur metode matrik merupakan cara
langsung mendapatkan gaya-gaya dalam elemen
struktur. Hal terpenting dalam metode ini adalah
menentukan kekakuan elemen lokal, kekakuan
elemen struktur (global), dan menjumlahkannya
menjadi kekakuan struktur serta mencari
perpindahan nodal struktur akibat bekerjanya gaya.
Banyak metode yang digunakan untuk mendapatkan
kekakuan elemen, antara lain metode slope
deflection, dan metode energi.

Berdasarkan uraian di atas ternyata cukup sulit bagi
mahasiswa untuk dapat menyerap secara cepat
materi kuliah analisis struktur metode matrik. Oleh
karena itu, pada penelitian ini telah dibuat model
alat bantu guna mempermudah penyerapan dalam
proses belajar mengajar. Prinsip model alat ini
adalah dengan cara mengukur perpindahan (DOF)
baik secara mendatar, vertikal, maupun rotasi. Alat
akan dibuat untuk model elemen frame portal
berupa portal 2 dimensi sampai 2 tingkat. Iahap
berikutnya akan diteruskan dengan model portal 3
dimensi yang dilengkapai dengan pengukuran
dengan strain gage dan perekam digital.

Hingga saat ini belum ada peralatan model peraga
yang dapat menunjukkan besarnya perpindahan
(dof) pada analisis struktur metode matrik. Dengan
dibuatnya alat ini, maka kita dapat membandingkan
pola perilaku deformasi struktur dari teori dan
eksperimen secara langsung. Oleh karena itu, perlu
dilakukan rancang bangun model alat pengukur
deformasi untuk mendapatkan nilai perpindahan
sesuai arah DOF yang diasumsikan. Dengan adanya
alat ini proses belajar mengajar dapat memberikan
gambaran secara jelas kepada mahasiswa mengenai
perilaku DOF (Derajat Kebebasan Struktur) pada
analisis struktur metode matrik. Rancang Bangun
model alat untuk mengukur deformasi pada analisis
struktur metode matrik didasarkan asumsi berikut,
yaitu:
a. teori elastisistas masih berlaku;
b. selama pembebanan material masih berperilaku
elastis;
c. penampang rata tetap rata sebelum dan sesudah
penegangan (azas Bernoulli dan Navier);
d. adapun bentuk model yang akan digunakan
dalam pembuatan model ini adalah :
1. bahan pelat strip tebal 5 mm lebar 24 mm dari
baja mutu standar;
2. pengukuran dilakukan secara manual untuk
menentukan perpindahan mendatar dan
vertikal yang ditunjukkan dengan kertas
milimeter, sedangkan untuk kontrol rotasi
dihitung berdasarkan perpindahan vertikal dan
perpindahan horizontal dengan alat ukur dial;
3. nilai perpindahan yang didapat digunakan
untuk membandingkan hasil perhitungan
secara teoritis (metode matrik);
4. gambar secara singkat model adalah sebagai
berikut.








Gambar 3a. Model Struktur Portal Satu Tingkat










Gambar 3b. Model Portal 2 Dimensi 2 Lantai

Secara ringkas tujuan penelitian ini adalah
membuat alat bantu kuliah bagi mahasiswa
dalam pembelajaran mata kuliah Analisis
Struktur Metode Matrik dengan membuat model
alat peraga dan menunjukkan gambaran perilaku
perpindahan joint pada struktur dengan elemen
frame khususnya portal 2Dimensi. Dengan
adanyamodel alat tersebut dapat meningkatkan
kompetensi kelulusan mahasiswa Politeknik
Negeri Semarang dalam bidang analisis struktur
dalam perencanaan bangunan, melatih
kemandirian staf pengajar untuk menciptakan
sendiri peralatan penunjang yang diperlukan
dalam proses belajar mengajar, dan dapat
H
39,5 cm
39,5 cm
39,5 cm
34,5 cm
2x39,5 cm
H
2
H
1
RANCANG BANGUN ALAT BANTU PROSES BELAJAR MENGAJAR……..(Sudarmono ) 21

meningkatkan kompetensi diri pengajar dalam
proses tranfer ilmu pengetahuan dan teknologi
serta seni kepada mahasiswa.

Analaisis struktur metode matrik secara umum
dibedakan dalam dua metode, yaitu metode
gaya (fleksibilitas) dan metode perpindahan
(kekakuan). Metode gaya dalam penyusunan
persamaan matrik strukturnya didasarkan
perpindahan satu satuan yang selaras. kemudian
nilai perpindahan yang selaras tersebut
digunakan untuk mendapatkan matrik gaya
nodal, sedangkan metode perpindahan didalam
persamaan matrik struktur didasarkan pada gaya
nodal ekivalen yang besarnya bergantung pada
beban yang bekerja. Dengan beban nodal yang
diketahui atau dari beban bentang yang
dikonversi ke beban nodal tersebut selanjutnya
digunakan untuk mendapatkan perpindahan titik
nodal dan pada akhirnya untuk mencari gaya
elemen baik dalam sumbu global maupun dalam
sumbu lokal.

Persamaan umum metode gaya adalah
[f]{P} = {X}, di mana [f]= matrik
fleksibilitas (invers dari matrik kekakuan), {P}=
matrik gaya, dan{X}= matrik perpindahan,
sesuai dengan dof struktur yang biasanya
diasumsikan satu satuan.

Metode kedua adalah metode perpindahan
(kekakuan). Metode ini merupakan metode yang
paling disukai banyak orang karena
kemudahannya untuk ditetapkan dalam program
komputer, yaitu [K]{D} = {P}, dimana [K] =
matrik kekakuan struktur,{D}= matrik per-
pindahan titik nodal, dan {P} = matrik gaya
nodal. Penurunan matrik kekakuan elemen
dapat dilakukan dengan beberapa metode, yaitu
metode energi, metode deformasi. Selajutnya
penurunan matrik kekakuan elemen yang
digunakan dalam struktur terutama elemen
frame (terdiri dari elemen aksial, elemen lentur,
dan elemen torsi). Matrik kekakuan elemen
frame dalam penurunan persamaan dibedakan
dalam tiga elemen dasar, yaitu elemen aksial,
lentur, dan torsi. Penurunan akan menggunakan
metode deformasi yang didasarkan pada hukum
Hooke untuk elemen aksial serta teori slope
deflection untuk elemen lentur serta teori geser
torsi. Penurunan persamaan elemen kekakuan
dengan metode energi perlu pemahaman
diferensial dan intergral matrik, terutama untuk
mencari integrasi fungi bentuk yang dihasilkan
dari teori elemen hingga.

Suatu konstruksi bangunan yang menerima
pembebanan baik beban bentang maupun beban
pada titik nodal, maka konstruksi tesebut akan
mengalami deformasi. Besarnya deformasi ini
sangat dipengaruhi oleh propertis elemen
struktur tersebut. Propertis penampang ini
menjadi bagian pembentuk kekakuan elemen
yang sesuai. Untuk menurunkan matrik
kekakuan elemen aksial, kita tinjau gambar
model struktur yang menerima gaya aksial
berikut :





Gambar 4 Model Deformasi Elemen Axial
Untuk mendapatkan hubungan gaya, kekakuan,
dan perpindahan ditinjau masing-masing gaya
yang menyebabkan deformasi yang didasarkan
pada hukum Hooke F = k. x , di mana
F = gaya, k= konstanta sesuai
elemen (kekakuan elemen), dan x = perpindahan
yang sesuai. Kukum Hooke hanya akan berlaku
apabila material bersifat elastis linier.
Pengertian material elastis linier, elastis
nonlinier, dan plastis dapat dijelaskan dari
grafik hubungan tegangan regangan berikut.







Gambar 5 Grafik Tegangan Regangan
A,E B
A
NB
NA
x x
1
σ σ
σ
Elastis Linier Elastis non Linier
Plastis
ε ε
ε
22 Wahana TEKNIK SIPIL Vol. 14 No. 1 April 2007: 17-28

Selanjutnya untuk mendapatkan matrik
kekakuan elemen diturunkan dengan
memisahkan akibat gaya NA dan reaksinya
yang sepadan di titik B serta gaya NB dan
reaksinya di titik A sebagai berikut :

a. Akibat gaya NA, mengakibatkan
perpendekan sebesar x
1






Gambar 6 Matrik Elemen Aksial Gaya NA
Dari keseimbangan gaya diperoleh hubungan
gaya sebagai berikut :
1
x
L
AE
NA = ……………………………..... (1)
1
x
L
AE
NB − = ……………………………... (2)

b. Akibat gaya NB, mengakibatkan
perpanjangan x
2







Gambar 7 Matrik Elemen Aksial Gaya NB
2
x
L
AE
NA − = …………………………….. (3)
2
x
L
AE
NB = ……………………………… (4)
Dengan mensuperposisikan kempat kondisi
tersebut didapat persamaan :

2 1
2 1
x
L
AE
x
L
AE
NB
x
L
AE
x
L
AE
NA
+ − =
− =
……………………… (5)
Atau dalam bentuk matrik :

)
`
¹
¹
´
¦



=
)
`
¹
¹
´
¦
2
1
x
x
L
AE
L
AE
L
AE
L
AE
NB
NA
………….. (6)
atau secara umum

x
x
K K
K K
NB
NA
2
1
22 21
12 11
)
`
¹
¹
´
¦



=
)
`
¹
¹
´
¦
…………. (7)

di mana {N}= Matrik gaya nodal ujung, [K]=
matrik kekakuan (selalu simetris), kecuali
dimensi penampang berubah, dan {x}= matrik
perpindahan
atau



=
1 1
1 1
L
AE
k …………………………… (8)
Persamaan (7) disebut sebagai persamaan
matrik kekakuan elemen aksial.

