You are on page 1of 10

1

Buana Sains Vol 6 No 1: 1-10, 2006

PENGARUH METODE DETERMINASI TERHADAP NILAI


ENERGI METABOLIS DEDAK PADI

Achmanu Zakaria
Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya, Jl. Veteran, Malang 65145

Abstract
Three experiments were done to study the apparent and true metabolizable energy
(AMEN and TME) values of rice bran determined with broiler chicken and duck. In
experiment I, 48 broiler of 6 weeks old consisting male and female broiler were divided
into 8 group, 3 birds each. Each group was fed experimental feed i.e. basal, mix of basal
and rice bran (50:50) and pure rice bran according to determination methods which
were Farrell, Terpstra (Spelderholt Quantitative Method) and Sibbald method.
Experiment II used 10 male broiler chickens of 6 week old and 1250 ± 9,6 g body
weight and 10 male ducks of 8 week old and 1300 ± 11,2 g body weight. Five of them
were unfed for correcting the endogenous excreta energy. The results of experiment I
indicated that the metabolizable energy values of rice bran determined on three methods
was significantly different. The TME values of rice bran was higher than AMEn values
which determined with Farrell method and Terpstra method and the values higher if
determined with Farrell method than Terpstra method. The results of experiment II
indicated that the AMEn value of rice bran which determined with duck was higher
then chicken but the TME values was not significantly different. The result of
experiment III indicated that the TME values of rice bran were influenced by the
quality. Each quality of rice bran had higher TME values if determination, species, sex
and quality of the rice bran.

Key words: metabolizable energy, rice bran, broiler chicken, duck

Pendahuluan makanan yang dikonsumsi dikurangi


dengan energi dalam feces dan energi
Telah disepakati secara umum bahwa
gas. Energi dalam gas yang dikeluarkan
nilai energi metabolis telah diterima
oleh unggas nilai kecil sehingga dapat
sebagai ukuran nilai kandungan energi
diabaiakan. Oleh karena unggas
dalam bahan makanan. Energi
mengeluarkan feces bersama sama
metabolis mempunyai kelebihan dari
dengan urin dan antar urin dan feces
energi bruto karena energi bruto bahan
sulit dipisahkan maka nilai energi yang
makanan tidak semuanya dimanfatkan
dapat dideterminasi adalah nilai energi
oleh tubuh unggas karena sebagian ada
metabolis semu (apparent). Dalam feces
yang tidak tercerna atau tercerna tetapi
dan urin terdapat komponen nitrogen
tidak diabsorbsi oleh organ pencernaan.
yang mengandung energi yaitu 8,73
Pada dasarnya nilai energi yang
kkal/g (Titus 1955) yang jumlahnya
betul betul dimanfaatkan oleh tubuh
sering berbeda dengan kandungan
adalah energi tercerna yatu energi bahan
2
Achmanu Zakaria/ Buana Sains Vol 6 No 1: 1-10, 2006