Jika batangnya lebih dari satu yang dirangkai
dalam satu konstruksi, maka cara
penyelesaiannya juga sama dengan berpegang
prinsip setiap gaya aksi akan menimbulkan
reaksi yang berlawanan arah dengan aksi
tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa kekakuan
elemen menjadi bagian kekakuan dari struktur
gabungan atau dengan kata lain bila struktur itu
terdiri dari beberapa elemen, maka kekakuan
struktur merupakan penjumlahan dari kekakuan
elemen yang didasarkan acuan sumbu yang
sama (sumbu struktur). Penjumlahan terjadi
pada elemen-elemen yang saling koneksi dalam
suatu nodal.








Gambar 8 Matrik Gabungan Elemen

Dengan cara yang sama seperti pada persamaan
(5 dan 6), yaitu dengan mengekang tumpuan
lain bila tumpuan 1 diberi F1 kemudian F2
A,E B A
NB
NA
l

x
1
A,E
B
A
NB NA
l

x
2
A
3

2
A
F
3
F
1
x
x
1
L
3

A
2
A
1

F
2

x
L
2
L
1

3
1
RANCANG BANGUN ALAT BANTU PROSES BELAJAR MENGAJAR……..(Sudarmono ) 23

tumpuan 1 dan 3 dikekang dan terakhir diberi
gaya F3 dengan mengekang tumpuan 1 dan 2
diperoleh persamaan :

3
3
3 3
3
2
2 2
2
2
2 2
1
3 3
3
3
2
2 2
2
2
2 2
2
1
1 1
1
1
1 1
2
3
1
1 1
1
3
3 3
2
1
1 1
1
1
1 1
1
x
L
E A
x
L
E A
x
L
E A
x
3 L
E A
F
x
L
E A
x
L
E A
x
L
E A
x
L
E A
F
x
L
E A
x
L
E A
x
L
E A
x
L
E A
F
+ + − − =
− + + − =
− + − =
(9)
Jika
3
3 3
2
2
2 2
2
1
1 1
1
L
E A
k dan
L
E A
k ,
L
E A
k = = =
maka persamaan (9) menjadi :
F
1
= (k
1
+k
3
)x
1
– k
2
x
2
– k
3
x
3

F
2
= -k
1
x
1
+ (k
1
+k
2
)x
2
– k
2
x
3

F
3
= -k
3
x
1
– k
2
x
2
+ (k
2
+k
3
) x
3


atau dalam bentuk matrik menjadi :

¦
)
¦
`
¹
¦
¹
¦
´
¦

+ − −
− + −
− − +
=
¦
)
¦
`
¹
¦
¹
¦
´
¦
3
2
1
3 2 2 3
2 2 1 1
3 2 3 1
3
2
1
x
x
x
k k k k
k k k k
k k k k
F
F
F
(10)

Matrik kekakuan pada persamaan 10 di atas
masih merupakan matrik kekakuan elemen
dalam sumbu lokal, untuk menyusun matrik
struktur diperlukan matrik kekakuan elemen
dalam sumbu global yaitu dengan bantuan
matrik transformasi yang meng-hasilkan matrik
kekakuan elemen dalam sumbu global untuk
elemen aksial sebegai berikut.
| |

− −
− −
− −
− −
=
2 2
2 2
2 2
2 2
s cs s cs
cs c cs c
s cs s cs
cs c cs c
L
EA
K ….. (11)

Selanjutnya dengan menyelesaikan persamaan
(2) kita dapat menghitung gaya batang baik
berdasarkan sumbu local maupun sumbu global.

Sedangkan untuk elemen lentur dapat
dinyatakan dengan meninjau suatu elemen balok
AB yang menerima beban luar adalah
a. beban tengah bentang q(x)
b. beban ujung M
A
, V
A
, N
A
, dan M
B
, V
B
, N
B









Gambar 9 Model Elemen Lentur

maka persamaan deferensial penentu dari
elemen adalah :
) x ( q
dx
y d
EI
4
4
= ……………………….. (12)
Apabila yang bekerja hanya beban-beban ujung,
maka persamaan menjadi :
0
dx
y d
EI
4
4
=
maka selanjutnya dengan melakukan integrasi
empat kali akan diperoleh persamaan gaya
lintang, momen, sudat putar, dan lendutan
dengan urutan integrasi berikut.

0
dx
y d
EI
4
4
= (beban merata) …………… (12)
1
3
3
C
dx
y d
EI = (gaya lintang) ……………. (13)
2 1
2
2
C x C
dx
y d
EI + = (momen lentur) …… (14)
3 2
2
1
C x C
2
x
C
dx
dy
EI + + = (rotasi) …….. (15)
4 3
2
2
3
1
C x C
2
x
C
6
x
C EI + + + = (lendutan) (16)
q(x)
E,A,I,L
E,A,I,L
V
M
V
M
y

x

y
A
y
B
θ
B
θ
A
24 Wahana TEKNIK SIPIL Vol. 14 No. 1 April 2007: 17-28

C
1
, C
2
, C
3
, dan C
4
adalah nilai konstanta yang
dicari berdasarkan kondisi batas alam elemen
(boundary condition), yaitu berupa perpindahan
(displacement) dan rotasi ujung batang pada x =
0 dan x = L berikut.
Pada x= 0 Nilai batas alamnya adalah y
A
dan θ
A.

Dengan memasukkan ke persamaan (16)
didapat :

y = C
4
= y
A
…………………………. (17)

A 3
0 x
sudut putaran C
dx
dy
EI θ = = =

=
… (18)
Pada x= L Nilai batas alamnya adalah y
B
dan θ
B

B 4 3
2
2
3
1
y C L C L C
2
1
L C
6
1
y = + + + = …. (19)
B 3 2
2
1
L x
C L C L C
2
1
dx
dy
EI θ = + + =

=
… (20)
Jadi, dengan C
4
= y
A
dan C
3
= θ
A


Selanjutnya dengan mesubstitusikan nilai C
4

dan C
3
kedalam persamaan (9c dan 9d) didapat
persamaan dengan variabel C
1
dan C
2
yang
merupakan dua persamaan dengan dua varibel,
sehingga nilai C
1
dan C
2
dapat diperoleh dengan
eliminisi kedua variabel secara bergantian
berikut.

a. Eliminasi C
2
didapat C
1

( ) ( )
B
2
B
3
A
2
A
3
1
B A B A
3
1
A A
3
1 B B
A 2
2
1 B
A A
2
2
3
1 B
L
6
y
L
12
L
6
y
L
12
C
L
2
1
y y
L
12
C
y L *
2
1
L C
12
1
L
2
1
* y
______ __________ __________ __________
L
2
1
x L C L C
2
1
y L L C
2
1
L C
6
1
y
θ + − θ + =

θ + θ + − =
+ θ + − = |
¹
|

\
|
θ −

θ + + = θ
+ θ + + =


b. Eliminasi C
1
didapat C
2

Dengan cara yang sama, mengalikan dengan
L/3 :
( )
B B
2
A
2
A
2
2
B A B A
2
2
A A
2
2 B B
A 2
2
1 B
A A
2
2
3
1 B
L
2
y
L
6
L
4
y
L
6
C
L *
3
1
L *
3
2
y y
L
6
C
y L *
3
2
L C
6
1
L
3
1
* y
______ __________ __________ __________
L
3
1
x L C L C
2
1
y L L C
2
1
L C
6
1
y
θ − + θ − − =

θ − θ − + − =
+ θ + = |
¹
|

\
|
θ −

θ + + = θ
+ θ + + =

Mengingat hubungan gaya dengan deformasi
persamaan (14 dan 15) serta free body elemen,
yaitu nilai M
A
menurut free body dari kiri
adalah negatif serta M
B
posistif, sedangkan gaya
lintang ditinjau dari kiri V
A
positif dan V
B

negatif sehingga didapat persamaan berikut.
2
2
A
dx
y d
EI
M
= − dan
3
3
A
dx
y d
EI
V
=
Pada x = 0

θ + − θ + = − =
=

= −

θ + − θ + = =
=

=
=
=
B B A A
2
2 A
2
0 x
2
2
A
B
2
B
3
A
2
A
3
1 A
1
0 x
3
3
A
L
2
y
2
L
6
L
4
y
L
6
EI EI C M
C
dx
y d
EI
M
L
6
y
L
12
L
6
y
L
12
EI EI C V
C
dx
y d
EI
V