nitrogen bahan pakan yang dikonsumsi dicampur dengan bahan makanan basal
sehingga nilai AME dikoreksi atas dengan imbangan 50: 50 bagian.
keseimbangan nitrogen (zero nitrogen Metode determinasi nilai TME
balance) sehingga ditulis dengan AMEn. dikembangkan oleh Sibbald (1976)
Feces maupun urin tidak dengan cara memberikan koreksi
sepenuhnya berasal dari bahan yang terhadap nilai energi endogen ppada
dikonsumsi pada saat determinasi. nilai AMEn yaitu dengan mengurangi
Dalam feces juga terkandung bahan nilai energi ekskreta dengan energi
bahan yang berasal dari tubuh yaitu endogen. Energi endogen dihitung dari
runtuhan sel sel mukosa usus, empedu nilai energi ekskreta dari unggas yang
yang tidak terserap kembali serta getah tidak diberi makan. Dalam metode
lambung yang lain yang semuanya Sibbald (1976) determinasi dilakukan
keluar bersama feces. Bahan bahan dengan bahan pakan murni sejumlah 25
tersebut juga mengandung energi yang sampai 40 gram tanpa dicampur dengan
disebut dengan metabolic fecal energy. bahan makanan basal. Dalam penelitian
Dalam urin selain bahan yang berasal ini nilai TME tidak dikoreksi atas
dari bahan yang dimakan juga terdapat keseimbangan nitrogen tubuh seperti
bahan bahan berupa sisa sisa halnya AMEn.
katabolisme dari jaringan tubuh. Bahan Dedak padi merupakan hasil
bahan tersebut juga mengandung energi samping pada penggilingan beras terdiri
yang disebut dengan endogenous urinary atas kulit padi (sekam), kulit ari serta
energy (McNab and Fisher, 1983). pecahan beras. Banyaknya bagian bagian
Metabolic fecal energy dan endogenous urinary tersebut dalam dedak padi akan
energy selanjutnya disebut sebagai energi menentukan kualitasnya dipandang dari
endogen. Energi metabolis yang nilainya sebagai bahan makanan unggas.
dihitung dari jumlah energi bahan Sekam yang merupakan bagian luar dari
makanan yang dikonsumsi dikurangi padi mempunyai serat kasar yang tinggi
dengan energi ekskreta (feces dan urin) yang sulit dicerna oleh unggas biasanya
disebut dengan energi metabolis semu dipisahkan secara teknis dalam proses
atau Apparent Metabolizable Energy atau penggilingan tetapi masih terdapat
disingkat dengan AME. kemungkinan pecahan pecahan sekam
Metode determinasi nilai AME ini jatuh tidak jauh dari komponen padi
dikembangkan oleh Hill dan Anderson yang lain yaitu lapisan kulit ari dan
(1958), Terpstra dan Janssen (1976) dan pecahan beras. Lebih banyak pecahan
Farrell (1978). Terpstra dan Janssen sekam dalam dedak padi semakin
(1976) menamakan metodenya dengan rendah kualitasnya.menurut Janssen et
quantitative method karena dalam al. (1979) nilai energi metabolis bahan
pelaksanaan determinasi, unggas makanan secara positif dipengaruhi oleh
diberikan pakan yang dibatasi dengan kandungan lemak, karbohidrat dan
tujuan pakan yang diberikan setiap hari protein tetapi dipengaruhi secara negatif
dapat habis tanpa adanya sisa. Pada oleh serat kasar dan abu.
determinasi dengan metode Farrell
(1978) unggas dilatih untuk dapat Bahan dan Metode
menghabiskan ransumnya dalam waktu
1 jam sebelum dapat dipakai dalam Percobaan dilakukan di Laboratorium
percobaan. Dalam determinasi nilai Ternak Unggas, Fakultas Peternakan,
AME, bahan makanan yang diteliti Universitas Brawijaya, Malang, bulan
September sampai Nopember 1996.
3
Achmanu Zakaria/ Buana Sains Vol 6 No 1: 1-10, 2006

Percobaan dilakukan dengan 3 tahapan dirancang menurut desain deHart,


masing-masing dalam Percobaan I,II (1977).
dan III. Alat semacam pompa untuk
Percobaan I memasukkan bahan pakan yang diteliti
kedalam tembolok ayam. Alat tersebut
Percobaan I bertujuan untuk terbuat dari besi tahan karat dengan
mempelajari pengaruh metode terhadap ukuran panjang 40 cm diameter 0,30 cm
nilai energi metabolis dedak padi. Bahan sedang batang penekan 45 cm. Alat ini
yang digunakan dalam penelitian ini hanya digunakan untuk pelaksanaan
terdiri atas ayam broiler umur 6 minggu metode forced feeding dari Sibbald (1976).
sebanyak 48 ekor terdiri atas 24 jantan Metode penelitian adalah percobaan
dan 24 betina. Pakan berupa dedak padi yang dirancang menurut Rancangan
dan pakan basal. Komposisi bahan Acak Lengkap dengan 3 perlakuan
pakan basal tertera dalam Tabel 1 dan berupa metode determinasi masing
komposisi zat zat makanan pakan basal masing metode Sibbald, Farrell dan
dan dedak padi tertera dalam Tabel 2. Terpstra.