Pada x = L

θ + − θ + =
+ =

=

θ − + θ − − =
= = + =

= −
=
=
B B
2
A A
2
B
2 1
L x
2
2
B
B
2
B
3
A
2
A
3
B
B A 1
L x
3
3
B
L
4
y
L
6
L
2
y
L
6
EI M
C L C
dx
y d
EI
M
L
6
y
L
12
L
6
y
L
12
EI V
0 q karena 0, V V syarat atau C
dx
y d
EI
V
Apabila keempat persamaan tersebut disusun
dalam bentuk matrik menghasilkan
RANCANG BANGUN ALAT BANTU PROSES BELAJAR MENGAJAR……..(Sudarmono ) 25

¦
¦
)
¦
¦
`
¹
¦
¦
¹
¦
¦
´
¦
θ
θ


− − −


=
¦
¦
)
¦
¦
`
¹
¦
¦
¹
¦
¦
´
¦
B
B
A
A
Z
2
Z Z
2
Z
2
Z
3
Z
2
Z
3
Z
Z
2
Z Z
2
Z
2
Z
3
Z
2
Z
3
Z
B
B
A
A
y
y
L
EI 4
L
EI 6
L
EI 2
L
EI 6
L
EI 6
L
EI 12
L
EI 6
L
EI 12
L
EI 2
L
EI 6
L
EI 4
L
EI 6
L
EI 6
L
EI 12
L
EI 6
L
EI 12
M
V
M
V
bila k adalah


− − −


=
L
EI 4
L
EI 6
L
EI 2
L
EI 6
L
EI 6
L
EI 12
L
EI 6
L
EI 12
L
EI 2
L
EI 6
L
EI 4
L
EI 6
L
EI 6
L
EI 12
L
EI 6
L
EI 12
k
Z
2
Z Z
2
Z
2
Z
3
Z
2
Z
3
Z
Z
2
Z Z
2
Z
2
Z
3
Z
2
Z
3
Z
(21)
dan k disebut sebagai matrik kekakuan elemen
lentur. Gabungan (superposisi) antara elemen
axial dan elemen lentur menghasilkan matrik
kekakuan elemen portal dua dimensi dalam
sumbu lokal, dengan persamaan sebagai berikut.








Gambar 10 Elemen Portal Dua Dimensi dalam
Sumbu Lokal


− − −




=
¦
¦
¦
¦
¦
)
¦
¦
¦
¦
¦
`
¹
¦
¦
¦
¦
¦
¹
¦
¦
¦
¦
¦
´
¦
L
EI 4
L
EI 6
0
L
EI 2
L
EI 6
0
L
EI 6
L
EI 12
0
L
EI 6
L
EI 12
0
0 0
L
EA
0 0
L
EA
L
EI 2
L
EI 6
0
L
EI 4
L
EI 6
0
L
EI 6
L
EI 12
0
L
EI 6
L
EI 12
0
0 0
L
EA
0 0
L
EA
f
f
f
f
f
f
Z
2
Z Z
2
Z
2
Z
3
Z
2
Z
3
Z
Z
2
Z Z
2
Z
2
Z
3
Z
2
Z
3
Z
6
i
5
i
4
i
3
i
2
i
1
i

¦
¦
¦
¦
)
¦
¦
¦
¦
`
¹
¦
¦
¦
¦
¹
¦
¦
¦
¦
´
¦
6
5
4
3
2
1
d
d
d
d
d
d
.............................................. (22)
Persamaan (21) tersebut merupakan persamaan
matrik elemen struktur dalam sumbu lokal
dimana tanda superscrip 1 s.d. 6 menyatakan
nomor unsur perpindahan dan rotasi dan i
menyatakan kode nomor elemen. Selanjutnya
dengan menyusun matrik kekakuan elemen dari
persamaan (22) dan menyelesaikan persamaan
matrik struktur (2) didapat hasil teoritis untuk
dikomparasi dengan percobaan.

METODE PENELITIAN
Pengembangan teori analisis struktur metode
matrik dan mekanika bahan (mechanics of
materials) akan menjadi acuan utama untuk
pembuatan model alat pengukur deformasi pada
joint dalam penelitian ini, yaitu masalah
pengukuran perpindahan secara manual. Di
samping itu, teori deformasi dan slop deplection
juga menjadi dasar dalam penentuan matrik
kekakuan elemen aksial dan elemen lentur
untuk penelitian selanjutnya [1,2,3,4,7].
Penentuan dimensi model dimulai dari studi
pustaka dan teori-teori pendukung agar tidak
terjadi perbedaan yang mencolok antara
perilaku model yang dihasilkan dengan kondisi
sebenarnya, oleh karena itu diperlukan konversi
dan verifikasi dari hasil pengujian model.

Setelah studi pustaka dan pendimensian model
perlu adanya pengujian bahan untuk mengetahui
properties elemen terutama modulus Elastisitas.
Untuk menganalisis alat pengukur deformasi
joint pada sistem rangka batang sesuai dengan
dof, dibawah ini merupakan ringkasan langkah-
langkah penelitian :
a. penentuan sifat material dan dimensi
struktur;
b. menentukan bentuk dan susunan frame
model;
c. menganalisis perpindahan yang terjadi pada
masing-masing dof kemudian diverifikasi
dengan hasil pengukuran secara elektrik dari
rangkaian strain gage yang terpasang pada
model;
d. menentukan sistem sambungan frame
apakah dengan las atau dengan sistem sok
x
y
d
1
, f
i
1
d
3
,
d
4
,
f
4
d
5
, f
i
5
d
2
,
d
6
, f
i
6
i
26 Wahana TEKNIK SIPIL Vol. 14 No. 1 April 2007: 17-28

sperti pada sambungan pipa guna mencari
kondisi sambungan yang paling elastis;
e. membuat frame model dan skala pengukur
perpindahan dof serta memasang strain gage
yang dirangkai dengan alat perekam;
f. melakukan pengujian model secara manual;
g. menganalisis hasil pengujian dan membuat
laporan.

HASIL
Berdasarkan hasil eksperimen dilaboratorium
untuk portal satu lantai dengan ukuran seperti
pada gambar 4a diatas dihasilkan perpindahan
yang ditunjukkan dalam tabel 2 dibawah ini.
Agar diperoleh gambar grafik yang
menunjukkan pola perilaku truktur yang masih
bersifat elastis dilakukan pembebanan secara
bertahap.











Gambar 11 Konfigurasi Pengujian Model
Beban yang bekerja berupa beban terpusat yang
diletakkan pada joint 4, sedangkan dial
pengukur perpindahan vertikal dan horizontal
diletakan pada joint 3 dan 4. Gambar 9 diatas
menyatakan hubungan perpindahan sesuai dof
yang dipasangkan dengan gaya yang sesuai.

Tabel 2 Perpindahan DOF pada Joint 3
Beban (kg)
Perpindahan
X (mm) Z (mm) Rotasi (rad)
Eksperimen Teori Eksperimen Teori Eksperimen Teori
1 0,6995 0,97821 -0,0001 -0,0000000038 0,001063 0,00248
2 1,3990 1,95643 -0,0001 -0,0000000075 0,002125 0,00495
3 2,0985 2,93464 -0,0002 -0,0000000113 0,003188 0,00743
4 2,7979 3,91285 -0,0003 -0,0000000151 0,00425 0,00991
5 3,4974 4,89106 -0,0003 -0,0000000188 0,005313 0,01238
10 6,9948 9,78213 -0,0007 -0,0000000377 0,010626 0,02477
15 10,4923 14,67319 -0,0010 -0,0000000565 0,015938 0,03715
20 13,9897 19,56426 -0,0013 -0,0000000753 0,021251 0,04953
25 17,4871 24,45532 -0,0017 -0,0000000942 0,026564 0,06191
30 20,9845 29,34638 -0,0020 -0,0000001130 0,031877 0,07430

Tabel 3 Perpindahan DOF pada Joint 4
Beban (kg)
Perpindahan
X (mm) Z (mm) Rotasi (rad)
Eksp Teori Eksp Teori Eksp Teori
1 0,6996 0,97829 -0,000067 -0,0000000038 0,001063 0,0024765
2 1,3991 1,95658 -0,000134 -0,0000000075 0,002126 0,0049531
3 2,0987 2,93487 -0,000201 -0,0000000113 0,003188 0,0074296
4 2,7983 3,91316 -0,000269 -0,0000000151 0,004251 0,0099061
5 3,4978 4,89146 -0,000336 -0,0000000188 0,005314 0,0123826
10 6,9956 9,78291 -0,000672 -0,0000000377 0,010628 0,0247653
15 10,4934 14,67437 -0,001007 -0,0000000565 0,015941 0,0371479
20 13,9913 19,56582 -0,001343 -0,0000000753 0,021255 0,0495306
25 17,4891 24,45728 -0,001679 -0,0000000942 0,026569 0,0619132
30 20,9869 29,34874 -0,002015 -0,0000001130 0,031883 0,0742958
39,5 cm
39,5 cm
d4,F4
d5,F5
d6,F6
4
1
2
d1,F1
d2,F2
d3,F3
3
RANCANG BANGUN ALAT BANTU PROSES BELAJAR MENGAJAR……..(Sudarmono ) 27

Berikut grafik yang menggambarkan pola
perpindahan hasil eksperimen portal satu
tingkat dikomparasi dengan hasil analisis
struktur metode matrik (teoritis).








Gambar 12 Hubungan Gaya dengan
Perpindahan Translasi X joint 3









Gambar 13 Hubungan Gaya dengan
Perpindahan Translasi Z joint 3









Gambar 14 Hubungan Gaya dengan
Perpindahan Rotasi Y joint 3

Kondisi yang sama atau hampir sama dengan
keadaan pada titik 3 juga terjadi da titik 4, baik
secara teoritis maupun eksperimental.










Gambar 15 Hubungan Gaya dengan Perpindahan
Translasi X Joint 4









Gambar 16 Hubungan Gaya dengan
Perpindahan Translasi Z Joint 4









Gambar 17 Hubungan Gaya dengan
Perpindahan Rotasi Y joint 4


Berikut grafik hubungan perpindahan dengan
beban bekerja pada joint 6 dan 9 untuk portal 2
lantai :







0
10
20
30
40
1 2 3 4 5 10 15 20 25 30
P
e
r
p
i
n
d
a
h
a
n
(
m
m
)
Gaya Hori zontal (Kgf)
Grafik Perpindahan X Joint 3
Ekspe ri men
Teori ti s
-0.00250
-0.00200
-0.00150
-0.00100
-0.00050
0.00000
1 2 3 4 5 10 15 20 25 30
P
e
r
p
i
n
d
a
h
a
n
(
m
m
)
Gaya Horizontal (Kgf)
Grafik Perpindahan Z Joint 3
Eksperimen
Teori ti s
0.0000
0.0200
0.0400
0.0600
0.0800
1 2 3 4 5 10 15 20 25 30
R
o
t
a
s
i
(
r
a
d
)
Gaya Horizontal (Kgf)
Grafik Perpindahan Rotasi Y
Joint 3
Eksperi men
Teori ti s
0
10
20
30
40
1 2 3 4 5 10 15 20 25 30
P
e
r
p
i
n
d
a
h
a
n
(
m
m
)
Gaya Hori zontal (Kgf)
Grafik Perpindahan x Joint 4
Eksperimen
Teoriti s
-0. 00250
-0. 00200
-0. 00150
-0. 00100
-0. 00050
0. 00000
1 2 3 4 5 10 15 20 25 30
P
e
r
p
i
n
d
a
h
a
n
(
m
m
)
Gaya Horizontal (Kgf)
Grafik Perpindahan z Joint 4
Eksperi men
Teoriti s
0.00000
0.02000
0.04000
0.06000
0.08000
1 2 3 4 5 10 15 20 25 30
R
o
t
a
s
i
(
R
a
d
)
Gaya Horizontal (Kgf)
Grafik Perpindahan Rotasi y
Joint 4
Eksper imen
Teori tis
28 Wahana TEKNIK SIPIL Vol. 14 No. 1 April 2007: 17-28












Gambar 18 Hubungan Gaya dengan
Perpindahan Translasi X Joint 4








Gambar 19 Hubungan Gaya dengan
Perpindahan Translasi Z Joint 4








Gambar 20 Hubungan Gaya dengan
Perpindahan Rotasi Y joint 4

PEMBAHASAN
Dari gambar grafik diatas menunjukkan bahwa
pada beban yang relatif kecil hasil antara
eksperimen dibanding dengan hasil teoritis hampir
sama, hal ini dikarenakan sifat material.

SIMPULAN
Dari hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa
perbedaan yang terjadi antara eksperimen dengan
teoritis menunjukkan kesalahan yang relatif kecil
untuk kondisi pembebanan yang dalam batas-batas
elastis. namun untuk batas-batas beban yang sudah
mendekati leleh menunjukkan perbedaan yang
cukup signifikan. Berdasarkan hasil tersebut alat
dapat digunakan untuk peraga/ praktik mata kuliah
analisis struktur metode matrik, namun perlu
dikembangkan lagi sistem pengukuran yang lebih
akurat.

UCAPAN TERIMA KASIH
Penelitian diperlukan ketekunan, keseriusan untuk
mencapai suatu hasil yang diharapkan maksimal,
di samping dana yang tidak sedikit kadang-kadang
juga menjadi kendala dalam keberhasilan dan
kelanjutan penelitian tersebut. Selanjutnya
diterapkan dalam masyarakat industri. Dalam
penelitian ini atas nama tim peneliti mengucapkan
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada
berbagai pihak yang telah mendukung
pelaksanaan penelitian ini kepada pihak Politeknik
Negeri Semarang yang telah mendanai
pelaksanaan penelitian ini, UP2M Polines yang
telah membantu terselenggaranya penelitian, para
anggota tim penliti terutama para mahasiswa yang
telah bekerja keras untuk membantu proses
penelitian.

DAFTAR PUSTAKA
1. Ajit, K.M and Singh, 1991. Deformation of
Elastic Solid. New Jersey: Prentice Hall,
Englewood Cliffs.
2. Armenakas, A.E, 1991. Modern Structural
Analysis The Matrix Method Approach. New
York: Mc Graw-Hill, Inc.
3. Cook, R.D, 1985. Advanced Mechanics of
Materials. New York: Macmillan Publishing
Company.
4. Cook, R.D., 1990. Konsep dan Aplikasi
Metode Elemen Hingga. “ Edisi Pertama.
Bandung: PT Eresco.
5. Dally, J.M and Riley, W.F, 1991, 3
rd
edition.
Experimental Stress Analysis. New York: Mc
Graw-Hill International.
6. Reddy, J.N., 1993. An Introduction to the
Finite Element Method. Second Edition: New
York: McGraw-Hill International.
7. Wilson E.L and Habibullah A, 2002. SAP2000
A Series Of Computer Program for the Static
and Dynamic Finite Element Analysis of
Structures. California: CSI, Inc, Berkeley.
-0.040
0.010
0.060
0.110
0.160
0.210
1 2 3 4 5 10 15 20 25 30
P
e
r
p
i
n
d
a
h
a
n
(
m
m
)
Gaya Horizontal (Kgf)
Grafik Perpindahan X Joint 4
Eksperimen
Teoritis
-0.00500
-0.00400
-0.00300
-0.00200
-0.00100
0.00000
1 2 3 4 5 10 15 20 25 30
P
e
r
p
i
n
d
a
h
a
n
(
m
m
)
Gaya Horizontal (Kgf)
Grafik Perpindahan Z Joint 4
Eksperimen
Teoritis
0.0000
0.0020
0.0040
0.0060
1 2 3 4 5 10 15 20 25 30
R
o
t
a
s
i
(
r
a
d
)
Gaya Horizontal (Kgf)
Grafik Perpindahan Rotasi Y
Joint 4
Eksperimen
Teori tis

atau sumbu elemen Elemen lentur adalah elemen apabila ditinjau dari sifatnya dalam merespons gaya berupa momen lentur dan atau gaya lintang atau dengan kata lain repons perpindahan yang terjadi berupa displacemen dan putaran sudut ujung batang. Portal 2D ini terdiri dari elemen aksial dan elemen lentur My atau Mz. rangka batang ruang (space truss). Struktur portal ini terdiri dari elemen aksial. z y x My Dz My Dz Gambar 2 Model Elemen Lentur Contoh model dari sistem struktur yang menggunakan model elemen ini adalah balok di atas dua tumpuan (simple beam). antara lain pada elemen frame suatu batang elemen dianggap sebagai suatu garis yang tidak mempunyai dimensi tebal dan lebar. dan gaya puntir. b. Gaya-gaya dalam yang merupakan respons struktur terhadap gaya luar dapat dibedakan menjadi gaya aksial. balok tengah dengan bentang yang saling berseberangan tidak sama panjang dan as pemutar pada mesin. dan balok grid serta struktur pelat dan cangkang ( Gambar 1 Model Elemen Aksial 18 Wahana TEKNIK SIPIL Vol. sistem portal dua dimensi. elemen lentur. Hal ini menyebabkan analisis tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya dari struktur tersebut. portal bidang. Elemen-elemen tersebut akan membentuk sistem struktur rangka. Elemen torsi adalah elemen dimana dalam merespons gaya selalu memutar sumbu elemen (batang) sehingga perpindahan yang terjadi berupa putaran sudut. a. gaya puntir bekerja memutar sumbu aksial batang (Mx). yaitu susunan portal bersifat simetris sehingga model 2D dapat mewakili portal yang lain. Gaya aksial akan bekerja pada elemen struktur searah dengan sumbu batang berupa gaya tarik atau tekan. yaitu elemen aksial. 14 No. Elemen aksial adalah suatu elemen struktur yang di dalam merespons gaya luar akan diterima sebagai gaya tarik atau tekan yang bekerja searah dengan sumbu elemen. lentur My dan Mz serta momen torsi Mx. Dalam kenyataannya akan dijumpai sistem struktur (portal) yang merupakan gabungan dari beberapa elemen. maka dibedakan elemen berikut. 1 April 2007: 17-28 . Model elemen tersebut ditunjukkan konfigurasi gambar berikut. Struktur ini merupakan portal bidang pada bidang dua sumbu koordinat mendatar. dan elemen torsi. portal ruang. c. dan balok grid. Namun. Portal 3D merupakan portal yang menggunakan elemen paling komplit dalam memodelkannya. lentur . Gaya torsi ini pada struktur banyak dijumpai pada sistem portal balok tepi. 2D. portal tiga dimensi dan balok grid. Secara singkat model elemen aksial digambarkan sebagai berikut. Berdasarkan jenis elemen yang digunakan sering dibedakan sistem struktur antara lain sistem struktur rangka batang bidang (plane truss). yaitu portal 3D. dan portal ruang bergantung jumlah elemen yang digunakan. Portal 2Dl ini merupakan penyederhanaan dalam mengalisis struktur portal 3D apabila dipenuhi kondisi.Tujuan utama analisis struktur adalah untuk menentukan gaya luar dan gaya dalam dari sistem struktur yang akan dipergunakan untuk memperkirakan dimensi penampang elemen struktur tersebut. sedangkan gaya lentur akan bekerja memutar sumbu selain aksial. balok grid. Balok Grid merupakan perpindahan yang terjadi pada sistem ini berupa displacement dan lentur. analisis lebih lanjut dari model struktur yang meninjau tebal dan lebar elemen akan lebih tepat disebut elemen kontinum baik menggunakan elemen shell maupun solid. My dan atau Mz. Dalam menganalisis struktur terdapat beberapa pemodelan yang bertujuan untuk menyederhanakan masalah. Selanjutnya dengan melihat perilaku elemen dalam merespons gaya luar yang bekerja padanya. portal bidang.