Tabel 1. Komposisi bahan pakan basal 1. Metode Sibbald:


Metode determinasi dari Sibbald
Komposisi Jumlah bagian menggunakan cara pemberian pakan
Jagung 54,00 secara paksa bahan pakan yang
Dedak jagung 7,80 diteliti secara murni sebanyak 25-40
Bungkil Kedele 23,90 gram. Dalam penelitian ini dedak
Tepung Ikan 2,00
padi diberikan sebanyak 40 gram.
Tepung daging dan tulang 4,00
Lemak Hewan 5,20 Disamping itu dicoba pula
Ca2PO4 0,45 pemberian pakan secara paksa
Mineral Mix 2,00 bahan pakan basal serta bahan
Vitamin 0,50 pakan basal + dedak padi dengan
Metionin 0,10 perbandingan 50: 50. Masing masing
Amprolium 0,05 bahan diberikan kepada 3 ekor ayam
Jumlah 100,00 jantan dan 3 ekor betina sebagai
ulangan sebanyak 40 gram per ekor.
Tabel 2. Komposisi zat zat makanan Sebelum diberi pakan ayam tidak
pakan basal dan dedak padi diberi makan selama 24 jam dan
Zat-zat pakan basal dedak setelah permberian pakan perlakuan,
Makanan padi ekskreta masing masing ayam
Protein kasar 23,90 14,40 dikumpulkan selama 36 jam
Lemak kasar 10,50 11,80 diidentifikasi dan disimpan dalam
Serat kasar 3,70 6,80 freezer sebelum dikeringkan.
BETN 55,20 60,40 Disediakan juga 3 ekor ayam jantan
Abu 6,70 6,60 dan 3 ekor betina yang tidak diberi
makan dalam waktu 24 jam
Kandang metabolis dengan ukuran diteruskan sampai 36 jam berikutnya
lebar, panjang dan tinggi 18, 48 dan 58 dan ekskretanya juga dikumpulkan
disediakan per ekor ayam tempat dan dianalisa kandungan energinya
dilakukannya determinasi energi sebagai koreksi terhadap nilai energi
metabolis. Kandang metabolis endogen.
4
Achmanu Zakaria/ Buana Sains Vol 6 No 1: 1-10, 2006

dimana:
2. Metode Farrell C = Energi bruto pakan yang diteliti
Dalam metode ini ayam diberi per kg (kkal)
pakan berupa dedak padi dicampur D = jumlah ekskreta yang dihasilkan
dengan pakan basal dengan per kg bahan pakan
perbandingan 50:50. Ransum W = energi bruto ekskreta yang
perlakuan dalam metode ini berupa dihasilkan per kg (kkal)
pakan basal dan pakan campuran 8,73 = nilai energi nitrogen per g
tersebut diatas. Masing masing N = jumlah g nitrogen dalam 1 kg
pakan perlakuan digunakan 3 ekor bahan pakan
ayam jantan dan 3 betina. Ayam T = jumlah g nitrogen ekskreta yang
dihasilkan oleh 1kg bahan pakan
ayam tersebut dilatih untuk
Nilai TME dihitung dengan rumus:
menghabiskan ransumnya selama 1
jam. Waktu disediakannya pakan
(FI x GEf) - (Yf - Ye)
dalam kandang disusut mulai dari 10 TME = Kkal/kg
jam, 8 jam dan seterusnya dan FI
Dimana:
akhirnya hanya disediakan pakan
FI = jumlah konsumsi (g). GEF =
selama 1 jam. Dalam percobaan ini energi bruto bahan yang
setelah 6 hari ayam dapat dimakan (kkal)
menghabiskan ransum sebanyak 110 Yf = energi bruto ekskreta yang
gram dalam waktu 1 jam. Ekskreta dihasilkan (kkal)
dikumpulkan selama 36 jam. Ye = energi endogen (kkal)
3. Metode Terpstra
Dalam metode ini ayam diberi Tabel 3. Pembagian Kelompok Masing
pakan bahan pakan basal dan pakan masing Perlakuan Kelompok ayam 3
campuran seperti diatas selama ekor jantan dan 3 ekor betina
beberapa hari kemudian pada saat Metode Pakan Pakan Dedak
determinasi pemberian pakan Basal Campuran Padi
dibatasi 90 persen yang dalam Murni
percobaan ini mencapai 110 gram. Sibbald 1 5 8
Pengumpulan ekskreta 2 kali sehari Farrell 2 6
selama 5 hari, disimpan dalam Terpstra 3 7
freezer sebelum dikeringkan. Proses Endogen 4
pengeringan untuk semua ekskreta Endogen: kelompok ayam yang tidak diberi
dilakukan secara individu dalam pakan.
forced draft oven dengan suhu 65oC.
Setelah kering diaklimatisasi dalam
ruangan untuk mendapatkan bobot Percobaan II
yang tetap sebelum dilakukan Percobaan II dilakukan untuk
analisis kandungan energi bruto dan mempelajari nilai energi metabolis
jumlah nitrogennya. Pembagian dalam bentuk TME dedak padi yang
kelompok ayam tiap perlakuan dideterminasi menggunakan species
dijelaskan dalam Tabel 3. yang berbeda yaitu ayam dan itik. Bahan
yang digunakan adalah ayam broiler
Nilai AME dihitung dengan rumus: jantan umur 6 minggu dan itik jantan
AME = C- dW – 8,73 (N - dT) kkal/kg umur 8 minggu dengan bobot badan
masing masing 1250 ± 9,6 g dan 1300 ±
5
Achmanu Zakaria/ Buana Sains Vol 6 No 1: 1-10, 2006