f1 d2. dengan Tabel 1. Model Elemen d3.f5 d6. artinya hanya diperlukan bila ingin mendapatkan free body yang lebih rinci pada tiap jarak tertentu.f2 d9.f4 d6.f3 d1.f1 d2. Analisis ini biasanya menggunakan cara diskret (cara ini sering dipakai pada analisis struktur metode elemen hingga). Namun.f2 [k]2x2{d}2x1={f}2x1 bila diurai jadi orde 4 Banyak metode yang dapat digunakan didalam mengalisis struktur dari yang paling sederhana sampai yang rumit dan detail. Joint-joint tambahan tersebut bersifat nonmandatory. selanjutnya dari momen ujung batang tersebut diperoleh gaya-gaya yang lain berupa gaya aksial dan lintang.f10 d2.f11 d7.f7 d12.(Sudarmono ) . Cara ini biasanya hanya terbatas untuk menganalisis struktur dua dimensi. Bahkan. dan lain-lain. secara garis besar dapat dibedakan dengan dua cara. Cara ini sekarang berkembang pesat setelah ditemukan komputer sehingga derajat kebebasan struktur tidak menjadi kendala dalam mencari invers matrik kekakuan struktur.f2 d3.f6 [k]6x6{d}6x1={f}6x1 [k]6x6{d}6x1={f}6x1 Grid d1. misalnya struktur dianggap terwakili oleh portal dua dimensi.f1 d3. dan metode beda hingga disebut cara eksak dikarenakan di dalam mendapatkan gaya-gaya dalam pada elemen akan diperoleh secara langsung dari sistem persamaan yang melibatkan propertis penampang elemen. antara elemen frame dengan elemen kontinum disuperposisikan.f4 d5. kani. artinya di dalam analisis akan dilakukan penyederhanaan. Dalam analisis sistem struktur dapat juga dilakukan analisis antara elemen frame dengan elemen kontinum secara bersamaan artinya. yaitu cara pendekatan dan cara eksak. misalnya tiap 50 cm atau tiap 1 meter. Jika kita mempunyai panjang elemen 5 meter. Elemen [k]12x12{d}12x1={f}12x1 Portal bidang d2. Cara-cara tersebut dalam mendapatkan gaya elemen dilakukan dengan cara iterasi berupa momen ujung batang.f8 Kek. Takabeya. dalam metode diskret elemen hingga suatu struktur dapat dibuat DOF dari yang terkecil sampai terbesar dengan menambah joint-joint tambahan. metode elemen hingga.f2 Rangka ruang [k]2x2{d}2x1={f}2x1 bila diurai jadi orde 6 d1.f6 d4. Penggunaan elemen pada sistem struktur tersebut dapat disajikan dalan Tabel 1. Yang termasuk dalam kelompok cara pendekatan adalah cara cross..f12 d10.f5 d2.f6 d11.f3 d5.biasanya dianggap non struktural ).f5 d4.f4 d5.f1 Rangka bidang d1.f1 d4. Sistem Struktur Sistem Portal Ruang menjumlahkan gaya dan perpindahan yang sesuai. Claperron.f2 d1.f9 d8. Pada cara eksak antara lain metode matrik. maka dengan 5 joint 19 RANCANG BANGUN ALAT BANTU PROSES BELAJAR MENGAJAR…….f3 d6.

vertikal. pengukuran dilakukan secara manual untuk menentukan perpindahan mendatar dan vertikal yang ditunjukkan dengan kertas milimeter. kekakuan elemen struktur (global). dan metode energi. Dengan adanyamodel alat tersebut dapat meningkatkan kompetensi kelulusan mahasiswa Politeknik Negeri Semarang dalam bidang analisis struktur dalam perencanaan bangunan. 1 April 2007: 17-28 .5 cm H1 39. H 39. 3. d. maka kita dapat membandingkan pola perilaku deformasi struktur dari teori dan eksperimen secara langsung. Model Struktur Portal Satu Tingkat 2x39. adapun bentuk model yang akan digunakan dalam pembuatan model ini adalah : 20 1. Oleh karena itu. Analisis struktur metode matrik merupakan cara langsung mendapatkan gaya-gaya dalam elemen struktur. Alat akan dibuat untuk model elemen frame portal berupa portal 2 dimensi sampai 2 tingkat. 14 No. Rancang Bangun model alat untuk mengukur deformasi pada analisis struktur metode matrik didasarkan asumsi berikut. Hingga saat ini belum ada peralatan model peraga yang dapat menunjukkan besarnya perpindahan (dof) pada analisis struktur metode matrik. dan menjumlahkannya menjadi kekakuan struktur serta mencari perpindahan nodal struktur akibat bekerjanya gaya. perlu dilakukan rancang bangun model alat pengukur deformasi untuk mendapatkan nilai perpindahan sesuai arah DOF yang diasumsikan.5 cm 39. melatih kemandirian staf pengajar untuk menciptakan sendiri peralatan penunjang yang diperlukan dalam proses belajar mengajar. Dengan dibuatnya alat ini.5 cm Gambar 3b. dan dapat Wahana TEKNIK SIPIL Vol. bahan pelat strip tebal 5 mm lebar 24 mm dari baja mutu standar. nilai perpindahan yang didapat digunakan untuk membandingkan hasil perhitungan secara teoritis (metode matrik). Dengan adanya alat ini proses belajar mengajar dapat memberikan gambaran secara jelas kepada mahasiswa mengenai perilaku DOF (Derajat Kebebasan Struktur) pada analisis struktur metode matrik.5 cm H2 34. selama pembebanan material masih berperilaku elastis. penampang rata tetap rata sebelum dan sesudah penegangan (azas Bernoulli dan Navier). Berdasarkan uraian di atas ternyata cukup sulit bagi mahasiswa untuk dapat menyerap secara cepat materi kuliah analisis struktur metode matrik. b. maupun rotasi. antara lain metode slope deflection.tambahan akan diperoleh detail free body tiap 1 meter dan seterusnya. Prinsip model alat ini adalah dengan cara mengukur perpindahan (DOF) baik secara mendatar. Banyak metode yang digunakan untuk mendapatkan kekakuan elemen. yaitu: a. pada penelitian ini telah dibuat model alat bantu guna mempermudah penyerapan dalam proses belajar mengajar. Oleh karena itu. gambar secara singkat model adalah sebagai berikut. sedangkan untuk kontrol rotasi dihitung berdasarkan perpindahan vertikal dan perpindahan horizontal dengan alat ukur dial. c. teori elastisistas masih berlaku. Hal terpenting dalam metode ini adalah menentukan kekakuan elemen lokal. Iahap berikutnya akan diteruskan dengan model portal 3 dimensi yang dilengkapai dengan pengukuran dengan strain gage dan perekam digital. 2.5 cm Gambar 3a. Model Portal 2 Dimensi 2 Lantai Secara ringkas tujuan penelitian ini adalah membuat alat bantu kuliah bagi mahasiswa dalam pembelajaran mata kuliah Analisis Struktur Metode Matrik dengan membuat model alat peraga dan menunjukkan gambaran perilaku perpindahan joint pada struktur dengan elemen frame khususnya portal 2Dimensi. 4.