11,2 g sebanyak masing masing 10 ekor. Percobaan dilakukan dengan


Lima ekor diantaranya dipakai sebagai menggunakan Rancangan Acak
koreksi terhadap nilai energi endogen. Lengkap dengan 4 perlakuan dan 5
Perlengkapan kandang metabolis serta ulangan. Metode determinasi yang
alat pompa sama seperti dalam digunakan adalah metode dari Sibbald
percobaan I. untuk mendapatkan nilai energi
Penelitian dilakukan dengan metabolis dalam bentuk TME. Prosedur
percobaan menggunakan Rancangan pelaksanaan determinasi sama dengan
Acak Lengkap 4 perlakuan dengan 5 pada Percobaan I dan II.
ulangan. Dalam membandingkan nilai
TME dedak padi yang dideterminasi Hasil dan Pembahasan
pada ayam dan itik dilakukan
determinasi dengan metode yang sama Nilai energi metabolis dedak padi
yaitu metode Sibbald serta dedak padi Produksi energi endogen yang diukur
dengan kualitas yang sama. Dari 10 ekor pada ayam broiler kelompok 4 dengan
ayam dan itik, diambil 5 ekor untuk waktu pengumpulan ekskreta 32 jam
diberi pakan secara paksa dengan dedak dan 40 jam masing masing adalah 17,37
padi sebanyak 40 g sedang 5 ekor dan 20,16 kkal. Apabila nilai energi
lainnya tidak diberi pakan untuk endogen selama 32 jam dikonversi dari
mengukur besarnya nilai energi waktu 40 jam dengan pengalian 32/40 x
endogen. Pengumpulan ekskreta selama 20,16 didapat angka 16,12 kkal.
36 jam setelah pemberian pakan dan Sehingga nilai rata rata pada
analisa kimia dilakukan untuk pengumpulan ekskreta selama 32 jam
mengetahui bahan kering dan adalah 16,66 kkal. Nilai energi endogen
kandungan energi bruto. Perhitungan ini dibawah nilai rata rata yang didapat
nilai AME dan TME dengan Farrell (1981), tetapi masih dalam
menggunakan rumus tersebut diatas. kisaran dari datanya.
Hasil analisis varian ternyata bahwa
Percobaan III nilai AME 110 (nilai AMEn pada
Percobaan III bertujuan untuk konsumsi 110 gram) sebagai hasil
mempelajari nilai energi metabolis perhitungan pakan basal dan campuran
dedak padi dengan kualitas yang menunjukkan pengaruh yang sangat
berbeda yang diukur pada itik. Dedak nyata (P < 0,01) dari metode yang
padi tersebut ditandai dengan kualitas dilakukan dan terdapat interaksi yang
A, B, C dan D mengandung protein nyata antara metode dan macam ransum
13,47 , 12,88 , 12,16 dan 11,78 persen yang berarti bahwa nilai energi
serta serat kasar 5,10 , 8,14 , 14,49 dan metabolis pakan campuran. Pada
16,48 persen. Metode determinasi yang metode Sibbald perbedaan tersebut
dilakukan yaitu dengan metode Sibbald. lebih kecil, sedang dengan metode
Bahan yang digunakan berupa 25 ekor Farrell perbedaan tersebut makin besar
itik jantan dan 25 ekor itik betina dan lebih besar lagi dengan metode
dengan bobot badan rata rata masing Terpstra. Dengan melihat hasil energi
masing 1400 ± 56 gram dan 1340 ± 40 metabolis pakan basal tidak berbeda
gram. Perlengkapan terdiri atas kandang banyak maka adanya interaksi antara
metabolis dan alat pompa seperti pada metode dan pakan megakibatkan nilai
Percobaan I dan Percobaan II. AME110 dedak padi sangat berbeda
nyata antar metode.
6
Achmanu Zakaria/ Buana Sains Vol 6 No 1: 1-10, 2006

berbeda nyata. Nilai AMEn pada


Pakan basal
Sibbald mempunyai nilai nilai yang lebih
Nilai TME dan AMEn pakan basal yang rendah karena dikonversi dari nilai
dideterminasi dengan 3 metode yang TME yang telah dikoreksi dengan
diterapkan pada kelompok ayam masing energi endogen. Nilai TME dari metode
masing 1, 2 dan 3 tersebut dalam Tabel Sibbald akan selalu lebih tinggi
3, seperti tertera dalam Tabel 4. Nilai dibandingkan nilai AMEn dari Farrell
AMEn dan pakan basal ternyata lebih dan Terpstra karena nilai energi ekskreta
rendah apabila dihitung dengan metode dikurangi dengan energi ekskreta
Sibbald dibandingkan dengan metode menjadi lebih besar.
Farrell dan Terpstra sedang antara
metode Farrell dan Terpstra tidak

Tabel 4. Nilai TME dan AMEn pakan basal pada tiap metode (kkal)
Nilai TME Nilai AME 40 g
Ulangan Sibbald Sibbald Farrell Terpstra
1 3659 3213 3489 3463
2 3663 3180 3480 3493
3 3606 3273 3506 3519
4 3741 3334 3424 3458
5 3611 3168 3462 3539
6 3551 3075 3456 3502
Rata-rata 3639±64 3207±90 3470±29 3496±31

Pakan campuran dan Terpstra sedang antara metode


Farrell dan Terpstra tidak berbeda
Nilai TME dan AMEn pakan campuran
nyata.
yaitu campuran pakan basal dengan
Hasil yang sama didapat pada
dedak padi dengan imbangan 50: 50
perhitungan nilai AMEn 40 gram pada
tertera dalam Tabel 5. Nilai AMEn dari
metode Sibbald, Farrell dan Terpstra
pakan campuran nyata lebih rendah
dengan sebab yang sama pula.
apabila dihitung dengan metode Sibbald
dibandingkan dengan metode Farrell

Tabel 5. Nilai AMEn pakan campuran pada tiap metode (kkal/kg)


Nilai TME Nilai AME 40 g
Ulangan Sibbald Sibbald Farrell Terpstra
1 3557 3143 3443 3394
2 3678 3205 3401 3220
3 3575 3157 3436 3302
4 3608 3215 3384 3317
5 3619 3204 3272 3375
6 3696 3254 3360 3275
Rata-rata 3622±55 3196±40 3383±63 3314±64
7
Achmanu Zakaria/ Buana Sains Vol 6 No 1: 1-10, 2006