yaitu elemen aksial. Analaisis struktur metode matrik secara umum dibedakan dalam dua metode. elastis nonlinier. dan perpindahan ditinjau masing-masing gaya yang menyebabkan deformasi yang didasarkan pada hukum Hooke F = k. dan plastis dapat dijelaskan dari grafik hubungan tegangan regangan berikut.(Sudarmono ) . Besarnya deformasi ini sangat dipengaruhi oleh propertis elemen struktur tersebut. yaitu metode gaya (fleksibilitas) dan metode perpindahan (kekakuan). Metode gaya dalam penyusunan persamaan matrik strukturnya didasarkan perpindahan satu satuan yang selaras. σ σ σ A.{D}= matrik perpindahan titik nodal. dan elemen torsi). dan x = perpindahan yang sesuai. kemudian nilai perpindahan yang selaras tersebut digunakan untuk mendapatkan matrik gaya nodal. Untuk menurunkan matrik kekakuan elemen aksial. maka konstruksi tesebut akan mengalami deformasi. Kukum Hooke hanya akan berlaku apabila material bersifat elastis linier. Matrik kekakuan elemen frame dalam penurunan persamaan dibedakan dalam tiga elemen dasar. k= konstanta sesuai elemen (kekakuan elemen). sesuai dengan dof struktur yang biasanya diasumsikan satu satuan. Selajutnya penurunan matrik kekakuan elemen yang digunakan dalam struktur terutama elemen frame (terdiri dari elemen aksial. Metode kedua adalah metode perpindahan (kekakuan). elemen lentur. Penurunan persamaan elemen kekakuan dengan metode energi perlu pemahaman diferensial dan intergral matrik.meningkatkan kompetensi diri pengajar dalam proses tranfer ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni kepada mahasiswa. Penurunan matrik kekakuan elemen dapat dilakukan dengan beberapa metode. dan{X}= matrik perpindahan. yaitu [K]{D} = {P}.E B NB x ε Elastis Linier ε Elastis non Linier Plastis ε Gambar 5 Grafik Tegangan Regangan 21 RANCANG BANGUN ALAT BANTU PROSES BELAJAR MENGAJAR……. Pengertian material elastis linier. Metode ini merupakan metode yang paling disukai banyak orang karena kemudahannya untuk ditetapkan dalam program komputer. kekakuan. Persamaan umum metode gaya adalah [f]{P} = {X}. Suatu konstruksi bangunan yang menerima pembebanan baik beban bentang maupun beban pada titik nodal. dimana [K] = matrik kekakuan struktur. sedangkan metode perpindahan didalam persamaan matrik struktur didasarkan pada gaya nodal ekivalen yang besarnya bergantung pada beban yang bekerja. metode deformasi.. di mana F = gaya. lentur. di mana [f]= matrik fleksibilitas (invers dari matrik kekakuan). x . yaitu metode energi. kita tinjau gambar model struktur yang menerima gaya aksial berikut : A NA x1 Gambar 4 Model Deformasi Elemen Axial Untuk mendapatkan hubungan gaya. {P}= matrik gaya. dan {P} = matrik gaya nodal. Penurunan akan menggunakan metode deformasi yang didasarkan pada hukum Hooke untuk elemen aksial serta teori slope deflection untuk elemen lentur serta teori geser torsi. terutama untuk mencari integrasi fungi bentuk yang dihasilkan dari teori elemen hingga. Dengan beban nodal yang diketahui atau dari beban bentang yang dikonversi ke beban nodal tersebut selanjutnya digunakan untuk mendapatkan perpindahan titik nodal dan pada akhirnya untuk mencari gaya elemen baik dalam sumbu global maupun dalam sumbu lokal. dan torsi. Propertis penampang ini menjadi bagian pembentuk kekakuan elemen yang sesuai.

14 No... maka kekakuan struktur merupakan penjumlahan dari kekakuan elemen yang didasarkan acuan sumbu yang sama (sumbu struktur). L (8) Persamaan (7) disebut sebagai persamaan matrik kekakuan elemen aksial. (7) K 22  x 2   NB di mana {N}= Matrik gaya nodal ujung.. L AE x 2 ……………………………… NB = L NA = − (3) (4) Dengan mensuperposisikan kempat kondisi tersebut didapat persamaan : AE AE x1 − x2 L L ……………………… (5) AE AE x2 NB = − x1 + L L NA = x Gambar 8 Matrik Gabungan Elemen Dengan cara yang sama seperti pada persamaan (5 dan 6). Jika batangnya lebih dari satu yang dirangkai dalam satu konstruksi.E mengakibatkan B  AE NA   L  =   NB  − AE  L atau secara umum − AE  L   x 1  ………….. 1 April 2007: 17-28 . [K]= matrik kekakuan (selalu simetris)... L AE NB = − x 1 ……………………………. kecuali dimensi penampang berubah. dan {x}= matrik perpindahan atau k= AE  1 − 1   …………………………… L − 1 1  Gambar 6 Matrik Elemen Aksial Gaya NA Dari keseimbangan gaya diperoleh hubungan gaya sebagai berikut : NA = AE x 1 ……………………………. maka cara penyelesaiannya juga sama dengan berpegang prinsip setiap gaya aksi akan menimbulkan reaksi yang berlawanan arah dengan aksi tersebut..E Gambar 7 Matrik Elemen Aksial Gaya NB AE x 2 ……………………………. Penjumlahan terjadi pada elemen-elemen yang saling koneksi dalam suatu nodal.Selanjutnya untuk mendapatkan matrik kekakuan elemen diturunkan dengan memisahkan akibat gaya NA dan reaksinya yang sepadan di titik B serta gaya NB dan reaksinya di titik A sebagai berikut : a. (6) AE  x 2    L   NA   K11 =   NB  − K 21 − K12   x1    …………. Hal ini menunjukkan bahwa kekakuan elemen menjadi bagian kekakuan dari struktur gabungan atau dengan kata lain bila struktur itu terdiri dari beberapa elemen. Akibat gaya NA. yaitu dengan mengekang tumpuan lain bila tumpuan 1 diberi F1 kemudian F2 Atau dalam bentuk matrik : 22 Wahana TEKNIK SIPIL Vol. mengakibatkan B NB x2 A. Akibat gaya perpanjangan x2 A NA l NB. perpendekan sebesar x1 A NA x1 l A.. L3 A F1 1 x1 A1 L1 2 F2 A3 A2 L2 3 F3 x (1) (2) b.

(Sudarmono ) . k2 = 2 2 L2 L1 dan k 2 = A 3E 3 L3 M yB maka persamaan (9) menjadi : F1 = (k1+k3)x1 – k2x2 – k3x3 F2 = -k1x1 + (k1+k2)x2 – k2 x3 F3 = -k3 x1 – k2x2 + (k2+k3) x3 atau dalam bentuk matrik menjadi :  F1  k 1 + k 3    F2  =  − k 1 F   − k 3  3  −k2 k1 + k 2 −k2 − k 3  x1    − k 2  x 2  (10)  k 2 + k 3  x 3    Apabila yang bekerja hanya beban-beban ujung. dx 3 d2y = C1 x + C 2 (momen lentur) …… dx 2 EI (12) (13) (14) (15) − cs   −s2  …. sudat putar. momen.  c2  [K ] = EA  cs2 L − c   − cs  cs s2 − cs −s2 −c − cs c2 cs 2 maka selanjutnya dengan melakukan integrasi empat kali akan diperoleh persamaan gaya lintang.I.L x Jika k1 = A E A1E 1 .A.tumpuan 1 dan 3 dikekang dan terakhir diberi gaya F3 dengan mengekang tumpuan 1 dan 2 diperoleh persamaan : F1 = A E A E A E A1E1 x1 − 1 1 x 2 + 3 3 x1 − 1 1 x 3 L1 L3 L1 L1 A E A E A E A1E1 x1 + 1 1 x 2 + 2 2 x 2 − 2 2 x 3 L2 L2 L1 L1 A E A E A E A3E3 x1 − 2 2 x 2 + 2 2 x 3 + 3 3 x 3 L3 L2 L2 L3 Sedangkan untuk elemen lentur dapat dinyatakan dengan meninjau suatu elemen balok AB yang menerima beban luar adalah a.. beban ujung MA. maka persamaan menjadi : EI d4y =0 dx 4 Matrik kekakuan pada persamaan 10 di atas masih merupakan matrik kekakuan elemen dalam sumbu lokal.. VB . beban tengah bentang q(x) b. dan MB . EI dy x2 = C1 + C 2 x + C 3 (rotasi) …….A.I.. d4y = 0 (beban merata) …………… dx 4 d3y = C1 (gaya lintang) ……………. (11) cs   s2   EI EI Selanjutnya dengan menyelesaikan persamaan (2) kita dapat menghitung gaya batang baik berdasarkan sumbu local maupun sumbu global. dan lendutan dengan urutan integrasi berikut. (12) dx 4 F2 = − F3 = − (9) q(x) E. VA..L V E. NB y V yA M θA θB Gambar 9 Model Elemen Lentur maka persamaan deferensial penentu dari elemen adalah : EI d4y = q ( x ) ………………………. NA. dx 2 EI = C1 x3 x2 + C2 + C 3 x + C 4 (lendutan) (16) 6 2 23 RANCANG BANGUN ALAT BANTU PROSES BELAJAR MENGAJAR……. untuk menyusun matrik struktur diperlukan matrik kekakuan elemen dalam sumbu global yaitu dengan bantuan matrik transformasi yang meng-hasilkan matrik kekakuan elemen dalam sumbu global untuk elemen aksial sebegai berikut.