Nilai dedak padi pakan basal dan pakan campuran pada


tiap metode tertera dalam Tabel 6.
Nilai rata rata dedak padi dengan cara
Nilai TME pakan basal, pakan
langsung yaitu dengan pemberian dedak
campuran dan dedak padi yag didapat
secara murni sebanyak 40 gram lebih
dengan metode Sibbald pada konsumsi
tinggi dibandingkan apabila dikonversi
40 g. lebih tinggi dibandingkan kalau
pada jumlah konsumsi 110 gram masing
menggunakan metode Farrell dan
masing 3334 dibanding 3160 kkal/kg.
Terpstra. Nilai TME pada metode
Nilai AMEn dedak padi yang
Sibbald apabila dikonversi pada
dideterminasi dengan metode Farrell
konsumsi 110 pada pakan basal dan
lebih tinggi dibandingkan dengan
campuran tidak berbeda jauh dengan
metode Terpstra yaitu masing masing
kedua metode yang lain, tetapi nilai
3240 dibanding 3083 kkal/kg.
AMEn dedak padi yang dikonversi pada
Nilai rata rata TME dan AMEn
konsumsi 110 lebih tinggi dibandingkan
dedak padi sebagai hasil perhitungan
dengan metode Farrell dan Terpstra.

Tabel 6. Nilai TME dan AMEn dedak padi pada tiap metode (kkal/kg)
Metode Pakan Basal Pakan Campuran Dedak Padi Dedak Padi
Perhitungan Langsung
Sibbald (TME) 3638 3622 3606 3334
Sibbald TME110 3466±25 3451±12 3436±61 3160±48
Farrell AME110 3470±25 3383±25 3240±61
Terpstra AME110 3496±25 3314±25 3083±61

Nilai AMEn pakan basal dan campuran Nilai AMEn dedak padi pada itik
pada metode Farrel dan Terpstra ternyata lebih tinggi dibandingkan
dengan konsumsi 110 g tidak berbeda dengan ayam. Hasil ini sesuai dengan
nyata tetapi nilai AMEn dedak padi hasil penelitian Muztar et al. (1977) serta
sebagai hasil perhitungan pakan basal Siregar dan Farrell (1980). Hasil
dan pakan campuran yang didapat penelitian ini sejalan pula dengan hasil
dengan metode Farrell lebih tinggi penelitian Mohamed (1983) pada
dibandingkan dengan metode Terpstra. bungkil kedele dan tepung daun alfalfa.
Hasil analisa proksimat zat-zat
Nilai energi metabolis dalam bentuk TME makanan dari dedak padi yang
dedak padi dipergunakan dalam penelitian ini
Nilai Apparent Metabolizable Energy adalah, bahan kering 87.3, protein kasar
(AMEn) dan True Metabolizable Energy 12.5, kadar lemak 12.7 dan serat kasar
(TME) dari dedak padi yang diukur 12.2%. Apabila Energi Metabolis
pada ayam dan itik tercantum pada dihitung dengan menggunakan faktor
Tabel 7. Nilai AMEn dedak padi pada perhitungan Janssen et al. (1979) didapat
ayam ternyata berbeda nyata (P < 0.05) nilai 2148 kkal/kg. Nilai ini dibawah
dengan itik, masing-masing dengan nilai yang didapat dalam penelitian ini.
harga rata-rata 2883 ± 61.6 kkal/kg Sibbald dan Price (1978) juga
3066 ± 85.2 kkal/kg. mengatakan bahwa nilai enersi
metabolis yang dihitung dengan
8
Achmanu Zakaria/ Buana Sains Vol 6 No 1: 1-10, 2006

persamaan Janssen et al. (1979) pada ayam rata-rata 3153 ± 61 kkal/kg


menghasilkan nilai yang lebih rendah. sedangkan pada itik rata-rata 3203 ± 85
Atas dasar asumsi bahwa enersi kkal/kg.
endogen tidak tergantung dari jenis Nilai TME dedak padi yang didapat
ransum serta jumlahnya tidak berbeda oleh Sibbald (1982) dengan kandungan
antara yang diberi makan dan tidak, lemak lebih tinggi dan serat lebih
dihitung nilai TME. Nilai TME dedak rendah adalah 3399 kkal/kg. Kualitas
padi pada ayam dan itik ternyata tidak dedak padi memang bermacam-macam
berbeda nyata (P > 0.05). Hal ini sesuai tergantung pada tahapan dan prosesnya
dengan pendapat Sibbald (1976) bahwa yang mempengaruhi pula nilai energi
nilai enersi metabolis akan sama untuk metabolisnya.
jenis unggas apabila dikoreksi dengan Sebagai kesimpulan dari penelitian
energi endogen dari hewan yang ini adalah bahwa nilai AMEn dari dedak
bersangkutan. Jumlah energi endogen padi berbeda nyata pada ayam dan itik
dari ayam ternyata lebih tinggi yaitu sedangkan nilai TME sama, disebabkan
rata-rata 10.15 kkal/ekor dibandingkan karena perbedaaan jumlah produksi
dengan itik rata-rata 5.15 kkal/ekor/36 endogen.
jam. Nilai TME dedak padi yang diukur

Tabel 7. Nilai AMEn dan TME dedak padi yang diukur pada ayam dan itik
Spesies Ulangan AMEn(kkal/kg) TME(kkal/kg)
Ayam A1 2806 3075
A2 2926 3196
A3 2918 3187
A4 2828 3098
A5 2939 3207
Rata-rata 2883 3153
Itik I1 2974 3110
I2 3029 3166
I3 3106 3243
I4 3193 3330
I5 3028 3165
Rata-rata 3066 3203

Nilai energi metabolis dedak padi dengan yang mempunyai serat kasar tinggi
kualitas yang berbeda kandungan proteinnya rendah demikian
pula nilai energi metabolisnya.
Nilai TME empat macam dedak padi
Hubungan nilai TME dedak padi
yang diukur pada itik jantan dan betina
dengan serat kasar pada itik jantan dapat
tertera dalam Tabel 8. Dari Tabel 8
digambarkan dalam garis regresi Y = -
terlihat bahwa semakin tinggi serat kasar
8179 + 895 X (R2 = 0,90) sedang pada
dedak padi makin rendah nilail TME
itik betina Y = - 8718 + 929 X (R2 =
nya baik pada jantan maupun betina
demikian juga semakin rendah 0,92).
proteinnya semakin rendah pula nilai Dari persamaan garis regresi
TME dedak padi tersebut. Dedak padi tersebut terlihat bahwa semakin tinggi
kandungan serat kasar dadak padi
9
Achmanu Zakaria/ Buana Sains Vol 6 No 1: 1-10, 2006

semakin rendah nilai energi metabolisnya.


Tabel 8. Nilai TME dari 4 macam dedak padi
Macam Dedak Padi Serat Kasar(%) Protein (%) Nilai Tme(Kkal/Kg)
Itik Jantan Itik Betina
A 5.10 13.47 3745 f 3636 e
B 8.14 12.88 3636 e 3547 d
C 14.49 12.16 2500 c 2460 bc
D 16.48 11.78 2432 b 2222 a