sedangkan gaya lintang ditinjau dari kiri VA positif dan VB negatif sehingga didapat persamaan berikut. 14 No. Pada x= 0 Nilai batas alamnya adalah yA dan θA. (19) 6 2 Mengingat hubungan gaya dengan deformasi persamaan (14 dan 15) serta free body elemen. yaitu berupa perpindahan (displacement) dan rotasi ujung batang pada x = 0 dan x = L berikut. Dengan memasukkan ke persamaan (16) didapat : y = C4 = yA …………………………. (17) Dengan cara yang sama. − MA d2y VA d 3 y = 2 dan = EI dx EI dx 3 1  dy  = C1 L2 + C 2 L + C 3 = θ B … (20) EI dx   x =L 2  Jadi. dan C4 adalah nilai konstanta yang dicari berdasarkan kondisi batas alam elemen (boundary condition). a. 1 April 2007: 17-28 . karena q = 0 EI  dx  x = L 6 6 12   12 VB = EI  − 3 y A − 2 θ A + 3 y B − 2 θ B  L L L   L MB d2y = = C1 L + C 2  EI  dx 2  x = L 4  2 6 6 M B = EI  2 y A + θ A − 2 y B + θ B  L  L L L Apabila keempat persamaan tersebut disusun dalam bentuk matrik menghasilkan b.C1. C2. yaitu nilai MA menurut free body dari kiri adalah negatif serta MB posistif. Eliminasi C2 didapat C1 1 1 C1 L3 + C 2 L2 + θ A L + y A 2 6 1 1 x L θ B = C1 L2 + C 2 L + θ A 2 2 ____________________________________ − yB = 1 1 1   3  y B − θ B * L  = − C1 L + θ A * L + y A 2 12 2   12  1  C1 = 3 (y A − y B ) + (θ A + θ B )L  2 L   12 6 12 6 C1 = 3 y A + 2 θ A − 3 y B + 2 θ B L L L L Pada x=L  d3y  V − B = 3 = C1 atau syarat VA + VB = 0. Eliminasi C1 didapat C2 24 Wahana TEKNIK SIPIL Vol. C3. sehingga nilai C1 dan C2 dapat diperoleh dengan eliminisi kedua variabel secara bergantian berikut. dengan C4 = yA dan C3 = θA Pada x = 0 VA  d 3 y  = C1 =  EI  dx 3  x =0 6 6 12  12  VA = C1 EI = EI  3 y A + 2 θ A − 3 y B + 2 θ B  L L L L   MA d2y  = C2 − =  EI  dx 2  x =0 6 2  4 6 y + θ M A = −C 2 EI = EI  2 y A + θ A − 2 B L B L L L  Selanjutnya dengan mesubstitusikan nilai C4 dan C3 kedalam persamaan (9c dan 9d) didapat persamaan dengan variabel C1 dan C2 yang merupakan dua persamaan dengan dua varibel. mengalikan dengan L/3 : 1 1 C1 L3 + C 2 L2 + θ A L + y A 6 2 1 1 2 x L θ B = C1 L + C 2 L + θ A 3 2 ____________________________________ − yB = 1  1 2  2  y B − θB * L  = C2 L + θA * L + yA 3  6 3  2 1 6   C 2 = 2 (− y A + y B ) − θ A * L − θ B * L  3 3 L   6 4 6 2 C2 = − 2 y A − 2 θA + 2 y B − θB L L L L  dy  = C 3 = putaran sudut = θ A … (18) EI dx   x =0  Pada x= L Nilai batas alamnya adalah yB dan θB y= 1 1 C1 L3 + C 2 L2 + C 3 L + C 4 = y B ….

....... fi5 d4 .. yaitu masalah pengukuran perpindahan secara manual..7]. METODE PENELITIAN Pengembangan teori analisis struktur metode matrik dan mekanika bahan (mechanics of materials) akan menjadi acuan utama untuk pembuatan model alat pengukur deformasi pada joint dalam penelitian ini. menganalisis perpindahan yang terjadi pada masing-masing dof kemudian diverifikasi dengan hasil pengukuran secara elektrik dari rangkaian strain gage yang terpasang pada model.... Penentuan dimensi model dimulai dari studi pustaka dan teori-teori pendukung agar tidak terjadi perbedaan yang mencolok antara perilaku model yang dihasilkan dengan kondisi sebenarnya.. d. Di samping itu...d.. dengan persamaan sebagai berikut... menentukan sistem sambungan frame apakah dengan las atau dengan sistem sok 25 (21) dan k disebut sebagai matrik kekakuan elemen lentur. i d3 .. oleh karena itu diperlukan konversi dan verifikasi dari hasil pengujian model. fi1 Gambar 10 Elemen Portal Dua Dimensi dalam Sumbu Lokal  EA  f 1   L  i   0 f 2    i   f 3   0  i   4  =  EA f i   −  5  L f i    6  0 f i      0   0 12EI Z L3 6EI Z L2 0 − 12EI Z L3 6EI Z L2 − 0 6EI Z L2 4EI Z L 0 6EI Z L2 2EI Z L − EA L 0 0 EA L 0 0 − 0 12EI Z L3 6EI Z L2 0 12EI Z − L3 6EI Z L2   6EI Z   L2  2EI Z  L   0   6EI  − 2Z  L  4EI Z  L   0 − d1  d   2 d   3 d   4 d   5 d 6    . Selanjutnya dengan menyusun matrik kekakuan elemen dari persamaan (22) dan menyelesaikan persamaan matrik struktur (2) didapat hasil teoritis untuk dikomparasi dengan percobaan.(Sudarmono ) . Untuk menganalisis alat pengukur deformasi joint pada sistem rangka batang sesuai dengan dof.. penentuan sifat material dan dimensi struktur. dibawah ini merupakan ringkasan langkahlangkah penelitian : a. b.... Gabungan (superposisi) antara elemen axial dan elemen lentur menghasilkan matrik kekakuan elemen portal dua dimensi dalam sumbu lokal... fi6 y d2 ... d1.. 6 menyatakan nomor unsur perpindahan dan rotasi dan i menyatakan kode nomor elemen. (22) RANCANG BANGUN ALAT BANTU PROSES BELAJAR MENGAJAR……. Setelah studi pustaka dan pendimensian model perlu adanya pengujian bahan untuk mengetahui properties elemen terutama modulus Elastisitas... menentukan bentuk dan susunan frame model.. x d5..... teori deformasi dan slop deplection juga menjadi dasar dalam penentuan matrik kekakuan elemen aksial dan elemen lentur untuk penelitian selanjutnya [1..4..3.... f4 d6..2.. 12 EI Z  L3  V A   6 EI Z M    A   L2  V  =  12 EI Z  B  − M B   L3    6 EI Z  L2  6 EI Z L2 4 EI Z L 6 EI Z − L2 2 EI Z L − − 12 EI Z L3 6 EI Z L2 12 EI Z L3 6 EI Z L2 − 6 EI Z   L2 y 2 EI Z   A   θA   L  6 EI Z   y B   −  L2   θ B    4 EI Z  L   bila k adalah  12 EI Z  L3  6 EI Z   L2 k=  12 EI Z − L3  6 EI Z   L2  6 EI Z L 4 EI Z L 6 EI Z − L2 2 EI Z L 2 − − 12 EI Z L 6 EI Z 3 L2 12 EI Z L3 6 EI Z L2 − 6 EI Z   L2 2 EI Z   L  6 EI Z  −  L2  4 EI Z  L   Persamaan (21) tersebut merupakan persamaan matrik elemen struktur dalam sumbu lokal dimana tanda superscrip 1 s.... c..