Hubungan nilai TME dedak padi Kesimpulan


dengan protein pada itik jantan dapat Nilai energi metabolis dedak padi
digambarkan dalam garis regresi Y = berbeda apabila dideterminasi dengan
4517 – 131 X (R2 = 0.96) pada itik metode yang berbeda. Nilai TME dedak
betina Y = 4453 – 134 X (R2 = 0,97). padi lebih tinggi dibandingkan dengan
Dari persamaan garis regresi tersebut nilai AMEn nya. Nilai rata rata TME
terlihat bahwa semakin tinggi dedak padi pada metode Sibbald adalah
kandungan protein dedak padi semakin 3334 kkal/kg, sedang nilai AMEn dedak
tinggi nilai energy metabolisnya. padi pad metode Farrell dan Terpstra
Perbedaan nilai energi metabolis masing masing adalah 3240 ± 61 dan
baik AME dedak padi dapat dimengerti, 3083 ± 61 kkal/kg.
seperti dinyatakan oleh Janssen et al. Nilai energi metabolis dalam
(1979) bahwa adanya serat kasar akan bentuk AMEn lebih tinggi bila diukur
memperendah nilai AME. Disisi lain pada itik dibandingkan ayam sedang
dedak padi dengan serat kasar tinggi nilai TME nya tidak berbeda antara itik
akan mempunyai kadar protein rendah. dan ayam.
Faktor lain yang berpengaruh terhadap Nilai TME dedak padi lebih tinggi
rendahnya nilai energi metabolis pada dedak dengan kandungan protein
menurut Janssen et al. (1979) adalah tinggi dibandingkan yang rendah dan
kadar abu dari bahan pakan sedang hasil determinasi pada jantan lebih
kandungan karbohidrat dan lemak yang tinggi dibandingkan betina.
tinggi akan meningkatkan nilai energi
metabolis.
Turunnya nilai TME dedak padi Daftar Pustaka
dengan naiknya kandungan serat kasar deHart, J. 1977. A cage of ME and feeding
dedak padi terdapat baik pada experiments with individual broiler and
determinasi dengan menggunakan itik mature cock. Rapport number 188-77.
jantan maupun betina, sedang nilai Spelderholt Institute For Poultry
TME rata rata lebih tinggi pada yang Research, Beekbergen, Holland.
jantan dibandingkan betina. Hasil ini Farrell, D.J. 1978. Rapid determination of
sejalan dengan hasil percobaan Siregar metabolizable energy of food using
cockerels. British Poult. Sci. 19: 303 -
(1979) bahwa nilai AMEn dari ransum
308.
yang disusun dengan imbangan protein Farrell, D.J. 1981. An assesment of qiuck
dan energi berbeda pada itik Pekin bioassays for determining the true
menunjukkan hasil lebih tinggi pada metabolizable energy and apparent
yang jantan dibanding dengan yang metabolizable energy of poultry
betina.
10
Achmanu Zakaria/ Buana Sains Vol 6 No 1: 1-10, 2006

feedstuffs. World’s Poult. Sci. J. 37: 72 - Siregar, A.P. dan Farrell, D.J. 1980 A
83. comparison of the energy and nitrogen
Hill, F.W. and Anderson, D.L. 1958. metabolisme of fedducklings and
Comparison of metabolizable energy chickens. Br. Poultry Sci. 21: 213-227.
and productive energy determination Siregar, A.P., 1979. Energy and protein
with growing chickens. J. Nutr. 64: 587- nutrition metabolizable of the white
603 pekin duck. Disertation, New England
Janssen, W.M.M.A., Terpstra, K., Beeking, University, Armidale.
F.E.E. and Bisalky, A.J.N. 1979. Terpstra, K. and Janssen, W.M.M.A. 1976.
Feeding values of poultry, 2e Ed. 2e Method for determination of the
printing, Spelderholt Institute For metabolizable energy and digestibility
Poultry Research, Beekbergen, Holland. coeficients of poultry feeds. Raport
McNab, J.M. and Fisher, C. 1981. The nummer 101.75, Spelderholt Institute
choice between apparent and true For Poultry Research, Beekbergen,
metabolizable energy system - recent Holland.
evidence. Proc. 3 rd European Symp. Titus, H.W. 1955. The Scientific Feeding of
Poult. Nutr., Peebles, U.K. pp 45-55. Chickens. 3 rd Ed. The Interstate,
Mohamed, K., Lerlercq, B., Anwar, A., Illionis, USA
Alaily, A.El. and Soliman, H. 1984. A
comparative study of metabolizable
energy in duckling and domestik chick.
Animal Science and Technology, 11:
199-209.
Muztar, AJ., Slinger,S.J. and Burton, J.H.
1977. Metabolizable energy content of
freshwater plants in chickent and duck.
Poultry Sci. 56: 1893-1899.
Sibbald, I.R. and Price, K. 1978. The
metabolic and endogenous energy losses
of adult roosters. Poult. Sci. 57: 556-557.
Sibbald, I.R. 1976. A bioassay for true
metabolizable energy in feedingstuffs.
Poult. Sci. 55: 303-308.
Sibbald, I.R. 1982. Measurement of
bioavailable energy in poultry
feedingstuffs. Can.J. Anim. Sci. 62: 983-
1048.