002015 -0.000269 -0.0000000075 -0.F4 3 39.89146 9.0000000942 -0.0000000753 -0.03715 0.9897 19.0003 -0.015938 0.6995 0.004251 0.00248 0.0000000151 -0.89106 6.0371479 0.031877 Tabel 3 Perpindahan DOF pada Joint 4 Beban (kg) 1 2 3 4 5 10 15 20 25 30 X (mm) Eksp 0.7983 3.0000000753 -0.000336 -0. membuat frame model dan skala pengukur perpindahan dof serta memasang strain gage yang dirangkai dengan alat perekam.F6 d1.001063 0.95658 2.0619132 0.010628 0.0000000377 -0.4934 13.6996 1.0000000565 -0.021251 0.0000000188 -0.000672 -0. melakukan pengujian model secara manual. HASIL Berdasarkan hasil eksperimen dilaboratorium untuk portal satu lantai dengan ukuran seperti pada gambar 4a diatas dihasilkan perpindahan yang ditunjukkan dalam tabel 2 dibawah ini. Agar diperoleh gambar grafik yang menunjukkan pola perilaku truktur yang masih bersifat elastis dilakukan pembebanan secara bertahap.04953 0.0985 2.000067 -0.0007 -0.002126 0.0000000113 -0.001007 -0.78291 14.5 cm 2 Gambar 11 Konfigurasi Pengujian Model Beban yang bekerja berupa beban terpusat yang diletakkan pada joint 4.005314 0.67319 13. menganalisis hasil pengujian dan membuat laporan.F3 d5.0020 -0.9956 10.9869 Teori 0.91316 4.F1 d4.00425 0.5 cm 4 1 39.4871 24. 1 April 2007: 17-28 .0000001130 Rotasi (rad) Eksp Teori 0.34638 d2.002125 0.003188 0. sedangkan dial pengukur perpindahan vertikal dan horizontal diletakan pada joint 3 dan 4. e.97821 1.01238 0.0010 -0. Perpindahan Z (mm) Eksperimen Teori -0.sperti pada sambungan pipa guna mencari kondisi sambungan yang paling elastis.031883 0.0123826 0.93464 2.0000000942 -0. f.001063 0.0001 -0.56582 24.005313 0.00991 0.0000000151 -0.4974 4.0013 -0.0000001130 Rotasi (rad) Eksperimen Teori 0.0003 -0.026569 0.F5 d6.0074296 0.91285 3.026564 0.000201 -0. g.0017 -0.0000000038 -0.78213 10.0000000075 -0.56426 17.45532 20.0000000565 -0.0002 -0.97829 1.9913 17.4978 6.000134 -0.0001 -0.0099061 0.015941 0.4891 20.0247653 0.3990 1.3991 2.0000000377 -0.0000000113 -0. 14 No.7979 3.34874 Perpindahan Z (mm) Eksp Teori -0.0495306 0. Gambar 9 diatas menyatakan hubungan perpindahan sesuai dof yang dipasangkan dengan gaya yang sesuai.010626 0.45728 29.0000000188 -0. Tabel 2 Perpindahan DOF pada Joint 3 Beban (kg) 1 2 3 4 5 10 15 20 25 30 X (mm) Eksperimen Teori 0.003188 0.02477 0.021255 0.67437 19.95643 2.9845 29.00743 0.0000000038 -0.00495 0.0024765 0.9948 9.0987 2.001679 -0.07430 0.0742958 26 Wahana TEKNIK SIPIL Vol.0049531 0.93487 3.4923 14.06191 0.001343 -0.F2 d3.

(Sudarmono ) 27 . 00000 -0.00050 -0.00250 Eksperimen T eoritis Grafik Perpindahan z Joint 4 ) m m ( n a h a d n i p r e P 0. 00100 -0..00000 -0.0600 0.06000 0. 00200 -0.00000 1 Eksper ime n Teoritis Gambar 13 Hubungan Gaya dengan Perpindahan Translasi Z joint 3 Grafik Perpindahan Rotasi Y Joint 3 ) d a r ( i s a t o R 0.0000 1 Ekspe rimen Teoritis 2 3 4 5 10 15 20 25 30 Gaya Horizontal (Kgf) 2 3 4 5 10 15 20 25 30 Gaya Horiz ontal (Kgf) Gambar 17 Hubungan Gaya dengan Perpindahan Rotasi Y joint 4 Gambar 14 Hubungan Gaya dengan Perpindahan Rotasi Y joint 3 Kondisi yang sama atau hampir sama dengan keadaan pada titik 3 juga terjadi da titik 4.02000 0.00150 -0.00100 -0.0400 0.08000 0. 00050 -0. Grafik Perpindahan x Joint 4 ) m 40 m ( n 30 a 20 h a 10 d n i 0 p r e P Grafik Perpindahan X Joint 3 ) m 40 m ( n 30 a h a20 d n i 10 p r 0 e P 1 2 3 4 5 10 15 20 25 30 Eksp erimen Teoritis Gaya Horizontal (Kgf) Ekspe rimen Teoritis 1 2 3 4 5 10 15 20 25 Gaya Hori zontal (Kgf) 30 Gambar 15 Hubungan Gaya dengan Perpindahan Translasi X Joint 4 Gambar 12 Hubungan Gaya dengan Perpindahan Translasi X joint 3 Grafik Perpindahan Z Joint 3 ) m m ( n a h a d n i p r e P 0. baik secara teoritis maupun eksperimental. Berikut grafik hubungan perpindahan dengan beban bekerja pada joint 6 dan 9 untuk portal 2 lantai : RANCANG BANGUN ALAT BANTU PROSES BELAJAR MENGAJAR……. 00150 -0.0200 0.00200 -0.04000 0. 00250 Eksperimen Teoritis 1 2 3 4 5 10 15 20 25 30 1 2 3 4 5 10 15 20 25 30 Gaya Horizontal (Kgf) Gaya Horizontal (Kgf) Gambar 16 Hubungan Gaya dengan Perpindahan Translasi Z Joint 4 Grafik Perpindahan Rotasi y Joint 4 ) d a R ( i s a t o R 0.0800 0.Berikut grafik yang menggambarkan pola perpindahan hasil eksperimen portal satu tingkat dikomparasi dengan hasil analisis struktur metode matrik (teoritis).

14 No. UCAPAN TERIMA KASIH Penelitian diperlukan ketekunan. New York: Mc Graw-Hill. Dalam penelitian ini atas nama tim peneliti mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada berbagai pihak yang telah mendukung pelaksanaan penelitian ini kepada pihak Politeknik Negeri Semarang yang telah mendanai pelaksanaan penelitian ini.M and Riley.D.. 1 2 3 Eksperime n Teoritis 4 5 10 15 20 25 30 Gaya Horizontal (Kgf) Gambar 18 Hubungan Gaya dengan Perpindahan Translasi X Joint 4 Grafik Perpindahan Z Joint 4 ) m m ( n a h a d n i p r e P 0. Second Edition: New York: McGraw-Hill International. Armenakas.00000 -0. SAP2000 A Series Of Computer Program for the Static and Dynamic Finite Element Analysis of Structures. A. 6. 1991. Experimental Stress Analysis.F. Advanced Mechanics of Materials.00400 -0. New Jersey: Prentice Hall.110 a d 0.Grafik Perpindahan X Joint 4 ) m 0. New York: Macmillan Publishing Company.010 e P -0. 4.L and Habibullah A. Bandung: PT Eresco.060 n i p r0.0020 0. Ajit.0040 0. 2002. Englewood Cliffs. para anggota tim penliti terutama para mahasiswa yang telah bekerja keras untuk membantu proses penelitian. 3.0000 1 Eksperim en Teo ritis 2 3 4 5 10 15 20 25 30 Gaya Hor izontal (Kgf) Gambar 20 Hubungan Gaya dengan Perpindahan Rotasi Y joint 4 PEMBAHASAN Dari gambar grafik diatas menunjukkan bahwa pada beban yang relatif kecil hasil antara eksperimen dibanding dengan hasil teoritis hampir sama. R.0060 0. 7.. An Introduction to the Finite Element Method. Selanjutnya diterapkan dalam masyarakat industri. W. 1990. Inc. Cook. Wilson E. 1991. 3rd edition. 1 April 2007: 17-28 .040 untuk kondisi pembebanan yang dalam batas-batas elastis. J.E. Konsep dan Aplikasi Metode Elemen Hingga. namun perlu dikembangkan lagi sistem pengukuran yang lebih akurat.D. di samping dana yang tidak sedikit kadang-kadang juga menjadi kendala dalam keberhasilan dan kelanjutan penelitian tersebut. New York: Mc Graw-Hill International.00500 Eksperimen Teoritis 1 2 3 4 5 10 15 20 25 30 Gaya Horizontal (Kgf) Gambar 19 Hubungan Gaya dengan Perpindahan Translasi Z Joint 4 ) d a r ( i s a t o R Grafik Perpindahan Rotasi Y Joint 4 0.210 m ( 0. California: CSI.00200 -0. 1985. Modern Structural Analysis The Matrix Method Approach. Deformation of Elastic Solid. 1993. SIMPULAN Dari hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa perbedaan yang terjadi antara eksperimen dengan teoritis menunjukkan kesalahan yang relatif kecil 28 Wahana TEKNIK SIPIL Vol. DAFTAR PUSTAKA 1. 2. K.N. UP2M Polines yang telah membantu terselenggaranya penelitian. namun untuk batas-batas beban yang sudah mendekati leleh menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan. R. Inc.160 n a h 0. Berdasarkan hasil tersebut alat dapat digunakan untuk peraga/ praktik mata kuliah analisis struktur metode matrik. Berkeley. hal ini dikarenakan sifat material. “ Edisi Pertama. Reddy.00300 -0.M and Singh. 1991. J. keseriusan untuk mencapai suatu hasil yang diharapkan maksimal. Dally. Cook. 5.00100 -0.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful